Anda di halaman 1dari 4

MODEL BISNIS AIRASIA DENGAN PENDEKATAN NINE BUILDING BLOCK VALUE PROPOSITION OPERATION MANAGEMENT

oleh: Rezqi Ananda Basid 1362075 Bibit Setyo Pambudi 1362013 Johan 1362041

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

Persaingan antar perusahaan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan perusahaan dengan produk barang dan jasa salah satunya perusahaan yang bergerak dalam industri penerbangan. Salah satu pemain lama dan bersaing dalam bisnis penerbangan adalah Airasia. AirAsia membawa konsep penerbangan berbiaya rendah yang sebelumnya telah dikembangkan oleh maskapai penerbangan South West, Amerika atau Ryan Air, Eropa. Dengan konsep penerbangan berbiaya rendah menyebabkan terciptanya bisnis model yang berbeda dengan perusahaan penerbangan lainnya. Bisnis model mendeskripsikan dasar pemikiran bagaimana organisasi diciptakan, disampaikan dan ditangkap nilainya (Osterwalder & Pigneur, 2010, hal. 14). Model ini dibangun atas dasar nine building blocks. Nine building blocks tersebut yaitu: value proposition, customer segments, customer relationship, channels, key resources, key activities, key partnership, cost structure, dan revenue stream. Menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal 22) value proposition didefinisikan sebagai kumpulan produk dan jasa yang memberikan nilai untuk segmen pelanggan yang spesifik. Value proposition menentukan nilai-nilai dari produk yang ingin diberikan kepada segmen konsumen tertentu. Oleh karena itu penting untuk menentukan terlebih dahulu segmen konsumen yang ingin dituju. Dari segmen konsumen tersebut, perusahaan kemudian berusaha menentukan value yang terkandung dalam produk atau jasa tersebut harus mampu mengatasi masalah atau memenuhi kebutuhan yang dimiliki oleh konsumen. Menurut Osterwalder & Pigneur (2010, hal 23) ada sebelas value yakni Newness, performance, customization, getting the job done, design, brand/status, price, cost reduction, accessibility, dan convenience/usability. Newness, adalah proporsi nilai yang sebelumnya tidak pernah ditawarkan oleh perusahaan manapun. Airasia lebih sering menawarkan promo penerbangan murah yang cukup banyak menarik minat konsumen yang selalu terupdate di situs resmi Airasia dibandingkan maskapai peerbangan murah lainnya. Performance, mengembangkan kinerja produk dan jasa agar optimal merupakan hal yang dilakukan untuk meningkatkan nilai. AirAsia sangat efisien dalam penggunaan pesawatnya. Hal ini bisa dilihat dari waktu berhenti pesawat di bandara yang berkisar 25 menit. Selain itu, tingkat produktifitas awak pesawat juga sangat tinggi di AirAsia, tiga kali lipat daripada Malaysia Airlines dan AirAsia juga dapat meraih utilisasi rata-rata pesawat sebesar 13 jam sehari1. Customization, merupakan produk dan jasa yang disesuaikan dengan kebutuhan individual, konsumen Airasia dapat menyesuaikan kebutuhannya dengan layanan yang akan didapat, Airasia memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk menggunakan pilihan-pilihan fitur yang akan digunakan oleh calon penumpang, antara lain pilihan menggunakan bagasi, makanan, reservasi hotel dan lain-lain sehingga konsumen dapat memilih sendiri sesuai kebutuhannya. Getting the job done, adalah nilai bisa diciptakan dengan membantu konsumen menyelesaikan pekerjaan tertentu. Airasia memiliki kinerja yang baik dalam ketepatan waktu yang mencapai 78 % sehingga penerbangan yang dirasakan oleh konsumen menjadi lebih nyaman2. Karena dalam bisnis penerbangan ketepatan waktu merupakan hal yang sangat penting. Design, desain merupakan hal yang penting dalam menciptakan nilai produk walaupun sulit untuk mengukurnya tetapi secara umum produk dan jasa dapat unggul di pasar karena designnya. Airasia melibatkan konsumennya untuk ikut mendesain pesawat yang digunakan sehingga Airasia dapat lebih mengetahui desain apa saja yang dirasakan nyaman oleh konsumen. Brand/status, konsumen mungkin mendapatkan value dengan hanya menggunakan atau memamerkan brand tertentu. Brand yang dimiliki Airasia tidak memiliki eksklusifitas yang bisa membuat konsumennya memperoleh value dengan hanya
1 2

Referensi diperoleh dari : http://majalahinovasi.com/model-bisnis-airasia-dalam-dunia-maskapai-penerbangan/


Referensi diperoleh dari : http://www.flightstats.com/go/FlightRating/flightRatingByCarrier.do?airlineCode=AK

menggunakannya. Hal tersebut karena Airasia menyasar segmen konsumen yang menginginkan produk dengan harga yang rendah meskipun dengan pengurangan beberapa fasilitas yang bisa didapatkannya. Berbeda dengan maskapai penerbangan lainnya seperti emirates atau garuda indonesia yang menyasar segmen konsumen yang tidak mementingkan harga tetapi pelayanan yang lebih diutamakan. Ada value yang lebih yang dirasakan oleh pengguna Emirates atau Garuda Indonesia karena mereka menggunakan jasa dari brand yang menunjukkan mereka termasuk kelompok konsumen yang lebih eksklusif. Harga, dengan menawarkan value yang sama dengan harga yang lebih rendah akan mampu memenuhi kebutuhan segmen konsumen yang sensitif terhadap harga. Airasia mampu memberikan harga yang lebih rendah karena mereka melakukan efisiensi dan penyesuaian fasilitas untuk konsumennya. Beberapa konsumen yang menganggap value penting dari sebuah penerbangan adalah keamanan selama penerbangan, ketepatan jadwal penerbangan, dan biaya yang lebih murah adalah kelompok konsumen yang menjadi target Airasia. Sementara kelompok konsumen yang menganggap value penting dari sebuah penerbangan adalah keamanan selama penerbangan, ketepatan jadwal penerbangan, dan fasilitas pelayanan yang lengkap akan lebih memilih maskapai yang bisa menyediakan fasilitas yang lebih baik dari Airasia. Cost reduction, dengan membantu konsumen mengurangi biaya yang dikeluarkannya akan memberikan value yang penting. Airasia melakukan Pengurangan biaya ini tentunya akan mengakibatkan pengurangan beberapa fasilitas yang bisa didapatkan oleh konsumen. Pelanggan didorong untuk membeli tiket lewat internet sehingga Air Asia dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa tempat penjualan tiket beserta stafnya. Penghematan lainnya adalah tidak ada tiket yang dicetak. Pelanggan cukup mencetak sendiri kode penerbangan beserta rinciannya. Risk Reduction, konsumen value dapat juga berupa pengurangan resiko dari pembelian suatu produk. Airasia merupakan penerbangan yang memfokuskan diri kepada titik low cost, namun demikian Airasia sepertinya mampu melakukan operasional sesuai jadwal sehingga Airasia jarang terjadi delay yang berlebihan dan resiko yang dialami penumpang ketika mengalami keterlambatan dapat dihindari. Accesability, membuat produk menjadi tersedia bagi konsumen yang sebelumnya sulit mengakses suatu produk adalah salah satu cara menciptakan value. Kemudahan akses menjadi faktor penentu tingkat kecepatan dalam pembangunan awareness dan penetrasi brand terhadap customer. Airasi berhasil mengubah cara masyarakat melakukan pembelian tiket. Menurut data di Global Distribution System (GDS), 80% transaksi pembelian tiket dan check-in AirAsia langsung menggunakan situs resminya. Cara ini menambah keuntungan karena biaya pendistribusian tiket bisa dikurangi3. Convenience/usability, membuat produk menjadi lebih mudah untuk digunakan dapat menciptakan nilai bagi konsumen. Penerbangan Airasia tidak begitu nyaman digunakan oleh konsumen, hal ini dikarenakan maskapai ini bukan penerbangan eksklusif dan biaya murah sehingga kenyamanan di dalam pesawat menjadi minimal namun yang terpenting adalah fungsi transportasi untuk mengantarkan penumpang sampai tujuan tepat waktu dapat tercapai. Tantangannya ke depan bagi Airasia tentu saja adalah mempertahankan, memperbarui, atau menambah value proposition yang ditawarkannya. Karena, para pesaingnya tentu telah mengkaji value proposition Airasia dan akan mencoba menyainginya, dengan cara menawarkan value proposition yang sama atau yang lebih baik atau yang berbeda sama sekali, tetapi dengan prospek yang lebih menjanjikan. Perkembangan di industri penerbangan menunjukkan gejala itu dengan munculnya pemain baru seperti Malindo Air, Citilink, Tiger Airways. Sehingga apabila Airasia tidak mengantisipasinya, market share yang telah direngkuhnya sejauh ini bakal tergerus.
3

Referensi diperoleh dari : http://majalahinovasi.com/model-bisnis-airasia-dalam-dunia-maskapai-penerbangan/

Source : Osterwalder, Alexander & Pigneur, Yves. (2010). Business Model Generation. John Wiley &Sons, Inc. New York. http://www.atcontent.com/Publication/879573924174999Kv.text/-/Business-Model-Low-Cost-Carrier--Air-Asia http://www.flightstats.com/go/FlightRating/flightRatingByCarrier.do?airlineCode=AK http://majalahinovasi.com/model-bisnis-airasia-dalam-dunia-maskapai-penerbangan/