Anda di halaman 1dari 3

masalah yang ditimbulakan akibat demo 1.

Merugikan diri sendiri dan orang lain Contoh kasus: Dikutip dari berita KOMPAS.com , Demo Mahasiswa UI di stasiun UI terkait kasus penggusuran kios pedagang di tanah PT KAI. Sebagian mahasiwa dari BEM UI rela melewatkan Ujian Akhir Semester yang saat ini tengah berlangsung untuk demo mahasiswa UI. Disisi lain , Selama penertiban yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB, Stasiun UI tidak beroperasi. Selain itu, KRL juga tidak berhenti di stasiun tersebut. Para penumpang diimbau untuk naik atau turun di stasiun terdekat, seperti Stasiun Pondok Cina dan Stasiun Universitas Pancasila. Mahasiswa peran utamanya tentulah belajar dikampus , namun disamping itu mahasiswa sebagai kaum intelektual diharapkan juga mampu menjalankan peran lain , antara lain manjadi social control yang salah satunya sering dilakukan dengan cara demontrasi. Adanya konflik peran tersebut dapat berakibat dilematis yang akhirnya harus ada yang dikorbankan sehingga bisa merugikan mahasiswa itu sendiri ataupun orang lain. Dalam kasus diatas mahasiswa tentu saja rugi telah meninggalkan Ujian Akhir Semester. Selain itu , masyarakat luaspun juga ikut merasakan dampakanya , seperti pengguna KRL yang tidak bisa naik dan turun di stasiun UI. 2. Mengganggu ketertiban Umum Contoh kasus : Petugas polisi menyiapkan pengalihan jalur lalu lintas kendaraan untuk mengantisipasi dampak demonstrasi buruh di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur. (ANTARA News) Masalah yang dapat ditimbulkan oleh demontrasi adalah terganggunya ketertiban umum. Dari contoh kasus diatas disebutkan bahwa karena ada demo buruh maka polisi harus menyiapkan pengalihan jalur sebagai langkah antisipasi dampak demonstrasi.. Adanya pengalihan jalur tersebut tentu saja merugikan pengguna jalan. Mereka jadi harus memutar dan menempuh jarak yang lebih jauh. Meskipun contoh diatas adalah demo buruh namun hal itu tidak jauh berbeda dengan demo mahasiswa karena hanya berbeda pelakunya saja. 3. Membuat jalanan macet Yogyakarta (15/06) Sabtu siang (15/06) Aliansi PMII UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar demo BBM di pertigaan UIN Jalan Laksda Adisucipto

Yogyakarta sehingga menyebabkan kemacetan luar biasa. Lalu lintas Yogyakarta yang sudah padat menjadi semakin macet dengan adanya demo ini. Kemacetan pun mengular sampai depan Ambarukmo Plaza. Pertigaan UIN ini memang menjadi tempat favorit pendemo melakukan orasi dengan menguasai penuh pertigaan jalan sehingga mau tidak mau lalu lintas pun menjadi tersendat dan macet luar biasa. 4. Merusak fasilitas pribadi dan negara Contoh kasus : Pantauan detikcom di sekitar gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (30/3/2012), ada beberapa kerusakan di sekitar lokasi. Berikut ini daftarnya:

1. Pagar pembatas tol dalam kota dari arah Semanggi ke Slipi sepanjang kurang lebih 50 meter. 2. Pagar pembatas tol dari arah Slipi ke Semanggi, kerusakan kira-kira 20 meter. Pagar pembatas saat ini sudah mulai diperbaiki dengan cara dilas oleh Jasa Marga. Belasan orang melakukan perbaikan ini. 3. Pagar DPR sebelah timur rusak kira-kira sepanjang 20 meter. 4. Pagar seblah barat kerusakan sepanjang 12 meter. 5. Taman dan pagar di depan gerbang DPR pun rusak. 6. Tembok gerbang utama penuh coretan tinta semprot. 7. Jalan Tol Dalam Kota pun terdapat coretan tinta semprot. (news.detik.com) Dari berita tersebut kita bisa mengetahui banyak sekali kerusakan yang ditimbulkan dari keanarkisan sebuah demonstrasi. Kadang kala demonstran yang turun ke jalan rawan sekali terprovokasi dan tersulut amarahnya. Sehingga, pada aksi turun jalan biasanya demonstrans selalu membuat border dengan tujuan agar tidak dimasuki penyusup yang bisa memprovokasi. Karena jika disusupi provokasi , kemungkinan mereka akan melakukan hal hal yang seharusnya tidak terjadi. Seperti misal , ada orang yang sengaja berkata kata kotor untuk mengadu domba demonstran dengan petugas keamanan sehingga berakhir ricuh dengan sebuah bentrok anarkis yang merusak apapun di dekatnya sebagai luapan emosi.

5. Bisa terjadi jatuhnya korban LIMA belas tahun yang lalu, enam mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembus peluru polisi. Mereka menjadi martir saat melakukan aksi demonstrasi menolak pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden, pada 12 Mei 1998 silam. Kematian pejuang pro demokrasi itu, dengan cepat menyebar dan membakar amarah rakyat. (nasional.sindonews.com) Tragedi trisaksi merupakan salah satu contoh paling memilukan. peristiwa itu terjadi saat ribuan mahasiswa menggelar longmarch dari kampus Trisakti di Grogol, menuju Gedung DPR/MPR di Slipi Jakarta. Namun, baru sampai depan kampus, mereka sudah dihadang ratusan polisi bersenjata lengkap dengan posisi siap menembak. Mereka tetap melangsungkan aksi demonstrasi dengan menggelar mimbar bebas di jalan selama berjam-jam. Polisi yang kesal kemudian menyuruh mahasiswa masuk, sambil mengancam akan menembak jika mereka tak mendengar. Mahasiswa pun setuju untuk kembali ke dalam kampus dengan damai. Namun, saat akan masuk ke dalam kampus, mereka mendapat provokasi hingga berujung pada bentrokan fisik. Suasana berubah menjadi chaos, dan terdengar suara rentetan tembakan ke arah massa pro demokrasi itu. 6. Sampah berserakan di jalanan akibat aksi anarkis yang dilakukan Demontrasi biasanya tidak hanya bersuara , namun mereka juga membawa properti properti pendukung untuk menyuarakan aspirasi mereka. seperti , pamflet , poster , spanduk , ataupun peralatan lain yang kurang jelas fungsinya, seperti ban. Tidak jarang kita melihat ada pembakaran ban pada aksi demontrasi. Padahal hal itu menimbulkan polusi , asapnya yang mengepul dan baunya yang tidak enak cukup mengganggu, ditambah lagi bekas bakarannya yang bisa mengotori jalanan. Selain ban , sampah lain yang sering mengotori jalanan paska ada demontrasi anarkis adalah batu/kerikil, pecahan kaca dan botol plastik yang berserakan dimana mana. 7. nilai tukar mata uang menurun drastis apabila demonstrasi ditayangkan dan bisa mempengaruhi penanaman saham di Indonesia Logikanya begini, dengan adanya demonstrasi yang anarkhis, para calon investor akan melihat Indonesia sebagai tempat yang sangat riskan untuk berinvestasi, sehingga demonstrasi jenis itu dapat mengurangi minat para investor, terutama investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.