Anda di halaman 1dari 5

Dislokasi Sendi Bahu

DISLOKASI SENDI BAHU Dr. E. Marudut S. Sp.OT SMF BEDAH ORTHOPEDI RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung, DISLOKASI SENDI BAHU ( Gleno Humeral Joint ) Stabilitas sendi bahu tergantung dari otot-otot dan kapsul, tendon yang mengitari sendi bahu. Sedangkan hubungan antara kepala humerus dan cekungan glenoid terlalu dangkal Karena susunan anatomi diatas maka sendi bahu merupakan sendi yang mudah mengalami dislokasi. Pada waktu terjadinya dislokasi yang pertama terjadi kerusakan kapsul sendi dibagian anterior Dengan adanya robekan tadi, maka sendi bahu kan mudah mengalami dislokasi ulang bila mengalami cidera lagi, hal ini disebut sebagai Recurrent dislokasi Beberapa bentuk dislokasi sendi bahu: Anterior Posterior Superior Inferior ( Luxatio erecta ) Pada luxatio erecta posisi lengan atas dalam posisi abduksi, kepala humerus terletak dibawah glenoid, terjepit pada kapsul yang robek . Karena robekan kapsul sendi lebih kecil dibanding kepala humerus, maka sangat susah kepala humerus ditarik keluar, hal ini disebut sebagai efek lubang kancing ( Button hole effect ) Dislokasi Anterior Sering terjadi pada usia dewasa muda karena KLL atau olahraga Biasanya terjadi karena gerakan puntiran keluar ( ekternal rotasi ) tekanan kearah ekstensi dari sendi bahu Posisi lengan atas dalam posisi abduksi Dalam posisi tersebut diatas akan terjadi regangan yang berat pada kapsul yang melekat pada glenoid bagian depan bawah.

Pertemuan kapsul dengan glenoid berupa fibrocartilage. Kalau daya dorongnya terlalu kuat terjadilah alfusi fibrocartilage dibagian bawah dan depan glenoid , lesi ini disebut sebagai BANKART Laesi. Karena terjadi robekan kapsul, kepala humerus akan keluar dari cekungan glenoid kearah depan dan medial, kebanyakan tertahan dibawah coracoid Mekanisme lain terjadinya dislokasi adalah trauma langsung. Penderita jatuh pundak bagian belakang terbentur lantai atau tanah gaya akan mendorong permukaan belakang humerus bagian proksimal kedepan . Gejala Klinik Pundak terasa sakit sekali, bentuk pundak asimetris, dimana bentuk deltoid pada sisi yang cidera tampak mendatar , hal ini disebabkan kepala humerus sudah keluar dari cekungan glenoid ke depan Pada palpasi, didaerah subacromius jelas teraba cekungan Posisi lengan bawah dalam kedudukan abduksi dan eksorotasi Pemeriksaan Penunjang X-ray AP Penanggulangan Dilakukan reposisi tertutup 1. Cara Hippocrates Penderita tidur terlentang diatas meja, lengan penderita pada sisi yang sakit ditarik ke distal, posisi lengan sedikit abduksi. Sementara itu kaki penolong ditekankan ke aksila 2. Cara Kocher Penderita ditidurkan diatas meja. Penolong melakukan gerakan yang dapat dibagi menjadi 4 tahap : * tahap 1 : dalam posisi siku fleksi penolong menarik lengan atas kearah distal. * tahap 2 : dilakukan gerakan ekserotasi dari sendi bahu * tahap 3 : Melakukan gerakan adduksi dan fleksi pada sendi bahu * tahap 4 : Melakukan gerakan endorotasi sendi bahu Setelah terreposisi sendi bahu difiksasi dengan dada, dengan verban dan lengan bawah digantung dengan sling (mitella ) selama 3 minggu 3. Cara Stimson Penderita tidur tengkurap diatas meja, lengan yang cidera dibiarkan tergelantung ke bawah, lengan diberi beban seberat 5 7,5 Kg, dibiarkan selama 20 25 menit. Yang sering dipakai cara Kocher

Dislokasi Bahu

Rate this item Written by font size Print Email


(0 votes)

1 2 3 4 5

Apa itu dislokasi bahu ?


Sebelum kita dapat memahami mengenai apa itu dislokasi bahu, kita harus mengerti dahulu

mengenai struktur bahu yang normal. Bahu kita pada dasarnya terdiri dari dua buah sendi, yaitu sendi akromioklavikula (pertemuan antara tulang belikat dan tulang bahu) dan sendi glenohumeral (pertemuan antara tulang belikat dan tulang lengan atas). Sendi glenohumeral merupakan sendi dengan macam gerakan yang paling banyak pada tubuh kita, oleh karena itu sendi tersebut menjadi sendi yang paling sering mengalami dislokasi / pergeseran dibandingkan dengan sendi lainnya. Dislokasi bahu terjadi saat bonggol tulang lengan atas bergeser dari tempatnya di tulang belikat.

Kapan dislokasi bahu dapat terjadi ?

Seperti yang kita ketahui bersama, cedera olahraga dapat terjadi pada semua orang, baik seorang atlet maupun seseorang yang melakukan olahraga untuk mengisi waktu luangnya. Dislokasi bahu termasuk cedera yang sering terjadi, terutama pada olahraga yang bersifat olahraga kontak, seperti misalnya gulat, yudo dan polo air, ataupun olahraga dengan risiko jatuh yang tinggi, seperti bersepeda dan panjat tebing. 95 % kasus dislokasi / pergeseran sendi bahu terjadi ke arah depan, namun sebenarnya pergeseran ini dapat terjadi ke segala arah. Pergeseran sendi bahu ke arah depan dapat terjadi karena pergerakan paksa tulang lengan atas ke arah menjauhi badan yang disertai puntiran ke arah luar. Sedangkan pergeseran sendi bahu ke arah belakang dapat terjadi karena sesorang terjatuh dalam posisi lengan terentang ke samping.

Apa tanda-tanda terjadinya dislokasi bahu ?


Saat seseorang mengalami dislokasi bahu, maka yang langsung dirasakan adalah nyeri pada bahu. Selain itu, juga akan terlihat bengkak pada bahu. Posisi lengan setelah peristiwa trauma yang terjadi dapat berguna untuk membedakan arah pergeseran sendi bahu. Bila dalam keadaan rileks, lengan menjadi terputar ke arah luar (sehingga lipat siku menghadap ke arah depan), maka yang terjadi adalah pergeseran sendi bahu ke arah depan. Pada pergeseran sendi bahu ke arah depan, pasien juga akan mengalami nyeri saat diminta memutar lengannya ke arah dalam. Sebaliknya pada pergeseran sendi bahu ke belakang, maka lengan akan terputar ke arah dalam (sehingga lipat siku menghadap ke arah belakang), dan terdapat nyeri saat pasien diminta untuk memutar lengan ke arah luar. Konfirmasi terjadinya pergeseran sendi bahu dapat dilakukan dengam pemeriksaan rontgen atau MRI.

Apa yang harus dilakukan saat menghadapi seseorang dengan dislokasi bahu ?
Pertolongan pertama yang dapat diberikan adalah dengan menerapkan prinsip RICE, yaitu Rest, Ice, Compression dan Elevation. Rest artinya bahu harus diistirahatkan misalnya dengan menggunakan gendongan bahu (arm sling). Ice berarti diberikan kompres es pada sendi yang terkena. Kompres es diberikan dengan menaruh potongan-potongan es batu dalam kantung plastik dan menutup kantung

plastik tersebut setelah mengeluarkan udara nya terlebih dahulu. Kantung es yang telah ditutup rapat kemudian dibungkus dengan handuk tipis yang basah. Lalu tempelkan kantung es tersebut ke daerah bahu yang dirasa mengalami nyeri selama 20 menit, dan ulangi kompres es ini selama 72 jam pertama setelah kejadian. Compression berarti kantung es ditempelkan ke bahu menggunakan elastic bandage atau kain yang diikatkan melingkar bahu sehingga terasa efek penekanan. Elevationberarti menempatkan posisi bahu lebih tinggi dari jantung. RICE diterapkan untuk meminimalisasi pembengkakan yang terjadi kaibat pergeseran sendi bahu. Selanjutnya sendi bahu pasien harus segera dikembalikan ke posisi semula dengan suatu tindakan reposisi. Bila tidak ada tenaga kesehatan berpengalaman di lapangan, maka pasien harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah reposisi dilakukan, pemeriksaan rotgen kembali perlu diulang untuk memastikan bahwa sendi bahu sudah kembali ke posisi normal nya. Satu hal yang pasti tidak perlu dikhawatirkan adalah bahwa mengalami dislokasi bahu bukan berarti selanjutnya tidak dapat melakukan olahraga yang semula. Setiap pasien yang pernah mengalami dislokasi bahu dapat kembali menjalankan aktifitas nya secara normal, asalkan pasien menjalani program rehabilitasi yang benar sesuai dengan arahan tenaga kesehatan yang tepat.