Anda di halaman 1dari 5

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A.

Hasil Pengambilan sampel dilakukan di Bangsal bedah dan ruang perawatan intensif RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Sampel penelitian ini adalah semua pasien pengguna kateter urin yang telah dirawat minimal 2 hari di Bangsal bedah dan ruang perawatan intensif RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dalam kurun waktu Agustus 2010 September 2010. Selama periode penelitian didapatkan 51 pasien pengguna kateter urin yang dirawat inap minimal 2 hari selain penderita infeksi saluran kemih selama periode agustus-september 2010. Dari 51 pasien pengguna kateter urin hanya 50 yang masuk kriteri inklusi. Bakteri Proteus sp. diisolasi dari pasien pengguna kateter urin dan ditumbuhkan dengan medium Mac conkey (MC). Koloni yang tumbuh pada suhu 37 C memiliki ciriciri berbentuk bulat, permukaanya datar, halus, tidak berwarna, tembus cahaya, berukuran diameter koloni Proteus sp. 2-3 mm. Hasil identifikasi selanjutnya dengan uji pewarnaan gram menunjukkan gram (-) dengan ciri sel berwarna merah, berbentuk batang lurus. Pada uji biokimia didapatkan hasil Idol (+), MR (+), VP (+), CC (+), gelatinase (+), urease (+), motilitas (+), fermentasi glukosa (+), sukrosa (+), manitol (-), lactosa (-). Dari 50 sampel, hasil kultur positif Proteus sp. sebanyak 14 sampel. Rerata umur dari 14 pasien yaitu 54 tahun dengan rentang umur 25-70 tahun. Bakteri Proteus sp. yang didapat kemudian dilakukan Initial Screen Test untuk mengetahui Proteus sp. sebagai penghasil ESBL dengan antibiotik ceftazidim dan cefotaksim. Hasil Initial Screen Test dapat dilihat pada gambar 4.1. Uji terhadap Proteus sp. dilanjutkan dengan uji sensitivitas dengan metode Disk Diffusion dengan menggunakan antibiotik ampisilin 10g. Tingkat sensitivitas ampisilin diketahui dengan mengukur diameter zona zona hambat yang dihasilkan koloni Proteus sp. Sensitivitas antibiotik ditentukan berdasarkan Clinical

Laboratory Standard Institute (CLSI, 2008). Kriteria ESBL jika zona hambat pada cefotaxim < 27 mm, dan ceftazidim 22 mm. Sensitivitas ampisilin dikategorikan menjadi sensitif jika menghasilkan diameter zona hambat > 17 mm, Resisten 13mm, dan Intermediet 14-16 mm. Hasil uji sensitivitas ampisilin terhadap Proteus sp. penghasil ESBL dan bukan penghasil ESBL seperti terlihat pada tabel 4.2. Proteus Penghasil ESBL dan bukan penghasil ESBL Penghasil ESBL Bukan penghasil ESBL

43% 57%

Gambar 4.1. Populasi Proteus sp. penghasil ESBL dan bukan penghasil ESBL

50
40 30 20 10

42.85 28.57 21.42 7.14 0 0 sensitif (%)

0 resisten (%) intermediet (%) Penghasil ESBL Bukan penghasil ESBL

Gambar 4.2. Grafik Tingkat sensitivitas ampisilin terhadap Proteus sp. penghasil ESBL dan bukan penghasil ESBL.

Gambar 4.2. menunjukkan bahwa Proteus sp. penghasil ESBL memiliki persentase resistensi terhadap ampisilin yang lebih tinggi sebesar 42,85% daripada bukan penghasil ESBL sebesar 28,57%. Tingkat sensitivitas ampisilin dilihat dari terbentuknya zona jernih di sekitar kertas cakram antibiotik. Tabel 4.2. Tabel hasil uji Kolmogorov-Smirnov Kolmogorov smirnov Z 0,926 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,358

Berdasarkan hasil analisis bivariat dengan chi-square tidak dapat digunakan karena terdapat nilai expected count < 5 atau sebesar > 20% sehingga menggunakan uji hipotesis alternatif yaitu uji Kolmogorov Smirnov. Hasil uji hipotesis alternatif dengan Uji Kolmogorov Smirnov di atas didapatkan nilai p=0,358 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbandingan yang bermakna tingkat sensitivitas ampisilin terhadap Proteus sp. penghasil ESBL dengan bukan penghasil ESBL pada urin kateter. B. Pembahasan Sebanyak 50 sampel yang dikultur, 34 sampel dinyatakan tidak tumbuh Proteus sp. Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kuman antara lain lama waktu pengiriman spesimen urin dan kondisi transportasi (Winkens R, 2003). Pada Hasil Initial Screen Test menunjukkan bahwa prosentase Proteus sp. penghasil ESBL lebih sedikit yaitu 43% dari pada bukan penghasil ESBL sebesar 57%. Hal ini sesuai dengan penelitian Spanu di Amerika tahun 2002 yang menyebutkan bahwa prosentase Proteus sp. sebagai penghasil ESBL lebih sedikit dari pada bukan penghasil ESBL. Hasil uji sensitivitas dengan metode Disk Diffusion Test menunjukkan bahwa Proteus sp. penghasil ESBL yang sensitif terhadap ampisilin yaitu sebesar 0% sedangkan pada bukan penghasil ESBL sebesar 21,42%. Hal ini menunjukkan bahwa Proteus sp. bukan

penghasil ESBL dapat dihambat pertumbuhanya oleh ampisilin. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ho tahun 2005 di Hongkong yang menunjukkan bahwa hasil sensitif terhadap Proteus sp. bukan penghasil ESBL lebih banyak dibanding penghasil ESBL. Hasil tingkat sensitivitas yang menunjukkan resisten terhadap ampisilin lebih tinggi pada Proteus sp. penghasil ESBL sebesar 42,85% dari pada bukan penghasil ESBL sebesar 28, 57%. Hal ini sesuai dengna penelitian Ho tahun 2005 di Hongkong yang menyebutkan bahwa resistensi ampisilin terhadap Proteus sp. penghasil ESBL lebih tinggi dibanding bukan penghasil ESBL. Resistensi yang terjadi pada Proteus sp. terjadi karena bakteri ini memiliki gen penyebar resisten yaitu TEM, CTX-M, PER (Essack, 2001) Resistensi terhadap antibiotik yang terjadi pada Proteus sp. penghasil ESBL lebih tinggi daripada bukan penghasil ESBL. Mekanisme resistensi dapat terjadi secara genetik yaitu melalui penyebaran gen resisten bakteri secara horizontal dalam proses konjugasi, transduksi, dan transformasi (Willey, 2004). Faktor lain yang menyebabkan resistensi bakteri terhadap antibiotik yaitu akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional seperti pemberian antibiotik pada keadaan tanpa infeksi bakteri, kesalahan pemilihan antibiotik, dosis yang tidak tepat, penggunaan antibiotik berlebih untuk profilaksis, serta perilaku self medication akibat penjualan antibiotik secara bebas di masyarakat (Sundsfjord et al., 2008; Widodo, 2010; Hadi, 2008). Penelitian ini memiliki kekurangan dalam pemilihan sampel yaitu tidak memasukkan pasien yang telah mengkonsumsi antibiotik sebelumnya ke dalam kelompok eksklusi. Hal ini dikarenakan 45 dari 50 sampel pasien pengguna kateter urin yang telah dirawat di bangsal bedah dan ruang perawatan intensif Rumah Sakit Prof. Dr. Margono Soekarjo sudah mengkonsumsi antibiotik.