Anda di halaman 1dari 23

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga laporan ini dapat diselesaikan. Laporan ini disusun untuk diajukan sebagai Laporan Hasil Praktikum Kimia Analisis Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri Ucapan terima kasih disampaikan kepada dosen pengajar kimia analisis serta kepada para asisten laboratorium kimia analisi yang telah membimbing dan menuntun kami demi tersusunnya laporan ini. Penyusun menyadari bahwa dalam proses penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun dengan demikian, penyusun telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Oleh karenanya, penyusun memohon saran, masukan dan kriktik guna penyempurnaan laporan ini. Demikianlah laporan ini disusun semoga bermanfaat bagi semua pihak.

Gorontalo, Penyusun

Maret 2012

ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ................................................................... I.1 Latar Belakang .............................................................. I.2 Maksud dan Tujuan ...................................................... I.2.1 Maksud Percobaan ..................................................... I.2.2 Tujuan Percobaan ...................................................... I.3 Prinsip Kerja................................................................. . BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................... II.1 Teori ............................................................................. II.2 Uraian Bahan ............................................................... BAB III METODE KERJA ................................................................ III.1 Alat dan Bahan ........................................................... III.2 Cara Kerja .................................................................. BAB IV HASIL PENGAMATAN ........................................................ IV.1 Tabel Pengamatan ..................................................... IV.2 Perhitungan ................................................................ IV.3 Reaksi ......................................................................... BAB V PEMBAHASAN ................................................................... V.1 Pembakuan NaOH...................................................... V.2 Penetapan Kadar Asam Sitrat .................................... V.2 Penetapan Kadar Asam Asetat ..................................

i 1 1 3 3 3 3

4 10 15 15 16 18 18 18 21 22 22 23 23

ii

BAB VI PENUTUP ........................................................................... VI.1 Kesimpulan ................................................................. VI.2 Saran .......................................................................... DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... LAMPIRAN

25 22 23 26

ii

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Kesetimbangan asam-basa merupakan topik yang luar biasa pentingnya dalam seluruh ilmu kimia dan bidang lain, yang mamanfaatkan kimia. Contohnya Titrasi asam basa sangat berguna dalam dunia kefarmasian terutama untuk reaksi-reaksi dalam pembuatan obat. Oleh karena itu asidi alkalimetri sangat perlu untuk dipelajari. Metode analisis dengan volumetri ataupun titrimetri menggunakan prinsip asam basa adalah asidi alkalimetri. Proses ini digunakan dalam perhitungan untuk menentukan kadar suatu zat berdasarkan perhitungan volume dengan larutan standar yang telah diketahui kadarnya dengan tepat. Cara ini cukup menguntungkan karena pelaksanaannya mudah dan cepat, ketelitian dan ketepatannya juga cukup tinggi. Titrasi asidi-alkalimetri dibagi menjadi dua bagian besar yaitu asidimetri dan alkalimetri. Asidimetri adalah titrasi dengan

menggunakan larutan standar asam untuk menentukan basa. Sedangkan alkalimetri merupakan kebalikan dari asidimetri yaitu

ii

titrasi yang menggunakan larutan standar basa untuk menentukan asam. Dalam bidang farmasi, asidi-alkalimetri dapat digunakan untuk menentukan kadar suatu obat dengan teliti karena dengan titrasi ini, penyimpangan titik ekivalen lebih kecil sehingga lebih mudah untuk mengetahui titik akhir titrasinya yang ditandai dengan suatu perubahan warna, begitu pula dengan waktu yang digunakan seefisien mungkin. Yang terjadi pada reaksi netralisasi

setelah dilakukan penitrasian antara asam-basa dari larutan yang akan diujikan inilah yang menjadi masalah sehingga dianggap perlu dilakukannya percobaan reaksi netralisasi. Pada percobaan ini adalah penentuan kadar dengan metode asidi-alkalimetri menggunakan indikator phenopthalein hal ini

dilakukan karena jika meggunakan indikator yang lain, adanya kemungkinan trayek pH-nya jauh dari titik ekuivalen.

I.2

Maksud dan Tujuan

I.2.1 Maksud percobaan Maksud pada percobaan ini adalah penentuan kadar dengan metode asidi-alkalimetri menggunakan indikator phenopthalein hal ini dilakukan karena jika meggunakan indikator yang lain, adanya kemungkinan trayek pH-nya jauh dari titik ekuivalen I.2.2 Tujuan percobaan Menentukan kadar zat dari asam sitrat salisilat dengan metode alkalimetri serta kadar suatu senyawa dengan metode acidimetri. I.3 Prinsip percobaan Prinsip dari percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri ini yaitu, reaksi netralisasi lebih dikenal sebagai asam basa, reaksi ini menghasilkan larutan yang PH-nya lebih netral.1

ii

Titrasi asam basa pun melibatkan asam maupun basa sebagai titer atau titran, reaksi asam basa ini berdasarkan reaksi penetralan.2 Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni, reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksidayang berasal dari basauntuk menghasilkan air yang bersifat netral.4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori umum Berdasarkan atas hasil reaksi antara analit dengan larutan standar maka analisis volumetrik dibagi menjadi titrasi netralisasi (asam basa) yang terdiri dari alkalimetri dan asidimetri. Asidimetri merupakan titrasi terhadap larutan basa bebas dan larutan garam terhidrolisis dari asam lemah. Sedangkan alkalimetri merupakan titrasi terhadap larutan asam bebas dan larutan garam terhidrolisis dari basa lemah.1 Semua metoda titrimetri tergantung pada larutan standar yag mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan ketepatan yang tinggi. Metode volumetri diklasifikasikan menjadi

ii

titrasi asam-basa, titrasi redoks, titrasi pengandapan dan titrasi kompleksometri. Titrasi biasanya merupakan larutan elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis yang disebut sebagai titik ekivalen. Perbedaan titik akhir dan titik ekivalen disebut sebagai kesalahan titik akhir. Kesalahan titk akhir adalah kesalahan acak yang berbeda ntuk setiap sistem. Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat dihitung. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri, kesalahan titik akhir ditekan sampai nol.5,6 Teknik Volumetri dan Gravimetri menjadi alternatif metoda analisis yang mempunyai ketertelusuran tertinggi, karena metoda tersebut mempunyai ketertelusuran yang terdekat ke standar nasional maupun standar internasional. Untuk dapat melakukan analisis secara volumetri dan gravimetri yang baikdan benar diperlukan pengetahuan yang cukup, karena metoda ini dapat menjadi metoda acuan untk metoda pengukuran lainnya.6 Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji, kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya. Jadi apabila larutan tersebut merupakan larutan asam maka harus diberikan basa sebagai larutan ujinya, begitu pula sebaliknya. Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri (riset dan pengembangan). Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan menggunakan metode titrasi asam-basa, biasanya cara umum yang sering dilakukan adalah dengan menetesi larutan yang diuji, yang sebelumnya telah diberi larutan indikator, dengan larutan uji. Ditetesi hingga terjadi perubahan warna dari larutan indikator, apabila terjadi perubahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan larutan uji dihentikan. 5

ii

Kemudian

nilai

konsentrasi

larutan

yang

diuji

dihitung

berdasarkan cara yang telah ditetapkan dalam metode titrasi. Pada metode ini mata manusia memegang peranan penting dalam pengamatan terjadinya perubahan warna, juga dalam pengendalian proses yang berlangsung,dan penentuan nilai konsentrasi larutan, perhitungannya dilakukan secara manual. Dengan menggunakan cara ini terdapat beberapa kelemahan antara lain kesalahan paralaksi dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk perhitungan atau penentuan nilai konsentrasi larutan. Karena setiap individu dengan individu yang lainnya relatif berbeda, dalam pengamatan dan penghitungannya tergantung pada ketelitian masing-masing individu. Reaksi penetralan asam basa dapat digunakan untuk

menentukan kadar larutan asam atau larutan basa. Dalam hal ini sejumlah tertentu larutan asam ditetesi dengan larutan basa, atau sebaliknya sampai mencapai titik ekuivalen (asam dn basa tepat habis bereaksi). Jika molaritas salah satu larutan (asam atau basa) diketahui, maka molaritas larutan yang satu lagi dapat ditentukan. Jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa maka pH larutan akan naik, sebaliknya jika larutan basa ditetesi dengan larutan asam maka pH larutan akan turun. Grafik yang menyatakan perubahan pH pada penetesan asam dengan basa atau sebaliknya disebut kurva titrasi. Kurva titrasi berbetuk S, yang pada ttik tengahnya merupakan titik ekuivalen.(4) Titirasi asam-basa merupakan cara yang tepat dan mudah untuk menentukan jumlah senyawa-senyawa yang bersifat asam dan basa. Kebanyakan asam dan basa organik dan organik dapat dititrasi dalam larutan berair, tetapi sebagian senyawa itu terutama senyawa organik tidak larut dalam air. Namun demikian umumnya senyawa organik dapat larut dalam pelarut organik, karena itu senyawa organik itu dapat ditentukan dengan titrasi asam basa dalam pelarut inert. Untuk menentukan asam digunakan larutan baku asam kuat

ii

misalnya HCl, sedangkan untuk menentuan basa digunakan larutan basakuat misalnya NaOH. Tiik akhir titrasi biasanya ditetapkan dengan bantuan perubahan indikator asam basa yang sesuai atau dengan bantuan peralatan seperti potensiometri, spektrofotometer, konduktometer.4 Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu digunakan pengamatan dengan indikator bila pH pada titik ekuivalen 4-10. Demikian juga titik akhir titrasi akan tajam pada titirasi asam atau basa lemah, jika penitrasian adalah basa atau asam kuat dengan perbandingan tetapan disosiasi asam lebih besar dari 104 .pH berubah secara drastis bila volume titrannya. Pada reaksi asam basa, proton ditransfer dari satu molekul ke molekul lain. Dalam air proton biasnya tersolvasi sebagai H30. Reaksi asam basa bersifat reversibel. Temperatur mempengaruhi titrasi asam basa, pH dan perubahan warna indikator tergantung secara tidak langsung pada temperatur.5 Titrasi asam basa sering disebut asidi-alkalimetri, sedang untuk titrasi pengukuran lain-lain sering dipakai akhiran-ometri mengggantikan imertri. Kata metri berasal dari bahasa yunani yang berarti ilmu proses seni mengukur. I dan O dalam hubungan mengukur sama saja, yaitu dengan atau dari (with atau off). Akhiran I berasal dari kata latin dan O berasal dari kata Yunani. Jadi asidimetri dapat diartikan pengukuran jumlah asam ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur dalam jumlah basa atau garam). Pada kedua jenis titrasi diatas, dipergunakan indikator yang sejenis yaitu fenolftalein (PP) dan metil orange (MO). Hal tersebut dilakukan karena jika menggunkan indikator yang lain, misalnya TB, MG atau yang lain, maka trayek pHnya sangat jauh dari ekuivalen. Titrasi bebas air adalah suatu titrasi yang tidak menggunakan air sebagai pelarut, tetapi digunakan pelarut organic.Seperti diketahui dengan menggunakan pelarut air, asam atau basa dapat dititrasi dengan

ii

basa atau asam baku lain, seperti halnya asam-asaam organic atau alakaloida-alkaloida,cara titrasi dalam lingkungan air tidak dapat dilakukan, karena di samping sukar larut dalam air,juga kurang reaktif dalam air.5,6 Asidimetri dan alkalimetri yaitu 2 macam kelompok dari titrasi netralisasi. Asidimetri dan alkalimetri sering juga disebut dengan titrasi asidimetri dan titrasi alkalimetri. Titrasi asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan larutan baku basa. Titrasi alkalimetri sebaliknya alkalimetri merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan larutan baku basa. Larutan standart/larutan baku adalah suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan pasti dan teliti.4 Dimana, proses penambahan larutan standart ke dalam larutan analit sampai terjadi reaksi sempurna disebut proses titrasi. Dalam proses titrasi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu : 1. Indikator titrasi, yaitu zat kimia lain, analit atau titran yang sengaja ditambahkan pada proses titrasi untuk mengetahui titik ekivalen. 2. Titik Ekivalen/titik akhir teoritis, yaitu saat dimana reaksi tepat berlangsung sempurna. 3. Titik Akhir titrasi, yaitu suatu peristiwa dimana indikator telah menunjukkan warna dan titrasi harus dihentikan. Dalam titrasi juga perlu diperhatikan larutan standart primernya dan larutan standart sekundernya. Larutan standart primer yaitu suatu zat yang sudah diketahui kemurniannya dengan pasti, konsentrasinya dapat diketahui dengan pasti dan teliti berdasarkan berat zat yang dilarutkan. Larutan standart sekunder adalah suatu zat yang tidak murni atau kemurniannya tidak diketahui, konsentrasi larutannya hanya dapat diketahui dengan teliti melalui proses standarisasi, standarisasi dilakukan dengan cara menitrasi larutan tersebut dengan larutan standart primer. Serta faktor yang paling

ii

penting adalah ketepatan dalam pemilihan indikator agar kesalahan titrasi yang terjadi menjadi sekecil mungkin.

II.2 Uraian Bahan 1. Air suling (1: 96) Nama resmi Nama lain RM/BM Rumus Struktur Pemerian : Aqua destillata : Air suling, aquadest : H2O/18,02 :: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. Kelarutan Penyimpanan Khasiat Kegunaan :: Dalam wadah tertutup baik : : Sebagai pelarut

2. Asam Sitrat (FI III,50) Nama resmi Nama lain RM/BM Rumus Struktur Pemerian : Acidum Citricum : Asam Sitrat : C6H8O7.H2O / 210,14 :: Hablur tidak berwarna, atau serbuk putih, tidak berbau, rasa sangat asam, agak

higroskopi, merapuh dalam udara kering dan panas. Kelarutan : Larut dalam kurang dari 1 bagian air, dan dalam 1,5 bagian etanol (95%) P, sukar larut dalam eter P Penyimpanan Khasiat Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik : Sebagai pelarut : Sebagai zat tambahan

ii

3. Etanol (FI III, 65) Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : Aethanolum : Etanol, alkohol :: Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam

kloroform I dan dalam eter P Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk, jauh dari nyala api. Khasiat Kegunaan : Sebagai pelarut : Sebagai zat tambahan

4. Fenolftalein (1: 675) Nama resmi Nama lain RM/BM Rumus Struktur : : Phenolftalein : Fenolftalein : C20H14O4/318,32

Pemerian

: Serbuk hablur putih, putih atau kekuningan, larut dalam etanol, agak sukar larut dalam eter

Kelarutan

: Sukar larut dalam air, larut dalam etanol (95%) P

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

ii

Khasiat Kegunaan 4. Kalium Biftalat Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian Kelarutan Penyimpanan Khasiat Kegunaan

: : Sebagai larutan indikator.

: Kalium hidrogenftalat : Kalium biftalat : CO2.C6H4.CO2K/204,2 : Serbuk hablur, putih tidak berwarna : Larut perlahan-lahan dalam air, larutan jernih : Dalam wadah tertutup baik :: Sebagai baku primer

6. Natrium hidroksida (1:412) Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : Natrii hydroxydum : Natrium hidroksida : NaOH/40,00 : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, rapuh dan mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap CO2 Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%) . Penyimpanan Khasiat Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik : : Sebagai zat tambahan

ii

BAB III METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat 1. Buret 2. Corong 3. Erlenmeyer 250 ml 4. Gelas ukur 100 ml 5. Gelas kimia 100 ml, 500 ml 6. Lap kasar dan lap halus 7. Pipet tetes 8. Batang pengaduk 9. Statif 10. Timbangan III.1.2 Bahan 1. Aluminium Foil 2. Aquades 3. Asam sitrat 4. Etanol 5. Fenoftalein 6. Kalium biftalat 7. Natrium hidroksida 8. Tissue

ii

III.2 Cara kerja Cara pembuatan air bebas CO2 1. Diukur 350 ml aqua destilata 2. Dipanaskan menggunakan waterbath hingga mendidih 3. Didinginkan, kemudian terbentuk 350 ml air bebas CO2 Cara Pembuatan NaOH 0,1 N 1. Ditimbang 0,91 gram NaOH 2. Dilarutkan pada 250 ml air bebas CO2 3. Diaduk hingga larut, sampai terbentuk larutan NaOH 0,1 N Cara pembakuan NaOH 0,1 N 1. Ditinbang 0,03 gram kalium biftalat 2. Dikeringkan pada suhu 1500 selama 30 menit 3. Dilarutkan 75 ml air bebas C02 4. Diaduk hingga larut 5. Dititrasi NaOH menggunakan indikator Fenolftalein, sampai terbentuk larutan baku NaOH 0,1 N Penetapan kadar asam sitrat 1. Ditimbang 300 mg asam sitrat 2. Dilarutkan dalam 100 ml air 3. Ditetesi Fenolftalein 2-3 tetes 4. Dititrasi dengan NaOH 0,1 N, sampai terjadi perubahan warna merah muda

ii

BAB IV HASIL DAN PENGAMATAN

IV.1 Hasil Pengamatan IV.1.1 Gambar Hasil

Proses titrasi sehingga menghasilkan warna merah muda

IV.1.2 Tabel Pengamatan Pembakuan NaOH 0,1 N

No Sampel yang Vol. Membakukan Titrat 1. NaOH 2 ml

Vol. Titran

Indikator PP

Perubahan Warna bening-merah muda

25,5 ml 3 tetes

2. Kalium Biftalat 2 ml

18,5 ml 3 tetes

bening-merah Muda

ii

Penetepan Kadar Asam Sitrat No Sampel Vol. Titrat Vol. Titran Rata-rata 1. Asam sitrat 20 ml 10,8 ml 3 tetes bening-merah Muda 2. Asam sitrat 20 ml Muda 11,2 ml 3 tetes bening-merah Indikator PP Perubahan Warna

IV.2 Perhitungan Penetapan kadar aam sitrat Dik : - volume NaOH (V1) = 14 ml - Normalitas = 0,1 N - Volume Asam Sitrat= 20 ml Dit : Normalitas Asam Sitrat?

Penye : - Menentukan berat ekuivalen V1 = V2.N2 14x = 20 x N 1,4 = 20 N

Pembakuan NaOH dengan Dik : - Volume Kalium Biftalat = 2 ml

- Normalitas Kalium Biftalat = 0,1 N

ii

- Normalitas NaOH Dit : Volume NaOH?

= 0,1 N

Penye : V1.N1 = V2N2 2 x 0,1 = V x 0,1 0,2 V V = 0,1 V = = 2 ml

% kadar asam sitrat (b/v)

Perhitungan PH Asam Sitrat

IV.3 Reaksi

ii

BAB V PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan titrasi asidi-alkalimetri. Adapun langkah paling awal yang dilakukan sebelum melakukan titrasi yaitu menyiapkan alat dan bahan. Semua alat yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu menggunakan tissue yang diberi etanol 70% agar alat yang akan digunakan tersebut terbebas dari mikroba atau

bakteri. Pada titrasi ini menggunakan asam sitrat sebagai sampel untuk ditentukan kadarnya, karena merupakan senyawa basa lemah dan asam kuat, sehingga lebih bersifat asam oleh karena itu menggunakan metode alkalimetri. Dari pengertian alkalimetri itu sendiri adalah penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.3 Selain itu juga menggunakan NaOH atau natrium hidroksida sebagai larutan baku atau titran, kalium biftalat merupakan bahan yang akan dibakukan, fenoftalein sebagai indikator, daun aqua destilata sebagai pelarut. Adapun untuk pembuatan NaOH 0,1 N dengan menimbang 0,91 gram senyawa NaOH, setelah itu dilarutkan pada 250 ml air. Agar tidak adanya partikel-partikel kecil dalam larutan, maka harus diaduk untuk memperoleh larutan yang homogen dan dapat mempengaruhi hasil akhir pada proses titrasi. Selanjutnya pembakuan NaOH 0,1 N dengan menimbang kalium biftalat sebanyak 0,03 gram, setelah itu dikeringkan pada suhu 280 selama 2 jam, untuk mengurangi kadar air dalam zat baku tersebut, sehingga menghasilkan konsentrasi yang tepat pada proses pembakuan.

ii

Selanjutnya dimasukan dalam 75 ml air bebas CO2. Air bebas CO2 dibuat dengan mendidihkan aquades dalam keadaan tertutup agar tidak terpengaruh oleh karbon dioksida di udara, karena jika tidak

menggunakan air bebas CO2 akan mempengaruhi keasaman dari botol atau kebasaan botol berkurang, sehingga analisa akan sulit dilakukan karena analisanya bersifat basa terlebih dahulu sebelum dititrasi dengan NaOH. Kemudian diaduk hingga larut agar larutannya homogen. Setelah campuran homogen sempurna, lalu di tambah 3 tetes indikator penolfthalein kemudian di titrasi dengan NaOH sehingga terbentuk pada titik akhir titrasi terjadi perubahan warna merah muda. Setelah itu proses titrasi dengan menggunakan sampel berupa asam sitrat. Ditimbang asam sitrat sebanyak 0,3 gram, kemudian dilarutkan dalam 100 ml air. Dalam percobaan ini indikator yang digunakan adalah fenolftalein, hal ini disebabkan karena fenol mempunyai warna ungu dan tak berwarna atau penambah nion hidroksida, menghilangkan untuk menggantikannya mengubah indikator-indikator menjadi warna ungu. Fenolftalein juga digunakan tanda bereaksinya antara NaOH yang telah direaksikan Fenolftalein dengan kalium biftalat sehingga menghasilkan titik akhir titrasi menjadi warna merah muda

ii

BAB VI PENUTUP

VI.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa, penetapan kadar pada senyawa asam sitrat sebagai titrat, dan NaOH sebagai titer dengan menggunakan prinsip reaksi asam basa maka diperoleh hasil akhir dari titrasi yaitu adanya perubahan warna merah muda yang dipengaruhi oleh indikator phenoftalein.

VI.2 Saran Disarankan dalam kegiatan praktikum untuk para praktikan dapat mengetahui dan memahami prinsip kerja titrasi dengan menggunakan metode reaksi asam basa. Untuk laboratorium menambah sarana dan prasarana, sebagai penunjang segala kegiatan didalam laboratorium terutama neraca analitik demi kepentingan praktikum sehingga akan menciptakan suasana yang kondusif di dalam laboratorium.

ii

DAFTAR PUSTAKA

1. Day, RA.A. dan Underswood. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif edisi kelima. Erlangga : Jakarta 2. Dirjen Pom. 1995. Farmakope Indonesia edisi keempat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta 3. Dirjen Pom. 1979. Farmakope Indonesia edisi ketiga. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta 4. Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Gramedia 5. G, Ibnu. Abdul rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka pelajar : Yogyakarta 6. R, Sudarsono. 2007. Asidi-Alkalimetri. (online). (www.scribd.prinsipkerja/titrasi/asidi-alkali.com) diakses 19 juni 2012. 7. Tirtawati. 2006. Asidi-Alkalimetri (onliei) (www.scribd-titik ekuivalen.com) diakses 19 juni 2012. 8. W. Nusi. 2003. Laporan Praktikum Kmia Analisis. Universitas Indonesia Timur. : Makasar

ii