Anda di halaman 1dari 15

RHINITIS ALERGI

A. Tujuan Pembelajaran Mengerti dan memahami penyakit rhinitis alergi Mengetahui bagaimana pengobatan rhinitis alergi khususnya pada ibu hamil

B. Dasar Teori 1. Definisi Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien-pasien yang memiliki atopi, yang sebelumnya sudah tersensitisasi atau terpapar dengan allergen (zat/materi yang menyebabkan timbulnya alergi) yang sama serta meliputi mekanisme pelepasan mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen yang serupa (Von Pirquet, 1986). Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala-gejala bersinbersin, keluarnya cairan dari hidung, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar dengan allergen yang mekanisme ini diperantarai oleh IgE (WHO ARIA, 2001). Menurut sifatnya Rhiniti Alergi dibagi mejadi: Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi ( Hassan, 1985). Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor ( Hassan, 1985). Berdasarkan rekomendasi dari WHO Intitiative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma), menurut sifart berlangsungnya rhinitis alergi dibagi menjadi: Intermiten, yaitu bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu. Persisten, yaitu bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan/atau lebih dari 4 minggu.

Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rhinitis alergi dibagi menjadi(WHO Initiative ARIA, 2000): Ringan, yaitu bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu. Sedang atau berat, yaitu bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut di atas Rhinitis berdasarkan penyebabkannya dibedakan menjadi : Rhinitis alergi Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan inflamasi mukosa saluran hidung yang disebabkan oleh alergi terhadap partikel, seperti: debu, asap, serbuk/tepung sari yang ada di udara. Meskipun bukan penyakit berbahaya yang mematikan, rinitis alergi harus dianggap penyakit yang serius karena karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Tak hanya aktivitas sehari-hari yang menjadi terganggu, biaya yang akan dikeluarkan untuk mengobatinya pun akan semakin mahal apabila penyakit ini tidak segera diatasi karena telah menjadi kronis. Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau musiman. Berdasarkan waktunya, Rhinitis Alergi dapat di golongkan menjadi: Rinitis alergi musiman (Hay Fever) Biasanya terjadi pada musim semi. Umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah, seperti benang sari dari tumbuhan yang menggunakan angin untuk penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap. Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial) Disebabkan bukan karena musim tertentu (serangan yang terjadi sepanjang masa (tahunan)) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyengat. Rhinitis Non Alergi Rhinitis non allergi disebabkan oleh infeksi saluran napas (rhinitis viral dan rhinitis bakterial, masuknya benda asing kedalam hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan massa, penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan anti hipertensif.

Tipe-tipe rhinitis non alergi adalah: Rhinitis Infeksiosa Rinitis infeksiosa biasanya disebabkan oleh infeksi pada saluran pernafasan bagian atas, baik oleh bakteri maupun virus. Rhinitis Non-Alergika Dengan Sindroma Eosinofilia Penyakit ini diduga berhubungan dengan kelainan metabolisme prostaglandin. Pada hasil pemeriksaan apus hidung penderitanya, ditemukan eosinofil sebanyak 10-20%. Gejalanya berupa hidung tersumbat, bersin, hidung meler, hidung terasa gatal dan penurunan fungsi indera penciuman (hiposmia). Rhinitis Okupasional Gejala-gejala rinitis hanya timbul di tempat penderita bekerja. Gejala-gejala rinitis biasanya terjadi akibat menghirup bahan-bahan iritan (misalnya debu kayu, bahan kimia). Penderita juga sering mengalami asma karena pekerjaan. Rhinitis Hormonal Beberapa penderita mengalami gejala rinitis pada saat terjadi gangguan keseimbangan hormon (misalnya selama kehamilan, hipotiroid, pubertas, pemakaian pil KB). Estrogen diduga menyebabkan peningkatan kadar asam hialuronat di selaput hidung. Gejala rinitis pada kehamilan biasanya mulai timbul pada bulan kedua, terus berlangsung selama kehamilan dan akan menghilang pada saat persalinan tiba. Gejala utamanya adalah hidung tersumbat dan hidung meler. Rhinitis Karena Obat-obatan (rinitis medikamentosa) Obat-obatan yang berhubungan dengan terjadinya rinitis yaitu ACE inhibitor, reserpin, guanetidin, fentolamin, metildopa, beta-bloker, klorpromazin, gabapentin, penisilamin, aspirin, obat anti peradangan non-steroid, kokain, estrogen eksogen, dan pil KB. Rhinitis Gustatorius Rhinitis gustatorius terjadi setelah mengkonsumsi makanan tertentu, terutama makanan yang panas dan pedas. Rhinitis Vasomotor Rhinitis vasomotor diyakini merupakan akibat dari terganggunya

keseimbangan sistem parasimpatis dan simpatis. Parasimpatis menjadi lebih dominan sehingga terjadi pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah di hidung. Gejala yang timbul berupa hidung tersumbat, bersin-bersin dan hidung
3

meler. Gejala biasanya dipicu oleh cuaca dingin, bau yang menyengat, stress, dan bahan iritan. 2. Etiologi Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran penting. Pada 20 30 % semua populasi dan pada 10 15 % anak semuanya atopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50 %. Peran lingkungan dalam dalam rinitis alergi yaitu alergen, yang terdapat di seluruh lingkungan, terpapar dan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki kecenderungan alergi. Penyebab rinitis alergi berbeda-beda bergantung pada apakah gejalanya musiman, perenial, ataupun sporadik/episodik. Beberapa pasien sensitif pada alergen multipel, dan mungkin mendapat rinitis alergi perenial dengan eksaserbasi musiman. Ketika alergi makanan dapat menyebabkan rinitis, khususnya pada anak-anak, hal tersebut ternyata jarang menyebabkan rinitis alergi karena tidak adanya gejala kulit dan gastrointestinal. Untuk rinitis alergi musiman, pencetusnya biasanya serbuksari (pollen) dan spora jamur. Sedangkan untuk rinitis alergi perenial pencetusnya bulu binatang, kecoa, tikus, tungau, kasur kapuk, selimut, karpet, sofa, tumpukan baju dan bukubuku. Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk bersama udara pernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk sari, dan lain-lain. 3. Prognosis Banyak gejala rinitis alergi dapat dengan mudah diobati. Pada beberapa kasus (khususnya pada anak-anak), orang mungkin memperoleh alergi seiring dengan sistem imun yang menjadi kurang sensitif pada alergen. Efek sistemik, termasuk lelah, mengantuk, dan lesu, dapat muncul dari respon peradangan. Gejalagejala ini sering menambah perburukan kualitas hidup. 4. Patofisiologi Rhinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu: 1. Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya. Munculnya
4

segera dalam 5-30 menit, setelah terpapar dengan alergen spesifik dan gejalanya terdiri dari bersin-bersin, rinore karena hambatan hidung dan atau

bronkospasme. Hal ini berhubungan dengan pelepasan amin vasoaktif seperti histamin. 2. Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam. Muncul dalam 2-8 jam setelah terpapar alergen tanpa pemaparan tambahan. Hal ini berhubungan dengan infiltrasi sel-sel peradangan, eosinofil, neutrofil, basofil, monosit dan CD4 + sel T pada tempat deposisi antigen yang menyebabkan pembengkakan, kongesti dan sekret kental.

Gambar 1. Mekanisme alergi

Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang berperan sebagai APC akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Kompleks antigen yang telah diproses dipresentasikan pada sel T helper (Th0). APC melepaskan sitokin seperti IL1 yang akan mengaktifkan Th0 ubtuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 menghasilkan berbagai sitokin seperti IL3, IL4, IL5 dan IL13. IL4 dan IL13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi IgE. IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan
5

mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar dengan alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk terutama histamin. Rinitis Alergi melibatkan membran mukosa hidung, mata, tuba eustachii, telinga tengah, sinus dan faring. Hidung selalu terlibat, dan organ-organ lain dipengaruhi secara individual. Peradangan dari mukosa membran ditandai dengan interaksi kompleks mediator inflamasi namun pada akhirnya dicetuskan oleh IgE yang diperantarai oleh respon protein ekstrinsik. Kecenderungan munculnya alergi, atau diperantarai IgE, reaksi-reaksi pada alergen ekstrinsik (protein yang mampu menimbulkan reaksi alergi) memiliki komponen genetik. Pada individu yang rentan, terpapar pada protein asing tertentu mengarah pada sensitisasi alergi, yang ditandai dengan pembentukan IgE spesifik untuk melawan protein-protein tersebut. IgE khusus ini menyelubungi permukaan sel mast, yang muncul pada mukosa hidung. Ketika protein spesifik (misal biji serbuksari khusus) terhirup ke dalam hidung, protein dapat berikatan dengan IgE pada sel mast, yang menyebabkan pelepasan segera dan lambat dari sejumlah mediator. Mediator-mediator yang dilepaskan segera termasuk histamin, triptase, kimase, kinin dan heparin. Sel mast dengan cepat mensitesis mediator-mediator lain, termasuk leukotrien dan prostaglandin D2. Mediator-mediator ini, melalui interaksi beragam, pada akhirnya menimbulkan gejala rinore (termasuk hidung tersumbat, bersin-bersin, gatal, kemerahan, menangis, pembengkakan, tekanan telinga dan post nasal drip). Kelenjar mukosa dirangsang, menyebabkan peningkatan sekresi. Permeabilitas vaskuler meningkat, menimbulkan eksudasi plasma. Terjadi vasodilatasi yang menyebabkan kongesti dan tekanan. Persarafan sensoris terangsang yang menyebabkan bersin dan gatal. Semua hal tersebut dapat muncul dalam hitungan menit; karenanya reaksi ini dikenal dengan fase reaksi awal atau segera. Setelah 4-8 jam, mediator-mediator ini, melalui kompetisi interaksi kompleks, menyebabkan pengambilan sel-sel peradangan lain ke mukosa, seperti neutrofil, eosinofil, limfosit dan makrofag. Hasil pada peradangan lanjut, disebut respon fase lambat. Gejala-gejala pada respon fase lambat mirip dengan gejala pada respon fase awal, namun bersin dan gatal berkurang, rasa tersumbat bertambah dan

produksi mukus mulai muncul. Respon fase lambat ini dapat bertahan selama beberapa jam sampai beberapa hari. Sebagai ringkasan, pada rinitis alergi, antigen merangsang epitel respirasi hidung yang sensitif, dan merangsang produksi antibodi yaitu IgE. Sintesis IgE terjadi dalam jaringan limfoid dan dihasilkan oleh sel plasma. Interaksi antibodi IgE dan antigen ini terjadi pada sel mast dan menyebabkan pelepasan mediator farmakologi yang menimbulkan dilatasi vaskular, sekresi kelenjar dan kontraksi otot polos. Efek sistemik, termasuk lelah, mengantuk, dan lesu, dapat muncul dari respon peradangan. Gejala-gejala ini sering menambah perburukan kualitas hidup. Berdasarkan cara masuknya, allergen dibagi atas : 2. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel, bulu binatang. 3. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan misalnya susu, telur, coklat, ikan, udang. 4. Alergen injektan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa. 5. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik, perhiasan. 6. Penyakit Preeklamsia Penyakit preeklamsia (keracunan pada kehamilan) bisa menyebabkan kematian. Preeklamsia umumnya terjadi pada wanita hamil yang berusia sekitar 20 tahun atau diatas 35 tahun. Preeklamsia juga bisa terjadi pada wanita hamil pertama kali. Preeklamsia adalah salah satu penyakit yang seing dijumpai pada ibu hamil dan masih merupakan salah satu penyebab kematian besar didunia. Di Amerika serikat, 1/3 dari kematian ibu disebabkan ole preeklamsia. Begitu pula di Indonesia. Preeklamsia adalah keracunan pada kehamilan. Ini biasanya terjadi pada trimester ketiga kehamilan atau bisa juga muncul pada trimester kedua. Preeklamsia mungkin terjadi pada setiap ibu hamil. Beberapa kondisi yang kemungkinan mengalami preeklamsia adalah yaitu, kehamilan pertama, kehamilan bayi kembar, ibu hamil pengidap diabetes, ibu hamil memiliki riwayat hipertensi, memiliki masalah dengan ginjal, dan juga wanita hamil yang pertama pada usia 20 tahun atau diatas 35 tahun. Resiko preeklamsia juga meningkat pada kehamilan si ibu yang memang sudah pernah mengalami preeklamsia sebelumnya. Jika hal ini tidak segera ditangani
7

dengan tepat dan cepat, preeklamsia akan segera berubah menjadi eklamsia, yaitu infeksi dan pendarahan. Dan ini bisa berakibat fatal. a. Faktor Penyebab dan Gejala Hampir semua wanita hamil bisa mengidap preeklamsia. Namun faktor resiko terbesar adalah ibu yang baru pertama hamil pada usia 20 tahun. Preeklamsia juga bisa terjadi pada wanita yang menjalani masa kehamilan pada usia 30-35 tahun dan wanita yang menderita obesitas. Selain itu, preeklamsia juga bisa terjadi pada kondisi kehamilan kembar dan kehamilan jarak jauh. Preeklamsia juga sering dikaitkan dengan faktor genetik seseorang. Ada banyak gejala yang muncul. Terkadang gejala-gejala ini kerap sekali dianggap wajar. Salah satunya adalah sakit kepala karena hipertensi, terutama jika kehamilan telah mencapai usia lebih dari 20 minggu. b. Diagnosa dan Pengobatan Diagnosa ditegakkan berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan darah, jumlah urin dan pemeriksaan ginjal. Bila si ibu hanya mengalami preeklamsia ringan, kondisi ini tidak memerlukan obat tapi hanya pemeriksaan rutin kehamilan. Pemberian obat atau suplemen tidak menjamin mencegah si ibu dari preeklamsia, tetapi membantu mengontrol kondisi ibu. Tapi jika preeklamsia yang lebih serus, si ibu disarankan beristirahat total ditempat tidur atau mungkin dianjurkan menjalankan perawatan di rumah sakit karena kondisi umumnya harus dipantau terus guna melihat tekanan darah dan perkembangan bayi. Pengobatan yang dilakukan tergantung pada umur kehamilan dan beberapa dekatnya dengan perkiraan kelahiran. Bila preeklamsia terjadi pada minggu-minggu akhir kehamilan, dokter akan mengambil tindakan untuk segera mengeluarkan bayi. Tetapi jika preeklamsia terjadi awal kehamilan, dokter akan berusaha memperpanjang kehamilan saat bayi dianggap telah cukup kuat untuk lahir. Karena penyebab pasti preeklamsia belum diketahui, pencegahan dini yang dapat dilakukan adalah memastikan pemeriksaan rutin setiap bulan agar perkembangan berat badan serta tekanan darah ibu dapat terpantau dengan baik. Oleh karena itu disarankan kepda ibu hamil untuk memeriksakan dirinya kedokter secara rutin guna menangani penyakit ini sejak dini.

Tentu pola makan ibu juga harus diperhatikan, mengingat obesitas juga menjadi penyebab preeklamsia. Sebaiknya ibu menjalani pola makan yang sehat dan menu seimbang. Idealnya pola makan sudah diterapkan sejak sebelum hamil atau ketika merencanakan kehamilan. C. Deskripsi Kasus Ny. MM (28th), BB: 56 kg, TB: 150 cm sedang hamil 7 bulan anak pertamanya. Sejak dua minggu yang lalu, ia mengalami bersin-bersin kemudian pilek dan hidung tersumbat. Gejala ini cukup mengganggu kesehariannya. Terutama menjelang pagi dan malam, atau terkena udara dingin. Tidak ada riwayat alergi sebelumnya, juga tidak ada riwayat alergi keluarga. Ny. MM pernah dirawat di RS sebulan yang lalu karena gejala preeklamsia. Ny. MM baru saja pindah rumah dari Jakarta ke Pekanbaru di daerah Panam. D. Analisis/Pembahasan Problem : 1. Ibu hamil 7 bulan, berat badan 56 kg dan tinggi badan 150 2. Mengalami bersin-bersin kemudian pilek dan hidung tersumbat 3. Sebelumnya pernah dirawat karena gejala preeklamsia 4. Pindah rumah dari Jakarta ke Pekanbaru daerah Panam Action : Dari kasus yang didapatkan, diduga ibu MM mengalami alergi diakibatkan tubuhnya belum bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Perpindahannya dari Kota Jakarta menuju Pekanbaru khususnya daerah panam salah satu menjadi faktor alerginya timbul. Sehinga timbul gejala bersin-bersin kemudian pilek dan hidung tersumbat. Rhinitis alergi adalah inflamasi pada membran mukosa nasal yang disebabkan oleh penghirupan senyawa alergenik yang kemudian memicu respon imunologi spesisfik. Terapi yang diberikan adalah antihistamin, dekongestan, kortikosteroid nasal, sodium kromolin, ipratropium bromida, imunoterapi. Untuk bermacam-macam penyebab rhinitis seperti allergic, vasomotor, disebabkan oleh obat, dan bacterial sinusitis, yang terjadi pada sekitar 20% wanita hamil. Rhinitis vasomotor pada wanita hamil adalah suatu kondisi yang unik karena terjadinya peningkatan aliran darah pada nasal turbinates. Kondisi ini mencapai puncaknya pada konsis trisemester kedua dan umumnya terjadi lagi dengan waktu yang singkat setelah melahirkan. Seperti asma, terapi pilihan utama dari rinitis adalah menghindari terjadinya eksaserbasi, alergen, asap rokok atau bau yang tajam. Terapi dengan irigasi saline nasal pada hidung dapat menolong.

Pada pasien wanita hamil pengobatan rhinitis yang sejauh ini paling aman adalah kromolin secara intaranasal. Antihistamin klorfeniramin juga dapat dipilih karena terbukti cukup aman pada kehamilan (kategori B pada kehamilan). Antihistamin yang lebih baru yang termasuk kedalam kategori B dalam kehamilan adalah Loratadin dan setrizin. Sedangkan untuk keluhan preeklamsia atau biasa disebut dengan penyakit keracunan pada kehamilan langkah awal yang perlu kita lakukan adalah mendiagnosa penyakit. Diagnosa ditegakkan berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan.

Pemeriksaan meliputi pemeriksaan darah, jumlah urin dan pemeriksaan ginjal. Bila si ibu hanya mengalami preeklamsia ringan, kondisi ini tidak memerlukan obat tapi hanya pemeriksaan rutin kehamilan. Pemberian obat atau suplemen tidak menjamin mencegah si ibu dari preeklamsia, tetapi membantu mengontrol kondisi ibu. Tapi jika preeklamsia yang lebih serus, si ibu disarankan beristirahat total ditempat tidur atau mungkin dianjurkan menjalankan perawatan di rumah sakit karena kondisi umumnya harus dipantau terus guna melihat tekanan darah dan perkembangan bayi. Karena pada kasus ini si ibu hanya pernah mengalami gejala preeklamsia maka disarankan kepada ibu MM untuk rutin memeriksakan diri ke dokter tentang kehamilannya. Hal ini dilakukan untuk memastikan perkembangan berat badan serta tekanan darah ibu dapat terpantau dengan baik. Pola makan ibu juga harus diperhatikan, mengingat obesitas juga menjadi penyebab preeklamsia. Sebaiknya ibu menjalani pola makan yang sehat dan menu seimbang. Idealnya pola makan sudah diterapkan sejak sebelum hamil atau ketika merencanakan kehamilan. E. Pemilihan Obat Rasional Untuk mengatasi rhinitis alergi diberikan : kromolin secara intaranasal 1 semprotan setiap lubang hidung 3-4 kali sehari pada interval yang teratur. Untuk mengatasi preeklamsia (keracunan pada ibu hamil) tidak perlu diberikan obat untuk preeklamsia dan berikan suplemen untuk masa kehamilannya agar ibu dan calon janin nya itu sehat dalam masa kandungan. Kemudian dianjurkan kepada ibu MM untuk rutin memeriksakan diri ke dokter guna mengontrol berat badan dan tekanan darah ibu hamil. Selain itu pola makan ibu juga harus diperhatikan, mengingat obesitas juga menjadi penyebab preeklamsia. Sebaiknya ibu menjalani pola makan yang sehat dan menu seimbang. Idealnya pola makan sudah diterapkan sejak sebelum hamil atau ketika merencanakan kehamilan.
10

F. Evaluasi Obat Terpilih KROMOLYN NATRIUM Kromolin natrium merupakan suatu penstabil sel mast dan pelepasan mediator, termasuk histamin. Tersedia dalam bentuk semprotan hidung untuk mencegah dan mengobati rhinitis alergi. Zat ini mencegah degranulasi sel mast yang dipicu oleh antigen dan pelepasan mediator, termasuk histamin. Efek samping : iritasi lokal (bersin dan rasa perih membran mukosa hidung) Dosis : untuk pasien diatas 6 tahun adalah 1 semprotan setiap lubang hidung 3-4 kali sehari pada interval yang teratur. G. Monitoring dan Follow up Lakukan kontrol kehamilan setiap bulannya untuk memastikan berat badan dan tekanan darah tiap bulannya. Kromolin secara intaranasal diberikan untuk pengobatan rhinitis alergi 1 semprotan setiap lubang hidung 3-4 kali sehari pada interval yang teratur. Kontrol pola makan ibu MM. Pastikan ibu MM mendapat asupan gizi yang seimbang hal ini bertujuan untuk kesehatan si ibu dan calon bayi yang dikandung oleh ibu MM. H. KIE Pasien Peran Apoteker Memberikan informasi kepada ibu MM untuk menghindari paparan debu, asap rokok, cuaca dingin dan hal-hal yang akan memicu gejala rhinitis alergi kambuh. Memberikan informasi tentang penggunaan kromolin secara intaranasal yang diberikan guna mengatasi gejala rhinitis nya apabila kambuh. Memberikan informasi kepada ibu MM agar selalu memeriksakan dirinya ke dokter guna mengontrol berat badan dan tekanan darahnya setiap bulan. Karena penyebab preeklamsia itu salah satunya adalah obesitas saat kehamilan dan penderita hipertensi. Memberikan informasi kepada ibu MM ataupun keluarga agar memperhatikan pola makan ibu MM. Sebaiknya ibu menjalani pola makan yang sehat dan menu seimbang. Idealnya pola makan sudah diterapkan sejak sebelum hamil atau ketika merencanakan kehamilan.

11

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, arif dkk. 1993. Kapita Selekta Kedokteran Jilid.1 Edisi 3. jakarta : Media Aesculapius Price, silvya A. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4. Jakarta : EGC Deglin, Judith Hopfer, April Hazard Vallerand. 2004. Pedoman Obat untuk Perawat. Edisi 4. Jakarta : EGC. Schmitz, Gery, Hans Lepper, Michael Heidrich. 2008. Farmakologi danToksikologi. Edisi 3. Jakarta : EGC.FKUI. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta : FKUI. FK Unsri. 2008.

12

Makalah Farmakoterapi RHINITIS ALERGI

Di susun Oleh : Kelompok 8 HELDA ROSITA (1101129) INDAH WARDATUL MAWARDA (1101130) YENNI AGUSTINA VERONICA (1001115) YULIA DARSIH (1001118) YUNEA HARISA (1001119) YUWANDA ( 1001120)

Dosen : Fina Aryani., M.sc, Apt

PROGRAM STUDI S1 SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU PEKANBARU 2013

KATA PENGANTAR
13

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat. Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih mempunyai kekurangan, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian, untuk itu kami berharap jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan tugas kami dilain waktu. Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari makalah ini sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.

November, 2013

Penulis

DAFTAR ISI i
14

KATA PENGANTAR.. DAFTAR ISI .... A. Tujuan Pembelajaran Rhinitis alergi.................. B. Dasar Teori. Definisi.... Etiologi Prognosis. Patofisiologi. Penatalaksanaan Terapi Penyakit Preeklamsia........................................................................................ C. Deskripsi Kasus.. D. Analisis/Pembahasan.. E. PemilihanObatRasional F. EvaluasiObatTerpilih G. Monitoring danFollow Up.. H. KIE Pasien Daftar Pustaka

i ii 1 1 1 4 4 5 7 7 9 9 10 11 11 11 12

ii
15