Anda di halaman 1dari 55

Tutor : dr. Adrian Suhendra, SpPK., M.Kes.

, Anggota : Chandra Putri Sarah Ardo Sanjaya Cindy Agnes L Shannon Juni Royntan Tampubolon Raisha Theodora Jannete Andriani Fajri Lirauka Audy Nugraheni M Latelay

DISLOKASI ARTICULATIO GLENOHUMERALE

M. supraspinatus: O: fossa supraspinata Letak: berjalan di bawah acromion menuju tuberculum majus humerus sambil melindungi articulatio glenohumeralis di bagian superior M. infraspinatus: O: fossa infraspinata I: tuberculum majus humerus.

M. teres minor: Letak: inferior terhadap m. infraspinatus O: fossa infaspinata bagian bawah I: tuberculum majus M. teres major: O: angulus inferior scapula I: crista tuberculi minoris humerus

M. subscapularis: Letak: di sebelah ventral scapulae: O: fossa subscapularis dan terjepit di antara m. serratus anterior dan scapula. I: crista tuberculi minoris.

M. deltoideus: - O: tepi bawah spina scapulae dan permukaan ventral/lateral clavicula. - I: tuberositas deltoidea.

M. coracobrachialis: - O: processus coracoideus - I: facies anteromedialis humerus.

Exitability Elastisity Contractibility Extensibility Conductivity

Berdasarkan panjang otot dan kuat kontraksi 1. Kontraksi isotonis: Tonus otot konstan Ukuran otot memendek 2. Kontraksi isometris: Ukuran otot tetap Tonus otot berubah

Berdasarkan banyaknya kontraksi: 1. Kontraksi tunggal/single; terdiri dari: Fase latent Fase kontraksi Fase relaksasi 2. Kontraksi multiple

Menurunnya iritabilitas dan kontraktibilitas otot. 2 macam: 1. Kelelahan transmisikarena adanya hambatan pada saat penghantaran impuls oleh saraf 2. Kelelahan kontraksi karena kontraksi otot yang terus-menerus. Kelelahan kontraksi ada 2 macam: Kelelahan parsial: terjadi secara bertahap, kontraksi masih ada tetapi tidak optimal. Kelelahan total: tidak terjadi kontraksi otot sama sekali.

Faktor-faktor yang menyebabkan kelelahan otot antara lain: Penimbunan sisa metabolisme otot yaitu asam laktat. Kekurangan sumber tenaga (misalnya glukosa, oksigen). Malnutrisi. Gangguan sistem peredaran darah sehingga suplai oksigen terganggu. Aktivitas yang berlebihan

1. Perubahan bentuk Saat kontraksi, otot memendekk, tetapi tidak mengalami perubahan volume 2. Perubahan kimia Energi yang digunakan otot untuk kontraksi berasal dari perubahan kimia di dalam otot tersebut 3. Perubahan panas Dari seluruh energi yang digunakan untuk kontraksi hanya 20 %, untuk kerja dan selebihya hilang dalam bentuk panas. Ada 2 panas yang timbul yaitu:

a. Initial Heat: panas yang timbul pada saat respon mekanik (pada permulaan kontraksi) - Heat of activation: panas yang dihasilkan dari periode latent sampai tepat sebelum kontraksi. - Heat of shortening: panas yang dihasilkan ketika otot berkontraksi. - Heat of maintenance: panas yang dihasilkan selama otot relaksasi. b. Recovery Heat: panas yang dihasilkan setelah respon mekanik selesai dengan laju yang rendah dan jangka waktu yang lama, energi yang dipakai untuk mensintesa lagi glikogen yang dipakai untuk pemulihan otot.

4. Perubahan listrik waktu kontraksi terjadi perubahan muatan listrik pada otot sehingga timbul arus listrik dari daerah positif ke negatif.

penjumlahan kedutan otot untuk memperkuat dan menyelenggarakan pergerakan otot; terjadi dengan 2 cara: 1. Dengan meningkatkan jumlah motor unit yang berkontraksi secara bersama-sama (sumasi unit motorik multiple). 2. Dengan meningkatkan kecepatan kontraksi/frekuensi kontraksi, dapat menyebabkan tetanisasi (sumasi frekuensi). tetanus incomplete. tetanus complete.

Langkah A: kepala myosin menempel pada aktin. (High energi ADP + Pi) Langkah B: Power stroke: pergerakan kepala myosin m enarik filamen aktin ke tengah (ADP+Pi released) Langkah C: jembatan silang melepaskan ketika ATP ba ru mengikat dengan myosin tersebut. Langkah D: memiringkan kepala myosin terjadi ketika ATP ADP + P oleh ATP-ase (hidrolisis ATP)

Dislokasi glenohumeral adalah terpisahnya seluruh bagian yang membentuk sendi glenohumeral akibat rudapaksa/trauma.

Dislokasi bahu anterior merupakan kondisi dimana keluarnyacaput humeri dari cavitas artikulare sendi bahu yang dangkal. Dislokasi sendi bahu anterior biasanya terjadi setelah cedera akut karena lengan di paksa ber abduksi, berotasi eksterna dan ekstensi sendi bahu.

Pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral dapat terjadi pada bagian : anterior dan medial glenoid disebut sebagai dislokasi anterior , caput humeri bergeser ke medial dibawah processus coracodeus.

Posterior disebut sebagai dislokasi posterior caput humeri masih terletak dilateral tapi masih berada diposterior dalam fosa infraspinatus.

di bawah glenoid disebut sebagai dislokasi inferior/ luksasi erecta

Dewasa muda : Paling tinggi ( terutama di bawah 20 tahun) 60 % antara umur 20-40 tahun. 10 % > 40 tahun.

KALSIFIKASI Kongenital Congenital dislocation berhubungan dengan congenital deformities / terjadi sejak lahir karena ada kesalahan pertumbuhan. Trauma dislokasi trauma, biasanya disertai benturan keras. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
Dislokasi akut mumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi.

Dislokasi kronik Dislokasi berulang Jika suatu trauma dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint.

Dislokasi disebabkan oleh : 1. Cedera olah raga Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olahraga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.

2. Trauma yang tidak berhubungan dengan olahraga Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi. 3.Terjatuh Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin. 4.Patologis Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. Misalnya adanya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini di sebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.

terjadi karena bahu dipaksa abduksi dan rotasi eksterna,mekanisme ini menyababkankaput humeri tedorong kedepan dan membuat labrum anterior gleonoidalis dan kapsula sendi mengalami avulasi/robekan(lesi bankhardt). Pada dislokasi berulang dapat menyebabkan lesi hill-sachs pada bagian posterolateral caput humerus,yaitu suatu fraktur kompresi akibat kaput humerus menekan glenoid anterior setiap kali mengalami dislokasi

deformitas sendi terdapat kelainan bentuk misalnya hilangnya tonjolan tulang normal, misalnya deltoid yang rata pada pemeriksaan fisik pergerakan art.glenohumerale terbatas dapat teraba depresi yang dalam antara caput humeri dan acromion di lateral rasa nyeri yang hebat bila bahu digerakkan terutama bila menahan beban

Lengan menjadi kaku dan siku agak terdorong menjauhi sumbu tubuh Korban mengendong tangan yang sakit dengan yang lain Korban tidak bisa memegang bahu yang berlawanan

KOMPLIKASI

Cedera saraf : saraf aksila Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla Fraktur dislokasi Komplikasi lanjut Kekakuan sendi bahu dislokasi yang berulang kelemahan otot

Skenario : Nama : tn x seorang atlet basket, berusia 20 tahun, masuk UGD K.U : Keluhan nyeri dan sulit menggerakan bahu kanan akibat terjatuh saat berkompetisi setengah jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien jatugh terjengkang ke belakang dengan posisi lengan kanan lurus menahan jatuhnya badan. Setelah itu pasien amat kesakitan dan menopang lengan kanannya dengan lengan kirinya serta menolak usaha temanteman yang akan memeriksa lengannya yang cedera.

Status lokasi: Inspeksi : kontur bahu kanan melandai (flattened), terlihat tonjolan di sisi medial axilla. Palpasi : nyeri tekan, teraba tonjolan di sisi medial axilla Range of mation : pada art, glenohumerale fleksi-ekstensi, abduksi-abduksi, endo-eksorotasi, baik aktif maupun pasif terbatas karena nyeri.

X-ray Antero posterior, oblique, lateral - CT- scan


-

DISLOKASI

FRAKTUR

Def : pergeseran sedi. Etiologi : gerak berlebihan saat olahraga ,trauma langsung. Insidensi : atlet. Gejala klinik : nyeri, tangan yang terkena lebih panjang karna ada tonjolan.

Patah tulang. Gerak berlebihan, trauma,osteoporosis. Semua umur, pada orang tua yang terkena osteoporosis. Bengkak, memar,krepitasi,deformi tas,spasme otot.

Non Farmakologis 1. Reduksi a) Stimpson Technique b) Kochers Technique c) Hippocrates Method d) Metode Eksternal Rotation 2. Surgery

Farmakologis 1. Analgesia (Pain Relief, Muscle Relaxation) 2. NSAID (Pain Relief after relocation) Terapi fisik sesudah reduksi 1. Immobilisasi (1-3 minggu) 2. Passive Range of Motion Exercise 3. Vigorous Exercise in Young Adults (>3months)

PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad bonam Quo ad sanationam : ad bonam