Anda di halaman 1dari 16

Tutorial Klinik

I. Identitas 1. Nama 2. Usia 3. Jenis Kelamin 4. Agama 5. Pekerjaan 6. Alamat 7. Status Pernikahan II. Keluhan Utama Hidung meler serta bersin-bersin : Wasiyatun : 37 tahun : Perempuan : Islam : IRT : Krasan, Siren, Ngawi : Menikah

III.

Riwayat Penyakit Sekarang Sejak 1 minggu yang lalu pasien mengeluhkan hidung sering meler disertai bersin-bersin. Bersin-bersin dirasakan jika terkena debu dan semakin bertambah parah pada saat bagun tidur di pagi hari. Selain itu tenggorokan, mata serta telingga terasa gatal. Pasien sudah mengobati sakitnya ke bidan setempat dan diberikan obat flu. Dengan obat tersebut keluhan sedikit berkurang, tetapi jika pasien tidak mengkonsumsi obat keluhan semakin parah.

IV.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien sudah sering mengalami keluhan serupa, keluhan hidung meler serta bersin-bersin akan muncul saat pasien sedang masak maupun membersihkan rumah. Pasien mempunyai alergi makanan Seafood.

V.

Anamnesis Sistem 1. Kepala Trauma Nyeri Kepala Sinkop Nyeri Sinus (-) (-) (-) (-)

1|Page

2. Mata Nyeri Ikterik Radang Sekret (-) (-) (-) (-)

Konjungtiva anemis ( - ) Gangguan penglihatan ( - ) 3. Telinga Tuli Otorea Vertigo Tinitus Otalgia (-) (-) (-) (-) (-)

4. Hidung Trauma Epistaksis Pilek Nyeri (-) (-) (+) (-)

Gejala Penyumbatan ( - ) Sekret (-)

Gangguan Penciuman ( - ) 5. Tenggorokan Nyeri Perubahan suara 6. Kardiovaskuler 7. Digesti 8. Urogenital 9. Integumentum 10. Muskuloskeletal (-) (-) dbn dbn dbn dbn dbn

2|Page

VI.

Riwayat Penyakit Keluarga Kakak pasien dan anak pasien menderita asma

VII.

Kebiasaan dan Lingkungan Pasien tinggal dirumah bersama suamai serta 3 orang anak. Setiap kali pasien membersihkan rumah ataupun pergi menggunakan kendararaan pasien selalu menggunakan masker, tetapi keluhan tetap saja muncul.

VIII.

Pemeriksaan fisik Pemeriksaan dengan spekulum hidung ditemukan hiperemis pada konka inferior

IX.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang disarankan skin pric test

X.

Diagnosis banding Rhinitis Kronik dengan diagnosis banding Rhinitis alergi dan Rhinitis Vestibular

XI.

Terapi Antihistamin : Levostrisin Korstikosteroid Intranasal

XII.

Prognosis Ad Sanam Ad Visam Ad Fungsionam Ad Kometikam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

3|Page

Tinjauan Pustaka
Definisi
Rhinitis alergi merupakan penyakit inflamasi pada mukosa hidung yang disebabkan oleh reaksi yang dimediasi IgE terhadap paparan alergen. Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersinbersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung yang terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.

Epidemiologi
Rhinitis alergi merupakan bentuk yang paling sering dari semua penyakit atopi, diperkirakan mencapai prevalensi 5-22%. Dimana dalam dekade terakhir ini peningkatan prevalensi rhinitis alergi di seluruh dunia sekitar 6%-8%. Namun, prevalensi ini bisa menjadi lebih tinggi, dikarenakan banyaknya pasien yang mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi ke dokter, maupun penderita yang tidak terhitung pada survei resmi. Disebutkan bahwa di Indonesia pravalensi rhinitis alergi pada anak berkisar antar 9%-27% dan dewasa 22%.

Etiologi
Rhinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran penting. Pada 20 30% semua populasi dan pada 10 15% anak semuanya atopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50%. Beberapa penelitian menunjukan hubungan gambaran polimorfik pada kromosom 5q pada penderita atopi. Peran lingkungan dalam dalam rhinitis alergi yaitu alergen, yang terdapat di seluruh lingkungan, terpapar

4|Page

dan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki kecenderungan alergi. Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk bersama udara pernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk sari, dan lain-lain. Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas: 1. Alergen inhalan, yang masuk bersama udara pernapasan, misalnya tungau debu rumah, kecoa, serpihan epitel kulit binatang (anjing dan kucing), rerumputan (bermuda grass), serta jamur (Aspergillus, Alternaria).

2. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, sapi, telur, coklat, ikan laut, udang, kepiting, kacangkacangan. 3. Alergen injektan, misalnya penisilin dan sengatan lebah. 4. Alergen kontaktan, misalnya bahan perhiasan dan kosmetik. Satu macam alergen dapat merangsang lebih dari satu organ sasaran sehingga memberi gejala campuran misalnya tungau debu rumah yang menimbulkan gejala asma bronkial dan rhinitis alergi.

Klasifikasi
Rhinitis alergi menurut guideline ARIA (2001) rhinitis alergi menurut guideline ARIA (2001). Berdasarkan lamanya terjadi gejala: 1. Intermiten. Seorang pasien dengan rhinitis alergi intermiten

menunjukkan gejala kurang dari empat hari per minggu atau kurang dari empat minggu. 2. Persisten. Pasien dengan rhinitis alergi persisten menunjukkan gejala yang lebih dari empat hari per minggu atau selama lebih dari empat minggu.

5|Page

Berdasarkan keparahan dan kualitas hidup: 1. Ringan. Seorang pasien dengan diagnosis gejala ringan yaitu jika gejalagejalanya tidak mempengaruhi tidur, kegiatan sehari-hari, pekerjaan, sekolah, olahraga atau bersantai. 2. Sedang sampai berat. Seorang pasien dengan diagnosis gejala rhinitis alergi sedang sampai berat adalah jika penyakitnya berdampak terhadap gejala tidur, kegiatan sehari-hari, kerja, sekolah, olahraga atau bersantai, serta jika ada gejala merepotkan. pasien dengan rhinitis alergi yang berlangsung selama enam minggu dengan gejala mengganggu aktivitas normal akan dapat didiagnosis dengan moderat sampai parah dan persisten.

Gejala Klinis
Produksi mukus berlebihan, kongesti, Rhinorrhea (hidung meler), hidung tersumbat, mata berair, gatal serta bersin, bersifat reversibel secara spontan atau sebagai akibat pengobatan. Rhinitis mempunyai jenis yang bervariasi, hampir semua jenis rhinitis yang non infeksi disebut alergi.

Patofisiologi
Secara klasik, rhinitis alergi dianggap sebagai inflamasi nasal yang terjadi dengan perantaraan IgE. Pada pemeriksaan patologi, ditemukan infiltrat inflamasi yang terdiri dari berbagai macam sel. Pada rhinitis alergi selain granulosit, perubahan kualitatif monosit merupakan hal penting dan ternyata IgE rupanya tidak saja diproduksi lokal pada mukosa hidung. Tetapi terjadi respons selular yang meliputi: kemotaksis, pergerakan selektif, dan migrasi sel-sel transendotel. Pelepasan sitokin dan kemokin antara lain IL-8, IL-13 dan eotaxin berpengaruh pada penarikan sel-sel radang yang selanjutnya menyebabkan inflamasi alergi. Aktivasi dan deferensiasi bermacam-macam tipe sel termasuk: eosinofil, sel T CD4+, sel mast, dan sel epitel. Alergen menginduksi Sel Th-2, selanjutnya terjadi peningkatan ekspresi sitokin termasuk di dalamnya adalah IL-3, IL-4, IL-5,

6|Page

IL-9, IL-10 yang merangsang IgE, dan sel mast. Selanjutnya sel mast menghasilkan IL-4, IL-5, IL-6, dan tryptase pada epitel. Mediator dan sitokin akan mengadakan upregulasi ICAM-1. Khemoattractant IL-5 menyebabkan infiltrasi eosinofil, basofil, sel Th-2, dan sel mast. Perpanjangan masa hidup sel terutama dipengaruhi oleh IL-5. Pelepasan mediator oleh sel-sel yang diaktifkan, di antaranya histamin dan cystenil-leukotrien yang merupakan mediator utama dalam rhinitis alergi menyebabkan gejala rinorea dan gatal. Penyusupan eosinofil menyebabkan kerusakan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya iritasi langsung polutan dan alergen pada syaraf parasimpatik, bersama mediator Eosinophil Derivative Neurotoxin (EDN) dan histamin menyebabkan gejala bersin. Terdapat hubungan antara sistem imun dan sumsum tulang. Fakta ini membuktikan bahwa epitel mukosa hidung memproduksi Stem Cell Factor (SCF) dan berperan dalam atraksi, proliferasi, dan aktivasi sel mast dalam inflamasi alergi pada mukosa hidung. Hipereaktivitas nasal merupakan akibat dari respons imun di atas adalah tanda penting rhinitis alergi. Pada sensitisasi awal, alergen spesifik IgE terikat pada reseptor sel mast dan basofil diikuti oleh respon inflamasi dan alergi pada alergen yang terpapar. Pada mukosa nasal proses ini menyebabkan cross-linking pada IgE di permukaan mukosa sel, sel mast, dan basofil, diikuti dengan granulasi dari sel-sel inflamasi menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti histamin lima menit, setelah terpapar alergen (respon fase awal). Respon yang berikutnya biasanya 15 menit. Sintetis dari mediator (misal leukotrin, prostaglandin, aktivasi faktor platelet), dan beberapa sitokin) menyebabkan vasodilatasi, peningkatan sekresi glandula, dan stimulasi nervus sensoris menyebabkan symptom immediate berupa bersin, rhinorrhea, gatal, dan kongesti nasal. Respons fase lambat terjadi setelah 4 sampai 24 jam setelah terpapar alergen dicirikan recruitment sel inflamasi dari darah misal basofil, monosit, limfosit, dan monosit, melepaskan mediator inflamasi tambahan dan kerusakan jaringan. Mengakibatkan peningkatan simptom berupa nasal kongesti.

7|Page

Diagnosis
Diagnosis rhinitis alergi didasarkan pada anamnesa (riwayat individu dan riwayat keluarga yang didapatkan secara terperinci, riwayat klinis dari gejala tipikal), pemeriksaan fisik (nasal examination/anterior rhinoscopy), dan pemeriksaan penunjang (skin prick test atau pengukuran antibody spesifik alergen IgE, fibreoptic rhinoscopy, cytology of nasal secretions, nasal challenge with allergen andrhinomanometry, conventional radiography (RX); and CT scan). 1. Anamnesis Dimulai dengan menanyakan riwayat penyakit alergi dalam keluarga. Perlu ditanya gejala spesifik; pola gejala (hilang timbul, menetap) beserta onset dan keparahannya, identifikasi faktor predisposisi, respon terhadap pengobatan, kondisi lingkungan dan pekerjaan. Gejala rhinitis alergi yang khas adalah terdapatnya serangan bersin berulang. Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process). Bersin dianggap patologik, bila terjadinya lebih dari lima kali setiap serangan, terutama merupakan gejala pada RAFC (Reaksi Alergi Fase Cepat) dan kadang-kadang pada RAFL (Reaksi Alergi Fase Lambat) sebagai akibat dilepaskannya histamin. Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadangkadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Rhinitis alergi sering disertai oleh gejala konjungtivitis alergi. Sering kali gejala yang timbul tidak lengkap, terutama pada anak. Kadang-kadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh pasien. 2. Pemeriksaan Fisik Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat disertai adanya sekret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak hipertrofi. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan bila fasilitas tersedia. Gejala spesifik lain pada anak adalah terdapatnya bayangan gelap di daerah bawah mata yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi

8|Page

hidung. Gejala ini disebut allergic shiner. Selain dari itu sering juga tampak anak menggosok-gosok hidung, karena gatal, dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut sebagai allergic salute. Keadaan menggosok ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah, yang disebut sebagai allergic crease. Mulut sering terbuka, sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi geligi (facies adenoid). Dinding posterior faring tampak granuler dan edema (cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal. Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue). 3. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Sitologi Hidung Apabila pada pemeriksaan sitologi sekret hidung didapatkan lebih dari 10% eosinofil maka dapat diindikasikan rhinitis alergi. Namun kadangkala adanya eosinofil dalam sekret hidung dapat dijumpai pada non-rhinitis alergi. Eosinofil tidak dapat ditemukan pada penderita yang mengalami perbaikan, infeksi, dan mendapat terapi kortikosteroid fokal atau sistemik.

b. IgE Total IgE total dianggap meningkat bila lebih dari 100-159 kU/I, ini dapat terjadi pada penderita alergi atau pada penderita dengan infestasi parasit dan 50% penderita rhinitis alergi musiman (RAS) kadar IgEnya normal, jadi pemeriksaan igE total terbatas manfaatnya.

c. Tes Kulit Tes kulit terhadap suatu alergen diindikasikan untuk memberikan bukti adanya dasar alergi pada gejala penderita, untuk mengkonfirmasi penyebab keluhan yang dicurigai atau untuk melihat derajat sensitifitas untuk alergi tertentu. Tes kulit ini lebih disukai karena sederhana, cepat, mudah, relatif murah, dan sensitifitas tinggi. Pada saat pemeriksaan kulit, harus dikerjakan dengan teknik yang benar untuk mendapatkan hasil yang akurat. Intepretasi hasil tes kulit

9|Page

yang tepat perlu pengetahuan, aeroallergen apa yang penting secara lokal dan klinis penting memungkinkan adanya reaksi silang Tes kulit melibatkan perkenalan yang dikendalikan alergen dan zat kontrol ke dalam kulit. Test Percutaneous adalah jenis yang paling umum yang di uji pada kulit dan lebih disukai dalam primer care karena nyaman, aman, dan luas, dapat diterima. Kadang-kadang test intradermal digunakan (kebanyakan oleh peneliti dan subspesialis alergi), adalah lebih sensitif tetapi kurang spesifik daripada tes percutaneous. Tidak jelas metode mana lebih unggul, namun terdapat peningkatan kekhawatiran keamanan menggunakan tes kulit intradermal. Rhinitis alergi memiliki respon immediate atau respon delayed. Tes kulit (Skin test) dapat ditimbulkan dari kedua respon tersebut. Namun tujuan utama skin test adalah untuk mendeteksi langsung respon alergi yang ditimbulkan oleh pelepasan sel mast atau basofil mediator spesifik Ig E. yang mana menyebabkan reaksi setelah 15 menit. Pada respon delayed terjadi empat sampai delapan jam setelah terpapar alergen tersensitiasasi dan kurang berguna dalam diagnos klinis. Tes kulit (skin-test) alergi dilakukan dengan uji tusukan yaitu dengan menempatkan setetes larutan uji pada kulit dan menusuk melalui drop dengan alat yang tajam, atau melalui uji intracutaneous (intradermal) dimana sejumlah kecil larutan uji disuntikkan ke dalam kulit. Menurut literature uji tusukan lebih disukai untuk pengujian awal, karena lebih murah, lebih cepat, kurang nyaman, dan kepekaan klinisnya lebih baik daripada uji intrakutaneus. d. Tes Provokasi Tes provokasi hidung dengan alergen sangat bermanfaat pada penelitian, namun potensi terjadinya serangan alergi, sehingga tidak dilakukan untuk pemeriksaan rutin. Dalam tes provokasi hidung mukosa hidung dipaparkan dengan alergen atau bahan iritan dan kemudian reaksi dipantau. Provokasi adalah alat yang berguna dalam pekerjaan penelitian dan dalam kasus untuk verifikasi diagnosis alergi dibutuhkan. Dalam pekerjaan klinis, mayoritas pengujian provokasi dilakukan dengan alergen. Selain itu digunakan untuk menilai

10 | P a g e

reaktivitas non-spesifik pada hidung dan reaksi yang telah diinduksi dengan beberapa zat kimia dan juga dengan rangsangan fisik. Ada beberapa teknik provokasi hidung yaitu dengan agen larut yang ditetes kedalam hidung, dengan disemprot atau dinebul ke dalam hidung (diuapkan) atau rongga hidung dicuci dengan larutan uji untuk aplikasi topikal dapat dilakukan dengan kertas disk. Hasil dari provokasi dapat dinilai dengan pengamatan berupa bersin, discharge hidung dan pembengkakkan mukosa dengan rhinoscopy. Sensasi sekresi hidung subjek, gatal-gatal dan kongesti pada semiquantitative skor atau skala analog visual. Menghitung bersin merupakan cara yang sederhana untuk menilai respon iritasi. Metode lain yang sederhana adalah dengan mengukur volume sekresi yang timbul, dikumpulkan dengan membiarkan menetes ke dalam saluran dengan mengisap. Ditimbang disaputangan, sekresi ke disk kertas preweighed dan reweighed. Perbedaan bobot mencerminkan jumlah sekresi dikumpulkan dalam jangka waktu yang tetap. Rinomanometri diterima secara luas sebagai metode objektif yang akurat sebagai respon dalam mengukur perubahan dalam saluran napas hidung resistensi (NAR). e. Immunoassay Pemeriksaan rasioallergo test (RAST) dan enzyme link immune sorbent test (ELISA), untuk memeriksa pelepasan mediator selama reaksi alergi dengan mengukur mediator/enzim yang dilepaskan dalam darah. Test alergen antibody spesifik IgE radioallergosorbent testing (RAST]) adalah bermanfaat pada primary care, jika tes perkutaneus tidak praktis misalnya, masalah dengan penyimpanan reagen, keahlian, frekuensi penggunaan, staf pelatihan) atau jika pasien menjalani pengobatan yang terganggu dengan adanya test pada kulit (skin test) misalnya, antidepresan trisiklik, antihistamin. RAST sangat spesifik namun umumnya tidak sensitif seperti skin test. RAST berguna untuk mengidentifikasi alergen umum (misalnya, bulu hewan peliharaan, tungau debu, serbuk sari), tetapi kurang berguna dalam

11 | P a g e

mengidentifikasi makanan, racun, atau alergi obat. Tes alergi pada anak-anak memiliki tantangan tersendiri. Banyak literatur memberikan rekomendasi berdasarkan bukti untuk test alergi pada anak dengan berbagai penyakit alergi (misalnya, rhinitis, asma, alergi makanan). Tes perkutaneus sesuai untuk anakanak tiga tahun dan lebih tua dan RAST biasanya tepat pada usia berapa pun. Beberapa literatur merekomendasikan bahwa dasar keputusan melakukan test oleh sang dokter adalah berdasarkan riwayat klinis, rekomendasi usia dewasa; melakukan tes hanya bila diperlukan untuk mengubah terapi atau untuk memperjelas diagnosis.

Giagnosis Banding
1. Rhinitis non-alergi Infeksi dan rhinitis diinduksi obat Rhinitis hormonal Rhinitis dari penyebab lainnya Gastro-oesophageal reflux Rinitis vasomotor dan idiopatik 2. Polyposis 3. Ciliary defects 4. Cerebrospinal rhinorrhea 5. Tumor benigna/maligna 6. Deviasi septum 7. Foreign bodies 8. Blocked nostril (choanal atresia) 9. Penyakit granulomatous

12 | P a g e

Penatalaksanaan
1. Non Farmakoterapi Menghindari faktor alergen merupakan terapi yang pertama kali perlu dilakukan. Menghindari alergen kausal merupakan dasar pendekatan untuk mencegah munculnya gejala alergi.

2. Farmakoterapi

Saat memilih terapi yang cocok bagi rhinitis alergi, beberapa hal yang menjadi pertimbangan adalah keadaan penyakit penderita saat itu, gejala yang paling dominan, umur, gejala saluran pernafasan lain yang ada di penderita serta riwayat, riwayat pengobatan yang sebelumnya.

a. Antihistamin Antihistamin banyak dipilih sebagai terapi lini pertama dan banyak dari tipe antihistamin bisa dibeli tanpa resep dokter. Obat ini memblokir reseptor H1 menghalangi terjadinya reaksi histamin seperti mencegah peningkatan

permeabilitas vaskuler, mencegah kontraksi otot polos, meningkatkan produksi mukus dan mencegah pruritus. Oleh karena obat ini menghilangkan gejala reaksi histamin di kulit, penderita tidak dianjurkan untuk mengkonsumsinya beberapa hari sebelum dilakukan tes cukit kulit karena hasilnya dapat menjadi negatif. Pada tes in vitro, mengkonsumsi antihistamin tidak akan berpengaruh pada hasil tes. Antihistamin sangat efektif pada reaksi alergi fase cepat (RAFC) sehingga dapat mencegah gejala bersin, rinore, dan pruritus namun kurang berpengaruh pada reaksi alergi fase lambat (RAFL) contohnya sumbatan hidung (nasal congestion/blockers). Antihistamin generasi pertama yang banyak bisa dibeli tanpa resep mempunyai efek sedasi sehingga berpengaruh terhadap penurunan prestasi dan tumpuan penderita Efek samping yang lain adalah efek antikolinergik yang dapat mengakibatkan mulut kering contohnnya difenhidramin, hidroksizin, klorfeniramin dan bromfeniramin.

13 | P a g e

Generasi kedua sangat kecil sekali kemungkinan mengikat reseptor H1 sentral, sehingga mengurangi efek sedasi serta tidak berefek antikolinergik. Golongan ini diabsorpsi secara baik, kerja cepat dan menghilangkan gejala dalam waktu sejam. Pemakaiannya cukup sekali sehari dan tidak menimbulkan efek penggunaan jangka panjang contohnya loratadin dan levosetirisin. b. Kortikosteroid intranasal Kortikosteroid intranasal mungkin adalah terapi yang paling efektif bagi tiap tingkat gejala rhinitis alergi. Keberhasilan maksimal timbul pada minggu pertama sampai kedua dari hari pertama penggunaan. Efektifitasnya tergantung pemakaian yang sering dan keadaan hidung yang adekuat untuk inhalasi obat. Obat ini turut bekerja pada RAFL sehingga mencegah terjadinya peningkatan sel inflamasi yang mendadak. Formulasi mutakhir seperti triamsinolon, budesonid dan flutikason mempunyai ciri absorpsi sistemik yang minimal dengan hampir tiada efek samping sistemik sehingga aman pada tiap golongan umur termasuk anak- anak. Efek samping epistaksis dan hidung tersumbat dapat diregulasi dengan instruksi pemakaain yang benar. c. Kortikosteroid sistemik Preparat ini sesuai bagi gejala sangat berat yang menetap. Pemberiannya adalah melalui intramuskular atau per oral. Jika lewat oral, penurunan dosis secara tapering off diberikan dalam tiga sampai tujuh hari. Obat ini bertindak terhadap inflamasi justru menurunkan gejala rhinitis alergi secara signifikan. Namun pada penggunaan jangka panjang dapat timbul efek samping yang serius seperti penekaan aksis HPA dan efek samping kortikosteroid sistemik lain yang lazim ditemukan.

d. Dekongestan Dekongestan bekerja pada reseptor -adrenergik di hidung, menimbulkan efek vasokonstriksi sehingga kongesti nasal dikurangi. Kongesti rongga hidung berkurang namun obat ini tidak mengatasi gejala lainnya seperti rinore, bersin, dan pruritus. Obat ini banyak ditemukan dalam preparat flu yang bisa dibeli tanpa resep namun pemakaian pada penderita dengan kelainan jantung dan hipertensi

14 | P a g e

harus dengan berhati-hati. Dekongestan intranasal seperti oksimetazolin dapat menimbulkan kekambuhan kongesti nasal serta menimbulkan ketergantungan pada pemakaian lebih dari tiga hari (rhinitis medikamentosa). e. Antikolinergik intranasal Obat ini berpengaruh dalam mengurangi gejala rinore namun tidak gejala lainnya. Contohnya adalah ipatrium bromida dan obat ini dapat digunakan dengan obat alergi lainnya terutama bagi penderita dengan rhinitis alergi tipe sepanjang tahun (perennial). f. Kromolin intranasal Preparat ini harus digunakan sebelum munculnya gejala untuk menjadi efektif. Penggunaannya harus sepanjang paparan terhadap alergen dengan dosis sehingga empat kali sehari dan cukup aman bagi penderita. g. Inhibitor leukotrien obat ini mengatasi kelebihan plasebo dalam menagani rhinitis alergi namun masih jauh ketinggalan efeknya dibandingkan antihistamin dan kortikosteroid inhalan.

3. Imunoterapi Tujuan terapi ini adalah untuk meningkatkan ambang batas (threshold) sebelum munculnya gejala pada penderita yang terpapar pada alergen. Mekanisme kerja terapi imun ini masih belum jelas dimengerti. Indikasi imunoterapi adalah penggunaan farmakoterapi jangka panjang, terapi farmakologi yang tidak adekuat dan tidak dapat ditoleransi oleh penderita serta sensitifitas signifikan terhadap alergen. Sebelum memulai imunoterapi, harus ditentukan alergen yang tepat pada penderita. Di Amerika Serikat yang biasa dilakukan adalah penyuntikan alergen secara subkutan yang gradual sehingga timbul reaksi sistemik yang ringan atau reaksi lokal yang berat. Teknik lain adalah pemberian secara sublingual yang terutama dianuti di Eropa. Teknik ini lebih aman dan mudah dilakukan sendiri oleh penderita di rumah.

15 | P a g e

Komplikasi
Komplikasi rhinitis alergi yang sering ialah: 1. Polip hidung Beberapa peneliti mendapatkan, bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. 2. Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-anak. 3. Sinusitis paranasal. Kedua komplikasi yang terakhir bukanlah sebagai akibat langsung dari rhinitis alergi, tetapi karena adanya sumbatan hidung, sehingga menghambat drainase.

Prognosis
Sebagian besar pasien dapat hidup normal. Hanya pasien yang mendapat imunoterapi untuk alergen spesifik yang dapat sembuh dari penyakitnya dan banyak juga pasien yang melakukan pengobatan simtomatik saja secara intermiten dengan baik. Rhinitis alergi mungkin dapat timbul kembali dalam 2-3 tahun setelah pemberhentian imunoterapi. Gejala rhinitis alergi akan menurun pada pasien bila mencapai umur 4 dekade.

16 | P a g e