Anda di halaman 1dari 28

SGD 8 LBM 4 LUKA BAKAR STEP 1 BULA : Sesuatu kelainan kulit yg berbentuk bulat menonjol dengan diameter lbh

dari 2 cm dan berbatas tegas. Bila pecah bs timbul erosi. STEP 2 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Mengapa oleh keluarga luka bakar diberikan oli bekas? Mengapa luka bakar bisa menyebabkan bula? Sebutkan jenis luka bakar dan penyebabnya? Sebut dan jelaskan derajat luka bakar!Dalam skenario derajat berapa? Cara menangani awal dan selanjutnya dari luka bakar secara umum dan derajatnya! Jelaskan cara mengidentifikasi luas luka bakar! Patofisiologi dari luka bakar! Interpretasi dari pemeriksaan fisik pada skenario : Mengapa diberikan povidon iodin? Mengapa setelah diberi infus kesadaran menjadi menurun? Bagaimana cara menghitung tetesan cairan infus pada luka bakar pada anak-anak dan dewasa dan pada skenario! 12. Indikasi dirujuk di rumah sakit pada kasus luka bakar? 13. Sebutkan komplikasi dari luka bakar bagi organ tubuh? STEP 3 1. Mengapa oleh keluarga luka bakar diberikan oli bekas? JAWAB : Oli bekas agar dingin Tetapi sebenarnya bertambah iritasi jaringan rusak luka bakar bertambah parah karena tidak larut dlm air kuman bertambah parah Penguapan ekstravasasi evaporasi mempercepat penguapan bertambah dehidrasi Menyebabkan vasokontriksi derajat luka bakar bertambah berat 2. Mengapa luka bakar bisa menyebabkan bula? JAWAB : Kulit sebagai mempertahankan penguapan dlm tubuh bila terjadi luka bakar permeabilitas meningkat kebocoran cairan ke interstisial bula Edema permeabilitas meningkat oedem Ada 3 zona : koagulasi, statis, dan hiperemia 3. Sebutkan jenis luka bakar dan penyebabnya? Flame burns : kontak langsung dengan api

Contact burns : bila kulit kena benda yang panas Radiant burns : kulit terpajan dengan gelombang panas Luka bakar yang terkena cairan panas: ada 3 - Luka imersi kecerobohan di rumah - Luka percikan misal terkena minyak goreng panas - Luka bakar hangat Luka bakar karena bahan kimia : ada 3 - Alkalis : hidroksida - Acid : asam oksalat, asal sulfat - Organic compound : fenol, desinfektant Luka bakar listrik langsung ke berat ada input dan output

4. 5.

6.

7.

DEFINISI LUKA BAKAR : Anatomi kulit (HISTOLOGI) Interpretasi dari pemeriksaan fisik pada skenario : - Kesadaran - Tekanan darah (hipotensi) - RR normal - Nadi : 120 (meningkat) Sebut dan jelaskan derajat luka bakar!Dalam skenario derajat berapa? JAWAB : Skenario DERAJAT 2 Luas luka : muka dan leher Berdasarkan kedalaman kulit yang terkena KLASIFIKASI TRADISIONAL - DERAJAT 1 : lapisan luar epidermis, kulit merah, sdkt edema - DERAJAT 2 : mengenai sebagian dermis dan seluruh epidermis, sdkit bula, edema, nyeri berat, kalau bula sampai pecah : agak kemerahan Type dangkal : mulai kehilangan folikel rambut dan kelenjar keringat masih ada TERAPI cairan mulai derjat 2 Type dalam : hanya kelenjar keringat yg masih utuh - DERAJAT 3 : mengenai seluruh lapisan kulit, warna coklat, dengan permukaan lbh rendah dari bagian yg tidak terbakar Jelaskan cara mengidentifikasi luas luka bakar! - Ringan : LB derajat 1, derajat 2 kurang dari 15%, LB <2% - Sedang : LB derajat 2 10-15%, LB derajat III 5-10% - Berat : LB derajat 2 > 20%, LB derajat II mengenai wajah, tangan, kaki, alat kelamin atau persendian sekiatr ketiak, luka bakar derajat III >10%, luka bakar akibat listrik dgn tegangan lbh dari 1000 volt, luka bakar dgn komplikasi patah tulang, kerusakan luas jaringan lunak, gangguan nafas Dewasa --> RULES OF NINE Kepala dan leher, dada, punggung, perut, pinggang, dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, p[aha kiri, tungkai dan kaki kanan, tungkai dan kaki kiri masing-masing 9% ( ANTERIOR DAN POSTERIOR)

Genitalia : 1%

8. Patofisiologi dari luka bakar! Lokasi kulit : epidermis, dermis, subkutan Luka bakar mengenai kulit protein yg di kulit rusak cairan yg di intravaskuler pindah ke ekstravaskuler bula Luka bakar menyebabkan dehidrasi Diberikan cairan infus karena terjadi syok hipovolemik Renalis penurunan intravaskuler produki urin turun gagal ginjal GIT respon neurologik dan hipovolemik, dipuasakan dulu pasang NGT Setiap 0,5 -1 % luka bakar cairan tubuh kehilangan 0,5 1 % cairan juga Penanganan luka bakar pertama diberi air menstabilkan suhu kulit Jika oli bekas bisa terjadi infeksi nekrosis nanah 9. Cara menangani awal dan selanjutnya dari luka bakar secara umum dan derajatnya! Tujuan : - Penanganan awal dan transportasi; a. Jauhkan sumer panas b. Matikan api c. Lepas pakaian d. Air dingin yg bersih menurunkan suhu, mencegah edema e. Cegah infeksi f. Ditutup kain bersih dan steril g. Ada bula jangan dipecah h. Luka bakar di daerah persendian : jangan melipat sendi karena biasa terjadi kontraktur Rujuk < 1jam Posisi kepala lbh rendah Berikan salep antibiotik Hati-hati trauma inhalasi : trauma wajah dan leher, alis amata dan bulu hidung hangus, sputum mngandung arang, suara serak, terkurung dlm api, luka bakar kepala dan ledakan, kadar karboksihemoglobin harus diintubasi

10. Mengapa diberikan povidon iodin? Untuk desinfektan agar tetap steril dan tdk infeksi di daerah luka bakar 11. Mengapa setelah diberi infus kesadaran menjadi menurun? Integritas bisa berubah cairan infus tidak mengalir Seharusnya koloid Sel darah rusak, anemia, kadar CO yang meningkat

12. Bagaimana cara menghitung tetesan cairan infus pada luka bakar pada anak-anak dan dewasa dan pada skenario! 13. Indikasi dirujuk di rumah sakit pada kasus luka bakar? Jawab : Derajat 2 dan 3 luka bakar dengan komplikasi, dan adanya trauma inhalasi 14. Sebutkan komplikasi dari luka bakar bagi organ tubuh? Ada 2 : Lokal dan sistemik Sistemik : syok hipovolemik, menurunnya imunitas, ketidakseimbangan protein negatif, bisa gagal ginjal Lokal : gangguan vaskularisasi [erifer, keloid, pemendekan otot, infeksi, konvulsi (luka bakar anak-anak) Infeksi sepsis Curling ulcer (hari ke 5-10) ulkus di duodenum dan lambung Gangguan jalan nafas komplikasi plg dini hari 1 karena inhalasi bisa terjadi edema paru dan infeksi, aspiras Gangguan jiwa kecacatan berat STEP 4 MAPPING STEP 5 LEARNING ISSUE STEP 6 BELAJAR MANDIRI STEP 7 1. Mengapa oleh keluarga luka bakar diberikan oli bekas? Bisa memperparah bula luka bakar Bisa menutupi pori2 kulit dengan erat sehingga bila dirujuk ke dokter akan ditemui kesulitan dalam tatalaksana dalam pembersihan jaringan yang rusak akibat luka bakar Bisa menyebabkan infeksi 2. Mengapa luka bakar bisa menyebabkan bula?

http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2d3keperawatan/206301024/bab2.pdf 3. Sebutkan jenis luka bakar dan penyebabnya? MENURUT ETIOLOGI - Terbakar api langsung - Luka bakar akibat tidak langsung dari api tersiram air panas - Pajanan suhu tinggi dari matahari - Listrik, bahan kimia Buku Ajar Ilmu Bedah, Wim de Jong Disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh melalui konduksi atau radiasi elektromagnitik. Berdasarkan penyebab Luka bakar karena api Luka bakar karena air panas Luka bakar karena bahan kimia Laka bakar karena listrik Ekstensi leher, ekstensi pergelangan tangan, abduksi 900 ketiak Ekstensi leher dengan bantal atau gulungan Ekstensi siku 1800 Bidai ekstensi pergelangan tangan Abduksi Paha 15-200 Ekstensi sendi paha dan lutut Pergelangan kaki diposisikan 900 Ilmu bedah. Wim de jong Luka bakar karena radiasi Luka bakar karena suhu rendah (frost bite). A. Flame Burns Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan api 1. Keparahan tergantung lamanya waktu kulit terpajan dengan api 2. Bentuk lain dari flame burns adalah flash burns a. Disebabkan oleh ledakan yang berasal dari gas, atau berupa partikel- partikel halus suatu benda panas b. Menyebabkan luka bakar derajat dua dan tiga pada seluruh daerah kulit yang terkena, termasuk rambut B. Contact Burns

Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan objek yang panas, misalnya besi panas, setrika, dll. Jenis luka bakar ini, dapat memberikan gambaran mengenai bentuk benda panas yang menyebabkan luka bakar tersebut

C. Radiant Burns Terjadi apabila kulit terpajan dengan gelombang panas 1) Tidak selalu diperlukan kontak langsung dengan benda yang menghasilkan gelombang panas untuk menimbulkan luka bakar 2) Dapat menimbulkan lepuh dan eritema 3) Bila pajanan terjadi dalam jangka waktu lama dapat meimbulkan karbonisasi D. Luka terbakar terjadi bila kulit berhubungan dengan cairan panas ( biasanya air ). 1. Air pada 158F ( 70C ) akan menghasilkan suatu luka derajat tiga pada kulit orang dewasa, kira-kira dalam satu detik dari kontak ; pada 131F ( 55C ), hampir 25 detik dibutuhkan untuk menghsilkan luka bakar yang sama. 2. Luka terbakar dapat dibagi menjadi 3 tipe : a. Luka imersi, yang mana bisa saja karena ketidaksengajaan atau kecerobohan di rumah. b. Luka bakar karena percikan, atau tumpahan biasanya tidak sengaja, disebabkan karena memercikkan, menumpahkan cairan panas ke tubuh. c. Luka bakar hangat biasanya karena ketidaksengajaan. Uap yang sangat panas dapat menyebabkan luka berat pada mukosa saluran napas. Pada beberapa kasus, edema laring massif dapat terjadi, penyebab asfiksia dan kematian. E. Luka bakar karena microwave. Microwave adalah gelombang elektromagnetik dgn frekwensi 30-300.000 MHz dan panjang 1mm sampai 30 cm. Radiasi microwave adalah non-ionisasi,sehingga efeknya adalah panas, yang mana memproduksi melalui agitasi molecular dari molekul polar, seperti air. Pada system biologi, oleh karena itu, Jaringan dengan komposisi air yang lebih tinggi ( seperti otot ) akan menjadi lebih panas daripada jaringan dengan komposisi air yang lebih rendah ( seperti lemak ). F. Luka bakar kimia adalah diproduksi oleh agent kimia seperti asam kuat dan alkali, sama seperti agent lain seperti fosfor dan fenol. Luka bakar menghasilkan perubahan yang lebih lambat daripada luka bakar akibat agent panas. Klafisikasi Bahan kimia : 1. Alkalis/Basa Hidroksida, soda kaustik, kalium amoniak, litium, barium, kalsium atau bahan bahan pembersih dapat menyebabkan liquefaction necrosis dan denaturas protein. 2. Acids/Asam Asam hidroklorat, asam aksalat, asam sulfat, pembersih kamar mandi atau kolam renang dapat menyebabkan kerusakan coagulation necrosis.

3. Organic Compounds Fenol, creosote, petroleum, sebagai desinfektan kimia yang dapat menyebabkankerusakana kutaneus, efek toksis terhadap ginjal dan liver.

1. Ekstensi luka tergantung dari : a. Agent kimianya. b. Kekuatan atau konsentrasi dari agent kimianya. c. Durasi kontak dengan agent tersebut. 2. Agent alkalin : a. Cenderung lebih menjadi luka berat disbanding agent asam ; b. Yang dapat menyababkan luka baker umumnya memiliki pH > 11.5 c. Sering menghasilkan luka yang cukup tebal d. Menghasilkan luka yang menimbulkan nyeri; dan menusuk kulit dan licin. 3. Agen asam biasanya menghasilkan hanya sebagian dari ketebalan luka, yang mana diikuti dengan eritema dan erosi yang superficial saja. DEFINISI LUKA BAKAR :

http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2d3keperawatan/206301024/bab2.pdf 4. Anatomi kulit (HISTOLOGI)

5. Interpretasi dari pemeriksaan fisik pada skenario : 6. Sebut dan jelaskan derajat luka bakar!Dalam skenario derajat berapa? Menurut luas luka bakar : (u/ dewasa :mnurut rule of 9, anak2: lund browder) Berat Menurut American Burn Association: 1. Luka Bakar Ringan. - Luka bakar derajat II <15 % - Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak - Luka bakar derajat III < 2 % 2. Luka bakar sedang - Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa - Luka bakar II 10 20 5 pada anak anak - Luka bakar derajat III < 10 % 3. Luka bakar berat - Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa - Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak. - Luka bakar derajat III 10 % atau lebih - Luka bakar mengenai tangan, wajah, telinga, mata, kaki dan genitalia/perineum. - - Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain derajat II (>20%) derajat III (>10%) ,luka bakar akibat listrik >1000Volt ,luka bakar dg komplikasi patah tulang disertai kerusakan jar.lunak yg luas Berdasarkan kedalaman luka bakar

Derajat 1 : epidermis Derajat 2 : dermis Derajat 3 : dermis + organ di bawahnya

a. Luka bakar derajat I Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis Kulit kering, hiperemi berupa eritema Tidak dijumpai bullae Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari

b. Luka bakar derajat II Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. Dijumpai bulae. Nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi. Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal. Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

1. Derajat II dangkal (superficial) IIA Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis lapisan atas dari corium/dermis. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh benih2 epitel Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa terbentuk sikatrik

2. Derajat II dalam (deep) IIB Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa sisa jaringan epitel tinggal sedikit. Organ organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebacea tinggal sedikit. Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut hipertrofi. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

Tusukan, kulit hitamabu2,kulit putihmerah c. Luka bakar derajat III Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan. Tidak dijumpai bulae. Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. Karena kering letaknya lebih rendah dibanding kulit sekitar. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.

Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian. Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi proses epitelisasi spontan dari dasar luka.

( Luka Bakar, Pengetahuan klinis praktis, Yefta Moenadjat) Derajat luka bakar : 1. Ringan : - Luka bakar derajat I - Luka bakar derajat II seluas < 15 % - Luka bakar derajat III seluas < 2 % Luka bakar ringan tanpa komplikasi dapat berobat jalan. 2. Sedang : - Luka bakar derajat II seluas 10-15% - Luka bakar derajat III seluas 5-10 % Luka bakar derajat sedang sebaiknya dirawat untuk observasi. 3. Berat : - Luka bakar derajat II seluas > 20% - Luka bakar derajat II yang mengenai wajah, tangan, kaki, alat kelamin atau persendian sekitar ketiak. - Luka bakar derajat III seluas > 10% - Luka bakar akibat listrik dengan tegangan > 1000 volt - Luka bakar dengan komplikasi patah tulang, kerusakan luas jaringan lunak atau gangguan jalan napas. 7. Jelaskan cara mengidentifikasi luas luka bakar! Tentukan luas dan dalamnya luka bakar Luas luka bakar: A. Anak-anak dihitung menurut rumus Lund dan browder. Pada anak anak dipakai modifikasi Rule of Nine menurut Lund and Brower, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.

B. Dewasa dihitung menurut rumus rule of nine Wallace membagi tubuh atas bagian nagian 9 % atau kelipatan dari 9 terkenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace.Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak tangan penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya.

8. Patofisiologi dari luka bakar!

a.

b.

c.

d.

Luka bakar mengakibatkan peningkatan permebilitas pembuluh darah sehingga air, klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi. Burn shock ( shock Hipovolemik ) merupakan komplikasi yang sering terjadi, manisfestasi sistemik tubuh trhadap kondisi ini adalah : Respon kardiovaskuiler perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler mengakibatkan kehilangan Na, air dan protein plasma serta edema jaringan yang diikuti dengan penurunan curah jantung. Hemokonsentrasi sel darah merah, penurunan perfusi pada organ mayor edema menyeluruh. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intra vaskuler. Tubuh kehilangan cairan antara % - 1 %, Blood Volume setiap 1 % luka bakar. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebih (insensible water loss meningkat). Respon Renalis Dengan menurunnya volume inravaskuler maka aliran ke ginjal dan GFR menurun mengakibatkan keluaran urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal Respon Gastro Intestinal Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukan luas. Pemasangan NGT mencegah terjadinya distensi abdomen, muntah dan aspirasi. Sering terdapat ileus paralitik dan Curling Ulcer yang dikhawatirkan pada tukak Curling ini adalah pendarahan yang timbul sebagai hematesis melena. Respon Imonologi Sebagian basis mekanik, kulit sebgai mekanisme pertahanan dari organisme yang masuk. Terjadinya gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam luka. a. Fase awal, fase akut, fase syok i. Gangguan saluran nafas (cedera inhalasi)

Adalah perubahan mukosa saluran nafas akibat adanya paparan terhadap suatu iritan dan menimbulkan manifestasi klinik berupa distress pernafasn. Reaksinya berupa inflamasi akut dengan edema dan hipersekresi mukosa saluran nafas. Iritan yang dimaksud biasanya berupa produk toksik dari sisa pembakaran yang tidak sempurna atau zat kimia di ruang tertutup, atau korban tidak sadarkan diri Edema mukosa yang masif di saluran nafas atas menyebabkan obstruksi lumen, biasanya dalam waktu 8 jam pasca cedera. Perubahan inflamatorik mukosa bagian bawah biasanya terjadi lebih lambat, di kaitkan dengan peran sitokin dan radikan bebas yang melibatkan mukosa alveoli, susunan pembuluh darah kapiler perialveolar dan parenkim paru; mengakibatkan gangguan difusi oksigen / Acquired Respiratory Distress Syndrome (ARDS) ii. Gangguan mekanisme bernafas Adanya eskar melingkar di permukaan rongga toraks (dada) menyebabkan gangguan ekspansi rongga toraks pada proses respirasi (inspirasi). Volume inspiasi yang berkurang menyebabkan gangguan proses oxygen exchage. iii. Gangguan sirkulasi Pada luka bakar ekstensif dengan perubahan permeabilitas kapler yang hampir menyerluruh, peimbunan cairan masif di jaringan intersitial menyebabkan kondisi hipovolemik. Volume cairan intravaskuler mengalami defisit, timbul ketidakmampuan menyelenggarakan proses transportasi oksigen ke jaringan (syok) Sel-sel endotel yang edema, menyebabkan ekstrapasasi cairan intravaskuler ke ruang intersitial; demikian juga plasma (protein) dan elektrolit. Keseimbangan tekanan hidrostatik dan onkolotik terganggu sehingga sirkulasi ke distal terlambat, menyebabkan gangguan perfusi. Reaksi yang akibat gangguan sistem hemeostatik adalah vasokontriksi pembuluh darah perifer. Sirkulasi dipertahankan dengan kompensasii, yang ditandai meningkatnya aktivitas pernafasan (cepat dan dangkal), aktifitas jantung (palpitasi dan takikardi), gangguan sirkulasi otak (disorientasi, gelisah, penurunan kesadaran) Moenadjatm, Yefta. 2001.Pengetahuan Klinis Praktis Luka Bakar. Jakarta : FKUI 9. Cara menangani awal dan selanjutnya dari luka bakar secara umum dan derajatnya!

I. Evaluasi Pertama (Triage) A. Airway, sirkulasi, ventilasi Prioritas pertama penderita luka bakar yang harus dipertahankan meliputi airway, ventilasi dan perfusi sistemik. Kalau diperlukan segera lakukan intubasi endotrakeal, pemasangan infuse untuk mempertahankan volume sirkulasi B. Pemeriksaan fisik keseluruhan. Pada pemeriksaan penderita diwajibkan memakai sarung tangan yang steril, bebaskan penderita dari baju yang terbakar, penderita luka bakar dapat pula mengalami trauma lain, misalnya bersamaan dengan trauma abdomen dengan adanya internal bleeding atau mengalami patah tulang punggung / spine. C. Anamnesis Mekanisme trauma perlu diketahui karena ini penting, apakah penderita terjebak dalam ruang tertutup sehingga kecurigaan adanya trauma inhalasi yang dapat menimbulkan obstruksi jalan napas. Kapan kejadiannya terjadi, serta ditanyakan penyakit penyakit yang pernah di alami sebelumnya. D. Pemeriksaan luka bakar Luka bakar diperiksa apakah terjadi luka bakar berat, luka bakar sedang atau ringan. 1. Ditentukan luas luka bakar. Dipergunakan Rule of Nine untuk menentukan luas luka bakarnya. 2. Ditentukan kedalaman luka bakar (derajat kedalaman) II. Penanganan di Ruang Emergency

1. Diwajibkan memakai sarung tagan steril bila melakukan pemeriksaan penderita. 2. Bebaskan pakaian yang terbakar. 3. Dilakukan pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh untuk memastikan adnya trauma lain yang menyertai. 4. Bebaskan jalan napas. Pada luka bakar dengan distress jalan napas dapat dipasang endotracheal tube. Traheostomy hanya bila ada indikasi. 5. Pemasangan intraveneous kateter yang cukup besar dan tidak dianjurkan pemasangan scalp vein. Diberikan cairan ringer Laktat dengan jumlah 30-50 cc/jam untuk dewasa dan 2030 cc/jam untuk anak anak di atas 2 tahun dan 1 cc/kg/jam untuk anak dibawah 2 tahun. 6. Dilakukan pemasangan Foley kateter untuk monitor jumlah urine produksi. Dicatat jumlah urine/jam. 7. Di lakukan pemasangan nosogastrik tube untuk gastric dekompresi dengan intermitten pengisapan. 8. Untuk menghilangkan nyeri hebat dapat diberikan morfin intravena dan jangan secara intramuskuler. 9. Timbang berat badan 10. Diberikan tetanus toksoid bila diperlukan. Pemberian tetanus toksoid booster bila penderita tidak mendapatkannya dalam 5 tahun terakhir. 11. Pencucian Luka di kamar operasi dalam keadaan pembiusan umum. Luka dicuci debridement dan di disinfektsi dengan salvon 1 : 30. Setelah bersih tutup dengan tulle kemudian olesi dengan Silver Sulfa Diazine (SSD) sampai tebal. Rawat tertutup dengan kasa steril yang tebal. Pada hari ke 5 kasa di buka dan penderita dimandikan dengan air dicampur Salvon 1 : 30 12. Eskarotomi adalah suatu prosedur atau membuang jaringan yang mati (eskar)dengan teknik eksisi tangensial berupa eksisi lapis demi lapis jaringan nekrotik sampai di dapatkan permukaan yang berdarah. Fasiotomi dilakukan pada luka bakar yang mengenai kaki dan tangan melingkar, agar bagian distal tidak nekrose karena stewing. 13. Penutupan luka dapat terjadi atau dapat dilakukan bila preparasi bed luka telah dilakukan dimana didapatkan kondisi luka yang relative lebih bersih dan tidak infeksi. Luka dapat menutup tanpa prosedur operasi. Secara persekundam terjadi proses epitelisasi pada luka bakar yang relative superficial. Untuk luka bakar yang dalam pilihan yang tersering yaitu split tickness skin grafting. Split tickness skin grafting merupakan tindakan definitive penutup luka yang luas. Tandur alih kulit dilakukan bila luka tersebut tidak sembuh dalam waktu 2 minggu dengan diameter>3cm. Resusitasi Cairan Pada penanganan perbaikan sirkulasi pada luka bakar dikenal beberapa formula berikut : - Evans Formula - Brooke Formula - Parkland Formula - Modifikasi Formula - Monafo Formula BAXTER formula Hari Pertama :

Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam Anak : Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3 2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali. Kebutuhan faali : < 1 Tahun : berat badan x 100 cc 1 3 Tahun : berat badan x 75 cc 3 5 Tahun : berat badan x 50 cc jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama. diberikan 16 jam berikutnya. Hari kedua Dewasa : hari I Anak : diberi sesuai kebutuhan faali Menurut Evans Cairan yang dibutuhkan : 1. RL / NaCl = luas combustio % X BB/ Kg X 1 cc 2. Plasma = luas combustio % X BB / Kg X 1 cc 3. Pengganti yang hilang karena penguapan = D5 2000 cc Hari I 8 jam X 16 jam X Hari II hari I Hari ke III hari ke II

Ada 2: Di tempat kejadian : Matikan api dg memutuskan hubgn dg oksigen,tutupi penderita dg selimut/handuk/sprei/karung Perhatikan KU penderita Pendinginan : a) Buka pakaian pnderita b) Rendam dg air mengalir 20-30 mnt,bagian wajah dikompres c) Jk disebabkan zat kimia,gunakan nacl (u/ zat korosif) Mencegah infeksi

a) b) c) d)

Tutup luka dg perban Ditutup kain bersih Jg beri zat yg tdk larut dalam air ,spt mentega,minyak,odol Rujuk ke puskesmas terdekat

Di RS : a) Airway Trauma inhalasipasang ET b) Breathing c) Pemberian cairan iv,tergantung dr luas luka bakar sesuai dg rumus (evans dan baxter atau parkland) d) Antibiotik,nutrisi dan obat lain e) Penanganan local f) Perawatan luka bakar diseluruh dunia dibagi dalam dua kriteria besar: g) A. Perawatan Luka Bakar secara Terbuka. Perawatan secara terbuka dilakukan dengan tidak menutup luka bakar tersebut. Perawatan secara terbuka ini kurang sesuai untuk kondisi di Indonesia, karena tingginya kelembaban udara memudahkan timbulnya infeksi pada luka bakar yang dirawat secara terbuka. Selain itu perawatan luka secara terbuka memudahkan penguapan yang akan berakhir dengan mudah terjadinya dehidrasi berulang. h) B. Perawatan Luka Bakar secara Tertutup. Perawatan dilakukan dengan menutup luka bakar. Keuntungan dengan cara ini adalah berkurangnya penguapan dan memperkecil kemungkinan infeksi dengan mengurangi pemaparan terhadap mikroorganisme.

Hentikan proses kombusio Menghentikan kontak dengan sumber panas ,tindakan ini akan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah. Tindakan yang perlu dilakukan : i. Bila sumber panas adalah api segera hentikan proses kombusio dengan air atau bahan yang tidak mudah terbakar ( basah,bahan karung basah,handuk basah) atau menyiram dengan air

ii. Pakain (khususnya yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar seperti bahan nilon,tetoroon segera dilepaskan sebagai upaya menghentikan kontak tubuh dengan sumber panas. iii. Bila penyebab luka bakar itu adalah listrik segera puruskan aliran listrik. Upaya pencegahan terjadinya kerusakan bertambah parah Apapun penyebab luka bakar segera netralisir suhu tinggi dengan upaya menurunkan suhu dengan cara mendinginkan nya menggunakan kompres air dingin atau air yang mengalir selama 15-20 menit. Tidak benar melakukan pertolongan dengan memberikan minyak,margarin kopi dsb. Karena akan menimbulkan reaksi dengan jaringan yang menambah derajat kerusakan jaringan termasuk infeksi. Bila penderita berada di dalam ruang tertutup segera di bawa ke ruang terbuka atau ruanagn yang memiliki ventilasi baik. Penatalaksanaan Luka bakar ringan 1. Mengatasi rasa nyeri Kompres air dingin selama beberapa saat dalam upaya mencegah kerusakan sebagaimana dijelaskan sebelumnya juga merupakan tindakan pertama mengatasi nyeri.Suhu yang rendah memberikan efek anestesi karena terjadi vasokonstriksi.Pemberian preparat mengandung vehikulum jel memberikan rasa nyaman (misal bioplacenton) disamping zat aktif ekstrak plasenta yang dikandungnya memacu proses epitelisasi dalam proses penyembuhan dapat digunakan. Pemberian analgetik dalam berbagai golongan maupun bentuk sediaan ( per oral,injeksi atau suppositoria) 2. Penatalaksanaan luka Luka bakar derajat 1 cukup dirawat dengan vaseline atau krim pelembab,tanpa harus memberikan antibiotik.Tidak ada ketentuan melarang luka tidak boleh karena air pada saat mandi. Dengan membersihkan kulit pada saat mandi,proses penyembuhan akan berlangsung sebagaimana mestinya. Luka bakar derajat II superfisial a.Bila ukuran bula realtif kecil cukup dibiarkan saja dan akan mengalami penyembuhan spontan.Bila mengganggu cairan bula dilakukan aspirasi tanpa melakukan pembuagan lapisan epidermis yang menutupinya.Bila ukuran bula cukup luas atau besar lakukan insisi atau aspirasi m,enggunakan semprit tanpa membuang lapisan epidermis,kemudian tutup dengan tulle dan kasa adsorben atau hidrofil b. Bagian tubuh terkena biasanya perlu diistirahatkan dalam tenggang waktu tertentu c. Dalam hal diet tidak ada pantangan terhadap jenis makanan apapun bahkan diperlukan diet tinggi kalori dan tinggi protein ditambah dengan vitamin dan mineral. Penatalaksanaan Luka bakar sedang dan berat Prinsip penatalaksanaan kasus luka bakar yang masuk dalam kategori sedang dan berat mengacu kepada pola penatalaksanaan traumatologi,berdasarkan prioritas ABC .Penatalaksanaannya dibedakan pada penatalaksanaan awal segera setibanya di klinik atau

di pusat pelayanan masyarakat tempat pertama kali penderita datang meminta pertolongan ,penatalaksanaan rujukan dan penatalaksanaan di rumah sakit rujukan. ( Luka Bakar, Pengetahuan klinis praktis, Yefta Moenadjat) Tahap 1 : Fase resusitasi / Fase Kritis. Tahap ini berlangsung antara 2-6 minggu perawatan tergantung beratnya luka bakar dan kondisi penyerta lainnya. Pada Tahap ini penderita dengan luka bakar berat, Di Unit Luka Bakar Rumah Sakit Pertamina dirawat ICU Luka Bakar. Tujuan utama tahap ini adalah mempertahakan hidup penderita. Tata Laksana Tahap ini meliputi: 1. Tatalaksana cairan. Pada penderita luka bakar sedang dan berat terjadi kehilangan cairan tubuh yang sangat banyak dapat mencapai 2-3 kali jumlah cairan yang beredar didalam pembuluh darah. Hal ini terjadi sebagai akibat dari luka bakar terjadi kerusakan dinding pembuluh darah, yang menimbulkan kondisi seakan-akan pembuluh darah bocor dan tidak dapat menahan air dan bahan yang ada didalam pembuluh darah seperti protein, keluar dari dalam rongga pembuluh darah, baik tertimbun diantara sel jaringan lain atau menguap. Kondisi ini terjadi pada jam-jam awal terjadinya luka bakar. Untuk mengatasi kondisi ini dilakukan tindakan pemberian cairan dalam bentuk cairan elektrolit dengan berbagai rumus pemberian seperti rumus Baxter dan lainnya. Pada hari-hari berikutnya terapi cairan merupakan kombinasi terapi cairan elektrolit dan pemberian nutrisi parenteral (perinfus) dengan pemberian protein, asam amino essensial dan lemak. Tatalaksana cairan memegang peranan penting dalam tatalaksana penderita luka bakar, dan hendaknya dilakukan dengan cermat dan dipantau secara ketat sehingga tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan cairan pada penderita. Pemantauan dilakukan sampai penderita selesai menjalani rawat inap di Rumah Sakit. 2. Tatalaksana Nutrisi. Selain Tatalaksana Cairan, tatalaksana nutrisi merupakan tatalaksana yang hendaknya dilaksanakan dan dipantau sejak penderita masuk sampai selesai menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Tatalaksana nutrisi di Unit Luka Bakar RSPP dilakukan secara kombinasi antara nutrisi peroral (melalui rongga mulut) dan nutrisi parenteral melalui infus. Tatalaksana nutrisi penting karena dapat menentukan lamanya luka sembuh, lama perawatan di rumah sakit, dan perawatan lainnya. Biaya untuk nutrisi penderita luka bakar merupakan komponen yang tidak sedikit karena memerlukan pemberian albumin perinfus untuk menjaga stabilitas asupan zat-zat yang dibutuhkan tubuh yang diangkut oleh albumin. Dengan jumlah kalori yang diberikan maksimal 30 kalori/kgBB/hari. 3. Tatalaksana SIRS, Sepsis dan trombosis. Istilah medis ini berkaitan dengan kondisi kritis Penderita Luka Bakar Berat. Kondisi ini merupakan kondisi kritis Penderita Luka Bakar Berat yang merupakan reaksi tubuh untuk mempertahankan diri untuk menanggulangi luka bakar. SIRS : Merupakan reaksi peradangan yang mengenai seluruh tubuh terhadap perubahan kondisi didalam tubuh sendiri, contohnya demam pada penderita iuka bakar, tidak selalu berkaitan dengan infeksi. Reaksi radang ini termanifestasi dalam hasil laboratorium seperti sel darah putih diatas atau dibawah jumlah normal (Normal sel darah putih ada pada kisaran 5000

sampai 10.000/mm2), tekanan O2 darah dibawah normal, tekanan CO2 darah diatas normal dan frekuensi nafas permenit diatas normal. Sepsis: Merupakan reaksi tubuh dengan penampilan hasil laboratorium yang sama dengan penyebab adanya infeksi pada tubuh manusia. Tatalaksana SIRS dan Sepsis ini yang membutuhkan biaya tidak sedikit karena mencakup pemberian Imuno globulin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Trombosis: Salah satu akibat dari luka bakar adalah rusaknya lapisan dalam pembuluh darah kapiler didaerah yang terkena luka bakar. Akibat kerusakan pembuluh darah ini mudah terjadi bekuan darah didalam pembuluh darah (trombosis) yang akan mengakibatkan sumbatan pembuluh darah yang akan mengakibatkan kematian jaringan pada daerah yang di perdarahi oleh pembuluh darah tersebut. Tahap 2 : Fase penyembuhan luka Penyembuhan luka bakar sangat dipengaruhi oleh kecepatan dan ketepatan perawatan luka. Perawatan luka bakar diseluruh dunia dibagi dalam dua kriteria besar: A. Perawatan Luka Bakar secara Terbuka. Perawatan secara terbuka dilakukan dengan tidak menutup luka bakar tersebut. Perawatan secara terbuka ini kurang sesuai untuk kondisi di Indonesia, karena tingginya kelembaban udara memudahkan timbulnya infeksi pada luka bakar yang dirawat secara terbuka. Selain itu perawatan luka secara terbuka memudahkan penguapan yang akan berakhir dengan mudah terjadinya dehidrasi berulang. B. Perawatan Luka Bakar secara Tertutup. Perawatan dilakukan dengan menutup luka bakar. Keuntungan dengan cara ini adalah berkurangnya penguapan dan memperkecil kemungkinan infeksi dengan mengurangi pemaparan terhadap mikroorganisme. Beberapa sediaan untuk Perawatan Luka Bakar: Idealnya sediaan untuk perawatan luka bakar adalah bahan yang memiliki kemampuan absorbs! cairan yang tinggi sehingga tidak diperluka penggantian balutan yang terlalu sering, mudah dilepaskan, tidak melekat ke permukaan luka, sehingga tidak menimbulkan sensasi sakit pada pasien saat proses penggantian balutan. Selain itu tidak menghambat proses penyembuhan luka. Sediaan Perak (Silver). Keuntungan : Anti septik yang dapat menembus kulit yang mati karena luka bakar. Melunakan jaringan kulit mati sehingga mudah untuk mengangkatnya. Kerugian : Hanya baik untuk perawatan hari-hari pertama luka Bakar. Beberapa ahli Bentuk sediaan : Yang lazim ada berbentuk cream. Pengembangan baru berbentuk lembaran perak dengan berbagai ukuran, bentuk baru harganya masih cukup mahal dan belum resmi masuk ke Indonesia. Tahap 3 : Fase pengembalian fungsi anggota gerak Fase ini dilakukan bila terdapat gangguan fungsi pada anggota gerak setelah luka bakar sembuh atau kering (tertutup epitel) baik secara tumbuh sendiri atau dilakukan tandur alih kulit. Biasanya hal ini dilakukan dengan membuang skar yang mengganggu gerakan dan luka terbuka yang terbentuk karena tindakan ini ditutup dengan kulit dengan ketebalan yang

mencukupi, yang biasanya diambil dari lipat paha penderita. Untuk pencegahan pembentukan skar yang tebal dan kontraktur setelah luka bakar kering dapat dipasangkan pressure garment (Pakaian yang dapat menekan dengan kekuatan tertentu) yang dipakai oleh pasien antara 8-12 jam /hari. Tahap 4 : Fase Estetika/Penampilan. Fase ini merupakan hal terakhir dan tersulit pada pasien luka bakar, karena setipis dan sekecil apapun luka bakar akan menimbulkan bekas yang sulit dihilangkan dan akan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menyamarkan bekas tersebut. Hendaknya sudah diantisipasi dan dipersiapkan sejak awal penderita mengalami luka bakar ini. Beberapa yang dapat dilakukan setelah luka kering dengan memberikan sediaan yang menghambat terjadinya keloid (beberapa sedian seperti Mederma, Kenacort, Silgel) dengan berbagai komponen yang berbeda, sampai saat ini belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Penelitian terakhir menuju kearah pencarian Mormon yang terdapat didalam janin yang dapat menyembuhkan luka tanpa menimbulkan bekas. Moenadjatm, Yefta. 2001.Pengetahuan Klinis Praktis Luka Bakar. Jakarta : FKUI Secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing, cooling, cleaning, chemoprophylaxis, covering and comforting (contoh pengurang nyeri). Untuk pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling, baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan Clothing : singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning. Cooling : - Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar - Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi - Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia - Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir. Cleaning : pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang. Chemoprophylaxis : pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial- thickness (dapat dilihat pada tabel 4 jadwal pemberian antitetanus). Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyususi dengan bayi kurang dari 2 bulan Covering : penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat

luka bakar. Jangan berikan mentega, minyak, oli atau larutan lainnya, menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi. Comforting : dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri. Dapat diberikan penghilang nyeri berupa : Paracetamol dan codein (PO-per oral)- 20-30mg/kg Morphine (IV-intra vena) 0,1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus Morphine (I.M-intramuskular) 0,2mg/kg Tatalaksana luka bakar minor Pemberian pengurang rasa nyeri harus adekuat. Pada anak-anak dapat membutuhkan morfin sebelum penilaian luka bakar dan pembalutan awal. Pada luka bakar mengenai anggota gerak atas disarankan imobilisasi denga balut dan bidai Pemeriksaan status tetanus pasien Pembalutan tertutup disarankan untuk luka bakar partial thickness. Cairan yang keluar dari luka bakar menentukan frekuensi penggantian balutan Lakukan pertolongan dengan prioritas penatalaksanaan (ABC) a. Untuk gangguan saluran nafas, lakukan pembersihan jalan nafas dari kotoran, karbon, darah yang ada di hidung, segera berikan oksigen 8-10 liter per menit dengan sungkup. Bila terjadi sumbatan pernafasan, lakukan prosesur krikotirotomi atau pipa endotrakheal b. Untuk gangguan mekanisme bernafas, setelah melakukan perhitungan frekuensi pernafasan, perhatikan adanya eskar melingkar di dinding dada dan adaya riwayat cedera dada. c. Untuk gangguan sirkulasi perhatikan adanya gejala dan tanda syok: bila dijumpai syok, resusitasi cairan dilakukan dengan segera berikan RL melalui IV secara singkat. Moenadjatm, Yefta. 2001.Pengetahuan Klinis Praktis Luka Bakar. Jakarta : FKUI 10. Mengapa diberikan povidon iodin? 11. Mengapa setelah diberi infus kesadaran menjadi menurun? Pemilihan cairan sebaiknya didasarkan atas status hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit, dan kelainan metabolik yang ada. Terapi awal pasien hipotensif adalah cairan resusitasi dengan memakai 2 liter larutan isotonis Ringer Laktat. Namun, Ringer Laktat tidak selalu merupakan cairan terbaik untuk resusitasi. Resusitasi cairan yang adekuat dapat menormalisasikan tekanan darah pada pasien kombustio 1824 jam sesudah cedera luka bakar. Larutan parenteral pada syok hipovolemik diklasifikasi berupa cairan kristaloid, koloid, dan darah. Cairan kristaloid cukup baik untuk terapi syok hipovolemik. Keuntungan cairan kristaloid antara lain mudah tersedia, murah, mudah dipakai, tidak menyebabkan reaksi alergi, dan sedikit efek samping. Kelebihan cairan kristaloid pada pemberian dapat berlanjut dengan edema seluruh tubuh sehingga pemakaian berlebih perlu dicegah.

Larutan NaCl isotonis dianjurkan untuk penanganan awal syok hipovolemik dengan hiponatremik, hipokhloremia atau alkalosis metabolik. Larutan RL adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan cairan ekstraseluler. RL dapat diberikan dengan aman dalam jumlah besar kepada pasien dengan kondisi seperti hipovolemia dengan asidosis metabolik, kombustio, dan sindroma syok. NaCl 0,45% dalam larutan Dextrose 5% digunakan sebagai cairan sementara untuk mengganti kehilangan cairan insensibel. http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/terapi-cairan-intravena/ Resusitasi Cairan Pada penanganan perbaikan sirkulasi pada luka bakar dikenal beberapa formula berikut : - Evans Formula - Brooke Formula - Parkland Formula - Modifikasi Formula - Monafo Formula BAXTER formula Hari Pertama : Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam Anak : Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3 2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali. Kebutuhan faali : < 1 Tahun : berat badan x 100 cc 1 3 Tahun : berat badan x 75 cc 3 5 Tahun : berat badan x 50 cc jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama. diberikan 16 jam berikutnya. Hari kedua Dewasa : hari I Anak : diberi sesuai kebutuhan faali Menurut Evans Cairan yang dibutuhkan : 1. RL / NaCl = luas combustio % X BB/ Kg X 1 cc 2. Plasma = luas combustio % X BB / Kg X 1 cc 3. Pengganti yang hilang karena penguapan = D5 2000 cc Hari I 8 jam X 16 jam X Hari II hari I Hari ke III hari ke II

KEBUTUHAN CAIRAN FAAL TUBUH Kebutuhan faali : < 1 Tahun : berat badan x 100 cc 1 3 Tahun : berat badan x 75 cc 3 5 Tahun : berat badan x 50 cc

12. Bagaimana cara menghitung tetesan cairan infus pada luka bakar pada anak-anak dan dewasa dan pada skenario! 13. Indikasi dirujuk di rumah sakit pada kasus luka bakar?

14. Sebutkan komplikasi dari luka bakar bagi organ tubuh? Hypertropi jaringan. Kontrakturkekakuan gerak sendi, digerakkan secara pasif jika lumpuh/keterbatasan gerak Fase Resusitasi Dehidrasi, sepsis yang dapat berakhir pada kematian penderita. Pemaparan bahan kimia

pada luka dapat memperdalam derajat luka bakar. Yang paling aman pertolongan pertama pada luka bakar adalah mengalirkan air dingin keluka tersebut. Fase Penyembuhan luka Fase penyembuhan leuka yang terlalu lama akan menimbulkan penyembuhan luka dengan skar yang tebal yang mempunyai resiko timbulnya keloid, kontraktur sendi2 anggota gerak dan tampilan kulit yg buruk. Fase pengembalian fungsi anggota gerak Fase ini bila tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan kehilangan fungsi anggota gerak yang permanen. Komplikasi sistemik : Shock hipovolemik Ileus paralitik dilatasi akut lambung Tukak Curling (Curling ulcer) pada lambung Gagal ginjal Menurunnya imunitas Keseimbangan protein negatif Komplikasi local : Selulitis Infeksi pseudomonas Gangguan vaskularisasi karena eschar escharotomi Compartment syndrome Keloid Kontraktur Sumber http://www.detikhealth.com/read/2009/12/22/172209/1264574/763/luka-bakarjangan-diolesi-odol-atau-minyak

Anda mungkin juga menyukai