P. 1
Daftar Nama Artis Pejabat Profil Pejabat Bumn Menteri Artis Dan Lain Lain

Daftar Nama Artis Pejabat Profil Pejabat Bumn Menteri Artis Dan Lain Lain

|Views: 1,689|Likes:
Dipublikasikan oleh poertkordferzxor
daftar badan lembaga nondepartermen bpk ma bin bps bppt polri pemda mabes tni mabes polri
daftar badan lembaga nondepartermen bpk ma bin bps bppt polri pemda mabes tni mabes polri

More info:

Published by: poertkordferzxor on Aug 19, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/29/2014

pdf

text

original

R Kompas © updated 310503

Ajip Rosidi

Sosok Sastrawan dan Budayawan Paripurna
Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional.
Nama: Ajip Rosidi Lahir: Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938 Isteri: Hj Patimah Profesi: Sastrawan-Budayawan Pekerjaan/Kegiatan: Pendiri Pusat Studi Sunda (2003) Selama 22 tahun (sejak April 1981) pengajar bahasa Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center, Jepang. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981) Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979) Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955) pada usia 15 tahun Buku: Menulis lebih dari 50 judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda.

Pulang dari Jepang, setelah tinggal di sana selama 22 tahun, Ajip Rosidi merasa gamang. Kegamangan itu dipicu oleh kekhawatiran adanya "pengultusan" terhadap dirinya. Juga kegamangan akan nasib budaya tradisional yang terus terlindas oleh budaya global. "Saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya hendak dikultuskan sehingga timbul pikiran menciptakan Ajip-Ajip baru. Saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa takabur," katanya. Suara batin itu diungkapkan Ajip Rosidi di hadapan para pencinta sastra, termasuk para pengagumnya, pada seminar di Universitas Padjadjaran, Bandung, yang khusus membedah kiprahnya di dunia sastra, Rabu (28/5/03). Hampir semua yang hadir memuji semangat dan dedikasi sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938, itu. Pengamat sastra Dr Faruk HT, misalnya, secara implisit memosisikan Ajip sebagai "orang langka" dengan kelebihan yang tidak dimiliki HB Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio Sastrowardoyo. Ajip dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. Ketika kebudayaan modern dianggap sebagai pilihan yang niscaya, kata Faruk, Ajip malah getol berbicara tentang kebudayaan tradisional. Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti, Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda, Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama kali diluncurkan tahun 1988. Ajip juga dikenal sebagai "juru bicara" yang fasih menyampaikan tentang Indonesia kepada dunia luar. Hal ini ia buktikan ketika bulan April 1981 ia dipercaya mengajar di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Jepang, serta memberikan kuliah pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center. Di Negeri Matahari Terbit itu, seminggu Ajip mengajar selama 18 jam dalam dua hari. Lima hari sisanya ia habiskan untuk membaca dan menulis. Ia mengaku, Jepang memberinya waktu menulis yang lebih banyak ketimbang Jakarta.

Maklum, ia tidak disibukkan mengurus kegiatan-kegiatan lain yang cukup menyita waktu, sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, maupun Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979). Hasilnya, lebih dari 50 judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda ditulisnya selama di Jepang. Satu hal yang mengesankan Ajip tentang masyarakat Jepang adalah kesadaran mereka akan pentingnya sastra dalam hidup mereka. Menurut Ajip, sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi para sastrawan atau budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan bacaan para dokter atau arsitektur. Kondisi itu tercipta akibat dukungan kebijakan pemerintah dan budaya yang ada. Ajip mengatakan, masyarakat Jepang sejak usia dini telah diperkenalkan dengan buku. "Anak kecil sejak umur dua hingga tiga tahun sudah diperkenalkan dengan buku." Kondisi perbukuan di Jepang juga mendukung terciptanya suasana itu. Harga buku di sana ditetapkan sama di semua wilayah. " Harga majalah juga sama," katanya. Pendidikan juga lebih tertata rapi, tinggal melanjutkan tradisi yang sudah berkembang. Tradisi itu mulai tertancap sejak reformasi Meiji. Reformasi yang ditandai dengan pengiriman orang-orang Jepang ke negara-negara maju untuk belajar banyak hal. Selain itu, juga dilakukan penerjemahan besar-besaran berbagai macam ilmu, karya budaya, dan karya sastra ke dalam bahasa Jepang. "Jadi, orang Jepang, walaupun tidak bisa bahasa asing, misalnya, mereka mengetahui (dan) menguasai ilmu-ilmu di negaranegara asing," kata Ajip. Semua itu dilakukan bangsa Jepang dengan penuh semangat dan keseriusan. Seorang profesor asal Amerika Serikat yang mengajar bahasa Inggris di Jepang bercerita kepada Ajip, ada seorang mahasiswanya belajar dengan menghafal kamus bahasa Inggris. Orang Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang amat bangga dengan bahasanya sendiri, tetapi hal itu tidak membuat mereka antibahasa asing. Minat orang Jepang terhadap studi-studi Indonesia juga cukup kuat. Jurusan Bahasa Indonesia (Indoneshiago Gakuka) sudah ada di Tokyo Gaikokugo Daigaku sejak tahun 1949. Selama mengajar di Jepang, Ajip tidak pernah kekurangan mahasiswa. Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60 mahasiswa di Tenri Daigaku. "Saya mengajar bahasa Indonesia, sastra Indonesia, budaya Indonesia, dan Islam di Indonesia," kata Ajip. Beberapa muridnya kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia. Namun, Ajip mencatat, tingginya gairah dan minat mereka terhadap bahasa asing bergantung pada kepentingan terhadap negara yang dipelajari itu. Ketika perekonomian Indonesia berkembang, perhatian orang Jepang terhadap bahasa Indonesia meningkat. "Sekarang Indonesia ambruk, perhatian juga berkurang. Ada beberapa universitas yang tadinya punya jurusan bahasa Indonesia, sekarang dan diganti dengan Cina," katanya Ajip.

Kendati telah menghabiskan sebagian hidupnya di negeri orang, Ajip tidak kehilangan pijakan pada kebudayaan daerah Indonesia. Hadiah Sastra Rancage yang lahir sejak tahun 1988 terus berjalan rutin setiap tahun. "Saya mulai dengan serius, dan saya usahakan dengan serius. Ternyata banyak yang membantu. Orang mau membantu kalau (kegiatan yang dibantunya) dilaksanakan secara profesional," tuturnya mengenai ketaat-asasan Hadiah Sastra Rancage. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, Ajip menyimpan sebersit kekhawatiran mengenai nasib kebudayaan-kebudayaan daerah. Bagi dia, globalisasi lebih banyak mengorbankan budayabudaya daerah. Hal ini terjadi karena serbuan budaya global sulit diimbangi kebudayaan daerah. Budaya global didukung oleh modal kuat serta teknologi tinggi, sedangkan kebudayaan daerah hanya bisa bertahan secara tradisional karena tidak ada yang menyediakan modal. Menurut Ajip, hal itu merupakan suatu pertarungan yang tidak adil. "Saya kira kita tidak mengharapkan bahwa (pemeliharaan kebudayaan daerah) itu harus dilakukan pemerintah. Pengalaman saya membuktikan bahwa tidak bisa mengharapkan pemerintah," ujar budayawan yang sudah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955) pada usia 15 tahun. Oleh karena itu, banyak sastrawan dan budayawan Indonesia menyambut dengan sukacita kedatangan Ajip ke Tanah Air. Ia pun telah merancang dengan sejumlah agenda menghidupkan kembali kebudayaan daerah agar tidak hanya mampu bertahan, melainkan juga bisa berkembang. Wujud konkretnya, antara lain dengan mendirikan Pusat Studi Sunda bersama para sastrawan dan budayawan Sunda pada hari Sabtu ini. Pusat Studi Sunda ini, salah satu programnya, akan menerbitkan jurnal ilmiah Sundalana. Selain itu, Ajip masih tetap akan berkutat dengan kegiatan membaca dan menulis. Untuk itu, suami Hj Patimah ini pun berencana tinggal di Magelang, Jawa Tengah. "Saya berlindung kepada Allah, mudah-mudahan dijauhkan dari rasa takabur. Mudahmudahan saya selalu diberi kesadaran bahwa apa yang saya lakukan hanyalah sebiji sawi." Paripurna Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional. Pandangan para sastrawan tentang Ajip Rosidi ini terangkum dalam dialog yang bertema Meninjau Sosok dan Pemikiran Ajip Rosidi, yang digelar Rabu (28/5/03), di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran Bandung. Dalam dialog yang berlangsung sekitar enam jam itu, tampil sebagai pembicara Abdullah Mustappa, Teddy AN Muhtadin, Ganjar Kurnia, Ignas Kleden, Faruk HT, serta Yus Rusyana. Selain itu, hadir pula beberapa sastrawan seperti Ramadhan KH, Sitor Situmorang, tokoh politik Deliar Noer serta puluhan mahasiswa dan pencinta sastra. "Sunda menjadi menarik di tangan Pak Ajip karena bukan sesuatu

yang baku," ujar pengamat sastra dari Universitas Gadjah Mada, Dr Faruk HT. Menurut dia, Ajip Rosidi mengalami polarisasi politik dan kultural sepanjang hidupnya. Faruk menganggap polarisasi politik dan kultural tersebut membuat karya-karya Ajip Rosidi terasa kaya makna, kritis, serta tidak terjebak hanya pada satu budaya dan ideologi. Dia mencontohkan, ketika Ajip dielu-elukan sebagai orang yang berjasa dan terhormat dalam kehidupan sastra Sunda, Ajip justru menengok sastra Jawa dan sastra daerah lain. "Sulit mencari orang seperti Ajip dalam dunia sastra Indonesia," kata Faruk. Sementara itu, menurut Direktur Pusat Pengkajian Indonesia Timur (PPIT) atau Center for East Indonesian Affairs (CEIA) Dr Ignas Kleden, Ajip merupakan tokoh penting dalam sastra Indonesia. Ajip, kata Kleden, tidak hanya memainkan peranan luas dalam kesusastraan saja, namun juga meninggalkan banyak jejak langkah dalam perkembangan kebudayaan daerah dan kebudayaan Indonesia. "Sumbangan sastra dan kebudayaan Sunda kepada sastra dan kebudayaan Indonesia diwujudkan melalui penulisan kembali dalam bahasa Indonesia cerita-cerita sastra daerah," kata Kleden. Sedangkan peneliti dari Pusat Dinamika Pembangunan Unpad, Dr Ganjar Kurnia, memandang sosok Ajip sebagai orang Sunda modern. Hal itu dapat dilihat dari perhatiannya terhadap sastra Sunda. Ganjar menilai Ajip memiliki perhatian sepenuhnya untuk melestarikan budaya Sunda, namun dia juga tidak melepaskan keindonesiaannya. "Ajip Rosidi bukan orang yang etnocentris, provinsialis, atau sukuisme dalam arti sempit," kata Ganjar. Dia menambahkan, Ajip juga telah membawa budaya bangsa sampai kepada tingkat internasional. Selain itu, Ajip juga dinilai sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai masalah kesundaan sehingga dapat dianggap sebagai "arsip hidup" paling lengkap. "Dapatkah kita memiliki Ajip-Ajip yang lain di masa mendatang?" kata Faruk, di akhir ceramahnya. Perkataan Faruk tersebut ternyata ditanggapi dengan kekhawatiran oleh Ajip Rosidi. Menurut Ajip, dia khawatir masyarakat akan mengultuskan dirinya. Padahal, kata Ajip, dia sangat tidak suka dipuji, apalagi dikultuskan. "Saya lebih suka dikritik daripada dipuji," kata Ajip. Sastra "Rancage" dan Sastra Daerah Hadiah Sastra "Rancage" sudah berlangsung sejak 1989. Semula Hadiah Sastra tahunan ini khusus untuk pengarang dalam sastra Sunda, namun mulai tahun 1994 diberikan juga kepada pengarang sastra Jawa. Empat tahun kemudian, 1998, Hadiah Sastra "Rancage" juga diperuntukkan bagi pengarang sastra Bali. Sejak itu, setiap tahun Yayasan Kebudayaan "Rancage" yang diketuai Ajip Rosidi selaku pemberi Hadiah Sastra "Rancage" menyediakan dua hadiah untuk setiap daerah tersebut, yakni satu untuk "karya sastra" dan satu lagi untuk kategori mereka yang ber-"jasa". Seluruh suku bangsa di Indonesia saat ini merasa bahwa hidup matinya sastra daerah menjadi tanggung jawab masing-masing daerah. Padahal sesungguhnya perkembangan sastra daerah menjadi tanggung jawab nasional yang harus dihadapi secara nasional pula.

"Pengembangan sastra dan bahasa daerah seakan-akan diserahkan kepada suku bangsa pemiliknya begitu saja, pemerintah seperti tak mau tahu," ujar sastrawan Ajip Rosidi, di Denpasar. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu berada di Bali dalam rangka menyerahkan Hadiah Sastra Rancage 1999 kepada para sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali. Ajip Rosidi merasa prihatin atas keberadaan sastra dan bahasa daerah di Indonesia sekarang ini. Pemerintah nyaris tak memberi perhatian yang mamadai terhadap kehidupan sastra-sastra daerah tersebut. Padahal menurut konstitusi, hal itu termasuk tanggung jawab pemerintah. "Masalah yang dihadapi daerah di mana-mana sama, masalah pendidikan dan penerbitan buku-buku," ujar Ajip Rosidi. Pada tahun 1998 lalu, terbit enam judul buku berbahasa Sunda, dua bahasa Jawa, dan tiga bahasa Bali. *** Ensiklopedi Tokoh Indonesia, dari berbagai sumber terutama Kompas 31 dan 29 Mei 2003

R updated 200602

Butet Kertaradjasa

Berpotensi Mati Muda
Inilah Butet Kertaradjasa, salah satu seniman paling "rasional" yang dimiliki Jogja. Silahkan, katanya, jika orang mau menilainya sebagai seniman yang kompromistis. Karenanya, ia setengah mengutuk para seniman yang menjadikan seni sebagai legitimasi untuk abai terhadap keluarga. Seniman jenis ini, katanya, tak lebih dari egoisitis berlebihan yang mengharap semua orang memahami dirinya, sementara dirinya tak mau memahami orang lain, termasuk keluarganya.
Nama: Butet Kertaradjasa Lahir: Yogyakarta 21 November 1961 Ayah: Bagong Kussudiardja Isteri: Rulyani Isfihana (Kutai, Kalimantan Timur) Anak: Giras Basuwondo (1981), Suci Senanti (1988), Galuh Paskamagma (1994) Pendidikan: Sekolah Menengah Seni Rupa (1978-1982), Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (1982-1987, jebol di tengah jalan). Kegiatan: Tahun 1985 sampai kini, aktif di Teater Gandrik sebagai pemain dan organisator produksi. Sampai sekarang menekuni teater dan pertunjukan monolog sebagai media berekspresi. Bersama Teater Gandrik berpentas di beberapa kota di Indonesia, termasuk mewakili Indonesia dalam Second

Bagi Butet, kesenian kurang lebih sama dengan profesi lainnya. Karenanya, ia mesti dikelola dengan baik. Waktulah yang akan menjawab, seberapa besar seorang seniman telah mengelola kesenian dengan baik, dari sektor estetika, manajemen, dan kemanfaatan buat diri si seniman maupun orang lain. Hasilnya, paling tidak Butet sudah merasa siap untuk mati, kapan pun Tuhan berkehendak "mengambilnya". Katanya, tanggung jawab sebagai manusia sudah ia kerjakan semampunya. Di antaranya, memberi jaminan "kesejahteraan" berupa asuransi, tanah dan rumah buat ketiga anaknya serta istrinya. Maka, pada tiap menjelang tidur, doa Butet adalah, ia meminta maaf kepada Tuhan untuk kesalahannya terhadap keluarga, handai taulan, dan juga kepada Tuhan yang telah memeliharanya. Keinginan Butet kini, adalah mati dalam situasi yang paling indah, yakni saat dirinya tidur. Keinginan lainnya, ia tak ingin mati dalam keadaan sakit, berutang, dan merepotkan keluarga yang ditinggalkan. Lahir di Yogyakarta 21 November 1961. Anak ke 5 dari 7 bersaudara keluarga seniman (pelukis dan koreographer) Bagong Kussudiardja. Isteri: Rulyani Isfihana (Kutai, Kalimantan Timur). Anak: Giras Basuwondo (1981), Suci Senanti (1988), Galuh Paskamagma (1994). Pendidikan: Sekolah Menengah Seni Rupa (1978-1982), Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (1982-1987, jebol di tengah jalan). Sebelum dikenal sebagai aktor teater, sejak 1978-1992 Butet pernah menjadi sketser (penggambar vignet) dan penulis freelance

ASEAN Theatre Festival (1990), di Singapura, membawakan lakon "Dhemit". Dan mementaskan lakon yang sama di Kuala Lumpur, Malaysia; mendukung pementasan "Brigade Maling" Teater Gandrik di Monash University, Melbourne, Australia (1999). Tahun 1991 menjadi Redaktur (Budaya) Tamu di Bernas. Teater, mulai ditekuni sejak 1978. Antara lain pernah bergabung di Teater Kita-Kita (1977), Teater SSRI (19781981), Sanggarbambu (19781981), Teater Dinasti (19821985), Teater Gandrik (1985sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang). Puluhan repertoar teater yang pernah diikuti di Teater Gandrik antara lain Kesandung, Pasar Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu, Dhemit, Orde Tabung, KeraKera, Upeti, Proyek, Flu, Buruk Muka Cermin Dijual, Khayangan Goyang, Juru Kunci, Juragan Abiyoso, Tangis, Brigade Maling. Terakhir bersama Teater Koma, dalam pementasan lakon Republik Bagong (2001). Terlibat di Sinetron untuk juduljudul seperti Kucing Pak Selatiban (1985), Ketulusan Kartika (1995), Asisten Sutradara "Tajuk" (1996), Air Kehidupan sampai (1998), Cintaku Terhalang Tembok (2001). Tahun 1999, pernah menjadi figur yang paling dibenci oleh anak-anak, karena perannya sebagai Pak Raden di film Petualangan Sherina. Untuk Monolog, diawali sejak tahun 1986 lewat judul Racun Tembakau, kemudian Lidah Pingsan, Benggol Maling, Raja Rimba Jadi Pawang, Iblis Nganggur, Mayat Terhormat, dan Guru Ngambeg. Penghargaan: Aktor Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-2 pada tahun 1979, sebagai Aktor dan Sutradara Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-4 (1981). Tahun 1999 dinobatkan sebagai "TOKOH SENI" oleh PWI Cabang Yogya dan tahun 2000 memperoleh "PENGHARGAAN SENI" dari Pemda DIY.

untuk liputan masalah-masalah sosial budaya untuk media-media lokal maupun nasional: KR, Bernas, Kompas, Mutiara, Sinar Harapan, Hai, Merdeka, Topik, Zaman, dan lain-lain. Ia juga aktif sebagai pelukis dan pengamat senirupa. Sampai sekarang masih menulis esai budaya atau kolom (tentang masalah sosial budaya) di berbagai media massa cetak nasional. Teater, yang kemudian menjadi basis dia berkesenian, mulai ditekuni sejak 1978. Ia antara lain pernah bergabung di Teater KitaKita (1977), Teater SSRI (1978-1981), Sanggarbambu (1978-1981), Teater Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik (1985-sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang). Puluhan repertoar teater yang pernah diikuti di Teater Gandrik antara lain Kesandung, Pasar Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu, Dhemit, Orde Tabung, Kera-Kera, Upeti, Proyek, Flu, Buruk Muka Cermin Dijual, Khayangan Goyang, Juru Kunci, Juragan Abiyoso, Tangis, Brigade Maling. Terakhir bersama Teater Koma, Butet terlibat dalam pementasan lakon Republik Bagong (2001). Yogyakarta kemudian mencatat prestasi Butet yang pernah terpilih sebagai Aktor Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-2 pada tahun 1979, sebagai Aktor dan Sutradara Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-4 (1981). Butet juga pernah terlibat di Sinetron untuk judul-judul seperti Kucing Pak Selatiban (1985), Ketulusan Kartika (1995), Asisten Sutradara "Tajuk" (1996), Air Kehidupan sampai (1998), Cintaku Terhalang Tembok (2001). Tahun 1999, dia pernah menjadi figur yang paling dibenci oleh anak-anak, karena perannya sebagai Pak Raden di film Petualangan Sherina. Untuk Monolog, sebuah cabang kesenian dari seni teater, sebetulnya sudah lama dikenalnya. Butet mengawalinya sejak tahun 1986 lewat judul Racun Tembakau, kemudian Lidah Pingsan, Benggol Maling, Raja Rimba Jadi Pawang, Iblis Nganggur, Mayat Terhormat, dan Guru Ngambeg. Kepada Jodhi Yudono dari Kompas Cyber Media, pada Kamis (25/4/2002) lalu, di sebuah kafe di kawasan Blok M, Butet menuturkan romantika hidupnya. Semua acaramu di Jakarta kebanyakan sudah terencana atau improvisasi? Improvisasi. Saya nggak punya plan misalnya tahun depan mau ngapain. Saya ngalir saja. Paling nggak, kalau misalnya saya ada mood dan waktu saya memungkinkan ya saya pentas bersama Gandrik. Atau kalau tiba-tiba ada teman yang nawari untuk pentas panggung seperti Mas Nano (N Riantiarno, sutradara Teater KomaRed) kemarin, saya on the spot saja. Mau nggak lu main, saya cocokkan waktunya, jalan. Atau kalau saya dan teman-teman mood main monolog, ya kita bikin. Jadi saya nggak punya plan jangka panjang. Tergantung situasi mood, mood saya atau moodnya Jadug. Anda masih memenejeri Gandrik dan Kua Etnika? (Tahun 1995 Mendirikan Komunitas Seni Kua Etnika bersama Djaduk Ferianto, Purwanto dan Indra Tranggono. Komunitas ini merupakan wadah pengembagan gagasan kreatif di bidang seni pertunjukan: musik dan teater.) Sekarang sudah ada pendelegasian tugas. Pada aspek pengelolan organisasi, di Kua Etnika saya sudah ada yang mewakili. Tapi semua masih bermuara ke saya untuk hal-hal yang sifatnya krusial. Kalau mereka nggak bisa mengambil keputusan dan berhadapan dengan hal-hal yang sulit, mereka masih berkonsultasi dengan saya. Kedudukanmu sekarang? Ya tetap di manajemen Kua Etnika, Sinten Remen, Gandrik, terus di

Galang (badan usaha berbentuk advertising) juga. Tapi di Galang saya sudah menyatakan non aktif, komisaris saja. Galang sendiri pada perkembangannya bergerak di bidang apa saja? Awalnya periklanan, tapi konsentrasinya ke desain grafis. Sekarang penerbitan, percetakan dan yayasan, tapi saya sudah mengambil jarak. (Tahun 1996 Mendirikan Galang Communication, sebuah institusi periklanan dan studio grafis. Tahun 1997 Mendirikan Yayasan Galang yang bergerak dalam pelayanan kampanye publik untuk masalah-masalah kesehatan reproduksi berperspektif jender.) Kelompok-kelompok kesenian yang melibatkan Anda itu punya schedule nggak, untuk tahun ini Gandrik main, Kua Etnika main? Maunya gitu, inginnya semuanya terencana tapi pada prakteknya ternyata nggak mungkin. Ada saja hambatannya, ternyata kita nggak bisa mempersamakan ambisi, tidak bisa mempersamakan dorongan kebutuhan berkesenian secara kolektif. Saya tak ingin terjadi andaikan itu terlaksana hanya karena ambisi saya, atau dorongan kreatif saya, saya nggak mau. Monolog pun begitu, saya nggak mau hanya dorongan saya saja sebagai pemain. Tapi maunya saya juga dorongan dari penulisnya. Tapi memang sulit, kadang ketika dorongan saya semangat untuk tampil, penulisnya enggak. Kalau itu saya paksakan, nanti yang kalang kabut cuma saya sendiri. Prinsip organisasi egaliter yang saya bayangkan nanti tidak terwujud. Tapi akhirnya toh Anda dan Jadug yang kelihatan sangat dominan di dalam kelompok-kelompok itu ya? Ya begitulah yang terjadi, dan itu sangat saya sayangkan. Seharusnya mereka berada dalam semangat dan dinamika yang sama, karena peluang itu kita berikan. Susahnya mereka mendudukan saya dan Jadug dalam posisi itu, sehingga mereka tergantung. Kadang-kadang kalau mereka fair sih nggak masalah. Artinya fair itu tahu peran, tahu posisi. Susahnya pada saat dituntut kewajiban... pada saat kewajiban itu tidak imbang, tapi pada saat hak mereka menuntut egalitarian. Itu yang kadang sangat memprihatinkan pada saat kita berhubungan dengan sejumlah kepala yang tidak sama dalam menyikapi dunia kerja itu. Omong-omong dalam sebulan Anda kumpul sama keluarga berapa hari? Sejak Januari tahun ini sangat sedikit. Frekwensinya lebih banyak ke luar kota. April ini, saya hanya enam hari berada di rumah. Besok Jumat saya pulang, Senin sudah berangkat lagi. Saya baru pulang lagi hari Kamis. Setelah itu bulan Mei saya full di Jogja kecuali hari Senin. Dari seringnya Anda meninggalkan rumah tidak problem buat keluarga? Karena sejak lama sudah terbiasa dengan mekanisme seperti ini, anak istriku itu sudah kulino (terbiasa) saya tinggal. Waktu saya jadi wartawan juga sudah kulino sudah latihan mereka, sudah ngerti dunia saya. Tapi memang sejak saya main di Teater Koma agak lama mereka saya tinggalkan. Untungnya mereka mengikhlaskan dan masih mempercayai saya. (Ketika menjadi wartawan, prestasi Butet juga di atas wartawan biasa. Ia pernah menjadi juara pertama Lomba Esai TIM (1982). Tahun 1983 sebagai Juara Pertama Lomba Esai Tentang Wartawan, LP3Y. Tahun 1986-1990, Butet

pernah bekerja sebagai wartawan Tabloid Monitor) Ada nggak perasaan curiga atau cemburu dari istri karena seringnya Anda jauh dari keluarga? Mungkin ya ada, tapi komitmennya, kalau istri saya sedang mood dan ingin menyusul saya, any time, saya harus memfasilitasi, mengakomodasinya. Di mana pun. Kalau anak-anak? Kalau pas libur sekolah, kadang mereka juga ikut. Ada kosekwensi logis nggak buat keluarga dari risiko sering ditinggal pergi? Apa yang saya lakukan semua ini buat mereka juga. Semua yang saya peroleh baik bersifat materi maupun non materi buat mereka. Kalau saya pas pulang, waktu pulang saya itu menjadi hak mereka. Mereka mau ngajak renang, makan-makan, dan saya harus konsekwen untuk bertanggungjawab sebagai seorang ayah. Untuk urusan pendidikan anak-anak, semuanya diserahkan ke istri? Sekolahan, formal. Karena saya dan istri saya hanya melakukan fungsi kontrol. Saya percaya, bahwa anak-anak itu akan melakukan pilihan-pilihan yang tepat. Karena saya tidak pernah mentargetkan apa pun kepada mereka. Sekolah tidak harus ranking-rankingan, nggak harus pinter-pinter banget, pokoknya penuhi sajalah kewajiban-kewajiban itu sebaik mungkin. Saya tumbuhkan kemampuan menyeleksi tindakan-tindakannya sendiri, karena saya mencoba meyakini kepada mereka bahwa apa pun yang terjadi merekalah yang menentukan. Termasuk kalau misalnya raport mereka merah, saya tidak akan marah. Kewajiban saya hanya menandatangani raport. Kangen nggak sama mereka kalau ada di luar kota? Kangen. Kangen sekali. Apalagi kalau sudah berada di hotel. Saya terhibur kalau pas ketemu teman-teman, sementara di hotel kan sepi. Sebab saya mengartikan bergaul itu juga sebagai kerja. Di hotel teman saya paling TV. Paling telpon-telponan sama mereka, mencari oleh-oleh buat mereka, sebisanya saya pulang membawa oleh-oleh buat mereka. Biasanya mereka minta oleh-oleh apa? Kalau anak sulung saya biasanya minta mentahannya saja, duit saja. Sudah beli oleh-oleh apa buat anak-anak? Anakku yang paling kecil banyak oleh-olehnya. buku bacaan, boneka. Anakku yang kedua minta dibeliin ponsel. Karena dia sudah kelas dua SMP, anak perempuan, fungsinya sebagai alat kontrol saja. Nomor dua minatnya apa? Minatnya musik, main drum, biola. Nomor tiga itu monolog, joged, nyanyi. Anda ngajarin mereka? Nggak. Anak saya yang belajar teater justru saya suruh ke manamana, jangan sama saya. Dia ikut teater Garasi. Dia saya suruh mencari. Anakku justru mendapatkan kepuasan karena tidak mendapat fasilitas dari saya. Seperti saya dulu, mecari. Saya sebagai penulis juga diakui, bukan karena katabeletje ayah saya. Saya main teater diakui juga karena jerih payah sendiri.

Anda merasa punya beban juga sebagai putranya Pak Bagong waktu masih dalam proses mencari itu? Ya, beban buat saya. Sebab dengan mudah orang akan mengkaitkaitkan seakan-akan saya membonceng nama besar ayah saya. Hal yang sama sekarang terjadi juga pada anak-anak saya. Apalagi anak saya masuk ke wilayah teater. Buat mereka berat, makanya saya selalu bilang, kamu jangan dekat-dekat saya, sekali waktu boleh. Kalau kamu mau mendapatkan eksistensi, kamu harus belajar dengan orang lain, supaya kamu juga dapat melihat bahwa bapakmu ini nggak sempurna, ada kesalahan, dan kamu bisa melihatnya. Kalau kamu di sini, kamu akan menyangka bahwa aku ini pusat kebenaran. Kalau yang sulung minatnya apa? Kalau si mbarep (sulung) ke teater, pantomim dan film independen. Dia minta kamera tapi belum saya penuhi karena mahal. Mahal gimana, kan Anda laris sekali.. Maksud saya, saya tidak ingin kalau memang anak saya mau jadi kameraman, itu akan saya penuhi, saya akan usahakan secara maksimal. Tapi karena dia ingin menjadi sutradara, sampai dia ngotot memiliki kamera, jangan-jangan dia butuh kamera hanya untuk kebutuhan melegitimasi dalam pergaulan sosialnya. Ya saya suruh merenungi itu. Kalau itu yang dia inginkan, pertanyaan saya kepada dia, apa kamu mau dihargai teman-teman kamu bukan karena prestasi? Tapi hanya karena kamera, dan itu pun pemberianku. Terus dia bilang, okelah lupakan soal kamera. Tapi ketika dia bilang begitu, saya malah berpikir, nanti kalau ada duit sekali waktu saya belikan deh. Beberapa kali pementasan kan cukup Kalau sekedar memenuhi hasrat itu bisa, tapi karena konon seorang ayah juga harus mendidik, saya tidak ingin menjadikan dia terlalu mudah mendapatkan kemudahan-kemudahan itu. Sebab saya dulu harus bergulat untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Begitu saya manjakan fasilitas, sebetulnya diam-diam saya sedang membunuh dia. Saya tidak ingin melakukan itu. Anda mulai booming itu pas momen apa ya? Pas Soeharto-Soehartoan itu, tahun 1998. Maksudnya ketika orang di luar komunitas kesenian mengenal saya. Anda laku sekali setelah itu, tiap hari ada yang mengundang Anda? Ya tidak setiap hari, tapi frekwensinya jadi lebih padat. Sebelum momen itu Anda mengandalkan nafkah dari apa? Dari Galang. Saya membangun basis ekonomi melalui Galang itu. Kadang-kadang nulis, diajak main sinetron sama temen. Main teater tidak bisa diandalkan. Sekarang ini "jualan" Anda apa saja? Macem-macem, ada sinetron, acara-acara di berbagai perusahaan yang aneh-aneh itu. Misalnya, saya diundang sebuah perusahaan untuk memotivasi karyawan yang patah semangat karena krisis moneter. Aneh kan? Aku sendiri lupa apa yang aku omongkan, tapi intinya memotivasi semangat hidup. Berbagi pengalaman dengan mereka, sambil guyon. Pengetahuan saya di bidang marketing yang sedikit ya saya bagi dengan mereka. Harga tanggapannya berbeda dong, untuk kebutuhan komunitas kesenian dan mereka yang membuat anda merasa

"terpaksa"? Ya Pasti lebih tinggi untuk yang "aneh-aneh" itu? Jelas. Kalau untuk Gandrik sendiri saya malah nggak berpikir soal honor. Untuk monolog Anda, bisanya siapa yang menulis skenarionya? Biasanya Agus Noor, dulu ada Indra Tranggono. Kalau kepepet ya saya tulis sendiri. Omong-omong soal Indra Tranggono, dia pernah berkata, mestinya Butet sudah mulai berbagi dengan komunitas kesenian yang membesarkan dirinya, apa tanggapan Anda? Pengertian berbagi seperti apa? Barangkali Anda jadi semacam maisenas buat kelompokkelompok teater di Jogja Kalau toh saya melakukan itu, pertama-tama bukan karena disuruh orang lain. Kedua, harus dipahami bahwa saya bukan sinterklas. Dan ketika saya tumbuh pun saya tidak mau dimanja seperti itu. Tapi saya tahu maksudnya Indra adalah moral obligation. Mengartikan moral obligation tidak sesederhana itu dan tidak harus seperti itu. Kedua, kalaupun saya berderma, saya tidak ingin memamerkan kedermawanan saya untuk diketahui orang lain. Okelah, kalaupun tidak berbentuk material, moral. Moral obligation apa yang sudah Anda berikan kepada dunia kesenian? Dengan memberikan kemungkinan-kemungkinan akses yang saya punya untuk kepentingan grup-grup kesenian di Jogja. Saya tidak pernah pelit memberikan akses saya yang saya peroleh kepada teman-teman, siapa pun mereka. Tergantung mereka mau mengolah akses itu apa tidak. Itu moral obligation saya, saya tidak pelit. Tapi artinya orang harus bekerja untuk mengolah akses. Orang tidak bisa hanya tidur, kemudian menerima hasil. Kalau tidak mengolah akses, ya tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi diam-diam, terpaksa saya omongkan karena saya ditanya, kepada sejumlah anak muda yang melakukan kegiatan, entah teater, pembuat film independen, datang kepada saya dan kebetulan pada saat itu saya punya uang, sedikit-sedikitnya saya menunjukkan konsen kepada mereka, tapi seharusnya tidak saya omongkan. Jadi kalau yang diistilahkan tadi berbagi, saya tidak bisa menerima sebuah pikiran memaksakan kehendak orang kepada diri saya. Itu namanya tiran. Pertanyaanku, apakah secara spesifik hanya ditujukan kepada saya? Apakah juga untuk mereka yang tumbuh dalam atmosfir kesenian Jogja? Kalau kita berpikirnya egaliter, secara fair itu harus diaplikasikan kepada siapa pun, termasuk Indra Tranggono sendiri. Apa Anda ada masalah dengan Indra Tranggono? Saya merasa tidak ada masalah dengan dia, tapi dia yang tidak mau saya dekati, tidak mau lagi membantu saya. Sejak kapan "berpisah" dengan dia? Ya sejak tiga bulan ini. Saya sangat menyayangi dia, mencintai dia, karena dia juga teman saya sejak SMP. Tapi Indro sudah menyatakan tidak mau bekerjasama lagi dengan saya. Saya tidak tahu masalah apa sebenarnya, karena saya merasa tidak pernah punya masalah.

Situasi kesenian di Jogja sendiri sekarang macam apa? Saya tidak melihat yang mengkhawatirkan kalau melihat semangat mereka. Mereka yang berproses dengan kesungguhan masih ada. Yang ke industri juga ada. Mereka yang melakukan pencarianpencarian kreatif juga masih ada. Artinya, dinamika kesenian sebagaimana dulu ketika saya tumbuh, itu masih berlangsung dengan wajar dalam format mereka, dalam semangat mereka. Saya tidak bisa memaksakan romatisme saya yang dulu kepada anak muda sekarang. Karena putra-putra Pak Bagong sebagian sibuk, macam Anda dan Jadug, hubungan sesama anggota keluarga Bagong Koesudiardjo bagaimana? Baik. Tapi dengan bapak saya lama nggak ketemu, karena saya sering pergi. Masih ada sisa-sisa romantisme Anda sebagai anak Pak Bagong? O masih, kalau ada waktu saya sempatkan main ke rumah bapak. Guyon-guyon. Bisa kumpul di rumah bapak biasanya pas momen apa? Ya kalau hari raya, Natal, lebaran, tahun baru, atau pas slametan ibuku, pasti kumpul. Biasanya apa yang diperbicangkan kalau kumpul di rumah Pak Bagong? Paling-paling cuma ngomong saru (jorok). Pokoknya nggak ada omongan serius, yang ada ya guyon saja. Waktu anak-anak sih serius, sekarang anak-anak sudah mempunyai kepercayan diri dan kemandirian. Hubungan Anda dengan adik Anda, Jadug, sangat akrab sekali. Keakraban yang egaliter itu sudah terjalin sejak kapan? Sejak dia mulai berkesenian. Dia ngendang itu sejak SD. Aku main teater dia sudah musikin saya. Tahun 77/78 dia masih pakai celana pendek. Aku main teater, dia main musik. Kalau Pak Bagong punya kegiatan, Anda masih suka membantu? Ya, dulu. Sekarang sudah sibuk, jarang. Dulu aku jadi manajer produksinya. Kalau nggak ada pekerjaan kesenian, kegiatan anda apa? Paling-paling kalau di luar kota ya ke warnet. Buat ngecek suratsurat. Browsing sudah nggak sempet. Kalau ada order ya bikin tulisan buat media, atau bikin karangan untuk acara, atau bisa juga bikin proposal. Paling kalau di hotel ya cuma nonton TV dan baca. Sebagai orang sibuk, perangkat kerja Anda apa? Laptop barangkali? Nggak ada. Apa, ya cuma diriku. Kalau kepingin ngetik ya di warnet. Nggak butuh asisten? Nggak, ndak konangan (nanti ketahuan honornya). Pernah ada masalah nggak dengan jadwal acara Anda yang padat karena nggak ada asisten? Nggak. Saya itu nasibnya tergantung ini (Butet mengambil sebuah buku agenda kecil dari saku celana). Nyawaku ada di sini. Ini ilang, kacau aku. Sejak sebelum 1998 saya sudah mempunyai tradisi

pakai agenda harian. Mulainya karena Tempo dan Jakarta Post selalu memberi agenda kepada saya tiap akhir tahun, karena saya punya biro iklan itu (Galang-Red), beberapa media cetak suka ngirim souvenir. Jadi saya punya kebiasaan mencatat apa yang akan saya lakukan. Seperti ini (menunjukkan agenda acara), sampai bulan September ada sejumlah kegiatan yang harus saya tangani. Jadi saya tidak perlu sekretaris. Sekretarisku ya yang di kantong ini. Terus kalau ada orang yang tiba-tiba memesan Anda pentas, padahal jadwal kegiatan Anda sudah penuh sampai September bagaimana? Sebetulnya setiap saat bisa, asal waktunya cocok. Jadi kalau ada orang mau memesan saya, ya harus menyesuaikan dengan waktu yang masih bolong-bolong belum terisi itu. Untuk menjaga stamina, jamu Anda apa? Doping saya pakai obat Cina, ginseng cair yang di botol kecil. Tapi itu jarang, paling kalau mau pentas yang membutuhkan kegiatan fisik. Tapi sehari-hari obatnya ya tidur. Prinsipnya kalau ngantuk terus tidur, entah siang, sedang di dalam taksi. Tiba di hotel kalau ngantuk langsung tidur, nggak boleh ditunda. Refreshingnya biasanya apa? Makan bersama anak-anak, jajan soto, makan malam bersama mereka. Punya tempat favorit kalau ngajak makan anak-anak? Soto Kaditiro, soto Pak Slamet, kalau malam tongseng, sate Kletek, tongseng Tamansari. Anak-anakku ya ke mal. Kalau refreshing ketika di luar rumah apa? Seperti di luar kota ini? Ya ketemu teman-teman, ke kafe, diajak relasi-relasi, mereka itu seneng nraktir aku. Menyeleweng nggak? Ya harus mengaku nggak, hehehe Pacar punya nggak? Nggak Untuk pencerahan batin? Nggak, cukup istri saya Karena sering makan enak, sudah mulai ada keluhan? Ada, diabet dan kolesterol. Pernah kadar gulaku sampai 400, kolesterolnya 400. Dokter menyarankan saya supaya diet keras dan olahraga keras sampai mengeluarkan keringat. Sempat coba saya lakukan sampai sepuluh hari, hasilnya efektif. Jamunya pakai telor ayam dan asam cuka. Biasanya istriku yang ngurusi. Tapi kalau di luar kota begini jadi kacau nih acara jamu-jamuan. Istri Anda kegiatannya apa di rumah? Nanti pementasan Gandrik dia ikut. Kegiatan lain, dia bisnis kecilkecilan, saya ikut memfasilitasi agar dia mandiri. Kenapa saya dorong dia untuk mandiri? Karena saya merasa saya punya potensi mati muda. Saya tidak ingin kalau saya mati ngrepotin orang. Kalau istri saya mandiri secara ekonomi, punya pengalaman melakukan usaha, relatif amanlah. Dan kalau saya tidak mati, saya memberikan kesempatan dia mandiri secara ekonomi. Karena kalau saya tidak lakukan itu, secara ekonomi istriku dan anak-anakku tergantung pada aku semua. Padahal aku ada batasnya kan? Fisik

bisa hancur, bisa sakit, bisa mati pula. Karenanya dia saya fasilitasi untuk bisnis itu. Soal potensi mati muda, memangnya Anda merasakan apa belakangan ini? Ya menyadari keterbatasan fisik saya yang sudah terjangkit macammacam penyakit, ada gula, ada kolesterol. Anda siap mati kapan saja? Ya, bahkan setiap mau tidur doa saya kepada Tuhan adalah, agar Tuhan memaafkan kesalahan saya kepada teman-teman saya, keluarga saya, kepada perilaku-perilakuku. Karena perasaan saya besoknya ketika bangun tidur saya akan mati. Cita-citaku kan mati tanpa sakit, mati nggak ngerepotin orang lain. Mati tanpa siksa. Itu mati yang indah buat saya. Sudah melihat tanda-tandanya? Ini kebetulan saya sedang membuat rumah. Teman-temanku, pada saat mereka membangun atau rumah selesai, itu mati. Jadi ketika saya memutuskan membuat rumah, aku bilang sama istriku, aku bisa mati ini. Sekarang rumahku sudah memasuki tahap finishing, aku ge-er ini aku bisa mati, udah deket nih matiku. Untuk cadangan hari tua, apa yang sudah Anda perbuat buat masa depan anak-anak? Saya meniru ayah saya. Dia itu ingin memfasilitasi anak-anaknya dalam hal sandang, pangan, papan. Saya membeli tanah, tidak untuk saya, tapi untuk anak saya. Saya dibelikan tanah oleh bapak saya, dibuatkan rumah, meskipun saya sekarang merenovasi rumah itu, sekarang saya sudah membeli tanah untuk anak-anak saya dalam ukuran yang pantas, sekitar 200 m2. Menirukan gaya bicara orang masih suka dipakai di panggung? Kadang masih, tergantung kebutuhan dan situasi. Tergantung konteknya. Ketika saya berkesenian, saya ya ge-er merasa diri saya seniman, tapi ketika orang mengundang saya untuk memotivasi karyawan, saya ya ge-er merasa sedang berjuang untuk perusahaan itu sambil menghibur. Ketika orang mengundang saya untuk mengisi acara agar publik tertawa karena mereka sedang sedih, saya ge-er bahwa diri saya sedang jadi seorang entertainer. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Repro Kompas Cyber Media)

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

PENGUSAHA
Rabu, 19 Agustus 2009

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

R updated 260503

Ir. Ciputra

Si Pengembang yang Menggeliat Kembali
INDEX PENGUSAHA :::::: Pengusaha :::::: Alfabet :::::: Asosiasi ::::::::: Kadin ::::::::::::: Asosiasi Kadin ::::::::::::: Kompartemen ::::::::::::: Kadinda ::::::::::::: Kadin di LN ::::::::: Asosiasi Lain :::::: Company Profile :::::: Redaksi Keran KPR yang mulai mengucur, membuat aktivitas PT Ciputra Development terdengar lagi. Kelompok usaha ini semakin giat beriklan. Akankah Ciputra segera berjaya kembali? Akibat krisis ekonomi yang melanda negeri ini, sebagaimana kebanyakan pengusaha properti lainnya, Ciputra pun harus melewati masa krisis dengan kepahitan. Padahal, serangkaian langkah penghematan telah dilakukan. Grup Ciputa (GC), misalnya, terpaksa harus memangkas 7 ribu karyawannya, dan yang tersisa cuma sekitar 35%. Lantas, semua departemen perencanaan di masing-masing anak perusahaan segera ditutup dan digantikan satu design center yang bertugas memberikan servis desain kepada seluruh proyek. Jenjang komando 9 tingkat pun dipotong menjadi 5. Akibatnya, banyak manajer kehilangan pekerjaan. Lebih pahit lagi: kantor pusat GC yang semula berada di Gedung Jaya, Thamrin, Jakarta Pusat, terpaksa pindah ke Jl. Satrio -- kompleks perkantoran milik GC. Paling tidak, dengan cara semacam itu, GC bisa menghemat Rp 4 miliar/tahun. Sementara Harun dan tim keuangannya -- setelah susut menjadi 7 orang dan gajinya dipotong hingga 40% -- hengkang ke salah satu lantai Hotel Ciputra, Grogol, Jakarta Barat. Di tempat itu, mereka menyewa beberapa ruangan. Selebihnya, kabar yang menjadi rahasia umum: utang GC macet total. Menurut Harun, para petinggi CD waktu itu sadar betul kondisi yang ada tidak bakalan berubah secepat yang dibayangkan. Soalnya, berlalunya krisis moneter yang belakangan bermetamorfosis menjadi krisis multidimensional sejatinya berada di luar kendali mereka. Celah yang masih terbuka hanyalah konsolidasi internal dan restrukturisasi perusahaan. Maka, selain memangkas biaya operasional secara drastis, CD pun segera menerapkan strategi pemasaran baru: menjual kapling siap bangun. Kata Harun, selain CD kala itu hanya menyimpan sedikit stok rumah siap huni, perubahan strategi pemasaran ini juga dilakukan untuk membidik konsumen berkantong tebal. Maklumlah, mengharapkan KPR ibarat pungguk merindukan bulan. Adapun yang tersisa, ya itu tadi, pasar kalangan kelas menengah-atas. Mereka biasanya lebih suka membeli kapling karena dapat menentukan sendiri desain rumahnya. Keuntungan lain menjual kapling tanah: berkurangnya biaya operasional. Masih menurut Harun, dengan menjual kapling siap bangun, CD cuma berkewajiban menyediakan infrastruktur seperti telepon, air, listrik dan jalan. Memang, ketimbang membangun rumah siap huni, biaya penyediaan infrastruktur relatif jauh lebih murah. Dalam perhitungan Harun, biaya yang dikeluarkan per m2nya cuma Rp 90 ribu. Sementara itu, bila membangun rumah siap huni, CD mesti siap menerima kenyataan jika harga bahan-bahan bangunan meningkat pesat. Besi, misalnya. Setelah kurs rupiah terhadap US$, harganya naik 60%. Sementara semen dan keramik, masing-masing meningkat menjadi 40% dan 30%. Jadi, "Tak ada alasan tidak menerapkan strategi itu," ujar Harun. Kebijakan itu berlaku di Jakarta dan di Surabaya.

Nama Ir. Ciputra Lahir o Pekerjaan Pengusaha Pendidikan Hobi Kegiatan lain Ketua Umum Ayub

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Rabu, 19 Agustus 2009

tayangan di layar TVRI. Kehadiran acara Ayo Menyanyi dan Lagu Pilihanku, ternyata telah menarik minat kalangan perusahaan rekaman untuk merekam lagu anak-anak pada piringan hitam. Tercatat nama perusahaan rekaman, seperti: Remaco, Elshinta, Bali, Canary Records, Fornada, J & B Records. Lagu-lagu ciptaan AT Mahmud pun mendapat perhatian. Di samping lagu-lagu ciptaan pencipta lainnya, ada sekitar 40-an lagu A. T. Mahmud tersebar pada 7 (tujuh) piringan hitam antara tahun 1969, 1972, dan tahun-tahun sesudah itu, yakni Citaria, Musim Panen. Jangkrik, Gelatikku. Layang-Layangku, Ade Irma Suryani, Kereta Apiku, Jakarta Berulang Tahun, Pemandangan, Timang Adik Timang, Pulang Memancing, Hadiah untuk Adik, Tidurlah Sayang, Mendaki Gunung, Sekuntum Mawar, Tepuk Tangan, Kincir Air, Dua Ekor Anak Kucing, Bulan Sabit, Lagu Tor-Tor, Tupai, Burung Nuri, Di Pantai, Senam, Bintang Kejora, Aku Anak Indonesia, Aku Anak Gembala, Kunang-Kunang, Naik Kelas, dan Awan Putih. Waktu terus berjalan. Akhirnya, salah satu lembaga pendidikan Islami meminta AT Mahmud untuk memberikan penataran sejenis pada sekolahnya untuk guru-guru TK. Ia berpendapat, alangkah baiknya jika contoh lagu yang ia berikan, juga bernapaskan Islami. Yang Islami itu yang mana? Karena hal ini merupakan sesuatu yang baru baginya. Mahmud mencari tahu apa yang dimaksudkan dengan lagu islami, seni islami pada umumnya. Di satu sisi, tentu ada yang sama, yaitu sasarannya tetap anak-anak juga. Akan tetapi, di sisi lain, tentu ada bedanya dengan lagu anak-anak yang umum. Bedanya paling tidak pada pesan yang akan disampaikan, pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Mulailah ia mencari buku-buku referensi. Dari beberapa buku Islami yang dibaca, ia mulai mempelajari tentang seni Islam, musik Islami, atau lagu Islami. Ia menemukan jawaban pada buku yang ditulis M. Quraish Shihab "Wasasan Al-Quran", bagian keempat: "Wawasan Al-Quran tentang Aspek-Aspek Kegiatan Manusia" subbab "Seni" halaman 398. "... seni Islam adalah ekspresi tentang alam, hidup, dan manusia yang mengantarkan menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan ...menggambarkan hubungan ...dengan hakikat mutlak, yaitu Allah swt. ...dengan tujuan memperhalus budi, mengingatkan tentang jati diri manusia, menggambarkan akibat baik dan buruk dari suatu pengamalan ..." Pengertian ini dianggapnya sejalan dengan rumusan yang dikutip dari bacaan lain, berbunyi: " (musik islami) bermaksud dan bertujuan untuk meningkatkan daya pikir dan rasa dalam kaitan gagasan dan pendidikan akhlak, dengan cakupan dua aspek, yaitu a) akhlak terhadap Allah, dan b) akhlak terhadap sesama manusla. Dalam pengertian inilah kemudian ia menciptakan lagu-lagu Islami, dengan cara menerjemahkannya menurut dan sesuai dengan karakteristik anak yang sedang tumbuh dan berkembang menuju kedewasaannya. AT Mahmud pun memikirkan untuk menghimpun semua lagu yang diciptakan dalam bentuk buku. Ia pernah mencetak

PROFESI
► Advokat ► Akuntan ► Arsitek ► Bankir ► CEO-Manajer ► Dokter ► Guru-Dosen ► Konsultan ► Kurator ► Notaris ► Peneliti-Ilmuwan ► Pialang ► Psikolog ► Seniman ► Teknolog ► Wartawan ► Profesi Lainnya ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► In Memoriam ► Majalah ► Redaksi

Copyright © 2002-2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Rabu, 19 Agustus 2009

C © updated 29052008 04042004

ABURIZAL HOME
► DIRGAHAYU HUT REPUBLIK INDONESIA KE-64, 17 AGUSTUS 1945 - 17 AGUSTUS 2009 ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► ► DIRGAHAYU HUT REPUBLIK INDONESIA KE-64, 17 AGUSTUS 1945 - 17 AGUSTUS 2009 ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► BIOGRAFI: 01 02 03 04 05 == Aburizal Bakrie (01)

HOME
► Home ► Biografi ► Versi Majalah ► Berita ► Galeri
► e-ti/kib

PPENGUSAHA
► Pengusaha ► Company Profile ► Majalah TI ► Nusantara ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Redaksi ► Buku Tamu

Biodata Nama: Ir. H. Aburizal Bakrie Lahir: Jakarta, 15 November 1946 Agama: Islam Profesi: Pengusaha, Politisi, Pejabat Jabatan: - Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat KIB 2005-2009 - Menteri Koordinator Perekonomian KIB 2004-2005 Ayah: Achmad Bakrie Alamat Rumah: Jl. Ki Mangunsarkoro No.42, Menteng Jakarta - 10310

Terkaya Se-Asia Tenggara
Pengusaha Aburizal Bakrie semakin kaya. Menko Kesra ini disebut sebagai orang terkaya se Asia Tenggara. Dia pengusaha yang terbilang paling gemilang pada sepuluh tahun reformasi di Indonesia. Selain bisa keluar dari krisis ekonomi yang mengancam perusahaannya Bakrie Grup, malah menduduki posisi penting di pemerintahan dan dalam tempo singkat semakin kaya. Aburizal Bakrie (02)

Pengusaha Politisi Jadi Menko Kesra
Jabatan Aburizal Bakrie, pengusaha yang politisi Partai Golkar, ini dirotasi dari Menko Perekonomian menjadi Menko Kesra pada resuffle Kabinet Indonesia Bersatu yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung Agung

PEJ AB AT
Google TokohIndonesia

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

H Pahri Azhari

Pengusaha di Kursi Bupati Muba
Berpenampilan sederhana, bersahaja. Padahal, H Pahri Azhari, kelahiran Palembang , 3 Juli 1962, yang juga politikus dari Partai Amanat Nasional (PAN), ini tidak hanya sukses sebagai pengusaha tapi juga sukses menjadi seorang Bupati Musi Banyuasin (Muba) dengan semboyan Serasan Sekate. Ali Alatas (1932-2008)

Singa Tua Diplomat Indonesia
Ali Alatas, singa tua diplomat Indonesia yang menjabat Menlu RI (1987-1999) dan terakhir menjabat Ketua Watimpres/AnggotaWatimpres Bidang Hubungan Internasional, sejak April 2007 hingga wafat, Kamis 11 Desember 2008 pagi di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Bambang Hendarso Danuri

Polri Mandiri dan Profesional
Kapolri kelahiran Bogor, 10 Oktober 1952,ini berjanji akan mengakselerasi transformasi Polri menuju Polri mandiri, profesional, dan dipercaya masyarakat. Setelah memaparkan janji itu, mantan Kapolda Sumut itu diterima secara aklamasi oleh DPR menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Pol Sutanto. Mohammad Mahfud MD

Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2011
Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, SH, SU, terpilih menjadi ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2011. Pemilihan berlangsung terbuka di ruang sidang pleno gedung MK, Jakarta, Selasa (19/8/2008). Mahfud menggantikan Jimly Asshiddiqie yang sudah dua periode menjabat ketua MK. Abdul Mukhti Fadjar SH, Prof Dr

Wakil Ketua MK 2008-2011
Abdul Mukthie Fadjar SH, Prof Dr terpilih menjadi wakil ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2011. Pria kelahiran Jogjakarta, 24 Desember 1943, ini mendampingi Moh. Mahfud MD yang terpilih menjadi ketua. Ia menggantikan Mohamad Laica Marzuki yang sudah memasuki masa pensiun. Marwan Effendy

JAM Pidsus Saat Citra Terpuruk
Setelah dilantik sebagai JAM Pidsus 14/4/2008, Marwan Effendy langsung melakukan pembenahan dalam penanganan perkara di Kejaksaan Agung. Mantan Pusdiklat Kejagung kelahiran Lubuk Linggau, Sumsel 13 Agustus 1953, itu terus berupaya mengembalikan dan menjaga kredibilitas lembaganya. Dada Rosada

Teladan, Kunci Kepemimpinan
Kunci keberhasilan Dada Rosada, adalah keteladanan dan kesungguhan melaksanakan tugas sebagai Walikota Bandung (2003-2008). Luluasn S2 STIA LAN-RI, kelahiran Ciparay, Bandung, 29 April 1947, ini kembali dicalonkan Partai Golkar dan PDI-P berpasangan dengan Ayi Vivananda. Ansgerius Takalapeta

Bupati Penggerak Tanam Pohon
Bupati Alor, NTT periode 1999-2009, ini berhasil menggerakkan kebiasaan menanam pohon. Pria yang suka mengenakan songkok dengan aksesori khas Alor, ini dalam setiap kegiatan selalu menyertakan penanaman pohon. Dia pun dianugerahi penghargaan Kalpataru dalam bidang lingkungan hidup 2008. Mahyuddin NS

Gubernur Sumsel 2008
Mahyuddin NS dilantik sebagai Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), 11 Juli 2008. Sebelumnya, dokter kelahiran Lahat, 14 September 1947, ini menjabat Wakil Gubernur Sumsel dan sempat menjadi Plt Gubernur Sumsel pasca mundurnya Syahrial Oesman sebagai gubernur sejak 19 Juni 2008. Dra Rustriningsih Msi

Kini, Srikandi Jawa Tengah
Kini, dia srikandi Jawa Tengah. Terpilih menjadi Wagub perempuan pertama Provinsi Jateng 20082013. Sebelumnya, dia bupati perempuan pertama Kabupaten Kebumen, dua periode. Dia sudah menjadi bupati semasih gadis. Alumni S2 UGM, ini seorang kader PDI-P yang berpotensi menjadi Srikandi Indonesia. Ir H Baharudin H.Lisa, MM

Pembawa Keberuntungan Basel
Baharudin H Lisa berhasil memimpin Kabupaten Barito Selatan, dengan motto Buntok Kota Batuah, yang bermakna keberuntungan. Dia memimpin daerah ini dengan visi mewujudkan kehidupan masyarakat Basel dahani dahanai tuntung: tulus, maju, mandiri berkualitas dengan memiliki iptek dan imtaq. TB Silalahi

Anggota Watimpres SBY
Mantan Menteri PAN (1993-1998) kelahiran Pematang Siantar, Sumut, 17 April 1938, ini dipercaya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (SBY). Sebelumnya, Jenderal bintang tiga ini berperan dalam tim kampanye SBY pada Pilpres 2004. Dia seorang tokoh yang amat peduli pendidikan. Panglima TNI Djoko Santoso

Jenderal yang Perfeksionis
Djoko Santoso seorang jenderal yang kalem, low profile, bersahaja tapi tegas dan cenderung perfeksionis. Setelah dua tahun menjabat Kasad, perwira intelijen yang kebapakan dan luwes, ini dilantik Presiden SBY sebagai Panglima TNI menggantikan Marsekal Djoko Suyanto, Jumat (28/12/2007). Ir Robert Edison Siahaan

Cagub Sumut Peduli Pertanian
RE Siahaan yang saat ini menjabat Walikota P Siantar, Sumut, diunggulkan memenangi Pilgub Sumut, 16 April 2008. Dia berpasangan dengan H. Suherdi, Ketua Pujakesuma, Sumut. Pasangan bernomor

urut 3 (tiga) ini didukung 8 Parpol, yakni PDS, PKB, PPIB, PPD, PNI Marhaenisme, PBSD, Partai Pelopor dan PNBK Hasan Karman

Walikota Singkawang
Pasangan Hasan Karman-Edy R Yacoub, dilantik sebagai Walikota dan Wakil Walikota Singkawang periode 2007-2012. Hasan etnis Tionghoa pertama yang menjadi kepala daerah di Kalimantan Barat. Pelantikan dilakukan Wagub Kalbar LH Kadir dalam Rapat Paripurna DPRD Singkawang Senin (17/12/2007). Antasari Azhar

Ketua KPK dari Karir Jaksa
Ketua KPK Antasari Azhar bersama empat anggota Komisi Pemberantasan Korupsi lainnya dilantik dan disumpah oleh Presiden SBY di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/12/2007). Antasari yang menggantikan Taufiequrachman Ruki seorang jaksa karir kelahiran angkal Pinang, Bangka 18 Maret 1953. Drs H Anwar Adnan Saleh

Gubernur Sulawesi Barat
Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) ini berobsesi mengembangkan kakao menjadi komoditas unggulan yang mendunia dari Sulbar. Obsesi itu didorong tekadnya untuk menyejahterakan rakyat Sulbar sekaligus menjadikan Indonesia sebagai penghasil kakao terbesar kedua di dunia menggeser Ghana. Sumardjono

Kepala Staf TNI AL ke-20
Irjen Dephan Laksamana Madya Sumardjono dilantik Presiden, Rabu 7 November 2007 di Istana Negara Jakarta, menjadi Kepala Staf TNI AL Ke-20. Alumni AAL 1974 kelahiran Yogyakarta, 21 Juni 1951, ini menggantikan Laksamana Slamet Soebijanto yang menjabat KSAL sejak 18 Februari 2005. Letnan Jenderal TNI Cornel Simbolon

Wakil Kepala Staf TNI AD
Letnan Jenderal TNI Cornel Simbolon dilantik sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) yang baru di Markas Besar Angkatan Darat, Senin (19/11/2007). Mantan Dan Kodiklatad dan Pangdam IV/Diponegoro itu dilantik Kasad Jenderal TNI Djoko Santoso menggantikan Letjen TNI Harry Tjahjana. Letjen TNI Erwin Sudjono, SH (01)

Hidup Laksana Air Mengalir
Letjen Erwin Sudjono, SH diangkat menjabat Kepala Staf Umum Mabes TNI, November 2007. Dia menggantikan Letjen Endang Suwarya yang telah memasuki pensiun. Sementara jabatan yang ditinggalkannya Pangkostrad diisi Letjen George Toisutta yang sebelumnya menjabat Pangdam III Siliwangi. Abdul Hafiz Anshary

Ketua KPU 2007-2012
Mantan Ketua KPU Provinsi Kalsel (2003-April 2005) Prof Dr Abdul Hafiz Anshary, MA terpilih menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum periode 2007-2012. Ia terpilih aklamasi dalam Rapat Pleno KPU, yang dihadiri enam anggotanya, Selasa 23/10/2007 malam setelah siang harinya dilantik Presiden. Mardiyanto

Mendagri yang 'Bapak Rakyat'
Mardiyanto seorang pemimpin yang cerdas, bersahaja dan selalu menempatkan diri sebagai bapak selutuh rakyat. Karifannya sebagai pemimpin telah teruji selama menjabat Gubernur Jawa Tengah 1998-2007, melayakkannya menjabat Menteri Dalam Negeri 2007-2009. Sjafrie Sjamsoeddin

DCM untuk Pengadaan Alutsista
Sekjen Dephan ini berupaya mengubah citra Dephan. Dia melakukan pembenahan ke dalam, terutama dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Dia membentuk Dealing Center Management (DCM), tim bersama dalam departemen untuk membahas dan memutuskan pengadaan alutsista Drs Rudolf Matzuoka Pardede

Gubsu Sipil Pertama Sejak Orba
Rudolf M Pardede Gubernur Sumut ke-16 dan pertama dari kalangan sipil sejak orde baru. Mantan Wakil Gubsu ini dilantik 10 Maret 2006 setelah beberapa lama menjabat sebagai Plt Gubsu menggantikan Tengku Rizal Nurdin yang tewas akibat kecelakaan pesawat Mandala, 5 September 2005. Agus Widjojo

Konsern atas Reformasi TNI
Deputi Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R), Mantan Kepala Staf Teritorial TNI dan Wakil Ketua MPR RI Agus Widjojo, seorang perwira tinggi militer berpangkat Letnan Jendral TNI (Purnawirawan) yang terbilang konsern dan konsisten dalam hal reformasi TNI. Danny Setiawan

Gubernur Jawa Barat 2003-2008
Gubernur Jawa Barat (2003-2008) Drs H Danny Setiawan, MSi lahir di Purwakarta 28 Agustus 1945. Dia seorang birokrat alumni APDN Bandung (1968) yang merintis karir dari Camat sampai menjabat Sekretaris Daerah Propinsi Jawa Barat (1998 – 2003) sebelum teriplih menjadi Gubernur Jawa Barat. M Lukman Edy

Menteri KIB Termuda
Sekjen DPP PKB ini dipercaya Presiden SBY menjadi Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT), menggantikan Saifullah Yusuf. Nama pria kelahiran Teluk Pinang, Indragiri Hilir, Riau, 26 November 1971, ini melejit laksana meteor, dari sebelumnya tidak banyak dikenal oleh publik. Sofyan A Djalil

Menkofinfo Jadi Meneg BUMN
Cukup sukses sebagai Menkominfo, Sofyan A Djalil dipindahposisikan menjadi Meneg BUMN. Presiden SBY langsung mengumumkan hal itu, di Istana Merdeka, Senin 7 Mei 2007. Sofyan sebelumnya pernah menjabat Asisten Kepala Badan Pembina BUMN/ Staf Ahli Meneg BUMN (Juni 1998-Februari 2000). Jusman Syafii Djamal

Menhub Janji Nihil Kecelakaan
Jusman tak menduga akan menjadi Menhub menggantikan Hatta Rajasa. Namun peranannya sebagai anggota Tim Nasional EKKT membuatnya lebih dikemal Presiden SBY dan mengangkatnya jadi Menhub (reshuffle kabinet, 7 Mei 2007. Dia berjanji harus bisa capai nihil kecelakaan jasa transportasi. Andi Mattalata, SH, MH

Politisi Golkar Jadi Menhukham
Master hukum dari Universitas Indonesia kelahiran Bone, 30 September 1952, ini dipercaya menjabat Menteri Hukum dan HAM, menggantikan Hamid Awaludin. Politisi Golkar yang sudah beberapa periode menjadi anggota DPR (sejak 1988 sampai 2007) itu sebelumnya berprofesi sebagai dosen Unhas Makassar. Muhammad Noeh

Mantan Rektor ITS Jadi Menkominfo
Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Prof Dr Ir Muhammad Nuh, dipilih Presiden Yudhoyono sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), menggantikan Sofyan Djalil. Ketua ICMI Jatim ini menguasai bidang teknologi informasi. Soemino Eko Saputro

Dirjen yang Tak Pernah Tidur
Soemino, seorang putera terbaik bangsa di bidang perkeretaapian. Dia pantas digelari pemimpin yang tak pernah tidur dalam mengurusi kereta api. Selalu berupaya memperbaiki kondisi perkeretaapian Indonesia. Dari sejak penugasan awal sampai menjadi Dirut hingga Dirjen Perkeretaapian pertama. Fadel Muhammad

BPK: Gubernur Gorontalo Terbaik
Gubernur Gorontalo ini menerima penghargaan Pencapaian Menuju Tertib Administrasi Keuangan (terbaik) dari BPK. Ketua BPK Anwar Nasution menyerahkan penghargaan itu dalam rangkaian acara HUT ke-60 BPK, di JCC Selasa malam 9 Januari 2007, yang juga dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Drs H Samsuri Aspar MM

Pemimpin yang Bersahaja
Wakil Bupati Kutai Kartanegara ini, seorang pemimpin mampu menempatkan diri dalam setiap jabatan yang diamanahkan kepadanya. Dia seorang pemimpin yang bersahaja. Mantan Kadipenda Kabupaten Kutai, ini menjadi pasangan yang amat ideal dengan Bupati Kutai Kartanegara H Syaukani HR. Jend Djoko Santoso

Jenderal yang Perfeksionis
Dia jenderal yang kalem, low profile, bersahaja tapi tegas dan cenderung perfeksionis. Perwira intelijen yang kebapakan ini juga luwes dalam pergaulan sehari-hari. Kepala Staf TNI Angkatan Darat, yang menggantikan Jenderal Ryamizard Ryacudu, ini, mungkin akan menjabat Panglima TNI berikutnya. Purnomo Yusgiantoro

Menteri Pemberani Tidak Populis
Dia Menteri ESDM pemberani mengambil kebijakan tidak populis demi kepentingan kemandirian bangsa. Berani menaikkan harga BBM mengikuti standar harga internasional. Di kalangan

perminyakan dunia, dia juga sangat disegani. Terbukti, dia satu-satunya Sekjen OPEC yang dipercaya sekaligus merangkap Presiden OPEC (2004). Drs. H. Lily Hambali Hasan Msi (01)

Negarawan Berorientasi Social Welfare
Bupati Purwakarta ini, seorang pamong negarawan berjiwa enterpreneur yang berorientasi prestasi dan social welfare. Organisator berlatar birokrat berjiwa kebangsaan dan relijius (Islam) ini selalu menempatkan diri sebagai pemimpin yang melayani masyarakat tanpa membedakan latar belakang. Widi Agoes Pratikto

Dirjen Penjaga Negeri Bahari
Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya, ini bertugas sebagai penjaga negeri bahari dalam jabatan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), DKP sejak 2002. Pria bernama lengkap Prof Ir Widi Agoes Pratikto, MSc, PhD, kelahiran Surakarta, 16 Agustus 1953 ini seorang ilmuwan dan birokrat yang juga rajin menulis. Barnabas Suebu

Dilantik Jadi Gubernur Papua
Barnabas Suebu SH dan Alex Hesegem SE dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Papua dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRP di Jayapura, Selasa (25/7/2006). Pelantikan ini mengalami proses yang cukup lama setelah pasangan ini memenangkan Pilkada Papua pada 10 Maret 2006. Mohammad Ma’ruf

Pamong Penjunjung Supremasi Hukum
Mendagri KIB, ini seorang pensiunan perwira tinggi militer dengan pangkat Letnan Jenderal TNI AD. Sebagai pamong, mantan Kassospol ABRI (1995) dan Gubernur AMN (1992), ini dikenal sangat menjunjung tinggi supremasi hukum dalam membina kehidupan sosial politik dalam negeri yang sangat dinamis. Laksda TNI Sunarto Sjoekroenoputra, Moh

Kapuspen yang Siap On Line 24 Jam
Sebagai Kapuspen TNI, Laksamana Muda TNI AL Moh. Sunarto Sjoekronoputra mengaku mendapat tantangan baru. Dia bukan saja berupaya untuk tetap menjaga citra baik TNI, tapi juga menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai media massa. Untuk itu, dia siap on line dikonfirmasi 24 jam. Hj Ratu Atut Chosiyah, SE

Ratu Kepemimpinan Perempuan
Dia perempuan pertama menjabat gubernur di Indonesia. Kiprah Gubernur (Plt) Provinsi Banten, Hj Ratu Atut Chosiyah, SE, ini telah terukir sebagai ratu yang menginspirasi perempuan Indonesia menjadi pemimpin dalam arti sesungguhnya, tidak sekadar menyejajarkan diri dengan kaum pria. Mayjen TNI Erwin Sudjono, SH

Hidup Laksana Air Mengalir
Sesudah lebih 30 tahun menapaki karir militer, Mayor Jenderal TNI Erwin Sudjono, diangkat menjadi Pangkostrad ke-29. Pria Jawa kelahiran Bandung, 5 Februari 1951, ini dilantik Selasa, 2 Mei 2006. Menantu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo dan kakak ipar Presiden SBY ini menggantikan Letjen TNI Hadi Waluyo.

Mayjen TNI Syaiful Rizal, Psc, S. IP

Berobsesi: Kopassus Bertaraf Dunia
Danjen Kopassus ini berobsesi menjadikan Kopassus berkemampuan setara dengan pasukan khusus di dunia. Untuk itu, Jenderal berbintang dua kelahiran Lahat, 2 Juni 1952, ini giat menggalakkan budaya latihan. Menurutnya, profesionalisme hanya bisa diwujudkan dengan disiplin latihan yang ketat. MS Kaban

Bintang Bulan Bintang di Kabinet
Dia bintang dari Partai Bulan Bintang di KIB. Sesaat setelah diangkat menjabat Menhut, MS Kaban, langsung melakukan gebrakan memberantas illegal logging. Pria kelahiran Binjai, 5 Agustus 1958, ini dengan cepat menguasai masalah utama yang perlu segera diatasi di lingkup tugas`departemennya. Marsekal TNI Djoko Suyanto

Dilantik Jadi Panglima TNI
Jakarta 13/02/06: Presiden Yudhoyono melantik Marsekal TNI Djoko Suyanto menjadi Panglima TNI menggantikan Jend Endriartono Sutarto di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/2/2006). Selain itu, Presiden juga melantik Marsdya TNI Herman Prayitno menjadi Kepala Staf TNI AU menggantikan Djoko Suyanto. Marsdya TNI Herman Prayitno, S.IP, MM.

Kepala Staf TNI AU
Jakarta 13/02/06: Presiden melantik Marsdya TNI Herman Prayitno menjadi Kasau menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/2/2006). Pada kesempatan itu, Djoko Suyanto juga dilantik Presiden menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal TNI Endriartono Sutarto. Setia Mangunsong

Perancang Manajemen Mutu Perikanan
Dia seorang dari sedikit PNS yang kreatif dan inovatif yang lebih mengejar prestasi daripada status. Setia Mangunsong, Direktur Standarisasi dan Akreditasi, DKP, ini adalah perancang bangun cetak biru manajemen standar pengawasan mutu industri perikanan nasional. Kandidat doktor IPB Bogor, ini juga aktif melahirkan UU No. 31/2004 Tentang Perikanan. Paskah Suzetta

Politisi Perencana Pembangunan
Bendahara DPP Partai Golkar yang menjabat Ketua Komisi XI DPR Drs HM Paskah Suzetta, MBA, dipercaya menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, mengganti-kan Sri Mulyani Indrawati yang kemudian menjadi Menteri Keuangan, dilantik Rabu 7 Desember 2005. Marty Natalegawa

Dari Dubes Menuju Puncak
Dia diplomat muda yang tengah menuju puncak karir. Marty Natalegawa yang sebelumnya dikenal sebagai Juru Bicara Deplu, yang dipercaya menjadi Dubes RI untuk Inggris. Pria kelahiran Bandung 22 Maret 1963, ini merupakan duta besar termuda, yang tengah dipersiapkan menjadi Menteri Luar Negeri. Erman Suparno

Empat Prioritas Depnakertrans
Bendahara Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga menjabat Ketua FKB di DPR Erman Suparno, dipercaya menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, menggantikan Fahmi Idris. Pria kelahiran Purworejo, 20 Maret 1950 ini dilantik menjadi menteri Rabu 7 Desember 2005. Cosmas Batubara

Menjabat Menteri 15 Tahun
Dia mantan aktivis mahasiswa (Ketua Umum Presidium KAMI 1966) yang kemudian selama 15 tahun menjabat menteri. Pria yang selalu tampak tenang namun pemberani itu setelah tidak lagi menjabat menteri, dia mengikuti Program Pasca Sarjana FISIP UI dan meraih gelar doktor pada usia 74 tahun, (22/8/2002). Tri Satya Putri Naipospos, PhD

Dipecat Saat Berjuang
Perjuangan Melawan Flu Burung. Begitu judul Rubrik Sosok Harian Kompas 20/9. Tulisan itu mengisahkan betapa sibuknya Tri Satya Putri (Direktur Kesehatan Hewan) berjuang melawan flu burung. Namun secara mengejutkan, besoknya (21/9), Mentan memberhentikannya karena dinilai gagal. Fauzi Bowo

Pemimpin Bijak dan Bersahaja
Dia pemimpin yang bijak dan bersahaja. Saat masih menjabat Sekwilda DKI, putra daerah Betawi ini dijagokan beberapa partai dan Bamus Betawi sebagai calon gubernur DKI. Namun, dia memilih tetap berpasangan dengan Sutiyoso, dan terpilih sebagai Wakil Gubernur. Diperkirakan, Fauzi Bowo akan menggantikan Sutiyoso melalui Pilkada langsung 2007. Jenderal Pol Sutanto

Kapolri, Alumni Terbaik Akpol 1973
Presiden SBY melantik Jenderal Sutanto sebagai Kepala Kepolisian Negara RI, menggantikan Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar (8/7/2005). Pelantikan dilakukan setelah DPR secara aklamasi menyetujui usai melakukan uji kepatutan dan kelayakan ((fit and proper test)) terhadap Komjen Sutanto di Gedung Nusantara II DPR, Jakarta, 4/7/2005. Laksdya Slamet Soebijanto

Kepala Staf TNI AL ke-19
Dia alumnus Akademi Angkatan Laut Angkatan-19, merupakan salah satu perwira terbaik TNI Angkatan Laut yang dipercaya menjabat Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) ke-19. Pria kelahiran Mojokerto 4 Juni 1951, ini menggantikan Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh. Dilantik Presiden Jumat 18 Februari 2005, sekaligus bersama KASAD dan KASAU.

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Rabu, 19 Agustus 2009

C © updated 07122005

ADJIE MASSAID HOME

HOME
► Home ► Biografi ► Versi Majalah ► Berita ► Galeri

POLITISI
► Politisi ► MPR-RI ► DPR-RI ► Partai-Pemilu ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah TI ► Redaksi ► Buku Tamu

► DIRGAHAYU HUT REPUBLIK INDONESIA KE-64, 17 AGUSTUS 1945 - 17 AGUSTUS 2009 ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau ► e-ti/mi Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Nama: Adjie Massaid Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Nama Lengkap Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Chandra Pratomo Samiadji Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► Massaid ► DIRGAHAYU HUT REPUBLIK INDONESIA KE-64, 17 Lahir: AGUSTUS 1945 - 17 AGUSTUS 2009 ► Selamat datang di Jakarta, 7 Agustus 1967 Agama: situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI Islam TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the Istri: experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Reza Artamevia (Bercerai) Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Anak: Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi 2 (dua) orang Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang Jabatan Terakhir: tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Anggota DPR RI 2004-2009 dari Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Partai Demokrat Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Pendidikan: Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau - SLTA di Belanda - S1 Sekolah Tinggi Nasional Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Indonesia (STIENI) Jakarta. Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Pengalaman Kerja: Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. - Artis (lima judul film, 30 judul Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► sinetron)
- Wiraswasta Wisata Alam Pengalaman Organisasi: - PSSI (Futsal) - DPP Partai Demokrat Alamat: Jl. Gabus II/4, Rawamangun, Jakarta Timur

Adjie Massaid

Anggota FPD DPR-RI
Welcome This site is currently under construction. Please check back at a later time. ►e-ti/ *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A B C D E F G H I

J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Rabu, 19 Agustus 2009

C © updated 04082005

DAWAM HOME

HOME
► Home ► Biografi ► Versi Majalah ► Berita ► Buku ► Galeri

PROFESI
► Guru-Dosen ► Peneliti-Ilmuwan ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah TI ► Redaksi ► Buku Tamu

► DIRGAHAYU HUT REPUBLIK INDONESIA KE-64, 17 AGUSTUS 1945 - 17 AGUSTUS 2009 ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau ► e-ti/islamlib.com Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Nama: M. Dawam Rahardjo Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Lahir: Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► Agama: ► DIRGAHAYU HUT REPUBLIK INDONESIA KE-64, 17 Islam AGUSTUS 1945 - 17 AGUSTUS 2009 ► Selamat datang di Dawam Rahardjo, cendekiawan situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI muslim, mantan Rektor Unisma TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the Bekasi. experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang Welcome tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa This site is currently Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke under construction. Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Please check back Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung at a later time. Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► M. Dawam Rahardjo

Problem Kebebasan Beragama
Indonesia selalu digambarkan sebagai negara dengan pemeluk agama Islam yang toleran. Toleransi juga diperlihatkan agamaagama dominan sebelum Islam, yakni Hindu dan Buddha, terhadap ajaran baru: Islam. Para ulama penyebar Islam dulunya juga bersikap toleran terhadap ajaran agama sebelumnya, bahkan menyerap beberapa unsur budayanya. Karena itu, masuknya Islam di Indonesia selalu disebut “panetration pacific”. Toleransi itu pulalah yang tampak ketika Ahmadiyah yang lahir di Pakistan pertama kali dan disebarkan di Indonesia oleh dua mubalig Ahmadiyah aliran Lahore, Mirza Wali Ahmad Baiog dan Maulana Ahjmad, lewat kunjungan mereka ke Yogyakarta, 1924. Sementara Ahmadiyah aliran Qadian masuk ke Indonesia tahun 1925 atas undangan beberapa orang Indonesia yang pernah belajar di perguruan Ahmadiyah di Pakistan. Masuknya Ahmadiyah di Indonesia ternyata juga disambut para

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA BERITA TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Rabu, 19 Agustus 2009

DPR
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

Nidalia Djohansyah Makki

Perempuan Lebih Peka dan Responsif
Anggota DPR RI (Fraksi PAN) dari Lampung ini seorang politisi perempuan yang perannya menonjol di Senayan. Alumni Boumeville College, Birmingham, Inggris, kelahiran Jakarta, 19 September 1959, ini amat peka dan responsif terhadap berbagai masalah yang menyangkut hajat hidup masyarakat. Ali Masykur Musa

POLITISI
► Politisi ► MPR-RI ► DPR-RI ► DPD ► DPRD ► Partai-Pemilu ► Ormas ► OKP ► LSM-Aktivis ► Asosiasi ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah TI ► Redaksi ► Buku Tamu

2004-2009
Fraksi Partai Golkar Fraksi PDI-P :: Pimpinan DPR-RI :: Fraksi PDI-P :: Fraksi Golkar :: Fraksi PPP :: Fraksi PKB :: Fraksi Reformasi :: Fraksi KKI :: Fraksi PBB :: Fraksi PDU :: Fraksi PDKB :: Fraksi TNI-Polri :: Sekretariat Jenderal Slamet Effendy Jusuf

Politisi Muda Potensial
Anggota DPR 2004-2009 dari Partai Kebangkitan Bangsa ini seorang politisi muda yang berpotensi masuk dalam bursa kepemimpinan nasional. Mantan Ketua FKB DPR RI (2001-2002) dan Ketua DPP PKB ini seorang politisi muda yang bisa diharapkan untuk membangun Indonesia sebagai bangsa yang flural. Drs HN Serta Ginting

Pelaku Beberapa Perubahan
Politisi berwawasan kebangsaan ini sangat merasa beruntung karena berada pada momen-momen perubahan yang sangat penting dan dahsyat. Sesungguhnya, ia seorang konseptor sejati kembalinya Nahdlatul Ulama ke Khittoh 1926. Saat mahasiswa, ia menjadi juru bicara memperjuangkan agar PMII, menjadi organisasi yang independen dari struktur Partai NU. Terakhir, sebagai Wakil Ketua Panitia Ad-Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR aktif mempersiapkan perubahan UUD 1945. Alexander Litaay

Vokal Tapi Menghargai Orang Lain
Dia anggota DPR yang tergolong vokal. Kritiknya terkadang sangat tajam, menyengat, sehingga memerahkan kuping para menteri dan pejabat yang menjadi mitra kerja Komisi IX (Kependudukan, Kesehatan, Tenaga Kerja dan Transmigrasi). Tapi seperti diakuinya, semua itu dilakukan dengan tulus. Deding Ishak Ibnu Sudja

Potret Berakhirnya Konsensus
Pada masa puncak tekanan kepada PDI pimpin-an Megawati, ia menjabat Sekretaris Jenderal hingga saat PDI berubah nama menjadi PDI Perjuangan. Kemudian, partai ini berhasil menjadi pemenang Pemilu 1999. Namun ia tidak ikut terangkat dalam puncak kekuasaan itu. Malah ia seperti disingkirkan dari pusat pengambilan keputusan partai. Marwah Daud Ibrahim

Legislator dan Pendidik yang Agamais
Dia wakil rakyat bergelar doktor bidang kebijakan publik, pucuk pimpinan Ormas besar, dan pemangku sebuah lembaga pendidikan tinggi agama Islam. Dengan kapasitas intelektual dan politis yang dimiliki, dia bertekad menjadikan pembangunan bidang pendidikan sebagai panglima di negeri ini. Prof Astrid Susanto PhD (1936-2006)

Ahli Sosiologi Komunikasi
Guru Besar Sosiologi Komunikasi FISIP UI, yang juga terjun dalam dunia politik

Penantang Akbar Paling

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->