Anda di halaman 1dari 9

HANGING RATIO DAN PENDUGAAN BERAT JARING

TUGAS MATA KULIAH

ANALISIS ALAT PENANGKAPAN IKAN

:

Anggota :

Ketua

KELOMPOK 7

Taufiq

M. Iqbal Himam

Nora Akbarsyah

(C451130091)

(C451130081)

(C451130061)

Himam Nora Akbarsyah (C451130091) (C451130081) (C451130061) PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PERIKANAN LAUT DEPARTEMEN

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PERIKANAN LAUT DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2013

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Alat penangkapan ikan merupakan bagian dari sistem penangkapan, yang didalamnya juga mencakup mesin penanganan alat, kapal perikanan, alat pendeteksi ikan, dan juga peralatan tambahan seperti alat pemantau lingkungan perairan. Alat penangkapan ikan mempunyai parameter teknis dan desain yang khas sehingga membutuhkan perhitungan khusus apabila akan dibuat rekayasa desain alat tangkap yang baru. Alasan mengapa perlu membuat rekayasa desain alat tangkap yang baru adalah karena daerah pengoperasian dari alat penangkap ikan adalah di perairan laut yang bersifat sangat dinamis dengan bentuk topografi yang bermacam-macam. Alasan lain yang menjadikan rekayasa desain alat tangkap menjadi penting tentunya adalah efisiensi alat tangkap, dimana efisiensi ini sangat dipengaruhi oleh tujuan dan sasaran alat tangkap, jenis alat dan cara pengoperasian, sifat-sifat penampilan dan structural dari alat tangkap. Terjadinya ketidak sesuaian Sifat sifat tersebut dalam alat tangkap akan menyebabkan kinerjanya tidak efektif. Rumusan teknis menghitung desain alat tangkap harus lengkap dan sesuai. Mulai dari rancangan dan ukuran yang dikehendaki, tali temali, bahan, hanging ratio, sampai dengan perhitungan berat jaring. Pengukuran hanging ratio pada jaring sangat diperlukan untuk mengetahui selektivitas alat tangkap. Pengetahuan mengenai selektivitas alat tangkap ini dapat membantu dalam merancang, membuat dan memakai alat tangkap dengan baik. Begitupun juga dengan menghitung berat jaring, hal ini sangat penting dilakukan karena berat jaring berhubungan erat dengan bahan yang digunakan untuk konstruksi alat dan penentuan gaya berat alat sewaktu operasi. Maka dari itu perhitungan alat tangkap terutama hanging ratio dan pendugaan berat jaring sangat perlu dilakukan untuk pengoperasian alat tangkap yang efektif dan efisien.

1. Hanging Ratio

Jaring memiliki kemampuan untuk berubah bentuk dan luasnya. Bentuk dan luas jaring dipengaruhi oleh proses penggantungannya pada tali rangka. Bentuk yang berbeda diperoleh dengan mengubah hanging ratio primer E 1 dan hanging ratio sekunder E 2 . Hanging ratio merupakan perbandingan antara panjang jaring

terangkai/terpasang dengan panjang jaring saat terentang sempurna (stretch). Hanging ratio sangat berkaitan dengan bukaan mata jaring ke samping. Semakin besar hanging ratio, maka mata jaring semakin terbuka ke samping, seperti terlihat pada gambar 1.

terbuka ke samping, seperti terlihat pada gambar 1 . Gambar 1. Bentuk mata jaring pada berbagai

Gambar 1. Bentuk mata jaring pada berbagai hanging ratio

Perubahan panjang jaring ke samping yang disebabkan oleh adanya hanging ratio, secara otomatis juga mempengaruhi perubahan tinggi jaring. Hanging ratio yang menyebabkan perubahan panjang jaring disebut hanging ratio primer, sedangkan hanging ratio yang mempengaruhi perubahan tinggi jaring disebut hanging ratio sekunder. Hanging ratio primer sering dinotasikan sebagai “E 1 dan hanging ratio sekunder sering dinotasikan sebagai “E 2 ”. Hanging ratio dituliskan dalam pecahan desimal ataupun dalam bentuk persen. Adapun rumus-rumus hanging ratio adalah sebagai berikut:

Adapun rumus-rumus hanging ratio adalah sebagai berikut: dengan: E 1 E 2 L 0 L 1
Adapun rumus-rumus hanging ratio adalah sebagai berikut: dengan: E 1 E 2 L 0 L 1
Adapun rumus-rumus hanging ratio adalah sebagai berikut: dengan: E 1 E 2 L 0 L 1
Adapun rumus-rumus hanging ratio adalah sebagai berikut: dengan: E 1 E 2 L 0 L 1
Adapun rumus-rumus hanging ratio adalah sebagai berikut: dengan: E 1 E 2 L 0 L 1

dengan:

E 1

E

2

L

0

L

1

H

H

1

0

: Hanging ratio primer : Hanging ratio sekunder : Panjang jaring saat teregang sempurna : Panjang jaring terpasang : Tinggi jaring saat teregang sempurna : Tinggi jaring terpasang

2. Pendugaan Berat Jaring

Data nilai berat jaring (W n )bermanfaat dalam penentuan gaya berat alat sewaktu operasi. Berat jaring dapat diduga dengan menentukan luas semu jaring (A f ), kemudian dikalikan dengan berat permeter persegi luas semu (W A ). Nilai WA untuk jenis benang PA dapat dilihat pada Lampiran 1.

Berat jaring juga dapat diduga dengan pendekatan perkalian berat benang per satuan panjang dengan panjang

Berat jaring juga dapat diduga dengan pendekatan perkalian berat benang

per satuan panjang dengan panjang benang (L t ). Berat benang per satuan panjang

dapat di hitung dari nomor benang.

benang per satuan panjang dapat di hitung dari nomor benang. dengan menggunakan dan maka Keterangan: L
benang per satuan panjang dapat di hitung dari nomor benang. dengan menggunakan dan maka Keterangan: L
benang per satuan panjang dapat di hitung dari nomor benang. dengan menggunakan dan maka Keterangan: L

dengan menggunakan

dapat di hitung dari nomor benang. dengan menggunakan dan maka Keterangan: L 0 : Panjang jaring

dan

dapat di hitung dari nomor benang. dengan menggunakan dan maka Keterangan: L 0 : Panjang jaring

maka

di hitung dari nomor benang. dengan menggunakan dan maka Keterangan: L 0 : Panjang jaring keadaan

Keterangan:

L 0

:

Panjang jaring keadaan stretch

(m)

M N

:

Jumlah mata jaring vertikal

(#)

m l

:

Ukuran mata jaring

N s

:

Jumlah yarn pada benang jaring

R-tex

:

Kepadatan linier benang

(g/km)

Tex

:

Kepadatan linier yarn

(g/km)

K t

:

Koefisien empiris (Lampiran 2)

E y

:

Faktor koreksi karena ada benang terpakai dalam simpul (Lampiran 3)

Catatan : digunakan untuk jaring berbentuk empat persegi

Rumus perhitungan berat jaring yang berbentuk selain empat persegi hanya

berbeda pada perhitungan panjang benang jaring (L t ). Panjang benang pada jaring

yang berbentuk trapesium, segitiga, jajaran genjang, atau bahkan empat persegi

(gambar 2) dapat dihitung dengan rumus:

yang berbentuk trapesium, segitiga, jajaran genjang, atau bahkan empat persegi ( gambar 2 ) dapat dihitung

dengan

M 1 : Jumlah mata jaring horizontal bagian atas

M 2 : Jumlah mata jaring horizontal bagian bawah

N : Jumlah baris mata jaring secara vertikal

M 1

M 1 M 2 N

M 2

N

Gambar 2. Ilustrasi dimensi jaring dengan bentuk selain empat persegi

Berdasarkan rumus perhitungan panjang benang jaring tersebut, maka dapat

dijabarkan rumus umum perhitungan berat jaring adalah:

dapat dijabarkan rumus umum perhitungan berat jaring adalah: DAFTAR PUSTAKA FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for
dapat dijabarkan rumus umum perhitungan berat jaring adalah: DAFTAR PUSTAKA FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for
dapat dijabarkan rumus umum perhitungan berat jaring adalah: DAFTAR PUSTAKA FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for
dapat dijabarkan rumus umum perhitungan berat jaring adalah: DAFTAR PUSTAKA FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for

DAFTAR PUSTAKA

FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books) Ltd. London. 241 p.

Lampiran 1. Tabel berat minimum jaring (kg/150m) berbahan PA

 

BERAT MINIMUM JARING (Kg/150m panjang)

 

BENANG KAPRON (PA) Stex x 2 x 3 R34Tex

 

Ukuran

 

Kedalaman Jaring Mata

 

Mata Jaring

200

150

125

100

90

75

60

55

50

45

25

30

(mm)

24

2,28

                     

26

2,26

                     

28

2,24

       

0,84

           

30

2,22

   

1,12

 

0,83

           

36

2,18

   

1,10

 

0,82

 

0,64

 

0,54

   

40

2,18

   

1,12

 

0,82

 

0,64

 

0,54

   

44

     

1,11

 

0,86

 

0,63

 

0,53

   

48

     

1,10

 

0,85

 

0,62

 

0,52

   

52

                 

0,52

0,42

 

56

           

0,67

   

0,52

   

60

           

0,67

0,62

0,58

0,52

0,42

 

64

           

0,66

   

0,52

0,42

 

68

                 

0,51

0,42

 

72

               

0,56

0,51

0,42

 

76

                 

0,51

0,42

 

80

           

0,66

 

0,55

0,51

0,41

 

88

                 

0,51

0,41

 

100

               

0,57

0,51

0,41

 

110

                   

0,41

 

120

                 

0,50

0,40

 
 

BERAT MINIMUM JARING (Kg/150m panjang)

 

BENANG KAPRON (PA) 5tex x 3 x 3 R34Tex

 

Ukuran

 

Kedalaman Jaring Mata

 

Mata

                       

Jaring

200

150

125

100

90

75

60

55

50

45

25

30

(mm)

32

             

1,09

       

36

3,60

           

1,08

       

40

3,52

           

0,97

 

0,79

   

44

3,46

           

0,95

 

0,78

   

48

             

0,93

0,85

0,78

   

52

         

1,28

 

0,93

0,85

0,78

   

56

     

1,64

 

1,27

1,03

0,92

0,85

0,77

   

60

         

1,23

1,00

0,92

0,85

0,77

   

64

         

1,26

1,00

0,92

0,85

0,77

0,60

 

68

           

1,00

 

0,84

0,76

   

72

         

1,24

0,99

0,93

0,84

0,76

0,61

 

76

           

0,99

 

0,83

0,76

   

80

         

1,24

0,99

0,91

0,83

0,76

   

88

           

0,99

0,93

0,82

0,76

0,61

 

92

         

1,20

   

0,82

0,76

0,59

 

100

         

1,20

0,98

0,90

0,83

0,76

0.60

0,53

110

         

1,20

     

0,75

0.60

 

120

                 

0,75

0,58

 

130

           

0,97

   

0,74

0,58

0,53

140

         

1,19

     

0,74

0,58

 

Lampiran 2. Koefisien untuk menduga ukuran benang dan resultan densitas linear benang jaring

Jenis Benang

K DR

K DT

K T

Polyamide (PA)

Continuou multifilament

1,1 1,4

1,2 1,5

1,08 1,15

Monofilament

1,0 1,1

-

-

Staple and Textures

1,3 1,5

1,4 1,6

1,10 1,20

Polyester (PES)

Continuou multifilament

1,0 1,2

1,1 1,3

1,10 1,15

Staple

1,0 1,3

1,1 1,4

1,10 1,20

Polyethylene (PE) dan Polypropylene (PP)

1,4 1,6

1,5 1,7

1,10 1,15

Lampiran 3. Rumus dan Tabel E Y

E Y =

E Y =

Lampiran 3. Rumus dan Tabel E Y E Y = E Y = E Y =
Lampiran 3. Rumus dan Tabel E Y E Y = E Y = E Y =

E Y = faktor koreksi panjang benang K y = Koefisien simpul D T = Diameter benang m l = mesh size

Tabel Ey dengan Ky = 16 (Simpul Tunggal)

m l

D t (mm)

(mm)

0,25

0,50

0,75

1,00

1,50

2,00

3,00

20

2,40

2,80

3,20

3,60

-

-

-

30

2,27

2,53

2,80

3,07

3,60

-

-

40

2,20

2,40

2,60

2,80

3,20

3,60

-

50

2,16

2,32

2,48

2,64

2,96

3,28

3,92

60

2,13

2,27

2,40

2,53

2,80

3,07

3,60

70

2,11

2,23

2,34

2,46

2,69

2,91

3,37

80

2,10

2,20

2,30

2,40

2,60

2,00

3,20

100

2,08

2,16

2,24

2,32

2,48

2,64

2,96

120

2,07

2,13

2,20

2,27

2,40

2,53

2,80

140

2,06

2,11

2,17

2,23

2,34

2,46

2,69

160

-

2,10

2,15

2,20

2,30

2,40

2,48

180

-

2,09

2,13

2,18

2,27

2,36

2,53

200

-

2,08

2,12

2,16

2,24

2,32

2,48

250

-

2,06

2,10

2,13

2,19

2,26

2,38

300

-

-

2,08

2,11

2,16

2,21

2,32