Anda di halaman 1dari 2

Perbedaan Sistem hydroponik dan aeroponik pada budidaya kentang minitubers.

Kesimpulan Dua sistem budidaya yang berbeda, aeroponik dan hidroponik di rumah kaca, yang dibandingkan untuk produksi kentang minitubers. Tanaman dalam sistem aeroponik menunjukan meningkatkan pertumbuhan vegetatif, pembentukan umbi tertunda dan siklus vegetatif diperpanjang sekitar tuuh bulan setelah tanam. Oleh karena itu pada tahun 1999, dua siklus produksi diperoleh dengan sistem hidroponik, tetapi yang satu lagi dengan sistem aeroponik. Namun, dibandingkan dengan jumlah produksi hidroponik, hasil umbi per tanaman dalam sistem aeroponik hampir 70% lebih tinggi dan umbi jumlah nya lebih dari 2,5 kali lipat lebih tinggi. Rata-rata berat umbi berukuran sebesar 33% dalam sistem aeroponik. Keuntungan dan kemungkinan masalah dengan sistem aeroponik untuk produksi minitubers akan dibahas. Pendahuluan Produksi kentang sebagian besar didasarkan pada invitro planlet atau microtubers, dan pada produksi selanjutnya minitubers sebagai ex vitro generasi pertama (Ranali 1997). Minitubers dapat diproduksi setelah aklimatisasi planlet dari yang ditanam dengan kepedatan tinggi di rumah kaca (Wiersema et al. 1987). Atau dalam wadah (Jones 1998) menggunakan campuran substrat yang berbeda, atau bahkan dalam budidaya hidroponik (Muro at al. 1997). Lommen (1995) memperresentasikan teknik produksi alternatif untuk minitubers menggunakan kepadatan tanamana yang sangat tinggi dan non-destruktif, pemanenan berulang minitubers dengan mengangkat tanaman dengan hati-hati dari campuran tanah dan penanaman kembali setelah panen. Teknik yang memungkinkan minitubers dari ukuran ideal yang akan diproduksi, jumlah umbi-umbian bisa meningkat pesat, sementara total produksi berkurang. Di dalam teknik hortikultura modern, berbeda dengan teknik produksi tanah yang tidak menggunakan tanah seperti NFT dan aeroponik yang sudah dikembangkan. Teknik aeroponik merupaka teknik yang tidak meggunakan tanah dan perkembangan lingkungan dijaga di Rumah Kaca. Metode ini menjaga sitem perakaran dalam ruang terjaga dan memasok larutan air dan mineral dengan perangakt kabut. Teknik ini telah berhasil diterapkan untuk produksi hortikultura yang berbeda seperti selada, tomat, mentimun, dan tanaman hias seperti krisan atau poinsettia. Meskipun meningkatnya minat dalam metode yang tidak menggunakan tanah dalam produksi hortikultura komersial, sedikit informasi yang tersedia untuk kentang. Karya sebelumnya