Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah salah satu masalah

kesehatan yang sedang dihadapi masyarakat dunia dan saat ini belum ada negara yang bebas dari HIV. Penyakit yang ditemukan pada awal 1980-an ini,

menyebabkan dampak buruk pada negara dari segi kesehatan, sosial dan ekonomi. Kasus IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS cukup banyak terjadi

dikalangan remaja. Berbagai jenis IMS serta HIV/AIDS sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang pada umumnya dan kondisi kesehatan reproduksi pada khususnya karena pada umumnya berbagai infeksi IMS dan HIV/AIDS berkaitan langsung dengan sistem reproduksi manusia. Bahkan HIV/AIDS dapat berdampak kematian. Dalam banyak kesempatan diskusi dan seminar mengenai HIV/AIDS sering para pakar menyebut fenomena gunung es ditengah pandemi HIV, artinya dari seluruh data yangdapat diungkap sesungguhnya tersembunyi masalah yang jauh lebih besar. Misalnya kita mengungkap 100 data penderita HIV maka mungkin saja angka realnya bisa mencapai 100 atau sampai 1000 kali lipat (Nursalam dan Ninuk, 2011). Kasus AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada April 1987 (pada seorang Wisatawan Belanda, kebetulan seorang Gay, yang akhirnya meninggal di sebuah Rumah Sakit di Denpasar Bali). Pemerintah Indonesia memungkiri kasus tersebut sebagian masyarakat juga melakukan hal yang sama, apalagi kasusnya adalah Wisatawan Asing. Di Indonesia yang dikenal begitu menjunjung tinggi budaya dan norma-norma ketimuran, ternyata HIV/AIDS juga sudah berkembang dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (Syaiful W.Harahap, 2000). Sumatera Utara menduduki peringkat ke-9 dari 33 provinsi di Indonesia, dimana terdapat 507 kasus AIDS dan 94 kematian disebabkan AIDS telah dilaporkan hingga Desember 2010 (Depkes RI, 2010). Medan merupakan kota yang memiliki kasus AIDS yang terbanyak di Sumatera Utara, yaitu sebanyak 581 kasus dari tahun 1994 hingga April 2009 (Komisi Penanggulangan AIDS, 2007).

Menurut

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence)

adalah mereka yang berusia 10-19 tahun dan anak muda (youth) adalah mereka yang usia 15-24 tahun. Sekitar satu milyar manusia di seluruh dunia dan hampir satu di antara enam manusia ini adalah remaja. Remaja aktif secara seksual dan mereka seringkali kekurangan informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi, keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi, sehingga mereka rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi seperti HIV/AIDS (Fauci dan Lane, 2008). Banyak di antara remaja yang kurang atau tidak memiliki hubungan yang stabil dengan orang tuanya maupun dengan orang dewasa lain. Mereka lebih senang berbicara dengan sahabat karib tentang masalah-masalah kesehatan reproduksi yang menjadi perhatian mereka. Apabila terjadi kecenderungan kearah penarikan diri, sangat mungkin terjadi tindakan irasional (UNAIDS, 2000). Menurut hasil survei yang telah dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional di 33 provinsi pada tahun 2008, sebanyak 63% remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Lonjakan jumlah kasus kumulatif HIV.AIDS secara tiba-tiba

dilatarbelakangi masa inkubasi HIV yang relatif lama. Akibatnya, pada kenyataannya sudah jauh lebih banyak yang terinfeksi daripada jumlah yang tercantum dalam statistik resmi. Khususnya di negara-negara yang penduduknya belum banyak melakukan tes HIV, baik secara sukarela, melalui surveitlance test, ataupun karena hal lain, jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS yang tercantum secara resmi cenderung sedikit. Menurut perkiraan WHO di negara seperti itu untuk kasus yang terdeteksi ada 100 kasus yang tidak diketahui. Fenomena ini dikenal dengan istilah fenomena gunung es (iceberg phenomenon): pada awal gejalanya hanya kelihatan sebagian kecil saja, sedangkan bagian yang terbesar justru bersembunyi di bawah permukaan laut (Syaiful W. Harahap, 2000). HIV AIDS merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan belum ditemukan obat yang dapat memulihkannya hingga saat ini. Menderita HIV/AIDS di Indonesia dianggap aib, sehingga dapat menyebabkan tekanan psikologis

terutama pada penderitanya maupun keluarga dan lingkungan disekeliling penderita (Nursalam dan Ninuk, 2011). Dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Remaja tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Medan Tahun 2012.

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar beakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Medan Tahun 2012.

1.3

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Medan Tahun 2012.

Tujuan Khusus 1. 2. 3. Mengetahui tingkat pengetahuan remaja mengenai HIV/AIDS. Mengetahui tentang sikap remaja mengenai HIV/AIDS. Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap remaja mengenai HIV/AIDS

1.4

Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :

1.

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan yang bermanfaat bagi SMA Negeri 1 Medan.

2.

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan yang bermanfaat bagi mahasiswa tentang Tingkat Pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS.

3.

Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam penulisan karya tulis ilmiah serta menambah pengalaman dalam bidang penelitian khususnya mengenai HIV/AIDS.

4.

Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan masyarakat khususnya remaja mengenai HIV/AIDS.