Anda di halaman 1dari 11

Nama NPM V.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

: Hanni Listia Furi : 240210120116

Larutan adalah campuran yang bersifat homogen antara molekul, atom, ataupun ion dari dua zat atau lebih. Komponen dari larutan terdiri dari dua jenis, pelarut dan zat terlarut, yang dapat dipertukarkan tergantung jumlahnya. Pelarut merupakan komponen yang utama yang terdapat dalam jumlah yang banyak, sedangkan komponen minornya merupakan zat terlarut. Larutan terbentuk melalui pencampuran dua atau lebih zat murni yang molekulnya berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Larutan yang dibuat dalam praktikum kali antara lain larutan NaCl jenuh, larutan alkohol 95% dan 70%, larutan NaOH 10% dan 5%, larutan NaOH 0,1 N dan 1 N, serta larutan asam asetat 0,01 N dan 0,1 N. Adapun pengamatan dilakukan sebelum pembuatan, perubahan saat pembuatan, dan setelah pembuatan larutan.

1.

Pembuatan Larutan NaCl Jenuh Pembuatan larutan NaCl jenuh kali ini dilakukan dengan cara menambahkan

padatan NaCl sedikit-sedikit ke dalam gelas beker yang berisi akuades sambil diaduk sehingga muncul endapan, yang artinya padatan NaCl tersebut tidak dapat larut kembali di dalam akuades. Penambahan padatan NaCl secara sedikit demi sedikit yang disertai pengadukan bertujuan agar dapat diketahui kapan mulai terbentuknya endapan dan jumlah padatan NaCl yang digunakan. Jumlah padatan NaCl yang digunakan dalam praktikum adalah 17,6421 gram untuk kelompok 5 dan 17,45 gram untuk kelompok 6. Kelarutan NaCl dipengaruhi oleh suhu karena suhu mempengaruhi kelarutan suatu zat. Pada suhu tinggi partikel-partikel akan bergerak lebih cepat dibandingkan pada suhu rendah. Akibatnya kontak antara zat terlarut dengan pelarut menjadi lebih sering dan efektif. Hal ini menyebabkan zat terlarut menjadi lebih mudah larut pada suhu tinggi. Jenis zat terlarut dan jenis pelarut akan mempengaruhi sifat larutan yang terbentuk. Berdasarkan hasil pengamatan, berikut ini adalah sifat fisik padatan dan larutan NaCl yang terdapat pada tabel 5.1.

Nama NPM

: Hanni Listia Furi : 240210120116

Tabel 5.1. Sifat Fisik Padatan NaCl dan Larutan NaCl Jenuh Sampel Padatan NaCl NaCl + akuades NaCl jenuh (kelompok 5) NaCl jenuh (kelompok 6) Warna Putih ++ Bening Putih + Agak keruh Suhu Ruang Ruang Ruang Ruang Sifat Fisik Bentuk Bau Endapan Kejernihan Khas Padatan garam Tidak Cair +++ berbau Khas Cair Ada ++ garam Tidak Cair Ada berbau (Sumber : Dokumentasi pribadi : 2013)

Perubahan yang terjadi selama proses pembuatan larutan NaCl jenuh antara lain saat penambahan akuades dengan padatan NaCl belum terjadi perubahan. Namun setelah larutan NaCl jenuh selesai dibuat, mulai terbentuk endapan yang menandakan bahwa larutan NaCl tersebut sudah jenuh. Menurut hasil pengamatan kelompok 5, larutan NaCl jenuh yang dibuat memiliki warna putih dan berbau khas garam. Sedangkan menurut hasil pengamatan kelompok 6, larutan NaCl jenuh berwarna agak keruh dan tidak berbau. Perbedaan hasil pengamatan ini dapat terjadi akibat perbedaan jumlah padatan NaCl jenuh yang digunakan walaupun perbedaannya cukup kecil. Natrium klorida memiliki sifat fisik dan sifat kimiawi. Sifat fisik dari natrium klorida adalah berbentuk padatan berupa serbuk kristal, berwarna putih, berbau khas garam yang sedikit, memiliki pH 7, memiliki berat molekul 58,44 g/mol, serta memiliki titik leleh 801 C dan titik didih 1413C. Sedangkan sifat kimia NaCl di antaranya adalah terdapat di alam sebagai karnalit, mudah larut di dalam air (higroskopis), sedikit larut dalam alkohol dan larut dalam air dan gliserol, dapat dengan mudah ditemukan dalam air laut, dapat digunakan sebagai katalis reaksi. Menurut Ketut (2009), larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang larut dan mengadakan kesetimbangn dengan solut padatnya. Atau dengan kata lain, larutan yang partikel-partikelnya tepat habis bereaksi dengan pereaksi (zat dengan konsentrasi maksimal). Sedangkan larutan tak jenuh adalah larutan yang mengandung solut (zat terlarut) kurang dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh. Atau dengan kata lain, larutan yang partikel-

Nama NPM

: Hanni Listia Furi : 240210120116

partikelnya tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi (masih bisa melarutkan zat). Larutan tak jenuh terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion < Ksp berarti larutan belum jenuh (masih dapat larut).

2.

Pembuatan Larutan Alkohol 95% dan Alkohol 70% Alkohol merupakan senyawa yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-

hari dan digunakan sebagai pelarut dan antiseptik. Alkohol kebanyakan diperdagangkan dalam konsentrasi 70% dan 95% mempunyai rumus CH3CH2OH. Alkohol dapat dianggap sebagai turunan air bila satu atom hidrogen dari molekul air diganti oleh suatu gugus alkil. Alkohol juga dapat dianggap dari turunan alkana di mana satu atom H dari alkana diganti gugus OH. Oleh karena itu sifat khas senyawa alkohol disebabkan adanya gugus fungsi hidroksil (-OH). Berdasarkan jumlah gugus OH yang terikat tiap molekul olkohol, senyawa alkohol dapat dibedakan menjadi mono alkohol dan poli alkohol. Alkohol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan aroma yang khas. Sifat-sifat fisik alkohol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan gugus hidroksil dan pendeknya rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya dengan massa molekul yang sama. Berdasarkan hasil pengamatan, berikut ini adalah sifat fisik alkohol 95% dan alkohol 70% yang terdapat pada tabel 5.2. Tabel 5.2. Sifat Fisik Alkohol 95% dan Alkohol 70% Sampel Alkohol 95% Alkohol 70% Warna Bening Bening Suhu Ruang Ruang Sifat Fisik Bentuk Bau Endapan Kejernihan Menyengat Cair +++ +++ Khas Cair alkohol ++ (Sumber : Dokumentasi pribadi : 2013)

Proses pembuatan larutan ini adalah 50 ml larutan alkohol 95% ditambahkan 5 tetes indikator PP 1% dan ditambahkan tetes demi tetes KOH 0,1 N sambil diaduk hingga warna larutan berubah menjadi merah muda. Proses yang sama juga dilakukan dalam pembuatan larutan alkohol 70%. Jumlah KOH yang digunakan dalam pembuatan larutan alkohol 95% adalah 2,65 mL, sedangkan

Nama NPM

: Hanni Listia Furi : 240210120116

dalam pembuatan alkohol 70% digunakan sebanyak 0,8 mL. Berikut ini adalah hasil pengamatan setelah pembuatan larutan alkohol 95% dan alkohol 70% selesai dibuat yang terdapat dalam tabel 5.3. Tabel 5.3. Sifat Fisik Alkohol 95% Netral dan Alkohol 70% Netral Sampel Alkohol 95% Netral Alkohol 70% Netral Warna Pink bening Pink muda Suhu Ruang Ruang Sifat Fisik Bentuk Bau Endapan Kejernihan Menyengat Cair +++ ++ Khas Cair alkohol + (Sumber : Dokumentasi pribadi : 2013)

Sifat fisik dari alkohol adalah berupa cairan yang tidak berwarna, jernih, berbau khas alkohol, memiliki berat molekul 46,07 gr/mol, titik didih 78,5 C, titik leleh -114,1 C, dan mudah larut dalam air. Sedangkan sifat kimianya adalah mudah bereaksi dengan senyawa-senyawa lain yang disebabkan adanya gugus hidroksil pada alkohol yang merupakan gugus kimia yang cukup reaktif. Reaksireaksi alkohol yang dapat terjadi antara lain reaksi esterifikasi, reaksi oksidasi, reaksi dehidrasi, reaksi substitusi nukleofilik, dan reaksi deprotonasi. Alkohol yang digunakan dalam proses pembuatan larutan adalah alkohol 95 % dan alkohol 70%, bukan alkohol 100%. Hal ini disebabkan sifat dari alkohol 100% yang tidak stabil dan tidak alkohol mempunyai sifat bisa disimpan dalam botol reagen karena

mudah menguap. Penambahan indikator PP

(fenolftalein) 1% adalah sebagai indikator pada pembuatan larutan alkohol 95% netral dan alkohol 70% netral. Fenolftalein (PP) adalah indikator titrasi yang lain yang sering digunakan, dan fenolftalein ini merupakan bentuk asam lemah yang lain. PP merupakan indicator asam basa yang universal. Sifat fisik dan kimia PP dari literatur adalah sebagai berikut. o Melting Point: 160 C o Tekanan Uap: N / A o Kepadatan uap: N / A o Kelarutan dalam Air: Tidak Larut o Ph: N / A o Spesifik Gravity: 0,90

Nama NPM o Volatile Dengan Volume: N / A

: Hanni Listia Furi : 240210120116

o Penampilan dan Bau: penampilan Granular, sedikit berbau. Rentang pH PP adalah 8.3 10.0. Mekanisme kerja PP sebagai indikator asam basa, asam lemah tidak berwarna dan ion-nya berwarna merah muda terang. Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri, dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk menggantikannya mengubah indikator menjadi merah muda. Kalium hidroksida adalah senyawa anorganik dengan rumus kimia KOH. KOH merupakan senyawaan basa kuat (Strong Base). Bahan ini banyak digunakan dalam aplikasi-aplikasi industri. KOH dijumpai dalam bentuk pelet (kristal), padatan kristal ini akan menjadi lunak/leleh jika dibiarkan di udara bebas karena KOH bersifat higroskopis atau menyerap air dari udara. KOH biasanya dilarutkan dengan akuades yang telah dipanaskan lalu didinginkan dengan tujuan agar pelarut (akuades) yang digunakan terbebas dari ion-ion logam sehingga tidak terjadi reaksi-reaksi saat dilakukan pelarutan. KOH terbentuk dari larutan alkali kuat dalam air dan pelarut polar lainnya. Larutan KOH bersifat korosif (Corrosive (C)) sehingga harus lebih hati-hati dalam penggunaanya. Sifat fisik dan kimia KOH dari literatur adalah sebagai berikut. o Bentuk: Solid o Penampilan: putih atau kuning o Bau: tidak berbau o pH: 13,5 (0,1 M larutan) o Tekanan uap: Tidak tersedia. o Kepadatan uap: Tidak tersedia. o Tingkat Penguapan: Tidak tersedia. o Viskositas: Tidak tersedia. o Titik Didih: 2408 derajat F o Pembekuan / Melting Point: 680 derajat F o Autoignition Suhu: Tidak dipakai. o Titik Nyala: Tidak dipakai. o Suhu Dekomposisi: Tidak tersedia.

Nama NPM

: Hanni Listia Furi : 240210120116

o NFPA Rating: (perkiraan) Kesehatan: 3; mudah terbakar: 0; Reaktivitas: 1 o Batas ledakan, Lower: Tidak tersedia. Atas: Tidak tersedia. o Kelarutan: Larut dalam air o Spesifik Gravity / Kepadatan: 2,04 o Rumus Molekul: KOH o Berat Molekul: 56,1047

3.

Pembuatan Larutan NaOH 10% dan NaOH 5% Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium

hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida terbentuk dari oksida basa natrium oksida yang dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Berdasarkan hasil pengamatan, berikut ini adalah sifat fisik NaOH 60%, larutan NaOH 5%, dan larutan NaOH 10% yang terdapat pada tabel 5.4. Tabel 5.4. Sifat Fisik Padatan NaOH, NaOH 60%, Larutan NaOH 5%, Larutan NaOH 10%, Larutan NaOH 0,1 N, dan Larutan NaOH 1 N Sampel NaOH 60% Larutan NaOH 5% Larutan NaOH 10% Warna Bening Bening Tidak berwarna Suhu Ruang Ruang Ruang Sifat Fisik Bentuk Bau Endapan Kejernihan Tidak Kental berbau Tidak Encer berbau Tidak Cair +++ berbau (Sumber : Dokumentasi pribadi : 2013)

Pada pembuatan larutan NaOH 5% dan NaOH 10%, pertama-tama NaOH 60% dimasukkan ke dalam beaker glass. Pembuatan larutan NaOH 5% sebanyak 50 ml menggunakan NaOH 60% sebanyak 4,1667 mL yang didapatkan dari hasil perhitungan di bawah ini. V1 N1 = V2 N2 V1 (0,6) = (50) (0,05) V1 (0,6) = 2,5 V1 = 4,1667 mL ........ (1)

Nama NPM

: Hanni Listia Furi : 240210120116

Sedangkan pembuatan larutan NaOH 10% sebanyak 50 ml menggunakan NaOH 60% sebanyak 8,3 mL yang didapatkan dari hasil perhitungan di bawah ini. V1 N1 = V2 N2 V1 (0,6) = (50) (0,1) V1 (0,6) = 5 V1 = 8,3 mL ........ (2) Setelah NaOH dimasukkan ke dalam beaker glass, lalu ditambahkan akuades netral. Akuades netral adalah akuades yang telah dipanaskan sebelumnya dengan tujuan untuk menghilangkan kadar oksigen yang terdapat di dalam akuades.

4.

Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N dan NaOH 1 N Berdasarkan hasil pengamatan, berikut ini adalah sifat fisik padatan NaOH,

larutan NaOH 0,1 N, dan larutan NaOH 1 N yang terdapat pada tabel 5.5. Tabel 5.5. Sifat Fisik Padatan NaOH, Larutan NaOH 0,1 N, dan Larutan NaOH 1 N Sampel Padatan NaOH Larutan NaOH 0,1 N Larutan NaOH 1N Warna Putih Bening Bening Suhu Ruang Ruang Ruang Sifat Fisik Bentuk Bau Endapan Kejernihan Tidak Padat berbau Tidak Cair +++ berbau Tidak Cair berbau (Sumber : Dokumentasi pribadi : 2013)

Pada pembuatan larutan NaOH 0,1 N dan NaOH 1 N, perubahan yang terjadi adalah ketika ditambahkan akuades, larutan menjadi keruh dan suhunya meningkat, lalu larutan kembali menjadi bening tidak berwarna. Setelah dipindahkan ke labu ukur dan ditambahkan akuades kembali, suhu turun menjadi seperti semula. Pembuatan larutan NaOH 0,1 N sebanyak 50 ml menggunakan padatan NaOH sebanyak 0,23 gram yang didapatkan dari hasil perhitungan di bawah ini.

Nama NPM

: Hanni Listia Furi : 240210120116

gr

= 0,2 gram ........ (3)

Sedangkan pembuatan larutan NaOH 1N sebanyak 50 ml menggunakan padatan NaOH sebanyak 2,3 gram yang didapatkan dari hasil perhitungan di bawah ini.

gr

= 2 gram ........ (4)

NaOH memiliki sifat fisik berbentuk padat, berwarna putih solid, hidroskopis, tidak berbau, dan padatannya berbentuk kristal. Sifat kimia dari NaOH adalah memiliki titik lebur sebesar 3180C, titik didih sebesar 13880C, larut dalam gliserol, dan derajat keasaman (pKa) =~13.

5.

Pembuatan Larutan Asam Asetat 0,01 N dan Asam Asetat 0,1 N Berdasarkan hasil pengamatan, berikut ini adalah sifat fisik larutan asam

asetat 0,01 N dan larutan asam asetat 0,1 N yang terdapat pada tabel 5.6. Tabel 5.6. Sifat Fisik Larutan Asam Asetat 0,01 N dan Larutan Asam Asetat 0,1 N Sampel Larutan Asam asetat 0,01 N Larutan Asam asetat 0,1 N Warna Tidak berwarna Bening Suhu Ruang Ruang Sifat Fisik Bentuk Bau Cair Cair Asam + Asam +++ Endapan Kejernihan ++

(Sumber : Dokumentasi pribadi : 2013)

Nama NPM

: Hanni Listia Furi : 240210120116

Pada pencampuran asam asetat terlebih dahulu labu ukur diisi dengan akuades lalu kemudian dimasukan asam asetat sesuai yang dibutuhkan, kemudan suspensi tersebut ditambahkan dengan aquades hingga batas sesuai perhitungan yaitu 50 ml. Setelah pencampuran hendaknya labu ukur dikocok sebanyak 25 kali agar larutan homogen. Perhitungan penentuan volume asam asetat 1 N yang digunakan untuk membuat asam asetat 0,01 N sebanyak 25 ml adalah sebagai berikut. V1 N1 = V2 N2 V1 (1) = (25) (0,01) V1 (1) = 0,25 V1 = 0,25 mL ........ (5) Sedangkan perhitungan penentuan volume asam asetat 1 N yang digunakan untuk membuat asam asetat 0,1 N sebanyak 25 ml adalah sebagai berikut. V1 N1 = V2 N2 V1 (1) = (25) (0,1) V1 (1) = 2,5 V1 = 2,5 mL ........ (5) Asam asetat 0,1 N mempunyai sifat fisik tidak berwarna, berbau asam menyengat, dan tidak terdapat endapan. Asam asetat 0,01 N mempunyai sifat fisik yang tidak jauh berbeda dengan asam asetat 0,1 N. Perbedaannya hanya terdapat pada bau. Asam asetat 0,01 N mempunyai bau asam, namun tidak menyengat seperti asam asetat 0,1 N. perubahan yang terjadi selama pembuatan asam astetat 0,01 N hanya terjadi perubahan bau. Asam asetat 0,01 N tidak berwarna dan tidak memiliki endapan seperti halnya asam asetat 0,1 N. Sifat fisik asam asetat adalah memiliki aroma bau asam, tidak berwaran dan tidak terdapat endapan pada larutannya. Sifat kimia dari larutan ini adalah larutan ini sangat korosif dan menyebabkan luka bakar.

Nama NPM VI. KESIMPULAN

: Hanni Listia Furi : 240210120116

Jumlah rata-rata NaCl yang digunakan dalam pembuatan 50 mL larutan NaCl jenuh adalah 17 gram. Kelarutan NaCl dipengaruhi oleh suhu, sehingga NaCl lebih cepat larut pada suhu tinggi. Larutan jenuh adalah suatu larutan yang partikel-partikelnya tepat habis bereaksi dengan pereaksi (zat dengan konsentrasi maksimal). Sedangkan larutan tak jenuh adalah larutan yang partikel-partikelnya tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi (masih bisa melarutkan zat). Alkohol yang digunakan dalam proses pembuatan larutan alkohol adalah alkohol 95 % dan alkohol 70%, bukan alkohol 100% karena sifat dari alkohol 100% yang tidak stabil dan tidak bisa disimpan dalam botol reagen karena alkohol mempunyai sifat mudah menguap. Penambahan indikator PP (fenolftalein) 1% adalah sebagai indikator pada pembuatan larutan alkohol 95% netral dan alkohol 70% netral. Untuk larutan dari bahan campuran zat cair digunakan rumus pengenceran : V1 N1 = V2 N2 Untuk larutan dari bahan campuran zat padat digunakan rumus :

Nama NPM DAFTAR PUSTAKA

: Hanni Listia Furi : 240210120116

Mulyono, 2006. Membuat Reagen Kimia di Laboratoriu. Jakarta: PT Bumi Aksara Sardjoni. 2003. Kamus Kimia. PT Rineka Cipta : Jakarta S.Syukri. 1999. Kimia Dasar I. Penerbit ITB. Bandung Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I. PT. Kalman Media Pustaka. Jakarta Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian II. PT. Kalman Media Pustaka. Jakarta Tim Penyusun Dosen Kimia Dasar Unpad . 2008. Pedoman Praktikum Kimia Dasar. Universitas Padjadjaran. Jatinangor