Anda di halaman 1dari 10

Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik yang Berasal dari Sampah Rumah Tangga

PENDAHULUAN Latar belakang Sebagaimana diketahui bahwa akibat aktivitas manusia maka sampah dihasilkan. Menurut UU Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah didefinisikan sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sedangkan menurut Anonimus1, 2011 sampah adalah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Dalam makalah ini lebih banyak akan di bahas adalah sampah padat dari rumah tangga. Dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia, maka akan bertambah pula sampah yang akan di hasilkannya. Maka bagaimana cara pengolahan sampah menjadi sangat penting untuk dibahas. Jika pada tahun 2011 saja jumlah penduduk dunia mencapai 7 milliar, maka pada tahun 2050 jumlahnya diperkirakan mencapai 9,3 milliar (BPS, 2011). Tidak ada data yang pasti mengenai sampah yang ada di Indonesia maupun di dunia. Namun dapat diperkirakan bahwa dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia ini maka kebutuhan akan pemenuhan akan meningkat dan konsekuensi lainnya adalah peningkatan jumlah sampah. Sebagaimana data yang dilansir oleh reuter dalam Anonimus2 bahwa pada tahun 2005 dunia diperkirakan menghasilkan 1,6 miliar ton sampah. Angka ini diperkirakan akan terus menanjak dan diprediksi keluaran sampah rumah tangga dunia pada tahun 2030 diperkirakan akan mencapai angka 3 miliar ton. Peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia diperkirakan akan bertambah 5 kali lipat pada tahun 2020. Rata-rata produksi sampah tersebut diperkirakan meningkat dari 800 gram per hari per kapita pada tahun 1995 menjadi 910 gram per hari per kapita pada tahun 2003. Untuk kota Jakarta, pada tahun 1998/1999 produksi sampah per hari mencapai 26.320 meter kubik. Dibandingkan tahun 1996/1997, produksi sampah di Jakarta tersebut naik sekitar 18%. Hal ini diakibatkan bukan saja karena pertumbuhan penduduk tetapi juga karena meningkatnya timbulan sampah per kapita yang disebabkan oleh perbaikan tingkat ekonomi dan kesejahteraan (JICA, 2008). Berdasarkan hasil perhitungan Bappenas pada tahun 1995 diperkirakan penumpukan sampai berjumlah 2,25 juta ton dan jumlah ini diperkirakan pada tahun 2020 jumlah penumpukan sampah yang ada di Indonesia akan mencapai 53,7 juta ton (Beppenas diacu dalam Hans Cristian, 2008). Sampah seringkali menjadi masalah terutama di kota-kota besar. Seperti contohnya di kota Bandung. Tumpukan sampah yang ada di pinggir jalan akan mengakibatkan penyempitan jalan dan menyebabkan kemacetan. Belum lagi bau yang tidak sedap dan pemandangan kota yang kotor menyebabkan ketidaknyamanan. Sampah memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomis. Dari setiap meter kubik sampah kota dengan bobot 120-170 kg, sekitar 70% merupakan sampah organik seperti daun-daunan, ranting dan sisa-sisa sayuran yang dapat diproses menjadi kompos. Sisanya 30% berupa sampah anorganik yang meliputi berbagai jenis logam, plastik, kertas, serta barang pecah belah yang dapat didaur ulang menjadi berbagai produk yang berharga (Londra, 2006). Sampah menjadi permasalahan jika kemudian tidak diolah dengan baik dan tidak termanfaatkan. Pengolahan sampah yang tidak efektif akan menimbulkan masalah pada

kesehatan manusia dan kerusakan alam. Upaya pengolahan sampah mulai dari pengangkutan hingga pengolahan perlu terus menerus di tingkatkan seriring meningkatnya sampah. Tahapan-tahapan pengelolaan sampah mulai dari pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan mempunyai permasalahan tersendiri sendiri. Seperti pengumpulan misalnya, dalam hal pengumpulan di butuhkan tenaga dan alat yang memadai. Karena jika tidak, maka akan terjadi penumpukan sampah dimana-mana seperti yang terjadi di Bandung. Kemudian dengan sarana transpotasi baik pengangkutan dari rumah tangga hingga tempat pembungan akhir akan menimbulkan masalah bau yang tidak sedap jika menggunakan alat transporasi yang memadai. Sedangkan masalah pembuangan adalah terkait dengan penyediaan lahan yang digunakan untuk penampungan dan pengolahan. Permasalahan sampah tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi hampir disemua negara di belahan bumi ini. Dan di Indonesiapun permasalahan sampah tidak hanya terjadi di satu kota saja, tapi terjadi di beberapa kota, terutama kota besar. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat diperkirakan setiap tahunnya 500 Miliar hingga 1 Triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Sedangkankan kantong kertas dapat diuraikan sekitar seminggu jika dikubur di dalam tanah atau sekitar 1 bulan jika dibiarkan begitu saja. Dengan demikian, maka pengolahan sampah menjadi sangat penting sekali. Di Amerika, penduduknya membuang lebih dari 100 milyar tas kresek plastik belanjaan. Tas-tas tersebut berakhir di laut menimbulkan polusi air laut yang berakibat matinya jutaan burung dan ikan, juga lebih dari 100.000 penyu laut yang sekarang mulai langka. Tas kresek plastik merupakan masalah di berbagai negara. Misalnya Irlandia sejak tahun 2002 mulai memperkenalkan plastax dijual seharga 15 sen dolar per tas. Banyak negara termasuk Amerika mengembangkan program memberikan potongan harga belanjaan sebanyak 5% bagi mereka yang membawa tas belanjaan sendiri (Anomimous2, 2011). Di London dibangun pabrik daur ulang plastik untuk makanan berkapasitas 35.000 ton per tahun. Sedangkan di Moskwa sampah dikirim ke area 'Landfill' dan ke insinerator dalam hal ini pemerintahnya membangun 6 insinerator hingga 2012 dengan dana 2,5 miliar dollar AS. Beijing yang mempunyai penduduk sangat tinggi menyediakan tong-tong sampah dipisahkan antara sampah yang dapat didaur ulang dan tidak dan 88% sampah masuk 'landfill'. Di New York sampahnya di Ekspor sebanyak 45.000 ton sampah per hari sedangkan 30%nya di daur ulang. Di Nairobi pengumpulan sampah sebagian besar oleh perusahaan swasta kecil dan program lingkungan PBB melakukan Kampanye soal pembersihan lingkungan di Dandora dan menerima 2.000 ton sampah dalam satu hari. Lain halnya dengan di Tokyo dimana dilakukan pemilahan sampah antara lain sampah yang bisa didaur ulang, mudah terbakar, dan sulit terbakar. Di Jepang pada 2005-2006,sampah didaur ulang: 19,7%, Insinerator: 77,4% dan "Landfill": 2,9%. Sedangkan di London dibangun Pabrik daur ulang plastik untuk makanan berkapasitas 35.000 ton per tahun. Di Inggris mendaur ulang sekitar 19% dari limbah rumah tangga nya. Hal ini rendah dibandingkan dengan negara-negara Uni Eropa lainnya dan Pemerintah memiliki sejumlah target di tempat untuk meningkatkan daur ulang (Trumper, 2005). Di Indonesia sendiri dengan semakin meningkatnya jumlah sampah maka pola lama pengelolaan sampah di Indonesia yang berupa pengumpulan-pengangkutan-pembuangan (P3) mulai bergeser ke pemilahan-pengolahan-pemanfaatan-pembuangan residu (P4). sebagaimana diundangkannya UURI No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. Selain itu dalam rencana nasional Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat juga telah dicantumkan bahwa penangan sampah memerlukan upaya mulai dari partisipasi masyarakat hingga pemerintah. Pengolahan sampah menjadi sangat penting karena sangat berpengaruh pada biaya pengolahan. Sampah yang tercampur akan membutuhkan biaya pengolahan yang

lebih mahal. Oleh karena kunci dari pengelolaan sampah adalah pemilahan, atau pemisahan antara jenis sampah yang satu dengan jenis sampah yang lain. Lantas bagaimana pengolaan sampah yang berasal dari rumah tangga akan di bahas dalam makalah ini. Dimana dalam proses pengolahannya mengendankan peran serta masyarat dalam pengelolah dan pemanfaatkan sampah organik dan sampah anorganik. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan sampah arganik dan sampah anorganik yang berasal dari rumah tangga di Indonesia serta pentingnya pengeloaan sampah berbasis masyarakat.

PEMBAHASAN Sampah Rumah tangga Sampah rumah tangga merupakan sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga dan tidak termasuk tinja dan sampah spesifik dan sampah yang bukan berasal dari rumah tangga. Sampah yang bukan berasal dari rumah tangga misalnya adalah sampah yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial,fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan sampah spesifik adalah sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun, limbah bahan berbahaya dan beracun, sampah yang timbul akibat bencana, puing bongkaran bangunan, sampah yang secara teknologi belum dapat diolah serta sampah yang timbul secara tidak periodik. Berdasarkan jenis sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga, maka sampah dapat dipisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik atau sebut sampah basa adalah jenis sampah yang berasal dari jasad hidup sehingga mudah membusuk dan dapat hancur secara alami. Contohnya adalah sayuran, daging, ikan, nasi, dan potongan rumput/daun/ranting. Dalam pemenuhan kebutuhan seharihari, manusia tidak akan lepas dari sampah organik. Pembusukan sampah organik terjadi karena biokimia akibat penguraian materi arganik dampah itu sendiri oleh mikroorganisme dengan dukungan faktor lain yang terdapat dilingkungan. Metode pengolahan sampah organik yang paling tepat tentunga adalah dengan pembusukan dikendalikan yang dikenal dengan pengoposan atau komposing. Sampah ini bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos). Kompos merupakan hasil pelapukan bahan-bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, sampah, rumput, dan bahan lain yang sejenis yang proses pelapukannya dipercepat oleh bantuan manusia.Sampah pasar khusus seperti pasar sayur mayur, pasar buah, atau pasar ikan, jenisnya relatif seragam, sebagian besar (95%) berupa sampah organik sehingga lebih mudah ditangani. Sampah anorganik atau sampah kering atau sampah tidak mudah busuk adalah sampah yang tersusun dari senyawa non organik yang berasal dari sumber daya alam tidak terbaharui seperti mineral dan minyak bumi, atau proses industri. Contohnya adalah botol plastik, tas plastik, kaleng dan logam. Sebagian sampah non-organik tidak dapat diuraikan oleh alam sama sekali, dan sebagian lain dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Mengolah sampah non-organik erat hubungannya dengan penghematan sumber daya alam yang digunakan untuk membuat bahan-bahan tersebut dan pengurangan polusi akibat proses produksinya didalam pabrik. sampah anorganik tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton Managemen pengolahan sampah rumah tangga Dalam menagemen pengolahan sampah rumah tangga terutama di perkotaan diperlukan kerjasama menyeluruh stakeholder baik mulai dari pemerintah hingga peran serta masyarakat. Pendekatan terpadu dengan teknologi tepat guna merupakan komponen utama dalam penanganan masalah sampah masyarakat. Karena dengan pemanfaatan yang sesuai maka sampah dapat memberikan manfaat yang besar (Zerback O and M.S Candidate, 2003). Menurut Syafrudin (2004) dalam Artiningsih, 2008, salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah melaksanakan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, seperti minimasi limbah dan melaksanakan 5 R (Reuse, Recycling, Recovery, Replacing dan

1. 2. 3. 1. 2. 3. 4.

Refilling). Kedua program tersebut bisa dimulai dari sumber timbulan sampah hingga kelokasi TPA. Seluruh sub sistem didalam sistem harus dipandang sebagai suatu sistem yang memerlukan keterpaduan didalam pelaksanaannya. Sistem pengelolaan sampah terpadu (Integrated Solid Waste management) didefinisikan sebagai pemilihan dan penerapan program teknologi dan manajemen untuk mencapai sistem yang tinggi, dengan hirarki sebagai berikut : Source Reduction, yaitu proses minimalis sampah di sumber dalam hal kuantitas timbulan dan kualitas timbulan sampah, terutama reduksi sampah berbahaya. Recyclling, yaitu proses daur ulang yang berfungsi untuk mereduksi kebutuhan sumberdaya dan reduksi kuantitas sampah ke TPA. Waste Transformation, yaitu proses perubahan fisik, kimia dan biologis perubahan sampah. Dimana ketiga komponen itu akan menentukan : Perubahan tingkat efesiensi yang diperlukan didlam sistem pengelolaan. Perlunya proses reduce, reuse, dan recycle sampah. Proses yang dapat menghasilkan barang lain yang bermanfaat seperti pengomposan. Landfillimg, sebagai akhir dari suatu pengelolaan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Secara teknis pengelolaan sampah terpadu terdiri dari 3R(reuse, reduce, recycle) yaitu kegiatan penggunaan kembali sampah secara langsung, mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah, memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses pengolahan. Reuse (menggunakan kembali) yaitu penggunaan kembali sampah secara langsung,baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain. Reduce (mengurangi) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah. Recycle (mendaur ulang) yaitu memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses pengolahan. Mengurangi sampah dari sumber timbulan, di perlukan upaya untuk mengurangi sampah mulai dari hulu sampai hilir, upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi sampah dari sumber sampah ( dari hulu ) adalah menerapkan prinsip 3R ebagaimana dikemukakan oleh Winarno dkk dalam Artiningsih, 2008. Dengan penerapan prinsip 3R tersebut mampu mereduksi volume sampah buang hingga 70%. Proses awal dalam penampungan sampah terkait langsung dengan sumber sampah adalah penampungan. Penampungan sampah adalah suatu cara penampungan sebelum dikumpulkan, dipindahkan, diangkut dan dibuang ke TPA. Tujuannya adalah menghindari agar sampah tidak berserakan sehingga tidak mengganggu lingkungan (SNI 19-2454-2002). Bahan wadah yang dipersyaratkan sesuai Standart Nasional Indonesia adalah tidak mudah rusak, ekonomis, mudah diperoleh dan dibuat oleh masyarakat dan mudah dikosongkan. Pengumpulan sampah yaitu cara atau proses pengambilan sampah mulai dari tempat enampungan / pewadahan sampai ketempat pembuangan sementara. Proses pemindahan sampah adalah memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkutan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tempat yang digunakan untuk pemindahan sampah adalah depo pemindahan sampah yang dilengkapi dengan container pengangkut (SNI 19-2454-2002). Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan di tempat penampungan sementara atau dari tempat sumber sampah ke tempat pembuangan akhir. Berhasil tidaknya penanganan sampah juga tergantung pada sistem pengangkutan yang diterapkan. Pengangkutan sampah yang ideal adalah dengan truck container tertentu yang dilengkapi alat pengepres (SNI 19-2454-2002) Tempat pembuangan sampah akhir (TPA) adalah sarana fisik untuk berlangsungnya kegiatan pembuangan akhir sampah. Pembuangan akhir merupakan tempat yang disediakan untuk membuang sampah dari semua hasil pengangkutan sampah untuk diolah lebih lanjut.

Prinsip pembuangan akhir adalah memusnahkan sampah domestik di suatu lokasi pembuangan akhir. Jadi tempat pembuangan akhir merupakan tempat pengolahan sampah. Faktor Ekonomis Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga Berbagai upaya pengelolaan sampah telah dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, lembaga internasional hingga masyarakat. Dan komponen terpenting dalam pengolaan sampah rumah tangga adalah pengolahan sampah yang berbasis pada masyarakat. Sampah yang sebelumnya tidak mempunyai nilai ekonomis sama sekali, berhasil diolah oleh berbagai kalangan masyarakat sebagaimana dilaporkan oleh Darto et al, 2007 yang menyampaikan kisah sukses pengeolaan sampah berbasis masyarakat, diberbagai wilayah di Indonesia yaitu di Sragen Solo, Sleman Yogyakarta, Mampang Prapatan Jakarta, Tasikmalaya dan Kota Bandung Jawa Barat, Kelurahan Cilandak Jakarta Selatan, Kota Tangerang Banten, Kab Bangli Propinsi Bali, Rungkut Surabaya, Desa Tegal Kertha Denpasar. Sebagai pondasi dari program pemanfaatan sampah berbagai masyarakat adalah dengan pemilahan sampah di rumah tangga. Pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat dapat mereduksi timbulan sampah yang dibuang. Namun permasalahan utama dari peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga adalah bagaimana menerapkan paradigma dari memilah, membuang sampah menjadi memanfaatkan sampah (Artiningsih, 2008). Banyak orang yang menganggap bahwa semua sampah adalah kotor dan harus dibuang atau dibakar. Pola pandang seperti diatas haruslah diluruskan karena sebenarnya sampah masih mempunyai nilai tambah kalau dikelola dengan baik dan benar. Maka sebenarnya pengelolaan sampah merupakan peluang usaha yang dapat memberikan keuntungan. Selain itu dengan pemanfaatan sampah rumah tangga, maka akan meningkatkan kebersihan lingkungan (Sidarto, 2010). Pemanfaatan Sampah Organik Sampah organik banyak dimanfaatkan pada proses pengomposan. Hasilnya kemudian dapat dimanfaatkan untuk pemupukan dilingkungan masyarakat atau kemudian untuk dijual dalam bentuk pupuk kompos (Darto et all, 2007). Berbagai proses pengomposan dari sampah rumah tangga dilaksanakan sesuai dengan wilayah dan kondisi lingkungan. Pengomposan adalah sistem pengolahan organik dengan bantuan mikroorganisme seingga membentuk pupuk organik. Mengolah sampah menjadi kompos (pupuk organik) dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai yang sederhana hingga memerlukan mesin (skala industri atau komersial). Membuat kompos dapat dilakukan dengan metode aerob dan anaerob. Pada pengomposan secara aerob, proses dekomposisi bahan baku menjadi kompos akan berlangsung optimal jika ada oksigen. Sementara pada pengomposan anearob dekomposisi bahan baku menjadi kompos tidak memerlukan oksigen. Didaerah rungkut Surabaya, proses pengomposan dilaksanakan dengan menggunakan Takakura Home Methode yaitu dengan menggunakan keranjang bekas yang didalamnya dilapisi dengan kardus dan kemudian ditutup dengan sekam (Darto et all, 2007). Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis , bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini di sebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik. Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut

ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam stater kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan kranjang Takakura (Artiningsih, 2008). Metode ini merupakan metode sederhana yang dapat dilakukan disetiap rumah tangga. Untuk kemudian hasilnya dimanfaatkan untuk memupuk tanaman pribadi atau kemudian dikumpulkan di tempat pengumpulan pusat kompos setempat untuk dijual secara kolektif. Tentu saja hal ini dibutuhkan peran serta masyarakat. Kompos yang dihasilkan dari sampah juga dapat mengantikan penggunaan pupuk kimia sampai 50% dari dosis standar. Hal ini menunjukan bahwa pupuk kompos yang berasal dari sampah berpotensi menunjang produkstivitas pertanian yang tinggi dan berkontribusi pada pemerliharaan kualitas lahan (Sulistyawati E dan Ridwan N). Selain digunakan untuk kompos, sampah organik juga dapat digunakan sebagai pakan ternak. Sampah organik yang telah terpisah dari bahan lain selanjutnya dicacah dengan alat atau mesin pencacah agar bentuknya lebih kecil dan untuk memudahkan fermentasi. Fermentasi dimaksudkan untuk meningkatkan kandungan gizi dan nilai cerna sampah karena kandungan gizi sampah umumnya rendah tetapi serat kasarnya relatif tinggi. Fermentasi dilakukan dengan menggunakan inokulan bakteri dan cara yang tepat agar diperoleh produk yang bermutu tinggi. Setelah difermentasi, sampah dikeringkan dengan dijemur lalu digiling hingga menjadi tepung. Selanjutnya tepung sampah ditambah bahan lain termasuk enzim dan diaduk dalam mesin pencampur, sehingga diperoleh pakan komplit yang sesuai dengan kebutuhan ternak. Apabila diperlukan, semua bahan yang sudah tercampur dibentuk pelet. Pelet pakan ternak dapat disimpan hingga 6 bulan (Londra, 2006). Manfaat lainnya dari sampah organik ini adalah untuk dijadikan briket arang dan asap cair. Selain akan mengurangi jumlah timbunan sampah, maka dengan adanya briket sebagai alternatif bahan bakar bagi masyarakat akan mengurangi konsumsi yang tinggi dari minyak bumi. Lain halnya dengan pembuatan briket, sampah organik juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan asap cair. Asap cair dalam industri pangan, memberi rasa dan aroma yang spesifik juga sebagai pengawet karena sifat antimikrobia dan antioksidannya. Dengan tersedianya asap cair maka proses pengasapan tradisional dengan menggunakan asap secara langsung dapat dihindarkan (Nisandi, 2007). Pemanfaatan Sampah Anorganik Keberadaan sampah anorganik juga terkadang hanya menjadi tumpukan di sudut rumah atau tersebar di mana-mana. Padahal, jika kita mau mengolahnya, sampah anorganik pun bisa dikemas menjadi sesuatu yang unik dan bagus sebagai aksesoris ataupun mainan.Dengan memanfaatkan kembali barang yang tidak terpakai dan tidak mempunyai nilai jual menjadi barang yang kemudian mempunyai nilai jual. Pemanfaatan sampah anorganik seperti kertas, plastik dan logam dikirim ke pengepul atau dikelola sendiri menjadi produk-produk daur ulang. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh ibu rumah tangga untuk membuat kerajian yang berasal dari sampah anorganik rumah tangga. Sampah anorganik seperti bungkus permen dan kemasan makanan ringan, kemasan minyak goreng, sabun cuci dan plastik lainnya misalnya, dapat diolah kembali menjadi mainan, gantungan kunci, maupun pita rambut. Sampah anorganik berupa kaleng bekas dapat dimanfaatkan lagi misalnya untuk pot tanaman, atau diberikan kepada pengumpul barang bekas untuk diolah lagi di pabrik/industri daur ulang begitu pula botol bekas minuman. Untuk sampah kertas/koran dapat diproses menjadi kertas daur ulang. Produk kertas yang sudah dihancurkan bersama dengan air dan diblender untuk selanjutnya di cetak dapat digunakan untuk berbagai kerajinan tangan (handycraft)

Sedangkan plastik, membutuhkan teknologi tersendiri dalam hal daur ulangnya. Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali barang-barang plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik (80%) dapat diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan pencampuran dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan kualitas.

KESIMPULAN Dari makalah tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa sampah rumah tangga yang tadinya dianggap tidak ada nilai ekomoninya dapat diolah kembali dan menjadi punya sumber pendapatan jika dapat dimanfaatkan dengan sesuai. Pengolahan sampah rumah tangga dimulai dengan pemisahan tempat sampah untuk sampah organik dan anorganik. Dan pengolahan sampah organik dan anorganik yang berasal dari sampah rumah tangga merupakan upaya dasar menjaga kesehatan keluarga dan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA Anonimus , 2011. Sampah. http://id.wikipedia.org/wiki/Sampah. 18 Oktober 2011 Anonimus2, 2011. Data dan Fakta persampahan. Jejaring perpustakaan online Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. http://digilibampl.net/detail/list.php?tp=fakta&ktg=persampahan Artiningsih, NKA, 2008. Peran Serta Masyarakat Dalam Pengeloaan Sampah Rumah Tangga. Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang. Cristian. H. 2008. Modifikasi sistem burner. Tugas Akhir Fakultas Teknik. Universitas Indonesia Darto, K.A., E.Setyaningrum, Bona H., Ida Y., Dwiasti H., Abert R., Ade S., Laila A. 2007. Kisah Sukses pengelolaan Persampahan diberbagai wilayah di Indonesia . Departemen Pekerjaan Umum Faizah. 2008. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang. JICA. 2008. Draft Akademik Undang-Undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Londra I.M. 2006. Sampah untuk Pakan Ternak. Warta penelitian dan pengembangan pertanian. Vol 28 no 3. Hal 5-6. Nisandi. 2007. Pengolahan Dan Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Briket Arang Dan Asap Cair. Seminar Nasional Teknologi. Yogyakarta 24 November 2007. Sidarto. 2010. Analisis Usaha Proses Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dengan Pendekatan Cost And Benefir Ration Guna Menunjang Kebersihan Lingkungan . Jurnal Teknologi. Volume 3 Nomor 2. Desember 2010. 161-168. Standart Nasional Indonesia Nomor SNI-19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan, Badan Standar Nasional ( BSN ). Steger K, A.M.Sjogen.A Jaruss.J.K.Jansion. I. Sundh. 2007. Development Of Compost Maturity And Acinobacteria Population During Full Scale Composing Of Organic Household Waste. Journal complilation. The Society for Applied Microbiology. 103 (2007). 487-498 Sulistyawati E dan Ridwan N. Efektivitas Kompos Sampah Perkotaan Sebagai Pupuk Organik Dalam Meningkatkan Produktivitas Dan Menurunkan Biaya Produksi Budidaya Padi. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. ITB. Trumper K. 2005. Reclyling Household Waste. Postnote Parliamantary office of science and Technology. Number 252. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengeloaan Sampah Zerback, O and M.S. Candidate. 2003. Waste Reduction in Developing Nations. School of Forest resourse and Enviromental Science. Michigan Technological University.
1