Anda di halaman 1dari 4

Kesehatan 1.

HIV/AIDS Walaupun penelitian terbaru yang dilakukan telah menemukan bahwa apabila seorang ibu yang positif HIV menyusui secara eksklusif bayinya selama 6 bulan, maka justru akan menurunkan resiko penularan terhadap bayinya, namun dalam hal berbagi ASI, seorang ibu yang positif HIV tidak dianjurkan untuk mendonorkan ASI (kekhawatiran terhadap resiko penularan serta efek sampingan dan terapi pengobatan yang sedang dijalankan). Di luar negeri, ASI donor secara rutin dipanaskan dengan metode flash heating, karena virus HIV dapat di non-aktifkan dengan memanaskan ASI pada suhu derajat yang tinggi. Flash heating dapat juga dilakukan di rumah. Berikut link dari youtube mengenai Flash Heating Breast Milk Kills HIV 2. Hepatitis B dan C Secara teori, memang ada kemungkin resiko penularan virus Hepatitis B dan C, tetapi ini hanya akan terjadi apabila ASI yang didonorkan terkontaminasi oleh darah seorang ibu yang menderita penyakit tersebut (kontaminasi darah dalam ASI yang disebabkan, misalnya, oleh putting luka/lecet). 3. TBC Resiko penularan TBC melalui ASI donor hampir tidak ada, kecuali apabila ibu yang mendonorkan ASI menderita infeksi TBC yang memang terlokalisasi di daerah payudara, kasus yang sangat jarang terjadi. Resiko penularan TBC pada seorang bayi yang sedang menyusu akan terjadi ketika ibunya yang terinfeksi dengan penyakit tersebut bernafas atau batuk tepat di muka bayinya, sehingga partikel-partikel TBC akan terhirup langsung oleh bayi. Penularan tidak terjadi melalui ASI. 4. CMV (cytomegalovirus) dan HTLV (human T lymphotropic virus) Seorang ibu yang terinfeksi dengan CMV, maka ada kemungkinan ASI-nya juga mengadung virus tersebut sehingga timbul resiko penularan terhadap bayinya. Namun demikian, karena manfaat pemberian ASI jauh melebihi resiko penularan itu sendiri (resiko penularannya tergolong kecil), dan karena ASI mengadung zat-zat antibodi yang melindungi terhadap penyakit CMV, maka ibu yang terinfeksi CMV tetap dianjurkan untuk terus menyusui bayinya. Untuk donor ASI, ibu yang terinfeksi dengan CMV tidak dianjurkan untuk menyumbangkan ASI-nya. Sama dengan kasus seorang ibu yang menderita penyakit HIV/AIDS dan CMV, seorang ibu yang terinfeksi HTLV juga tidak disarankan untuk menyumbangkan ASInya. Namun demikian, HTLV-1 (dan seluruh sel-selnya) akan musnah dalam jangka waktu 20 menit dengan memanaskan pada suhu 56C (atau dalam jangka waktu 10 menit pada suhu 56C), atau membekukan pada suhu -20C selama 12 jam. (56 May JT. Molecular Virology: Tables of Antimicrobial Factors and Microbial Contaminants in Human Milk. Table 7: Effect of heat treatment or storage on antimicrobial factors in human milk). 5. Rokok, Narkoba dan Alkohol Penting untuk mengetahui apakah ibu yang mendonorkan ASI adalah seorang perokok, sering mengkonsumsi alkohol (kurang dari 1 gelas per hari biasanya dianggap aman tetapi alkohol dapat menyebabkan gangguan tidur pada bayi), dan mengkonsumsi kafein dalam jumlah yang besar (lebih dari 1-2 cangkir perhari dapat menyebabkan bayi menjadi rewel). Penggunaan seluruh jenis narkotika dan obatobatan terlarang adalah tidak aman.

6. Obat-obatan Sebagian besar obat-obatan yang dijual secara bebas maupun yang diresepkan oleh dokter adalah tergolong aman, dan daftar obat-obatan yang termasuk tidak aman bagi seorang ibu yang menyusui sangat pendek. Contoh obat-obatan yang aman termasuk antibiotika, obat asma, tiroid dan anti-depresan. Untuk referensi tingkat keamanan obat-obatan yang dikonsumsi oleh seorang ibu menyusui, dapat menggunakan buku karangan Thomas Hale, berjudul Medications and Mothers Milk, atau gunakan daftar yang diterbitkan oleh AAP (American Academy of Pediatrics) (The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk Committee on Drugs 108 (3): 776 AAP Policy), atau gunakan LactMed Search. Catatan, bank ASI yang terdapat di luar negeri sebagian besar tidak menerima donor ASI dari seorang ibu yang sedang mengkonsumsi obat-obatan maupun seorang ibu yang merokok. (sumber: Massachusetts Breastfeeding Coalition, March 2005 dan GUIDELINES FOR THE ESTABLISHMENT AND OPERATION OF HUMAN MILK BANKS IN THE UK dan Nutritional Support of the VLBW Infant) Ditinjau dari segi agama Islam Kita harus mempertimbngkna menyangkut masalah agama dan kepercayaan. Memang dalam hal donor ASI, yang seringkali menjadi bahan perdebatan bagi kalangan muslim adalah apakah bayi yang menerima donor ASI akan otomatis menjadi saudara sepersusuan dengan bayi yang ibunya mendonorkan ASI tersebut? 1. Berbagi ASI Otomatis Menjadi Saudara Sepersusuan Ada sebagian golongan yang menyatakan bahwa apabila seorang bayi minum ASI dari ibu lain, baik secara langsung (dari payudara) atau tidak (dengan ASI perah), maka secara MUTLAK bayi tersebut akan menjadi saudara sepersusuan dengan bayi ibu yang mendonorkan ASI tersebut (apabila kedua bayi tersebut berlainan jenis, perempuan dan laki-laki, maka di kemudian hari dilarang untuk menikah). Dalam hal ini, sudut pandangan yang diambil adalah bahwa dengan minum 3 tegukan ASI (langsung dari payudara ataupun ASI perah), maka kedua bayi tersebut sudah otomatis menjadi saudara sepersusuan karena pertimbangan cairan ASI yang sudah masuk ke dalam tubuh bayi penerima donor. 2. Berbagi ASI Tidak Otomatis Menjadi Saudara Sepersusuan Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dalam Fatwa-Fatwa Kontemporer (Gema Insani Press), tidak semudah itu seorang bayi yang menyusu pada ibu lain menjadi saudara sepersusuan dengan bayi ibu tersebut. Syarat utama adalah apabila seorang bayi yang disusui oleh ibu lain, maka hal tersebut menimbulkan rasa keibuan yang menyerupai rasa keibuan karena nasab, yang menumbuhkan rasa kekanakan (sebagai anak), persaudaraan (sesusuan), dan kekerabatan-kekerabatan lainnya. Kemudian, diterangkan pula bahwa, Adapun sifat penyusuan yang mengharamkan (perkawinan) hanyalah yang menyusu dengan cara menghisap tetek wanita yang menyusui dengan mulutnya.Sehingga menurut pandangan Dr. Yusuf Qardhawi, bayi yang mendapatkan donor ASI dari ibu lain, yaitu ASI perah dan bukan menyusu langsung pada ibu donor tersebut, maka TIDAK akan menjadi saudara sepersusuan dengan bayi si ibu pendonor. 3. Hubungan Anak dengan Ibu Susu dan Saudara Sepersusuan ASI adalah filtrasi darah ibu sehingga ASI bisa menjadi pembawa sifat. Maka dari itulah ada hukum yang menyebutkan ibu susu dengan anak yang mendapatkan susu

dari dirinya, hukumnya sama seperti halnya ibu dengan anak kandung. Begitu juga, anak-anak si ibu susu menjadi saudara sepersusuan anak tersebut.Antara ibu susu dengan anak yang mendapat susu darinya jatuh hukum Tahrim (haram kawin-Red.) kepada mereka, tak terkecuali kepada saudara sepersusuan mereka, (makalah Hj. Nur Endah Nizar Lc., fungsionaris Nahdatul Ulama (NU) Jatim yang juga anggota DPRD Jatim, dengan judul *Keutamaan Air Susu Ibu (ASI) Ditinjau dari Syariat Agama Islam dan Kesehatan*), karena: 1. Dalam kegiatan menyusui anak akan selalu timbul hubungan batin antara ibu yang menyusui dan bayi atau anak yang menerima ASI, yakni hubungan batin dalam bentuk kasih sayang. Sekalipun anak yang disusukan itu bukan anak kandung. 2. Jika seorang anak disusukan wanita yang bukan ibu kandungnya, otomatis dia akan menjadi ibunya. Oleh sebab itu berlaku Tahrim sebagaimana sabda Rasullah SAW, Bahwa menyusukan menyebabkan tahrim, sama seperti tahrimnya melahirkan, atau pengharaman sebab kelahiran. (HR Muslim).Sekalipun begitu, antara ibu susu, anak yang disusukan, dan saudara sepersusuan bisa tidak timbul hukum Tahrim, jika: 1. Pemberian ASI melalui jarum suntik. Maksudnya, secara tak langsung; diperah dulu lalu diberikan lewat botol susu atau sendok; 2. ASI diencerkan, dikentalkan, dibekukan, atau dibuat bahan makanan terlebih dulu sebelum dikonsumsi; 3. ASI dicampur air, obat, minyak, dan atau sebaliknya; 4. ASI dicampur ke dalam makanan anak, dan atau sebaliknya; 5. ASI ibu yang satu telah dicampur dengan ASI ibu lain baru kemudian diminumkan pada anak.

MUI sendiri menurut Hj Mursyidah, belum mengeluarkan fatwa terkait donor ASI. Mengenai hukum Bank ASI, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi menyatakan tidak ada nash yang melarangnya, dengan catatan tetap memenuhi kaidah syariat. Fatwa berbeda dikeluarkan oleh Majma Al Fiqh Al Islami, lembaga fiqih internasional yang berada di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam (OKI), institusi seperti Bank ASI diharamkan. Alasannya: 1. Donor ASI dapat merancukan nasab akibat saudara sepersusuan yang mungkin menikah 2. Hilangnya sifat keibuan karena ibu tidak menyusui langsung 3. Halangan syariat lainnya seperti ketidakpastian kesehatan dan halal-haramnya makanan pendonor Sebenarnya, di Indonesia sendiri menurut Dhiba, Sekjen AIMI, belum ada Bank ASI. Praktik masih terjadi secara tradisional, artinya tidak ada lembaga yang secara khusus menangani donor ASI. Di luar negeri, melalui Bank ASI, pendonor ASI diperiksa kesehatannya dan dipastikan bebas penyakit berbahaya. ASI kemudian dipasteurisasi dalam suhu rendah (62,5 - 63 derajat celcius) selama 30 menit untuk mematikan bakteri dan virus berbahaya, seperti HIV dan CMV. Selain itu, ASI disimpan di dalam freezer dengan suhu minimal -20 derajat celcius untuk memastikan komposisi ASI tidak mengalami perubahan. Walaupun ASI bisa dipastikan sehat, namun menurut OKI, kita tidak bisa memastikan makanan yang dikonsumsi pendonor sepenuhnya halal, apalagi mayoritas penduduknya adalah non-muslim. Sekarang, pilihan ada pada masing-masing ibu. Memang, sebaiknya ibu menyusui sendiri bayinya. Namun, jika terdapat keterbatasan, sebaiknya donor ASI dilakukan secara tradisional, bukan melalui Bank ASI. Sehingga pendonor ASI jelas identitasnya. Sebaiknya pun ibu memilih pendonor ASI yang memang sudah dikenal dan jelas kesehatannya, akan lebih baik lagi jika masih dalam hubungan sanak famili sehingga jelas hubungan kekeluargaannya. Sumber : Aini Firdaus. 2012. Halalkah donor ASI?. Majalah UMMI No.12/XXIV/Desember 2012/1434 H

Anda mungkin juga menyukai