Anda di halaman 1dari 4

TESIS BEBAN PEMBUKTIAN DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA

Oleh : Muhammad Muzakkin S. NIM : 12107053

PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA 2009

BEBAN PEMBUKTIAN DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA


Abstrak

Korupsi merupakan salah satu kejahatan yang terorganisasi dan bersifat lintas batas teritorial ( transnasional ), disamping pencucian uang, perdagangan manusia, penyelundupan migrant dan penyelundupan senjata api. Demikian bunyi ketentuan dalam Konvensi Kejahatan Transnasional Terorganisasi. Konvensi tahun 2000 ini sudah ditandatangani namun belum diratifikasi oleh pemerintah Indonesia, sedangkan Konvensi Anti Korupsi tahun 2003 telah diratifikasi dengan Undang-undang nomor 7 tahun 2006. Perkembangan praktik tersebut di beberapa negara telah memunculkan suatu gagasan baru dalam menyikapi hambatan dalam proses pembuktian korupsi. Teori pembuktian yang selama ini diakui adalah asas pembuktian "beyond reasonable doubt", yang dianggap tidak bertentangan dengan prinsip praduga tak bersalah (presumption of innocence), akan tetapi disisi lain sering menyulitkan proses pembuktian kasus-kasus korupsi. Terbukti dalam praktik sistem pembuktian tersebut atau dikenal dengan istilah, pembuktian negatif tidak mudah diterapkan. UU Nomor 31 tahun 1999 (Pasal 31) dan UU Nomor 15 tahun 2002 (Pasal 37) telah memuat ketentuan mengenai pembuktian terbalik (reversal burden of proof atau onus ofKetentuan di dalam kedua undang-undang tersebut masih belum dilandaskan kepada justifikasi teoritis sebagaimana telah diuraikan di atas, melainkan hanya menempatkan ketentuan pembuktian terbalik tersebut semata-mata sebagai sarana untuk memudahkan proses pembuktian saja tanpa dipertimbangkan aspek hak asasi tersangka/terdakwa berdasakan UUD 1945. Kini dengan munculnya dua model pembuktian terbalik dengan keseimbangan kemungkinan tersebut, maka telah terdapat referensi teoritik dan praktik dalam masalah pembuktian terbalik. Konvensi Anti Korupsi 2003 yang telah diratifikasi telah memuat ketentuan mengenai pembuktian terbalik (Pasal 31 ayat 8) dalam konteks proses pembekuan (freezing), perampasan (seizure), dan penyitaan (confiscation) di bawah judul Kriminalisasi dan Penegakan Hukum (Bab III). Pascaratifikasi Konvensi Anti Korupsi 2003 sudah tentu berdampak terhadap hukum pembuktian yang masih dilandaskan kepada Undang-undang Hukum Acara Pidana Nomor 8 tahun 1981 dan ketentuan mengenai penyelidikan, penyidikan dan penuntutan serta pemeriksaan pengadilan di dalam UU nomor 31 tahun 1999

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.. i LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR . DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN.. 1. Latar Belakang dan Rumusan Masalah 2. Penjelasan Judul 4. Metode penelitian.. 5.Pertanggungjawaban Sistematika. BAB II SISTEM PEMBUKTIAN DALAM HUKUM ACARA PIDANA 1. Teori-teori Sistem Pembuktian. 2. Sistem Pembuktian Menurut KUHAP 3. Pentingnya pembuktian Terbalik Dalam Pengungkapan Tindak Pidana Korupsi 1. Perkembangan dan Pandangan Tentang Beban Pembuktian Terbalik .. 2. Sistem Pembuktian dalam Tindak Pidana Korupsi 3. Pembuktian Terbalik Dalam Tindak Pidana Korupsi BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan 2. Saran. DAFTAR PUSTAKA 59 60 40 53 36 31 BAB III BEBAN PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI 11 27 1 8 8 9 v vii 1 iii iv

3. Tujuan Penelitian. 8

DAFTAR PUSTAKA Atmasasmita, Romli, Sistem Perdilan Pidana, Bina Cipta, Bandung1996. Chazawi, Adami, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia,Bayumedia, Malang,2005. --------------------, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Alumni, Bandung,2006.
Hartono, Sunaryati, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni, Bandung, 1991. Harahap, Yahya, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP I dan II, Pustaka Kartini, Jakarta 1986. Hamzah,Andi, Hukum Acara Pidana di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta,2001. Loqman, Loebby, Hak Asasi Manusia Dalam Hukum Acara Pidana,Datacom, Jakarta, 2002. Mulyadi,Lilik, Hukum Acara Pidana Nomatif, Teoritis, Praktik Dan Permasalahannya,Alumni,Bandung,2007. Muladi, Hak Asasi Manusia Politik dan Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit UNDIP, Semarang 1997. ------------, Kapita Selekta Hukum Pidana, badan Penerbit UNDIP, Semarang,1995.

Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991. Poernomo, Bambang, Pokok-Pokok Tata Cara Peradilan Pidana di Indonesia Dalam U U No. 8 Tahun 1982, Liberty, Yogyakarta,1993
Soekanto, Soeryono dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995. Soemitro, Rony Hanintijo, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, 1990. ----------------, Filsafat Peradilan Pidana dan Perbandingan Hukum, Armico, Bandung, 1984. www.portalhukum.com www.solusihukum.com

Anda mungkin juga menyukai