Anda di halaman 1dari 4

Pemutakhiran Kurikulum terhadap Masa Depan Dokter Gigi

Oleh : Fakhirotuz Zakiyah, Mahasiswa FKG Universitas Jember No.hp: 085859993012; email: fay.zakiyah@yahoo.com

Saat ini perkembangan ilmu di bidang kedokteran gigi semakin pesat. Apalagi dengan ditemukannya berbagai penelitian-penelitian baru yang esensinya membantu memudahkan manusia dalam menangani kesehatan gigi dan mulutnya. Perkembangan dari kedokteran gigi baik itu teori maupun teknologinya tak lepas dari sistem kurikulum yang berlaku. Biasanya setiap lima tahun sekali pemerintah selalu melakukan pemutakhiran sistem kurikulum yang ada. Hal ini dilakukan agar lulusan yang diperoleh dapat bersaing dan berkompetensi apalagi di era globalisasi ini. Terkait dengan era globalisasi saat ini, Indonesia yang ikut tergabung juga menjadi anggota ASEAN secara otomatis turut andil dalam Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA). KEA ini mulai diberlakukan nanti tepatnya pada tanggal 31 Desember 2015. Menurut Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri I Gusti Agung Wesaka Puja di Surabaya, Kamis (14/3/2013) , KEA 2015 itu sesuai dengan kesepakatan para pemimpin ASEAN di Phnom Penh pada November 2012. Jadi dengan diberlakukannya KEA maka tenaga asing baik itu insinyur maupun pekerja medis dan produk dari negara-negara ASEAN itu akan menyerbu Indonesia. Begitu pula dengan dokter gigi asing akan ikut menyerbu Indonesia. Agar tidak kalah bersaing dengan dokter gigi asing maka diperlukanlah lulusan dokter gigi yang berkompeten. Maka dari itu pemerintah selalu melakukan pemutakhiran kurikulum pendidikan di Indonesia. Rencananya pemerintah akan mengeluarkan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Tapi sayangnya ada beberapa pihak yang kurang menyetujui rencana dari Mohammad Nuh ini selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Beberapa pihak tersebut mengklaim bahwa tidak ada masalah dengan kurikulum yang ada saat ini. Sehingga hanya diperlukan evaluasi dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Ada juga yang berpendapat pemerintah sebaiknya tidak merubah kurikulum yang ada tetapi cukup merubah metode pembelajaran yang tepat. Padahal kenyataannya sistem kurikulum di Indonesia masih jauh dari kategori kurikulum terbaik dunia. Dimana penyampaian materi yang masih dangkal, tumpang tindih mata pelajaran dimana tidak sesuai dengan yang diperlukan pada beberapa mata pelajaran, serta kecepatan pembelajaran antar mata pelajaran yang tidak selaras. Kurikulum berbasis kompetensi itu termasuk mencakup metodologi pembelajaran. Tanpa metodologi pembelajaran yang sesuai, tak akan terbentuk kompetensi yang diharapkan. Pemutakhiran kurikulum itu pemahamannya sangatlah luas tidak sesempit yang diperkirakan orang banyak,

dimana pemutakhiran kurikulum meliputi peninjauan terhadap rumusan kompetensi, substansi dan format silabus, implementasi, dan sistem evaluasinya. Jadi intinya salah besar jika mereka menilai pemerintah kurang bermanfaat untuk melakukan pemutakhiran sistem kurikulum. Sebenarnya pemutakhiran kurikulum itu memang penting. Hal ini mengacu pada alasan, the very substance of schooling and the raison detre for teachers in schools (Murray Print, 1993). Oleh karena itu, jika mutu pendidikan khususnya pada pendidikan tinggi ingin ditingkatkan maka yang terlebih dahulu dibenahi mutunya adalah kurikulumnya. Pendidikan tinggi ini sangat strategis untuk memperbaiki mutu kurikulum pendidikan karena setelah lulus langsung berhubungan dengan dunia kerja dan masyarakat luas. Sesuai dengan tuntutan yang banyak dari pihak manapun baik itu dari KEA, generasi 2045, maupun dari masyarakat yang menuntut dokter gigi yang berkompeten pada abad 21 ini maka sangatlah penting untuk merekonstruksi kurikulum. Rekonstruksi kurikulum itu merupakan perbaikan metode pembelajaran yang sekiranya lebih tepat dilakukan. Karena dari rekonstruksi kurikulum tersebut calon tenaga ahli khususnya dokter gigi bisa menyiapkan tantangan tersebut dengan lebih dini. Sehinga esensinya setelah para calon dokter gigi (mahasiswa) lulus dapat mengambil manfaat dari tuntutan yang ada misalnyan para dokter gigi itu bisa berkompeten di ranah nasional maupun internasional.

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/03/15/03442782/MEA.2015.Berlaku.Indonesia. Bakal.Diserbu.Tenaga.Asing http://kemdiknas.go.id/kemdikbud/artikel-mendikbud-kurikulum2013 http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/artikel-generasi-2045 Makalah Pemutakhiran Kurikulum di Perguruan Tinggi oleh Anik Ghufron