Anda di halaman 1dari 13

PAPER DIETETIK DASAR ANOREXIA NERVOSA DAN BULIMIA NERVOSA

Oleh SEPTIKA FAJRI Nomor Induk Mahasiswa P2.31.31.011.039

JURUSAN D3 GIZI POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II Jl. Hang Jebat III Blok F3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan JAKARTA 2013

Anorexia Nervosa

1. Pengertian Anoreksia Nervosa adalah suatu kelainan yang ditandai dengan:


-

perubahan gambaran tubuh ketakutan yang luar biasa akan kegemukan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang normal hilangnya siklus menstruasi (pada wanita). Sekitar 95% penderita adalah wanita. Kelainan ini biasanya mulai timbul pada masa

remaja dan kadang pada masa dewasa. Kelainan ini terutama menyerang orang-orang golongan sosial-ekonomi menengah ke atas. Anoreksia nervosa bisa bersifat ringan dan sementara atau berat dan berlangsung lama. Ini yang berarti gejala medis kehilangan nafsu makan. Beberapa risiko medis yang terkait dengan anorexia termasuk osteoporosis, kekurangan mineral dan vitamin, denyut jantung tidak teratur, dan pertumbuhan terhambat. Jika tidak diobati, anorexia bisa berakibat fatal. Kebanyakan penderita anorexia meninggal karena gagal jantung. 2. Penyebab 1. Meningkatnya perhatian terhadap makanan dan berat badan bahkan pada penderita

yang sebelumnya sudah kurus. 2. 3. Perubahan gambaran tubuh. Ketakutan yang luar biasa akan kegemukan.

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Penolakan untuk mempertahankan berat badan yang normal. Hilangnya siklus menstruasi (pada wanita). Denyut jantung lambat. Tekanan darah lambat. Suhu tubuh rendah. Pembengkakan jaringan karena penimbunan cairan (ederma)

10. Rambut yang tipis dan lembut atau rambut tubuh dan wajah yang berlebihan. 11. Mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu dan dipertahankan oleh penderita. 12. Gejala kekurangan gizi 13. Konstipasi 14. Gangguan pencernaan dan perut kembung 15. Dehidrasi 16. Kram otot 17. Gemetaran 18. Tumbuh rambut halus di wajah, punggung atau lengan 19. Payudara semakin datar 20. Rambut kusam, menipis dan mudah patah 21. Kulit kering dan pecah-pecah 22. Tangan dan kaki dingin 23. Detak jantung tidak beraturan 24. Depresi dan kecemasan 25. Subtype bulimia berat, seperti kehilangan enamel gigi karena asam lambung, ketika

penderita muntah. Bahkan terdapat scar pada dorsum akibat jari-jari yang dimasukan ke mulut untuk memaksakan muntah. 26. Hypokalemi dan kelainan EKG 27. Kelainan neurology (seperti seizure dan neuropaty) dan anemia yang berhubungan

dengan kekurangan gizi dan kelaparan. 3. Gejala 1. Meningkatnya perhatian terhadap makanan dan berat badan bahkan pada penderita

yang sebelumnya sudah kurus. 2. Perubahan gambaran tubuh.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Ketakutan yang luar biasa akan kegemukan. Penolakan untuk mempertahankan berat badan yang normal. Hilangnya siklus menstruasi (pada wanita). Denyut jantung lambat. Tekanan darah lambat. Suhu tubuh rendah. Pembengkakan jaringan karena penimbunan cairan (ederma)

10. Rambut yang tipis dan lembut atau rambut tubuh dan wajah yang berlebihan. 11. Mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu dan dipertahankan oleh penderita. 12. Gejala kekurangan gizi 13. Konstipasi 14. Gangguan pencernaan dan perut kembung 15. Dehidrasi 16. Kram otot 17. Gemetaran 18. Tumbuh rambut halus di wajah, punggung atau lengan 19. Payudara semakin datar 20. Rambut kusam, menipis dan mudah patah 21. Kulit kering dan pecah-pecah 22. Tangan dan kaki dingin 23. Detak jantung tidak beraturan 24. Depresi dan kecemasan 25. Subtype bulimia berat, seperti kehilangan enamel gigi karena asam lambung, ketika

penderita muntah. Bahkan terdapat scar pada dorsum akibat jari-jari yang dimasukan ke mulut untuk memaksakan muntah. 26. Hypokalemi dan kelainan EKG 27. Kelainan neurology (seperti seizure dan neuropaty) dan anemia yang berhubungan

dengan kekurangan gizi dan kelaparan. 4. Jenis Anoreksia

a. Restrictive anorectics, yaitu mereka yang mengontrol berat badannya dengan cara sangat membatasi jumlah kalori yang mereka makan, atau dengan cara berpuasa.

Mereka mungkin berolahraga, menggunakan obat, ramuan herbal secara berlebihan untuk meningkatkan pembakaran kalori. b. Purge-type anorectics, yaitu mereka makan dan kemudian membuangnya dengan cara memicu rasa mual, menggunakan obat pencahar secara berlebihan.

5. Pencegahan 1. Mulai langkah mencegah anorexia ketika anak masih berusia dini Ajarkan anak-anak untuk menilai tubuh secara positif, terutama pada anak perempuan yang lebih rentan mengalami anorexia. Ajari anak bahwa makan dan olahraga penting untuk kesehatan, bukan untuk memiliki tubuh sempurna. Jangan meminta anak melakukan diet, kecuali anak tersebut mengalami kelebihan berat badan yang signifikan. 2. Perhatikan anak remaja Anda Sementara bisa menyerang siapa saja, anorexia lebih umum terjadi pada gadis tipe perfeksionis. Dengarkan anak Anda jika mereka mulai mengklaim dirinya gemuk, padahal kenyataannya tidak demikian. Untuk membantu mencegah anorexia, pastikan anak mengkonsumsi makanan yang cukup serta tidak melakukan olahraga pada tingkat ekstrim. 3. Buka komunikasi dengan anak Buka komunikasi dengan anak serta hindari sikap menghakimi sehingga anak leluasa membicarakan ketakutan dan kecemasannya. Anak-anak yang memiliki komunikasi terbuka dengan orang tua memiliki risiko lebih kecil menderita anorexia. 4. Berkomentar positif terhadap bentuk tubuh seseorang Mengomentari bentuk atau ukuran tubuh orang lain terutama dengan nada menghina akan menyebabkan anak-anak takut orang lain akan berkomentar yang sama terhadap tubuhnya. Mereka tidak ingin orang-orang berbicara tentang mereka seperti Anda berbicara tentang orang lain.

5. Jangan berkomentar negatif tentang tubuh orang lain meskipun hanya dalam nada berkelakar Remaja umumnya sangat sensitif dan tidak suka ditertawakan. 6. Pengobatan Penderita anoreksia harus diyakinkan bahwa mereka butuh pertolongan profesional. Pengobatan yang dilakukan meliputi:
1. Terapi psikis 2. Terapi nutrisi 3. Terapi obat

Terapi Nutrisi untuk Anoreksia :


1. Mengikuti jadwal pola makan yang sesuai. 2. Berhenti makan jika sudah merasa cukup, bukan kenyang. 3. Makan makanan yang sehat, makanan yang seimbang. Kebutuhan kalori yang sangat

tinggi untuk menaikkan bobot tubuh dan memeliharanya setelah bobot tubuh yang diinginkan. Sekali bobot tubuh yang diinginkan dicapai, kalori akan secara bertahap menurun sampai tingkat pemeliharaan, yaitu kira kira 50 kcal/ kg setiap hari.
4. Mengkonsumsi vitamin dan suplemen mineral terutama kalsium, kalium, dan besi. 5. Latihan fisik secara teratur, tapi tidak berlebihan. 6. Mengkonsumsi nutrisi enteral. Data anthropometric dan biokimia telah dikumpulkan

dari 9 pasien anoreksia nervosa sebelum dan setelah mengkonsumsi enteral nutrisi melalui rute nasogastric. Konsumsi nutrisi ini ternyata menaikkan bobot badan sebesar 8.22 kg/bulan. Nilai ini tidaklah berbeda dari tingkatan yang dicapai oleh pokok anorectic mengenakan total parenteral ilmu gizi. Lagipula, suatu kenaikan yang penting beberapa index biokimia, yaitu prealbumin dan total zat besi telah dicapai.
7. Mengkonsumsi sayur-sayuran hijau karena banyak mengandung klorofil. Dr. Ann

Wigmore menuliskan "hal yang paling terpenting dalam memulihkan kembali kesehatan adalah mengambil asupan klorofil dalam jumlah seimbang dan secara terus-menerus setiap hari." Klorofil mempunyai bentuk nukleat dan asam amino yang sesuai yang dibutuhkan otak manusia, untuk membentuk neuropeptida yang diperlukan untuk

berpikir kreatif dan positif, sehingga membantu penderita depresi seperti yang dialami pasien anoreksia.
8. Untuk pasien anoreksia yang parah, pemberian makanan dilakukan melalui rute

nasogastric (pada rute ini, digunakan selang yang menghubungkan hidung dan perut, sehingga makanan tidak akan dimuntahkan melalui mulut).
9. Pemberian liquid oral nutrition dengan nilai kalori yang terus ditingkatkan tiap minggu. 10. Terapi utama untuk amenorrhea pada pasien anoreksia nervosa adalah dengan

peningkatan nutrisi. Pemberian estrogen dari luar tubuh hanya diperbolehkan pada pasien defisiensi estrogen yang ditandai dengan berhentinya pertumbuhan dada dan kulit menjadi kering. Akan tetapi, estrogen tersebut ternyata tidak berefek pada kerapatan tulang pasien anoreksia nervosa. Untuk menangani keropos tulang pada pasien anoreksia nervosa (yang sekalipun telah diberikan asupan estrogen dari luar tubuh) karena defisiensi nutrisi, maka dilakukan upaya untuk menaikkan bobot badan. Suplemen vitamin juga harus ditingkatkan termasuk kalsium dengan dosis 1000-1500 mg/hari dan vitamin D 400 IU/hari untuk membantu penyerapan kalsium.
11. Terapi untuk pasien anoreksia akibat efek samping pengobatan penyakit seperti

kemoterapi pada kanker adalah sebagai berikut : menggunakan stimulan selera makan, mengkonsumsi nutraceutical yang terdiri dan protein dan omega 3 asam lemak (nutraceutical ini dapat menurunkan kerusakan otot, meningkatkan bobot badan pasien kanker, dam meningkatkan sintesis otot), dan mengkonsumsi vitamin. Obat-obat antideperesan yang diberikan dokter kepada pasien anoreksia:
1. selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) seperti fluoxetine, sertraline, paroxetine,

citalopram, escitalopram, dan fluvoxamine.


2. venlafaxine dan tricyclic antidepressants seperti imipramine dan desipramine

Bulimia Nervosa

1. Pengertian
Bulimia nervosa adalah kelainan cara makan yang terlihat dari kebiasaan makan berlebihan yang terjadi secara terus menerus. Yang paling sering dilakukan oleh lebih dari 75% orang dengan bulimia nervosa adalah membuat dirinya muntah, kadang-kadang disebut pembersihan; puasa, serta penggunaan laksatif, enema, diuretik, dan olahraga yang berlebihan juga merupakan ciri umum. Bulimia sebagai penyakit yang ditandai dengan makan secara berlebihan, kemudian memuntahkannya kembali untuk menjaga agar berat badan tidak naik. Dibandingkan penderita anoreksia yang dapat dikenali dengan mudah karena bentuk tubuhnya yang sangat kurus, penderita bulimia biasanya memiliki berat badan yang stabil bahkan cenderung ideal. Penderita bulimia biasanya memiliki berat badan yang stabil atau ideal. Meski memiliki nafsu makan yang besar dan tidak terkendali, penderita bulimia berusaha menurunkan berat badannya. Entah itu dengan menggunakan obat pencahar, atau memuntahkan kembali setiap makanan yang dimakan. Setiap kali makan, mereka akan merasa bersalah dan tertekan, sehingga dengan berbagai cara berusaha mengeluarkan kembali semua yang telah dimakan. Rasa tidak puas akan bentuk tubuh sendiri dan ketidakmampuan untuk mengontrol makanan yang masuk sering dituding sebagai penyebab utama terjadinya bulimia. Selain itu, kepercayaan diri yang rendah dan ketidakmampuan seseorang untuk mengatasi stres juga disebut sebagai biang keladi bulimia. Walaupun mereka biasanya sadar punya pola makan tidak normal, mereka tidak mencoba untuk mengatasinya sendiri. Tidak heran jika bulimia mengakibatkan gangguan yang cukup serius bagi para penderitanya.

Memuntahkan makanan secara berulang-ulang dapat mengakibatkan iritasi kulit di sekitar mulut akibat seringnya kontak dengan zat asam dari perut, kebusukan pada email gigi, gigi berlubang, dan sakit perut yang berkepanjangan. Efek lainnya adalah jantung berdebar, dehidrasi, kerusakan ginjal, berkurangnya sel-sel otot dalam tubuh, sampai kematian yang tiba-tiba.

2. Gejala a. Makan dalam jumlah yang berlebihan. b. Terobsesi dengan makanan dan kalori. c. Melakukan perangsangan muntah dan cuci perut. d. Sering menghilang ke kamar mandi bila selesai makan, untuk mengeluarkan makanan makanan yang telah ditelan. e. Bersikap penuh rahasia. f. Merasa kehilangan kontrol

3. Penyebab

Bulimia merupakan salah satu kelainan mental, penyebab bulimia belum diketahui secara biologis. Namun karena ini berhubungan dengan behavioral health, maka para ahli meyakini ada beberapa factor yang bisa menyebabkan penyakit ini: - masalah keluarga - perilaku maladaptif - pertentangan identitas diri - budaya yang terlalu menitikberatkan kepada penampilan fisik. Masalah penampilan serta berat badan merupakan factor utama yang penyebab bulimia pada seorang wanita. Seorang penderita bulimia biasanya mempunyai ketahanan mental yang kurang, kurang percaya diri dan memiliki masalah dengan berat badan dan ini yang membuatnya menjadi terobsesi dengan penurunan berat badan. Hal-hal seperti di atas juga bisa menjadi akibat bulimia yang mengerikan. Pengalaman mempunyai masalah dengan berat badan membuatnya selalu merasa gemuk. Hal ini mendorong diet yang tidak terkontrol, olah raga berlebih dan akhirnya menderita bulimia.

Penelitian baru menunjukan bahwa kelainan mental ini juga disebabkan oleh proses kimiawi yang ada di dalam otak. Para ahli menduga bahwa kelainan neurotransmitter dalam otak, utamanya neurotransmitter serotonin merupakan pemicu terjadinya penyakit bulimia nervosa ini. Namun dugaan awal ini masih belum bisa dijelaskan secara spesifik karena kompleksnya penyakit.

4. Diagnotic

Karakteristik diagnostic Bulimia Nervosa ( DSM IV , APA 2000 ) 1) Memakan makanan dalam jumlah yang sangat luar biasa selama periode 2 jam 2) Merasa kehilangan kontrol terhadap pemasukan makanan pada saat episode tersebut. Perilaku tidak sesuai yang sering terjadi untuk menjaga agar berat badan tidak bertambah seperti membangkitkan rasa ingin muntah, penyalahgunaan obat pencahar, dll. Rata-rata minimal dalam seminggu terjadi dua episode makan berlebihan dan perilaku kompensasi yang tidak sesuai untuk menghindari bertambahnya berat badan, dan hal ini terjadi minimal selama 3 bulan. Perhatian berlebihan yang terus menerus pada bentuk dan berat badan.

5. Penanganan dan Pengobatan

Penanganan Bulimia Nervosa : 1. Terapi Psikodinamika

Terapi ini terkadang dikombinasikan dengan terapi perilaku untuk menggali lebih dalam konflik psikologis yang ada. 2. Terapi Kognitif Behavioural

Berguna dalam membantu penderita bulimia untuk mengatasi pikiran dan keyakinan selfdefeating , seperti pemikiran yang tidak realistis dan perfeksionis mengenai diet dan berat badan. Untuk menghilangkan kebiasaan memaksa diri memuntahkan makanan, terapis dapat menggunakan teknih behavioural yaitu exposure with response prevention. 3. Terapi Interpersonal

Terapi ini menekankan pada penyelesaian masalah interpersonal dengan keyakinan bahwa fungsi interpersonal yang semakin efektif akan menghasilkan kebiasaan dan sikap makan yang lebih sehat.

Pengobatan Bulimia Nervosa : 1. Terapi psikis Terapi bulimia biasanya meliputi konseling dan terapi tingkah laku. Sebagian besar gangguan makan permasalahannya bukanlah pada makanan itu sendiri, tetapi pada kepercayaan diri dan persepsi diri. Terapi akan efektif jika ditujukan pada penyebabnya, bukan pada gangguan makannya. Terapi individu, dikombinasikan dengan terapi kelompok dan terapi keluarga seringkali sangat membantu. Terapi kelompok adalah terapi dimana penderita penyakit yang sama saling membagi pengalaman mereka. Terapi konseling seringkali harus dikombinasikan dengan obat antidepresan. 2. Obat-obatan. Untuk penderita bulimia umumnya diberikan obat-obatan jenis antidepresan bersama dengan pengobatan psikoterapi. Obat yang diberikan umumnya dari jenis trisiklik seperti imipramine (dengan merek dagang Tofranil) dan desipramine hydrochloride (Norpramin); atau jenisselective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) seperti fluoxetine(Antiprestin, Courage, Kalxetin, Nopres, dan Prozac), sertraline (Zoloft), danparoxetine (Seroxat).

Berikut adalah uraian penjelasan desain sistem pakar untuk mendiagnosis gangguan bulimia nervosa : 1) Pada tahap pertama, latar belakang medis suatu penyakit dicatat melalui wawancara pribadi antara psikolog dan klien yang diduga mengalami gangguan bulimia nervosa. Sehingga menghasilkan data-data pemeriksaan klien yang terdiri dari identitas klien, riwayat penyakit keluarga, keadaan umum klien dan gejala-gejala penyakit yang dirasakan klien. 2) Untuk meyakinkan pengambilan keputusan jenis gangguan apa yang dialami klien, psikolog menggunakan aplikasi Sistem Pakakar. 3) Kemudian, psikolog melakukan antar muka input Sistem Pakar dengan cara : Membuka aplikasi sistem pakar pada komputer, log in, mengisi form yang ada dengan meng- klik item-item yang termasuk dalam gejala-gejala penyakit yang dirasakan klien. Dalam tahap

ini, sistem pakar pada basis pengetahuan terdiri dari data informasi mengenai Gangguan bulimia nervosa dengan seperangkat dibuat dimana masing-masing aturan yang terkandung dalam bagian IF mempunyai gejala dan dalam bagian Then mempunyai penyakit yang dispesifikasikan. Mesin inferensi (forward chaining) adalah algoritma

pencocokkan pola yang tujuan utamanya adalah untuk mengasosiasikan fakta (data input) dengan aturan yang berlaku dari basis aturan (rule base). 4) Setelah terjadi pencocokkan pola yang terjadi dalam mesin inferensi, yaitu gejala-gejala klien sesuai dengan gejala-gejalabulimia nervosa yang ada dalam data pengetahuan sistem pakar, maka dalam proses antarmuka output dihasilkan pernyataan diagnosis penyakit berupa gangguan bulimia nervosa. 5) Setelah mengetahui jenis gangguan kecemasan yang dialami klien, akan muncul pula kondisi umum klien ,dan obat medis yang boleh digunakan serta jenis-jenis terapi yang bisa digunakan untuk menangani gangguan bulimia nervosa ini. Oleh karena itu psikolog dapat dengan mudah dan segera menentukan jenis penanganan apa yang sesuai dengan klien.

DAFTAR PUSTAKA http://bumbata.co/11803/tips-anti-anorexia-2-penyebab-anorexia-nervosa/ http://indonesiaindonesia.com/f/10361-anoreksia-nervosa/ http://www.tempo.co/read/news/2011/03/03/107317407/13-Gejala-PengidapAnoreksia-Nervosa devidenand.blogspot.com http://triwulandari12509172.blogspot.com/2012/11/sistem-pakar-untukmendiagnosa.html http://ardiazazhar.blogspot.com/2012/12/bulimia-nervosa-penyebab-gejala-akibat.html