Anda di halaman 1dari 3

Jateng Potensi Konflik Agama

Abaz Zahrotien (Mahasiswa Pascasarjana Studi Agama dan Resolusi Konflik, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Di Indonesia, SARA merupakan isu paling seksi untuk menciptakan konflik sosial. Paling kencang diantara itu semua adalah agama. Agama menjadi potensi konflik sosial yang dengan mudah dapat menjalar menjadi konflik nasional, bahkan internasional. Jawa Tengah bukan merupakan wilayah yang seksi untuk menerapkan konflik tersebut karena ditinjau dari sisi sosioantropologis karakter masyarakatnya yang didominasi kaum abangan. Tetapi karena tidak seksi itu, justru menjadi potensi besar untuk menjadikan konflik agama dalam skala besar. Sebelum memperbincangkan lebih jauh tentang hal ini, flash back ke tiga tahun lalu, tepatnya Februari 2011. Kabupaten Temanggung adalah bukan kabupaten yang menonjol dalam membenturkan persoalan agama menjadi konflik sosial, namun, dengan sentuhan yang begitu apik, konflik sosial tercipta dan menjadi wacana internasional, dengan brand issue pembakaran tempat ibadah. Dibanding dengan Temanggung, sebenarnya banyak kota-kota lain yang lebih pantas memainkan konflik ini. Solo yang dikenal sebagai wadah organisasi radikal keagamaan, Pekalongan yang merupakan kota santri, Wonosobo yang dikenal toleran dan daerah lainnya yang memiliki corak agama. Tetapi justru konflik tersebut berkembang di daerah penghasil tembakau, yang kurang begitu seksi memainkan isu agama. Tentu si pemain utama dari konflik telah mempelajari betul tentang karakteristik masyarakat, dengan mempertimbangkan faktor sosiologis dan antropologisnya. Demikian juga dengan setting latar yang ditentukan sekiranya mampu menjadi wacana besar sesuai keinginannya. Pascakerusuhan Temanggung, 8 Februari 2011 silam, ternyata bibit konflik bernuansa agama justru tumbuh di Jawa Tengah. Setelah provokator dari kasus tersebut dipenjarakan, justru menjadi titik awal dari konflik lanjutan. Dapat dilihat, setelah kejadian tersebut muncul organisasi keagamaan baru yang cukup keras dalam mengekspresikan pemahamannya. Yang kemudian membuat konflikkonflik kecil pemicu dalam beberapa tahun terakhir. Tidak menutup kemungkinan, organisasi-organisasi lain yang serupa, baik diatas permukaan maupun gerakan underdog akan muncul dan berkembang di Jawa Tengah.

Dan kemudian pada saatnya tiba, ia memainkan perannya dengan begitu apik dalam pembuatan konflik. Cepat atau lambat pasti terjadi. Membaca yang demikian, perlu dilakukan persiapan-persiapan yang matang, baik untuk menghadapi konflik yang kemungkinan akan tercipta maupun mengantisipasi konflik tersebut agar gagal dioperasikan. Perlu diketahui, bahwa adanya konflik tidak semata-mata terjadi dengan begitu saja, tetapi dikonsep dengan matang oleh si pembuatnya sejak jauh-jauh hari. Kemudian dimainkan melalui berbagai sulutan konflik-konflik kecil sebagai titik picu. Beberapa hal yang direkomendasikan penulis untuk dilakukan Jawa Tengah, baik dari sisi birokrasi pemerintahan, aparat keamanan dan pertahanan maupun masyarkaat secara luas, sebagai langkah antisipasi terjadinya konflik agama. Pertama, penyadaran masyarakat yang dilakukan secara terstruktur dan kontinyu. Selama ini, proses penyadaran masyarakat hanya terbatas pada kegiatan yang sifatnya formalitas, baik melalui Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), maupun dilakukan oleh lembaga pemerintahan. Menurut teori lederach, selama ini tindak penyadaran masyarakat lebih didasarkan pada top level dan medium level yang hanya sampai pada pimpinan tokoh menengah serta tidak menyinggung akar rumput. Disamping itu, tokoh yang dijaring dalam dialog tersebut adalah tokoh-tokoh yang pada dasarnya sudah memiliki kesepahaman yang sama. Disamping itu strategi yang digunakan terlalu normatif dan formalitas. Sebuah kelompok sosial yang mengatasnamakan Gusdurian di Kabupaten Temanggung cukup baik melakukan peranan ini. Selain membuat kegiatan lintas agama, ia membuat film dokumenter berjudul Kota Teror yang disebarluaskan melalui jejaring sosial Youtube. Dalam hari kedua setelah diupload, film tersebut telah dilihat oleh 300 orang, merupakan langkah yang lebih efektif untuk menyentuh akar rumput. Kedua, kebutuhan dasar dari organisasi adalah aktualisasi. Dalam hal ini, pemerintah perlu menggandeng organisasi-organisasi yang dinilai radikal untuk diberikan peran aktualisasi yang diarahkan pada hal-hal yang positif. Lambat laun, arah pergerakan organisasi diubah. Proses ini membutuhkan waktu cukup lama, namun efektif. Ketiga, penguatan pendidikan agama yang mengedepankan toleransi pada lembaga pendidikan. Dalam jangka panjang ini adalah solusi. Selama ini, pendidikan agama lebih mengedepankan pada pendidikan ritus tetapi mengabaikan faktor hubungan antar agama. Hilangnya Pancasila dalam mata pelajaran pendidikan juga menjadi soal. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sekarang menjadi Pendidikan Kewarganegaraan. Padahal, tema pada pendidikan pancasila banyak mengajarkan tentang nilai luhur dan konsepsi ideal menjadi warga negara.

Terakhir, penguatan aparat intelijen. Intelijen harus memperkuat penggalangan tokohtokoh yang dianggap antagonis. Penguatan pada sisi penggalangan akan mendeteksi sejak dini konflik yang terjadi serta merumuskan strategi mengantisipasinya. Penggalangan juga dapat berdampak pada pencegahan terjadinya konflik. Dalam hal penggalangan, selain dengan tokoh-tokoh sentral, pengikut juga harus digalang untuk kemudian diarahkan pada arus pergerakan positif. Salah satu strateginya adalah mengarahkan pada lapangan kerja karena selama ini para pelaku tindak kekerasan adalah pengangguran. Hal-hal tersebut memang sudah dilakukan secara umum. Namun dalam pengamatan penulis, selama ini tidak dilakukan dengan serius sehingga menyebabkan kurang efektif. Aktivitas tersebut dilakukan sebatas formalitas untuk memenuhi program kerja. Dan sebagai masyarakat biasa, kita juga perlu untuk membantu pemerintah dan aparat keamanan untuk melakukan hal tersebut. (*)