Anda di halaman 1dari 8

KORUPSI

ENGGAR DIASTIKO 11.02.8120 Reguler D3-MI

M.Khalis Purwanto,M.M

BAB I
1

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Sering kali kita mendengar kata yang satu ini: KORUPSI. Korupsi ada di sekeliling

kita, mungkin terkadang kita tidak menyadari hal itu.

Korupsi biasa terjadi di rumah,

sekolah, masyarakat, maupun di intansi tertinggi dan bahkan dalam pemerintahan. Mereka yang melakukan korupsi terkadang menganggap remeh hal tersebut. Hal ini sangat mengkhawatirkan, sebab bagaimana pun, apabila suatu organisasi dibangun dari korupsi, hal itu dapat merusaknya.

Dari kenyataan di atas dapat ditarik dua kemungkinan melakukan korupsi, yaitu: 1. Metode yang digunakan oleh pendidik belum sesuai dengan kenyataannya, sehingga pelajaran yang diajarkan tidak dapat dicerna secara optimal oleh anak didik. 2. Kita sering menganggap remeh bahkan malas untuk mempelajari hal ini, karena kurangnya motivasi pada diri sendiri, sehingga sering kali berasumsi untuk apa mempelajari padahal itu sangat penting untuk diketahui agar tahu hak dan kewajiban kita untuk Negara ini.

1.2 RUMUSAN MASALAH


2

1.2.1 Apakah korupsi itu? 1.2.2 Apa dampak negatif dari terjadinya korupsi? 1.2.3 Apa saja contoh kasus korupsi dalam kehidupan sehari-hari? 1.2.4 Apa akibat terjadinya korupsi? 1.2.4 Bagaimana cara menanggulangi korupsi?

1.3

PENDEKATAN Korupsi yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik, menyogok.

Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus, politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Dalam arti luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah atau pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengeruh dan dukungan untuk member dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.

Korupsi yang muncul dibidang politik dan birokrasi bias berbentuk spele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan criminal seperti penjualan narkotika, pencurian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas atau kejahatan.

Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal di suatu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.

BAB II
3

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Korupsi Korupsi berasal dari bahasa latin Corupto Cartumpen yang berarti busuk atau rusak. Korupsi ialah perilaku buruk yang dilakukan pejabat publik secara tidak wajar atau tidak legal untuk memperkaya diri sendiri. Dari segi hukum korupsi mempunyai arti: Melawan hukum Menyalahgunakan kekuasaan Memperkaya diri Merugikan keuangan Negara Menurut prespektif hukum, pengertian korupsi secara gambling dijelaskan dalam UU No. 31 tahun 2001 tentang pemberantasaan tindak pidana. 2.1.1 Pengertian Korupsi Secara Hukum Merupakan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tidak pidana korupsi. Pengertian Korupsi lebih ditekankan pada pembuatan yang merugikan kepentingan publik atau masyarakat luas atau kepentingan pribadi atau golongan. Pengertian Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN): Korupsi yaitu menyelewengkan kewajiban yang bukan hak kita. Kolusi ialah perbuatan yang jujur, misalnya memberikan pelicinan agar kerja mereka lancer, namun memberikannya secara sembunyisembunyi. Nepotisme adalah mendahulukan orang dalam atau keluarga dalam menempati suatu jabatan. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencangkup unsur-unsur sebagai berikut: Perbuatan melawan hukum Penyalahangunaan kewangangan Merugikan keuangan Negara atau perekomomian Negara
4

2.2 Dampak Negatif Korupsi yang Ditimbulkan Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan didalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance).

2.3 Contoh Kasus Korupsi Dalam Kehidupan Sehari-hari Nyogok agar lulus Pegawai Negeri Sipil (PNS) Hal yang demikian merupakan contoh korupsi yang paling sering terjadi setiap tahunnya. Mereka lebih baik menjual sawah, ladang, kebun, atau rumah hanya untuk menyogok agar dirinya bias lulus menjadi PNS. Hanya orang-orang yang masih berpaham primitiflah yang mau melakukan hal semacam itu. Sangat merugikan sekali bagi orang lain dan dirinya sendiri, mereka tidak sadar bahwa gajinya itu adalah dari uangnya sendiri.

2.4 Akibat Dari Korupsi 1. Berkurangnya kepercayaan terhadap pemerintahan. 2. Berkurangnya kewibawaan pemerintah dalam masyarakat. 3. Menurunya pendapatan Negara. 4. Hukum tidak lagi dihormati.

2.5 Upaya penanggulangan korupsi


Korupsi tidak dapat dibiarkan berjalan begitu saja kalau suatu Negara ingin mencapai tujuannya, karena kalau dibiarkan secara terus menerus, makan akan terbiasa dan menjadi subur dan akan menimbulkan sikap mental pejabat yang selalu mancari jalan pintas yang mudah dan menghalalkan segala cara (the end justifies the means). Untuk itu, korupsi perlu ditanggulangi saecara tuntas dan bertanggung jawab.

Ada beberapa upaya untuk penanggulangan korupsi: A. Preventif


5

1. Membangun dan menyebarkan etos pejabat dan pegawai baik di instansi pemerintah maupun swasta tentang pemisahan yang jelas dan tajam antara milik pribadi dan milik perusahaan atau milik Negara.

2. Mengusahakan perbaikan penghasilan (gaji) bagi pejabat dan pegawai negeri sesuai dengan kemajuan ekonomi dan kemajuan swasta, agar pejabat dan pegawai saling menegakan wibawa dan integritas jabatannya dan tidak terbawa oleh godaan dan kesempatan yang diberikan oleh wewenangnya.

3. Menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap jabatan dan pekerjaan. Kebijakann pejabat dan pegawai bukanlah bahwa mereka kaya dan melimpah, akan tetapi mereka terhormat karena jasa pelayanannya kepada masyarakaat dan Negara.

4. Bahwa teladan dan pelaku pimpinan dan atasan lebih efektif dalam memasyarakatkan pandangan, penilaian, dan kebijakan.

5. Menumbuhkan pemahaman dan kebudayaan politik yang terbuka untuk kontrol, koreksi, dan peringatan, sebab wewenang dan kekuasaan itu cenderung disalah gunakan.

6. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana menumbuhkan sense of belongingness dikalangan pejabat dan pegawai, sehingga mereka merasa perusahaan tersebut adalah milik sendiri dan tidak perlu korupsi, dan selalu berusaha berbuat yang terbaik.

B. Represif 1. Perlu penayangan wajah koruptor di televisi. 2. Herregistrasi (pencatatan ulang) terhadap kekayaan pejabat. 3.

BAB III PENUTUP


6

3.1 Simpulan dan Saran Korupsi adalah penyalahgunaan wewenang yang ada pada pejabat atau pegawai demi keuntungan pribadi, keluarga dan teman atau kelompoknya.

Korupsi menghambat pembangunan, karena merugikan Negara dan merusak sendisendi kebersamaan dan menghianati cita-cita perjuangan bangsa.

Cara penanggulangan korupsi adalah bersifat Preventif dan Represif. Pencegahan (preventif) yanf perlu dilakukan adalah dengan menumbuhkan dan membangun etos kerja pejabat maupun pegawai tentang pemisahan yang jelas antara milik Negara atau perusahaan dengan milik pribadi, mengusahakan perbaikan penghasilan (gaji), menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap jabatan pekerjaan, taladan dan pelaku pimpinan atau atasan lebih efektif dalam memasyarakatkan pandangan, penilaian dan kebijakan terbuka untuk kontrol, social dan sanksi sosial, menumbuhkan rasasense of belongingness diantara para pejabat dan pegawai. Sedangkan tindakan yang bersifat Represif adalah menegakan hukum yang berlaku pada koruptor dan penayangan wajah koruptor dilayar televisi dan herregistrasi (pencatatan ulang) kekayaan pejabat dan pegawai.

Merangkai kata untuk perubahan memang mudah. Namun melaksanakan rangkaian kata dalam bentuk gerakan terkadang teramat sulit. Dibutuhkan kecerdasan dan keberanian untuk mendobrak dan merobohkan pilar-pilar korupsi yang menjadi penghambat utama lambatnya pembangunan ekonomi di Indonesia.

REFERENSI

http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi diakses tanggal 16 Oktober

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3800/1/fisip-erika1.pdf diakses tanggal 16 Oktober

http://masfedri.blogspot.com/2011/06/makalah-patologi-sosial-korupsi-disusun.html diakses tanggal 16 Oktober

http://intl.feedfury.com/content/30095993-makalah-korupsi-di-indonesia.html diakses tanggal 16 Oktober