Anda di halaman 1dari 20

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Pestisida Istilah pestisida berasal dari bahasa Latin yaitu pestis dan caedo yang bila diterjemahkan secara bebas berarti racun untuk mengendalikan jasad pengganggu. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1973 yang dimaksud dengan pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti serangga, tikus, fungi dan gulma, memberantas rerumputan, mencegah hama-hama, binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Menurut Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Bina Perlindungan Tanaman (1993), pestisida adalah semua zat kimia dan bahan-bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk memberantas hama penyakit nematode dan lain-lain, sedangkan The United State Federal Enviromental Pesticide Control Atc (Green, 1979) mendefenisikan pestisida sebagai semua zat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas, mencegah atau menangkis dari gangguan serangga, binatang pengerat nematode, cendawan, gulma yang dianggap hama kecuali virus, bakteri. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1983), pestisida mempunyai tiga macam nama yang terdiri dari nama umum (common name) adalah nama yang telah didaftarkan pada International Standard Organization, nama kimia (chemical name) yaitu nama unsur atau senyawa kimia dari suatu pestisida yang

Universitas Sumatera Utara

terdaftar pada International Union for Pure and Applied Chemistry dan nama dagang (trade name) yaitu nama dagang dari suatu produk pestisida yang biasanya telah terdaftar dan sudah mendapatkan semacam hak paten dari masing-masing negara. Pestisida dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara tergantung kepada kepentingannya antara lain menurut fisiknya, cara kerjanya, sasaran penggunaanya, tujuan penggunaannya, pengaruh terhadap toksokologinya dan sifat/susunannya. Adapun manfaat dari pengklasifikasian pestisida berdasarkan sifat/susunan kimianya dalam hubungan dengan hama sasaran. 2.1.1. Penggolongan Pestisida Menurut Menurut Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Bina Perlindungan Tanaman (1993), penggolongan pestisida dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara. Berdasarkan susunan kimianya pestisida dapat

dikelompokkan menjadi beberapa golongan antara lain sebagai berikut a. Golongan Organo Fosfat Bahan aktif sebagian besar golongan ini sudah dilarang beredar di Indonesia, misalnya Diazinon, Fenitol, Fenitration, Klorpirifas, Kulnafas dan Malation. Sedangkan bahan aktif lainnya dari golongan ini cukup banyak digunakan untuk beberapa jenis pestisida. Contoh nama formulasi yang menggunakan bahan aktif golongan Organofosfat adalah Herbisida : Scout 180/22 AS, Roundup 75 WSG, Fungisida : Kasumiron 25/1 WP, Afigon 300 EC, Rizolex 50 WP, Insektisida : Curacon 500 EC, Voltage 560 EC, Takuthion 500 E. Pestisida ini masuk kedalam tubuh melalui mulut, kulit atau pernafasan. Gejala keracunan adalah timbulnya

Universitas Sumatera Utara

gerakan otot-otot tertentu, penglihatan mata terganggu, banyak keringat dan otot tidak bisa digerakkan. b. Golongan Organochlorin Pestisida golongan organochlorin di Indonesia hanya digunakan untuk memberantas vektor malaria dan tidak digunakan untuk pertanian. Contoh pestisida organochlorin adalah DDT, Dieldrin dan Eldrin. Ketentuan ini sesuai dengan Keputusan Bersama Tiga Menteri Pertanian Republik Indonesia. Residu organochlorin ini dapat bertahan lama, berakumulasi dalam tanah dan berpengaruh terhadap susunan syaraf terutama pada membran syaraf dan terakumulasi di dalam lemak manusia. Golongan ini mempunyai tiga sifat utama yaitu : merupakan racun yang universal, degradasinya berlangsung sangat lambat dan larut dalam lemak. Pestisida ini merupakan senyawa yang tidak reaktif, bersifat stabil dan persisten. Jenis ini merupakan yang paling banyak menimbulkan masalah. Di negara-negara maju penggunaan pestisida ini telah dibatasi. Gejala keracunan yang disebabkan golongan ini adalah : sakit kepala, pusing, mual, muntah, mencret, badan lemah, gugup, gemetar dan kesadaran hilang. c. Golongan Carbamat Sifat pestisida ini mirip dengan golongan organofosfat, tidak terakumulasi dalam system kehidupan, tetapi cepat diturunkan dan dieliminasi. Penggunaannya cukup luas, baik pada kesehatan masyarakat maupun bidang pertanian. Pestisida ini merupakan pestisida yang aman untuk hewan. Bahan aktif yang termasuk dalam

Universitas Sumatera Utara

golongan ini adalah : Karbaril dan Methanil yang telah dilarang penggunaannya. Namun masih banyak formulasi pestisida berbahan aktif golongan Carbamat, misalnya Fungisida Previcur, Toksin 500 F, Insektisida, misalnya Curater 3 G, Dicarzonil 25 Sp. Bahan aktif ini masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan atau termakan dan kemudian akan menghambat enzim kholinesterase seperti pada keracunan organofosfat. d. Golongan Senyawa bipridilium Bahan aktif yang termasuk golongan ini adalah Paraquat diklarida yang terkandung dalam Herbisida gramoxone. Gejala keracunan adalah sakit perut, mual, muntah, diare, 2-3 hari terjadi kerusakan ginjal, peningkatan kreatinin lever dan kerusakan paru-paru. e. Golongan Arsen Bahan aktif yang termasuk golongan ini adalah Arsen Pentoksida, Kemirin dan Arsen Pentoksida Dihidrat, yang digunakan untuk insektisida rayap kayu dan rayap tanah, masuk kedalam tubuh melalui mulut dan pernafasan. Berdasarkan bentuk fisik, jalur masuk pestisida ke dalam tubuh dan daya racunnya bila terhirup atau terkontaminasi, pestisida dibagi menjadi 4 (empat) kelas seperti diuraikan pada Tabel 2.1. di bawah ini

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1. Kriteria Klasifikasi Pestisida Berdasarkan Bentuk Fisik, Jalan Masuk ke Dalam tubuh dan Daya Racunnya LD50 untuk tikus (mg/kg) Oral Dermal Padat Cair Padat Cair I. a. Sangat berbahaya sekali <5 < 20 < 10 < 40 b. Sangat berbahaya 5 50 20 200 10 100 40 - 400 II. Berbahaya 50 500 200 2000 100 1000 400 4000 III. Cukup berbahaya > 500 >2000 > 1000 > 4000 Klasifikasi
Sumber : Depkes RI, 2003

Jenis pestisida yang paling beracun adalah yang mirip dengan gas syaraf, yaitu jenis Organofosfat dan Metilcarbamat. Pestisida jenis ini sangat berbahaya karena mereka menyerang acetil cholinesterase, suatu bahan yang diperlukan oleh system syaraf kita agar dapat berfungsi dengan normal. Pestisida jenis ini menurunkan kadar acetil cholinesterase dan hal inilah yang memunculkan gejalagejala keracunan. Pestisida gas syaraf menyebabkan kematian yang paling banyak di seluruh dunia dibanding pestisida jenis lain (Suwondo, 2005). Tabel 2.2. Beberapa jenis pestisida gas syaraf yang paling berbahaya ORGANOPOSPAT 1. Azinophosmethyl 2. Demeton methyl 3. Dichlorvos / DDVP 4. Disulfoton 5. Ethion 6. Ethyl parathion / Parathion 7. Fenamiphos 8. Fensulfothin 9. Methamidophos 10. Methidathion 11. Methyl parathion 12. Mevinphos 13. Phorate 14. Sulfotepp 15. Terbufos
Sumber : Depkes RI, 2003

METILCARBAMAT 1. Aldicarb 2. Carbofuran 3. Fomentanate 4. Methomyl 5. Oxamyl 6. Propoxur

Universitas Sumatera Utara

2.1.2. Penanganan Pestisida Telah diketahui bahwa pestisida, karena sifat dan racunnya (fisik dan kimia) adalah bahan kimia yang sangat berbahaya bagi kehidupan dan lingkungan. Oleh karena itu dalam penanganan pestisida, diperlukan fasilitas perlengkapan keselamatan kerja (APD) yang lengkap dan pengetahuan yang cukup bagi orang-orang yang terlibat dengan pestisida (Depkes RI, 2003). Pemerintah telah mengeluarkan PP No 7 tahun 1973 sebagai dasar hukum yang mengatur penanganan tentang peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida. Pengawasan dalam hal penanganan pestisida dimaksudkan untuk mencegah terjadinya keracunan bagi para pekerja yang menangani pestisida. Setiap pekerja yang menangani pestisida diharuskan menggunakan pakaian kerja dan alat pelindung kerja berupa pakaian pelindung badan, topi sebagai pelindung kepala, googles sebagai pelindung mata, masker sebagai pelindung pernafasan dan mulut, serta sepatu boot dan sarung tangan. Penanganan keracunan yang pertama dan paling penting adalah berhenti bekerja dengan pestisida secepatnya (tinggalkan tempat kerja). Jika keracunan karena terkena pestisida melalui kulit, maka sebaiknya mengganti baju dan mencuci bahanbahan kimia tersebut dengan sabun dan air. Jika menderita keracunan akut, maka kita membutuhkan perawatan kesehatan darurat. Bahkan jika tidak yakin tentang penyebab gejala-gejala tersebut, sebaiknya mencari cara aman dan kunjungi petugas kesehatan.

Universitas Sumatera Utara

2.1.3. Dampak Akut dan Kronis Pestisida Acetil cholinesterase adalah enzim yang berfungsi sebagai katalisator pada hidrolisa asetilkolin menjadi kolin dan asetat (Extoxnet, 1993). Menurut Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan (1989), acetil cholinesterase adalah suatu enzim, suatu bentuk dari katalis biologi yang di dalam jaringan tubuh berperan agar otot-otot, kelenjar-kelenjar dan sel-sel syaraf bekerja secara terorganisir dan harmonis. Jika aktifitas acetil cholinesterase turun atau berkurang karena adanya pestisida dalam darah yang akan membentuk senyawa phosphorilated cholinesterase, sehingga enzim tersebut tidak dapat berfungsi lagi. Akibatnya kadar yang aktif dari enzim Asetilkolinesterase akan berkurang. Oleh karena itu pengukuran enzim tersebut di dalam darah dapat digunakan untuk mendiagnosa kemungkinan kasus keracunan pestisida. Aktivitas acetil cholinesterase dalam darah seseorang yang diuji dinyatakan sebagai persentase dari aktivitas enzim acetil cholinesterase dalam darah normal. Berdasarkan hasil pada pembacaan yang didapat, penentuan tingkat keracunan adalah sebagai berikut : 1. 75% - 100% dari normal Kelompok ini masuk dalam kategori normal. Tidak ada tindakan, tetapi perlu diuji ulang dalam waktu dekat. 2. >50% - <75% dari normal Pada kelompok ini telah terjadi keracunan. Jika penderita lemah agar dianjurkan istirahat (tidak kontak) dengan pestisida selama 2 (dua) minggu,

Universitas Sumatera Utara

kemudian diuji ulang sampai aktivitas acetil cholinesterase kembali normal. Kelompok ini termasuk kategori keracunan ringan. 3. >25% - 50% dari normal Kelompok ini sangat serius dan perlu dilakukan pengujian ulang. Jika hasilnya tetap sama maka orang tersebut perlu diistirahatkan dari semua pekerjaan yang berhubungan dengan pestisida. Kelompok ini termasuk kategori keracunan sedang. 4. 0% - 25% dari normal Tingkat pemaparan yang sangat berbahaya, perlu diuji ulang dan yang bersangkutan harus diistirahatkan dari semua pekerjaan dan perlu dirujuk kepada pemeriksaan medis. Kelompok ini termasuk dalam kategori keracunan berat (Depkes RI, 1992). Masalah utama yang berkaitan dengan keracunan pestisida adalah bahwa gejala dan tanda khususnya dari golongan organofosfat umumnya tidak spesifik bahkan cenderung menyerupai gejala penyakit biasa seperti pusing, mual, dan lemah sehingga oleh masyarakat dianggap sebagai suatu penyakit yang tidak memerlukan pengobatan khusus. Gejala klinis baru akan timbul bila aktivitas acetil cholinesterase 50% dari normal atau lebih rendah. Akan tetapi gejala dan tanda keracunan organofosfat juga tidak selamanya spesifik bahkan cenderung menyerupai gejala penyakit biasa. Pemulihan kembali aktifitas enzim acetil cholinesterase pada keadaan normal memerlukan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 1-2 bulan (Depkes RI, 1984).

Universitas Sumatera Utara

Batas normal acetil cholinesterase dalam serum darah manusia berkisar antara 11,4-3,5/I. batasan ini tidak memberikan dampak negatif berupa gejala keracunan yang lebih fatal akibat pemaparan pestisida. Walaupun gejala keracunan akut dapat dilihat setelah 12 jam pemakaian pestisida yang tidak aman (Knedel, 1998). Keracunan akut terjadi bila efek-efek keracunan pestisida dirasakan langsung pada saat itu. Efek akut dibagi menjadi dua bagian, yaitu efek akut lokal yaitu bila efeknya hanya mempengaruhi bagian tubuh yang terkena kontak langsung dengan pestisida, biasnya berupa iritasi, seperti mata kering, kemerahan dan gatal di mata, hidung, tenggorokan dan kulit, mata berair dan batuk. Efek yang kedua yaitu efek akut sistemik. Efek ini muncul bila pestisida masuk ke dalam tubuh dan mempengaruhi seluruh sistem tubuh. Darah akan membawa pestisida ke seluruh bagian dari tubuh dan mempengaruhi mata, jantung, paru-paru, hati, lambung, otot, usus, otak dan syaraf (Knedel, 2000). Keracunan kronis terjadi bila efek-efek keracunan pada kesehatan membutuhkan waktu untuk berkembang. Efek-efek jangka panjang ini dapat muncul setelah berbulan-bulan dan bertahun-tahun setelah terpapar pestisida. Dampak terhadap organ tubuh, diantaranya dapat merusak, antara lain : a. Sistem syaraf Banyak pestisida yang digunakan dibidang pertanian sangat berbahaya bagi otak dan syaraf. Bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi sistem syaraf disebut neurotoksin. Beberapa gejala dari penyakit pada otak yang disebabkan oleh

Universitas Sumatera Utara

pestisida adalah masalah ingatan yang gawat, sulit berkonsentrasi, perubahan kepribadian, kelumpuhan, kehilangan kesadaran dan koma. b. Hati atau lever Hati adalah organ yang berfungsi menetralkan bahan-bahan kimia beracun, maka hati itu sendiri sering kali rusak untuk pestisida. Hal ini dapat menyebabkan penyakit hati seperti hepatitis. c. Bagian perut Muntah-muntah, sakit perut dan diare adalah gejala umum dari keracunan pestisida. Banyak orang yang bekerja dengan pestisida selama bertahun-tahun, mengalami nafsu makan yang turun. d. Sistem kekebalan Reaksi alergi adalah gangguan sistem kekebalan tubuh manusia. Hal ini adalah reaksi yang diberikan tubuh terhadap bahan-bahan asing. Pestisida bervariasi dalam mengakibatkan reaksi alergi. e. Keseimbangan hormon Beberapa pestisida dapat mempengaruhi horman reproduksi yang dapat menyebabkan penurunan produksi sperma pada pria dan pertumbuhan sel telur yang tidak normal pada wanita. Beberapa pestisida dapat menimbulkan pelebaran tiroid yang akhirnya menjadi kanker tiroid. Kegiatan pertanian yang menggunakan pestisida memiliki kekuatiran yang utama yaitu bagaimanan pestisida ini dapat mempengaruhi kesehatan. Bukan hanya orang yang menyemprot pestisida saja yang perlu diperhatikan, tapi juga orang-orang

Universitas Sumatera Utara

yang tinggal dekat mereka juga perlu diperhatikan, khususnya Ibu-ibu hamil serta anak dalam kandungannya, beserta dengan ternak, ikan dan burung. Pestisida dapat menyebabkan kematian pada makhluk hidup dan mencemari tanah dan air, karena pestisida umumnya ramah pada lingkungan (Suwondo, 2005). Sering kali orang tidak menyadari bahwa mereka keracunan pestisida karena gejala-gejalanya mirip dengan masalah kesehatan lainnya, misalnya pusing dan kudis. Ini disebabkan karena kebanyakan gejala-gejala ini tidak muncul dengan cepat, seperti gangguan sisitem syaraf atau kanker, orang tidak menyadari bahwa penyakit mereka mungkin disebabkan oleh pestisida (Suwondo, 2005)

2.1.4. Toksikologi Pestisida Mekanisme masuknya pestisida ke dalam tubuh melalui tiga cara, yaitu melalui penghirupan, pencernaan dan kulit. Pestisida terdistribusi ke seluruh jaringan terutama sistem saraf pusat. Beberapa diantaranya mengalami biotransformasi, dirubah menjadi intermediet yang lebih toksik (paraoxon) sebelum dimetabolisir (Lu, 1995). Semuanya mengalami degradasi hydrolysis di dalam hati dan jaringanjaringan lain, biasanya dalam waktu hitungan jam setelah absorbsi. Waktu paruh organofosfat berkisar antara 1-2 hari. Produk degradasinya mempunyai toksisitas yang rendah dan dikeluarkan/diekskresikan dalam bentuk urin dan faeces. Toksisitas atau daya racun pestisida adalah sifat bawaan yang

menggambarkan potensi pestisida tersebut untuk membunuh secara langsung pada hewan atau manusia. Toksisitas dinyatakan dalam LD50 (lethal dose), yakni jumlah

Universitas Sumatera Utara

pestisida yang menyebabkan kematian 50% dari binatang percobaan yang umumnya digunakan adalah tikus. Dosis dihitung dalam mg per kilogram berat badan (mg/kg). Namun ada perbedaan antara LD50 oral dan LD50 dermal. LD50 oral adalah dosis yang menyebabkan kematian pada binatang percobaan tersebut diberikan secara oral atau melalui makanan, sedangkan LD50 dermal ialah dosis yang terpapar melalui kulit (Depkes RI, 2003). Pestisida meracuni manusia melalui berbagai proses seperti : 1. Kulit Hal ini dapat terjadi apabila pestisida terkena pada pakaian atau langsung pada kulit ketika petani memegang tanaman yang baru saja disemprot, ketika pestisida pada kulit atau pakaian, ketika petani mencampur pestisida tanpa sarung tangan, atau ketika anggota keluarga mencuci pakaian yang telah terkena pestisida. Untuk petani atau pekerja lapangan, cara keracunan yang paling sering terjadi adalah melalui kulit. 2. Pernafasan Hal ini paling sering terjadi pada petani yang menyemprot pestisida atau pada orang-orang yang ada di dekat tempat penyemprotan. Perlu diingat bahwa beberapa pestisida yang beracun tidak berbau. 3. Mulut Hal ini terjadi bila seseorang meminum pestisida secara sengaja ataupun tidak, ketika seseorang makan atau minum air yang telah tercemar, atau ketika

Universitas Sumatera Utara

makan dengan tangan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah berurusan dengan pestisida.

2.1.5. Pemeriksaan Acetil Cholinesterase Darah dengan Tintometer Pemeriksaan acetil cholinesterase darah petani dilakukan dengan empat langkah yaitu : A. Uji Reagensia 1. Reagensia dicampur dengan aquades bebas CO2 dengan cara

menggoyangkan labu elemeyer yang ditutup rapat. 2. Satu test tube di dalamnya 0,5 cc larutan indicator, segera tutup kembali tabung tersebut. 3. Selanjutnya ambil 0,001 cc darah dari kontrol (orang yang diperkirakan normal). 4. Campuran tersebut ditambah dengan 0,5 cc larutan substrat. 5. Pindahkan larutan tersebut pada kurvet dan tempelkan pada sebelah kanan komperator. 6. Komperator diputar sampai didapatkan warna yang sama antara warna sebelah kanan dan sebelah kiri pada kaca komperator tersebut dan bacalah persentasenya.

Universitas Sumatera Utara

b. Pengembalian sampel darah 1. Kurvet 2,5 mm dibersihkan dan dimasukkan ke dalam sample darah dan buatlah blanko darah dengan menambahkan 0,01 cc darah pada 1 cc aquadest dalam kurvet dan tempatkan kurvet ini di ruang kiri komperator. 2. Satu tabung reaksi lengkap dengan sumbat karet disiapkan untuk setiap orang yang akan diuji cholinnya dan ditempatkan dalam rak. 3. Setiap tabung dimasukkan 0,5 cc larutan indicator dan segera tutup 4. Dari tiap orang yang akan diperiksa, sample darahnya diambil sebanyak 0,05 cc dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi bulat miliknya. 5. Catat temperature ruangan. c. Penambahan Larutan Substrat Supaya diperhatikan waktu nol dan secepatnya ditambah 0,05 cc larutan substrat kedalam tabung yang akan diuji, segera sumbat dengan tutup karetnya, diamkan tiap-tiap tabung untuk jangka waktu yang diperlukan. d. Pembandingan Warna 1. Segera setelah waktu yang diperlukan tersebut, pindahkan isi tabung ke dalam kurvet yang 2,5 mm 2. Kurvet tersebut ditempatkan pada ruang sebelah kanan komperator dan cari warna yang sama dengan yang di disk secepatnya. 3. Perhatikan berapa persen aktifitas cholinnya dan catat aktifitas.

Universitas Sumatera Utara

2.2. Metode Penyemprotan Pestisida Saat pemakaian pestisida, umumnya perhatian para petani lebih tertuju pada masalah pengendalian hama yang menyerang tanaman sehingga keselamatan petani jadi kurang diperhatikan. Pemakaian pestisida menjadi hal yang rutin sehingga dianggap tidak berbahaya. Metode atau cara yang dilakukan sewaktu penyemprotan pestisida akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya pemaparan terhadap petani. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar para petani terhindar dari pemaparan sewaktu menyemprotkan pestisida yaitu : a. Membaca semua instruksi dan pengarahan yang ada pada label pestisida, menyangkut pemakaian konsentrasi dan dosis yang tepat, aturan keselamatan, serta pertolongan bagi penderita keracunan. b. Tidak diperkenankan merokok, makan, dan minum selama menyemprotkan pestisida. Cucilah tangan dan muka dengan menggunakan sabun jika ingin makan, minum dan merokok. Tubuh dan pakaian harus terhindar dari tetesan pestisida. Jika terjadi, pakaian atau bagian tubuh yang terkena harus dicuci dengan air dan sabun. c. Jangan membuka kemasan dengan cara memaksa atau mencongkel karena cairan pestisida akan tersembur keluar dan mengenai muka. d. Jangan menggunakan alat penyemprotan yang bocor. Periksa selalu kondisi alat semprot sebelum menyemprotkan pestisida.

Universitas Sumatera Utara

e. Gunakan selalu alat-alat pelindung pada saat menyemprotkan pestisida. Pelindung yang dipakai minimal adalah masker, celana panjang, kaca mata, dan topi. f. Jangan menyemprotkan pestisida melawan arah angin. Pada saat menyemprot berjalanlah searah dengan arah tiupan angin, sehingga kabut semprot tidak tertiup ke arah badan. g. Jangan meniup nozel yang tersumbat. Gunakanlah jarum yang halus untuk membersihkan nozel (Djojosumarto, 2000).

2.3. Jeda Waktu Penyemprotan Pemaparan pestisida pada tubuh manusia dengan frekuensi yang sering dan dengan interval waktu yang pendek menyebabkan residu pestisida dalam tubuh manusia menjadi lebih tinggi (Said 1994). Secara tidak langsung kegiatan petani yang mengurangi frekuensi menyemprot dapat mengurangi terpaparnya petani tersebut oleh pestisida. Menurut Mariani dkk, (2001) istirahat minimal satu minggu dapat menaikkan aktivitas kholinesterase dalam darah pada petani penyemprot. Istirahat minimal satu minggu pada petani keracunan ringan dapat menaikkan aktivitas kholinesterase dalam darah menjadi normal (87,50%). Penelitian Sumekar, dkk (2006), menyebutkan bahwa kejadian paparan pestisida disebabkan oleh beberapa faktor determinan, yaitu selang waktu antara kontak terakhir dengan pengukuran kadar kolinesterase, disamping faktor lain seperti perilaku petani dalam menyemprot, frekuensi penyemprotan, pemakaian alat

Universitas Sumatera Utara

perlindungan diri, dosis pestisida dan lama penyemprotan. Hasil analisis regresi logistik pada tingkat kemaknaan 5% menunjukkan bahwa ada pengaruh selang waktu pengukuran terhadap resiko paparan pestisida. Hasil penelitian Praptini, dkk (2002) tentang Faktor-faktor yang Berkaitan dengan Kejadian Keracunan Pestisida Pada Tenaga Kerja Teknis Pestisida Perusahaan Pemberantasan Hama (Pest Control) di Kota Semarang Tahun 2002, menyimpulkan bahwa rata-rata angka kejadian keracunan pestisida sebesar 69,91%, sehingga disarankan bagi tenaga kerja teknis pestisida, untuk mencegah terjadinya keracunan pestisida, melakukan penyemprotan tidak lebih dari 2 kali setiap minggu dan tidak melakukan penyemprotan secara berturut-turut lebih dari 12 jam dalam waktu 3 bulan.

2.4. Lama Penyemprotan Pestisida Lamanya penyemprotan pestisida yang dilakukan tenaga penyemprot sejalan dengan lamanya penyemrpto tersebut terpapar pestisida. Paparan yang berlangsung terus-menerus lebih berbahaya daripada paparan yang terputus-putus pada waktu yang sama. Jadi pemaparan yang telah lewat perlu diperhatikan bila terjadi risiko pemaparan baru. Karena itu penyemprot yang terpapar berulang kali dan berlangsung lama dapat menimbulkan keracunan kronik. Telah dibuktikan bahwa penggunaan pestisida secara berlama lama untuk pertanian dapat menyebabkan kanker seperti non Hodgkins lymphoma (Weisenburger, 1990)

Universitas Sumatera Utara

2.5. Pertanian Rumah Kaca dan Keracunan Pestisida Rumah kaca cukup banyak ditemukan di Indonesia, dataran tinggi di kepulauan Indonesia yang dapat digunakan untuk produksi holtikultura bernilai tinggi dan budidaya perkebunan. Namun karena elevasi yang sangat tinggi cukup jarang di Indonesia, pendinginan adiabatik kurang efisien, serta tingkat kelembaban cukup tinggi di sebagian besar daerah, dan populasi hama juga membatasi produktivitas. Menurut Richardson (2007), tanaman rumah kaca biasanya ditemui di daerah curah hujan tinggi tuntuk mengendalikan hama dan penyakit. Selain itu, plastik yang digunakan untuk menutup rumah kaca di Indonesia memiliki keterbatasan lokal dan perbedaan yang harus diatasi: dampak panas dan kelembaban dari penggunaan plastik melalui pertumbuhan lumut, yang mengurangi kualitas sinar secara cepat. Tanaman yang biasanya tumbuh di rumah kaca adalah tomat anggur, tomat selada, bunga, paprika, dan jenis lain seperti kentang untuk bibit dan pohon buah untuk batang tunas. Metode produksi yang dipelajari dari pengalaman atau dari sumber pasar juga diragukan, karena tampaknya lebih sesuai untuk daerah gurun dengan ketersediaan sinar yang tinggi, kelembaban rendah, dan dingin untuk suhu dingin. Situasi sebenarnya adalah kebalikannya: ketersediaan sinar yang rendah dan panas, lembab dengan kesenjangan suhu yang kecil. Oleh karena itu, kredibilitas sistem produksi dipertanyakan; sedikit usaha yang telah dilakukan untuk mengembangkan sistem produksi rumah kaca yang mempertimbangkan lingkungan setempat, mengurangi kelemahan dan meningkatkan kekuatannya (Richardson, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Menurut Bessin and Townsend (1997), penyemprotan pestisida pada rumah kaca memberi bahaya yang besar dan mengorbankan pekerja. Sebagian besar dari pestisida terdaftar untuk outdoor digunakan pada tanaman tertentu tidak dapat digunakan pada tanaman yang sama di rumah kaca. Banyak bidang pestisida diberi label untuk penggunaan dilarang untuk penggunaan rumah kaca karena kekhawatiran tentang keselamatan pekerja. Agar pestisida yang akan direkomendasikan untuk digunakan di rumah kaca, label pestisida harus menyatakan bahwa produk ini untuk digunakan pada tanaman khusus dewasa dalam rumah kaca. Beberapa pestisida rumah kaca sangat beracun, untuk keamanan, terutama di daerah tertutup (seperti rumah kaca) beberapa penyemprotan melarang pekerja dan lain orang dari seluruh tertutup memasuki daerah sampai entri yang dibatasi interval berakhir, bahkan jika hanya sebagian dari rumah kaca diperlakukan pembatasan entri dapat bervariasi interval 12-48 jam tergantung pada pestisida. Sementara pekerja diizinkan masuk ke daerah diperlakukan dengan peralatan pelindung selama periode ini, hanya operasi tertentu tenaga kerja tangan diperbolehkan dan dilarang. Pestisida harus digunakan secara aman, yaitu dengan cara selalu meminimalkan pemaparan selama pencampuran, penyemprotan, serta menggunakan peralatan pelindung yang terdaftar di label dan latihan akal sehat (Bessin and Townsend, 1997). Menurut Sammons et al (2005), solusi untuk menanggulangi bahaya

kesehatan manusia saat ini yang terlibat dalam penyemprotan bahan kimia yang berbahaya dalam konteks ruang yang panas dan beruap rumah kaca. Hal ini dicapai dengan desain dan konstruksi mobile yang otonom robot untuk digunakan dalam

Universitas Sumatera Utara

pengendalian hama dan pencegahan penyakit penyemprotan dalam rumah kaca komersial.

2.6. Kerangka Konsep Penelitian Berdasarkan variabel-variabel penelitian, maka dapat disusun kerangka konsep penelitian sebagai berikut : Pemeriksaan Acetil Cholinesterase dalam darah Penyemprot Pestisida di dalam Rumah Kaca 1. Lama penyemprotan 2. Jeda waktu penyemprotan 3. Metode penyemprotan Penyemprot Pestisida di luar Rumah Kaca 1. Lama penyemprotan 2. Jeda waktu penyemprotan 3. Metode penyemprotan Dampak Pestisida Tingkat Keracunan Pestisida
0-25% (keracunan berat) >25-50% (keracunan sedang) >50%-<75% (keracunan ringan) 75-100% (normal)

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

Universitas Sumatera Utara