Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH

SEKITAR HUKUM FORMIL DAN MATERIL

OLEH:

DRS. H. SUDIRMAN MALAYA, SH,MH PENGADILAN TINGGI AGAMA MATARAM Jl. Majapahit No.58 Mataram
S E K I T AR HUKUM FORMIL DAN HUKUM MATERIL PERADILAN AGAMA

PENDAHULUAN

Proses peradilan yang dijalankan sewajarnya , sederhana ,cepat dan biaya terjangkau dan dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat tidak terlepas dari kuatnya institusi peradilan baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya.

Pengadilan Agama setelah bergabung dibawah Mahakamah Agung dalam sistem satu atap ( one roof system ) telah mamasuki era baru baik dalam sikap mental dan etos kerja yang lebih banyak menemukan tantangan

dibanding sebelum dalam satu atap.

Peralihan ini tidak mudah, disatu sisi kita tetap dalam ruang lingkup missi utama, menegakkan hukum syariah dalam lapangan hukum keluarga, baik dalam lapangan hukum perkawinan, waris, wasiat dan hibbah maupun dalam lapangan sengketa ekonomi syariah, disisi lain kita dituntut bekerja dalam satu system peradilan yang dijalankan diatas hukum ( Court of law ). Tegasnya hukum materil yang akan ditegakan haruslah dijalankan dalam satu sistim hukum yang khusus diadakan untuk itu, yang umum kita kenal dengan hukum acara.

Suatu perkara, kebenaran dan keadilannya penyelesaiannya dimuka pengadilan tidak semata dilihat dari hasil akhirnya, akan tetapi dinilai sejak awal proses beracara dimulai. Apakah sejak awal pengadilan telah memberikan layanan sesuai dengan ketentuan hukum acara atau tidak.

Keraena apabila proses beracaranya benar dan baik barulah akan menghasilkan suatu putusan yang baik, dan apabila proses beracaranya tidak dilakukan dengan benar dan baik dapat dipastikan putusan yang dijatuhkan tidak memenuhi rasa keadilan dan kebenaran.

Begitu penting dan strategisnya kedudukan hukum acara dalam institusi peradilan, maka setiap orang atau personil pengadilan agama wajib untuk mengetahui dan mamahami hukum acara terlebih lagi Pengadilan Agama sebagai peradilan khusus memiliki kekhusususan beracara

dibandingkan peradilan umum dan peradilan lainnya.

Disampiung hukum acara, Pengadilan Agama telah memiliki hukum materil baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang tersebar diberbagai peraturan perundang undangan maupun yang telah dikompilasikan dalam kitab Kompilasi Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.

Hubungan antara hukum acara ( formil) dan hukum materil demikian eratnya, hukum formil merupakan kendaraan yang melayarkan tegaknya hukum materil. Hanya saja dengan perkembangan masyarakat yang begitu cepatnya dan era teknologi informasi yang telah membudaya, menurut hemat penulis, pejabat pengadilan jangan sampai terjebak dalam kekakuan pengertian hukum formil yang kita anut selama ini sehingga mengabaikan substasi persoalan , yaitu tegaknya hukum materil dalam kehidupan sosial sehari hari.

Disamping itu, pemahaman yang kita anut selama ini dalam lapangan hukum perdata yang dicari adalah kebenaran formilnya dengan serta merta dianggap sebagai suatu kebenaran yang diinginkan, perlu disikapi dengan hati hati dengan mengupayakan kebenaran materil dari kasus yang diajukan kemuka pengadilan agama, karena substansi kasus yang diajukan kemuka pengadilan agama pada azasnya bertumpu pada sengketa perkawinan,dan perkawinan itu walaupun merupakan perikatan perdata tapi bukan perdata biasa, dan setiap pelanggaran dari pelaksanaan hukum perkawinan adalah perbuatan pidana .(pasl 45 PP 9/1975)

Dengan memperhatikan hubungan kedua hukum tersebut, dalam kesempatan ini kita akan membahas bersama, beberapa hal yanhg menonjol

dalam lapangan hukum acara (formil) dan hukum perdata agama ( Materil).

A. HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA/HUKUM FORMIL

1. Pengertian hukum formil atau hukum acara pada umumnya diartikan sebagai hukum yang mengatur tentang brita cara mengajukan perkara baik gugatan maupun permohonan, memeriksa perkara dan memberikan putusan dengan tujuan untuk mempertahankan hukum materil. Dengan kalimat sederhana sering diartikan sebagai hukum yang mengatur tentang tata cara mengajukan gugatan/.tuntutan dan tata cara mempertahankannya dimuka pengadilan. Atau dengan bahasa lebih sederhana lagi yaitu hukum yang mengatur tentang tata cara menegakkan hukum materil dimuka pengadilan.

Dasar dan sumber hukum acara Pradilan Agama,ialah Undang

undang no.7tahun 1989 sebagaimana telah diamandemen dengan undangundang no.3 tahun 2006 tentang peradilan agama Bab IV Tentang hukum acara, pada bagian pertama pasal 54, ditegaskan bahwaq hukum acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum , kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang undang ini. ( misalnya tatacara mengajukan gugatan cirai di tempat kediaman penggugat, permohonan talak ditempat kediaman termohon)

Hukum Acara yang berlaku pada lingkungan peradilan umum, meliputi Reglemen Daerah Seberang (RBG) Stb. No.227 tahun 1927 untuk daerah diluar Jawa dan Madura. Reglemen Indonesia yang dibaharui (RIB/HIR ) Stb.No.1941, Untuk wilayah jawa dan Madura.. Samai sekarang perbedaan kedua aturan ini masih dipertahankan dan belum barhasil disatukan. Selain itu ada Undangundang no. 20 Th.1947 Tentang tata cara Peradilan Ulangan .

Beberapa azas hukum acara Peradilan Agama, antara lain :

1. Pemeriksaan perkara dimulai setelah diajukan gugatan/permohonan. 2. Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan memutus perkara yang diajukan dengan dalih hukum tidak ada atau kurang jelas. 3. Peradilan dilakukan DEMI KEADILAN

BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. 4. Putusan dan Penetapan dimulai dengan kalimat BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM 5. Pengadilan mengadili menurut hukum dan dengan tidak membeda-bedakan orang. 6. Pengadilan dilaksanakan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan . 7. Sidang pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum kecuali apabila Undang-undang menentukan lain atau jika Hakim dengan alasan-alasan penting yang dicatat dalam berita acara sidang, memerintahkan bahwa pemerikasaan secara keseluruhan atau

sebagian dilakukan dengan sidang tertutup. 8. Rapat permusyawaratan Hakim bersifat rahasia.

9. Penetapan dan Putusan Pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.

Selain dari beberapa azas tersebut masih ada ketentuan lain yang mengikat para hakim dan panitera, anatara lain Tiap tiap Penetapan dan Putusan Pengadilan Agama ditandatangani oleh Ketua dan Hakim hakim yang memutus serta Panitera yang ikut bersidang pada waktu penetapan dan Putusan itu diucapkan.

Berita Acara tentang pemeriksaan ditandatangani oleh Ketua dan Panitera yang bersidang.

Setiap Penetapan dan Putusan Pengadilan Agama dapat dimintakan banding oleh pihak yang berperkara , kecuali apabila Undang undang menentukan lain.

Semua penetapan dan putusan Pengadilan, selain harus memuat alasan alasan dan dasar dasarnya juga harus memuat pasal pasal tertentu dari peratuan peraturan yang bersangkutan atau sumber hukum tidak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.

2. KOMPETENSI ABSOLUT dan RELATIF

Kompetensi Absolut Pengadilan Agama yaitu : Kompetensi atau wewenang Pengadilan Agama dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkaraperkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama islam dalam bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, waqaf, zakat, infaq, shadaqah dan ekonomi syariah. Tegasnya kewenangan yang diperoleh berdasarkan lingkungan (atribusi).

Sengketa dalam lapangan ekonomi syariah dari penjelasan pasal 49 UU Peradilan Agama dijelaskan bahwa penyelesaian sengketa tidak hanya dibatasi dibidang perbankan syariah, melainkan juga dibidang ekonomi syariah lainnya. Yang dimaksud dengan antara orang-orang yang beragama Islam adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukan diri dengan sukarela kepada hukum Islam mengenai hal-hal

yang menjadi kewenangan Peradilan Agama sesuai dengan ketentua pasal ini.

Yang dimaksud dengan PERKAWINAN ialah hal-hal yang diatur atau berdasarkan Undang-undang Perkawinan yang dilakukan menurut Syariah, antara lain, izin beristeri lebih dari seorang dan lainnya.

Yang dimaksud dengan W A R I S ialah penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta

peninggalan tersebut, seperti penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan bagian masing masing ahli waris.

Yang dimaksud dengan W A S I A T

ialah

perbuatan seseorang memberikan suatu benda atau

manfaat kepada orang lain atau lembaga / badan hukum , yang berlaku setelah yang memberi itu nebingal dunia.

Yang dimaksud dengan H I B A H adalah pemberian suatu benda se cara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang atau badan hukum kepada orang lain atau badan hukum untuk dimiliki.

Yang dimaksud dengan W A K A F adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang ( Wakif ) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kiepentingannya guna keperluan ibadah dan atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Yang dimaksud dengan Z A K A T adalah harta yang wajib disisihkan seoarang muslim atau badan hukum yang dimiliki oleh seorang muslim sesuai

dengan ketentua syariah untuk diberikan kepada yang berhak untuk menerimanya.

Yasng dimaksud dengan I N F A Q adalah perbuatan seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain guna menutupi kebutuhan baik berupa makanan
,minuman,mendermakan ,memberikan rezeki ( karunia) atau manfkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas , dan karena Allah Subhanahuwataala .

Yang dimaksud dengan SHADAQAH adalah perbuatan seseoarang memberikan sesuatu kepada orang lain atau lembaga /badan hukum secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu dengan mengharap ridha Allah Subhanahu Wataala dan pahala semata.

Yang dimaksud dengan EKONOMI SYARIAH adalah perbuatan atau kegiatan usaha untuk dilaksanakan menurut prinsip prinsip syariah,antara lain meliputi bank syariah,lembaga keuabgan mikro syariah,asuransi syariah, reksa dana syariah, obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah, sekuritas syariah, pembiayaan syariah, pegadaian syariah, dana pensiun lembaga keuangan syariah dan bisnis syariah.

Inilah yang menjadi kewenangan absolut Pengadilan Agama, dengan pengertian tidak lepas dari azas yang telah diuraikan terdahulu dalam hal lain berupa sengketa yang bertakaitan erat dengan syariah.

Mangenai KOMPETENSI RELATIF , adalah kewenangan pengadilan agama berdasarkan distribusi wilayah bkewenangan mengadili sesama pengadilan, misalnya Kompetensi Pengadilan Agama Dsenpasar, Kompetensi Pengadilan Agama Badung dan lainnya

Eksepsi atas kewenangan mengadili dalam kompetensi relatif hanya dapat diajukan pada saat jawaban disampaikan, sedang eksepsi stas kompetensi absolut dapat diajukan setiap tahapan pemerikasasn perkara.

3.TENTANG KUASA HUKUM

Dasar hukumnya : pasal 123 (1) HIR /pasal 147 RBG, pasal 7 (1) UU 20/1947, dan UU pasal 44 (a) .

Setiap pemberian kuasa hukum harus dilakukan dengan surat kuasa. Adapun surat kuasa dibagi pada tiaga bagian, Surat Kuasa Umum, Surat Kuasa Khusus dan Surat Kuasa Substitusi.
SURAT KUASA UMUM

Berdasarkan

hukum

acara

perdata

dan

yurisprudensi tetap, surat kuasa umum tidak dapat dipergunakan pengadilan. Menurut Yurisprudensi Mahkamah Agung; Surat kuasa yang berbunyi : Memberi kuasa kepada Abdul Salam guna mengurus kepentingan pemberi kuasa untuk mengajukan gugatan, bukti-bukti serta saksi-saksi pada Pengadilan Negeri Gresik, adalah bukan merupakan surat kuasa khusus, melainkan surat kuasa umum, sehingga gugatan harus dinyatakan tidak dapat diterima. (Putusan MA. 16 September 1973 Nomor : 116K/1q973) dalam beracara di depan sidang

SURAT KUASA KHUSUS

Setiap

orang

yang

berperkara

apabila

dikehendaki dapat mewakilkan kepada seorang wakil sebagai kuasanya guna tampil dan beracara dimuka pengadilan mewakili pihak-pihak berperkara

berdasarkan surat kuasa yang bersifat khusus, yang memberikan masalah. Sifat kekhususannya terletak pada: - Nama, kualitas dan kedudukan pihak kewenangan terbatas tentang suatu

berperkara; - Tentang masalah tertentu; - Nomor perkara atau lawan perkara; - Forum yang pasti
SURAT KUASA SUBSTITUSI

Seorang kuasa hukum dapat melimpahkan kuasa yang diterimanya dan menyerahkan kepada kuasa pengganti, sebagaimana tersebut dalam surat kuasa tersebut baik untuk keseluruhan ataupun untuk

sebagian. Untuk keperluan itu harus dibuat surat kuasa khusus dengan menyebutkan :
- Nama, kualitas dan kedudukan dalam perkara; - dasar pelimpahan wewenang; - nama penerima kuasa pelimpahan; - nama dan identitas lawan; - masalah yang dikuasakan; - nomor perkara; - form yang pasti.

4. SURAT GUGATAN

Dasar Hukum : Pasal 118 HIR/pasal 142 RBG. Surat gugatan adalah suatu surat yang diajukan oleh penggugat kepada yang ketua pengadilan tuntutan hak yang dan

berkompetensi,

memuat

sekaligus merupakan dasar landasan pemeriksaaan perkara dan pembuktian kebenaran suatu hak. Sehubungan dengan itu penyusunan suatu surat gugatan haruslah memenuhi syarat-syarat gugatan antara lain :

- Merupakan tuntutan hak; - Adanya kepentingan hukum; - Merupakan suatu sengketa; - Dimuat dengan cermat dan terang Pada garis besarnya setiap surat gugatan

mengandung tiga unsur; - Identitas berperkara; - Posita, yaitu dalil-dalil kongkrit tentang adanya hubungan hukum yang merupakan dasar serta alasan-alasan dari pada tuntutan (Fundamentum petendi); - Petitum, atau disebut juga tuntutan, yaitu apa yang oleh penggugat diminta atau diharapkan agar diputuskan oleh hakim. Untuk itu petitum harus dibuat dengan jelas dan tegas, dan kedudukan pihak-pihak

berdasarkan hukum dan didukung oleh posita.

BEBERAPA MASALAH SURAT GUGATAN . - Dalam penyebutan para pihak, harus disebutkan pihak prinsipal dari pada pihak formal; Dalam identitas para pihak yang perlu dicantumkan disamping nama umur dan alamat, juga dicantumkan agama dan pekerjaan; Pemakaian meterai dalam surat gugatan tidak perlu. Obscuur libel,eror in persona, dll

Disamping surat gugatan kita kenal juga surat PERMOHONAN, yaitu surat yang didalamnay berisi suatu tuntutan hak perdata oleh suatu pihak yang berkepentingan terhadap suatu hal yang tidak mengandung sengketa , sehingga badan badan peradilan dalam mengadili suatu perkara permohonan ( Voluntair) bisa dianggap sebagai suatu proses peradilan yang bukan sebenarnya. Hal ini tercermin dari hanya satu pihak saja dalam perkara permohonan tersebut ( oneigenlijke rechtspraak).

Ciri ciri permohonan: - Acara permohonan bersifat voluntsir; - Terdapat satu pihak yang berkepentingan; - Tidak mengandung sengketa; - Dikehendaki oleh peraturan perundang undangan;

- Putusan hakim berupa penetapan; - Upaya hukumnya adalah kasasi;

5.PANGGI LAN PARA PIHAK

Dasar hukum pemanggilan : pasal 122,390 HIR/ pasal 146,718 RBg dan pasal 138-140 KHI . Setiap kali diadakan sidang Pengadilan Agama yang memeriksa gugatan, baik penggugat maupun tergugat ,atau kuasanya akan dipanggil untuk menghadiri sidang tersebutt; -Panggilan dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh ketua pengadilan ( panitera, jurusita,jurusita pengganti ); - Panggilan disampaikan pada pribadi yang bersangkutan; - Apabila yang bersangkutan tidak dapat dijumpai,panggilan disampaikan melalui lurah atau yang sederajat; - Panggilan tersebut dilakukan dan disampaikan secara patut dan sudah diterimaoleh pihak pihak atau kuasa mereka selambat lambatnya 3(tiga) hari sebelum sidang dibuka; - Panggilan kepada tergugat dilampiri dengan salinan surat gugatan.

Panitera atau jurusita, atau jurusita pengganti dalam melakukan panggilan membuat Relaas . Relas dari bentuknya

dikategorikan sebagai akta otentik( pasal 165 HIR/258 Rbg, dan juga pasal 1868 Bwyang menyatakan:

Akta otentik adalah suatu akta yabg didalam bentuk yangditentukan oleh undang undang , dibuat oleh dan dihadapan pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat dimana akta itu dibuatnya. Sehingga karenanya apa yang tercantum di dalam relaas tersebut harus dianggap benar kecuali dapat dibuktikan sebaliknya. Dalam hal tempat kediaman orang yang dipanggil tidak diketahui atau tidak mempunyai kediaman yang tetap, ataupun orang yang dipanggil tidak dikenal , maka dilakukan pemanggilan umum oleh dan melalui Bupati/Walikota dalam wilayah tempat kediaman penggugat atau pemohon, kecuali ditentukan lain .

Dalam perkara perceraian, pemanggilan diatur secara khusus dalam pasal 27 PP n0.9 /1975 DAN PASAL 139 KHI ntinya sebagai berikut : 1. menempel surat gugatan pada papan pengumuman di Pengadilan Yang bersangkutan.; 2. kemudian mengumumkan penempelan surat gugatan tersebut melalui satu atau beberapa mas media.;

3.

Pengumuman tersebut harus dilakukan sebanyak dua kali dengan tenggang waktu satu (1) bulan antara pengumuman yang pertama dan yang kedua;

4.

Tenggang waktu antara panggilan yang terakhir dengan penetapan hari sidang sekurang kurangnya tiga bulan;

5.

Bila tergugat tidak memenuhi panggilan gugatan dapat dikabulkan , kecuali apabila gugatan tampa hak atau tampa dasar hukum.

Panggilan disampaikan melalui perwakilan RI etempwt apabila orang yang dipanggil bertempat kediaman di luar negeri. ( pasal 28 PP.9 tahun 1975, pasal 140 KHI ). Panggilan disampaikan kepada ahli warisw apabila orang yang dipanggil meninggal dunia ( pasal 390 ayat 2 HIR/718 ayat 2 aaaaarbg )

Dalam relas panggilan , jurusia menjelaskan bahwa panggilan ini tidak dapat dilakukan kepada yang dipanggil oleh karena telah meningal dunia, sehingga panggilan dilakukan kepada salah seorang ahli warisnya.

6.UPAYA PERDAMAIAN

Dasar hukum : = Pasal 130 HIR/ pasal 154 Rbg ; - pasal 14 (2) UU ttg Kekuasaan Kehakiman; - pasal 56 (2),65,82,83 UU No 7 1989 diperbarui dg UU no.3/2006.; - Perma No. 1 tahun 2008 Tentang Mediasi.

Upaya peredamaian merupakan azas persiangan, dimana pada hari sidang pertama, hakim wajib mendamaikan n kedua belah pihak, dan upaya perdamain itu dapat dilakukan pada setiap tahap pemeriksaan.

Setelah lahirnya Peraturan Mahkamah Agung No.1 tahun 2008, upaya perdamaian itu lebih diintesifkan dan diharapkan banyak mendatangkan hasil dalam me3ngakhiriu sengketa dengan melalui proses mediasi

PROSES MEDIASI

Kewajiban Hakim Pemeriksa Perkara dan Kuasa Hukum.( pasal 7 Perma)

1. Pada Hari sidang yang telah ditentukan yang dihadiri kedua belah pihak , hakim mewajibkan para pihak untuk menempuh mediasi. 2. Ketidak hadiran pihak turut tergugat tidak menghalangipelkaksanaan mediasi. 3. Hakim , melalui kuasa hukumatau langsung kepaa para pihak, maendorong para pihak untuk berperan langsung atau aktif dalam prosesmediasi. 4. Kuasa hukum para pihak berkewajiban mendorong para pihak sendiri berperan langsung atau aktif dalam proses mediasi. 5. Hakim wajib menunda paroses persidangan perkara untuk memberikan kesempatan kepada para pihak menempuh paroses mediasi. 6. Hakim wajib menjelaskan prosedur mediasi dalam perma ini kepada para pihak yang bersengketa.

Pasal 8 PMA No.1/2008, Hak para pihak memilih mediator;

1. Para pihak berhak memilih mediator diantara pilihan pilihan berikut; a. Haskim bukan pemeriksa perkara pada pengadilan tersebut;

b. Advokat atau akademisi hukum; c. Profesi Bukan hukum yang dianggap para pihak menguaasai atau berpengalaman dalam pokok sengketa; d. Hakim majelis pemeriksa perkara; e. Gabungan antara mediator yang disebut dalam butir a dan d, atau gabungan butir b dan d, atau gabungan butir c dan d. 2. Jika dalam sebuah proses mediasi terdapat lebih dari seorang mediator , pembagian tugas mediator ditentukan dan disepakati oleh para mediator sendiri.

Pasal 13 PMA No.1/2008, ttg lama waktuproses mediasi;

1. Dalam waktu paling lama 5(lima) hari kerja setelah para pihak menunjuk mediator yang

disepakati , masing masing pihak menyerahkan resume perkara kepada satu sama lain dan kepada mediator; 2. Dalam waktu paling lama 5 hari kerja setelah para pihak gagal memilih mediator , masing masing pihak dapat menyerahkan resume perkara kepada hakim mediator yang ditunjuk;

3. Proses mediasi berlangsung paling lama 40 hari kerja sejak mediator dipilih oleh para pihak atau ditunjuk oleh ketua majelis hakim sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat 5 dan 6; 4. Atas dasar kesepakatan para pihak , jangka waktu mediasi dapat diperpanjang paling lama 14(empat belas ) hari kerja sejak berakhir masa 40 hari sebagaimana dimaksud dalam ayat3.; 5. Jangka waktu proses mediasi tidak termasuk jangka waktu pemeriksaan perkara; 6. Jika diperlukan dan atas dasar kesepakatan para pihak, mediasi dapat dilakukan secara jarak jauh dengan menggunakan alat komunikasi.

PRINSIP PRINSIP MEDIASI DALAM LITIGASI

- Mediasi ini merupakan teknik mendamaikan ( dading) yang diintegrasikan kedalam proses litigasi; - Upaya damai lewat mediasi bersifat imperatif; - Proses mediasi bersifat tehnis; - Proses mediasi bersifat sukarela atas dasar itikad baik para pihak;

- Hasil mediasi belum bersifat yuridis, kecuali jika telahmenjadi keputusan haki.

Dalam perkara apa saja mediasi harus dilakukan ? - Dalam semua perkara perdata wajib dilakukan mediasi; - Pelanggaran terhadap kewajiban mediasi berakibat batalnya putusan demi hukum - Mediasi merupakan cara terbaik penyelesaian sengketa sntsrs pihsk pihsk secara tuntas dan final.

JENIS PERSIDANGAN - Persidangan terbuka untuk umum - Persidangan tertutup untuk umum - Persidangan diluar gedung utama ( sidang keliling ) - Persidangan untuk npemeriksaan setempat.

Tahapan Persidangan; - Upaya perdamaian dengan mediasi; - Apabila tercpai perdeamaian , melakukan litigasi atas perdamaian tersebut; - Apabila perdamaian tidak tercapai dilakukan proses pemerikasaan dengan pertama kali membacakan surat gugatan; - Tahap selanjutnya jawaban atas gugatan oleh tergugat;

- Penyampaian replik oleh penggugat; - Penyampaian duplik oleh tergugat; - Pembuktian dan kesimpulan akhir; - Permusyawaratan hakim; - Putusan. PUTUSAN SELA

Yaitu putusasn yang diambil sebelum menjatuhkan putusan akhir, seringdisebut juga putusan insidentil, guna menjawab persoalan persoalan guna kelancaran jalannya persidangan. Misalnya menjawab eksepsi, kewajiban membayar perkara bagi yang mengajukan perkara prodeo. Putusasn ini tidak berasing asing dengan putusan akhir,dan terhadap putusan sela ini upaya hukumnnya berbarengan dengan putusa akhir.

TENTANG PEMBUKTIAN

Barangsiapa yang mengatakan ia mempunyai hak, atau ia menyebutkan suatu perbuataan untuk menguatkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang alain , maka orang itu harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian itu .( HIR 163).

Yang dapat dijadikan alat bukti ialah; - bukti surat, - bukti saksi; - persangkaan - persangkaan , pengakuan; - sumpah;

-Alat bukti surat harus dicocokan dengan aslinya oleh ketua majelis dan harus diberi paraf ketua majelis di dalam foto copy tersebut serta dicatat dalam berita acara. -Alat bukti surat yang tidak dapat menunjukan aslinya ,tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti. -Surat surat yang diajukan sebagai alat bukti harus dilegalisir oleh panitera - Surat untuk alat bukti harus dinazegelen. - Saksi keluarga hanya ada dalam perkara syiqaq -Apabila sudah disupah decissor perkara harus diputus.

TENTANG PUTUSAN - Putusasn harus mempunyai titel atau irah - irah DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA - Putusan tidan boleh melebihi dari yang diminta.

- Hakim wajib mengadili atas segala bgian gugatan ( petitum ) - Putusan harus jelas dan tegas. - Putusan memuat penghukuman pembayaran biaya perkara - Putusan wajib mencantumkan pasal pasal yang berhubungan denganperkara itu. - Putusan ditanda tangani oleh majlis hakim dan panitera yang bersidang saat putusan dibacakan. - Putusan harus diucapkan dalam sidang trbuka untuk umum.

TENTANG UPAYA HUKUM

- Apabila kedua belah pihak melakukan upaya hukum , nomor perkara tetap satu; - Upaya hukum dapat dilakukan dengan verzet atas putusan verstek - Banding dan kasasi serta peninjauan kembali. - Pengaturan tentang upaya hukum ini diatur dalam Undang Undang no.20 Tahun 1947 b Tentang peradilan ulangan.

TENTANG EKSEKUSI

-Setiap putusan yang yang amarnya bersifat condemnator dapat diajukan permohonan eksekusi apibila tidak dilaksanakan secara sukarela. - Permohonan eksekusi diajukan kepada ketua pengadilan, - Eksekusi dipimpin ketua Pengadilan. - Eksekusi dilaksanakan oleh Panitera atau Juru Sita. - atas pelaksanaan eksekusi dibuatkan berita aqcara.

B. TENTANG HUKUM MATERI PENGADILAN AGAMA

1. DASAR DASAR PERKAWINAN

- Perkawinan menurut hukum islam ialah pernikahan , yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghaliidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakan nya merupakan ibadah. - Perkawinan bertujusn mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah ,mawadah dan warahmah; - Perkawinan adalah syah apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat 1 Undang Undang no.1 tahun l974;tentang perkawinan;

- Setiap perkawinan harus dilakukan dihadapan pegawainpencatat nikah; - Perkawinan yang dilakukan diluar pengawasan Pegawai Pencatat nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. - Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akata nikah; - Dalam hal perkawinan tidak ndapat dibuktikan dengan akta nikah dapat mengajukan isbath nikah; - Dll. RUKUN DAN SYARAT PERKAWINAN Untuk dapat melaksanakan perkawinan harus dipenuhi; a. Calon suami, b. Calon isteri, c. Wali Nikah. d. Dua orang saksi. e. Ijab danqabul.

Apabila wali nikah adhal untuk menikahkan mempelai wanita, dapat ditetapkan adhal nya wali tersebut oleh pengadilan dengan mengajukan permohonan. Putusan atas adhalnya wali bersifat final; Pemerikssaan dilakukan secara singkat; Tidak ada upaya banding .

- Untuk kemaslahatan keluarga dan raumah tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan; - Bagi calon mempelai yang belum berusia 21 tahun harus mendapat izin orang tua. - Perkawinan dilakukan atas persetujuan kedua belah pihak.

2.LARANGAN PENCEGAHAN DAN PEMBATALAN NIKAH.

Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita disebabkan; - karena pertalian nasab, - karena pertalian semenda. - Karena pertalian sesusuan - Karena keadaan tertentu ; Karena wanita yang bersangkutan masih terikan satu perkawinan dengan pria lain. Seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah. Seorang wanita yang tidak beragama islam.

- Seorang pria dilarang memadu isterinya dengan wanita yang mempunyai hubungan nasab atau sesusuan dengan isterinya. - Seorang pria dilarang beristeri lebih dari empat. - Seorang wanita islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama islam.

PENCEGAHAN PERKAWINAN;

- Pencegahan perkawinan bertujuan untuk menghindari suatu perkawinan yang dilarang. - Pencegahan perkawinan dapat dilakukan apabila calon suami atau calon isteri yang akan melangsungkan perkawinan tidak memenuhi syarat syarat untuk melangsungkan perkawinan. - Yang dapat mencegah perkawinan ialah keluarga dalam garis keturunan lurus ke kebawah, saudara wali nikah, salah seorang calon mempelai. - Ayah kandung yang tidak merawat anaknya, tidak gugur haknya dalam pencegahan nikah - Pejabat yang ditunjuk mengawasi pelaksanaan perkawinan.

- Pencegahan perkawinan diajukan kepada Pengadilan diman perkawinan akan dilangsungkan. - Pengadilan Agama akan memeriksa perkara pencegahan nikah dengan acara singkat.dengan amar menguatkan pencegaan atau memerintahkan perkawwinan dapat dilangsungkan.

BATALNYA SUATU PERKSAWINAN.

- Perkawinan batal apabila ; Apabila seorang suami menikah dengan seorang wanita sedangkan ia telah beristeri empat, walaupun salah seorang isterinya sedang dalam masa iddah. Menikahi isteri yang telah dilian. Menikahi isteri yang telah dijatuhinya talak tiga.kecuali telah dinikahi orang lain lebih dahulu dan kemudian ditalaknya. Isteri adalah saudara kandung atau bibi ,atau kemenakan dari isteri atau isteri isterinya. Peerkawinan yang dilakukan antara dua orang yang mempunya hubungan darah semenda dan

sesusuan sampai derajat tertentu yang menghalangi perkawinan menurut bpassal 8 UU Perkawinan;

- berhubungan darah dalam garis lurus keatas dan kebawah. - Berhubungan darah dalam garis lurus menyamping yaitru antara saudara , dengan saudara orang tua ,dan antara dengan saudara neneknya. - Berhubungan semenda yaitu mertua ,orang tua sesusuan, anak sesusuan,saudara sesusuan,bibi atau paman sesusuan.

P OLI GA M I.

- Beristeri lebih dari satu orang pada waktu bersamaan dibatasi hanya sampai empat isteri/.

- Syarat utama beriasteri lebih dari seorang , suami harus mampu berlaku adil terhadap isteri isteri dan anak anaknya. - Suami yang akan beristeri lebih dari seoarang harus memperoleh izin Pengadilan Agama. - Perkawinan dengan isteri kedua dan seterusnya tampa izin Pengadilan Agama tidak mempunyai kekuatan Hukum. - Permohonan izin Pengadilan harus disetujui oleh isteri atau isteri isteri. - Persetujuan isteri dikesampingkan apabila isteri tidak mungkin dimintai persetujuannya.

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTERI.

KEWAJIBAN SUAMI; - Suami adalah pembimbing isteri danrumah tangganya ,akantetapi mengenai hal hal urusan rumah tangga yang penting diputuskan oleh suami isteri. - Suami wajib melindungi isteri dan memberikan segalankeperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya. - Suami wajib memberi pendidikan agama kepada isteeri .

- Suami menanggung nafkah ,maskan,beaya rumah tangga ,perawatan,pengobatan isteri dan anaknya. Berikut beaya pendidikan. - Kewajiban suami gugur apabila iteri nusyuz. KEWAJIBAN ISTERI;

- Kewajiban utama isteri berbakti lahir dan bathin kepada suami dalam batas batas yang dibenarkan hukum. - Isteri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehsri hari dengan sebaikbaiknya. - Isteri dihukum nusyuz jika ia tidak mau melaksanakan kewajibannya , kecuali dengan alasan yang syah.

PUTUSNYA PERKAWINAN:

- Karena kematian. - Karena perceraian, - Karena putusan pengadilan.

Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karana talak atau berdasrkan gugatan pearceraian.

Perceraian hanya dapatdilakukan didepan sidang Pengadilan Agama setelah pengadilan tersebut berusaha mendamaikan kedua belah pihak dan tidak berhasil.

Perceraian dapat terjadi apabila terdapat alasan sebagai ditentukan pasar 19 PP NO.9 TAHUN L975.

PERJANJIAN PERKAWINAN.

- Kedua calon mempelai dapat melakukan perjanjian perkawinan dalam bentuk taklik talak dan perjanjian lainnya yang tidak bertentangan denganhukum islam. - Isi taklik talak tidak boleh bertentangan dengan hukum. - Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan keduan calon mempelai dapat mrmbuat prjanjian tertulis yang disahkan PPN. - Perjanjian dapat berupa percampuran harta pribadi atau pemisahan harta penghasilan. - Perjanjian perkawian mengenai harta dapat dicabut atas persetujuan kedua belah pihak.

- Perjanjiian mengenai harrta mengikat kedua belah pihak. - Pelanggaran atasperjanjian perkawinan memberi hak kepada isteri untuk mkeminta pembatalan nikah atau mengajukannya sebagai alasan gugatan perceraian.

PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN TENTANG WAQAF, HIBAH DAN WASIAT.

- Undang Undang no.41 tahun 2004 tentang waqaf. - Undang undang no. 1960 tentang agrfaria. - PP No.28 tahun 1977 tentang perwkafan tanah hak milik. - Permenag No.1 Tahun l978 tentang peraturan pelaksanaan PP 28 Tahun l977. - Undang Undang No 7 tahun l989 yang diperbarui dengan undang undang no.3 tahun 2006 Tentang Peradilan Agma. - Kompilasi Hukum Islam.

SYARAT SYARAT DAN RUKUN WAQAF;

- Badan- badan hukum Indonesiadan orang atau orang orang yang telah dewasa dan sehat akalnya serta yang

oleh hukum tidak terhalang untuk melakukan perbuatan hukum atas kehendak sendiri dapat mewakafkan benda miliknya dengan memperhatikan peraturan perundang undangan. - Dalam hal badan hukum yang bertindak adalah pegurusnyabenda wakaf harus merupakan benda milik yang bebas dari segala pembebanan,ikataan,sitaan dan sengketa. - Pihak yang mewakafkan harus mengikrarkan kehendaknya secara jelas dan tegas kepada nadzir dihadapan pejabat pembuat akta wakaf, dan menuangkannya dalam bentuk akta ikrar wakaf dengan disaksikan oleh sekurang kurangnya dua orang. - Nadzir tgerdiri dari operorangan yang harus memenuhi syarat syarat sebagai berikut: 1. Warganegara Inadonesia, 2. Beragama Islam. 3. sudah dewasa, 4. sehatrohani dan jasmani. 5. tidak berada dibawah pengampuan, 6. bertempat tinggal dikecamatan tempat letak benda yang diwakafkan. 7. Jika berbentuk badan Hukum maka nadzir harus badan hukum indonesia dan berkedudukan di

Indonesia,mempunyai perwalian di kecamatan tempat letak benda wakaf yang diwakafkan. 8. Nadzir sebelum melaksanakan tugasnya , harus mengucapkan sumpah dihadapan kepala Kantor Urusan Agama kecamatan disaksikan sekurang kuarangnya dua orang saksi 9. Jumlah Nadzir sekurang kurangnya tiga orang dan sebanyak banyaknya 10 orang.

MASALAH HIBBAH. - Orang yeng telah dewasa, berumur lebih darai 21 tahun ,berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapatmenghibahkan nsebanyak banyaknya sepertiga harta bendanya kepada orang lain atau lembaga dihadpan dua orang saksi untuk dimiliki. - Harta benda yang dihibahkan harus merupakan hak dari penghibah. - Hibah dari orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan. - Hibah tidak dap ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya. - Warganegara indonesia yang berada di luar negeri dapat membuat surat hibah dihadapan konsulat atau kedutaan R>I setempat.

MASALAH WASIAT - Orang yang telah berumur lebih dari 21 tshun , berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat mewasiatkan sebagian harta bendanya kepada orang lain atau lembaga. - Harta yang diwasiatkan harus merupakan hak pewasiat. - Pemilikan terhadap benda ini baru dapat dilaksanakan setelah pewasiat meninggal dunia. - Wasiat dilakukan secara lisan dihadapan dua orang saksi, atau terulis dan dapat dihadapn notaris. - Wasiat sebsanyak banyaknya sepertiga harta warisan. - Wasiat kepada ahli waris hanya berlaku apabila disetujui oleh para ahli wsris. - Persetujuan ahli waris diucapkan atau ditulis dihadapan dua orang saksi. - Dalam wasiat harus disebutkan dengan jelas, apa dan kepasda siapa yang ditunjuk menerima wasiat. - Wasiat wajib dapat diberikan kepada anak atau orang tua angkat,sepanjang tidak menerima wasiat biasa, maksimum sejumlah seperti harta warisan.

POTENSI SENGKETA WAKAF ,HIBAH DAN WASIAT

Pada dasarnya hulu dari sengketa perawakafan,hibah dan wasiat ini dimulai dari lapangan hukum perkawinan, sehingga segala permasalahan kewarisan dapat berimbas dalam sengketa wakaf, hibah dan wasiat. Selain itu lemahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan peralihan hak melalui wakaf,hibah dan wasiat ini dengan ikrara tertulis dan dilakukan dihadapan pejabat publik yang berwenang melakukan pencatatan Pada sisi lain sering sengketa terjadi karena lemahnya ekonomi ahli waris pemberi wakaf,hibah dan wasiat.

PENUTUP Demikianlah bahan kajian orientasi tenaga tehnis ini dibuat, sebagai panduan diskusi - diskusi selama dua hari di Denpasar ini,

Disajikan oleh: Sudirman malaya. Denpasar, 10 Juni 2009.