Anda di halaman 1dari 7

Flow Rate Batubara = 31,5 ton/jam Tabel Komposisi Bahan Bakar (Batubara) Komponen Ash Carbon Hydrogen Nitrogen

Sulfur Oxygen Moisture analysis ADB (%) 6,27 63,40 4,36 0,75 0,39 14,58 10,25 Massa (Kg) 1975,05 19971 1373,4 236,25 122,85 4592,7 3228,75 Kmol* 1664,250 686,700 8,438 3,839 143,521 179,375

*) perhitungan Kmol menggunakan pembulatan 3 angka dibelakang koma

Stream Volumetrik Flow (SVF) = 56,32 m3/sec = 202752 m3/hr Tabel Komposisi Flue Gas Komponen CO2 O2 Tabel Komposisi Refuse Komponen Abu Carbon Total

Komposisi (%) 14,966 4,57

Komposisi (%) 98,15 1,85 100

Unsur-unsur bahan bakar yang dapat menghasilkan panas adalah C,S dan H . 1 kg C Menghasilkan 1 kg S Menghasilkan 8.100 kcal / kg 2.220 kcal / kg

1 kg H2 Menghasilkan 34.400 kcal / kg Harga HCV dan LCV dapat dihitung apabila komposisi bahan bakar diketahui. ( ( ) ) ( ( ) ( ) ( ) )

Dengan asumsi bahwa (

) adalah berat hydrogen untuk proses pembakaran dan

seluruh Oxygen dalam bahan bakar bereaksi dengan hydrogen. Selanjutnya delapan (8) bagian berat oxygen bereaksi dengan 1 bagian berat hydrogen membentuk air sebanyak 9 H, maka : LCV = HCV - Panas penguapan air = 6016,88 kcal/kg bahan bakar (9 x 588,76 x 0,0436) kcal/kg bahan bakar = 5785,851 kcal/kg bahan bakar Idealnya, semua panas yang dihasilkan dari proses pembakaran diserap oleh ketel untuk pemanasan dan penguapan air, akan tetapi dalam kenyataannya tidak semua panas dapat diserap oleh ketel karena sebagian kecil terbuang sebagai losses, diantaranya : 1. 2. 3. 4. 5. Kerugian karena kandungan air dalam bahan bakar Kerugian karena kandungan hydrogen dalam bahan bakar Kerugian karena panas terbuang oleh flue gas ke cerobong Kerugian akibat pembakaran tidak sempurna Kerugian karena masih adanya unsur-unsur bahan bakar belum terbakar didalam abu/debu 6. Kerugian karena radiasi. Agar panas yang diserap oleh Ketel maksimal, maka kerugian kerugian tersebut diatas harus dibuat minimal.

1. Kerugian Panas Terbuang Oleh Flue Gas ke Cerobong (Dry Flue Gas Loss) Dry Flue Gas Loss diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini: [ ( ) ]

Dimana, terlebih dahulu dihitung nilai :

[( [(

( )

] ( )]

[( [(

( )

)] ( )]

) (

( ) ( ( )

[ ) ] ( ) )

] ( ) [

Maka, dapat dihitung Dry Flue Gas Loss Sebagai berikut : ( ) [ ] [ ( ) ]

2. Kerugian Karena Kandungan Hydrogen dalam Bahan Bakar Kerugian yang diakibatkan karena adanya kandungan hydrogen dalam bahan bakar adalah sebanyak : [ [
( ) ( )

] ) ( ) ]

5,413%

3. Kerugian Karena Kandungan Air dalam Bahan Bakar. Kerugian yang diakibatkan oleh adanya air dalam bahan bakar adalah sebanyak : [ ( ]

Dimana dihitung nilai WmA terlebih dahulu dengan rumus : ( ( ( ) [ ) ) [ ] ( ) ]

Jadi, diperoleh nilai P3 sebesar : [ ( ) ]

[ 0,848%

4. Kerugian Akibat Carbon Tidak Terbakar

5. Kerugian Akibat Pembakaran Tidak Sempurna (incompleted combustion) ( ( ) )

6. Kerugian Akibat Radiasi dan Konveksi Diambil dari SPEC pada ABMA CURVE, dimana pada PLTU Sektor Bukit Asam Unit 1, nilai kerugian yang diakibatkan oleh radiasi dan konveksi ialah sebesar :

7. Kerugian Tak Terhitung (unaccounted loss) Kerugian ini diakibatkan karena adanya unsur unsur bahan bakar yang belum terbakar di dalam abu. Menurut data design nya nilai kerugian tak terhitung adalah sebesar : Jadi, dapat ditentukan total losses dari boiler Unit 1 PLTU Sektor Bukit Asam ialah sebagai berikut : ( )

Sehingga, dapat diperoleh nilai efisiensi boiler unit 1 PLTU Sektor Bukit Asam ialah sebagai berikut :

i. Kerugian Panas Terbuang Oleh Flue Gas Ke Cerobong. Gas asap yang keluar ke Cerobong terutama terdiri dari CO2 , Nitrogen, Udara lebih dan Uap air. Banyaknya panas yang terbuang ke cerobong tergantung dari temperatur dan volume flue gas.Prosentase CO2 tidak dapat dikurangi karena gas tersebut merupakan unsur utama produk pembakaran. Udara lebih masih memungkinkan untuk dikurangi dengan catatan tidak menyebabkan pembakaran menjadi tidak sempurna, karena udara lebih ini diperlukan untuk sempurnanya pembakaran. Sebagian besar dari Udara adalah Nitrogen, jadi dengan mengurangi udara lebih berarti mengurangi volume hydrogen. Uap air yang terbentuk dari proses pembakaran hydrogen sulit untuk dikurangi, sedangkan yang masih memungkinkan adalah mengurangi kadar air dalam bahan bakar. Kondisi lain yang mempengaruhi besarnya panas terbuang ke cerobong adalah temperatur flue gas, oleh karena itu temperatur flue gas harus dibuat serendah mungkin dalam batas amannya agar tidak terjadi pengembangan sulphur yang akan menyebabkan korosi. ii. Kerugian Akibat Pembakaran Tidak Sempurna. Pembakaran yang tidak sempurna dapat diakibatkan oleh pengabutan bahan bakar tidak baik, butir batubara serbuk terlalu besar, percampuran bahan bakar dengan udara tidak homogen, kekurangan udara lebih dan lain sebagainya. Akibat dari pembakaran tidak sempurna mungkin terjadi adanya serbuk atau butir-butir cairan bahan bakar terbawa ke cerobong, atau jatuh ke bagian bawah ruang bakar (furnance).

Pembakaran tidak sempurna juga dapat menghasilkan gas CO yaitu gas yang masih dapat terbakar. Gas CO ini akan terbuang ke cerobong. Baik adanya bahan bakar yang belum terbakar maupun gas CO akan mengurangi jumlah panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran. iii. Kerugian Karena Masih ada Unsur-unsur Bahan Bakar Belum Terbakar dalam Abu/Debu. Walaupun proses pembakaran diusahakan sempurna, ternyata masih sering dijumpai adanya unsur Carbon (C) didalam abu/debu. Carbon adalah unsur yang menghasilkan panas, sehingga dengan tertinggalnya carbon dalam abu/debu akan mengurangi panas dari proses pembakaran. iv. Kerugian Karena Radiasi. Kerugian ini diakibatkan oleh radiasi (pancaran panas) dari ketel. Perhitungan panas radiasi sulit dilakukan dan umumnya mempunyai nilai kecil apabila boiler di isolasi dengan baik.

v. Efisiensi Ketel. Perhitungan Metoda Langsung (Direct Method) : Energy ketel dapat dihitung dengan rumus dasar : OUTPUT EFISIENSI = INPUT Input ketel merupakan jumlah panas yang diberikan oleh bahan bakar. INPUT = (Massa Bahan Bakar yang terbakar) x (Nilai Kalor) Output ketel adalah jumlah panas yang diberikan kepada air pengisi yang masuk ke ketel untuk memproduksi uap pada kondisi keluar dari superheater (Ditambah jumlah panas yang diberikan ke Reheater apabila ketel tersebut dilengkapi Reheater). Jumlah panas Output ini dapat dihitung dengan menggunakan tabel uap yaitu dengan cara menghitung selisih entalphy antara uap keluar superheater dengan entalphy air masuk ketel. Output = (Berat uap) x (Selisih ntalphy)

Dengan demikian maka, (Berat Uap) x (Selisih Entalphy) Efisiensi ketel = (Berat Bahan Bakar) x (Nilai Kalor) Perhitungan metoda kerugian (Loss Method) :

Perhitungan dengan cara Direct Method sulit dilaksanakan pada PLTU berbahan bakar Batubara, karena coal weigher (alat penimbang batubara) bukan merupakan bagian dari Milling Plant sehingga jumlah berat batubara dibakar sulit untuk diketahui dengan akurat. Disamping itu untuk mendapatkan nilai kalor batubara terlebih dulu diambil sample dan dianalisa di laboratorium. Karena lamanya perbedaan waktu antara pengambilan sample dengan mendapatkan hasil analisa, nilai kalor batubara yang dibakar mungkin berbeda dengan yang dianalisa. Cara perhitungan yang lebih baik adalah menggunakan Loss Method, yaitu terlebih dulu menghitung Losses (seperti yang sudah dijelaskan terdahulu), kemudian dihitung besarnya output dan input. OUTPUT LOSSES = (Berat Uap) x (Selisih Entalphy) = Dihitung dan dijumlahkan dari setiap loss

INPUT = Output + Losses

OUTPUT EFISIENSI = INPUT OUTPUT = OUTPUT + LOSSES TABEL 4 : Contoh Besarnya Losses Untuk Boiler Modern PENYEBAB LOSSES 1. Flue Gas 2. Air Dalam Bahan Bakar 3. Air Dalam Udara Pembakaan 4. Hydrogen Dalam Bahan Bakar 5. Bahan Bakar Tidak Terbakar 6. Radiasi dll. % 4,25 1,40 Diabaikan 3,53 0,36 0,50 10,10

8.