Anda di halaman 1dari 20

Pengertian Psikologi Kognitif dengan Sejarahnya

Selama otak manusia itu aktif maka tidak akan lari jauh dengan kogn itif. Kognitif merupakan pusat penerimaan informasi, pusat mengingat informasi yang telah diperoleh dan disimpan dalam memori, juga merupakan perencanaan seseorang dalam membuat keputusan sesuatu juga dalam hal menyampaikan informasi yang kemudian dilakukan dengan aktivitas proses persepsi serta tata cara penyusunan bahasa katakata maka hal ini disebut dengan proses Psikologi kognitif. Berhubungan dengan otak atau melibatkan kognisi, dan berdasarkan kepada pengetahuan faktual yg empiris (KBBI). Kognisi adalah kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan termasuk kesadaran, perasaan dan sebagainya. Psikologi kognitif bisa disimpulakan dengan dinamika mental atau ilmu proses-proses mental dan pola pikir manusia. Sejarah Psikologi Kognitif Sejarah psikologi kognitif diawali dengan pendapat-pendapat para filsuf yang berpikir dan bertanya asal muasal pengetahuan sehingga teori-teori kuno membahas letak pikiran dan memori. Solso (2007) studi aksara hieroglif Mesir Kuno dalam kepenulisannya meyakini bahwa Aristoteles menyatakan pengetahuan adalah berada di jantung. Akan tetapi berbeda dengan gurunya Aristoteles, yakni Plato, berpendapat bahwa pengetahuan tersimpan dalam otak. Sehingga, hal yang terkait dengan pengetahuan tersebut terdapat dua perspektif empiris dan nativis. Empiris memandang pengetahuan diperoleh dari pengalaman sepanjang hidup. Sedangkan nativis memandang pengetahuan didasarkan pada karakteristik genetis dalam otak. Maka, penyimpanan dan pengorganisasian informasi dalam memori mendifinisikan cocok yaitu bahwa penyimpanan mengindikasikan bahwa pengalaman adalah penting yang disebut dengan empiris. Sedangkan, pengorganisasian megindikasikan bahwa adanya kemampuan struktural bawaan dalam otak manusia itu disebut dengan nativis.

Pada abad ke-18 yang dikenal dengan abad renaisans (abad pencerahan). Abad pencerahan adalah abad terjadinya perubahan besar-besaran dalam teknologi, sosial dan politik yang dipelopori para penganut empirisme dari inggris yaitu George Berkeley, David Hume, James Mill, dan John Stuart Mill. Pernyataannya John Stuart Mill pada abad renaisans menyatakan bahwa representasi internal yang terbagi dalam tiga jenis: 1). Peristiwa sensorik langsung 2). Peristiwa yang disimpan dalam memori, dan 3). Transformasi dari peristiwa-peristiwa tersebut yang dalam proses berpikir. Pada abad ke-19 muncullah para psikologi dari bidang ilmu filsafat yang kemudian membentuk suatu disiplin ilmu baru meskipun bersumber dari ilmu filsafat. Pada awal abad ke-20, lahirlah teori Behaviorisme yang mengalami perubahan konsep radikal. Dan behavioris mengatakan bahwa otak manusia adalah otak pasif yang memandang bahwa otak manusia dan binatang semata-mata hanya psikologi stimulus-respon (Solso, 2007). Namun beberapa tahun kemudian, pada tahun 1932 terjadi sebelum kebangkitan Revolusi kognitif seorang behavioris dari Universitas California yang bernama Edward C. Tolman. Tolman menerbitkan sebuah buku yang menjelaskan tentang eksprimen terhadap tikus yang ditempatkan dalam labirin dengan mempelajari stimulus-respon darinya. Akan tetapi, psikologi kognitif berasal dari pemikiran behavior. Selanjutnya, beberapa tahun kemudian dengan melewati berbagai eksprimen dari berbagai tokoh maka psikologi kogntif terbentuk pada tahun 1960-an. Adapun tokoh dari psikologi kognitif adalah Edward C. Tolman (1886-1959) dengan mengembangkan konsep peta kognitif, beliau juga merupakan behavioris dari Universitas California di Berkeley dengan menerbitkan buku yang pertamanya berjudul Purposive Behavior In Animals And Men. Psikologi konitif adalah ilmu mengenai pemrosesan informasi. Bagaimana cara kita memperoleh informasi mengenai dunia dan bagaimana pemerosesannya, bagaimana cara informasi itu disimpan dan di proses oleh otak, bagaimana informasi itu disampaikan dengan struktur penyusunan bahasa, dan proses-proses tersebut

ditampilkan dengan sebuah prilaku yang dapat diamati dan juga yang tidak dapat diamati. Psikologi kognitif juga mencakup keseluruhan proses psikologis dari sensasi ke persepsi, pengenalan pola, atensi, kesadaran, belajar, memori, formasi konsep, berpikir, imajinasi, bahasa, kecerdasan, emosi, dan bagaimana keseluruhan hal tersebut berubah sepanjang hidup (terkait perkembangan manusia) dan bersilangan dengan berbagai bidang prilaku. Dalam psikologi kognitif terdapat beberapa definisi yaitu metafora adalah menjelaskan proses-proses kognitif. Dan model adalah sebuah kerangka kerja organisasional yang digunakan untuk menjelaskan proses-proses kognitif. Juga teori adalah sebuah upaya menjelaskan beberapa aspek proses psikologi kognitif. Kemudian perspektif yakni menuntun, menyajikan, dan mengevaluasikan eksprimen dengan empat perspektif yaitu pemerosesan informasi, neurosains, ilmu komputer, dan psikologi evolusioner. Perbedaan psikologi kognitif dengan ilmu kognitif adalah jika ilmu kognitif merupakan gabungan dari berbagai ilmu seperti ilmu komputer, filsafat, psikologi, neurosains, linguistik, antropologi, dan sosiologi. Ilmu kognitif bisa dipelajari dan diajarkan selain di fakultas psikologi. Sedangkan psikologi kognitif hanya bisa diajarkan di fakultas psikologi dan lebih menekankan pada aspek kognisi manusia.

Pengenalan Objek pada Kognitif


Pengenalan objek Setiap hari kita dapat melihat banyak benda di sekeliling, mengenali dan kemudian mengidentifikasinya. Manusia mampu mengenali objek yang familiar disekitarnya, itu sebabnya mengapa manusia dapat mengenali sahabat, orangtua, teman ataupun orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal-hal tersebut bisa dilakukan karena manusia memiliki kemampuan yang disebut dengan pengenalan pola. Pengenalan pola adalah komposisi kompleks dari stimulus sensori yang di ketahui seseorang sebagai bagian dari objek. Pengenalan pola dan kemampuan mengenali objek dapat terjadi dengan langsung, tanpa usaha dan biasanya terjadi secara cepat. Kemudian bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Semisal bagaimana seseorang mengenali kalau itu adalah neneknya ? apakah ada semacam template yang unik dalam pikiran kita ? ataukah ada semacam stereotype tertentu tenggang seorang nenek ? misalnya bersanggul, memakai sewek, berkacamata, beramut putih dan lain sebagainya ? beberapa peneliti memberikan hipotesisnya mengenai keberadaan sel nenek, yaitu suatu sel yang menyala ketika neuron tersebut menerima sinyal-sinyal visual yang akrab bagi si pengamat. Pengenalan pola melibatkan interaksi antara senasasi, presepsi, memori dan pencarian kognitif yang bertujuan untuk mengenali pola-pola terebut. Pengenalan Pola Visual Ada beberapa pendekatan teori yang menjelaskan tentang pengenalan pola visual. Beberapa teori tersebut adalah sebagai berikut : 1. Teori gestalt ( Gestalt Theory ) Max Wertheimer (1880-1943) adalah seorang tokoh yang di anggap sebagai pelopor lahirnya gestalt. Max wertheier bekerja sama dengan kedua temannya, yaitu Wolfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1886- 1941) dalam mengembangkan teori gestalt. Aliran gestalt dalam psikologi mempelajari

gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, sehingga suatu gejala tidak dapat dipandang dari bagian per bagian. Gestalt mempelajari bagaimana manusia mengorganisasikan stimuli dan bagaimana mengklasifikasikannya selama awal abad 20-an. Organisasi pola (pattern recognition bagi para penganut aliran gestalt adalah proses yang melibatkan kerjasama seluruh stimuli dalam menghasilkan sebuah kesan yang melampaui gabungan seluruh sensasi. Menurut max wertheimer, beberapa pola stimulus diorganisasikan secara spontan atau natural. Aliran gestalt memandang bahwa dasar pengenalan pola adalah persepsi terhadap pola baru dari stimulus. Bagian dari keseluruhan konfigurasi memiliki arti karena mereka dilihat secara keseluran sebagai suatu bentuk, bukan sebagai bagian dari keseluruhan bentuk tersebut. Sedangkan ketika kita sedang berusaha untuk menguraikan sebuah stimuli perseptual, kita sedang menggunakan hukum kontinuitas. Hukum nasib bersama ( common fate berisikan tentang gagasan bahwa objek-objek yang menghadap, menuju maupun bergerak ke arah yang sama pastilah bergabung dalam kelompok yang sama, sehingga di persepsikan sebagai suatu kelompok. Studi tentang pengenalan pola oleh psikologi gestalt memerluas bidang penelitian dalam psikologi gestalt. 2. Perspektif Kanonik ( Canonic Perspective ) Perspektif kanonik adalah sudut pandang terbaik untuk

mempresentasikan atau menggambarkan suatu objek (image) yang muncul pertama kali di pikiran, ketika mengingat suatu bentuk. Misalnya ketika kita diminta membayangkan suatu bentuk cangkir, maka gambar yang muncul dibayangan anda adalah gambar cangkir dalam prespektif kanonik. Bukan gambar yang tidak lazim. prinsip kanonik mengajarkan kepada kita sesuatu mengenai persepsi suatu bentuk., namun prinsip kanonik mengajarkan lebih banyak lagi mengenai pemrosesan informasi yag dilakukan oleh manusia, yaitu

formasi prototype yaitu bentuk kelaziman objek sebagaimana yang tersimpan dalam memori manusia. 3. Pemrosesan bottom-up versus pemrosesan top-down Pertama adalah teori pemrosesan buttom-up. Teori buttom- up adalah teori yang mengajukan gagasan bahwa proses pengenalan diawali dengan identifikasi terhadap bagian-bagian spesifik dari suatu pola, yang menjadi landasar pengenalan pola secara keseluruhan. Kedua adalah pemrosesan top-down. Ini adalah teori yang mengajukan bahwa pemrosesan pengenalan diawali dengan suatu hipotesis mengenai identitas suatu pola, yang diikuti dengan pengenalan terhadap bagian-bagian tersebut, berdasarkan asumsi yang telah di buat sebelumnya. Seringkali pemrosesan buttom-top dengan top-down terjadi secara bersamaan ketika seseorang mengenali suatu objek. Misalnya dalam

pengenalan sebuah wajah yang di contohkan oleh seorang ilmuan, yaitu palmer. Bagian-bagian wajah seperti hidung, dagu, bibir dsb, menjadi suatu bentuk ambigu ketika di tampilkan sendiri-sendiri. Kadang orang tidak mengenali kalau yang di tampilkan adalah bentuk hidung atau bibir atau yang lain sebagainya. Meskipun tampilan tersebut dapat di kenali apabila tampilan di lengkapi dengan dengan informasi yang jelas dan detail. Namun bentuk-bentuk tersebut menjadi konteks yang jelas bila di tempatkan dalam konteks yang jelas. Menurut palmer, ekspektasi memiliki peran yang penting dalam pemrosesan. Menurut palmer (psikologi kognitif, hal 133 ) apabila dalam pemrosesan, seseorang hanya menggunakan model pemrosesan buttom-up atau top-down saja, maka akan muncul yang namanya parsing paradox, yaitu kesulitan-kesulitan yang di jumpai ketika dalam pemrosesan, seseorang hanya menggunakan pemrosesan buttomup atau to-down saja. Seperti yang di nyatakan oleh Palmer bahwa bagaimana seseorang dapat mengenali sebuah wajah sebelum ia pertama mengenali hidung wajah, mata ataupun bagian wajah lainnya ? namun bagaimana juga seseorang dapat mengenali mata, hidung, bibir apabila ia belum mengenali

bahwa bagian-bagian tersebut adalah bagian-bagian dari wajah ?. kesulitankesulitan yang demikian yang disebut dengan parsing paradox oleh Palmer. 4. Pencocokan template (Template-Matching Theory) Dalam konteks pengenalan pola dalam kajian psikologi kognitif, template merupakan sebuah konstruk, yang ketika konstruk tersebut di cocokkan dengan stimulus sensorik yang diterima, maka akan terjadi pengenalan terhadap objek. Teori pencocokan template merupakan teori tentang cara otak mengenali sebuah pola atau objek. Teori ini mengeluarkan gagasan tentang pengenalan pola dalam psikologi kognitif bahwa dalam perjalanan hidup individu, individu telah membentuk template dalam jumlah yang besar, kemudian semua template yang telah terbentuk terasosiasi dengan sebuah makna yang spesifik. Kemudian teori pencocokan template ini menggambarkan pengenalan pola yang dilakukan seperti berikut Cahaya yang di pantukan oleh benda atau suatu pola di terima oleh retina, untuk kemudian disampaikan kepada energi neural selanjutnya oleh energi neural dikirim ke otak. Kemudian otak mencari bentuk tamplate dari sensor yang di terima dalam memori-memori yang sudah disimpan otak sebelumnya. Apabila otak menemukan tample yang disampaikan oleh neural dalam kumpulan memori-memori yang sudah disimpan tersebut, maka terjadilah yang namanya pengenalan pola atau suatu objek. Apabila proses pencocokan terhadap suatu template itu selesai dilakukan, maka proses selanjutnya dapat dilakukan, yaitu pemrosesan dan interpretasi terhadap suatu bentuk atau pula. Sebagai teori yang digunakan untuk memahami bagaimana proses pengenalan pola dapat terjadi, teori pencocokan template masih memiliki kelemahan. Kelemahannya adalah bahwa teori pencocokan template hanya akan terjadi bila objek yang diidentifikasikan sama persis dengan persis dengan representesi internal, atau sama dengan karakter yang disimpan dalam memori. Apabila ada sedikit perbedaan, maka akan terjadi kesulitan dalam proses pengenalannya, atau seharusnya objek tidak dapat dikenali. Kemudian

kekurangan yang lain, yang juga sebagai kritik adalah apabila teori pencocokan template ini benar, maka otak akan menyimpan berjuta-juta template, bahkan lebih agar otak mampu mengidentifikasi template dengan karaktear pola baru yang dilihat oleh mata. Kelebihan dari teori pencocokan templae adalah peran otak. Jelas agar mampu mengenali suatu pola, ataupun mengidentifikasi pola baru yang dilihat dengan template, otak harus membandingkan dan mengidentifikasi apakah karakter pola yang dilihat sama dengan template yan sudah di arsipkan di otak. Teori Persepsi Konstruktif Persepsi merupakan efek kombinasi dari informasi yg diterima sistem sensorik & pengetahuan yang dipelajari tentang dunia yang didapatkan dari pengalaman. terdapat interferensi bawah-sadar menjadikan adanya proses spontan dalam mengintegrasikan informasi dari sejumlah sumber untuk menyusun suatu interpretasi kemudian hasilnya adalah perubahan pola pada stimulus asli tetap dikenali (misalnya: menumbuhkan kumis). Teori ini sangat berkaitan dengan pemprosesan top-down.Orag-orang yang mendukung ini adalah Jerome Bruner, Richard Gregory dan Irvin Rock. Teori Persepsi Langsung Persepsi terbentuk dari perolehan informasi secara langsung dari lingkungan tanpa masukan dari faktor kognisi. Karena dalam teori ini lingkungan dirasa sudah cukup untuk memeberikan informasi sehingga pengamat tidak perlu mneyusun persepsi atau menari kesimpulan-kesimpulan. Teori ini memiliki banyak kesamaan dengan bottom-up tentang persepsi bentuk. Pendukung teori persepsi langsung adalad James Gibson & James Cutting. Pengenalan pola visual Adalah kemampuan mengenali & mengolah pola serta objek-objek visual telah dipelajari dari sejumlah perspektif teoretik. Teori-teorinya meliputi teori komputasional, teori Gestalt, pemprosesan bottom-up dan top-down, pencocokan template, analisis fitur, teori prototipe, & sebuah bentuk gabungan dari teori persepsi.

Teori Geon Teori geon merupakan kependekan dari Geometrikal ions. Teori ini memandang pola atau objek yang ada merupakan kumpulan geon yang tersusun. Misalnya sebuah cangkir, bentuk cangkir yang semikian adalah terdiri dari dua geon, yakni silinder dan sebuah elips. Selinder membentuk badan cangkir sedangkan elips adalah pada bagian pegangan cangkir. Biedreman mengajukan gagasan dalam teori geon bahwa pengenalan terhadap suatu objek seperti telepon, koper atau bahkan bentuk yang lebih lebih rumit terdiri dari recognitions pengenalan by componen kompleks ( pengenalan menjadi berdasar komponen) ( yakni

bentuk

bentuk

sederhana

Biederman

1985,1987,1990 Cooper & Biederman, 1993 dalam psikologi kognitif hal 136 ). Analisis fitur Analisis fitur merupakan sebuah pendekatan teori yang menyatakan bahwa pengenalan objek merupakan pemrosesan informasi tingkat tinggi yang didahului oleh pengidentifikasian stimuli kompleks yang masuk ke retina yang sesuai dengan fitur-fitur (Robert, Otto, Maclin dalam psikologi kognitif hal.140 ) sehingga sebelum kita memahami suatu pola informasi visula, kita mereduksi dan menganalisis komponen visual. Misalnya sebuah kata panah, kita tidak serta merta langsung

menggambarkan bahwa panah adalah suatu benda yang panjang yang memiliki ujung tajam dan runcing. Atau di eja sebagai kata P-A-N-A-H. Namun terlebih dahulu kita menganalisis fitur-fitur yang menjadi komponennya. Misalnya huruf a bisa di pecah menjadi dua garus horisontal (/ ) kemudia garis horisontal (-) sebuah ujung yang bersudut (^) dan dengan bagian bawah terbuka ( / ). Pergerakan mata dan pengenalan objek

Jenis penelitian ini mengasumsikan bahwa mata membuat gerakan sekadik, yaitu gerakan meloncat dari satu titik fiksasi ke fiksasi yang lain, yang berhubungan deangan visual yang di indera. Diasumsikan bahwa ketika anda melihat sesuatu dalam jangka waktu yang lama, maka akan di peroleh banyak informasi di banding dengan bila hanya melihat sekilas (Robert, Otto, Maclin dalam psikologi kognitif hal.142 ). Yarbus ( dalam psikologi kognitif hal 143 ) mengajukan gagasan bahwa semakin banyak informasi yang didapat dalam suatu fitur, maka akan semakin lama pula fiksasi mata terhadap fitur tersebut. 1. Pencocokan Prototipe Pendekatan teori lain tentang pengenalan suatu pola adalah teori pencocokan prototipe. Pencocokan prototipe lebih dari sekedar bentuk spesifik dari suatu template atau bahkan membentuk beragam fitur yang akan kita identifikasi. Kita akan menyimpan sejumlah pola abstraksi dalam memori, dan abstraksi tersebut berperan sebagai suatu prototipe. Sebuah pola yang akan di inderakan selanjutnya di bandingkan dengan prototipe dalam memori, jika ada kesamaan, maka pola dapat di kenali. 2. Abstraksi Informasi Visual Pencocokan template dapat terjadi dalam tahap pengenalan visual. Namun pada tahap yang lebih tinggi, atau tahap yang lain mungkin akan menggunakan pencocokan prototipe. Prototipe adalah sebuah abstraksi dari serangkaian stimuli yang mencangkup jumlah besar bentuk-bentuk serupa dari pola yang sama. (Robert, Otto, Maclin dalam psikologi kognitif hal.144 ). 3. Distinctive Feature Theory Dalam mengenal suatu bentuk, otak kita sudah mempunyai karakteristikkarakteristik tertentu. Teori ini menekankan pada kriteria/deskripsi.Penelitianpenelitian tentang banyaknya waktu yang dibutuhkan orang untuk mengenali

bentuk, berhubungan dengan karakteristik-karakteristik yang dimiliki bersama oleh bentuk-bentuk tersebut. Contoh: huruf G, antara P & R 4. Pseudomemori Dalam sebuah menggunakan eksperimen mengenai pembentukan prototipe dengan (1981b) yakni

prosedur Franks dan Bransford, Solso dan McCarthy kerap melakukan suatu kekeliruan,

menemukan bahwa para partisipan

mengenali prototipe sebagai suatu bentuk stimulus yang pernah sebelumnya (padahal prototipe belum pernah ditampilkan); bahkan

ditampilkan partisipan

merasa lebih yakin dibandingkan saat mereka mengidentifkasi bentuk-bentuk yang memang sudah pernah mereka lihat sebelumnya. Fenomena ini disebut

pseudomemori (pseudomemory) atau memori semu.

INGATAN (MEMORY)
Definisi Memori Memori atau disebut juga ingatan ialah suatu daya yang dapat menerima, menyimpan, dan memproduksi kembali informasi yang telah lampau. Definisi dari Schlessinger dan Groves (1976) adalah suatu sistem yang sangat berstruktur, yamg menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya. Setiap saat stimulasi mengenai indera kita, setiap saat pula stimulasi itu direkam secara sadar atau tidak sadar . berapa kemampuan rata-rata memori manusia untuk menyimpan informasi? John Griffith, ahli matematika, menyebutkan angka 10 (seratus triliun) bit. John von Neumann, ahli teori informasi, menghitungnya sampai 2.8 x 10 (280 kuintriliun) bit. Asimov menerangkan bahwa otak manusia selama hidupnya sanggup menyimpan sampai satu kuidriliun bit informasi.

Tahapan Memori

Secara singkat, memori memiliki tiga tahap proses : perekaman, penyimpanan, dan pemanggilan kembali.

a. Perekaman (disebut encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit syaraf internal. Dimana dalam tahap ini pesan yang diperoleh dari gejala fisik mengalami transformasi menjadi semacam kode yang dapat diterima.

b. Penyimpanan (storage), proses yang kedua, adalah menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa dan di mana. Penyimpanan bisa aktif atau pasif. Kita menyimpan secara aktif, bila kita menambahkan informasi tambahan. Kiti menyimpan informasi yang tidak lengkap dengan kesimpulan kita sendiri (inilah yang menyebabkan desas-desus menyebar lebih banyak dari volume asal). Mungkin secara pasif terjadi tanpa penambahan.

c. Pemanggilan kembali (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang disimpan. Yakni proses dimana informasi yang telah tersimpan dikeluarkan kembali sesuai dengan kebutuhan.

3. Bentuk Memori

Kita tidak menyadari pekerjaan memori pada dua tahap yang pertama. Kita hanya mengetahui memori pada tahap yang ketiga, pemanggilan kembali. Pemanggilan/ mengingat kembali diketahui dengan beberapa cara yaitu :

a). Rekognisi, merupakan bentuk ingatan yang sangat sederhana yaitu mengingat kembali kesan yang pernah diterima indera, seperti mengingat wajah kawan, lukisan, dan sebagainya.

b). Recall, merupakan bentuk mengingat sesuatu yang lebih sukar, seperti mengingatingat rangkaian kejadian yang pernah terjadi di masa yang lalu.

c). Reproduksi, merupakan bentuk ingatan yang lebih sukar lagi yaitu mengingat dengan cukup tepat untuk memproduksi bahan yang pernah dipelajari, seperti rekognisi sebuah nyanyian yang pernah dipelajari (recall) dengan tujuan menyajikannya kembali.

d). Performance, yaitu bentuk mengingat yang keempat yaitu mengingat performance kebiasaan-kebiasaan yang sangat romantis.

4. Jenis Memori

Jenis memori ada dua yaitu :

a. Memori jangka pendek, yakni memori atau ingatan yang berada dalam jangka waktu tertentu. Penyimpanan pada ingatan jangka pendek mempunyai kapasitas yang terbatas, sehingga dapat dengan mudah tergantikan oleh informasi yang lebih baru. Kapasitas penyimpanannya kurang lebih sebanyak antara 7 s.d. 12 butir atau chunk (kelompok unit) informasi. Apabila batas ini sudah penuh, maka informasi baru yang datang kemudian akan mengalihkan butir yang sudah ada. Butir-butir yang belum dialihkan dapat diingat kembali melalui suatu proses yang menguji setiap butir secara bergantian.

b. Memori jangka panjang, yaitu memori yang berada dalam jangka waktu yamg lebih lama. Kelemahan ingatan sering terjadi pada ingatan jangka panjang ini dan biasanya terjadi karena kegagalan pengingatan kembali. Sedangkan proses ingatan jangka panjag dimulai ketika chungking atau pengelompokan informasi menjadi unit-unit, lalu informasi itu dikonding ulang (recode) menjadi unit-unit yang besar dan bermakna

sehingga informasi itu disimpan dalam ingatan jangka pendek untuk kemudian diolah dan disusun maknanya menjadi informasi ada dalam ingatan jangka panjang. Makin banyak seseorang merinci makna sebuah informasi, maka makin banyak ingatan yang ia miliki.

5. Mekanisme Memori

Sudah lama orang ingin mengetahui bagaimana cara kerja memori. Secara praktis, orang ingin mencari cara-cara untuk mengefektifkan pekerjaan memori. Bukankah bila memori kita handal, kita dapat menggunakannya sebagai arsip yang murah , praktis, efisien, dan portabel (mudah dibawa)? Tetapi memori kita sering tidak berfungsi dengan baik yaitu salah satunya kita sering lupa. Untuk mengetahui pekerjaan memori, kita harus menjawab mengapa orang bisa lupa, jawabannya mengapa orang bisa ingat. Ada tiga teori yang menjelaskan tentang memori : teori aus. Teori interferensi, dan teori pengolahan informasi.

6. Beberapa Teori Tentang Memori

a). Teori Aus (Disuse theory)

Menurut teori ini, memori hilang atau memudar karena waktu. Seperti otot, memori kita baru kuat, bila dilatih terus-menerus. Sejak zaman yunani sampai sekarang, masi ada anggapan bahwa tugas guru adalah melatih ingatan muridnya. Selama sekolah orang hanya belajar mengingat. Lagi pula, tidak selalu waktu yang mengauskan memori. Sering terjadi, kita masi ingat pada peristiwa puluhan tahun yang lalu, tetapi lupa kejadian seminggu yang lalu.

b). Teori interferensi (Interference theory)

Menurut teori ini, memori merupakan meja lilin atau kanvas. Pengalaman adalah lukisan pad meja lilin atau kanvas itu. Katakanlah, pad kanvas itu sudah terlukis hukum relativitas. Segara setelah itu, anda mencoba merekam hukum medan gabungan. Yang kedua akan menyebabkan terhapusnya rekaman yang pertama atau mengaburkannya. Ini disebut interferensi.

c). Teori Pengolahan Informasi (Information Processing Memory)

Secara singkat, teori ini menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan pad sensory storge (gudang inderwi), kemudian masuk shor-term memory (STM, memori jangka pendek) lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukkan ke dalam long-term memory (LTM, memori jangka panjang). Otak manusia dianalogikan dengan komputer.

7. Cara Mengingat Kembali

Beberapa cara untuk mengingat kembali hal-hal yang sudah pernah terjadi dan diketahui sebelumnya, yaitu :

a. Rekoleksi

Yaitu menimbulkan kembali dalam ingatan suatu peristiwa, lengkap dengan segala detail dan hal-hal yang sedang terjadi disekitar tempat peritiwa itu dahulu terjadi. Misal, seorang pria mengingat peristiwa dimana untuk pertama kali ia pergi dengan seorang gadis.

b. Pembaruan Ingatan

Hampir sama dengan rekoleksi, tetapi ingtan hanya timbul kalau ada hal yang

merangsang ingatan itu. Misal, dari contoh diatas ingatan akan timbul setelah pria tersebut secara jebetulan jumpa dengan gadis yang bersangkutan.

c. Mempelajari Kembali

Hal ini akan terjadi kalau kita mempelajari sesuatu yang dulu pernah kita pelajari. Maka untuk mempelajari hal yang sama kedua kalinya ini, banyak hal-hal yang akan diingat kembali, sehingga tempo belajar akan menjadi jauh lebih singkat dari sebelumnya. E. Kelupaan Kelupaan terjadi karena materi yang disimpan dalam ingatan itu jarang ditimbulkan kembali dalam alam kesadaran yang akhirnya mengalami kelupaan. Hali itu dikarenakan interval merupakan titik pijak dari teori-teori tentang kelupaan. Ada lima teori lupa, yaitu: 1. Decay Theory (Atropi), teori ini beranggapan bahwa memori menjadi semakin aus dengan berlalunya waktu bila tidak pernah diulang kembali ( rehearsal). Informasi yang disimpan dalam memori akan meninggalkan jejak-jejak (memory trace) yang bila dalam jangka waktu lama tidak ditimbulkan kembali dalam alam kesadaran, akan rusak atau menghilang.

2.

Teori Interferensi, teori ini menitikberatkan pada isi interval. Teori ini beranggapan bahwa informasi yang sudah disimpan dalam memori jangka panjang masih ada dalam gudang memori (tidak mengalami keausan), akan tetapi jejak-jejak ingatan saling bercampur aduk, mengganggu satu sama lain. Bisa jadi bahwa informasi yang baru diterima mengganggu proses mengingat yang lama, tetapi juga terjadi sebaliknya. Bila informasi yang baru kita terima menyebabkan kita sulit mencari informasi yang sudah ada dalam memori kita, maka terjadilah interferensi retroaktif. Sedangkan, bila informasi yang kita terima sulit untuk diingat karena adanya pengaruh ingatan yang sama, maka terjadi proses interferensi proaktif.

3.

Teori Retrieval Failure, teori ini sebenarnya sepakat dengan teori interferensi bahwa informasi yang sudah disimpan dalam memori jangka panjang selalu ada, tetapi

kegagalan untuk mengingat kembali lebih disebabkan tidak adanya petunjuk yang memadai. Dengan demikian, bila syarat tersebut dipenuhi (disajikan petunjuk yang tepat), maka informasi tersebut tentu dapat ditelusuri dan diingat kembali.

4.

Teori Motivated Forgetting, menurut teori ini, seseorang akan cenderung berusaha melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Hal-hal yang menyakitkan atau tidak menyenangkan ini akan cenderung ditekan atau tidak diperbolehkan muncul dalam kesadaran. Jadi, teori ini beranggapan bahwa informasi yang telah disimpan masih selalu ada.

5.

Lupa Karena Sebab-sebab Fisiologis, para peneliti sepakat bahwa setiap penyimpanan informasi akan disertai berbagai perubahan fisik di otak. Perubahan fisik ini disebut engram. Gangguan pada engram ini akan mengakibatkan lupa yang mengakibatkan amnesia. Bila yang dilupakan adalah berbagai informasi yang telah disimpan beberapa waktu yang lalu, yang bersangkutan disebut menderia amnesia retrograd. Bila yang dilupakan adalah informasi yang baru saja diterimanya, maka orang tersebut menderita amnesia anterograd.

F.

Beberapa Eksperimen Mengenai Ingatan Beberapa metode yang digunakan dalam penelitian ingatan dapat dikemukakan sebagai berikut:

1.

Metode dengan melihat waktu atau usaha belajar (the learning time method) Metode ini merupakan metode penelitian ingatan dengan melihat sejauh mana waktu yang diperlukan oleh seseorang untuk dapat menguasai materi yang dipelajari dengan baik, seperti dapat mengingat kembali materi tersebut tanpa kesalahan. Misalnya seseorang yang disuruh mempelajari suatu syair lagu dan orang tersebut harus menimbulkan kembali syair tanpa ada kesalahan. Bila kriteria ini telah terpenuhi, maka diukur waktu yang diperlukan hingga mencapai kriteria tersebut. Individu yang satu lebih cepat daripada individu yang lain, tetapi ada pula yang lambat. Hal tersebut menunjukkan bahwa waktu atau usaha yang dibutuhkan oleh seseorang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing.

2.

Metode belajar kembali (the relearning method) Metode ini merupakan metode yang berbentuk dimana suatu individu disuruh mempelajari kembali materi yang telah dipelajari sampai pada suatu kriteria tertentu. Dalam relearning, untuk mempelajari materi yang sama untuk kedua kalinya membutuhkan waktu yang relatif lebih singkat dibanding dengan pertemuan pertama. Jadi, dapat disimpulkan bahwa semakin sering dipelajari, semakin singkat waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya, dan semakin banyak materi yang dapat diingat dengan baik, dan makin sedikit materi yang dilupakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses relearning ada waktu yang dihemat untuk disimpan. Oleh karena itu metode ini disebut juga dengan metode saving method.

3.

Metode rekonstruksi Metode ini menugaskan individu untuk mengkronstruksi kembali materi yang telah diberikan kepadanya. Dalam mengkonstruksi kembali dapat diketahui waktu yang digunakan, kesalahan-kesalahan yang diperbuat, sampai pada kriteria tertentu. Contohnya seperti bermain puzzle.

4.

Metode mengenali kembali (recognition) Dalam metode ini penelitian dalam memori ditekankan pada recognition (mengenal kembali). Jadi subjek diminta untuk mempelajari materi kemudian materi tadi disajikan ulang dengan penyertaan materi lain. Adanya materi lain untuk mentes subjek apakah ia mampu mengenal kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya diantara materimateri lain yang disajikan.

5.

Metode mengingat kembali Dalam metode ini yang ditekankan adalah proses recall (mengingat kembali) terhadap apa yangtelah dipelajari sebelumnya. Misalnya pada tes yang berbentuk essai atau pada tugas-tugas pengarang dimana subjek diminta untuk mengingat kembali peristiwa atau pengalaman yang dialaminya.

6.

Metode asosiasi berpasangan

Metode ini mengambil bentuk subjek disuruh mempelajari materi secara berpasang-pasangan. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mengingat apa yang telah dipelajarinya, maka dalam evaluasi, salah satu pasangan digunakan sebagai stimulus, dan subjek disuruh menampilkan kembali (baik recall maupun recognition).

Daftar Pustaka

1. http://edukasi.kompasiana.com/2013/10/08/pengenalan-objek-pada-kognitif599729.html 2. http://sejarah.kompasiana.com/2013/09/14/pengertian-psikologi-kognitif-dengansejarahnya-591782.html 3. Solso, Robert L. 1995. Cognitive Psychology, fourth edition. Allyn and Bacon. A simon & Schuster Company. 4. Solso, Robert L, dkk. ( 2005 ), Psikologi Kogntif, Jakarta, Airlangga. 5. Azhari, Akyas.(2004).Psikologi Umum dan Perkembangan.Jakarta:Penerbit Teraju. 6. Sarlito Wirawan Sarwono.(1976).Pengantar Umum Psikologi.Jakarta:Bulan Bintang. 7. Sabri, M. Alisuf.(1993).Pengantar Psikologi Umum danPerkembangan.Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya.

8. Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.