Anda di halaman 1dari 37

Pengkajian Fisik Adanya kifosis atau skoliosis harus dicatat.

Kifosis yang berat dapat mengganggu fungsi pernapasan dan kardiovaskular. Adanya nyeri tekan di atas prosesus spinosus dapat diduga adanya suatu fraktur vertebral. Sendi-sendi diperiksa selanjutnya, terutama sekali sendi-sendi pada tangan. Osteoartritis pada sendi-sendi interfalang distal pada tangan dan lutut umum terjadi. Pertumbuhan tulang yang berlebihan pada bagian distal sendi interfalang disebut nodus Heberden. Keterbatasan rotasi ekstemal pada pinggul dapat merupakan suam tanda awal dari keterlibatan osteoartritis. Rentang gerak semua sendi harus dikaji. AR pada tangan cenderung untuk mempengaruhi bagian proksimal sendi-sendi interfalang. Bengkak yang terlihat pada sendi-sendi reumatoid bukanlah tulang, terapi lebih pada pembengkakan sinovial dan jaringan lunak. Mungkin terdapat deviasi ulnar pada tangan di bagian sendi-sendi metakarpofalang, juga adanya kecenderungan sendisendi untuk mengalami subluksasi (dislokasi parsial yang berhubungan dengan ketidakstabilan). Nyeri dan kekakuan sendi pada pagi hari dapat berlangsung selama beberapa jam pada klien dengan AR, sedangkan klien dengan osteoartritis akan terbebas dari rasa nyeri dalam waktu cepat setelah menggerakkan sendi-sendi yang sakit. Masalah Muskuloskeletal yang Sering Terjadi OSTEOPOROSIS Patofisiologi Osteoporosis adalah suatu kondisi penurunan massa tulang secara keseluruhan, merupakan suatu keadaan tidak mampu herjalan/bergerak, sering merupakan penyakit tulang yang menyakitkan yang terjadi dalam proporsi epidemik. Walaupun osteoporosis paling sering ditemukan padawanita, pria juga berisiko untuk mengalami osteoporosis. Hilangnya substansi tulang menyebabkan tulang menjadi lemah secara mekanis dan cenderung untuk mengalami fraktur, baik fraktur spontan maupun fraktur akibat trauma minimal." Ketika kemampuan menahan berat badan normal menurun atau tidak ada sebagai konsekuensi dari penurunan atau gangguan mobilitas, akan terjadi osteoporosis karena tulang yang jarang digunakan. Akriviras osteoklastik, reabsorpsi tulang, dan pelepasan kalsium dan fosfor kemudian dipercepat. Manifestasi Klinis Fraktur-fraktur primer yang paling sering ditemukan pada klien dengan osteoporosis adalah fraktur vertebra, fraktur tulang panggul, dan fraktur lengan bawah. Fraktur ini terjadi salah satunya akibat dari stres cedera yang berulang-ulang atau akibat trauma akut, yang mungkin memperberat mikro-fraktur ini. Sebagai konsekuensinya, tidak diketahui dengan pasri faktor apa yang memulai terjadinya fraktur panggul. Fraktur osteoporosis cenderung berkelompok, dan kejadian satu jenis fraktur pada umumnya menunjukkan bahwa seorang pasien berisiko tinggi unnrk mengalami fraktur berikutnya pada lokasi yang lain. Fraktur vertebra dan lengan bagian bawah cenderung terjadi lebih awal damns hidup dibandingkan fraktur panggul. Fraktur membatasi

mobilitas dan menempatkan pasien pada risiko tinggi untuk mengalami kemunduran status fungsional dan perkembangan komplikasi selanjutnya akibat keterbatasan mobilitas. Insiden Perkembangan osteoporosis sering dimulai pada usia mudadan dipengaruhi oleh perubahan endokrin dan metabolisme juga oleh efek pada tulang yang berhubungan dengan usia dan terkait jenis kelamin. Faktor-faktor yang memengaruhi pencapaian dan pemeliharaan puncak massa tulang terjadi setelah maturitas skeletal (misalnya: ras, jenis kelamin, dan hereditas) juga menentukan siapa yang berisiko unruk mengalami osteoporosis. Wanita pascamenopause, berkulit putih yang langsing paling peka terkena osteoporosis. Meskipun demikian, sekitar 30% dari wanita yang berusia di atas 60 tahun mengalami osteoporosis klinis. Massa tulang menurun sekitar 2 sarnpai 3% per tahun pada wanita setelah menopause. Hilangnya massa tulang rerus terjadi tanpa diketahui sampai fraktur terjadi. Penatalaksanaan Penatalaksanaan keperawatan untuk osteoporosis termasuk pencegahan melalui pendidikan kesehatan dengan menekankan pada pengurangan faktor risiko, asupan kalsium dan nutrisi yang adekuat, aktivitas fisik, dan terapi sulih hormon. Lansia yang tinggal di institusi, yang mengalami gangguan mobilitas, terutama sangat rentan karena osteoporosis meningkat dengan cepat dari hari ketiga sampai minggu ketiga dari imobilisasi dan mencapai puncaknya selama minggu kelima atau keenam. Namun, dengan ambulasi, mineral tulang disimpan kembali dengan kecepatan hanya 1% setiap bulannya, tekankan pentingnya pencegahan kehilangan awal. OSTEOARTRITIS Patofisiologi Osteoartritis (juga disebut penyakit degeneratif sendi, hiperrrofi artriris, artritis senescent, dan osteoartrosis) adalah gangguan yang berkembang secara lambat, tidak simetris, dan noninflamsi yang terjadi pada sendi-sendi yang dapat digerakkan, khususnya pada sendi-sendi yang menahan berattubuh. Osreoartritis ditandai oleh degenerasi kartilago sendi dan oleh pembentukan tulang baru pada bagian pinggir sendi. Kerusakan pada sendi-sendi akibat penuaan diperkirakan memainkan suaru peran penting dalam perkembangan osteoartritis. Perubahan degeneratif menyebabkan kartilago yangsecara normal halus, putih, tembus cahaya menjadi buram dan kuning, dengan permukaan yang kasar dan area malacia (pelunakan). Ketika lapisan kartilago menjadi lebih tipis, permukaan tulang tumbuh semakin dekat satu sama lain. Inflamasi sekunder dari membran sinovial mungkin mengikuri. Pada saat permukaan sendi menipiskan kartilago, tulang subkondrial meningkat kepadatannya dan menjadi sklerosis.

Manifestasi Klinis Nyeri, kekakuan, hilangnya gerakan, penurunan fungsi, dan deformiras sendi secara khas dihubungkan dengan tanda-tanda inflamasi seperti nyeri tekan, pembengkakan, dan kehangatan. Klien mungkin positif mempunyai riwayat trauma, penggunaan sendi berlebihan, atau penyakit sendi sebelumnya. Pada awalnya, nyeri terjadi bersama gerakan; kemudian, nyeri dapat juga terjadi pada saat istirahat. Pemeriksaan menunjukkan adanya daerah nyeri rekan krepitus, berkurangnya rentang gerak, seringnya pembesaran tulang, dan tanda-tanda inflamasi pada saat-saat tertentu. Peningkatan rasa nyeri diiringi oleh kehilangan fungsi secara progresif . Keseluruhan koordinasi dan postur tubuh mungkin terpengaruh sebagai hasildari nyeri dan hilangnya mobilitas. Nodus Heberden, walaupun tidak terbatas pada lansia merupakan manifestasi osteoartritis yang sering terjadi. Pertumbuhan berlebihan dari tulang yang reaktif terletak pada bagian distal sendi-sendi interfalang. Nodus Heberden merupakan pembengkakan yang dapar dipalpasi yang sering dihubungkan dengan fleksi dan deviasi lateral dari bagian distal tulang jari. Nodus ini mungkin menjadi nyeri tekan, merah, dan bengkak, sering dimulai dari satu jari dan menyebar ke jari yang lain. Pada umumnya tidak ada kehilangan fungsi, tetapi klien sering merasa tertekan sebagai akibat dari perubahan bentuk yang terjadi. Penatalaksanaan Penatalaksanaan gangguan kronis ini dimulai dengan menemukan aktivitas kehidupan sehari-hari yang mungkin ikut berperan terhadap tekanan pada sendi yang sakit, memberikan alat bantu kepada klien untuk mengurangi beban berat pada sendi yang sakit, mengajarkan klien untuk menggunakan alat bantu ini, dan merencanakan penatalaksanaan nyeri yang sesuai. Lihat Bab 22 untuk mengetahui pembahasan lebih lanjut tentang penatalaksanaan nyeri. Jika fisioterapi dan alat bantu tidak mendorong ke arah perbaikan yang berarti dan nyeri telah melumpuhkan, operasi penggantian sendi mungkin diindikasikan. Artroplasti Artroplasti adalah rekonstruksi arau penggantian sendi. Prosedur pembedahan ini dilakukan untuk menghilangkan rasa nyeri, meningkatkan atau mempertahankan rentang gerak, dan memperbaiki kondisi deformiras yang dapat diakibatkan oleh osteoartritis, AR, arau nekrosis avaskular. Artroplasti dapat berupa penggantian sebagian sendi, pembedahan untuk membentuk kembali tulang sendi, arau penggantian sendi secara total. Penggantian artroplasti tersedia untuk siku, bahu, pinggul, lutut, pergelangan kaki, dan sendi-sendi falang jari. Rekonstruksi pinggul sering digunakan untuk pengobatan klien dengan AR, osteoartritis, dan fraktur pinggul. Sakit yang tidak berkurang sebagai akibat dari kerusakan yang berat pada sendi lutut merupakan indikasi utama artroplasti lutut. Sebagian atau seluruh sendi lutut mungkin digantikan dengan suatu alas prosterik metal dan plastik. Dalam 2 sampai 5 hari setelah operasi, klien diinsruksikan untuk melakukan latihan pengaturan kuadrisep

dan menaikkan kaki secara lurus. Ketika pembalut luka yang besar ukurannya telah dilepaskan, latihan fleksi aktif dimulai. Latihan menahan beban dimulai segera setelah klien dapat menggunakanwalkeratau tongkat. PENYAKIT RADANG SENDI: ARTRITIS REUMATOID Patofisiologi Penyakit inflamasi artikular yang paling sering pada lansia, AR, adalah suatu penyakit kronis, sistemik, yang secara khas berkembang perlahan-lahan dan ditandai oleh adanya radang yang sering kambuh pada sendi-sendi diartrodial dan struktur yang berhubungan. ARsering disertai dengan nodul-nodul reumatoid, artritis, neuropati, skleritis, perikarditis, limfadenopati, dan splenomegali. AR ditandai oleh periodeperiode remisi dan bertambah parahnya penyakit. Manifestasi Klinis Pada lansia, AR dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok. Kelompok I adalah AR klasik. Sendi-sendi kecil pada kaki dan tangan sebagian besar terlibat. Terdapat fakror reumatoid, dan nodula-nodula reumatoid wring terjadi. Penyakit dalam kelompok ini dapat mendorong ke arah kerusakan sendi yang progresif. Kelompok 2 termasuk klien yang memenuhi kriteria dari American Rheumatologic Association untuk AR karena mereka mempunyai radang sinovitis yang terusmenerus dan sirnetris, sering melibatkan pergelangan tangan dan sendi-sendi jari. Kelompok 3, sinovitis terutama memengaruhi bagian proksimal sendi, bahu, dan panggul. Awitannya mendadak, sering ditandai dengan kekakuan pada pagi hari. Pergelangan tangan pasien sering mengalami hal ini, dengan adanya bengkak nyeri tekan, penurunan kekuatan genggaman, dan sindrom carpal tunnel. Kelompok ini mewakili suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri yang dapat dikendalikan secara baik dengan mengunakan prednison dosis rendah atau agens antiinflamasi dan memiliki prognosis yang baik. Jika tidak diistirahatkan, AR akan berkembang menjadi empat tahap. 1. Terdapat radang sendi dengan pembengkakan membran sinovial dan kelebihan produksi cairan sinovial. Tidak ada perubahan yang bersifat merusak terlihat pada radiografi. Bukti osteoporosis mungkin ada. 2. Secara radiologis, kerusakan tulang pipih atau tulang rawan dapat dilihat. Klien mungkin mengalami keterbatasan gerak tetapi tidak ada deformitas sendi. 3. Jaringan ikat fibrosa yang keras menggantikan pannus, sehingga mengurangi ruang gerak sendi. Ankilosis fbrosa mengakibatkan penurunan gerakan sendi, perubahan kesejajaran tubuh, dan deformitas. Secara radiologis terlihat adanya kerusakan kartilago dan tulang. 4. Ketika jaringan fibrosa mengalami kalsifikasi, ankilosis tulang dapat mengakibatkan terjadinya imobilisasi sendi secara total. Atrofi otot yang meluas dan luka pada jaringan lunak seperti nodula-nodula mungkin terjadi.

Penatalaksanaan Penanganan medis bergantung pada tahap penyakit ketika diagnosis dibuat dan termasuk dalam kelompok mana yang sesuai dengan kondisi tersebut. Untuk menghilangkan nyeri dengan menggunakan agens antiinflamasi, obat yang dapat dipilih adalah aspirin. Namun, efek antiinflamasi dari aspirin tidak terlihat pada dosis kurang dari 12 tablet per hari, yang dapat menyebabkan gejala sistem gastrointestinal dan sistem saraf pusat. Obat anti-inflamasi nonsteroid sangat bermanfaat, tetapi dianjurkan untuk menggunakan dosis yang direkomendasikan oleh pabrik dan pemantauan efek samping secara hari-hati sangat perlu dilakukan. Terapi kortikosteroid yang diinjeksikan melalui sendi mungkin digunakan unruk infeksi di dalam satu atau dua sendi. Injeksi secara cepat dihubungkan dengan nekrosis dan penurunan kekuatan tulang. Biasanya, injeksi yang diberikan ke dalam sendi apapun tidak boleh diulangi lebih dari tiga kali. Rasa nyeri dan pembengkakan umumnya hilang untuk waktu I sampai 6 minggu. Penatalaksanan keperawatan menekankan pemahaman klien tentang sifat alami AR kionis dan kelompok serta tahap-tahap yang berbeda untuk rnemantau perkembangan penyakit. Klien harus ingat bahwa walaupun pengobatan mungkin mengurangi radang dan nyeri sendi, mereka harus pula mempertahankan pergerakan dan kekuatan untuk mencegah deformitas sendi. Suatu program aktivitas dan istirahat vang seimbang sangat penting untuk mencegah peningkatan tekanan pada sendi. FRAKTUR YANG SERING TERJADI PADA LANSIA Fraktur, terutania yang berhubungan dengan osteoporosis, dianggap scbagai penyebab utama morbiditas dan disabilitas pada usia tua. Fraktur Kompresi Vertebra Suatu gejala osteoporosis yang sering dijumpai adalah sakit punggung, akibat fraktur kompresi vertebra. Nyeri akut pada bagian tengah sampai bagian bahwh vertebra torasika selama aktivitas harian rutin mungkin merupakan gcjala yang paling awal terjadi. Fraktur kompresi ini dapat terjadi setelah trauma minimal, seperti melepaskan kancing pada bagian punggung, membuka jendela, atau bahkan mcrapikan tempat tidur. Fokus dari perawatan untuk fraktur kompresi akut adalah mcngurangi gejala sesegera mungkin dengan tirah baring pada posisi apa pun Yang mampu memberikan kenyamanan maksimum. Relaksasi otot, seperti panas dan analgesik dapat digunakan jika ada indikasi. Penggunaan relaksan otot jangka pendek dalam jumlah sedikit dapat mengurangi spasme otot yang sering menyertai fraktur-fraktur ini. Segera setelah rasa nyeri berkurang, klien perlu mencoba untuk bangun dari dari tempat tidur secara perlahan-lahan dan dengan bantuan. Latihan yang dilakukan dengan pengawasan untuk mcmperbaiki deformiras postural dan meningkatkan tonus otot sangat bermanfaat bagi klien. Berenang, walaupun bukan merupakan latihan menahan berat, dapat mempertahankan fleksibilitas dan mungkin merupakan cara yang paling efektifbagi klien dengan penyakityang telah terbentuk. Klien harus diajarkan tentang cara mencegah ketegangan punggung dengan menghindari gerakan berputar atau

pergerakan yang kuat atau membungkuk secara mendadak. Tindakan untuk menjaga keamanan vang berhubungan dengan cara mengangkat dan membawa barang-barang perlu dijelaskan. Fraktur Panggul Klien lansia biasanya mengalami cedera ini karena jatuh. Walaupun hanya 3% dari semua fraktur adalah fraktur panggul, tipe cedera ini diperhitungkan menimbulkan 5 sampai 20% kematian di antara lansia akibar fraktur. Fraktur panggul adalah halyang tidak menyenangkan karena fraktur tersebut dapat juga menyebabkan cedera intraabdomcn Yang serius, sepertilaserasi kolon, paralisis ileum, perdarahan intrapelvis, dan ruptur uretra serta kandung kemih. Fraktur Pinggul Walaupun fraktur tulang belakang yang mengarah pada deformitas dan fraktur panggul menyebabkan disfungsi tubuh, tetapi fraktur pinggullah yang sangat berat memengaruhi kualitas hidup dan menantang kemampuan bertahan hidup pada lansia. Holbrook melaporkan bahwa 1 dari 20 pasien yang berusia lebih dari 65 tahun yang baru saja dirawat di rumah sakit mengalami penyembuhan dari fraktur panggul. Bahkan di tangan ahli yang terbaik, 40% dari klien yang mengalami fraktur panggul tidak dapat bertahan hidup 2 tahun setelah cedera ini. Pada pasien yang herasal dari panti jompo, 70% tidak bertahan hidup 1 tahun, hanya sepertiga dari pasien yang dapat bertahan hidup setelah mengalami fraktur panggul dapat kembali ke gaya hidup dan tingkat kemandirian yang dapat dibandingkan dengan gaya hidup dan kemandirian yang dinikmatinva sebelum mengalami cedera tersebut. Antara 75 dan 80% dari semua fraktur tulang panggul mempengaruhi wanita, dan hampir 50% terjadi pada seseorang yang berusia 80 tahun atau lebih. Manifestasi klinis dart fraktur tulang pinggul adalah rotasi eksternal, pemendekan ekstremitas yang terkena, dan nyeriberat serta nyeri tekan di lokasi fraktur. Perubahan letak akibat fraktur pada bagian leher tulang femur dapat menyebabkan gangguan serius pada suplai darah ke kaput femur, yang dapat mengakibatkan nekrosis avaskular. Perbaikan dengan pembedahan lebih disukai dalam menangani fraktur tulang pinggul. Penanganan melalui pemhedahan memungkinkan klien untuk bangun dari tempat tidur lebih cepat dan mencegah komplikasi yang lebih besar yang dihubungkan dengan imobilitas. Pada awalnya, ekstremitas yang terpengaruh unruk sementara mungkin diimobilisasikan dengan menggunakan traksi Buck atau Russel sampai kondisi fisik klien stabil dan pembedahan dapat dijadwalkan. Banyak yang percaya bahwa lansia berada pada kondisi yang paling sehat segera setelah kecelakaan sehingga operasi harus dilaksanakan secepat mungkin.

RINGKASAN HASIL PENELITIAN


Bradley, CF, dan Kozak, C: Nursing care and management of the elderly hip fractured patient. J Gerontol Nuts 21:15, 1995. Bradley dan Kozak menggunakan desain kelompok kontrol non-ekuivalen post-test untuk menentukan apakah instruksi mengenai pendekatan yang spesifik dengan usia untuk pasien lansia yang mengalami fraktur tulang pinggul akan menghasilkan peningkatan basil akhir secara klinis. Isi dari program pendidikan mencakup perubahan yang berhubungan dengan usia, defisit nutrisi, gangguan mobilitas fisik, disfungsi berkemih, dan konfusi akut. Hasil studi mendukung bahwa pasien dalam kelompok eksperimen mengalami penurunan lamanya waktu untuk melakukan ambulasi pertama dan penurunan lama rawat di unit bedah ortopedi.

Penatalaksanaan Karena banyak klien lansia cenderung untuk berada di suatu status yang berbahaya sebelum terjadinya fraktur, perawat harus mewaspadai beberapa faktor praoperasidan pascaoperasi yang jika tidak dikenali, mungkin menjadi faktor penentu yang berdampak kurang baik terhadap klien. Lihat "Ringkasan Hasil Penelitian". Faktor Praoperasi Masalah kesehatan kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, dekompensasi jantung, dan artritis mungkin mempersulit gambaran klinis. Spasme otot berat dapat meningkatkan nyeri. Spasme ini dapat ditangani dengan pengobatan yang sesuai, posisi yang nyaman (kecuali jika ada kontraindikasi), dan penggunaan traksi yang sesuai secara tepat, jika digunakan traksi. Pemijatan pada bagian tungkai yang terkena tidak dianjurkan selama terjadi kejang. Klien harus diajarkan untuk melatih kaki yang tidak mengalami cedera dan kedua lengannya. Sebelum operasi, klien harus diajarkan tentang cara menggunakan trapeze yang dipasang pada bagian atas tempat tidur dan sisi pengaman tempat tidur yang berlawanan untuk membantunya dalam mengubah posisi. Karena ambulasi pada umumnya dimulai pada han kedua sesudah operasi, klien perlu mempraktikkan bagaimana cara bangun dari tempat tidur dan pindah ke kursi. Rencana untuk pemulangan klien harus didiskusikan dan pengaturandilakukan bersama pekerja sosial atau manajer kasus untuk perawatan di rumah atau perawatan terampil. Faktor Pascaoperasi Perawatan awal hampir sama pada setiap klien lansia yang mengalami operasi, yaitu memantau tanda vital serta asupan dan haluaran, memeriksa perubahan statusmental (sensori), mengawasi aktivitas pernapasan seperti napas dalam dan batuk, memberikan pengobatan untuk rasa nyeri, dan mengobservasi balutan luka terhadap tanda-tanda perdarahan dan infeksi. Sebelum dan setelah reduksi fraktur, selalu ada potensial untuk mengalami gangguan sirkulasi, sensasi, dan pergerakan. Denyut nadi perifer pada bagian distal tungkai yang fraktur harus dikaji. Perawat mengkaji kemampuan jari kaki klien untuk bergerak, kehangatan dan warna merah muda pada kulit, perasaan mati rasa atau kesemutan, dan edema. Tungkai klien tetap diangkat

untuk mencegah edema. Sebuah bidai abduktor dapat digunakan di antara lutut klien ketika mengubah posisi klien dari satu sisi ke sisi yang lain. Karung yang berisipasir dan bantal dapat sangat membantu untuk mempertahankan agar tungkai tidak berputar secara eksternal. Penggunaan transcutaneous electrical nerve stimulator (TENS) sesudah operasi dapat menurunkan kebutuhan akan penggunaan narkotika secara signifikan. Bila fraktur tulang panggul telah ditangani dengan menyisipkan prosresis kaput femur, klien dan keluarga harus menyadari sepenuhnya tentang posisi dan aktivitas yang mungkin dapat menycbabkan dislokasi (fleksi, adduksi dengan rorasi internal). Banyak aktivitas sehari-hari yang dapat meninibulkan posisi ini, seperti menggunakan kaos kaki dan sepatu, menyilangkan kaki pada saat duduk, berbaring miring dengan posisi yang salah, posisi tubuh relatif fleksi ke arah kursi pada saat akan berdiri atau duduk, dan duduk pada tempat duduk yang rendah. Aktivitas ini harus dihindari secara ketat sedikitnya 6 minggu, sampai jaringan lunak di sekitas tulang panggul telah cukup pulih untuk menstabilkan prostesis yang dipasang. Rasa nyeri yang berat dan mendadak dan rorasi ekternal yang ekstrem mengindikasikan adanya perubahan letak prosresis tersebut. Untuk mencegah dislokasi prostesis, perawat harus selalu menempatkan tiga bantal di antara tungkai klien ketika mengubah posisi, pertahankan bidai abduktor tungkai pada klien kecuali ketika sedang mandi, hindarifleksi tulang panggul secara ekstrem, dan hindari mengubah posisi klien ke sisi yang mengalami fraktur. Jika fraktur tulang pinggul ditangani dengan tindakan fiksasi agar klien tidak dapat bergerak, tindakan pencegahan dislokasi tidak perlu dilakukan. Pada umumnya, klien perlu didorong untuk bangun dari tempat tidur pada hari pertama sesudah operasi. Menahan beban berat pada ekstremitas yang terkena tidak diizinkan sampai pemeriksaan radiologi menunjukkan adanya tanda-tanda penyembuhan yang adekuat, biasanya dalam waktu 3 sampai 5 bulan. 3 Pencegahan Tersier Tanggung jawab perawat yang utama dalam melakukan rehabilitasi adalah pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga. Dalam pendidikan kesehatan klien, hal yang penting diingat adalah lansia mungkin mempunyai berbagai diagnosis yang secara kronis mempengaruhi beberapa sistem organ tubuh. Oleh karena itu, suatu rencana menyeluruh yang berpusat pada kekuatan klien dan tujuan pribadi untuk kembali ke tingkatan kemandirian klien sebelumnya juga semua perawatan kesehatan yang diperlukan sangat penting. Manajer kasus geriatrik atau perencana pemulangan pasien merupakan aset yang tidak ternilai untuk lansia yang sedang mengalami proses penyembuhan dari fraktur. Aktivitas Belajar Mahasiswa 1. Buat suatu buku harian makanan untuk diri Anda selama 3 hari. 2. Kalkulasikan jumlah kalsium yang Anda konsumsi selama 3 hari tersebut.

3. Bentuk kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai empat orang. Masingmasing kelompok harus memilih suatu kelompok budaya yang diwakili di daerah Anda. Rancang suatu menu yang peka budaya unruk waktu 1 minggu untuk memastikan asupan kalsium yang adekuat untuk lansia. REFERENSI 1. Hamerman, D: Aging and the musculoskeletal system. In Hazzard, WR, et al (eds): Principles of Geriatric Medicine and Gerontology, ed 3. McGraw-Hill, New York, 1994. 2. Baylink, DJ, and Jennings, IC: Calcium and bone hotneostasis and changes with aging. In Hazzard, WR, et al (eds): 3. Principles of Geriatric Medicine and Gerontology, ed 3. McGraw-Hill, New York, 1994. 4. Gallo, J, et al: handbook of Geriatric Assessment. Aspen, Rockville, Met, 1988. 5. Salamone, LM, et al: Estrogen replacement therapy: A survey of older women's attitudes. Arch Intern Med 156(l):1293, 1996. 6. Robb-Nicholson, C: Measuring our bones. Women's Health Watch 3(12):1, 1996. 7. US News and World Report 112(17):12, May 4, 1992. 8. Hogue, CC: Mobility. In Schneider, EL, et al (eds): The Teaching Nursing Home. Raven Press, New York, 1985, p 231. 9. Wagstaff, D, and Coackley, D: Physiotherapy and the Elderly Patient. Aspen. Rockville, MD, 1988. 10. Kaplan, F: Osteoporosis, pathophysiology, and prevention. Clin Symp 15:39, 1987. 11. Chestnut, CH: Osteoporosis. In Hazzard, WR, et al (eds): Principles of Geriatric Medicine and Gerontology, ed 3. McGraw-Hill, New York, 1994. 12. Shah, S, and Tanner, E: Musculoskeletal disorders in the elderly. In Kaplan, P, and Tanner, E: Musculoskeletal Pain and Disability. Appleton & Lange, Norwalk, Conn, 1989. 13. Pompei, B: Osteoarthritis: New roles for drug therapy and surgery. Geriatrics 51:32, 1996. 14. Lewis, SM, and Collier, IC: Medical Surgical Nursing, Assessment and Management of Clinical Problems. McGraw-Hill, New York, 1987. 15. Calkins, E, et al: Rheumatoid arthritis in the older patient. In Hazzard, WR, et al (eds): Principles of Geriatric Medicine and Gerontology, ed 3. McGraw-Hill, New York, 1994. 16. Steinbrocker, 0, et al: Therapeutic criteria in rheumatoid arthritis. JAMA 140:659, 1949. 17. Dunkin, MA, dan O'Koon, M: The drug guide. Arthritis Today 9:27, 1995. 18. Bradley, CE, and Kozak, C: Nursing care and management of the elderly hip fractured patient. Gerontol Nuts 21,15, 1995.

19. Madsou, S: how to reduce the risk of postmenopausal osteoporosis. Gerontol Nuts 15:9, 1989. 20. Lane, J, et al: Orthopedic consequences of osteoporosis. In Riggs, BL, and Melton, LJ (eds): Osteoporosis: Etiology, Diagnosis, and Management. Raven Press, New York, 1988, p 438. 21. Holbrook, TL: Specific musculoskeletal conditions. In Holbrook, TL, et al (eds): The Frequency of Occurrence, Impact and cost of Selected Musculoskeletal Conditions in the United States. American Academy of Orthopedic Surgeons, Chicago, 1984. TABEL 15-5 RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosis Keperawatan: Gangguan pertukaran gas Hasil yang diharapkan Klien akan mengalami pertukaran oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) yang adekuat, yang ditandai dengan PaO2 >60 mmHg, PaCO2 antara 35 dan 45mmHg, tidak ada sianosis, dan tidak ada konfusi. Tindakan Keperawatan Berikan O2 aliran rendah dengan kecepatan sesuai yang dianjurkan (biasanya 1-2 L/menit). Kaji dan catat status respirasi minimal setiap 8 jam. Minta klien untuk mengubah posisi, batuk, dan melakukan napas dalam (setiap jam pada saat bangun). Pantau kadar gas arteri (konsultasikan dengan dokter bila perlu). Tinggikan kepala tempat tidur (minimal 30 derajat bila mungkin). Bantu klien dengan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. Berikan kembalilatihan napas (pursed-lip, abdominal). Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan rencanakan untuk periode istirahat. Banyak aktivitas yang biasanya dilakukan sambil berdiri dapat dilakukan sambil duduk (misalnya menyetrika, mengupas sayuran). Rujuk klien pada program rehabilitasi pulmonal.

Diagnosis Keperawatan: Ketidakefektifan pembersihan jalan napas Hasil yang diharapkan Tindakan Keperawatan Klien akan mempertahankan patensi jalan Tingkatkan asupan cairan (air, (us bush, minuman napas yang ditandai dengan tidak adanya ringan tanpakafein) sampai minimal 2000 ml/24 sianosis, dan suaranapas tambahan, dan jam (bila tidak adakontraindikasi dengan gangguan respirasi seimbang, tidak memerlukan usaha ginjal atau jantung). Pertahankankelembapan udara terlalu keras, dan berada dalambatas normal. ruangan 30 sampai 50%. Kaji dan catatkarakteristik batuk (berdahak atau kering, frekuensi, durasi, dan waktu dalam sehari). Kaji dan catat karakteristik sputum yang dikeluarkan (jumlah, warna, konsistensi). Berikan perawatan mulut yang sering dengan saline dan peroksida (hindari menggunakan apusan gliserin lemon). Lakukan drainase postural. Pantau efek bronkodilator dan ekspektoran. Anjurkan klien untuk melakukan napas dalam dan batuk; ajarkan batuk efektif

dengan melakukan demonstrasi. Hindari memberikan cairan yang sangat panas atau sangat dingin. Kaji dan catat bunyi napas alami minimal setiap 8 jam. Ubah posisi klien setidaknya setiap 2 jam. Tinggikan bagian kepala tempat tidur. Diagnosis Keperawatan: Ketidakefektifan pola napas Hasil yang diharapkan Klien akan menggunakan pola pernapasan yang efektif, ditandai dengan tidak adanya penggunaan cuping hidung dan otot-otot pernapasan tambahan, dan denganrespirasi yang seimbang, tidak berusaha terlalu keras,dan berada dalam batas normal. Tindakan Keperawatan Secara verbal, anjurkan klien untuk menggunakan pernapasan abdomen dan pursed-lip. Pertahankan oksigen dengan aliranrendah pada kecepatan yang dianjurkan. Berikan jaminankeamanan selama periode gawat napas (tetap bersama klien; tetaptenang). Secara verbal, berikan dorongan kepada klien untukmelakukan teknik relaksasi dan meditasi (lihat Bab 34). Tinggikanbagian kepala tempat tidur. Kaji dan catat pola napas sedikitnyasetiap 8 jam.

Mempertahankan patensi plan napas pada lansia sang mengalami gangguan neurologis dapat dicapai dengan mengatur posisi dan melakukan pengisapan Untuk lansia yang sadar, batuk sederhana dan napas dalam dapat meningkatkan pembukaanjalan napas dan memudahkan pertukaran gas. Hidrasi penting untuk membantu mengencerkan dan menggerakkan sekresi. Air jus buah, dan minumanringan tanpa kafein harus dianjurkan untuk dikonsumsi. Susu sebaiknya dihindarkan karena dapat mcngentalkan mukus. Nutrisi yang adekuat sangat penting untuk menyediakan energi dan mempercepat penyembuhan. Anoreksia sering terjadi pada lansia, khususnya bagi mereka yang mengalami penyakit pulmonal. Pemberian makanan dengan porsi kecil dan sering dapat memberikan asupan kalori yang adekuat. Asupan tinggikarbohidrat sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan beban CO2. Masalah lain yang umum terjadi pada lansia dengan masalah pulmonal adalah gangguan tidur yang berhubungan dengan hipoksia, dispnea, peningkatan sekresi, atau kombinasi dari hal-hal tersebut. Unruk pembahasan lebih lanjut, lihat Bab 34. TABEL 15-6 PEDOMAN MASALAH PERNAPASAN
Tanda-tanda masalah pernapasan

PENGAIARAN

UNTUK

LANSIA

DENGAN

Pengobatan

Perubahan pada sputum. Napas yang semakin pendek. Demam. Perubahan toleransi terhadap aktivitas. Gunakan sesuai petunjuk Hindari obat-obat yang dijual betas tanpa berkonsultasi dengan pemberi layanan (misalnya aspirin yang berainteraksi dengan koumadin, antasid dapat menghambat absorpsi dari antibiotik tertentu). Bila efek yang tidak diinginkan terjadi, beri tahu pemberi layanan.

Diet

Latihan

Bahaya lingkungan

Vaksin pneumokokus. Berikan makanandenganporsi kecil dan sering (hindari makan banyak karena haltersebut dapat menyebabkan distensi lambung dan kelemahan respirasi). Berikan diet seimbang yang baik (hindari diet tinggi karbohidrat karena hal tersebutdapat meningkatkan kandungan CO2 dan meningkatkan ventilasi). Pertahankan hidrasi yang adekuat, kira-kira 1 L/hari (hindari kafein dan produk susu). Latihan secara teratur sesuai toleransi (meningkatkan cadangan pulmonal dan meningkatkan aliran darah batik vena). Kurangi aktivitas jika terjadi keletihan. Hentikan aktivitas sementara dengan periode istirahat. Hindari merokok/merokok pasif. Hindari pemicu untuk masalah respirasi. Hindari aktivitas di luar rumah ketika kadar polusi tinggi.

3 Pencegahan Tersier Tujuan dari rehabilitasi pulmonal adalah untuk memaksimalkan fungsi pulmonal menghindari atau meminimalkan gangguan terhadap sisrem pulmonal, dan menumbuhkan kemandirian klien. Rehabilitasi pulmonal memerlukan pendekatan mulridisiplin yang menekankan pendidikan keluarga, latihan, dan dukungan psikososial untuk pasien dan keluarga. Muaran pendidikan harus diarahkan pada parofisiologi spesihk dan penatalaksanaan penyakit pulmonal. Nluatan pendidikan dapar diberikan melalui berbagai cara tetapi harus diadaptasikan terhadap gaya hidup dan ringkar pendidikan pasien. Berjalan, balk di dalam rumah atau di luar rumah, adalah suatu bentuk latihan yang sangat baik untuk lansia. Hal tersebut merupakan cara yang sederhana dan dapar dilakukan dan banvak mal yang menawarkan program berjalan yang iklim dan polusinya dapat dikendalikan. Apapun aktivitas yang dipilih oleh klien, hal tersebut harus dilakukan secara teratur dan bertahap. Penyakit pulmonal, balk yang akut maupun yang kronis, dapat menyebabkan ansietas dan depresi. Komunikasi terapeutik sangat penning untuk mengidentifikasi kebutuhan dan perasaan klien dan keluarga. Kelompok pendukung khususnya sangat membantu bagi mereka yang menderita penyakit paru kronis. Akhirnya, klien harus diberikan alat-alat dan dukungan agar berhasil menangani masalah pulmonalnya. Aktivitas Belajar Mahasiswa 1. Siapkan sebuah poster pendidikan untuk lansia tentang efek merokok bagi paruparu dan keuntungan yang diperoleh dengan berhenti merokok. Tempatkan poster

2. 3.

pada area yang menonjol yang dapat dilihat oleh lansia di komunitas. Berikan informasi rambahan tentang program berhenti merokok yang tersedia melalui Yayasan Jantung Indonesia dan Perkumpulan Paru Indonesia. Teliti jumlah pilihan yang tersedia bagi lansia untuk mendapatkan imunisasi flu di dalam komunitas Anda. Buat rencana untuk berpartisipasi dalam program kesadaran komunitas untuk memberikan imunisasi flu bagi lansia.

Akan tetapi, jauh di lubuk hati mereka merasa jauh lebih nyaman berada di dekat keluarganya. Negara Indonesia yang masih menjunjung tinggi kekeluargaan, tinggal di panti merupakan sesuatu hal yang tidak natural lagi, apa pun alasannya. Tinggal di rumah masih jauh lebih baik daripada di panti. Pada saat orang tua terpisah dari anak serta cucunya, maka muncul perasaan tidak berguna (useless) dan kesepian. Padahal mereka yang sudah tua masih mampu mengaktualisasikan potensinya secara optimal. Jika lansia dapat mempertahankan pola hidup serta cara dia memandang suatu makna kehidupan, maka sampai ajal menjemput mereka masih dapat berbuat banyak bagi kepentingan semua orang. 10 kebutuhan lansia (10 needs of the elderly) menurut Darmojo (2001) adalah sebagai berikut. 1. Makanan cukup dan sehat (healthy food). 2. Pakaian dan kelengkapannya (cloth and common accessories). 3. Perumahan/tempat tinggal/tempat berteduh (home, place to stay). 4. Perawatan dan pengawasan kesehatan (health care and facilities). 5. Bantuan teknis praktis sehari-hari/bantuan hukum (technical, judicialassistance). 6. Transportasi umum (facilities for public transporlalions). 7. Kunjungan/teman bicara/informasi (visits, companies, informations). 8. Rekreasi dan hiburan sehat lainnya (recreational activities, picnic). 9. Rasa aman dan tentram (safety feeling). 10. Bantuan alat-alat pancaindra (other assistance/aids). Kesinambungan bantuan dana dan fasilitas (continuation of subsidies and facilities). Terapi Modalitas Terapi modalitas merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang bagi lansia. 1. Tujuan Mengisi waktu luang bagi lansia. Meningkatkan kesehatan lansia. Meningkatkan produktivitas lansia. Meningkatkan interaksi sosial antarlansia. 2. Jenis kegiatan Psikodrama Bertujuan untuk mengekspresikan perasaan lansia. Tema dapat dipilih sesuai dengan masalah lansia.

Terapi aktivitas kelompok (TAK) Terdiri atas 7-10 orang. Bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan, bersosialisasi, bertukar pengalaman, dan mengubah perilaku. Untuk terlaksananya terapi ini dibutuhkan leader, co-leader, dan facilitator. Misalnya cerdas cermat, tebak gambar, dan lain-lain. Terapi musik Bertujuan untuk menghibur para lansia sehingga meningkatkan gairah hidup dan dapat mengenang masa lalu. Terapi berkebun Bertujuan untuk melatih kesabaran, kebersamaan, dan memanfaatkan waktu luang. Terapi dengan binatang Bertujuan untuk meningkatkan rasa kasih sayang dan mengisi hari-hari sepinya dengan bermain bersama binatang. Terapi okupasi Bertujuan untuk memanfaatkan waktu luang dan meningkatkan produktivitas dengan membuat atau menghasilkan karya dari bahan yang telah disediakan. Terapi kognitif Bertujuan agar daya ingat tidak menurun. Seperti mengadakan cerdas cermat, mengisi TTS dan lain-lain. Life review terapi Bertujuan untuk meningkatkan gairah hidup dan harga diri dengan menceritakan pengalaman hidupnya. Rekreasi Bertujuan untuk meningkatkan sosialisasi, gairah hidup, menurunkan rasa bosan, dan melihat pemandangan. Terapi keagamaan Bertujuan untuk kebersamaan, persiapan menjelang kematian, dan meningkatkan rasa nyaman. Seperti mengadakan pengajian, kebaktian, dan lain-lain.

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN GERONTOLOGI MENURUT ANA (AMERICAN NURSING ASSOCIATION) STANDAR 1 : Organisasi Pelayanan Keperawatan Gerontologi Semua pelayanan keperawatan gerontik direncanakan, diorganisasikan, dan diarahkan oleh seorang perawat eksekutif. Peravvat eksekutif mempunyai gelar sarjana atau master serta mempunyai pengalaman keperawatan dan pelayanan jangka panjang maupun pendek untuk klien lansia. STANDAR II : Teori Perawat berpartisipasi dan menguji teori sebagai dasar untuk membuatkeputusanklinis. Perawatmenggunakan konsep teoretis sebagai pedornan praktik keperawatan gerontik sehingga efektif.

PENUAAN SISTEM PADAGASTROINTESTINAL DENGAN PERTIMBANGAN NUTRISI Tujuan: Setelah menyelesaikan bab ini, pembaca akan mampu untuk: Mengenal perubahan-perubahan psikologis yang normal terkait usia dalam sistem gastrointestinal Mendiskusikan patofisiologi yang sering terjadi pada saluran gastrointestinal lansia Menjelaskan tindakan-tindakan keperawatan yang ditujukan pada pencegahan primer, sekunder, dan tersier yang sering terjadi pada saluran gastrointestinal lansia Memperdalam rancangan dan metode pengajaran yang akan memberikan kemampuan pada lansia dalam mempertahankan atau mencapai kesehatan gastrointestinal yang maksimal Mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan nutrisi pada lansia Menguraikan dampak nutrisi terhadap kesehatan dan pencegahan penyakit pada lansia Melakukan penapisan nutrisi pada lansia Proses Penuaan Normal pada Saluran Gastrointestinal Proses penuaan memberikan pengaruh pada setiap bagian dalam saluran gastrointestinal (GI) dalam beberapa derajat (Tabel 18-1). Namun, karena luasnya persoalan fisiologis pada sistem gastrointestinal, hanya sedikit masalah-masalah yang berkaitan dengan usia yang dilihat dalam kesehatan lansia. Banyak masalah-masalah GI yang dihadapi oleh lansia lebih erat dihubungkan dengan gaya hidup mereka. Mitos umum dikaitkan dengan fungsi normal saluran gastrointestinal dan perubahanperubahan kebutuhan nutrisi lansia. Bab ini menjelaskan masalah-masalah terkait usia yang dilihat dari sistem GI dan kebutuhan nutrisi pada lansia. RONGGA MULUT Penampilan fisik, kemampuan berkomunikasi, dan asupan nutrisi dit:ngkatkan oleh kebersihan mukosa mulut dan keutuhan gigi.' Walaupun tanggalnva. gigi bukan suatu konsekuensi dasar dari proses penuaan, ban, iak lansia mengalami penanggalan gigi sebagai akibat dari hilangnya tulang penyokong pada permukaan periosteal dan peridontal. Hilangnya sokongan tulang ini juga turut berperan terhadap kesulitankesulitan yang berkaitan dengan penyediaan sokongan gigi yang adekuat dan stabil pada usia lebih lanjut. Gigi-gigi yang tersisa pada usia setelah 70 tahun sering menimbulkan perasaan ngilu pada permukaan pengunyahan. Penyusutan dan fibrosis pada akar halus bersama-samadengan retraksi gusi juga berkontribusi terhadap penanggalan gigi pada penyakit periodontal.

Mukosa mulut tampak merah dan berkilat pada lansia karena adanya atrofi. Bibir dan gusi tampak tipis karena epitelium telah menyusut dan menjadi lebih mengandung keratin. Vaskularitas mukosa mulut menurun dan gusi yang tampak pucat adalah akibat dari menurunnya suplai darah. Aliran air liur tetap normal pada lansia yang sehat dan tidak mendapatkan pengobatan yang akan dapat menyebabkan mulut menjadi kering. Meskipun ada beberapa kontroversi berkenaan dengan hilangnya kuncup perasa akibat proses penuaan, banyak lansia mengeluh adanya gangguan sensasi rasa dan penurunan kemampuan mengenali rasa yang tidak tajam. TABEL 18-1 PERUBAHAN-PERUBAHAN PROSES PENUAAN PADA SISTEM GASTROINTESTINAL YANG NORMAL
Perubahan Normal Terkait usia Rongga Mulut Hilangnya tulang periosteum dan peridontal Retraksi dari struktur gusi Hilangnya kuncup rasa Esofagus, lambung, usus Dilatasi esofagus Kehilangan tonussfingter jantung Penurunan refleks muntah Atrofi mukosa lambung Penurunan motilitas lambung Implikasi Klinis Tanggalnya gigi Kesulitan dalam mempertahankan pelekatan gigi palsu yang pas Perubahan sensasi rasa Peningkatan penggunaan garam Peningkatan risiko aspirasi

Perlambatan mencerna makanan Penurunan absorpsi obat-obatan, zat besi, kalsium, vitamin B12 Konstipasi sering terjadi

ESGFAGUS, LAMBUNG, DAN USUS Motilitas esofagus tetap normal meskipun esofagus mengalami sedikit dilatasi setting penuaan. Sfingter esofagus bagian bawah (kardiak) kehilangan tonus. Refleks muntah pada lansia akan melemah. Kombinasi dari faktor-faktor ini meningkatkan risiko terjadinya aspirasi pada lansia. Kesulitan dalam mencerna makanan adalah akibat dari atrofi mukosa lambung dan penurunan motilitas lambung. Atrofi mukosa lambung merupakan akibat dart penurunan sekresi asam hidroklorik (hipoklorhidria), dengan pengurangan absorpsi zat besi, kalsium, dan vitamin B12. Motilitas gaster biasanya menurun, dan melambatnya gerakan dari sebagian makanan yang dicerna keluar dari lambung dan terus melalui usus halus dan usus besar. SALURAN EMPEDU, HATI, KANDUNG EMPEDU, DAN PANKREAS Kapasitas fungsional hati dan pankreas tetap dalam rentang normal karena adanya cadangan fisiologis dari hati dan pankreas ini. Setelah usia 70 tahun, ukuran hati dan pankreas akan mengecil, terjadi penurunankapasitas menyimpan dan kemampuan mensintesis protein dan enzim-enzim pencernaan. Sekresi insulin normal dengan kadar

gula darah yang tinggi (250-300 mg/dL), tetapi respons insulin akan berkurang seiring dengan peningkatan kadar gula darah secara moderat (120-200 mg/dL)., Lihat bab 16 untuk pembahasan menyeluruh rentang diabetes melitus pada lansia. Proses penuaan telah mengubah proporsi lemak empedu tanpa perubahan metabolisme asam empedu yang signifikan. Faktor ini mempengaruhi peningkatan sekresi kolesterol. Banyak perubahan-perubahan terkait usia terjadi dalam sistem empedu yang juga terjadi pada pasien-pasien yang sangat gemuk (obesitas). Kebutuhan Nutrisi pada Lansia dalam Rangka Promosi Kesehatan Nutrisi yang adekuat merupakan suatu komponen esensial pada kesehatan lansia. Status nutrisi seseorang akan berpengaruh terhadap setiap sistem tubuh. Bimbingan yang membahas secara langsung tentang kebutuhan nutrisi pada lansia masih sedikit. Pada sebagian lansia, ketiadaan bimbingan ini terjadi karena lansialebih heterogen daripada orang muda dan kurang mampu dalam menghitung kebutuhan nutrisi mereka melalui nomogram. Kekurangakuratan dan kernudahan untuk memahami informasi dalam membimbing lansia dan para praktisi telah mengarahkan penggunaan statistik apa adanya yang berkaitan dengan status nutrisi lansia. Secara fisiologis, kebutuhan energi lebih dikaitkan dengan tingkat aktivitas fisik daripada usia kronologis. Kebutuhan asupan kalori sehari-hari yang disarankan (Recommended Daily Allowance [RDA]) pada lansia yang berusia 65 sampai 75 tahunadalah 2300 kkal. RDAuntuk lansia di atas usia 75 tahun diturunkan menjadi 2050 kkal, konsumsi kalori dari karbohidrat kompleks yang diharuskan sebanyak 55 sampai 65% dan kurang dari 30% lemak, serta porsi sisanya adalah protein. Faktor-faktor fisiologis lainnya yang dikaitkan dengan kebutuhan nutrisi yang unik pada lansia adalah menurunnya sensitivitas olfaktorius, perubahan persepsi rasa, dan peningkatan kolesistokinin yang dapat memengaruhi keinginan untuk makan dan peningkatan rasa kenyang. Proses penuaan itu sendiri sebenarnya tidak mengganggu proses penyerapan vitamin pada berbagai tingkatan yang luas. Namun, laporan-laporan terakhir mengindikasikan bahwa lansia mengalami defisiensi vitamin B12, vitamin D dan asam folat. Perubahan-perubahan dalam kebutuhan mineral meliputi rendahnya kebutuhan akan zat besi pada wanita lansia daripada wanita usia produktif. Asupan kalsium sebagai salah satu mineral esensial lainnya bagi lansia sekitar 600 mg per hari untuk wanita. Hal ini hanya menggambarkan 30 sampai 40% dart tingkat kebutuhan yang disarankan. Panduan diet terbaru menyarankan sedikitnya 1000 mg kalsium per hari untuk seluruh lansia dan 1500 mg per hari untuk wanita lansia yang tidak menggunakan estrogen. Suplemen kalsium tidak akan diabsorpsi secara merata. Karena perbedaan derajat keasaman yang dibutuhkan untuk absoI-psi yang sesuai, kalsium sitrat malat merupakan bentuk yang lebih dipilih untuk diberikan bagi lansia yang mengalami hipoklorhidria atau aklorhidria. Pada proses penuaan yang normal, peningkatan jaringan adiposa secara normal dapat menyertai penurunan massa tubuh dan cairan tubuh total. Meskipun hasil studi memperlihatkan bahwa orang-orang Amerika mengonsumsi sedikit lemak, prevalensi

obesitas telah meningkat 133% dalam 10 tahun terakhir.Lemak tubuh yang berlebihan sebaliknya akan merugikan Iansia. Buku penuntun diet yang baru telah menekankan tentang pentingnya mempertahankan berat badan yang stabil dan mengikuti program diet dan olahraga yang tepat dalam seluruh rentang waktu kehidupan. 1 Pencegahan Primer Proses penuaan memengaruhi kebutuhan nutrisi dan status nutrisi pada 30 juta lansia, 6 juta dari mereka berisiko tinggi terhadap malnutrisi. Studi-studi mengindikasikan bahwa lansia yang memiliki penghasilan kurang dari 6000 dolar per tahun atau kurang dari 35 dolar per minggu untuk konsumsi makanan, dan para lansia yang mengunjungi rekan atau keluarganya kurang dari dua kali per minggu, dan para lansia yang kelebihan berat badan sebesar 25 kg atau yang kekurangan berat badan 10 kg adalah mereka yang berisiko tinggi mengalami malnutrisi, selain dari jutaan orang yang mengalami kekurangan nutrisi. Faktor-faktor sosioekonomi, juga penderita penyakit kronis dan polifarmasi, turut berperan terhadap masalah malnutrisi yang aktual atau potensial bagi lansia. Instrumen pengkajian sebagaimana yang telah dikembangkan oleh program Nutrition Screening Initiative untuk menentukan status nutrisi direkomendasikan dapat digunakan oleh seluruh pemberi pelayanankesehatan. Lembaran instrumen ini tersedia melalui Nutrition Screening Initiative, 1010 Wisconsin Avenue NW, Washington, DC 20007. Lihat Tabel 18-2. Suatu upaya yang konsisten untuk mengidentifikasi lansia dengan gangguan nutrisi dernikian juga untuk risiko gangguan nutrisi yang seharusnya menjadi prioritas jika tujuan nasional untuk promosi kesehatan dan pencegahan penyakit ingin dicapai. RINGKASAN HASIL PENELITIAN
Lindseth, G: Nutrition preparation and the geriatric nurse. West J Nurs Res, 16: 692, 1994. Suatu studi dengan desain deskriptif korelasi telah mengevaluasi pengetahuan perawat teregistrasi tentang nutrisi pada lansia. Teknik pengambilan sampel random telah digunakan untuk memilih 13 fasilitas perawatan jangka panjang dan unit perawatan di negara barat bagian tengah. Ternuan studi menunjukkan defisit pengetahuan terhadap pencernaan, absorpsi, dan metabolisme nutrien, kebutuhan nutrisi sepanjang siklus kehidupan, serta diet dan penyakit. Peneliti merekomendasikan perlunya memasukkan kebutuhan nutrisi lansia dalam program pendidikan keperawatan dan pendidikan berkelanjutan yang ditawarkan bagi praktisi keperawatan.

Faktor-Faktor Sosioekonomi Faktor-faktor sosioekonomi yang memengaruhi lansia meliputi isolasi sosial dan pendapatan yang rendah.Waktu makan adalah sebagai kegiatan sosial yang terdapat di berbagai kebudayaan. Bila seorang lansia hidup sendiri atau banyak menghabiskan waktunya untuk menyendiri, motivasi untuk mempersiapkan dan mengonsumsi makanan mungkin akan berkurang. Senior Center di seluruh negeri sering mengingatkan lansia tentang penekanan untuk mengonsumsi diet yang sehat secara teratur. Karena hambatan keuangan, banyak Senior Center mempercayakan pada makanan-makanan siap saji yang mengandung lemak jenuh tinggi dan garam. Metode

penyajian makanan sering meliputi menggoreng yang meningkatkan konsumsi lemak jenuh. Perawat mempunyai kesempatan untuk memberikan bimbingan dalam hal ini dengan cara memfasilitasinya seperti menyajikan acara "makan dan belajar" makanan yang sehat. Makan sambil bertamasya adalah program yang menyajikan makanan setiap harinya, darj Senin sampai Jumat untuk lansia yang memenuhi syarat. Saat ini ditemukan bahwa hanya 7% lansia yang memenuhi persyaratan yang mau menerima pelayanan ini. Untuk masyarakat yang senang tinggal di rumah, pelayanan ini bukan hanya menyajikan makanan yang bergizi, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk memikul tanggung jawab terhadap lansia secara konsisten. Perawat mempunyai kesempatan untuk memberikan pendidikan dalam koordinasi program-program tentang pentingnya untuk tidak hanya mengandalkan makanan-makanan yang telah diproses secara modern arau melalui metode tradisional yang meliputi makanan yang digoreng yang merupakan program utama. Banyak lansia harus memilih antara makanan, obat-obatan atau sewa tempat tinggal karena mereka hidup dengan pendapatan yang rendah atau tidak teratur. Kekurangan asupan protein, vitamin, dan mineral dapat diakibatkan karena ketidakmampuan untuk membelanjakan makanan yang tepat. Iklan-iklan yang mendorong lansia untuk menggunakan suplemen nutrisi dalam kaleng untuk "mengembalikan kehidupan pada tahun-tahun sebelumnya" dapat salah membawa lansia untuk menghabiskan sumber-sumber yang berharga untuk suplemen-suplemen ini daripada untuk makanan yang lebih tepat. Banyak lansia yang tidak bergigi, memiliki masalah kelainan gigi atau penyakit periodontal dan tidak dapat merawat giginya. Daging yang berkualitas tinggi, buahbuahan mentah, dan sayur-sayuran sering dihindari karena semua itu terlalu mahal atau tidak dapat dikunyah atau ditelan. Perawat mungkin dapat bekerja sama dengan dokter gigi setempat atau sekolah dokter gigi untuk menyediakan pelayanan penapisan gigi di Senior Center. Kegiatan-kegiatan sosial yang disponsori oleh komunitas dapat dikoordinasikan untuk menyediakan dana demi kebutuhan tindak larjut bagi lansia yang membutuhkan perawatan gigi yang mengalami kekurangan sumber. TABEL 18-2 ALAT PENAPISAN NUTRISI UNTUK LANSIA
Baca pernyataan di bawah ini. Lingkari nomor di dalam kolom Ya untuk hal-hal yang sesuai untuk Anda. Jumlahkan total nilai pengkajian nutrisi Anda. Pernyataan Pengkajian Nutrisi Ya Saya memiliki penyakit atau kondisi yang membuat saya mengubah jenis atau jumlah 2 makanan yang saya makan. Saya makan kurang dari dua kali per hari. 3 Saya makan sedikit buah-buahan, sayur-sayuran, atau produk susu. 2 Saya minum bir, minuman keras, atau anggur lebih dari tiga kali atau lebih hampir 2 setiap hari. Saya memiliki masalah gigi atau mulut yang membuat saya sulit untuk makan. 2 Saya tidak selalu memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan yang saya 4 perlukan.

Saya makan sendirian hampir setiap saat. 1 Saya menggunakan tiga atau lebih obat-obatan yang diresepkan atau yang dibeli bebas 1 dalam waktu satu hari. Tanpa saya inginkan, saya telah kehilangan atau bertambah berat badan sebanyak 5 kg 2 dalam waktu 6 bulan terakhir. Saya tidak selalu mampu secara fisik untuk berbelanja, masak, atau makan sendiri. 2 Total Jika nilai Anda 0-2 : Bagus! Periksa kembali nilai nutrisi Anda dalam waktu 6 bulan Jika nilai Anda 3-5 : Anda berada pada risiko nutrisi tingkat sedang. Lihat apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebiasaan makan dan gaya hidup Anda. Periksa kembali nilal Anda dalam waktu 3 bulan. Jika nilai Anda 6 atau lebih : Anda berisiko tinggi nutrisi. Bawa daftar ini pada dokter Anda, praktisi keperawatan atau perawat kesehatan rumah Anda. Minta bantuan untuk meningkatkan kesehatan nutrisi Anda.

Penyakit-Penyakit Kronis Banyak penyakit kronis seperti gagal jantung kongestif dan gagal gjnjal kronis membutuhkan terapi diet yang sangat ketat. Diet ini sering sangat menyulitkan dalam mempertahankannya dan mungkin dapat turut berperan terhadap masalah defisiensi nutrisi. Perharian yang sungguh-sungguh harus diberikan terhadap orang yang membutuhkan terapi diet untukmeyakinkan asupan nutrisi yang adekuat. Selain itu, penyakit-penyakit kronis seperti gangguan malabsorpsi yang dibahas kemudian dl dalam bab ini, dapat turut berperan terhadap munculnya masalah-masalah nutrisi pada lansia. Pengobatan Pengobatan seperti diuretik akan memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit. Penyalahgunaan pemgkaian laksatif dan penurunan fungsi nefron ginjal normal terkait usia mungkin dapat menjadi bagian dari masalah ini. Lansia dapat lebih menerima penjelasantentang interaksi obat nutrien yang merugikan karena adanya penurunan metabolisme dan penggunaan berbagai obat. Efek samping lainnya adalah peningkatan atau penurunan nafsu makan, konstipasi, mual, dan penurunan absorpsi nutrien. Alkohol juga mengganggu absorpsi vitamin B dan folat. Zat-zat neuroleptik dapatmenekan nafsu makan, sementara obat-obat lainnya dapat meningkatkannya. Antihistamin juga turut berperan terhadap penurunan nafsu makan. Minyak mineral, yang kadang-kadang digunakan seperti laksatif, dapat menghambat penyerapan vitamin A, D, dan K yang larut dalam lemak. Banyak lansia juga mengalami masalah kelebihan berat badan sekarang daripada sebelumnya.7 Kondisi ini menempatkan lansia pada peningkatan risiko untuk mengalami penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit arteri koroner, diabetes, dan stroke. Selain itu, kelebihan berat badan ini menambah kelemahan pada persendian dan keterbatasan gerakan dan kebebasan. Metode yangtepat termasuk menurunkan asupan kalori, olahraga sedang, dan peningkatan asupan kalori dari sumber buah-buahan dan sayur-sayuran seharusnya dianjurkan. Fishman mencatat bahwa meskipun upaya-upaya preventif untuk menurunkan risiko seseorang dari penyakit-penyakit terkait nutrisi paling baik dimulai sejak awal kehidupan, perubahan diet dan pola latihan dapat

meningkatkan status kesehatan pada berbagai tingkatan usia. Keseluruhan pembahasan masalah aktivitas yang terkait dengan lansia dapat dilihat pada Bab 20. 2 Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder dimulai dengan pengkajian yang seksama terhadap klien dan upaya-upaya untuk mengidentifikasi sumber masalah gizi. Kesalahan pengaturan metabolisme seharusnya diperbaiki dan pemberian obat-obatan untuk kondisi-kondisi kronis dapat disesuaikan untuk mengurangi efek samping yang mengganggu nutrisi yang normal. Depresi yang tidak terdeteksi atau fase awal demensia sering terjadi pada kurangnya asupan diet dan malnutrisi. Selain itu, suatupengkajian tentang riwayat diet dan pengkajian nutrisi adalah penting untuk menentukan tujuan yang realistis dan tepat pada lansia dengan masalah nutrisi. Pelayanan ahli diet akan menguntungkan bagi klien. Banyak lansia tidak mengetahui bagaimana kebutuhnutrisi mereka mengalami perubahan sebagai akibat Oleh karena itu, seluruh pemberi layanan perlu dipersiapkan untuk memberikan informasi yang akurat dan terbaru tentang nutrisi normal, demikian juga tentang kebutuhan nutrisi yang menyertai proses penyakit. Suatu penelitian terbaru mengemukakan bahwa perawat tidak dipersiapkan secara adekuat untuk memberikan jenis instruksi ini kepada klien lansia. Lihat "Ringkasan Penelitian 1." Asuhan keperawatan adalah suatu bagian penting dalam memperbaiki asupan nutrisi pada institusi pelayanan akut maupun pelayanan jangka panjang. Dedikasi diperlukan untuk meyakinkan bahwa kebutuhan nutrisi klien dimasukkan sebagai bagian dari rencana keperawatan sccara total. Mengizinkan pemberian suplemen dalam kaleng untuk pembangun tubuh yang diletakkan di meja di samping tempat tidur atau untuk dikembalikan pada bagian gizi tidak akan membantu memfasilitasi asupan yang adekuat. Suplemen sangat baik digunakan di antara waktu makan dan sering ditoleransi dengan baik jika disajikan dalam keadaan dingin. Alternatif-alternatif makanan, seperti nutrisi parenteral total dan pemberian makanan dengan penduga lambung, mungkin diperlukan jika asupan yang adekuat tidak dapat dipertahankan melalui rute oral. Keterlibatan keluarga sangat penting untuk menyediakan nutrisi yang balk di semua lingkungan. Kemampuan untuk memberikan makanan kesukaan lansia dan memberikan atmosfer sosial yang mendorong asupan makanan adalah hal terbaik yang dapat dilakukan oleh keluarga. Keluarga sering memiliki keinginan yang kuat untuk berpartisipasi dalam cara ini dan berespons dengan baik terhadap saran-saran yang terdapat pada Tabel 18-3. Walaupun suplemen tidak perlu digunakan dalam keadaan diet yang seimbang, laporan terbaru saat ini menyarankan penggunaan suplemen multivitamin dan kalsium jika asupan makanan saat ini tidak memenuhi jumlah makanan harian yang dianjurkan. Dosis yang belebihan di atas jumlah asupan harian yang dianjurkan tidak dianjurkan pada saat ini dan terbukti dapat merugikan jika digunakan dalam waktu yang lama. Rekomendasi tambahan termasuk penggunaan makanan berserat untuk meningkatkan asupan vitamin dan mineral, dan meningkatkan defekasi yang normal. Rekomendasi asupan serat yang disarankan saat ini sekitar 20 sampai 35 gram serat per hari.

TABEL 18-3 TEKNIK-TEKNIK UNTUK MENINGKATKAN MAKANAN KETIKA NAFSU MAKAN RENDAH

ASUPAN

Tambahkan susu bubuk kering tanpa lemak pada makanan yang mengandung banyak cairan (kaldu, kentang tumbuk, puding, sereal yang dimasak). Berikan berbagai variasi makanan kecil di antara waktu makan, berbagai tekstur dan rasa manis yang bervariasi. Tawarkan makanan paling banyak pada siang hari ketika lansia merasa sangat lapar (biasanya pada pagi hari). Anjurkan pemberian makanan dengan ukuran kecil yang mudah dimakan sendiri. Tambahkan margarin tambahan pada sayur-sayuran, saus, dan makanan berkrim. Sajikan suplemen nutrisi dalam keadaan dingin atau disiapkan dalam bentuk shake. Anjurkan keluarga untuk membawa makanan kesukaan klien.

Gangguan-Gangguan pada Sistem Gastrointestinal Atas PENYAKIT PERIODONTAL Patofisiologi dan Manifestasi Minis Penyakit periodontal (gingivitis dan periodontitis) adalah inflamasi dari strukturstruktur yang menyokong gigi, dengan hasil akhir berupa kerusakan tulang. Kerusakan ini menyebabkan kehilangan secara progresif dan pada akhirnya terjadi kehilangan gigi. Gingivitis dan periodontitis (piorea) disebabkan oleh bakteri yang terdapat di dalam plak. Gingivitis adalah infeksi gusi superisial,15 biasanya disebabkan oleh higiene gigi yang buruk. Tanda pertama gingivitis adalah gusi yang kemerahan dan gusi bengkak yang berdarah ketika menggosok gigi. Jika infeksi terus berkembang, bau napas tidak sedap (halitosis), rasa tidak enak dalam mulut, atau adanya eksudat purulen di sekitar garis gusi. Kondisi lain yang dapat memperberat penyakit periodontal meliputi infeksi mulut, maloklusi, malnutrisi, diabetes melitus, dan iritasi lokal seperti posisi gigi palsu yang tidak tepat. 1 Pencegahan Primer Pencegahan efektif termasuk menggosok gigi secara teratur dan membersihkan gigi dengan benang, dan pemeriksaan gigi secara teratur untuk pembersihan plak dan kalkulus dua atau tiga kali per tahun. Lansia harus mengunjungi dokter gigi secara teratur bahkan jika mereka memiliki sebagian gigi palsu. Gigi palsu harus diperiksa secara periodik untuk menjamin posisi gigi yang tepat dan untuk mencegah iritasi mulut. 2 Pencegahan Sekunder Klien dapat mengeluh gusi sakit dan bengkak yang membuat sulit untuk mengunyah, atau gigi tanggal, patah sebagian kecil gigi, atau bau yang tidak enak. Gusi berdarah atau eksudat yang purulen dapat terlihat. Perawat harus menentukan apakah pasien mengunjungi dokter gigi, dan jika ya, kapan tanggal pemeriksaan terakhir klien. Jika infeksi gigi terjadi, inflamasi dapat terlihat.

Gingivitis dapat disembuhkan dengan intervensi gigi sejak dini. Perawatannya melibatkan pembersihan secara seksama dengan cara membersihkan tartar dan bakteri dari bawah garis gusi dan dari permukaan akar gigi. Proses pembersihan ini disebut penghalusan akar gigi. Jika infeksi periodontal (piorea) yang berat terjadi, pengobatan dengan antibiotik mungkin diperlukan. Pembedahan gigi mungkin diperlukan untuk memperbaiki tulang dan jaringan. Dengan intervensi dini, periodontitis biasanya dapat dikendalikan. Perawat dapat membantu pasien untuk mendapatkan penanganan dari seorang ahli bedah mulut jika tanggalnya gigi dan penyakit gusi menjadi berat. DISFAGIA Walaupun disfagia telah dianggap konsekuensi normal akibat penuaan, penyebab struktural, vaskular atau neurogenik sekarang telah dikenali sebagai patologi yang mendasari. Disfagia menunjukkan patologi yang signifikan pada lansia. Tanpa memperhatikan penyebabnya, mukosa esofagus biasanya mengalami iritasi akibat makanan yang statis. Perasaan jantung seperti rerbakar atau nyeri dada biasanya diketahui. Secara umum, makanan padat dapat ditelan lebih mudah daripada cairan, kecuali jika terjadi lesi struktural. Regurgitasi dan aspirasi pulmonal sering terjadi, juga keluhan-keluhan makanan yang menyangkut di kerongkongan dan batuk selama menelan. 1 Pencegahan Primer Disfagia dapat terjadi dari paralisis, iritasi tenggorok, efek samping obat, lesi struktural (tumor atau striktur), gangguan motilitas (akalasia atau spasme esofagus secara difus), atau perubahan vaskular (disfagia aortika). Stroke dan gangguan neuromuskular seperti penyakit Parkinson, polimiositis, miastenia gravis, hipertiroidisme, dan sklerosis amiotropik lateral dapat menyebabkan disfagia. Disfagia yang diakibatkan dari penyebab vaskular dapat terjadi dari dilatasi atau aneurisma aorta. Seluruh atau sebagian esofagus dapat dipengaruhi oleh abnormalitas struktural atau neurogenik. Permulaan dari mekanisme menelan atsu pergerakan makanan ke dalam lambung dapat terganggu. Disfagia untuk alasan apapun dapat digambarkan dalam satu dari tiga cara berikut ini: disfagia transfer, disfagia transpor, atau disfagia pengantaran. Seorang pasien dengan disfagia transfer memiliki kesulitan dalam mentransfer makanan dari mulut ke esofagus. Disfagia transpor menghalangi kemudahan lewatnya zat yang telah diingesti dalam menuruni esofagus. Hal ini biasanya disebabkan oleh defek (motilitas) neuromuskular atau lesi struktural. Disfagia pengantaran terjadi ketika pergerakan bolus makanan ke dalam lambung mengalami kesulitan karena adanya lesi atau fungsi sfingter yang abnormal. 2 Pencegahan Sekunder Pengumpulan riwayat penyakit sangat penting untuk menentukan respons klien terhadap disfagia. Tabel 18-4 memberikan pertanyaan-pertanyaan yang digunakan

untuk memperoleh riwayat disfagia. Perawat harus mengobservasi klien pada waktu makan dan memperhatikan bagaimana is dapat mengatur cairan atau makanan dengan konsistensi yang berbeda. Kemampuan klien untuk menghasilkan saliva harus dikaji. Saliva yang adekuat dapat membantu pembentukan bolus makanan. Saliva yang kental dan mulur dapat mengganggu makan. Seperti juga halnya, jika terdapat xerostomia (mulut kering), makanan dapat terpecah-pecah di dalam mulut, yang menyebabkan pasien tersedak. TABEL 18-4 PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK RIWAYAT DISFAGIA
Apakah makanan padat atau cairan yang menyebabkan terjadinya gejala? Apakah disfagia terjadi secara terus-menerus atau kadang-kadang? Apakah rasa terbakar pada jantung berhubungan dengan disfagia? Kapan disfagia mulai terjadi? Apakah ada gejala-gejala lain seperti nyeri dada atau gejala-gejala pada malam hari? Apakah suara serak, regurgitasi dari hidung, atau aspirasi pernah terjadi?

Saat perawat berbicara dengan pasien, keabnormalan pola b1cara dan nada suara dapat diketahui. Palatum dan orofaring yang mengalami paralisis dapat menyebabkan nada suara hipernasal. Suara yang serak dapat disebabkan oleh paralisis parsial dari saraf kranial ke-10. Pencegahan regurgitasi dan aspirasi adalah suatu keharusan, dan pegkajian kemampuan pasien untuk menelan adalah langkah pertama ke arah pencegahan. Hufler's merekomendasikan 3 pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi refleks menelan klien: Minta klien untuk meletakkan lidahnya pada palatum. Pergerakan ini penting untuk mendorong makanan masuk ke kerongkongan. Usap arkus tonsilar pasien dan palatum mole dengan apusan kapas lembap dan tanyakan apakah usapan mi dapat dirasakan. Beberapa perasaan sangat penting pada area-area ini agar menelan dapat dilakukan. Periksa kontraksi normal faring dengan merangsang arkus tonsilar dengan apusan kapas. Apusan kapas tersebur harus dilembapkan dengan air jeruk dingin untuk mendapatkan informasi tentang kontraksi otot-otot faring. Perawat dapat membantu klien memposisikan lidahnya pada palatum dengan cara melakukan manuver ini di depan cermin. Kernudian, arkus tonsilar dimasase dengAn apusan kapas lembap, yang akan membantu menjaga otot-otot faring. Jika klien memperoleh kembali refleks menelannya, diet yang lunak seperti puding atau makanan bayi yang lunak dapat mulai diberikan. Untuk mencegah aspirasi, klien harus diposisikan dengan leher agak difleksikan ke depan. Manuver ini mendorong trakea untuk tertutup dan esofagus untuk terbuka. Cairan hares dihindari pada awalnya karena pasien disfagia biasanya memiliki kesulitan untuk menelan cairan. Untuk itu, sejumlah cairan harus dicampurkan dengan makanan.

Perawat mengobservasi kehilangan berat badan klien atau tanda-tanda dehidrasi. Klien harus ditimbang dengan interval yang teratur. Ketakutan tersedak dapat menyebabkan klien membatasi asupan makanan dan cairan. Jika tersedak menjadi suatu masalah, siapkan alat pengisap di dekat klien. Tabel 18-5 memberikan suatu rencana perawatan untuk klien disfagia. Asuhan keperawatan dapat meliputi pemberian obat-obat nitrat untuk mengurangi nyeri akibat spasme esofagus. Klien harus diinformasikan tentang efek samping dari obat-obat tersebut. REFLUKS GASTROESOFAGUS DAN HERNIA HIATAL Refluks gastroesofagus adalah aliran balik getah lambung masuk ke dalam esofagus. Dinding esofagus lebih tipis dan lebih sensitif pada lansia. Selain itu, dilatasi esofagus bagian bawah dengan relaksasi sfingter esofagus bawah (lower esophageal sphinkter [LES]) membuat refluks esofagus lebih cenderung terjadi. Hernia hiatal sering terlihat dengan tekanan LES. Namun, banyak lansia yang mengalami gejala refluks tanpa hernia hiatal. Hernia hiatal adalah masuknya lambung dan organorgan dalam abdomen lainnya ke dalam rongga toraks melalui suatu pembesaran hiatus esofagus dalam diafragma. Hernia hiatal terjadi pada 40 sampai 60'0 orang dewasa yang berusia lebih dari 60 shun. Terdapar dua tipe hernia hiatal. Tipe I, atau hernia pergeseran (sliding hernia) adalah herniasi lambung ke atas masuk ke dalam hiatus diafragma yang mengalami sedikit pembesaran. Hernia ripe 1 ini lebih sering terjadi daripada hernia tipe II, atau hernia bergulung (rolling hernia), vaitu adanya herniasi dart sebagian lambung di sepanjang esofagus, yang memperbesar taut gastroesofagus.` TABEL 18-5 RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosis Keperawatan Perubahan pola.makan: disfagia Hasil yang diharapkan Intervensi Keperawatan Klien atau pemberi perawatan Kaji kemampuan untuk menelan. mendemonstrasikan tindakan-tindakan Posisikan klien secara nyaman pada posisi tegak lurus. untuk mengurangi kecenderungan Minta klien untuk menundukkan kepalanya. terjadinya aspirasi. Ambil dan siapkan peralatan pengisap. Periksa mulut klien untuk mengetahui adanya mukus dan lakukan pengisapan jika perlu. Anjurkan klien untuk memakan hanya sedikit gigitan makanan dalam satu waktu. Gunakan sendok teh atau spuit jika perlu. Ganti cairan derigan makanan padat, jika klien dapat menoleransi cairan. Letakkan makanan di dekat gigi molar belakang klien. Letakkan makanan pada sisi yang tidak sakit jika klien mengalami hemiplegia. Instruksikan klien untuk mengatupkan bibirnya, bantu klien bila perlu.

Periksa untuk melihat jika klien "mendiamkan" makanan di pipi. Periksa adanya sisa makanan di dalam mulut pada akhir waktu makan. Jika tersedak, tempelkan dagu klien pada dinding dada dan fleksikan tubuhnya pada bagian pinggang. Isap makanan dengan alat pengisap dari mulut klien. Tinggalkan klien pada posisi duduk tegak selama 30 menit setelah makan.

Manifestasi Klinis Gejala-gejala refluks esofagus mungkin tidak ada atau bervariasi. Keluhan biasanya termasuk rasa terbakar pada jantung, regurgitasi,"lambung yang asam", disfagia, dan odinofagia (nyeri pada saat menelan). Rasa terbakar pada jantung dimanifestasikan dengan adanya rasa terbakar retrosternal, biasanya setelah makan, yang terjadi ketika membungkuk atau berbaring telentang. Sebagian besar hernia hiatal tidak menimhulkan gejala. Jika gejala terjadi, lansia dapat mengalami beberapa derajat rasa terbakar pada dada, flatulensi, bersendawa, disfagia, atau rasa tidak nyaman pada epigastrium setelah memakan jenis-jenis makanan tertenru. Gejala-gejala hernia hiatal biasanya berhubungan dengan refluks esofagus, yang terjadi akibat regurgitasi getah lambung masuk ke dalam esofagus bawah, yang menyebabkan iritasi mukosa esofagus. Jika refluks esofagitis berat terjadi, ulserasi peptikum dan striktur dapat terjadi. Refluks gastroesofagus lebih cenderung terjadi pada tipe I, atau sliding hernia. Nyeri yang dihasilkan dart refluks esofagus harus dibedakan dart nyeri angina. Nyeri refluks biasanya dihubungkan dengan makan atau berbaring telentang, dan tidak dihubungkan dengan perubahan tanda-tanda vital. 2 Pencegahan Sekunder Ketika mengkaji. riwayat penyakit, perawat harus menanyakan tentang adanya rasa terbakar pada jantung, disfagia, berserdawa, "lambung yang asam", atau regurgitasi. Perawat harus menentukan jenis makanan apakah yang berhubungan dengan awitan terjadinya gejala dan apakah aktivitas-aktivitas tertentu (misalnya berjongkok, membungkuk, atau berbaring telentang) yang mengurangi atau memperberat gejala. Penatalaksanaan Keperawatan Asuhan keperawatan pada lansia dengan refluks esofagus atau hernia hiatal melibarkan pengkajian yang berkelanjutan, pengaaran pasien, dan pemantauan respons terhadap terapi. Karena modif kasi perilaku gaga hidup dapat membantu mengurangi gejalagejala, klien harus diinstruksikan tentang tindakan-tindakan yang dapat menurunkan tekanan intraabdomen dan membantu digesti, juga tentang obat-obatan yang diresepkan dan efek sampingnya. Klien harus dianjurkan untuk menghilangkan zat-zat yang dapat menimbulkan gejala dart dietnya (Tabel 18-6 dan 18-7).

TABEL 18-6 PETUNJUK PENGAJARAN: HERNIA HIATAL


Instruksikan klien atau anggota keluarga tentang hal-hal berikut ini: Hindari penggunaan korset yang ketat, peregangan atau mengangkat. (Hal ini dapat meningkatkan tekanan intraabdomen dan, kemudian menimbulkan refluks esofagus.) Tinggikan bagian kepala tempat tidur 10-15 cm (untuk klien yang berada di tempat tidur). Hindari makan atau minum 2-3 jam sebelum tidur. Kurangi berat badan, jika obesitas. Makan dengan porsi kecil dan sering. Makan secara perlahan dan kunyah makanan dengan balk. Duduk tegak selama dan 1 jam setelah makan atau berjalan perlahan untuk meningkatkan pengosongan gaster. Gunakan antasid sesuai anjuran. Hindari makanan-makanan (khususnya yang tinggi lemak, minuman-minuman kopi, coklat, mint, atau alkohol) yang dapat memicu refluks esofagus.

TABEL18-7 AGENS YANG DAPAT MENGURANGI TEKANAN LES


Nikotin Meperidin (Demerol) Obat-obat antikolinergik Estrogen Obat-obat penyekat Progesteron -adrenergik Teofilin Penyekat saluran kalsium Diazepam (Valium) Sumber: Diambil dart Beare, PG, dan Myers, JL: Adult Health Nursing, 3rd ed. Mosby, St. Louis. 1998, p 1484.

Gangguan-Gangguan pada Usus Halus PENYAKIT MALABSORPSI Gangguan yang paling sering terjadi pada usus halus yang berkaitan dengan klien lansia adalah malabsorpsi, yaitu gangguan asimilasi nutrien dart usus halus. Penurunan sekresi asam lambung dan penggunaan antasid dalam waktu lama mendorong ke arah pertumbuhan bakteri secara berlebihan, sering menyebabkan malabsorpsi pada lansia. Malabsorpsi dapat juga dihubungkan dengan operasi usus sebelumnya atau obat-obatan, seperti anrikolinergik, dan narkotik yang memperlambat motilitas usus, yang kemudian meningkatkan pertumbuhan bakteri. Ketika mekanisme imun usus mengalami gangguan, seperti karena infeksi usus kronis akibat Giardia lamblia, diare berat dan akibat malabsorpsi. Pankreatitis kronis mungkin dapat menyebabkan keadaan malabsorpsi karena aliran getah panKreas berkurang, sehingga hanya sebagian makanan yang diingesti yang dapat diabsorpsi. Penyakit celiac pada orang dewasa atau gluten enteropathy juga dapat menyebabkan malabsorpsi karena gluten dalam diet dapat mensbehabkan pengecilan vili usus halus dan mengurangi area permukaan yang tersedia untuk absorpsi nutrien. Malabsorpsi pada pasien lansia dapat juga terjadi akibat iskemia mesenterika. Bila aliran darah ke usus terganggu, efisiensi usus mengalami penurunan, oleh karena itu menyebabkan malabsorpsi. Kontaminasi usus halus oleh bakteri abdomen (sindrom blind loop/ lengkung buta) juga dapat menyebabkan malabsorpsi. Bakteri bersaing dengan vitamin B12 dan juga menyerang garam empedu, mengganggu fungsi deterjen

mereka dalam absorpsi lemak. Kondisi malabsorpsi ini lebih sering dihubungkan dengan divertikulosis usus halus, stasis akibat usus yang konstriksi, dan stasis setelah gastrektomi parsial. Manifestasi Klinis Malabsorpsi bukan akibat yang normal dari penuaan, walaupun masalah malabsorpsi dapat muncul pada lansia, sering dengan manifestasi lain yang menyertainya. Tanda dan gejala malabsorpsi sering terlihat dalam hubungannya dengan gangguan inflamasi usus. Diare, nyeri abdomen, dan perdarahan rektum adalah gejalagejala yang paling jelas. Orang-orang yang mengalami penyakit celiac dapat mengalami osteomalasia yang terjadi akibat gangguan absorpsi vitamin D dan kehilangan kalsium secara tidak normal dalam feses. Lansia sering tampak kurus dan semakin kurus akibat sakit, dengan membran mukosa yang pucat dan kulit yang kering dan bersisik. Tekanan darah mungkin rendah dan demam dapat terjadi Jika terdapat pertumbuhan bakteri yang berlebihan dalam usus. 1 Pencegahan Primer Pencegahan primer terhadap malabsorpsi bertujuan untuk memodifikasi atau menghilangkan faktor-faktor yang turut berperan. Pasien harus diperingatkan tentang penggunaan antasida berlebihan yang menyebabkan pertumbuhan bakteri secara berlebihan yang dapat berbahaya bagi pasien, yang membawa ke arah kondisi malabsorpsi. Pemantauan secara seksama dan terus-menerus pada klien yang menggunakan berbagai macam obat yang diresepkan sangat penting untuk mencegah penurunan motilitas usus yang disebabkan oleh obatobatan. Pasien lansia harus diajarkan untuk membaca label dan mewaspadai makananmakanan yang menimbulkan tanda-tanda intoleransi, seperti susu dan produk-produk yang mengandung susu. Produk-produk susu yang difermentasikan, seperti yogurt, sering dapat ditoleransi lebih baik daripada produk-produk yang mengandung susu. Intoleransi laktosa mungkin dapat dikurangi dengan susu yang laktosanya telah dihidrolisis atau produk enzim yang dijual bebas, seperti Lact-aid. Klien dapat mempunyai masalah malabsorpsi akibat isolasi atau situasi kehidupan yang penuh stres. Evaluasi dan modifikasi stresor pada situasi lansia harus ditujukan dengan cara memberikan makanan-makanan yang mudah dicerna dalam suatu lingkungan yang nyaman. Kontak sosial dan dukungan adalah faktor penting yang meningkatkan kebiasaan makan yang sehat untuk banyak lansia. 2 Pencegahan Sekunder Pasien harus ditanyai tentang pola eliminasi dan asupan diet yang normalnya. Jika diare sering terjadi, karekter, konsistensi, warna, dan bau feses hares dicatat. Pengkajian klien meliputi pengawasan terhadap tanda dan gejala dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit dengan memeriksa berat badan klien setiap hari, karakter membran mukosa, dan hipotensi postural.

Riwayat diet memberikan suatu dasar untuk membuat modifikasi yang diperlukan. Klien dapat diajarkan untuk memodifikasi diet dengan cara menghilangkan gluten dan laktose. Karena pembatasan diet yang ketat sering merupakan sesuatu yang sangat sulit bagi lansia, dukungan yang terus-rnenerus mungkin diperlukan untuk memastikan kepatuhan klien dan untuk menghindari masalah-masalah malabsorpsi lebih lanjut. Ketika kondisi pasien telah semakin membaik, sejumlah kecil gluten atau laktosa mungkin dapat ditoleransi oleh klien. Konsultasi secara periodik dapat membantu menjamin dukungan nutrisi yang adekuat. Klien dapat hanya menunjukkan tanda-tanda penyakit malabsorpsi yang samar-samar. Mungkin hanya anemia, diare, dan penurunan berat badan yang menjadi tanda bahwa malabsorpsi sedang terjadi. Perawat mungkin mampu mendeteksi tanda-tanda ini, yang tidak tampak penting bagi klien. Edukasi pasien secara berkelanjutan diperlukan untuk memberikan penguatan tentang pentingnya gejala-gejala penyerta ini. Penyakit-Penyakit pada Usus Besar Gangguan yang sering terjadi pada usus besar yang mempengaruhi lansia adalah divertikulosis, kanker, konstipasi, dan diare. PENYAKIT DIVERTIKULAR Penyakit divertikular sering terjadi pada lansia. Pada usia 80 tahun, sedikitnya 40% orang-orang terkena penyakit ini. Kultur barat dan diet yang secara khas rendah serat mungkin menyebabkan insisdensi divertikulosis yang tinggi. Divertikulum kolonik adalah suatu kantong di luar atau herniasi melalui mukosa kolon. Biasanya terdapat penebalan dinding kolon yang jelas. Kolon sigmoid paling sering terpengaruh dan mungkin merupakan satu-satunya bagian usus yang terkena pada 50 sampai 65% pasien. Sebagian besar orang dengan divertikulosis adalah tanpa gejala; namun, sebagian orang dapat mengalami konstipasi, kembung, dan rasa tidak nyaman serta distensi abdomen. Komplikasi dari diverrikulosis timbul ketika terdapat inflamasi akut (divertikulitis), ruptur dari satu atau lebih divertikula, perdarahan, atau obstruksi. Divertikulitis terjadi ketika ada mikroperforasi dan kebocoran isi usus ke dalam jaringanjaringan di sekitarnya, yang menyebabkan inflamasi. Pasien dapat mengalami nyeri, nyeri tekan abdomen, demam, dan sering terdapat massa yang dapat diraba. Perdarahan gastrointestinal bagian bawah terjadi sampai 15% dari pasien dengan penyakit divertikular. Perdarahan sering terjadi tanpa nyeri abdomen yang signifikan. Gangguan motilitas usus dianggap merupakan predisposisi pembentukan divertikula pada lansia. Terjadinya ruptur divertikulum dapat mengancam jiwa, yang akhirnya perlu pembedahan besar dan Bering kali suatu kolostomi sementara. Obstruksi usus dan penyakit divertikular adalah penyebab kematian terbanyak yang berhubungan dengan gastrointestinal pada lansia.

7 Pencegahan Primer Klien lansia harus dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah samar di dalam feses setiap tahunnya. Diet yang seimbang dengan asupan serat yang adekuat sangat dianjurkan. Pasien yang mengalami perubahan kebiasaan buang air besar secara tibatiba atau adanya perdaranan gastrointestinal harus segera mendapatkan perhatian medis. Gaya hidup yang aktif harus dianjurkan karena latihan dan kontak sosial yang berarti dapat meningkatkan pola makan dan eliminasi yang sehat. 2 Pencegahan Sekunder Pengajuan pertanyaan yang seksama tentang kebiasaan buang air besar, khususnya perubahan dalam konstipasi dan diare, adalah bagian yang penting dalam pengkajian. Diare atau konstipasi yang terjadi secara bergantian yang berkembang menjadi mual dan muntah merupakan tanda adanya ruptur atau suatu obstruksi divertikultim. Status nutrisi pasien, kebiasaan makan, dan pengetahuan umum tentang proses penyakit harus dikaji. Asuhan keperawatan terhadap lansia dengan penyakit divertikular termasuk penatalaksanaan nyeri dan manipulasi diet. Upaya-upaya untuk menangani nyeri harus menghindari penggunaan opiat, yang dapat meningkatkan tekanan intralumen sigmoid. Lihat Bab 22 untuk membahas masalah ini lebih lanjut. Manipulasi diet adalah kebutuhan terus-menerus yang secara aktif melibatkan klien dan pemberi perawatan. Oleh karena itu, edukasi dimulai selama fase akut proses penyakit untuk mengajarkan klien tentang pentingnya serat dalam diet, menghindari makanan yang pedas, dan mengendalikan konstipasi tanpa menggunakan laksatif secara berlebihan. OBSTRUKSI USUS Obstruksi usus adalah penghentian sebagian atau keseluruhan dari majunya aliran isi usus, biasanya terjadi sebagai akibat dari penutupan lumen usus yang aktual. Obstruksi dapat disebabkan oleh adhesi mekanis (dari pembedahan sebelumnya), volvulus, intusepsi, tumor, atau ileus neurogenik atau paralitik, atau penyakit usus iskemik. Kanker kolon mungkin merupakan penyebab obstruksi yang paling sering pada lansia. Usus secara normal mensekresikan dan mereabsorpsi kira-kira 7 sampai 8 liter cairan yang kaya elektrolit setiap harinya. Ketika suatu obstruksi terjadi, sejumlah besar cairan, bakteri yang berfermentasi, dan udara yang tertelan berkumpul pada bagian proksimal dari obstruksi tersebut. Pasien mengalami mual, muntah, dan distensi. Pertukaran cairan sering terjadi dan permeabilitas kapiler menurun, yang menyebabkan kebocoran isi usus yang masuk ke dalam rongga peritoneal. Pada awalnya, pasien dengan obstruksi usus akan memiliki tanda dan gejala yang berhubungan dengan upaya tubuh untuk mengatasi obstruksi tersebut. Peristaltik akan berusaha untuk meningkatkan kecepatan untuk mencoba melewatkan isi usus melalui sistem tersebut. Pasien akan mengalami bising usus dengan kecepatan tinggi dan nyeri kram. Seiring dengan perkembangan obstruksi, bising usus menjadi hipoaktif, distensi

abdomen meningkat, dan muntah, sering menyemprot, jika slang nasogastrik tidak digunakan. Pasien akan tetap memiliki pergerakan usus bahkan dengan adanya obstruksi karena kolon distal akan terus mengosongkan isinya. Lansia, yang mungkin mengalami dehidrasi ringan sebelum episode akut, akan dengan cepat mengalami penurunan volume cairan. Tanda-tanda sepsis dapat terjadi akibat kebocoran usus ke dalam rongga abdomen. 1 Pencegahan Primer Pencegahan obstruksi usus pada klien lansia dapat dicapai dengan memberikan pendidikan kepada mereka tentang tanda-tanda peringatan kanker kolon. Hal ini melibatkan kebutuhan untuk melaporkan perubahanperubahan kebiasaan buang air besar kepada pemberi perawatan primer. Pemeriksaan darah samar pada feses secara periodik, bersama-sama dengan pendidikan tentang faktor risiko yang lain, seperti riwayat keluarga dan kebiasaan diet yang buruk, juga sangat penting. 2 Pencegahan Sekunder Pengkajian keperawatan termasuk pengkajian riwayat nyeri pasien secara seksama. Pengkajian abdomen harus meliputi auskultasi bising usus dan palpasi. Pengkajian tekanan darah posisi telentang dapat menunjukkan defisit volume cairan. Data laboratorium dapat menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan peningkatan hemoglobin dan hematokrit yang disebabkan oleh hemokonsentrasi dan defisit volume cairan. Pasien dapat mengalami demam atau temperatur di bawah normal jika terjadi sepsis akut. Penatalaksanaan keperawatan akan memfokuskan pada penggantian cairan dan elektrolit yang hilang melalui muntah atau drainase nasogastrik secara seksama. Cairan harus diganti secara perlahan-lahan untuk mencegah komplikasi gagal jantung kongestif. Lihat Bab 14 untuk pembahasan masalah ini. Mien biasanya dipertahankan untuk istirahat di tempat tidur selama fase akut. Perawatan harus tetstruktur untuk menghindari komplikasi yang berhubungan dengan imobilitas (lihat Bab 20). Penatalaksanaan nyeri yang bijaksana sangat penting untuk memberikan penurun rasa nyeri sementara m~nghindari masalah lebih lanjut akibat konfusi dan disorientasi. Selain itu, jika obstruksi tidak dapat dihilangkan dalam waktu 48 jam, penambahan nutrisi harus dilakukan. KONSTIPASI Peristaltik mengandalkan suatu sistem yang kompleks dari integrasi antara sistem saraf simpatis, parasimpatis, saraf gasser, dan efek neuron lokal dan sistem saraf pusat. Makanan-makanan tertentu, aktivitas, pengobatan, dan emosi semuanya memengaruhi peristaltik. Konstipasi adalah masalah umum yang disebabkan oleh penurunan motilitas, kurang aktivitas, dan penurunan kekuatan dan tonus otot. Defisiensi diet dalam asupan cairan dan serat juga dapat menimbulkan konstipasi. Banyak Iansia mengalami konstipasi sebagai akibat dari penumpulan sensasi saraf, tidak sempurnanya

pengosongan usus, atau kegagalan dalam menanggapi sinyal untuk defekasi. Konstipasi adalah suatu penurunan frekuensi pergerakan usus yang disertai dengan perpanjangan waktu dan kesulitan pergerakan feses. Konstipasi dapat dikategorikan lebih lanjut sebagai konstipasi yang diimajinasikan, konstipasi kolonik, atau konstipasi rektal. 1 Pencegahan Primer Pencegahan konstipasi pada lansia dimulai dengan memodifikasi kepercayaan tentang eliminasi. Pemberian edukasi tentang kandungan cairan, selulosa, dan serat dalam diet dan menetapkan latihan rutin yang sesuai akan membantu dalam eliminasi yang sehat. Diet yang berserat sangat membantu dalam mencegah konstipasi karena serat menahan cairan, membuat feses menjadi lebih berbentuk, lunak, dan mudah untuk dikeluarkan. Karena lansia mengalami perlambatan motilitas gastrointestinal, tambahan diet berserat akan menurunkan waktu yang diperlukan bagi suatu zat untuk bergerak melalui usus. Jumlah asupan diet serat setiap hari yang dianjurkan adalah dari 20 sampai 35 gram.' Suatu campuran gandum, saus apel, dan jus kismis telah ditemukan merupakan metode yang efektif dalam meningkatkan eliminasi usus yang normal. Lihat "Ringkasan Hasil Penelitian 2." Kegiatan pengajaran termasuk memberikan informasi tentang pemberian obatobatan katartik, laksatif, dan purgatif. Purgatif tidak digunakan karena dapat menyebabkan hal-hal seperti feses enter dan kram yang -.berbahaya. Katartik dapat mengakibatkan feses lunak, tetapi juga dihubungkan dengan beberapa kram abdomen. Laksatif juga bekerja pada usus besar dan diklasifikasikan sebagai pemberi bentuk, osmotik, surfaktan (zat yang membasahi), kontak (stimulan, iritan), lubrikan, atau supositoria dan enema. Suatu regimen untuk usus terdiri dari supositoria sesuai kebutuhan jika dipilih untuk dosis harian dari Susu Magnesium atau Metamucil. Cairan, terutama air bening, adalah pelembut feses yang alami. Anjurkan klien untuk minum beberapa gelas air putih setiap harinya. Kopi, teh, dan jus bekerja sebagai diuretik, menarik air dari usus, sehingga menghasilkan feses yang keras. Walaupun kopi dan teh, terutama sebagai rutinitas pagi hari, dapat menstimulasi kerja usus harian, asupannya harus minimal. Latihan fisik adalah suatu faktor yang penting dalam menghindari konstipasi. Untuk klien yang mengalami imobilitas yang telah mengalami perlambatan motilitas usus, bahkan ketika berganti posisi di tempat tidur atau memindahkan berat seseorang di kursi dapat memiliki efek yang positif terhadap peristaltik. Suatu program untuk meningkatkan aktivitas yang dimulai dengan latihan rentang gerak pasif adalah suatu komponen esensial dalam mencegah konstipasi.

RINGKASAN HASIL PENELITIAN 2


Gibson, CJ, et al: Effectiveness of bran supplement on the bowel management of elderly rehabilitation patients. J Gerontol Nurs 21:21, 1995. Suatu rancangan penelitian kuasi eksperimen dengan kelompok kontrol yang tidak ekuivalen telah digunakan untuk memeriksa keefektifan formula gandum pada penggunaan laksatif di antara klien lansia pada suatu unit rehabilitasi geriatri pada suatu pusat pengobatan yang besar. Formula gandum tersebut terdiri dari Kellog's All-Bran, saes apel, dan jus kismis. Hasilnya menunjukkan bahwa klien yang menerima formula gandum mengalami penurunan yang signifikan dalam menggunakan laksatif secara keseluruhan jika dibandingkan dengan nilai dasar kelompok kontrol. Sebagian besar subjek dalam studi ini menemukan bahwa formula tersebut rasanya enak dan mudah ditelan.

2 Pencegahan Sekunder Perawat yang mengkaji konstipasi pada lansia harus: Menentukan jenis konstipasi melalui suatu riwayat buang air besar. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menempatkan pasien pada risiko tinggi untuk mengalami konstipasi. Mengisolasi dan memodifikasi elemen-elemen yang turut berperan terhadap masalah konstipasi. Penatalaksanaan keperawatan untuk lansia dengan konstipasi yang dibayangkan atau dipersepsikan harus memfokuskan pada pendidikan tentang defekasi yang normal. Perawat dapat membantu klien untuk memeriksa sumber dari sikap dan kepercayaannya tentang eliminasi. Klien dianjurkan untuk menetapkan tujuan dari eliminasi setiap hari dan untuk menyimpan kalender atau catatan harian sebagai pengingat selama fase awal perubahan perilaku. Jika terdapat penyalahgunaan laksatif jangka panjang, konstipasi kolonik dapat terjadi ketika obat-obat ini dihentikan. Oleh karena itu, klien akan perlu diajarkan tentang tindakan-tindakan preventif, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Tindakan-tindakan tambahan untuk lansia yang mengalami konstipasi kolonik termasuk menetapkan rutinitas defekasi dengan privasi yang adekuat. Waktu yang paling sering untuk buang air besar adalah I jam setelah sarapan pagi. Jika riwayat defekasi klien menunjukkan adanya pola eliminasi pada malam hari, 1 jam setelah makan malam mungkin lebih produktif. Memberikan cairan hangat dengan makanan dan membantu klien pada posisi duduk regak yang nyaman akan membantu pergerakan feses. Konstipasi rektal memerlukan semua intervensi yang telah disebutkan sebelumnya. Selain itu, lansia dengan konstipasi rektal mungkin memerlukan latihan otot-otot pelvis kembali. Latihan-latihan penting untuk menyelesaikan latihan kembali seperti yang telah digambarkan dalam Bab 17. DIARE Diare adalah defekasi yang meningkat dalam frekuensi, lebih cair, dan sulit untuk dikendalikan. Infeksi bakteri dan virus, impaksi fekal, pemberian makanan melalui slang, dan diet yang berlebihan (terutama pisang) dapat menyebabkan diare akut pada lansia. Diare dapat mengganggu gaya hidup normal. Untuk lansia yang aktif secara

fisik, diare dapat membatasi interaksi sosialnya. Ketika klien harus berada di tempat tidur atau kurang moilisasi, diare dapat menimbulkan masalah serius, seperti infeksi saluran kemih atau ulkus dekubitus. Diare kronis dapat disebabkan oleh malabsorpsi, penyakit divertikular, gangguan inflamasi usus, atau obat-obatan, terutama antasid, antibiotik, antidisritmia, dan antihipertensi. Penyakit sistemik seperti tirotoksikosis, penyakit hati, neuropati diabetik, dan uremia dapat menyebabkan diare. Penyakit iskemi di antara lansia, terutama mereka dengan masalah jantung, dapat mengarah pada kolitis iskemik dengan diare. Prosedur pembedahan, seperti gastrektomi dan gangguan psikogenik juga dapat menyebabkan diare. 1 Pencegahan Primer Pencegahan diare pada lansia bertujuan untuk memberikan pendidikan pada klien tentang penyebab diare dan mempertahankan diet yang seimbang. Karena diare mungkin merupakan akibat dari gangguan yang lebih serius seperti obstruksi usus atau keganasan, semua lansia harus dianjurkan untuk mencari bantuan medis jika diare tetap terjadi. 2 Pencegahan Sekunder Lansia dengan awitan diare akut biasanya mengalami penurunan volume dan dapat mengalami dernam, takikardia, dan hipotensi postural, turgor kulit buruk. Peningkatan hemoglobin dan hematokrit, seperti juga perubahan kadar kalium dan natrium serum, dapat terjadi. Pada awalnya, perawat memeriksa pasien untuk mengetahui adanya impaksi fekal. Penghitungan banyaknya feses dan pengukuran asupan dan haluaran yang'akurat perlu dicatat. Pemberian makanan melalui ,slang yang terialu cepat atau yang memiliki osmolaritas terlalu tinggi dapat menyebabkan diare. Pengobatan pasien harus ditinjau ulang untuk mengobservasi obatobat dengan diare sebagai potensial efek sampingnya. Kaji adanya nyeri atau daerah nyeri tekan terlokalisasi pada abdomen. Fokus utama penatalaksanaan keperawatan adalah untuk mempertahankan nutrisi yang adekuat dan keseimbangan elektrolit serta untuk mencegah kerusakan kulit, sementara menemukan dan menghilat.gkan penyebab diare. Malnutrisi dapat menjadi penyebab dan akibat dari diare pada lansia. Formula asam amino bebas yang yang diberikan secara perlahan (20 sampai 30 ml/jam) melalui slang lambung mungkin diperlukan untuk mengatasi malnutrisi dan meningkatkan absorpsi. Selain itu, klien harus diberikan hidrasi secara adekuat sebelum program pemberian makanan jenis apa pun mulai dilakukan. Pencegahan kerusakan kulit selama episode-episode diare memerlukan pengawasan secara ketat. Kulit harus langsung dibersihkan dengan sabun ringan dan air hangat dan dikeringkan dengan baik setelah buang air besar. Krim pelembap protektif dapat memberikan perlindungan terhadap keasaman enzim digestif.

Aktivitas Belajar Mahasiswa 1. Kunjungi supermaket atau toko diskon setempat dan periksa sejumlah produk yang dijual bebas untuk konstipasi dan diare. Apa kandungan dasar dari produk-produk tersebut? Apa efek samping yang dimiliki obat ini terhadap lansia? Apa dampak penggunaan produk-produk ini pada lansia yang menggunakan pengobatan untuk masalah kesehatan umum yang lain? 2. Lakukan wawancara pada lansia yang tinggal di komunitas tentang pola dietnya untuk periode 1 minggu. Apakah asupan makanannya sesuai dengan yang direkomendasikan dalam bab ini? Rekomendasi apa yang yang dapat Anda berikan untuk memeperbaiki pola diet individu tersebut? 3. Bandingkan rekomendasi untuk produk-produk seperti Ensure atau Sustacal dengan iklan-iklan di media saat ini? Pesan apa yang terkandung dalam iklan-iklan tersebut? REFERENSI 1. Martin, WE: Oral health in the elderly. In Chernoff, R (ed): Geriatric Nutrition: The Health Professional's handbook. Aspen, Gaithersburg, Md, 1991, p 107. 2. Cashman, MD: The aging gut. In Chernoff, R (ed): Geriatric Nutrition: The Health Professional's Handbook. Aspen, Gaithersburg, Md, 1991, p 183. 3. Roe, DA: Nutritional needs of elderly . ,sues, guidelines, and responsibilities. Fam Community Health 12:59, 1989. 4. Nutrition Screening Initiative: American Academy of Family Physicians, American Dietetic Association, National Council on Aging, Washington, DC, 1991. 5. Russell, R: Vitamins B-12, A & Folate. Nutr Action Health Lett April:4, 1996. 6. Dawson-Hughes, B: Calcium and Vitamin D. Nutr Action Health Lett April:6, 1996. 7. Fishman, P: Healthy People 2000: What progress toward better nutrition? Geriatrics 51:38, 1996. 8. US Dept of Health and Human Services: Nutrition and Your Health: Dietary Guidelines for Americans, ed 4. US Government Printing Office no 1996-402-519, Washington, DC, 1996. 9. Determine Your Nutritional Health. National Screening 18. initiative. National Council on Aging, Washington, DC, 1991. 19. 10. Mitchell, CO, and Chernoff, R: Nutritional assessment of the elderly. In Chernoff, R (ed): Geriatric Nutrition: The Health Professional's Handbook. Aspen, Gaithersburg, Md, 1991, p 363. 20. 11. Lindseth, G: Nutrition preparation and the geriatric nurse. West J Nurs Res 16:692, 1994. 12. Yen, PK: Boosting intake when appetite is poor. Geriatr 21. Nurs 15:284, 1994. 13. Crim, M: Protein. Nutr Action Health Lett April:8, 22. 1996. 14. Yen, PK: Beyond the basic four. Geriatr Nurs 14:109, 1993. 23.

15. Hardy, DL: Dental hygiene initiatives in gerontology. Dent Hyg News 6:11, 1993. 24. 16. Castell, DO: Esophageal disorders in the elderly. Gastroenterol Clin North Am 19:235, 1990. 17. Maat, MT, and Tandy, L: Impaired swallowing. In 25. Maas, M, et al (eds): Nursing Diagnosis and Intervention for the Elderly. Addison-Wesley, Redwood City, Calif, 1991, p 106. 18. Hufler, DH: Helping your dysphagic patient eat. RN 50:36, 1987. 19. Kerr, RM: Disorders of the stomach and duodenum. In Hazzard, WR, et al (eds): Principles of Geriatric Medicine and Gerontology, ed 3. McGraw-Hill, New York, 1994, p 693. 20. Carnevali, DL, and Reiner, AC: The Cancer Experience: Nursing Diagnosis and Management. JB Lippincott, Philadelphia, 1991. 21. McShane, RE, and McLane, AM: Constipation: Impact of etiological factors. J Gerontol Nurs 16:31, 1990. 22. Yakabowich, M: Prescribe with care: The role of laxatives in the treatment of constipation. J Gerontol Nurs 16:6, 1990. 23. Beverley, L, and Travis, I: Constipation: Proposed natural laxative mixtures. J Gerontol Nurs 18:5, 1992. 24. Gibson, CJ, et al: Effectiveness of bran supplement on the bowel management of elderly rehabilitation patients. J Gerontol Nurs 21:21, 1995. 25. Bennett, RG: Diarrhea among residents of long-term care facilities. Infect Control Hosp Epidemiol 14:397, 1993.