Anda di halaman 1dari 5

PENYAKIT STRIKTUR URETRA Terminologi striktur uretra mengacu pada kelainan uretra anterior, atau proses pembentukan jaringan

parut yang melibatkan jaringan erektil spongiosa dari korpus spongiosum (spongiofibrosis). Jaringan erektil spongiosa dari korpus spongiosum mendasari epitel uretra, dan pada beberapa kasus proses pembentukan jaringan parut meluas ke jaringan di korpus spongiosum dan jaringan disekitarnya. Kontraksi dari jaringan parut ini mengurangi luas lumen uretra. Sebagai contoh, jika uretra normal berukuran 30 F, diameter 10 cm dan area di lumen memiliki luas kira-kira 78 m2. Jika timbul jaringan parut di uretra yang diukur sebesar 15 F, lumen hanya tinggal seluas 55 m2, atau terjadi penngurangan sebesar 29%. Ini merupakan bukti bahwa kontraksi jaringan parut yang disebabkan oleh striktur uretra anterior dapat asimptomatik sementara, namun jika lumen terus berkurang, hal ini dapat dikaitkan dengan munculnya tanda-tanda ketika berkemih. Disisi lainnya, striktur uretra posterior tidak dimasukkan kedalam definisi dari uretra striktur. Striktur uretra posterior merupakan proses obliveratif pada uretra posterior yang menyebabkan fibrosis dan secara umum efek yang muncul di area tersebut disebabkan oleh trauma lain atau radikal prostatektomi. Meskipun efek distraksi bisa memanjang pada beberapa kasus, proses yang melibatkan jaringan uretra biasanya terbatas. Berdasarkan konsensus WHO, terminologi striktur uretra terbatas hanya pada uretra anterior. Defek distraksi merupakan proses dari uretra membranaseus yang berhubungan dengan fraktur pelvis. Penyempitan lainnya pada uretra posterior biasanya disebabkan karena kontraktur uretra atau stenosis. Anatomi Uretra Meskipun anatomi uretra sudah digambarkan pada bagian awal, namun penekanan pada poinpoin anatomi yang utama merupakan hal penting. Uretra pars bulbosa terletak pada pinggir korpus spongiosum dan letaknya lebih dekat ke dorsum penil. Ke arah distal, uretra penile atau pendulus terletak di sentral korpus spongiosum. Kulit genital memiliki dua (proksimal dan distal) dan bilateral suplai darah, membentuk sistem fasiokutaneus. Korpus spongiosum menerima darah dari arteri penis, yang merupakan cabang terminal dari a.pudenda interna. Korpus spongiosum juga memiliki dua suplai darah, suplai darah proksimal dan distal melalui arteri dorsalis dan akan bercabang-cabang pada glan penis.

Etiologi Semua proses cedera pada epitel uretra atau korpus spongiosum dimana proses penyembuhan luka akan menyebabakan jaringan arut dapat menyebabkan striktur uretra anterior. Sekarang, striktur uretra kebanyakan disebabkan oleh trauma (biasanya straddle trauma). Sayangnya, trauma iatrogenik pada uretra masih ditemukan, namun dengan perkembangan dari endoskopik kecil dan pembatasan indikasi untuk sitoskopi pada pria, kami melihat kejadian striktur yang lebih sedikit pada masa sekarang dibanding dahulu. Sampai sekarang, tidak ada faktor yang diketahui secara jelas diidentifikasi sebagai penyebab idiopatik uretroragia. Kami menemukan hasil histologi dari pasien pada masa penyembuhan uretroragia yang menunjukkan ada bagian yang ditututpi oleh epitel skuamosa dan bagian lainnya ditutupi oleh epitel transisional, serta ada bagian yang tidak ditutupi epitel sama sekali dengan hemoragik akut dan infiltrasi neutrofil, terdapat beberapa fokus mikrokalsifikasi. Kami melihat peningkatan insidensi striktur yang berhubungan dengan liken sklerosus, dan striktur ini memiliki sifat sama seperti striktur akibat inflamasi dari pada striktur akibat trauma. Pada sisi lainnya, inflamasi striktur yang berhubungan dengan gonore sering ditemuakn pada masa lampau, namun jarang ditemukan saat ini. Dengan penanganan awal dan antibiotik yang efektif, uretritits gonokokal sekarang jarang menyebabkan striktur uretra. Chlamidia dan Ureaplasma urealyticum dalam perkembangan striktur uretra sampai sekarang belum jelas. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ada hubungan antara perkembangan striktur akibat inflamasi dengan lichen sclerosus balanitis xerotica obliterans (LS-BXO). LX-BXO biasanya dimulai dengan inflamasi di daerah glans dan dapat menyebabkan stenosis meatal, atau striktur pada fosa navikularis. Penyebab dari inflamasi uretra dan kulit penil distal tidak diketahui. Untuk rencana penatalaksanaan yang sesuai, sangat penting untuk menentukan lokasi, panjang, kedalaman, dan densitas dari striktur (spongiofibrosis). Panjang dan lokasi striktur dapat ditentukan dengan radiografi, uretroskopi, dan ultrasonografi. Kedalaman dan densitas dari parut pada jaringan spongiosa dapat diketahui dari pemeriksaan fisik, penampang uretra melalui zat kontras, dan elastisitas dengan menggunakan uretroskopi. Kedalam dan densitas sulit ditentukan secara objektif. Pemeriksaan dengan menggunakan USG dapat secara akurat menentukan panjang dari striktur tersebut.

Bagaimanapun, sangat penting dalam mengevaluasi secara lengkap uretra proksimal dan distal dengan menggunakan endoskopi selama operasi untuk meyakinkan bahwa semua uretra yang mengalami striktur termasuk kedalam rekonstruksi. Pada beberapa pasien, uretra proksimal pada area yang menyempit akan menyebabkan kebingungan karena bagian

tersebut berpotensi untuk terus konstriksi setelah rekonstruksi. Tatalaksana Meskipun penanganan striktur uretra merupakan keahlian kami, kemajuan signifikan selama 50 tahun terakhir ini menyebabkan striktur paling kompleks sekalipun dapat di rekonstruksi dalam satu waktu. Pada masa lampau, sebuah konsep yang dikenal sebagai the reconstructive ladder digunakan sebagai panduan striktur uretra. Konsep ini berdasarkan pada prinsip bahwa prosedur penanganan yang sederhana harus dilakukan terlebih dahulu, dan dapat diulangi bila terjadi kegagalan, sebelum nantinya akan diubah menjadi penanganan yang lebih maju. Antara pasien dan dokter harus memiliki pemahaman yang baik mengenai hasil akhir dari penanganan sebelum penanganan tersebut diipilih. Dilatasi Dilatasi uretra merupakan penanganan yang paling mudan dan tua dari striktur uretra, dan pada pasien-pasien dengan striktur epitelial tanpa spongiofibrosis, hal ini merupakan tatalaksana kurattif. Hasil akhir dari tatalaksana adalah meregangkan jaringan parut tanpa menunimbulkan jaringan parut lainnya. Jika terjadi perdarahan selama dilatasi, striktur tersebut robek bukan teregang menyebabkan kemungkinan cedera lanjut pada area tersebut. Kami percaya bahwa metode paling aman dalam dilatasi uretra adalah dengan menggunakan kateter balon uretra berdilatasi. Dilatasi dapat bersifat kuratif pada pasienpasien tertentu, dengan tingkat efikasi jangka pendek dan jangka menengah yang sebanding dengan uretrotomi internal. Uretrotomi Internal Uretrotomi internal merupakan setiap prosedur yang menghilangkan striktur dengan menginsisi striktur tersebut secara transuretra. Prosedur uretrotomi melibatkan insisi melalui jaringan parut ke bagian yang sehat agar jaringan parut meregang (untuk mengurangi kontraktur akibat jaringan parut) dan melebarkan lumen uretra.

Banyak ahli bedah memepelajari untuk melakukan uretromi internal dengan membuat insisi tunggal pada posisi jam 12 tepat. Lokasi ini mungkin menimbulkan pertanyaan, bagaimanapun, merupakan tempat uretra didalam korpus spongiosum. Pada uji croos sectional pada korpus spongiosum, terlihat bahwa bagian paling tipis pada aspek anterior adalah dari arah jam 10 hingga arah jam 2. Komplikasi paling sering dari uretromi internal adalah kekambuhan striktur. Komplikasi lainnya namun jarang ditemukan, adalah perdarahan (hampir selalu berhubungan dengan ereksi segera setelah operasi) dan ekstravasi cairan irigasi ke jaringan perispongium. Komplikasi-komplikasi ini jarang ditemukan akhir-akhir ini karena rendahnya frekuensi penggunaan uretromi internal agresif sebagai penanganan striktur uretra. Beberapa teknik telah dikembangkan untuk melawan proses kontraksi luka dan mencegah kekambuhan striktur. Satu metode adalah menggunakan kateter Fooley selama kurang lebih 6 minggu setelah uretrotomi, diharapkan uretra akan mencetak bentuk kateter selama penyembuhan. Teknik lainnya adalah dengan menggunakan home self-cathetarization. Setalah uretromi internal, pasien biasanya akan terpasang kateter selama 3-5 hari. Ketika kateter dilepaskan, pasien akan memulai regimen obturator uretra. Semakin banyak regimen membutuhkan frekuensi sering dalam keteterisasi, dan jadwalnya semakin menurun dalam 36 bulan kedepan. Penggunaan stent uretra (removableatau permanen) adalah cara lainnya yang digunakan untuk mengurangi kontraksi luka setelah uretrotomi internal atau dilatasi. Uretra yang dapat dilepaskan di desain untuk mencegah proses epitelisasi antara stent dengan dinding uretra dan dipertahankan hingga 6 bulan hingga 1 tahun. Permanen stent sering dihubungkan dengan nyeri ketika duduk atau berhubungan badan. Beberapa pasien (biasanya pasien berusia muda) mengeluh nyeri pada perineum, bahkan bila implantasi stent jauh ke dalam uretra bulbosa. Laser Jenis-jenis laser yang digunakan dalam penatalaksanaan striktur uretra termasuk karbon dioksida, argon, KTP, Nd:YAG, holmium:YAG, laser eksesimer. Laser yang ideal dalam penanganan striktur uretra adalah jenis yang dapat menguap di jaringan, mencegah penghancuran jaringan perifer secara luas, tidak diabsoprsi melalui air, dan mudah menyebar melalui serat-seratnya. Sekarang, hasil dari uretrotomi laser masih belum jelas. Dengan penemuan laser baru dan pengalaman dengan penggunaannya, data selanjutnya mungkin akan menunjukkan hasil yang lebih memuaskan.

Rekonstruksi Terbuka Eksisi dan re-anastomosis. Hal ini telah ditunjukkan secara pasti bahwa teknik yang paling terpercaya dalam rekonstruksi uretra anterior adalah eksisi total dari daerah fibrosis, dengan anastomosis primer pada ujung uretra anterior yang sehat. Kesuksesan teknik ini tergantung pada mobilisasi korpos spongiosum.