Anda di halaman 1dari 150

MANUAL

Konstruksi dan Bangunan

No. 001 / BM / 2007

Pemeriksaan peralatan unit pencampur aspal panas (Asphalt Mixing Plant)

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

MANUAL
Konstruksi dan Bangunan

No. 001 / BM / 2007

Pemeriksaan peralatan unit pencampur aspal panas (Asphalt Mixing Plant)

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

Daftar gambar

Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9 Gambar 10 Gambar 11 Gambar 12 Gambar 13 Gambar 14 Gambar 15 Gambar 16 Gambar 17 Gambar 18 Gambar 19 Gambar 20 Gambar 21 Gambar 22 Gambar 23 Gambar 24 Gambar 25 Gambar 26 Gambar 27 Gambar 28 Gambar 29 Gambar 30 Gambar 31 Gambar 32 Gambar 33 Gambar 34 Gambar 35 Gambar 36 Gambar 37 Gambar 38 Gambar 39 Gambar 40 Gambar 41

Bin Dingin Dengan Dinding Penyekat .................................................... Pengisian Bin Dingin Memakai Wheel Loader ... Pintu Pengeluaran Agregat Dingin Sistem Pemeriksaan Kelayakan Tinggi Bukaan ........................................................................................ Pintu Pengeluaran Agregat Dingin Dengan Sensor Timbangan Berat .. Pengangkutan Agregat Dingin Ke Dryer ................................................ Penumpahan Agregat Dingin ke Dalam Dryer ... Penumpahan Agregat Dingin ke Dalam Dryer (Conveyor Dengan Pelindung) ......................................................... Alat Pengering (Dryer) Sudu-sudu (Lifting Flights) Dalam Ruang Pengering ............................. Penyembur Api (Burner) ........................................................................ Elevator Panas (Hot Elevator) ................................................................ Saringan Panas (Hot Screen) ................................................................ Tipikal Saringan Panas (Hot Screen) Dengan Pembagian Ruangan atau Compartment Dalam Bin Panas (Hot Bin) ..... Posisi Bin Panas (Hot Bin) dan Bin Penimbang (Weigh Bin) ................ Alat Timbangan Pada Bin Penimbang (Weigh Bin) ............................... Mekanisme Alat Penimbang Pada Bin Penimbang (Weigh Bin) ............ Pedal Dengan Pedal Tip Dari Twin Shaft Pugmill .................................. Mekanisme Pembukaan / Penutupan Pintu Pengeluaran dari Pugmill .. Elevator Bahan Pengisi (Filler) Dengan Penimbangnya ........................ Tangki Aspal Dengan Burner Pemanas Aspal ....................................... Pemanasan Aspal Dengan Pemanas Oli atau Oil Heater ...................... Alat Penimbang Aspal Panas ................................................................. Skema aliran pada pengumpul debu (dust collector) jenis basah atau wet type .................................................................................................. Pengumpul debu (dust collector) Jenis Basah (wet type) terpasang pada AMP Tipe Batch ............................................................................ Ruang Pengendali atau Ruang Kontrol (Control Room) ........................ Peralatan pencampur aspal panas tipe menerus (continuous type) Bagan alir pemeriksaan alat pencampur aspal panas ........................... Bagan alir menghidupkan alat pencapur aspal panas ........................... Bagan alir mematikan alat pencapur aspal panas ................................. Vibrating Feeder ..................................................................................... Belt Conveyor .. Bucket Elevator ...................................................................................... Dryer ...................................................................................................... Dust Collection Sistem ........................................................................... Vibrating Screen ..................................................................................... Weighing System ................................................................................... Mixer ...................................................................................................... Sistem Distribusi Asphalt ....................................................................... Fuel Distribution Sistem ......................................................................... Hot Oil Distribution Sistem ..................................................................... Sreew Feeder .........................................................................................

5 - 138 5 - 138 6 - 138 6 - 138 7 - 138 8 - 138 8 - 138 10 - 138 10 - 138 11 - 138 12 - 138 12 - 138 13 - 138 13 - 138 14 - 138 14 - 138 16 - 138 16 - 138 17 - 138 18 - 138 19 - 138 19 - 138 20 - 138 20 - 138 22 - 138 24 - 138 27 - 138 36 - 138 37 - 138 41 - 138 42 - 138 43 - 138 44 - 138 45 - 138 46 - 138 47 - 138 49 - 138 50 - 138 51 - 138 52 - 138 53 - 138

iii

Daftar isi Prakata ..... Daftar isi Daftar Gambar ........ Daftar Tabel ..... Pendahuluan 1. 2. 3. 4. Ruang lingkup ................ Acuan normatif................ Istilah dan definisi .......... Umum .. 4.1. Fungsi dan cara kerja peralatan pencampur aspal panas ... 4.1.1. Peralatan pencampur aspal panas tipe takaran (Batch type) 4.1.2. Peralatan pencampur aspal panas tipe menerus (Continus type) Pemeriksaan kelaikan operasi peralatan pencampur aspal panas ........................... 5.1. Tahap pemeriksaan ...................................................................................... 5.2. Formulir pemeriksaan ................................................................................... 5.3. Petunjuk pengisian formulir pemeriksaan tahap I dan tahap II ..................... 5.4. Petunjuk pengisian formulir pemeriksaan tahap III ....................................... Pengoperasian dan perawatan peralatan pencampur aspal panas . 6.1. Pengoperasian 6.1.1. Pemeriksaan kesiapan peralatan pencampur aspal panas (AMP).. 6.1.2. Pengoperasian tingkat persiapan .. 6.1.3. Pengoperasian (tahap operasi) .. 6.1.4. Pengoperasian tahap mixing .. 6.1.5. Penghentian operasi 6.1.6. Emergency . 6.1.7. Pengoperasian komponen-komponen utama .. 6.2. Perawatan peralatan pencampur aspal panas .. i ii iii iv v
1 - 138 1 - 138 1 - 138 4 - 138 4 - 138 4 - 138 22 - 138 25 - 138 25 - 138 27 - 138 27 - 138 28 - 138 33 - 138 33 - 138 34 - 138 38 - 138 38 - 138 39 - 138 39 - 138 40 - 138 41 - 138 53 - 138 58 - 138 62 - 138 85 - 138 107 -138 130 - 138 138 - 138

5.

6.

Lampiran A (normatif) : Penggolongan komponen berdasarkan fungsi dan kerja .... Lampiran B (normatif) : Formulir pemeriksaan tahap I ... Lampiran C (normatif) : Formulir pemeriksaan tahap II .. Lampiran D (normatif) : Formulir pemeriksaan tahap III . Lampiran E (normatif) : Mengatasi gangguan (trouble shoot) .......................................... Lampiran F (informatif) : Bibliografi ..

ii

Daftar tabel

Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11

Penggolongan tanda-tanda kerusakan berdasarkan fungsi dan kerja komponen peralatan pencampur aspal panas atau AMP ...................... Perawatan Dryer .................................................................................... Perawatan Burner Dryer Unit ................................................................. Perawatan Dust Collector ...................................................................... Perawatan Hot Elevator ......................................................................... Perawatan Vibrating Screen .................................................................. Perawatan Hot Bin Hopper .................................................................... Perawatan Weighing Scale .................................................................... Perawatan Asphalt Weighing & Discharging System Perawatan Mixer Unit ............................................................................. Perawatan Control System ....................................................................

32 - 138 53 - 138 54 - 138 54 - 138 54 - 138 55 - 138 55 - 138 55 - 138 56 - 138 56 - 138 57 - 138

iv

Pemeriksaan peralatan unit pencampur aspal panas (asphalt mixing plant)

1.

Ruang lingkup

Manual ini menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan peralatan unit pencampur aspal panas serta uraian fungsi dan cara kerja bagian-bagian atau komponen-komponen utamanya, pemeriksaan teknis kondisi dari bagian-bagian atau komponen-komponen utamanya guna mengetahui kondisi peralatan secara umum sebagai upaya dalam pelaksanaan pemeliharaan untuk menjaga agar peralatan selalu dalam kondisi baik dan laik operasi untuk menghasilkan produk yang memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan.

2.

Acuan normatif

AASTHO Materials, Part I Specification, 13th Edition, 1982. AASTHO Materials, Part II Test, 13th Edition, 1982. AASTHO Designation = M 156 89 (ASTM Designation = D 995 91), Standard Specification For Requirement For Mixing Plants For Hot Mixed, Hot Laid Bituminous Paving Mixtures. Pedoman pemeriksaan peralatan unit produksi campuran beraspal Dep. No : Pd.032005-B. Spesifikasi umum bidang Jalan Dan Jembatan.

3.

Istilah dan definisi

3.1 amp merupakan seperangkat peralatan yang menghasilkan produk berupa campuran aspal panas. AMP singkatan dari Asphalt Mixing Plant 3.2 apron pemasok agregat dari bin dingin dengan menggunakan rantai sebagai alat penggerak dan pemasok 3.3 ban berjalan pemasok agregat dari bin dingin dengan menggunakan ban berjalan (belt conveyor)

1 dari 138

3.4 bin dingin (cold bin) penampung beberapa fraksi agregat dingin 3.5 bin panas (hot bin) penampung beberapa fraksi agregat panas 3.6 campuran beraspal panas campuran yang terdiri dari kombinasi agregat yang dicampur dengan aspal. Pencampuran dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan agregat terselimuti aspal dengan seragam. Untuk mengeringkan agregat dan memperoleh kekentalan aspal yang mencukupi dalam mencampur dan mengerjakannya, maka kedua-duanya harus dipanaskan masing-masing pada temperatur tertentu 3.7 corong tuang (hopper) corong tuang untuk menimbang agregat panas 3.8 elevator dingin (cold elevator) mangkok berjalan pemasok agregat dingin 3.9 elevator panas (hot elevator) mangkok berjalan pemasok agregat panas 3.10 pemasok (feeder) unit pemasok agregat dari bin dingin ke alat pengering 3.11 penampung bahan pengisi (filler storage) bak yang digunakan untuk menampung bahan pengisi 3.12 pencampur (pugmill) pengaduk campuran agregat dan aspal dalam keadaan panas 3.13 pengapian (burner) alat yang digunakan untuk memanaskan dan mengeringkan agregat pada pengering 3.14 pengatur udara (air lock damper) alat pengatur udara yang berfungsi untuk mengatur udara saat pengapian

2 dari 138

3.15 pengatur waktu (timer) alat untuk mengatur lama pencampuran kering dan basah campuran beraspal dalam alat pencampur 3.16 pengering (dryer) drum untuk pengering agregat 3.17 penggetar alat yang dapat bergetar yang ditempatkan dekat pintu bukaan bin dingin dan saringan panas 3.18 pengumpul debu (dust collector) unit pengumpul debu dari pengeringan agregat 3.19 pintu bukaan bin dingin (cold bin gate) pintu bukaan untuk mengeluarkan agregat dari bin dingin 3.20 saringan (screen) ayakan untuk butiran agregat sesuai dengan kelompok ukuran (fraksi) masing-masing 3.21 saringan panas (hot screen) unit saringan agregat panas 3.22 weigh batcher bak penampung sebagai alat penimbang jumlah agregat panas 3.23 sudu-sudu (flights cup) potongan besi di dalam drum pengering yang terpasang pada dinding pengering dengan susunan tertentu 3.24 thermostat alat pengatur temperatur yang tidak menggunakan air raksa 3.25 timbangan alat untuk menimbang agregat panas, filer dan aspal panas 3.26 unit pengontrol aspal (asphalt control unit) alat yang terletak pada tangki timbangan aspal untuk mengontrol pemasokan aspal ke alat pencampur (pugmill)

3 dari 138

4.

Umum

4.1. Fungsi dan cara kerja peralatan unit pencampur aspal panas 4.1.1. Peralatan unit pencampur aspal panas tipe takaran (batch tipe) Pada tipe takaran atau batch tipe maka proses pencampurannya dilaksanakan tiap kali sesuai jumlah besaran takaran (batch type). Pencampuran agregat panas dengan aspal panas pada peralatan pencampur aspal panas (AMP) tipe batch terjadi di dalam pencampur atau pugmill setelah sejumlah agregat panas yang terdiri dari beberapa fraksi ataupun hanya satu fraksi yang sudah ditimbang dalam jumlah berat tertentu dituangkan ke dalam pugmill kemudian disemprotkan aspal panas ke dalamnya dalam jumlah tertentu sesuai formula yang direncanakan. Komponen utama yang penting pada peralatan pencampur aspal panas (AMP) jenis takaran (tipe batch) adalah : 1. Bin dingin (Cold Bin) Bin dingin atau Cold Bin ini adalah bak tempat menampung material agregat dari tiap-tiap fraksi mulai dari agregat halus sampai agregat kasar yang diperlukan dalam memproduksi campuran aspal panas atau hotmix tiap-tiap fraksi agregat ditampung dalam masing-masing bak sendiri-sendiri. Maksudnya adalah agar banyaknya agregat dari masing-masing fraksi yang diperlukan untuk produksi campuran aspal panas sesuai formula campuran kerja (Job Mix Formula) yang direncanakan sudah dapat diatur pada saat pengeluarannya dari bin dingin. Bin dingin ini berbentuk tirus dengan permukaan pengisian di sebelah atas lebih lebar dibanding permukaan pengeluaran di bagian bawahnya. Pemeriksaan kelayakan di bagian ini menyangkut : a) Penyetelan bukaan pintu pengeluaran agregat dingin untuk memperoleh agregat dingin sejumlah tertentu sesuai yang sudah direncanakan dalam satu satuan waktu. Contoh : Untuk memproduksi satu jenis campuran aspal panas sejumlah 30 ton per jam, dengan campuran yang terdiri dari agregat kasar sebesar 60% dan agregat halus sebesar 35%, maka kebutuhan agregat kasarnya adalah sebesar 60% x 30 ton per jam = 18 ton per jam. Untuk contoh di atas ini maka perlu diperiksa atau dipemeriksaan kelayakan besar bukaan pintu bin agregat kasar pada kecepatan ban berjalan yang sudah disetel sebelumnya. Apabila pada satu kedudukan pintu bukaan sudah diukur jumlah agregat yang keluar dari pintu tersebut sama dengan yang diperlukan per jamnya, maka beri tanda pada pintu dan pada dinding bukaan bin yang menunjukkan bahwa pada penunjuk tersebut jumlah agregat yang keluar adalah 18 ton per jamnya. Demikian juga untuk bin dari agregat dingin lainnya (pada contoh ini agregat halus). b) Penyetelan kecepatan putaran motor listrik penggerak conveyor agregat. Biasanya terdapat pada peralatan pencampur aspal panas (AMP) dengan sistem kendali otomatis. Jadi banyak atau sedikitnya agregat yang keluar dari bin dan dibawa conveyor diatur dengan perubahan kecepatan putaran motor listrik penggerak conveyor. Pintu bukaan pengeluaran tidak dirubah. 4 dari 138

Gambar 1. Bin Dingin Dengan Dinding Penyekat

Gambar 2. Pengisian Bin Dingin Memakai Wheel Loader

5 dari 138

Gambar 3. Pintu Pengeluaran Agregat Dingin Sistem Pemeriksaan kelayakan Tinggi Bukaan

Gambar 4. Pintu Pengeluaran Agregat Dingin Dengan Sensor Timbangan Berat 2. Pengangkut agregat dingin Agregat dingin dari beberapa fraksi yang sudah ditampung pada ban berjalan kolektor (Collecting Belt Conveyor) selanjutnya dibawa untuk dituangkan ke dalam alat pengering atau dryer dengan cara dibawa oleh ban berjalan (belt conveyor) lainnya, atau dengan cara dibawa oleh elevator dingin (cold elevator). Elevator dingin atau cold elevator ini berupa mangkok-mangkok atau bucket-bucket kecil yag dipasang pada rantai yang berputar naik ke atas, di mana setelah sampai di atas agregat dingin yang berada dalam mangkok-mangkok tersebut akan tumpah dan masuk ke dalam alat pengering (dryer).

6 dari 138

Pengaliran agregat dingin dari bin dingin menuju ke dalam alat pengering atau dryer berjalan dalam udara terbuka. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan terjadinya penguapan air di dalam agregat dingin sehingga akan menurunkan kadar airnya. Kelancaran aliran agregat dingin akan memberikan pengaruh dalam produksi campuran panasnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah tercampurnya fraksi agregat yang berbeda di dalam bin dingin karena tidak ada pembatas antara pada mulut (bagian atas) bin dingin yang satu dengan yang lainnya, disamping itu kapasitas ban berjalan dan atau elevator dingin (cold elevator) harus cukup untuk membawa sejumlah agregat dingin setiap jamnya disesuaikan dengan rencana produksi yang sudah ditentukan (misalnya 30 TPH atau 50 TPH atau lainnya).

Gambar 5. Pengangkutan Agregat Dingin Ke Dryer

7 dari 138

Gambar 6. Penumpahan Agregat Dingin Ke Dalam Dryer

Gambar 7. Penumpahan Agregat Dingin Ke Dalam Dryer (Conveyor Dengan Pelindung)

8 dari 138

3. Pengering (Dryer) Pengering ini berbentuk silinder dengan panjang dan diameter tertentu berdasarkan kapasitas maksimum produksi yang direncanakan per jamnya. Peletakan silinder pengering di atas 2 (dua) pasang bantalan rol putar, serta silinder pengering ini dalam proses pengeringan agregatnya bergerak berputar, melalui roda gigi sekeliling silinder yang dihubungkan dengan motor listrik. Di bagian dalam dinding silinder pengering ini dilas sudu-sudu yang terbuat dari pelat baja cekung atau biasa disebut lifting flights. Sudu-sudu ini ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat mengangkat agregat yang sedang dikeringkan ke atas dan sekaligus menjatuhkannya sehingga agregat yang jatuh tersebut dapat membentuk tirai. Pemanasan agregat di dalam silinder pengering (dryer) dilaksanakan dengan memakai alat penyembur api atau burner yang ditempatkan di muka ujung silinder pengering (dryer) tempat agregat panas keluar. Dengan tekanan yang cukup tinggi solar disemprotkan melalui nozzle pada burner ke dalam silinder pengering. Untuk kesempurnaan pengapian serta untuk mengatur jauh dekatnya semburan api dari burner tersebut, diperlukan tambahan tekanan udara yang diperoleh dari blower yang dipasang menyatu dengan burner. Penambahan tekanan solar serta tekanan angin dari blower tersebut akan menambahkan jumlah bahan bakar yang dikonsumsi dan jelas akan menambah kalori yang dihasilkan, serta menambah jauh jangkauan semburan apinya, sehingga dapat menambah panas agregat dan mempercepat penurunan kadar air agregat. Penyetelan api dari penyembur api atau burner ini tidak diperbolehkan terlalu tinggi sebab akan mempengaruhi karakteristik dari agregatnya, yaitu agregat menjadi rapuh dan pecah karena terlalu panas. Untuk melindungi panas dari api pada penyembur api (burner) ini, maka disekeliling nozzle dipasang dinding pelindung yang terbuat dari batu tahan api. Bentuk tirai dari agregat yang jatuh tersebut memberikan efisiensi dalam pemanasan dan pengeringan agregat secara merata. Alat pengering atau dryer ditempatkan dengan posisi miring, untuk memberikan kesempatan kepada agregat dingin yang dituangkan ke dalam pengering (dryer) dari ujung yang satu (yang letaknya lebih tinggi), dapat keluar lagi dari ujung yang lainnya (yang letaknya lebih rendah) setelah melalui proses pemanasan dan pengeringan selama waktu tertentu. Besar sudut kemiringan letak silinder pengering ini sudah ditentukan oleh pabrik berdasarkan rencana desain kapasitas produksi dan rencana desain mutu produksi yang ingin dihasilkan. Makin besar sudut kemiringan (lebih besar dari sudut kemiringan yang telah ditentukan pabrik), akan mengakibatkan agregat yang masuk akan cepat keluar lagi, sehingga agregat dingin mengalami pemanasan yang pendek. Akibatnya adalah agregat yang keluar temperaturnya masih rendah serta kadar airnya masih cukup tinggi. Sebaliknya apabila kemiringannya lebih rendah, maka agregat terlalu lama dalam silinder yang berakibat temperatur agregat terlalu tinggi, namun kapasitas per jamnya rendah, sehingga silinder akan cepat penuh diisi agregat dingin.

9 dari 138

Kemiringan silinder pengering atau dryer rata-rata berkisar antara 30 sampai 50. Kapasitas temperatur alat pengering dryer adalah sampai Temperatur 1000C, agregat hasil pengeringan tidak boleh fluktuasi 1750C (+ 50C) dari temperatur pengeringnya yang ditargetkan.

Gambar 8. Alat Pengering (Dryer)

Gambar 9. Sudu-sudu (Lifting Flights) Dalam Ruang Pengering .

10 dari 138

Gambar 10. Penyembur Api (Burner) 4. Elevator panas (Hot Elevator) Elevator panas atau hot elevator berfungsi sebagai pembawa agregat panas yang keluar dari silinder pengering atau dryer ke saringan (ayakan) panas atau hot screening unit untuk dipilah-pilah sesuai ukuran fraksi masing-masing. Elevator panas ini berupa mangkok-mangkok atau bucket-bucket kecil yang dipasang pada rantai yang berputar naik ke atas, di mana setelah sampai di atas agregat panas yang berada dalam mangkok-mangkok kecil tadi ditumpahkan ke atas ayakan panas untuk dipisah-pisah sesuai ukuran fraksinya. Elevator panas ini mempunyai penutup (rumah pelindung) yang berfungsi sebagai pelindung terhadap kehilangan panas dari agregat panas yang dibawanya sekaligus menjaga debudebu.

11 dari 138

Gambar 11. Elevator Panas (Hot Elevator)

Gambar 12. Saringan Panas (Hot Screen) 5. Bin panas (Hot Bin) Bin panas atau hot bin adalah tempat penampungan agregat panas setelah lolos dari saringan panas. Agregat panas yang lolos dari saringan panas tersebut masingmasing fraksinya akan mengisi ruangan sendiri-sendiri yang sudah terpisah di dalam

12 dari 138

bin panas. Jadi di dalam bin panas ini ada dinding-dinding pemisah yang memisahkan tiap fraksi agregat panas. Pada umumnya untuk peralatan pencampur aspal panas (AMP) tipe takaran atau batch tipe bin panasnya terbagi menjadi 4 ruangan terpisah masing-masing diperuntukkan penampungan masing-masing fraksi agregat sendiri-sendiri hasil dari penyaringan. Kapasitas masing-masing ruangan (compartment) disesuaikan dengan persentase komposisi campuran agregat dalam campuran aspal panasnya, dikaitkan dengan kapasitas produksi peralatan pencampur aspal panas (AMP).

Gambar 13.

Tipikal Saringan Panas (Hot Screen) Dengan Pembagian Ruangan atau Compartment Dalam Bin Panas (Hot Bin)

Gambar 14. Posisi Bin Panas (Hot Bin) dan Bin Penimbang (Weigh Bin)

13 dari 138

6. Bin penimbang (Weigh Bin) Bin penimbang atau weigh bin adalah bin tempat menampung sekaligus menimbang agregat dari setiap fraksi agregat yang dibutuhkan untuk tiap kali pencampuran atau batch sebelum dioperasikan bin penimbang harus dipemeriksaan kelayakan oleh jawatan meteorologi yang dibuktikan dengan sertifikat pemeriksaan kelayakan. Di bagian bawah bin terdapat pintu pengeluaran yang bisa dibuka dan ditutup secara manual atau secara otomatis. Pintu pengeluaran ini akan dibuka untuk mengeluarkan agregat panas yang ditampung di dalamnya setelah pencampur atau pugmill kosong (campuran yang diproses sebelumnya telah dikeluarkan).

Gambar 15. Alat Timbangan Pada Bin Penimbang (Weigh Bin)

Gambar 16. Mekanisme Alat Penimbang Pada Bin Penimbang (Weigh Bin)

14 dari 138

7. Pencampur (Pugmill) Di dalam pencampur atau pugmill ini semua material (dalam keadaan panas) yaitu agregat dan aspal dicampur untuk menghasilkan produk berupa campuran aspal panas atau hotmix. Semua material dalam keadaan panas dicampur (diaduk) di dalam pugmill dengan memakai lengan-lengan pengaduk atau pedal-pedal (paddle) dengan paddle tip di ujungnya yang dipasang pada 2 poros berputar berlawanan arah (twin shaft). Poros tersebut diputar oleh motor listrik. Untuk dapat menghasilkan campuran yang baik, pedal dengan tipnya harus dalam keadaan baik, serta ruang bebas (clearance) antara ujung tip dengan dinding tidak lebih dari 1,5 kali ukuran agregat yang paling besar, atau tidak lebih besar dari 2 cm, kecuali apabila ukuran nominal maksimum agregat yang digunakan lebih besar dari 25 cm. Proses pencampuran dapat dibagi menjadi 2 jenis pencampuran, yaitu pencampuran kering dan pencampuran basah. Pencampuran kering dimaksud adalah pengadukan agregat dari berbagai fraksi yang dituangkan dari weigh bin. Pencampuran basah adalah pengadukan selama (setelah) dicampur dengan panas aspal. Waktu pengadukan pada umumnya tidak terlalu lama, 45 detik. Waktu pengadukan apabila terlalu cepat akan mengakibatkan pencampuran kurang sempurna, permukaan agregat ada yang tidak terselimuti aspal. Sedangkan apabila terlalu lama akan mengakibatkan penurunan temperatur campuran aspal panasnya disamping itu juga penurunan kapasitas produksinya. Bisa juga berakibat segregasi karena campuran butiran halusnya akan terkumpul pada bagian dasar pugmill. Hasil pencampuran berupa campuran aspal panas dari pugmill langsung dituangkan ke atas bak truck pengangkut. Temperatur dari agregat panas yang berada di dalam pugmill harus sekitar 1750C. Kondisi ini diperlukan untuk dapat memperoleh temperatur campuran beraspal panas (hotmix) 1500C, maksimum 1650C. Temperatur agregat panas tidak boleh terlalu tinggi untuk mencegah aspal yang disemprotkan ke atas agregat terbakar. Untuk pembuatan campuran aspal panas pada umumnya diperlukan juga tambahan bahan pengisi atau filler. Bahan pengisi ini tidak dipanaskan (temperatur udara luar).

15 dari 138

Gambar 17. Pedal Dengan Pedal Tip Dari Twin Shaft Pugmill

Gambar 18. Mekanisme Pembukaan/ Penutupan Pintu Pengeluaran dari Pugmill

8. Bahan pengisi atau filler Bahan pengisi atau filler dituangkan ke dalam pencampur atau pugmill melalui 2 cara, yaitu melalui penimbangan bersama-sama agregat panas di dalam weigh bin atau ditimbang sendiri dan langsung dituangkan ke dalam pencampuran atau pugmill. Penuangan filler bisa secara mekanis, yaitu dialirkan memakai semacam ulir atau auger, atau secara pneumatik, yaitu dipompakan. Yang harus diperhatikan pada filler ini adalah jumlah filler yang dituangkan untuk tiap kali pengadukan atau batch. Terlalu banyak filler atau melebihi yang diperlukan akan

16 dari 138

menyebabkan campuran beraspal panasnya menjadi kaku, getas dan mudah retak. Sedangkan apabila kurang terjadi sebaliknya.

Gambar 19. Elevator Bahan Pengisi (Filler) Dengan Penimbangnya 9. Pemasok aspal Aspal yang diperlukan untuk pencampuran disimpan di dalam bak penampung, bisa berbentuk bak kubikal atau bisa juga berbentuk silinder. Aspal yang disimpan di dalam bak penampung aspal dipanaskan untuk memperoleh tingkat keenceran yang cukup guna kemudahan dalam penyemprotan serta bentuk butiran-butiran aspal yang disemprotkan. Temperatur aspal dalam pemanasan maksimum 1700C untuk aspal polimer atau aspal modifikasi, 1600C untuk aspal keras pen 60 agar temperatur aspal panas disemprotkan ke atas agregat panas dalam pugmill masih dapat mencapai sekitar 1450C 1500C tergantung jenis aspal. Pada umumnya untuk mencegah penurunan temperatur aspal maka pipa-pipa penyalur ke arah penyemprot dibalut bahan penahan panas. Pamanasan aspal dalam penampung dapat dilaksanakan dengan 2 cara, yaitu : Pemanasan langsung, yaitu panas dari api pemanas atau burner dialirkan ke dalam pipa yang melingkar-lingkar di dalam bak penampung di mana aspalnya tersimpan, sehingga aspal tersebut bersentuhan langsung dengan pipa-pipa yang panas tersebut.

17 dari 138

Pemanasan tidak langsung, yaitu pemanasan yang terjadi karena aspal yang bersentuhan dengan dinding-dinding pipa panas yang dialiri minyak (oli) panas yang sudah dipanaskan terlebih dahulu di tempat pemanasan minyak tersendiri.

Aspal panas disemprotkan ke atas agregat panas pada temperatur 1450C sampai 1500C dengan memakai pompa aspal bertekanan cukup tinggi agar dapat membentuk semprotan aspal yang baik. Pada penyemprotan aspal ini dipasang alat penimbang jumlah aspal yang disemprotkan untuk tiap kali pencampuran (batch) serta alat pengukur temperatur aspal.

Gambar 20. Tangki Aspal Dengan Burner Pemanas Aspal

18 dari 138

a) Gambar 21. Pemanasan Aspal Dengan Pemanas Oli atau Oil Heater

b)

Gambar 22. Alat Penimbang Aspal Panas 10. Pengumpul debu atau dust collector Pengumpul debu atau dust collector ini merupakan komponen yang selalu harus ada untuk menjaga kebersihan udara dan lingkungan dari debu-debu halus yang ditimbulkan selama proses AMP berjalan.

19 dari 138

Ada 2 jenis pengumpul debu atau dust collector, yaitu : a) Jenis kering atau dry cyclone, dimana debu-debu dari buangan silinder pengering atau dryer dihisap ke dalam silo cyclone dan diputar sehingga partikel yang berat akan turun ke bawah sedangkan udara yang sudah tidak mengandung partikel debu lagi akan dikeluarkan melalui cerobong. Partikel yang berat tersebut sering dipakai sebagai filler juga. b) Jenis basah atau wet scruber, dimana pada jenis ini debu-debu yang terbawa udara buangan dari dryer dialirkan ke dalam suatu bak atau ruangan dan disemprot air, sehingga partikel-partikel debunya akan terbawa air turun dan ditampung dalam bak-bak penampung. Udara yang keluar sudah bersih dari debu-debu dan keluar melalui cerobong asap.

Gambar 23. Skema aliran pada pengumpul debu (dust collector) jenis basah atau wet type

Gambar 24. Pengumpul debu (dust collector) Jenis Basah (wet type) terpasang pada AMP Tipe Batch

20 dari 138

11.Tenaga penggerak Untuk menjalankan semua bagian-bagian atau komponen-komponen AMP sumber tenaga utamanya adalah generator set atau gen set. Pada umumnya genset ini diputar oleh mesin diesel. Kekuatan atau kapasitas genset ini harus cukup untuk melayani kebutuhan motormotor listrik yang dipakai serta peralatan-peralatan lain yang memakai tenaga listrik dan untuk penerangan. Semua sambungan-sambungan aliran listrik harus tertutup untuk mencegah arus pendek serta untuk keamanan lingkungan.

12. Ruang pengendali pengontrol atau ruang pengontrol (control room) Seluruh kegiatan operasi unit peralatan pencampur aspal panas (AMP) dikendalikan dari ruang pengontrol atau control room ini. Ada 3 cara pengendalian operasi yang dikenal; yaitu cara manual, cara semi otomatis dan cara otomatis. Pada pengendalian operasi cara manual, pengaturan/pengoperasian komponen atau bagian-bagian peralatan pencampur aspal panas (AMP) dilakukan dengan mengatur sakelar atau tombol mengunakan tangan. Yaitu pengaturan pemasokan agregat, aspal, pembakaran pada burner, penimbangan, pencampuran serta pengeluaran campuran dari pencampur atau pugmill. Pengendalian secara semi otomatis, beberapa pengaturan pembukaan dan penimbangan masih dikontrol secara manual, termasuk bukaan pintu pengeluaran pugmill. Pengendalian operasi secara otomatis, maka semua operasinya sudah diatur secara otomatis dengan sistem komputerisasi, termasuk kontrol apabila ada kesalahankesalahan atau ketidakcocokan dan ketidaklancaran operasi dari satu atau beberapa bagian kegiatan/ operasi, misalnya temperatur agregat panas rendah maka terkontrol pada burnernya, misalnya ditingkatkan pemanasannya. Pada pengendalian operasi secara otomatis harus lebih teliti pengamatan alat-alat ukurnya serta hubungan-hubungan sirkuit dari peralatan pencampur aspal panas (AMP) ke ruang pengendalian, karena besaran-besaran yang sudah diprogram bisa saja bersalahan akibat sirkuit yang terganggu, sehingga kemungkinan produk akhir berada di luar spesifikasi yang sudah dirancang atau diformulasikan sebelumnya.

21 dari 138

a)

b) Gambar 25. Ruang Pengendali atau Ruang Kontrol (Control Room) 4.1.2. Peralatan unit pencampur aspal panas tipe menerus (continuous type) Pada tipe menerus (continuous type) baik type drum mix maupun pugmill mix proses pencampuran agregat panas dengan aspal panas terjadi terus menerus. Pada type drum mix aspal panasnya disemprotkan ke atas agregat panas di dalam alat pengering di bagian ujung dekat sebelum pengeluaran. Sedangkan pemanas agregat (burner) ditempatkan di bagian ujung pemasukan agregat dingin.

22 dari 138

Pada type pugmill mix pencampuran agregat panas dengan aspal terjadi di dalam pugmill, dimana terjadi terus menerus pengadukan agregat panas dari beberapa fraksi atau hanya satu fraksi dengan aspal panas yang disemprotkan ke atas campuran agregat tersebut secara terus menerus juga. secara umum komponen-komponen utama yang penting pada peralatan pencampur aspal panas (AMP) tipe ini sama dengan pada AMP tipe batch, perbedaannya terletak pada proses pencampuran agregat panas dengan aspal panasnya, meskipun terjadi di dalam pugmill namun prosesnya terjadi terus menerus (pada tipe batch terjadi per batch), pengaliran agregat panas untuk tiap fraksinya terjadi terus menerus. Pengaturan jumlah tiap fraksi agregat panas per jam diatur menurut besar kecilnya bukaan pintu pengeluaran yang terdapat pada bin panas. Jadi pada AMP tipe menerus yang ini tidak ada bin penimbang atau weigh bin

23 dari 138

Gambar 26. peralatan pencampur aspal panas tipe menerus (continuous type)

24 dari 138

5.
5.1.

Pemeriksaan kelaikan operasi peralatan pencampur aspal panas


Tahap pemeriksaan

Pemeriksaan teknis peralatan dan pemeriksaan/ pengujian peralatan untuk pelaksanaan pemeriksaan kelayakan dan pemeriksaan kelaikan operasi peralatan pencampur aspal panas (AMP) dilakukan secara bertahap, yaitu melalui 3 (tiga) tahapan pemeriksaan dan pengujian sebagai berikut : 1) Pemeriksaan tahap I Pada pemeriksaan tahap I ini, pemeriksaan dilaksanakan terhadap kondisi teknis semua bagian atau komponen peralatan pencampur aspal panas (AMP), dimana peralatannya dalam keadaan tidak dihidupkan. Kondisi teknis dimaksud antara lain misalnya dinding hot elevator ada yang keropos, sobek atau berlubang, aus, patah, dial timbangan kacanya pecah, ada bagian yang tidak lengkap misalnya bucket elevator ada yang tidak terpasang atau sama sekali tidak ada, serta kerusakan-kerusakan lain sejenisnya. Apabila pada pemeriksaan tahap I masih terdapat kerusakan pada bagian atau komponennya, maka kerusakan tersebut harus segera diatasi (diperbaiki) sampai baik agar pemeriksaan bisa dilanjutkan ke pemeriksaan tahap II. Kondisi peralatan pencampur aspal panas secara umum dinyatakan baik (pada kesimpulan pemeriksaan peralatan pencampur aspal panas kondisi tidak dihidupkan) apabila hasil pemeriksaan pada semua komponen yang diperiksa telah dinyatakan hasilnya semua baik. 2) Pemeriksaan tahap II Pemeriksaan tahap II dilaksanakan dalam keadaan peralatan dihidupkan, artinya semua bagian atau komponen yang bergerak atau bisa digerakkan apabila mesin penggerak dihidupkan dapat diperiksa atau diuji pergerakannya misalnya pintu pengeluaran pada pugmill, penutup pintu pada cold bin. Komponen-komponen yang bergerak atau hidup tersebut diperiksa apakah pergerakannya baik dan lancar (normal) atau tidak lancar (tidak normal), misalnya putaran rantai pada hot elevator. Ada kemungkinan juga sama sekali tidak bisa dihidupkan atau tidak bisa digerakan. Pemeriksaan tahap II ini dilaksanakan apabila pada pemeriksaan tahap I peralatan pencampur aspal panas tersebut telah dinyatakan kondisinya baik dan boleh dilanjutkan untuk pemeriksaan tahap II. Pada pemeriksaan tahap II ini peralatan pencampur aspal panas (AMP) dihidupkan sesuai dengan fungsinya. Apabila pada pemeriksaan tahap II terdapat bagian atau komponen yang tidak bisa dihidupkan atau digerakkan atau hidupnya/ gerakannya tidak lancar karena ada sesuatu yang tidak baik atau rusak, maka bagian atau komponen yang bersangkutan harus segera diperbaiki sampai bagian atau komponen tersebut bisa dihidupkan/ digerakkan dan difungsikan sebagaimana mestinya. Contohnya ban

25 dari 138

berjalan atau conveyor untuk agregat dingin tidak bisa berjalan karena rollnya tidak bisa diputar, dan kerusakan lain sejenisnya. Apabila semua komponen yang telah diperiksa telah dinyatakan baik/ lancar dan semua sumber daya cukup, maka pada kesimpulan pemeriksaan peralatan pencampur aspal panas (AMP) kondisi dihidupkan dapat disimpulkan cukup. 3) Pemeriksaan tahap III Pemeriksaan tahap III dilaksanakan setelah pada pemeriksaan tahap II peralatan pencampur aspal panas atau AMP tersebut dinyatakan kondisinya baik dan dapat dilanjutkan untuk pemeriksaan tahap III, yaitu pemeriksaan kelayakan dan pemeriksaan kelaikan operasi untuk dapat menghasilkan produk sesuai fungsi peralatan pencampur aspal panas tersebut, yaitu campuran aspal panas (hot mix) yang memenuhi mutu/ spesifikasi yang disyaratkan. Pada pemeriksaan tahap III ini peralatan pencampur aspal panas (AMP) dihidupkan/ dioperasikan sesuai dengan fungsinya yaitu memproduksi campuran aspal panas. Peralatan pencampur aspal panas tersebut diberi beban muatan material (agregat) yang dipanaskan/ dikeringkan (di dalam dryer) dalam jumlah yang cukup (sesuai kapasitas per jamnya untuk pelaksanaan pengujian pemeriksaan kelayakan), selanjutnya ditambah dengan material lain yaitu filler (apabila diperlukan) kemudian dicampur dengan aspal panas di dalam komponen pencampur (pugmill). Pemeriksaan dan pengujian dilaksanakan pada peralatan pencampur aspal panas atau AMP, meliputi antara lain pengaturan bin dingin untuk mengalirkan agregat dingin untuk dikeringkan, kemampuan dryer untuk memanaskan agregat sampai mencapai temperatur yang diijinkan, mengukur temperatur hasil campuran, mengukur jarak pedal tip dengan dinding bagian dalam dari pugmill, waktu pencampuran (Mixing), temperatur aspal panas, keausan screen (saringan). Apabila hasil pemeriksaan, pengukuran serta pengujian pada pemeriksaan tahap III ini baik, artinya memenuhi ketentuan-ketentuan persyaratan mutu/ spesifikasi yang diizinkan, maka peralatan pencampur aspal panas tersebut dapat dinyatakan laik operasi. Sedangkan apabila masih ada yang belum memenuhi persyaratan maka harus segera diatasi dengan mencari kemungkinan-kemungkinan penyebabnya, dan segera dilaksanakan perbaikan/ penggantian komponen yang rusak, misalnya pedal tip, screen (Wire Net). Sebagai kesimpulan akhir pada pemeriksaan tahap III ini, maka penilaian hasil pengujian operasi peralatan pencampur panas dapat dinyatakan laik apabila kesimpulan pemeriksaan semua komponen yang diperiksa dan diuji telah menyatakan laik operasi. Pemeriksaan kembali ke tahap II apabila pada pemeriksaan tahap III masih ada yang belum memenuhi persyaratan, termasuk terjadinya kemacetan atau kerusakan komponen, pemeriksaan dilakukan terhadap komponen yang rusak dan tidak seluruh pemeriksaan pada tahap II.

26 dari 138

PEMERIKSAAN TAHAP I

HA SIL
TIDAK BAIK

BAIK

PEMERIKSAAN TAHAP II

HA SIL
TIDAK BAIK

BAIK

PEMERIKSAAN TAHAP III

- DIPERBAIKI - DIGANTI

- DIPERBAIKI - DIGANTI - DIATUR / DISETEL

TIDAK BAIK

HA SIL
BAIK

PERALATAN LAIK OPERASI

Gambar 27. Bagan alir pemeriksaan alat pencampur aspal panas 5.2. Formulir pemeriksaan Pada pelaksanaan pemeriksaan kelayakan dan pemeriksaan kelaikan operasi peralatan pencampur aspal panas digunakan formulir-formulir sebagai berikut : 1) Formulir pemeriksaan tahap I, pemeriksaan teknis komponen peralatan pencampur aspal panas (AMP). Kondisi tidak dihidupkan. (lihat lampiran B Formulir pemeriksaan tahap I). Formulir pemeriksaan tahap II. pemeriksaan teknis komponen peralatan pencampur aspal panas (AMP) kondisi dihidupkan. (lihat lampiran C Formulir pemeriksaan tahap II). Formulir pemeriksaan tahap III. pemeriksaan kelayakan dan pemeriksaan kelaikan operasi peralatan pencampur aspal panas (AMP) kondisi produksi. (lihat lampiran D Formulir pemeriksaan tahap III).

2)

3)

5.3. Petunjuk pengisian formulir pemeriksaan tahap I dan tahap II 1) Pengisian secara umum Lokasi diisi nama jalan (jika ada) dan atau wilayah administratif lengkap (Desa/ Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) dimana lokasi peralatan pencampur aspal panas (AMP) yang diuji dan diperiksa kelaikannya berada. Merk/ Type diisi nama merek dagang dan type peralatan pencampur aspal panas (AMP) yang diuji dan diperiksa kelaikannya.

27 dari 138

Tahun Pembuatan diisi tahun pembuatan peralatan pencampur aspal panas atau AMP yang diuji dan diperiksa kelaikannya. Jenis dipilih jenis peralatan pencampur aspal panas (AMP) yang diuji dan diperiksa kelaikannya (coret yang tidak perlu). Pejabat berwenang diisi nama perorangan dan atau badan usaha yang berkepentingan terhadap pemeriksaan kelayakan peralatan pencampur aspal panas (AMP) yang diuji dan diperiksa kelaikannya. Tanggal pemeriksaan diisi tanggal pada waktu peralatan dilakukan pemeriksaan dan pemeriksaan kelayakan. Keterangan diisi oleh petugas pemeriksa/ pemeriksaan kelayakan diantaranya : keadaan dan uraian aktual kerusakan alat (mesin) dilapangan, nama bagian yang rusak, tanda-tanda penyebab kerusakan, cara mengatasi, catatan lain yang dianggap perlu dan berhubungan dengan alat tersebut. Petunjuk pengisian formulir pemeriksaan tahap III. Pengisian secara Umum : Lokasi diisi nama jalan (jika ada) dan atau wilayah administratif lengkap (Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) dimana lokasi peralatan pencampur aspal panas (AMP) yang diuji dan diperiksa kelaikannya berada . Merk/ Type diisi nama merek dagang dan type peralatan pencampur aspal panas (AMP) yang diuji dan diperiksa kelaikannya. Tahun Pembuatan diisi tahun pembuatan peralatan pencampur aspal panas (AMP) yang diuji dan diperiksa kelaikannya. Jenis dipilih jenis peralatan pencampur aspal panas (AMP) yang diuji dan diperiksa kelaikannya (coret yang tidak perlu). Pejabat berwenang diisi nama perorangan dan atau badan usaha yang berkepentingan terhadap pemeriksaan kelayakan peralatan pencampur aspal panas (AMP) yang diuji dan diperiksa kelaikannya. Keterangan harus diisi oleh pemeriksa/ petugas pemeriksaan kelayakan diantaranya : keadaan dan uraian aktual kerusakan alat (mesin) dilapangan, nama bagian yang rusak, indikasi penyebab kerusakan, cara mengatasi, catatan lain yang dianggap perlu dan berhubungan dengan alat tersebut.

5.4. 1)

28 dari 138

2)

Pengisisan pemeriksaan komponen komponen utama AMP : Unit cold bin Laik operasi: bahwa unit bin dingin/ cold bin dapat digunakan untuk mempersiapkan, menampung sementara berbagai ukuran agregat dingin sehingga tidak terjadi pencampuran antar ukuran agregat dan dapat memberikan jumlah aliran yang tepat dengan mudah sesuai kebutuhan yang direncanakan. Tidak laik operasi: bahwa unit cold bin dapat digunakan sesuai dengan fungsinya tetapi terdapat tanda-tanda kerusakan (lihat petunjuk pengisian formulir pemeriksaan) sehingga tidak dapat memberikan jumlah agregat dengan mudah, benar dan sesuai dengan yang direncanakan. Hasil dari grafik hubungan bukaan pintu versus aliran agregat dan kecepatan konveyor versus aliran agregat digunakan untuk membandingkan dengan grafik yang telah dilakukan oleh petugas sebelumnya apakah masih sesuai atau tidak. Unit dryer Laik operasi: unit dryer dapat bekerja sesuai dengan fungsinya tanpa ada masalah/ indikasi kerusakan untuk memanaskan agregat sampai mencapai temperatur yang disyaratkan dalam spesifikasi yang berlaku. Tidak laik operasi: unit dryer dapat bekerja sesuai dengan fungsinya tetapi terdapat tanda-tanda kerusakan (lihat petunjuk pengisian formulir pemeriksaan) dan tidak dapat menghasilkan temperatur seperti yang disyaratkan dalam spesifikasi yang berlaku. Unit mixer/ pugmill

Laik operasi: unit mixer/ pugmill dapat bekerja sesuai dengan fungsinya, tanpa ada masalah tanda-tanda kerusakan untuk menghasilkan campuran beraspal panas yang memenuhi dengan spesifikasi teknis yang disyaratkan, clearence dan jarak padle tip masih sesuai kecuali untuk agregate lebih besar 25 mm ruang bebas disetel agar agregat kasar tidak pecah selama pencampuran, temperatur hasil hot mix sesuai yang disyaratkan dalam Spesifikasi. Tidak laik operasi: mixer/ pugmill tidak dapat bekerja sesuai dengan fungsinya karena terdapat tanda-tanda kerusakan (lihat petunjuk pengisian formulir pemeriksaan) dan tidak dapat menghasilkan hot mix sesuai spesifikasi, clearence dan jarak antar padle tip tidak dapat diatur.

29 dari 138

Unit pemasok aspal Laik operasi: unit pemasok aspal dapat bekerja sesuai dengan fungsinya tanpa ada masalah tanda-tanda kerusakan (lihat petunjuk pengisian formulir pemeriksaan) terutama yang mengakibatkan kebocoran, untuk memanaskan aspal sampai mencapai temperatur yang disyaratkan dalam spesifikasi. Tidak laik operasi: unit pemasok aspal dapat bekerja sesuai dengan fungsinya tetapi terdapat tanda-tanda kerusakan (lihat petunjuk pengisian formulir pemeriksaan) dan tidak dapat menghasilkan temperatur sesuai dengan persyaratan spesifikasi. Laik operasi: unit timbangan dapat bekerja sesuai dengan fungsinya tanpa ada masalah tanda-tanda kerusakan (tidak dapat terbaca secara akurat). Tidak laik operasi: unit timbangan tidak dapat bekerja sesuai dengan fungsinya karena terdapat tanda-tanda kerusakan (lihat petunjuk pengisian formulir pemeriksaan tahap I dan II).

Pemeriksaan mutu produk : Jenis Produk Yang Diuji beri tanda pada kotak jenis campuran aspal yang diuji hasil trial mixnya. Contoh : bila yang diuji adalah mutu produk sampel Laston Base, beri tanda pada kotak Laston Base. Kolom Rekapitulasi a). Sub kolom Hasil Uji Lab RCK (Rencana Campuran Kerja) Diisi data hasil pengujian gradasi terhadap sampel formula RCK produk laboratorium yang memenuhi spesifikasi gradasi. Isian data pada kolom ini pada prinsipnya memindahkan data dari formulir hasil pengujian gradasi terhadap sampel formula RCK produk laboratorium. (lampirkan data hasil uji gradasi terhadap sampel formula RCK produk laboratorium). Contoh : bila yang diuji adalah mutu produk sampel Laston Base, maka sub kolom ini diisi dengan hasil uji gradasi terhadap sampel RCK Laston Base produk laboratorium yang memenuhi spesifikasi gradasi untuk Laston Base (lampirkan data hasil uji gradasi terhadap sampel formula RCK Laston Base produk laboratorium). b). Sub kolom Hasil Uji Lab Trial Mix Diisi data hasil pengujian gradasi terhadap sampel hasil uji coba/ trial mix di AMP berdasarkan formula RCK produk laboratorium. Isian data pada kolom ini pada prinsipnya memindahkan data dari formulir hasil pengujian gradasi terhadap sampel produk uji coba/ trial mix di AMP berdasarkan formula RCK produk laboratorium. (lampirkan data hasil uji lab terhadap sampel produk uji coba/ trial mix di AMP).

30 dari 138

Contoh : bila yang diuji adalah mutu produk sampel Laston Base, maka sub kolom ini diisi dengan hasil uji gradasi terhadap sampel Laston Base produk uji coba/ trial mix di AMP (lampirkan data hasil uji gradasi terhadap sampel Laston Base produk uji coba /trial mix di AMP). Kolom Tinjauan Terhadap Spec a. Beri tanda pada sub kolom Sesuai dan tanda - pada sub kolom Tidak apabila data gradasi pada sub kolom hasil uji lab trial mix sesuai atau memenuhi spesifikasi gradasi. b. Beri tanda - pada sub kolom Sesuai dan tanda pada sub kolom Tidak apabila data gradasi pada sub kolom hasil uji lab trial mix tidak sesuai atau tidak memenuhi spesifikasi gradasi. Contoh : bila yang diuji adalah mutu produk sampel Laston Base, bandingkan nilai nilai gradasi pada sub kolom Hasil Uji Lab Trial Mix dengan spesifikasi teknis persyaratan gradasi untuk Laston Base, apabila memenuhi spesifikasi teknis persyaratan gradasi beri tanda pada sub kolom Sesuai dan tanda - pada sub kolom Tidak. Kolom Keterangan Diisi dengan keterangan jenis uji lab yang dipakai.

31 dari 138

Tabel 1. Penggolongan tanda-tanda kerusakan berdasarkan fungsi dan kerja komponen peralatan pencampur aspal panas atau AMP No. 1 Komponen Yang bekerja saat mesin dihidupkan Kondisi Rusak Baik Tidak ada

Keropos, bocor, sobek, patah, tidak kokoh menyangga beban dan sejenisnya. Jika gerakan tidak normal, oleng, goyang, tersendatsendat dan tidak lancar. Tidak dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Terdapat suara-suara yang aneh/ tidak normal. Aus Tidak lengkap. Keropos, bocor, sobek, patah, tidak kokoh menyangga beban dan sejenisnya. Komponen-komponen tidak lengkap. Penunjukkan skala meter tidak tepat sesuai aktualnya. Skala meter tidak dapat terbaca. Jarum penunjuk tidak berfungsi. Jarum penunjuk tidak dapat disetel untuk menjadi normal. Komponen-komponen tidak lengkap. Tegangan, arus, frekuensi (tidak stabill/ tidak memenuhi) Jaringan kabel putus , sobek pelindungnya, terjadi hubungan singkat.

Tidak terdapat Cukup tanda-tanda jelas yang menyatakan rusak

Konstruksi pendukung

3 Alat-alat bantu/ alat-alat ukur misalnya : - Termometer - Pressure meter - Skala meter - Timbangan - Flowmeter

Kelistrikan

32 dari 138

6.
6.1.

Pengoperasian dan perawatan peralatan pencampur aspal panas


Pengoperasian

Didalam operasi untuk produksi, terdapat tiga hal utama yang perlu dipersiapkan, yaitu persiapan bahan baku, persiapan data-data pendukung, persiapan peralatan pendukung, dan kesiapan unit peralatan pencampur aspal panas (AMP) itu sendiri. 1). Persiapan Bahan Baku Untuk pekerjaan Asphalt Mixing Plant, persiapan bahan baku meliputi jenis dan jumlah material yang diproses, yaitu aggregate, asphalt, dan filler (jika diperlukan). Unsur-unsur utama yang menentukan jenis dan jumlah kebutuhan bahan baku terutama adalah: a. Spesifikasi produk, yaitu hal-hal yang menyangkut : Tingkat homogenitas yang diharapkan. Jenis campuran produk berupa asphalt-aggregate atau asphalt-aggregatefiller. Kelas jalan yang akan di hot mix.

b. Jumlah total kebutuhan produk. c. Kapasitas produk persatuan waktu. Apakah sesuai dengan kapasitas yang terpasang 2). Persiapan Data-Data Pendukung Persiapan ini adalah untuk memperoleh data-data bahan baku yang biasanya didapat dari konsultan. Dengan diperolehnya data-data ini untuk mendapatkan jenis produk hot mix yang ditentukan, akan dapat disiapkan data persentase campuran dari masing-masing bahan baku aggregate 1, 2, 3, dan 4, asphlat, dan filler untuk setiap kali proses mixing. 3). Persiapan Peralatan Pendukung Beberapa peralatan penunjang yang harus disiapkan untuk operasi Asphlat Mixing Plant, meliputi : Loader. Dump Truck. Peralatan perbaikan standar.

33 dari 138

6.1.1. 1)

Pemeriksaan kesiapan peralatan pencampur aspal panas (AMP)

Oli pelumas Periksa oli pelumas terhadap kualitas dan kuantitas oli yang digunakan. Isi jika kosong, tambahkan dengan jenis yang sama jika kurang, dan ganti dengan yang baru dan sama jenisnya jika sudah rusak/ encer. Komponen berpelumas oli meliputi : Gear motor. Vibrating screen. Air compressor.

2)

Grease pelumas Periksa grease pelumas terhadap kualitas dan kuantitas grease yang digunakan. Isi jika kosong, tambahkan dengan jenis yang sama jika kurang, dan ganti dengan yang baru dan jenis yang sama pula jika rusak. Komponen berpelumas grease meliputi : a. b. c. d. Bearing. Rantai/ chaine. Roda gigi/gear. Sprocket, dll.

3)

Sistem pemanas (Heater System) Periksa kondisi sistem pemanas yaitu meliputi : a. Kecukupan isi dan kualitas oli pemanas yang digunakan. b. Kesiapan kondisi peralatan pemanas/ heater equipment.

4)

Bahan bakar (Fuel) Periksa isi bahan bakar pada fuel tank untuk pembakaran pada burner. Bahan bakar pada tangki bahan bakar harus cukup untuk operasi secara optimum dan tuntas.

5)

Sistem operasi (Operating System) Periksa kondisi kerja sistem operasi (meliputi kondisi visual dan kebenaran kerja air compressor, air cylinder, dan sistem pemipaannya).

34 dari 138

6)

Pipa saluran (Piping Lines) Periksa kondisi pipa-pipa saluran terhadap kebocoran yang mungkin terjadi, sambungan pipa, atau rumah oli, bahan bakar, asphalt, dan sebagainya. Sistem pemipaan pada AMP meliputi : a. Asphalt distribution system. b. Fuel distribution system. c. Oil distribution system (oil heater). d. Operating system (system pengoperasian air cylinder)

7)

Baut pengikat Periksa kondisi baut-baut pengikat dari kemungkinan kendor, rusak, atau terlepas. Kencangkan jika kendor dan ganti dengan yang baru jika sudah rusak. Untuk diperhatikan, lihat keberadaan washer, dan untuk daerah yang bergetar adalah jenis spring washer.

8)

Pemeriksaan menyeluruh Lakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap plant, termasuk bagian-bagian yang saling berkaitan. Hal ini untuk menghindari timbulnya gangguan atau kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi selama produksi.

9)

Bahan baku utama Lakukan pemeriksaan persediaan bahan baku utama aggregate 1,2,3, & 4, Asphalt, dan Filler dari kemungkinan kurang selama operasi.

35 dari 138

MENGHIDUPKAN

PLN GENSET "ON"

MAIN MCCB "ON"

A TAHAP PERSIAPAN

ASPHALT BURNER

OIL HEATER

OIL HEATER PUMP

DIAL POSISI "NOL"

COMPRESSOR

ASPHALT PUMP

B TAHAP OPERASI

MIXER

VIB. SCREEN

HOT ELEVATOR

EXHAUST FAN

FILLER ELEVATOR

JOIN CONVEYOR

DRYER

LOWER CONVEYOR

DRYER BURNER

VIB. FEEDER

C TAHAP MIXING

CYCLONE SCREEN FEEDER-ON

GATE HOT BIN 1,2,3 DAN 4- OPEN

FILLER SCREW FEEDER ON

GATE FILLER HOPPER-OPEN

GATE AGGREGATE HOPPER-OPEN

3-WAY VALE-ASPHALT (POSISI ISI HOPPER)

POMPA ASPHALT "ON"

GATE MIXER "ON"

Gambar 28 Bagan alir menghidupkan alat pencapur aspal panas

36 dari 138

MEMATIKAN AMP
VIBRATING FEEDER .1 LOWER CONVEYOR .2 JOIN CONV./COLT ELEVATOR .3 DRYER BURNER .4 FUEL PUMP .5 HOT ELEVATOR .6 FILLER ELEVATOR .7 FEELER SREW FEEDER .8 VIBRATING SCREEN .9 10. FLUSHING PIPA ASPHALT 11. POMPA SUPLAI ASPHALT 12. POMPA DISTRIBUSI ASPHALT 13. OIL HEATER 14. DRYER 15. EXHAUST FAN

16. CYCLONE SCREW FEEDER 17. COMPRESSOR 18. MIXER

JIKA DENGAN WET CYCLONE MATIKAN EXHAUSET BLOWER

MAIN MCCB

JIKA GENSET GENSET "OFF"

Gambar 29 Bagan alir mematikan alat pencapur aspal panas

37 dari 138

6.1.2. Pengoperasian tingkat persiapan Pada tahap ini adalah pengoperasian beberapa bagian pendukung operasi utama peralatan pencampur aspal panas (AMP). Unit-unit ini harus benar-benar bekerja dalam keadaan baik. Urutan pengoperasian adalah sebagai berikut : 1) 2) Jika sumber listrik dari gen set, hidupkan gen set dan pastikan data power, arus, frekuensi, dan sebagainya benar (sesuai dengan kebutuhan). Periksa kesiapan operasi pada control room, sebagai berikut : a. Tombol power pada meja kontrol harus pada posisi off. b. Frekuensi yang masuk harus 50 hz. c. Pindahkan tombol power ke posisi on. d. Periksa kembali tegangan listrik pada volt meter. Hidupkan asphalt burner untuk proses pemanasan asphalt pada ketel : a. Temperatur kerja asphalt adalah berkisar antara 1600 - 1700 C, tergantung jenis aspal b. Lama pemanasan 4 jam. Hidupkan oil heater element, untuk pemanasan oli pada tanki asphalt . Hidupkan pompa oli untuk mensirkulasikan oli panas (hot oil) ke seluruh jaringan. Pastikan three way valve untuk distribusi asphalt pada posisi sirkulasi. Hidupkan pompa suplai asphalt untuk mensirkulasikan asphalt. Hidupkan air compressor untuk persiapan operasi sistem pneumatic. Periksa dan pastikan jarum penunjuk seluruh timbangan asphalt, aggregate, dan filler pada dial gauge menunjuk pada angka/posisi NOL.

3)

4) 5) 6) 7) 8) 9)

Setelah pasti seluruh bagian ini beroperasi dengan baik, selanjutnya dapat dilakukan pengoperasian utama (mixing operation). 6.1.3. Pengoperasian (Tahap Operasi) Tempatkan dump truck kosong dalam keadaan siap (standby) di bawah Mixer. Setelah seluruh bahan baku disiapkan - asphalt pada asphalt kettle dan aggregate pada cold bin dan operasi tingkat persiapan berjalan dengan baik, hidupkan peralatan-peralatan utama sebagai berikut : 1) Mixer 2) Vibrating screen 3) Hot elevator 4) Exhaust fan 5) Dryer 6) Joint conveyor (Cold Elevator untuk produk alternatif-1) 7) Filler elevator 8) Lower conveyor 9) Nyalakan dryer burner 10) Buka cold bin gate sesuai pemeriksaan kelayakan yang telah ditentukan 11) Vibrating feeder 12) Jika dilengkapi dengan wet type collection system, hidupkan water pump.

38 dari 138

6.1.4.

.Pengoperasian tahap mixing

Untuk melaksanakan pengoperasian mixing harus dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Hidupkan screw feeder pada cyclon. 2) Isi filler ke filler elevator (bila digunakan). 3) Timbang secara berurutan aggregate 1, 2, 3 dan 4, dengan cara membuka secara berurutan pula pintu hot bin*), sampai memenuhi persentase yang ditentukan, dan tutup kembali. Catatan : Pembacaan berat aggregate ke 2 dan seterusnya dilakukan secara penjumlahan komulatif pada dial gauge. 4) 5) 6) 7) 8) Timbang filler, dengan cara menghidupkan screw feeder pada filler hopper sampai memenuhi jumlah sesuai spesifikasi, dan matikan kembali. Timbang asphalt dengan cara merubah arah alir asphalt pada three way valve ke posisi distribusi/suplay*), dan kembalikan ke arah semula. Buka gate pada aggregate hopper dan filler hopper*), untuk mencurahkan aggregate dan filler yang telah ditimbang ke mixer. Hidupkan pompa asphalt untuk mengalirkan asphalt yang sudah ditimbang dari asphalt hopper ke mixer, dan matikan kembali setelah asphalt tercurah habis. Lakukan kembali langkah-langkah secara berurutan dari 3 sampai 7 di atas. Demikian dilakukan secara terus menerus sampai kapasitas kerja yang dikehendaki. Catatan:*) : pengoperasian melalui air cylinder. 6.1.5. Penghentian operasi

Setelah operasi selesai, untuk menghentikan AMP dapat dilakukan dengan urutan langkah sebagau berikut : 1) Matikan Vibrating Feeder. 2) Matikan Lower Conveyor. 3) Matikan Joint Conveyor (Cold Elevator, untuk produk alternatif). 4) Matikan Dryer Burner. 5) Matikan Pompa Bahan Bakar (Fuel pump). 6) Matikan Hot Elevator. 7) Matikan Filler Elevator. 8) Matikan Filler Screw Feeder. 9) Matikan Vibrating Screen. 10) Lakukan proses flushing pipa asphalt. 11) Matikan Pompa Suplai Asphalt. 12) Matikan Asphalt Distribution Pump. 13) Matikan Oil Heater. 14) Matikan Dryer. 15) Matikan Exhoust Fan. 16) Matikan Cyclone Screw Feeder. 17) Matikan Compressor. 18) Matikan Mixer.

39 dari 138

19) 20) 21)

Jika AMP dilengkapi dengan Wet Type Dust Collection System, matikan water pump. Tekan tombol power utama ke posisi OFF, untuk mematikan sumber power masuk. Jika menggunakan sumber power Generating Set, matikan Generating Set.

Perhatian : a. Mematikan satu unit ke unit berikutnya harus diberikan waktu sela, sampai material yang ada di dalamnya benar-benar kosong. b. Mematikan dryer dilakukan setelah 15 menit dari mematikan burner. c. Sebelum mematikan Compressor, harus dipastiakn seluruh pintu/gate dalam keadaan menutup (operasi air cylinder OFF). d. Dalam keadaan mati sub unit system yang bergerak harus benarbenar terbebas/kosong dari material sisa (asphalt, aggegate, atau filler). e. Dalam keadaan mati, valve utama untuk tangki bahan bakar harus dalam posisi menutup. f. Setelah proses flushing, posisi arah three way valve harus kembali ke arah untuk kondisi sirkulasi asphalt.

6.1.6.

Emergency

Jika ditengah pengoperasian plant terjadi gangguan, kerusakan, atau hambatan kerja lain yang dapat merusak sebagian atau seluruh sistem/ plant, lakukan pengamanan segera, sebagai berikut: 1) Pada Operating Control System, tekan tombol utama (emergency switch) pada panel kontrol operating system ke posisi OFF, sehingga seluruh sistem operasi mati. Pada Unit System, tekan NFB/MCCB utama ke posisi OFF, sehingga tidak ada power masuk dan seluruh sistem mati. Lakukan perbaikan pada bagian yang rusak atau menghambat, dan pastikan sistem dapat kembali berfungsi secara normal dan siap dioperasikan kembali. Operasikan kembali AMP dengan cara sebagaimana langkah pengoperasian tingkat persiapan di atas, dan seterusnya.

2) 3) 4)

40 dari 138

6.1.7.

Pengoperasian komponen-komponen utama

6.1.7.1. Unit vibrating feeder

Gambar 30 Vibrating Feeder Langkah-langkah untuk mengoperasikan Vibrating Feeder adalah sebagai berikut: 1) Setelah main power dalam posisi ON tekan tombol vibrating feeder pada panel instrumen ke posisi ON ( sesuai petunjuk yang ada dalam panel). 2) Biarkan vibrating veeder beroperasi tanpa beban beberapa saat. 3) Periksa kondisi kerja ( noise ) kerataan/ kehalusan getaran yang ditimbulkan, serta kondisi pemegangan spring. 4) Untuk mematikan, tekan kembali tombol sehingga posisi OFF 6.1.7.2. Unit belt conveyor Langkah-langkah untuk mengoperasikan Belt conveyor adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. tekan tombol pada panel instrument ke posisi ON untuk menghidupkan conveyor Untuk operasi awal, jalankan conveyor tanpa beban beberapa menit ( 30 menit) Jika idler tidak berputar, lepas roller, bersihkan dan tambahkan pelumas pada bearing atau ganti dengan yang baru jika sudah rusak. Setelah yakin conveyor dapat berjalan mulus, berikan pembebanan sedikit demi sedikit.

41 dari 138

Gambar 31 Belt Conveyor 5. Jika slip atau belt tidak lurus lakukan hal-hal berikut: a. periksa kesejajaran posisi antara drive tail pully b. periksa kesejajaran pemasangan idler, terutama pada daerah dimana belt slip c. jika slip pada tail pully lakukan setting pada adjuster bolt untuk mendapatkan kerataan belting. d. Periksa kontak antara pully dengan belting e. Pukul ke depan/belakang frame idler untuk mendapatkan kerataan tegangan belting Untuk mematikan conveyor, tekan kembali tombol pada panel instrument ke posisi OFF

6.

42 dari 138

6.1.7.3. Unit bucket elevator

Gambar 32 Bucket Elevator Langkah-langkah untuk mengoperasikan Bucket Elevator adalah sebagai berikut : 1) Tekan tombol pada panel instument ke posisi on. 2) Untuk operasi awal, biarkan elevator hidup atau berjalan dalam keadaan tanpa beban untuk beberapa waktu ( + 30 menit ) 3) Setelah yakin elevator dapat berjalan secara mulus, berikan pembebanan sedikit demi sedikit. 4) Lakukan pemeriksaan terhadap hal-hal berikut: kekencangan baut pengikat penggerak chain dan bucket, dari kemungkinan miring, tidak tepat bersinggungan terhadap wheel, slip, atau tidak smooth, dan sebagainya. bearing/housing dari kemungkinan panas yang berlebihan. suhu maksimum yang diizinkan adalah 60 O C. 5) Untuk mematikan elevator, tekan tombol panel instrument kembali ke posisi OFF.

43 dari 138

6.1.7.4. Unit dryer

Gambar 4.4 Dryer Gambar 33 Dryer Langkah-langkah untuk mengoperasikan dryer adalah sebagai berikut : 1) 2) 3) Tekan tombol pada panel instrumen/ handle saklar ke posisi ON, sehingga motor penggerak hidup dan memutarkan drum dryer. Untuk operasi awal, biarkan dryer berputar tanpa beban untuk beberapa waktu (30 menit). Lakukan pemeriksaan terhadap hal-hal berikut: Kekencangan baut pengikat. Perputaran dryer drum (harus berputar secara perlahan dan smooth). Kondisi persinggungan antara ring tire dengan trunion roller dan trhust roller. Ring tire harus menapak secara mantap, parallel, dan tidak berubah-ubah. Kedua ujung dryer dari kemungkinan bergesekan dari chute. Kondisi bearing housing dan motor gear dari kemungkinan panas yang berlebihan. Suhu maksimum yang diijinkan adalah : 60 0C Suara (noice) yang ditimbulkan . Jika drum berputar tidak tepat (bergetar, kadang naik turun, dan tidak menapak baik pada trunion roller), lakukan hal-hal berikut: Sett posisi kesejajaran dan kerataan trunion roller. Periksa permukaan kontak trhush roller dengan ring tire. Periksa kelurusan dan kesilindrisan ring tire. Periksa keselarasan putaran trunion roller (motor penggeraknya) Setelah yakin dryer berputar dengan baik dan smooth (halus), berikan pembebanan sedikit demi sedikit sampai yakin bahwa dryer siap untuk dioperasikan secara optimum. Lakukan pemeriksaan sebagaimana langkah (c ) diatas.

4)

5)

6)

44 dari 138

7) 8) 9) 10) 11) 12)

Untuk mencoba fungsi burner, setelah disetting, tekan tombol burner dan burner blower keposisi ON. Nyalakan pemantik sehingga burner hidup. Lakukan pengaturan terhadap kondisi api yang menyembur. Api harus diusahakan menyala berwarna kebiru-biruan. Lakukan pengetesan fungsi pengatur besar kecilnya api burner pada panel. Untuk mematikan dryer tekan tombol kembali ke posisi OFF Untuk mematikan burner dan blower, OFF kan tombol burner dan blower.

Perhatian: Penyalaan burner harus dilakukan hanya dalam keadaan dryer berisi aggregat dan berputar
6.1.7.5. Unit pengumpul debu atau dust collector 1) 2) Tekan tombol pada panel instrumen ke posisi ON untuk menghidupkan blower. Biarkan blower hidup beberapa waktu, dan lakukan pemeriksaan terhadap hal-hal berikut: Kondisi bearing/housing dari kemungkinan panas yang berlebihan. Suhu maksimum diijinkan adalah sebesar 600 C. Kondisi udara yang keluar melalui cerobong udara. Kualitas warna udara yang keluar harus dalam keadaan agak keputih-putihan. Kebocoran udara yang mungkin terjadi pada sambungan-sambungan (flanges) ducting. Untuk mematikan, tekan tombol pada panel instrumen kembali ke posisi OFF.

3.

Gambar 34 Dust Collection Sistem Informasi :Pengoperasian dust collection system sebaiknya dilakukan pada saat AMP beroperasi. Hal ini untuk mengetahui secara pasti optimasi fungsi dust collection system. 45 dari 138

6.1.7.6. Unit vibrating screen Langkahlangkah melakukan operasi Saringan / screen adalah sebagai berikut: 1) Tekan tombol pada panel instrumen screen pada posisi ON. 2) Periksa arah putaran dan gerakan/ putaran vibrating screen. 3) Untuk operasi pertama kali, biarkan vibrating screen hidup tanpa beban selama 15 menit. 4) Lakukan pemeriksaan terhadap baut-baut pengikat, suhu bearing, kondisi pegas, V-belt drive, kondisi kerja vibrating screen, dan noice yang ditimbulkan. 5) Jika timbul suara atau getaran yang tidak normal, hentikan vibrating screen dan periksa gangguan-gangguan yang mungkin terjadi. 6) Menghentikan operasi dilakukan dengan cara menekan tombol instrumen screen kembali ke posisi OFF.

Gambar 35 Vibrating Screen

46 dari 138

6.1.7.7. Unit weighing system Langkahlangkah melakukan operasi Weighing System (sistem timbangan) adalah sebagai berikut: 1) Pastikan seluruh gate pada hopper dalam keadaan tertutup rapat. 2) Untuk asphalt: Posisikan valve pada posisi asphalt hopper ke mixer/dryer. Pastikan suhu asphalt sudah mencapai suhu yang ditentukan (lihat termometer) Pastikan kompressor dalam keadaan hidup (untuk operasi air silinder) Tekan tombol pada panel instrument untuk asphalt suplai pump, dan oil pump ke posisi ON

Gambar 36 Weighing System Lihat dial skala, setelah sesuai jumlah/ berat yang dikehendaki operasikan air silinder untuk membuka gate, sehingga asphalt masuk kepenampung. Untuk menghindari kemacetan/ penumpukan asphalt pada penampung, hidupkan asphalt pump, sehingga asphalt dapat ditransfer/ dimasukkan ke mixer/ drain.

47 dari 138

3)

Untuk aggregate untuk proses ini seluruh vibrating feeder, lower conveyor, join conveyor, dryer, burner, hot elevator dan vibrating screen dalam keadaan siap dioperasikan dan colt bin terisi aggregate. Pastikan gate-gate pada hot bin dan aggregate hopper dalam keadaan menutup rapat. Pastikan kompressor dalam keadaan hidup. Operasikan proses dari vibrating feeder sampai dengan vibrating screen, sehingga hot bin terisi aggregate secukupnya. Buka gate pada hot bin dengan cara meng ON kan tombol untuk operasi air silinder hot bin. Lihat pembacaan yang menunjukkan berat aggregate pada dial skala. Setelah sesuai dengan berat yang ditentukan, tutup kembali hot bin gates, dengan cara melepas (posisi OFF) tombol air silinder hot bin. Buka gate pada aggregate hopper untuk mengeluarkan aggregate dari hopper dan masuk ke mixer. Catatan: Untuk operasi ini sebaiknya dalam keadaan mixer beroperasi sehingga aggregate bisa segera dikeluarkan dari prosses

4)

Untuk filler. Pastikan gate pada filler hopper dalam keadaan menutup rapat. Hidupkan filler elevator untuk mengisi/ memastikan storage hopper terisi filler secukupnya. Hidupkan motor screw feeder untuk mensuplai filler dari storage hopper ke filler hopper, dengan cara menekan tombol pada panel instrumen ke posisi ON Lihat berat filler pada pembacaan dial skala. Setelah berat sesuai yang dikehendaki, matikan motor screw feeder , dengan cara menekan tombol kembali ke posisi OFF, dan buka gate pada feeler hopper. Catatan: Untuk operasi ini sebaiknya dalam keadaan mixer beroperasi sehingga aggregate bisa segera dikeluarkan dari prosses

5) 6)

Setelah selesai, pastikan seluruh gate pada hopper kembali ke posisi menutup rapat. Periksa seluruh jarum pada dial skala kembali menunjukkan angka NOL

48 dari 138

6.1.7.8. Unit mixer

Gambar 37 Mixer Langkahlangkah melakukan operasi sistem pencampur (mixer) adalah sebagai berikut : 1) Tekan tombol pada panel instrument ke posisi ON untuk menghidupkan Mixer. 2) Lihat arah putaran pedal mixer, shaft kanan berputar searah jarum jam dan shaft kiri berputar berlawanan dengan arah putaran jarum jam. 3) Biarkan mixer berputar/ beroperasi tanpa beban untuk beberapa saat, untuk melakukan pemeriksaan terhadap hal-hal berikut: Keadaan baut dari kemungkinan kendor atau lepas. Kondisi pelumas dari kemungkinan kurang, rusak atau panas berlebihan. Panas maksimum diijinkan sebesar 600 C. Pelumasan spur gear dari kemungkinan kurang atau kering. Kondisi persinggungan antar gear harus tepat di tengah-tengah permukaan gigi. Kondisi persinggungan antar pedal tip dan antara pedal tip dengan casing, dari kemungkinan bersinggungan. Suara atau noise mixer yang berlebihan, atau bahkan terjadi getaran. 4) Setelah yakin kondisi kerja mixer dalam keadaan baik dan normal, berikan pembebanan sedikit demi sedikit sampai diperoleh beban optimum. 5) Pengisian material sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pengisian asphalt, untuk menghindari terjadinya kemacetan yang dapat merusak mixer padle. 6) Jika mixer akan dimatikan, pastikan dalamnya kosong dari aggregate maupun asphalt (dan filler). 7) Untuk mengosongkan/ mencurahkan campuran asphalt-aggregate dari mixer, operasikan air cylinder untuk fungsi membuka mixer gate. 8) Untuk mematikan mixer, tekan tombol pada panel instrumen kembali ke posisi OFF.

49 dari 138

6.1.7.9. Sistem distribusi aspal

Gambar 38 Sistem Distribusi Asphalt Langkahlangkah melakukan operasi Sistem Distribusi Asphalt adalah sebagai berikut: 1. Panaskan asphalt dalam keadaan kettle sampai suhu kerja 1600 C 1700 C. 2. Panaskan oli pada oil tank hingga mencapai suhu kerja 1600 C 1700 C. 3. Hidupkan pompa oli untuk mengalirkan oli panas bersirkulasi melalui pipa-pipa saluran asphalt. 4. Hidupkan pompa suplai asphalt untuk mengalirkan asphalt ke asphalt hopper dan ditimbang sampai berat yang ditentukan. 5. Rubah aliran asphalt malalui three way valve C dari C.8-9 ke C.8-7 sehingga aliran asphalt kembali ke asphlat kettle. 6. Buka asphalt hopper gate, dengan cara mengaktifkan air cylinder. 7. Hidupkan pompa distribusi asphlat untuk mensuplai asphalt yang telah ditimbang dan dispray ke mixer. 8. Sesaat kemudian kembalikan lagi valve C dari posisi C.8-7 ke posisi C.8-9 untuk proses penimbangan kembali. 9. Demikian proses berlangsung secara tertib dan terus menerus. 10. Selesai proses , pindahkan posisi three way valve A dan E ke posisi A.1-3 dan E.3-1, untuk proses flushing atau pembilasan bekas asphalt yang menempel pada pipa. Untuk pekerjaan ini lakukan untuk posisi valve C.8-7, C.8-9, F.10-11, dan F.10-12. 11. Untuk mematikan tekan tombol pada panel instrumen untuk pompa suplai, dan beberapa saat kemudian untuk pompa distribusi. Catatan : Dalam keadaan tidak beroperasi hopper penampung asphalt dan seluruh pipa saluran asphlat harus benar-benar bersih dari sisa asphalt. 50 dari 138

6.1.7.10. Fuel distribution sistem Langkahlangkah melakukan operasi Fuel Distribution Sistem adalah sebagai berikut: 1) Pastikan valve ke masing masing burner dalam keadaan terbuka 2) Buka valve keluar fuel tank dan return valve 3) Hidupkan pompa dengan menekan tombol pada panel instrument ke posisi ON

Gambar 39 Fuel Distribution Sistem 4) Biarkan beberapa saat, kemudian lakukan pemeriksaan terhadap hal-hal berikut: aliran minyak solar dari kemungkinan tidak mengalir secara benar, terlambat dan sebagainya. kebocoran yang mungkin terjadi disepanjang pipa saluran atau pada sambungan-sambungan. tekanan yang mampu dicapai oleh pompa Buka valve untuk saluran menuju ke saluran burner, kemudian lakukan penyetelan pada safety valve untuk mendapatkan pressure yang tepat. Untuk mematikan proses, tekan tombol panel instrumen kembali keposisi OFF .

5) 6)

51 dari 138

6.1.7.11.

Hot oil distribution system.

Langkahlangkah melakukan operasi Hot Oil Distribution Sistem adalah sebagai berikut: 1. Panaskan oil dalam oil heater tank sampai mencapai suhu 1600 C 1700 C. 2. Hidupkan oil pump dengan cara menekan tombol panel instrumen ke posisi ON

Gambar 40 Hot Oil Distribution Sistem 3. Biarkan untuk beberapa saat, kemudian lakukan pemeriksaan terhadap hal-hal berikut : kelancaran sirkulasi oli dengan cara melihat panas tidaknya mantle pipe yang dilalui hot oil. Kebocoran yang mungkin terjadi pada pipa-pipa saluran, sambungansambungan dan sebagainya. Untuk menambah jumlah oli pada oil heater tank, buka valve 1 sampai oli dari oil tank mengisi ke oil heater tank secukupnya, dan tutup kembali valve 1. Untuk mematikan tekan kembali tombol pada panel instrumen ke posisi OFF. Sreew feeder

4. 5.

6.1.7.12.

Langkahlangkah melakukan operasi Sreew Feeder adalah sebagai berikut : 1) Tekan tombol pada panel instrumen ke posisi ON untuk menghidupkan Screw Feeder. 2) Untuk operasi pertama kali biarkan unit beroperasi tanpa beban selama beberapa waktu ( 30 menit ) 3) Lakukan pemeriksaan terhadap hal-hal berikut: kondisi kerja unit secara umum. Kondisi bearing / housing dari kemungkinan panas yang berlebihan. Panas maksimum yang diijinkan adalah 60 0C Noice / suara yang ditimbulkan. Kondisi srew dari kemungkinan terjadinya pergesekan dengan casing. 4) Berikan pembebanan sedikit demi sedikit sampai diperoleh kepastian screw feeder dapat dioperasikan secara optimum. 5) Dalam keadaan berbeban, lakukan pemeriksaan seperti pada langkah C diatas. 6) Untuk mematikan, tekan tombol pada panel instrumen kembali ke posisi OFF. 52 dari 138

Gambar 41 Sreew Feeder 6.2. Perawatan peralatan pencampur aspal panas Tabel 2. Perawatan Dryer No. 1 Description / Permasalahan Flight Cup Periode pemeriksaan (Jam) 200 Periode Penyetelan (Jam) Ketika ada kebocoran panas keluar Pengecatan tiap 1.000 200 Pengecatan tiap 1.000 Pengecatan tiap 1.000 Digeser-geser (case by case) Digeser-geser (case by case) Digeser-geser (case by case) Digeser-geser (case by case) 400 Periode Perbaikan (Jam) 1.000

2 3 4 5 6

Drum dryer Ring Gear, Tire Charging chute Discharging chute Trunnion roller bearing (dudukan rol bearing) Pinion gear, bearing Trust roller bearing Sprocket wheel Roller chain

200 200 200 100 200

3.000 8.000 Geser , -1.000 Geser , -1.000 1.000-2.000

7 8 9 10

200 200 200 200

1.000-2.000 1.000 1.500 1.000

53 dari 138

Tabel 3. Perawatan Burner Dryer Unit Description / Permasalahan Burner nozzle Turbo blower Oil pump, stainer Control valve Presure gage Burner box Burner cone Thermometer Sensor Periode pemeriksaan (Jam) 200 400 200 200 200 100 100 200 100 Periode Penyetelan (Jam) Bersihkan per 400 400 200 600 600 100 100 600 100 Periode Perbaikan (Jam) 2.000 Belt, 1.000 Stainer-net 2.000 8.000 1.000 1.000 1.000 2.000 1.000

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tabel 4. Perawatan Dust Collector Description / Permasalahan Cyclone Weight damper Fan Bearing V belt Duct Periode pemeriksaan (Jam) 100 100 100 100 100 200 Periode Penyetelan (Jam) 100 100 100 100 200 200 Periode Perbaikan (Jam) 1.000-2.000 2.000 Runner 1.000 2.000 1.000 2.000

No. 1 2 3 4 5 6

Tabel 5. Perawatan Hot Elevator Description / Permasalahan Casing Upper chute Wheele Bearing Sprocket Roller chain Gear motor Pintol chain Bucket elevator Periode pemeriksaan (Jam) 1.000 200 200 100 100 100 100 100 100 Periode Penyetelan (Jam) 1.000 200 200 200 100 100 200 200 200 Periode Perbaikan (Jam) 3.000 Linner 1.000 2.000 2.000 2.000 2.000 8.000 2.000 2.000

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9

54 dari 138

Tabel 6. Perawatan Vibrating Screen Description / Permasalahan Frame Wire net Clamping bar Bearing case Bearing Motor V Belt Belt cover Dust seal cover Ellips spring Periode pemeriksaan (Jam) 200 100 100 200 Setiap hari 200 200 200 200 200 Periode Penyetelan (Jam) 200 Pembersihan 100 200 400 Setiap hari 400 400 400 400 400 Periode Perbaikan (Jam) Liner 1.000 1.500 2.000 3.000 2.000 8.000 1.000 5.000 1.000 2.000

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tabel 7. Perawatan Hot Bin Hopper Description / Permasalahan Hopper Gate (pintu) Over flow pipe Over size pipe Periode pemeriksaan (Jam) 200 200 100 100 Periode Penyetelan (Jam) 200 200 100 100 Periode Perbaikan (Jam) Inside 1.000 1.500 2.000 2.000

No. 1 2 3 4

Tabel 8. Perawatan Weighing Scale Description / Permasalahan Absorbing rubber Hanging metal Knife edge Bracket Dial-indicator Dush pot Hopper gate Periode pemeriksaan (Jam) 500 500 200 200 200 100 200 Periode Penyetelan (Jam) 500 500 200 500 200 200 200 Periode Perbaikan (Jam) 3.000 5.000 3.000 5.000 5.000 3.000 2.000

No. 1 2 3 4 5 6 7

55 dari 138

Tabel 9. Perawatan Asphalt Weighing & Discharging System Description / Permasalahan Weighing & Discharging hopper Three way valve Pump V-belt Discharging pipe Periode pemeriksaan (Jam) 50 100 100 200 50 Periode Penyetelan (Jam) Flush 50 100 100 200 Flush 50 Periode Perbaikan (Jam) 5.000 Packing 500. 5.000 Packing 500. 5.000 1.000 1.000

No. 1 2 3 4 5

Tabel 10. Perawatan Mixer Unit Description / Permasalahan Tip 1 Padle 2 3 4 5 6 7 8 9 Liner Shaft Gear Sprocket wheel Roller chain Geare motor Seal Bearing Gate 200 200 200 100 100 100 200 100 100 100 200 400 400 Grease 200 200 grease 200 Oil 400 Oil 200 Grease 200 100 Periode pemeriksaan (Jam) 200 Periode Penyetelan (Jam) 200 Periode Perbaikan (Jam) MH A.1000, MH B.2000 MH A.2000, MH B.3000 1.000,2.000 4.000 3.000 3.000 2.000 6.000 Packing 400, slave 1.000 4.000 Liner 1.000 to 2.000

No.

56 dari 138

No. 1

2 3 4 5

Tabel 11. Perawatan Control System Periode Description / Periode Penyetelan pemeriksaan Permasalahan (Jam) (Jam) Air compressor inlet, outlet valve Test 200 200 Piston ring 200 200 Pressure switch 200 200 Air cylinder 100 100 Air filter Oiler Magnet valve Tiap hari 4-5 kali/hari 100 Tiap hari 4-5 kali/hari 100

Periode Perbaikan (Jam) 2.000 1.000 2.000 Packing 1.000 0 ring 1.000 1.000 1.000 3.000

57 dari 138

LAMPIRAN A (Informatif) Penggolongan komponen berdasarkan fungsi dan kerja


Tabel 1. Unit Bin Dingin Atau Cold Bin No. 1 2 3 4 5 6 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Ban berjalan (belt conveyor) Pintu bin Motor penggetar Penggetar Skala meter bukaan pintu Pengatur kecepatan Konstruksi / komponen pendukung Tutup pelindung bin terhadap cuaca Konstruksi pendukung/ rangka Pelat pemisah antar bin Dinding bin/ hopper

Tabel 2. Sistem Ban Berjalan (Conveyor) dan Bucket Elevator No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Elevator ( Bucket elevator) Ban berjalan ( Belt conveyor) Mangkok (Bucket Elevator) Sistem Pemassukan ke Dryer Bearing Sprocket Roller Rantai (Chain) elevator Penggerak Conveyor/ Elevator Konstruksi / komponen pendukung Pelindung Elevator/ conveyor Konstruksi pendukung/ rangka

Tabel 3. Unit Pengering (Drum Dryer) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Roda gigi ring (Ring gear) Silinder pengering (Drum dryer) Bantalan roll penahan (Trust roller bearing) Bantalan roll (Trunnion roller bearing) Roda gigi pemutar (Sprocket wheel) Roller chain Bearing Penggerak drum Konstruksi / komponen pendukung Corong pengisi (Charging cute) Sudu-sudu (Flight cup) Corong pengeluaran (Discharging chute) Konstruksi/ rangka

58 dari 138

Tabel 4. Unit Pemanas (Burner) No. 1 2 3 4 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Pompa bahan bakar Penyemprot (Burner) Blower udara Alat ukur (Flow meter) Konstruksi/ komponen pendukung Tangki bahan bakar Batu tahan api Pipa-pipa Konstruksi/ rangka

Tabel 5. Unit Dust Collector No. 1 2 3 4 5 6 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Fan Bearing V-belt Motor penyedot Konstruksi/ komponen pendukung Duct Cyclon Konstruksi cerobong Wet scrubber Dry scrubber Bag Filter

Tabel 6. Unit Saringan Atau Screen No. 1 2 3 4 5 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Saringan (Screen wire net) V-belt Pegas penggetar Motor penggetar Mekanisme penggetar Konstruksi/ komponen pendukung Tutup belt Konstruksi

Tabel 7. Unit Bin Panas atau Hot Bin No. 1 2 3 4 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Pintu pengeluaran Termometer Unit hidrolis / pneumatik bukaan pintu Konstruksi/ komponen pendukung Hopper bin Pipa pengeluaran material oversize Konstruksi / rangka Pipa pembuangan

Tabel 8. Unit Timbangan ( Weigh Bin ) Agregat Panas dan Filler No. 1 2 3 4 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Metal penggantung Penunjuk skala ( Dial) Bukaan timbangan Bin (bak) penimbang Konstruksi/ komponen pendukung Hook bolt Pisau Karet peredam Dust pot

59 dari 138

Tabel 9. Unit Pencampur atau Pugmill (Mixer) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Pedal pugmill Pintu bukaan mixer Poros pugmill Roda gigi ( Gear ) Sprocket Chain Penggerak pugmill Seal-seal Bearing-bearing Sistem hidrolis/ pneumatik Konstruksi/ komponen pendukung Liner Konstruksi pugmill/ mixer Konstruksi/ rangka

Tabel 10. Sistem Pemasok Aspal No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Termometer Pompa penyemprot aspal Pompa transfer aspal Pompa oli pemanas aspal Flow meter Pressure meter Valve-valve Penyembur api (Burner aspal) Blower burner aspal Penggerak pompa & blower Ketel (bin) penimbang aspal panas Konstruksi/ komponen pendukung Pipa-pipa aspal (transfer pump) Ketel/ tangki aspal Ketel/ tangki minyak pemanas Konstruksi pendukung/ rangka

Tabel 11. Unit Pemasok Filler No. 1 2 3 4 5 6 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Rantai (chain) elevator Mangkok (Bucket) Sprocket Bearing Motor penggerak Ulir pengalir filler Konstruksi/ komponen pendukung Pelindung elevator Konstruksi/ rangka

60 dari 138

Tabel 12. Unit Tenaga Penggerak No. 1 2 3 4 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Generator Mesin (Engine) Compressor Silinder udara Konstruksi/ komponen pendukung Kontrol panel Jaringan kabel Pipa-pipa Filter, pipa-pipa

Tabel 13. Bin Filler No. 1 2 Komponen yang bekerja saat mesin dihidupkan Pintu bukaan filler Konstruksi/ komponen pendukung Konstruksi / rangka Hopper bin

Tabel 14. Silo (Bin) Penampung Campuran Aspal Panas No. 1 2 Komponen yang bekerja saat mesin Konstruksi / komponen pendukung dihidupkan Pintu pengeluaran Kontruksi/ rangka Sistem hidrolik/ pneumatik bukaan pintu Silo (bin) penampung pengeluaran

61 dari 138

LAMPIRAN B (Informatif) Formulir pemeriksaan tahap I PEMERIKSAAN TAHAP I PEMERIKSAAN TEKNIS KOMPONEN PERALATAN PENCAMPUR ASPAL PANAS ATAU ASPHALT MIXING PLANT (AMP) KONDISI TIDAK DIHIDUPKAN

Pemilik Lokasi Merk / type Tahun pembuatan Jenis

: : : : : Timbangan / Drum / Menerus *) (Batch / Drum / Continuous)

Tgl. Pemeriksaan

1.

Unit Bin Dingin (Cold Bin) Kondisi *) Rusak Baik Lkp. Tdk. Lkp

No.

Komponen Yang Diperiksa Pelat pemisah antar bin Dinding bin/ hopper Bukaan pintu bin Pintu pengatur bukaan dan penguncinya Skala meter bukaan Motor penggerak Penggetar Pengatur kecepatan Kontruksi pendukung/ rangka Pelindung bin

Tidak Ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

*) Coret yang tidak perlu

62 dari 138

Catatan pemeriksa Bin Dingin (Cold Bin):

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

Kesimpulan Bin dingin (Cold Bin) kondisi tidak dihidupkan

*)

Kondisi *) Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

Cold Bin

63 dari 138

2.

Unit Ban Berjalan Agregat Dingin (Cold Conveyor) Kondisi *) Rusak Baik Lkp. Tdk. Lkp

No.

Komponen Yang Diperiksa Ban berjalan ( Belt conveyor) penampung dari bukaan bin dingin Ban berjalan (Belt conveyor) collector Ban berjalan (Belt conveyor) pengantar ke dryer Ban berjalan (Belt conveyor) feeder penuang (ke dalam dryer) Alat penimbang berat agregat Roll pemutar Motor pemutar Bearing Sprocket Roller Gear Chain V-Belt Kontruksi Pendukung/ rangka Pelindung kontruksi

Tidak ada

Keterangan

2 3 4

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

64 dari 138

Catatan pemeriksa Ban Berjalan Agregat Dingin (Cold Conveyor ) :

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

Kesimpulan Ban Berjalan Agregat dingin (Cold Conveyor) kondisi tidak dihidupkan
*)

Kondisi *) Ban Berjalan Agregat Dingin Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

65 dari 138

3.

Unit Pengering (Dryer) Kondisi *) Rusak Baik Lkp Tdk. Lkp

No.

Komponen Yang Diperiksa Corong pengisi (Charging cute) Corong pengeluaran (Discharging chute) Silinder pengering (Drum dryer) Sudu-sudu (Flight cup) Roda gigi pemutar (Sprocket wheel) Roda gigi ring (Ring gear) Rotor penggerak (pemutar) Bantalan roll (Trunnion roller bearing) Bantalan roll penahan (Trust roller bearing) Chain Bearing Konstruksi/ rangka

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Catatan pemeriksa Unit Pengering (dryer) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

66 dari 138

Kesimpulan Unit Pengering (Dryer) Kondisi tidak dihidupkan Kondisi *) Unit Pengering atau Dryer Baik Rusak Tdk. Lkp Lkp Tidak ada

*)

Keterangan

4.

Unit Pemanas (Burner) Kondisi *) Rusak Baik Lkp Tdk. Lkp

No.

Komponen Yang Diperiksa Tangki bahan bakar Pompa bahan bakar Pipa-pipa Blower udara Alat ukur (Flow meter) Penyemprot (Burner) Batu tahan api Konstruksi / rangka

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8

Catatan pemeriksa Unit Pemanas (Burner) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

67 dari 138

Kesimpulan Unit Pemanas (Burner) kondisi tidak dihidupkan Kondisi *) Unit Pemanas atau Burner Baik Rusak Tdk. Lkp Lkp Tidak ada

*)

Keterangan

5.

Unit Pengumpul Debu (Dust Collector) Kondisi *) Rusak Baik Lkp. Tdk. Lkp

No.

Komponen Yang Diperiksa Pemutar (Cyclon) Exhaust fan Pipa-pipa penyalur Cerobong Tangki air Pompa air Penyemprot air Dry Scrubber Wet Scrubber Filter bag Konstruksi / rangka

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Catatan pemeriksa Unit Pengumpul Debu (Dust Collector) :

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II 68 dari 138

Kesimpulan Unit Pengumpul Debu (Dust Colector) Kondisi tidak dihidupkan *) Kondisi *) Unit Pengumpul Debu atau Dust Colector Baik Rusak Tdk. Lkp Lkp Tidak ada Keterangan

6.

Unit Elevator Panas (Hot Elevator) Komponen Yang Diperiksa Mangkok (Bucket) Rantai pemutar (Chain) Sprocket pemutar Sprocket pembantu Motor pemutar Pelindung (penutup) Elevator Konstruksi pendukung/ rangka Baik Kondisi *) Rusak Lkp. Tdk. Lkp

No.

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7

Catatan pemeriksa Unit Elevator Panas (Hot Elevator) :

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

69 dari 138

Kesimpulan Unit Elevator Panas (Hot Elevator) kondisi tidak dihidupkan Kondisi *) Elevator Panas atau Hot Elevator Baik Rusak Tdk. Lkp Lkp Tidak ada

*)

Keterangan

7.

Unit Saringan Bergetar (Screen) Kondisi *) Rusak Baik Lkp Tdk Lkp

No.

Komponen Yang Diperiksa Saringan (Screen wire net) V-belt Pegas penggetar Motor penggetar Mekanisme penggetar Tutup belt Konstruksi

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7

Catatan pemeriksa Unit Saringan Bergetar (Screen) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

70 dari 138

Kesimpulan Unit Saringan Bergetar (Screen) kondisi tidak dihidupkan

Kondisi *) Unit Saringan Bergetar atau Screen Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

8.

Unit Bin Panas Atau Hot Bin Kondisi *)

No.

Komponen yang Diperiksa Hopper Bin Pipa pengeluaran material oversize Pintu pengeluaran Termometer Unit hidrolis bukaan pintu Konstruksi/ rangka Pipa pengeluaran material overflow

Baik

Rusak Lkp. Tdk. Lkp

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7

Catatan pemeriksa Unit Bin Panas (Hot Bin) :

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

71 dari 138

Kesimpulan Unit Bin Panas (Hot Bin) kondisi tidak dihidupkan Kondisi *) Unit Bin Panas atau Hot Bin Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada

*)

Keterangan

9.

Unit Timbangan ( Weigh Bin ) Agregat Panas dan Filler Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik/ hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Metal penggantung Penunjuk skala ( Dial) Unit hidrolis/ pneumatik Bukaan timbangan Bin (bak) penimbang Hook bolt Pisau Karet peredam Penutup antar bin

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8

Catatan pemeriksa Unit Timbangan ( Weigh Bin ) Agregat Panas dan Filler :

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

72 dari 138

Kesimpulan Unit Timbangan ( Weigh Bin ) Agregat Panas dan Filler kondisi tidak *) dihidupkan Kondisi *) Unit Timbangan (Weigh Bin) Agregate Panas dan Filler Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

10. Unit Pencampur (Pugmill Mixer) Komponen Yang Diperiksa Pedal pugmill Pintu bukaan mixer Poros pugmill Roda gigi (Gear) Sprocket Chain Penggerak pugmill Seal-seal Bearing-bearing Sistem hidrolis / pneumatik bukaan pengeluaran Liner Konstruksi pugmill / mixer Konstruksi / rangka Baik Kondisi *) Rusak Lkp. Tdk. Lkp

No.

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

73 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Pencampur (Pugmill Mixer) :

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

Kesimpulan Unit Pencampur atau (Pugmill Mixer) kondisi tidak dihidupkan *)

Kondisi *) Unit Pencampur atau Pugmill Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

74 dari 138

11. Unit Pemasok Aspal Kondisi *) Rusak Baik Lkp. Tdk. Lkp

No.

Komponen Yang Diperiksa Termometer Pompa penyemprot (Spray) aspal Pompa transfer aspal Pompa oli pemanas aspal Flow meter Pressure meter Valve-valve Penyembur api (Burner aspal) Blower burner aspal Pipa-pipa aspal (transfer pump) Ketel tangki aspal Ketel tangki minyak pemanas Ketel penimbang aspal panas Konstruksi pendukung/ rangka

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Catatan pemeriksa Unit Pemasok Aspal :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

75 dari 138

Kesimpulan Unit Pemasok Aspal kondisi tidak dihidupkan

Kondisi *) Unit Pemasok Aspal Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

12. Unit Pemasok Filler Komponen Yang Diperiksa Rantai (chain) elevator Mangkok (Bucket) Sprocket Bearing Rotor penggerak Ulir pengalir filler Pelindung elevator Konstruksi / rangka Corong pengisi filler Baik Kondisi *) Rusak Lkp. Tdk. Lkp

No.

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Catatan Pemeriksa Unit Pemasok Filler :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II 76 dari 138

Kesimpulan Unit Pemasok Filller kondisi tidak dihidupkan

Kondisi *) Unit Pemasok Filler Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

13. Unit Tenaga Penggerak Kondisi *) Rusak Baik Lkp Tdk Lkp

No.

Komponen Yang Diperiksa Generator Mesin (Engine) Compressor Silinder udara Kontrol panel Jaringan kabel Pipa-pipa Filter, pipa-pipa Pompa hidrolik

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Catatan pemeriksa Unit Tenaga Penggerak:

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

77 dari 138

Kesimpulan Unit Tenaga Penggerak kondisi tidak dihidupkan

Kondisi *) Unit Tenaga Penggerak Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

14. Bin Filler Komponen Yang Diperiksa Pintu bukaan filler Konstruksi / rangka Hopper bin Baik Kondisi Rusak Lkp. Tdk. Lkp

No.

Tidak ada

Keterangan

1 2 3

Catatan Pemeriksa Bin Filler :

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

78 dari 138

Kesimpulan Bin Filler kondisi tidak dihidupkan

Kondisi *) Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

Bin Filler

15. Unit Elevator / Conveyor Campuran Aspal Panas (untuk AMP tipe drum/menerus) Komponen Yang Diperiksa Mangkok (Bucket) Rantai pemutar (Chain) Sprocket pemutar Sprocket pembantu Ban berjalan ( Belt conveyor) Roll pemutar Bearing Roller Chain V-Belt Pelindung (penutup) Elevator / conveyor Motor pemutar Konstruksi pendukung / rangka Baik Kondisi Rusak Lkp. Tdk. Lkp

No.

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

79 dari 138

Catatan Unit Elevator / Conveyor Campuran Aspal Panas:

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

Kesimpulan Unit Elevator / Conveyor Campuran Aspal Panas kondisi tidak dihidupkan

Kondisi *) Unit Elevator / Conveyor Campuran aspal panas Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

16. Silo (Bin) Penampung Campuran Aspal Panas (untuk AMP tipe drum/menerus) Komponen Yang Diperiksa Silo (bin) penampung Pintu pengeluaran Sistem hidrolik / pneumatik bukaan pintu pengeluaran Kontruksi / rangka Baik Kondisi *) Rusak Lkp. Tdk. Lkp

No.

Tidak Ada

Keterangan

1 2 3 4

80 dari 138

Catatan Silo (Bin) Penampung Campuran Aspal Panas:

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki Siap Pemeriksaan Tahap II

Kesimpulan Silo (Bin) Penampung Campuran Aspal Panas kondisi tidak dihidupkan

Kondisi *) Silo (Bin) Penampung Campuran Aspal Panas Baik Rusak Tdk. Lkp. Lkp Tidak ada Keterangan

Petugas pemeriksa Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Menyetujui pemilik Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Keterangan pengisian : *) Baik Lkp. Tdk.lkp Tidak ada Kolom keterangan

= beri tanda sesuai dengan kondisi aktual lapangan = baik = lengkap = tidak lengkap karena hilang / tidak terpasang = komponen tidak ada dalam sistem tersebut = di isi sesuai dengan keadaan aktual lapangan

81 dari 138

REKAPITULASI PEMERIKSAAN TAHAP I PEMERIKSAAN TEKNIS KOMPONEN PERALATAN PENCAMPUR ASPAL PANAS ATAU ASPHALT MIXING PLANT (AMP) KONDISI TIDAK DIHIDUPKAN Pemilik Lokasi Merk / type : : :

Tahun pembuatan : Jenis : Timbangan / Drum / Menerus *) (Batch / Drum / Continuous) Tgl. Pemeriksaaan :
Kondisi *) Rusak Baik Lkp. Tdk. Lkp

No.

Komponen yang Diperiksa Unit Bin Dingin Atau Cold Bin Unit Ban Berjalan agregat dingin Atau Cold Conveyor Unit Pengering atau Dryer Unit Pemanas atau Burner Unit Pengumpul Debu Atau Dust Collector Unit Elevator Panas Atau Hot Elevator Unit Saringan Atau Screen Unit Bin Panas Atau Hot Bin Unit Timbangan ( Weigh Bin ) Agregat Panas dan Filler Unit Pencampur atau Pugmill (Mixer) Unit Pemasok Aspal Unit Pemasok Filler

Tidak ada

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

82 dari 138

13 14 15 16

Unit Tenaga Penggerak Bin Filler Unit Elevator / Conveyor Campuran Aspal Panas Silo (Bin) Penampung Campuran Aspal Panas
Untuk tipe continuous Untuk tipe continuous

kesimpulan pemeriksaan Peralatan Pencampur Aspal Panas atau Asphalt Mixing Plant (Amp) Kondisi Tidak Dihidupkan Coret yang tidak perlu*)

Kondisi *) Kondisi AMP Secara Umum Baik **) Rusak Lkp. Tdk. Lkp Tidak ada Keterangan

Catatan Pemeriksa Peralatan Pencampur Aspal Panas atau Asphalt Mixing Plant (AMP) Kondisi Tidak Dihidupkan :

. . .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap I) Siap Pemeriksaan Tahap II

83 dari 138

Petugas pemeriksa Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Menyetujui pemilik Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Keterangan pengisian : *) = beri tanda sesuai dengan kondisi aktual lapangan **) = beri tanda apabila pemeriksaan semua komponen dari no 1 sampai dengan no 16 hasilnya baik Baik = baik Lkp. = lengkap Tdk.lkp = tidak lengkap karena hilang / tidak terpasang Tidak ada = komponen tidak ada dalam sistem tersebut Kolom keterangan = di isi sesuai dengan keadaan aktual lapangan

84 dari 138

LAMPIRAN C (Informatif) Formulir pemeriksaan tahap II


PEMERIKSAAN TAHAP II PEMERIKSAAN TEKNIS KOMPONEN PERALATAN PENCAMPUR ASPAL PANAS ATAU ASPHALT MIXING PLANT (AMP) KONDISI DIHIDUPKAN

Pemilik Lokasi Merk / type Tahun pembuatan Jenis

: : : : : Timbangan / Drum / Menerus (Batch / Drum / Continuous)

Tanggal Pemeriksaan:

1. Unit Bin Dingin Atau Cold Bin Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Bukaan pintu bin Pintu pengatur bukaan dan penguncinya Skala meter bukaan Motor penggerak Penggetar Pengatur kecepatan

Keterangan

1 2 3 4 5 6

85 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Bin Dingin (Cold Bin) : Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Bin Dingin (Cold Bin) Kondisi Dihidupkan *) Kondisi *) Unit Bin Dingin atau Cold Bin Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup Keterangan

86 dari 138

2.

Unit Ban Berjalan Agregat Dingin (Cold Conveyor) Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Ban berjalan ( Belt conveyor) penampung dari bukaan bin dingin Alat penimbang berat agregat Ban berjalan ( Belt conveyor) collector Ban berjalan ( Belt conveyor) pengantar ke dryer Ban berjalan ( Belt conveyor) feeder penuang (ke dalam dryer) Roll pemutar Motor pemutar Bearing Sprocket Roller Gear V-Belt Chain

Keterangan

1 2 3 4

5 6 7 8 9 10 11 12 13

Catatan pemeriksa Unit Ban Berjalan Agregat Dingin (Cold Conveyor) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

87 dari 138

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Ban Berjalan Agregat Dingin (Cold Conveyor) kondisi dihidupkan*) Kondisi *) Keterangan Unit Ban Rusak / Berjalan Baik / Tidak tdk Agregat lancar Hidup lancar Dingin atau Cold Conveyor 3. Unit Pengering (Dryer) Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Silinder pengering (Drum dryer) Roda gigi pemutar (Sprocket wheel) Roda gigi ring (Ring gear) Motor penggerak (pemutar) Bantalan roll (Trunnion roller bearing) Bantalan roll penahan (Trust roller bearing) Chain Bearing

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8

Catatan pemeriksa Unit Pengering (Dryer) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

88 dari 138

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Pengering (Dryer) Kondisi dihidupkan. Kondisi *) Unit Pengering atau Dryer Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup

*)

Keterangan

4.

Unit Pemanas (Burner) Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Pompa bahan bakar Pipa-pipa Blower udara Alat ukur (Flow meter) Penyemprot (Burner)

Keterangan

1 2 3 4 5

Catatan pemeriksa Unit Pemanas (Burner) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

89 dari 138

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Pemanas (Burner) Kondisi dihidupkan. Kondisi *) Unit Pemanas atau Burner Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup

*)

Keterangan

5.

Unit Pengumpul Debu (Dust Collector) Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Bearing V-belt Pipa-pipa penyalur Pompa air Penyemprot air Dry Scrubber Wet Scrubber Bag Filter Exhaust fan Motor penyedot

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

90 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Pengumpul Debu (Dust Colector) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Pengumpul Debu (Dust Colector) Kondisi Dihidupkan *) Kondisi *) Keterangan Unit Rusak / Baik / Tidak Pengumpul tdk lancar Hidup Debu atau lancar Dust Colector

6.

Unit Elevator Panas (Hot Elevator) Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Rantai pemutar (Chain) Sprocket pemutar Sprocket pembantu Motor pemutar Bearing

Keterangan

1 2 3 4 5

91 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Elevator Panas (Hot Elevator):


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki Tahap II Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Elevator Panas (Hot Elevator) kondisi dihidupkan Kondisi *) Unit Elevator Panas atau Hot Elevator Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup Keterangan

*)

7.

Unit Saringan Bergetar (Screen) Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa V-belt Pegas penggeter Motor penggetar Mekanisme penggetar

Keterangan

1 2 3 4

92 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Saringan Bergetar (Screen) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Saringan Bergetar (Screen) kondisi dihidupkan Kondisi *) Unit Saringan Bergetar atau Screen Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup Keterangan

*)

8.

Unit Bin Panas (Hot Bin) Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Unit hidrolis / pneumatik bukaan pintu Termometer Pintu pengeluaran

Keterangan

1 2 3

93 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Bin Panas (Hot Bin) :

. .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Bin Panas (Hot Bin) kondisi dihidupkan Kondisi *) Unit Bin Panas atau Hot Bin Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup

*)

Keterangan

9.

Unit Timbangan ( Weigh Bin ) Agregat Panas dan Filler Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Bak / bin penimbang Penunjuk skala (dial) Bukaan timbangan Metal penggantung Unit hidrolis / pneumatik bukaan pintu

Keterangan

1 2 3 4 5

94 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Timbangan ( Weigh Bin ) Agregat Panas dan Filler:

. .
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Timbangan ( Weigh Bin ) Agregat Panas dan Filler *) kondisi dihidupkan Kondisi *) Keterangan Unit Timbangan (Weigh Bin) Agregat Panas dan Filler Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup

10. Unit Pencampur (Pugmill Mixer) Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Pintu bukaan mixer Poros pugmill Roda gigi (gear) Sprocket Chain Penggerak pugmill Bearing-bearing Sistem hidrolis / pneumatik bukaan pedal pugmill

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8

95 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Pencampur (Pugmill Mixer):


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Pencampur (Pugmill Mixer) Kondisi Dihidupkan Kondisi *) Unit Pencampur atau Pugmill Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup Keterangan

*)

11. Unit Pemasok Aspal Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Termometer Pompa penyemprot (Spray) aspal Pompa transfer aspal Pompa oli pemanas aspal Flow meter Pressure meter Valve-valve Penyembur api (Burner aspal)

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8

96 dari 138

9 10 11 12

Blower burner aspal Pipa-pipa aspal (transfer pump) Penggerak pompa & blower Ketel penimbang aspal panas

Catatan pemeriksa Unit Pemasok Aspal :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Pemasok Aspal kondisi dihidupkan Kondisi Unit Pemasok Aspal Panas Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup

*)

Keterangan

97 dari 138

12. Unit Pemasok Filler Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Rantai (chain) elevator Sprocket Bearing Motor penggerak Ulir pengalir filler

Keterangan

1 2 3 4 5

Catatan pemeriksa Unit Pemasok Fillerl :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Pemasok Filler kondisi dihidupkan Kondisi *) Unit pemasok Filler Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup

*)

Keterangan

98 dari 138

13. Unit Tenaga Penggerak Kondisi *) Hidup Tida k Rusak Baik / hidu / tdk lancar p lancar Daya Total Tersedia kebutu han (KVA) (HP/PS) Keteranga n

No.

Komponen yang diperiksa Generator Mesin (Engine) Compressor Silinder udara Kontrol panel Jaringan kabel Filter, pipa-pipa Pompa hidrolik

1 2 3 4 5 6 7 8

Catatan pemeriksa Unit Tenaga Penggerak :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Unit Tenaga Penggerak kondisi dihidupkan Kondisi *) Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup Daya Cukup Tidak Cukup

*)

Keterangan

Unit Tenaga Penggerak

99 dari 138

14. Bin Filler Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Pintu bukaan filler

Keterangan

Catatan pemeriksa Bin Filler :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

Kesimpulan Pemeriksaan Bin Filler kondisi dihidupkan Kondisi *) Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup

*)

Keterangan

Bin Filler

100 dari 138

15. Unit Elevator / Conveyor Campuran Aspal Panas Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Rantai pemutar (Chain) Sprocket pemutar Sprocket pembantu Roll pemutar Ban berjalan ( Belt conveyor) Bearing Sprocket Roller V-Belt Chain mekanisme penggerak Motor pemutar Elevator / conveyor

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Catatan pemeriksa Unit Elevator / Conveyor Campuran Aspal Panas ( untuk tipe Drum/Menerus:


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

101 dari 138

Kesimpulan pemeriksaan Unit Elevator / Conveyor Campuran Aspal Panas kondisi *) dihidupkan Kondisi *) Unit Elevator / Conveyor Campuran Aspal Panas Baik / lancar Rusak / tdk lancar Tidak Hidup Keterangan

16. Silo (Bin) Penampung Campuran Aspal Panas Kondisi *) Hidup Rusak Tidak Baik / hidup / tdk lancar lancar

No.

Komponen yang diperiksa Pintu pengeluaran Sitem hidrolik / pneumatik bukaan pintu pengeluaran

Keterangan

1 2

102 dari 138

Kesimpulan pemeriksaan Unit Silo (Bin )Penampung Campuran Aspal Panas kondisi *) dihidupkan Kondisi *) Silo (Bin) Penampung Campuran Aspal Panas Baik / lancer Rusak / tdk lancar Tidak Hidup Keterangan

Petugas pemeriksa Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Menyetujui pemilik Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Keterangan pengisian : *) Baik / Lancar Rusak/Tdk.lancar Tidak hidup Kolom keterangan = beri tanda sesuai dengan kondisi aktual lapangan = berjalan sesuai dengan fungsi kerjanya = berjalan tidak sesuai dengan fungsi kerjanya ( tersendatsendat) = tidak bisa dihidupkan sesuai fungsi kerjanya = di isi sesuai dengan keadaan aktual lapangan

103 dari 138

REKAPITULASI PEMERIKSAAN TAHAP II PEMERIKSAAN TEKNIS KOMPONEN PERALATAN PENCAMPUR ASPAL PANAS ATAU ASPHALT MIXING PLANT (AMP) KONDISI DIHIDUPKAN Pemilik Lokasi Merk / type Tahun pembuatan Jenis : : : : : Timbangan / Drum / Menerus *) (Batch / Drum / Continuous) Tgl. Pemeriksaaan :

Kondisi *) No. Komponen yang Diperiksa Unit Bin Dingin Atau Cold Bin Unit Ban Berjalan agregat dingin Atau Cold Conveyor Unit Pengering atau Dryer Unit Pemanas atau Burner Unit Pengumpul Debu Atau Dust Collector Unit Elevator Panas Atau Hot Elevator Unit Saringan Atau Screen Unit Bin Panas Atau Hot Bin Unit Timbangan ( Weigh Bin ) Agregat Panas dan Filler Unit Pencampur atau Pugmill (Mixer) Unit Pemasok Aspal Unit Pemasok Filler Baik lancar Rusak / tidak lancar Tidak hidup

Daya cukup Tidak cukup Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

104 dari 138

13 14 15

Unit Penggerak Bin Filler

Tenaga

16

Unit Elevator / Conveyor Campuran Aspal Panas Silo (Bin) Penampung Campuran Aspal Panas

Kesimpulan pemeriksaan Peralatan Pencampur Aspal Panas (Asphalt Mixing Plant) *) pada saat dihidupkan Kondisi *) Baik / lancer **) Rusak / tdk lancar Tidak Hidup Daya cukup Tidak cukup Keterangan

Asphalt Mixing Plant (AMP)

Catatan pemeriksa Peralatan Pencampur Aspal Panas (Asphalt Mixing Plant) Kondisi Dihidupkan :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 2 Harus Diperbaiki (Tahap II) Siap Pemeriksaan Tahap III

105 dari 138

Petugas pemeriksa Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Menyetujui pemilik Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Keterangan pengisian : *) **) Baik / Lancar Rusak/Tdk.lancar Tidak hidup Kolom keterangan = beri tanda sesuai dengan kondisi aktual lapangan = beri tanda apabila pemeriksaan semua komponen dari no 1 sampai dengan no 16 hasilnya baik/lancar = berjalan sesuai dengan fungsi kerjanya = berjalan tidak sesuai dengan fungsi kerjanya ( tersendat- sendat ) = tidak bisa dihidupkan sesuai fungsi kerjanya = di isi sesuai dengan keadaan aktual lapangan

106 dari 138

LAMPIRAN D (Informatif) Formulir pemeriksaan tahap III


PEMERIKSAAN TAHAP III PEMERIKSAAN KELAYAKAN DAN PEMERIKSAAN KELAIKAN OPERASI PERALATAN PENCAMPUR ASPAL PANAS ATAU ASPHALT MIXING PLANT (AMP)

Pemilik Lokasi Merk / type

: : : : : : Timbangan / Drum / Menerus *) (Batch / Drum / Continuous)

Tahun pembuatan Aspal yang dipakai Jenis

Tanggal Pemeriksaan : 1. Unit Bin Dingin Atau Cold Bin

Persyaratan teknis : Kemampuan bin dingin untuk menampung material agregat dingin, tanpa terjadi pencampuran antar agregat yang berbeda ukuran, mampu mengalirkan material tersebut sesuai kebutuhan.

107 dari 138

1.1 No. perc. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Pengujian Dengan Cara Pengaturan Bukaan Pintu ( Manual ) Aliran agregat 1 (kg/menit) Bukaan pintu 2 ( cm ) 5 10 15 20 25 Aliran agregat 2 (kg/menit) Bukaan pintu 3 ( cm ) 5 10 15 20 25 Aliran agregat 3 (kg/menit) Bukaan pintu 4 ( cm ) 5 10 15 20 25 Aliran agregat 4 (kg/menit)

Bukaan pintu 1 ( cm ) 5 10 15 20 25

1.2

Dengan Kontrol Speed (Automatic) Bukaan pintu cold bin tetap. Aliran agregat 1 (kg/menit) Kecepatan putar motor penggerak conveyor 2 (RPM) * Aliran agregat 2 (kg/menit) Kecepatan putar motor penggerak conveyor 3 (RPM) * Aliran agregat 3 (kg/menit) Kecepatan putar motor penggerak conveyor 4 (RPM) * Aliran agregat 4 (kg/menit)

No.

Kecepatan putar motor penggerak conveyor 1 (RPM) *

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 * = diisi kecepatan putar motor penggerak conveyor yang diatur pada waktu pengujian.

108 dari 138

Dengan data di atas dapat dibuat dua buah grafik yaitu : a) b) Grafik hubungan antara besaran bukaan pintu manual (cm) dengan jumlah berat agregat yang mengalir (kg/menit). Grafik hubungan antara Kecepatan putar motor penggerak conveyor (RPM) dengan jumlah berat agregat yang mengalir (kg/menit).

Contoh Grafik hubungan antara besaran bukaan pintu manual (cm) dengan jumlah berat agregat yang mengalir (kg/menit)

Contoh Grafik hubungan antara Kecepatan putar motor penggerak conveyor (RPM) dengan jumlah berat agregat yang mengalir (kg/menit)

109 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Bin Dingin (Cold Bin) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 Harus diperbaiki tahap II (terhadap komponen yang rusak) 2 Laik Operasi

Kesimpulan pemeriksaan Unit Bin Dingin atau Cold Bin Operasi Keterangan Unit Bin Dingin / Cold Bin Laik Tidak laik

2.

Unit Pengering atau Dryer


Temperatur agregat yang disyaratkan ( 0 C ) 1) 160 175 160 175 160 175 160 175 160 175 160 175 160 175 160 175 Temperatur hasil pengukuran (0C) Peninjauan thp spec Sesuai Tidak sesuai Keterangan

No. 1 2 3 4 5 6 7 8

1)

Specifikasi Jalan yang berlaku di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga

110 dari 138

Catatan pemeriksa Unit Pengering (Dryer):


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 Harus diperbaiki tahap II (terhadap komponen yang rusak) 2 Laik Operasi

Kesimpulan Pemeriksaan Unit pengering (Dryer) Operasi Unit Pengering atau Dryer Laik Tidak laik

Keterangan

111 dari 138

3. Saringan Bergetar (Screen) Persyaratan teknis : jumlah agregat tertahan pada saringan penguji (laboratorium ) yang sama ukurannya dengan saringan terpakai harus 5 % 3) Hasil Pengujian agregat tertahan saringan (kg) (%) Penilaian hasil pengujian Keterangan Laik Tidak laik

No.

Ukuran saringan (mm)

Sample Agregat Gradasi Agregat (mm) Berat sample (kg )

1 2 3

37,5 Rata-rata (%)

1 2 3

25 Rata-rata (%)

1 2 3

19 Rata-rata (%)

1 2 3

12,5 Rata-rata (%)

1 2 3

9,5 Rata-rata (%)

1 2 3

4,75 Rata-rata (%)

3)

Petunjuk Pemeriksaan Peralatan Pemecah Batu ( Stone Crusher ), Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Bina Marga, Peralatan No. 030/T/BM/1996, Maret 1996

112 dari 138

3.1. Saringan bergetar FORMULIR HASIL PENGUJIAN GRADASI PRODUK CAMPURAN AGREGAT ASPHALT MIXING PLANT (AMP)
Pemilik Lokasi Merk / Type Tahun Pembuatan Jenis : : : : : Timbangan/Continuous/Drum Mix (Coret yang tidak perlu) LATASIR KELAS A LASTON WC
SPESIFIKASI TEKNIS Ukuran ayakan Latasir (SS) ASTM 1 1 3/8 No.8 No.16 No.30 No.200 (mm) 37,5 25 19 12,5 9,5 2,36 1,18 0,600 0,075 Kelas A Kelas B % Berat yang lolos Lataston (HRS) WC Base WC Laston (AC) BC Base

JENIS PRODUK YANG DIUJI :

LATASIR KELAS B LASTON BC


Rekapitulasi Hasil Uji Lab RCK

LATASTON WC LASTON BASE


Tinjauan thd Spec. Sesuai Tidak

LATASTON BASE

Hasil Uji Lab Trial Mix

Keterangan Lihat Lamp. Pengujian Lab (Metode Pengujian yang dipakai)

Specifikasi Jalan yang berlaku di lingkungan Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah

113 dari 138

No.4 No.8 No.16 No.30 No.50

4,75 2,36 1,18 0,0600 0,300

114 dari 138

Catatan pemeriksa Saringan Bergetar (Screen) :

.
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 Harus diperbaiki tahap II (terhadap komponen yang rusak) 2 Laik Operasi

Kesimpulan Pemeriksaan Saringan Bergetar (Screen) Penilaian hasil pengujian Screen ( Saringan Laik Tidak Bergetar) laik

Keterangan

115 dari 138

4. No. perc. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Unit Bin Panas (Tipe Continuous) Bukaan Aliran Bukaan Aliran Bukaan Aliran Bukaan pintu 1 agregat 1 pintu 2 agregat 2 pintu 3 agregat 3 pintu 4 ( cm ) (kg/menit) ( cm ) (kg/menit) ( cm ) (kg/menit) ( cm ) 5 5 5 5 6 8 10 12 14 16 18 20 22 6 8 10 12 14 16 18 20 22 6 8 10 12 14 16 18 20 22 6 8 10 12 14 16 18 20 22 Aliran agregat 4 (kg/menit)

Catatan Pemeriksa Unit Bin Panas ( Tipe Continuous) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 Harus diperbaiki tahap II (terhadap komponen yang rusak) 2 Laik Operasi

Kesimpulan pemeriksaan Unit Bin Panas Operasi Unit Bin Panas Laik Tidak laik

*) Keterangan

116 dari 138

4.1. Unit Bin Panas (Tipe Continuous)

FORMULIR HASIL PENGUJIAN PRODUK ASPHALT MIXING PLANT


Pemilik Lokasi Merk / Type Tahun Pembuatan Jenis JENIS PRODUK YANG DIUJI : : : : : Timbangan/Continuous/Drum Mix (coret yang tidak perlu) : LATASIR KELAS A LASTON WC LATASIR KELAS B LASTON BC
Rekapitulasi Hasil Uji Lab RCK Hasil Uji Lab Trial Mix

LATASTON WC LASTON BASE


Tinjauan Thd spec. Sesuai Tidak

LATASTON BASE

Pengujian terhadap sifat-sifat campuran

Latasir Kelas A & B

SPESIFIKASI TEKNIS Lataston Laston WC Base WC BC Base

Keterangan Lihat Lamp. Hasil Pengujian Lab (Metode pengujian yang dipakai)

Penyerapan kadar aspal Jumlah tumbukan per bidang Lalu Lintas (LL) > 1 juta ESA > 0,5 juta ESA & < 1 juta ESA Lalu Lintas (LL) < 0,5 juta ESA

Maks.

Rongga dalam campuran (%)(4)

Min. Maks. Min. Maks. Min. Maks. Min. Min. Maks. Min. Maks.

Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Rongga terisi aspal (%) Lalu Lintas (LL) > 1 juta ESA 0,5 juta ESA & < 1 juta ESA

Specifikasi Jalan yang berlaku di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga

117 dari 138

Lalu Lintas (LL) < 0,5 juta ESA Stabilitas Marshall (kg) Kelelehan (mm) Marshall Quotient (kg/mm) Stabilitas Masrshall sisa setelah perendaman selama 24 jam, 600C(5) Lalu Lintas (LL) Rongga dalam > 1 juta ESA campuran (%) 0,5 juta ESA & pada (2,3) < 1 juta ESA kepadatan Lalu Lintas (LL) membal (refusal) < 0,5 juta ESA

Min. Maks. Min. Maks. Min. Maks. Min. Min. Min. Maks. Min. Maks. Min.
Maks.

118 dari 138

Catatan Pemeriksa Unit Bin Panas ( Tipe Continuous) :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 Harus diperbaiki tahap II (terhadap komponen yang rusak) 2 Laik Operasi

Kesimpulan pemeriksaan Unit Bin Panas Operasi Unit Bin Panas

*) Keterangan

Laik

Tidak laik

119 dari 138

5.

Unit Pencampur (Pugmill Mixer) Nilai yang Disyaratkan 2) Hasil pengukuran Peninjauan thd. Spec Tidak Sesuai sesuai

No. 1

Diskripsi Temperatur hot mix (0 C) Jarak pedal dinding (cm) Jarak antar pedal yang bersebelahan (cm) Waktu mixing tipe batch/ timbangan (detik) Waktu mixing tipe menerus dan drum (detik)

keterangan

4 5

Catatan Pemeriksa Unit Pencampur (Pugmill Mixer):


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 Harus diperbaiki tahap II (terhadap komponen yang rusak) 2 Laik Operasi

Kesimpulan pemeriksaan Unit Pencampur (Pugmill Mixer ) Operasi Keterangan Unit Tidak Pencampur Laik laik atau Pugmil (Mixer)

2)

Specifikasi Jalan yang berlaku di lingkungan Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah

120 dari 138

5.1. Unit Pencampur (Pugmil Mixer) FORMULIR PENGUJIAN MUTU PRODUK AMP BERDASARKAN BATAS-BATAS TOLERANSI YANG DIIJINKAN
Pemilik Lokasi Merk / Type Tahun Pembuatan Jenis : : : : : Timbangan/Continuous/Drum Mix (Coret yang tidak perlu) LATASIR KELAS A LATASIR KELAS B LATASTON WC LATASTON BASE

JENIS PRODUK YANG DIUJI :

LASTON WC

LASTON BC

LASTON BASE Tinjauan Thd. Spec. Sesuai Tidak Keterangan Lihat Lamp. Hasil Pengujian Lab

Batas Toleransi Spesifikasi

Rekapitulasi Hasil Uji Lab Terhadap RCK *) *) *) *) *) Hasil Uji Lab Terhadap Trial Mix **) **) **) **) **)

Agregat Gabungan Lolos Ayakan Sama atau lebih besar dari 2,36 mm 2,36 mm sampai no. 50 No.100 dan tertahan no.200 No.200 Kadar aspal Temperatur campuran

Toleransi Komposisi Campuran

Batas Rentang toleransi

Bahan Hot Mix meninggalkan AMP

*)

**)

Catatan : *) Isi dengan hasil uji lab terhadap sampel formula RCK yang dibuat di laboratorium yang sudah memenuhi spesifikasi teknik (lampirkan hasil pengujian) **) Isi dengan hasil uji lab terhadap mutu produk sampel hasil uji coba (trial mix) di AMP (lampirkan hasil pengujian)

Specifikasi Jalan yang berlaku di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga

121 dari 138

Catatan Pemeriksa Unit Pencampur (Pugmill Mixer):


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 Harus diperbaiki tahap II (terhadap komponen yang rusak) 2 Laik Operasi

Kesimpulan pemeriksaan Unit Pencampur (Pugmill Mixer ) Operasi Laik Tidak laik Keterangan

Unit Pencampur atau Pugmil (Mixer)

122 dari 138

6. 6.1.

Unit Pemasok Aspal Temperatur dan Prosentase Kadar Aspal Nilai yang Disyaratkan 3) Hasil pengukuran Peninjauan thd. Spec Tidak Sesuai sesuai

No.

Diskripsi Temperatur aspal panas (0 C) Temperatur oli pemanas aspal (0 C) Prosentase aspal (kg)

Keterangan

6.2.

Alat Ukur Flow Meter Pengaturan debit standart alat ukur aspal / flow meter (kg/menit) Debit hasil pengukuran aspal (kg/menit) Peninjauan thd. Rencana Sesuai Tidak sesuai Keterangan

No.

1 2 3 4 5 Catatan Pemeriksa Unit Pemasok Aspal :


Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 Harus diperbaiki tahap II (terhadap komponen yang rusak) 2 Laik Operasi

3)

Specifikasi Jalan yang berlaku di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga

123 dari 138

Kesimpulan pemeriksaan Unit Pemasok Aspal Operasi Unit Pemasok Aspal Laik Tidak laik

Keterangan

Petugas pemeriksa Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Menyetujui pemilik Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Keterangan pengisian : *) Sesuai Tidak sesuai Laik Tidak laik = beri tanda sesuai dengan kondisi aktual lapangan = sesuai dengan persyaratan mutu yang dikehendaki = tidak sesuai dengan persyaratan mutu yang dikehendaki = laik untuk beroperasi untuk menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu yang dikehendaki = tidak laik untuk beroperasi untuk menghasilkan produk karena tidak bisa/mampu memenuhi persyaratan mutu yang dikehendaki = diisi sesuai dengan keadaan aktual lapangan

Kolom keterangan

124 dari 138

REKAPITULASI PEMERIKSAAN TAHAP III KELAIKAN OPERASI PERALATAN UNIT PENCAMPUR ASPAL PANAS (ASPHALT MIXING PLANT)

Pemilik Lokasi Merk / type

: : : : : Timbangan / Drum / Menerus *) (Batch / Drum / Continuous)

Tahun pembuatan Jenis

Tanggal Pemeriksaan:

1.

Unit Bin Dingin, Pengering, Bin Panas (Tipe Continuous), Pencampur, Pemasok Aspal. Penilaian terhadap kelaikan Tidak Sesuai sesuai / / baik tidak baik

No.

Deskripsi

Keterangan

3 4 5 6

Unit Bin Dingin ( Cold Bin) dengan cara manual Unit Bin Dingin ( Cold Bin) dengan Control Speed (Automatic) Unit Pengering ( Dryer) Unit Bin Panas atau Hot Bin (tipe Continuous) Unit Pencampur atau Pugmill ( mixer ) Unit pemasok aspal

125 dari 138

2.

Screen (Saringan Bergetar) Ukuran saringan (mm) Deskripsi Laik 37,5 Tidak laik Laik 25 Tidak laik Laik 19 Tida Laik k laik 12,5 Tidak laik Laik 9,5 Tidak laik Laik 4,75 Tidak laik Keterangan

Keausan komponen Saringan

Screen (saringan)

126 dari 138

3. Pengujian Gradasi Produk Campuran Agregat Asphalt Mixing Plant (AMP) Penilaian terhadap kelaikan Tidak Sesuai sesuai / / baik tidak baik

Keterangan

No.

Deskrisi

Latasir (ss)

Kelas A Kelas B

Lataston (HRS) Laston

WC Base WC BC Base

4. Pengujian Produk Agregat Asphalt Mixing Plant (AMP) Penilaian terhadap kelaikan Tidak Sesuai sesuai / / baik tidak baik

No.

Deskrisi

Keterangan

Latasir (ss) Lataston (HRS) Laston

Kelas A Kelas B WC Base WC BC Base

127 dari 138

5.

Pengujian Mutu Produk Agregat Asphalt Mixing Plant (AMP) Berdasarkan Batas-batas Toleransi Yang Diijinkan Penilaian terhadap kelaikan Tidak Sesuai sesuai / / baik tidak baik

No.

Deskrisi

Keterangan

1 2 3

Latasir (ss) Lataston (HRS) Laston

Kelas A Kelas B WC Base WC BC Base

Kesimpulan akhir Pemeriksaan Kelaikan Operasi Peralatan Pencampur Aspal Panas Atau Asphalt Mixing Plant (AMP) adalah sebagai berikut : Penilaian hasil pengujian operasi Laik Tdk laik

Keterangan

Asphalt Mixing Plant (AMP)

Catatan pemeriksa peralatan pencampur aspal panas (Asphalt Mixing Plant) :

.
Kesimpulan dan saran pemeriksaan : 1 Harus diperbaiki tahap II (terhadap komponen yang rusak) 2 Laik Operasi

128 dari 138

Petugas pemeriksa Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Menyetujui pemilik Nama Jabatan Tanggal Tandatangan

Keterangan pengisian : *) Sesuai Tidak sesuai Laik Tidak laik Kolom keterangan = beri tanda sesuai dengan kondisi aktual lapangan = sesuai dengan persyaratan mutu yang dikehendaki = tidak sesuai dengan persyaratan mutu yang dikehendaki = laik beroperasi untuk menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu yang dikehendaki = tidak laik beroperasi untuk menghasilkan produk karena tidak bisa/mampu memenuhi persyaratan mutu yang dikehendaki = di isi sesuai dengan keadaan aktual lapangan

129 dari 138

LAMPIRAN E (Informatif) Mengatasi gangguan ( trouble shooting )

1. No. 1.

Kelistrikan Permasalahan Unit tidak dioperasikan bisa Penyebab a. Sumber listrik ke kontrol tidak masuk. b. Ada kerusakan MCCB sehingga tidak terhubung a. Beban material terlalu banyak. b. Ada gesekan mekanik komponen atau macet. c. Terjadi hubungan singkat pada kabel motor. d. Tegangan antara phase tidak seimbang. a. Beban material berlebihan. b. Terjadi drop tegangan. Cara mengatasi a. Cek tegangan, mungkin ada kabel yang terputus. b. Ganti dengan yang baru

2.

Terjadi over load / trip

3.

Putaran motor tidak normal

a. Kurangi beban. b. Cek dan betulkan. c. Cek, bila kabel rusak ganti dengan yang baru. d. Cek tegangan sumber & analisis penyebabnya. e. Selesai perbaikan tekan tombol reset pada TOR yang ada di panel kontrol. a. Kurangi kecepatan. b. Cek tegangan sumber dan betulkan.

2.

Vibrating feeder

No. 1.

Permasalahan Getaran kecil dan kapasitas tidak bisa tercapai

Penyebab a. Ada batu yang mengganjal diantara lubang bin dengan feeder plate. b. Ada kerusakan pada motor (putaran kurang). c. Material terlalu basah dan bercampur lumpur. d. Bukaan pintu kurang besar.

Cara mengatasi a. Bebaskan batu yang mengganjal. b. Cek dan perbaiki motor. c. Hindarkan pemakaian batu yang basah. d. Atur ulang bukaan pintu.

130 dari 138

3.

Belt conveyor

No. 1.

Permasalahan Belt miring berjalan

Penyebab a. Posisi drive pully tidak sejajar dengan tali puly. b. Drive puly tidak berputar. a. Pemberian beban tidak pas ditengan belting. b. Panas matahari. c. Roller idler miring atau tidak sejajar. d. Pengaruh hujan / angin.

Cara mengatasi a. Geser bagian yang miring sampai sejajar. b. Berikan pelumas bearing dan kencangkan baut. a. Betulkan posisi jatuh material dari chute. b. Beri pelindung pada belt conveyor. c. Lurus dan sejajarkan pemasangan roller d. Berikan pelinding sepanjang conveyor . a. Set / atur kembali jarak skirt rubber ( sedekat mungkin tapi tidak bergesekan) b. Ganti konveyor belt dengan kualitas yang lebih bagus. c. Bersihkan return idler, belt, scrapper, dan V-plough. d. Atur jarak scrapper sedekat mungkin dan menempel rata ke belt.

2.

Belt berjalan miring sepanjang sisi konveyor.

3.

Permukaan a. Jarak antara skirt rubber belting bagian belting terlalu dekat atas rusak. (sehingga bergesek). b. Kualitas conveyor belting kurang baik. c. Return roller idler kotor. d. Belt craper dan V-plough bergesekan atau terpasang miring.

131 dari 138

4.

Dryer.

No. 1.

Permasalahan Dryer drum tidak berputar

Penyebab a. Trunion roller-ring tire terjadi slip. b. Ada salah satu motor / trunion roller yang tidak berputar. c. Beban terlalu berat (pemasukan dari conveyor terlalu besar atau banyak material yang menumpuk didalam dryer drum). d. Dryer drum tersangkut dengan kontruksi lain. a. Posisi pemasangan trunion roller tidak sejajar-parallel. b. Ring tire tidak silindris. c. Ring tire tidak terpasang lurus-parallel. d. Thrust roller depan dan belakang tidak menapak sama. e. Terjadi keausan berlebihan dan tidak merata. a. Thrust dan trunnion roller tidak terpasang lurus parallel. b. Ada bagian-bagian kontruksi yang saling bergesekan. c. Terdapat benda yang tidak diharapkan (benda aneh) yang menempel diantara trhunion roller dengan ring tire. d. Bearing kehabisan grease dan terjadi keausan.

Cara mengatasi a. Cek penyebab slip dan perbaiki. b. Perbaiki motor yang rusak. c. Cek ulang kapasitas joint conveyor dan bersihkan dryer vdrum dari material yang menumpuk. d. Cari bagian yang bergesekan dan betulkan.

2.

Dryer drum berputar naikturun dan tidak stabil.

a. Setting ulang posisi trunion roller. b. Cek silindrisitas ring tire dan betulkan. c. Setting ulang pemasangan ring tire. d. Cek posisi pemasangan trhust roller. e. Periksa keausan dan perbaiki dengan yang baru.

3.

Muncul bunyi berderit dan getaran yang tidak normal (getaran terlalu besar)

a. Cek dan setting ulang pemasangan trunion dan thrust roller. b. Cari bagian yang bergesekan dan betulkan. c. Bersihkan permukaan ring tire dan trunnion roller dari benda aneh . d. Cek kondisi bearing , jika sudah longgar atau rusak ganti dengan yang baru . Setting ulang dan berikan grease baru.

132 dari 138

5.

Bucket elevator.

No. 1.

Permasalahan Timbul suara atau getaran yang cukup besar.

Penyebab a. Baut-baut pengikat bucket ada yang kendor. b. Ketegangan pintle chain kurang ( terlalu kendor). c. Ada sebagian pintle chain yang rusak/ kendor. d. Ketegangan motor chain tidak stabil. e. Terjadi keausan yang tidak merata baik pada pintle chain maupun sprocket wheel.

Cara mengatasi a. Cek baut yang kendor dan kencangkan. b. Set ulang ketegangan pintle chain. c. Cek dan ganti pintle chain yang rusak. d. Ganti motor chain. e. Cek keausan dan perbaiki.

2.

Kapasitas terpenuhi.

tidak

a. Bucket banyak yang a. Cek dan perbaiki / ganti rusak. bucket yang rusak. b. Drive sprochet wheel b. Cek keausan perbaiki / aus berlebihan, ganti yang baru. sehingga terjadi slip. c. Cek kapasitas unit c. Kapasitas masukan pengisi. kurang memenuhi.

133 dari 138

6.

Vibrating screen

No. 1.

Permasalahan Vibrating screen tidak bergerak.

Penyebab a. V-belt slip, lepas, atau terlalu kendor. b. Kontak listrik terputus. c. Ada pecahan batu mengganjal. d. Motor slip.

Cara mengatasi a. Kendorkan baut pengatur belt, pasang kembali V-belt dan kencangkan. b. Buka panel instrumen, periksa mungkin ada kabel yang lepas / tidak sambung. c. Bersihkan vibrating screen dari batu / benda-benda yang mengganjal. d. Atur kembali ketegangan V-belt a. Cek elastisitas dan ketinggian pegas dan ganti dengan yang sama. b. Pasang kembali dudukan pegas dan kencangkan baut pengikatnya. c. Atur kembali posisi discharge chute untuk supaya curahan tepat ditengah. Bersihkan screen mesh dari batu-batu yang terperangkap.

2.

Unit tidak bergetar dengan sempurna.

a. Elastisitas dan ketinggian pegas tidak sama. b. Dudukan pegas lepas dari body. c. Pengisian / curahan material tidak ditengah tengah.

3.

Batu keluar / tercurah dengan sempurna.

Batu terperangkap didalam screen.

134 dari 138

7.

Weighing system

No. 1.

Permasalahan Jarum penunjuk pada dial skala tidak bekerja dengan benar.

Penyebab a. Ada gangguan/ kerusakan pada sistem arm. b. Ada kerusakan pada dial gauge. c. Tidak pernah dipemeriksaan kelayakan ulang.

Cara mengatasi a. Cek kerusakan dan perbaiki. b. Cek kerusakan dan perbaiki dial gauge. c. Lakukan pemeriksaan kelayakan ulang setiap waktu tertentu.

2.

Jarum penunjuk tidak dapat menunjuk ke NOL saat tanpa beban.

a. Ada kerusakan pada a. Cek kerusakan dan dial gauge. perbaiki dial gauge. b. Ada beban sisa pada b. Keluarkan beban yang hopper-hopper tersisa dari hopper. penimbang. c. Periksa penyebab dari c. Sistem arm (lengan kemacetan dan pasang penggantung) ada kembali jika lepas. yang macet atau lepas.

135 dari 138

8.

Asphalt distribution system

No. 1.

Permasalahan Asphalt tidak tercurah dengan sempurna ke mixer.

Penyebab a. Didalam asphalt hopper belum terisi penuh dengan asphalt. b. Posisi kerja valve salah. c. Pompa distribusi ada kerusakan. d. Suhu asphalt menurun drastis. e. Lubang pengeluaran pada pipa (di dalam mixer ) tersumbat.

Cara mengatasi a. Asphalt ditimbang dalam kondisi kurang ke asphalt hopper. b. Cek kondisi kerja ( arah aliran) valve. c. Cek dan perbaiki kerusakan pompanya. d. Oil heating sistem tidak bekerja dengan sempurna. e. Bersihkan lubang yang tersumbat. Cek dan benarkan arah kerja valve. Perbaiki kerusakan pada pompa. Hentikan suplay asphalt ke hopper (matikan pompa suplai asphalt), dan panaskan asphalt di dalam ketlte sampai mencapai suhu kerja. Bersihkan saluran asphalt dari sumbatan.

2.

Asphalt tidak terisi a. Posisi arah aliran pada a. pada hopper. trhee way valve ada yang salah. b. b. Pompa suplai asphalt rusak. c. c. Suhu asphalt kurang panas (asphalt kurang cair). d. Ada saluran yang tersumbat. d.

9.

Oil distribution system

No. 1.

Permasalahan Oli tidak terdistribusi dengan sempurna.

Penyebab a. Pompa oli ada kerusakan. b. Posisi valve ada yang salah atau valve rusak. c. Ada sumbatan pada saluran oli. d. Oli di dalam oil tank habis.

Cara mengatasi a. Cek dan perbaiki kerusakan pada pompa. b. Cek dan benarkan posisi buka-tutup valve dan ganti valve yang rusak. c. Cari daerah yang tersumbat dan bersihkan. d. Isi kembali oli pada oil tank.

136 dari 138

10. Fuel distribution system

No. 1.

Permasalahan Fuel (bahan bakar) tidak terdistribusi dengan sempurna.

Penyebab a. Pompa bahan bakar ada kerusakan. b. Posisi valve ada yang salah atau valve rusak. c. Ada sumbatan pada saluran bahan bakar. d. Bahan bakar di dalam fuel tank habis.

Cara mengatasi a. Cek dan perbaiki kerusakan pada pompa bahan bakar. b. Cek dan benarkan posisi buka-tutup valve dan ganti valve yang rusak. c. Cari daerah yang tersumbat dan bersihkan. d. Isi kembali bahan bakar.

11. Dust collection system

No. 1.

Permasalahan Asap yang keluar dari cerobong masih kotor (berwarna pekat)

Penyebab a. Debu yang ada pada unit aggregat terlalu banyak. b. Cyclone tidak berfungsi dengan baik. c. Ada kebocoran pada sepanjang ducting.

Cara mengatasi a. Benahi raw material (bahan baku aggregate) dari jumlah debu yang berlebih. b. Periksa dan perbaiki kerja cyclone. c. Perbaiki kebocoran, jika pada flanges ganti gasket dengan yang baru. d. Cek dan perb0aiki kerusakan exshaust blower. e. Cek dan perbaiki kerusakan yang mungkin terjadi pada screw feeder.

d. Exhoust blower tidak optimal atau ada kerusakan. e. Screw feeder tidak bekerja sempurna sehingga debu pada cyclone terhisap naik.

137 dari 138

LAMPIRAN F (Informatif) Bibliografi

1. 2. 3. 4. 5. 6.

American Association Of State Highway And Transportation Officials (AASTHO), AASTHO Materials, Part I Specification, 13th Edition, 1982. American Association Of State Highway And Transportation Officials (AASTHO), AASTHO Materials, Part II Test, 13th Edition, 1982. Sularso, Haruo Tahara, Pompa Dan Compressor, PT. Pradnya Paramita Jakarta, 1985. Ir. Jac Sttolk Ir. C. Kros, Elemen Bangunan Mesin, Erlangga, 1986. Frank P. Incropera David P. De Witt, Fundamental Of Head And Mass Transfer, Edisi ke 3, 1990. Tim Pemeriksaan kelayakan, Pemeriksaan Kelaikan Asphalt Mixing Plant, No. 032/T/BM/996, Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Jakarta November 1995. Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Petunjuk Pemeriksaan Peralatan Pemecah Batu (Stone Crusher), Peralatan No. 030/T/BM/1996, Maret 1996. Departemen Pemukiman Dan Prasarana Wilayah, Spesifikasi Jalan Dan Jembatan, Edisi 2002. American Association Of State Highway And Transportation Officials (AASTHO), AASTHO Designation = M 156 89 (ASTM Designation = D 995 91), Standard Specification For Requirement For Mixing Plants For Hot Mixed, Hot Laid Bituminous Paving Mixtures. Cmi Corporation Okla City, Usa, Fundamentals Of Asphalt Paving. PT. Bukaka Teknik Utama, Operation Manual Asphalt Mixing Plant Cap. 50 TPH (Batch Type), Model : BAMP 800P SA, Jl. Raya Bekasi Cibinong. Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah, Manual Pekerjaan Campuran Beraspal Panas. Tanaka Iron Works, Co. Ltd, Operation And Maintenance Instruction Manual Asphalt Mixing Plant. PT. Bukaka Teknik Utama, Buku Petunjuk Operasi Asphalt Mixing Plant, Jl. Kramat VI No. 5, Jakarta.

7.

8. 9.

10. 11. 12. 13. 14.

138 dari 138

Pendahuluan

Manual pemeriksaan Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant), merupakan acuan teknis bagi para pemilik, pengguna dan operator peralatan unit pencampur aspal (Asphallt Mixing Plant) guna mengetahui kelaikan sebelum peralatan tersebut siap dioperasikan. Dengan dasar Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant), didukung dengan material atau bahan dengan komposisi yang sesuai dengan rumus perbandingan rancangan, diharapkan Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant) tersebut dapat menghasilkan produk campuran aspal sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. Dibagian awal manual ini diuraikan fungsi dan cara kerja peralatan unit pencampur aspal, baik untuk tipe takaran (Batch Type) maupun tipe menerus (continuous Type) Untuk mengetahui kelaikan operasi dari peralatan unit pencampur aspal panas (Asphalt Mixing Plant) tahapan pemeriksaan dimulai Pemeriksaan tahap I adalah pemeriksaan komponen Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant) dengan kondisi tidak hidup, sedangkan pemeriksaan tahap II adalah pemeriksaan komponen Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant) dengan kondisi dihidupkan. Sedangkan pemeriksaan tahap III adalah pemeriksaan kelaikan operasi Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant) dalam kondisi produksi (beroperasi). Dibagian lain dari manual ini diuraikan tahap pengoperasian dan perawatan yang meliputi tahapan-tahapan pemeriksaan kesiapan Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant), pengoperasian tingkat persiapan, tahap operasi, tahap mixing, penghentian operasi, emergency dan pengoperasian komponen-komponen utama. Sebagai penutup dari manual ini diuraikan lampiran-lampiran yang antara lain memuat penggolongan komponen berdasarkan fungsi dan kerja serta diuraikan juga cara mengatasi gangguan (Trouble Shooting) yang meliputi permasalahan, penyebab dan cara mengatasinya.

Pendahuluan

Manual pemeriksaan Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant), merupakan acuan teknis bagi para pemilik, pengguna dan operator peralatan unit pencampur aspal (Asphallt Mixing Plant) guna mengetahui kelaikan sebelum peralatan tersebut siap dioperasikan. Dengan dasar Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant), didukung dengan material atau bahan dengan komposisi yang sesuai dengan rumus perbandingan rancangan, diharapkan Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant) tersebut dapat menghasilkan produk campuran aspal sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. Dibagian awal manual ini diuraikan fungsi dan cara kerja peralatan unit pencampur aspal, baik untuk tipe takaran (Batch Type) maupun tipe menerus (continuous Type) Untuk mengetahui kelaikan operasi dari peralatan unit pencampur aspal panas (Asphalt Mixing Plant) tahapan pemeriksaan dimulai Pemeriksaan tahap I adalah pemeriksaan komponen Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant) dengan kondisi tidak hidup, sedangkan pemeriksaan tahap II adalah pemeriksaan komponen Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant) dengan kondisi dihidupkan. Sedangkan pemeriksaan tahap III adalah pemeriksaan kelaikan operasi Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant) dalam kondisi produksi (beroperasi). Dibagian lain dari manual ini diuraikan tahap pengoperasian dan perawatan yang meliputi tahapan-tahapan pemeriksaan kesiapan Peralatan unit pencampur aspal panas (Asphallt Mixing Plant), pengoperasian tingkat persiapan, tahap operasi, tahap mixing, penghentian operasi, emergency dan pengoperasian komponen-komponen utama. Sebagai penutup dari manual ini diuraikan lampiran-lampiran yang antara lain memuat penggolongan komponen berdasarkan fungsi dan kerja serta diuraikan juga cara mengatasi gangguan (Trouble Shooting) yang meliputi permasalahan, penyebab dan cara mengatasinya.

H5HI4
StandarNasional Indonesia

A Frl

Perencanhan strukturbetonuntukjembatan

.Q
b

/cs

Badan Standardisasi Nasionat B,Sl/

DAFTARISI
Daftarlsi Daftar tabel Daftar Gambar DaftarNotasi Prakata 1. 2. 3. 4. RUANG L IN GK U P ACUAN NORMATIF DEFINISI DANISTILAH SYARAT UMUM PERENCANAAN STRUKTUR BETON jembatan 4.1. Umurrencana 4.2. Satuan yangdigunakan 4.3. Prinsip umumperencanaan 4.3.1. Dasarumumperencanaan 4.3.2. Asumsi dan anggapan perencanaan 4.3.3. Perencanaan berdasarkan bebandan kekuatan (PBKT) terfaktor 4.3.4. Perencanaan berdasarkan bataslayan(pBL) 4.3.5. Metode analisis 4.3.6. Metode perencanaan khusus 4.4. Sifatdankarakteristik material 4 .4 .1 .B e to n 4.4.1.1. Kekuatan nominal 4.4.1.2. Tegangan ijin 4.4.1.3. Massajenis 4.4.1.4.Lengkung tegangan-regangan 4.4.1.5.Modulus elastisitas 4.4.1.6. AngkaPoisson
I X

xi xii xxiii
1 1 2

4.4.1.10.Kriteria penerimaan kekuatan beton 4.4.2. Bajatulangan non-prategang

tfi:,!',i:ilifnffil"-""

1,1:,i,i, [dl;;; ;ld;",' resansan 4.4.2.4. Modulus elastisitas


4.4.2.5. Koefisien muaipanas 443 l?1i1"[3?li:1?,xil,?",

4.5.

4.6.

danfaktorreduksi kekuatan 4.5.1. Faktor beban dankombinasipembebanan 4.5.2. Faktor reduksi kekuatan 4.5.3. Kekuatan penampang rencana struktur beton padastruktur Korosi beton padabeton 4.6.1. Korosi

nsa n i i 3: i h:HHY ;:ffifffl*r8a Faktor beban

4.4.3.2. Tegangan ijin 4.4.3.3" Modulus elastisitas

I 8 I 8 8 8 I I 10 10 11 11 11 11 12 12 12 13 13 13 15 17 18 18 18 18 19 19 19 19 19 19 2A 2A

20

4.6.2. Perencanaan untukkeawetan jangkapanjang ZO 4.6.2.1. Persyaratan struktur klasifikasi tidaliterlindung 21 4.6.2.2. Persyaratan kekuatan betonuntukabrasi 22 4.6.2.3. persyaratan bataskadarkimia 22 4 9 3 Persyaratan selimut beton 23 4.6.4- Perlindung-an terhadap karatuntuktendonprategang tanpalekatan 25 4..! Penggunaan aditif sebagai bahan pada'camfluran tambahan oeion 26 4.8. Komponen beton tidakbertulang 2T 4.8.1 Penggunaan 27 4.8.2. perencanaan 27 prinsip 4.8.2.1. dasar 2T 4.8.2.2.Sifat-sifat penampang 2T 4.8.3. Kekuatan lentur Zz 4.8.4. Kekuatan geser 27 4.8.4.i.Aksisatu arah ZT 4.8.4.2, Aksidua arah 27 4.8.5. Kekuatan terhadap gayaaksialtekan ZT 4.8.6. Kekuatan terhadap kombinasi lentur dan tekan 2g 5. PERENCANAAN KEKUATAN STRUKTUR BETONBERTULANG 5.1. Perencanaan kekuatan balok terhadap lentur 5.1.1. Kondisi batasperencaaan berdasarkan beban dan kekuatan terfakto(PBKT) 5.1 .1.1.Asumsi perencanaan 5.1.1.2. Faktor reduksi kekuatan 5.1.1.3. Kekuatan rencana dalam lentur 5.1.1.4. Kekuatan minimum 5.1.1 .5. Syarat tulangan minimum 5.1 .1.6.Syarat tulangan maksimum 5.1 .1.7 . Jarak tulangan 5.1.1.8. Detail tulangan lentur 5.2. Perencanaan kekuatan balokterhadap geser 5.2.1. Kekuatan geserrencana padabalok 5.2.2. penampang tapered 5.2.3. Gayagesermaksimum dekattumpuan 5.2.4. Kuatgeseryangdisumbangkan olehbeton 5.2.5. Syarat-syarat tulangan geser 5.2.6. Kuatgeseryangdisumbangkan orehturangan geser 5.2.7. Tulangan geserminimum 5.2.8. Geser friksi 5.2.9. Tulangan gantung 5.2.10. Detail tulangan geser 5.2.10.1. Jenis tulangan geser 5.2.10.2. Jarakantartulangan pembengkokan 5.2.10.3. ujung daritulangan geser 5.3. Perencanaan kekuatan bbbt< tern-aoap lenturdan aksial 5.3.1. Asumsi perencanaan 5.3.2. Faktor reduksi kekuatan 5.3.3. prinsip perencanaan 5.3.4. Efekkelangsingan 5-4. Perencaan kekuatan barok terhadap geserdan puntir 5.4.1. penggunaan 5.4.2. Metode perencanaan 5.4.3. Redistribusi puntir 5.4.4. Kekuatan puntir balok 29 29 29 29 30 30 30 30 31 31 31 32 32 33 33 33 34 34 34 35 36 36 36 37 37 37 37 37 37 38 38 38 38 38 38

Prakata

Salah satu aspek penting untuk menunjang keberhasilan pembinaan jalan adalah tersedianya Standar, Pedoman dan Manual (SPM) yang dapat diterapkan dengan mudah didalam penerapannya. Untuk mengatasi permasalahan di atas, Direktorat Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, menyusun Manual Pemeriksaan Peralatan Unit Produksi Pencampur Aspal (Asphalt Mixing Plant). Manual ini disusun dengan memperhatikan Pedoman Pemeriksaan AMP Pd-03-2005-B. Tatacara penulisan manual ini mengacu pada Pedoman Nasional) No. 8 tahun 2000. BSN (Badan Standardisasi

Apabila dalam pelaksanaannya dijumpai kekurangan atau kekeliruan pada pedoman ini, akan dilakukan perbaikan dan penyempurnaan di kemudian hari.

Jakarta,

Desember 2007

Direktur Jenderal Bina Marga

A. Hermanto Dardak

Prakata

Salah satu aspek penting untuk menunjang keberhasilan pembinaan jalan adalah tersedianya Standar, Pedoman dan Manual (SPM) yang dapat diterapkan dengan mudah didalam penerapannya. Untuk mengatasi permasalahan di atas, Direktorat Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, menyusun Manual Pemeriksaan Peralatan Unit Produksi Pencampur Aspal (Asphalt Mixing Plant). Manual ini disusun dengan memperhatikan Pedoman Pemeriksaan AMP Pd-03-2005-B. Tatacara penulisan manual ini mengacu pada Pedoman Nasional) No. 8 tahun 2000. BSN (Badan Standardisasi

Apabila dalam pelaksanaannya dijumpai kekurangan atau kekeliruan pada pedoman ini, akan dilakukan perbaikan dan penyempurnaan di kemudian hari.

Jakarta,

Desember 2007

Direktur Jenderal Bina Marga

A. Hermanto Dardak