Anda di halaman 1dari 19

BAB I LAPORAN KASUS I. IDENTITAS PASIEN : By. Ny.

Selvi : 0 hari : Laki-laki : 2105 gram : 45 cm : 2109 gram : 45 cm : Islam : Tolaki : Jl. Wanggu, Kel. Baruga, Kota Kendari : 37 41 03 : 17 Juni 2013

Nama Umur Jenis Kelamin Berat Badan Panjang Badan BBL PBL Agama Suku/Bangsa Alamat No. RM Tanggal masuk II. ANAMNESIS

Alloanamnesis dengan nenek penderita Keluhan Utama : Pasien rujukan dari puskesmas lepo-lepo dengan keluhan Sesak + BBLR Riwayat Perjalanan Penyakit Anamnesis Terpimpin: Bayi lahir normal ditolong oleh bidan, menangis merintih (+), sesak (+), biru (-) sejak lahir. Riwayat kehamilan : Bayi anak pertama, tidak cukup bulan kurang diketahui , sakit selama kehamilan (-), riwayat mengkonsumsi obat-obatan saat hamil (-). Riwayat persalinan: Ketuban pecah dini (-), ketuban jernih (+), ketuban tidak berbau (+), lama di jalan lahir (-) III. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : Sakit berat, BBLR ( BKB/SMK/SP), Pasif Nadi : 152 kali/menit
1

Pernapasan Suhu Berat badan Panjang badan BBL PBL LILA LK LD LP Pucat Sianosis Ikterus Turgor Tonus Busung/edema Keadaan Spesifik Kulit Kepala Bentuk UUB Telinga Rambut Mata Hidung Bibir Tenggorok

: 72 kali/ menit : 35,7


0

: 2105 kg : 45 cm : 2109 gram : 45 cm : 12 cm : 28 cm : 32,5 cm : 31 cm : (-) : (-) : (-) : baik : Normal : (-)

: Kering (-), terkupas (-), ikterus (-), sianosis (-)

: Bulat, simetris : Agak cekung : Otorea (-) : Hitam, lurus, sulit dicabut : Pucat (-), hiperemis (-) : Rhinorea (-), pernapasan cuping hidung (-) : Kering (-) : Dinding faring tidak hiperemis, T1-T1 tidak hiperemis

Thorax Paru-paru Inspeksi : Simetris kiri=kanan, retraksi intercostal (+)


2

Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi Limpa Hati Konsistensi : (-) Permukaan : (-) Kelenjar Limfe Alat kelamin Anggota Gerak Tasbeh Col. Vertebralis Refleks Patologis Ballard Skor

: Sela iga kiri=kanan : Sonor pada kedua lapangan paru : Bronkovesikuler. Bunyi tambahan (-)

: Iktus kordis tidak tampak : Thrill tidak teraba : Pekak pada kedua lapangan paru : Bunyi Janting I/II murni reguler

: Datar, ikut gerak nafas : Peristaltik (+), kesan normal : Nyeri tekan (-) massa tumor (-) : Timpani(+) pekak hepar (+) : Tidak teraba : Tidak teraba Pinggir : (-) Nyeri tekan : (-) : Tidak ada pembesaran : Tidak ada kelainan, testis sudah turun : Tidak ada kelainan, pasif : (-) : Spondilitis (-) skoliosis (-) : Babynsky (-) : 33 ( 36 minggu )

IV. RENCANA PEMERIKSAAN Analisis Gas Darah Darah Rutin V. DIFFERENTIAL DIAGNOSA TTN BBLR (BCB/KMK/SP) VI. DIAGNOSA KERJA RDS BBLR (BKB/SMK/SP) V. PENATALAKSANAAN - O2 lpm - IVFD Ds 10% 10 tts/m (mikro) - Cefotaxime 2x100 mg/IV - Vit K Inj 1mg/IM - Rawat inkubator - ASI/SF 15cc/3jam/sonde VI. FOLLOW UP
S Keluhan: -Bayi sesak (+). Menangis merintih (+), Biru (-), anak sakit persalinan kejang (-), O -KU: Sakit berat, pasif. -Tanda vital: N= 152X/ menit P=72X/ menit S=35,7 C BBL : 2019 gr PBL : 45 cm Nafas cuping hidung (-), sianosis(-), intercosta (+) -KU: Sakit berat, pasif -Tanda vital: N= 140X/ menit P=70X/ menit - RDS -BBLR (BKB/SMK/SP ) retraksi
0

Tanggal 17/06/2013

A - RDS -BBLR (BKB/SMK/SP )

P - Resusitasi bayi - O2 LpM - IVFD DS 10% 10 tts/m (mikro) - Inj. Cefotaxim 2 x 100 mg/iv - Vit.K inj 1mg / iM -Rawat Inkubator ASI/SF 15cc/3jam/sonde - O2 LpM - IVFD Dekstrose 10% 10 tpm (mikro) - Cefotaxim 2 x 100

pertama, selama (-),

bayi cukup bulan (+). 18/06/2013 Keluhan: - Sesak (+), Biru (-) , kejang (-), muntah (-)

S=370C - Mekonium (+) Miksi (+)

mg/iv - ASI/SF : 20 cc/3 jam/sonde

19/06/2013

Keluhan Sesak (-), (-),

KU: Lebih baik, aktif -Tanda vital: N= 134X/ menit P=53 X/ menit S=37,20C

- RDS -BBLR (BKB/SMK/SP)

- Up infus -Pasien pulang paksa

sianosis muntah (-)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. DEFINISI Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. Berat badan pada kehamilan khusus apapun sangat berfariasi dan harus digambarkan pada grafik presentil. Bayi yang berat badannya diatas presentil 90 dinamakan besar untuk umur kehamilan dan yang di bawa presentil 10 dinamakan kecil untuk umur kehamilan. Berdasarkan itu bahwa 10 % semua bayi ringan untuk umur kehamilan. Bayi yang berat badannya kurang dari 2500 gr pada saat lahir dinamakan berat badan lahir rendah. Klasifikasi menurut berat lahir yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) Berat bayi lahir normal atau cukup 2500 4000 gram. Berat bayi lahir lebih >4000 gram. Bayi berat lahir rendah, berat lahir 1500 2500 gram. Bayi berat lahir sangat rendah, berat lahir kurang dari 1500 gram. Bayi berat lahir amat sangat rendah, berat lahir kurang dari 1000 gram Klasifikasi menurut masa gestasi atau umur kehamilan yaitu : 1) 2) 3) II. Bayi kurang bulan (BKB) : masa gestasi < 37 minggu (< 259 hari) Bayi cukup bian (BCB) : masa gestasi 37 42 minggu (259 293 hari) Bayi lebih bulan (BLB) : masa gestasi > 42 minggu ( > 293 hari) EPIDEMIOLOGI Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram . BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan.

III. 1.

ETIOLOGI PREMATUR MURNI Prematur murni adalah neonatus dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan

mempunyai berat badan yang sesuai dengan masa kehamillan atau disebut juga neonatus preterm. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Persalinan Prematur atau BBLR adalah: a. Faktor Ibu: 1) Riwayat kelahiran prematur sebelumnya 2) Gizi saat hamil kurang 3) Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun 4) Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat 5) Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok) 6) Perdarahan antepartum, kelainan uterus, Hidramnion 7) Faktor pekerja terlalu berat 8) Primigravida 9) Ibu terlalu muda b. Faktor kehamilan Hamil dengan hidramnion, hatnil ganda, perdarahan antepartum, komplikasi hamil seperti pre eklamsia, eklamsia, ketuban pecah dini. c. Faktor Janin Cacat bawaan, infeksi dalam rahim dan kehamilan ganda., anomali kongenital d. Faktor Kebiasaan Pekerjaan yang melelahkan, merokok e. Faktor yang masih belum diketahui. Karakteristik yang dapat ditemukan pada prematur murni adalah: 1. Berat badan <2500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm lingkar dada kurang dari 30 cm 2. Gerakan kurang aktif otot masih hipotonis 3. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu 4. Kepala lebih besar dari badan, rambut tipis dan halus
7

5. Tulang-tulang tengkorak lunak, fontanela besar dan sutura besar 6. Telinga sedikit tulang rawannya dan berbentuk sederhana 7. Jaringan payudara tidak ada dan puting susu kecil 8. Pernapasan belum teratur dan sering mengalami serangan apneu 9. Kulit tipis dan transparan, lanugo (bulu halus) banyak terutama pada dahi dan pelipis dahi dan lengan 10. Lemak subkutan kurang 11. Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora 12. Reflek menghisap dan menelan serta reflek batuk masih lemah Bayi prematur mudah sekali mengalami infeksi karena daya tahan tubuh masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan antibodi belum sempurna. Oleh karena itu tindakan prefentif sudah dilakukan sejak antenatal sehingga tidak terjadi persalinan dengan prematuritas (BBLR). 2. DISMATURITAS Dismatur (IUGR) adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan dikarenakan mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan. Faktor Faktor yang mempengaruhi BBLR pada Dismatur Faktor ibu : Hipertensi dan penyakit ginjal kronik, perokok, pendrita penyakit diabetes militus yang berat, toksemia, hipoksia ibu, (tinggal didaerah pegunungan,

hemoglobinopati, penyakit paru kronik) gizi buruk, Drug abbuse, peminum alcohol. Faktor uteri dan plasenta : Kelainan pembuluh darah (hemangioma), insersi tali pusat yang tidak normal, uterus bicornis, infark plasenta, tranfusi dari kembar yang satu kekembar yang lain, sebagian plasenta lepas Faktor janin : Gemelli, kelainan kromosom, cacat bawaan, infeksi dalam kandungan, (toxoplasmosis, rubella, sitomegalo virus, herpez, sifillis) Penyebab lain Keadaan sosial ekonomi yang rendah, tidak diketahui.

IV.

PATOFISIOLOGI

Patofisiologi Gangguan Pertumbuhan Intrauterine Terdapat banyak penyebab gangguan pertumbuhan intrauterine disebut juga Intra Uterine Growth retardation (IUGR) dan efeknya terhadap janin bervariasi sesuai dengan cara dan lama terpapar serta tahap pertumbuhan janin saat penyebab tersebut terjadi. Walaupun setiap organ dapat diperngaruhi oleh gangguan pertumbuhan intra uterine, efeknya pada tiap organ tidak sama. Jika gangguan pertumbuhan terjadi pada akhir kehamilan, pertumbuhan Antung, otak dan tulang rangka tampak paling sedikit terpengaruh, sedangkan ukuran hati, lima dan thymus sangat berkurang. Keadaan klinis ini disebut gangguan pertumbuhan asimetrik dan biasa terjadi pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh wanita pendeirta hipertensi kehamilan (pre eklampsia). Sebaiknya, jika gangguan terjadi pada awal kehamilan (30 % semua bayi KMK) tampak pertumbuhan otak dan tulang rangkapun terganggu. Keadaan klinis ini disebut gangguan pertumbuhan simetrik dan seringkali berkaitan dengan hasil akhir perkembangan syaraf yang buruk. Penyebab gangguan pertumbuhan intra uterine yang paling akhir ditemukan adalah penyalahgunaan kokain selama kehamilan. Obat dengan mudah masuk plasenta sehingga konsentrasi dalam darah janin sama dengan konsentrasi ibu.kokain adalah suatu stimulant SSP dan menghadap konduksi saraf perifer. Konduksi saraf perifer yang terbatas di akibatkan oleh hambatanpengambilan kembali neurotransmitter seperti noradrenalin dan dopamine, sehingga konsentrasi neurotransmitter ini dalam serum meningkat dan menyebabkan vasokonstriksi, takikardi, serta hipertensi baik pada ibu maupun pada janin. Efek berbahaya kokain terhadap kehamilan yang meilputi tingginya tingkat aborsi pada trimester pertama, solusio plasenta, dan prematuritas, merupakan akibat kenaikan konsentrasi bahan-bahan neurotransmitter. Bersamaan dengan vasokonstriksi fetomaternal yang menyeluruh, terjadi vasokonstriksi hebat lapisan uteroplasenta. Hal ini membatasi penyediaan oksigen dan nutrisi bagi janin.akibatnya adalah tingkat gangguan pertumbuhan janin intra uterine (IUGR) lebih tinggi, lingkar kepala lebih kecil (mikrosefali), dan panjang badan kurang diantara bayi-bayi dari ibu pecandu kokain dari ibu bebas obat.

Plasenta Pada pertumbuhan intra uterine normal pertambahan berat plasenta sejalan dengan pertambahan berat janin, tetapi walaupun untuk terjadinya bayi besar dibutuhkan plasenta yang besar, tidak demikian sebaliknya. Namun demikian, berat lahir memiliki hubungan yang berarti dengan berat plasenta. Berat lahir juga berarti dengan luaspermukaan villus plasenta. Aliran darah uterus juga transfer oksigen dan nutrisi plasenta dapat berubah pada berbagai penyakit vaskuler yang diderita ibu. Disfungsi plasenta yang terjadi sering berakibat gangguan pertumbuhan janin. Keadaan klinis yang melibatkan aliran darah plasenta yang buruk meliputi kehamilan ganda, penyalahgunaan obat,penyakit vaskuler ( hipertensi dalam kehamilan atau kronik), penyakit ginjal, penyakit infeksi (TORCH), insersi plasenta umbilicus yang abnormal, dan tumor vascular. Malnutrisi Ada dua variable bebas yang diketahui mempengaruhi pertumbuhan janin, yaitu berat ibu sebelum hamil dan pertambahan berat ibu selama hamil. Ibu dengan berat badan kurang seringkali melahirkan bayi yang berukuran lebih kecildaripada yang dilahirkan ibu dengan berat normal atau berlebihan. Infeksi Infeksi virus tertentu berhubungan dengan gangguan pertumbuhan janin. Bayi-bayi yang menderita infeksi rubella congenital dan cytomegalovirus (CMV) umumnya terjadi gangguan pertumbuhan janin, tidak tergantung pada umur kehamilan saat mereka dilahirkan. Factor Genetik Diperkirakan 40% dari seluruh variasi berat lahir berkaitan dengan kontribusi genetik ibu dan janin. Wanita normal tertentu memiliki kecenderungan untuk berulangkali melahirkan bayi KMK (tingkat pengulangan 25%-50%) dan kebanyakan wanita tersebut dilahirkan sebagai BBL KMK. Demikian juga, wanita yang pernah melahirkan bayi besar memiliki kemungkinan yang lebih tinggiuntuk kembali melahirkan bayi besar, dan mereka sendiri cenderung berukuran besar pada saat hamil.

10

V.

DIAGNOSIS Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi pada saat bayi

baru lahir, dapat juga diketahui dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang . a. Anamnesis Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk menegakkan mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya BBLR yaitu : b. Umur ibu Riwayat hari pertama haid terakir Riwayat persalinan sebelumnya Paritas, jarak kelahiran sebelumnya Kenaikan berat badan selama hamil Aktivitas Penyakit yang diderita selama hamil Obat-obatan yang diminum selama hamil

Pemeriksaan Fisik Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara lain : Berat badan Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan) Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa kehamilan).

c.

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain : Pemeriksaan skor ballard Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah. Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas. USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan <37 minggu.

11

VI.

PENILAIAN BALLARD SKOR Penilaian neuromuskular meliputi postur, square window, arm recoil, sudut popliteal,

scarf sign dan heel to ear maneuver. Penilaian fisik yang diamati adalah kulit, lanugo, permukaa plantar, payudara, mata/telinga, dan genitalia. 1. Penilaian Maturitas Neuromuskular

a.

Postur Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi saat istirahat dan adanya tahanan

saat otot diregangkan. Ketika pematangan berlangsung, berangsur-angsur janin mengalami peningkatan tonus fleksor pasif dengan arah sentripetal, dimana ekstremitas bawah sedikit lebih awal dari ekstremitas atas. Pada awal kehamilan hanya pergelangan kaki yang fleksi. Lutut mulai fleksi bersamaan dengan pergelangan tangan. Pinggul mulai fleksi, kemudian diikuti dengan abduksi siku, lalu fleksi bahu. Pada bayi prematur tonus pasif ekstensor tidak mendapat perlawanan, sedangkan pada bayi yang mendekati matur menunjukkan perlawanan tonus fleksi pasif yang progresif. Untuk mengamati postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa menunggu sampai bayi menjadi tenang pada posisi nyamannya. Jika bayi ditemukan terlentang, dapat dilakukan manipulasi ringan dari ekstremitas dengan memfleksikan jika ekstensi atau sebaliknya. Hal ini akan memungkinkan bayi menemukan posisi dasar kenyamanannya. Fleksi panggul tanpa abduksi memberikan gambaran seperti posisi kaki kodok.

12

b.

Square Window Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap peregangan ekstensor

memberikan hasil sudut fleksi pada pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi dan menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari dengan lembut. Hasil sudut antara telapak tangan dan lengan bawah bayi dari preterm hingga posterm diperkirakan berturut-turut > 90 , 90 , 60 , 45 , 30 , dan 0 . c. Arm Recoil Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps dengan mengukur sudut mundur singkat setelah sendi siku difleksi dan ekstensikan. Arm recoil dilakukan dengan cara evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi, fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan kedua lengan dan lepaskan.Amati reaksi bayi saat lengan dilepaskan. Skor 0: tangan tetap terentang/ gerakan acak, Skor 1: fleksi parsial 140-180 , Skor 2: fleksi parsial 110-140 , Skor 3: fleksi parsial 90-100 , dan Skor 4: kembali ke fleksi penuh. d. Popliteal Angle Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut dengan menguji resistensi ekstremitas bawah terhadap ekstensi. Dengan bayi berbaring telentang, dan tanpa popok, paha ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut tertekuk penuh. Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa memegang kaki satu sisi dengan lembut dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan tangan yang lain. Jangan memberikan tekanan pada paha belakang, karena hal ini dapat mengganggu interpretasi. Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap ekstensi. Ukur sudut yang terbentuk antara paha dan betis di daerah popliteal. Perlu diingat bahwa pemeriksa harus menunggu sampai bayi berhenti menendang secara aktif sebelum melakukan ekstensi kaki. Posisi Frank Breech pralahir akan mengganggu maneuver ini untuk 24 hingga 48 jam pertama usia karena bayi mengalami kelelahan fleksor berkepanjangan intrauterine. Tes harus diulang setelah pemulihan telah terjadi e. Scarf Sign Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi berbaring telentang, pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah tubuh dan mendorong tangan bayi melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari tangan sisi lain pemeriksa diletakkan pada siku bayi. Siku mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu harus tetap
13

menempel di permukaan meja dan kepala tetap lurus dan amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja, yakni, penuh pada tingkat leher (-1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral baris puting (1); prosesus xyphoid (2); garis puting ipsilateral (3); dan garis aksila ipsilateral f. Heel to Ear Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul dengan memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior fleksor pinggul. Dengan posisi bayi terlentang lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk, tarik sedekat mungkin dengan kepala tanpa memaksa, pertahankan panggul pada permukaan meja periksa dan amati jarak antara kaki dan kepala serta tingkat ekstensi lutut ( bandingkan dengan angka pada lembar kerja). Penguji mencatat lokasi dimana resistensi signifikan dirasakan. Hasil dicatat sebagai resistensi tumit ketika berada pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); puting baris (2); daerah pusar (3); dan lipatan femoralis(4). 2. Penilaian Maturitas Fisik

a.

Kulit Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya bersamaan

dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu vernix caseosa. Oleh karena itu kulit menebal, mengering dan menjadi keriput dan / atau mengelupas dan dapat timbul ruam selama pematangan janin. Fenomena ini biasa terjadi dengan kecepatan berbeda-beda pada
14

masing-masing janin tergantung pada pada kondisi ibu dan lingkungan intrauterin. Sebelum perkembangan lapisan epidermis dengan stratum corneumnya, kulit agak transparan dan lengket ke jari pemeriksa. Pada usia perkembangan selanjutnya kulit menjadi lebih halus, menebal dan menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang menghilang menjelang akhir kehamilan. pada keadaan matur dan pos matur, janin dapat mengeluarkan mekonium dalam cairan ketuban. Hal ini dapat mempercepat proses pengeringan kulit, menyebabkan mengelupas, pecah-pecah, dehidrasi, sepeti sebuah perkamen. b. Lanugo Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada extreme prematurity kulit janin sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai tumbuh pada usia gestasi 24 hingga 25 minggu dan biasanya sangat banyak, terutama di bahu dan punggung atas ketika memasuki minggu ke 28. Lanugo mulai menipis dimulai dari punggung bagian bawah. Daerah yang tidak ditutupi lanugo meluas sejalan dengan maturitasnya dan biasanya yang paling luas terdapat di daerah lumbosakral. Pada punggung bayi matur biasanya sudah tidak ditutupi lanugo. Variasi jumlah dan lokasi lanugo pada masing-masing usia gestasi tergantung pada genetik, kebangsaan, keadaan hormonal, metabolik, serta pengaruh gizi. Sebagai contoh bayi dari ibu dengan diabetes mempunyai lanugo yang sangat banyak. Pada melakukan skoring pemeriksa hendaknya menilai pada daerah yang mewakili jumlah relatif lanugo bayi yakni pada daerah atas dan bawah dari punggung bayic. Permukaan Plantar,Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini kemungkinan berkaitan dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan. Bayi dari ras selain kulit putih mempunyai sedikit garis telapak kaki lebih sedikit saat lahir. Di sisi lain pada bayi kulit hitam dilaporkan terdapat percepatan maturitas neuromuskular sehingga timbulnya garis pada telapak kaki tidak mengalami penurunan. Namun demikian penialaian dengan menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis tertentu. Bayi very premature dan extremely immature tidak mempunyai garis pada telapak kaki. Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi tersebut berdasarkan permukaan plantar maka dipakai ukuran panjang dari ujung jari hingga tumit. Untuk jarak kurang dari 40 mm diberikan skor -2, untuk jarak antara 40 hingga 50 mm diberikan skor -1. c. Payudara

15

Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat stimulasi esterogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi yang diterima janin. Pemeriksa menilai ukuran areola dan menilai ada atau tidaknya bintik-bintik akibat pertumbuhan papila Montgomery. Kemudian dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah areola dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam milimeter. d. Mata/Telinga Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas palpasi ketebalan kartilago kemudian pemeriksa melipat daun telinga ke arah wajah kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan kembalinya daun telinga ketika dilepaskan ke posisi semulanyaPada bayi prematur daun telinga biasanya akan tetap terlipat ketika dilepaskan. Pemeriksaan mata pada intinya menilai kematangan berdasarkan perkembangan palpebra. Pemeriksa berusaha membuka dan memisahkan palpebra superior dan inferior dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Pada bayi extremely premature palpebara akan menempel erat satu sama lain. Dengan bertambahnya maturitas palpebra kemudian bisa dipisahkan walaupun hanya satu sisi dan meningggalkan sisi lainnya tetap pada posisinya. Hasil pemeriksaan pemeriksa kemudian disesuaikan dengan skor dalam tabel. Perlu diingat bahwa banyak terdapat variasi kematangan palpebra pada individu dengan usia gestasi yang sama. Hal ini dikarenakan terdapat faktor seperti stres intrauterin dan faktor humoral yang mempengaruhi perkembangan kematangan palpebra. e. Genital (Pria) Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni pada sekitar minggu ke 32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis inguinalis bagian atas atau bawah pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi lebih tebal dan membentuk rugae. Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di dalam zona berugae. Pada nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut, dan kadang belum bisa dibedakan jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus matur hingga posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum dan dapat menyentuh kasur ketika berbaring. Pada cryptorchidismus scrotum pada sisi yang terkena kosong, hipoplastik, dengan rugae yang lebih sedikit jika dibandingkan sisi yang sehat atau sesuai dengan usia kehamilan yang sama. f. Genital (wanita)
16

Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus diposisikan telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45o dari garis horisontal. Abduksi yang berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih menonjol sedangkan aduksi menyebabkankeduanya tertutupi oleh labia majora 9. Pada neonatus extremely premature labia datar dan klitoris sangat menonjol dan menyerupai penis. Sejalan dengan berkembangnya maturitas fisik, klitoris menjadi tidak begitu menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol. Mendekati usia kehamilan matur labia minora dan klitoris menyusut dan cenderung tertutupi oleh labia majora yang membesar. Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada nutrisi intrauterin. Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia majora menjadi besar pada awal gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang menyebabkan labia majora cenderung kecil meskipun pada usia kehamilan matur atau posmatur dan labia minora serta klitoris cenderung lebih menonjol. VII. PENCEGAHAN Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan: Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat (20-34 tahun). Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil. VI. PENATALAKSANAN Dengan memperhatikan gambaran klinik dan berbagai kemungkinanan yang dapat terjadi pada bayi prematuritas maka perawatan dan pengawasan ditujukan pada pengaturan suhu, pemberian makanan bayi, ikterus, pernapasan, hipoglikemi dan menghindari infeksi.
17

1. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas /BBLR. Bayi prematur dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermi karena pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik, metabolisme rendah dan permukaan badan relatif luas. Oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim , apabila tidak ada inkubator bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol berisi air panas sehingga panas badannya dapat dipertahankan. 2. Makanan bayi prematur. Alat pencernaan bayi belum sempurna, lambung kecil enzim peneernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal;/kgBB sehingga pertumbuhan dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului derngan menghisap cairan lambung , reflek masih lemah sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit dengan frekwensi yang lebih sering. ASI merupakan makanan yasng paling utama sehingga ASI-lah yang paling dahulu diberikan, bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diberikan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde. Permulaan cairan yang diberikan 50- 60 cc/kgBB/hari 3. Ikterus Semua bayi prematur menjadi ikterus karena sistem enzim hatinya belum matur dan bilirubin tidak dikonjugasikan secara efisien sampai 4-5 hari berlalu. Ikterus dapat diperberat oleh polisetemia, memar hemolisias dan infeksi karena hyperbilirubinemia. 4. Pernapasan Bayi prematur mungkin menderita penyakit membran hialin. Pada penyakit ini tanda-tanda gawat pernafasan selalu ada dalam 4 jam. Bayi haras dirawat terlentang atau tengkurap dalam incubator, dada abdomen harus dipaparkan untuk mengobserfasi pernapasan. 5. Hipoglikemi Mungkin paling timbul pada bayi prematur yang sakit bayi berberat badan lahir rendah, harus diantisipasi sebelum gejala timbul dengan pemeriksaan gula darah secara teratur. 6. Menghindari Infeksi
18

terus

dinaikan

sampai

mencapai

sekitar

200

cc/kgBB/hari.

Bayi prematuritas mudah sekali mengalami infeksi karena daya tahan tubuh masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan antibodi belum sempurna . Oleh karena itu tindakan prefentif sudah dilakukan sejak antenatal sehingga tidak terjadi persalinan dengan prematuritas (BBLR). VII. PROGNOSIS Prognosis bayi berat lahir rendah ini tergantung dari berat ringannya masalah perinatal misalnya masa gestasi ( makin muda masa gestasi / makin rendah berat bayi, makin tinggi angka kematian), asfiksia/iskemia otak , sindroma gangguan pernapasan , perdarahan intrafentrikuler , displasia bronkopulmonal, retrolental fibroplasia, infeksi, gangguan metabolik (asidosis, hipoglikemi, hiperbilirubinemia). Prognosis ini juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat kehamilan persalinan dan post natal (pengaturan suhu lingkungan, resusitasi, nutrisi, mencegah infeksi, mengatasi gangguan pernapasan, asfiksia hiperbilirubinemia, hipoglikemia dan lain lain).

19