Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH TENTANG ZAKAT

Diposkan oleh admin di 20.07 | Minggu, 29 April 2012 | 1 komentar


Label: Makalah, Makalah Agama Islam, Makalah Pendidikan
BAB I

TEORI ZAKAT

Pengertian Zakat

Zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama
Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan
sebagainya) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak. Zakat merupakan
rukun ketiga dari Rukun Islam.

Etimologi

Secara harfiah zakat berarti tumbuh, berkembang, menyucikan, atau
membersihkan. Sedangkan secara terminologi syariah, zakat merujuk pada aktivitas
memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-
orang tertentu sebagaimana ditentukan.

Sejarah zakat

Setiap muslim diwajibkan memberikan sedekah dari rezeki yang dikaruniakan Allah.
Kewajiban ini tertulis di dalamAl-Quran. Pada awalnya, Al-Quran hanya
memerintahkan untuk memberikan sedekah (pemberian yang sifatnya bebas, tidak wajib).
Namun, pada kemudian hari, umat Islam diperintahkan untuk membayar zakat. Zakat
menjadi wajib hukumnya sejak tahun 662 M. Nabi Muhammad melembagakan perintah
zakat ini dengan menetapkan pajak bertingkat bagi mereka yang kaya untuk meringankan
beban kehidupan mereka yang miskin. Sejak saat ini, zakat diterapkan dalam negara-
negara Islam. Hal ini menunjukan bahwa pada kemudian hari ada pengaturan pemberian
zakat, khususnya mengenai jumlah zakat tersebut.

Pada zaman Khalifah, zakat dikumpulkan oleh pegawai sipil dan didistribusikan kepada
kelompok tertentu dari masyarakat. Kelompok itu adalah orang miskin, janda, budak
yang ingin membeli kebebasan mereka, orang yang terlilit hutang dan tidak mampu
membayar. Syariah, mengatur dengan lebih detail mengenai zakat dan bagaimana zakat
itu harus dibayarkan. Kejatuhan para khalifah dan negara-negara Islam menyebabkan
zakat tidak dapat diselenggarakan dengan berdasarkan hukum lagi.

Hukum zakat

Zakat merupakan salah satu rukun islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi
tegaknya syariat islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap
muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori
ibadah seperti shalat, haji, dan puasa yang telah diatur secara rinci berdasarkan Al-
Quran dan As Sunnah. Zakat juga merupakan amal sosial kemasyarakatan dan
kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.

Jenis zakat

Zakat terbagi atas dua jenis yakni:

Zakat fitrah
Zakat yang wajib dikeluarkan Muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Besar
zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah
bersangkutan.
Zakat maal (harta)
Mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta
temuan, emas dan perak. Masing-masing jenis memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Yang berhak menerima

Ada delapan pihak yang berhak menerima zakat, yakni:

Fakir Mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi
kebutuhan pokok hidup.
Miskin Mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
dasar untuk hidup.
Amil Mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat.
Muallaf Mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan barunya
Hamba Sahaya yang ingin memerdekakan dirinya
Gharimin Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk
memenuhinya
Fisabilillah Mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah, perang dsb)
Ibnu sabil Mereka yang kehabisan biaya di perjalanan.

Yang tidak berhak menerima zakat

Orang kaya. Rasulullah bersabda, Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang
yang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga. (HR Bukhari).
Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul
bait) mengambil sedekah (zakat). (HR Muslim).
Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
Orang kafir.

BAB II

TEORI PENGELOLAAN ZAKAT

1. Teori dan Pandangan Normatif
Seiring dengan perkembangan kenegaraan dan pemerintahan, ajaran Negara hukum yang
kini dianut oleh Negara-negara di dunia adalah Negara Kesejahtraan (Welfare State). Ciri
utama dari Negara ini adalah adanya kewajiban pemerintah untuk mewujudkan
kesejahtraan umum bagi warga negaranya, dalam kaitannya dengan organisasi Negara,
untuk mengatur organisasi Negara dan susunan pemerintahan maka setiap Negara
memerlukan suatu konstitusi. Konstitusi dalam kenyataannya lengkap mengatur
hubungan antar lembaga Negara, dan dengan warga Negara serta menyatakan diri
sebagai Negara hukum.
Untuk itu, partisipasi rakyat dalam berbagai fungsi kehidupan bernegara adalah
merupakan salah satu sarana untuk mencapai penegakkan hukum ( Rule Of Law )
tersebut atau lebih dikenal dengan system demokratis. Dengan kata lain, Negara hukum
harus ditopang dengan sistem demokrasi.
Menurut H.D.Van Wijk/Willem Konijnenbelt menyebutkan prinsip-prinsip Rechtstaat
atau Negara hukum, sebagai berikut:
1. Pemerintahan berdasarkan undang-undang, pemerintah hanya memiliki kewenangan
yang secara tegas diberikan oleh undang-undang dasar dan undang-undang lainnya.
2. Hak-hak asasi, terdapat hak-hak manusia yang sangat fundamental yang harus
dihormati oleh pemerintah
3. Pembagian kekuasaan, kewenangan pemerintah tidak boleh dipusatkan pada suatu
lembaga, tetapi harus dibagi-bagi pada organ-organ yang berbeda agar saling mengawasi
dan dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan.
4. Pengawasan lembaga kehakiman, pelaksanaan kekuasaan pemerintah harus dapat
diajukan dan dinilai aspek hukumnya oleh hakim yang merdeka.

Pada abad ke-19 muncul konsep Rechtstaat dari Fredrich Julius Stahl. Menurut Stahl
unsur-unsur Negara hukum (Rechtstaat) adalah sebgai berikut :
a. Perlindungan hak asasi manusia;
b. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu;
c. Pemisahan berdasarkan peraturan perundang-undangan;
d. Peradilan administrasi dalam Perselisihan.

Pada saat yang sama muncul pula konsep Negara hukum (Rule Of Law) dari A.V. Dicey
yang lahir dalam naungan system Anglosaxon. Menurutnya unsur-unsur Negara hukum
adalah sebagai berikut :
a. supremasi aturan-aturan hukum (supremacy of law), tidak adanya kekuasaan
sewenang-wenang (absence of arbitrary power), dalam arti bahwa seseorang hanya boleh
dihukum kalau melanggar hukum.
b. Kedudukan yang sama dalam menghadapi hukum (equality before the law). Dalil ini
berlaku baik untuk orang biasa maupun pejabat.
c. Terjaminnya hak-hak manusia oleh undang-undang (di negara lain oleh undang-undang
dasar) serta keputusan-keputusan pengadilan.

Selain itu menurut B. Arif Sidharta menyatakan, Negara hukum adalah Negara yang
berintikan unsur-unsur dan asas-asas dasar sebagai berikut:
Pertama, pengakuan, penghormatan dan perlindungan kepribadian umat manusia
(identitas) yang mengimplementasikan asas pengakuan dan perlindungan martabat dan
kebebasan manusia, yang merupakan asas fundamental Negara hukum. Kebebasan disini
mencakup kebebasan individu, kebebasan kelompok, kebebasan masyarakat etnis, dan
kebebasan masyarakat nasional. Kebebasan dan kemungkinan pelaksanaan faktualnya
tidak tanpa batas, melainkan ditentukan dan dibatasi faktor kesejahtraan, keadaan factual
eksternal, pandangan kefilsafatan dan keagamaan, nilai-nilai serta penetapan asas-asas
dan kaidah lainnya.
Kedua, asas kepastian hukum yang mengimplementasikan hal berikut ini, para warga
masyarakat harus bebas dari tindakan pemerintah dan pejabatnya yang tidak dapat
diprediksi dan tindakan sewenang-wenang. dalam arti semua tindakan pemerintah harus
bertumpu kepada aturan yang tertuang di dalam hukum positif.
Ketiga, asas persamaan (similia similibus). Pemerintah dan para pejabatnya harus
memberikan perlakuan sama kepada semua orang, dan undang-undang juga berlaku sama
untuk semua orang.
Keempat, asas demokrasi. Asas ini berkenaan dengan cara pengambilan keputusan , di
mana setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk mempengaruhi
putusan dan tindakan pemerintah.
Kelima, asas pemerintah dan para pejabatnya pengemban fungsi melayani masyarakat.
Asas ini menjabarkan ke dalam seperangkat asas umum pemerintahan yang layak
(algemeene beginselen van behoorlijk bestuur). Syarat fundamental bagi keberadaan
manusia yang bermartabat manusiawi harus terjamin dan dirumuskan dalam peraturan
perundang-undangan.

Sejalan dengan itu, suatu konsepsi yang sangat penting diperhatikan berkenaan dengan
pelaksanaan peraturan perundang-undangan adalah konsep tentang kewenangan sangat
memegang peranan penting dalam Hukum Administrasi Negara. Kewenangan dalam
bahasa Belanda disebut dengan istilah Bevoegheid yaitu berkaitan erat dengan wewenang
pemerintah dalam mengelola dan melaksanakan kekuasaan Negara, adapun mengenai
ruang lingkup kewenangan tidak hanya meliputi pengambilan keputusan oleh penguasa
tetapi juga menyangkut kewenangan untuk melaksanakan tugas pemerintah. Secara
Teoritis kewenangan dapat diperoleh melalui tiga cara:
a. Atribusi: pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat undang-undang kepada
organ pemerintahan;
b. Delegasi: pelimpahan wewenang pemerintah dari satu organ pemerintahan kepada
organ pemerintahan yang lain;
c. Mandat: terjadi ketika organ pemerintahan mengijinkan kewenangan dijalankan oleh
organ lain atas namanya.

Menurut Bagir Manan (dalam Ridwan H.R) menjelaskan bahwa wewenang di dalam
bahasa hukum tidak sama dengan kekuasaan (Macht). Kekuasaan hanya mengambarkan
hak untuk berbuat atau tidak berbuat. Dalam hukum wewenang sekaligus berarti hak dan
kewajiban (Rechten en plichten).
Konsep kewenangan menurut beberapa orang sarjana adalah sebagai berikut :
Philipus M. Hadjon: kewenangan pemerintah dapat beberapa kekuasaan bebas atau
kekuasaan diskresi, yaitu kewenangan untuk memutuskan secara mandiri dan
kewenangan interpretasi terhadap norma-norma tersamar namun tetap tunduk pada
hukum.
Herbert A. Simons: wewenang adalah suatu kekuasaan untuk mengambil keputusan dan
berkaitan dengan atasan dan bawahan.
S.F. Marbun : wewenang adalah kemampuan untuk melakukan suatu tindakan hukum
public (yuridis) juga sebagai kemampuan bertindak yang diberikan undang-undang untuk
melakukan hubungan hukum.
Prajudi Atmosudirjo : wewenang adalah kekuasaan untuk melakukan suatu tindakan
hukum publik.
Suatu hal yang penting dijelaskan, bahwa berbagai pemikiran mengenai kewenangan yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan, pelaksanaannya sangatlah dipengaruhi oleh
faktor pemeran (faktor non-juridik nirmatif) dalam uraian berikut.

2. Teori Efektivitas Hukum (Sosiologis)
Telah diungkapkan, bahwa pelaksanaan dan pengelolaan zakat tidak hanya diperankan
oleh pemerintah; melainkan ditujukan kepada warga masyarakat, terutama warga yang
memiliki kemampuan harta kekayaan berkewajiban mengeluarkan zakat (Muzakki), dan
warga penerima zakat (Mustahiq). Berkenaan dengan itu, hukum merupakan suatu
sarana yang bertujuan untuk menciptakan keharmonisan, keutuhan, ketertiban dan
ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat. Atau dengan kata lain, keseraian antara
ketertiban (yang bersifat lahiriah) dengan ketentraman yang bersifat batiniah.
Dengan demikian kehadiran hukum merupakan bagian integral dari kehidupan
masyarakat, sehingga sulit dibayangkan apabila dalam suatu masyarakat dapat berjalan
tertib tanpa adanya hukum yang mengaturnya. Eksistensi Undang-undang Pengelolaan
Zakat sangatlah diperlukan bagi pengembangan kehidupan umat, terutama bagi Mustahiq
yang relatif sangat lemah.
Indikator kedua, pemahaman hukum, dalam arti sejumlah informasi yang dimiliki
seseorang mengenai isi dari suatu peraturan. Dengan perkataan lain pemahaman hukum
merupakan suatu pengertian atau penguasaan seseorang terhadap hukum tertentu, baik
menyangkut substansi maupun tujuannya.
Indikator ketiga, sikap hukum artinya seseorang mempunyai kecendrungan untuk
mengadakan penilaian tertentu terhadap hukum. Suatu sikap hukum akan melibatkan
pilihan warga terhadap hukum yang sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam dirinya,
sehingga akhirnya masyarakat menerima hukum berdasarkan penghargaan terhadapnya.
Berdasarkan teori psikologi struktur pembentukan sikap meliputi:
a. Komponen kognitif (komponen konseptual) berkaitan dengan pengetahuan, pandangan
terhadap obyek sikap;
b. Komponen afektif (komponen emosional) yakni berhubungan dengan perasaan senang
atau tidak senang terhadap obyek sikap;
c. Komponen konatif (komponen perilaku) yakni komponen yang berhubungan dengan
sikap tindak terhadap obyek sikap.

Indikator keempat, pola perilaku hukum artinya seseorang berperilaku sesuai dengan
hukum yang berlaku. Mengenai hal ini Friedman mengemukakan bahwa :
Compliance is, in other words, knowing conformity with a norm or command, a
deliberate instance of legal behavior that bends toward the legal act that ovoked it. Or the
legal behavior in the middle, one important type might be colled evasion. Evasive behavior
frustrates the goals of a legal act, but falls short of noncompliance or, as the case may be,
legal culpability.

Berdasarkan pendapat tersebut, maka perilaku seseorang terhadap hukum dapat
diklasifikasikan dalam bentuk ketaatan atau kepatuhan (compliance), ketidaktaatan atau
penyimpangan (deviance) dan pengelakan atau menghindar (evasion). Secara teoritis
prilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor internal yaitu faktor yang merupakan
psikologik yang ada pada diri seseorang. Faktor ini condong menggerakkan orang yang
bersangkutan untuk mempromosikan kepentingan pribadi atas dasar pertimbangan-
pertimbangan yang rasional, sehingga faktor inilah yang pertama-tama menggerakkan
seseorang untuk taat terhadap suatu ketentuan, karena individu selalu berupaya mencari
kemudahan dan kemanfaatan bagi dirinya. Selain faktor internal, faktor lain yang
mempengaruhi prilaku seseorang adalah faktor-faktor yang eksis di luar diri seseorang
(eksternal) yang berupa lingkungan sosial yang penuh dengan pengaturan dan
pengharusan (dunia normatif). Faktor internal dapat disebut sebagai penggerak dan
pengada prilaku, sedangkan faktor eksternal adalah faktor pembentukan atau
pemolaannya .
Dalam kehidupan bermasyarakat, kedua faktor tersebut sangat penting artinya karena
akan menentukan pola prilaku yang diwujudkan. Pengaruh kedua faktor itu akan tampak
dari warga masyarakat yang selalu bergerak dan menyesuaikan diri dengan situasi dan
kondisi yang akan mendukung prilakunya.
Selanjutnya Giddens mengemukakan ada tiga hal yang mem pengaruhi lahirnya prilaku
yaitu: Pertama reflaxtif of action, kedua ratioanalization of action dan ketiga motivation of
action. Reflextion monitoring of action, tindakan para individu yang diwujudkan
berdasarkan pengalaman dan tindakan para individu tersebut tercipta karena adanya
hubungan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Rationalization of action, yaitu
suatu tindakan yang dilakukan individu berdasarkan alas an yang logis/rasional karena
adanya pengetahuan dari individu yang bersangkutan. Motivation of action yaitu suatu
kemauan dari para individu yang didasarkan pada aspek kesadaran dan ketidak sadaran
individu terhadap kognisi dan emosinya.
Prilaku seseorang seringkali dilakukan secara sadar dan ketidak sadaranya, prilaku yang
dilandasi dengan penuh kesadaran akan membawa manfaat baik bagi dirinya maupun
orang lain. Karena itu prilaku hendaknya didukung oleh niat yang baik dan dengan
kesedaran yang tinggi.
Fishbein, dalam hal ini mengemukakan bahwa niat seseorang untuk berprilaku di
pengaruhi oleh persepsinya tentang manfaat prilaku tersebut serta persepsinya tentang
sikap kelompok panutannya. Selanjutnya Fishbein mengemukakan beberapa proposisi
yakni:
a. Prilaku seseorang dipengaruhi oleh niatnya untuk melakukan perilaku tersebut;
b. Niat seseorang untuk melakukan prilaku tertentu dipengaruhi oleh keyakinannya
(beliefs) mengenai konsekwensi dari tindakan tersebut serta manfaatnya bagi dirinya;
c. Niat seseorang untuk melakukan perilaku tertentu dipengaruhi oleh keyakinannya
mengenai harapan-harapan kelompok panutan serta motivasinya untuk memenuhi
harapan tersebut.

Menurut Hobbes dan Freud, pada dasarnya perilaku individu manusia adalah egoistis dan
karenanya cenderung memuaskan kepentingannya sendiri . Akibat sifat manusia yang
cenderung memuaskan kepentingannya sendiri, maka seringkali menimbulkan benturan-
benturan kepentingan dengan pihak lain yang apabila tidak dikendalikan akan
mengakibatkan terjadinya penyimpangan sosial (deviasi sosial).
Untuk menganalisis bekerjanya hukum sebagai suatu sistem, Friedman menyatakan
bahwa A legal system in actual operation is complex organism in which structure,
substance and culture interact .
Yang dimaksud dengan komponen struktur adalah bagian-bagian yang bergerak didalam
suatu mekanisme misalnya organisasi-organisasi/lembaga-lembaga hukum). Komponen
substansi yaitu hasil aktual yang diterbitkan oleh system hukum (misalnya norma-norma
hukum, termasuk peraturan perundang-undangan, keputusan yang dibuat oleh
pengadilan atau yang ditetapkan oleh badan pemerintah). Sedangkan komponen kultur
merupakan komponen pengikat sistem serta menentukan tempat sistem hukum itu
ditengah kultur/budaya masyarakat (terdiri dari nilai-nilai dan sikap publik).
Pengukuran terhadap efektivitas hukum atau pelaksanaan hukum dapat dilihat melalui
norma yang ada di dalam undang-undang itu sendiri, dimana yang dimaksud dengan
norma disini terutama dalam penelitian ini adalah Pengelolaan Zakat menurut Undang
Undang Nomor 38 Tahun 1999. Selain melalui norma yang terdapat di dalam Undang-
undang itu sendiri, efektivitas hukum dapat dilihat dari pemahaman masyarakat terhadap
norma yang ada artinya bahwa bagaimanakah penguasaan seseorang terhadap materi
atau isi dari peraturan perundang-undangan. Selanjutnya dapat dilihat dari prilaku
aparat penegak hukum artinya bahwa penegak hukum adalah merupakan ujung tombak
dari penegakan hukum di lapangan. Yang menjadi permasalahan adalah ketika substansi
undang-undangya sangat responsip, prilaku masyarakat menunjukkan ketaatan terhadap
norma tadi tetapi jika aparatnya tidak mampu melaksanakan norma tadi, maka akan
terjadi ketimpangan dalam hal penegakan hukum di masyarakat.
Mengkaji bekerjanya hukum dalam masyarakat, menurut Robert B. Seidman ada 3 (tiga)
unsur yang berkaitan didalamnya yaitu:
a. Lembaga pembuat peraturan;
b. Lembaga penerap peraturan (birokrasi);
c. Pemegang peran.


Selanjutnya oleh Seidman dinyatakan bahwa tingkah laku pemegang peran dapat
ditentukan oleh peraturan-peraturan hukum yang disampaikan kepadanya, dan oleh
keseluruhan kekuatan-kekuatan sosial yang bekerja didalam masyarakat. Dan lembaga
penerapan sanksi/peraturan akan bertindak sesuai dengan peraturan yang berlaku
tergantung dari adanya sanksi yang ada padanya. Setiap tingkah laku pemegang peran
dapat merupakan umpan balik yang disampaikan kepada pembuat peraturan.
Namun bekerjanya hukum tidak hanya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan
itu saja, tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya. Termasuk faktor-faktor anyg turut
menentukan respon yang akan diberikan oleh pemegang peran adalah:
a. sanksi yang terdapat didalamnya;
b. aktivitas dari lembaga-lembaga/ badan pelaksanan hukum;
c. seluruh komplek kekuatan sosial, politik dan lain-lainnya lagi yang bekerja atas diri si
pemegang peran itu.

Beberapa Faedah Zakat

Faedah Diniyah (segi agama)

Dengan berzakat berarti telah menjalankan salah satu dari Rukun Islam yang
mengantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.
Merupakan sarana bagi hamba untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Rabb-nya,
akan menambah keimanan karena keberadaannya yang memuat beberapa macam
ketaatan.
Pembayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, sebagaimana
firman Allah, yang artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah (QS:
Al Baqarah: 276). Dalam sebuah hadits yang muttafaq alaih Nabi Shallallaahu alaihi wa
Sallam juga menjelaskan bahwa sedekah dari harta yang baik akan ditumbuhkan
kembangkan oleh Allah berlipat ganda.
Zakat merupakan sarana penghapus dosa, seperti yang pernah disabdakan Rasulullah
Muhammad SAW.

Faedah Khuluqiyah (Segi Akhlak)

Menanamkan sifat kemuliaan, rasa toleran dan kelapangan dada kepada pribadi
pembayar zakat.
Pembayar zakat biasanya identik dengan sifat rahmah (belas kasih) dan lembut kepada
saudaranya yang tidak punya.
Merupakan realita bahwa menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat baik berupa harta
maupun raga bagi kaum Muslimin akan melapangkan dada dan meluaskan jiwa. Sebab
sudah pasti ia akan menjadi orang yang dicintai dan dihormati sesuai tingkat
pengorbanannya.
Di dalam zakat terdapat penyucian terhadap akhlak.

Faedah Ijtimaiyyah (Segi Sosial Kemasyarakatan)

Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup para fakir
miskin yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar negara di dunia.
Memberikan dukungan kekuatan bagi kaum Muslimin dan mengangkat eksistensi mereka.
Ini bisa dilihat dalam kelompok penerima zakat, salah satunya adalah mujahidin fi
sabilillah.
Zakat bisa mengurangi kecemburuan sosial, dendam dan rasa dongkol yang ada dalam
dada fakir miskin. Karena masyarakat bawah biasanya jika melihat mereka yang berkelas
ekonomi tinggi menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaaat
bisa tersulut rasa benci dan permusuhan mereka. Jikalau harta yang demikian melimpah
itu dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan tentu akan terjalin keharmonisan dan
cinta kasih antara si kaya dan si miskin.
Zakat akan memacu pertumbuhan ekonomi pelakunya dan yang jelas berkahnya akan
melimpah.
Membayar zakat berarti memperluas peredaran harta benda atau uang, karena ketika
harta dibelanjakan maka perputarannya akan meluas dan lebih banyak pihak yang
mengambil manfaat.

Hikmah Zakat

Hikmah dari zakat antara lain:

Mengurangi kesenjangan sosial antara mereka yang berada dengan mereka yang miskin.
Pilar amal jamai antara mereka yang berada dengan para mujahid dan dai yang
berjuang dan berdawah dalam rangka meninggikan kalimat Allah SWT.
Membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk
Alat pembersih harta dan penjagaan dari ketamakan orang jahat.
Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan
Untuk pengembangan potensi ummat
Dukungan moral kepada orang yang baru masuk Islam
Menambah pendapatan negara untuk proyek-proyek yang berguna bagi ummat.

Zakat dalam Al Quran

QS (2:43) (Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang
yang ruku.)

QS (9:35) (Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar
dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka:
Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah
sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.)

QS (6: 141) (Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan
delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari
buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan).

BAB III

PRAKTEK ZAKAT DI INDONESIA

Praktek Zakat di Indonesia

Masyarakat di Indonesia biasanya menyalurkan zakat biasa lewat panitia zakat di masjid-
masjid ataupun juga melaui lembaga-lembaga zakat nasional dan swasta yang telah
ditunjuk pemerintah. Dalam penyaluran zakat di Indonesia sepertinya sudah tersalur
dengan baik, masyarakat yang berhak menerimanya pun telah menerima atau bisa
dibilang tepat sasaran.

Contoh dari lembaga-lembaga zakat di Indonesia ialah seperti ;

Dompet Dhuafa Republika

Rumah Zakat

Bina Insan Prestasi

Portal Infaq

Baitul Maal Hidayatullah

Baitulmaal Muamalat

Pos Keadilan Peduli Umat

Dan lain-lain.

Permasalan Zakat di Indonesia

v Persoalan Zakat adalah sesuatu yang tidak pernah habis dibicarakan, wacana tersebut
terus bergulir mengikuti peradaban Islam. Di Indonesia Persoalan yang muncul atas zakat
sekarang : Pertama, Peran zakat sebagai salah satu rukun Islam yang harus ditunaikan
oleh umat Islam yang mampu (muzakki) hanya menjadi kesadaran personal. Membayar
zakat merupakan kebajikan individual dan sangat sufistik sehingga lebih mementingkan
dimensi keakhiratan. Semestinya zakat adalah menjadi sebuah gerakan kesadaran
kolektif, taruhlah kita bisa canangkan gerakan sadar zakat, seperti yang pernah
dicanangkn oleh Presiden Megawati pada tanggal 2 Desember 2001 di Masjid Istiqlal pada
acara peringatan Nuzulul Quran, sehingga zakat menjadi tulang punggung perekonomian
umat. Karena, Zakat bukan hanya sekedar kewajiban yang mengandung nilai teologis,
tetapi juga kewajiban finansial yang mengandung nilai sosial yang tinggi. Persoalan ini,
tidak lepas juga dari pamahaman umat (yang wajib zakat) terhadap makna subsansi
zakat. Zakat hanya sebagai suatu kewajiban agama (teologis) untuk membersihkan harta
milik dari kekotoran. 1 Pemahaman masyarakat seperti itu tentang zakat, akhirnya zakat
di berikan tanpa melihat sisi kemanfaatan ke depan bagi yang berhak menerimanya
(Mustahiq). Tanpa melihat, bahwa Zakat memainkan peran penting dan signifikan dalam
distribusi pendapatan dan kekayaan serta berpengaruh nyata pada tingkah laku
konsumen. Dengan zakat distibusi lancar dan kekayaan tidak melingkar di sekitar
golongan elit (konglomerat). Namun akhir-akhir ini kesadaran di kalangan umat Islam
menengah atas lainnya makin membaik. Selain membayar pajak mereka juga membayar
zakat. Kedua, meningkatnya kesadaran umat Islam dalam membayar zakat tidak disertai
dengan pengumpulan dan penyaluran yang terencana secara komprehensif. Bagaimana
zakat yang punya peran sangat penting dalam menentukan ekonomi umat bisa dapat
terkelola dengan baik dan professional-produktif. Pengelolaan yang tidak baik dan
profesional menjadikan zakat tidak produktif dalam ikut andil mengembangkan ekonomi
umat. Kita dulu punya BAZIS (Badan Amil Zakat dan Shodaqah) yang semi-pemerintah,
sekarang kita punya Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang
dibina oleh pemerintah atas keinginan masyarakat. Hanya saja, system kelembagaan zakat
tidak sama dengan lembaga pajak yang sudah dinilai kuat, tampaknya BAZIS/ BAZ/ LAZ
masih terkesan lemah dan tidak mudah menetapkan target. Ditambah lagi dengan
persoalan amanah yang kurang dimiliki oleh penyelenggara zakat. Sebenarnya, ada tiga
kata kunci yang harus dipegang oleh organisasi pengelola zakat agar menjadi good
organization governance, yaitu Amanah, Professional dan Transparan. Ketiga, sisi
pendukung Legal-formal kita kurang proaktif dalam melihat potensi zakat yang sekaligus
sebagai aplikasi dari ketaatan kepada agama bagi umat Islam. Seperti yang disampaikan
Pimpinan DSUQ Bandung bahwa potensi zakat secara finansial dalam setahun di
Indonesia bisa terkumpul mencapai 2 trilliun rupiah. Jumlah itu baru yang bisa di hitung
dari jumlah orang kaya (muzakki) yang terdeteksi. Tapi kenyataannya, pengumpulan
zakat, masih dibawah standar rasio rata-rata jumlah umat Islam yang kena kewajiban
zakat (muzakki). Semestinya sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama
Islam, negara proaktif dalam menyikapi kebutuhan umat, dimana ajaran Islam yang asasi
seperti zakat menjadi tulang punggung perekonomian umat dengan melahirkan Undang-
undang zakat dari sejak kemerdekaan.

v Lahirnya Undang-undang No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan Zakat yang disahkan
pada tanggal 23 September 1999, walau tidak ada kata terlambat, tidak begitu banyak
memberikan angin segar kepada umat Islam dalam mewujudkan suatu tatanan
perekonomian yang kuat. Tetapi kita masih bisa bersyukur, dengan lahirnya Undang-
undang tersebut, walau terjadi tarik menarik kepentingan (penguasa dan rakyat) dalam
lahirnya Undang-undang tersebut. Ditambah lagi dengan adanya perubahan atas Undang-
undang PPh No. 17 Tahun 2000 yang disahkan tanggal 2 Agustus 2000 dimana zakat
menjadi pengurang pembayaran pajak.penghasilan. Kedua undang-undang tersebut
memberikan jaminan kepada umat Islam bahwa zakat akan terkelola dengan baik, walau
tidak sedikit kekhawatiran bahwa undang-undang itu hanya sebuah gerakan yang
setengah hati yang hanya membesarkan hati umat Islam dan akan berhenti di tengah
jalan.

v Kekhawatiran itu tenyata terbukti dengan adanya stagnanisasi dalam usaha sosialisasi
dan realisasi kedua undang-undang tersebut. Terjadinya banyak kendala dalam sosialisasi,
realisasi dan tekhnis menjadi faktor yang sangat dominan dalam terjadinya stagnan
undang-undang tersebut. Kenapa hal ini bisa terjadi ? kita mungkin melihat dengan kaca
mata sinis terhadap pemerintah dalam menerapkan konsep zakat, dengan mengatakan,
bahwa Undang-undang zakat yang ada hanya sebagai gerakan setengah hati. Atau kita
bisa melihat dengan beragam kelemahan yang ada pada Undang-undang No. 38/99 tentang
Pengelolaan Zakat dan UU No. 7/83 Jo.UU No.10/94 Jo.UU No. 17/2000 tentang Pajak
Penghasilan sebagai pengurang pembayaran pajak apabila sudah membayar zakat bagi
umat Islam, seperti yang disampaikan Hadi Muhammad dalam sebuah makalahnya atas
kelemahan Undang-undang tersebut, mengatakan : metode Prepaid Tax lebih baik
ketimbang metode Deductible Expenses yang digunakan dalam UU No. 38/99, karena
sebetulnya hanya merupakan usaha excuse dari aparat ditjen pajak untuk menunjukkan
toleransi birokrasi terhadap ketentuan berzakat umat Islam.

ZAKAT DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT ISLAM
Oleh :
Mohammad Fathi Rabbani
Ekis 2
Mahasiswa Institut Studi I slam Darussalam Gontor Kampus Siman

ABSTRAK
Zakat sebagai sarana distribusi pendapatan dan pemerataan ekonomi, serta sarana
berbuat kebajikan bagi kepentingan masyarakat menduduki peran penting dalam perekonomian
masyakat secara umum maupun kalangan Muslim, karenanya menarik untuk dikaji kembali
sebagai salah satu potensi dana umat yan sangat besar guna memecahkan berbagai masalah
sosial masyarakat.
Ekonomi Islam adalah kumpulan prinsip-prinsip umum tentang ekonomi yang kita ambil
dari Al-Quran, Sunnah, dan pondasi ekonomi yang kita bangun atas dasar-dasar pokok itu
dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan waktu, sejalan dengan pendapat Dr.
Muhammad Syauki Al-Fanjari ekonomi Islam adalah segala sesuatu yang mengendalikan dan
mengatur aktivitas ekonomi sesuai dengan pokok Islam dan politik ekonominya.
Kata kunci : Ekonomi Islam, Zakat, Pemberdayaan.



A. PENDAHULUAN
Masalah zakat ini adalah masalah klasik yang selalu menjadi impian setiap orang muslim
untuk mewujudkan keadilan sosial bagi kelompok miskin dan lemah. Namun dalam kerangka
teoritis, zakat dapat menjelma menjadi suatu alur pemikiran yang mewujudkan kesejahteraan
sosial. Walaupun pada sisi empirisnya, zakat hanyalah angan-angan yang tak pernah terwujud
untuk mensejahterakan masyarakat. Hal ini dalam ajaran Plato yang dapat dipetik beberapa
kesimpulan yang diantaranya adalah : Bahwa di dunia ini ada kecenderungan siklus hidup, segala
sesuatunya tidak abadi.
Kaitannya dengan zakat dalam perspektif ekonomi adalah suatu potensi yang selama ini
dilaksanakan oleh masyarakat, sejak masuknya agama Islam. Tetapi sangatlah dipertanyakan
bahwa potensi zakat sebagai sarana distribusi pendapatan dan pemerataaan ekonomi, serta sarana
berbuat kebajikan bagi kepentingan masyarakat belumlah dikelola dan didayagunakan secara
maksimal dalam ruang lingkup daerah. Padahal jika potensi zakat ini dikelola dengan baik tentu
akan dapat membawa dampak besar dalam kehidupan ekonomi masyarakat, terutama dalam
upaya mengentaskan kemiskinan.1[1]
Permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah konsep zakat dalam kaitannya
dengan pemberdayaan ekonomi mayarakat Islam, mengingat banyak kalangan yang belum
sepenuhnya melirik potensi besar dari zakat sebagai sebuah harta karun. Kenyataan di lapangan
banyak orang yang belum sesungguh hati mengelola zakat sebagai sumber perekonomian
masyarakat terutama masyarakat Islam itu sendiri. Karena itu perlu penataan kembali badan atau
unit yang mengelola hal ini.
B. KONSEP EKONOMI ISLAM
Sebagai sebuah agama, Islam senantiasa memberikan pijakan dan tuntutan yang jelas dan
mengikat kepada umatnya. Islam secara universal mengarahkan bagaimana umatnya mampu
memadukan dalam dirinya kesadaran trasendental dalam bentuk peribadatan kepada Allah SWT
dan bagaimana ia mampu mengimplementasikan kesadaran sosial dalam bentuk aktualisasi

1[1] Ariswanto, Buku Pintar Teori Ekonomi, Jakarta : Penerbit Aribu Mitra Mandiri, Tahun 1997.
Hal : 35

ajaran pokok Islam dalam kehidupan sehari-hari. Entah itu masalah agama, pendidikan, ekonomi
dan lain sebagainya.
Dalam memberikan batasan atau definisi tentang ekonomi, lebih khusus ekonomi Islam,
terdapat perbedaan pendapat dikalangan para sarjana dalam mengkategorikan ekonomi Islam,
baik sebagai ilmu atau sebagai sistem. Sebelum mendefinisikan ilmu ekonomi Islam, kita harus
memahami terlebih dahulu pengertian ekonomi secara populer dikalangan ahli ekonomi
konvensional, karena istilah ekonomi itu sendiri adalah suatu hal baru dalam Islam, walaupun
substansi kajian ekonomi sudah ada dan sudah teraplikasi dalam ajaran Islam.
C. PANDANGAN BEBERAPA AHLI TENTANG EKONOMI ISLAM
Menurut Fuad Fachruddin dan Heri Sudarsono, dalam Al-Quran ekonomi Islam
diidentifikasikan dengan iqtishad yang artinya umat yang pertengahan atau bisa diartikan
menggunakan rezeki yang ada disekitar kita dengan cara berhemat agar kita menjadi manusia-
manusia yang baik dan tidak merusak nikmat apapun yang diberikan kepadanya2[2]. Dari sini
bisa dinyatakan bahwa nama ekonomi Islam bukan nama buku dalam terminologi Islam, tidak
ada peraturan atau undang-undang yang menyatakan harus bernama ekonomi Islam. Sehingga
bisa saja orang mengatakan ekonomi illahinya, ekonomi syariah, ekonomi qurani ataupun
hanya ekonomi saja. Nama ekonomi Islam lebih populer dikarenakan masyarakat lebih mudah
mengidentifikasi nama Islam dimana nama tersebut lebih familiar dengan masalah sehari-hari.
Nama ekonomi Islam dipengaruhi oleh penafsiran kita terhadap praktek ekonomi Islam
yang kita temukan. Bila pengalaman ekonomi Islam berkaitan dengan aturan-aturan tentang
perintah dan larangannya, maka makna ekonomi Islam lebih banyak berkaitan norma. Hal ini
akan membangun pengertian bahwa ekonomi Islam sebagai ilmu normatif.3[3]

2[2] Abdurrahman, Ensklopedia Ekonomi, Keuangan dan Perdagangan, Jakarta, Peradnyo
Paramita, Tahun 1991. Hal : 14

3[3] Ariswanto, Buku Pintar Teori Ekonomi, Jakarta : Penerbit Aribu Mitra Mandiri, Tahun 1997.
Hal : 40

Bila pengalaman yang kita temukan banyak berkaitan tentang persoalan aktual, misalnya
praktek bank dan lembaga keuangan syariah dan sebagainya maka menghasilkan makna nama
ekonomi Islam yang berbeda.
Adapun secara terminologi, menurut Abdullah Abdul Husain At-Tariqi para pakar
ekonomi Islam mendefinisikan Ekonomi Islam dengan sedikit berbeda, antara lain :
1. Dr. Muhammad Bin Abdullah Al Arobi mendefinisikan bahwa ekonomi Islam adalah
kumpulan prinsip-prinsip umum tentang ekonomi yang kita ambil dari Al-Quran, Sunnah, dan
pondasi ekonomi yang kita bangun atas dasar-dasar pokok itu dengan mempertimbangkan
kondisi lingkungan dan waktu.4[4]
2. Dr. Muhammad Syauki Al-Fanjari mendefinisikan bahwa ekonomi Islam adalah segala sesuatu
yang mengendalikan dan mengatur aktivitas ekonomi sesuai dengan pokok Islam dan politik
ekonominya.5[5]
3. Dengan posisinya yang merupakan cabang dari ilmu fiqih, maka kami mendefinisikan bahwa :
ekonomi Islam adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat apliktip yang diambil dari dalil-
dalilnya yang terperinci tentang persoalan yang terkait dengan mencari, membelanjakan, dan
cara-cara mengembangkan harga.6[6]
Abdullah Abdul Husain At-Tariqi menjelaskan ekonomi Islam bukan merupakan bagian
ilmu tentang keyakinan, namun umumnya merupakan asumsi-asumsi, karena posisinya yang
menjadi bagian dari hasil pengambilan dalil-dalil umum tentang ekonomi, hadis-hadis ahad
standar perkiraan atau sejenisnya. Walaupun begitu, perkiraan ini haruslah diamalkan
sebagaimana dalil yang qati. pengamalannya juga dikategorikan sebagai ilmu.7[7]
Mengenai bahan ekonomi Islam sebagai ilmu, Arkhom Khan sebagaimana yang dikutip
oleh Heri Sudarsono dalam bukunya Konsep Ekonomi Islam menjelaskan, ekonomi Islam berarti

4[4] Abdullah Abdul At-Tariqi Husain, Ekonomi Islam Prinsip Dasar dan Tujuan, Yogyakarta,
Magistra Insania Press, Tahun 2004. Hal : 20
5[5] Ibid, Hal : 21
6[6] Ibid, Hal : 23
7[7] Ibid, Hal : 27
juga metode mengakomodasi berbagai faktor ekonomi dengan melibatkan seluruh manusia yang
mempunyai potensi yang berbeda guna melibatkan sumberdaya ekonomi yang ada di bumi. Ilmu
ekonomi memustakan studi tentang kesejahteraan manusia yang dicapai dengan
mengorganisasikan sumber daya atas dasar kerjasama dan partisipasi.
Pengembangan ekonomi Islam adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
Langkah ini oleh beberapa ahli ilmu ke-Islaman ditempuh melalui upaya pemantapan dan
pemberdayaan masyarakat melalui reaktualisasi fungsi zakat.8[8]
Pada prinsipnya para ahli / ulama Islam melihat ekonomi Islam tidak hanya berfungsi
sebagai sebuah ritual sosial serta bagaimana mengatur manusia dalam mencapai kesejahteraan
bersama tetapi juga sebagai sebuah ilmu. Ilmu menurut kami sebagaimana yang dijelaskan oleh
Muhammad adalah pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis serta telah teruji
kebenarannya. Dan dalam Islam, menurut ilmu adalah kewajiban baik bagi laki-laki maupun
perempuan.
D. PRINSIP DASAR SISTEM EKONOMI ISLAM
Tidak dapat dipungkiri oleh siapapun yang dapat berfikir jernih dan logis, bahwa Islam
merupakan sistem hidup. Sebagai suatu pedoman hidup, ajaran Islam yang terdiri atas aturan-
aturan mencakup keseluruhan sisi kehidupan manusia. Secara garis besar aturan-aturan tersebut
dibagi dalam tiga bagian, yaitu : aqidah, akhlak dan syariah yang terdiri atas bidang muamalah
(sosial), dan bidang ibadah (ritual).9[9]
Menurut KH Abdullah Zaky Al-Koap prinsip pokok ekonomi Islam terbagi atas lima hal
penting, yaitu :
1. Kewajiban Berusaha

8[8] Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, Bogor, Pustaka Litera Antar Nusa, Tahun 2004. Hal : 15

9[9] Abdullah Abdul At-Tariqi Husain, Ekonomi Islam Prinsip Dasar dan Tujuan, Yogyakarta,
Magistra Insania Press, Tahun 2004. Hal : 7

Islam tidak mengizinkan umatnya menjauhkan diri dari pencaharian kehidupan dan hidup
hanya dari pemberian orang. Tidak ada dalam masyarakat Islam, orang-orang yang sifatnya non-
produktif (tidak menghasilkan) dan hidup secara parasit yang menyandarkan nasibnya kepada
orang lain.
2. Membasmi Pengangguran
Kewajiban setiap individu adalah bekerja, sedangkan negara diwajibkan menjalankan
usaha membasmi pengangguran. Tidak boleh ada pengangguran.
3. Mengakui Hak Milik
Berbeda dengan paham komunis, Islam senantiasa mengakui hak milik perseorangan
berdasarkan pada tenaga dan pekerjaan, baik dari hasil sendiri ataupun yang diterimanya sebagai
harta warisan. Selain dari keduanya tidak boleh diambil dari hak miliknya kecuali atas keridhaan
pemiliknya sendiri.
4. Kesejahteraan agama dan sosial
Menundukkan ekonomi dibawah hukum kepentingan masyarakat merupakan suatu
prinsip yang sangat penting masa kini. Prinsip ini ditengok oleh Islam dengan suatu instruksi dari
Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai kepala Negara Islam. Yang diantaranya
adalah kewajiban untuk mengambil zakat kepada kaum muslimin.
5. Beriman kepada Allah SWT
Pokok pendirian terakhir ialah soal ketuhanan. Mengimankan ketuhanan dalam ekonomi
berarti kemakmuran yang diwujudkan tidak boleh dilepaskan dari keyakinan kutuhanan.
Sewajarnya urusan ekonomi jangan melalaikan kewajiban kepada Allah SWT, harus
menimbulkan cinta kepada Allah SWT, menafkahkan harta untuk meninggikan syiar Islam dan
mengorbankan harta untuk berjihad dijalan Allah SWT,10[10]
E. PENGERTIAN ZAKAT
Secara etimologi (bahasa) kata zakat merupakan kata dasar (masdar) dari () . Zakat
yang berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik. Sesuatu itu zaka, berarti tumbuh dan berkembang,
dan seseorang itu zaka, berarti orang itu baik, ditinjau dari sudut bahasa, adalah suci, tumbuh,
berkah, dan terpuji : semua digunakan dalam quran dan hadis. Kata dasar zakat berarti

10[10] Ibid, Hal : 30
bertambah dan tumbuh, sehingga bisa dikatakan, tanaman itu zaka, artinya tumbuh, sedang setiap
sesuatu yang bertambah disebut zaka artinya bertambah. Bila satu tanaman tumbuh tanpa cacat,
maka kata zakat disini berarti bersih.11[11]
Dalam terminologi fikih, zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah
diserahkan kepada orang-orang yang berhak, disamping berarti mengeluarkan sejumlah itu
sendiri demikian Qardhawi mengutip pendapat Zamakhsari. Jumlah yang dikeluarkan dari
kekayaan itu disebut zakat karena yang dikeluarkan itu menambah banyak, membuat lebih
berarti, dan melindungi kekayaan itu dari kebinasaan. Sedangkan menurut terminology syariat,
zakat adalah nama bagi sejumlah harta


11[11] Sumber : http://www.salafy.or.id
tertentu yang telah mencapai syariat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk
dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu
pula.12[12]
Hubungan antara pengertian zakat menurut bahasa dan pengertian menurut istilah sangat
nyata dan erat kekali. Bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjdi berkah, tumbuh,
berkembang dan bertambah suci dan bersih (baik).
F. PANDANGAN BEBERAPA ULAMA TENTANG ZAKAT
Para ulama fiqih, memiliki pemahaman yang sangat beragam tentang masalah zakat.
Diantaranya adalah sebagaimana dibawah ini :
Menurut Didin Hafidhuddin zakat secara termologi adalah mengeluarkan sebagian harta
dengan persyaratan tertentu untuk diberikan kepada kelompok tertentu (mustahik) dengan syarat-
syarat tertentu pula.
Wahbah Zuhaili dalam karyanya Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu sebagaimana yang
dikutip oleh Suyitno dalam buku Anatomi Fiqih Zakat mendefinisikan zakat dari sudut empat
Imam Mazhab, yaitu :
1) Madzhab Maliki, zakat adalah mengeluarkan sebagian yang tertentu dari harta yang
tertentu pula yang sudah mencapai nishab (batas jumlah yang mewajibkan zakat) kepada orang
yang berhak menerimanya, manakalah kepemilikan itu penuh dan sudah mencapai haul (setahun)
selain barang tambang dan pertanian;
2) Madzhab Hanafi berpandangan bahwa zakat adalah menjadikan kadar tertentu dari
harta tertentu pula sebagai hak milik yang sudah ditentukan oleh pembuat syariat semata-mata
karena Allah SWT;
3) Menurut Madzhab Syafii, zakat adalah nama untuk kadar yang dikeluarkan dari
harta atau benda dengan cara-cara tertentu.

12[12] Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, Bogor, Pustaka Litera Antar Nusa, Tahun 2004. Hal : 21

4) Madzhab Hambali memberikan definisi zakat sebagai hak (kadar tertentu) yang
diwajibkan untuk dikeluarkan dari harta tertentu untuk golongan yang tertentu dalam waktu yang
tertentu pula.
5) Dalam Kifayatul Akhyar dijelaskan nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah
mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberi kepada yang
berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.
6) Menurut Al-Syarkoni seperti yang dikutip oleh Hasbi Ash Shiddieqy, mengatakan
bahwa zakat adalah memberikan sebagian harta yang cukup nisab kepada orang fakir dan
sebagainya yang tidak berhalangan secara syara.13[13]
Secara umum, dapat dipahami bahwa zakat adalah penyerahan atau penunaian hak dan
kewajiban yang terdapat dalam harta untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak
menerimanya sebagaimana yang terdapat dalam surat At-Taubah ayat 60.
E^^) e~EO- g7.-4OUg
-=OE^-4 4-)-gE^-4
OgOU4 gOE-E^-4 gOU~ )4
~@O- 4-g`@O4^-4 )4 O):Ec
*.- ^-4 O):OO- W LO_C@O ;g)`
*.- +.-4 v1)U4 _O:EO ^g
60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan)
budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam
perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi
Maha Bijaksana.
G. ZAKAT SEBAGAI PEMBERDAYA EKONOMI UMMAT
Zakat merupakan sesuatu yang tidak asing lagi terdengar di telinga kita sebagai
masyarakat muslim, bahkan zakat tersebut merupakan sesuatu yang sakral dan wajib
diaplikasikan bagi setiap masyarakat muslim yang mampu. Setiap 2,5 % (minimalnya)

13[13] Wahba Al-Zahayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, Bandung PT Remaja Rosda Karya
Tahun 1997. Hal : 29-31

dari harta yang dimiliki setiap orang mampu (kaya) wajib dikeluarkan kepada yang
membutuhkan, karena di 2,5 % itu bukan hak dari si pemilik harta. Harta tersebut
merupakan hak bagi masyarakat yang membutuhkan. Zakat tersebut bisa merupakan
zakat yang dapat dikonsumsi langsung (Zakat Konsumtif) maupun Zakat yang tidak
berhenti di konsumsi, tetapi justru Zakat yang berbentuk investasi dan terus diproduksi
(Zakat Produktif). Yaitu berupa pendidikan bagi anak yang kurang mampu, penyuluhan-
penyuluhan di daerah miskin, pemberian modal usaha bagi si penerima zakat, dll.
Ternyata, tidak salah bahwa Islam telah mensyariatkan Zakat bagi umatnya yang
mampu untuk dilaksanakan. Faktanya, zakat sangat berperan bagi pembangunan
ekonomi masyarakat modern ini. Disamping itu pula, zakat sangat berperan terhadap
distribusi kesejahteraan masyarakat.14[14] Distribusi kesejahteraan masyarakat tersebut
dapat digambarkan melalui Equilibrium (Keseimbangan) Pasar.
Ditinjau dari fungsinya, Zakat memiliki 2 peran yang sangat penting :
a. Zakat berfungsi untuk mengurangi tingkat pendapatan yang siap dikonsumsi oleh
segmen orang kaya (muzakky). Oleh karena itu, pengimplementasian zakat diharapkan
akan mampu mengerem tingkat konsumsinya orang kaya sehingga kurva permintaan
segmen kaya tidak terlalu meningkat terlalu tajam. Hal ini pada akhirnya akan memiliki
dampak positif, yaitu menurunnya dampak atas peningkatan harga-harga komoditas.
b. Zakat berfungsi sebagai media transfer pendapatan sehingga mampu meningkatkan
daya beli orang miskin. Dalam hal ini diharapkan dengan menerima zakat, maka segmen
miskin akan meningkatkan daya belinya sehingga mampu berinteraksi dengan segmen
kaya.15[15]
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, apakah zakat konsumtif akan
menumbuhkan perekonomian ? Apakah zakat konsumtif akan menimbulkan dampak
yang leih baik dibanding zakat produktif ? Mari kita lihat dasar analisis berikut.

14[14] Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam UII Yogyakarta, Ekonomi Islam,
Jakarta, PT Rajawali Pers, 2009. Hal : 404
15[15] Ibid, Hal : 405
Pembayaran Zakat pada tahap pertama akan menurunkan permintaan orang kaya dari DH1
menuju DH2. Turunnya permintaan ini akan diterima oleh orang miskin sehingga akan
berpengaruh terhadap pasar segmen miskin. Jika zakat diterima dalam bentuk barang konsumsi,
maka permintaan permintaan orang miskin akan dari Ds1 menuju Ds2 sehingga akan
mendorong harga di segmen meningkat. Namun, jika zakat diterima dalam bentuk modal kerja
atau produktif, maka penawaran segmen miskin akan meningkat dari Ss1 menuju Ss2. Jumlah
permintaan segmen kecil akan meningkat lebih kecil namun diikuti oleh harga yang menurun.
Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa zakat konsumtif aupun zakat produktif akan
meningkatkan pertumbuhan perekonomian selama penurunan permintaan segmen kaya (XH1-
XH2) akan diimbangi oleh peningkatan volume perdagangan segmen miskin(Xs3-Xs0) yang
lebih besar Hal ini dipengarui oleh :
1. Kepekaan konsumen miskin terhadap harga barang. Semakin konsumen miskin peka atau
elastis terhadap harga, maka zakat produktif akan memiliki dampak inflasioner lebih rendah dan
peningkatan output lebih tinggi daripada zakat konsumtif.
2. Hubungan antara harga dan penjualansegmen miskin. Semakin elastis penawaran segmen
miskin, maka semakin tinggi efek zakat konsumtif terhadap penigkatan output daripada zakat
produktif.
3. Hasrat untuk konsumsi segmen miskin. Hasrat ini menunjukkan seberapa besar bagian
pendpatan yang akan dikonsumsi dan bisa dicerminkan dari nilai elastisitas permintaan terhadap
pendapatan. Semakin elastis permintaan terhadap pendapatan berarti tambahan pendapatan
segmen miskin akan dihabiskan untuk konsumsi, dan hal ini semakin meningkatkan besarnya
efek zakat konsumtif.
Dari gambaran ini, tidak selalu zakat produktif memiliki efek terhadap perekonomian
yang lebih baik, hal ini terutama dipengaruhi oleh perilaku ekonomi masyarakat mustahiq.16[16]




16[16] Ibid, Hal; 407-408



G. KESIMPULAN
Secara umum umat Islam mengharapkan agar pelaksanaan zakat dapat dilakukan dengan
sebaik-baiknya berdasarkan syariat Islam. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah
termasuk ulama dan ilmuwan agar implementasi zakat terlaksana.
Untuk itu sebenarnya konsep operasional penerapan zakat, dapat dijadikan contoh dan
terus dikembangkan pada masa sekarang, serta diaktualisasikan sesuai dengan pertumbuhan dan
tuntutan masyarakat.
Dengan memberdayakan zakat secara optimal (mulai dari pemetaan data muzakki,
pencatatan muzakki, pengumpulan dana/benda zakat, pendistribusian dana/benda zakat,
pemetaan dan pencatatan penerima zakat) yang selalu diupdate, insya Allah masalah
perekonomian khususnya tentang kemiskinan finansial masyarakat kita akan mendapat enjeksi
solutif, sehingga kita akan melihat lahirnya masyarakat yang sejahtera dari sisi ekonomi.


DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Ensklopedia Ekonomi, Keuangan dan Perdagangan, Jakarta, Peradnyo Paramita, Tahun
1991.
Ariswanto, Buku Pintar Teori Ekonomi, Jakarta : Penerbit Aribu Mitra Mandiri, Tahun 1997.
http://www.salafy.or.id
Husain, Abdullah, Abdul At-Tariqi, Ekonomi Islam Prinsip Dasar dan Tujuan, Yogyakarta, Magistra
Insania Press, Tahun 2004.
Wahba Al-Zahayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, Bandung PT Remaja Rosda Karya Tahun 1997.
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam UII Yogyakarta, Ekonomi Islam, Jakarta, PT
Rajawali Pers, 2009.
Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, Bogor, Pustaka Litera Antar Nusa, Tahun 2004.





Diposkan oleh Mohammad Fathi Rabbani di 05.20
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook









ZAKAT DALAM PRESSPEKTIF EKONOMI

A. Deskripsi Masalah

Dalam pandangan ahli fiqih pembahasan tentang zakat merupakn suatu bagian dari pembahasan
hukum isslam.sebagian dari pembahasan hukum, pembahasan zakat terfokus pada sah dan tidak
sah pemungutan dan penyerahan zakat, boleh atau tidak bolehnya pemungutan dan penyerahan
zakat, wajib atau tidak wajibnya sesuatu kekayaan dipungut zakatnya dan sebagainya.

Zakat adalah ibadah yang mengandung dua dimensi: dimensi hablum minalloh atau dimensi
vertical dan dimensi hablumminannas atau dimensi horizontal.Ibadah zakat bila ditunaikan
dengan baik, akan meningkatkan kualitas keimanan, membersihkan dan menyujikan jiwa, dan
mengembangkan serta memberkahakan harta yang dimiliki. Jika dikelola dengan baik dan
amanah serta mampu meningkatkan etos dan etika kerja umat, serta sebagai institusi pemerataan
ekonomi.

Zakat merupakan bagian dari Rukun Islam yang ketiga dan merupakan suatu sumber pokok
dalam penataan ekonomi di dalam Islam. Ekomomi yang berintikan zakat akan memunculkan
sifat tazkiyah yaitu ekonomi yang dipenuhi dengan nilai-nilai zakat yaitu nilai kebersihan,
kejujuran, keadilan, pertumbuhan, perkembangan dan penghargaan serta penghormatan terhadap
harkat dan martabat manusia.

Masalah-masalah pokok ekonomi mencakup pilihan-pilihan yang berkaitan dengan konsumsi,
produksi, distribusi dan pertumbuhan sepanjang waktu. Jika zakat mampu dikelola dengan baik
dan di dayagunakan dengan baik dan merata akan menjadikan sistem ekonomi menjadi adil dan
stabil dan akan memperkecil jurang antara orang kaya dan miskin.

Seiring dengan berkembangnya sektor-sektor perekonomian zaman ini menjadikan zakat
semakin berkembang, bagaiman kita melihat pada sektor pertanian, sector industri yang mana
terus mengalami peningkatan, kemudian sektor jasa yang sekarang banyak diminati oleh
masyarakat.seperti usaha yang terkait dengan surat berharga dll. Yang mana sektor tersebut akan
menjadikan sumber obyek zakat semakin luas dan meningkat.

Dengan berkembangnya obyek zakat tersebut membuat para pakar ilmu hukum Islam
menawarkan konsep-konsepnya,seperti yang telah di rumuskan oleh Masdar F Fuadi
bahwasannya profesi, perusahaan, surat-surat berharga, perdagangan mata uang, hewan ternak
yang diperdagangkan, investasi properti, asuransi syariah merupakan obyek yang dikenai zakat.


B. Teori Zakat Prespektif Ekonomi


Untuk bisa melahirkan satu format hukum Islam yang eksistensinya menjaga diri pada
kemaslahatan universal menghargai rasa keadilan sosial dan hak asasi manusia, maka ijtihad
menjadi ikhtiar pertama yang mutlak harus dilakukan. Pandangan umum mengenai ijtihad yang
selama ini berjalan bisa dikatakan hanya menjangkau sasaran atau hal-hala yang bersifat zhanni
(teks yang tidak pasti) dan kurang mencermati dimensi ajaran yang diyakini seagai qotI (teks
yang dianggap pasti). Menurut masdar, dengan meletakkan maslahat seagai asas ijtihad maka
konsep lama tentang qoti dan zhanni harus segera dicarikan rumusan barunya.[1]

Dalam pandangan masdar, apa yang disebut sebagai dalil qotI adalah nilai kemaslahatan dan
keadilan, yang merupakan jiwa dari hukum itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud dalil zhonni
adalah seluruh ketentuan teks, ketentuan normative yang bisa digunakan untuk menterjemahkan
yang qotI (nilai kemaslahatan dan keadilan) dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu ijtihad
tidak bisa terjadi pada wilayah qotI, dan hanya bisa dilkukan pada wilayah zhonni .[2]

Berangkat dari konsep qotI dan zhonni yang ditawarkan masdar, ia lantas menawarkan konsep
baru tentang zakat. Dalam amatannya, zakat merupakan ajaran pokok Islam yang paling dekat
dengan inti persoalan yang banyak dihadapi umat manusia yakni ketidakadilan. Ajaran zakat
bukanlah ajaran untuk kepentingan umat Islam saja, melainkan ajaran untuk kemaslahatan dan
keadilan semesta. Inti dari ajaran zakat yang mutlak, universal, dan tidak berubah adalah (1)
siapa pun yang memiliki kelebihan harta maka ia harus menginfakkan sebagian harta yang
diterimanya itu, (2) harta ynga diinfakkan oleh atau dipungut dari yang mampu itu harus
ditasarufkan untuk kemaslahatan seluruh anggota masyarakat, dengan memprioritaskan mereka
yang lemah. Disamping orang-orang islam sendiri tetap harus mendapat perhatian dalam
pembagian zakat, agar bisa meringankan beban ekonomi mereka. Kemaslahatan yang dimaksud
adalah kemaslahatan menyeluruh, lintas, agama, suku dan golongan.[3]

Umat islam khusunya para umaro dan ulama, tidak bisa melepaskan tanggung jawab atas
terjadinya ketidakadilan semesta yang disebakan oleh Negara. Dengan memisahkan ajaran zakat
dari lembaga pajak, umat islam telah benar-benar memisahkan Negara dari agama. Pemisahan ini
menyebabkan umat islam menanggung beban yang sangat berat karena harus melaksanakan dua
macam kewajiban, yaitu menunaikan zakat sebagai kewajiban agama dan membayar pajak
sebagai kewajiban warga Negara. Akibatnya kewajiban mengeluarkan zakat selalu terkalahkan
oleh keharusan memayar pajak.[4]

Gagasan yang menarik yang harus kita garis bawahi dari masdar adalah tentang obyek zakat
yang harus diperluas cakupannya. Untuk zaman sekarang tidaklah adil jika kita hanya
menggunakan pungutan sedekah wajib atas kurma dan anggur, semetara itu kelapa sawit, apel,
kopi, dan tembakau yang tidak kalah nilai ekonomisnya, kita bebaskan saja dari kewajiban
membayar zakat. Tidak adil juga ketika kita kenakan beban sedekah wajib atas pendapatan pada
sektor pertanian sedangkan dari sektor industri dan jasa kita bebaskan. Jika Nabi SAW tidak
membicarakan suatu jenis kekayaan tertentu maka hal itu hanya karena jenis kekayaan tersebut
belum ada pada masa Nabi. Sebab jika suatu jenis tersebut ada pada zaman nabi maka tentu ia
juga dikenakan zakat, seperti jenis kekayaan yang lain yang telah ditentukan. Oleh karena itu
tidak perlu lagi kita memahami jenis barang yang wajib dikeluarkan oleh zakatnya seperti yang
disebut dalam nash, akan tetapi lebih penting adalah menangkap subtansi dari kewajiban zakat
itu sehingga diperluas cakupannya.[5]


C. Teori Zakat Prespektif Didin Hafidudin


Al-Quran merupakan rujukan dan sumber hukum utama kaum muslimin, al-Quran telah banyak
menyinggung sumber zakat dengan dua pendekatan. Yakni pendekatan Ijmali (global) segala
macam harta yang dimiliki yang memenuhi persaratan zakat. Dan yang kedua pendekatan Tafsili
(teruari) yaitu menjelaskan beberapa jenis harta yang apabila telah memenuhi persaratan zakat ,
maka wajib dikeluarkan zakatnya, dengan pendekatan ijmali ini semua jenis harta yang belum
ada contoh konkritnya zaman Rasulullah SAW, akan tetapi karena perkembangan ekonomi,
menjadi benda yang bernilai, maka harus dikeluarkan zakatnya.[6]

Kriteria-kriteria yang digunakan untuk menetapkan sumber zakat sebagai contoh yang dibahas,
adalah sebagai berikut:

1. Sumber zakat tersebut masih dianggap hal yang baru, sehingga belum mendapatkan
pembahasan secara mendalam dan terinci. Berbagai macam kitab Fiqih, terutama kitab fiqih
terdahulu belum banyak membicarakannya, misalnya zakat profesi.

2. Sumber zakat tersbebut merupakan ciri utama ekonomi modern, sehingga hampir di setiap
Negara berkembang, merupakan sumber zakat yang potensial contoh zakat investasi properti,
zakat perdagangan mata uang, dll.

3. Sementara ini zakat selalu dikaitkan dengan kewajiban kepada perorangan, sehingga badan
hukum yang melakukan kegiatan usaha tidak dimaksudkan ke dalam sumber zakat. Padahal
zakat itu disamping harus di lihat dari segi muzaki, juga harus di luhat dari segi hartanya. Karena
sumber zakat badan hukum perlu mendapatkan pembahasan, misalnya zakat perusahaan.

4. Sumber zakat sektor modern yang mempunyai nilai yang sangat signifikan yang terus
berkembang dari waktu ke waktu dan perlu mendapatkan perhatian secara keputusan status
zakatnya, seperti usaha tanaman anggrek,burung wallet, ikan hias dll. Demikian pula sektor
rumah tangga modern pada segolongan tertentu kaum muslimin yang bercukupan, bahkan
cenderung berlebihan, hal ini dapat tercermin dalam jumlah dan harga kendaraan serta aksesoris
rumah tangga yang dimilikinya.[7]

Dalam kaitannya dengan perekonomian modern yang terdiri dari sektor pertanian, industri dan
jasa jika dikaitkan dengan kegiatan zakat, maka ada yang tergolong flows dan ada pula yang
tergolong pada stoks[8].flows ialah berbagai aktifitas ekonomi yang dapat dilakukan dalam
waktu jam, hari, ulan, dan tahun tergantung pada akadnya. Sedangkan stoks adalah hasil kotor
yang dikurangi keperluan keluarga dari orang perorang yang harus dikenakan zakat pada setiap
tahunnya sesuai dengan nisob.

Dengan menggunakan metode purposive sampling berdasarkan kriteri-kriteria diatas maka
terpilihlah sumber zakat yang beraneka ragam seperti contoh di bawah ini:

a. Zakat profesi

b. Zakat perusahaan

c. Zakat surat-surat berharga

d. Zakat perdagangan mata uang

e. Zakat hewan ternak yang diperdagangkan

f. Zakat madu dan produk hewani

g. Zakat investasi properti

h. Zakat Asuransi Syariah

i. Zakat tanaman anggrek, ikan hias, burung wallet

j. Zakat Aksesoris rumah tangga modern



D. Zakat Dalam Prespektif Islam


Semua penghasilan melalui kegiatan professional tersebut, apabila telah mencapai nishob, maka
wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini berdasarkan nashnya yang umum. Misalnya Firman Alloh
dalam surat Adz-Dzariyaat: 19


ur Ng9uqBr& A,ym @!$=j9 QrspRQ$#ur

Artinya:

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang
tidak mendapat bagian


Al-Qurtubi[9] (Wafat 671 M) dalam Tafsir al-Jami li Ahkam al-Quran menyatakan bahwa yang
dimaksud dalam surat adz-Dhariyat ayat 19 adalah zakat yang diwajibkan, artinya semua harta
yang dimiliki dan semua penghasilan yang didapatkan, jika telah memenuhi persyaratan
kewajiban zakat, maka harus dikeluarkan zakatnya.

Sayyid Qutub[10] (Wafat 1965 M) dalam tafsirnya Fi Dhilalil Quran ketika menafsirkan firman
Alloh dalam surat al-Baqarah ayat 267 menyatakan , bahwa nash ini mencakup seluruh hasil
manusia yang baik dan halal dan mencakup pula seluruh yang dikeluarkan oleh Alloh dari dalam
dan atas bumi, seperti hasil pertanian, maupun hasil pertambnagan seperti minyak. Karena itu
nash itu mencakup sema harta, baik yang terdapat pada masa Rosululloh maupun zaman
sesudahnya, maka semuanya wajib dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan dan kadar
sebagiaman yang telah diterangkan dalam sunnah Rasululloh, baik yang sudah diketahui secara
langsung, maupun yang diqiyaskan kepadanya.

Sementara itu para Muktamar Internasional Pertama tentang zakat di Kuwait (29 Rajab 1404 H
bertepatan dengan tanggal 30 April 1984 M) telah sepakat tentang wajibnya zakat profesi apabila
telah mencapai nishob, meskipun mereka berbeda pendapat tentang cara pengeluarannya. Dalam
pasal 11 ayat v2 Bab IV Undang-Undang No 38 Tahun 1999 yentang pengelolaan zakat,
dikemukakan bahwa harta yang dikenai zakat adalah: emas, perak, uang, perdagangan dan
perusahaan, hasil pertanian,perkebunan,perikanan, pertambangan, peternakan, hasil pendapatan
dan jasa dan rikaz.

Para ulama terdahulu pun maupun sekarang mengistilahkan harta yang wajib di zakati dengan
menggunakan istilah al-Amwal, dan sebagian ulama yang lain menggunakan istilah khusus al-
Maal al-Mustafad seperti yang ada dalam fiqh zakat dan al-fiqh al-Islami wa Adillatuhu[11]

Alasan yang lain sesuai dengan ciri agama Islam adalah prinsip keadilan tentang penetapan
kewajiban zakat pada setiap harta yang dimiliki akan terasa sangat jelas, dibandingkan hanya
dengan menetapkan kewajiban zakat pada komoditas-komoditas tertentu saja yangh
konvensional. Petani yang saat ini kondisinya secara umum kurang beruntung, tetap harus
berzakat ketika sudah satu nishob. Karena itu sangat adil pula apabila zakat inipun bersifat wajib
pada penghasilan yang didapatkan para dokter, ahli hukum, konsultan dll.


E. Analisis

Berdasarkan landasan-landasan yang telah disebutkan diatas kiranya penulis dapat mengambil
kesimpulan bahwasannya semua harta yang dapat dari hasil yang halal dan yang mempunyai
nilai lebih satu nishob maka wajib dikeluarkan zakatnya sesuai dengan qiyasnya.


DAFTAR PUSTAKA

Fuad.Mahsun, 2005. Hukum Islam Indonesia dari nalar partisipatoris hingga emasipatoris:
Yogyakarta;lkis

Didin Hafidudin, 2002.Zakat Dalam Perekonomian Modern. Jakarta: Gema INsani Pres

Kahf .Monzer, 1995.Ekonomi Islam: Telaah Analitik tehadap fungsi system Ekonomi Islam,
terj. Machnun Husein. Yogyakarta:Pustaka Pelajar,

Al-Qurtubi, 1993. Tafsir al-Jami li Ahkam al-Quran, Beirut: Daar el-kutub Ilmiyah, ,

Qutub .Sayyid, 1977.Fi Zhilalil Quran, (Beirut: Daar el-Surq,)

Hafidudin.Didin, 2002. Zakat Dalam Perekonomian Modern. Jakarta:Gema INsani Pre
File yang Berhubungan
Konsultasi Agama
Wali Nikah
Khitbah / Meminang
Kriteria Memilih Pasangan Hidup
Hukum Pernikahan Dalam Islam
Anjuran Untuk Menikah
Mengirim Pahala Buat Orang Meninggal
Apakah Allah itu adil?
NISAB MATA PENGHASILAN DAN PROFESI
MEMILIH PENDAPAT YANG LEBIH KUAT TENTANG PENGELUARAN ZAKAT PENGHASILAN PADA
WAKTU DITERIMA
Para Ulama' Fikih Lain dan Kalangan Tabi'in yang lain
Harta Penghasilan menurut para Sahabat dan Tabi'in
Pandangan Fikih Tentang Penghasilan dan Profesi
Ziarah Kubur dalam Pandangan Ahlus-Sunnah
Penggunaan Alat Pencegah Atau Perangsang Haid, Pencegah Kehamilan Dan Penggugur
Kandungan
Mukenah Potongan
Autopsi Pada Mayat
Kredit Bank, Bolehkah?

Diposkan oleh aliyah
Label: Konsultasi Agama