Anda di halaman 1dari 11

Introduction Merokok dan penggunaan tembakau memiliki resiko tinggi terhadap kesehatan.

Di Inggris, 12 juta orang dewasa merupakan seorang perokok, 28% diantaranya adalah laki-laki dan 24% adalah perempuan. Merokok merupakan penyebab 114.000 kematian setiap tahunnya, yang merupakan 20% dari total kematian di Inggris. Sebagian besar kematian tersebut berasal dari kanker paru-paru, penyakit jantung koroner dan penyakit paru obstruktif kronik, yang merupakan penyakit utama yang dikaitkan dengan merokok. Diperkirakan bahwa sekitar setengah dari perokok akan meninggal dunia karena kebiasaan mereka. Ditinjau dari segi kesehatan Oral, merokok telah ditetapkan sebagai penyabab kanker mulut dan faring, dan bertanggung jawab untuk lebih dari 75% kematian yang disebabkan oleh malignansi ini di amerika serikat. Banyak penelitian tentang hubungan antara perokok dengan penyebab penyakit periodontal telah dilakukan selama 17 tahun terakhir, yang memberikan bukti bahwa merokok dapat memberikan dampak merugikan pada jaringan periodontal yang bisa menyebabkan peridontitis. Merokok dikaitkan dengan peningkatan kehilangan tulang alveolar, kehilangan perlekatan dan kehilangan kekokohan, selain itu merokok juga dapat memberikan sebuah efek masking pada gejala inflamasi ginggiva. Mekanisme merrokok yang mempengaruhi jaringan periodontal berhubungan dengan defek dari fungsi sel darah putih yaitu neutrofil, gangguan respon antibodi terhadap pathogen disekitar jaringan periodontal, berkurangnya fungsi fibroblast di jaringan periodontal dan kelainan fungsi vaskuler di jaringan periodontal. Prevalensi dan keparahan periodontal pada seseorang yang pernah berhenti merokok menurun

dibandingkan dengan seseorang yang masih perokok , membuktikan bahwa berhenti merokok tampaknya sangat bermanfaat. Selain itu pasien perokok yang mengalami Periodontitis refractory sering resisten terhadap pengobatan konvensional. Merokok juga dapat merusak

hasil dari terapi pembedahan jaringan periodontal, kemungkinan besar melalui campur tangan proses penyembuhan luka habis dilakukan operasi. Mengingat manfaat potensi berhenti merokok sangat baik bagi penderita periodontitis kronis,maka dari itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi peran dokter gigi dan perawat dalam memberikan nasihat dan edukasi tentang baiknya berhenti merokok di dalam lingkungan perawatan sekunder dengan pasien penyakit periodontal. Metode Penelitian ini adalah uji coba klinis terhadap pengaruh berhentinya merokok pada perawatan periodontitis kronis. Penelitian ini dilakukan selama 12 bulan dan bertujuan untuk membandingkan respon perawatan periodontal pada perokok yang berhenti merokok dan perokok yang tidak berhenti. Sebelum penelitian ini dimulai , peneliti dan tim dokter gigi sudah mendapatkan persetujuan etika dari komite etika penelitian. Subjek penelitian diambil di rumah sakit kesehatan gigi dan mulut Newcastle. Semua subjek penelitian mengidap periodontitis kronis parah yang belum diobati dan merupakan perokok yang ingin berhenti merokok. Pasien dengan riwayat perokok berat tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini.

Studi Pembelajaran Studi ini dilakukan berdasarkan 5 point utama : Kunjungan awal (baseline) minggu keempat, bulan ketiga, bulan keenam, dan bulan keduabelas. pada kunjungan awal dilakukan pengukuran carbon monoxide ( CO ), jumlah produksi air liur dan berapa bungkus rokok yang digunakan selama 1 tahun terakhir. Kemudian tanggal berhentinya merokok yang sudah diatur,

sejak kunjungan awal pertama dengan perawatan yang kedua. Edukasi untuk memberhentikan penggunaan rokok diberikan kepada semua pasien dan hasil dari berhentinya merokok kemudian didiskusikan Edukasi perawatan periodontal diambil diantara kunjungan pertama dan tiga bulan, kurang lebih 5 -6 kali kunjungan Kemudian perawatan periodontal diberikan selama Sembilan bulan berikutnya dalam jarak interval 3 bulan. Selama perwatan periodontal selama 3 bulan pasien juga diprogram setiap interval 1 bulan untuk program perhentian merokok dan digunakan test karbon monoxide untuk melihat status indikasi berhentinya pasien untuk merokok.

Kemudian test air liur pada tahap awal, pada bulan ke tiga dan bulan ke 12 terutama untuk memantau konfirmasi berhentinya status merokok.dan sebagai motivasi kepada pasien.

Cara berhenti merokok Saran berhenti merokok diberikan pada kunjungan pertama perawatan periodontal oleh dokter gigi yang telah dilatih oleh konsulen yang memiliki pengetahuan tentang tata cara berhenti merokok agar dapat menyembuhkan penyakit periodontal dan ini diperkuat oleh

kunjungan berulang oleh pasien. Macam-macam metode untuk membantu berhenti merokok menurut kebutuhan individu adalah : Konseling atau edukasi ( diberikan kepada semua pasien , termasuk pendidikan tentang manfaat berhenti merokok berhentinya Terapi pengganti nicotine dalam bentuk lozenges ( permen pelega tenggorokkan), vitamin c, permen karet, inhaler dan patch. Dengan pemberian Bupropion hydrochloride SR( Zyban). Terapi ini harus mendapat persetujuan dari konsulen terlebih dahulu. Pemilihan metode terapi intuk memberhentikan merokok pada pasien harus mendapatkan persetujuan dari pasien dan menetapkan kapan akan

dan diketahui oleh konseling dari program menghentikan merokok pada pasien penderita penyakit periodontal.

Pemantauan status penghentian merokok

Melaporkan status kepatuhan penghentian merokok dapat dinilai dari beberapa metode, termasuk : Pencatat harian Co dimonitor dengan melakukan pengukuran co diudara. Co diserap dari pembakaran tembakau dan bersaing dengan oksigen dalam membentuk ikatan karboksilhemoglobin yang diekresikan atau dikeluarkan saat kita melakukan ekspirasi dan kemudian monitor co akan mendeteksi kandungan dari napas pasien. Kemudian monitor CO menunjukkan jumlah gas CO yang terkandung dalam udara yang dihembuskan napas pasien denga satuan juta (ppm). Kemudian kosentrasi nikotin diambil dari kelenjar salivasi pasien,dengan memakai test kolorimetrik pada awal bulan pertama, tiga dan dua belas bulan. Cotinine adalah metabolite nicotine dan dapat diidentifikasi dalam air liur pasien yang merokok. Pengujian tergantung pada pengukuran metabolit nikotin, test ini merupakan cara yang paling tepat dalam mengukur status pasien yang perokok. Test ini dilakukan selama 6 menit, untuk dapat mendeteksi nicotine dan dari sampel tersebut akan berubah warna menjadi pink apabila terdapat positif kandungan nikotin.

Statistik analisis Analisa statistik didasarkan atas dugaan dan perkiraan bahwa subjek yangmenarik diri dari penelitian studi awal ( tidak mengikuti prosedur) akan melanjutkan merokok. Garis waktu penelitian awal yaitu empat minggu, tiga bulan, enam bulan dan dua belas bulan. Oleh karena

itu, subjek dikategorikan sebagai berhenti merokok atau tidak berhenti berdasarkan laporan subjek dari rumah sakit, dari test CO, dan dari kelenjar saliva mereka.

Data dianalisis menggunakan Spss versi 10. Semua tes dengan tingkat signifikansi yang ditetapkan adalah P=0,05. Asosiasi antara metode berhenti dan berhenti sukses di minggu ke empat, tiga bulan, enam bulan dan dua belas dianalisis menggunakan uji fisher. Analisis regresi dilakukan untuk mengevaluasi apakah umur atau riwayat adalah predictor signifikan dalam keberhasilan berhentinya seseorang dalam merokok. Uji t sampel independen dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan antara orang yang berhenti merokok dan orang yang tidak mau berhenti merokok pada saat dilakukan pemeriksaan tahap awal dengan carbon monoxide dan test kelenjar saliva. Analisa regersi juga digunakkan untuk menyelidiki apakah dasar carbon monoxide dan data saliva continine sebagai predictor keberhasilan seseorang untuk berhenti merokok atau tidak.

Result Empat puluh Sembilan pasien diambil untuk dijadikan sampel, diantaranya 18 orang adalah laki-laki dan 31 adalah perempuan. Subyek rata-rata (SD) usia yang terdaftar adalah 42,0 (8,7) dan rata-rata yang dihabiskan perokok dalam setahun adalah dua sampai delapan puluh bungkus dengan rata-rata 24,5(13,9) dalam satu tahun yang dihabiskan per bungkusnya. Pada minggu keempat subjek yang berhenti rata-rata 41 % dan pada tiga bulan ,enam bulan dan dua belas bulan, nilainya adalah 33%,29% dan 25 %.

Semua subjek sudah diberikan konseling untuk berhenti merokok dan sudah ditetapkan tanggal untuk menghentikan aktivitas merokoknya. Dari 49 pasien yang terdaftar, enam pasien diresepkan zyban sebagai bagian dari proses program penghentian merokok, 27 pasien

mengunakkan terapi pengganti nikotin, 3 menggunakann terapi kombinasi anatara zyban dan NRT dan 13 hanya menerima konseling. Pembacaan test CO pada minggu keempat dan tiga bulan, enam dan dua belas bulan secara konsisten dan signifikan lebih rendah jumlah orang yang berhenti merokok dibandingkan orang yang tidak mau berhenti merokok (p<0,05) seperti yang diharapkan pada pasien yang berhenti merokok. Skor cotinine saliva secara signifikan lebih rendah pada pasien yang berhenti merokok dibandingkan dengan pasien merokok tetapi tidak mau berhenti pada bulan ke 12 (p<0,05)

Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistic anatara pasien yang berhenti merokok dengan pasien yang tidak mau berhenti merokok sehubungan dengan jumlah konsumsi bungkus per harinya selama satu tahun (p>0,05) dan status awal perokok yang didasarkan oleh penggunaan berapa bungkus yang digunakan sehari selama satu tahun bukan lah predictor yang bermakna dalam keberhasilan berhentinya merokok oleh seorang pasien (p>0,05). Namun , ketika kita melihat secara retrospektif pada pembacaan awal test CO, pasien yang menyerah atau tidak berhenti merokok pada bulan pertama, tiga bulan atau enam bulan ditemukan memiliki kadar CO awal secara signifikan lebih rendah daripada orang yang berhenti merokok (p<0,05) (enam bulan data awal ditampilakn pada table 1). Analisis regresi ditemukan bahwa test pembacaan CO pada awal secara signifikan sebagai predictor terhenti pada bulan pertama, tiga bulan dan enam bulan (P<0,05) sedangkan data saliva cotinine pada awal test tidak ditemukan predictor yang signifikan keberhasilannya berhenti untuk merokok (P>0,05)

Baik usia maupun jenis kelamin memberikan hubungan untuk berhenti merokok dengan kesuksesan (P>0,05). Kemudian tidak ada hubungan yang signifikan yang diidentifikasi antara keberhasilan berhenti merokok (pada suatu periode) dan metode yang digunakan untuk berhenti merokok. (p>0,05) (data diambil pada bulan 12 dapat dilihat ditabel 2) Namun harus diakui bahwa tujuan penelitian ini adalah bukan untuk membandingkan tingkat keberhasilan berhentinya merokok seseorang dengan metode yang berbeda dan dalam hal apapun, jumlah subjek dalam setiap kelompok yang dilakukan penelitian terlalu rendah untuk dilakukan perbandingan yang berarti yang akan disimpulkan. Data hanya tersedia untuk 39 orang yang berkaitan dengan keberadaan seorang perokok dalam keluarga. Dari 39 subyek ini , 22 (56%) memiliki setidaknya satu perokok tambahan dalam keluarganya. 35% dari subyek yang tidak memiliki perokok dalam keluarga berhenti merokok, dibandingkan 36% dari mereka yang memiliki perokok dalam keluarganya. Kehadiran seseorang perokok lain dalam suatu keluarga tidak berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan terapi untuk berhenti merokok (P>0,05). Pembacaan test metode CO pada mingu keempat,tiga bulan,enam bulan dan 12 bulan dan pembacaan test salivacontinine di tiga bulan dan dua belas bulan tidak terpengaruh oleh adanya pasien perokok lain dalam keluarga.

Discusion Telah ditunjukkan di amerika serikat bahwa ahli perawatan gigi akan efektif dalam memberikan konseling berhenti merokok jika diberikan pelatihan yang tepat. Tingkat berhenti merokok dari penelitian ini kemudian dbandingkan keberhasilannya dengan studi sebelumnya yang dilakukan oleh tim ahli atau kelompok peneliti di inggris yang menunjukkan tingkat

berhenti merokok sekitar 11 sampai 18 %. Tingkat penelitian serupa sebesar 14-15 % yang dilakukan oleh praktisi medis. Presentase orang yang tidak mau berhenti merokok atau bisa dikatakan menyerah dalam dalam proses merokoknya cenderung turun dengan proses waktu ini menunjukkan kesulitan dalam mempertahankan kepantangan secara berkala seseorang dalam suatu kurun waktu. Saat ini dua pertiga perokok di inggris memiliki keinginan untuk berhenti, tetapi hanya sekitar 3 % berhasil untuk berhenti merokok secara permanen setiap tahun, dengan banyak memerlukan upaya sampai berhasil. Ketergantungan yang kuat untuk merokok adalah penyebab sebagian besar terjadinya kegagalan. Penelitian kami dilakukan di rumah sakit kesehatan gigi dan mulut yang telah dirujuk oleh separtemen sub bagian periodontal dengan penyakit yang dijadikan penelitian adalah tentang periodontal kronis. Ada waktu yang dibutuhkan dalam menyediakan konseling dalam program penghentian merokok pada pasien ini sebagai dalam terapi pengobatan. Kuisioner penelitian telah menunjukkan bahwa dokter gigi percaya hambatan untuk keberhasilan untuk berhenti merokok adalah penyediaan konseling untuk proses pengobatan berhenti merokok dan termasuk kurangnya waktu dan efektivitas biaya penelitian. Penelitian juga menyoroti pentingnya pelatihan terhadap dokter-dokter gigi sebagai upaya menumbuhkan kepercayaan dan koordinasi , karena dapat dipandang sebagai hambatan dalam memberikan edukasi kepada pasien untuk berhenti merokok. Dengan pelatihan yang tepat dan dukungan materi yang memadai , perawatan kesehatan mulut dapat mengatasi kebiasaan merokok mereka.

Perlu diketahui bahwa hasil penelitian ini menunjukkan tingkat keberhasilan dalam proses berhenti merokok tampaknya tidak berkaitan dengan metode yang digunakan dalam

proses menghentikan ketergantungan merokok ini, ini sudah dibuktikankan dalam penelitian sebelumnya. Namun, sangat penting untuk dicatat bahwa studi penelitian ini tidak bertujuan untuk menilai tingkat keberhasilan berhentinya seorang pasien dalam kecanduan merokoknya untuk mengobati periodontis kronisnya dengan cara metode yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan terutama untuk mengetahui efektivitas program berhenti merokok oleh pasien periodontis kronis. Kami menemukan bahwa metode untuk berhentinya seseorang dari merokok tidak terpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan seseorang dalam berhenti ketergantungan untuk merokok , namun konsep metode kualitas interaksi antara professional kesehatan dengan pasien yang terjadi selama konseling terapi berhenti merokok ( yang diberikan kepada semua pasien) dapat menjadi metode paling penting dari keberhasilan berhentinya seorang pasien dengan periodontis kronis, tetapi hipotesis ini memerlukan uji lebih lanjut dalam penelitian selanjutnya. Kebutuhan ahli dan dokter gigi dalam proses menghentikan ketergantungan merokok cukup besar dan sangat direkomendasikan sebagai base line pertama dalam proses mengatur atau memperbaiki proses merokok yang terbukti efektif yang diterbitkan oleh National Cancer institute di amerika dan dikenal sebagai 5A. pedoman ini juga diterbitkan bagi subyek yang belum siap untuk berhenti merokok untuk kesehatan gigi dan mulut yang disebut 5R. Di Amerika serikatnya sedikitnya terdapat 50 organisasi perkumpulan ahli professional dan perawat gigi telah mengatur penggunaan tembakau. Hampir setengah dari sekolah gigi dan program kesehatan gigi menyediakan jasa pemeriksaan tembakau untuk intervensi klinis dan beberapa sekolah kesehatan gigi di AS mendirikan program penghentian merokok secara setruktur dalam kesehatan gigi dan mulut pasien rawat jalan. Di inggris , peran tim gigi dalam proses untuk menghentikan ketergantungan merokok pasien dengan keluhan gigi dan rongga

mulut perlu diperluas sebagai intervensi dalam perawatan gigi primer, dan pedoman yang diterbitkan baru-baru ini menekankan pentingnya peran utama professional kesehatan gigi dan mulut dalam memberikan edukasi,nasehat dan dukungan dalam proses menghentikan kebiasaan merokok pada pasien , terutama pasien periodontal kronis. Jumlah bungkus rokok ditemukan sebagai prediktor buruk untuk kesuksesan dalam proses berhenti merokok dan tampaknya metode ini tidak memiliki dampak yang mempengaruhi proses berhenti merokok. Pembacaan test CO bagaimanapun adalah sebagai prediktor untuk status berhenti merokok pada pasien yang ketergantungan dalam merokok. Contohnya pasien yang berhenti merokok secara signifikan akan terlihat lebih rendah dalam pemeriksaan test CO pada saat awal pemeriksaan , yang menunjukkan bahwa test CO sangat sensitif dalam menuntukkan status seorang perokok. Dengan kata lain , tingkat CO mungkin merupakan indicator yang baik dari indicator tingkat kecanduan nikotin. Kesimpulanya, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada potensi besar dalam melakukan program penghentian merokok dalam ilmu kesehatan gigi dan mulut. Tingkat berhenti merokok pada minggu ke empat atau bulan pertama adalah 41% dan pada 12 bulan, seperempat dari subjek penelitian mau berhenti merokok (berhenti di angka sekitar 25%). Tingkat berhenti merokok ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan jumlah sebelumnya yang dilaporkan ke kantor pengurus kesehatan gigi dan mulut. Sebagai contoh dalam tinjauan studi sebelumnya antara penyedia jasa kesehatan perawatan gigi mengenai penghentian program tembakau, Dilaporkan bahwa dokter gigi yang melaksanakan program menghentikan kebiasaan merokok dalam praktek mereka angka keberhasilannya sekitar 10-15% pertahun. Dalam 12 bulan yang berhenti merokok dalam penelitian kami adalah sekitar dua kali dalam penelitian sebelumnya. Atribut kami dalam penelitian ini adalah dengan kualitas tinggi pelatihan yang

dilakukan dalam memberikan konseling berhenti merokok bahwa unruk memelihara ke higenisan gigi dan mulut, kemudian yang berperan selanjutnya adalah kontak kepada pasien dan hubungan yang erat dengan pasien dalam penelitian. Hasil penelitian ini harus dapat

mrendorong pengembangan peran tim medis gigi dan mulut dalam dalam melakuakn proses menghentikan kebiasaan merokok pada pasien periodontal kronis. Perlu dicatat bahwa studi ini dilakukan dalam pengaturan perawatan sekunder dan namun hasil ini tidak akan langsung dikirim kepelayanan bagian gigi umum. Langkah selanjutnya adalah mengembangkan penelitian tersebut menjadi penelitian primer.