Anda di halaman 1dari 14

Istihsan adalah salah satu cara atau sumber dalam mengambil hukum Islam.

Berbeda dengan Al-Quran, Hadits, Ijma dan Qiyas yang kedudukannya sudah disepakati oleh para ulama sebagai sumber hukum Islam, istihsan adalah salah satu metodologi yang digunakan hanya oleh sebagian ulama saja, tidak semuanya. Al-Imam Asy-Syafii dalam mazhabnya termasuk kalangan ulama yang tidak menerima istihsan dalam merujuk sumber-sumber syariah Islam. Sebaliknya, Al-Imam Abu Hanifah justru menggunakannya. samping madzhab Hanafi, termasuk sebagian madzhab Maliki danmadzhab Hambali. Pengertian Istihsan Menurut bahasa, istihsan berarti menganggap baik atau mencari yang baik. Menurut ulama ushul fiqh, ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan kepada hukum yang lainnya, pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara. Jadi singkatnya, istihsan adalah tindakan meninggalkan satu hukum kepada hukum lainnya disebabkan karena ada suatu dalil syara yang mengharuskan untuk meninggalkannya. Misal yang paling sering dikemukakan adalah peristiwa ditinggalkannya hukum potong tangan bagi pencuri di zaman khalifah Umar bin Al-Khattab ra. Padahal seharusnya pencuri harus dipotong tangannya. Itu adalah suatu hukum asal. Namun kemudian hukum ini ditinggalkan kepada hukum lainnya, berupa tidak memotong tangan pencuri. Ini adalah hukum berikutnya, dengan suatu dalil tertentu yang menguatkannya. Mula-mula peristiwa atau kejadian itu telah ditetapkan hukumnya berdasar nash, yaitu pencuri harus dipotong tangannya. Kemudian ditemukan nash yang lain yang mengharuskan untuk meninggalkan hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan itu, pindah kepada hukum lain. Dalam hal ini, sekalipun dalil pertama dianggap kuat, tetapi kepentingan menghendaki perpindahan hukum itu. Khilaf Tentang Dasar Hukum Istihsan Yang menentang istihsan dan tidak menjadikannya sebagai dasar hujjah ialah Al-Imam As-Syafii dan mazhabnya. Menurut mereka adalah menetapkan hukum hanya berdasarkan keinginan hawa nafsu. Imam Syafii berkata, Siapa yang berhujjah dengan istihsan berarti ia telah menetapkan sendiri hukum syara berdasarkan keinginan hawa nafsunya, sedang yang berhak menetapkan hukum syara hanyalah Allah SWT. Dalam buku Risalah Ushuliyah karangan beliau, dinyatakan, Perumpamaan orang yang melakukan istihsan adalah seperti orang yang melakukan shalat yang menghadap ke suatu arah yang menurut istihsan bahwa arah itu adalah arah Kabah, tanpa ada dalil yang diciptakan pembuat syara untuk menentukan arah Kabah itu. Namun kalau diteliti lebih dalam, ternyata pengertian istihsan menurut pendapat Madzhab Hanafi berbeda dari istihsan menurut pendapat Madzhab Syafii. Menurut Madzhab Hanafi istihsan itu semacam qiyas, dilakukan karena ada suatu kepentingan, bukan berdasarkan hawa nafsu, sedang menurut Madzhab Syafii, istihsan itu timbul karena rasa kurang enak, kemudian pindah kepada rasa yang lebih enak. Maka seandainya istihsan itu diperbincangkan dengan baik, kemudian ditetapkan pengertian yang disepakati, tentulah perbedaan pendapat itu dapat dikurangi. Karena itu asy-Syathibi dalam kitabnya Al-Muwfaqt menyatakan, orang yang menetapkan hukum berdasarkan istihsan tidak boleh berdasarkan rasa dan keinginannyya semata, akan tetapi haruslah berdasarkan hal-hal yang diketahui bahwa hukum itu sesuai dengan tujuan Allah SWT menciptakan syara dan sesuai pula dengan kaidah-kaidah syara yang umum. Contoh Istihsan Menurut madzhab Abu Hanifah, bila seorang mewaqafkan sebidang tanah pertanian, maka dengan menggunakan istihsan, yang termasuk diwaqafkan adalahhak pengairan, hak membuat saluran air di atas tanah itu dan sebagainya. Sebab kalau menurut qiyas (jali), hak-hak tersebut tidak mungkin diperoleh, karena tidak boleh mengqiyaskan waqaf itu dengan jual beli. Pada jual beli yang penting ialah pemindahan hak milik dari penjual kepada pembeli. Bila waqaf diqiyaskan kepada jual beli, berarti yang penting ialah hak milik itu. Sedang menurut istihsan hak tersebut diperoleh dengan mengqiyaskan waqaf itu kepada sewa-menyewa. Pada sewa-menyewa yang penting ialah pemindahan hak memperoleh manfaat dari pemilik barang kepada penyewa barang. Demikian pula halnya dengan waqaf. Yang penting pada waqaf ialah agar barang yang diwaqafkan itu dapat dimanfaatkan. Sebidang sawah hanya dapat dimanfaatkan jika memperoleh pengairan yang baik. Jika waqaf itu diqiyaskan kepada jual beli (qiyas jali), maka tujuan waqaf tidak akan tercapai, karena pada jual beli yang diutamakan pemindahan hak milik. Karena itu perlu dicari asalnya yang lain, yaitu sewa-menyewa. Kedua peristiwa ini ada persamaan illat-nya yaitu mengutamakan manfaat barang atau harta, tetapi qiyasnya adalah qiyas khafi. Karena ada suatu kepentingan, yaitu tercapainya tujuan waqaf, maka dilakukanlah perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khafi, yang disebut istihsan. Contoh Lain

Menurut Madzhab Hanafi, sisa minuman burung buas, seperti elang, burung gagak dan sebagainya adalah suci dan halal diminum. Hal ini ditetapkan dengan istihsan. Padahal seharusnya kalau menurut qiyas (jali), sisa minuman binatang buas, seperti anjing dan burung-burung buas adalah haram diminum karena sisa minuman yang telah bercampur dengan air liur binatang itu diqiyaskan kepada dagingnya. Binatang buas itu langsung minum dengan mulutnya, sehingga air liurnya masuk ke tempat minumnya. Sedangkan menurut qiyas khafi, burung buas itu berbeda mulutnya dengan mulut binatang huas. Mulut binatang buas terdiri dari daging yang haram dimakan, sedang mulut burung buas merupakan paruh yang terdiri atas tulang atau zat tanduk dan tulang atau zat tanduk bukan merupakan najis. Karena itu sisa minum burung buas itu tidak bertemu dengan dagingnya yang haram dimakan, sebab di antara oleh paruhnya, demikian pula air liurnya. Dalam hal ini keadaan yang tertentu yang ada pada burung buas yang membedakannya dengan binatang buas. Berdasar keadaan inilah ditetapkan perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khafi, yang disebut istihsan. Wallahu alam bishshawab, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc http://trimudilah.wordpress.com/2007/07/26/tentang-istihsan/

A. Pengertian Istihsan menurut bahasa adalah menganggap sesuatu itu baik sedangkan menurut istilah menurut ulama ushul adalah berpaling seorang mujtahid dari tutunanan qiyas yang jalli( Nyata) kepaa tutunnan qiyas yang Kaffiy(samar), atau dari hukum Kulli (umum) kepada hukum yang istisnaiy (pengecualian) ada dalil yang menyebabkan mencela akalnya dan ada yang berpaling dari padanya. B. Macam-macam istihsan 1. Menurut sandaranya a. Ulama Hanfiyah menbagi menjadi empat macam. i. Istihsan yang sandaranya Qiyas Khafi ii. Istihsan yang sandaranya Nash iii. Istihsan yang sandaranya Urf iv. Istihsan yang sandaranya Darurat b. Ulam Malikiyah menbagi menjadi tiga macam i. Istihsa yang sandaranya Urf ii. Istisan yang sandaranya Maslahat iii. Istihsan yang sandaranya Raful Haraj 2. Menurut perpindahn hukumnya a. Istihsan dari qiyas jally ke qiyas Kahfy. b. Istihsan dari nas hukum yan umum ke hukum yan khusus c. Istihasan dai hukum kully ke hukum istisna C. Kehujjahan istihsan Jumhur ulama Malikiyah dan hanabillah menetapkan bahwa istihsan adalah suatu dalil yang syarii yang dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan hukum terhadap sesutu yang telah ditetapkan qiyas atau keumuman nas Kebolehan mengunakan istihsan sebagai hujjah, para ulama berbeda pendapat ada yang menyetujui ada yang tidak, akan tetapi perselisihan mereka terletak pada perbedaan mereka dalam menberi batasan terhadap istihsan itu sendiri, jadi bukan bukan oprasionalmnya dalam meetapkan hukum berdasarkn istihsan. http://islamwiki.blogspot.com/2009/01/istihsan.html

1. Pengertian Istihsan Istihsan menurut bahasa berarti menganggap baik terhadap sesuatu. Menurut istilah istihsan ialah meninggalkan qiyas yang nyata untuk menjalankan qiyas yang tidak nyata atau meninggalkan hukum kulli untuk menjalankan hukum istisnai (pengecualian) disebabkan ada dalil yang menurut logika membenarkanya. jelasnya adalah sebagai berikut: Bila seorang mujtahid menghadapi suatu peristiwa yang tidak ada nash yang menetapkan hukumnya, sedang untuk mencari hukumnya terdapat dua jalan yang berbeda beda, jalan yang satu

adalah jelas dapat memberi ketetapan hukumnya dan jalan yang lain samar samar, yakni dapat menetapkan hukumnya dan dapat pula menetapkan hukum yang lain. padahal pada diri mujtahid tersebut terdapat suatu dalil yang dapat digunakan untuk mentarjihkan jalan yang samar samar, maka ia lalu meninggalkan jalan yang nyata tersebut untuk menempuh jalan yang samar samar itu. contohnya: Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa wanita yang sedang haid boleh membaca al Quran berdasarkan istihsan, sedang menurut menurut qiyas hukumnya haram dengan alasan logika sebagai berikut -qiyas: Wanita yang haid diqiyaskan kepada orang junub, karena illatnya sama yaitu tidak suci, sehingga orang yang haid haram membaca al quran - Istihsan: orang yang haid berbeda dengan orang yang junub karena haid waktunya lama. Oleh karna itu orang yang haid diperbolehkan membaca al Quran agar mendapat pahala seperti orang laki laki, kalau tidak boleh, wanita tidak dapat pahala ibadah apapun sewaktu haid. Demikian juga bila ia mendapatkan suatu dalil kulli yang menetapkan suatu hukum, kemudian setelah ia mendapatkan dalil lain yang mengecualikan suatu hukum dari dalil kulli tersebut, maka ia menetapkan hukum lain yang berbeda dengan hukum yang ditetapkan oleh dalil kulli itu. contoh: Jual bel salam (sistem pesanan). Menurut dalil kulli, syara melarang jual beli yang barangnya tidak ada pada waktu akad, sedangkan berdasarkan istihsan diperbolehkan dengan alasan manusia berhajat kepada itu dan sudah menjadi adat mereka serta dianggap membawa kebaikan bagi manusia 2. Kehujahan Istihsan 1) Golongan syafiiyah menolak istihsan karena berhujah dengan istihsan dianggap menetapkan suatu hukum tanpa dasar yang kuat hanya semata mata didasarkan hawa nafsunya 2) Golongan Hanafiyah dan Malikiyah memperbolehkan istihsan dengan pertimbangan istihsan merupakan usaha melakukan qiyas khafi dgn mengalahkan qiyas jally.ini semata mata utk kemaslahatan kehidupan. http://khabibi.wordpress.com/istihsan/

ISTIHSAN PENGENALAN

Sumber hukum ialah sumber pengambilan di dalam menetapkan sesuatu hukum syarak, sama ada ia berasaskan sumber yang disepakati oleh ulama mujtahid ataupun sumber yang tidak disepakati oleh mereka. Sumber hukum dalam perundangan Islam secara umumnya dapat dibahagikan kepada dua bahagian iaitu Dalil QatI dan Dalil Zanni. Dalil Qati ialah dalil-dalil yang disepakati oleh ulama. Dalil tersebut dibahagikan kepada beberapa bahagian iaitu, Al-Quran, Al-Sunnah, Ijmak,dan Al-Qiyas. Dalil Zanni ialah dalil-dalil yang tidak disepakati oleh sebilangan ulama. Contohnya seperti Istihsan, Masalih Mursalah, Uruf, Istishab dan sebagainya.(Abdul Latif Muda 1997:62) Istihsan merupakan salah satu daripada sumber hukum perundangan Islam tetapi ianya tergolong dalam sumber hukum yang tidak disepakati. Oleh yang demikian, ulama berselisih pendapat tentang kehujahan Istihsan, ini kerana terdapat ulama yang menerima dan juga menolak Istihsan. Antara ulama yang menerima kehujahan Istihsan ialah ulama Hanafiah, Imam Malik dan sebahagian ulama Hanbali. Manakala pula, antara ulama yang menolak kehujahan Istihsan ialah Imam Shafie dam ulama shafiI serta sebahagian ulama Hanbali.(Abdul Latif Muda 1997:117) Ulama yang menerima Istihsan berpendapat bahawa Istihsan adalah salah satu cara untuk mencari penyelesaian terbaik bagi kepentingan awam. Manakala pula, menurut sebahagian ulama yang menolak kehujahan Istihsan, jika Istihsan dibenarkan ini boleh membuka jalan ke arah penggunaan akal fikiran tanpa sekatan yang mana ia terdedah kepada kesilapan dalam menetapkan hukum. Hal ini kerana hukum akan dibuat berdasarkan nafsu dan fikiran, sedangkan yang berhak membuat hukum adalah Allah s.w.t. (Amir Husin Mohd Nor 2002:36)

TAKRIF ISTIHSAN Istihsan dari segi bahasa ialah menganggap sesuatu itu baik atau sesuatu yang disukai oleh seseorang serta cenderung ke arahnya sekalipun dipandang buruk (tidak disukai) oleh orang lain. Istihsan dari segi istilah pula dapat di bahagi kepada beberapa pandangan.(Hassan Ahmad 1998:300) Menurut Mazhab Hanafi terdapat dua pengertian iaitu : 1) Qiyas yang tersembunyi illahnya kerana halusnya atau jauhnya dari ingatan hati lagi berlaku didalam keadaan menentang Qiyas yang jelas illahnya kerana bersegeranya kepada ingatan hati pada peringkat permulaan. 2) Dikecualikan masalah sempurna daripada konsep menyeluruh atau kaedah umum kerana ada dalil khusus yang mengkehendaki pengecualian itu sama ada dalil khusus itu terdiri daripada nas atau keadaan yang memaksa (darurat) atau uruf atau kepentingan (maslahat) atau lainnya. (Hassan Ahmad 1998:299) Menurut Mazhab Maliki Istihsan ialah : Mengutamakan tinggal sesuatu dalil dan membolehkan menyalahinya kerana ada dalil lain menentang sebahagian daripada kehendaknya.(Hassan Ahmad 1998:302) Menurut Mazhab Hanafi : Berpaling didalam menghukum sesuatu masalah daripada masalah-masalah yang sebanding dengannya kerana ada dalil yang khusus terdiri dari Al-Quran atau Sunnah.(Hassan Ahmad 1998:303) Menurut Mazhab Shafie : Sesuatu perkara yang difikirkan baik oleh mujtahid.(Hassan Ahmad 1998:303)

Para ulamak mentakrifkan Istihsan sebagai beralih dari Qiyas jaliy kepada Qiyas khafiy atau mengecualikan masalah juziyyah dari asal yang kulliy atau kaedah yang umum berdasarkan kepada dalil yang menyebabkan peralihan ini. Antara ciri-ciri Istihsan ialah beralih dari menggunakan Qiyas jaliy kepada menggunakan Qiyas khafiy berdasarkan dalil tertentu. Selain itu juga,cirri Istihsan ialah menggunakan sesuatu masalah dari asal atau kaedah yang umum berdasarkan kepada dalil tertentu.(Amir Husin Mohd Nor 2002:34) Secara rumusannya Istihsan adalah beralih daripada hukum yang diistinbatkan melalui Qiyas jaliy kepada hukum yang dikeluarkan melalui Qiyas khafiy atau pengecualian satu-satu masalah juziyyah daripada kaedah yang berbentuk kulliy kerana terdapat dalil lain yang lebih disenangi oleh seseorang mujtahid untuk berbuat demikian.

SEJARAH PERKEMBANGAN SUMBER ISTIHSAN Sebelum Abu Hanifah menggunakan istilah istihsan, ulama-ulama sebelumnya telah menggunakan istilah ini. Iyas ibn Muawiyah seorang hakim dalam pemerintahan Umaiyah pernah berkata: tidaklah saya menemukan qadhi, melainkan apa yang dipandang baik manusia.(Dr Abdul Wahhab Khallaf,1984) Sesudah Abu Hanifah menjadi seorang mujtahid dan ahli falsafah dalam bidang hukum, istilah istihsan sering digunakan sehingga penggunaannya hampir sama dengan qiyas. Umpamanya Abu Hanifah berkata: qiyas memutuskan begini, sedang istihsan memutuskan begitu. Kami mengambil istihsan. Qiyas memutuskan begini, akan tetapi kami beristisan, andaikata tidak ada riwayat tentulah saya menggunakan qiyas. Kami menetapkan demikian dengan jalan istihsan, tidak bersesuaian dengan qiyas.(Dr Abdul Wahhab Khallaf,1984) Imam Abu Hanifah terkenal sebagai seorang ahli hukum yang amat pandai menggunakan sumber istihsan dan banyak merujuk masalah-masalah berdasarkan sumber istihsan. Imam Abu Hanifah hampir-hampir digelar imam Istihsan sebagaimana beliau digelar imam ahlul rayi. Muhammad Ibnul Hasan, salah seorang murid Imam Abu Hanifah telah berkata: adalah Abu Hanifah telah berdiskusi dengan sahabat-sahabatnya tentang qiyas. Mereka dapat membantahnya. Tetapi apabila Abu Hanifah mengatakan: saya beristihsan, tidak ada lagi orang yang menandinginya kerana banyak dalil-dalil yang dikemukakan tentang istihsan dalam pelbagai masalah.(Dr Abdul Wahhab Khallaf,1984) Kemudian murid-muridnya yang mencapai darjat ijtihad mengikut jejak Abu Hanifah. Maka telah timbul banyak masalah berdasarkan istihsan sehingga mereka memberi pengertian bahawa istihsan itu merupakan satu dalil hukum dan para mujtahid harus mengetahuinya. Muhammad Ibnul Hasan berpendapat bahawa mengetahui masalah-masalah istihsan adalah syarat untuk berijtihad. Muhammad Ibnul Hasan berkata: mengetahui masalah-masalah istihsan menurut para fuqaha adalah salah satu syarat ijtihad, sama dengan mengetahui dalil-dalil yang lain. Imam Abu Hanifah sendiri berkata: barang siapa mengetahui Al-kitab dan As-sunnah, pendapat para sahabat Rasulullah dan apa yang diistihsankan oleh para para fuqaha, dapatlah dia berijtihad terhadap hal-hal yang dihadapinya dan dia menjalankan yang demikian itu terhadap solatnya, puasanya, hajinya dan segala yang disuruh dan yang dilarang. Maka apabila dia berijtihad dan berqiyas kepada yang menyerupainya dapatlah dia beramal dengan yang demikian walaupun dia salah dalam ijtihadnya.(Dr Abdul Wahhab Khallaf,1984) Abu Hanifah sendiri tidak menegaskan definisi istihsan itu, dari pendapatnya, istihsan digunakan sebagai dalil-

dalil hukum yang digunakan untuk menentang qiyas dan menguatkan istihsan itu bila ia bertentangan dengan qiyas. Maksud istihsan adalah tidak terang, terkecuali pada beberapa masalah yang merupakan hadis atau athar. Beliau sering berkata: Andaikata tidak ada athar, tentulah saya berpegang pada qiyas. Andaikata tidak ada riwayat, tentulah saya berpegang pada qiyas. Tidak boleh dikatakan bahawa Abu Hanifah, Malik, dan sahabat-sahabat beristihsan tanpa menggunakan dalildalil yang syarak, tetapi sebenarnya mereka tidak menerangkan dalil-dalil yang telah mereka maksudkan, dan yang sebenarnya mereka kehendaki dengan pendapat itu. Hal ini tidaklah begitu menghairankan, kerana masa itu belum lagi terjadi masa pentakrifan istilah-istilah baru. Masa itu adalah masa ijtihad dan mereka itu diakui oleh masyarakat sebagai ahli-ahli ijtihad. Imam Syafie menyerang dengan amat tajam bila beliau mendengar pengikut-pengikut Imam Abu Hanifah menggunakan istihsan ketika berdiskusi dengan beliau tanpa menerangkan maksud istilah itu. Mungkin pendebat-pendebat Imam Abu Hanifah menggunakan istilah istihsan tanpa mengetahui sesuatu dalil kerana mereka bertaklid kepada imam-imam mereka. Apabila Imam Syafie bertanya kepada mereka tentang hakikat istihsan, mereka tidak dapat menjawabnya. Imam Syafie membantah orang-orang yang sering menggunakan kata-kata ijmak untuk dijadikan dalil mereka tanpa mereka menyebut dasar pegangan mereka itu. Pendapat-pendapat Imam Syafie, baik dalam Ar Risalah mahupun Al Umm tegas mengatakan bahawa istihsan tanpa dalil tidak dapat diterima bahkan haram dilakukan. Dalam Ar Risalah Imam Syafie berkata: sesungguhnya haram atas seseorang menetapkan sesuatu dengan jalan istihsan, apabila istihsan itu menyalahi hadis. Dan tidak boleh lagi seseorang mengatakan: saya beristihsan tidak menggunakan qiyas. Andaikata kita boleh mengenepikan qiyas, bolehlah bagi ahli-ahli akal dari orang yang tidak mempunyai ilmu mengatakan sesuatu yang tidak ada hadis terhadapnya dengan menggunakan dasar istihsan. Istihsan itu sebenarnya hanya mencari enak sahaja .(Dr Abdul Wahhab Khallaf,1984). Dalam kitab Ibtal al-Istihsan, Imam Syafie menerangkan dalil-dalil yang menegaskan bahawa para mufti tidak boleh berfatwa dengan istihsan, kerana kalu berfatwa dengan istihsan bererti dia telah menyimpang dari AlQuran dan Sunnah, al-ijmak dan qiyas. Dan bererti dia mengikuti pendapatnya sendiri. Dalam masalah ini Daud Ibn Ali menyetujui pendapat Imam Syafie, sebagaimana ulama -ulama Hanbaliyah menyetujui fahaman Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Dalam kitab Risalah Al Usul, Daud menegaskan: Sesungguhnya menetapkan sesuatu dengan qiyas tidak wajib, dan menggunakan istihsan tidak boleh. Shafiyuddin Al Baghdadi dalam kitabnya Qawaidal Usul dan Ibnu Qadamah Al Maqdisi dalam kitabnya Raudhatun Nazhir menyatakan bahawa Imam Ahmad ibn Hanbal bersetuju dengan pandangan Imam Abu Hanifah dalam masalah ini. Demikianlah perkembangan dalam fasa pertama tentang kedudukan istihsan. Satu pihak menggunakan istihsan untuk sesuatu hukum yang mereka kehendaki walaupun mereka belum dapat menernagkan hakikat sebenar istihsan dan satu pihak yang lain menolak dari menggunakan istihsan dengan alasan bahawa istihsan adalah menurut fikiran semata-mata. Sesudah masa membuat dalil bagi dasar-dasar yang digunakan selepas zaman Imam Syafie, barulah tokohtokoh fiqh mazhab Hanafi membuat pentakrifan istihsan dan menerangkan hakikat yang sebenarnya yang mereka ungkapkan dari cabang-cabang hukum yang dinukilkan daripada imam. Namun demikian, pentakrifan yang telah dibuat masih tidak dapat melepaskan istihsan dari arena perselisihan. CONTOH ISTIHSAN ULAMAK HANAFI Antara contoh penggunaan istihsan menurut ulamak Hanafiah terbahagi kepada dua iaitu: 1) Istihsan yang dalilnya qiyas khafiy 2) Istihsan yang pemgecualian dalilnya adalah maslahah Istihsan Yang Dalilnya Qiyas Khafiy. Contohnya adalah seperti berikut :

i Wanita berhaid harus membaca Al-Quran berdasarkan istihsan dan haram berdasarkan al-Qiyas. Pengharamannya berdasarkan kepada al-Qiyas, kerana ianya di qiyaskan dengan orang yang berjima yang mana Illah ( sebabnya) sama iaitu kedua-duanya sama dalam keadaan tidak suci dan diharamkan membaca alQuran. Walaubagaimanapun, hukumnya adalah harus bagi seorang perempuan yang dalam keadaan haid untuk membaca Al-Quran berdasarkan istihsan. Ini kerana haid dan berjima tidak sama dari sudut waktu. Masa haid lama manakala masa berjima adalah sekejap. Oleh itu wanita yang dalam keadaan haid diharuskan membaca Al-Quran, jika tidak beerti dalam tempoh haid yang lama itu ia tidak dapat beibadat dengan membaca AlQuran, sedangkan lelaki dapat membacanya sepanjang masa. ii Menurut ulama Hanafiah dan menurut al-Qiyas terang ( jaliy ), sisa burung helang adalah najis dan haram, kerana ia diqiyaskan dengan sisa binatang buas yang lain, seperti harimau dan serigala. Berdasarkan dagingnya haram dimakan. Menurut Istihsan pula, sisa burung helang dan burung penyambar yang lain tidak najis, kerana binatang tersebut makan dan minum menggunakan paruh dan ia adalah suci apabila diqiyaskan dengan mulut manusia yang bersih. Oleh itu, walaupun dagingnya haram dimakan tetapi air liur yang keluar daripada dagingnya tidak bercampur dengan sisa makanan yang dimakannya kerana ia minum dengan menggunakan paruh bukan lidah.Walaubagaimanapun, sisa binatang buas tetap haram menurut istihsan dan al-Qiyas kerana ia minum dengan menggunakan lidah yang bercampur dengan air liur yang najis. Istihsan Yang Pengecualian Dalilnya Adalah Maslahah. Contohnya adalah seperti berikut : i Hukum syarak menegah melakukan akad atau jual beli terhadap barangan yang tidak ada waktu akad. Berdasarkan Istihsan, harus akad pada jual beli saham, sewa menyewa, upah mengupah atau membuat tempahan atau semua bentuk urusan barangan yang tiada pada waktu akad. Hujah dan alasan penggunaan istihsan adalah kerana manusia memerlukan dan sudah menjadi kebiasaan mereka menjalankan urusan dengan cara tersebut. ii Ulamak menetapkan orang bodoh ( safih ) tidak sah tasarruf atau tabarrru yang berkaitan dengan harta milik mereka. Namun begitu, istihsan mengharuskan dan mengecualikan mereka tasarruf dengan mewakafkan harta untuk diri mereka sewaktu mereka hidup. Penggunaan Istihsan ialah atas dasar menjaga harta mereka daripada habis dan dibelanjakan dengan sia-sia. ( Abdul Latif Muda : 1997 ) BAHAGIAN-BAHAGIAN ISTIHSAN. Istihsan Dengan Nas Istihsan dengan nas bermaksud perkara pada setiap masalah yang menunjukkan hukum yang bertentangan dan berbeza dengan kaedah yang ditetapkan yang mempunyai nas daripada Allah SWT.(Abdul Latif Muda,1997) Dengan kata lain, istihsan ialah suatu nas khusus yang khusus daripada Allah SWT tentang juzuk tertentu hingga hukumnya bertentangan atau berbeza daripada hukum asal walaupun pada masalah yang sama yang sabit dan ianya menjadi kaedah umum.(Nota kuliah,2009). Contohnya Puasa tidak batal apabila makan secara tidak sengaja disebabkan lupa. Menurut kaedah umum dan al-Qiyas, puasa seseorang batal kerana ia tidak menahan diri daripada memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan. Namun hukum itu dikecualikan daripada kaedah umum berdasarkan hadis Baginda saw : Terjemahan: Barang siapa yang terlupa sedangkan ia berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempunakan puasanya. Sesungguhnya Allah memberi makan dan minum kepadanya. ( Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dan At-Tarmizi dan Abu Daud dan Ibnu Majah)

Contoh lain adalah jual beli salam. Rasulullah saw melarang jual beli yang tidak ada di tempat ketika akad (Abdul Wahhab Khalaf, 1984). Dalil nasnya : (Nota Kuliah, 2009)

Istihsan Dengan Ijmak Istihsan dengan ijmak ialah suatu peralihan daripada hukum pada satu-satu masalah yang telah menjadi kaedah umum kepada hukum yang diistinbat melalui ijmak. Ia terhasil setelah ulama mujtahid berfatwa tentang sesuatu masalah yang berlawanan dengan kaedah umum mengenai masalah yang serupa dengannya.(Abdul Latif Muda, 1984) Dalam keadaan lain, para mujtahid berdiam diri dan tidak mengingkarkan apa yang dilakukan oleh masyarakat, yang mana ia bertentangan dengan kaedah umum yang ditetapkan. Sebagai contoh, tidak sah jual salam jika diqiyaskan kepada akad jual beli, kerana benda yang diakadkan belim wujud ketika akad. Oleh kerana jual salam adalah baik dan perlu dalam masyarakat , maka ulama mengira baik dan harus. Contoh lain adalah bayaran menggunakan bilik air dan al-istisna.( Nota kuliah,2009) Istihsan Berdasarkan Uruf Hal tersebut berlaku pada masalah yang menjadi amalan dan kebiasaan masyarakat dan ia bertentangan dengan kaedah umum.Contohnya, menurut fiqh mazhab Hanafi,antara prinsip umum harta wakaf hendaklah berkekalan.Berdasarkan prinsip ini,maka tidak harus mewakafkan harta yang mudah dipindahkan kerana ia menunjukkan tidak berkekalan.Sebaliknya,Imam Muhammad bin Hassan dari mazhab Hanafi mengharuskan wakaf sama ada harta yang mudah dipindahkan kerana ia menjadi kebiasaan atau adat masyarakat mewakafkannya seperti buku-buku.Ia dibolehkan atas dasar istihsan yang menyalahi prinsip umum dan pegangan Imam Abu Hanafiah sendiri.(Abd. Latif Muda&Rosmawati Ali@Mat Zin 1997:123) Istihsan Berdasarkan Maslahah Antara contoh penggunaan istihsan ini ialah mengikut prinsip umum,tidak harus diberikan zakat kepada Bani Hasyim.Tetapi sebaliknya Abu Hanifah mengharuskan memberi zakat kepada mereka dizaman beliau berdasarkan istihsan.Iaitu untuk menjaga kepentingan mereka daripada diabaikan. (Abd. Latif Muda,Rosmawati Ali@Mat Zin 1997:124) Istihsan Berdasarkan Darurat Antara contoh permasalahan:Membersihkan perigi bernajis.Mengikut kaedah umum atau al-Qiyas,perigi tersebut tidak akan bersih walaupun ditimba sebahagian atau semua air dalamnya.Hal tersebut kerana,menimba sebahagian air di dalamnya tidak memberi kesan atau tidak menyebabkan baki air yang ada itu bersih.Begitu juga jika ditimba semua air pun tidak akan membersihkan air yang baru keluar dari mata air dalam perigi tersebut.Justeru itu,air dalam perigi tersebut diharamkan bersih atau tidak akan bersih walaupun ditimba semua air bernajis.Oleh itu diharuskan mengambil air dari perigi tersebut kerana darurat dan diperlukan.(Abd. Latif Muda,Rosmawati Ali @ Mat Zin 1997:123) Istihsan Berdasarkan Qiyas al-Khafiyy Keadaan ini berlaku terhadap masalah yang mana bercamtum di antara dua qiyas.Di mana salah satu jelas illahnya dan satu lagi tidak jelas illahnya.Istihsan jenis ini ialah dengan mengeluarkan hukum berasaskan qiyas yang tidak nyata.(Abd. Latif Muda,Rosmawati Ali @Mat Zin 1997:123) PENUTUP Apabila dikaji dan diteliti pengertian yang diberikan oleh ulamak Hanafi dan Imam Malik, penggunaan Istihsan menurut pendapat mereka bukanlah berdasarkan akal dan nafsu semata akan tetapi masig berdasarkan dalildalil syarak juga. Apabila diteliti pengertian istihsan menurut Imam Syafie pula adalah berlainan dengan pengertian yang diberikan oleh ulamak Hanafi dan Imam Malik. Dimana Imam Syafie menggambarkan penggunaan istihsan dengan berpandukan akal semata-mata, tanpa dalil syarak, oleh sebab itula beliau menolak berhujah dengannya. Disini dapat dirumuskan bahawa perselisihan di antara ulamak mujtahid dan imam mazhab tersebut mengenai kehujahan istihsan merupakan perselisihan dari segi lafaz sahaja. Hal ini terjadi disebabkan tidak sama pengertian yang diberikan. Sebenarnya antara mereka tiada perselisihan, kerana matlamat mereka adalah satu iaitu membawa kebaikan untuk masyarakat, agama dan membawa kebenaran serta berhati-hati dan teliti dalam mengeluarkan hukum. ( Abdul Latif Muda : 1997 ) RUJUKAN Abdul Karim Zaidan.2006. .Labenon:Resalah Public.

Abd.Latif Muda,Rosmawati Ali@Mat Zin.1997.Pengantar Usul Fiqh.Kuala Lumpur: Pustaka Salam Sdn Bhd. Abdul Wahhab Khallaf.1984.Sumber-sumber hukum islam.Bandung Risalah. Amir Husin Mohd Nor. 2002.Falsafah Perundangan Islam.Mahzum Book Services. Hj Hassan bin Hj Ahmad.1998.Usul Fiqh.Hamid Bhd. Mohd Nasran Mohamad,Anwar Fakhri Omar,Mohd Zamri Muda,Mohammad Zaini Yahaya.2001. Metodologi Fiqh.Bangi:Universiti Kebangsaan. Nota Kuliah.2009. http://usulfiqh2.blogspot.com/2009/04/istihsan_24.html Istihsan Orang yang menetapkan hukum berdasarkan istihsan tidak boleh berdasarkan rasa dan keinginannyya semata, akan tetapi haruslah berdasarkan hal-hal yang diketahui bahwa hukum itu sesuai dengan tujuan Allah SWT menciptakan syara' dan sesuai pula dengan kaidah-kaidah syara' yang umum" 1. Pengertian Istihsan menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencari yang baik. Menurut ulama ushul fiqh, ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara', menuju (menetapkan) hukum lain dari peristiwa atau kejadian itu juga, karena ada suatu dalil syara' yang mengharuskan untuk meninggalkannya. Dalil yang terakhir disebut sandaran istihsan. Qiyas berbeda dengan istihsan. Pada qiyas ada dua peristiwa atau kejadian. Peristiwa atau kejadian pertama belum ditetapkan hukumnya karena tidak ada nash yang dapat dijadikan dasarnya. Untuk menetapkan hukumnya dicari peristiwa atau kejadian yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash dan mempunyai persamaan 'illat dengan peristiwa pertama. Berdasarkan persamaan 'illat itu ditetapkanlah hukum peristiwa pertama sama dengan hukum peristiwa kedua. Sedang pada istihsan hanya ada satu peristiwa atau kejadian. Mula-mula peristiwa atau kejadian itu telah ditetapkan hukumnya berdasar nash. Kemudian ditemukan nash yang lain yang mengharuskan untuk meninggalkan hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan itu, pindah kepada hukum lain, sekalipun dalil pertama dianggap kuat, tetapi kepentingan menghendaki perpindahan hukum itu. Dengan perkataan lain bahwa pada qiyas yang dicari seorang mujtahid ialah persamaan 'illat dari dua peristiwa atau kejadian, sedang pada istihsan yang dicari ialah dalil mana yang paling tepat digunakan untuk menetapkan hukum dari satu peristiwa. 2. Dasar hukum istihsan Yang berpegang dengan dalil istihsan ialah Madzhab Hanafi, menurut mereka istihsan sebenarnya semacam qiyas, yaitu memenangkan qiyas khafi atas qiyas jali atau mengubah hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar ketentuan umum kepada ketentuan khusus karena ada suatu kepentingan yang membolehkannya. Menurut mereka jika dibolehkan menetapkan hukum berdasarkan qiyas jali atau maslahat mursalah, tentulah melakukan istihsan karena kedua hal itu pada hakekatnya adalah sama, hanya namanya saja yang berlainan. Disamping Madzhab Hanafi, golongan lain yang menggunakan istihsan ialah sebagian Madzhab Maliki dan sebagian Madzhab Hambali. Yang menentang istihsan dan tidak menjadikannya sebagai dasar hujjah ialah Madzhab Syafi'i. Istihsan menurut mereka adalah menetapkan hukum syara' berdasarkan keinginan hawa nafsu. Imam Syafi'i berkata: "Siapa yang berhujjah dengan istihsan berarti ia telah menetapkan sendiri hukum syara' berdasarkan keinginan hawa nafsunya, sedang yang berhak menetapkan hukum syara' hanyalah Allah SWT." Dalam buku Risalah Ushuliyah karangan beliau, dinyatakan: "Perumpamaan orang yang melakukan istihsan adalah seperti orang yang melakukan shalat yang menghadap ke suatu arah yang menurut istihsan bahwa arah itu adalah arah Ka'bah, tanpa ada dalil yang diciptakan pembuat syara' untuk menentukan arah Ka'bah itu." Jika diperhatikan alasan-alasan yang dikemukakan kedua pendapat itu serta pengertian istihsan menurut mereka masing-masing, akan jelas bahwa istihsan menurut pendapat Madzhab Hanafi berbeda dari istihsan menurut pendapat Madzhab Syafi'i. Menurut Madzhab Hanafi istihsan itu semacam qiyas, dilakukan karena ada suatu kepentingan, bukan berdasarkan hawa nafsu, sedang menurut Madzhab Syafi'i, istihsan itu timbul karena rasa kurang enak, kemudian pindah kepada rasa yang lebih enak. Seandainya istihsan itu diperbincangkan dengan baik, kemudian ditetapkan pengertian yang disepakati, tentulah perbedaan pendapat itu dapat dikurangi. Karena itu asy-Syathibi dalam kitabnya Al-Muwfaqt menyatakan: "orang yang menetapkan hukum berdasarkan istihsan tidak boleh berdasarkan rasa dan keinginannyya semata, akan tetapi haruslah berdasarkan hal-hal yang diketahui bahwa hukum itu sesuai dengan tujuan Allah SWT menciptakan syara' dan sesuai pula dengan kaidah-kaidah syara' yang umum". 3. Macam-macam istihsan

Ditinjau dari segi pengertian istihsan menurut ulama ushul fiqh di atas, maka istihsan itu terbagi atas dua macam, yaitu: 1. Pindah dari qiyas jali kepada qiyas khafi, karena ada dalil yang mengharuskan pemindahan itu. 2. Pindah dari hukum kulli kepada hukum juz-i, karena ada dalil yang mengharuskannya. Istihsan macam ini oleh Madzhab Hanafi disebut istihsan darurat, karena penyimpangan itu dilakukan karena suatu kepentingan atau karena darurat. Contoh istihsan macam pertama: 1. Menurut Madzhab Hanafi: bila seorang mewaqafkan sebidang tanah pertanian, maka termasuk yang diwaqafkannya itu hak pengairan, hak membuat saluran air di atas tanah itu dan sebagainya. Hal ini ditetapkan berdasar istihsan. Menuryt qiyas jali hak-hak tersebut tidak mungkin diperoleh, karena mengqiyaskan waqaf itu dengan jual beli. Pada jual beli yang penting ialah pemindahan hak milik dari penjual kepada pembeli. Bila waqaf diqiyaskan kepada jual beli, berarti yang penting ialah hak milik itu. Sedang menurut istihsan hak tersebut diperoleh dengan mengqiyaskan waqaf itu kepada sewa-menyewa. Pada sewa-menyewa yang penting ialah pemindahan hak memperoleh manfaat dari pemilik barang kepada penyewa barang. Demikian pula halnya dengan waqaf. Yang penting pada waqaf ialah agar barang yang diwaqafkan itu dapat dimanfaatkan. Sebidang sawah hanya dapat dimanfaatkan jika memperoleh pengairan yang baik. Jika waqaf itu diqiyaskan kepada jual beli (qiyas jali), maka tujuan waqaf tidak akan tercapai, karena pada jual beli yang diutamakan pemindahan hak milik. Karena itu perlu dicari ashalnya yang lain, yaitu sewa-menyewa. Kedua peristiwa ini ada persamaan 'illatnya yaitu mengutamakan manfaat barang atau harta, tetapi qiyasnya adalah qiyas khafi. Karena ada suatu kepentingan, yaitu tercapainya tujuan waqaf, maka dilakukanlah perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khafi, yang disebut istihsan. 2. Menurut Madzhab Hanafi: sisa minuman burung buas, seperti sisa burung elang burung gagak dan sebagainya adalah suci dan halal diminum. Hal ini ditetapkan dengan istihsan. Menurut qiyas jali sisa minuman binatang buas, seperti anjing dan burung-burung buas adalah haram diminum karena sisa minuman yang telah bercampur dengan air liur binatang itu diqiyaskan kepada dagingnya. Binatang buas itu langsung minum dengan mulutnya, sehingga air liurnya masuk ke tempat minumnya. Menurut qiyas khafi bahwa burung buas itu berbeda mulutnya dengan mulut binatang huas. Mulut binatang buas terdiri dari daging yang haram dimakan, sedang mulut burung buas merupakan paruh yang terdiri atas tulang atau zat tanduk dan tulang atau zat tanduk bukan merupakan najis. Karena itu sisa minum burung buas itu tidak bertemu dengan dagingnya yang haram dimakan, sebab diantara oleh paruhnya, demikian pula air liurnya. Dalam hal ini keadaan yang tertentu yang ada pada burung buas yang membedakannya dengan binatang buas. Berdasar keadaan inilah ditetapkan perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khafi, yang disebut istihsan. Contoh istihsan macam kedua 1. Syara' melarang seseorang memperjualbelikan atau mengadakan perjanjian tentang sesuatu barang yang belum ada wujudnya, pada saat jual beli dilakukan. Hal ini berlaku untuk seluruh macam jual beli dan perjanjian yang disebut hukum kuIIi. Tetapi syara' memberikan rukhshah (keringanan) kepada pembelian barang dengan kontan tetapi barangnya itu akan dikirim kemudian, sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan, atau dengan pembelian secara pesanan (salam). Keringanan yang demikian diperlukan untuk memudahkan lalu-lintas perdagangan dan perjanjian. Pemberian rukhshah kepada salam itu merupakan pengecualian (istitana) dari hukum kulli dengan menggunakan hukum juz-i, karena keadaan memerlukan dan telah merupakan adat kebiasaan dalam masyarakat. 2. Menurut hukum kulli, seorang pemboros yang memiliki harta berada di bawah perwalian seseorang, karena itu ia tidak dapat melakukan transaksi hartanya tanpa izin walinya. Dalam hal ini dikecualian transaksi yang berupa waqaf. Orang pemboros itu dapat melakukan atas namanya sendiri, karena dengan waqaf itu hartanya terpelihara dari kehancuran dan sesuai dengan tujuan diadakannya perwalian, yaitu untuk memelihara hartanya (hukum juz-i). Dari contoh di atas nampak bahwa karena adanya suatu kepentingan atau keadaan maka dilaksanakanlah hukum juz-i dan meninggalkan hukum kulli. Ditinjau dari segi sandarannya, maka istihsan terbagi kepada: 1. Istihsan dengan sandaran qiyas khafi; 2. Istihsan dengan sandaran nash; 3. Istihsan dengan sandaran 'urf; dan 4. Istihsan dengan sandaran keadaan darurat. http://pustaka.abatasa.com/pustaka/detail/doa/131/

TIHSAN; UPAYA MENCARI TITIK TEMU ANTARA ULAMA HANAFIYAH DAN ULAMA SYAFIIYAH[1] Oleh: Feri Firmansyah[2] Pendahuluan Sebagaimana yang telah kita ketahui dan kita yakini, bahwa agama islam itu adalah agama yang sempurna, tidak pernah usang seiring dengan lajunya zaman. Sebagai agama yang sempurna, tentu saja setiap permasalahan yang muncul harus dapat diselesaikan dengan baik dan benar. Terlebih permasalahan yang muncul itu tidak terdapat dalam teks Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw masih hidup, segala permasalahan yang ada langsung dikonsultasikan kepada beliau. Baik permasalahan tersebut adalah masalah-masalah fikih maupun masalah-masalah lainnya diluar fikih. Sehingga sepelik apapun permasalah tersebut, melalui wahyu yang beliau terima, semua permasalahan dapat terselesaikan, tanpa adanya perbedaan pendapat antara Rasulullah Saw dan para sahabat. Setelah Rasulullah Saw wafat, ternyata permasalahan yang menyangkut agama terus bermunculan. Terlebih permasalahan fikih, yang tidak hanya permasalah klasik, tetapi permasalah baru pun muncul, yang tentu saja membutuhkan penyelesaian (baca: ijtihad) dari para ulama. Apalagi permasalahan tersebut tidak terdapat dalam teks Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw. Dari sinilah muncul cara baru yang bisa dijadikan dalil dalam pengambilan keputusan suatu hukum. Pada masa ini pengambilan hukum tidak hanya berdasarkan teks AlQuran dan Hadits saja, tetapai ada cara baru yaitu melalaui konsensus para ulama, kemudian ada qaul shabi, dan qiyas. Pada kurun berikutnya, ternyata permasalahan-permasalahan baru pun terus bermunculan, dan perlu mendapat penyelesaian dari para ulama. Maka berkembanglah tata cara baru dalam pengambilan suatu hukum. Dan tata cara baru itu dikodifikasikan sehingga menjadi sebuah cabang ilmu yaitu ushul fikih. Tentu saja cara-cara tadi bukan berdasarkan nafsu dan keinginan seorang mujtahid belaka, tetapi tetap berdasarkan kepada dalil-dalil dari Al-Quran dan hadits. Hanya saja dalam pemahamannya yang tidak tekstual. Dalam ilmu ushul fikih, banyak sekali kaidah-kaidah yang dibuat oleh para ulama guna mempermudah bagi kaum muslimin untuk mengambil hukum atas suatu permasalahan yang sifatnya ijtihadi. Namun kaidah-kaidah yang dibuat oleh para ulama tidak selamanya disepakati oleh ulama lainnya. Hal itu disebabkan oleh perbedaan pandangan dan cara pengambilan suatu hukum diantara mereka. Sehingga dikenalah dalil-dalil yang disepakati oleh para ulama dalam pengambilan hukum (Al-Adillah Al-Muttafaq Alaih) dan dalil-dalil yang masih diperdebatkan keabsahannya dalam pengambilan hukum (Al-Adillah Al-Mukhtalaf Fha). Dalam coretan yang sangat sederhana ini, penulis hanya akan membahas salah satu dari sekian banyak dalil yang masih diperdebatkan oleh para ulama. Dalil tersebut adalah istihsan. Penulis hanya akan menitik beratkan kepada perbedaan pandangan antara ulama madzhab Hanafi dan ulama madzhab Syafi. Karena kedua madzhab inilah yang paling santer memperdebatkan keabsahan istihsan untuk dijadikan sumber pengambilan hukum. Definisi Istihsan definisi istihsan secara etimologi adalah menganggap baik terhadap sesuatu, meskipun sesuatu itu menurut orang lain tidak baik. Sedangkan istihsan secara terminologi, para ulama cukup beragam.[3] Imam Al-Bazdawi memberikan definisi, istihsan adalah pemindahan qiyas pertama kepada qiyas lain yang lebih kuat. Atau istihsan adalah membatasi qiyas dengan dalil yang lebih kuat. Al-Faqih Al-Hawani Al-Hanafi memberikan definisi, istihsan adalah meninggalkan qiyas karena ada dalil dari Al-Quran, Sunnah dan ijma yang lebih kuat. Imam Al-Kurkhi memberikan definisi, istihsan adalah seseorang yang meninggalkan suatu hukum yang telah ditetapkan berdasarkan dalil syara, dengan menetapkan hukum lain dari peristiwa itu juga. Ibn Arabi memberikan definisi, istihsan adalah meninggalkan suatu dalil dengan cara pengecualian dan memberi keringanan pada suatu masalah yang sudah ditentukan hukumnya. Sebagian para ulama Hambali memberikan definisi istihsan adalah meninggalkan hukum atas suatu peristiwa yang telah ditetapkan berdasarkan dalil syara, karena adanya dalil lain yang lebih khusus. Meskipun definisi diatas cukup beragam, namun ada kesamaan-kesamaan yang dapat kita tarik benang merahnya, yaitu bahwa istihsan adalah meninggalkan suatu hukum yang telah ditetapkan oleh syara dan menetapkan hukum lain karena ada dalil yang lebih cocok dan lebih kuat menurut jiwa orang yang melakukan ijtihad. Baik dengan cara meninggalkan qiyas jalli dan mengambil qiyas khafi sebagai sandaran hukum, atau menetapkan suatu hukum dengan cara mengambil permasalahan yang sifatnya juz-i dari permasalahan yang sifatnya kulli.[4] Oleh karena itu jelaslah bahwa istihsan tetap dibangun berdasarkan dalildalil yang kuat, bukan berdasarkan hawa nafsu belaka. Hakikat Istihsan

Para ulama fikih berbeda pendapat mengenai keabsahan istihsan sebagai dalil pokok dalam pengambilan hukum. Diantara ulama yang paling santer dalam membela dan mengamalkan istihsan sebagai hujjah adalah ulama madzhab Hanafi. Ditambah sebagian ulama-ulama lainnya dari madzhab Maliki dan Hambali. Hanya saja, ulama madzhab Syafii memiliki pandangan yang berbeda dalam memposisikan istihsan sebagai dalil pokok dalam pengambilan hukum. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara pandangan ulama yang membela dan mendukung istihsan dengan ulama yang menentang istihsan. Mereka tidak berselisih dalam penggunaan lafadz istihsan, karena kata yang mengandung makna hasan (baik) itu terdapat dalam teks Al-Quran dan hadits. Allah Swt berfirman, )71-71 :) (71( Artinya: sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. (Az-Zumar: 17-18). Selain itu juga, Rasulullah Saw bersabda, ) ( Artinya: Sesuatu yang dipandang oleh kaum muslimin itu baik, maka menurut Allah pun adalah baik. (HR. Ahmad). Dari sini, ulama madzhab hanafi tetap berpegang kepada istihsan. Toh, mereka menggunakannya pun tetap berdasarkan kepada dalil-dalil yang kuat. Bukan kepada hawa nafsu sebagaimana yang dituduhkan para ulama yang menentang istihsan. Mereka berpendapat dalam posisi istihsan ini, melakukan istihsan lebih utama dari pada melakukan qiyas, pun pengambilan dalil yang lebih kuat diutamakan dari dalil yang lemah. Pada dasarnya dalam praktek istihsan ini, tidak mesti ada dalil yang bertentangan, tetapi istihsan itu cukup dilakukan ketika ada dalil yang lebih kuat, sekaligus menggugurkan dalil yang lemah. Atau istihsan itu dilakukan dengan cara meninggalkan qiyas karena ada dalil-dalil lain yang lebih kuat yang diambil dari teks Al-Quran, hadits, ijma, adanya darurat, atau dari qiyas khafi Macam-macam istihsan dalam bukunya yang berjudul Al-Wajz f Ushl Fiqh, DR. Abdul Karim Zaidan membagi istihsan kepada dua segi.[5] Pertama, istihsan dipandang dari segi pemindahan hukumnya. Dan yang kedua, istihsan dipandang dari sandaran dalilnya. Adapun istihsan dari segi pemindahan hukumnya, terbagi kepada dua macam yaitu sebagai berikut, 1. Istihsan dengan cara pemindahan hukum kulli kepada hukum juzi. Contohnya, dalam hukum syara seseorang tidak boleh melakukan transaksi jual beli dengan barang yang belum ada ketika dilangsungkannya akad jual beli. aturan ini berlaku untuk seluruh jenis transaksi jual beli. karena jual beli tanpa adanya barang ketika akad berlangsung maka akad tersebut menjadi rusak. inilah yang disebut dengan hukum kulli. Kemudian, syariat memberikan keringanan dan pengecualian kepada pembelian barang dengan uang tunai tapi barangnya dikirim kemudian dengan waktu dan jenis barang yang telah ditentukan (jual-beli salam). Jual beli ini dilakukan karena telah menjadi kebiasaan di masyarakat, juga jual beli ini untuk mempermudah bagi para penjual yang tidak memiliki modal. pengecualian atau keringanan ini dinamakan dengan pemindahan hukum kulli kepada hukum juzi. Mengenai jual beli salam ini rasulullah Saw bersabda, ) ( . Artinya: barangsiapa yang meminjamkan sesuatu, hendaknya ia meminjamkan dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas dan dalam tempo yang jelas. (HR. Bukhari). 2. Istihsan dengan cara pemindahan dari qiyas jalli kepada qiyas khafi, karena ada dalil yang mengharuskan pemindahan itu. Contohnya, menurut madzhab hanafi, sisa minum burung buas seperti burung elang dan gagak adalah suci dan halal diminum. Penghalalan ini ditetapkan berdasarkan istihsan. Menurut qiyas jalli, meminum sisa minuman binatang buas seperti anjing dan burung buas adalah haram, karena binatang tersebut langsung minum dengan lisannya yang diqiyaskan kepada dagingnya. Menurut istihsan, berbeda antara mulut binatang buas dengan burung buas tadi. Kalau binatang buas langsung minum dengan mulutnya, sedangkan burung buas minum melalui paruhnya yang bukan merupakan najis. Karena itu mulut burung buas tadi tidak bertemu dengan dagingnya yang haram dimakan. Dari perbedaan antara binatang buas dan burung buas tadi, maka ditetapkanlah perpindahan qiyas jalli kepada qiyas khafi. Sedangkan istihsan dipandang dari segi sandaran dalilnya, istihsan dibagi menjadi beberapa macam, yaitu

1. Istihsan yang disandarkan kepada teks Al-Quran atau hadits yang lebih kuat. Seperti jual beli salam yang telah penulis bahas di atas. 2. Istihsan yang disandarkan kepada ijma. Contohnya, bolehnya mengambil upah dari orang yang masuk WC. Secara kaidah umum, tidak boleh seseorang mengambil upah tersebut, karena tidak bisa diketahui dan dipastikan berapa lama si pengguna berada didalam WC, juga tidak bisa diketahui seberapa banyak dia menggunakan air didalm WC. tetapi berdasarkan istihsan, diperbolehkan si petugas mengambil upah dari pengguna WC tersebut, karena sudah membantu menghilangkan kesulitan orang tersebut, juga sudah menjadi kebiasaan dan tidak ada penolakan dari seorang pun sehingga menjadi ijma. 3. Istihsan yang disandarkan kepada adat kebiasaan (Urf). Seperti pendapat sebagian ulama yang membolehkan wakaf dengan barang-barang yang bergerak, seperti mewakafkan buku, mobil dan barang-barang lainnya. Menurut kaidah umum, wakaf itu harus pada barang-barang yang tidak bergerak, seperti tanah, atau bangunan. Kemudian ulama membolehkan wakaf dengan barang-barang yang bergerak tadi karena sudah menjadi adat (urf) di lingkungan tersebut. 4. Istihsan yang disandarkan kepada urusan yang sangat darurat. Seperti, membersihkan sumur yang terkena najis, hanya dengan mengambil sebagian air dari sumur itu. Menurut qiyas, air sumur tersebut tidak bisa dibersihkan lagi, karena alat untuk membersihkan air itu sudah kena najis, dan tidak mungkin dibersihkan. Tetapi menurut istihsan, air itu bersih lagi hanya dengan mengeluarkan sebagian airnya saja. Karena mengeluarkan sebagian air itu tidak mempengaruhi kesucian sisanya. Inilah yang dinamakan dengan darurat, yang bertujuan untuk memudahkan urusan manusia. Selain itu juga dalam ayat Al-Quran sudah disebutkan bahwa agama itu bukan untuk menyusahkan manusia. Allah Swt berfiman, )11 : ( Artinya: Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Al-Haj: 78) 5. Istihsan yang disandarkan kepada kemaslahatan. 6. Istihsan yang disandar kepada qiyas khafi. Seperti bolehnya minum air sisa minum burung buas seperti elang dan gagak. Pandangan Ulama Syafiiyah Terhadap Istihsan Imam Syafii beserta pengikutnya memiliki pandangan yang berbeda mengenai istihsan. Mereka menolak dan mengkritik habis orang-orang yang menggunakan istihsan sebagai dalil pokok dalam pengambilan hkum setelah empat dalil pokok yang telah disepakati yaitu Al-Quran, hadits, ijma, dan qiyas. Bahkan mengenai istihsan ini, imam Syafii berkata, Artinya: barangsiapa yang berhujjah dengan istihsan berarti ia telah menetapkan sendiri hukum syara. Imam Syafii berkeyakian bahwa berhujjah dengan istihsan, berarti di telah mengikuti hawa nafsunya, karena telah menentukan syariat baru. Sedangkan yang berhak membuat syariat itu hanyalah Allah Swt. Bahkan AlQdhi Al-Baidhw, salah seorang pengikut beliau yang menulis buku Minhj Al-Wushl il ilmi al-Ushl menempatkan istihsan pada bab Al-Adillah Al-Marddah.[6] Dari sinilah terlihat, bahwa Imam SyafiI beserta pengikutnya cukup keras dalam menolak masalah istihsan ini. Dilihat dari paradigma yang dipakai oleh Imam Syafii berserta pengikutnya, ternyata berbeda dengan paradigma yang dipakai oleh ulama Hanafiyah. Imam Syafii berpegang bahwa yang berhujjah dengan istihsan berarti ia telah mengikuti hawa nafsunya. sedangkan istihsan yang dimaksud oleh ulama Hanafiyah adalah berhujjah berdasarkan dalil yang lebih kuat. Adapun dalil-dalil yang di sodorkan ulama Hanafiyah mengenai istihsan, seperti kutipan ayat Al-Quran dalam surat Az-zumar ayat 18, dan hadits rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ulama Syafiiyah memiliki pemahaman yang berbeda juga. Mengenai surat Az-zumar ayat 18 diatas, ulama SyafiI menjawab bahwa a yat tersebut tidak menunjukan adanya istihsan. Juga tidak menunjukan wajibnya mengikuti perkataan yang paling baik. Kemudian mengenai kutipan hadits Rasulullah Saw diatas, mereka menjawab bahwa hadits diatas mengisyaratkan adanya ijma kaum muslimin. Sedangkan ijma itu merupakan hujjah yang bersumber kepada dalil. Jadi hadits tersebut tidak berarti setiap orang yang memandang suatu urusan itu baik, maka baik menurut Allah Swt. Kalau pemahamannya seperti yang dilontarkan ulama Hanafiyah, maka ketika kaum muslimin yang awwam memadang suatu perkara itu baik, maka baik pula menurut Allah Swt. Inilah pemahaman yang seharusnya tidak ada dalam benak kaum muslimin. Jadi penolakan Syafiiyah tersebut bukan pada lafadz istihsannya,[7] karena imam Syafii pun sering menggunakan kata-kata istihsan. Seperti pada kasus pemberian mutah kepada wanita yang di talak. Imam syafii berkata aku menganggap baik pemberian nilai mutah itu sebanyak 30 dirham. Padahal didalam teks Al -

Quran tidak ada penentuan nilai yang harus diberikan. Tetapi beliau melakukan itu sebagai ijtihad beliau atas makna pemberian yang maruf. Jadi, cara seperti ini sebenarnya menurut hanafiyah merupakan cara pengambilan hukum dengan istihsan, tetapi menurut Syafii, ini bukan dengan cara istihsan tetapi dengan membatasi sesuatu dengan melihat kondisi waktu itu (takhshshul illah). Titik Temu Antara Pandangan Ulama Madzhab Syafii Dan Ulama Madzhab Hanafi Melihat perbedaan-perbedaan pandangan diatas, sepintas kita akan melihat perbedaan yang sangat krusial antara mereka. Tetapi kalau kita lihat kembali latar belakang menjadikan istihsan sebagai dalil dan sebab adanya penolakan dari madzhab Syafii, ternyata disana ada persamaan yang secara tidak langsung disepakati oleh kedua madzhab tersebut. yaitu mereka sepakat dengan cara pengambilan hukum harus sesuai dengan dalil yang kuat. Baik itu dengan cara istihsan ataupun dengan cara lainnya. Karena ulama madzhab hanafi pun sepakat, orang yang melakukan istihsan dengan hawa nafsunya atau tanpa ada dalil yang kuat bukan termasuk istihsan yang merupakan dalil pokok dalam pengambilan hukum. Oleh karena itu, sebenarnya mereka berselisih dalam penamaan istilah saja. Dimana ulama Syafii memandang cara-cara yang ada dalam istihsan itu, sudah terwakili oleh dalil-dalil muttafaq alaiha, sedangkan ulama madzhab Hanafi memiliki nama sendiri yaitu istihsan. Tetapi dengan adanya perbedaan ini, kita tidak lantas menyalahkan ulama hanafiyah dalam penamaan istihsan. Karena inti dari bahasan istihsan itu adalah, berhujjah berdasarkan dalil atau tidak. Selain itu juga, rasanya tidak masuk akal kalau seandainya Imam Hanafi yang sudah kita kenal sebagai ulama madzhab bertindak ceroboh dalam menentukan suatu hukum. Penutup Dipenghujung tulisan ini, penulis hanya ingin mengutip sebuah hadits rasulullah Saw, yang maknanya adalah barang siapa yang berijtihad, kemudian ijtihadnya itu benar, maka baginya dua pahala. Sedangkan bagi orang yang melakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya salah, maka baginya mendapatkan satu pahala. Wallahualam bishshawab. Bahan Bacann 1. Imam Asy-Syafii, Arrisalah 2. Syamsuddin Muhammad Ibn Yusuf Al-Jazari; Mirj Al-Minhj Syarh Minhj Al-Wushl il Ilmi AlUshl. Cet. I, 1997. 3. Manna Al-Qathan; Tarikh Tasyri Al-Islami (At-Tasyri Wa Al-Fiqh), Muassasah Risalah, cet. 14, 1996 4. DR. Amir Abdul Aziz; Ushl Fiqh Al-Islm, Darussalam, 1997 5. DR. Abdul Karim Zaidan; Al-Wajz F Ushl Fiqh, Muassasah Risalah, 2002 http://pwkpersis.wordpress.com/2008/03/22/istihsan-upaya-mencari-titik-temu-antara-ulama-hanafiyah-danulama-syafiiyah/