Anda di halaman 1dari 8

A.

Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia


Kerukunan merupakan kebutuhan bersama yang tidak dapat dihindarkan di Tengah perbedaan. Perbedaan yang ada bukan merupakan penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan persatuan. Kesadaran akan kerukunan hidup umat beragama yang harus bersifat Dinamis, Humanis dan Demokratis, agar dapat ditransformasikan kepada masyarakat dikalangan bawah sehingga, kerukunan tersebut tidak hanya dapat dirasakan/dinikmati oleh kalangan-kalangan atas/orang kaya saja. Karena, Agama tidak bisa dengan dirinya sendiri dan dianggap dapat memecahkan semua masalah. Agama hanya salah satu faktor dari kehidupan manusia. Mungkin faktor yang paling penting dan mendasar karena memberikan sebuah arti dan tujuan hidup. Tetapi sekarang kita mengetahui bahwa untuk mengerti lebih dalam tentang agama perlu segi-segi lainnya, termasuk ilmu pengetahuan dan juga filsafat. Yang paling mungkin adalah mendapatkan pengertian yang mendasar dari agama-agama. Jadi, keterbukaan satu agama terhadap agama lain sangat penting. Kalau kita masih mempunyai pandangan yang fanatik, bahwa hanya agama kita sendiri saja yang paling benar, maka itu menjadi penghalang yang paling berat dalam usaha memberikan sesuatu pandangan yang optimis. Namun ketika kontak-kontak antaragama sering kali terjadi sejak tahun 1950-an, maka muncul paradigma dan arah baru dalam pemikiran keagamaan. Orang tidak lagi bersikap negatif dan apriori terhadap agama lain. Bahkan mulai muncul pengakuan positif atas kebenaran agama lain yang pada gilirannya mendorong terjadinya saling pengertian. Di masa lampau, kita berusaha menutup diri dari tradisi agama lain dan menganggap agama selain agama kita sebagai lawan yang sesat serta penuh kecurigaan terhadap berbagai aktivitas agama lain, maka sekarang kita lebih mengedepankan sikap keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.

Gereja Algonz Surabaya Juga Potong Hewan Kurban


Surabaya (ANTARA News) - Panitia Natal Gereja St Aloysius Gonzaga (Algonz) Jl Raya Satelit Indah, Surabaya, Kamis, juga memotong hewan kurban di halaman belakang gereja katholik itu untuk menyemarakkan Idul Adha 1428 H. "Kami memotong dua ekor sapi untuk dibagikan kepada 600 warga kurang mampu di sekitar gereja," kata ketua Pantia Kurban Gereja Algonz, Miskan, didampingi ketua Panitia Natal Gereja Algonz, Willy. Menurut dia, jumlah itu lebih sedikit dibanding tahun lalu yang mencapai 1.200 paket, karena tahun lalu memotong tiga ekor sapi, sedangkan tahun ini hanya memotong dua sapi. "Setiap paket berisi 0,75 kilogram daging sapi yang dibagi-bagikan melalui kupon yang sudah didistribusikan sebelumnya kepada ratusan warga di Sukomanunggal, Tanjungsari, Donowati, dan Simo, termasuk tukang becak," kata ketua panitia yang muslim itu. Menurut Ketua Panitia Natal Gereja Algonz, Willy, pihaknya sudah tujuh tahun melakukan pemotongan kurban dengan melibatkan masyarakat lintas agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Pelangi (FKMP) Darmo Satelit, Surabaya. "Untuk pemotongan hewan kurban, ketua panitia dari unsur muslim, karena kami tidak tahu tatacara pemotongan kurban menurut Islam, tapi sejumlah umat kristiani juga ikut membantu mengemas dan membagi," katanya. Tradisi pemotongan hewan kurban di Algonz itu, katanya, dimaksudkan membangun persaudaraan sejati melalui kerukunan antar umat beragama yang bukan hanya teori, tapi dipraktekkan bersama-sama. "Kami sudah sering merayakan Idul Adha, Natal, puasa Ramadhan, Paskah, dan tradisi keagamaan lainnya secara bersama-sama dengan pembagian sembako atau bingkisan berbuka, meski pemeluk Kristiani awalnya ada yang keberatan juga, tapi mereka akhirnya mengerti," katanya. Bahkan, katanya, Gereja Algonz setiap tahun selalu digunakan tarawih dan sahur bersama yang dilakukan isteri mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yakni Ny Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid pada hari tertentu. Selain di Gereja Aloysius Gonzaga, warga Katholik lainnya yang membagikan hewan kurban adalah warga Katholik di Gereja Yohanes Pembaptis Jalan Gadung, Wonokromo, Surabaya

Di ambil dari ANTARAnews.com

Sekitar 50 WN Singapura Potong Kurban di Mesjid Raya Batam Batam (ANTARA News) - Sekitar 50 Warga Negara Singapura berkurban seekor sapi dan 42 kambing di Masjid Raya Batam ,saat merayakan Idul Adha 1428 H. "Di Batam lebih banyak yang membutuhkan ketimbang Singapura," kata Abdul Ibrahim, warga Singapura di Batam, Kamis. Menurut Abdul, daging kurban lebih baik diberikan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Selain itu, harga daging kurban di Singapura juga lebih mahal ketimbang di Batam. "Di Singapura, harga kambing 260 dolar Singapura, sedangkan di Batam hanya 160 dolar Singapura,", katanya. Sementara itu, petugas Lembaga Amil Zakat Masjid Raya, Syarifuddin, mengatakan pemotongan daging kurban warga Singapura dilakukan dua tahap, Kamis (20/12) dan Jumat (21/12). Ia mengatakan Panitia Idul Kurban yang mengkoordinasikan pembelian kambing warga Singapura. Mereka tinggal bayar. Satu kambing Rp900.000,katanya. Panitia Idul Adha Masjid Raya menyalurkan daging kurban ke tempat permintaan jamaah. Terdapat 10 daerah terpencil yang dijadikan pilihan tempat menyalurkan daging kurban, yaitu Pulau Airaja, Pulau Kubung, Tanjungsauh, Pulau Akar, Pulau Panjang, Pulau Airmas, Selat Nenek, Pulau Todak daan Pulau Cengku. Di seluruh Batam, sebanyak 1.609 kambing dan 491 sapi dikurbankan . Menurut laporan panitia Idul Kurban yang dibacakan menjelang Shalat Ied, jumlah yang berkurban di Batam naik 10 persen dibanding tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN - Pondok Pesantren Al Qodir di Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Selasa (8/11) ini akan menyembelih 200 ekor kambing kurban di lapangan Jabalkat Desa Wukirsari. Ke-200 ekor kambing tersebut sebagian besar merupakan sumbangan dari masyarakat Muslim di Singapura. Pelaksaan kurban di Al Qodir akan dibantu oleh komunitas dari masyarakat lintas agama. "Para suster dari Panti Rapih dan mahasiswa Kristiani dari Kampus Instiper Yogyakarta bakal terlibat dalam pembagian daging kurban," kata Pengasuh Ponpes Al Qodir, KH Masrur Ahmad MZ, di sela-sela memeriksa ratusan kambing yang bakal disembelih, Senin (7/11). Menurut dia, pelaksanaan penyembelihan hewan kurban boleh dilakukan pada hari nahar yaitu tanggal 10 Dzulhijah atau hari Tasyrik yaitu tanggal 11, 12 serta 13 Dzulhijah. Ponpes Al Qodir menyembelih kurban pada 12 Dzulhijah agar daging hewan kurban tersebut betul-betul bermanfaat bagi masyarakat. "Untuk memotong-motong atau membungkus, akan dilakukan oleh para santri Al Qodir, masyarakat Wukirsari dan dibantu para suster serta umat agama lain," kata Kiai Masrur, yang juga koordinator Forum Silaturahim Ulama dan Tokoh Masyarakat Lintas Iman (Salaman) Merapi. Keterlibatan umat lain itu, kata Masrur, untuk menunjukkan bahwa ada kerukunan, ada kebersamaan dan damai dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap gotong royong ini, lanjut dia, perlu dipupuk dan dilestarikan agar kehidupan menjadi lebih indah. ''Jangan disalahpahami ini mencampuradukkan. Bagi umat Islam, menyembelih kurban jelas adalah ibadah. Dan tidak ada salahnya kalau ada umat lain membantu membungkusi sebelum dibagikan kepada mustahik atau penerima daging kurban," kata Kiai Masrur.

Kerukunan Antar Umat Beragama Di IndonesiA Yang Terbaik Di Dunia

Kerukunan antar umat beragama di Indonesia dinilai sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Sebagai negara Muslim terbesar di Indonesia, Indonesia sangat menghargai masyarakat yang minoritas. "Pada kerja sama pelaksaan MTQ tahun 2012 di Ambon. Ambon merupakan wilayah yang pernah berkonflik antara Kristen dan Islam. Namun gubernurnya yang sekarang beragama Kristen datang ke saya agar pelaksanaan MTQ digelar di Ambon," kata Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA), saat memberikan keterangan pers kerukunan umat beragama di Gedung Kemenag Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/7/2013). Ketua Umum Partai Persatuan pembangunan (PPP) ini, merasa kagum atas antusias masyarakat nasrani mensukseskan MTQ di Ambon kala itu. "Disitu lah kita melihat betapa hebatnya kerja sama dalam pelaksanaan MTQ. Terutama umat Kristen dan tokoh gereja. Panitia dari umat Kristiani banyak. Paduan suara gereja jadi paduan suara yang ditampilkan pada pembukaan dan penutupan. Mars MTQ dinyanyikan paduan suara gereja. Lagu-lagu rohani Islam dinyanyikan paduan suara gereja,"bebernya. Selain itu, kata SDA, pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) yang diselenggarakan di Sulawesi Tenggara yang mayoritas penduduknya 94 persen beragama Islam berjalan dengan lancar. "Pelaksanaan Pesparawi tersebut berlangsung tanpa gangguan. Bahkan 85 persen panitianya adalah Islam," imbuhnya. Menurut SDA, setiap hari besar perayaan agama manapun di Indonesia, Presiden SBY selalu menghadirinya. "Tidak ada negara di belahan dunia manapun dimana hari besar setiap agama diperingati secara nasional dan dijadikan hari libur nasional dan turut dihadiri oleh presiden dan wakil presiden," tutupnya.

A.

PENGERTIAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Kata kerukunan berasal dari kata rukunartinya baik dan damai, tidak bertentangan. Sedangkan merukunkan berarti mendamaikan, menjadikan bersatu hati. Kata rukun berarti perkumpulan yang berdasar tolong-menolong dan persahabatan, rukun tani artinya perkumpulan kaum tani,rukun tetangga, artinya perkumpulan antara orang-orang yang bertetangga, rukun warga atau rukun kampung artinya perkumpulan antara kampung-kampung yang berdekatan (bertetangga, dalam suatu kelurahan atau desa). Dalam perkembangannya kata rukun dalam bahasa Indonesia berarti, mengatasi perbedaan-perbedaan, bekerjasama, saling menerima, hati tenang, dan hidup harmonis. Sedangkan berlaku rukun sebagaimana menurut Franz Magnis Suseno, berarti menghilangkan tanda-tanda ketegangan dalam masyarakat atau antara pribadi-pribadi, sehingga hubungan sosial tetap kelihatan selaras dan baik-baik. Sedangkan kata umat beragama berasal dari dua suku kata, yakni umat dan beragama. Umat adalah para penganut suatu agama atau nabi. Dan beragama artinya memeluk (menjalankan) agama. Yang dimaksud dengan agama adalah kepercayaan kepada Tuhan, acara berbakti kepada Tuhan, beragama, memeluk agama. Dari pengertian ini, dapat dipahami bahwa seseorang yang menganut agama atau kepercayaan yang telah diyakini, harus siap untuk menjalankan setiap amalan yang telah diajarkan oleh agamanya masingmasing tanpa ada paksaan dan saling memaksa antar umat yang satu dengan lainnya. Sedangkan arti dari kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kerukunan juga mengandung arti adanya kesadaran di dalam diri manusia untuk saling menerima perbedaan-perbedaan yang ada, dan saling menghargai masing-masing potensi yang ada dalam diri manusia. Tanpa mencela apalagi sampai menimbulkan konflik yang berakibatkan pada ketidak-rukunan dalam kehidupan umat beragama. Selain itu, kerukunan hidup umat beragama juga mengandung tiga unsur penting: Pertama, kesediaan untuk menerima adanya perbedaan keyakinan dengan orang atau kelompok lain. Kedua, kesediaan memberikan orang lain untuk mengamalkan ajaran yang diyakininya. Dan Ketiga, kemampuan untuk menerima perbedaan selanjutnya menikmati suasana kesahduan yang dirasakan orang lain sewaktu mereka mengamalkan ajaran agamanya Seperti yang dikemukakan Sadjijono, bahwakerukunan beragama menjadi salah satu faktor pendukung kerukunan hidup berbangsa dan bernegara. Konsep dasar kerukunan dimaksud bukan agamanya, akan tetapi umat dari masing-masing pemeluk agama. Oleh karena itu, kerukunan umat beragama merupakan hubungan semua umat yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pemahaman terhadap kerukunan dimaksud bukan mencampuradukkan beberapa keyakinan ke dalam satu keyakinan, akan tetapi masing-masing keyakinan tetap dijalankan dengan tidak mengusik keyakinan lain, dengan penuh persahabatan dan kedamaian dalam keyakinan yang berbeda. Mengingat keyakinan dari penganut agama yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan, maka masalah keyakinan antar agama tidak bisa diperdebatkan dan disinkronkan. Rasa penghargaan yang tinggi dan penuh pengertian akan keyakinan masing-masing inilah yang dimaknai sebagai toleransi. Toleransi dibangun atas kesadaran dan pemahaman akan kebutuhan dan keyakinan orang lain. Perbedaan yang terjadi adalah suatu realitas atas dasar keyakinan yang tidak dapat diperdebatkan, hanya dengan memahami dan menghargai atas perbedaan keyakinan tersebut, maka kerukunan dan kedamaian sesama umat beragama akan terwujud dan mampu hidup rukun dan damai di alam ciptaan Tuhan. Hakekat dan makna kerukunan hidup beragama berarti hidup berdampingan tanpa terjadi konflik atau perselisihan. Jadi, dapat disimpulkan makna kerukunan hidup umat beragama adalah perihal hidup rukun yakni hidup dalam suasana baik dan damai, tidak bertengkar, bersatu hati dan bersepakat antar umat yang berbedabeda agamanya, atau antara umat dalam satu agama. Kerukunan juga tidak hanya suasana yang tidak memiliki konflik, akan tetapi kerukunan juga merupakan keadaan damai dan diselesaikan dengan musyawarah jika terdapat masalah-masalah yang dapat menimbulkan ketidak-rukunan umat beragama, sehingga tercipta dan terpeliharalah kerukunan hidup umat beragama.

B.

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA MENURUT PARA AHLI

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki penduduk dengan jumlah yang sangat besar. Di tengah-tengah besarnya jumlah penduduk tersebut, tumbuh dan berkembang keragaman budaya, sosial, dan agama. Dari sisi agama, Indonesia mengakui hidup dan berkembangnya lima agama resmi negara, yaitu islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, hindu, dan Buddha. Di samping lima agama tersebut, di Indonesia juga telah berkembang agama-agama yang dipeluk oleh sebagian kecil bangsa Indonesia, terutama di daerah-daerah pedalaman. Agama-agama yang tidak resmi ini biasanya dikenal dengan aliran kepercayaan yang tidak bersumber pada ajaran agama, tetapi bersumber pada ajaran agama, tetapi bersumber pada keyakinan yang tumbuh di kalangan masyarakat sendiri. Keragaman seperti ini menimbulkan permasalahan di tengah masyarakat yang terkadang memicu konflik antar agama. Kemajemukan masyarakat dalam hal agama dapat merupakan sumber kerawanan sosial apabila pembinaan kehidupan beragama tidak tertata dengan baik. Masalah agama merupakan masalah yang bersifat sensitive yang sering memunculkan konflik dan permusuhan atar golongan pemeluk agama. Walau demikian, pelanggaran terhadap aturan beragama tidak sampai menimbulkan konflik yang membahayakan persatuan dan kesatuan negara. Kalaupun akhir-akhir ini konflik antar pemeluk agama terjadi, hal ini sebenarnya bukan dipermasalahkan semata-mata oleh perbadaan agama, melainkan ditopangi berbagai kepentingan terutama kepentingan politik. Seperti kasus pasangan cagub Fauzi-Nara melawan pasangan cagub Jokowi-Basuki dengan menggunakan isu SARA.

C.

PANDANGAN ISLAM TERHADAP KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA

Islam harusnya menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama, dan konsep yang cocok untuk konteks Indonesia adalah konsep masyarakat madani. Konsep masyarakat madani berasal dari konsep yang pernah dipraktekkan pada masa awal pemerintahan islam dibawah kendali nabi Muhammad SAW. Realitas politik pada masyarakat awal islam memiliki fondasi politik yang demokratis dan partisipasionis yang menghormati dan menghargai ruang public seperti hak asasi manusia, partisipasi, keadilan sosial, dan lain sebagainya. Wujud historis ini kemudian dikenal sebagai piagam madinah, yang merupakan prinsip-prinsip rumusan kesepakatan mengenai kehidupan bersama secara sosial politik antar sesame muslim dan antara kaum muslim dengan kelompok-kelompok lain di kota madinah di bawah pimpinan nabi Muhammad SAW. Aksi politik di Indonesia dapat diwujudkan dengan menganut cita-cita seperti di atas sehingga politik Indonesia akan mencatat sejarah yang gemilang yang bias dinikmati tidak hanya oleh umat islam melainkan juga kelompok-kelompok yang lain. Karena mayoritas penduduk Indonesia beragam islam, maka nilai yang paling cocok diterapkan adalah nilai-nilai islam yang positif seperti yang tertuang dalam piagam madinah