Anda di halaman 1dari 21

PERBANDINGAN PENANGANAN KORUPSI DI BERBAGAI NEGARA DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA

Oleh: Devri Radistya


D IV Akuntansi Kurikulum Khusus, STAN, Bintaro email: devri_pjk@yahoo.com Abstrak Pemberantasan korupsi menjadi isu yang sangat penting dan fokus utama dalam masa dimulainya reformasi di Indonesia. Di negara ini korupsi dinilai sebagai kejahatan luar biasa yang membutuhkan penanganan yang luar biasa pula sehingga dirancang dan disahkanlah undang-undang antikorupsi sebagai payung hukum dalam memberantas korupsi, sekalipun kejahatan korupsi secara umum sudah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Perbandingan korupsi antar negara menjadi sebuah studi perbandingan yang ditujukan untuk menemukan desain dan saran-saran terbaik untuk menerapkan formula tersebut di Indonesia. Kata Kunci: pemberantasan korupsi, penegakan hukum, strategi, undang-undang anti korupsi 1. PENDAHULUAN korupsi di Indonesia yang dimulai sejak dimulainya era reformasi dan telah dilakukan lebih dari 10 tahun ternyata masih belum dapat meminimalkan tingkat korupsi di negara ini yang telanjur merasuk ke dalam sistem pemerintahan dan masyarakat di negara Indonesia ini. Sambutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI pada era refomasi ini dalam acara peringatan hari anti korupsi sedunia tahun 2008 menyebutkan ada lima alasan kenapa korupsi berbahaya dan harus dicegah dari negara Indonesia ini. 1. Aset uang negara banyak yang hilang, padahal sangat berguna untuk membangun negeri 2. Alasan yang kedua, menurut Susilo Bambang Yudhoyono, akibat korupsi, potensi pemasukan dari sumber daya alam Indonesia makin berkurang. 3. Susilo Bambang Yudhoyono juga menyebutkan bahwa korupsi menyebabkan kegiatan perekonomian serta dunia usaha gagal memberikan pendanaan buat negara. 4. Mental korup membuat Indonesia tidak tentram, penuh curiga dan tidak percaya. 5. Korupsi mencoreng citra dan kehormatan bangsa di dunia internasional Usaha pemberantasan korupsi di Indonesia dengan mendirikan KPK sejak tahun 2002 sebagai lembaga ad hoc yang bertujuan khusus pada pemberantasan korupsi yang pada saat itu kepolisian dan kejaksaan tidak bisa menanganinya. Namun,keberadaan lembaga yang mengurus korupsi belum memiliki dampak yang menakutkan bagi para koruptor, bahkan hal tersebut turut diperparah dengan political will yang lemah bila dilihat dari bagaimana dukungan pemerintah yang berkuasa terhadap penyelesaian penanganan kasuskasus korupsi.

1.1 Latar Belakang Masalah Undang-Undang Dasar 1945 memuat tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, sejahtera dan tertib. Masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera tidak akan pernah tercapai bila korupsi yang layaknya virus masih menggerogoti negara ini. Usaha mewujudkan masyarakat sebagaimana tersebut diatas perlu ditingkatkan dengan melakukan usaha-usaha penegakan hukum dan pemberantasan tindak pidana pada umumnya serta tindak pidana korupsi pada khususnya. Korupsi merupakan fenomena universal sejak zaman purba hingga era modern, dari pemerintahan otoriter sampai pemerintahan demokrasi, mulai ekonomi terencana hingga ekonomi pasar, dan dari organisasi publik sampai perusahaan swasta.1 Korupsi menjadi masalah yang pelik bagi setiap negara di dunia, dampak yang ditimbulkan bersifat sistemik dan menyeluruh bahkan sampai pada menghambat kemajuan suatu negara. Negara-negara berkembang sering dihadapkan pada masalah korupsi yang merajalela dan sulit ditangani bahkan pemberantasannya tidak dapat dilakukan hanya dalam jangka waktu 1-3 tahun. Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang yang diprediksikan akan menyaingi India dan Cina beberapa tahun ke depan, berada pada peringkat 118 dengan skor 32 dari 100 yang menandakan bahwa tingkat korupsi di negara ini masih dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Pemberantasan
Jin-Wook Choi, Governance Structure and Administrative Corruption in Japan: An Organizational Network Approach, (Hongkong: Public Admistratiom Review, 2007), hal.930.
1

Sistem anti korupsi Indonesia tidak hanya berdasarkan pada sistem hukum dan undangundang semata. Sistem pemberantaasan korupsi harus pula melihat permasalahan secara keseluruhan dimana meliputi apa penyebab korupsi terjadi, bagaimana korupsi itu terjadi, apakah sistem yang sudah ada saat ini sudah cukup berhasil atau malah dapat dibilang gagal, dan bagaimana ekosistem dalam kejahatan korupsi ini. Desain sistem anti korupsi yang benar dan melihat permasalahan secara menyeluruh dapat membentuk sebuah ekosistem yang anti korupsi sehingga korupsi tidak hanya karena ada kejahatan karena ada kesempatan, namun juga terjadi pengawasan dari diri sendiri, keluarga, masyarakat sekitar, lingkungan pekerjaan, dan dari sisi legalnya yakni hukum. 1.2 Maksud dan Tujuan Untuk mengetahui dan mendesain sebuah sistem anti korupsi yang meliputi pencegahan dan pemberantasan korupsi berdasarkan praktik-praktik yang telah diterapkan pada negara asing dalam menangani pemberantasan korupsi Untuk memberikan gambaran desain strategi yang dapat diaplikasikan di Indonesia dalam kaitannya pemberantasan korupsi.

2. LANDASAN TEORI
2.1 Metode penelitian Desain sistem pemberantasan korupsi ini dilakukan dengan metode observasi kepustakaan dan pencarian data melalui internet 2.2 Landasan hukum anti korupsi di Indonesia Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 yang menghendaki dibentuknya suatu komisi pemberantasan tindak pidana korupsi. Undang-undang ini masih dipakai sampai saat ini dan menjadi dasar bergerak bagi KPK. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Definisi Korupsi Secara etimologis, korupsi berasal dari kata korup yang berarti rusak,buruk, busuk. Korup juga dapat berarti dapat disogok melalui kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Korupsi berasal dari bahasa Latin corrumpere dan corruptio yang berarti penyuapan. Dalam bahasa Arab, korupsi disebut rishwah yang berarti penyuapan. Sementara secara terminologis, korupsi diartikan sebagai pemberian dan penerimaan suap. Jadi, baik yang

memberi maupun menerima suap termasuk koruptor.2 Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan korupsi sebagai penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. The Lexicon Webster Dictionary menyatakan bahwa Corruption L, corruption (n-) the act of corrupting, or the state of being corrupt, putrefactive de composition, putrid matter: moral perversion ; depravity; perversion of integrity; corrupt or dishonest proceedings, bribery; perversion from a state of purity ; debasement, as of a language ; a debased form of a word (Hamzah, 2006:5). A.S. Hornby C.S, corruption adalah the offering and accepting of bribes, (pemberian dan penerimaan hadiah berupa suap) di samping diartikan juga decay yaitu kebusukan atau kerusakan. Yang dimaksudkan apa yang busuk atau rusak itu ialah moral atau akhlak oknum yang melakukan perbuatan korupsi, sebab seseorang yang bermoral baik, tentu tidak akan melakukan korupsi. Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatan kekuatan formal (misalnya denagan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri. Soedjono D, mengemukakan bahwa menurut New World Dictionary of The American Language, bahwa sejak abad pertengahan Inggris menggunakan kata corruption dan Perancis corruption. Kata korupsi mengandung arti perbuatan atau kenyataan yang menimbulkan keadaan yang bersifat buruk, perilaku yang jahat yang tercela atau kebejatan moral, kebusukan atau tengik, sesuatu yang dikorup, seperti yang diubah atau diganti secara tidak tepat dalam satu kalimat, pengaruh-pengaruh yang korup. Klitgaard membuat persamaan sederhana untuk menjelaskan pengertian korupsi sebagai berikut:

C=M+D-A
C = Corruption / Korupsi M = Monopoly / Monopoli D = Discretion / Diskresi / Keleluasaan
Karlina Helmanita, Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi, (Jakarta: Center For Study Of Religion And Cultute (CSRC), 2006), hal.37.
2

A = Accountability / Akuntabilitas Persamaan di atas menjelaskan bahwa korupsi hanya dapat terjadi bila seseorang atau pihak tertentu mempunyai hak monopoli atas urusan tertentu dan didukung oleh keleluasaan dalam menggunakan wewenang dan kekuasaan sehingga terdapat kecenderungan untuk penyalahgunaan, namun lemah dalam pertanggungjawaban kepada publik (akuntabilitas). Pengertian di atas menyoroti korupsi sebagai hal yang merugikan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa pihak dan tidak secara eksplisit disebutkan apakah hal tersebut dari unsur birokrasi, swasta, maupun masyarakat. Karena pada dasarnya tindakan korupsi bukan hanya terjadi dalam sektor pemerintahan tetapi juga dalam dunia bisnis dan masyarakat pada umumnya. Defini korupsi menurut Korupsi berdasarkan pemahaman pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Korupsi merupaka tindakan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri/orang lain (perseorangan atau sebuah korporasi) , yang secara langusng maupun tidak langsung merugikan keuangan atau prekonomian negara, yang dari segi materiil perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. Sekian banyaknya definisi tentang Korupsi diatas, kata Korupsi selalu dikaitkan dengan tindakan pelanggaran hukum, pelanggaran moral, penyalahgunaan wewenang, dan segala hal yang diasosiasikan dengan keburukan dan kejahatan. Keburukan dan kejahatan yang dilakukan tentu berdampak pada Indonesia secara keseluruhan. Keburukan dan kejahatan ini tentunya perlu disingkirkan dari bumi Indonesia ini agar negara ini tidak menjadi negara yang hanya diasosiasikan dengan negara koruptor bila melihat kenyataan maraknya berita-berita, sorotan-sorotan baik dari media asing maupun media lokal, serta pengalaman masyarakat sendiri yang menemui tindakan korupsi dalam kehidupan sehari-harinya. 3.2. Undang-undang yang terkait tindak pidana korupsi Undang-undang yang berlaku untuk pemberantasan korupsi sebenarnya mengacu pada KUHP danUndang-undang tentang pemberantasan korupsi secara spesifik, seperti yang tertera di bawah ini: a. Pasal-pasal pemberantasan korupsi dalam KUHP KUHP pada dasarnya telah mengatur banyak perbuatan korupsi seperti penyuapan pegawai negeri yang terdapat pada Pasal 12 UU. No.31 Tahun 1999 Jo. UU NO. 20 Tahun 2001 yang diadopsi dari Pasal 419, 420, 423, 425, 435 KUHP. Delik Pegawai Negeri atau penyelenggara negara,

hakim dan advokat menerima hadiah atau janji (suap pasif), Pegawai Negeri memaksa membayar, memotong pembayaran, meminta pekerjaan, menggunakan tanah negara, dan turut serta dalam pemborongan. Delik lainnya yang terkait dengan kasus korupsi antara lain Delik Pegawai Negeri merusakkan barang, akta, surat, atau daftar untuk meyakinkan/membuktikan di muka pejabat yang berwenang Pasal 10 UU. No. 31 Tahun 1999 Jo. UU No. 20 Tahun 2001 yang diadopsi dari Pasal 417 KUHP. b. Undang-Undang No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Undang-undang No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Lahirnya undang-undang pemberantasan korupsi Nomor 31 tahun 1999 dilatar belakangi oleh beridirinya era reformasi sehingga perlu penegasan dan peletakkan kembali nilai-nilai baru atas upaya pemberantasan korupsi, dan undangundang sebelumnya yaitu UU No. 3 tahun 1971 dianggap tidak efektif melihat penegakan hukum mengenai korupsi pada saat era sebelum era reformasi. Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 merupakan undang-undang yang lahir masih dengan semangat reformasi yang diusung pada tahun 1998 untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan undang-undang terdahulu. Sebagaimana telah disebutkan di atas, beberapa kelemahan tersebut kemudian direvisi di dalam undang- undang baru. UU No. 20 Tahun 2001 juga dapat digunakan oleh masyarakat untuk menganalisis suatu tindakan korupsi atau tidak. Hal ini dikarenakan di dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2011 beserta lampirannya telah memuat penjelasan mengenai bentuk/jenis tindak pidana korupsi, sanksi pidana penjara dan denda, dan tindak pidana lain yang berkaitan dengan korupsi. c. Undang-undang No. 7 tahun 2006 tentang Pengesahan United Nation Convention Against Corruption (UNCAC) 2003 Pemerintah Indonesia meratifikasi UNCAC karena perlu mengadakan kerjasama internasional untuk melakukan pemberantasan korupsi melalui Undang-undang Nomor 7 tahun 2006. Ratifikasi dikecualikan (diterapkan secara bersyarat) terhadap ketentuan Pasal 66 ayat (2) tentang Penyelesaian Sengketa. Diajukannya Reservation (pensyaratan) terhadap Pasal 66 ayat (2) adalah berdasarkan pada prinsip untuk tidak menerima kewajiban dalam pengajuan perselisihan kepada Mahkamah Internasional kecuali dengan kesepakatan Para Pihak.

d.

Undang-undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Undang-undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang menjadi instrumen tambahan untuk memerangi korupsi, mengingat besarnya kecendrungan dari pelaku korupsi untuk melegalkan uang hasil korupsinya melalui money laundry. Undang-undang diatas menggambarkan bahwa pemerintah memperhatikan faktor hukum sebagai payung hukum bagi tindakan pencegahan dan pemberantasan korupsi. Hal ini menggambarkan ada political will yang kuat dari pemerintah dalam penyediaan infrastruktur hukum yang memadai. 3.3. Faktor-faktor penyebab korupsi Korupsi tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa ada faktor-faktor yang menjadi penyebab korupsinya. Bila menilik apa yang dikatakan oleh Jack Bologne, akar penyebab terjadinya korupsi ada empat: Greed, Opportunity, Need, Exposes atau bila disingkat menjadi GONE theory, yang diambil dari huruf depan tiap kata. Greed terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang yang tidak pernah puas pada keadaan dirinya. Manusia memang memiliki nafsu untuk memiliki apapun, namun bila tidak terkontrol maka sekalipun ia punya satu gunung emas, berhasrat punya gunung emas yang lain dan bila punya harta segudang sekalipun, maka ia pun ingin hal yang lebih jauh lagi tanpa bisa mengontrol perilakunya. Opportunity yang dimaksud adalah sistem yang memberi celah/ lubang terjadinya korupsi. Sistem penyimpanan dan sistem pengendalian yang tak rapi sehingga memungkinkan seseorang bekerja asal-asalan dan mudah untuk timbul penyimpangan. Saat bersamaan, sistem pengawasan pun tidak dilakukan dengan ketat sehingga celahpun semakin lebar terbuka. Peluang korupsi yang menganga lebar menjadi sebuah pancingan agar orang melakukan korupsi, apalagi bila celah tersebut sama sekali tidak diantisipasi dan tidak ada hukum dan usaha yang digunakan untuk menutup celah tersebut. Need berhubungan dengan sikap mental yang tidak pernah cukup, penuh sikap tidak puas akan hidup, dan selalu sarat kebutuhan yang terus menerus tidak pernah usai. Exposes berkaitan dengan hukuman pada pelaku korupsi yang sangat rendah sehingga hukuman yang diterapkan pun tidak membuat jera sang pelaku maupun orang lain. Ketidakjeraan inilah yang mengakibatkan tindak korupsi menjadi sangat merajalela atau hukuman tidak memiliki deterrence effect. Faktor faktor universal ini secara langsung menggambarkan apa saja faktor faktor dasar yang

menyebabkan manusia menjadi ingin melakukan korupsi. Secara umum empat akar masalah di atas merupakan halangan besar pemberantasan korupsi yang terjadi secara universal. Faktor-faktor terjadinya korupsi menurut Alatas (1983) menyebutkan faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi adalah : 1. Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi posisi kunci yangg mampu memberikan ilham dan mempengaruhi tingkah laku yang menjinakan korupsi 2. Kelemahan pengajaran pengajaran agama dan etika 3. Kolonialisme 4. Kurangnya pendidikan 5. Kemiskinan 6. Tiadanya tindak hukum yang keras 7. Kelangkaan lingkungan yang subur untuk prilaku anti korupsi 8. Struktur pemerintahan 9. Perubahan radikal 10. Keadaan masyarakat Kelemahan pengajaran agama dan etika ini sesuai dengan pendapat pakar sosial Indonesia yakni Franz Magnis Suseno bahwa agama telah gagal menjadi pembendung moral bangsa dalam mencegah korupsi karena perilaku masyarakat yang memeluk agama itu sendiri. Pemeluk agama menganggap agama hanya berkutat pada masalah bagaimana cara beribadah saja. Sehingga agama nyaris tidak berfungsi dalam memainkan peran sosial. Menurut Franz, sebenarnya agama bisa memainkan peran yang besar dibandingkan insttusi lainnya. Karena adanya ikatan emosional antara agama dan pemeluk agama tersebut jadi agama bisa menyadarkan umatnya bahwa korupsi dapat memberikan dampak yang sangat buruk baik bagi dirinya maupun orang lain. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Republik Indonesia mengidentifikasi beberapa sebab terjadinya korupsi, yaitu: aspek individu pelaku korupsi, aspek organisasi, aspek masyarakat tempat individu, dan korupsi yang disebabkan oleh sistem yang buruk. 1. Aspek Individu Pelaku Korupsi Korupsi yang disebabkan oleh individu, yaitu sifat tamak, moral kurang kuat menghadapi godaan, penghasilan kurang mencukupi untuk kebutuhan yang wajar, kebutuhan yang mendesak, gaya hidup konsumtif, malas atau tidak mau bekerja keras, serta ajaran-ajaran agama kurang diterapkan secara benar. Aspek-aspek individu tersebut perlu mendapatkan perhatian bersama. Sangatlah ironis, bangsa kita yang mengakui dan memberikan ruang yang leluasa untuk menjalankan ibadat menurut agamanya masing-masing, ternyata tidak banyak membawa implikasi positif terhadap upaya pemberantasan korupsi. Demikian pula dengan

hidup konsumtif dan sikap malas. Perilaku konsumtif tidak saja mendorong untuk melakukan tindakan kurupsi, tetapi menggambarkan rendahnya sikap solidaritas sosial, karena terdapat pemandangan yang kontradiktif antara gaya hidup mewah di satu sisi dan kondisi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok bagi masyarakat miskin pada sisi lainnya. 2. Aspek Organisasi Pada aspek organisasi, korupsi terjadi karena kurang adanya keteladanan dari pimpinan, tidak adanya kultur organisasi yang benar, sistem akuntabilitas di pemerintah kurang memadai, kelemahan sistem pengendalian manajemen, serta manajemen yang lebih mengutamakan hirarki kekuasaan dan jabatan cenderung akan menutupi korupsi yang terjadi di dalam organisasi. Hal ini ditandai dengan adanya resistensi atau penolakan secara kelembagaan terhadap setiap upaya pemberantasan korupsi. Manajemen yang demikian, menutup rapat bagi siapa pun untuk membuka praktek korkupsi kepada publik. 3. Aspek Masyarakat Tempat Individu dan Organisasi Berada Aspek masyarakat tempat individu dan organisasi berada juga turut menentukan, yaitu nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat yang kondusif untuk melakukan korupsi. Masyarakat seringkali tidak menyadari bahwa akibat tindakannya atau kebiasaan dalam organisasinya secara langsung maupun tidak langsung telah menanamkan dan menumbuhkan perilaku koruptif pada dirinya, organisasi bahkan orang lain. Secara sistematis lambat laun perilaku sosial yang koruptif akan berkembang menjadi budaya korupsi sehingga masyarakat terbiasa hidup dalam kondisi ketidaknyamanan dan kurang berpartisipasi dalam pemberantasan korupsi. 4. Korupsi yang Disebabkan oleh Sistem yang Buruk Sebab-sebab terjadinya korupsi memberikan gambaran bahwa perbuatan korupsi tidak saja ditentukan oleh perilaku dan sebab-sebab yang sifatnya individu atau perilaku pribadi yang koruptif, tetapi disebabkan pula oleh sistem yang koruptif, yang kondusif bagi setiap individu untuk melakukan tindakan korupsi. Sedangkan perilaku korupsi, sebagaimana yang umum telah diketahui adalah korupsi banyak dilakukan oleh pegawai negeri dalam bentuk penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, sarana jabatan, atau kedudukan. Tetapi korupsi dalam artian memberi suap, juga banyak dilakukan oleh pengusaha dan kaum profesional bahkan termasuk Advokat. Lemahnya tata-kelola birokrasi di Indonesia dan maraknya tindak korupsi baik ilegal maupun yang dilegalkan dengan aturan-aturan yang

dibuat oleh penyelenggara negara, merupakan tantangan besar yang masih harus dihadapi negara ini. Kualitas tata kelola yang buruk ini tidak saja telah menurunkan kualitas kehidkupan bangsa dan bernegara, tetapi juga telah banyak memakan korban jiwa dan bahkan ancaman akan terjadinya lost generation bagi Indonesia. Efek dari buruknya tata kelola di negara ini mulai terlihat seperti persistensi tingkat kemiskinan yang relatif masih tinggi, pengangguran, gizi buruk, rendahnya kualitas pelayanan publik, rendahnya penerapan standar keselamatan moda transportasi serta ketimpangan antara kalangan masyarakat yang semakin nyata dipertontonkan. koruptor.3 3.4. Data dan fakta tingkat korupsi Data statistik dari KPK di tabel 1 menjelaskan jumlah penindakan korupsi yang dilakukan oleh KPK selama tahun 2009 2013 (sampai dengan bulan April 2013) disajikan dalam tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1
Tabulasi Data Penindakan Korupsi 2009-2013 (per 30 April 2013)
Penindakan Penyelidikan Penyidikan Penuntutan Inkracht Eksekusi 2009 67 37 32 39 37 2010 54 40 32 34 36 2011 78 39 40 34 35 2012 77 48 36 28 32 2013 28 26 6 15 19 Total 532 309 242 218 223

Selain data tersebut diatas, secara jumlah rupiah, BPK melansir sebanyak Rp 103,19 triliun yang menjadi kerugian negara. Data dibawah merupakan data jenis perkara korupsi selama 5 tahun berturut-turut dikelompokkan menjadi korupsi berdasarkan jenis perkara. Per 30 April 2013, secara total korupsi jenis penyuapan menempati posisi nomor satu yaitu sebanyak 134 perkara, disusul tindak pidana pengadaan barang/jasa sebanyak 106 perkara, dan penyalahgunaan anggaran sebanyak 38 perkara. Lebih jelasnya disajikan dalam tabel di bawah ini :

Lembaga Administrasi Negara RI, Modul Pemberantasan Korupsi Modul DIklat Prajab Gol III, (Jakarta: 2009), hal.13.

Tabel 2 Tabulasi Data Jenis Perkara Korupsi Tahun 2009-2013 (per 30 April 2013)
Jenis Perkara 2009 16 Pengadaan barang/jasa 1 Perijinan 12 Penyuapan 0 Pungutan 8 Penyalahguna an anggaran 0 TPPU 0 Merintangi proses KPK Jumlah 37 keseluruhan 2010 16 0 19 0 5 0 0 40 2011 2012 2013 10 8 2 0 25 0 4 0 0 39 0 34 0 3 1 2 48 3 18 0 0 3 0 26 Jumlah 106 13 134 12 38 4 2 309

gambaran bahwa tingkat korupsi di negeri ini masih dalam level yang mengkhawatirkan sehingga perlu dilakukan pemberantasan tindak pidana korupsi secara berkelanjutan dan terus menerus. 3.5. Contoh Kasus Korupsi di Indonesia 3.5.1 Kasus korupsi Al-Quran Kasus korupsi pengadaan Al-Quran sudah terjadi dari tahun anggaran 2011 hingga tahun anggaran 2012. Praktek korupsi yang dilakukan oleh anggota Badan Anggaran DPR bernama Zulkarnain Djabar yang merupakan politisi dari partai Golkar, menggunakan jabatannya sebagai anggota Badan Anggaran DPR menyetir pejabat di Direktorat Jendral Bina Masyarakat Islam, untuk memenangkan PT Adhi Aksara Abadi Indonesia (A3I) serta PT Sinergi Pustaka Indonesia (SPI) dalam proyek pengadaan Al-Qur'an. Kasus korupsi pengadaan Al-Qur'an ini selain menjerat Zulkarnain, juga menjerat anaknya Dendy Prasetya yang juga turut membantu dalam pemenangan proses tender. Zulkarnain dan Dendy telah mendapat vonis dari Hakim, karena telah terbukti melakukan suap dalam pengadaan AlQur'an tersebut. Dendy divonis pidana penjara 8 tahun dan denda Rp 300 juta subsider 1 bulan kurungan dan Zulkarnain divonis pidana penjara 15 tahun dan denda Rp 300 juta subsider 1 bulan kurungan, serta masing-masing membayar uang ganti kerugian negara sebesar Rp 5,745 miliar. Vonis yang diberikan oleh majelis hakim kepada Zulkarnain lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut umum KPK, yaitu dari 12 tahun menjadi 15 tahun. KPK saat ini masih juga mengembangkan penyelidikan dengan memeriksa saksi-saksi lain, seperti Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso, dan Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, agar pihak-pihak yang turut bertanggung jawab lainnya dapat segera terungkap. 3.5.2 Indikasi Kasus korupsi pada proyek Ujian Nasional 2013 Proyek Ujian Nasional juga seharusnya melalui proses penganggaran yang sama dengan proyek pemerintah lainnya, terutama pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keterlambatan pelaksanaan Ujian Nasional diawali dari proses pemblokiran anggaran Ujian Nasional tahun 2013 oleh Kemenkeu pada akhir tahun 2012 dalam penerbitan DIPA. Pemblokiran yang diatur Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.02 Tahun 2012 tentang petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, Pemblokiran adalah pencantuman tanda bintang (*) pada seluruh atau sebagian alokasi anggaran dalam RKA-K/L Penetapan (Apropriasi Anggaran) sebagai akibat pada saat penelaahan belum memenuhi satu atau lebih persyaratan alokasi anggaran. Hal ini dilakukan karena belum ada persetujuan Komisi X

Selain dari data KPK, terdapat pula data-data dari beberapa instansi lainnya, yakni: 1. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Menurut riset yang dilakukan oleh Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), setiap tahun Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) mengalami kebocoran lantaran dikorup para pejabat dengan jumlah hingga mencapai 30 persen, dengan perhitungan APBN minimal Rp1.400 triliun, sekitar Rp400 miliar dana APBN yang menguap setiap tahun. Hal ini juga didukung oleh penilaian dari berbagai pihak dan pakar pengamat keuangan pemerintah yang menyimpulkan bahwa besarnya prosentase anggaran yang dikorupsi itu tidak hanya terjadi dalam APBN, tetapi juga dalam level daerah yakni APBD. 2. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Dalam berbagai paparan mengenai korupsi dalam pengadaan barang dan jasa (PBJ), narasumber BPKP memaparkan bahwa korupsi bukanlah hal yang asing di kalangan pejabat pemerintahan daerah. Misalnya saja pada tahun 2011, terdapat 17 Gubernur (52%) dan 158 orang Bupati/Walikota (30%) yang diperiksa oleh KPK terkait dengan kasus korupsi. Di mana 85% dari jumlah tersebut adalah korupsi di bidang PBJ. Sedangkan dari data internal kasus korupsi yang ikut ditangani oleh BPKP, terdapat sejumlah 3.423 kasus korupsi di bidang PBJ sejak tahun 2003 hingga 2012. 3. Mahkamah Agung (MA) Berdasarkan data kasus tindak pidana korupsi yang ditangani oleh aparat penegak hukum (dalam hal ini Mahkamah Agung) terdapat 1842 terdakwa koruptor selama 2001 sampai 2012, dengan nilai total hukuman finansial Rp15,09 triliun Data dan fakta diatas cukup memberikan kita

(mitra Kemendikbud) dan belum melengkapi data dukung seperti TOR (Term of Reference) dan RAB (Rancangan Anggaran Belanja). Dalam hal ini kelengkapan data pendukung seperti yang diminta oleh Kemenkeu mutlak merupakan tanggung jawab Menteri Kemendikbud sebagai Chief Operating Officer dalam pelaksanaan UU no. 17 tahun 2003 pasal 9 tentang tugas Menteri K/L sebagai pengguna anggaran. Usul pencairan dana blokir yang dilakukan oleh Kemendikbud ternyata menimbulkan masalah baru karena terdapat perubahan harga per unit/ unit cost yang semula Rp. 29.000/siswa menjadi Rp. 53.000/siswa dengan target awal siswa yang sebelumnya berjumlah 14juta orang menjadi 12juta orang. Perubahan ini tidak dapat diterima karena terkait dengan Keppres No. 37 Tahun 2012 Tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat TA 2013. Perubahan ini perlu diperhatikan karena dengan perubahan perhitungan berarti terdapat kesalahan perhitungan pada saat pengajuan anggaran di awal proses, kesalahan perhitungan menunjukkan bahwa kontrol kementerian atas pengajuan anggaran lemah karena Ujian Nasional merupakan event tahunan yang dapat diperhitungkan biayanya setiap tahun. Anggaran Ujian Nasional yang disetujui DPR sebanyak Rp 643.456.220.000 dengan SMP dan SMA tahun anggaran 2013 yaitu sebesar Rp 515.496.127.000 dan anggaran UN untuk SD yaitu sebesar Rp127.960.093.000, meningkat 18% dari anggaran sebelumnya Rp. 544 miliar. Peningkatan anggaran Ujian Nasional Rp. 100 miliar lebih membuat penyusunan penganggaran Ujian Nasional, sekali lagi kontrol dan kapabilitas SDM dalam penyusunan rencana anggaran di Kemendikbud tergolong lemah, karena terjadi pembengkakan anggaran yang diajukan bahkan diindikasikan termasuk tindak pidana korupsi bila terjadi penggelembungan anggaran dalam perencanaannya. Pemblokiran yang dilakukan Kemenkeu diselesaikan dengan dua cara, dengan melakukan revisi anggaran atau dokumen pendukung tersebut telah dilengkapi sebelum DIPA diterbitkan. Namun dalam kasus ini, DIPA telah diterbitkan dan cara yang tersisa adalah revisi anggaran. Revisi anggaran yang dilakukan ternyata menambah beban negara, karena meningkat Rp. 100 miliar dari sebelumnya, sehingga penyelesaian dilakukan melalui trilateral meeting tiga menteri dan UN termasuk ke dalam pagu yang diselamatkan dulu setelah disetujui DPR. PT. Ghalia Indonesia Printing dimenangkan sebagai pemenang paket 3 oleh pantia pengadaan Kemendikbud, walaupun sebenarnya PT. Ghalia Indonesia Printing bukan urutan nomor 1 dalam pemenang pengadaan tersebut. Nilai tender yang ditawarkan PT Ghalia Indonesia Printing sebesar Rp. 22,5 miliar merupakan nilai tertinggi diantara paket soal UN lainnya, walaupun terdapat tiga

perusahaan lagi yang menawar lebih kecil PT AI sebesar Rp 17,1 miliar, PT JTP Rp 21,1 miliar, dan PT BDP Rp 21,6 miliar. Konsep dilakukannya pengadaan barang dan jasa bukan hanya mendapat harga semurah-murahnya namun mendapatkan harga semurah-murahnya dengan spesifikasi minimal, namun dalam kasus ini panitia pengadaan Kemendikbud memenangkan penawaran tertinggi dengan alasan bahwa perusahaan yang lain tidak memenuhi syarat. Mengatakan bahwa dalam proses ini terdapat indikasi korupsi merupakan hal yang terlalu cepat karena terdapat masa sanggah sesuai dengan PP no. 54 tahun 2010 jo PP no. 70 tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pasal 60 ayat 1. Ketidakmampuan PT. Ghalia Indonesia Printing menyelesaikan pekerjaannya menjadi catatan buruk untuk Kemendikbud, namun hal yang tidak diperhatikan adalah fakta bahwa Pada 2009, Badan Pengawas Pemilihan Umum pernah melaporkan PT. Ghalia Indonesia Printing tersebut karena bermasalah dalam pengadaan kertas surat suara Pemilihan Presiden tahun 2009. Ketidakcermatan panitia pengadaan dalam melihat rekam jejak dari perusahaan tersebut dan dapat disangkutpautkan dengan kelalaian dalam bertugas. Seharusnya apabila suatu perusahaan melakukan wanprestasi terhadap pengadaan barang/jasa, proses blacklist oleh KPPU harus segera dilakukan. Namun dalam pelaksanaannya perusahaan dapat terus mengajukan banding sampai tingkat MA yang membutuhkan waktu lama, tetap dapat mengikuti proses pengadaan. Kelemahan dalam proses blacklist ini sangat tidak membantu para Unit Layanan Pengadaan untuk melakukan pengadaan barang/jasa secara aman. Kegagalan PT. Ghalia Indonesia Printing dalam mendistribusikan soal UN 2013 ke 11 propinsi dalam tenggat waktu yang ditentukan dapat menjadi tolak ukur untuk memblacklist perusahaan tersebut. Spesifikasi kertas LJK yang diproduksi oleh PT. Ghalia Indonesia Printing seberat 40 gram saja, tidak seperti standar kertas untuk LJK yaitu 70-80 gram sehingga seharusnya tidak layak digunakan. Tindakan tersebut bila tidak sesuai kontrak yang telah ditandatangani dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi karena merugikan keuangan negara. Kasus korupsi yang sangat marak saat ini dan belum tuntas penyelesaiannya masih cukup banyak, antara lain: kasus korupsi Hambalang, BLBI, rekening gendut POLRI, dan berbagai macam kasus yang terindikasi korupsi dan terkespose di publik. 3.6. Korupsi di berbagai negara, faktor-faktor yang melingkupinya, dan cara penanganannya 3.6.1 Singapura Pemberantasan korupsi di Singapura telah berlangsung sejak lama dan pada tahun 1952

ditandai dengan berdirinya Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB). Pemberantasan korupsi di Singapura bertumpu pada dua Undangundang yaitu Prevention of Corruption Act dan Corruption, Drug Trafficking and other serious crimes (Confiscation of Benefits) Act. Beberapa poin penting dalam Prevention of Corruption Act: a. Pengangkatan Pejabat CPIB Direktur CPIB diangkat oleh presiden dan Direktur tersebut yang akan menjalankan CPIB sebagai pemimpin tertinggi di biro tersebut. Pengangkatan struktur dibawahnya dilakukan dengan sebuah sertifikat sebagai bukti pengangkatannya. Secara struktur keorganisasian CPIB tergolong sederhana top level yaitu: direktur, deputi direktur, dan asisten direktur. Dibawahnya bagian operasi (operation) dengan tim penyidik khusus dibawahnya, bagian bantuan operasi (operation support), bagian pencegahan (prevention), bagian perwira staf, dan bagian pencegahan. Sederhananya struktur keorganisasian malah membuat CPIB responsif dan cepat bergerak dalam menangani pemberantasan korupsi. b. Kewenangan yang luas dimiliki oleh pejabat CPIB Singapura; Kewenangan CPIB yaitu: penahanan, penyidikan, khusus penyidikan, dan penggeledahan. Hal yang menarik adalah Direktur CPIB Singapura atau penyidik khusus CPIB Singapura menangkap atau menahan setiap orang yang melakukan delik menurut Prevention of Corruption Act atau mereka yang diadukan atau telah diterima informasi yang dapat dipercaya dengan dugaan telah melakukan perbuatan tindak pidana korupsi tanpa surat perintah. Dalam penyidikan juga terdapat kewenangan yang menyamakan kewenangan polisi dan kedudukan penyidik khusus CPIB Singapura sama seperti perwira polisi pangkat inspektur ke atas sehingga kedudukan CPIB tinggi secara kepangkatan dan keorganisasian. c. Dapat menyelidiki korupsi sektor publik dan sektor swasta Korupsi dalam pandangan negara Singapura juga mencakup hubungan antara swasta dengan pemerintah, seperti bila kontrak diadakan dengan pemerintah maka pada pasal 5 dan 6 PCA ditingkatkan menjadi $ 100,000 atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau kedua-duanya. d. Ketidaksesuaian pendapatan dengan harta kekayaan yang diperoleh dapat dijadikan bukti di pengadilan Teori pembuktian terbalik digunakan dalam PCA ini pada pasal 24 apabila terdakwa tidak dapat memberikan keterangan yang memuaskan mengenai asal-usul account, uang, atau harta benda yang tidak seimbang dengan pendapatannya, hal ini

dapat diambil sebagai pertimbangan oleh pengadilan dan perlu ada keterangan saksi. Hal ini menjadi pertimbangan yang penting karena sebagai entry poin pengusutan kasus korupsi lebih lanjut sehingga pemberantasan korupsi tidak hanya pada kasus korupsi yang sedang diusut saja namun menyeluruh pada keseluruhan harta kekayaan yang tidak sesuai dengan pendapatannya. e. Pernyataan di bawah sumpah atas kekayaan yang dimiliki seseorang Terdapat permintaan penuntut umum terhadap seseorang terkait proses penyidikan untuk memberikan keterangan tertulis di bawah sumpah mengenai semua hartanya, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak yang menjadi milik atau dikuasai oleh orang itu, istri/suami, anaknya, dan menyebut secara khusus tanggal kapan harta itu diperoleh, apakah karena pembelian, hadiah, warisan, pusaka, atau lain. Hal ini juga berlaku untuk manajemen bank untuk memberikan salinan account orang itu atau istri/suami atau anaknya yang ada di bank sehingga kewenangan penuntut umum sangatlah besar dan bila hal ini tidak dipenuhi terdapat ancaman pidana denda tidak lebih dari $10,000 atau penjara paling lama 1 (satu) tahun atau kedua-duanya. f. Penyerahan pemberi gratifikasi Pejabat publik yang diberi gratifikasi, tetapi tidak menangkap sang pemberi gratifikasi dan membawa ke kantor polisi terdekat, tanpa alasan yang dapat diterima akal, diancam dengan denda paling banyak $ 5,000 atau pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan atau kedua-duanya, seperti yang tercantum pada Pasal 32 ayat (2) Prevention of Corruption Act. Poin ini menjadi menarik karena tidak hanya barang gratifikasinya saja yang harus diserahkan, bahkan sampai pemberi gratifikasi pun diserahkan ke kantor polisi terdekat. Aturan yang sangat keras ini menunjukkan bahwa gratifikasi juga menjadi perhatian pemerintah dalam menangani pemberantasan korupsi. g. Pembuktian terbalik Penggunaan teori pembuktian terbalik dengan asas presumption of fault yang membebankan pembuktian kepada pelaku. Pemberian seseorang kepada pejabat publik pemerintahan yang mencari deal-deal tertentu dengan departemen atau pemerintah dianggap suap sampai dapat dibuktikan sebaliknya. Hal ini menjadi menarik karena langsung membebankan pidana suap tanpa melihat dulu apakah terdapat perjanjian-perjanjian sebelumnya antara pejabat publik dengan orang tersebut, sehingga dapat mempercepat penindakan korupsi itu sendiri dan tidak perlu mencari buktibukti yang menunjukkan tindakan korupsi pelaku. Dalam pengadilan di bidang korupsi di Singapura

dilaksanakan di pengadilan biasa, yaitu Districht Court. Undang-undang mengenai Corruption, Drug Trafficking and other serious crimes (Confiscation of Benefits) Act menekankan pada poin bila terdapat kaitan korupsi dengan tindakan kriminal lainnya dan mengatur pada penyitaan secara paksa harta seseorang yang terlibat korupsi bila terdapat keuntungan atau harta tersebut berasal dari korupsi yang dilakukan. Tidak hanya sejumlah kerugian negara saja yang dikembalikan tetapi juga pada keuntungan yang didapat dari tindakan korupsi tersebut sehingga konsep pemiskinan koruptor dapat dicapai. 3.6.2 Korea Selatan 3.6.2.1 Sistem politik Sistem politik Korea Selatan yang menganut pada pemilihan langsung para wakil rakyat di parlemen ternyata juga memiliki masalah yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Pemberian hak-hak istimewa kepada perusahaan yang menyediakan dana-dana politik untuk para politisi menjadi hal yang jamak terjadi di negara-negara yang menganut sistem pemilihan langsung juga terjadi di Korea Selatan. Pengaruh politisi di parlemen dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah tentu dimanfaatkan dengan baik oleh pengusaha yang mencari keuntungan bagi usahanya. Hubungan pengusaha dengan pemerintah juga tidak berbeda jauh dengan hubungan antar pengusaha dan parlemen, sehingga unsur korupsi sangat lekat sekali bila hubungan ini dimanfaatkan dalam konteks suap menyuap dan rent seeking, namun faktor-faktor sistem politik ini bukanlah satu-satunya faktor penyebab korupsi dalam Korea Selatan, faktor lainnya dalam pemerintahan yaitu pada faktor administrasi dan kelembagaan. Prosedur administratif yang rumit, rendahnya gaji dan tunjangan pejabat publik, definisi dan standar operasional yang tidak jelas dalam undang-undang juga memancing pegawai pemerintah melakukan tindakan-tindakan korupsi. Presiden Kim Dae-Jung (Presiden Korea Selatan 1998-2003) menyiapkan infrastruktur dalam pemberantasan korupsi dengan membuat UU anti korupsi tahun 2001 dan organisasi anti korupsi Korea Independent Commission Against Corruption (KICAC) pada tahun 2002. Presiden selanjutnya Rho Moo Hyun (2003-2008) melaksanakan reformasi administrasi dalam pemerintahan dan memulai programprogram kesadaran masyarakat akan anti-korupsi dan menginvestasikan sumber daya dalam perbaikan kondisi pejabat publik. Reformasi administrasi di enam besar bidang rentan: konstruksi, perumahan, pengumpulan pajak, penegakan hukum, inspeksi sanitasi makanan, dan peraturan lingkungan Sejak tahun 1980 telah muncul gerakangerakan warga yang menginisiasi gerakan yang

concern tentang masalah korupsi di Korea Selatan, dan gerakan ini berkembang menjadi kelompokkelompok sipil yang terlibat pada penyampaian pendapat kepada pemerintah dalam menyusun kebijakan terkait pemecahan masalah korupsi dan administrasi pemerintahan. Selain itu kelompokkelompok sipil ini juga berperan aktif dalam pemberlakuan UU anti-korupsi dan UU Pencegahan Pencucian Uang, sikap berperan aktif ini berdampak positif pada percepatan pemberantasan korupsi di Korsel. Namun pada dasarnya masyarakat Korea Selatan sebenarnya bersikap antipati terhadap kondisi perpolitikan di negaranya terkait dengan banyaknya politisi y6ang terlibat dalam kasus-kasus korupsi apalagi ketika terjadi krisis pada tahun 1997-1998 yang akhirnya terdapat inisiatif pemberantasan korupsi yang kuat. Kondisi antipati ini juga disebabkan jaman rezim otoriter terdahulu menggunakan inisiatif-inisiatif terkait antikorupsi untuk menyingkirkan lawanlawan politik. Hal yang menarik adalah keberanian Lee Myung Bak yang saat itu menjadi presiden untuk tetap memproses kasus korupsi yang menimpa kakaknya Lee Sang Deuk yang juga menjabat anggota parlemen. Kasus korupsi ini terkait dengan penyuapan sebesar lima miliar rupiah dari direktur bank yang bermasalah agar bebas dari audit dan sanksi. Kasus ini juga menyeret putranya, Lee SiHyung yang terjerat kasus manipulasi jual beli lahan properti untuk rumah pensiun Lee. Kasus ini tetap diproses kasusnya oleh pihak kepolisian dan Lee Myung Bak turut meminta maaf atas nama keluarganya kepada masyarakat. 3.6.2.2. Undang-undang Penanganan kasus korupsi ditangani oleh polisi dan kejaksaan didasarkan pada undangundang tentang anti korupsi, undang-undang tersebut yaitu: 1. The Korean Criminal Code, the Act Concerning Aggravated Punishment of Specific Crimes (the Specific Crimes Act), and the Act Concerning Aggravated Punishment of Specific Economic Crimes salah satunya mengatur juga tentang penyuapan terhadap pegawai negeri 2. the Act on the Establishment and Operation of Anti-corruption and Civil Rights Commission and the Prevention of Corruption (the Anti-Corruption Act), the Public Officials Code of Conduct for the Maintenance of Integrity (the Code of Conduct), Public Officials Ethics Law, the Act on Contracts to which the State is a Party and the Act on Preventing Bribery of Foreign Public Officials in International Business Transactions (the Foreign Bribery Prevention Act); 3. the Proceeds of Crime Act;

4.

5. 6.

7.

8.

the Law on Real Name Financial Transactions and Protection of Secrecy; dan the Act of Prevention of Illegal Drug Transactions. the Financial Reports Act; sebagai pintu masuk untuk dianalisis oleh KoFIU apakah terdapat money laundering atau bahkan uang korupsi tersebut digunakan sebagai pendanaan teroris atau tidak. the Act on the Protection of Public Interest Whistleblowers untuk mengatur penanganan dan perlindungan whistleblowers. the Foreign Public Officials Act yang dibuat sebagai hasil adopsi dari konvensi OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) mengenai penyuapan kepada pegawai negeri di negara lain.

biasa yaitu di Korean court atau to the Administrative Judgment Tribunal. Kewenangan ACRC tidak seperti yang dimiliki KPK yaitu ACRC tidak memiliki kewenangan penyidikan dan penuntutan. Kewenangan tersebut tetap dilakukan penegak hukum yakni Ministry of Justice, polisi (the National Police Agency) dan kejaksaan (the Public Prosecutors Office). Peran ACRC sendiri lebih ditujukan pada pencegahan dan pengawasan terhadap badan penegak hukum Korea, hal ini direfleksikan dengan wewenang ACRC yang lebih pada menangani komplain dari masyarakat dan meningkatkan sistem pelayanan, membangun clean society dengan mencegah dan mengurangi korupsi di sektor publik, dan melindungi hak-hak masyarakat dari administrasi pemerintahan yang tidak fair dan tidak berdasarkan hukum yang berlaku.

3.6.2.3. Badan/ Biro yang terkait Sejarah pembentukan badan/biro yang terkait dengan pemberantasan korupsi di Korea Selatan terbilang panjang dimana saat ini yang bertugas adalah ACRC (Anti-Corruption and Civil Rights Commission) atau dalam bahasa Koreanya adalah Gukmingwonikwiwonhoe. ACRC yang dibentuk pada tahun 2008 adalah penggabungan antara the Ombudsman of Korea, KICAC (the Korea Independent Commission Against Corruption) dan the Administrative Appeals Commission dimana penggabungan ini dikarenakan tuntutan masyarakat mengenai percepatan dan kenyamanan pelayanan publik, administrasi pemerintahan dan tentunya pemberantasan korupsi itu sendiri. KICAC sendiri yang berperan dalam memberantas korupsi sebelum ACRC dibentuk pada tahun 2002 dan berperan dalam pencegahan korupsi itu sendiri, namun tuntutan publik agar pemberantasan korupsi lebih kencang membuat KICAC berubah menjadi ACRC dengan penggabungan dua instansi lainnya. SCAC (the Special Commission on AntiCorruption) yang berdiri sebelum KICAC pada tahun 1999 ditujukan untuk mempromosikan nilainilai dan langkah antikorupsi, namun SCAC tidak efektif karena hanya berdiri sebagai badan penasehat presiden semata tanpa ada badan yang berdiri sendiri. KoFIU atau Korean Financial Intelligent Unit sebagai unit yang juga berperan dalam pemberantasan korupsi dengan kaitannya transaksi keuangan dan money laundering serta hal-hal yang terkait dengan penilaian obligasi di bawah Financial Transaction Reports Act. Selain itu juga terdapat peranan polisi, kejaksaan, institusi pajak dan bea cukai dalam pemberantasan korupsi, jadi pembebanan pemberantasan anti korupsi tidak semata hanya pada ACRC saja. Persidangan korupsi di Korea tetap dilakukan di persidangan

3.6.2.4. Kultur dan Sosial Masyarakat Korea Selatan ternyata peduli dengan pemberantasan anti korupsi di negaranya, sanksi sosial yang diberikan masyarakat sangat berat terhadap para koruptor. Koruptor dianggap seperti orang yang punya penyakit menular sehingga dijauhi oleh masyarakat sekitar, hubungan sosial dengan koruptor hampir sepenuhnya diputus oleh masyarakat. Alienasi ini membuat para koruptor menjadi sangat berat untuk hidup di masyarakat bila benar-benar ketahuan korupsi, hal ini yang menjadi faktor penting dalam cepatnya pemberantasan korupsi di negara tersebut. Koruptor lebih takut pada sanksi sosial yang dihadapi masyarakat daripada sanksi hukum yang diterima olehnya sehingga bisa menjadi pencegahan awal dalam mencegah tindakan korupsi. Masyarakat Korea Selatan juga berperan aktif dalam pemberantasan korupsi, inisiatif-inisiatif pemberantasan korupsi juga bermunculan dari gerakan-gerakan masyarakat. Sekalipun masyarakat bersikap antipati terhadap korupsi di dunia perpolitikan Korea, namun peran masyarakat dalam alternatif pemberantasan korupsi tetap menjadi faktor yang menjadi percepatan dalam pemberantasan korupsi. Dalam beberapa kasus, perilaku bunuh diri karena tidak tahan dalam menanggung malu karena terjerat kasus korupsi seperti di Jepang juga terjadi di Korea Selatan bahkan sampai level presiden, seperti pada kasus mantan presiden Roh Moo-hyun bunuh diri pada Mei 2009 setelah dia terbawa-bawa dalam skandal korupsi. Roh Moo-Hyun yang dikenal sebagai presiden yang reformis dan bersih terseret oleh skandal korupsi yang menjatuhkan semua nama baik dan nilai dalam dirinya sehingga ia pun mengambil keputusan bunuh diri.

3.6.3 Jepang 3.6.3.1 Sistem Politik dan Pemerintahan Jepang termasuk kelompok negara maju yang dalam perjalanan sejarah pengelolaan negaranya juga tidak lepas dari berbagai macam kasus korupsi. Korupsi tersebut juga awalnya terjadi hampir di semua lini pemerintahan, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif dan terjadi berulang. Di sisi legislatif misalnya, politisi yang melakukan korupsi dan telah dipenjara namun tetap dapat memenangkan pemilu berikutnya karena tetap populer di konstituennya, bahkan di Hokkaido masyarakatnya marah ketika politisi dan birokrat mereka yang terjerat kasus korupsi di hukum. Salah satunya adalah Koichi Kato yang melakukan money laundering dengan menggunakan akun ibunya dan anehnya pada 2003 masuk kembali menjadi anggota legislatif melalui jalur independen. Korupsi yang dilakukan politisi juga terkait dengan proyek-proyek konstruksi yang melibatkan pembangunan sehingga bila politisi ini tersangkut kasus korupsi, proyek yang sedang berjalan menjadi terhambat dan masyarakat merasa terganggu. Biaya pemilu di Jepang sebenarnya lebih kecil dari negara-negara lainnya karena periode kampanye yang pendek dan pengeluaran diawasi pemerintah, namun ketika terpilih biayabiaya yang dikeluarkan sebagai ucapan terima kasih sangat besar karena terkait dengan sumbangan-sumbangan kepada para konstituen dan pendukungnya, sumbangan yang terkait dengan pernikahan, penguburan dan upacara-upacara di Jepang. Hal ini membuat politisi gampang terseret kasus korupsi karena pendapatan sebagai anggota legislatif hampir tidak dapat menutup biaya-biaya tersebut. Amakudari yang arti secara bahasanya adalah turun dari surga, dalam pemahamannya adalah pegawai pemerintah/birokrat yang ketika pensiun atau mengundurkan diri dipekerjakan kembali oleh swasta untuk melobi teman-temannya atau bawahannya dulu di pemerintahan dan memanfaatkan koneksinya untuk mencapai tujuan perusahaan yang mempekerjakannya, tentu dengan bayaran yang besar. amakudari tidak mudah dihapuskan karena bila dibuat aturan yang keras sekalipun malah dapat menjadi bumerang bagi sektor pemerintahan karena orang tidak tertarik lagi menjadi pegawai pemerintah dan pemerintah menjadi kesulitan mendapatkan SDM yang bagus. Korupsi skala kecil juga terjadi di Jepang, seperti di Indonesia, pemberian hadiah-hadiah mahal ke birokrat, bos, dokter, guru, dosen dan pihak yang berkepentingan dianggap biasa oleh masyarakat Jepang. Skandal-skandal korupsi besar yang terjadi bahkan melibatkan negara-negara yang terkait dengan Jepang, Lockheed Scandal merupakan salah satunya. Lockheed Scandal terungkap ketika eksekutifnya membeberkan bahwa ada penyuapan

kepada 16 politisi Jepang untuk memperlancar penjualan Lockheed Aircraft ke Jepang.Perdana Menteri Kakuei Tanaka dipaksa mundur pada tahun 1974 setelah kasus ini terungkap. Skandal besar lainnya adalah Recruits Scandal dimana 70 politisi terlibat dalam kasus ini. Recruits Scandal bermula ketika Recruit Cosmos Co. memberikan saham yang akan di listing di Tokyo Stock Market kepada para pembuat undang-undang agar nantinya para legislator ini membantu Recruit Cosmos Co. mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan wewenang para legislator tersebut. Hasilnya Perdana Menteri Noboru Takeshita juga dipaksa mundur karena partainya LDP tersangkut kasus Recruit tersebut Kasus lainnya Sagawa Kyubin Scandal dimana Sagawa Kyubin sebagai pelayanan jasa parcel memberikan uang dalam jumlah besar kepada politisi partai LDP yang mengurusi bidang transportasi sehingga bantuan dari politisi ini membantu perusahaan menjadi perusahaan yang besar karena mendapat lisensi tingkat nasional untuk jasa parsel. Birokrat sebagai salah satu bagian dari eksekutif juga tidak lepas dari jurang korupsi ini, dua pegawai Kementerian Keuangan tertangkap basah ketika meminta beberapa bankir untuk mentraktir mereka di no-pan shabu shabu restaurant yang mengarah ke pelayanan seks dan sebagai timbal baliknya para bankir tersebut mendapatkan informasi mengenai investigasi skandal kredit macet. 3.6.3.2. Undang-undang Karena pada dasarnya korupsi tidak dipandang sebagai kejahatan yang diperlakukan khusus maka bahasa undang-undangnya pun tidak menggunakan kata corruption. Undang-undang tersebut yaitu: 1. The Unfair Competition Prevention Act (Act no 47 of 1993) mengenai tindakan kriminal menyogok pegawai negeri asing, 2. The Penal Code (Act no 45 of 1907) mengenai tindakan kriminal menyogok pegawai negeri daerah 3. National Public Service Ethics Act (Act No 129 of 1999) (Ethics Act) yang mengatur mengenai pelarangan pegawai pemerintah menerima suap dari petugas yang berada di wilayahnya 4. National Public Service Ethics Code (Gov. Ordinance No 101 of 2000) mengenai pelarangan menerima hadiah atau hiburan dari partai terkait tugas dari pegawai negeri 5. The Act on Prevention of Transfer of Criminal Proceeds (Act no 22of 2007) mengenai tindak kriminal pencucian uang 6. The Whistleblowing Legislation Act(Act no 122 of 2004) perlindungan kepada seseorang yang menjadi whistleblower

Fasilitas dan hadiah dibatasi sampai 5000 yen untuk middle dan senior pejabat publik merujuk pada Ethics Act Diet atau Kokkai atau Parlemen Jepang pada tahun 2005 memperberat aturan-aturan mengenai penyuapan kepada pegawai publik asing dengan dendan 3 sampai 5 juta yen. Korupsi di sektor swasta tidak dikenai undang-undang diatas, namun diatur melalui Companies Act dan diberlakukan hukuman dan tuntutan sesuai dengan undangundang tersebut 3.6.3.3. Badan/ Biro yang terkait Biro atau badan yang bertanggung jawab mengenai penanganan kasus korupsi di Jepang dibentuk berdasarkan The National Public Service Ethics Act dan bertanggungjawab untuk investigasi anti korupsi yaitu the National Public Service Board. Namun berbeda peran dengan KPK di Indonesia dan CPIB di Jepang, the National Public Service Board tidak dapat melakukan penangkapan, penggeledahan, penyitaan, dan penuntutan dalam menangani kasus korupsi. NPSB bertanggung jawab hanya sampai membantu investigasi, peran NPSB lebih difokuskan pada membuat standar disiplin sesuai Nastional Public Service Ethics Law, riset dan perencanaan etika dari pegawai negeri, pengecekan laporan mengenai hadiah, transaksi saham dan pendapatan. Biro/ Badan lainnya yang terkait dengan penanganan anti korupsi 1. Japan Financial Intelligence Center (JAFIC) 2. Japan Fair Trade Commission (JFTC) 3. Board of Audit of Japan (Board of Audit) Badan dan biro diatas bekerjasama dengan polisi dalam pemberantasan korupsinya, karena penuntutan, penyidikan dan penggeledahan tetap menjadi kewenangan polisi Jepang (National Police Agency) atau Kejaksaan Jepang (the Public Prosecutors Office). 3.6.3.4. Kultur Jepang dikenal dengan jiwa samurainya yang walaupun menurut masyarkat Jepang sendiri mulai luntur, namun rasa malu yang sangat besar sebagai peninggalan dari jiwa samurai tersebut masih mengakar sangat kuat. Apabila gagal dalm tugas dan rasa malu yang teramat besar, orang Jepang lebih memilih bunuh diri atau seppuku daripada hidup menanggung malu. Sekalipun bunuh diri saat ini tidak lagi menggunakan short katana, semangat seppuku ini dilakukan dengan cara yang lain. Kultur rasa malu yang sangat besar ternyata menyebabkan salah satu menterinya Toshikatsi Matsuoka, Agriculture, Forestry and Fisheries Minister, melakukan bunuh diri ketika ia tidak dapat menjelaskan penggunaan dana sebesar $240,000 yang dikatakan untuk sejenis air yang dioksidasi padahal air disediakan gratis sehingga

7.

diindikasikan terjadi korupsi. Beberapa politisi yang bunuh diri akibat diindikasikan korupsi adalah Yoichi Otsuki dan Shokei Arai serta beberapa politisi lainnya. Namun, kultur rasa malu disini tidak berlaku ketika melakukan korupsi tersebut, rasa malu ini baru timbul ketika tertangkap melakukan korupsi. Kultur di Jepang yang sulit untuk melaporkan teman atau atasan yang melakukan pelanggaran hukum karena akan membuat malu organisasi dan supervisornya membuat program seperti whistle blower menjadi tidak efektif, bahkan bila dipakai sekalipun orang tersebut malah akan dikucilkan oleh organisasi. The Whistleblowing Legislation Act telah mengatur masalah Whistle Blower ini, namun memang faktor kemasyarakatan Jepang yang ditanamkan sejak dini juga berdampak pada susahnya menjadi inisiator untuk Whistle Blowing. Pers dan media Jepang terbilang agresif dalam memberitakan skandal dan korupsi sehingga benarbenar membuat malu koruptor-koruptor ini. Seperti pada kasus-kasus skandal korupsi besar yang ada di jurnal ini, pers dan media melakukan blow up berita secara besar-besaran bahkan sampai membuat beberapa politisi bunuh diri karena tidak dapat menahan rasa malunya. 3.6.3.5. Pendidikan Penanaman nilai-nilai anti korupsi secara terintegrasi telah diterapkan diawali pendidikan usia dini. Pendidikan ini memang tidak merujuk pada suatu pendidikan khusus namun dimasukkan pada satu mata pelajaran pendidikan yang dinamai seikatsu-ka yang makna bahasanya adalah pelajaran hidup sehari-hari, disini diajarkan bagaimana cara bersosialisasi, diantaranya juga bagaimana bersikap baik dan tidak merugikan orang lain serta tidak boleh berbohong yang merupakan akar dari korupsi. Seikatsu-ka terus diajarkan terus-menerus dan pelajarannya langsung pada praktik sehingga masyarakat Jepang mengenal bagaimana hidup bermasyarakat yang seharusnya. 3.6.4 Jepang 3.6.4.1 Sistem Politik dan Pemerintahan Sistem pemerintahan Finlandia menganut sistem semi-presidensial dengan perlemen, dimana pemerintahan dijalankan oleh perdana menteri. Kepercayaan masyarakat yang besar terhadap pemerintahan dan politikus dibayar dengan penerapan transparansi yang ditegakkan dengan tegas. Transparansi keuangan dan kinerja partai politik menjadi hal yang wajar diterapkan di Finlandia. Kejujuran dan kepercayaan menjadi hal yang sangat penting bagi politikus dan pemimpin negara. Salah satu kasus yang melibatkan Perdana Menteri Finlandia, Anneli Jtteenmki yang mundur karena ketahuan berbohong karena meminta informasi politik terkait lawan politiknya menjadi

sebuah catatan yang menegaskan kepercayaan masyarakat adalah hal yang mahal. Alasan Anneli Jtteenmki untuk mundur adalah karena ia bependapat kehilangan kepercayaan artinya kehilangan posisi. 3.6.4.2.Undang-undang Undang-undang dan aturan yang dibuat menangani kejahatan korupsi terdapat dua undangundang utama yaitu UU Prosedur Administrasi dan UU Hukum Pidana. UU Prosedur Administrasi ditujukan agar membentuk Good Governance dan ditekankan untuk membentuk perilaku yang baik dalam instansi pemerintahan. UU ini menekankan pada pejabat untuk bertindak adil dan melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan aturan. UU Hukum Pidana mengatur mengenai perbuatan pegawai negara yang melanggar hukum, baik terkait dengan pelanggaran kerahasiaan negara ataupun pula penyalahagunaan wewenang dan penyuapan. Undang-undang pendukung antara lain UU Keterbukaan Publik, UU bagi PNS, UU Pengadaan Publik, serta UU Akuntansi dan Auditing. UU Akuntansi dan auditing digunakan untuk pihak swasta dan korporat. Akuntasi dan audit dianggap penting dalam mencegah praktik suap dan penelusuran praktik suap yang melibatkan korporat. 3.6.4.3. Badan/ Biro yang terkait Biro atau badan yang bertanggung jawab mengenai penanganan kasus korupsi di Finlandia adalah polisi (Kepolisian Nasional melalui Komisariat Jenderal Polisi Yudisial), kejaksaan dan peradilan. Lembaga khusus penanganan kasus korupsi adalah Criminal Investigation of Corruption, namun badan ini hanya dapat bergerak bila diminta oleh kejaksaan dan tidak dapat bergerak sendiri. Beberapa tugas Criminal Investigation of Corruption, antara lain: Mendukung brigade polisi peradilan (judicial police) dalam menyelidiki pelanggaran dan kejahatan tersebut, mengelola dan memanfaatkan dokumentasi khusus dalam mencegah dan melawan korupsi. 3.6.4.4. Sistem Sosial dan Pendidikan Pendidikan Finlandia dikenal sebagai salah satu pendidikan dengan kualitas terbaik dan pendidikan difokuskan pada tanggungjawab murid pada evaluasi dirinya sendiri serta penanaman nilai-nilai kejujuran dan kepercayaan dapat ditanamkan sejak pendidikan usia dini. Tingkat melek huruf masyarakat Finlandia hampir 100% sehingga membantu masyarakat sendiri untuk memahami, melaksanakan dan melindungi HAMnya. Upah dan gaji yang diterapkan di Finlandia cukup memadai dan tidak terlalu jauh berbeda

dalam level pekerjaan yang sama. Hal ini meminimalisasi kecemburuan sosial yang dapat memicu terjadinya korupsi. Kualitas hidup dan lingkungan yang baik menjadi sebuah habitat yang sangat mendukung untuk membuat tingkat kejahatan (salah satunya korupsi) menurun. 3.6.5 Cina 3.6.5.1. Sistem Politik dan Pemerintahan Kondisi perpolitikan Cina didominasi oleh Partai Kuomintang atau The Communist Party of China (CPC) dan negara Cina sendiri dikenal dengan paham sosialisme-komunismenya. Tahun 1949 diawal berkuasanya CPC korupsi dilakukan secara grup, departemen, marketing, triad, family clan dan emigrasi. Kondisi itu semakin diperparah dengan konsep CPC ketika sekalipun terdapat badan pemberantasan korupsi sudah mulai terbentuk, siapapun yang ikut partai CPC tetap dapat melakukan korupsi dan mendapatkan kemudahan serta keuntungan yang hanya bisa diperoleh bila bergabung dengan CPC sehingga terbentuklah kesetiaan pada CPC. Mao Zedong (1954-1959) berupaya memberantas korupsi dengan menciptakan masyarakat komunis dan mempopulerkan tiga anti (san fan) yaitu pencurian, pemborosan dan birokratisme. dan lima anti ( wu fan) yaitu suap-menyuap, tidak membayar pajak, pencurian uang negara, menipu kontrak dengan pemerintah dan mencuri informasi ekonomi milik negara. Hal ini cukup berhasil dalam pemerintahan Mao Zedong tersebut. Deng Xiaoping yang sebenarnya bukan merupakan presiden ataupun perdana menteri menunjukkan betapa kuatnya posisi The Communist Party of China (CPC) karena Deng Xiaoping merupakan pemimpin di partai tersebut namun mampu mempengaruhi jalannya pemerintahan. Deng Xiaoping menciptakan slogan menjadi kaya itu mulia (zhi fu shi guangrong) yang dalam sejarahnya menjadi slogan untuk meraih kekayaan dan melegitimasi kemakmuran pribadi dengan cara-cara ilegal atau dengan kata lain korupsi. Dibawah pimpinan Deng Xiaoping pula reformasi ekonomi dijalankan. Pemberantasan korupsi di masa Deng Xiaoping lebih pada kampanye melalui CPC diantaranya kampanye tahun 1980-1981 Kampanye mengurangi Privilese para Pejabat dan Tendensi Tidak Sehat dalam Partai, tahun 1982 Kampanye Menghancurkan kejahatan Ekonomi, dan tahun 1988-1989 Kampanye Membangun Pemerintah yang Bersih dan Mencegah Korupsi. Zhu Rongji (1997-2002) dikenal dengan ucapannya Beri saya 100 peti mati, Sembilan puluh sembilan akan saya gunakan untuk mengubur para koruptor, dan satu untuk saya kalau saya melakukan tindakan korupsi. Keberanian ini diteruskan oleh presiden Hu Jintao (1993-2013)

yang berani menjatuhkan hukuman mati bagi para koruptor tersebut. CPC sebagai partai yang mendominasi kekuatan politik di Cina saat ini juga membuktikan keseriusannya dalam memberantas korupsi yang melibatkan anggota partainya, salah satu usahanya adalah dengan membuat discipline inspection committees bagian dari disciplinary arm of the Communist Party of China (CPC), dan bertanggungjawab untuk investigasi anggota partai. Dalam tingkat lokal, Walikota Beijing Liu Qi meluncurkan sunshine policy kebijakan ini mengharuskan para petinggi partai, pejabat, dan pegawai pemerintah untuk melaporkan hal-hal pribadi seperti membangun atau membeli rumah, mengirim anak belajar ke luar negeri, upacara pernikahan anak, bahkan memilih pasangan hidup. 3.6.5.2. Undang-undang Undang-undang dan aturan yang dibuat menangani kejahatan korupsi terdapat dua undangundang utama,yaitu: the Criminal Law dan the Anti-unfair Competition Law. Undang-undang lain yang berkaitan dengan aturan tersebut yaitu: 8. the Interim Regulations on Prohibition of Commercial Bribery yang dikeluarkan the State Administration for Industry and Commerce 9. The Interim Regulations on Prohibiting Business Bribery 10. Aturan-aturan yang khusus dibuat oleh CPC untuk internal partainya. 3.6.5.3. Badan/ Biro yang terkait Biro atau badan yang bertanggung jawab mengenai penanganan kasus korupsi di Cina dibentuk berdasarkan National Bureau of Corruption Prevention of China dan bertanggungjawab untuk investigasi anti korupsi yaitu Regional Peoples Procuratorates (RPP), Supervisory Bureau dan Public Security Bureaus (PSB) serta melibatkan The Peoples Bank of China (PBC), the China Banking Regulatory Commission (CBRC), the China Securities Regulatory Commission (CSRC) and the China Insurance Regulatory Commission (CIRC). Namun berbeda peran dengan KPK di Indonesia dan CPIB di Jepang, National Bureau of Corruption Prevention of China tidak dapat melakukan penangkapan, penggeledahan, penyitaan, dan penuntutan dalam menangani kasus korupsi. NBCP bertanggung jawab memonitor jalur aset yang mencurigakan serta aktivitas yang dicurigai merupakan hasil korupsi Peran berbeda dilakukan oleh badan lainnya, seperti misalnya PSB ditujukan untuk menginvestigasi korupsi dalam masalah komersil dan penyuapan, RPP berwenang untuk melakukan penuntutan, Supervisory Bureau dengan kewenangan untuk menginvestigasi pelanggaran

administrasi oleh pejabat publik, PBC berwenang terkait dengan money laundering. Cina juga telah meratifikasi United Nations Convention against Corruption dan anggota dari ADB/OECD Asia Pacific Anti-Corruption Initiative. 3.6.5.4. Ekonomi dan Budaya Ekonomi yang melesat yang dialami negara Cina dimulai dari reformasi ekonomi yang dicanangkan setelah kaum reformis menyerukan perubahan ekonomi dalam bangsa Cina dengan slogan menjadi kaya itu mulia sehingga masyarakat dipaksa menunjukkan kemampuan terbaik mereka untuk mengejar kemakmuran perseorangan. Namun dalam perkembangannya menjadi motivasi untuk cepat kaya dan melakukan cara-cara ilegal dalam memperoleh kekayaannya. Etika Guanxi mengartikan bahwa koneksi atau hubungan antar koneksi personal antara dua orang yang mana akan saling menguntungkan antara keduanya. Namun, penyalahgunaan Guanxi dalam hal korupsi terjadi ketika terdapat transaksi terkait tindakan korupsi dalam memanfaatkan jaringan Guanxi. Hal ini terjadi karena koneksi yang saling menguntungkan ini tidak dapat ditolak oleh yang diminta tolong, sehingga dapat terjadi penyalahgunaan wewenang dan korupsi untuk menolong orang tersebut. 3.6.5.5. Pendidikan Penanaman nilai-nilai anti korupsi ditanamkan sejak setingkat SD dengan nama Pendidikan kejujuran dimulai dengan contoh-contoh positif kemudian berangsur-angsur ke contoh yang negatif. Secara umum dipelajari pula studi kasus atas kasus-kasus korupsi tersebut yang melibatkan masyarakat Cina berbagai level. 3.6.6 Jepang 3.6.6.1. Skandal dan Kasus Korupsi Besar Kasus korupsi dalam skala besar telah menjadi catatan hitam dalam sejarah Amerika Serikat. Beberapa diantaranya adalah skandal watergate, kasus Enron, kasus Shell, dan berbagai kasus yang menimpa baik politikus maupun pemerintahannya. Skandal Watergate yang diawali dari penangkapan lima orang di kantor Komite Nasional Demokrat yang berusaha melakukan penyadapan. Setelah ditelusuri dan dianalisis Kongres bahkan menuntut Presiden Nixon untuk mundur. Terdapat fakta mengenai korupsi yang dilakukan Partai Republik dalam pengumpulan dana pemilihan, daftar rahasia Gedung Putih dari lawan-lawan politiknya melalui penyadapan, dan konspirasi lainnya dalam menjatuhkan lawan-lawannya dari Partai Demokrat. Skandal Enron yang sangat terkenal dan menjadi sebuah awal perubahan standar akuntansi yang dipakai sebagian besar negara dari G.A.A.P. menjadi IFRS, berawal dari kolusi dan penipuan

laporan keuangan. Skandal Enron yang terbongkar mengungkap fakta-fakta yang diindikasikan terjadi tindak pidana korupsi yang lebih besar. Terdapat 35 anggota senat yang memiliki saham di Enron, penyumbang terbesar ke-12 dalam kampanye Bush, dan sumbangan-sumbangan lainnya, menjadikan ada indikasi perlakuan istimewa yang diberikan para senat kepada Enron. Kasus lainnya yang melibatkan anggota senat dan pemerintahan adalah kasus yang melibatkan anggota DPR dari partai Demokrat yaitu William J. Jefferson, pada tahun 2009. Selanjutnya adalah Randy Cunningham yang mengundurkan diri dari Kongres, setelah menerima suap setidaknya US $2,4 juta. Dia mengaku bersalah atas tuduhan konspirasi untuk melakukan penipuan, penggelapan pajak, dan penyuapan. Mafia atau gangster juga menjadi salah satu masalah bagi Amerika. Mafia yang legendaris adalah Al Capone dengan menyuap para aparat menjalankan usahanya secara ilegal. Bisnis ilegal Al Capone berlangsung selama satu dekade. Kelihaian Al Capone dalam menjalankan bisnis ilegalnya menjadikan pemerintah Amerika sulit untuk menangkapnya, walau pada akhirnya berhasil ditangkap dalam kasus penghindaran pajaknya 3.6.6.2. Undang-Undang Kongres Amerika menggolkan undang-undang RICO (Racketeer Influenced and Corrupt Organization Act), yaitu UU tentang pemerasan pengaruh dan korupsi terorganisir dan menjadi alat ampuh bagi pemerintah Amerika dalam memerangi mafia. Undang-undang lainnya adalah FCPA (Foreign Corrupt Practice Act) memastikan: 1. perilaku bisnis yang fair 2. akuntabilitas dan integritas di pemerintahan 3. distribusi sumber daya ekonomi berbasis efisiensi dan kesetaraan. RUU American Corruption Act RUU ini dibuat oleh mantan Ketua Komisi Pemilu Federal Trevor Potter. RUU ini berkaitan dengan perubahan cara pembiayaan pemilu, bagaimana pelobi mempengaruhi politik, dan bagaimana penggunaan uang dalam pemilu dipertanggung jawabkan. Secara terperinci RUU ACA ini mengatur mengenai hal-hal dibawah: Beberapa hal yang diatur dalam RUU ACA antara lain: 1. Menghentikan politisi menerima suap. 2. Membatasi kontribusi dan koordinasi Super PAC (Political Action Commitee). Super PAC adalah komite yang diperbolehkan untuk menghimpun dana dalam jumlah tak terbatas dari perusahaan, individu, lembaga, dll.

3.

4.

5. 6. 7.

8.

9.

Mencegah anggota legislatif dan staff nya yang menyuap untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ketika mereka tidak lagi bekerja di legislatif. Memberi panggilan kepada orang yang melobi, sebagai pelobi. Memperluas defini pelobi dan mencegah mereka dari memberikan pengaruh yang besar dalam politik. Membatasi sumbangan pelobi. Mengakhiri penerimaan sumbangan gelap. Memberdayakan semua pemilih dengan rabat pajak, agar para pemilih aktif berkontribusi dalam politik, Pengungkapan para pihak-pihak yang terikat memberikan kontribusi kepada para kandidat dan anggota kongres. Menegakkan aturan. Memperkuat independensi Komisi Pemilihan Federal dan memperkuat DPR dan proses penegakan etika Senat.

3.6.6.3. Badan/ Biro yang terkait Biro atau badan yang bertanggung jawab mengenai penanganan kasus korupsi di Amerika Serikat adalah polisi dan kejaksaan. Amerika mengambil peran sebagai pemimpin di OECD (Organisations for Economic Cooperation Development) dalam memberantas korupsi. OECD menerbitkan The OECD Anti Bribery Convention yang ditandatangani pada tahun 1997 dan diberlakukan tahun 1999 terkait dengan penyuapan asing, pemantaan penegakan hukum, dan proses peer review yang ketat.

3.7. Strategi Pencegahan


Perbandingan korupsi di berbagai negara diatas memperlihatkan masing-masing keunggulan dalam penanganan anti korupsinya sesuai dengan kondisi negara masing-masing. Desain sistem pencegahan ini dibuat dengan melihat perbandingan dengan negara lain dan pendapat penulis berdasarkan pengamatan, obeservasi, kepustakaan dan diskusi mengenai korupsi dalam kelas ataupun di luar kelas. Strategi pencegahan anti korupsi dapat dibagi beberapa bagian mulai dari pemerintah, pendidikan, kultur, ekonomi, hukum, dan masyarakat sendiri. 3.7.1. Pemerintah Awal yang paling penting dalam langkah pemberantasan korupsi adalah political will dari pemerintah. Political Will dari pemerintah menjadi hal yang krusial karena tanpa hal tersebut, maka apapun kebijakan yang diambil pemerintah akan setengah hati saja, sehingga bukannya pemberantasan korupsi akan jalan, malah akan mengalami kemunduran walau secara perlahan. Pemerintah membuat kebijakan tentang penyediaan ekosistem yang positif bagi masyarakat, pendidikan

antikorupsi sejak dini, penerbitan undang-undang antikorupsi yang tegas dan keras, sehingga korupsi dapat dilakukan pencegahannya sejak dini. 1. Pembentukan database penduduk secara benar karena dengan database yang benar dan terintegrasi sehingga efeknya dapat berdampak baik kemana-mana, misal pada pelayanan publik, transaksi keuangan, jasa kesehatan pemerintah, dan dengan database kependudukan yang terintegrasi dapat membuat pengawasan terhadap pegawai pemerintah, layanan publik dan tindakan penyimpangan dapat dengan mudah terdeteksi. 2. Pada sektor birokrasi dimulai pada perekrutan pegawai dimana perekrutan pegawai tidak hanya melakukan tes psikologis dan tes nilai semata namun juga penilaian perilaku pegawai terhadap masyarakat yang dilayani, hal ini bisa diterapkan dengan penilaian dari atasan sendiri 3. Pengelolaan birokrasi pemerintah agar birokrasi pemerintah menjadi cepat tanggap dan berfokus pada kepuasan publik sebagai rajanya. Sistem birokrasi yang berbelit harus dipangkas dengan cara mengubah sistem hierarkis agar tidak terlalu kaku dan menerapkan pendekatan manajemen swasta. Peran komite pengawasan dan pengendalian internal perlu dipertegas kembali karena pencegahan tidak hanya datang dari diri pegawai sendiri namun juga bila diawasi maka celah dan peluang untuk korupsi semakin bisa diperkecil. 4. Pengelolaan birokrasi dilakukan dengan penerapan kebijakan target dan pengawasan kinerja seperti pada indikator kinerja seperti yang diterapkan pada swasta. Indikator kinerja ini dapat berupa target yang jelas dan realistis, sehingga tidak seperti sekarang yang target dan realisasinya masih setengah-setengah sehingga penerapan indikator kinerja saat ini hanya pemenuhan formal semata. Penerapan target ini juga harus memasukkan faktor output dan outcome sehingga jelas apa yang ingin dicapai dari sebuah layanan publik. 5. Penerapan teknologi mutlak perlu dalam pengelolaan birokrasi kepemerintahan karena kemudahan yang disediakan reknologi informasi yang terintegrasi menghasilkan kemudahan dalam pengelolaan layanan publik sendiri dan transparansi pengelolaan pemerintah. Transparansi adalah matahari yang membersihkan kuman-kuman korupsi yang tersembunyi.

6.

Penerapan reward and punishment yang sesuai dan konsisten, tidak seperti saat ini, walaupun telah diterapkan reward and punishment, namun tidak dikonsep dan dilaksanakan dengan benar di lapangan, sehingga slogan PGPS pun muncul lagi. 7. Pengelolaan SDM PNS yang dimiliki pemerintah agar mampu mengubah pandangan masyarakat tentang korupsi yang lekat dengan PNS. PNS ditunjang dengan sistem penilaian yang realistis dan jelas, reward and punishment yang jelas, apabila mampu mengikuti ritmenya maka akan menghasilkan layanan publik yang diharapkan 8. Penerapan sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah yang konsisten, aturan pelaksanaan yang jelas, serta penegakan hukum yang tegas bagi pelanggarnya. Penerapan e-procurement saat ini sudah baik namun tetap perlu penerapan sistem ini secara konsisten 9. Sistem pelaporan kinerja pemerintah harus jelas dengan target dan realisasi yang benar pula. Sebenarnya permasalahan yang mendasar dari pengukuran kinerja yang diterapkan pada era reformasi birokrasi ini adalah target yang mengawang-awang dan kabur, realisasi yang diisikan pun tidak akurat dalam menilai kinerja pegawai. 10. Kunci dari pencegahan korupsi adalah pembatasan wewenang yang ketat yang didapatkan oleh setiap pegawai pemerintah. Pembatasan wewenang ini bukan berarti pembatasan pekerjaan, hal ini lebih pada membatasi apa saja yang bisa dilakukan oleh pegawai tersebut. 3.7.2. Pendidikan Sistem pendidikan di Indonesia yang lebih mementingkan nilai-nilai eksakta ketimbang nilainilai kepribadian sudah tidak relevan untuk dipakai di zaman modern seperti saat ini. Apalagi nilainilai kepribadian sangat menentukan bagaimana pribadi bangsa ini terbentuk dan menjadi cerminan sikap bangsa Indonesia. Pendidikan anti korupsi sejak dini di Indonesia belum menjadi prioritas pemerintah, walaupun saat ini sudah diakomodasi di kurikulum 2013. Strategi pencegahan yang dapat dimulai dari pendidikan adalah: Pelajaran pendidikan di Jepang yang dinamai seikatsu-ka yang makna bahasanya adalah pelajaran hidup sehari-hari terus-menerus dan pelajarannya langsung pada praktik sehingga masyarakat Jepang mengenal bagaimana hidup bermasyarakat yang seharusnya. Pelajaran seikatsuka dapat menjadi perbandingan untuk penanaman nilai-nilai anti korupsi. Finlandia yang memiliki sistem pendidikan yang jauh lebih baik juga dapat

menjadi acuan dalam pengembangan pendidikan anti korupsi sejak dini. Strategi yang dapat dilakukan adalah mengurangi beban pendidikan yang terkait dengan eksakta pada pendidikan dasar yakni tingkat SD, sehingga pendidikan dasar hanya fokus pada bagaimana membentuk kepribadian anak-anak. Hal ini penting karena pendidikan kepirbadian bukanlah hal yang dapat diajarkan dalam waktu singkat, perlu proses yang lama dan berkelanjutan. Pendidikan inipun dijalankan tidak hanya dengan teori semata, namun langsung pada praktik-praktik kehidupannya. Tingkat PAUD sebaiknya ditiadakan saja agar anak pendidikannya benarbenar diawasi oleh orang tuanya, karena keluargalah yang paling awal ditemui oleh anak dan berperan sangat penting dalam tumbuh kembang anak tersebut. 3.7.3. Hukum Penegakan hukum dan peraturan yang memayunginya tidak memberikan deterrent effect yang diharapkan. Cina yang memberlakukan hukuman dengan sangat keras dan tegas yakni hukuman mati, dapat menjadi sebuah studi perbandingan bila hal ini diterapkan di Indonesia. 1. Peraturan-peraturan yang jelas dan tidak menimbulkan multitafsir dapat menjadi senjata yang kuat untuk menghukum para koruptor tersebut. 2. Peningkatan kesadaran hukum bagi para masyarakatnya dan pembuatan peraturan yang ditujukan untuk memiskinkan para koruptor, karena pada dasarnya secara psikologis, para koruptor lebih takut dimiskinkan daripada masuk penjara. 3.7.4. Ekonomi Apabila kondisi pajak dan aturan-aturan yang berlebihan dan cenderung menghambat aktivitas ekonomi, suap (bribery) dapat menjadi pelumas (efficient grease hypothesis) yang dikemukakan oleh Huntington tahun 1968. Pendapat ini seharusnya tidak berlaku untuk Indonesia karena korupsi yang merupakan kejahatan tetap saja lebih memiliki dampak yang negatif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Kondisi ekonomi di Indonesia harus didukung dengan birokrasi anti suap dan tegas terhadap korupsi. Karena bila merujuk pada pendapat Huntington, kecenderungan suap juga datang dari pihak swasta/ pengusaha. Insentif terhadap perekonomian Indonesia dengan kebijakan stimulatif yang dikeluarkan pemerintah dengan didukung kebijakan pemerintah yang jelas dan adil dapat memacu perekonomian yang berjalan tanpa suap kepada birokrat. 3.7.5. Perpolitikan Politik menjadi suatu titik yang rawan untuk terjadinya tindak pidana korupsi di setiap negara.

Hal ini terjadi karena ada rent seeking yang diinginkan oleh pengusaha dan fasilitas yang ditawarkan oleh politisi. Public Choice Theory adalah teori yang mendasari pemikiran diatas, interaksi antara konstituen, politisi dan pengusaha dapat menciptakan peluang-peluang terjadinya kolusi dan korupsi. Strategi untuk mencegahnya adalah sebagai berikut 1. Politisi wajib melaporkan dana kampanyenya baik dari sumber dananya maupun penggunaan dananya, mekanisme ini dapat diatur dalam peraturan perundangan yang mengikat 2. Politisi wajib menyampaikan penambahan harta kekayaannya dan keluarga terdekatnya setiap tahun sehingga dapat dipantau apakah penambahan hartanya wajar atau ada keganjilan yang perlu dijelaskan terlebih dahulu 3. Kampanye untuk pemilu biayanya sangat mahal untuk parpol, sehingga ada tekanan untuk mencari dana tambahan baik legal ataupun ilegal. Strateginya dengan membuat aturan kampanye yang terbatas, jadi ada standar biaya kampanye di suatu daerah, dan tentu ada peraturan yang kuat untuk bisa membubarkan dan menghukum parpol apabila kadernya terlibat korupsi sehingga ada upaya dari parpol untuk membuat kadernya anti korupsi. 3.7.6. Budaya Budaya malu sebagai kontrol moral pertama untuk mencegah tindak pidana korupsi dapat diadopsi pada masyarakat Indonesia. Pembentukan budaya malu untuk pelaku korupsi dan masyarakat sendiri perlu untuk meletakkan pengawasan tindak pidana korupsi di masyarakat. Malu karena melakukan kejahatan haruslah menjadi budaya di masyarakat Indonesia, apalagi pada dasarnya malu sendiri adalah budaya hampir di semua suku di Indonesia, walaupun saat ini di dunia yang materialistis ini, rasa malu itu mulai terkikis. Strateginya adalah dengan menggalakkan informasi pemerintah akan malu bila memiliki harta dari korupsi. Walaupun saat ini masyarakat banyak yang memandang orang dari hartanya tanpa melihat darimana harta tersebut berasal, hal ini perlu diubah dengan propaganda dari pemerintah bahwa sekalipun harta banyak, sering beramal, namun semua dari korupsi maka hanya akan mempermalukan keluarga. Sanksi sosial dari masyarakat sekitar harus digalakkan apabila ada warganya yang korupsi sehingga ada deterrent effect juga pada calon-calon koruptor dimana saja. 3.7.7. Agama Franz Magnis Suseno berpendapat bahwa agama telah gagal menjadi pembendung moral bangsa dalam mencegah korupsi karena perilaku

masyarakat yang memeluk agama itu sendiri. Pemeluk agama menganggap agama hanya berkutat pada masalah bagaimana cara beribadah saja. Kenyataan ini harus segera diubah, dengan strateginya melakukan pendekatan-pendekatan melalui pemuka agama agar dipahami benar-benar bahwa agama tidak hanya mengajarkan ritual semata, namun juga pemahaman bahwa mencuri itu salah dan penerapan nilai-nilai agama harus digalakkan kembali, melalui pertemuan umat beragama, misal: kebaktian, pengajian, dan sebagainya. Pendekatan yang halus ini tentu membutuhkan konsistensi dan tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu yang sebentar.

3.

4.

membuat MoU untuk kewenangankewengan dan bagian pekerjaannya agar tidak saling bertabrakan Peraturan perundangan dibuat seringkas mungkin dan dapat dengan mudah dipahami tanpa ada multitafsir yang mungkin dapat terjadi. Peraturan perundangan pun hukumannya dapat dibuat seperti Cina yang berani menerapkan hukuman mati. Setiap laporan harta kekayaan PNS serta pejabat negara harus segera cepat ditelusuri, karena laporan tersebut adalah pintu pertama untuk masuk ke dalam apakah ada tindakan korupsi atau tidak.

3.8. Strategi Penindakan


Penindakan tindak pidana korupsi tidak akan 4. KESIMPULAN beranjak jauh dari bagaimana hukum di Indonesia Perbandingan korupsi di berbagai negara dijalankan. Upaya penegakan hukum juga tidak menunjukkan bahwa usaha pemberantasan korupsi terlepas dari tumpang tindih dan pasal-pasal yang kita tidak sendirian, dan perbandingan ini multitafsir pada peraturan perundang-undangan menunjukkan kekuatan dan kelemahan masingselama ini. Lemahnya pengawasan yang dilakukan masing strategi pemberantasan korupsi yang sesuai baik terhadap internal maupun eksternal kepada dengan situasi dan kondisi masing-masing negara, lembaga penegak hukum juga menjadi salah satu baik dari segi perpolitikannya, pemerintahannya, faktor lemahnya penindakan di Indonesia ini,KPK dan masyarakatnya. sendiri hanya dapat menangani kasus-kasus korupsi Hal yang paling krusial dari upaya pencegahan skala besar, sehingga kasus korupsi skala kecil dan pemberantasan korupsi itu adalah Political Will ditangani oleh kepolisian dan kejaksaan. dari pemerintah. Komitmen dan integritas yang Kenyataannya hanya kasus-kasus besar saja yang kuat dari pemerintah dapat membuat ketahuan sedangkan korupsi-korupsi kecil namun pemberantasan korupsi dapat dengan cepat jumlahnya banyak tidak tersentuh oleh KPK. dilakukan. Selain faktor dari masyarakatnya Sedangkan kondisinya saat ini, masyarakat belum sendiri, budaya, ekonomi, perpolitikan, agama dan dapat percaya penuh kepada kepolisian dan hukum itu sendiri. Perbaikan-perbaikan atas setiap kejaksaan terkait penanganan kasus-kasus sisi dan segi yang berkelanjutan akan membuat korupsinya. negara ini dapat mencapai tujuannya dengan lebih Strategi dalam penindakan tipikor ini adalah cepat yakni Indonesia bebas korupsi. 1. Peningkatan fungsi inspektorat di setiap Pemberantasan korupsi yang konsisten merupakan instansi pemerintah serta fungsi kunci tercapainya tujuan agar Indonesia bebas dari pengendalian internal yang baik sehingga korupsi dan kita bisa mewariskan pada anak-cucu bila ada indikasi korupsi cepat dapat kita negara Indonesia yang bebas dari korupsi dan langusng ditangani makmur sejahtera. 2. Penguatan kerjasama antara POLRI, KPK dan kejaksaan dengan meningkatkan kesepahaman dalam kerjasamanya, dan DAFTAR REFERENSI [1] Smith, Herbert, Guide to Anti-corruption Regulation in Asia, http://www.herbertsmithfreehills.com//media/HS/HKBESHBAJSI21021214.pdf (27 September 2013) [2] Gottlieb, Jason, Corruption and Democracy, http://www.asahi-net.or.jp/~zj5j-gttl/s980403.htm (27 September 2013) [3] Norton Rose Group, Anti-corruption laws in Asia Pacific, http://law.shu.edu/ProgramsCenters/HealthTechIP/HealthCenter/HCCP/asiapacific/Presentations/March 2013/upload/App10_Norton_Rose_anti_corruption_laws_in_apac.pdf, (27 September 2013) [4] National Personnel Authority, the National Public Service Board, http://www.jinji.go.jp/rinri /eng/shinsa/main.htm (27 September 2013) [5] Pascha, Werner, Corruption in JapanAn Economists Perspective, http://www.uni-due.de/ineast/fileadmin/publications/gruen/paper23.pdf (27 September 2013) [6] Corruption Perceptions Index 2012, http://cpi.transparency.org/cpi2012/results/ (27 September 2013) [7] Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia,Pemberantasan Korupsi, Modul Pilot Project Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III, Jakarta, 2009

[8]

Lane, Scott and W. John Hoffmann, http://www.ethic-intelligence.com/experts/273-does-the-chinesepractice-of-guanxi-lead-to-corruption-in-business-practices (27 September 2013) [9] S.T. Quah, John, Anti Corruption Agencies in Four Asian Countries: A Comparative Analysis, http://www1.imp.unisg.ch/org/idt/ipmr.nsf/ac4c1079924cf935c1256c76004ba1a6/6ea8eeaeec567b3bc125 7380004f2b72/$FILE/Quah_IPMR_Volume%208_Issue%202.pdf (27 September 2013) [10] Quah, Jon S.T., Corruption in Asia With Special Reference to Singapore: Patterns and Consequences, http://jonstquah.com/images/Corruption%20in%20Singapore%20AJPA.pdf (27 September 2013) [11] Berlinger, Joshua, Why China Should Study Singapores Anti-Corruption Strategy,

http://www.businessinsider.com/why-china-should-study-singapores-anti-corruption-strategy2012-12 (27 September 2013)

Mendidik Anak, Membangun Bangsa


Pendidikan anti korupsi menjadi perhatian pemerintah Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini. Hal ini dibuktikan dengan memasukkan pendidikan anti korupsi pada kurikulum terbaru pendidikan yaitu kurikulum 2013. Lambatnya negara Indonesia dalam memberantas korupsi salah satunya disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap pembentukan karakter anti korupsi sejak dini. Hal yang perlu digarisbawahi adalah perilaku yang koruptif sebenarnya muncul dan terpupuk sejak kecil dan dari hal-hal kecil apabila hal ini tidak kita sadari dan terus terlatih dan terbiasa sampai anak-anak menjadi dewasa. Slogan kami adalah Siapa yang mendidik anak, berarti dia sedang membangun bangsa. Melahirkan kaderkader anti korupsi jauh lebih efektif dilakukan pada anak-anak usia dini berkisar 5-12 tahun karena pada saat itulah fase pembentukan karakter diri dimulai. Pada masa tersebut, anak-anak berada dalam masa pertumbuhan diri dan pembentukan pemikiran serta menuju pembentukan karakter. Jika anak-anak dibiasakan untuk bertindak jujur sejak dini, nilai-nilai itu akan tertanam hingga mereka dewasa nanti. Nilai-nilai yang disampaikan adalah 9 nilai anti korupsi dari Komisi Pemberantasan Korupsi, yaitu: 1. Jujur Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan utama bagi penegakan integritas diri seseorang. Tanpa adanya kejujuran mustahil seseorang bisa menjadi pribadi yang berintegritas. Seseorang dituntut untuk bisa berkata jujur dan transparan serta tidak berdusta baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kejujuran juga akan terbawa dalam bekerja sehingga dapat membentengi diri terhadap godaan untuk berbuat curang. Peduli Kepedulian sosial kepada sesama menjadikan seseorang memiliki sifat kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa sosial tinggi akan memperhatikan lingkungan sekelilingnya di mana masih terdapat banyak orang yang tidak mampu, menderita, dan membutuhkan uluran tangan. Pribadi dengan jiwa sosial tidak akan tergoda untuk memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar tetapi ia malah berupaya untuk menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu sesama. Mandiri Kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri seseorang menjadi tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain. Mentalitas kemandirian yang dimiliki seseorang memungkinkannya untuk mengoptimalkan daya pikirnya guna bekerja secara efektif. Jejaring sosial yang dimiliki pribadi yang mandiri dimanfaatkan untuk menunjang pekerjaannya tetapi tidak untuk mengalihkan tugasnya. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab demi mencapai keuntungan sesaat. Disiplin Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Ketekunan dan konsistensi untuk terus mengembangkan potensi diri membuat seseorang akan selalu mampu memberdayakan dirinya dalam menjalani tugasnya. Kepatuhan pada prinsip kebaikan dan kebenaran menjadi pegangan utama dalam bekerja. Seseorang yang mempunyai pegangan kuat terhadap nilai kedisiplinan tidak akan terjerumus dalam kemalasan yang mendambakan kekayaan dengan cara yang mudah. Tanggung jawab Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan menyadari bahwa keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk melakukan perbuatan baik demi kemaslahatan sesama manusia. Segala tindak tanduk dan kegiatan yang dilakukannya akan dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, negara, dan bangsanya. Dengan kesadaran seperti ini maka seseorang tidak akan tergelincir dalam perbuatan tercela dan nista. Kerja Keras Perbedaan nyata akan jelas terlihat antara seseorang yang mempunyai etos kerja dengan yang tidak memilikinya. Individu beretos kerja akan selalu berupaya meningkatkan kualitas hasil kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik yang sebesar-besarnya. Ia mencurahkan daya pikir dan kemampuannya untuk melaksanakan tugas dan berkarya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan mau memperoleh sesuatu tanpa mengeluarkan keringat. Sederhana Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang menyadari kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya dengan semestinya tanpa berlebih-lebihan. Ia tidak tergoda untuk hidup dalam gelimang kemewahan. Kekayaan utama yang menjadi modal kehidupannya adalah ilmu pengetahuan. Ia sadar bahwa mengejar harta tidak akan pernah ada habisnya karena hawa nafsu keserakahan akan selalu memacu untuk mencari harta sebanyak-banyaknya. Berani Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki keberanian untuk menyatakan kebenaran dan

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

menolak kebathilan. Ia tidak akan mentolerir adanya penyimpangan dan berani menyatakan penyangkalan secara tegas. Ia juga berani berdiri sendirian dalam kebenaran walaupun semua kolega dan teman-teman sejawatnya melakukan perbuatan yang menyimpang dari hal yang semestinya. Ia tidak takut dimusuhi dan tidak memiliki teman kalau ternyata mereka mengajak kepada hal-hal yang menyimpang. Adil Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa apa yang dia terima sesuai dengan jerih payahnya. Ia tidak akan menuntut untuk mendapatkan lebih dari apa yang ia sudah upayakan. Bila ia seorang pimpinan maka ia akan memberi kompensasi yang adil kepada bawahannya sesuai dengan kinerjanya. Ia juga ingin mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi masyarakat dan bangsanya.

Nama kegiatan yang kami lakukan adalah Sosialisasi Anti Korupsi Usia Dini: Siapa Kita? Laskar Anti Korupsi!. Tujuan kegiatan ini selain untuk memenuhi tugas Pilot Project juga bertujuan untuk membentuk generasi anti korupsi, laskar anti korupsi yang berani bilang TIDAK PADA KORUPSI! dengan metode pembentukan pemikiran dan karakter yang menyenangkan. Mengingat latar belakang dan tujuan kegiatan sebelumnya, peserta sosialisasi yang kami tuju adalah siswa-siswi kelas V Sekolah Dasar dengan jumlah 60 orang yang dipilih berdasarkan pertimbangan dari guru/wali kelas terkait. Ada dua hal penting yang harus diterapkan dalam rangka menginternalisasi nilai-nilai anti korupsi kepada anak-anak: 1. Nilai-nilai anti korupsi ini diturunkan ke dalam sub nilai yang lekat dengan kehidupan sehari-hari seperti jujur, berani, mandiri, tanggung jawab, adil, kerja keras, peduli, sederhana yang merupakan 9 nilai anti korupsi yang disosialisasikan oleh KPK. Penggunaan metode pengajaran yang tepat untuk menginternalisasi nilai-nilai anti korupsi dan meningkatkan kecerdasan moral para siswa melalui cara-cara yang akrab, nyaman, dan menyenangkan seperti menonton film, bermain, berdiskusi, dan bernyanyi yang dikemas dalam tema nilai anti korupsi, seperti lagu-lagu atau yel-yel berlirik kejujuran. Acara sosialisasi tersebut kami kemas dengan menggabungkan konsep di atas menjadi Fun, Smart, and Do It!

2.

3.

Anak-anak adalah para calon pemimpin yang akan memegang tongkat estafet pemerintahan negeri ini dan akan membangun bangsa ini di masa depan. Mengenalkan 9 nilai-nilai anti korupsi merupakan penanaman nilainilai kehidupan semenjak dini, karena dari 9 nilai itu pun, nilai yang disampaikan adalah nilai-nilai kehidupan yang jamak kita temui. how we give is how they receive adalah kesimpulan dari semua tim penyaji bahwa penyampaian materi dengan cara-cara yang baik, menyenangkan, mampu menarik minat anak kecil, dan melibatkan partisipasi langsung dari anak-anak, dapat meningkatkan daya serap mereka akan materi yang kita sampaikan mengenai nilai-nilai anti korupsi. Anak-anak yang kami sosialisasi menunjukkan reaksi dan antusiasme yang sangat positif, dan melihat semangat mereka tersebut seakan menjadi sebuah pengingat bagi kita bahwa masih ada anak-anak Indonesia yang harus kita lindungi dan jaga masa depannya dari para koruptor-koruptor yang secara tidak langsung menggerogoti masa depan mereka. Korupsi bukan hanya masalah seberapa banyak uang yang telah kau curi dari negaramu namun hal buruk apa saja yang telah kau lakukan pada negaramu. Jangan tanya apa yang telah negaramu berikan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah engkau berikan untuk negaramu. Nilai-nilai ini sangat penting untuk ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, keluarga, orang terdekat dan semakin meluas, diharapkan semangat anti korupsi semakin dapat menyebar dan tidak hanya pada omongan semata namun juga tindakan nyata. Sosialisasi anti korupsi untuk usia dini adalah sebuah pengalaman yang luar biasa untuk tim penyaji terutama bagaimana berinteraksi dengan anak-anak, belajar dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang kreatif dan menyenangkan, serta mendengar harapan-harapan dan optimisme mereka untuk negeri kita tercinta ini. Pendidikan karakter tidak cukup dilakukan sekali atau dua kali, tetapi secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Keluarga adalah gerbang pendidikan karakter yang utama dan pembentukan awal karakter sebenarnya adalah di keluarga sebagai inti dari awal sosialisasi anak dengan orang lain. Demi Indonesia di masa depan yang lebih baik, mari kita jaga permata harapan negeri kita tercinta ini, anak-anak yang dengan senyumnya selalu optimis menatap masa depan mereka. Indonesia Bebas Korupsi!