Anda di halaman 1dari 27

Balitbangda Kab Kutai Kartanegra 2013

Latar Belakang
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) :
Memberikan indikasi tentang penduduk usia kerja

yang termasuk dalam kelompok pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka diukur sebagai persentase jumlah penganggur/pencari kerja terhadap jumlah angkatan kerja, yang dapat dirumuskan sebagai berikut: TPT = (Pencari Kerja / Angkatan Kerja) x 100 %

Kegunaan Indikator TPT


Kegunaan dari indikator pengangguran terbuka ini

baik dalam satuan unit (orang) maupun persen berguna sebagai acuan pemerintah bagi pembukaan lapangan kerja baru. Selain itu, perkembangannya dapat menunjukkan tingkat keberhasilan program ketenagakerjaan dari tahun ke tahun. Yang lebih utama lagi indikator ini digunakan sebagai bahan evaluasi keberhasilan pembangunan perekonomian .

Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk peramalan

atau forcasting, bukan untuk menguji hipotesis. Oleh karena itu uji asumsi klasik dalam regresi multivariate dapat diabaikan

TINJAUAN PUSTAKA
Produk Domestik Regional Netto atas dasar biaya faktor (NRDP at

factorcost) ditambah pendapatan netto yang mengalir dari/ke daerah = Pendapatan Regional : Jlh Penduduk = Pendapatan Regional Perkapita. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih, terdiri : Belanja langsung & Belanja Tidak langsung Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. Definisi penduduk (menurut BPS) adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama enam bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari enam bulan tetapi bertujuan menetap.

Faktor Yg Mempengaruhi Pengangguran


Hukum Okun menyatakan bahwa untuk setiap penurunan 2

persen GDP yang berhubungan dengan GDP potensial, angka pengangguran meningkat sekitar 1 persen (Samuelson and Nordhaus, 2004: 365-366) Belanja APBD. Pengeluaran pemerintah merupakan komponen relatif kecil dibanding komponen lain dalam penghitungan pertumbuhan ekonomi. Walau demikian, pengeluaran pemerintah mempunyai efek sosial politis yang strategis sebagai fungsi alokasi, distribusi, maupun stabilisasi. Selain itu, pengeluaran pemerintah pun mempunyai efek multiplier terhadap ekonomi makro riil dalam pergerakan jangka pendek dari output dan ketenagakerjaan (Samuelson & Nordhaus, 2001).

Upah Minimum
Teori yang signifikan untuk menjelaskan keadaan

perekonomian di suatu daerah khususnya di Indonesia adalah mengenai teori kekakuan upah. Kekakuan upah (Wage rigidity) adalah gagalnya upah melakukan penyesuaian sampai penawaran tenaga kerja sama dengan permintaannya. Hal tersebut dikarenakan jika UMK meningkat maka biaya produksi yang dikeluarkan cukup tinggi, sehingga terjadi inefisiensi pada perusahaan dan akan mengambil kebijakan pengurangan tenaga kerja guna mengurangi biaya produksi dan hal ini akan berakibat dikuranginya tenaga kerja.

Penduduk
Jumlah Penduduk. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja

yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di suatu daerah menjadi semakin serius. (Tambunan, 2002) Kesempatan kerja ini juga akan dipengaruhi oleh jumlah penduduk, angkatan kerja dan kebijaksanaan kesempatan kerja itu sendiri. Keseluruhan faktor-faktor ini, secara langsung atau tidak langsung, akan dipengaruhi pula oleh berbagai faktor-faktor internasional, baik ekonomi maupun politik (Tjiptoherijanto, 1996).

3. Metodologi
Penelitian ini akan menggunakan persamaan regresi

linear berganda dan di transformasikan dalam bentuk Logaritma Natural (LN) LnY = + 1Ln X1 + 2Ln X2 + 3Ln X3 + 4Ln X4 +i Alasan Penggunaan Logaritma Natural dalam

Penelitian ini adalah:


Data memiliki satuan yang tidak sama Untuk Menghilangkan Heterokodesitas Untuk memudahkan pembacaan parameter/koefisien

regresi sebagai elastisitas. Analisis Menggunakan SPSS IBM 20

4. Hasil Penelitian
Pengangguran Terbuka
Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Pengangguran Terbuka 16,877 11,223 24,930 30,001 33,980 23,530 23,977 % Kenaikan Dari Th Sebelumnya

0 -33.50% 122.13% 20.34% 13.26% -30.75% 1.90%

Pendapatan Perkapita
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Rata-rata Dg Migas 79,507,740 107,731,840 116,265,865 120,487,902 168,258,620 137,614,559 146,410,984 171,642,133 171,030,000 135,438,849.22 Tanpa Migas 15,601,560 20,097,876 23,798,883 29,220,883 38,101,821 42,339,709 52,425,605 70,844,178 81,640,000 41,563,390.56 Indonesia 9,161,512.59 10,9673,92.69 12,943,210.79 15,125,923.58 18,774,283.37 20,731,425.57 23,759,818.77 27,298,811.57 30,516,670.73 21,307,163.48

Realisasi Belanja
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012* REALISASI BELANJA Pertumbuhan (Rupiah) Realisasi Belanja 1,427,868,200,000.00 1,760,050,790,000.00 23.26% 1,992,266,620,000.00 13.19% 1,949,392,520,000.00 -2.15% 2,691,188,530,000.00 38.05% 3,584,915,420,000.00 33.21% 3,161,869,820,146.52 -11.80% 3,688,472,000,000.00 16.65% 3,975,278,022,970.09 7.78% 3,864,982,953,015.95 -2.77% 3,923,614,398,861.23 1.52% 4,939,635,215,148.76 25.90%

Perkembangan UMK
Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 UMK % Kenaikan 704,600 795,244 12.86% 858,000 7.89% 990,185 15.41% 1,072,864 8.35% 1,155,000 7.66% 1,254,712 8.63% 1,908,146 52.08%

Jumlah Penduduk
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011* 2012* 2012**

Jumlah 427,791 444,997 462,896 481,514 500,881 521,027 541,154 561,960 583,461 605,675 626,680 651,069 676,408 845,058

Laju Pertumbuhan 0 4.02% 4.02% 4.02% 4.02% 4.02% 3.86% 3.84% 3.83% 3.81% 3.47% 3.89% 3.89% 29.80% (Capil 13)

Analisis & Pembahasan


hubungan variable terikat (Pengangguran) dengan empat variable bebas : 1. Hubungan pengangguran dengan pendapatan perkapita dengan migas 2. 3. 4.

sebesar 0,576 dengan tingkat signifikan 0.088 Hubungan pengangguran dengan pendapatan relalisai Belanja APBD sebesar 0,592 dengan tingkat signifikan 0.081 Hubungan pengangguran dengan Upah minimum Kabupaten 0.619 dengan tingkat signifikan 0.069 Hubungan pengangguran dengan jumlah penduduk sebesar 0,589. dengan tingkat signifikan 0.082

Kriteria nilai koreasi sebagai berikut: a. 0 sampai 0,25 : Korelasi Rendah b. Diatas 0,25 sampai 0,5 : Korelasi Sedang c. Diatas 0,5 sampai 0,75 : Korelasi Kuat d. Diatas 0,75 sampai 1 : Korelasi sangat Kuat (Jonatan Sarwono,

2007: 22)

Hubungan secara serentak/ simultan


Hubungan secara simultan antara variable independen

dengan variable dependen ditunjukkan oleh nilai R yaitu sebesar 0,858 atau sangat kuat, Sedangkan besaran pengaruh variable independen terhadap variable dependen merupakan pengkuadratan nilai R, nilai R Square yakni sebesar 0.737 yang Artinya bahwa sebesar 73,7 % variable dependen Pengangguran dipengaruhi oleh variasi variable independen sebesar 73,7% selebihnya dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diteliti.

Analisis Permodelan
LnY = + 1Ln X1 + 2Ln X2 + 3Ln X3 + 4Ln X4 +i Y= 218,119 + 2,720 X1 + 1,201 X2 + 11,873 X3 34,371 X4

Fungsi regresi tersebut diatas dapat dinarasikan sebagai berikut : 1. Jika nilai variabel independen sama dengan nul maka pengangguran berjumlah 218,119 Orang; 2. Setiap kenaikan pendapatan perkapita 1% akan menaikkan pengangguran sebesar 2,720% ; 3. Setiap kenaikan Realisasi Belanja APBD sebesar 1% akan menaikkan pengangguran sebesar 1,201%; 4. Setiap kenaikan Upah Minimum Kabupaten 1% akan menaikkan pengangguran sebesar 11,873%; 5. Setiap kenaikan Jumlah Penduduk sebesar 1%, akan menurunkan pengangguran sebesar 34,371%. Nilai koefisien variabel Jumlah Penduduk menunjukkan tanda negatif berarti mempunyai pengaruh yang berlawanan.

Interprestasi 1. Pendapatan Perkapita


Pendapatan perkapita menjadi tolok ukur kemakmuran,

semakin tinggi pendapatan perkapita semakin tinggi pula tingkat kemakmuran suatu daerah. Kabupaten Kutai Kartanegara dari tahun 2004 sampai tahun 2012 rata-rata pendapatan perkapita sebesar Rp 135,438,849.22, dengan migas dan Rp 41,563,390.56 tanpa migas, Sedangkan Pendapatan Perkapita Republik Indonesia tahun 2012 sebesar Rp 30,516,670 (http://www.bps.go.id/tab_sub/ view.php?tabel=1&id subyek=11&notab=76) dan pada tahun yang sama pendapatan perkapita di Kabupaten Kutai Kartanegara sebesar Rp 171,030,000 dengan Migas dan Rp 81,640,000 tanpa migas.

1. Setiap kenaikan pendapatan perkapita 1% akan menaikkan pengangguran sebesar 2,720% ;


Hal Ini menunjukkan : Perkembangan

Pendapatan perkapita dari tahun 2006 sampai 2012 lebih rendah dibanding dengan laju perkembangan pengangguran Hal ini berarti terjadi indikasi ketidak merataan distribusi pendapatan.

Distribusi Pembagian Pendapatan /Income Distribution 1. 40% Rendah / Lower 2. 40% Sedang / Middle 3. 20% Tinggi / Highest 4. Rasio Pembagian Pendapatan Tinggi Ter-hadap Pendapatan Rendah / Ratio of Highest to Lowest 5. Gini Rasio / Ratio Gini

2008

2009

2010

19,59 51,82 28,58 1,46

22,80 47,57 29,64 1,30

20,44 51,97 27,59 1,35

0,24

0,22

0,22

2. Setiap kenaikan Realisasi Belanja APBD sebesar 1% akan menaikkan pengangguran sebesar 1,201%;
Realisasi APBD meningkat justru pengangguran

meningkat ini mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan lebih rendah dari laju pertumbuhan pengangguran Dalam arti lain bahwa belanja APBD belum dapat meningkatkan lapangan kerja melalui multiplayer efect terhadap terbukanya kesempatan kerja.

3. Setiap kenaikan Upah Minimum Kabupaten 1% akan menaikkan pengangguran sebesar 11,873%; 1. Kenaikan upah bagi buruh dapat meningkatkan kesejahteraan, namun sebaliknya bagi pengusaha akan menikatkan biaya produksi, sehingga kenaikan ongkos produksi menghambat perusahaan dalam melakukan ekspansi. 2. Dalam hal ini aspek upah menjadi penting, karena penghargaan (upah) akan menjadi efektif jika dihubungkan dengan kinerja secara nyata. Strategi upah yang efektif diharapkan dapat memberikan sumbangan pada terpeliharanya kelangsungan hidup satuan kerja, terwujudnya visi dan misi dan untuk pencapaian sasaran kerja melalui produktivitas yang tinggi yang pada akhirnya akan mengurangi tingkat pengangguran yang ada .

4. Setiap kenaikan Jumlah Penduduk sebesar 1%, akan menurunkan pengangguran sebesar 34,371%
Hubungan jumlah penduduk memiliki hubungan negatif atau

belawanan arah, dalam arti jika jumlah penduduk meningkat justru pengangguran akan menurun semikian juga sebaliknya, hal ini karena laju pertumbuhan penduduk lebih tinggi dari laju pertumbuhan pengangguran. Pengaruh negatif variabel jumlah penduduk Hal ini diduga disebabkan karena perkembangan jumlah penduduk diakibatkan oleh migrasi seperti transmigrasi baik melalui program pemerintah maupun secara swadaya, Dimana migrasi tersebut pada umumnya langsung bekerja pada sektor informal seperti pertanian dalam arti luas maupun sektor formal seperti Di Perkebunan dan Pertambangan serta sektor non formal seperti di bangunan.

Box. Transmigrasi
Pada tahun 1957 dilanjutkan pengiriman transmigran sebanyak 283 KK atau 866 jiwa transmigran ke lokasi Samboja.
Sampai dengan tahun 2002 Kab. K. Kartanegara - Jonggon C SP.1 tahun 2002 sebanyak 300 KK Sedang pada tahun 2004, Jonggon D, Kab. Kutai Kartanegara (100 KK/TU-TPLK) Dst..

Tahun 2013 (Kementerian Nakertrans) Paket Pengadaan konsultan Penyediaan Tanah Transmigrasi : Penertiban Penggunaan Dan Pemanfaatan HPL Lokasi Samboja, Lokasi Jonggon B Kec. Loa Kulu Dan Lokasi Kota Bangun Ulu (Racak) Kec. Kota Bangun Kab. Kutai Kartanegara Prov. Kalimantan Timur (RPM-3)

Rekomendasi
1. Pendapatan Perkapita Pendapatan perkapita yang tinggi disumbang oleh sektor Pertambangan dan galian sebesar 83,84 tahun 2010, disisi lain penyerapan tenaga kerja tersebut lebih rendah dibanding dengan sektor pertanian dan perdangangan. Oleh karena itu Pemerintah Daerah harus membuat kebijakan agar daya tarik tenaga kerja ke sektor pertanian dan perdagangan dapat meningkat. Kebijakan lainnya adalah pengembangan pada sektor sekunder seperti pada sektor industri.

2. Belanja APBD & 3. UMK


Agar kesempatan kerja meningkat, maka pengeluaran

pemerintah harus diarahkan kepada penyediaan social over head dan pembangunan ekonomi dalam jangka panjang. Pengeluaran seperti itu akan menciptakan lapangan kerja dan efesiensi produktifitas ekonomi. Kesempatan kerja juga ditentukan oleh tingkat upah. Tingkat upah yang rendah akan mendorong perluasan kesempatan kerja. Peningkatan upah akan meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja, namun akan mningkatkan biaya bagi perusahaan. Oleh karena itu kebijakan pengupahan juga harus mempertimbangkan kemampuan perusahaan.

4. Kependudukan
Perkembangan jumlah penduduk yang justru menurunkan

pengangguran merupakan fenomena yang tidak berlaku secara teoristis namun secara empiris terjadi di kabupaten Kutai Kartanegara. Dalam penelitian hal ini disebabkan oleh migrasi seperti transmigran/ pendatang yang siap kerja. Hal ini perlu menjadi catatan terhadap kemampuan bersaing tenaga kerja lokal/ asli. Oleh karena itu peningkatan kapasitas ketrampilan dan mendorong kewirausahaan perlu dilakukan secara berkesinambungan bagi wagra lokal.