Anda di halaman 1dari 112

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah Gambaran umum kondisi daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan mencakup aspek geografi dan demografi, aspek kesejahteraan, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing daerah, dapat diuraikan sebagai berikut : 2.1.1. Aspek Geografi Dan Demografi 2.1.1.1. Karakteristik lokasi dan wilayah: a. Luas dan batas wilayah administrasi Sumatera Utara memiliki luas total sebesar 181.860,65 km yang terdiri dari luas daratan sebesar 71.680,68 km atau 3.73 % dari luas wilayah Republik Indonesia dan luas perairan sebesar 110.000,65 km, sebagian besar berada di daratan Pulau Sumatera dan sebagian kecil berada di Pulau Nias, Pulau-pulau Batu serta beberapa pulau kecil, baik di perairan bagian barat maupun di bagian timur Pulau Sumatera. Perkembangan wilayah Provinsi Sumatera Utara mengikuti dinamika kehidupan sosial ekonomi dan perpolitikan di Indonesia. Sampai dengan akhir tahun 2009, secara administratif wilayah Provinsi Sumatera terdiri dari 25 Kabupaten dan 8 Kota, 417 Kecamatan dan 5744 Desa/Kelurahan. Kabupaten Tapanuli Selatan merupakan kabupaten dengan luas wilayah terbesar yaitu 12.163,65 km (16,97%). Sedangkan luas terkecil adalah Kota Gunung Sitoli yaitu 280,78 km2 (0,39%). Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.1. dibawah ini : Tabel. 2.1 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Kab. Nias Kab. Nias Selatan Kab. Nias Barat Kab. Nias Utara Kab. Mandailing Natal Kab. Tapanuli Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab. Tapanuli Utara Kab. Toba Samosir Kab. Labuhan Batu Kab. Asahan Kab. Simalungun Kab. Dairi Kab. Karo Ibukota Gunung Sitoli Teluk Dalam Lahomi Lotu Panyabungan Sipirok Pandan Tarutung Balige Rantau Prapat Kisaran Pamatang Raya Sidikalang Kabanjahe Banyaknya Kecamatan Desa/Kel 9 119 18 356 8 110 11 113 23 395 12 20 15 16 9 25 31 15 17 248 177 243 216 98 204 367 169 262 Luas Wilayah (km) 2.011,83 1.079,61 546,3 1.202,78 6.620,70 4.352,86 2.158,00 3.764,65 2.352,35 9.233,18 3.675,79 4.368,60 1.927,80 2.127,25

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-1

No. 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Kabupaten/Kota Kab. Deli Serdang Kab. Langkat Kab. Humbang Hasundutan Kab. Pakpak Bharat Kab. Samosir Kab. Serdang Bedagai Kab. Batu Bara Kab. Padang Lawas Utara Kab. Padang Lawas Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Labuhan Batu Selatan Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Pematang Siantar Kota Tebing Tinggi Kota Medan Kota Binjai Kota Padang Sidimpuan Kota Gunung Sitoli Provinsi Provin si Sumatera Utara

Ibukota Lubuk Pakam Stabat Dolok Sanggul Salak Pangururan Sei Rampah Limapuluh Gunung Tua Sibuhuan Aek Kanopan Kota Pinang Sibolga Tanjung Balai Pematang Siantar Tebing Tinggi Medan Binjai Padangsidimpuan Gunung Sitoli Medan

Banyaknya Kecamatan Desa/Kel 22 394 23 277 10 144 8 52 9 117 17 243 7 9 9 8 5 4 6 8 5 21 5 6 6 417 100 388 304 90 54 17 31 53 35 151 37 79 101 5744

Luas Wilayah (km) 2.486,14 6.263,29 2.297,20 1.218,30 2.433,50 1.913,33 904,96 3.918,05 3.892,74 3.571 3.116,00 10,77 61,52 79,97 38,44 265,10 90,24 114,65 280,78 71.680,68

Sumber: Sumatera Utara dalam Angka 2010

b. Letak dan kondisi geografis Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1 - 4 Lintang Utara dan 98 - 100 Bujur Timur, merupakan salah satu provinsi yang terletak di Pulau Sumatera. Provinsi Sumatera Utara berbatas sebelah utara dengan Provinsi Aceh, sebelah barat dengan Samudera Hindia, sebelah selatan dengan Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Barat serta sebelah timur dengan Selat Malaka. Secara regional Provinsi Sumatera Utara berada pada jalur strategis pelayaran internasional Selat Malaka yang dekat dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Provinsi Sumatea Utara memiliki garis pantai sepanjang 1.300 Km. Panjang Garis Pantai Timur 545 Km, Panjang Garis Pantai Barat 375 Km dan Panjang Garis Pantai Pulau Nias 380 Km. Terdapat 419 pulau, dengan 237 pulau yang telah memiliki nama, dengan 6 pulau di wilayah Pantai Timur termasuk Pulau Berhala sebagai pulau terluar yang berbatasan dengan selat Malaka dan sisanya 182 pulau di wilayah Pantai Barat dengan Pulau Wunga dan Pulau Simuk sebagai pulau terluar di wilayah Pantai Barat. Pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil terdapat hutan mangrove seluas 63.467,4 Ha dalam kondisi baik seluas : 27.019,57 Ha dan 36.447,83 Ha dalam kondisi rusak yang tersebar di 6 Kabupaten (belum termasuk Nias). Selain hasil laut dan perikanan lainnya, kawasan ini memiliki potensi pariwisata bahari yang belum teridentifikasi seluruhnya. Daerah pantai di kawasan Pantai Barat Sumatera Utara sangat bervariasi yaitu daerah yang curam, berbatu dan di beberapa daerah terdapat pantai yang didominasi rawa. Kondisi pantai semacam ini banyak ditemukan di daerah Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga dan Mandailing Natal.

II-2

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Sedangkan Pantai Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan didominasi oleh pantai berbatu dan berpasir, khususnya yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Banyak terdapat pulau-pulau kecil merupakan ciri yang dimiliki oleh kawasan pesisir barat Sumatera Utara. Pantai barat ini ini juga memiliki hamparan mangrove sekitar 14.270 Ha yang membujur dari pantai selatan Kabupaten Mandailing Natal sampai ke pantai selatan Kabupaten Tapanuli Tengah serta di daerah pulau-pulau di Kabupaten Nias dengan ketebalan antara 50-150 meter. Terumbu karang di Pantai Barat Sumatera Utara terdapat di tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan yang tumbuh pada kedalaman 3-10 meter. c. Topografi 1) Kemiringan lahan Wilayah Sumatera Utara terdiri dari daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi serta pegunungan Bukit Barisan yang membujur ditengah-tengah dari Utara ke Selatan. Kemiringan tanah antara 0 - 12 % seluas 65,51% seluas 8,64 % dan diatas 40 % seluas 24,28 %, sedangkan luas Wilayah Danau Toba 112.920 Ha atau 1,57 % 2) Ketinggian lahan Ketinggian lahan di Provinsi Sumatera Utara bervariasi mulai dari 0 2200 m dpl. Terbagi atas 3 (tiga) bagian yaitu bagian Timur dengan keadaan relatif datar, bagian tengah bergelombang sampai berbukit dan bagian Barat merupakan dataran bergelombang. Wilayah Pantai Timur yang merupakan dataran rendah seluas 24.921,99 Km2 atau 34,77 persen dari luas wilayah Sumatera Utara adalah Daerah yang subur, kelembaban tinggi dengan curah hujan relatif tinggi pula. Banjir juga sering melanda wilayah tersebut akibat berkurangnya pelestarian hutan, erosi dan pendangkalan sungai. Pada musim kemarau terjadi pula kekurangan persediaan air disebabkan kondisi hutan yang kritis. Wilayah dataran tinggi dan wilayah Pantai Barat seluas 46.758,69 Km2 atau 65,23 persen dari luas wilayah Sumatera Utara, sebagian besar merupakan pegunungan, memiliki variasi dalam tingkat kesuburan tanah, iklim, topografi dan kontur serta daerah yang struktur tanahnya labil. Beberapa danau, sungai, air terjun dan gunung berapi dijumpai di wilayah ini serta sebagian wilayahnya tercatat sebagai daerah gempa tektonik dan vulkanik. d. Geologi 1) Struktur dan karakteristik Secara geologis, wilayah Provinsi Sumatera Utara memiliki struktur dan batuan yang kompleks dan telah beberapa kali mengalami tumbukan dari proses tektonik karena posisinya terletak pada pertemuan lempeng Euroasia di sebelah timur dan lempeng Australia di sebelah barat. Hal ini menyebabkan terbentuknya rangkaian jalur patahan, rekahan dan pelipatan disertai kegiatan vulkanik. Jalur patahan tersebut melewati jalur Sumatera Utara mulai dari segmen Alas-Karo dan sepanjang kurang lebih 390 km merupakan sumber bencana alam geologi berupa pusat-pusat gempa di darat, tsunami dan pemicu terjadinya letusan gunung berapi
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-3

dan tanah longsor. Jalur patahan (subduction) di Pantai Barat sepanjang kurang lebih 250 km merupakan pusat pusat gempa di dasar laut. Kondisi struktur geologi yang kompleks yang dicirikan oleh bentuk bentang alam perbukitan, terlipat dengan patahan selain merupakan jalur gempa juga potensial menimbulkan tanah longsor terhadap sekitar 40-50 % dari luas daerah Provinsi Sumatera Utara yang mencakup 18 wilayah kabupaten dan 1 kota (menurut keadaan tahun 2005) merupakan kawasan yang rentan gerakan tanah longsor. 2) Potensi - Sumber energi Potensi energi berupa panas bumi sebagai energi alternatif yang tersebar pada beberapa tempat di Sumatera Utara, diantaranya di Kabupaten Karo, Simalungun, Samosir, Tapanuli Utara, Padang Lawas dan Mandailing Natal. Sumber panas bumi ini berpotensi sebagai pembangkit energi listrik Sumatera Utara. Sumatera Utara juga memiliki indikasi kandungan minyak pada 2 (dua) tempat yaitu di Pangkalan Susu Kabupaten Langkat dengan cadangan sebesar 15 MMSTB dengan analisa kimia sebesar 15 MMSTB dan Gunungsitoli, Kabupaten Nias. Cadangan batubara terdapat di 15 (lima belas) titik dan gambut yang merupakan salah satu sumber energi yang banyak terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Selain sebagai sumber energi, juga dapat digunakan sebagai media semai. Timah putih merupakan bahan galian yang berfungsi sebagai bahan industri dan konstruksi. Di Provinsi Sumatera Utara sebaran lokasi potensinya berada pada Aekhabil Kecamatan Sibolga Kabupaten Tapanuli Tengah pada 1o4503,3 LU 99o0811,2 BT dengan jumah cadangan sebesar 470 BSCF dan Desa Hatapang Kecamatan Na-IX-X Kabupaten Labuhanbatu. Hingga saat ini dalam tahap Penyelidikan Umum. Terdapat juga potensi energi nuklir (radioaktif) yang terdapat di Desa Aekhabil Kecamatan Sibolga Kabupaten Tapanuli Utara, yakni berupa Radium (Ra). - Bahan tambang mineral logam dan bukan logam Bahan tambang mineral di Sumatera Utara terdiri dari 21 (dua puluh satu) jenis berupa Antimoni,Arsen, Barit, Bauksit, Belerang, Besi, Bismutih, Kromium, Emas, Perak, Tembaga, Florit, Mangan, Merkuri, Molibdenum, Niobium, Platina, Tellurium, Seng, Timbal dan Wolfram. Selain itu terdapat juga bahan tambang mineral bukan logam dan batuan yang terdiri dari 26 (dua puluh enam) jenis yang tersebar pada kabupaten-kabupaten di Provinsi Sumatera Utara antara lain : Bentonit, Zeolit, Dolomit, Travertin, Diatomea, Trass, Andesit, Granit, Feldspar, Marmer, Kaolin, Batumulia, Batu Gamping, Batu APung, Perlit, Kalsit, Kukarsit, Phospat, Lempung, Pasir Kuarsa, Mika, Grafit, Oker, Talk, Sirtu, dan Serpentinit. e. Hidrologi 1) Daerah aliran sungai Kondisi hidrologi di Provinsi Sumatera Utara terdiri dari air permukaan yaitu sungai, danau, rawa dan air bawah tanah dimana secara keseluruhan wilayah terbagi atas 72 DAS dan 3 (tiga) DAS lintas provinsi. Jumlah induk sungai di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 99 buah, Anak Sungai sebanyak 783 buah, Ranting Sungai 659 buah, anak Ranting Sungai 342 buah.

II-4

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

2) Sungai, danau dan rawa Sesuai dengan Peraturan Menteri PU nomor 11.A/PRT/M/2006 tentang Sungai dan Satuan Wilayah Sungai, maka sungai-sungai di Provinsi Sumatera Utara dapat dikelompokkan ke dalam 11 (sebelas) Satuan Wilayah Sungai berdasarkan lintas wilayahnya yaitu WS Strategis Nasional adalah WS Belawan Ular Padang, WS Toba Asahan dan WS Batang Angkola Batang Gadis. WS Lintas Provinsi yaitu WS Alas Singkil lintas provinsi dengan Provinsi Aceh, WS Batang Natal Batang Batahan lintas provinsi dengan Sumatera Barat dan SWS Rokan lintas Provinsi dengan Riau. Sementara WS Wampu - Besitang Lintas Kab/Kota, WS Bah Bolon Lintas Kab/Kota, WS Barumun Kualuh adalah lintas Kab/Kota, WS Pulau Nias Lintas Kab/Kota, WS Sibundong - Batang Toru Lintas Kab/Kota. Kawasan rawa merupakan sumber daya alam yang petensinya belum dimanfaatkan dengan optimal bagi lahan pertanian dan pertambakan. Di Provinsi Sumatera Utara luas baku daerah rawa adalah sebesar 1.012.005 Ha yang letaknya tersebar di kawasan Pantai Timur dan Pantai Barat. 3) Debit Air Beberapa sungai utama di Propinsi Sumatera Utara memiliki debit air rata-rata yang cukup besar seperti Sungai Wampu, Sungai Ular, Sungai Barumun, Sungai Silau, Sungai Asahan yang dapat dimanfaatkan untuk sumber air irigasi dan bahan baku air bersih dan air minum untuk keperluan rumah tangga dan industri. Namun disisi lain dapat menimbulkan ancaman bahaya banjir dimusim penghujan, akibat mulai terdegradasinya lahan pada daerah hulu. Selain itu terdapat badan air yaitu danau dengan debit air cukup besar yang potensial bagi sistem pengairan dan memiliki air terjun yang potensial sebagai sumber energi. Badan air berupa danau kecil yaitu Danau Siais dan Danau Pandan di Tapanuli Tengah, Danau Balimbing di Tapanuli Selatan, Danau Lau Kawar di Kabupaten Karo dan yang terbesar besar yaitu Danau Toba yang terletak di dataran tinggi di wilayah tengah meliputi 7 (tujuh) kabupaten dengan luas 110.260 ha. Di Pulau Samosir terdapat dua danau kecil yaitu Danau Sidihoni dan Danau Aek Tonang. Juga terdapat potensi air tanah dimana empat diantaranya dari cekungan air bawah permukaan berada pada lintas provinsi f. Klimatologi

1) Tipe Iklim di Sumatera Utara termasuk iklim tropis yang dipengaruhi oleh angin Passat dan angin Muson. Sebagaimana Provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Sumatera Utara mempunyai musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Juni sampai dengan September dan musim penghujan biasanya terjadi pada bulan November sampai dengan bulan Maret, diantara kedua musim itu diselingi oleh musim pancaroba. 2) Curah hujan Curah hujan relatif cukup tinggi yaitu berkisar 1.431 - 2.265 mm per tahun atau rata-rata 2.100 mm per-tahun, dengan jumlah hari hujan rata-rata sebesar 173 230 hari per tahun. Pada wilayah kering, curah hujan tahunan rata-rata kurang dari
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-5

1.500 mm yang tercatat di beberapa bagian wilayah Simalungun, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara, sedang curah hujan tinggi berkisar antara 2.000 sampai 4.500 mm berlangsung sepanjang tahun di daerah Asahan, Dairi, Deli Serdang, Karo, Labuhan Batu, Langkat, Nias, Tapanuli Tengah, dan sebagian besar Tapanuli Selatan. Musim kemarau pada umumnya terjadi pada Juni sampai September dan musim penghujan terjadi pada bulan November sampai Maret. 3) Suhu Ketinggian permukaan daratan Provinsi Sumatera Utara sangat bervariasi, sebagian daerahnya datar, hanya beberapa meter di atas permukaan laut, beriklim cukup panas bisa mencapai 35,80oC, sebagian daerah berbukit dengan kemiringan yang landai, beriklim sedang dan sebagian lagi berada pada daerah ketinggian yang suhu minimalnya bisa mencapai 13,40o C. 4) Kelembaban Kelembaban udara rata-rata 78%-91%. g. Penggunaan lahan, antara lain terdiri dari: 1) Kawasan lindung Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 44/Menhut-II/2005 tanggal 16 Pebruari 2005 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi Sumatera Utara, luas kawasan hutan di Provinsi Sumatera Utara adalah seluas 3.742.120,00 ha atau 52,21 % dari luas Provinsi Sumatera Utara (7.168.068,00 ha). Berdasarkan fungsinya, kawasan hutan dimaksud terdiri dari : - Fungsi hutan dalam kawasan lindung (1.774.400,00 ha) a. Cagar Alam (CA) : 12.287,46 b. Suaka Margasatwa (SM) : 85.552,00 c. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) : 187.985,00 d. Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) : 108.000,00 e. Taman Hutan Raya (Tahura) : 51.600,00 f. Taman Wisata Alam (TWA) : 3.448,90 g. Taman Buru (TB) : 8.350,00 h. Hutan Lindung (HL) : 1.297.330,00 - Fungsi hutan dalam kawasan budidaya (1.967.720,00 ha) a. b. c. Hutan Produksi Terbatas (HPT) Hutan Produksi Tetap (HP) Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK) : : : Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha

879.270,00 Ha 1.035.690,00 Ha 52.760,00 Ha

Di Provinsi Sumatera utara yang termasuk dalam kawasan ini adalah kawasan berada pada ketinggian 2.000 meter d.p.l. dengan kelerengan lebih besar dari sekitar 45 %, mempunyai skor lebih dari 175 menurut SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980, mempunyai jenis tanah sangat peka terhadap erosi, yaitu jenis tanah dengan nilai 5 (regosol, litosol, organosol dan rezina) dan kelas lereng lebih besar dari 15 %, memiiki bercurah hujan tinggi dan mampu meresapkan air ke dalam tanah, termasuk di dalamnya kawasan tanah gambut dengan ketebalan 3 m yang terdapat dibagian hulu sungai/rawa dan yang ditetapkan sebagai hutan lindung. Kawasan ini mencakup juga lahan gambut di Kabupaten Asahan, Labuhan Batu, Tapanuli Tengah.

II-6

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

2) Kawasan budidaya Penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian terbesar berada di wilayah Pantai Timur, yaitu meliputi areal seluas lebih kurang 57% dari luas areal pertanian Sumatera Utara. Sebagian besar lahan hutan berada di wilayah Pantai Barat, yaitu seluas 69% dari luas hutan di Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan pertanian mendominasi wilayah Pantai Timur, sedangkan wilayah Pantai Barat didominasi oleh kegiatan pertanian dan hutan secara relatif berimbang. Wilayah Pantai Timur yang merupakan dataran rendah seluas 26.360 km atau 36,8% dari luas wilayah Sumatera Utara merupakan wilayah yang subur, suhu udara tinggi, kelembaban udara tinggi, dan curah hujan juga relatif tinggi, meliputi Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan, Batu Bara, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, Labuhan Batu Selatan, Kota Binjai, Medan, dan Tebing Tinggi. Wilayah Pantai Barat meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, Mandailing Natal, Tapanuli Tengah, Nias, Nias Selatan dan Kota Sibolga. Kegiatan di wilayah Pantai Timur umumnya heterogen, dengan kawasan perkotaan yang relatif besar dan prasarana wilayah yang memadai. Wilayah ini sesuai untuk pengembangan berbagai jenis kegiatan budidaya, terutama perkebunan dan tanaman pangan. Potensi sumber daya alam Provinsi Sumatera Utara cukup berlimpah, diantaranya tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, perikanan dan pariwisata. Potensi Pertanian Provinsi Sumatera Utara diantaranya adalah sayuran, jeruk dan buahbuahan yang sebagian besar telah dipasarkan dengan baik dan sudah di ekspor keluar negeri maupun provinsi lain. Luas areal perkebunan adalah 1.956.331,02 ha atau 27,29% dari luas Provinsi Sumatera Utara dengan produksi sebesar 4.411.536,55 ton diantaranya sawit, karet, kopi, kakao, tembakau, kelapa dan komoditi lainnya. Potensi perikanan laut Selat Malaka (Pantai Timur) sebesar 239.000,2 ton pertahun sementara pemanfaatannya sudah sekitar 257.364,8 ton atau 107,7%, atau telah terjadi overfishing (padat tangkap), sedangkan potensi Samudera Hindia atau Pantai Barat sebesar 917.000,5 ton per tahun dan baru dimanfaatkan 100.707.59 atau 10,9%. Potensi Pantai Barat ini perlu dikembangkan mengingat tingkat pemanfaatannya masih rendah. Komoditi bidang pertanian pada dataran tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara, seperti jagung, kentang, kopi, ikan mas, sapi, bawang merah sangat berpotensi untuk dikembangkan. Pengembangan perikanan laut wilayah pesisir, pulau-pulau kecil dan pulau terluar, dengan luas laut Sumatera Utara 110.000 km, panjang pantai 1.300 km (Pantai Timur 545 km dan Pantai Barat 375 km serta Pulau Nias 380 km), dengan jumlah pulau sebanyak 214 buah sangat berpotensi untuk dikembangkan. Hal ini seiring dengan bertambahnya penduduk Indonesia dan dunia sehingga akan meningkatkan permintaan terhadap kelautan dan perikanan, ditambah dengan menurunnya kemampuan produksi perikanan tangkap dunia. 2.1.1.2. Potensi Potensi pengembangan wilayah Di Provinsi Sumatera Utara telah ditetapkan kawasan andalan yang merupakan bagian dari kawasan budi daya, baik di ruang darat maupun ruang laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan di sekitarnya. Kawasan yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Andalan Nasional dapat dilihat pada tabel berikut:
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-7

Tabel. 2.2 Penetapan Kawasan Andalan Nasional


NO 1. KAWASAN ANDALAN Kawasan Perkotaan Metropolitan Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) (I/D/1) (II/B/2) (I/E/1) (I/A/1) (II/F/2) Kawasan Pematang Siantar dan Sekitarnya (II/B/2) (I/A/1) (III/D/2) (II/E/2) Kawasan Rantau Prapat Kisaran (I/B/2) (I/H/1) (II/A/2) (II/F/2) (II/D/2) Kawasan Tapanuli dan Sekitarnya (II/B/2) (II/C/2) (III/G/2) (II/A/2) (II/D/2) (II/E/2) Kawasan Nias dan Sekitarnya -(I/E/2) (IV/B/2) -(II/F/2) Kawasan Andalan Laut Lhokseumawe - Medan dsk -(I/F/2) -(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Selat Malaka dan Sekitarnya -(I/F/2) -(I/C/2) Kawasan Andalan Laut Nias dan Sekitarnya -(III/F/2) -(III/C/2) SEKTOR UNGGULAN industri, perkebunan, pertanian, perikanan pariwisata,

2.

Perkebunan, pariwisata

pertanian,

industri,

3.

4.

Perkebunan,kehutanan Pertanian, perikanan industri Perkebunan, pertambangan perikanan laut, pertanian industri, pariwisata pariwisata perkebunan perikanan perikanan pertambangan perikanan pertambangan perikanan dan pertambangan

5.

6.

7.

8.

Sumber: PP NO. 26 Tahun 2008 Keterangan: I IV:Tahapan Pengembangan A : Pengembangan dan Pengendalian Kawasan Andalan untuk Sektor Pertanian A/1 : Pengendalian Kawasan Andalan untuk Pertanian Pangan Abadi A/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pertanian B : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perkebunan B/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Perkebunan B/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perkebunan C : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor Pertambangan C/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Pertambangan C/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pertambangan D : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk industrI pengolahan D/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Industri Pengolahan D/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Industri Pengolahan E : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor Pariwisata E/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Pariwisata E/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Pariwisata F : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor Perikanan F/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Perikanan F/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Perikanan G : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk sektor Kelautan G/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Kelautan G/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kelautan H : Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kehutanan H/1 : Rehabilitasi Kawasan Andalan untuk Kehutanan H/2 : Pengembangan Kawasan Andalan untuk Kehutanan

2.1.1.3. Wilayah rawan bencana Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah, dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam, seperti banjir, tsunami, abrasi, longsor, kebakaran hutan, gempa tektonik dan vulkanik dan lain-lain.

II-8

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Secara umum, peristiwa bencana alam terjadi dikarenakan peristiwa alam geologi seperti gempa bumi, gunung meletus, gerakan tanah/ longsor, gelombang pasang dan non geologis seperti banjir, kekeringan dan kebakaran hutan maupun puting beliung. Wilayah Sumatera Utara merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang rawan terhadap terjadinya longsor (gerakan tanah), gelombang pasang (tsunami), banjir dan peristiwa gempa. a. Gempa Tektonik Pulau Sumatera terletak diantara Lempeng Asia dan Lempeng Australia. Proses pergerakan tabrakan antar lempeng yang sangat lambat tersebut, pada suatu ketika akan menimbulkan pelepasan energi disertai goncangan, patahan, dan getaran yang cukup luas penyebarannya di permukaan bumi, yang kita kenal sebagai gempa tektonik. Secara geografi proses tabrakan ini membentuk rangkaian palung dan gunung api. b. Gunung Api Terdapat 6 (enam) gunung berapi yang aktif di wilayah Sumatera Utara yakni Gunung Sorik Merapi, Gunung Sinabung, Gunung Dolok Martimbang, Gunung Sibayak, Gunung Pusuk Buhit dan Gunung Sibual-buali. Keenam gunung api tersebut dapat di bagi kedalam 3 klasifikasi gunung api sebagai berikut: 1) Tipe A, yaitu gunung yang pernah tercatat meledak paling tidak sekali sejak tahun 1600. Gunung api tipe ini paling rentan meletus. Gunung api di Provinsi Sumatera Utara yang termasuk kedalam tipe ini ialah Gunung Sorik Merapi di Mandailing Natal dan Gunung Sinabung di Berastagi. 2) Tipe B, yaitu gunung api aktif yang tercatat tidak pernah meletus sejak tahun 1600. Sumatera Utara memiliki 5 (lima) gunung api jenis ini, yaitu Gunung Sibayak di Berastagi, Karo; Gunung Pusuk Buhit di Toba Samosir; Gunung Namoralangit/Hela toba di Tapanuli Utara; dan Gunung Sibualbuali di Tapanuli Selatan. 3) Tipe C, yaitu gunung yang tidak pernah tercatat meletus. Namun melihat tanda-tanda di sekitar gunung itu, diyakini gunung itu adalah gunung api. Gunung di Sumatera Utara yang termasuk kedalam tipe ini ialah Gunung Dolok Martimbang di Tapanuli Utara. c. Gerakan Tanah Longsor Bencana longsor disertai dengan banjir bandang sudah sering terjadi di Sumatera Utara antara lain longsor dan banjir bandang Sibolangit (Deli Serdang, 22 November 1994), Dolok - Saipar Dolok Hole di DAS Bilah (Tapanuli Selatan - Labuhan Batu, Mei 1995), Perbaungan - Lubuk Pakam (Deli Serdang, Januari 2002), Nias (31 Juli 2001 dan 2 Januari 2003), Bahorok (Langkat, 2 Nopember 2003). Berbagai longsor dan banjir bandang dalam ukuran kecil juga telah sering terjadi di berbagai lokasi di Sumatera Utara sebagai contoh Berastagi yang berada di pegunungan di Karo beberapa waktu yang lalu dilanda banjir bandang. Terjadinya gerakan tanah Sumatera Utara dikontrol oleh: 1) Kemiringan Lereng. Kemiringan Lereng yang terjal pada bagian barat Pegunungan Bukit Barisan. Perbedaan elevasi satu tempat dengan tempat lain menjadi sumber energi gaya berat untuk mempermudah terjadinya gerakan. 2) Kondisi Geologi. Batuan Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Utara adalah batuan yang dicacah-cacah oleh patahan-patahan. Di Sumut terdapat 3 ruas patahan utama yaitu Renun, Toru dan Angkola. Keadaan geologi lainnya adalah kedudukan atau kemiringan lapisan tanah dan batuan di daerah (desa,
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-9

kota) tersebut. Semakin miring lapisan tanah/batuan maka semakin labil atau semakin mudah longsor, demikian pula jika kemiringan topografi suatu daerah semakin curam atau semakin terjal, maka akan semakin mudah longsor. 3) Curah Hujan Curah hujan yang tinggi terdapat pada daerah perbukitan bagian barat Bukit Barisan serta disekitar Pegunungan Leuseur. Selanjutnya kondisi dan pola pengeringan air hujan yang jatuh di suatu daerah akan menentukan tingkat kerawanan terjadinya longsor disuatu daerah. Daerah dengan kondisi pengeringan alamiah (drainage) yang buruk akan menyebabkan genangan yang melumas bidang gelincir massa batuan dan memicu terjadinya longsor. 4) Gempa Adanya gempa bumi dapat memicu terjadinya longsor, seperti yang terjadi di Muara Sipongi pada Desember 2006. 5) Perubahan Vegetasi dan Aktifitas Manusia Penebangan hutan, alih fungsi lahan pembukaan lahan hutan untuk jalan, permukiman dan infrastruktur lainnya turut memicu terjadinya gerakan tanah. Kawasan yang terletak pada daerah rawan tanah longsor antara lain pada sebagian besar wilayah Sumatera Utara di sekitar Bukit Barisan membujur arah Utara Selatan. Kawasan tersebut pada dasarnya potensial terhadap gerakan tanah, rayapan, longsoran, gelombang pasang dan banjir bandang. Termasuk dalam kawasan ini Kabupaten Tapanuli Utara pada Kecamatan Muara, Sipoholon, Dolok Sanggul, Lintong Nihuta, Siborong-borong, Pagaran, Onan Ganjang, Tarutung, Adian Koting, Pahae Julu dan Pahae Jae; Kabupaten Toba Samosir pada Kecamatan Simanindo, Pangururan, Sianjur Mula-Mula, Harian Boho, Palipi, Onan Runggu, Laguboti, Porsea dan Habinsaran; Kabupaten Tapanuli Tengah pada Kecamatan Barus, Kolang, Tapian Nauli, Lumut dan Sibabangun;Kabupaten Mandailing Natal pada Kecamatan Siabu, Panyabungan, Batang Natal dan Kotanopan; Kabupaten Dairi pada Kecamatan Tigalingga, Siempat Nempu, Silima Pungga-Pungga, Pegagan, Sumbul, Sidikalang, Parbuluan dan Kerajaan; Kabupaten Simalungun pada Kecamatan Dolok Silau, Silimakuta, Dolok Pardamean, Sidamanik, Dolok Panribuan dan Girsang Sipangan Bolon; Kabupaten Deli Serdang pada Kecamatan Namorambe, STM Hilir, Biriu-biru, Sibolangit, STM Hulu dan Bangun Purba; Kabupaten Karo pada Kecamatan Mardinding, Kutabuluh, Lau Baleng, Tiga Binanga, Simpang Empat, Kabanjahe, Barusjahe dan Merek; Kabupaten Langkat pada Kecamatan Padangtualang, Bahorok, Salapian, Kwala dan Sei Bingai; Termasuk Pulau Nias bagian Selatan dan bagian Tengah yaitu Kabupaten Nias pada Kecamatan Hiliduho; Kabupaten Nias Barat pada Kecamatan Mandrehe serta Kota Gunung Sitoli pada Kecamatan Gunung Sitoli. d. Rawan Gelombang Pasang/Tsunami Tsunami adalah gelombang pasang yang disebabkan oleh gempa bumi atau longsoran di lereng dasar laut. Gelombang pasang semacam ini bisa melanda daerah pantai sampai puluhan meter tingginya dan ratusan meter jauhnya dari pantai, sehingga menyapu dan merusak segala apa yang ada di pantai dan di daratan, seperti yang tejadi di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara pada tanggal

II-10

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

26 Desember 2004. Tsunami yang menerjang pantai barat Aceh dan Sumatera Utara terjadi 20 menit sampai 5 jam setelah gempa tektonik. Kecepatan gelombang tsunaminya rata rata 50 100 kilometer per jam. Di pusat gempa, kecepatan tsunami Aceh secara teoretis dapat dihitung, yaitu antara 400 - 800 kilometer per jam. Daerah rawan tsunami tersebar di Pantai Barat pada elevasi kurang dari 5 meter. Di Provinsi Sumatera Utara yang merupakan kawasan rawan gelombang pasang: Wilayah Pantai Timur dan Pantai Barat Provinsi Sumatera Utara serta wilayah pantai Pulau Nias e. Banjir Peristiwa banjir merupakan bencana alam yang juga sering terjadi di wilayah Sumatera Utara yang beriklim tropis, terutama pada wilayah dengan kemiringan lereng landai atau dataran. Beberapa peristiwa banjir yang terjadi di Sumatera Utara adalah sebagai berikut: Peristiwa banjir (dan juga tanah longsor) yang terbesar selama 3 tahun terahir di Indonesia terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Leuseur (TNGL) yang terletak di perbatasan Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh. Di daerah Bohorok Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara pada November 2003 terjadi banjir bandang yang berasal dari bagian hulu DAS Bohorok yang menyebabkan 92 orang tewas dan 154 orang hilang. Kawasan ini terletak di sepanjang Pantai Timur yang dilalui oleh jalur lintas timur Sumatera. Termasuk dalam kawasan ini yaitu Kabupaten Simalungun pada Kecamatan Silau Kahean, Raya Kahean, Bandar, Pematang Bandar, Dolok Batunanggar, Tapian Dolok, Siantar, Bosar Maligas, Ujung Padang, Hutabayu Raja dan Tanah Jawa; Kabupaten Tapanuli Tengah pada Kecamatan Manduamas, Barus, Sorkam, Kolang, Tapian Nauli, Sibolga, Lumut dan Sibabangun; Kabupaten Mandailing Natal pada Kecamatan Natal, Muara Batang Gadis dan Batahan; Kabupaten Langkat pada Kecamatan Pangkalan Susu, Brandan Barat, Babalan, Besitang, Tanjungpura, Gebang, Secanggang, Hinai, Stabat, Padangtualang dan Bahorok; Kabupaten Labuhan Batu pada Kecamatan Panai Hilir, Panai Tengah, Pangkatan dan Bilah Hilir; Kabupaten Labuhan Batu Utara pada Kecamatan Kualuh Hilir; Kabupaten Deli Serdang pada Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Tua, Pancur Batu, Namorambe, Kutalimbaru, Biru-biru, Pantai Labu, Batang Kuis, Beringin dan Lubuk Pakam; Kabupaten Serdang Bedagai pada Kecamatan Pantai Cermin, Perbaungan, Teluk Mengkudu, Tanjung Beringin dan Sei Rampah. Termasuk juga pada Kabupaten Nias pada Kecamatan Idano Gawo, Gido; Kabupaten Nias Utara pada Kecamatan Tuhemberua, Lahewa, Alasa; Kabupaten Nias Barat pada Kecamatan Mandrehe, Sirombu, Kabupaten Nias Selatan pada Kecamatan Lolowau, Amandraya, Teluk Dalam, Lahusa; Kota Gunugsitoli pada Kecamatan Gunungsitoli. f. Kebakaran Hutan Selain peristiwa bencana alam, di Provinsi Sumatera Utara juga memiliki kawasan rawan bencana kebakaran hutan antara lain kawasan yang berada di sekitar Danau Toba.

g. Angin Puting Beliung Pada kawasan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang, terdapat kawasan rawan bencana angin puting beliung.
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-11

2.1.1.4. Demografi a. Jumlah Penduduk Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi keenam yang memiliki penduduk terbanyak di Indonesia dan provinsi berpenduduk terbesar di luar Pulau Jawa. Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara mencapai 12.985.075 orang, yang terdiri atas 6.479.051 laki-laki dan 6.506.024 perempuan. Tabel. 2.3 Jumlah Penduduk menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin (dalam ribuan)

Sumber : Sensus Penduduk 2010

Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Langkat adalah tiga kabupaten/kota dengan urutan teratas yang memiliki jumlah penduduk terbanyak yang masing-masing berjumlah 2.109.339 orang (16,24 persen), 1.789.243 orang (13,78 persen), dan 966.133 orang (7,44 persen). Sedangkan Kabupaten Pakpak Bharat merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk paling sedikit yang berjumlah 40.481 orang (0,31 persen). Dengan luas wilayah Provinsi Sumatera

II-12

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Utara sekitar 71.680,68 kilometer persegi yang didiami oleh 12.985.075 orang maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Provinsi Sumatera Utara adalah sebanyak 181 orang per kilo meter persegi. Kabupaten/kota yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kota Medan yakni sebanyak 7.957 orang per kilo meter persegi sedangkan yang paling rendah adalah Kabupaten Pakpak Bharat yakni sebanyak 33 orang per kilo meter persegi. Rasio jenis kelamin (sex ratio) penduduk Provinsi Sumatera Utara adalah sebesar 99,59, yang artinya jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Sex ratio terbesar terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan yakni sebesar 103,88 dan yang terkecil terdapat di Kabupaten Nias Barat yakni sebesar 91,77. b. Laju Pertumbuhan Penduduk Dari data hasil Sensus Penduduk 2010, laju pertumbuhan penduduk Sumatera Utara tahun 2000-2010 telah mengalami penurunan menjadi sebesar 1,11%, yang merupakan laju pertumbuhan penduduk terendah di Sumatera, atau posisi ke-5 laju pertumbuhan penduduk terendah secara nasional (dibawah laju pertumbuhan penduduk Provinsi Jawa Tengah (0,37%), Jawa Timur (0,76%), Kalimantan Barat (0,91%), dan D.I Jogyakarta (1,02%) c. Sebaran Penduduk Secara geografis, penyebaran penduduk terbesar masih terkonsentrasi pada wilayah Pantai Timur, yaitu dimana pada wilayah tersebut terdapat sejumlah kabupaten yang berpenghuni terbesar (di atas 5 % dari seluruh penduduk provinsi) dan berkepadatan tertinggi (di atas 200 jiwa/km2), seperti : Labuhan Batu, Asahan, Deli Serdang, Langkat dan Serdang Bedagai. Pada wilayah timur ini juga terdapat sejumlah besar kota besar dengan distribusi dan kepadatan penduduk terbesar yaitu Kota Medan, Sibolga, Tanjung Balai, Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Medan, Binjai dan Padang Sidempuan. Dari hasil Sensus Penduduk 2010 terlihat bahwa penyebaran penduduk Sumatera Utara menurut kabupaten/kota rata-rata dibawah 5 persen, dan hanya lima kabupaten/kota yang persebarannya diatas 5 persen. Secara umum kepadatan bruto di Provinsi Sumatera Utara masih rendah karena sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan yang tidak terbangun, yaitu kawasan hutan dan perkebunan. Kecuali pada kota-kota yang ada di Sumatera Utara, kepadatannya relatif sedang sebagai kawasan perkotaan. Distribusi penduduk terbesar tahun 2010 tercatat pada Kota Medan (16,24%) dan Deli Serdang (13,78%) atau 30.02% dari total penduduk Sumatera Utara. Menurut sensus penduduk terakhir tahun 2010, Kota Medan telah menjadi kota terpadat sebesar 7.957 jiwa/Km, melebihi kepadatan penduduk Kota Sibolga sebesar 7.841 jiwa/Km, yang sebelumnya merupakan kota terpadat di Sumatera Utara. Tingginya kepadatan pada Kota Sibolga disebabkan karena kemampuan daya dukung lahan Kota Sibolga terbatas tetapi penduduk terus bertambah. Oleh sebab itu, Kota Sibolga semakin mendesak untuk mengendalikan pertumbuhan penduduknya. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-13

Tabel. 2.4
Jumlah Penduduk, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk Sumatera Utara menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010

Sumber : Sensus Nasional 2010

Kedekatan terhadap Kota Medan dan berkedudukan di wilayah timur menjadikan suatu kabupaten memiliki penduduk perkotaan yang semakin besar, seperti kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai berpenduduk perkotaan yang dominan, diikuti Kabupaten Asahan, Batu Bara, Simalungun, Karo dan Langkat. Sebaliknya kabupaten-kabupaten yang jauh dari Medan memiliki penduduk yang sangat didominasi penduduk perdesaan, seperti Kabupaten Nias Selatan, Nias, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Selatan. 2.1.2. Aspek Kesejahteraan Kesejahteraan Masyarakat 2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Aspek kesejahteraan masyarakat berdasarkan fokus kesejahteraan antara lain dapat dilihat dari angka pertumbuhan PDRB, Inflasi, PDRB perkapita, disparitas pendapatan masyarakat dan persentase penduduk yang berada diatas garis kemiskinan. Secara umum dapat diungkapkan sebagai berikut :

II-14

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

a. Pertumbuhan PDRB Tabel. 2.5 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2006 s.d 2010 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Provinsi Sumatera Utara (dalam Milyar Rupiah)

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2010 (data diolah)

Dari tabel 2.5. diatas diperoleh gambaran bahwa secara umum struktur ekonomi pembentuk PDRB Provinsi Sumatera Utara atas dasar harga konstan didominasi oleh Industri pengolahan disusul oleh sektor pertanian, dan berturut- turut oleh sektor perdagangan, hotel dan restauran; jasa-jasa, pengangkutan dan komunikasi. Jika melihat dari struktur perekonomian terakhir (tahun 2010) sebenarnya telah terjadi transformasi struktur ekonomi di Sumatera Utara dari provinsi berbasis primer (pertanian) menjadi provinsi berbasis jasa, , sebab sumbangan sektor jasajasa telah mencapai 35,52%, disusul Industri sebesar 29,88% sementara sektor pertanian hanya tumbuh sebesar 24,7%. Tabel. 2.6 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2006 s.d 2010 Atas Dasar Harga Berlaku Provinsi Sumatera Utara

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2010 (data diolah) Keterangan : Triwulan III

Sejalan dengan struktur PDRB atas dasar harga konstan, demikian juga hal yang sama tampak dari PDRB atas dasar harga berlaku dimana struktur ekonominya didominasi oleh sektor industri pengolahan disusul oleh pertanian dan berturutturut oleh sektor perdagangan, hotel dan restauran; jasa-jasa, pengangkutan dan komunikasi.

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-15

Tabel. 2.7 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2006 s.d 2010 Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Provinsi Sumatera Utara

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2010 (data diolah)

Dapat digambarkan bahwa perkembangan perhitungan sektoral khususnya dari sumbangan terhadap PDRB terlihat bahwa Sumatera Utara telah mengarah menjadi Provinsi berbasis Industri dan Jasa, karena peran sektor pertanian (primer) semakin kecil dalam memberikan sumbangan bagi PDRB baik dari harga berlaku maupun konstan. Tabel. 2.8 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun 2006 sampai dengan Tahun 2010 Provinsi Sumatera Utara

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2010 (data diolah)

Dari sisi pertumbuhan konstribusi sektoral pembentuk PDRB secara rata-rata dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 untuk harga berlaku (HB) terlihat bahwa sektor industri pengolahan serta listrik, gas dan air bersih mengalami konstraksi masing-masing -0,79% dan -0,06%, hal ini sebagai akibat dari terjadinya krisis ekonomi global pada tahun 2008 dan 2009, serta kurangnya pasokan energi listrik sebagai dampak dari tidak adanya pembangunan pembangkit listrik untuk mensuplai kebutuhan energi di Sumatera Utara yang pertumbuhannya mencapai 89%/tahun, hal ini mengakibatkan pada tahun 2006-2009 Sumatera Utara sering menjadi langganan padamnya listrik yang sampai dikatakan kronis. Sementara pertumbuhan konstribusi sektoral pembentuk PDRB atas dasar harga konstan (HK) secara rata-rata dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 terdapat 4 sektor yang mengalami konstraksi yakni pertanian -0,20%,

II-16

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

pertambangan dan penggalian -0,01%, Industri pengolahan sebesar -0,45% dan listrik gas dan air bersih sebesar -0,02%, khusus untuk 2 sektor terakhir telah dijelaskan penyebab penurunannya, sementara untuk penurunan sektor pertanian hal ini sebagai dampak dari peningkatan industri pengolahan dimana sumbangan sektor pertanian kalah bersaing dalam menghasilkan nilai tambah ditambah lagi bahwa pada periode tersebut terjadi lonjangan harga pangan dunia yang berdampak pada sektor pertanian diantaranya pertanian tanaman pangan dan perkebunan serta peternakan. Adapun penurunan pertumbuhan dari sektor pertambangan dan penggalian adalah akibat dari beberapa kontrak karya eksplorasi sumber daya alam belum direalisasikan disamping banyaknya regulasi yang melarang secara tegas operasionalisasi pertambangan liar, serta terdapat sebahagian wilayah pertambangan masuk dalam kawasan hutan lindung. Tabel. 2.9 Perkembangan PDRB provinsi/kabupaten/kota Tahun 2006 s.d 2010 Atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku Provinsi Sumatera Utara (dalam jutaan rupiah)

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2010 (data diolah)

Untuk perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan tingkat Kabupaten/Kota dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 terlihat bahwa Kota Medan masih merupakan daerah yang memiliki angka PDRB tertinggi di Sumatera Utara dimana tahun 2009 Kota Medan memberikan sumbangan terhadap PDRB Sumatera Utara ADHB sebesar 30,74% dan ADHK sebesar 29,97%, disusul oleh Kabupaten Deli Serdang berdasarkan ADHB sebesar 14,46% dan ADHK 12,28%, Langkat berdasarkan ADHB sebesar 6,26% dan ADHK 6,11% serta Kabupaten Batu Bara berdasarkan ADHB sebesar 6,14% dan ADHK 6,33%. Secara umum memang terlihat sumbangan Pantai Timur Sumatera Utara lebih dari 50% dibandingkan dengan kawasan Dataran Tinggi dan Pantai Barat, hal ini akibat fasilitas infrastruktur yang memang lebih baik serta sumbangan dari sektor perkebunan dan industri pengolahan yang konsentrasinya masih di kawasan Pantai Timur.
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-17

b. Laju Inflasi Tabel. 2.10 Nilai inflasi rata-rata Tahun 2006 s.d 2010 Provinsi Sumatera Utara Uraian Inflasi 2006 6.11 2007 6.60 2008 10.72 2009 2.61 2010 8,00 Rata-Rata Pertumbuhan 6.81

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2010 (data diolah)

Secara umum laju inflasi Sumatera Utara masih dalam kondisi yang rendah (masih dibawah 2 digit) kecuali pada tahun 2008 yang mencapai 10,72%, hal ini sebagai akibat, kontraksi ekonomi di seluruh dunia, dan bahkan capaiannya selalu dibawah capaian nasional, kecuali tahun 2010 Sumatera Utara capaian tingkat inflasinya diatas nasional, dimana capaian nasional sebesar 6,96%, akan tetapi hal ini akan terus diupayakan untuk menstabilkannya dalam rangka tetap mempertahankan tingkat daya beli masyarakat. c. PDRB per kapita Tabel. 2.11 PDRB Perkapita Tahun 2006 s.d 2010 Provinsi Sumatera Utara
Uraian Nilai PDRB (Rp) Jumlah Penduduk (Jiwa) PDRB perkapita (Rp.juta/jiwa) 2006 160,376,799.09 12,643,494.00 12.68 2007 181,819,737.32 12,834,371.00 14.17 2008 213,931,696.78 13,042,317.00 16.40 2009 236,353,615.83 13,248,386.00 17.84 2010 275,700,201 12,985,075 21.23

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, Tahun 2010

Adapun untuk kondisi PDRB/kapita atas dasar harga berlaku dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 selalu mengalami peningkatan, yang merupakan suatu tanda perbaikan struktur pendapatan global masyarakat Sumatera Utara, pada tahun 2006 PDRB/kapita baru mencapai Rp. 12,68 juta dan pada tahun 2009 telah mencapai Rp. 17,48 juta atau jika dikonversikan ke mata uang dollar Amerika Serikat dengan kurs Rp. 9.500/dollar, maka PDRB/kapita masyarakat Sumatera Utara telah mencapai angka US$ 1.832. d. Disparitas Disparitas Pendapatan Masyarakat 1) Indeks Gini Tingkat ketimpangan pendapatan perkapita masyarakat Sumatera Utara berdasarkan Indeks Gini/Lorenz Curve, rationya Moderat yakni sebesar 0,362, yang mengindikasikan bahwa disparitas pendapatan di Sumatera Utara masih lebih besar bila dibandingkan dengan Gini Ratio Nasional yang berada diangka 0,33. 2) Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia Indikator jumlah dan persentase penduduk miskin merupakan indikator makro

II-18

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

yang menggambarkan perkembangan pembangunan dan kesejahteraan ekonomi penduduk secara umum. Jumlah desa tertinggal dapat memberikan indikasi mengenai daerah-daerah dimana penduduk miskin banyak ditemui. Kedua indikator tersebut saling melengkapi. Perlu diketahui, bahwa tidak semua penduduk di desa tertinggal adalah miskin, sebaliknya tidak semua penduduk di Kota adalah tidak miskin. Pembangunan yang telah berjalan di Sumatera Utara berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin dari 1,97 juta atau 15,66 persen pada tahun 2006 turun menjadi 1,49 juta atau 11,31 persen pada tahun 2010. Bank Dunia memberikan 3 (tiga) kriteria penyebaran pendapatan penduduk yaitu 40 persen penduduk berpendapatan rendah, 40 persen penduduk berpendapatan sedang dan 20 persen penduduk berpendapatan tinggi. Menurut Kriteria Bank Dunia, jika 40 persen penduduk terendah memperoleh : kurang dari 12 persen dari total pendapatan maka distribusi pendapatan dikatakan buruk (tingkat ketimpangan tinggi); antara 12 persen sampai dengan 17 persen dikatakan berketimpangan sedang; lebih dari 17 persen berketimpangan rendah. Menurut versi bank Dunia yang menstandarkan pendapatan perkapita yang ideal sekitar 2 US$/hari/kapita, maka jumlah penduduk yang memenuhi standar tersebut dengan kurs rupiah Rp. 9.500/ 1 US$ pada tahun 2010 adalah 40 persen penduduk lapisan sedang/menengah dan 20 persen penduduk lapisan atas/tinggi masih menerima pembagian pendapatan relatif lebih tinggi dibandingkan 40 persen penduduk terendah, yaitu berkisar antara 35,29 persen sampai dengan 40,35 persen dari total pendapatan, sementara 40% penduduk berpenghasilan terendah hanya menerima 24,36%, berarti secara umum ketimpangan pendapatan versi Bank Dunia adalah rendah. 3) Indeks Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) Tabel 2.12 Ketimpangan Pendapatan Penduduk Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara 2006-2009 menurut Indeks Ketimpangan Williamson
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 KAB/KOTA Nias Madina Tapsel Tapteng Taput Tobasa Labuhan Batu Asahan Simalungun Dairi Karo Deli Serdang Langkat Nisel Humbahas Pakpak Bharat Samosir Sergei Batu Bara TAHUN 2006 0.094 0.087 0.092 0.088 0.045 0.016 0.004 0.095 0.068 0.020 0.013 0.014 0.060 0.070 0.031 0.026 0.010 0.043 2007 0.092 0.087 0.094 0.089 0.047 0.016 0.002 0.026 0.069 0.021 0.008 0.023 0.064 0.071 0.031 0.030 0.011 0.045 2008 0.090 0.171 0.034 0.091 0.047 0.015 0.001 0.029 0.070 0.023 0.005 0.030 0.066 0.071 0.031 0.032 0.011 0.047 0.201 2009 0.086 0.085 0.034 0.092 0.047 0.016 0.021 0.030 0.069 0.022 0.003 0.033 0.066 0.070 0.031 0.032 0.010 0.046 0.198 Rata-Rata 0.090 0.107 0.064 0.090 0.047 0.016 0.007 0.045 0.069 0.022 0.007 0.025 0.064 0.070 0.031 0.030 0.010 0.045 0.200

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-19

20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Paluta Palas L. Batu Selatan Lb. Utara Nias Utara Nias Barat Sibolga Tj. Balai P. Siantar T. Tinggi Medan Binjai P.Sidempuan Gunung Sitoli SUMATERA UTARA

0.011 0.003 0.007 0.010 0.317 0.015 0.054 0.052

0.012 0.001 0.008 0.010 0.327 0.016 0.054 0.050

0.067 0.012 0.005 0.008 0.010 0.335 0.017 0.055 0.058

0.069 0.063 0.020 0.002 0.012 0.006 0.007 0.009 0.349 0.017 0.054 0.053

0.068 0.063 0.020 0.002 0.012 0.004 0.008 0.010 0.332 0.016 0.054 0.054

Rata rata tingkat disparitas pendapatan regional Kab/kota di Sumatera Utara dari tahun 2006 sampai dengan 2009 terlihat masih cukup rendah yakni 0,05, hal ini mengindikasikan bahwa pemertaan hasil pembangunan telah cukup merata, bila dilihat dari disparitas pendapatan dengan metode indeks wiiliamson terlihat bahwa Kota Medan merupakan Kab/kota yang memiliki disparitas pendapatan paling tinggi yakni 0,332 disusul oleh Kabupaten Batu Bara sebesar 0,20. Adapun Kab/Kota yang memiliki disparitas pendapatan rendah yakni Kabupaten Labuhan Batu Utara sebesar 0,002 dan disusul oleh Kota tanjung balai sebesar 0,004 e. Persentase penduduk penduduk diatas garis kemiskinan Adapun untuk angka penduduk Sumatera Utara yang berada diatas garis kemiskinan setiap tahun terus mengalami perbaikan, dimana tahun 2006 sebesar 84,34%, tahun 2007 sebesar 86,10%, tahun 2008 sebesar 87,45%, tahun 2009 sebesar 88,47% dan tahun 2010 sebesar 86,69%. 2.1.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial 1) Bidang pendidikan a. Angka melek huruf Dari total penduduk Sumatera Utara tahun 2010 (diperhitungkan dari Sensus Nasioal 2010) dibandingkan jumlah penduduk yang masih buta aksara diperoleh angka melek huruf sudah mencapai 98,26%. Namun capaian angka melek huruf rata-rata penduduk Provinsi Sumatera Utara yang berusia 15 tahun keatas per-Kabuaten/Kota sampai tahun 2010 masih sebesar 95,35%, Dengan kata lain masih terdapat Angka Buta Aksara penduduk usia produktif sebesar 4,65%. Hal ini menunjukkan masih adanya penduduk usia sekolah yang belum mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga perlu perhatian yang lebih serius dari semua pihak terkait dalam mengurangi angka buta aksara di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten yang tertinggi dalam pencapaian angka melek huruf adalah Kabupaten Mandailing Natal (99.44%), Kabupaten Padang Lawas (99.37%), Padang Lawas Utara (99.36%), Kota Sibolga (99.35%) dan Kota Tebing Tinggi (99.33%), sedangkan Kabupaten yang perlu mendapat prioritas penanganan buta aksara adalah Kota Gunung Sitoli (89.34%), Kabupaten Nias Selatan (87.95%), Kabupaten Nias Utara (83.28%), Kabupaten Labuhanbatu Selatan (78.80%) dan Kabupaten Nias (68.73%). Untuk selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2.

II-20

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

b. Angka ratarata-rata lama sekolah Capaian Angka Lama Sekolah rata-rata Provinsi Sumatera Utara, mengalami peningkatan dari sebelumnya tahun 2007, sebesar 8,60 tahun menjadi 9,84 tahun pada tahun 2008, dan meningkat menjadi 9.86 tahun pada tahun 2009 dan menjadi 9.91 pada tahun 2010. c. Angka Partisipasi Kasar Dari data Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2009 terlihat bahwa APK untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berdasarkan jumlah penduduk usia 0-6 tahun, di Provinsi Sumatera Utara masih tergolong rendah (30,20%), dan mengalami peningkatan menjadi 53,5 pada tahun 2010, sehingga masih perlu perhatian yang lebih baik lagi pada tahun mendatang. Angka Partisipasi Kasar untuk Pendidikan Dasar SD/MI sudah memenuhi target sebesar 115,53, untuk SMP/MTs sebesar 99,57, sedangkan untuk pendidikan menengah (SMA/SMK/MA sebesar 86,40. Untuk selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. e. Angka Partisipasi Murni Dari data Angka Partisipasi Murni Provinsi Sumatera Utara tahun 2010, terlihat bahwa ada kecenderungan terjadinya penurunan jumlah partisipasi siswa dari APM siswa SD (92,24%), SLTP (SMP/MTs) (76,29%) dan SLTA (SMA/MA/MK) 68,18%. Hal ini menunjukkan masih banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi diatasnya (putus sekolah). Hal ini disebabkan masih rendahnya minat dan dorongan orang tua untuk menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. Disamping masih terbatasnya kemampuan ekonomi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Sementara dari data APM siswa SLTA per Kabupaten/Kota terlihat bahwa kabupaten dengan capaian APM tertinggi adalah Dairi (92.75%), Nias Selatan (90.9%), Humbang Hasundutan (88.14%), Tapanuli Utara (86.2%), Tapanuli Tengah(85.77%) dan Serdang Bedagai (81.23%). Sedangkan Kabupaten/Kota yang paling rendah capaian APM untuk tingkat SLTA Adalah Sibolga (55.83%, Simalungun (54.57%), Asahan (53.56%), Batubara (43.1%) dan Nias (40.22%). (Lihat tabel lampiran 6) Dalam rangka pencapaian sasaran pendidikan di Sumatera Utara yakni Wajib Belajar 12 tahun dan untuk mewujudkan industrialisasi di Provinsi Sumatera Utara diperlukan Sumber Daya Manusia yang memiliki pendidikan dan keahlian yang memadai atau minimal tamat Sekolah Lanjutan Menengah Atas (SLTA) khususnya dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 2) Bidang Kesehatan Capain Indikator utama bidang kesehatan adalah sebagai berikut : a. Angka Kelangsungan Hidup Bayi Angka kelangsungan hidup bayi dilihat dari data kematian/1000 kelahiran menunjukkan masih cukup tingginya rata-rata tingkat kematian bayi yakni sebesar 25,6/1000 kelahiran hidup atau 2,56%. Kabupaten dengan tingkat kematian bayi tertinggi terdapat di Kabupaten Mandailing Natal (3,49%). Kota Medan dengan fasilitas layanan kesehatan yang sudah cukup memadai menunjukkan tingkat kematian bayi paling rendah (1,14%). Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 8.
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-21

b. Angka Usia Harapan Hidup Usia harapan penduduk Sumatera Utara mengalami peningkatan dari 66,7 tahun pada tahun 2000 menjadi 69,35 tahun pada tahun 2009. Kabupaten dengan capaian Usia Harapan Hidup tertinggi berada pada Kabupaten Karo (71,99 tahun). Faktor lingkungan dan kebiasaan hidup sehat masyarakat di Kabupaten Karo memungkinkannya mengungguli Kota Medan yang hanya sebesar 71,50 tahun, dan Binjai sebesar 71,54 tahun. Sementara Kabupaten Mandailing Natal menjadi Kabupaten paling rendah Angka Usia Harapan Hidupnya, yakni hanya sebesar 63,46. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintah Kabupaten setempat dalam meningkatkan derajat layanan kesehatannya. Untuk selengkapnya dapat dilihat pada tabel lampiran 9. c. Persentase Balita Gizi Buruk Status Gizi Balita merupakan prasyarat dasar untuk meningkatkan daya saing bangsa karena status gizi anak akan mempengaruhi tingkat kesehatan fisik dan kecerdasan anak yang akhirnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas secara ekonomis. Menurut hasil penelitian yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan RI (Riskesdas, 2009), Provinsi Sumatera Utara masih tergolong Provinsi dengan angka kekurangan gizi balitanya diatas angka rata-rata nasional yakni 21,4 sementara angka rata-rata nasional 17,9. Menurut penelitian WHO anak yang memiliki status gizi kurang atau buruk mempunyai resiko kehilangan tingkat kecerdasan atau IQ sebesar 10-15 poin. Dari data prevalensi rata-rata Balita Gizi Kurang di Sumatera Utara masih termasuk kategori tinggi. Terdapat 2 Kabupaten yang termasuk kepada kriteria Sangat Tinggi (diatas 30%) yakni Nias dan Nias Selatan, 14 termasuk kriteria tinggi (20-29%) dan selebihnya kategori sedang (10-19%). Yang perlu dicermati adalah masih tingginya capaian prevalensi gizi buruk untuk wilayah kota seperti Sibolga, Tanjungbalai, Tebing Tinggi dan Medan. Grafik dibawah ini memperlihatkan kondisi persentase balita gizi buruk Provinsi Sumatera Utara dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia.

Sumber : Riskesdas, 2009 Gambar 2.1. Grafik Angka Prevalensi Kekurangan Gizi pada Balita per Provinsi di Indonesia

II-22

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

3) Bidang Kependudukan dan Tenaga Kerja a. Persentase penduduk miskin Persentase penduduk miskin di Provinsi Sumatera Utara, diukur dari pendapatan perkapita/bulan tercatat sebesar 11,31% atau berjumlah 1.490.000 orang, dengan konsentrasi di perkotaan sebesar 11,56% dan di perdesaan sebesar 11,29%. Tabel dibawah ini mengetengahkan tentang pendapatan penduduk miskin (memiliki pendapatan kurang dari Rp. 201.810/ Kapita/bulan), persentase rata-rata di kota dan desa dan jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Utara. Tabel 2.13. Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi Sumatera Utara

TAHUN

Garis Kemiskinan (Rp/kapita/bln) Kota Desa (3) 142.095 154.827 171.922 189.306 201.810

Persentase Penduduk Miskin Kota (4) NA NA 12,85 11,45 11,56 Desa (5) NA NA 12,29 11,34 11,29 K+D (6) 15,66 13,90 12,55 11,51 11,31

Jumlah Penduduk Miskin (Juta) Kota (7) NA NA 761,7 688,0 811,7 Desa (8) NA NA 852,1 689,0 801,9 K+D (9) 1,979 1,768 1,613 1,499 1,490

(1) 2006 2007 2008 2009 2010

(2) 184.694 205.379 218.333 234.712 247.547

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, Tahun 2010 Keterangan : NA = Not Available (Data tidak tersedia)

b. Kesempatan kerja (Rasio penduduk yang bekerja) Kesempatan kerja dilihat berdasarkan rasio penduduk yang bekerja dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2.14. Rasio Penduduk yang Bekerja dengan Angkatan Kerja Tahun 2010
Golongan umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 Angkatan Kerja Bekerja 445.322 739.738 809.971 773.221 702.343 659.153 556.827 Mencari Pekerjaan 115.504 165.016 88.920 44.290 20.311 29.731 30.047 Jumlah 560.826 904.754 898.891 817.511 722.654 688.884 586.874 Rasio

0.79 0.82 0.90 0.95 0.97 0.96 0.95

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-23

50-54 55-59 65+ Jumlah

483.455 316.637 403.399 5.890.066

11.953 4.473 2.580 512.825

495.408 321.110 405.979 6.402.891

0.98 0.99 0.99 0.92

Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sumatera Utara, 2010 (data diolah)

c. Kriminalitas (Angka kriminalitas yang tertangani) Kondisi keamanan di Provinsi Sumatera Utara dilihat dari angka kriminalitas dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.15. Angka Kriminalitas Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010 Kasus Pembunuhan Penganiayaan Berat Penculikan Pencurian dengan Kekerasan Pencurian dengan Pemberatan Pencurian Ranmor Pencurian Kawat Telepon Pemerkosaan Pembakaran Senpi/Handak Pemerasan Penyelundupan Jumlah
Sumber : Polda Sumut

Kejadian 127 3.970 12 1.003 7.154 4.917 247 112 32 540 18 18.132

Tertangani 88 2.051 11 436 2.890 333 148 23 17 280 8 6.285

2.1.3. Aspek Pelayanan Umum Pencapaian kinerja pada aspek layanan umum baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah provinsi dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat terdiri dari : 2.13..1. Fokus Layanan Urusan Wajib Hasil capaian kinerja layanan urusan wajib pemerintah daerah terdiri dari : 2.1.3.1.1. 2.1.3.1.1. Pendidikan Pendidikan merupakan hak dasar setiap penduduk dan pemenuhan atas hak ini menjadi kewajiban pemerintah. Selain jumlah penduduk yang besar, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pendidikan adalah relatif besarnya disparitas ketersediaan sarana pendidikan. Di satu pihak, di wilayah perkotaan umumnya memiliki sekolah yang berkualitas dengan biaya pendidikan yang relatif mahal dan dikelola secara mandiri. Dipihak lain, beberapa daerah masih terfokus pada peningkatan cakupan, atau masih berkutat pada peningkatan kualitas.

II-24

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

a. Angka partisipasi sekolah (APS) Secara umum dari data Angka Partisipasi Sekolah pada jenjang Pendidikan Dasar 9 tahun (SD dan SLTP) yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara tahun 2010 terungkap bahwa Angka Partisipasi Sekolah (APS) siswa SD/MI sebesar 94,24% dan APS siswa SLTP (SMP/MTs) sebesar 74,74%, yang berarti terjadi penurunan APS dari jenjang sekolah dasar ke sekolah lanjutan pertama. Terjadinya penurunan APS ini perlu untuk dicermati dalam rangka mendukung pencaian misi Wajib Belajar 12 tahun (siswa dapat menamatkan jenjang pendidikan dari mulai SD sampai SLTA) b. Ratio Ketersediaan Sekolah dan Ruang Kelas pada berbagai jenjang pendidikan dasar Tabel 2.16. Ratio ketersediaan Sekolah dan Ruang Kelas Pada berbagai jenjang pendidikan
NO A. Jenjang Sekolah Jumlah Gedung Sekolah Tahun 2006 2007 2008 2009

1 2 3 4 B. 1 2 3 4 C. 1 2 3 4

SD SMP SMA SMK Jumlah Ruang Kelas SD SMP SMA SMK Ratio Kelas/Sekolah SD SMP SMA SMK

9,297 1,412 822 590 72,205 12,955 7,886 5,069 7.77 9.17 9.59 8.59

9,336 1,469 871 598 63,662 13,153 8,194 4,959 6.82 8.95 9.41 8.29

9,136 1,530 911 619 65,729 14,407 9,045 5,362 7.19 9.42 9.93 8.66

8,968 1,627 935 692 64,233 14,781 8,714 6,067 7.16 9.08 9.32 8.77

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, 2009 (data diolah) Dari tabel diatas terlihat bahwa terjadi penambahan jumlah gedung sekolah, ditingkat SMP, SMA dan SMK selama tahun 2006-2009. Kecuali pada jenjang sekolah dasar pada tahun 2008 terjadi penggabungan beberapa sekolah dasar karena berkurangnya jumlah murid pada beberapa sekolah. c. Jumlah Guru dan murid dan Rasio Guru/Murid pada berbagai Jenjang Pendidikan Dasar Tabel 2.17. Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun 2006 s.d 2009 Provinsi Sumatera Utara
NO 1 1.1. 1.2. 1.3. 2 2.1. 2.2. 2.3. Jenjang Pendidikan SD Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMP Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio 2006 80,437 1,768,133 22 37,437 489,260 13 2007 81,167 1,796,994 22 39,159 507,881 13 2008 89,719 1,828,996 20 43,901 546,777 12 2009 84,789 1,844,126 22 45,553 567,912 12

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-25

3 3.1. 3.2. 3.3. 4 4.1. 4.2. 4.3.

SMA Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMK Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio

20,638 306,716 15 16,799 182,544 11

21,836 316,232 14 17,323 191,649 11

24,533 330,734 13 19,368 216,043 11

25,425 321,745 13 20,128 246,167 12

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Tahun 2010

Dari data diatas terlihat bahwa terjadi perkembangan yang fluktuatif pada Ratio Siswa/Guru. Angka ratio sudah cukup ideal antara 11-22 orang siswa untuk setiap orang guru. Untuk Ratio Guru/Murid pada jenjang SLTP dan SMA cenderung semakin membaik. Hanya pada jenjang SMK yang mengalami penurunan. Diharapkan dengan ratio jumlah guru/murid yang semakin ideal akan lebih meningkatkan mutu pendidikan di Sumatera Utara, khususnya pada jenjang pendidikan dasar. c. Rasio Pendidikan Dilihat dari perbandingan jumlah siswa terhadap sekolah, perbandingan siswa terhadap jumlah kelas, perbandingan siswa terhadap jumlah guru, perbandingan jumlah kelas terhadap jumlah sekolah, perbandingan jumlah kelas terhadap guru dan perbandingan jumlah guru terhadap sekolah pada berbagai jenjang pendidikan di Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.18. Ratio Jenjang Pendidikan/Ratio Pendidikan Tahun 2006-2009
Jenjang Pendidikan/ Rasio Pendidikan SD Siswa / Sekolah Siswa / Kelas Siswa / Guru Kelas / Sekolah Kelas / Guru Guru / Sekolah SMP Siswa / Sekolah Siswa / Kelas Siswa / Guru Kelas / Sekolah Kelas / Guru Guru / Sekolah SMA Siswa / Sekolah Siswa / Kelas Siswa / Guru Kelas / Sekolah Kelas / Guru Guru / Sekolah Tahun 2006 190 24 20 7.77 0.80 10 347 38 13 9.17 0.33 28 373 39 14 9.41 0.36 26 2007 192 28 20 6.82 0.70 10 346 39 13 8.95 0.32 28 363 39 14 9.59 0.37 26 2008 200 28 19 7.19 0.67 11 357 38 12 9.42 0.32 30 363 37 13 9.93 0.36 28 2009 206 29 20 7.16 0.69 10 349 38 12 9.08 0.31 29 344 37 12 9.32 0.33 28

No 1

II-26

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

No 4

Jenjang Pendidikan/ Rasio Pendidikan SMK Siswa / Sekolah Siswa / Kelas Siswa / Guru Kelas / Sekolah Kelas / Guru Guru / Sekolah

Tahun 2006 309 36 11 8.59 0.29 29 2007 320 39 11 8.29 0.28 30 2008 349 40 11 8.66 0.27 32 2009 356 41 12 8.77 0.29 30

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, 2010

Dari data diatas terlihat bahwa Ratio Siswa/Guru sudah cukup ideal antara 11-20 orang siswa untuk setiap orang guru, namun belum terjadi pemerataan pada semua Kabupaten/Kota. Dengan tercapainya ratio ideal ini diharapkan dapat lebih meningkatkan mutu pendidikan di Sumatera Utara. d. Fasilitas pendidikan Dari data jumlah sekolah yang ada di Sumatera Utara ada tahun 2009, tercatat jumlah ruang kelas dalam kondisi baik berjumlah 54.986 buah (63.50%), kondisi rusak ringan berjumlah 16.484 (19.04%) dan kondisi rusak berat berjumlah 15.121 (17.46%). Hal ini menuntut adanya penanganan segera agar target indikator pendidikan dapat tercapai. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel lampiran 10. e. Angka Angka Putus Sekolah Perkembangan Angka Putus Sekolah pada berbagai jenjang pendidikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.19. Perkembangan Angka Putus Sekolah pada berbagai jenjang pendidikan dasar
No Jenjang Pendidikan SD SMP SMA SMK 2006 Jumlah Persen 59,250 18,730 5,593 13,137 3.33% 3.87% 1.88% 7.06% Tahun 2007 2008 Jumlah Persen Jumlah Persen 31,770 17,224 8,640 8,584 1.80% 3.52% 2.82% 4.70% 22,801 9,190 6,547 2,562 1.27% 1.79% 2.07% 1.33% 2009 Jumlah Persen 20,868 27,962 22,812 5,150 1.14% 5.11% 6.90% 2.38%

1 2 3 4

Dari tabel diatas terlihat bahwa perkembangan angka persentase anak putus sekolah tahun 2006-2008, mengalami penurunan, tetapi pada tahun 2009, terjadi peningkatan persentase anak putus sekolah. Hal ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak yang berkepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat. Grafik perkembangan angka putus sekolah tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-27

Gambar. 2.2. Grafik Persentase perkembangan putus sekolah pada berbagai jenjang pendidikan tahun 2006-2009 f. Angka Kelulusan Tabel 2.20. Perkembangan Angka Kelulusan pada berbagai jenjang pendidikan dasar
No 1 2 3 4 Jenjang Pendidikan SD SMP SMA SMK 2006 253,234 147,644 92,759 54,885 2007 255,330 149,636 94,303 55,333 2008 263,040 149,312 93,982 55,330 2009 277,316 155,731 96,762 58,969

Dari tabel diatas terlihat peningkatan jumlah kelulusan siswa pada berbagai tingkatan, selama tahun 2006-2009, hal ini menunjukkan adanya peningkatan prestasi peserta didik dalam menjalani pendidikannya disekolah. Hal ini perlu terus ditingkatkan untuk masa-masa yang akan datang Dibawah ini grafik perkembangan jumlah lulusan pada berbagai jenjang pendidikan selama tahun 2006-2009

Gambar 2.3. Grafik perkembangan jumlah lulusan pada berbagai jenjang pendidikan dari tahun 2006-2009

II-28

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

g. Kualifikasi Guru Tabel 2.21. Jumlah Guru Menurut Ijazah Tertinggi


Jenjang Pendidikan Guru Sekolah SD SMP SMA SMK Jumlah Tahun 2006 S-1 8,373 26,795 15,184 11,611 61,963 S-2 33 190 148 42 413 S-1 10,746 28,977 16,904 12,073 68,700 2007 S-2 46 214 150 64 474 S-1 16,259 32,795 19,205 13,590 81,849 2008 S-2 22 248 188 60 518 S-1 19,136 34,793 20,648 14,145 88,722 2009 S-2 24 580 517 63 1,184

No 1 2 3 4

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara

Pemerintah provinsi Sumatera Utara secara terus menerus berusaha untuk meningkatkan kualitas guru melalui program sertifikasi dan pemberian beasiswa untuk peningkatan jenjang pendidikan guru dari S0 ke S1 dan dari S1 ke jenjang S2. Dari data diatas terlihat peningkatan jumlah yang cukup signifikan sehingga dalam dua tahun terakhir (2008-2009) terjadi peningkatan kualifikasi guru berpendidikan S2 hampir 2,5 kali lipat (229%). 2.1.3.1.2. 2.1.3.1.2. Kesehatan Pada bidang kesehatan capaian yang telah diperoleh sampai dengan tahun 2010, dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.22. Capaian Indikator Bidang Kesehatan sampai dengan tahun 2010 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Indikator Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas per satuan penduduk Rasio pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Rasio dokter per 100.000 penduduk Rasio tenaga medis per 100.000 penduduk Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien Capaian 1 : 55,71 1 : 25.332 1 : 6.918 1 : 67.594 1: 14.67 1: 25.61 100% 64.20% NA 100% 100% 100% 100%

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-29

14. 15. 16.

masyarakat miskin Cakupan kunjungan bayi Rasio puskesmas/jumlah penduduk Rasio pembantu puskesmas/jumlah penduduk

69.82% 1 : 25.332 1 : 6.918

Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara 2.1.3.1.3. 2.1.3.1.3. Pekerjaan Umum Beberapa capaian indikator bidang pekerjaan umum sampai dengan tahun 2009, adalah sebagai berikut : Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik : 40,85 % Panjang jalan dilalui roda 4 : 2.753,04 Km Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (mimal dilalui roda 4) : 32.115,92 Km Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik ( > 40 KM/Jam ) : 29,08 % Luas irigasi Kabupaten dalam kondisi baik : 88.773 Ha

2.1.3.1.6. 2.1.3.1.6. Perencanaan Perencanaan Pembangunan Hasil capaian bidang perencanaan pembangunan, adalah sebagai berikut : Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 12 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Sumatera Utara Tahun 2005-2025 Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJMD yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 8 Tahun 2009 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009 - 2013 Tersedianya Dokumen Perencanaan RKPD yg telah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah

2.1.3.1.7. 2.1.3.1.7. Perhubungan Capaian Indikator bidang perhubungan antara lain adalah : Jumlah Pelabuhan Laut Bandar Udara Terminal Bis Angkutan darat : 8 Pelabuhan : 9 Bandara : 40 buah : 2.896.912 unit (tahun 2007)

2.1.3.1.8. 2.1.3.1.8. Lingkungan Hidup Indikator lingkungan hidup antara lain dapat dilihat dari jumlah rumah tangga menurut lokasi tempat tinggal dan sumber air bersih/air minum dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

II-30

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

a. Jumlah Rumah Tangga menurut lokasi tempat tinggal Tabel 2.23. Jumlah Rumah Tangga menurut Lokasi Tempat Tinggal Provinsi : Sumatera Utara, tahun 2010 No. 1 2 3 4 5 6 Lokasi Permukiman Mewah Menengah Sederhana Kumuh Bantaran Sungai Pasang Surut Jumlah Rumah Tangga 70,877 1,994,137 1,748,940 58,905 243,408 350,328

Keterangan : Sumber : BPS Suamtera Utara

Dari data diatas dapat dilihat kondisi perumahan yang sangat beragam, mulai dari kondisi yang baik berupa perumahan mewah, menengah dan sederhana, hingga perumahan yang masih dalam kondisi kumuh dan sebagian masih berada di bantaran sungai dan area pasang surut. Kondisi ini menuntut penanganan lingkungan yang lebih baik dimasa depan. b. Sumber Air Bersih/Air Minum Kondisi penyediaan fasilitas air bersih bagi penduduk Sumatera Utara sampai dengan tahun 2010, dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2.24. Jumlah Rumah Tangga dan Sumber Air Minum Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010
Sumber Air Total Rumah Tangga Ledeng 653,076 Sumur 1,079,909 Sungai 109,599 Hujan Mata Air 332,581 Kemasan 371,388 Lainnya 365,636

Keterangan : Sumber air minum dari air hujan tidak disurvey pada Sensus Penduduk 2010 Sumber : Sensus Penduduk 2010, BPS Sumatera Utara

Berdasarkan pengamatan pada beberapa titik lokasi di Kota Medan menunjukkan kualitas air sungai Deli sudah mengalami penurunanan (termasuk Kelas Air II), kecuali yang masih berada di daerah hulu (Deli Serdang), sedangkan kualitas air sungai Belawan masih tergolong baik (Kelas air I) terutama yang berada di daerah hulu dan tengah. c. Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL Telah dilakukan Analisa AMDAL, khususnya pada perusahaan besar di Sumatera Utara, sebanyak 17 dokumen dalam bentuk DPL (Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup, DPPL (Dokumen Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Hidup), KA-ANDAL dan ANDAL/RKL-RPL dan UKL-UPL

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-31

d. Penegakan hukum hukum lingkungan Penegakan hukum terhadap permasalahan lingkungan telah dilakukan melalui penanganan pengaduan masalah lingkungan, sebanyak 15 kasus pengaduan. Beberapa pengaduan terkait masalah pencemaran lingkungan telah diproses dengan melakukan verifikasi/klarifikasi kepada pihak-pihak terkait. 2.1.3.1. 2.1.3.1.9. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Capaian indikator pemberdayaan perempuan memperlihatkan terjadinya penurunan rasio kasus kekerasan dalam rumah tangga selama tahun 2007 hngga 2010. Sementara persentase partisipasi tenaga kerja perempuan sebesar 57%. 2.1.3.1.1 2.1.3.1.11 .11. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Indikator terkait dengan keluarga berencana dilihat dari rata-rata jumlah anak dalam keluarga menunjukkan penurunan dari 2,42 tahun 2007 menjadi 1,92 ada tahun 2008, namun pada tahun 2009 meningkat kembali menjadi 2,1 dan 2,07 pada tahun 2010. Hal ini perlu diwaspadai agar tidak menimbulkan tekanan kepada pertumbuhan penduduk Sumatera Utara. Disamping itu terjadi peningkatan jumlah keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I 2.1.3.1.1 2.1.3.1.12 .12. Sosial Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi yang terdapat pada beberapa Kabupaten/Kota, yang menampung anak-anak terlantar, gelandangan, cacat fisik, pengemis dan lanjut usia. PMKS yg memperoleh bantuan sosial Masyarakat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Sumatera Utara terdiri dari beberapa jenis, sebagaimana terlihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.25. PMKS Yang Memperoleh Bantuan Sosial No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis PMKS Balita terlantar Anak terlantar Anak nakal Anak jalanan Anak jermal Wanita rawan sosial ekonomi Korban tindak kekerasan Lanjut usia terlantar Penyandang cacat Tuna susila Pengemis Gelandangan Bekas narapidana Korban penyalahgunaan napza Keluarga fakir miskin
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-32

16 17 18 19 20 21 22 23 -

Keluarga rumah tidak layak huni Keluarga bermasalah sosial psikologis Komunitas adat terpencil Korban bencana alam Korban bencana sosial / pengungsi Pekerja migran bermasalah sosial Orang dengan hiv aids (odha) Keluarga rentan

Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Program yang telah dilaksanakan dalam penanganan PMKS antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, KAT dan PMKS lainnya. Program Perlingkungan dan Jaminan Kesejahteraan Sosial Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Program Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial Program Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

2.1.3.1.1 2.1.3.1.13 .13. Tenaga Kerja Tabel 2.26.


Rasio Ketergantungan Tahun 2006 s.d 2010 Provinsi Sumatera Utara
No 1. 2. 3. 4. 5. Uraian Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun Jumlah Penduduk usia > 64 tahun Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif (1) &(2) Jumlah Penduduk Usia 15-64 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) 2007 4,133,400 761,000 4,894,400 8,378,148 0.58 2008 4,147,000 779,200 4,926,200 8,794,804 0.56

Dari data tahun 2007 dan 2008, terlihat adanya penurunan Rasio Ketergantungan dari penduduk usia tidak produktif dari 0,58 menjadi 0,56. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan dalam struktur ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Utara, dimana jumlah penduduk usia produktif semakin bertambah. 2.1.3.1.14 2.1.3.1.14 . Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Perkembangan Koperasi di Sumatera Utara sampai tahun 2010 berjumlah 10.623 dengan 6.222 diantaranya adalah koperasi aktif dan 4.400 buah koperasi yang tidak aktif. Ratio Koperasi aktif sampai dengan tahun 2010 sebesar 58,57%. Kabupaten yang tertinggi Ratio Koperasi aktif yakni Kabupaten Simalungun sebesar 88,08%. Dan yang terendah adalah Kabupaten Toba Samosir sebesar 21,27%. (Lampiran 11 dan Lampiran 12) Untuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP) terdapat sejumlah 152 unit KSP dengan jumlah anggota 84.535 orang dan nasabah ber jumlah 83.326 nasabah, dengan total asset berjumlah Rp. 47,78 milyar dan jumlah pinjaman sebesar Rp.44,3 milyar (Lampiran 13) Unit Simpan Pinjam (USP) sampai dengan tahun 2010, berjumlah 3.395 unit dengan jumlah anggota 500.197 orang dan nasabah berjumlah 447.298
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-33

nasabah. Total asset yang dikelola sejumlah Rp. 594, 69 Milyar dengan jumlah pinjaman Rp. 572,37 Milyar. (Lampiran 14) Jumlah UMKM di Provinsi Sumatera Utara terdapat Usaha Mikro sebesar 1.126.498 unit dan Usaha Kecil 635.150 unit. Sementara perusahaan menengah berjumlah 124.139 unit dan usaha berskala besar berjumlah 208.692 unit (Lampiran 15) Selain itu terdapat 95 unit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang tersebar di berbagai Kabupaten/Kota. 2.1.3.1.15. Penanaman Modal Daerah a. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) dan nilai investasinya Untuk menjelaskan jumlah investor yang telah menanamkan modalnya di Sumatera Utara untuk tahun 2006 s.d 2010 dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2.27.

Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun 2006 2010 Provinsi Sumatera Utara


Uraian PMDN (2) (3) Jumlah Investor 10 Jumlah Investor 11 Jumlah Investor 13 Jumlah Investor 14 Jumlah Investor 13 JUMLAH 61 Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal Provsu Tahun (1) 2006 2007 2008 2009 2010 PMA (4) 12 26 24 20 9 91 Total (5) 22 37 37 34 22 152

Gambar 2.4. Grafik Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun 2006 2010 Provinsi Sumatera Utara

II-34

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Dari tabel dan grafik diatas terlihat penurunan jumlah investor PMA maupun PMDN. Hal ini disebabkan karena krisis global yang melanda dunia, sehingga jumlah investor mengalami penurunan. Jumlah investor PMDN memang mengalami penurunan tetapi tidak sebesar penurunan yang terjadi pada Penanaman Modal Asing (PMA). Penurunan pada PMDN sebesar 14,29 % dan pada PMA sebesar 45 %. b. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Perkembangan jumlah proyek dan nilai investasi baik yang masih dalam tahap persetujuan maupun yang sudah direalisasi di Sumatera Utara untuk tahun 2006 s.d 2010 dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2.28. Jumlah dan Nilai Investasi PMDN/PMA Tahun 2006 2010
Persetujuan Tahun Jumlah Proyek 2006 2007 2008 2009 2010 JUMLAH 47 55 71 74 21 268 Nilai Investasi JumlahProyek 32 37 37 34 21 151 Nilai Investasi Realisasi

22.920.895,61 14.552.627,03 5.950.695,75 9.546.173,77 1.607.201,66 54.577.593,82

1.090.808,48 4.974.968,63 2.943.093,92 12.047.929,86 2.010.205,62 23.067.006,51

Sumber : Badan Penanaman Modal dan Promosi Provsu. Perkembangan penanaman modal baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA), terus mengalami pasang surut dalam lima tahun belakangan ini, baik dilihat dari jumlah proyek maupun jumlah dana yang terealisasi. Hanya pada tahun 2009 terjadi sedikit peningkatan nilai investasi yang terealisasi dan kemudian menurun kembali pada tahun 2010. Tabel 2.29. Jumlah Investasi PMA Tahun 2006 s.d 2010 Provinsi Sumatera Utara
NO 1 2 3 4 5 TAHUN 2006 2007 2008 2009 2010 TOTAL JUMLAH PROYEK REN REAL % 34 12 35% 41 26 63% 53 24 45% 52 20 38% 15 9 60% 195 91 47% INVESTASI (US.$ 000) RENCANA REALISASI 1.559.072,88 54.156,31 392.487,90 330.250,53 506.981,44 255.176,02 397.085,24 940.296,46 140.134,41 110.089,62 2.995.761,87 1.689.968,94 % 3% 84% 50% 237% 79% 56%

Sumber : Badan Penanaman Modal dan Promosi Provsu Dari gambaran diatas dapat dilihat bahwa realisasi Penanaman Modal Asing mengalami peningkatan dimana pada tahun 2007 realisasi investasi PMA dari jumlah proyek meningkat dari 35 % pd tahun 2006 menjadi 63% pada tahun 2007 akan tetapi realisasi investasi ini mengalami penurunan pada tahun
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-35

2008 dan 2009 dimana masing masing nilai realisasinya hanya sebesar 45% dan 38 % hal ini sebagai dampak dari terjadinya krisis ekonomi global dan jatuhnya beberapa bursa saham dunia yang implikasi langsung pada Foreign Direct Investment ditambah lagi bahwa beberapa negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Tabel 2.30. Jumlah Investasi PMDN Tahun 2006 s.d 2010 Provinsi Sumatera Utara
NO 1 2 3 4 5 TOTAL TAHUN 2006 2007 2008 2009 2010 JUMLAH PROYEK REN REAL % 13 10 77% 14 11 79% 18 13 72% 22 14 64% 6 13 217% 73 61 84% INVESTASI (Rp.Juta) RENCANA REALISASI 7.330.166,81 594.245,38 10.627.748,03 1.672.463,33 880.881,35 391.333,72 5.575.321,37 2.644.965,26 205.857,56 954.170,40 24.619.975,12 6.257.178,09 % 8% 16% 44% 47% 464% 25%

Sumber : Badan Penanaman Modal dan Promosi Provsu

b. Rasio daya serap tenaga kerja Rasio daya serap tenaga kerja Perusahaan Modal Asing (PMA) dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2.31. Rasio Daya Serap Tenaga Kerja (PMA) Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun 2006 - 2010 Provinsi Sumatera Utara
No 1 Uraian Jumlah Tenaga Kerja yg Bekerja pada Perusahaan PMA/PMDN Jumlah Seluruh PMA/PMDN Ratio Daya Serap Tenaga Kerja 2006 9.229 2007 10.801 2008 8.839 2009 11.672 2010 3.807

2 3

22 419,50

37 291,92

37 238,89

34 343,29

22 173,05

Sumber : Badan Penanaman Modal dan Promosi Provsu

Gambar 2.5. Grafik Daya Serap Tenaga Kerja PMA selama 2006-2010

II-36

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa daya serap tenaga kerja dari tahun 2006 mengalami penurunan yang signifikan, dimana pada tahun 2006 sebesar 419,50 menjadi 291,92 atau sebesar 30.41%. Dan pada tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar 343,89 dari 238,89 ditahun 2008 atau sebesar 43.70% tetapi kembali turun di tahun 2010 menjadi 173.05 atau sebesar 49.59% hal ini disebabkan sebagian investasi bukan berada disektor riil ditambah lagi dengan penggunaan teknologi yang mendominasi investasi hal ini mengakibatkan orientasi penyediaan lapangan kerja adalah padat modal bukan padat karya. 2.1.3.1.1 2.1.3.1.16 .16. Kebudayaan a. Penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya Sumatera Utara adalah salah satu daerah yang memiliki kekayaan dan keanekaragaman budaya yang sangat menarik, hal ini dapat dilihat dari suku/ etnis yang tinggal di Sumatera Utara. Ada 8 (delapan) suku /etnis asli di Sumatera Utara, yaitu : Melayu, Batak Karo, Batak Toba, Mandailing, Batak Phakpak Dairi, Simalungun,Batak Angkola dan Nias. Selain itu terdapat juga beberapa suku/etnis pendatang antara lain adalah suku Jawa, Minangkabau, Cina dan Aceh. Untuk melestarikan keragaman budaya serta menjaga kerukunan antar suku / etnis, diselenggarakan berbagai macam festival seni budaya, antara lain yaitu : Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) yang dilaksankan rutin 1 tahun sekali. Pesta Danau Toba. Diselenggarakan setahun sekali di Kota Parapat. Festival Mejuah-juah . Diselenggarakan setahun sekali. SUMUT Gempar. Diselenggarakan rutin setahun sekali dan telah memperoleh rekor MURI. Pameran Warisan Budaya Islam. Festival Budaya Melayu. Pawai Budaya Hut RI.

b. Sarana Penyelenggaraan Seni dan Budaya. Sarana dan Prasarana adalah salah satu hal penting dalam pengembangan maupun pelestarian seni dan budaya. Provinsi Sumatera Utara memilki beberapa gedung (sarana) untuk penyelenggaraan kegiatan Seni dan Budaya, yaitu : Tapian Daya PRSU sebagai tempat penyelenggaraan Pekan Raya Sumatera, Museum Taman Budaya dan Museum Negeri. c. Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan Selain memiilki kawasan wisata alam yg memukau, Sumatera Utara juga memilki kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Benda, Situs budaya yang perlu dilestarikan antara lain yaitu : Candi Portibi di Kabupaten Padang Lawas Utara. Candi Bahal di Kabupaten Padang Lawas Utara Istana Maimun di Kota medan. Masjid Raya Medan. Budaya Loncat batu di Kabupaten Nias. Salib Kasih di Kabupaten Tapanuli Utara.

2.1.3.1. 2.1.3.1.17. 17. Ketahanan Pangan Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup,baik jumlah maupun mutunya aman.
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-37

1. Regulasi Ketahanan Pangan Menyangkut regulasi yang berkaitan dengan ketahanan pangan di Provinsi Sumatera Utara telah diterbitkan peraturan perundang-undangan yakni : a. Peraturan Gubernur Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara (Berita Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006 Nomor 14 Seri G) b. Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 25 Tahun 2009 Tentang Pengembangan Gerakan Masyarakat Mandiri Pangan Dan Swasembada Pangan. 2. Ketersediaan Pangan Utama Tabel 2.32. Ketersediaan Pangan Utama (Beras, Jagung, Kedele,Daging, Susu Dan Telur)
Tahun No. URAIAN Target 2009 Realisasi 2009 Target 2010 Realisasi 2010 Pencapaian Target (%)

1.

2.

3.

Padi Kebutuhan Konsumsi/ Kapita/Tahun (Kg) Kebutuhan Konsumsi per Tahun (Ton) Ketersediaan Beras untuk dikonsumsi*) Jagung Kebutuhan Konsumsi/ Kapita/Tahun (Kg) Kebutuhan (Konsumsi+Industri) per Tahun (Ton) Produksi Jagung (Ton) Kedele
Kebutuhan Konsumsi/ Kapita/ Tahun (Kg)

134,13 1.756.070 2.016.709

136,85 1.784.841 2.007.375

133,46 1.769.543 2.063.335

136,85 1.807.509 2.040.924

102,5 102,1 98,9

61,247 801.891

6,52 851.536

61,370 813.728

6,73 864.515

11,0 106,2

953.748
4,438

1.166.548
4,443

986.390
4,48

1.428.813
4,45

144,9
100,95

4.

Kebutuhan (Konsumsi+Industri) per Tahun (Ton) Produksi Kedele(Ton) Daging Kebutuhan Konsumsi/Kapita/ Tahun (Kg) Kebutuhan Konsumsi per-tahun (Ton) Produksi Daging yang diharapkan (Ton)
JENIS KOMODITI Produksi TELUR SUSU (L) Konsumsi/Kapita /Tahun (Kg.) TELUR SUSU

58.111

58.910

78.687

79.390

134,75

23.598 0.89

34.545 1.03

14.206 -

10.260 -

29,70 115,7

11.608 11.507
2006 90,344.89 4,698.72

13.485 13.633
TAHUN 2007 104,004.79 1,506.96 2008

2009

116,2 118,5
% rata2 perthn 2.68 (15.84)

No

1 2

87,003.81 1,648.80

91,246.68 1,719.37

1 2

5.99 0.71

8.10 0.12

6.67 0.13

6.89 0.13

3.44 (16.46)

Sumber: Statistik 2009, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Utara

II-38

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

3. Kondisi Rawan Pangan Kondisi sangat rawan pangan diukur dari konsumsi energi <1.400 Kkal/hari. Provinsi Sumatera Utara hingga saat ini masih menghadapi kondisi rawan pangan. Dari data Susenas tahun 2009, diketahui bahwa angka proporsi penduduk sangat rawan pangan di Provinsi Sumatera Utara sebesar 14,48% atau masih berada diatas angka rata-rata nasional sebesar 14,47%. 2.1.3.1.18 Perpustakaan dan Kearsipan a. Jumlah perpustakaan Berikut ini adalah Perpustakaan yang telah dibina Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provsu adalah sebagai berikut : Tabel 2.33. Jumlah Perpustakan Provinsi Sumatera Utara No. 1. Jenis Perpustakaan Perpustakaan Umum - Kabupaten/Kota - Kecamatan - Desa/Kelurahan Perpustakaan Khusus Perpustakaan Sekolah Madrasah Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan Masyarakat = Perpustakaan Rumah Ibadah - Perpustakaan Masjid - Perpustakaan Gereja Jumlah 31 Kab/Kota 10 Kecamatan 1009 Desa/Kelurahan 25 Instansi 94 sekolah 8 Perg Tinggi 40 TBM 25 Masjid 17 Gereja

2. 3. 4. 5. 6.

b. Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Berikut ini adalah grafik tingkat kunjungan Pemustaka tiap tahunnya ke Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara :

Gambar 2.6. Jumlah pengunjung perpustakaan per-tahun c. Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah Berikut ini adalah grafik koleksi buku yang ada di Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara :
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-39

Tabel 2.34. Jumlah Koleksi Buku Perpustakaan Provinsi Sumatera Utara TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 JUDUL 38,885 41,485 43,562 44,936 46,433 59,855 EKSEMPLAR 169,328 179,059 187,170 193,587 201,067 326,170

Grafik pekembangan jumlah dan Judul Buku dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 2.7. Grafik perkembangan jumlah dan judul buku d. Kearsipan Arsip Statis yang telah ditata di Bidang Arsip Daerah pada Tahun 2010 adalah sebagai berikut : Tabel 2.35. Jumlah Arsip Statis yang dikelola Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sumatera Utara
No. 1 2 3 4 5 6 7 Unit Kerja Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama Biro Organisasi dan Tatalaksana Dinas Kesejahteraan dan Sosial Dinas PU Kabupaten Nias Selatan Kabupaten Pakpak Bharat KPU Jumlah Jumlah Boks 3 2 2 15 3 4 2 31 Bungkus 16 6 25 169 19 66 25 326

II-40

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

2.1.3.1.25. 2.1.3.1.25.

Komunikasi dan Informatika

Capaian kinerja bidang komunikasi dan informatika di Provinsi Sumatera Utara yang diemban oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Utara antara lain adalah : Telah terbangunnya sistem jaringan informasi melalui Sistem LAN (Local Area Network), FO (Fiber Optic), Radio Link dan koneksi Wireless. Terdapat 6 Surat Kabar Harian (SKH) Nasional ada yang tercatat/terpantau, yaitu : 1. Kompas, 2.Tempo, Sindo, 3. Koran Jakarta, 4. Suara Pembaharuan dan 5. The Jakarta Post Surat Kabar Harian (SKH) lokal yang tercatat/terpantau ada 20 SKH yaitu : 1. Analisa 2. Andalas 3. Berita Sore 4. Harian Bersama 5. Warta Garuda 6. Harian Global 7. Harian Mandiri 8. Medan Bisnis 9. Medan Pos 10. Mimbar Umum 11. Perjuangan 12. Portibi 13. Posmetro Medan 14. Realitas 15. Sinar Indonesia Baru 16. Suara Rakyat Medan 17. Sumatera 18. Sumut Pos 19. Warta Kita dan 20. Waspada Surat Kabar Mingguan yang tercatat/terpantau ada 2 surat kabar yaitu : 1. Aktual 2. Gebrak Jumlah Penyiaran Radio di Sumatera Utara : Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL)Jasa Penyiaran Radio : 6 stasiun radio - RRI Medan, RRI Sibolga, RRI Gunung Sitoli - Radio Pemerintah Deli Serdang Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) Jasa Penyiaran Radio : 141 stasiun radio Lembaga Penyiaran Komunitas (LPK) Jasa Penyiaran Radio Jumlah Penyiaran Televisi di Sumatera Utara : Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Jasa Penyiaran Televisi : 2 - TVRI - TV Karo Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) Jasa Penyiaran Televisi : 17 Lembaga Penyiaran Berlangganan (LPB) Jasa Penyiaran Televisi : 5 Website milik Pemerintah Daerah : - Web Pemprov : 1 - Web SKPD : 22 Pameran/Expo di Pekan Raya Sumatera Utara dilaksanakan secara rutin setiap tahun Jumlah Tower (menara telekomunikasi) yang direkomendasi : 1003 unit

2.13..2. Fokus Layanan Urusan Pilihan 2.13. 2.13.2.1. 3.2.1. Pertanian a. Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya 1) Padi Luas tanam, luas panen, produktivitas, produksi serta kebutuhan beras untuk memantapkan swasembada beras di provinsi sumatera utara

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-41

Tabel 2.36. Tabel Luas tanam, luas panen, produktivitas, produksi serta kebutuhan beras Provinsi Sumatera Utara
N o. URAIAN Target 2009 Realisasi 2009 Tahun Target 2010 Realisasi 2010 Pencapaian Target (%) Tahun 2010

Jumlah Penduduk (Jiwa) 13.092.688 13.042.317 Kebutuhan Konsumsi/ 134,13 136,85 Kapita/Tahun (Kg) 3. Kebutuhan Konsumsi per 1.756.070 1.784.841 Tahun (Ton) 4. Ketersediaan Beras untuk 2.016.709 2.007.375 dikonsumsi*) 5. Surplus/Penyangga per 260.639 222.533 Tahun (Ton) (4-3) 6. Produksi GKG 3.560.856 3.527.899 7. Luas Panen (Ha) 817.277 768.407 8. Produktivitas (Kw/Ha) 43,57 45,91 9. Luas Tanam (Ha) 833,956 768.407 Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara

1. 2.

13.259.433 133,46 1.769.543 2.063.335 293.792 3.643.183 829.536 43,92 846.466

12,985,075 136,85 1.807.509 2.040.924 233.416 3.586.862 752.019 47,70 752.019

102,5 102,1 98,9 79,4 98,5 90,7 108,6 88,8

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan konsumsi beras/kapita sebesar 2,5%, sehingga tujuan untuk pengurangan konsumsi perkapita belum tercapai. Terlihat bahwa Provinsi Sumatera Utara belum berhasil menerapkan diversifikasi pangan. Sementara target ketersediaan beras untuk dikonsumsi, surplus/penyangga per-tahun, produksi GKG, luas panen dan luas tanam terus mengalami peningkatan, namun jika dibandingkan dengan target di RPJMD belum mencapai seperti yang diharapkan. Dari data penanaman padi nasional tahun 2009 diperoleh data dari Luas Panen Nasional mencapai 12.668.989 Ha maka rata-rata kontribusi luas panen padi Sumatera Utara terhadap Nasional adalah 6.25 %, sedangkan Produksi Nasional sampai tahun 2009 mencapai 62.561.146 ton, sehingga rata-rata kontribusi produksi padi Sumatera Utara terhadap Nasional sebesar : 5.74 %. Namun data rata-rata produktivitas padi di Sumatera Utara selama lima tahun : 4.35 ton/ha, masih dibawah produktifitas nasional apalagi dibandingkan dengan Jawa. Kemudian Dilihat dari Perbandingan antara Luas Panen dan Luas Sawah, Indeks Penanaman (IP) masih di bawah 2 artinya masih ada lahan sawah yang hanya ditanami 1 kali setahun. Hal ini diakibatkan irigasi yang belum berfungsi secara maksimal. 2) Jagung Tabel 2.37. Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, Produksi serta Kebutuhan Jagung Untuk Memantapkan Swasembada Jagung Di Provinsi Sumatera Utara
Tahun No. 1. 2. 3. URAIAN Jumlah Penduduk (Jiwa) Kebutuhan Konsumsi/ Kapita/Tahun (Kg) Kebutuhan Target 2009 13.092.668 61,247 801.891 Realisasi 2009 13.042.317 6,52 851.536 Target 2010 13.259.433 61,370 813.728 Realisasi 2010 12,985,075 6,73 864.515 Pencapaian Target (%) Tahun 2010 11,0 106,2

II-42

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

4. 5. 6. 7. 8.

(Konsumsi+Industri) per Tahun (Ton) Surplus/Penyangga per Tahun (Ton) Produksi Jagung (Ton) Luas Panen (Ha) Produktivitas (Kw/Ha) Luas Tanam (Ha)

151.857 953.748 261.399 36,49 266.734

315.012 1.166.548 247.782 47,08 277.424

172.662 986.390 267.934 36,81 273.402

564.298 1.428.813 279.701 51,08 272.776

326,8 144,9 104,4 138,8 99,8

Sumber

: Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa produksi jagung, surplus/penyangga pertahun dan produktifitas terus mengalami peningkatan, namun konsumsi jagung per-kapita masih belum memenuhi target jika dibandingkan dengan target pada RPJMD. 3) Kedele Tabel 2.38. Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas,Produksi Serta Kebutuhan Kedele Untuk Memantapkan Swasembada Kedele Di Provinsi Sumatera Utara
N0 1. 2. Uraian Target RPJMD 2009 2010
13.259.433

Realisasi 2009 2010*


13.042.317 12.985.075

Pencapaian Target (%) 2009 2010


99,62 97,93

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Jumlah Penduduk 13.092.668 (Jiwa) Keb. Konsumsi/Kapita/ 4,438 Tahun (Kg) Kebutuhan (Konsumsi + Industri) per Tahun 58.111 (Ton) Surplus/Penyangga -34,513 per Tahun (Ton) Produksi (Ton) Luas Panen (Ha) Produktivitas (Kw/Ha) Luas Tanam (Ha) 23.598 20.139 11,72 20.550

4,443

4,48

4,45

100,95

100,16

58.910 -24,365 34.545 29.400 11,75 30.000

78.687 -64,482 14.206 11.494 12,36 13.836

79.380 -69,120 10.260 8.397 12,22 7.758

135,41 186,83 60,20 57,07 105,46 67,33

134,75 283,69 29,70 28,56 104,00 25,86

Sumber

: Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa konsumsi perkapita mengalami peningkatan begitu juga dengan kebutuhan pertahun dimana sebagian besar untuk industri makanan. Terjadi penambahan impor selama tahun 2010 sebesar 44.755 ton (meningkat hampir 3 kali lipat). Sedangkan produksi mengalami penurunan yang diakibatkan tidak tercapainya target penanaman dan luas panen, walaupun terjadi peningkatan produktivitas sebesar 4%. Peningkatan produksi kedele diharapkan dapat dilakukan dengan peningkatan penggunaan teknologi dan penanaman bibit unggul yang sesuai dengan potensi daerah.

4). 4). Tanaman Perkebunan Luas areal tanaman perkebunan Provinsi Sumatera Utara tahun 2009, dapat dilihat pada tabel berikut :

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-43

Tabel 2.39. Luas Areal Perkebunan di Provinsi Sumatera Utara menurut jenis komoditi dan pengusahaan
No. Jenis Komoditas 2 Kelapa sawit Karet Kelapa Kakao Lainnya Jumlah Perkebunan Rakyat Luas (Ha) 3 392.721,45 376.075,93 110.757,89 66.090,95 140.012,19 1.085.658,41 PTPN Luas (Ha) 4 299.603,97 77.696,77 18.501,40 14.697,90 410.500,04 PBSN Luas (Ha) 5 244.283,33 59.314,27 1.448,80 3.739,20 1.018,00 309.803,60 PBSA Luas (Ha) 6 109.104,53 37.456,44 1.657,00 2.151,00 150.368,97 Total Luas (Ha) (3+4+5+6) 7 1.045.713,28 550.543,41 113.863,69 90.482,55 155.728,09 1.956.331,02

1 1. 2. 3. 4. 5.

Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara, 2009

Produksi berbagai komoditi perkebunan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.40. Produksi komoditas perkebunan Provinsi Sumatera Utara, Tahun 2009
No. Jenis Komoditas 2 Kelapa sawit Perkebunan Rakyat Produksi (Ton) 3 TBS 5.088.578,85 MS 1.119.487,37 IS 152.657,35 254.650,07 93.087,64 38.294,11 91.477,29 1.749.653,83 PTPN Produksi (Ton) 4 TBS 4.668.827,02 MS 1.027.141,94 IS 186.753,08 59.072,52 20.339,54 46.767,76 1.340.074,84 PBSN Produksi (Ton) 5 TBS 3.075.401,03 MS 676.588,23 IS 123.016,04 70.444,50 1.477,50 3.918,30 1.105,00 876.549,57 PBSA Produksi (Ton) 6 TBS 1.529.847,60 MS 336.566,47 IS 61.193,90 43.793,74 1.203,20 2.501,00 0,01 445.258,32 Total Produksi (Ton) (3+4+5+6) 7 TBS 14.362.654,50 MS 3.159.784,01 IS 523.620,38 427.960,83 95.768,34 65.052,95 139.350,04 4.411.536,55

1 1.

2. 3. 4. 5.

Karet Kelapa Kakao Lainnya Jumlah

Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara, 2009

a. Kelapa Sawit Secara umum kondisi perkebunan kelapa sawit di Provinsi Sumatera Utara cukup berkembang dengan baik, hal ini terbukti dengan terus bertambahnya areal perkebunan baik milik perkebunan rakyat, swasta asing maupun nasional dan perkebunan negara (PTPN) yang di Sumatera Utara saat ini terdapat 3 BUMN Perkebunan yakni PTPN II, III dan IV. Berikut ini akan disajikan data luas tanaman dan produksi kelapa sawit dari tahun 2006-2009 yang diperoleh dari data Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara

II-44

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Tabel 2.41. Luas Areal Tanaman dan Produksi Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan Pengelolaan dari Tahun 2006-2009
Pengelola Perkebunan rakyat 2006 Produksi Luas (Ha) (Ton) 363.095 4.486.478 2007 Produksi Luas (Ha) (Ton) 367.714 4.647.609 2008 Produksi Luas (Ha) (Ton) 379.853 5.070.760 2009 Produksi Luas (Ha) (Ton) 392.721 5.088.579 299.604 244.283 109.105 1.045.713 4.668.827 3.075.401 1.529.848 14.362.654

PTPN 278.272 4.067.064 287.022 4.303.313 294.943 4.422.338 Perkebunan Besar 240.856 3.631.374 238.362 3.674.045 237.462 3.064.211 Swasta Nasional Perkebunan Besar 74.660 1.299.592 107.152 1.474.121 106.948 1.527575 Swasta Asing Total 956.883 13.484.510 1.000.258 14.099.089 1.019.207 14.084.886 Sumber : Statistik Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2009

Berdasarkan data yang disajikan diatas, diperoleh gambaran bahwa terjadi fluktuasi dari perkembangan areal dan produksi perkebunan kelapa sawit di Provinsi Sumatera Utara. Dari data diatas terlihat perkembangan luas areal perkebunan sawit yang dikelola oleh rakyat mengalami peningkatan dari 363.095 hektar tahun 2006 menjadi 367.714 hektar tahun 2007 atau terjadi kenaikan sebesar 1,27%. Pada tahun 2008 juga terus meningkat baik dari sisi luas areal dan produksi dimana tahun 2008 luas areal menjadi 379.853 hektar atau meningkat 3,30% dibandingkan tahun 2007. Perkembangan luas areal pada tahun 2009 terus mengalami peningkatan menjadi 392.271 Ha walau peningkatan tidak sebesar tahun sebelumnya atau hanya berkisar 1.03%, hal ini dikarenakan sudah semakin kecilnya areal hutan yang dapat dikonversi menjadi perkebunan. 2) Karet Secara umum kondisi perkebunan karet di Provinsi Sumatera Utara cukup relatif berkembang dengan baik walaupun terjadi pengurangan areal, hal ini terjadi umumnya di areal, swasta asing maupun nasional dan perkebunan negara (PTPN) sementara untuk perkebunan karet rakyat terjadi peningkatan luas areal. Berikut ini akan disajikan data luas tanaman dan produksi komoditi karet dari tahun 2006-2009 yang diperoleh dari data Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara. Tabel 2.42. Luas Areal Tanaman dan Produksi Komoditi Karet di Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan Pengelolaan dari Tahun 2006-2009
2006 Pengelola Perkebunan rakyat PTPN Perkebunan Besar Swasta Nasional Perkebunan Besar Swasta Asing Total Luas (Ha) 347.158 56.761 41.377 31.954 477.252 Produksi (Ton) 220.633 47.824 45.202 42.916 356.577 Luas (Ha) 362.687 56.334 60.976 35.738 515.736 2007 Produksi (Ton) 233.793 54.527 69.825 44.827 402.972 Luas (Ha) 363.158 53.986 60.598 34.875 512.619 2008 Produksi (Ton) 244.404 53.881 70.380 43.633 412.299 Luas (Ha) 376.076 77.697 59.314 37.456 550.543 2009 Produksi (Ton) 254.650 59.072 70.444 43.794 427.961

Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2009

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-45

Dari data pertanaman karet tahun 2009 diatas terlihat bahwa komposisi perkebunan karet masih didominasi oleh perkebunan karet rakyat seluas 376.076 Ha atau sebesar 68.31% dengan produksi sebesa 254,650 ton atau sebesar 59.5% dari total produksi keseluruhan. Jika dilihat dari produkfitasnya perkebunan rakyat 0.68 ton/ha, masih berada dibawah dari produktifitas karet hasil Perkebunan PTPN sebesar 0.76 ton/Ha, PBSN sebesar 1.19 ton/ha dan PBSA sebesar 1.17 ton/Ha. Hal ini menunjukkan perlunya dukungan yang lebih besar kepada pertanman karet rakyat untuk meningkatkan produktifitasnya, baik dengan penggunaan teknologi yang lebih baik, atau peremajaan karet tua dengan klon yang lebih unggul. 3) Kakao Provinsi Sumatera Utara juga merupakan salah satu daerah penghasil kakao yang terbesar di Indonesia. Untuk mengetahui perkembangan luas areal dan produksi komoditi kakao di Provinsi Sumatera Utara, maka berikut ini akan disajikan data dari tahun 2006-2009 seperti tersaji dalam tabel dibawah ini : Tabel 2.43. Luas Areal Tanaman dan Produksi Komoditi Kakao di Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan Pengelolaan dari Tahun 2006-2009
2006 Pengelola Perkebunan rakyat PTPN Perkebunan Besar Swasta Nasional Perkebunan Besar Swasta Asing Total Luas (Ha) 49.171 23.761 3.048 1.934 77.915 Produksi (Ton) 32.781 20.573 3.876 3.855 61.087 2007 Luas (Ha) 56.428 19.237 4.542 3.006 83.215 Produksi (Ton) 35.313 18.747 3.876 3.885 61.793 2008 Luas (Ha) 60.221 18.711 4.217 2.117 85.268 Produksi (Ton) 36.042 17.790 3.934 2.486 60.252 2009 Luas (Ha) 66.091 18.501 3.739 2.151 90.482 Produks i (Ton) 38.294 20.339 3.918 2.501 65.053

Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2009 Dari data diatas sama halnya dengan pertanaman karet, maka perkebunan kakao yang dikelola oleh rakyat masih merupakan yang terluas yakni 38.294 Ha atau 58.87% dari luas seluruh pertanaman kakao seluas 65.053 Ha. Namun jika dilihat dari produktifitas juga masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan perkebunan PTPN, PBSN dan PBSA. Untuk tiap ha lahan hasil produksi kakao rakyat baru sekitar 0.58 ton/ha, sementara produktifitas kakao kebun PTPN sebesar 1.1 ton/Ha, kebun PBSA 1.05 ton/ha dan 1.16 ton/ha. Hal ini menunjukkan masih lemahnya pengelolaan pertanamanan kakao yang dikelola oleh rakyat, sehingga perlu pembinaan yang lebih intensif dan berkelanjutan, baik dalam budidaya maupun penanganan pasca panen dalam rangka meningkatkan harga penjualan kakao rakyat. Sementara itu dari data pertanaman rakyat ternyata masih terdapat areal yang tidak produktif (Tanaman Tidak Menghasilkan) yang membutuhkan peremajaan seluas 74.917,43 Ha yang tersebar dibeberapa kabupaten/Kota, sebagaimana tabel berikut.

II-46

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Tabel 2.44. Luas Areal Perkebunan Rakyat tahun 2008


Jenis Tanaman Karet Kelapa Sawit Kopi Arabika Kopi Robusta Kelapa Kakao Jumlah Luas Tanaman (Ha) TM T.T.M. 281.936,79 48.795,85 33.057,33 3.734,07 39.441,92 2.779,82 12.620,88 8.792,93 90.626,17 41.811,77 499.495,86 8.257,96 2.556,80 74.917,43

TBM 57.284,75 63.921,25 14.907,54 1.094,40 10.570,66 21.162,54 168.941,14

Jumlah 388.017,39 400.712,65 57.129,28 22.508,21 109.455,79 65.531,11 1.043.354,43

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2009 c. Peternakan 1) Ternak Besar Kondisi ternak yang dikategorikan besar di Sumatera Utara dari tahun ke tahun terus menunjukkan perkembangan yang positif, hal ini dapat kita lihat dalam tabel di bawah ini : Tabel 2.45. Tabel. 3.8. Kondisi Populasi Ternak Besar Menurut Jenis Ternak Provinsi Sumatera Utara dari Tahun 2006-2009
Tahun Tahun 2009 3.234 394.063 156.210 2.301 555.808

2006 2007 2008 Kuda 4.053 3.553 3.218 Sapi 251.488 384.577 388.240 Kerbau 261.794 189.167 155.341 Sapi Perah 6.526 2.093 2.290 Total 523.861 579.390 549.089 Sumber : Dinas Peternakan dan kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Utara

Jenis Ternak Besar

2) Ternak kecil Kondisi ternak yang dikategorikan kecil di Sumatera Utara dari tahun ke tahun terus menunjukkan perkembangan yang relatif fluktuatif, hal ini dapat kita lihat dalam tabel di bawah ini : Tabel 2.46. Kondisi Populasi Ternak Kecil Menurut Jenis Ternak Provinsi Sumatera Utara dari Tahun 2006-2009
Tahun Jenis Ternak Kecil Kambing Domba Babi Total 2006 643.860 275.844 822.790 1.742.494 2007 759.965 287.021 802.776 1.849.762 2008 618.394 268.291 733.864 1.620.549 2009 619.941 268.479 734.043 1.622.463

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-47

3) Ternak Unggas Kondisi ternak yang dikategorikan unggas di Sumatera Utara dari tahun ke tahun terus menunjukkan perkembangan yang relatif fluktuatif, hal ini dapat kita lihat dalam tabel di bawah ini : Tabel 2.47. Kondisi Populasi Ternak Unggas Menurut Jenis Ternak Provinsi Sumatera Utara dari Tahun 2006-2009
Tahun 2007 8.224.445 42.874.471 16.342.700 3.537.444 70.979.060

Jenis Ternak Unggas Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Ayam Kampung Itik Manila Total

2006 7.065.566 34.030.041 2.153.175 2.204.287 45.453.069

2008 7.698.504 42.891.621 11.349.742 2.908.280 64.848.147

2009 7.702.353 43.063.188 11.417.842 2.184.851 64.368.234

Secara umum, capaian target sub sektor peternakan selama tahun 2009-2010, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.48. Target dan realisasi sub sektor peternakan tahun 2009

Sumber : Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provsu, 2010 b. Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB Dari data diatas dapat disimpulkan tentang produktifitas dan konstribusi sektor pertanian tanaman pangan terhadap PDRB Sumatera Utara berdasarkan harga konstan, sebagai berikut :

Tabel 2.49. Produktivitas Bahan Pangan Utama, Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB No 1. Uraian Produktivitas Bahan Pangan (Kw/Ha) - Padi (GKG) - Jagung 2006 42,66 33,65 2007 43,53 34,08 2008 44,63 45,71 2009 45,91 47,08

II-48

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

- Kedele 2.

11,46

11,16

12,14 23,83 7,91 9,64 2,46 1,33 2,48 NA

12,36 23,78 7,85 9,69 2,45 1,31 2,48 NA

Kontribusi Sektor Pertanian 24,34 23,91 Terhadap PDRB - Tanaman Bahan 8,10 7,93 Makanan - Tanaman Perkebunan 9,75 9,58 - Peternakan dan Hasil2,55 2,51 hasilnya - Kehutanan 1,43 1,37 - Perikanan 2,51 2,51 3. Cakupan Bina Kelompok NA NA Petani Sumber : - BPS Provinsi Sumatera Utara ( Data Diolah ) - Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara Keterangan : NA = Note Available (data tidak tersedia) 2.1.3.2.2. 2.1.3.2.2. Kehutanan

Data luas kawasan hutan menurut fungsinya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.50. Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsinya Tahun 2006 - 2009 (Ha)

Tahun Produksi

Fungsi Hutan Hutan Lindung Konsevasi


362,334.00 362,334.00 362,334.00 362,333.00 362,333.36 477,070.00 477,070.00 477,070.00 477,070.00 477,070.00

Hutan Produksi Dikonversi


200,120.00 200,120.00 200,120.00 47,251.00 47,251.24 52,760.00 52,760.00 52,760.00 52,760.00 52,760.00

2000 1,818,994.00 1,294,470.00 2001 1,818,958.00 1,294,470.00 2002 1,316,155.00 1,294,470.00 2003 1,788,016.00 1,481,738.00 2004 1,788,061.19 1,481,738.00 2005 *) 1,035,690.00 1,297,330.00 2006*) 1,035,690.00 1,297,330.00 2007*) 1,035,690.00 1,297,330.00 2008*) 1,035,690.00 1,297,330.00 2009*) 1,035,690.00 1,297,330.00 Sumber : SUDA 2010, BPS Provinsi Sumatera Utara Keterangan :

*) Data berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.44/Menhut-II/2005 tanggal 16 Februari 2005 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Provinsi Sumatera Utara

Dari tabel diatas menunjukkan tidak ada penambahan luas hutan produksi, hutan lindung, hutan konservasi dan hutan produksi yang ada di Provinsi Sumatera Utara, selama kurun waktu 2006-2007. Hasil hutan berupa tahun terakhir ini terus mengalami penurunan. Hal ini seiring dengan pemberlakuan pengetatan ekspor hasil hutan dan isu pelestarian hutan.

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-49

Tabel 2.51. Produksi Hasil Hutan Sumatera Utara Menurut Jenis Produksi Tahun 2005-2009
Jenis Produksi A. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. B. 1. 2. 3. Hasil Utama Log Rimba Log Pinus Kayu Gergajian Kayu Lapis PULP Block Board Moulding Hasil Ikutan Rotan Arang Getah Tusam M 3 M 3 M 3 M 3 M 3 M 3 M Ton Ton Ton
3

Satuan

2005

2006

2007

2008

2009

77,073.11 874,056 88,195.53 155,062.09 171,248.26 714.98 32,462.00 25,380.00 1,285.39

14,251.86 1,172,316.74 112,939.08 54,655.93 147,281.50 10,354.90 105,355.53 303.52 16.464,00*) -

124,500.51 100,545.27 1,317,082.58 278,569.61 172,710.27 61,041.35 295.05 4.670,00*) 850.7 886.83

79,144.05 17,841.98 177,784.42 73,932.24 164,430.24 592 22,020.31 339.79 663.35

86,204.62 21,007.27 205,161.58 52,306.15 164,430.24 33,322.86 22,820 467.43

Sumber : SUDA 2010, BPS Provinsi Sumatera Utara Keterangan : *) Batang a. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kegiatan pengelolaan hutan yang telah dilakukan dalam tahun 2006-2009 yang terus ditingkatkan. Realisasi areal hutan tahun 2009 yang telah mengalami penghijauan seluas 11,575.20 Ha, reboisasi seluas 35,533.45 ha dan HTI seluas 19,524.30 Ha. b. Kerusakan Kawasan Hutan Luas kerusakan lahan (lahan kritis dan sangat kritis) di Provinsi Sumatera Utara yang termasuk kedalam kawasan hutan, sampai dengan tahun 2009, seluas 1.340.207 Ha yang tersebar pada beberapa Kabupaten/Kota. Kabupaten yang mengalami kerusakan hutan terluas berada pada Kabupaten Langkat seluas 161.396,89 Ha c. Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB Konstribusi sektor kehutanan terhada PDRB Harga Konstan selama tahun 20062009 terjadi penurunan konstribusi, walaupun nilai rupiahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan masih perlunya perhatian terhadap intensitas pengusahaan hutan, tanpa melupakan aspek pelestariannya. Untuk selengkapnya dapat dilihat ada tabel dibawah ini Tabel 2.52. Kontribusi Sektor Kehutanan terhadap PDRB Atas Harga Konstan (Hk) Tahun 2006 sampai dengan Tahun 2009 Provinsi Sumatera Utara
Kontribusi 2008 Hk (Juta Rp.) 1.414.946,75 Hk % 1,33

2006 No Sektor (Juta Rp.) Hk

2007 (Juta Rp.)

2009 (Juta Rp.) 1.460.018,41 Hk % 1,31

% % 1 KEHUTANAN 1.336.971,62 1,43 1.370.509,76 1,37 Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara

2010 (Juta Hk Rp.) %

II-50

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

2.1.3.2.3 2.1.3.2.3 Energi dan Sumberdaya Mineral a. Energi Listrik Sampai dengan tahun 2010, sumber daya listrik terpasang di Sumatera Utara yang dikelola oleh PLN Wilayah Sumut sebesar 7.500 KW yang berasal dari pembangkit listrik PLTM dan 132.00 KW yang berasal dari PLTA, tersebar di 8 lokasi. Untuk lebih detail dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 2.53. Inventarisasi pembangkit listrik tenaga air Yang dikelola PLN Persero Wilayah Sumut Status Tahun 2010
KLASIFIKASI PEMBANGKIT PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTA Renun PLTA Sipansihaporas PLTM = 9 PLTA = 2 DAYA TERPASANG (KW) 2 x 200 = 400 2 x 750 = 1500 2 x 750 = 1500 2 x 450 = 900 1 x 750 = 750 1 x 750 = 750 1 x 750 = 750 1 x 750 = 750 1 x 200 = 200 2 x 41.000 = 82.000 1 x 50.000 = 50.000 7.500 132.000

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

KABUPATEN Simalungun Pakpak Bharat Madina Humbahas Tap. Utara Samosir Dairi Tap. Tengah

KECAMATAN Tanah Jawa - Kerajaan sda Penyabungan - Dolok Sanggul - Dolok Sanggul - Adian Koting sda Pangururan Sumbul Sibolga

DESA / DUSUN Tonduhan Kombih I Kombih II Batang Gadis Silang Sibundong Raisan I Raisan II Boho Silalahi II Sibuluan II

TOTAL

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provsu Disamping itu terdapat Pembangkit Listrik Mini Hydro (PLTMH) pada berbagai daerah yang dapat menjadi sumber pembangkit listrik yang potensial untuk mengatasi masalah kekurangan energi listrik di Sumatera Utara Selain pembangkit listrik yang dikelola oleh PLN juga terdapat pembangkit listrik yang dikelola swasta atau yang dibangun atas swadaya masyarakat (lampiran 31) b. Sumber Daya Mineral Konstribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Sumatera Utara relatif kecil hanya sekitar 0,6% yang terutama berasal dari galian mineral/batuan (Lampiran 33). Bahan galian yang ada di Sumatera Utara, pada umumnya berupa batuan / mineral dan galian C.

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-51

2.1.3.2.4. 2.1.3.2.4. Pariwisata Konstribusi Sektor Pariwisata terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara, tahun 2010 berkisar pada angka 2,68 %, menunjukan perannya yang masih sangat kecil dibandingkan sektor lainnya. Jika dicermati lebih jauh sumbangan tertinggi adalah dari pajak restoran/rumah makan. Angka ini belum menunjukkan potensi pariwisata yang sebenarnya karena penerimaan dari restoran lebih menujukkan kepada konsumsi lokal, bukan karena kedatangan turis lokal atau asing. Hanya sedikit peningkatan arus kunjungan melalui pelabuhan Belawan di tahun 2010 memberi harapan kembalinya Sumatera Utara sebagai salah satu tujuan wisata utama di Indonesia. Untuk peningkatan sektor pariwisata sudah dibangun fasilitas berupa hotel dan penginapan yang cukup representatif di Medan, Parapat dan Berastagi. Hanya dalam hal promosi masih sangat kurang. Dukungan masyarakat pariwisata di Sumatera sangat diperlukan untuk peningkatan sektor pariwisata di Sumatera Utara. Tabel 2.54. Wisatawan Mancanegara yang datang Ke Sumatera Utara menurut Pintu Masuk
Tahun Bandar Udara Polonia Pelabuhan Laut Belawan Pelabuhan Laut Tanjung Balai Asahan 5.336 10.204 15.271 9.891 10.722 Jumlah Total

2006

109.574

6.936 7.312 7.011 5.075 15.919

2007 116.614 2008 130.211 2009 148.193 2010 * 145.553 Sumber BPS Prov.Sumatera Utara *) s/d November 2010

121.846 134.130 152.498 163.159 172.194

Tabel 2.55. Jumlah Hotel Menurut Kelas di Sumatera Utara dari Tahun 2005 s/d 2009
No. 1 2 3 4 5 6 Kelas Melati Bintang 1 Bintang 2 Bintang 3 Bintang 4 Bintang 5 Jumlah 2005 582 24 18 8 11 1 644 2006 617 23 18 8 11 1 678 Tahun 2007 657 18 17 13 10 3 718 2008 736 18 20 10 10 4 798 2009 658 21 19 13 12 4 727

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung di Sumatera Utara melalui 3 (tiga) pintu masuk pada Desember 2010 mencapai 19.278 orang, mengalami peningkatan sebesar 16,49 persen dibanding yang datang pada bulan November 2010 yang mencapai 16.549 orang. Demikian pula, jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2009, jumlah wisman pada bulan Desember 2010 mengalami peningkatan sebesar 9,23 persen, yaitu dari 17.649 orang menjadi 19.278 orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatera Utara pada Desember 2010 mencapai rata-rata 46,67 persen, atau naik 0,06 poin dibanding TPK hotel November 2010 sebesar 46,61 persen.

II-52

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

2.1.3.2.5. Kelautan dan Perikanan 2) Perikanan tangkap Dengan kondisi perikanan dunia yang cenderung terus meningkatkan produksinya, Provinsi Sumatera Utara juga terus secara maksimal meningkatkan produksi perikanan tangkanya untuk dapat dikonsumsi di dalam negeri serta di ekspor ke luar negeri. Tabel berikut ini menyajikan data mengenai perkembangan produksi perikanan tangkap Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2006-2009 Tabel 2.56. Kondisi Produksi Perikanan Tangkap Provinsi Sumatera Utara dari Tahun 2006-2010
Rincian Rincian Penangkapan di Laut Penangkapan di Perairan Umum JUMLAH *) Angka Sementara 354.907 361.673 370.179 420.659 Tahun 2006 342.653 12.254 2007 348.222 12.805 2008 354.533 13.638 2010 *) 406.135 14.524

3) Perikanan Budidaya Secara umum produksi perikanan dari hasil usaha budidaya terus meningkat dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2009, seperti tergambar dalam tabel dibawah ini. Tabel 2.57. Produksi perikanan budidaya menurut jenis budidaya Provinsi Sumatera Utara dari Tahun 2006-2010 (ton)

No.

Jenis Sarana 2008

Produksi (ton) 2009 21.336,5 1.068 33.831,03 14.524,24 406.134.66 476.895,30 2010 28.353,45 2.361,50 83.215,65 15.468,31 432.533,4 562.448,72

1 2 3 4 5

Budidaya Tambak Budidaya Air Laut Budidaya Air Tawar Perairan Umum Penangkapan Laut Jumlah

24.197,44 636,15 56.153,08 13.637,78 381.347,10 475.971,55

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan

Sementara itu menurut data produksi ekspor dan konsumsi ikan/kapita penduduk Sumatera Utara juga mengalami peningkatan.

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-53

Tabel 2.58. Produksi Ekspor, Konsumsi Ikan/Kapita Tahun 2007-2009


TAHUN 2007
1 2 EKSPOR a. Volume (ton) b. Nilai (U$) Konsumsi Ikan/ Kapita (Kg) 46.743,38 168.839.832,24 24,5

NO

KERAGAAN 2008

2009
48.935,59 195.173.631,82 27,79

2010 *)
54.550,73 206.481.658,35 29,59

46.824,89 231.117.268,40 26,09

*) Angka Sementara Naiknya konsumsi ikan/kapita pada masyarakat menjadi indikator kenaikan gizi masyarakat terutama untuk sumber protein. Tabel 2.59. Potensi Perikanan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2008 2009 2010 2.1.3.2.6. 2.1.3.2.6. Perdagangan Ekspor Ikan (ton / thn) 46.824,89 48.935,59 54.550,73 Produksi ikan (ton / thn) 475.971,55 476.895,30 562.448,72

a. Kontribusi Sektor Perdagangan Terhadap PDRB Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB adalah perbandingan antara jumlah kontribusi sektor perdagangan terhadap jumlah PDRB dalam bentuk persentase. Nilai ini menggambarkan seberapa besar peran sektor perdagangan dalam PDRB pada tahun tertentu. Tabel berikut menjelaskan kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB untuk tahun 2006 s.d 2009 di Propinsi Sumatera Utara.
Tabel 2.60. Kontribusi Sektor Perdagangan Terhadap PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) dan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Tahun 2006 s/d 2010 Provinsi Sumatera Utara
PDRB (ADHK) 2005 2006 2007 2008 2009 87.897.791,21 93.347.404,39 99.792.273,27 106.172.360,10 111.559.224,81 ADHK (Juta Rp.) 14.172.973,30 15.157.555,20 16.345.816,59 17.337.361,09 18.256.975,13 % 16,12 16,24 16,38 16,33 16,37 PDRB (ADHB) 139.618.313,64 160.376.799,09 181.819.737,32 213.931.696,78 236.353.615,83 ADHB (Juta Rp.) 23.184.835,56 26.894.911,35 30.986.841,64 36.803.957,30 39.748.675,19 % 16,61 16,77 17,04 17,2 16,82

Tahun

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara

II-54

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

b.

Ekspor Bersih Perdagangan Ekspor bersih perdagangan adalah Nilai Ekspor suatu daerah selama satu tahun dikurangi dengan jumlah Nilai Impor selama satu tahun. Untuk menggambarkan nilai ekspor bersih perdagangan di Provinsi Sumatera Utara tahun 2006 s.d 2009 dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2.61. Ekspor Bersih Perdagangan Tahun 2006 s.d 2009 Provinsi Sumatera Utara
EKSPOR Tahun Berat Bersih (Ton) 2005 2006 2007 2008 2009 2009 8.174.804 8.704.824 7.841.873 8.520.892 8.058.927 8.058.927 Nilai FOB (000 US$) 4.563.075 5.523.901 7.082.899 9.261.977 6.460.117 6.460.117 Berat Bersih (Ton) 3.717.119 4.404.172 4.745.767 5.880.759 5.236.553 5.236.553 IMPOR Nilai CIF (000 US$) 1.178.006 1.456.987 2.109.879 3.696.065 2.724.236 2.724.236 3.385.069 4.066.914 4.973.020 5.565.912 3.735.881 3.735.881 Neraca (000 US$)

2.1.3.2.7. 2.1.3.2.7. Perindustrian Otonomi daerah memberi kebebasan kepada daerah untuk merencanakan dan mengelola kegiatan ekonomi sendiri tanpa menunggu campur tangan dari pusat. Karenanya setiap daerah harus mampu mengembangkan ekonomi sesuai potensi yang dimilikinya. Potensi ekonomi tersebut tergambar dari kontribusi dari setiap lapangan usaha atau sektor. Subsektor industri pengolahan nonmigas umumnya sangat besar kontribusinya dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Sehingga daerah harus mampu mempercepat pertumbuhan subsektor industri pengolahan non-migas ini agar mendorong pertumbuhan ekonomi. Data dari BPS diatas menunjukkan pertumbuhan Industri dari tahun 2006 sampai dengan 2010 menunjukan pertumbuhan yang positif terutama pada tahun 2007 dan 2008 yang mengalami kenaikan, sedangkan pada tahun 2009 diselenggarakannya Pemilu dan Pilpres yang mengakibatkan banyak pihak menunda investasi sambil menunggu hasil dari pesta rakyat tersebut, mengakibatkan pertumbuhan Industri tersendat. Konstribusi sektor industri terhadap PDRB Sumatera Utara dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Hingga tahun 2009, konstribusi sektor ini sebesar 22,39%, atau kedua setelah sektor pertanian. Kontribusi dari sektor pengangkutan dan komunikasi, jasa serta keuangan sangat membantu dalam pertumbuhan industri di sumatera utara sedangkan sektor lainnya justru mengalami pertumbuhan minus dan ini membuat Pemprov Sumut harus berupaya kuat untuk membantu pengusaha industri nonmigas agar terus meningkatkan kinerjanya di tengah kesulitan pendanaan dan bahan baku.

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-55

Tabel 2.62. Laju Pertumbuhan Industri Berdasarkan ADHK Provinsi Sumatera Utara 2006 Hk % 5,84 2007 Hk % 11,79 Pertumbuhan 2008* 2009** Hk Hk % % 15,01 9,49 2010 Hk %

No

Provinsi

1 Sumatera Utara * Angka Sementara ** Angka Sangat Sementara

2.1.4. Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah dilihat capaian indikator kemampuan ekonomi daerah, fasilitas wilayah atau infrastruktur, iklim berinvestasi dan sumber daya manusia : 2.1. 2.1.4.1. 4.1. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Fokus Kemampuan Daerah dapat dilihat dari pengeluaran konsumsi rumah tangga per-kapita, nilai tukar petani dan pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (persentase konsumsi RT untuk non pangan).

a. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (Angka konsumsi RT perkapita)


Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Perkapita selama periode tahun 20062009 dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.63. Angka Konsumsi RT perkapitaTahun 2006 - 2009
NO Uraian Tahun 2006 287.434 168.542 118.892 2.839.316 0,10 2007 313.189 190.183 123.006 2.911.674 0,11 2008 391.726 211.733 179.993 2.980.434 0,13 2009 432.389 236.917 195.472 3.027.500 0,14

Total Pengeluaran RT 1 a. Pangan b. Non Pangan 2 Jumlah RT Rasio (Pengeluaran RT/ 3 Jumlah RT) Sumber : BPS

Tabel 2.64. Angka Konsumsi RT perkapitaMenurut Kab/Kota Tahun 2008 (Dalam Juta Rp.)
N O 1 2 3 4 5 Kabupaten / Kota Medan Deli Serdang Langkat Simalungun Labuhan Batu Pengeluaran Riil Perkapita (000 Rp.) 631,05 629,69 617,56 622,20 631,57 Rata-rata banyaknya anggota RT 4,45 4,48 4,20 4,08 4,51 Purcashing Power Parity 2.808,17 2.821,01 2.593,75 2.538,58 2.848,38 Jumlah RT 472.025 388.195 248.338 209.036 227.887 Rasio 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01

II-56

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

6 Asahan 624,23 7 Serdang Bedagai 622,90 8 Karo 617,30 9 Mandailing Natal 629,74 10 Batu Bara 624,64 11 Nias 598,85 12 Dairi 623,18 13 Tapanuli Tengah 612,93 14 Binjai 628,70 15 Tapanuli Utara 628,68 16 Tapanuli Selatan 635,81 17 Pematangsiantar 630,64 18 Padang Sidimpuan 622,58 19 Padang Lawas Utara 631,11 20 Nias Selatan 587,42 21 Padang Lawas 619,75 22 Toba Samosir 638,57 23 Humbang Hasundutan 609,62 24 17. Samosir 619,65 25 Tebingtinggi 631,85 26 Tanjungbalai 620,68 27 Sibolga 621,67 28 Pakpak Bharat 608,63 29 Labuhan Batu Selatan 628,66 30 Labuhan Batu Utara 630,79 31 Nias Utara 32 Nias Barat 33 Gunung Sitoli Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara

4,37 4,26 3,79 4,16 4,44 5,16 4,26 4,75 4,24 4,28 4,36 4,27 4,07 4,24 5,29 4,40 4,02 4,28 4,21 4,37 4,77 4,60 4,94 -

2.727,89 2.653,55 2.339,57 2.619,72 2.773,40 3.090,07 2.654,75 2.911,42 2.665,69 2.690,75 2.772,13 2.692,83 2.533,90 2.675,91 3.107,45 2.726,90 2.567,05 2.609,17 2.608,73 2.761,18 2.960,64 2.859,68 3.006,63 -

157.670 148.202 95.211 101.802 86.116 85.948 63.910 66.282 59.582 59.709 60.490 55.863 46.335 45.597 51.561 42.055 38.276 36.351 31.274 32.264 34.336 20.565 8.305 -

0,02 0,02 0,02 0,03 0,03 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05 0,05 0,05 0,05 0,06 0,06 0,06 0,07 0,07 0,08 0,09 0,09 0,14 0,36 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

b. Nilai Tukar Petani Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan hubungan antara hasil pertanian yang dijual petani dengan barang dan jasa lain yang dibeli oleh petani. Secara konsepsional nilai tukar petani adalah mengukur kemampuan tukar barang-barang (produk) pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga petani dan keperluan dalam memproduksi barang-barang pertanian. Di sini petani dalam kapasitas sebagai produsen dan konsumen. Berikut ini disajikan tabel yang memperlihatkan kondisi Nilai tukar Petani Sumatera Utara tahun 2006-2010 : Tabel 2.65. Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun 2006 s.d 2010 Provinsi Sumatera Utara
NO 1. 2. Uraian Indeks Yang Diterima Petani (It) Indeks Yang Dibayar Petani (Ib) 2006 526,4 565,4 93,1 2007 565,1 607,6 93,0 2008 114,9 112,9 101,8 2009 121,8 120,8 100,8 2010* 126,4 122,6 103,07

3. Rasio Sumber : - BPS Provinsi Sumatera Utara - Dinas Pertanian Provsu

Dari data yang disajikan di atas dapat diperoleh hasil analisa bahwa sejak tahun 2006 Nilai Tukar petani di Sumatera Utara terus mengalami peningakatan sejak tahun 2006-2010. Hal ini mengindikasikan terjadinya peningkatan
RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-57

kesejahteraan masyarakat petani di Sumatera Utara. c. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita (persentase konsumsi RT untuk non pangan) Tabel 2.66. Persentase Konsumsi RT Non-Pangan Tahun 2006-2009 Provinsi Sumatera Utara
NO 1. 2. Uraian Total Pengeluaran RT Non Pangan Total Pengeluaran RT 2006 118,892 287,434 41,363 2007 123,006 313,190 39,275 2008 179,993 391,767 45,944 2009 195,472 432,389 45,207

3. Rasio Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara

2.1. .1.4.2. 4.2. Fokus Fokus Iklim Berinvestasi


Capaian Indikator Iklim Berinvestasi dilihat dari lama pengurusan ijin dan kondisi keamanan daerah (angka kriminalitas dan aksi demonstrasi) dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Lama Proses Perijinan Dalam hal proses perizinan di Provinsi Sumatera Utara telah diterbitkan Peraturan Gubernur no. 55 Tahun 2010, tentang pedoman, tata cara permohonan dan jenis perizinan dan non perizinan dibidang penanaman modal. Dalam pergub tersebut telah diatur tentang penerbitan perizinan dan non perizinan lama proses nya 10 hari, terkecuali perizinan yang terkait dengan penataan ruang, lingkungan hidup, keamanan, keselamatan dan kesehatan masyarakat atau yang diatur khusus dengan perundang-undangan. b. Angka kriminalitas Tabel 2.67. Angka Kriminalitas Provinsi Sumatera Utara
No 1. 2. 3. No 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Jenis Kriminal Jumlah kasus Narkoba Jumlah kasus Pembunuhan Jumlah Kejahatan Seksual Jenis Kriminal Jumlah kasus Penganiayaan Jumlah kasus Pencurian Jumlah kasus Penipuan Jumlah kasus Pemalsuan uang Jumlah Tindak Kriminal Selama 1 Tahun Jumlah Penduduk Angka Kriminalitas (8)/(9) Sumber : POLDA SUMUT 2006 3.228 205 944 2006 6.392 8.232 1.962 12 2007 2.933 119 961 2007 6.515 8.890 1.778 961 2008 2.641 138 911 2008 6.098 8.805 1.361 21 2009 2.802 114 984 2009 6.526 9.089 1.670 22 2010 2.718 127 1.065 2010 6.869 10.245 2.260 13

33.517 12.304.269 0,27%

32.704 12.764.245 0,25%

31.895 12.834.371 0,24%

35.336 13.201.715 0,26%

41.806 13.339.353 0,31%

II-58

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

c. Jumlah Demonstrasi

Tabel 2.68. Jumlah Demo Provinsi Sumatera Utara


No 1 2 3 4 5 Uraian Bidang Politik 124 Ekonomi 95 Sosial Budaya 368 Kasus Pemogokan Kerja Jumlah Unjuk Rasa 668 Sumber : POLDA SUMUT 699 759 473 591 81 391 78 448 65 66 82 279 72 96 69 82 47 134 177 243 193 2006 2007 2008 2009 2010

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa ada tren peningkatan gangguan keamanan dari tahun 2006 2010 dilihat dari angka kriminalitas yang terjadi dan gangguan kenyamanan berupa aksi demonstrasi yang berakibat negatif terhadap investasi di daerah ini. Hal ini perlu diantisipasi dan dukungan dari semua pihak, baik aparat keamanan, maupun masyarakat untuk menjaga agar kondisi keamanan tetap kondusif, sehingga menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya.

2.1. 2.1.4.4. Fokus Sumber Daya Manusia


Jika dilihat dari rasio ketergantungan terlihat bahwa terjadi penurunan angka rasio ketergantungan usia tidak produktif, yang menunjukkan semakin baiknya struktur angkatan kerja di Provinsi Sumatera Utara. Tabel dibawah ini memperlihatkan data rasio ketergantungan penduduk di Provinsi Sumatera Utara. Tabel 2.69. Jumlah penduduk dan Rasio Ketergantungan Provinsi Sumatera Utara No 1. 2. 3. 4. 5. Uraian Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun Jumlah Penduduk usia > 64 tahun Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif (1) &(2) Jumlah Penduduk Usia 1564 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) 2007 4.133.400 761.000 4.894.400 8.378.148 0,58 2008 4.147.000 779.200 4.926.200 8.794.804 0,56

Sumber : BPS RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-59

Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel rangkuman berikut ini : Tabel 2.70. Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi Sumatera Sumatera Utara
CAPAIAN KINERJA
NO

BIDANG URUSAN/INDIKATOR

2007

2008

2009

2010

Standar (RPJMD Tahun 2010)

Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>)

ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 1.1. PDRB ADHB (Rp. Trilyun) 1.2. PDRB ADHK (Rp. Trilyun) 1.3. Pertumbuhan ekonomi (%) 1.4. Laju inflasi provinsi (%) 1.5. PDRB per kapita ADHB (Rp.Juta/Jiwa) 1.6. Nilai Tukar Petani (NTP) 1.7. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia (%) 1.8. Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) 1.9. Persentase penduduk miskin (%) Fokus Kesejahteraan Masyarakat 1. Pendidikan 1.1. Angka melek huruf (%) 1.2. 1.3. 1.3.1. 1.3.2. 1.3.3. 1.3.4. 1.4. 1.4.1. 1.4.2. 1.4.3. 2. Angka rata-rata lama sekolah (Tahun) Angka partisipasi kasar PAUD (%) SD/MI (%) SMP/MTs (%) SMA/SMK/MA (%) Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A (%) Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B (%) Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C (%) Kesehatan

181,82 99,79 6,90 6,60 14,17 93,00

213,93 106,17 6,39 10,72 16,81 101,80

236,35 111,56 5,07 2,61 18,38 100,8

275,70 118,64 6,35 8,0 21,23 102,36 24,36

270,1 119,25 6,27 6,50 20,05 100,51

> < > < <


>

NA NA 9.00

NA NA <

0,050 13,90

0,058 12,55

0,053 11,51

11,31

97.89% 8,60

98.11% 9,84

98.31% -

98.26% -

98.08 9,47

> >

18,82 112,92% 98,48% 75,63

30.20 115.53 99.57 78,07

53,50 115,53 99,57 86,40

NA 93,16 99,49 81,21

NA

> > >

NA NA NA

94,81% 86,84 63,06

94.24 89,01 65,01

94,24 76,29 68,18

93,16 91,56 67,55

> > >

II-60

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

CAPAIAN KINERJA
NO

BIDANG URUSAN/INDIKATOR

2007

2008

2009

2010

Standar (RPJMD Tahun 2010)

Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>)


>

Angka kelangsungan hidup bayi, dilihat dari Angka Kematian Bayi /1000 kelahiran hidup 2.2. Angka Kematian Ibu dilihat dari Kematian Ibu Melahirkan/ 100.000 kelahiran hidup 2.3. Angka usia harapan hidup (Tahun) 2.4. Persentase balita gizi buruk (%) 3. Ketenagakerjaan Ketenagakerjaan 3.1. Rasio penduduk yang bekerja (%) ASPEK PELAYANAN UMUM Fokus Layanan Urusan Wajib 1. Pendidikan 1.1. Pendidikan Anak Usia Dini 1.2. Pendidikan dasar 1.2.1. APK SD + MI 1.2.2. APM SD + MI 1.2.3. APK SMP + MTs 1.2.4. APM SMP + MTs 1.2.5. APK SMA + MA + SMK (%) 1.2.6. APM SMA 1.2.1. Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) (%) 1.2.2. Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) 1.3. 1.3.1. 1.3.2. Fasilitas Pendidikan: Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik (Unit) Sekolah pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik (Unit) Angka Putus Sekolah Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI (%) Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs (%) Angka Putus Sekolah (APS) SMA/ /MA (%) Angka Putus Sekolah (APS) SMK (%) AngkaKelulusan: Angka Kelulusan (AL) SD/MI Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Kelulusan (AL) SMK

2.1.

26,90

25,6

24.3

23.0

25

305

290

260.0

268.0

305

> > >

69,10

69,20 21,4

69.4 22.2

69.8 20.4

69,6 21,8

89.90

90.90

91.55

91.99

91,50

>

NA 109,36 92,41

NA

30.20 98.11 94.81 98.01 93.50 68.99 67.61


97.15

53.5 99.57 95.00 99.57 94.18 86.40 85.16


98.26

53.9 111.41 93.16 99.49 91.56 81.21 67.55


98,08

< > < < < < < >

112,92 94,81 98,48 86,84 75,63 63,06


97.08

97.03

8,60

8,60

9.86

9.91

9,47

>

27.569

30.262

29.834

17.750

20.343

20.076

1.4. 1.5.1. 1.5.2. 1.5.3. 1.5.4. 1.5. 1.6.1. 1.6.2. 1.6.3. 1.6.4.

1.80 3.52 2.82 4.70 255,330 149,636 94,303 55,333

1.27 1.79 2.07 1.3 263,040 149,312 93,982 55,330

1.14 5.11 6.90 2.38 277,316 155,731 96,762 58,969

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-61

CAPAIAN KINERJA
NO

BIDANG URUSAN/INDIKATOR

2007

2008

2009

2010

Standar (RPJMD Tahun 2010)

Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>)

1.6.5. 1.6.6. 2. 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6. 2.7. 2.8. 2.9. 2.10. 2.11.

2.12.

2.13. 2.14.

2.15.

2.16.

2.17. 2.18. 2.19. 3. 3.1. 3.2.

Guru yang memenuhi kualifikasi S1 (orang) S2 (orang) Kesehatan Angka Kematian Bayi /1000 KLH Angka Kematian Ibu/100.000/KLH Angka usia harapan hidup (Tahun) Prevalensi Gizi Buruk dan Kurang Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk Rasio dokter per satuan penduduk Rasio tenaga medis per satuan penduduk Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin Cakupan kunjungan bayi Cakupan puskesmas Cakupan pembantu puskesmas Pekerjaan Umum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik (%) Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi sedang (%)

68,700 474

81,849 518

88,722 1,184

26,90 305 69,10

25,6 290 69,20 21,4

24.3 260.0 69.4 22.2

23.0 268.0 69.8 20.4 1:55,71 1:25.332 1:6.918 1:14.67 1:25,61 100%

25 305 69,6 21,8

> > > >

64,20%

NA

100%

100%

100%

100% 69,82% 1:25.332 1:6.918

30 42,98

35,00 38,71

40,85 37,97

II-62

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

CAPAIAN KINERJA
NO

BIDANG URUSAN/INDIKATOR

2007

2008

2009

2010

Standar (RPJMD Tahun 2010)

Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>)

3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. 3.8.

3.9. 3.10. 4. 4.1.

Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi rusak ringan (%) Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi rusak berat (%) Rasio Jaringan Irigasi dalam kondisi baik Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Panjang jalan dilalui Roda 4 (km) Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (mimal dilalui roda 4) (km) Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik ( > 40 KM/Jam ) Luas irigasi Kabupaten dalam kondisi baik (Ha) Perencanaan Pembangunan Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA (Dokumen) Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERKADA Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD Lingkungan Hidup Persentase Penduduk berakses airminum (%) Penegakan hukum lingkungan (kasus) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Rasio KDRT (kasus) Partisipasi angkatan kerja perempuan (%) Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Rata-rata jumlah anak per keluarga (orang) Jumlah Akseptor KB Cakupan peserta KB aktif Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I

27,02

12,54 13,75

9,54 11,64 45 1: 381 2.753,04

32.115,92

29,08 % 88.773

4.2.

4.3.

4.4. 5. 5.1. 5.2. 6. 6.1. 6.2. 7. 7.1. 7.2. 7.3. 7.4.

80 15

275 53%

15 55%

19 57%

18 57%

2,42 238,062 1.250.008 1.043.158

1,92 278,858 1.322.653 1.032.237

2,1 368,377 1.404.182 1.049.325

2,07 405,961 1.429.414 1.048.191

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-63

CAPAIAN KINERJA
NO

BIDANG URUSAN/INDIKATOR

2007

2008

2009

2010

Standar (RPJMD Tahun 2010)

Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>)

8. 8.1.

8.2. 8.3.

9. 9.1. 9.2. 9.3. 10. 10.1. 10.2. 10.3. 10.4. 11. 11.1. 11.2.

11.3. 11.4. 12. 12.1. 12.2. 12.2.1. 12.2.2. 12.2.3. 12.2.4. 12.2.5. 13. 23.1. 14. 24.1. 15. 25.1. 25.2.

Sosial Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi (UPT Layanan Sosial) PMKS yg memperoleh bantuan sosial (jenis) Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (program) Ketenagakerjaan Tingkat partisipasi angkatan kerja (%) Pencari kerja yang ditempatkan (org) Tingkat pengangguran terbuka (%) Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Persentase koperasi aktif (%) Jumlah UKM non BPR (Unit) Jumlah BPR/LKM (unit) Usaha Mikro dan Kecil (Unit) Penanaman Modal Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) (Rp. Juta) Daya serap tenaga kerja (%) Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah) Ketahanan Pangan Regulasi ketahanan pangan (Perda) Ketersediaan pangan utama Padi (ton) Jagung (ton) Kedele (ton) Gula (ton) Daging Statistik Buku Provinsi Dalam Angka Kearsipan Pengelolaan arsip secara baku Komunikasi dan Informatika Jumlah jaringan komunikasi Rasio wartel/warnet terhadap penduduk

13

23

67,49 47.507

68,33 62.074 10,10

69,14 48.107 9,10 7,43 8,50

>

62,40

63,20 121.051 1.925.850 124.139

58,57 95 1.761.648

37

37

34

22 2.010.205,6 2 173,05 (1.690,80)

4.974.968,63 291,92 1.078,22

2.943.093,92 238,89 (1.281,13)

12.047.929,86 343,29 2.253,63

2.064.007 804.850 4.345

1.900.913 1.098.969 11.647

2.007.375 1.166.548 34.545 NA 13.633

2.040.924 1.428.813 10.260 NA NA Ada Ada

2,063,335 986,390 34,545 977,490 12,618

< > < >

Ada Ada

Ada Ada

Ada Ada

4 NA

II-64

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

CAPAIAN KINERJA
NO

BIDANG URUSAN/INDIKATOR

2007

2008

2009

2010

Standar (RPJMD Tahun 2010)

Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>)

25.3. 25.4. 25.5. 25.6. 16. 26.1. 26.2.

Jumlah surat kabar nasional/lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal Web site milik pemerintah daerah Pameran/expo Perpustakaan Jumlah perpustakaan

5/20 6/2 23 Tiap tahun 31 Kab/ Kota 283.505 187,170 193,587 433.812 201,067 589.553 326,170

Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun (orang) 26.3. Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah Fokus Layanan Urusan Pilihan 1. Pertanian 1.1. Produktivitas Padi (kw/ha) 1.2. Produktivitas Jagung (kw/ha) 1.3. Produktivitas Kedele (kw/ha) 1.4. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (%) 1.5. Kontribusi sektor pertanian (tanaman pangan) terhadap PDRB 1.6. Kontribusi sektor perkebunan PDRB 1.7. Konstribusi sektor peternakan 1.8. Konstribusi sektor perikanan 1.9. Konstribusi sektor kehutanan 2. Kehutanan 2.1. Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB (%) 3. Energi dan Sumber Daya Mineral 3.1. Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 4. Pariwisata 4.1. Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB 5. Kelautan dan Perikanan 5.1. Produksi perikanan 5.2. Konsumsi ikan 6. Perdagangan 6.1. Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB 6.2. Volume Ekspor (Juta ton) Nilai Ekspor (Milyar US$) 6.3. Volume Impor (Juta ton) 6.4. Nilai Impor (Milyar US$) 6.5.

43,53 35,01 11,60 23.91

44,63 45,71 12,14 23,83

45,91 47,08 12,36 23,78

47,70 51,08 12,22

43,92 36,81 11,75

> >

<

7,93

7,91

7,85

9,58 2,51 2,51 1,37

9,64 2,46 2,48 1,33

9,69 2,45 2,48 1,31

1,37%

1,33%

1,31%

1,23

1,23

1,19

0,57

0,59

0,60

562.448,72 29,59

16,38 7,84 7,08 4,74 2,11

16,33 8,52 9,26 5,88 3,69

16,37 8,06 6,46 5,24 2,72 7,98 9,14 6,24 3,57

8,81 8,41 5,76 2,88

< > > >

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-65

CAPAIAN KINERJA
NO

BIDANG URUSAN/INDIKATOR

2007

2008

2009

2010

Standar (RPJMD Tahun 2010)


-

Interpretasi belum tercapai (<) sesuai (=) melampaui (>)


-

Nilai Bersih Perdagangan (Milyar US$) 7. Perindustrian 7.1. Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB 7.2. Kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB sektor Industri ASPEK ASPEK DAYA SAING DAERAH Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah 1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 1.1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita 1.2. Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita 1.3. Produktivitas total daerah 2. Pertanian 2.1. Nilai tukar petani Fokus Iklim Berinvestasi 1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 1.1. Angka kriminalitas yang tertangani 1.2. Jumlah demo 1.3. Lama proses perijinan 1.4. Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha 1.5. Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa Fokus Sumber Daya Manusia 1. Ketenagakerjaan 1.1. Rasio lulusan S1/S2/S3 1.2. Rasio ketergantungan 6.6.

4,97

5,56

3,73

5,56

23,66

22,89

22,39

< <

1,77

1,77

1,76

313.189 123.006

391.726 179.993

432.389 195.472

93,0

101,8

100,8

102,36

6.285 581 10 Hari 1

NA

NA

NA

NA

0.58

0.56

2.1.5 2.1.5. 1.5. Ekonomi dan Keuangan Daerah

Secara umum gambaran hasil Analisis Ekonomi dan Keuangan Daerah secara umum dapat dilihat pada tabel berikut :

II-66

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Tabel 2.71. Perkembangan Indikator Makro Ekonomi Provinsi Sumatera Utara


No 1 1 2 3 4 5 6 Indikator Makro 2 PDRB (Harga Berlaku) PDRB (Harga Konstan) Tingkat Pertumbuhan Ekonomi / PDRB Harga Berlaku Tahun Tertentu Tingkat Pertumbuhan Ekonomi / PDRB Harga Konstan Tahun Tertentu Tingkat Inflasi Struktur PDRB Pendekatan Produksi Atau Sektoral : - Pertanian - Pertambangan & Penggalian - Industri Pengolahan - Listrik, Gas dan Air Bersih - Bangunan - Perdagangan, Hotel & Restoran - Pengangkutan dan komunikasi - Keuangan, persewaan & jasa perusahaan - Jasa - jasa Produktivitas Sektoral yang merupakan Rasio antara Nilai Tambah Bruto (NTB) setiap Sektor terhadap jumlah Tenaga Kerja di sektor yang bersangkutan - Pertanian - Pertambangan & Penggalian - Industri Pengolahan - Listrik, Gas dan Air Bersih - Bangunan - Perdagangan, Hotel & Restoran - Pengangkutan dan komunikasi - Keuangan, persewaan & jasa perusahaan - Jasa - jasa Besaran ICOR (Incremental Capital Output Ratio) Jumlah Penduduk Miskin Tingkat Pengangguran (Triwulan III 2010) Disparitas Pendapatan Regional yang dilihat dari perbedaan : - Pendapatan Perkapita - Kemampuan Investasi (Triwulan III 2010) - Besaran Indeks Gini (Gini Ratio Index) - Besaran IPM (indeks Pembangunan Manusia) - dan sebagainya Berbagai Macam Besaran Rasio dan Perbandingan-perbandingan - Pajak Daerah terhadap PDRB - Biaya Pendidikan, Kesehatan, Penelitian dan sebagainya terhadap PDRB - Perbandingan Penerimaan Pemerintah Daerah (PAD dan Dana Perimbangan terhadap PDRB) Satuan 3 Triliun Rp Triliun Rp % % % 2,61 8,00 Realisasi 2009 2010 4 5 236,35 306,95 111,56 118,64 5,07 6,42 Bertambah / Berkurang 6 70,60 7,08 1,35 5,39 (0,11) (0,33) (0,03) 0,09 (0,01) 0,13 (0,05) 0,36 Proyeksi 2011 2012 7 8 270,01 349,27 127,01 135,57 22,43 25,12 9,28 6,5 9,75 6,0

% % % % % % % % %

23,03 1,37 23,29 0,98 6,30 19,01 8,90 6,65 10,45

22,92 1,37 22,96 0,95 6,39 19,00 9,03 6,60 10,81

22,76 1,36 22,98 0,98 6,39 19,04 9,05 6,59 10,85

22,50 1,34 23,01 0,89 6,89 19,02 9,10 6,60 10,74

0,985 5,736 4,985 6,153 2,529 1,781 3,269 13,114 1,613

0,969 5,736 5,893 2,634 1,833 3,768 14,358 1,353

(0,015) (5,736) 0,751 (0,260) 0,104 0,052 0,499 1,244 (0,260) (0,009) (1.020) 2,850 7,150 0,362 6,5 -

8 9 10 11

Juta Jiwa %

1,499 8,45

1,490 7,43

1,379 7,6

1,296 6,9

Rp Juta Rp Triliun -

18,38 49,98 73

21,23 57,13 0,36 79,5

22,43

25,12

79,5

80,5

12

% %

0,0086

0,0083

(0,001)

0,0118

0,0098

0,014

0,0126

0,0165

0,0138

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-67

2.2 2.2.

Berjalan alan Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD sampai Tahun Berj dan Realisasi RPJMD

Evaluasi pelaksanaan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun lalu (2009 dan 2010), didasarkan pada pencapaian target yang telah ditetapkan serta berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2009 2013 yang merupakan penjabaran tahun ke-tiga dari masa bhakti Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat Kinerja RKPD tahun lalu antara lain untuk menilai/mengidentifikasi program dan kegiatan yang belum terealisasikan atau belum terlaksana 100% (seratus persen), untuk diusulkan lagi pada penyusunan RKPD tahun 2012. Selain itu untuk mereview RPJMD dan RKPD, dengan memperhatikan dokumen RKPD tahun berjalan Keberhasilan kinerja pelaksanaan pembangunan daerah salah satunya dapat dilihat dari capaian Indikator makro pembangunan, baik indikator makro pembangunan sosial, maupun indikator makro pembangunan ekonomi. Salah satu indikator makro pembangunan sosial yang dapat dijadikan ukuran dalam melihat gambaran keberhasilan pelaksanaan pembangunan yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pembangunan manusia merupakan paradigma pembangunan yang menempatkan manusia sebagai fokus dan sasaran akhir dari seluruh kegiatan pembangunan, yaitu : meningkatnya derajat pendidikan, meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dan tercapainya kehidupan yang layak. Selanjutnya, salah satu indikator makro pembangunan ekonomi yang dapat dijadikan ukuran dalam melihat gambaran keberhasilan pelaksanaan pembangunan, khususnya kemampuan suatu daerah dalam menghasilkan pendapatan yaitu : PDRB,Laju Pertumbuhan Ekonomi (atas dasar harga Konstan), Pendapatan per Kapita dan Tingkat Inflasi. Perkembangan capaian pelaksanaan kinerja pembangunan Provinsi Sumatera Utara selama 2 (dua) tahun sebelumnya (2009-2010) adalah sebagai berikut : 2.2.1. Review Capaian Kinerja RPJMD Review capaian kinerja RPJMD sampai dengan tahun 2010, target yang ingin dicapai pada tahun 2011 dan proyeksi untuk tahun 2012, dapat dilihat pada tabel berikut ini :

II-68

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Tabel 2.72. Evaluasi Capaian Kinerja RPJMD


NO. INDIKATOR KINERJA UTAMA CAPAIAN TAHUN 2009 2009 CAPAIAN TAHUN 2010 2010 TARGET 2011 PROYEKSI TAHUN 2012 2012 PERMASALAHAN KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN

Komitmen Mewujudkan Masyarakat Sumatera Utara yang Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Yang Maha Esa 1. Rasio tempat ibadah per 1: 381 satuan penduduk 2. Pelayanan publik yang baik melalui Good Terbentuknya Governance dan Clean Badan Layanan Government Terpadu Terbentuknya LPSE LPSE terbentuk di 33 Kab/Kota

Keberadaan rumah ibadah yang tidak merata di daerah Masih adanya persepsi lambannya pelayanan aparat pemerintah dan kurangnya daya saing daerah Masih adanya isu KKN dalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan instansi pemerintah

Kemudahan syarat pendirian rumah ibadah Penguatan Lembaga perijinan terpadu

Pembentukan LPSE diseluruh Kabupaten/Kota seSumatera Utara dalam mendukung pemberlakuan sistem e-procurement dalam pengadaan barang dan jasa di instansi pemerintah

Komitmen Mewujudkan Rakyat tidak lapar 1. Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar - Padi (Kw/Ha)

45,91

47,70

44,27

44,62

Luas tanam belum tercapai Produktifitas masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi target produksi Irigasi belum optimal Konsumsi masih rendah

Pencetakan sawah baru Penanaman bibit unggul adaptif Pembangunan dan perbaikan Irigasi Diversifikasi pangan non beras dengan meningkatkan konsumsi jagung Tumpang sari dengan kedele

- Jagung (Kw/Ha)

47,08

51,08

37,15

37,48

Luas tanam belum tercapai

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-69

- Kedele (Kw/Ha)

12,36

12,22

11,76

11,77

Luas tanam belum tercapai Produktifitas masih rendah Bibit unggul masih terbatas

- Daging (ton)

186

186,06

186

186

Ketergantungan impor masih tinggi Populasi masih kurang Pengembangan ternak masih terbatas

2.

Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (%)

22.84%

23.03

22,18

21,88

Anomali iklim makro

dan lahan kebun TBM Tumpang sari dengan jagung Penanaman bibit unggul dan teknologi pertanian Revitalisasi BBI untuk pengadaan benih Pengadaan bibit ternak sapi untuk menambah populasi Pembangunan Cluster industri pengolahan ternak Integrasi ternak dengan kebun dan hutan (agroforestry) Manajemen sistem usaha tani dan maksimalisasi peran BMG

Komitmen Mewujudkan Rakyat Tidak Bodoh 1. APK PAUD

30.20

53.5

NA

NA

2. 3.

APK SD + MI APM SD + MI

98.11 94.81

99.57 95.00

111,40 92,66

111,64 92,36

4. 5.

APK SMP + MTs APM SMP + MTs

98.01 93.50

99.57 94.18

101,19 93,29

104,00 96,20

Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Sumatera Utara pada tahun 2010 53,50 persen masih dibawah ratarata APK PAUD Indonesia yang sebesar 53,70 Angka Partisipasi Kasar (APK) Sekolah Dasar (SD) di Sumatera Utara sebesar 94,24 masih dibawah ratarata APK Nasional yang sebesar 95,23 APK SMP/MTs Nasional = 98,11% Hal ini berarti bahwa APK SMP/MTs Sumut lebih tinggi daripada APK SMP/MTs

Pembinaan terhadap Lembaga PAUD di Kabupaten/Kota

Pemberian bantuan bagi siswa dari keluarga tidak mampu

Pemberian bantuan bagi siswa dari keluarga tidak mampu

II-70

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

6. 7.

APK SMA + MA + SMK (%) APM SMA

68.99 67.61

86.40 85.16

82,46 68,50

86,29 71,59

8.

APK Perguruan Tinggi

16,87

18,19

9.

Angka Melek Huruf (%)

98.31

98.26

98.21

98.33

10.

Angka Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun)

9.86

9.91

9,66

9,86

secara Nasional APK SMA/MA/SMK Nasional = 69,6%, yang berarti APK SMA/MA/SMK Sumut lebih tinggi daripada APK SMA/MA/SMK secara Nasional Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT) di Sumatera Utara pada tahun 2010 sebesar 18,19 persen masih dibawah rata-rata APK (PT) Perguruan Tinggi Nasional sebesar 18,36 Masih terdapat buta aksara usia produktif diatas 15 tahun Target Wajib Pendidikan Dasar 9 Tahun sudah tercapai tetapi perlu ditingkatkan untuk Wajib Pendidikan Dasar 12 Tahun

Pemberian bantuan bagi siswa dari keluarga tidak mampu dan revitalisasi SMK

Pemberian bea siswa bagi siswa berpretasi dari keluarga miskin untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang D-I dan D-III

Pembelajaran di luar ruang kelas dan peningkatan kesempatan belajar Perluasan kesempatan belajar formal melalui kemudahan sarana dan prasarana serta tenaga kependidikan

Komitmen Mewujudkan Rakyat tidak Sakit Angka kelangsungan 1. hidup bayi (Angka Kematian Bayi) 2. Angka Kematian Ibu Melahirkan Usia harapan hidup Prevalensi balita gizi buruk dan kurang

23,0

23.0

24

23

260

268.0

295

285

3.

69.4

69.8

70,63

70,96

Target sudah tercapai namun AKB masih cukup tinggi di beberapa Kabupaten Beberapa Kabupaten sudah memenuhi target namun masih ada yang AKI tinggi Beberapa Kabupaten sudah memenuhi target namun masih ada disparitas Target rata-rata sudah tercapai namun masih ada

Meningkatkan kesehatan ibu pra kehamilan Meningkatkan layanan kesehatan bagi ibu yang melahirkan Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada kabupaten yang belum memenuhi target Peningkatan kesehatan bagi ibu pra kehamilan dan

4.

22,2

20.4

21,2

20,6

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-71

6.

Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk

1:55,71

7.

1:25.332

8.

1:6.918

beberapa Kabupaten yang prevalensi balita gizi buruk Sangat Tinggi (diatas 30%) Keberadaan Posyandu sudah kurang berperan aktif sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar masyarakat Kurangnya fungsi pelayanan Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Keterbatasan daya tampung pasien di Rumah Sakit

selama masa pertumbuhan balita Revitalisasi posyandu melalui rehabilitasi posyandu dan pemberian insentif bagi tenaga pelayanan kesehatan Revitalisasi Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Pemberian kemudahan bagi pihak swasta dalam mendirikan Rumah Sakit dan pemberian stimulan bantuan melalui Hibah dan Bansos Pemberian insentif dan beasiswa bagi tenaga pelayanan kesehatan yang bertugas di daerah terpencil dan tertinggal. Pembinaan bidan melalui seminar, workshop, lokakarya dan pelatihan keterampilan

9. 10.

Rasio dokter per satuan penduduk Rasio tenaga medis per satuan penduduk Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA

1:14.67 1:25,61

11. 12.

100% 64,20%

Kurang meratanya keberadaan tenaga pelayanan kesehatan di daerah disebabkan ketertarikan melayani di daerah perkotaan Kurangnya kompetensi SDM Bidan

13.

NA

14. 15.

100% 100%

Masih terdapatnya kondisi balita gizi kurang dan gizi buruk serta pemberian imunisasi yang tidak lengkap

Masyarakat kurang memahami gejala penyakit yang diderita dengan cepat

Pemberian imunisasi, makanan pengganti ASI dan makanan tambahan secara gratis bagi balita melalui Puskesmas, Pustu, Pusling dan Posyandu Sosialisasi gejala penyakit penderita TBC BTA dan BDB dan tindak lanjut

II-72

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

16.

17.

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin Cakupan kunjungan bayi

100%

sehingga penanganan selalu terlambat Masyarakat miskin yang menerima pelayanan kesehatan rujukan belum tertangani seluruhnya melalui Jamkesmas Kunjungan rutin bayi melakukan imunisasi masih kurang Menurunnya fungsi Pelayanan Dasar Puskesmas, Pembantu Puskesmas

penanganan pengobatan dasar

dengan

100%

18.

69,82%

19. 20.

Cakupan puskesmas Cakupan pembantu puskesmas

1:25.332 1:6.918

Pengalokasian dana Jamkesda bagi masyarakat miskin di luar peserta Jamkesmas, Askes, Asabri dan Jamsostek Pemberian imunisasi dasar secara gratis melalui pelayanan Posyandu dan Puskesmas Revitalisasi Puskesmas dan Pembantu Puskesmas

Komitmen mewujudkan Rakyat Punya Masa Depan 1. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) (%) 2. Pencari kerja yang ditempatkan 3. Persentase koperasi aktif (%) 58,57 48.107 69,14 Rendahnya kemampuan SDM angkatan kerja sehingga kurang memenuhi permintaan kesempatan kerja Peningkatan kualitas angkatan kerja melalui berbagai pelaksanaan berbagai pelatihan kerja dan pemagangan serta menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan Pelatihan dan pemagangan para pencari kerja oleh perusahan pencari pekerja Pelatihan dan pembinaan Koperasi serta pemberian aksessibilitas permodalan yang murah antara lain dengan skim kredit berbunga murah seperti dengan pendirian Badan layanan Umum Daerah (BLUD)

Penempatan angkatan kerja masih belum memenuhi permintaan kesempatan kerja Produktifitas koperasi yang masih rendah serta sumber daya manusia belum mampu untuk aplikasi sistem informasi teknologi khususnya pasar

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-73

dengan Bank 4. 5. Usaha Mikro dan Kecil Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) 6. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) 95 Penerbitan izin usaha yang masih terpusat di Pusat, selain itu juga daya saing infrastruktur yang rendah Promosi investasi yang masih rendah, serta permasalahan lokasi investasi yang belum jelas (status lahan yang bermasalah)

konsep

Gramming

34

22

12.047.929,86

2.010.205,62

7.

Daya serap tenaga kerja

343,29

173,05

Masih rendahnya tenaga kerja

serapan

8.

Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah)

2.253,63

(1.690,80)

Proses perizinan yang masih birokratif, serta status lokasi usaha yang masih belum pasti (sengketa lahan)

Nilai Tukar Petani (NTP)

100,8

102,36

102,45

102,51

NTP sudah memenuhi target, namun masih ada disparitas ntar kabupaten Perlu kerja keras untuk menanggulangi Angka Kemiskinan sesuai Target MDGs 2015 sebesar 7,5%

10

Angka Kemiskinan

11,51

11,31

8,55

7,25

Perlu ada desentralisasi penerbitan izin investasi di daerah serta perbaikan fasilitas infrastruktur khususnya jalan dan energi Promosi investasi harus terus ditingkatkan baik skala internasional maupun nasional, serta komitmen Pemerintah dan DPR untuk segera menerbitkan UU tentang Pertanahan yang baru Menyelaraskan kurikulum pelatihan dan pemagangan sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja Harus terdapat SOP untuk pengurusan izin investasi dan biaya yang jelas untuk pengurusan izin investasi serta ada payung hukum tentang ruang (RTRW Provsu) harus egera selesai diperdakan Perlu peningkatan SDM petani dengan penyuluhan pertanian dan bantuan permodalan Perlu terobosan untuk perluasan kesempatan kerja dan berusaha

II-74

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

11

Angka Pengangguran

8,45

7,43

7,60

6,90

12

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

73,8

NA

79,50

80,50

Masih perlu upaya serius untuk mengatasi Angka Pengangguran Terbuka sesuai Target MDGs 2015 sebesar 7% Target IPM tahun 2009 sudah tercapai, namun disparitas antar Kabupaten masih sangat jauh

Perlu terobosan untuk perluasan kesempatan kerja dengan meningkatkan investasi dan peluang usaha produktif Perlu peningkatan pada aspek terkait kesehatan (angka harapan hidup) pendidikan (angka melek huruf dan lama sekolah), dan ekonomi (pengeluaran riil/ perkapita)

Pengembangan Infrastruktur Wilayah 1. Tingkat Kemantapan Jalan(%)

35,00%

40,85

48,19%

65,21%

Kondisi topografi yang sangat bervariatif dimana daerah dataran rendah rawan bencana banjir, sedangkan di daerah pegunungan rawan longsor Di kawasan pegunungan dan hutan lindung lebar standar 7 m tidak terpenuhi Berat kenderaan angkutan barang yang melebihi kapasitas jalan Keuangan yang terbatas Pelaksanaan pembebasan lahan untuk pelebaran jalan Peralatan kerja yang tidak memadai

Peningkatan alokasi anggaran APBD dan APBN Peningkatan SDM dan Kelembagaan Regulasi pembatasan berat kenderaan Peningkatan Peralatan

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-75

2.

Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik ( > 40 KM/Jam ) (%)

29,08%

41,30%

54,62%

SDM yang terbatas Kemampuan keuangan yang terbatas sehingga kapasitas jalan dan geometri jalan tidak sesuai dengan standar teknis minimal 1. Menurunnya kondisi irigasi teknis dan semi teknis akibat kerusakan alat ukur dan bangunan irigasi. 2. Kondisi jaringan irigasi secara keseluruhan masih banyak yang belum dilengkapi bangunanbangunan irigasi yang berfungsi sebagai pengatur pembagian air , pengendali kelebihan air dan pengamanan terhadap kerusakan. 3. Daerah irigasi di dataran tinggi yang jaringan irigasinya terletak pada lereng-lereng perbukitan rentan terhadap longsor. 4. Terbatasnya dana pengembangan dan pengelolaan irigasi dan rawa. 5. Penurunan fungsi jaringan irigasi dan belum lengkapnya dan/telah rusaknya bangunan pengatur sehingga pengalokasian air tidak

Peningkatan bantuan APN untuk penanganan jalan di Kab/Kota

3.

Jaringan irigasi Pemeliharaan Rutin

36.663 Ha (50%)

44.000 Ha (60%)

47.660 Ha (65%)

51.320 Ha (70%)

Meningkatkan fungsi jaringan irigasi pada kewenangan Provinsi melalui perbaikan/ rehabilitasi jaringan irigasi

II-76

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

optimal menaikkan intensitas tanam, saat ini intensitas tanam 115 %. 6. Terjadinya alih fungsi lahan pada Daerah Irigasi menjadi non pertanian. 7. Sulitnya pelaksanaan pembebasan tanah untuk kebutuhan infrastruktur SDA. 8. Kelembagaan/orgasnisasi pemakai air irigasi yang masih lemah dan belum berkembang untuk menunjang sistem pengelolaan irigasi yang berkelanjutan. 9. Masih lemahnya pemahaman tentang berbagai kebijakan dan regulasi dalam pengembangan dan pengelolaan irigasi. 10.Belum terlaksananya pengelolaan aset irigasi dengan baik yang sangat penting untuk Penyusunan Rencana Pengembangan dan Pengelolaan Irigasi (RP2I) 11.Belum aktifnya Komisi Irigasi Provinsi Sumatera Utara serta belum terbentuknya Komisi Irigasi kabupaten pada sebagian besar kabupaten di Provinsi

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-77

Sumatera Utara Perbaikan/Peningkatan Jaringan Rawa Pemeliharaan Rutin 1.300 Ha (50%) 27.780 Ha (45%) 1000 Ha (53%) 2.500 Ha (50 %) 30.866 Ha (50%) 1.800 Ha (55 %) 3.000 Ha (60 %) 33.952 Ha (55%) 1.800 Ha (55 %) 4.000 Ha (80 %) 37.039 Ha (60%) 2.100 Ha (60 %) 1. Terbatasnya dana pengembangan dan pengelolaan Rawa. 2. Terjadinya alih fungsi lahan pada Daerah Rawa menjadi non pertanian setelah dibangun jaringan pengairan 3. Tidak adanya lembaga masyarakat Pengelolaan Jaringan Rawa Terbatasnya dana pengembangan dan pengelolaan Sungai. Meningkatkan fungsi jaringan Rawa pada kewenangan Provinsi melalui perbaikan/ normalisasi /rehabilitasi jaringan Rawa

Perbaikan/Peningkatan

Penanganan Sungai /Pantai

Tebing

2.483 m (55 %) 4.895 m (55 %) 8.750 m (70 %) 2 (67.7%)

6.205 m (59 %) 5.700 m (60 %) 13.495 m (88 %) 2 (50 %)

3.300 m (60 %) 6.175 m (65 %) 8.200 m (80 %) 4 (100 %)

4.400 m (80 %) 6.650 m (70 %) 8.712 (85%) 4 (100%)

Penanganan banjir akibat sudah berkurangnya hutan di daerah hulu sungai

Normalisasi /Pelurusan Sungai Perbaikan dan pembangunan tanggul banjir Penyediaan Air baku/Embung

Terbatasnya danapenyediaan air baku

Penyediaan sarana air baku sebagai kebutuhan dasar masyarakat seiring dengan peningkatan penduduk dan terjadinya krisis air

5. 6. 7. 8.

Rasio elektrifikasi desa Rasio elektrifikasi rumah tangga Cakupan pelayanan air minum (%) Status Mutu Sumber Air Minum

80 Sedang Layak Minum

II-78

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

2.2 2.2.2. Hasil Evaluasi terhadap RKPD sampai dengan Tahun Berjalan Gambaran Makro hasil evaluasi terhadap RKPD tahun 2009-2010 untuk melihat sejauh mana pencapaian program dan kegiatan. Hasil evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu serta tahun-tahun sebelumnya pada periode RPJMD dapat memberikan gambaran kinerja pencapaian terhadap target RPJMD, yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan arah kebijakan bidang-bidang urusan pemerintahan apa saja yang perlu dipacu perkembangannya dan yang perlu dipertahankan kinerjanya. Evaluasi meliputi seluruh program dan kegiatan yang dikelompokkan menurut kategori urusan wajib/urusan pilihan pemerintahan daerah. Secara ringkas capaian target kinerja keluaran kegiatan dan realisasi target capaian kinerja program tahun lalu terhadap RPJMD dapat dilihat pada tabel dihalaman berikut ini :

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-79

Tabel 2.73. Gambaran Umum Hasil Evaluasi RKPD Tahun 20092009-2010

Keterangan : Capaian Indikator Kinerja untuk APK PAUD, APK SD/MI belum memenuhi target yang diharapkan untuk tahun 2010 Capaian Indikator Kinerja APM SD/MI, APM SMA Tahun 2010 telah melebihi target RPJMD Tahun 2013, selebihnya belum mencapai target

II-80

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Keterangan : Capaian Indikator Kinerja Tahun 2010 telah memenuhi target yang diharapkan pada RPJMD Tahun 2013 Capaian Indikator Kinerja Tahun 2010 untuk Angka Kematian Bayi dan Prevalensi Gizi Buruk belum memenuhi target RPJMD Tahun 2013

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-81

Keterangan : Capaian indikator kinerja untuk perbaikan rawa dan sungai belum memenuhi target yang diharapkan untuk RPJMD Tahun 2013, semantara capaian indicator kinerja lainnya telah dapat memenuhi tartet sebagaimana yang diharapkan pada RPJMD Tahun 2013.

II-82

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Keterangan : Capaian indikator kinerja pembangunan jalan dan jembatan tidak dapat memenuhi target yang diharapkan karena sangat terbatasnya dana yang tersedia

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-83

Keterangan : Capaian Indikator Produktifitas padi telah memenuhi target yang diharapkan, namun belum dapat memenuhi target ketersediaan beras yang diharapkan, namun masih diperlukan langkah lebih lanjut untuk dapat mempertahankan swasembada beras karena semakin meningkatnya konsumsi beras/kapita/tahun dengan melakukan intensifikasi penanaman (peningkatan indeks pertanaman) dan diversifikasi pangan utama non beras.

II-84

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Keterangan : Produktifitas jagung telah memenuhi target yang diharapkan, dan telah memenuhi target ketersediaan yang diharapkan, namun masih diperlukan peningkatan luas lahan untuk memenuhi target konsumsi jagung (diversifikasi pangan)

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-85

Keterangan : Produktifitas kedele belum memenuhi target yang diharapkan, masih diperlukan peningkatan luas lahan untuk memenuhi target konsumsi kedele (untuk industri pangan)

II-86

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Keterangan : Produksi tanaman perkebunan belum dapat memenuhi target sebagaimana yang diharapkan Produksi perikanan belum dapat memenuhi target demikian juga target konsumsi ikan belum mencapai target

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-87

Keterangan : Belum dapat memenuhi target penurunan jumlah pemotongan sapi impor

II-88

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

Keterangan : Belum dapat memenuhi target yang diharapkan

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-89

2.2.3. Penelaahan terhadap RPJMN dan RKPD RKPD Provinsi Tabel 2.74. Identifikasi Kebijakan Nasional Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
No. (1) 1. Kebijakan Nasional RKPD Provinsi (3) Peningkatan ketersediaan bahan pangan, dengan kebijakan intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi bahan pangan dengan sasaran pokok terwujudnya swasembada beras di Sumatera Utara Pengelolaan terpadu perikanan darat dan perikanan laut Pengembangan cluster industri hilir CPO, perikanan (ikan teri dan ikan bilis) Pembangunan PLTA Asahan III, dan PLTA Asahan IV Pengembangan tujuan wisata Danau Toba, Nias, Pantai Cermin dan Bukit Lawang dan pengembangan situs budaya di Kabupaten Tobasa Forum Rakergub se-Sumatera

RPJMN *) (2) Pengembangan Sumatera Utara sebagai salah satu sentra produksi pertanian dan perkebunan;

Lain-lain (4) Revitalisasi UPT dan BBI untuk meningkatkan ketersediaan benih/bibit tanaman pangan, perkebunan dan perikanan dan Gema Pangan

2. 3. 4.

Pengembangan sentra produksi perikanan dan hasil laut; Pengembangan gugus (cluster) industri unggulan; Pengembangan Sumatera Utara sebagai salah satu sentra industri migas dan lumbung energi nasional; Pengembangan industri pariwisata alam dan budaya;

Pembangunan sarana dan prasarana pendukung (kapal, pelabuhan perikanan dan pasar lelang)

5.

6. 7. 8.

9.

Pengembangan sistem jaringan listrik terintegrasi; Penguatan keterkaitan domestik wilayah Sumatera; Pengembangan Sumatera sebagai pool angkatan kerja berkualitas dan berdaya saing regional ASEAN; Peningkatan program penanggulangan kemiskinan;

Pengembangan perdesaan

II-90

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

10. 11. 12. 13.

Reformasi birokrasi dan tata kelola; Pengembangan kawasan perbatasan sebagai beranda depan wilayah nasional Pembangunan wilayah Sumatera yang sesuai dengan daya dukung lingkungan. Pengembangan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) di Provinsi Sumatera, diarahkan untuk : - Mengendalikan pengembangan kawasan perkotaan Medan-Binjai-Deli Serdang sebagai pusat pelayanan primer yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya; Mendukung pengembangan Sumatera Utara sebagai salah satu sentra produksi pertanian dan perkebunan melalui peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perkebunan, khususnya tanaman pangan, hortikultura, sawit, dan karet Penanggulangan Pasca Bencana Kepulauan Nias -

Peningkatan Pelayanan Perijinan Terpadu Pengembangan Pulau Berhala

Pengembangan Kawasan Mebidang-ro

Pengembangan Agropolitan Pengembangan Cluster Industri CPO Pengembangan Cluster Industri Perikanan Pengembagan Cluster Peternakan

14.

Pelaksanaan Rencana Aksi untuk penanganan pasca bencana Kepulauan Nias

Keterangan : *) Kebijakan Nasional terhadap Provinsi Sumatera Utara yang dituangkan dalam RPJMN-2010-2014

2.2.4. Penelaahan PokokPokok-pokok Pikiran DPRD Pokok-pokok pikiran DPRD yaitu penelaahan kajian permasalahan pembangunan daerah yang diperoleh dari DPRD berdasarkan hasil rapat dengan DPRD, seperti rapat dengar pendapat dan/atau rapat hasil penyerapan aspirasi melalui reses. Pokok-pokok pikiran DPRD memuat pandangan dan pertimbangan DPRD mengenai arah prioritas pembangunan serta rumusan usulan kebutuhan program/kegiatan yang bersumber dari hasil penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD tahun sebelumnya yang belum terbahas dalam musrenbangdan agenda kerja DPRD tahun 2011. Penelaahan dimaksudkan untuk mengkaji kemungkinan dijadikan sebagai masukan dalam perumusan kebutuhan program dan kegiatan pada tahun 2012 berdasarkan prioritas pembangunan daerah. Rangkuman hasil telaalah terhadap pokok-pokok pikiran DPRD tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-91

Tabel 2.75. Rumusan Usulan Program/Kegiatan Program/Kegiatan Hasil Penelaahan PokokPokok-pokok Pikiran DPRD dan Validasi Provinsi Sumatera Utara *)
1
(1) 1.

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama, Beragama, Tata Pemerintahan yang Baik dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan 1.1. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Membangun Desa 1. Pembinaan dalam pengelolaan dana CSR 2. Penanganan tapal batas Kab. Batubara dan Kab. Asahan dan antara batas Asahan dan Simalungun 3. Penanganan Alih fungsi lahan

Indikator kinerja
(3)

Volume
(4) Medan

Lokasi
(5)

SKPD terkait
(6)

Validasi/ Keterangan
(7)

Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan Meningkatnya pengawasan terhadap pengelolaan dana CSR Meningkatnya tertib administrasi tapal batas kabupaten/kota Penerbitan Perda tentang pengaturan lahan pertanian berkelanjutan

Sumatera Utara

Biro Pemerintahan

Tim Pembinaan CSR Provinsi Prioritas SKPD

Dana

Sumatera Utara

Biro Pemerintahan

Kabupaten Batubara, Asahan dan Simalungun

Biro Pemerintahan Dinas Pertanian

Prioritas SKPD

2.

Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kesehatan yang terjangkau 2.1. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun 1. Pembangunan sarana dan prasarana sekolah 2. Pembangunan SMA Negeri 3. Pembangunan Sekolah SMK Teknik Meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah Terbangunnya ruang kelas baru Terbangunnya SMA Negeri Terbangunnya SMK Teknik Negeri Batubara Tanjungbalai Tanjungbalai Labuhanbatu Selatan Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Bantuan Kab/Kota Prioritas SKPD Prioritas SKPD

II-92

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

1
(1)

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) 4. Pembangunan Sekolah SMK Teknik dan SMK Pertanian 5. Pembangunan SMA Unggulan (SMA Plus) 6. Rehabilitasi Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Aliyah (MA) 7. Pembangunan Sekolah Menengah Atas (SMA) 8. Pembangunan laboratorium terpadu 9. Rehab Gedung SMA

Indikator kinerja
(3) Terbangunnya SMK Teknik dan SMK Pertanian Meningkatnya Mutu Pendidikan Menengah Meningkatnya Mutu Pendidikan Menengah Meningkatnya Mutu Pendidikan Menengah Meningkatnya sarana dan prasarana pendidikan Meningkatnya sarana dan prasarana pendidikan Meningkatnya sarana dan prasarana pendidikan Meningkatnya Kesejahteraan Guru Meningkatnya kesejahteraan Guru Honorer Meningkatnya ratio guru dan murid Meningkatnya upaya pemeliharaan kesehatan

Volume
(4)

Lokasi
(5) Labuhanbatu Selatan

SKPD terkait
(6) Dinas Pendidikan

Validasi/ Keterangan
(7) Prioritas SKPD

Aek Kanopan Labuhanbatu Selatan - Nias Selatan Aek Badak Kab. Labuhanbatu Selatan Gunung Sitoli

Dinas Pendidikan

Prioritas SKPD

Dinas Pendidikan

Prioritas SKPD

Dinas Pendidikan

Prioritas SKPD

Tebing Tinggi Sibolga Pangururan Kab Samosir

Dinas Pendidikan

Bantuan Kab/Kota

Dinas Pendidikan

Bantuan Kab/Kota

2.2.

10.Rehabilitasi sekolah dan pengadaan fasilitas sekolah Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan 1. Bantuan Peningkatan kesejahteraan guru honorer 2. Pengadaan tenaga guru Program Pengadaan/ Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit

Toba Samosir, Tapanuli Utara,

Dinas Pendidikan

Bantuan Kab/Kota

Serdang Bedagai

Dinas Pendidikan

Bantuan Kab/Kota

Nias Selatan

Dinas Pendidikan

Prioritas SKPD

2.3.

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-93

1
(1)

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) 1. Pengadaan Peralatan Medis pada Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan 2. Pengadaan sarana dan prasarana pada 3. Pembangunan Rumah Sakit Umum 4. Pembangunan PUSKESMAS Peningkatan kualitas Infrastruktur pendukung pembangunan Ekonomi 3.1. Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya 1. Percepatan pembangunan jaringan irigasi Sei Ular 2. Pembangunan bendungan dan irigasi

Indikator kinerja
(3) Tersedianya kesehatan peralatan

Volume
(4) Medan

Lokasi
(5)

SKPD terkait
(6) Dinas Kesehatan

Validasi/ Keterangan
(7) Dana Hibah Kesehatan

Perluasan ruangan dan sarana penerangan Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan

Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan Medan Labuhanbatu Selatan

Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan

Dana Hibah Kesehatan Prioritas SKPD

Kec. Hibala, Nias Selatan Nias Selatan

Dinas Kesehatan

Prioritas SKPD

3.

Meningkatnya persentase luas Irigasi dalam kondisi baik Terselesaikannya pembangunan jaringan irigasi Sei Ular Terbangunnya jarigan irigasi Deli Serdang Dinas PSDA Prioritas SKPD

3. Pembangunan jaringan Irigasi (JIDES/JITUT)

Terbangunnya jarigan irigasi desa (JIDES/JITUT)

Desa Pematang Lalang dan Desa Air Putih Kec. Percut Sei Tuan-Deli Serdang Deli Serdang Desa Panahatan sekitar jalan Tarutung Sipohon Kab. Tapanuli Utara Kec. Ujung Padang dan Pematang Bandar Mandailing Natal Desa Kerbo, Berampu Kab. Dairi Desa Botung Kab. Madina Mandailing Natal

Dinas PSDA

Prioritas SKPD

Dinas Pertanian

Prioritas SKPD

II-94

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

1
(1)

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) 3.2 Program pembangunan dan pengelolaan pengendalian banjir dan pengamanan pantai 1. Pembangunan sudetan di Bantaran Sungai Bahilang Kota Tebing Tinggi 2. Rehabilitasi Bronjong di aliran Sungai Bilal. 3. Pembangunan Infrastruktur pengendalian dan pengamanan Sungai Kualuh di Desa Sialang Taji Kec. Kualuh Selatan 4. Pembuatan Bronjong di Pinggir Pantai Danau Toba Kec. Muara Kab. Tapanuli Utara Program penyediaan dan pengelolaan air baku 1. Pengadaan Air Bersih di Kab. Samosir 3.4. Program Pembangunan Jalan dan Jembatan 1. Peningkatan jalan kecamatan di perbatasan Medan Deli Serdang menjadi jalan provinsi Pembangunan jembatan penghubung antara Jalan Starban, Kec. Medan Polonia dengan Jalan

Indikator kinerja
(3) Meningkatnya persentase luas kawasan pengendalian banjir dan pengaman pantai yang dikelola Terbangunnya sudetan di bantaran Sungai Bahilang Kota Tebing Tinggi Terkendalinya bencana tanah longsor Terkendalinya tanah longsor bencana

Volume
(4)

Lokasi
(5)

SKPD terkait
(6)

Validasi/ Keterangan
(7)

Tebing Tinggi dan Serdang Bedagai Labuhanbatu Labuhanbatu Utara

Dinas PSDA

Bantuan Kab/Kota

Dinas PSDA Dinas PSDA

Bantuan Kab/Kota Bantuan Kab/Kota

Terkendalinya tanah longsor

bencana

Tapanuli Utara

Dinas PSDA

Bantuan Kab/Kota

3.3.

Meningkatnya penyediaan air baku Meningkatnya Persentase panjang jalan dalam kondisi mantap Meningkatnya Persentase panjang jalan provinsi

Kab. Samosir

Dinas PSDA

Bantuan Kab/Kota

Medan

Dinas Bina Marga

Kerjasama Kawasan MEBIDANG-Ro

2.

Meningkatnya Persentase panjang jalan kabupaten

Medan

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-95

1
(1)

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) Jamin Ginting Gg. Cipta Psr- I Padang Bulan Kec. Medan Baru 3. Pembangunan jalan arteri yang menghubungkan antar Kabupaten/Kota dengan Bandara Kualanamu 4. Pembangunan jalan penghubung menuju Waduk Lau Simeme 5. Pembangunan jalan susur pantai Kab. Serdang Bedagai Kab. Batubara 6. Pembangunan Jalan Kab. Tapteng Kab. Humbahas melalui Pakkat Parlilitan Barus (Kab. Tapteng) 7. Pembangunan Rabin/ Jembatan di Kec. Sayur Matinggi Kab. Tapsel 8. Lanjutan Pembangunan Jalan Akses antara Kab. Madina dan Kab. Tapsel 9. Pembangunan Jalan Ujung Gading Baru Simp. Bukit Simartajam Kec. Padang Bolak Julu Kec. Paluta 10. Pembangunan jembatan di Kec. Hibala

Indikator kinerja
(3)

Volume
(4)

Lokasi
(5)

SKPD terkait
(6)

Validasi/ Keterangan
(7)

Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten

Deli Serdang

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

Percepatan pembangunan Bendungan Lau Simeme Meningkatnya Persentase panjang jalan provinsi

Deli Serdang

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

Serdang Bedagai

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

Meningkatnya Persentase panjang jalan provinsi

Tapanuli Tengah

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik

Kab. Tapanuli Selatan

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

Kab. Mandailing Natal Kab. Tapanuli Selatan Kab. Padang Lawas Utara

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik

Kab. Nias Selatan

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

II-96

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

1
(1)

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) 11. Lanjutan Pembangunan Jembatan Sitapigagan Desa Bonan Dolok Kec. Sianjur Kab. Samosir 12. Pembangunan Jalan Outher Ring Road Danau Toba serta Jalan Lingkar dalam Pulau Samosir (Inner Ring Road) 13. Pembangunan jalan Tiga Rungu menuju Seribu Dolok Kab. Simalungun 14. Rehabilitasi Jalan di Desa Tinada Kec. Tinada Kab. Pakpak Bharat Program Rehabilitasi/ Pemeliharaan Jalan dan Jembatan 1. Peningkatan dan Pengaspalan jalan di Desa Sei Lebah Kec. Sei Samayang Kota Tanjung Balai 2. Perbaikan Jalan dari Aek Nabara menuju Negeri Lama 3. Pemeliharaan jalan Desa Senna Kec. Pangkatan Negeri Lama 4. Peningkatan ruas jalan dari Aek Kanopan menuju Kualuh Ledong Kab. Labuhan Batu Utara

Indikator kinerja
(3) Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik

Volume
(4)

Lokasi
(5) Kab. Samosir

SKPD terkait
(6) Dinas Bina Marga

Validasi/ Keterangan
(7) Bantuan Kab/Kota

Kab. Samosir

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik

Simalungun

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

Kab. Pakpak Bharat

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

3.5.

Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik

Tanjungbalai

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik

Kab. Labuhanbatu

Dinas Bina Marga Dinas Perhubungan Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

Kab. Labuhanbatu

Bantuan Kab/Kota

Kab. Labuhanbatu Utara

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-97

1
(1)

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) 5. Perbaikan jalan dari Kampung Pajak menuju Simosis Rehabilitasi Jalan dari Jembatan Merah-Muaro Sama Kab. Mandailing Natal Perbaikan Jalan Provinsi dari Kab. Paluta Kab. Padang Lawas Pelebaran Jalan Provinsi dari Sibuhuan Sosa Kab. Padang Lawas Perbaikan jalan Sipagimbar-Tolang Sipiongot Kab. Tapsel Pengaspalan jalan di Kec. Hibala Kab. Nias Selatan Peningkatan Jalan Sibungbung Ruma Tala Kec. Sianjur Mula-mula Kab. Samosir Peningkatan Jalan Poros Salaon Dolok Kec. Ronggur Nihuta Kab Samosir Peningkatan Jl. Musyawarah, Jalan AMD dan Jl. Ir. H. Juanda menjadi jalan provinsi Peningkatan Kualitas Jalan Kec. Pangaribuan Kec. Garoga Kab.

Indikator kinerja
(3) Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik

Volume
(4)

Lokasi
(5) Kab. Labuhanbatu Utara

SKPD terkait
(6) Dinas Bina Marga

Validasi/ Keterangan
(7) Bantuan Kab/Kota

6.

Kab. Mandailing Natal

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

7.

Kab. Padang Lawas Utara Kab. Padang Lawas Kab. Padang Lawas

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

8.

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

9.

Kab Tapanuli Selatan

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

10.

Kab. Nias Selatan

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

11.

Kab. Samosir

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

12.

Kab. Samosir

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

13.

Serdang Bedagai

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

14.

Tapanuli Utara

Dinas Bina Marga

Prioritas SKPD

II-98

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

1
(1)

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) Tapanuli Utara 15. Pelebaran jalan Akses ke Kota Sibolga 16. Perbaikan jalan di Simpang Tangsi menuju Desa Mekar Mulia kec. Ujung Padang Kab. Simalungun 17. Perbaikan Jalan P. Siantar Tiga Rungu 18. Perbaikan jalan menuju Pasanggarahan Bung Karno di Desa lau Gumba Kec. Brastagi Kab. Karo 19. Pengaspalan Hotmik Jl. Daerah Tujuan Wisata Sumatera Utara menuju Gunung Sibayak Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan 1. Rehabilitasi fasilitas pelabuhan Gunung Sitoli Pembangunan sarana transportasi pada daerah tertinggal Program Pembinaan dan Pengembangan bidang ketenagalistrikan 2.

Indikator kinerja
(3) Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik

Volume
(4) Sibolga

Lokasi
(5)

SKPD terkait
(6) Dinas Bina Marga

Validasi/ Keterangan
(7) Prioritas SKPD

Simalungun

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya Persentase panjang jalan Kabupaten dalam kondisi baik Meningkatnya aksebilitas wilayah pedesaan Diperbaikinya fasilitas pelabuhan di Gunung Sitoli Meningkatnya aksebilitas wilayah pedesaan Meningkatnya ratio elektrifikasi khususnya di daerah pedesaan

Simalungun

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

Karo

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

Karo

Dinas Bina Marga

Bantuan Kab/Kota

3.6.

Kota Gunung Sitoli

Dinas Perhubungan

Prioritas SKPD

Toba Samosir

Dinas Perhubungan

Prioritas SKPD

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-99

1
(1)

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) 1. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Hidro (PLTMH)

Indikator kinerja
(3) Pembangunan kelistrikan di pedesaan dalam rangka mendukung program Desa Mandiri Energi

Volume
(4)

Lokasi
(5) Kab. Tapanuli Selatan

SKPD terkait
(6) Dinas Pertambangan dan Energi

Validasi/ Keterangan
(7) Prioritas SKPD

4.

Pembangunan Pertanian yang berkelanjutan dan meningkatnya ketahanan pangan 4.1. Program Peningkatan produksi pertanian 1. Pengadaan pupuk non subsidi 2. Penyediaan tenaga penyuluh pertanian 3. Penyediaan peralatan pembuatan pupuk organik (APPO) 4.2. Program pengembangan kawasan agropolitan dataran tinggi bukit barisan 1. Pengembangan Kawasan Agropolitan serta Sarana dan Prasarana Pengelolaan Hasil Pertanian Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan dan Meningkatnya Kesejahteraan Rakyat Miskin 5.1. Program peningkatan pembangunan perumahan dan permukiman

Meningkatnya Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Meningkatnya produksi tanaman pangan Tersedianya tenaga penyuluh Tersedianya peralatan pembuatan pupuk organik (APPO)

Sumatera Utara

Sumatera Utara Labuhanbatu Selatan Nias Selatan Humbang Hasundutan Labuhanbatu Selatan

Dinas Pertanian Bakoorluh

Prioritas SKPD Prioritas SKPD

Dinas Pertanian

Bantuan Kab/Kota

Meningkatnya produksi dan kesejahteraan petani

Toba Samosir

Dinas Pertanian

Prioritas SKPD

5.

Meningkatnya Rumah Layak Huni

II-100

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

1
(1)

Prioritas/Program/Kegiatan
(2) 1. Pembangunan rumah murah

Indikator kinerja
(3) Terbangunnya rumah layak huni bagi penduduk miskin

Volume
(4)

Lokasi
(5) Tanjungbalai, Batubara dan Asahan

SKPD terkait
(6) Dinas Tarukim

Validasi/ Keterangan
(7) Prioritas SKPD

Keterangan *) Rangkuman Berdasarkan Hasil Reses Bulan Agustus Tahun 2010)

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-101

2 .3 .

Permasalahan Pembangunan Daerah

Identifikasi permasalahan terkait dengan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah, dapat disimpulkan berdasarkan bidang urusan dan indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah, sebagaimana diuraikan pada tabel dibawah ini : Tabel. 2.76 Identifikasi Permasalahan Pembangunan untuk Penentuan Program Prioritas Provinsi Sumatera Utara
Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Pendidikan Angka melek huruf Angka rata-rata lama sekolah Pendidikan dasar 9 tahun Angka partisipasi sekolah Angka partisipasi kasar Angka partisipasi murni Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru terhadap murid per kelas rata- rata Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik Sekolah pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Angka Kelulusan (AL) SD/MI Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV > > > > > > = = > 1. Realisasi peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan (guru, siswa, prasarana, sistem) yang menjabarkan UUD 1945 dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Kualitas SDM Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang masih terbatas. 3. Kapasitas lembaga pendidikan kejuruan/pelatih an keterampilan yang relatif rendah 1. Penguatan dan pengawasan kurikulum pendidikan berbasis kompetensi dan berbasis lokal 2. Penerapan pendidikan berbasis karakter bagi pendidik dan peserta didik 3. Keberadaan sarana dan prasarana yang layak dan memadai serta terjangkau sesuai kebutuhan di tiap jenjang pendidikan 4. Alokasi dana pendidikan yang terus meningkat untuk membiayai program dan kegiatan prioritas bidang pendidikan Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3)

No

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5)

(1) 1. 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. 1.7. 1.8. 1.9.

(4)

1.10. 1.11.

< <

1.12. 1.13. 1.14. 1.15. 1.16. 1.17. 1.18. 1.19. 1.20. 1.21.

< < < < < < < < < <

2.

Kesehatan

1.

Derajat

1.

Penerapan

II-102

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Angka kelangsungan hidup bayi Angka usia harapan hidup Angka Kematian Ibu Melahirkan Persentase balita gizi buruk

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) < > < <

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5)

(1) 2.1. 2.2. 2.3. 2.4.

(4)

2.

Kesehatan Standar Pelayanan masih rendah Minimal (SPM) yang bidang kesehatan ditunjukkan di seluruh bidang dengan masih pelayanan tingginya Angka 2. Universal coverage Kematian Bayi, pelayanan Angka kesehatan gratis Prevalensi melalui Jamkesda Balita Gizi dan Jampersal Buruk dan 3. Kesejahteraan Kurang dan tenaga pelayan Angka kesehatan Kematian Ibu terutama di daerah melahirkan. tertinggal, terpencil Masih belum dan terluar optimalnya kualitas pelayanan kesehatan masyarakat

3. 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6.

Pekerjaan Umum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum persentase rumah tangga yang menggunakan listrik Panjang jalan dilalui Roda 4 Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (mimal dilalui roda 4) Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik ( > 40 KM/Jam ) < < 1. Kerusakan sarana dan prasarana transportasi, kapasitas bandara dan pelabuhan, saluran irigasi/rawa, jaringan pengairan lainnya, air baku, pengendalian banjir dan pengamanan Peningkatan alokasi anggaran Peningkatan SDM dan kelembagaan Peningkatan peralatan Meningkatkan fungsi jaringan irigasi pada kewenangan Provinsi melalui perbaikan/ rehabilitasi jaringan irigasi Meningkatkan fungsi jaringan Rawa pada kewenangan

< < <

3.7.

<

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-103

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase/saluran pembuangan air ( minimal 1,5 m)

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) <

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5) Provinsi melalui perbaikan/ normalisasi /rehabilitasi jaringan Rawa Penanganan banjir akibat sudah berkurangnya hutan di daerah hulu sungai Penyediaan sarana air baku sebagai kebutuhan dasar masyarakat seiring dengan peningkatan penduduk dan terjadinya krisis air

(1) 3.8.

(4) pantai 2. Ketersediaan pasokan energi terbarukan dan penggalian sumber energi baru 3. Pemantapan dan efektifitas jalan raya (jalan Nasional, Provinsi dan Kabupaten/ Kota). 4. Realisasi pembangunan jalan lingkar luar (Outer Ring Road) Danau Toba. 5. Realisasi pembangunan jalan Tanjung MorawaSaribudolokTongging (Rawasaring). 6. Realisasi pembangunan kawasan Mebidang-Ro

4. 4.1. 5. 5.1.

Perumahan/Permukiman Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Perencanaan Pembangunan Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERKADA Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD = =

5.2.

5.3.

5.4.

II-104

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Perhubungan Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) 8/9/40 (<) 1.

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5)

(1) 6. 6.1.

(4)

2.

3.

Realisasi - Komitmen pengembangan pemerintah pusat pelabuhan - Pembebasan lahan Belawan dan pelabuhan lainnya Pemantapan dan efektifitas transportasi darat (jalan dan jembatan, dan perkeretaapian) Sarana dan prasarana pendukung Bandara Kuala Namu

7. 7.1. 7.2. 7.3. 7.4. 7.5. 7.6.

Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Perlindungan Anak Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Partisipasi perempuan di lembaga swasta Rasio KDRT Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur Partisipasi angkatan kerja perempuan Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Rata-rata jumlah anak per keluarga Rasio akseptor KB Cakupan peserta KB aktif Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I

< < < =

1. Kurangnya peran aktif perempuan di lembaga pemerintahan dan swasta 2. Menimnya Perlindungan hak perempuan dan anak di seluruh sektor

1. Berjalanya fungsi kelompok kerja Pengarusutamaan Gender (Pokja PUG) di lembaga pemerintahan dan swasta 2. Kerjasama yang terintegrasi aparat penegak hukum dengan lembaga perlindungan perempuan dan anak

12 12.1. 12.2. 12.3. 12.4.

= = = =

1. Laju 1. Slogan Dua Anak pertumbuhan Lebih Baik penduduk terus menjadi keinginan meningkata setiap pasangan tanpa terkendali rumah tangga 2. Minimnya minat 2. Dasar pemahaman pasangan usia yang kuat akan subur (PUS) pentingnya ber-KB menjadi peserta aktif KB 1. Keberadaan 1. Rehabilitasi rutin prasarana dan dan berkala panti sarana panti pemerintah dan pemerintah dan swasta swasta yang 2. Penyandang memprihatinkan masalah

13 13.1.

Sosial Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi PMKS yg memperoleh bantuan social =

13.2.

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-105

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) =

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5) kesejahteraan sosial memperolah pelayanan sesuai dengan standar pelayanan minimal

(1) 13.3.

(4) 2. Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial yang minim

14 14.1. 14.2. 14.3. 14.4.

Ketenagakerjaan Rasio penduduk yang bekerja rasio ketergantungan Kualitas tenaga kerja (rasio lulusan S1/S2/S3) Tingkat partisipasi angkatan kerja = = < > 1. Rendahnya serapan angkatan kerja 2. Rendahnya kualitas tenaga kerja 1. Berjalannya fungsi BLK dalam menghasilkan tenaga kerja siap pakai berkualitas 2. Kerjasama yang sinergi dan terintegrasi antara Pemerintah, Dunia Usaha dan Lembaga Penyedia Tenaga Kerja

15 15.1. 15.2. 15.3. 15.4.

Koperasi Usaha Kecil Kecil dan Menengah Persentase koperasi aktif Jumlah UKM non BPR/LKM UKM Jumlah BPR/LKM Usaha Mikro dan Kecil Produktifitas koperasi yang masih rendah serta 70 unit (<) sumber daya manusia belum 1.761.648 unit (...) mampu untuk aplikasi sistem informasi teknologi khususnya pasar 121.775 unit (<) 58,57 % (<) Pelatihan dan pembinaan Koperasi serta pemberian aksessibilitas permodalan yang murah antara lain dengan skim kredit berbunga murah seperti dengan pendirian Badan layanan Umum Daerah (BLUD) dengan konsep Gramming Bank

16 16.1. 16.2. 16.3. 16.4. 16.5. 16.6. 16.7. 16.8. 16.9.

Penanaman Modal Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Rasio daya serap tenaga kerja Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah) Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Angka kriminalitas Jumlah demo Lama proses perijinan Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah - Penerbitan izin usaha yang masih terpusat di Rp. 51.581.831,95 Pusat, selain itu juga daya saing 176,90 org (<) infrastruktur yang rendah - Promosi investasi yang masih 151 unit (<) rendah, serta permasalahan lokasi investasi yang belum jelas < (status lahan < yang bermasalah) < 151 unit (<) Perlu ada desentralisasi penerbitan izin investasi di daerah serta perbaikan fasilitas infrastruktur khususnya jalan dan energi Promosi investasi harus terus ditingkatkan baik skala internasional maupun nasional, serta komitmen Pemerintah dan DPR untuk segera menerbitkan UU tentang Pertanahan yang baru

II-106

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Kebudayaan Penyelenggaraan festival seni dan budaya Sarana penyelenggaraan seni dan budaya Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan Kepemudaan dan Olahraga Jumlah organisasi pemuda Jumlah organisasi olahraga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olahraga Gelanggang / balai remaja (selain milik swasta) Lapangan olahraga

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3)

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5)

(1) 17. 17.1. 17.2. 17.3.

(4)

< < <

Pagelaran/pertunjuk Fasilitas pendukung an seni budaya gedung pertunjukan masih terbatas belum memadai

18. 18.1. 18.2. 18.3. 18.4. 18.5. 18.6.

< < < < < <

1. Minimnya Data dan informasi organisasi pemuda dan olahraga 2. Minimnya prestasi olahraga disebabkan prasarana dan sarana olahraga yang tidak mendukung

1. Ketersediaan data dan informasi yang lengkap dan akurat mengenai kondisi dan keberadaan organisasi pemuda dan olahraga serta prasarana dan sarana olahraga 2. Ketersedian prasarana dan sarana olahraga yang memadai guna memacu prestasi olahraga

19 19.1. 19.2.

Kesatuan Bangsadan Politik Dalam Negeri Kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas dan OKP Kegiatan pembinaan politik daerah

< <

1. Minimnya jumlah 1. Meningkatnya aparat kesadaran keamanan masyarakat akan swadaya pentingnya masyarakat dan keamanan prasarana lingkungan tempat pendukung tinggal

20

Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan Sistem informasi Pelayanan Perijinan dan adiministrasi pemerintah Ketahanan Pangan < < < < 2. Minimnya jumlah 2. Meningkatnya aparat kesadaran keamanan masyarakat akan swadaya pentingnya masyarakat dan keamanan prasarana lingkungan tempat pendukung tinggal

20.1. 20.2. 20.3. 20.4.

22

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-107

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Regulasi ketahanan pangan

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) Sesuai (=)

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5)

(1) 22.1.

(4)

II-108

1. Masih 1. Optimalisasi berlanjutnya alih pemanfaatan irigasi fungsi lahan yang ada serta sawah perbaikan dan 2. Menurunnya pembangunan kualitas jaringan irigasi baru kesuburan dan penghentian lahan akibat alih fungsi lahan kerusakan melalui penetapan lingkungan aturan-aturan yang 3. Terbatasnya dilandasi hukum penyediaan air 2. Pengembangan bagi budidaya konservasi dan beberapa rehabilitasi lahan komoditas agar potensi lahan pangan pokok yang ada dapat dan strategis dipertahankan 4. Penyediaan dan terutama di wilayah penyaluran usaha berbasis sarana produksi pertanian, (terutama pupuk peternakan, bersubsidi dan perkebunan,perikan benih an dan kehutanan bersertifikat) dengan yang belum menerapkan tepat teknologi konservasi 5. Terbatasnya dan rehabilitasi fasilitas 3. Peningkatan dan permodalan di penanganan pedesaan dan teknologi pasca meningkatnya panen untuk suku bunga memperoleh Kredit efisiensi dan Ketahanan kualitas produksi Pangan (KKP) pertanian yang berdampak 4. Penyediaan sarana kepada produksi dan terbatasnya permodalan secara penerapan tepat sehingga teknologi bermanfaat untuk 6. Belum petani bagi optimalnya meningkatkan penannganan produktivitas hasil panen dan 5. Penguatan pasca panen kelembagaan dan yang berpotensi system penyuluhan mengakibatkan bagi para petani kehilangan hasil sehingga terjadi yang cukup penerapan paket besar teknologi untuk 7. Cukup tingginya meningkatkan jumlah produktivitas hasil penduduk 6. Mengurangi rasio miskin yang ketergantungan berpotensi terhadap impor dan menimbulkan pemasukan bahan kerawanan pangan dari provinsi pangan. Hal ini lain guna kebutuhan diakibatkaqn masyrakat oleh rendahnya 7. Pengembangan keterampilan, cadangan pangan akses pemerintah daerah permodalan dan dan TAHUN masyarakat RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA 2012 lapangan kerja yang menghadapi masalah pangan

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Ketersediaan pangan utama Statistik

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) =

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5)

(1) 22.2. 24 24.2. 25 25.1. 25.2.

(4)

24.1. Buku Provinsi Dalam Angka Buku PDRB kabupaten Kearsipan Pengelolaan arsip secara baku Peningkatan SDM pengelola kearsipan

= < 1. Minimnya 1. Meningkatnya keberadaan arsip pemahaman daerah masyarakat akan 2. Minimnya pentingnya arsip kemampuan daerah SDM arsiparis 2. Tata kelola arsip yang tertib dan teratur 1. Prasarana dan sarana media informasi baik cetak maupun elektronik belum menjangkau seluruh lokasi di daerah 1. Informasi tersampaikan ke seluruh daerah melalui media cetak dan media elektronik

= =

26 26.1. 26.2. 26.3. 26.4. 26.5. 26.6. 27. 27.1. 27.2. 27.3.

Komunikasi dan Informatika Jumlah jaringan komunikasi Rasio wartel/warnet terhadap penduduk Jumlah surat kabar nasional/lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal Web site milik pemerintah daerah Pameran/expo Perpustakaan Jumlah perpustakaan Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah URUSAN PILIHAN Pertanian Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar < < < = = = = = =

1. Jumlah perpustakaan dan koleksi buku yang ada belum memenuhi kebutuhan masyarakat

1. Tersedianya perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai dengan kerjasama TP PKK melalui desa binaan

B. 1. 1.1.

1.1.1. Padi (Ton) 1.1.2. Jagung (Ton) 1.1.3. Kedele (Ton) 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Kontribusi sektor pertanian/ perkebunan terhadap PDRB Kontribusi sektor pertanian (palawija) terhadap PDRB Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB Nilai tukar petani

4,77 >
5,11> 1,22< 23,78 7,85 9,69 103,07 (>)

1. Peningkatan produktivitas tidak dibarengi dengan peningkatan luas panen (untuk padi dan kedele) 2. Terjadinya konversi lahan pertanian produktif 3. Anomali iklim yang mempengaruhi pola tanam 4. Penyediaan dan penyaluran sarana produksi

1. Revitalisasipertani an mendukung peningkatan produksi dalam menjaga stabilitas pangan dan mensukseskan swasembada pangan 2. Peningkatan mekanisasi pertanian 3. Pengadaan bibit/benih unggul 4. Peningkatan sarana dan prasarana (Pembangunan

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-109

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2)

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3)

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5) jalan produksi,irigasi)

(1)

(4) (terutama pupuk bersubsidi dan benih bersertifikat) yang belum tepat

2. 2.1. 2.2. 2.3.

Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB Energi dan Sumber Daya Daya Mineral Pertambangan tanpa ijin Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 28 dari 6 Kabupaten 1.19 % (<) Penerapan prinsip eco enviromental telah menjadi rujukan untuk perijinan tambang Pembuatan Perda Larangan bagi para PETI untuk beroperasi serta adanya zonasi bagi operasional Legal yang diperbolehkan dan dimasukkan dalam RTRWP/RTRWK 1.31 % (<)

3. 3.1. 3.2.

4. 4.1. 4.2.

Pariwisata Kunjungan wisata Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB Kelautan dan Perikanan Produksi perikanan (ton) Konsumsi ikan/kapita/thn Cakupan bina kelompok nelayan 562.448,72 29,59 Tidak ada data 1. Pengelolaan 1. Pengembangan sumberdaya produksi perikanan perikanan belum budidaya untuk sepenuhnya konsumsi dalam < 2.68 % (>) 1. Infrastruktur Pembangunan/perbaik belum memadai an jalan menuju objek menuju destinasi wisata ditingkatakan 2. Destinasi wiata masih monoton

5. 5.1. 5.2. 5.3.

II-110

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Produksi perikanan kelompok nelayan

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) Tidak ada data

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5) negeri dan ekspor di kawasan budidaya air tawar,air payau/tambak dan air laut Pengadaan kapal dan alat penangkap ikan Pengembangan kapasitas sarana dan prasarana budidaya melalui pengadaan calon induk unggul dan pengadaan mesin pellet Identifikasi potensi dan pemetaan pulau di Sumatera Utara Pengembangan kluster industri pengolahan hasil perikanan

(1) 5.4.

(4) dikelola secara efisien dengan penerapan teknologi maju dengan budaya bisnis. Tingkat pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan yang belum merata di seluruh Sumatera Utara, khususnya perikanan tangkap. Terjadinya caracara pemanfa atan sumberdaya perikanan yang tidak ber tanggung jawab. Terjadinya pencemaran perairan umum dan perairan pantai akibat limbah industri dan rumah tangga. dukungan prasarana terhadap pengembangan perikanan tangkap dan budidaya ikan dibandingkan dengan potensi perikanan yang tersedia Jumlah induk unggul untuk kegiatan pembenihan masih sangat terbatas Mutu hasil perikanan pada tahap pra panen belum sepenuhnya dapat dikendalikan sesuai dengan standar negara tujuan ekspor

2. 3.

2.

4.

3.

5.

4.

5.

6.

7.

6.

Perdagangan

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012

II-111

No

Bidang Urusan dan Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (2) Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB Ekspor Bersih Perdagangan

Interpretasi Belum tercapai (<) Sesuai (=) Melampaui (>) (3) 16.37 % (>)

Permasalahan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan (5)

(1) 6.1. 6.2.

(4)

7. 7.1. 7.2. 7.3.

Perindustrian Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB Kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB sektor Industri Pertumbuhan Industri. 22.39 % (<) 1.76 % (<) < 1. Krisis energi 1. listrik yang menghambat produksi industri rumah tangga 2. Bahan baku masih diimpor dari luar Peningkatan pembangunan infrastruktur dibidang energi listrik

II-112

RKPD PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2012