Anda di halaman 1dari 57

PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

MAHASISWA ANGKATAN 3 TAHUN 2012-2013

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG

NAMA NAMA MAHASISWA ANGKATAN 3 TAHUN 2012

1. KURNIA RIWU MANU 2. JUITARIA SALY INYA LUPU 3. TRIANTO UMBU REKU 4. BRANDON VERDY KANAHEBI 5. ETY RAMBU BADJA ANAMULI 6. CHRISTIN YUNITA LINDA MERE 7. NATHASYA M.G.E. PELT 8. MARYO EKA WIJAYA NENO 9. MARTINA OLIVIA YOHANES 10. ERDIAN CERIA PUTRA 11. GABRYELLA AMALO 12. HARROLD SUBU TAOPAN 13. EDWIN P. SALUT 14. DWI R. F. PUTRI ULLY 15. MARLYN ERLINDA MANUFOE

BAGIAN 1
AGAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Pengertian Agama secara umum dalam Bahasa Sanksekerta : a (tidak), gama (kacau). Bahasa barat : religion yang berakar pada bahasa latin yakni relegere (membaca ulang) religere (mengikat erat-erat)(pengikat kehidupan manusia yang diwariskan secara berulang dari generasi ke generasi). Menurut Soedjadmoko adalah suatu jalan menuju keselamatan.Suatu pedoman dan penilaian atas perbuatan manusia.Suatu petunjuk wahyu yang membawa manusia menuju suatu kebenaran yang mutlak. Fungsi Agama Bagi Kehidupan Manusia.Kebutuhan Jasmani makan, minum, istirahat, seksualitas, dll). Kebutuhan Rohani, Kebutuhan akan rasa kasih sayang, Kebutuhan akan rasa aman,Kebutuhan akan rasa harga diri,Kebutuhan akan rasa sukses, Kebutuhan akan rasa ingin mengenal, dll.SambunganTahun 1984 WHO telah menyempurnakan batasan sehat dengan menumbuhkan satu elemen yaitu elemen agama/spiritual.DR. Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Agama (terbitan Rajawali Pres. 1997). Fungsi agama bagi masyarakat antara lain: Berfungsi edukatif, penyelamat, pendamai hati, social controle, pemupuk rasa solidaritas, transformatif dan sublimatif. Prinsip-Prinsip Kehidupan- pelajari- fahami- amalkan Sumber Ajaran Agamailahiyah (samawi) -> Tuhanardly (bumi)-> antropologis, sosiologis, historis, psikologisKedudukan Agama dalam KehidupanPandangan Agama tentang KedudukanIslamBudha Islam memberikan bimbingan untuk setiap langkah kehidupanbaik untuk perseorangan maupun masyarakat, material dan moral, hukum dan kebudayaan, nasional dan antar bangsa. islam bukan hanya satu agama yang mempunyai ruang lingkup kehidupan prinadi manusia, seperti yang disalah artikan kebanyakan orang islam sendiri. Konsep tentang Kehidupan Pribadi- Sebagai petunjuk/pembimbing,- Sebagai pengekang hawa nafsu,- Sebagai pengobat penyakit jasmani maupun rohani,- Sebagai pelindung diri,- dll.Konsep tentang Kehidupan Bermasyarakat - Pembeda tentang yang hak dan yang batil, - Pemersatu umat, - Pengokoh hubungan, - dll. Dari sudut pandang agama Kristen sebagaimana diungkapkan Rachmat T. Manullang (Pengamat Sosial Keagamaan) hanya menganut paham Monogami, kalaupun dalam perjanjian lama ada Nabi-nabi yang melakukan Poligami itu bukan karena kehendak Allah tetapi karena kekerasan hati manusia itu sendiri. Memang, selain menjadi identitas diri, agama juga memberikan kepada setiap penganutnya ajaran-ajaran, baik yang berhubungan dengan Sang Pencipta ataupun sesama makhluk hidup. Sehingga apapun pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang baik yang beragama manapun, itu semua tidak terlepas dari aturan agama. Oleh sebab itu, ketika seseorang menyadari akan adanya aturan dalam kehidupan kesehariannya, ia pasti akan mengatur (mengkonsep) akan kegiatan sebelum melakukannya. Dan yang pasti hasil antara orang yang sebelumnya mengatur berbeda dengan sebelumnya tidak mengatur (mengkonsep). Disinilah peran penting agama dalam memberikan aturan kepada para penganutnya. Ketika Aturan Di Abaikan

Dalam kehidupan sehari-hari tak jarang seseorang menyimpang dari aturan agama. Dan ia hanya mengabiskan waktunya hanya dengan mengadakan kegiatankegiatan yang mungkin jauh dari nilai-nilai kebaikan. Dan mungkin juga selama ini seseorang ataupun diri kita sendiri, menganggap aturan adalah sesuatu yang dapat menghalangi keinginan kita dalam bertindak. Lihat saja ketika sepasang insan yang ingin melakukan hubungan suami istri yang sah, pastinya ia terikat dengan adanya tali perkawinan. Namun masalahnya adalah, bagaimana jika seseorang tidak ingin lagi mengikuti aturan agama? Dan jika kita ingin melihat sejarah raja-raja terdahulu yang mengabaikan akan adanya aturan agama, seperti Firaun yang tidak mau menyembah kepada Allah. Dan justru ia malah menganggap dirinya sebagai Tuhan yang merasa paling kuat, paling berkuasa. Mengenai masalah aturan, aturan juga sangat berpengaruh ketika seseorang berada dalam suatu organisasi. Dimana setiap ketua sampai kepada anggotanya dibutuhkan visi dan misi yang sama, sehingga organisasi yang di kelolanya mempunyai tujuan (arahan) yang jelas. Namun suatu organisasi bisa saja mengalami kegagalan, jika salah satu dari anggotanya tidak dapat menjalani aturan yang ada dengan baik. Hingga dapat dikatakan, betapa pentingnya aturan dalam kehidupan. Karenanya disadari atau tidak, mau atau tidak memang setiap seseorang harus siap untuk diatur dalam agamanya. Dan yakinlah agama yang kita anut mengatur kepada penganutnya untuk kebaikan diri kita sebagai penganut agama yang sejati. AGAMA DAN MASYARAKAT 1. Fungsi Agama dalam Masyarakat Fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian. Teori fungsional dalam melihat kebudayaan pengertiannya adalah, bahwa kebudayaan itu berwujud suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sistem sosial yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain, setiap saat mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan, bersifat kongkret terjadi di sekeliling. Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi-sanksi sakral. Dalam setiap masyarakat sanksi sakral mempunyai kekuatan memaksa istimewa, karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi dan supramanusiawi dan ukhrowi. Fungsi agama di bidang sosial adalah fungsi penentu, di mana agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik di antara anggota-anggota beberapa mayarakat maupun dalam kewajibankewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Fungsi agama sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada saat dia tumbuh menjadi dewasa, memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk (mengarahkan) aktivitasnya dalam masyarakat, dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Orang tua di mana pun tidak

mengabaikan upaya moralisasi anak-anaknya, seperti pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Oleh sebab itu, untuk mencapai tujuan tersebut harus beribadat dengan kontinyu dan teratur, membaca kitab suci dan berdoa setiap hari, menghormati dan mencintai orang tua, bekerja keras, hidup secara sederhana, menahan diri dari tingkah laku yang tidak jujur, tidak berbuat yang senonoh dan mengacau, tidak minum-minuman keras, tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dan tidak berjudi. Maka perkembangan sosialnya terarah secara pasti serta konsisten dengan suara hatinya. 2. Dimensi Komitmen Agama Masalah fungsionalisme agama dapat dinalisis lebih mudah pada komitmen agama, menurut Roland Robertson (1984), diklasifikasikan berupa keyakinan, praktek, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi. a) Dimensi keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajaran agama. b) Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secara nyata. Ini menyangkut, pertama, ritual, yaitu berkaitan dengan seperangkat upacara keagamaan, perbuatan religius formal, dan perbuatan mulia. Kedua, berbakti tidak bersifat formal dan tidak bersifat publik serta relatif spontan. c) Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu berhubungan, meskipun singkat, dengan suatu perantara yang supernatural. d) Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan, bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan mereka. e) Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya. 3. Hubungan Agama dengan Masyarakat Telah kita ketahui Indonesia memiliki banyak sekali budaya dan adat istiadat yang juga berhubungan dengan masyarakat dan agama. Dari berbagai budaya yang ada di Indonesia dapat dikaitkan hubungannya dengan agama dan masyarakat dalam melestraikan budaya.Sebagai contoh budaya Ngaben yang merupakan upacara kematian bagi umat hindu Bali yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya.Hal ini membuktikan bahwa agama mempunyai

hubungan yang erat dengan budaya sebagai patokan utama dari masyarakat untuk selalu menjalankan perintah agama dan melestarikan kebudayaannya. Selain itu masyarakat juga turut mempunyai andil yang besar dalam melestarikan budaya, karena masyarakatlah yang menjalankan semua perintah agama dan ikut menjaga budaya agar tetap terpelihara. Selain itu ada juga hubungan lainnya,yaitu menjaga tatanan kehidupan.Maksudnya hubungan agama dalam kehidupan jika dipadukan dengan budaya dan masyarakat akan membentuk kehidupan yang harmonis,karena ketiganya mempunyai keterkaitan yang erat satu sama lain. Sebagai contoh jika kita rajin beribadah dengan baik dan taat dengan peraturan yang ada,hati dan pikiran kita pasti akan tenang dan dengan itu kita dapat membuat keadaan menjadi lebih baik seperti memelihara dan menjaga budaya kita agar tidak diakui oleh negara lain. Namun sekarang ini agamanya hanyalah sebagi symbol seseorang saja. Dalam artian seseorang hanya memeluk agama, namun tidak menjalankan segala perintah agama tersebut. Dan di Indonesia mulai banyak kepercayaankepercayaan baru yang datang dan mulai mengajak/mendoktrin masyarakat Indonesia agar memeluk agama tersebut. Dari banyaknya kepercayaankepercayaan baru yang ada di Indonesia, diharapkan pemerintah mampu menanggulangi masalah tersebut agar masyarakat tidak tersesaat di jalannya. Dan di harapkan masyarakat Indonesia dapat hidup harmonis, tentram, dan damai antar pemeluk agama yang satu dengan lainnya. Tipe-Tipe Kaitan Agama dalam Masyarakat Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secra utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954) : a) Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sakral. Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyrakat menganut agama yang sama. Oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah sama. Agama menyusup ke dalam kelompok aktivitas yang lain. Sifat-sifatnya : 1) Agama memasukkan pengaruhnya yang sacral ke dalam system nilai masyarakat secra mutlak. 2) Dalam keadaan lain selain keluarga relatif belum berkembang, agama jelas menjadi fokus utama bagi pengintegrasian dan persatuan dari masyarakat secara keseluruhan. b) Masyarakat praindustri yang sedang berkembang. Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi darpada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada system nilai dalam tiap mayarakat ini, tetapi pada saat yang sama lingkungan yang sacral dan yang sekular itu sedikitbanyaknya masih dapat dibedakan. Kristen memiliki pengaruh yang kecil atau tidak ada pada kehidupan kebanyakan orang di negara-negara Barat.

Kebanyakan orang Kristen jeli mendedikasikan satu atau dua jam untuk kehadiran di gereja pada hari Minggu, tetapi memberikan sedikit pemikiran Kristen selama sisa minggu. Dan sebagian besar orang Kristen bahkan tidak menghadiri gereja, sehingga bagi mereka Kristen sedikit lebih dari pengertian samar-samar bahwa mereka merasa mereka harus mendukung. Beberapa proporsi penduduk, bervariasi dari sekitar 15 persen di Amerika Serikat untuk sebanyak 80 persen di negara-negara Skandinavia, bahkan tidak Kristen dan kehidupan mereka pada dasarnya tidak terpengaruh oleh kekristenan. Kesimpulan Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan sosial, argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan dan kesadaran akan maut menimbulkan relegi, dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sampai pada pengalaman agamanya para tasauf. Bukti di atas sampai pada pendapat bahwa agama merupakan tempat mencari makna hidup yang final dan ultimate. Kemudian, pada urutannya agama yang diyakininya merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya, dan kembali kepada konsep hubungan agama dengan masyarakat, di mana pengalaman keagamaan akan terefleksikan pada tindakan sosial, dan individu dengan masyarakat seharusnyalah tidak bersifat antagonis.

BAGIAN 2

AGAMA KRISTEN
LAHIRNYA AGAMA KRISTEN Agama Kristen bermula dari pengajaran Yesus Kristus sebagai tokoh utama agama ini. Yesus lahir di kota Betlehem yang terletak di Palestina sekitar tahun 4-8 SM, pada masa kekuasaan raja Herodes. Yesus lahir dari rahim seorang wanita perawan, Maria, yang dikandung oleh Roh Kudus. Sejak usia tiga puluh tahun, selama tiga tahun Yesus berkhotbah dan berbuat mukjizat pada banyak orang, bersama keduabelas rasulnya. Yesus yang semakin populer dibenci oleh orang-orang Farisi, yang kemudian berkomplot untuk menyalibkan Yesus. Yesus wafat di salib pada usia 33 tahun dan bangkit dari kubur pada hari yang ketiga setelah kematiannya. Setelah kebangkitannya, Yesus masih tinggal di dunia sekitar empat puluh hari lamanya, sebelum kemudian naik ke surga. GEREJA MULA-MULA Setelah naiknya Yesus Kristus ke surga, rasul-rasul mulai menyebarkan ajaran Yesus ke mana-mana, dan sebagai hasilnya, jemaat pertama Kristen, sejumlah sekitar tiga ribu orang,dan telah dibaptis. Namun, pada masa-masa awal berdirinya, agama Kristen cenderung dianggap sebagai ancaman hingga terus-menerus dikejar dan dianiaya oleh pemerintah Romawi saat itu. Banyak bapa Gereja yang menjadi korban kekejaman kekaisaran Romawi dengan menjadi martir, yaitu rela disiksa maupun dihukum mati demi mempertahankan imannya, salah satu contohnya adalah Ignatius dari Antiokia yang dihukum mati dengan dijadikan makanan singa.Saat itu, kepercayaan yang berkembang di Romawi adalah paganisme, di mana terdapat konsep balas jasa langsung. Namun dengan gencarnya para rasul menyebarkan ajaran Kristen, perlahan agama ini mulai berkembang jumlahnya, sehingga pemerintah Romawi semakin terancam oleh keberadaan agama Kristen. Romawi pun berusaha menekan, dan bahkan melarang agama Kristen, karena umat Kristen saat itu tidak mau menyembah Kaisar, dan hal ini menyulitkan kekuasaan Romawi. Selain itu, paganisme dan ramalan-ramalan yang sejak zaman Republik sudah dipakai sebagai alat-alat propaganda dan pembenaran segala tingkah laku penguasa atau alasan kegagalan penguasa, sudah tidak efektif lagi dengan keberadaan agama Kristen. Maka, pada masa-masa ini, banyak umat Kristen yang dibunuh sebagai usaha pemerintah Romawi untuk menumpas agama Kristen. Penyebar utama agama Kristen pada masa itu adalah Rasul Paulus, yang paling gencar menyebarkan ajaran Kristen ke berbagai pelosok dunia. MASA KEGELAPAN Pada masa inilah, datang masa-masa kegelapan (192-284), mulai dari Kaisar Commodus hingga Kaisar Diocletian. Pada masa inilah orang-orang masa itu kehilangan kepercayaan terhadap konsep balas jasa langsung yang dianut di Paganisme, sehingga agama Kristen pun semakin diminati. Hingga akhirnya pada tahun 313, Kaisar Konstantinus melegalkan agama Kristen dan bahkan minta untuk dipermandikan, dan 80 tahun setelahnya, Kaisar Theodosius melarang segala bentuk

paganisme dan menetapkan agama Kristen sebagai agama negara.Sebagai agama resmi negara Kekristenan menyebar dengan sangat cepat. Namun Gereja juga mulai terpecah-pecah dengan munculnya berbagai aliran (bidaah). Salah satu upaya untuk menekan bidaah adalah dengan diadakannya Konsili Nicea yang pertama pada tahun 325 M. Konsili Nicea mencetuskan pengakuan iman umat Kristen keseluruhan pertama kali, sebagai tanda persatuan Kristen universal yang dibedakan dari umat-umat Kristen yang bidaah. Salah satu contohnya adalah bidaah Arianisme, yang merupakan salah satu krisis bidaah terbesar saat itu yang menjadi alasan utama diadakannya Konsili Nicea yang pertama.Ketika Kerajaan Romawi runtuh dan tercerai-berai, Gereja Kristen tetap bertahan. Pada abad ke-11 terjadilah Perang Salib, di mana kekejaman prajurit perang salib menjadi sejarah kelam Kristen yang hingga kini masih banyak disesali. Perang Salib adalah perang agama antara Kristen dan Islam. Dicetuskan pertama kali oleh Paus Urbanus II, Perang Salib I bertujuan merebut kembali kota suci Yerusalem dari kekuasaan Islam, yang merupakan tempat penting umat Kristen sebagai tujuan ziarah saat itu.Sementara itu, bagian timur dari Kerajaan Romawi, bertahan sebagai Gereja yang disebut Yunani atau Ortodoks, yang mewartakan kabar gembira di Rusia dan memisahkan diri dari belahan barat yang berada di bawah pimpinan Gereja Roma. Pemisahan ini terjadi pada tahun 1054.Sementara itu, pada tahun 1460 penemuan percetakan oleh Gutenberg membuat Kitab Suci terjangkau bagi semua orang. Sebelumnya, Kitab Suci dibatasi oleh Gereja kepada umat dengan tujuan untuk menekan bidaah yang merupakan salah satu krisis besar dalam tubuh Gereja saat itu. Kitab Suci hanya dibacakan di Gereja dan menjadi sumber kotbah.Saat itu, banyak pihak-pihak tidak bertanggungjawab memanfaatkan kedudukan di dalam Gereja Barat (Katolik) sebagai sumber kekuasaan, sehingga secara tidak langsung mencoreng nama baik Gereja. Pejabat-pejabat tinggi di dalam Gereja semakin terpengaruh untuk mementingkan kepentingan duniawi sehingga semakin menyeleweng dari ajaran dasar Gereja Katolik. Banyak oknum yang menduduki posisi penting di dalam Gereja menggunakan kekuasaannya secara semenamena sehingga merugikan banyak umat saat itu. Hal ini membuat banyak umat Kristen kecewa dan memprotes serta menuntut pembaharuan. Banyak umat yang berpikir bahwa salah satu cara mendatangkan pembaharuan di dalam Gereja ialah dengan memberikan Kitab Suci kepada semua orang. PERPECAHAN Puncak dari penyalahgunaan ajaran Gereja diawali dengan jual beli surat indulgensia. Praktik ini sendiri sesungguhnya bertentangan dengan ajaran iman Gereja Katolik. Martin Luther, seorang rahib, memutuskan untuk melakukan pembaharuan dengan melakukan pemberontakan terhadap Gereja Katolik dengan memalukan 95 dalil Luther di pintu Gereja Kastil di Wittenberg, Jerman, 31 Oktober 1517, dan membangun gereja tandingan baru. Sedangkan Ignatius Loyola, pendiri ordo Jesuit dalam Gereja Katolik, berusaha melakukan pembaharuan dari dalam, salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan teologi Kristen yang ketat kepada para klerus, terutama dalam kepatuhan penuh pada otoritas dan ajaran Gereja, agar praktek korup dalam Gereja berkurang dan tidak menjadi-jadi. Konsili Trente merupakan konsili yang diadakan sebagai reaksi dari reformasi Martin Luther, di mana reformasi Martin Luther dianggap oleh Gereja Katolik sebagai tindakan yang memperparah kondisi kekristenan. Dalam Konsili Trente-lah ajaran iman Gereja Katolik dipertegas (termasuk kanonisasi terakhir Alkitab Katolik) demi menekan dan mengurangi berbagai macam penyalahgunaan yang sewenang-wenang dalam tubuh Gereja.Ketika

Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci menjadi bahasa Jerman, pengikutpengikutnya mulai memiliki pandangan yang berbeda-beda akan Kitab Suci tersebut, lalu terjadilah pertentangan penafsiran antara umat satu dengan yang lain, salah satu kasusnya adalah pertentangan antara denominasi protestan .

BAGIAN 3
PANDANGAN AGAMA KRISTEN TENTANG ALLAH
Pandangan agama kristen tentang Allah Menurut pandangan orang kisten tentang Allah,Allah di kenal dalam tiga nama tapi satu diri,yaitu:Allah Bapa,Allah Anak,dan Allah Roh. 1) Allah Bapa yang adalah pencipta alam semesta dan segala isinya. Dalam keoercayaan orang kristen Allah yang Maha tinggi di beri gelar Allah Bapa.dalam berbagai bentuk politeisme,Tuhan yang tertinggi di pahami sebagai Bapa dari semua Tuhan da manusia.dalam agama israel yudaisme modern,di sebut Bapa karena Ia adalah Pencipta,pembela hukum dan pelindung.demikian pula,di dalam kekristenan,Allah di sebut Bapa dengan alasan yang sama tetapi terutam sekali karena misteri dari hubungan BapaAnak yang di ungkapakan oleh Yesus Kristus.pada umumnya nama Bapa yang di berikan kepada Tuhan,menunjukan bahwa Ia adalah asal usul dari segala sesuatu yang tunduk kepada-Nya.Dialah kewibawaan yang tertinggi dan yang Maha kuasa dan pelindung . Allah Bapa dalam Agama agama politeistik Dalam banyak agama politeistik,satu atau lebih Tuhan di anggap sebagai pemimpin dan Bapa dari semua Tuhan yang lainnya,atau dari seluruh umat manusia.di bandingkan di bandingkan dengan agamaagama monoteis,Allah Bapa dalam politeisme lebih di hubungkan dengan sifat-sifat yang baik dan buruk seperti seorang Ayah.misalnya dalam agama yunani kuno zeus adalah Bapa ynag tertinggi yang mempunyai sejumlah sifat kebapaan namun pada saat yang sama ia mempunyai banyak hubungan di luar dan mempunyai temperamen yang buruk Allah bapa dalam monoteisme Dalam dua dari tiga bentuk utama dari monoteisme,yudaisme, dan kekristenan allah di sebut bapa sebagian karena ia di anggap secara aktif mempunyai perhatian dalam urusan manusia ,dalam cara yang sama seorang ayah menruh minat terhadap anak-anaknya. Jadi banyak pemeluk moteisme yang percaya bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan-Nya melalui doa baik untuk memujinya maupun mempengaruhi tindakan-Nya.

2) Allah Anak yang adalah penyelamat umat manusia yang turun dalam dunia menjadi manusia yaitu Yesus Kristus. Allah anak( juga di sebut Allah putra) adalah pribadi kedua dari Trinitas dalam teologi kristen .Doktrin trinitas mengidentifikasikan Yesus sebagai anak Allah,yang satu dalam esensi tetapi berbeda secara pribadi dengan Allah Bapa dan Allah roh kudus (pribadi pertama dan pribadi ketiga dalam urutan penyebutan). Pandangan Yohanes Calvin tentang anak Allah: Menjelaskan bahwa Allah anak memiliki perbedaan dengan Allah bapa dan Allah roh kudus.Ia berpendapat bahwa Allah anak memiliki kekhasan tersendiri yang membedakan dengan Allah bapa dan Allah roh kudus, karena yang keluar dari bapa adalah anak,bukannya roh kudus dan yang mati dan menderita juga bukanlah Bapa maupun roh kudus,melainkan anak. 3) Allah Roh yang adalah Allah yang memberi kekuatan penghiburan serta yang senantiasa hadir menyertai kita. Roh kudus adalah pribadi Tuhan dalam konsep tritunggal.Roh kudus dalam bahasa ibrani (Ruah haqodesh) hanya di percayai oleh umat kristiani dan adalah pribadi penolong yang memimpin kita,dalam bentuk roh.(pneuma dalam bahasa yunani) yang dijanjikan oleh Yesus sebelum kenaikannya ke surga. Menurut ajaran kristiani,seorang kristen memiliki roh kudus di dalam dirinya.Roh kudus tersebut berfungsi sebagai penolong,pemimpin,penghibur,dan teman yang setia.Roh kudus juga merupakan penghubung antara umat kristiani dengan Allah. Roh kudus di dalam alkitab a) Orang kristen percaya bahwa roh kuduslah yang menyebabkan orang percaya kepada Yesus. Dia pulalah yang memampukan mereka menjalani hidup kristen.Roh tinggal di dalam diri setiap orang kristen sejati. Setiap tubuh orang kristen adalah bait suci tempat tinggal roh. b) Orang kristen juga percaya bahwa roh kudus jugalah yang memberikan karunia-karunia(kemampuan) khusus kepada orang kristen,yang antara lain meliputi karunia-karunia karismatik seperti nubuat,berbahasa roh,menyembuhkan,dan pengetahuan. c) Orang kristen arus utama yang berpandangan sesasionisme percaya bahwa karunia-karunia ini hanya di berikan pada masa perjanjian baru. d) Orang kristen percaya hampir secara universal bahwa karunia-karunia roh yang lebih duniawi masih berfungsi pada masa kini,antara lain karunia pelayanan,mengajar,memberi,memimpin,dan kemurahan. e) Orang Kristen percaya bahwa Roh Kuduslah yang dimaksudkan Yesus ketika Ia menjanjikan penghibur(artinya yng memberikan kekuatan).

BAGIAN 4
PANDANGAN TENTANG MANUSIA
1. Calvinisme Manusia adalah ciptaan Allah yang ditempatkan dalam di tengah ciptaan lain sebagai pelayan pekerjaan Allah. Manusia diciptakan dalam gambar Allah dengan pengetahuan, kebenaran dan kekudusan. Sebagai gambar Allah manusia memiliki kehendak bebas yang memiliki kemampuan bebas untuk taat atau tidak pada hukum Allah.Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Jiwa adalah suatu wujud yang abadi, tetapi yang diciptakan juga sebagai bagian manusia paling luhur. Meskipun manusia dalam rupa lahiriah mencerminkan kemuliaan Allah, tetapi gambar Allah sebenarnya terdapat dalam jiwa.Allah membuat hubungan Perjanjian dengan manusia. Allah menjanjikan berkat dan rahmat-Nya sedangkan manusia harus menguasai alam dengan menyadari statusnya sebagai ciptaan di bawah kuasa kedaulatan Allah. Namun manusia melanggar perjanjian ini dengan memberontak terhadap kekuasaan Allah. Dalam cobaan Iblis manusia menempatkan dirinya di luar kekuasaan Allah dan menyembah ciptaan daripada sang Pencipta. Oleh karena itu manusia jatuh dalam penghakiman Allah. Dalam kejatuhan dalam dosa gambar Allah dalam hati manusia tidak sama sekali rusak dan binasa, tetapi rusak sedemikian rupa hingga yang masih tersisa merupakan sesuatu yang cacatnya mengerikan. Allah yang berdaulat tidak berhenti dalam mewujudkan rencana dan tujuan-Nya. Dalam kekekalan Allah memilih sejumlah besar manusia di antara ciptaan-Nya yang jatuh untuk diperdamaikan-Nya dengan diri-Nya. Untuk mewujudkan rencana-Nya maka Dia mengirim AnakNya yang tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk membayar upah dosa. Yesus Kristus menebus manusia hingga dapat memenuhi standard kebenaran Allah. Roh Kudus dikirim bagi orang pilihan untuk membimbing mereka mengenal kebenaran Alkitab dan memampukan mereka menerima janji pengampunan Allah. Hanya dengan iman manusia dapat diselamatkan melalui kuasa Roh Kudus yang melahirbarukan. Sebagai orang-orang pilihan Allah mereka harus menunjukkan kehidupan yang sesuai yakni selalu memuliakan Allah dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. 2. Dr. Harun Hadiwijono Manusia bukanlah keturunan Tuhan Allah, ia juga bukan mengalir keluar dari Allah tetapi diciptakan Allah (Kej 2:7). Kej 2:7 tidak boleh diartikan secara hurufiah apa adanya tetapi harus kita ambil intinya saja. Maksud cerita ini ialah memberitakan bahwa manusia itu adanya bukan karena dirinya sendiri. Semula manusia tidak ada, kemudian adanya karena diciptakan oleh Allah. Tubuh manusia menampakkan pribadi manusia dalam keseluruhannya dari segi yang lahir. Jiwa atau nyawa adalah ungkapan Alkitab untuk menyebut manusia dalam keseluruhannya dari segi batin, sebagai makhluk yang bernafsu, berkehendak, berpikir dan sebagainya. Hati adalah ungkapan Alkitab untuk mengungkapkan segi hidup manusia yang tidak tampak yakni segi batin, yang

menjadi asas pribadi manusia. Roh adalah segi hidup manusia yang batin juga, yang dapat menerima dan menyatakan pengamatan rohani. Roh ini tidak berdiri sendiri melainkan manusia sebagai keseluruhan, sebagai makhluk yang berpikir, berbuat, berkehendak dan lain-lain. Jadi badan mengungkapkan manusia seutuhnya, jiwa mengungkapkan manusia seutuhnya demikian juga halnya dengan hati dan roh. Hubungan antara jiwa, nyawa, pati dan roh di satu pihak dengan tubuh di lain pihak, jika hendak dirumuskan dalam bahasa ilmiah psikologi, dapat disebut 'aku' atau ego di satu pihak dengan badan di lain pihak Hubungan 'aku' dengan badan bukanlah sebagai 'yang tinggi' dan' yang rendah', bukan sebagai zat halus dan zat kasar melainkan sebagai 'inti' dan periferi atau sekitarnya. Dalam Perjanjian Lama ungkapan 'dijadikan menurut gambar dan rupa Allah' berarti bahwa manusia dijadikan memiliki kesamaan ilahi yang harus dilihat sebagai kesamaan antara Bapa dan anak. Pengertian sedemikian juga terdapat dalam Perjanjian Baru. Arti ungkapan 'gambar' dan 'rupa' ialah bahwa gambar itu adalah gambar yang baik, gambar yang cocok dengan yang digambarkan bukan karikatur bukan gambar ejekan. Ungkapan segambar dan serupa dengan Allah atau persamaan ilahi itu sebenarnya adalah suatu panggilan yang pelaksanaannya bergantung pada sikap manusia terhadap Tuhan Allah. Jadi 'gambar Allah' bukanlah sesuatu yang inherent pada manusia atau bersatu padu dengan manusia, dan juga bukan sesuatu yang berada secara status pada diri manusia. Isi gambar Allah atau kesamaan ilahi manusia adalah kesamaan kualitas hidup yang disebut 'manusia baru' atau 'cara hidup baru' setelah manusia jatuh dalam dosa. Karenanya 'dijadikan menurut gambar dan rupa Allah' berarti manusia harus mencerminkan hidup ilahi dalam hidupnya sehari-hari. Setelah manusia jatuh dalam dosa gambar Allah pada manusia telah rusak secara menyeluruh. Manusia tidak lagi mencerminkan hidup ilahi dalam hidupnya. Kerusakan menyeluruh ini dapat disimpulkan dari pembaharuan gambar Allah pada manusia yang dilakukan oleh Tuhan Yesus juga secara menyeluruh. 3. Perbandingan Dr. Harun dan Calvinisme sama-sama menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah, walaupun memakai argumen yang berbeda.Calvin menegaskan pandangan ini untuk menghadapi bidat Manikheis pada zamannya yang mengajarkan bahwa jiwa itu adalah cangkokan hakekat Allah, seakan sebagian dari keilahian yang tanpa batas itu telah mengalir ke dalam manusia. Sedangkan Dr. Harun menekankan hal ini sesuai konteks masyarakat Indonesia yang banyak menghadapi aliran kebatinan maupun agama-agama yang mengajarkan bahwa manusia bukan keturunan Allah, bukan mengalir keluar dari Allah dan lain-lain. Calvinisme menegaskan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan raga. Sedangkan Dr. Harun menekankan manusia seutuhnya yang memiliki segi lahir atau badan dan segi batin yakni jiwa, hati, roh. Dua pandangan ini pada dasarnya tidak berbeda, hanya pada permukaannya memberi kesan berbeda. Ajaran Calvinisme tentang manusia disebut Dikhotomi. Di pihak lain Dr. Harun menganggap pandangan Dikhotomi ditolak oleh Alkitab. Penolakan ini tidak identik dengan posisi berlawanan terhadap Calvinisme. Sebab yang ditentang oleh Dr. Harun adalah pengertian Dikhotomi yang dualistis, seperti tertulis dalam kutipan berikut; Kecuali trikhotomi juga dikhotomi, yaitu ajaran yang mengajarkan, bahwa manusia terdiri dari badan

dan jiwa, ditolak oleh Alkitab, jikalau badan dan jiwa dipandang sebagai dua zat yang saling bertentangan. Sedangkan dikhotomi dalam Calvinisme tidak bersifat dualistis baik secara tersirat atau tersurat tidak pernah jiwa dipertentangkan dengan raga. Pandangan ini ditegaskan oleh Louis Berkhof; On the one hand the Bible teaches us to view the nature of man as a unity, and not as a duality, consisting of two different elements, each of which move along parallel lines but do not really unite to form a single organism ... While recognizing the complex nature of man, it never represents this as resulting in a twofold subject in man. Every act of man is seen as an act of the whole man. Secara implisit Dr. Harun mengakui adanya dua bagian (bukan empat bagian; tubuh, jiwa, hati, roh) dalam diri manusia yakni segi lahir atau tubuh dan segi batin yang terdiri dari jiwa atau nyawa, hati dan roh. Pandangan ini secara tidak langsung adalah dikhotomi yang pada dasarnya tidak berbeda dengan Calvinisme. Keduanya setuju bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, namun pada isi pengertian kedua istilah ini keduanya berbeda. Calvinisme menyimpulkan bahwa gambar Allah pada manusia mulanya tampak dalam kecerdasan akal budi dan dalam ketulusan hati dan kesehatan semua bagian. Sedangkan Dr. Harun memandang gambar dan rupa Allah sebagai persamaan ilahi. Lebih konkrit dikatakan bahwa itu sebenarnya adalah suatu panggilan yang pelaksanaannya bergantung pada sikap manusia terhadap Tuhan Allah. Jadi 'gambar Allah' bukanlah sesuatu yang inheren pada manusia atau bersatu padu dengan manusia. Pandangan Calvinisme dalam hal ini bersesuaian dengan tradisi Kristen yakni gambar ditafsirkan sebagai ciri-ciri seperti pengetahuan, kesadaran moral, kesempurnaan moral asli dan kekekalan. Sedangkan pandangan Dr. Harun kurang memiliki dukungan yang kuat dan argumen penunjangnya lemah. Kej 1:26 menuliskan "Baiklah kita menjadikan, manusia menurut gambar dan rupa kita". Kalimat ini menempatkan manusia sebagai pihak yang pasif yakni sebagai yang dijadikan menurut gambar dan rupa Pencipta. Jadi tidak tepat jika dikatakan bahwa perwujudan gambar dan rupa Allah adalah panggilan yang pelaksanaannya bergantung pada sikap manusia. Gambar dan rupa Allah telah ada dalam diri manusia yang diciptakan Allah, sekalipun ini menjadi rusak setelah kejatuhan dalam dosa. Berdasarkan perbedaan pengertian mengenai gambar dan rupa ini maka mempengaruhi keduanya dalam meninjau kerusakan yang diakibatkan kejatuhan dalam dosa. Menurut Calvinisme kerusakan yang terjadi sedemikian hebat tetapi bagaimanapun juga masih ada sisa-sisanya. Sisa-sisa tersebut tidak dapat memberi dasar bagi pembenaran manusia namun masih memberikan ciri keberadaan manusia sebagai ciptaan yang berbeda dari yang lain. Beberapa teolog Calvinisme seperti A. Kuyper dan H. Bavinck memakai istilah anugerah umum dengan pengertian bahwa Allah dalam kemurahan-Nya menahan akibat paling buruk dari kejatuhan yang memungkinkan kehidupan dunia yang lumayan bagi manusia. Dasar pemikiran untuk ini adalah Alkitab yang tidak menuliskan tentang kehilangan total gambar Allah dan pada bagian tertentu memakai istilah itu untuk manusia yang sudah jatuh (bdk. Kej 9:6; 1Kor 11:7; Yak 3:9). Sebaliknya Dr. Harun menekankan kejatuhan manusia dalam dosa telah mendatangkan kerusakan menyeluruh pada gambar Allah pada manusia. Pemikiran ini sejajar dengan pengertiannya tentang gambar Allah yakni manusia hidup mencerminkan keilahian dalam hidup sehari-hari. Jika dilihat

dari pengertian sedemikian maka dapat dikatakan memang manusia sudah tidak lagi hidup mencerminkan keilahian sejak jatuh dalam dosa dan diperbudak oleh dosa. Dalam pembahasan mengenai istilah 'gambar' dan 'rupa' rupanya Dr. Harun salah dalam menangkap pemikiran Calvin. Perbedaan persepsi tersebut tampak dalam perbandingan kutipan dari buku Iman Kristen dan Institutio; ia Calvinis (?) biasanya diterangkan demikian, bahwa yang dimaksud dengan "gambar" (tselem) adalah hakekat manusia yang tidak dapat berubah, sedang yang dimaksud dengan "rupa" (demuth) adalah sifat manusia yang dapat berubah. 4. Y. Calvin: Juga ada perbedaan pendapat yang tidak kecil mengenai kata-kata "gambar" dan "rupa", oleh karena mereka yang menerangkan kedua kata itu mencari perbedaan yang sebenarnya tidak ada di antaranya; kata "rupa" itu hanya ditambahkan sebagai keterangan. Sesungguhnya bagi Calvin kedua istilah tersebut tidak berbeda. Sedangkan menurut Dr. Harun sesuai penyelidikannya terhadap pendapat ahli-ahli Perjanjian Lama, kedua kata itu saling menambah serta menunjuk pada hubungan antara manusia dengan Allahnya yakni suatu kesamaan ilahi. Pendapatnya ini menyiratkan adanya sedikit perbedaan antara kata 'gambar' dan 'rupa' seperti yang ternyata dalam kutipan berikut; Kebanyakan daripada ahli P.L. setuju, bahwa kata tselem (gambar) harus diartikan sebagai "gambar asli, patung atau model", sedang kata demuth (rupa) harus diartikan "copy, tembusan", hal yang menunjukkan kesamaan.

BAGIAN 5
PANDANGAN KRISTEN TENTANG HAM
Kebebasan Hak Asasi Umat Kristiani PENGERTIAN HAK ASASI Dalam kamus besar bahasa Indonesia Hak Asasi Manusia adalah Hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan atau dirampas oleh siapapun.Jadi Hak Asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat bukan berdasarkan hukum positif yang berlaku, melainkan berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Manusia memiliki hak yang melekat dengan kodrat kita sebagai manusia. HAM DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI KRISTEN Hak Asasi Manusia dari perspektif teologi Kristen. Hak Asasi Manusia yaitu: Dimensi universalnya dan Dimensi historisnya. Perspektif Kristen tentang Hak Asasi Manusia dapat dilihat melalui dua sisi yaitu: 1) Mengkaji dari sudut iman serta teologi kristiani, apa, mengapa dan bagaimana Hak Asasi Manusia yang berlaku universal bagi setiap orang di semua tempat. 2) Meletakkan upaya tersebut di dalam rangka upaya bersama seluruh umat manusia untuk mengusahakan yang terbaik bagi setiap orang dan semua orang sesuai dengan hak-hak asasinya sebagai manusia. .

HAK KEBEBASAN Hak kebebasan adalah hak-hak yang bersifat melindungi kebebasan dan otonomi manusia dalam kehidupan pribadi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan hak kebebasan ialah lepas sama sekali, lepas dari tuntutan, kewajiban dan perasaan takut, tidak dikenakan hukuman, tidak terikat atau terbatas oleh aturan-aturan dan merdeka. Jadi Hak-hak kebebasan yang hakikatnya dimiliki oleh manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Maksudnya ialah kebebasan itu tidak menekankan segi bebas dari apa, melainkan bebas untuk apa.

HAK DEMOKRASI Hak-hak ini berdasarkan akan kedaulatan rakyat. kata Demokrasi berarti keadaan yang menentukan berdasarkan suara rakyat. Rakyat yang berhak untuk mengurus dirinya sendiri. Dengan kata lain hak dimana seesorang dapat menentukan pilihannya dengan bebas, serta bisa untuk dipilih. Termasuk juga hak beribadah, hak berkumpul, dan membentuk serikat.

HAK-HAK SOSIAL Hak-hak ini berdasarkan kesadaran bahwa masyarakat dan Negara berhak untuk mengusahakan kesejahteraan pihak-pihak yang lemah dalam masyarakat. Hak-hak sosial dapt menjamin kesejahteraan masyarakat dalam bidang pekerjaan, jaminan-jaminan sosial dalam bermasyarakat, upah yang wajar. Jadi pemerintah harus menjamin hak-hak sosial yang menjadi kebutuhan masyarakat tersebut. Dalam hak sosial ini, warga Negara berhak meminta kesejahteraan sosial kepada pemerintah. KEBEBASAN HAK ASASI UMAT KRISTIANI DALAM BERNEGARA Istilah Negara dalam Perjanjian Baru mengandung arti masyarakat yang teratur karena keadilan; sedangkan pemerintahan adalah sebuah lembaga politik yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan memelihara perundang-undangan, hukum, peraturan dan tata tertib kehidupan bermasyarakat. Negara mencakup pengertian 'para penguasa' dan 'yang dikuasai', sedangkan pemerintah hanya berkaitan dengan kekuasaan dan orang yang menjalankan kekuasaan. Dalam menjalankan tugasnya, pemerintah harus menjadi abdi rakyat, menjadi pelayan masyarakat, karena mendapat kepercayaan dan kekuasaan dari rakyat. Orang Kristen sebagai warga negara harus mampu hidup bermasyarakat dan berbangsa secara inklusif. Konsep ini mengandung nilai-nilai nasionalisme yaitu menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Kehidupan berkelompok secara eksklusif harus dihindarkan, karena hanya akan menciptakan kesenjangan kelompok yang akan melahirkan konflik. Douglas Elwood, menjelaskan sebagai berikut, Kekuasaan yang dipakai Allah untuk menegakkan Hak Asasi Manusia di dalam sejarah mesti dipahami secara hakiki sebagai timbal-balik dan persuasif. Kedaulatan Allah di dalam sejarah adalah kuasa kasih yang penuh kesabaran, penuh kemurahan hati dan persuasif, (kuasa) yang memampukannya. Allah menjalankan kedaulatanNya atas kita secara ajakan lebih dari sistem kekerasan, secara timbal-balik daripada secara sepihak, secara pemulihan daripada melalui konfrontasi yang menimbulkan pertentangan, dengan kuasa cinta bukan cinta kuasa.

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB ORANG KRISTEN Sebagai warga negara khususnya umat Kristiani, harus bertanya kepada diri sendiri, kontribusi apakah yang akan diberikan kepada negara dan masyarakat Indonesia, agar terjadi Indonesia yang adil dan Indonesia yang makmur. Pengertian ini bermuatan nilai-nilai nasionalisme dalam arti yang sangat luas, karena nasionalisme selalu berkonotasi dengan nilai-nilai tanggungjawab moral dan etis sebagai warga negara.Memiliki nasionalisme berarti menjadi warga negara yang bertanggung jawab, baik dalam mengisi kemerdekaan maupun dalam gerakan bela negara. Agar pemerintah dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan tujuan untuk keadilan rakyat, orang Kristen perlu mendukung mereka melalui doa, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus, naikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalma segala kesalehan dan kehormatan (1 Tim. 2:1-2). Dalam Roma 13:4, Rasul Paulus berkata bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan. Bagi pemerintah yang berfungsi sebagai hamba Allah, orang Kristen harus takluk kepadanya. Dalam konteks ini, pemerintah adalah pelaku keadilan dan kebenaran. Pemerintah berjuang untuk keadilan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat tanpa pandang bulu. Pemerintah sebagai alat di dalam tangan Tuhan untuk kebaikan semua umat manusia. Yesus meminta kepada para muridnya untuk mendoakan para penguasa agar tidak memerintah dengan tangan besi, tetapi dengan kebenaran, keadilan, kejujuran dan ketulusan (mrk 10:41-45). Dalam Injil Markus 12:17, Tuhan Yesus berkata, "Berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah". Menurut Douglas Yesus mengajar murid-murid untuk bertindak adil. Ia mengharapkan muridmuridnya tidak berkolusi dengan siapapun, dan tidak melibatkan diri dalam tindakan manipulasi dan korupsi. Mereka dituntut untuk menjunjung tinggi nilai -nilai moral dan etis yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah dan sesama manusia. Tindakan kolusi, manipulasi dan korupsi dalam situasi apapun bertentangan dengan kehendak Allah. Berkaitan dengan hal ini, Yesus menghendaki para muridnya untuk menjadi garam dan terang. Tunduk kepada pemerintah bukan berarti melakukan semua perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran dan keadilan. Dalam konteks ini, murid Yesus harus menyerukan suara kenabian, seperti yang telah dilakukan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Kehadiran murid Yesus di tengah masyarakat akan menjadi garam dan terang, dan berusaha menghadirkan misi kerajaan Allah (Luk. 4:18-19) secara utuh.

KESIMPULAN Pemerintah sebagai alat di dalam tangan Tuhan untuk kebaikan semua umat manusia. Yesus meminta kepada para muridnya untuk mendoakan para penguasa agar tidak memerintah dengan tangan besi, tetapi dengan kebenaran, keadilan, kejujuran dan ketulusan (mrk 10:41-45). Dalam Injil Markus 12:17, Tuhan Yesus berkata, "Berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah". Oleh karena itu, sebagai warga Negara yang baik, kita harus melakukan tugas kita untuk memberikan dampak yang baik bagi bangsa dan Negara, dengan ikutserta dalam pembangunan Negara Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, Yesus menghendaki umat Tuhan atau umat Kristiani untuk menjadi garam dan terang dalam berbangsa dan bernegara. Hak Asasi Manusia, khususnya umat Tuhan telah mendapat perlindungan dalam UUD 1945 dan memiliki beberapa hak-hak yang dapat menjamin kesejahteraan umat Tuhan, yaitu: Hak-hak kebebasan, hak-hak demokrasi, serta hak-hak sosial yang juga tercantum dalam UUD 1945. Tugas kita sebagai umat Tuhan melakukan tugas dan kewajiban kita sebagai warganegara yang baik serta melakukan apa yang menjadi tugas kita sebagai umat Tuhan.

BAGIAN 6
PANDANGAN KRISTEN TENTANG IPTEK
IPTEK dalam Pandangan Kristiani Manusia adalah puncak ciptaan Tuhan atau ciptaan Tuhan yang paling mulia. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan diberikan nafas kehidupan, serta dianugerahkan akal budi, pikiran dan perasaan. Sebagai makhluk yang mulia,manusia ditugaskan untuk menaklukan alam semesta (bumi), Kejadian 1:28, dan di dalam Kejadian 11:1-9, Tuhan memberikan kuasa kepada manusia untuk melaksanakan rencana-Nya, di dalam Tuhan tidak ada yang tidak terlaksana, namun kemampuan untuk melaksanakan rencana itu pada hakikatnya memiliki batasanbatasan-Nya. Hal ini dapat diartikan bahwa manusia bisa melakukan apa saja sepanjang itu tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan Allah. Jika bertentangan maka Tuhan akan bertindak mengacaukan dan menggagalkan rencana manusia itu. Tuhan tidak pernah melarang manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan Tuhan mengaruniakan manusia berbagai talenta untuk dikembangkan bukan untuk disimpan (Mat. 25:14-30). MANUSIA DAN TEKNOLOGI Kejadian 1:28, merupakan perintah Allah yang diberikan kepada manusia supaya atas nama Tuhan manusia bekerja dan menggali potensi-potensi alam untuk memenuhi kebutuhannya. Perintah ini pertama-tama diberikan kepada Adam (manusia pertama) yaitu mewakili seluruh umat manusia. Jadi perintah ini untuk seluruh umat manusia. Namun pada kenyataannya terjadi monopoli teknologi dan diterobos supaya teknologi dapat dijadikan alat untuk mendatangkan kesejahteraan orang banyak dan lebih mewujudkan keadilan (Hos. 10:12).Di dalam dunia teknologi ada kecenderungan memandang manusia sebagai mesin atau nomor-nomor yang dikenal, sehingga hubungan manusia bukan lagi I-You, tetapi I-it. Manusia dipandang sebagai benda yang tidak berpribadi, berbeda dengan Tuhan yang memandang manusia berharga di mata-Nya (Yes. 43:1-4). Teknologi tetap merupakan berkat bagi manusia, walaupun banyak ciri-ciri dosa di dalamnya. Untuk itu, teknologi harus digunakan untuk berjuang melawan kelaparan, kemiskinan, kesengsaraan, kedinginan, penyakit, kematian dan sebagainya. Kita dipanggil dalam tugas teknologi dapat menjadi berkat bagi manusia (Luk. 4:1819). Albert Einstein berkata: Religion without science is blind, and science without religion is lame (agama tanpa pengetahuan adalah buta dan pengetahuan tanpa agama adalah pincang). Menurut Iskandar Alisyahbana (1980), Teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah teknologi belum digunakan. Istilah teknologi berasal dari techne atau cara dan logos atau pengetahuan. Sedangkan menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv) memberi arti teknologi sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia.

Pengertian teknologi secara umum adalah: a) Proses yang meningkatkan nilai tambah. b) Produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja. c) Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan. Sedangkan dampak adalah suatu akibat yang ditimbulkan oleh sesuatu . Jadi dampak teknologi adalah akibat yang ditimbulkan oleh suatu teknologi, bisa akibat baik bisa juga akibat buruk dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia. Berikut adalah beberapa dampak positif dan dampak negatif dari perkembangan teknologi dari berbagai bidang dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari: 1. Bidang Informasi dan Komunikasi Dalam bidang informasi dan komunikasi telah terjadi kemajuan yang sangat pesat. Dari kemajuan dapat kita rasakan dampak positifnya antara lain: a) Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru dari belahan bumi manapun melalui internet. b) Kita dapat berkomunikasi dengan kerabat atau teman yang jauh melalui telepon genggam atau yang lebih dikenal dengan handphone (hp). c) Kita mendapatkan informasi yang lebih cepat lewat media massa maupun media elektronik, seperti Koran maupun televisi. Disamping keuntungan-keuntungan yang kita peroleh ternyata kemajuan kemajuan teknologi tersebut dimanfaatkan juga untuk hal-hal yang negatif, antara lain: a) Pemanfaatan jasa komunikasi oleh jaringan teroris (Kompas). b) Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di internet yang bisa disalah gunakan pihak tertentu untuk tujuan tertentu. c) Kerahasiaan alat tes semakin terancam d) Kecemasan teknologi. 2. Bidang Ekonomi dan Industri a) Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi b) Produktifitas dunia industri semakin c) Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki. 3. Bidang kedokteran a) terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan

b) Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental "instant". 4. Bidang Sosial dan Budaya Akibat kemajuan teknologi bisa kita lihat: a) Perbedaan kepribadian pria dan wanita. b) Meningkatnya rasa percaya diri Kemajuan ekonomi di negara-negara Asia melahirkan fenomena yang menarik c) Tekanan Meskipun demikian kemajuan teknologi akan berpengaruh negatip pada aspek budaya: a) Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat b) Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat. c) Pola interaksi antar manusia yang berubah 5. Bidang Pendidikan Teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan antara lain: a) Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan. b) Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. c) Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka. Disamping itu juga muncul dampak negatif dalam proses pendidikan antara lain: a) Kerahasiaan alat tes semakin terancam Program tes inteligensi seperti tes Raven, Differential Aptitudes Test dapat diakses melalui compact disk.. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu dengan kecepatan pembocoran melalui internet tersebut. b) Penyalahgunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal. 6. Bidang politik Dampak-dampak yang ditimbulkan antara lain: a) Timbulnya kelas menengah baru Pertumbuhan teknologi dan ekonomi di kawasan ini akan mendorong munculnya kelas menengah baru b) Proses regenerasi kepemimpinan. c) Di bidang politik internasional, juga terdapat kecenderungan tumbuh berkembangnya regionalisme.

PENUTUP Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memang sangat diperlukan. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Oleh karena itu untuk mencegah atau mengurangi akibat negatif kemajuan teknologi, pemerintah di suatu negara harus membuat peraturan-peraturan atau melalui suatu konvensi internasional yang harus dipatuhi oleh pengguna teknologi dan pengguna teknologi itu juga harus menggunakan teknologi dengan baik sehingga bias mendatangkan manfaat bagi dirinya dan orang lain Setelah mengetahui dampak-dampak yang ditimbulkan dari adanya teknologi. Menyaring segala sesuatu yang didapatkan dari perkembangan IPTEK itu sendiri, yaitu dengan mengambil hal-hal yang dianggap baik, serta mengembangkannya, tanpa menyalahi ajaran Tuhan Allah, dan menjauhi hal-hal buruk yang dihasilkan oleh perkembangan IPTEK itu sendiri.

BAGIAN 7
PANDANGAN AGAMA KRISTEN TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP
Pengertian lingkungan hidup Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Demikian pengertian lingkungan hidup sebagaimana dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Akhir-akhir ini, perhatian dan kesadaran umat manusia untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidupnya semakin meningkat. Hal itu sejalan dengan pengetahuan yang semakin banyak dan pengalaman yang semakin nyata bahwa lingkungan hidup atau planet bumi sedang sakit atau rusak. Sakit atau rusaknya planet bumi itu disebabkan oleh ulah manusia sendiri, yaitu dalam kaitannya dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumber-sumber alam. Cara memanfaatkan dan mengelola lingkungan cenderung bersifat eksploitatif dan destruktif. Maka proses pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan mengandung aspek perusakan lingkungan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Dari keterangan di atas, menjadi nyata bahwa benturan yang menyebabkan lingkungan hidup menderita sakit atau rusak datang dari manusia dalam proses mengambil, mengolah, dan mengonsumsi sumber- sumber alam. Benturan terjadi ketika proses-proses itu melampui batas-batas kewajaran atau proposionalitas. Batasbatas kewajaran atau proposionalitas itu terlampaui ketika manusia semakin mampu dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi memanfaatkan sumber- sumber secara masal, intensif, dan cepat dan sekaligus mengotori atau mencemarinya. Tetapi yang lebih parah lagi, yaitu bahwa manusia yang merasa semakin enak semakin tidak tahu diri, sehingga ia seolah-olah menjelma menjadi tuan dan pemilik alam. Maka kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup harus dikembalikan pada manusia, dengan mempertanyakan tentang dirinya dan kelakuannya terhadap alam. Apa kata teologi atau etika Kristen? Dasar Teologis Etika Lingkungan Dalam cerita penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan bersama dengan seluruh alam semesta. Itu berarti bahwa manusia memunyai keterkaitan dan kesatuan dengan lingkungan hidupnya. Akan tetapi, diceritakan pula bahwa hanya manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah ("Imago Dei") dan yang diberikan kewenangan untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan segala isinya. Jadi di satu segi, manusia adalah bagian integral dari ciptaan (lingkungan), akan tetapi di lain segi, ia diberikan kekuasaan untuk memerintah dan memelihara bumi. Maka hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya seperti dua sisi dari mata uang yang mesti

dijalani secara seimbang. 1. Kesatuan Manusia dengan Alam Alkitab menggambarkan kesatuan manusia dengan alam dalam cerita tentang penciptaan manusia: "Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah" (Kej. 2:7), seperti Ia juga "membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara" (Kej. 2:19). Dalam bahasa Ibrani, manusia disebut "adam". Nama itu memunyai akar yang sama dengan kata untuk tanah, "adamah", yang berarti warna merah kecokelatan yang mengungkapkan warna kulit manusia dan warna tanah. Dalam bahasa Latin, manusia disebut "homo", yang juga memunyai makna yang berkaitan dengan "humus", yaitu tanah. Dalam artian itu, tanah yang biasa diartikan dengan bumi, memunyai hubungan lipat tiga yang kait-mengait dengan manusia: manusia diciptakan dari tanah (Kej. 2:7; 3:19, 23), ia harus hidup dari menggarap tanah (Kej. 3:23), dan ia pasti akan kembali kepada tanah (Kej. 3:19; Maz. 90:3). Di sini nyata bahwa manusia dan alam (lingkungan hidup) hidup saling bergantung -- sesuai dengan hukum ekosistem. Karena itu, kalau manusia merusak alam, maka secara otomatis berarti ia juga merusak dirinya sendiri. 2. Kepemimpinan Manusia Atas Alam Walaupun manusia dengan alam saling bergantung, Alkitab juga mencatat dengan jelas adanya perbedaan manusia dengan unsur-unsur alam yang lain. Hanya manusia yang diciptakan segambar dengan Allah dan yang diberikan kuasa untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan seluruh ciptaan yang lain (Kej. 2:26-28), dan untuk mengelola dan memelihara lingkungan hidupnya (Kej. 2:15). Jadi, manusia memunyai kuasa yang lebih besar daripada makhluk yang lain. Ia dinobatkan menjadi "raja" di bumi yang dimahkotai kemuliaan dan hormat (Maz. 8:6). Ia menjadi wakil Allah yang memerintah atas nama Allah terhadap makhluk-makhluk yang lain. Ia hidup di dunia sebagai duta Allah. Ia adalah citra, maka ia ditunjuk menjadi mitra Allah. Karena ia menjadi wakil dan mitra Allah, maka kekuasaan manusia adalah kekuasaan perwakilan dan perwalian. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yang terbatas dan yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemberi kuasa, yaitu Allah. Itu sebabnya manusia tidak boleh sewenang-wenang terhadap alam. Ia tidak boleh menjadi "raja lalim". Kekuasaan manusia adalah kekuasaan "caretaker". Maka sebaiknya manusia memberlakukan secara seimbang, artinya pengelolaan dan pemanfaatan sumber-sumber alam diimbangi dengan usaha pemeliharaan atau pelestarian alam. 3. Kegagalan Manusia Memelihara Alam Alkitab mencatat secara khusus adanya "keinginan" dalam diri manusia untuk menjadi sama seperti Allah dan karena keinginan itu ia "melanggar" amanat Allah (Kej. 3:5-6). Tindakan melanggar amanat Allah membawa

dampak bukan hanya rusaknya hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesamanya dan dengan alam. Manusia menghadapi alam tidak lagi dalam konteks "sesama ciptaan", tetapi mengarah pada hubungan "tuan dengan miliknya". Manusia memperlakukan alam sebagai objek yang sematamata berguna untuk dimiliki dan dikonsumsi. Alam diperhatikan hanya dalam konteks kegunaan (utilistik-materialistik). Manusia hanya memerhatikan tugas menguasai, tetapi tidak memerhatikan tugas memelihara. Dengan demikian, manusia gagal melaksanakan tugas kepemimpinannya atas alam. Hal-hal yang perlu manusia lakukan agar terciptanya lingkungan hidup yang sejahtera 1. Solidaritas dengan Alam Karena manusia dengan lingkungan hidup adalah sesama ciptaan yang telah dipulihkan hubungannya oleh Tuhan Yesus Kristus, maka manusia, khususnya manusia baru dalam Kristus (2 Kor. 5:7), seharusnya membangun hubungan solider dengan alam. Hubungan solider (sesama ciptaan dan sesama tebusan) berarti alam mestinya diperlakukan dengan penuh belas kasihan. Manusia harus merasakan penderitaan alam sebagai penderitaannya dan kerusakan alam sebagai kerusakannya juga. Seluruh makhluk dan lingkungan sekitar tidak diperlakukan semena- mena, tidak dirusak, tidak dicemari dan semua isinya tidak dibiarkan musnah atau punah. Manusia tidak boleh bersikap kejam terhadap alam, khususnya terhadap sesama makhluk. Dengan cara itu, manusia dan alam secara bersama (kooperatif) menjaga dan memelihara ekosistem . Contoh konkret: manusia berdisiplin dalam membuang sampah atau limbah (individu, rumah tangga, industri, kantor, dan sebagainya) agar tidak mencemari lingkungan dan merusak ekosistem. Pencemaran/polusi mestinya dicegah, diminimalisir, dan dihapuskan supaya alam tidak sakit atau rusak. Kita bertanggung jawab atas kesehatan dan kesegaran alam kita. Sikap solider dengan alam dapat pula ditunjukkan dengan sikap hormat dan menghargai (respek) terhadap alam. Tidak berarti alam disembah, tetapi alam dihargai sebagai ciptaan yang dikaruniakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus yang menjadi cerminan kemuliaan Allah. Menghargai alam berarti menghargai Sang Pencipta dan Sang Penebus. Contoh konkret misalnya tidak membabat hutan sembarangan sebab membabat hutan dapat memusnahkan aneka ragam spesies dalam hutan. Contoh lain, tidak menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak atau bahan pemusnah lainnya. Sebaliknya, usaha menghargai dapat dilakukan melalui usaha-usaha kreatif mendukung dan melindungi kehidupan seluruh makhluk dan lingkungan hidup misalnya dengan tidak hanya penghijauan, pembudidayaan, tetapi juga usaha pemulihan dengan membersihkan lingkungan yang terlanjur rusak. Pokoknya, sikap solidaritas dengan alam dapat ditunjukkan dengan pola hidup berdisiplin dalam menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem secara konstan.

2. Pelayanan yang Bertanggung Jawab (Stewardship) Alam adalah titipan dari Allah untuk dimanfaatkan/dipakai/digunakan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi sekaligus adalah rumahnya. Maka sumber-sumber alam diberikan kepada manusia tidak untuk diboroskan. Manusia harus menggunakan dan memanfaatkan sumber- sumber alam itu secara bertanggung jawab. Maka pemanfaatan/penggunaan sumber- sumber alam haruslah dilihat sebagai bagian dari pelayanan. Alam digunakan dengan memerhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan kebutuhan lingkungan, yaitu menjaga ekosistem. Tetapi alam juga digunakan dengan memerhatikan kebutuhan sesama, termasuk generasi yang akan datang. Memanfaatkan alam adalah bagian dari pertanggungjawaban talenta yang diberikan/dipercayakan oleh Tuhan kepada manusia (Mat. 25:14-30 par.). Allah telah memercayakan alam ini untuk dimanfaatkan dan dipakai. Untuk dilipatgandakan hasilnya, untuk disuburkan, dan dijaga agar tetap sehat sehingga produknya tetap optimal. Oleh karena itu, alam mesti dipelihara dan keuntungan yang didapat dari alam sebagian dikembalikan sebagai deposit terhadap alam. Tetapi juga dipergunakan secara adil dengan semua orang. Ketidakadilan dalam memanfaatkan sumber-sumber alam adalah juga salah satu penyebab rusaknya alam. Sebab mereka yang merasa kurang akan mengambil kebutuhannnya dari alam dengan cara yang sering kurang memerhatikan kelestarian alam, misalnya dengan membakar hutan, mengebom bunga karang untuk ikan, dan sebagainya. Sebaliknya, mereka yang tergoda akan kekayaan melakukan pengurasan sumber alam secara tanpa batas. 3. Pertobatan dan Pengendalian Diri Kerusakan lingkungan berakar dalam keserakahan dan kerakusan manusia. Itu sebabnya manusia yang dikuasai dosa keserakahan dan kerakusan itu cenderung sangat konsumtif. Secara teologis, dapat dikatakan bahwa dosa telah menyebabkan krisis moral/krisis etika dan krisis moral ini menyebabkan krisis ekologis, krisis lingkungan. Dengan demikian, setiap perilaku yang merusak lingkungan adalah pencerminan krisis moral yang berarti tindakan dosa. Dalam arti itu, maka upaya pelestarian lingkungan hidup harus dilihat sebagai tindakan pertobatan dan pengendalian diri. Dilihat dari sudut pandang Kristen, maka tugas pelestarian lingkungan hidup yang pertama dan utama adalah mempraktikkan pola hidup baru, hidup yang penuh pertobatan dan pengendalian diri, sehingga hidup kita tidak dikendalikan dosa dan keinginannya, tetapi dikendalikan oleh cinta kasih.

BAGIAN 8
KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA
A. PENGERTIAN "Rukun" dari Bahasa Arab "ruknun" artinya asas-asas atau dasar, seperti rukun Islam. Rukun dalam arti adjektiva adalah baik atau damai. Kerukunan hidup umat beragama artinya hidup dalam suasana damai, tidak bertengkar, walaupun berbeda agama. Kerukunan umat beragama adalah program pemerintah meliputi semua agama, semua warga negara RI. Pada tahun 1967 diadakan musyawarah antar umat beragama, Presiden Soeharto dalam musyawarah tersebut menyatakan antara lain: "Pemerintah tidak akan menghalangi penyebaran suatu agama, dengan syarat penyebaran tersebut ditujukan bagi mereka yang belum beragama di Indonesia. Kepada semua pemuka agama dan masyarakat agar melakukan jiwa toleransi terhadap sesama umat beragama". Pada tahun 1972 dilaksanakan dialog antar umat beragama. Dialog tersebut adalah suatu forum percakapan antar tokoh-tokoh agama, pemuka masyarakat dan pemerintah. Tujuannya adalah untuk mewujudkan kesadaran bersama dan menjalin hubungan pribadi yang akrab dalam menghadapi masalah masyarakat. B. TUJUAN Kerukunan umat beragama bertujuan untuk memotivasi dan mendinamisasikan semua umat beragama agar dapat ikut serta dalam pembangunan bangsa.

C. LANDASAN HUKUM 1. Landasan Idiil, yaitu Pancasila (sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa). 2. Landasan Konstitusional, yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 29 ayat 1: "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa". Dan Pasal 29 ayat 2: "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu". 3. Landasan Strategis, yaitu Ketatapan MPR No.IV tahun 1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara. Dalam GBHN dan Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000, dinyatakan bahwa sasaran pembangunan bidang agama adalah terciptanya suasana kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang penuh keimanan dan ketaqwaan, penuh kerukunan yang dinamis antar umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, secara bersama-sama makin memperkuat

landasan spiritual., moral dan etika bagi pembangunan nasional, yang tercermin dalam suasana kehidupan yang harmonis, serta dalam kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa selaras dengan penghayatan dan pengamalan Pancasila.

4. Landasan Operasional a. UU No. 1/PNPS/l 965 tentang larangan dan pencegahan penodaan dan penghinaan agama b. Keputusan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI. No.01/Ber/Mdn/1969 tentang pelaksanaan aparat pemerintah yang menjamin ketertiban dan kelancaran pelaksanaan dan pengembangan ibadah pemeluk agama oleh pemeluknya. c. SK. Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri RI. No.01/1979 tentang tata cara pelaksanaan pensyiaran agama dan bantuan luar negeri kepada lembaga-lembaga keagamaan swasta di Indonesia. d. Surat edaran Menteri Agama RI. No.MA/432.1981 tentang penyelenggaraan peringatan hari besar keagamaan D. WADAH KERUKUNAN KEHIDUPAN BERAGAMA Pada awalnya wadah tersebut diberi nama Konsultasi Antar Umat Beragama, kemudian berubah menjadi Musyawarah Antar Umat Beragama. Ada tiga kerukunan umat beragama, yaitu sebagai berikut: 1. Kerukunan antar umat beragama. 2. Kerukunan intern umat beragama. 3. Kerukunan umat beragama dengan pemerintah. Usaha memelihara kesinambungan pembangunan nasional dilakukan antara lain: 1. Menumbuhkan kesadaran beragama. 2. Menumbuhkan kesadaran rasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap Pancasila dan UUD 1945. 3. Menanamkan kesadaran untuk saling memahami kepentingan agama masingmasing. 4. Mencapai masyarakat Pancasila yang agamis dan masyarakat beragama Pancasilais. Usaha tersebut pada prinsipnya: a. Tidak mencampuradukan kaidah dengan bukan kaidah. b. Pertumbuhan dan kesemarakan tidak menimbulkan perbenturan. c. Yang dirukunkan adalah warga negara yang berbeda agama, bukan kaidah dan ajaran agama. d. Pemerintah bersikap preventif agar terbina stabilitas dan ketahanan nasional serta terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.

E. PEMBANGUNAN KEHIDUPAN BERAGAMA

1. Agama Sebagai Sumber Nilai Pembangunan a. Pembangunan untuk mencapai kebahagiaan hidup. b. Kebahagiaan material nisbi, kebahagiaan mutlak dari Allah, yaitu kebahagiaan batiniah dan lahiriah. c. Hakikat pembangunan adalah manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia dengan segala totalitasnya, peradabannya, kebudayaannya dan agamanya. d. Bila tidak total akan terjadi penyimpangan. Ini bertentangan dengan pembangunan nasional e. Aspirasi sosial harus sejalan dengan keutuhan hidup secara perorangan masyarakat. f. Pembangunan untuk membangun manusia dan agama untuk kebahagiaan manusia. g. Pembangunan perlu nilai agama, agama memberi bentuk, arti dan kualitas hidup. h. Agama memberi motivasi dan tujuan pembangunan. 2. Agama dan Ketahanan Nasional a. Ketahanan nasional berarti menyatukan kekuatan rakyat bersama aparat pemerintah dan alat keagamaan pemerintah. b. Agama besar di dunia mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan bangsa dalam wujud tradisi dan adat istiadat, serta corak kebudayaan Indonesia. c. Usaha bangsa Indonesia memerdekakan bangsa dan negara tidak terlepas dari pengaruh dan motivasi agama. d. Ketahanan nasional adalah dari, oleh dan untuk seluruh bangsa Indonesia yang beragama, maka ketahanan nasional harus terangkat dengan dukungan umat beragama.

F. POLA PEMBINAAN KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA 1. Perlunya Kerukunan Hidup Beragama a. Manusia Indonesia satu bangsa, hidup dalam satu negara, satu ideologi Pancasila. Ini sebagai titik tolak pembangunan. b. Berbeda suku, adat dan agama saling memperkokoh persatuan. c. Kerukunan menjamin stabilitas sosial sebagai syarat mutlak pembangunan. d. Kerukunan dapat dikerahkan dan dimanfaatkan untuk kelancaran pembangunan. e. Ketidak rukunan menimbulkan bentrok dan perang agama, mengancam kelangsungan hidup bangsa dan negara. f. Pelita III: kehidupan keagamaan dan kepercayaan makin dikembangkan sehingga terbina hidup rukun di antara sesama umat beragama untuk memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa dalam membangun masyarakat.

g. Kebebasan beragama merupakan beban dan tanggungjawab untuk memelihara ketentraman masyarakat. 2. Kerukunan Intern Umat Beragama a. Pertentangan di antara pemuka agama yang bersifat pribadi jangan mengakibatkan perpecahan di antara pengikutnya. b. Persoalan intern umat beragama dapat diselesaikan dengan semangat kerukunan atau tenggang rasa dan kekeluargaan. 3. Kerukunan Antar Umat Beragama a. Keputusan Menteri Agama No.70 tahun 1978 tentang pensyiaran agama sebagai rule of game bagi pensyiaran dan pengembangan agama untuk menciptakan kerukunan hidup antar umat beragama. b. Pemerintah memberi perintah pedoman dan melindungi kebebasan memeluk agama dan melakukan ibadah menurut agamanya masing-masing. c. Keputusan Bersama Mendagri dan Menag No.l tahun 1979 tentang tata cara pelaksanaan pensyiaran agama dan bantuan luar negeri bagi lembaga keagamaan di Indonesia. 4. Kerukunan Antar Umat Beragama dengan Pemerintah a. Semua pihak menyadari kedudukannya masing-masing sebagai komponen orde baru dalam menegakkan kehidupan berbangsa dan bernegara. b. Antara pemerintah dengan umat beragama ditemukan apa yang saling diharapkan untuk dilaksanakan. c. Pemerintah mengharapkan tiga prioritas, umat beragama, diharapkan partisipasi aktif dan positif dalam: 1) Pemantapan ideologi Pancasila; 2) Pemantapan stabilitas dan ketahanan nasional; 3) Suksesnya pembangunan nasional; 4) Pelaksanaan tiga kerukunan harus simultan. Pembinaan tiga kerukunan tersebut harus simultan dan menyeluruh sebab hakikat ketiga bentuk itu saling berkaitan. Tahap-tahap kerukunan: Musyawarah antar umat beragama pendekatan bersifat politis. 1) Pertemuan dan dialog bersifat ilmiah filosofis menghasilkan agree in disagreement = setuju dalam perbedaan. 2) Pendekatan praktis pragmatis yaitu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar kehidupan beragama makin semarak, dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan bernegara. Pada tanggal 30 Juni 1980 di bentuk wadah musyawarah antar umat beragama dalam keputusan Menteri Agama RI. No.35 tahun 1980 yang ditanda tangani wakil-wakil dari: 1. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari golongan Islam. 2. Dewan Gereja-gereja Indonesia (DGI) dari golongan Kristen Protestan. 3. Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI) dari golongan Katolik. 4. Prasida Hindu Darma Pusat (PHDP) dari golongan Hindu.

5. Perwalian Umat Budha Indonesia (WALUBI) dari golongan Budha. 6. Sekretaris Jenderal Departemen Agama.

G. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA 1. Dasar Pemikiran a. Landasan falsafat Pancasila dan Pembangunan Bangsa. b. Pancasila mengandung dasar yang dapat diterima semua pihak. c. Pembangunan tersebut wajib dilaksanakan dan disukseskan. d. Kerukunan bukan status quo, tetapi sebagai perkembangan masyarakat yang sedang membangun dengan berbagai tantangan dan persoalan. e. Kerukunan menimbulkan sikap mandiri 2. Pedoman Pensyiaran Agama a. Pupuk rasa hormat-menghormati dan percaya-mempercayai. b. Hindarkan perbuatan menyinggung perasaan golongan lain. c. Pensyiaran jangan pada orang yang sudah beragama, dengan bujukan dan tekanan. d. Jangan pengaruhi orang yang telah menganut agama lain dengan: datang ke rumah, janji, hasut dan menjelekkan. e. Pensyiaran jangan dengan pamflet, majalah, obat dan buku di daerah atau rumah orang yang beragama lain. 3. Bantuan Luar Negeri a. Bantuan luar negeri hanya untuk pelengkap. b. Pemerintah berhak mengatur, membimbing dan mengarahkan agar bermanfaat dan sesuai dengan fungsi dan tujuan bantuan. 4. TindakLanjut a. Pemerintah perlu mengatur pensyiaran agama. b. Pensyiaran dilandaskan saling harga-menghargai, hormat-menghormati dan penghormatan hak seseorang memeluk agamanya. c. Perlu sikap terbuka. d. Bantuan luar negeri agar bermanfaat selaras dengan fungsi dan tujuan bantuan. 5. Peraturan-peraturan tentang Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama a. Dakwah Dakwah melalui radio tidak mengganggu stabilitas nasional, tidak mengganggu pembangunan nasional dan tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Keputusan Menteri Agama No.44 tahun 1978 : Dakwah; pengajian, majelis taklim, peringatan hari besar Islam, upacara keagamaan, ceramah agama, drama dan pertunjukkan seni serta usaha pembangunan seperti: madrasah, poliklinik, rumah sakit, rumah jompo dsb. b. Aliran Kepercayaan (Surat Menag No.B/5943/78) Diantaranya adalah: Tidak merupakan agama dan tidak mengarah kepada pembentukan agama baru, pembinaannya tidak termasuk DEPAG, penganut kepercayaan tidak kehilangan agamanya, serta tidak ada sumpah, perkawinan, kelahiran dan KTP menurut kepercayaan (Tap MPR No.IV/ MPR/78).

c. Tenaga asing Diantaranya adalah: tenaga asing harus memiliki izin bekerja tertulis dari Depnaker, diklat bagi tenaga WNI untuk menggantikan WNA, orang asing dapat melakukan kegiatan keagamaan dengan seizin Menag, Instruksi Menag. No.10 tahun l968, serta Keputusan Menag. No.23 tahun 1997 dan No.49 tahun 1980. d. Buku-buku 1) Jaksa Agung berwenang melarang buku yang dapat mengganggu ketertiban umum. 2) Barang siapa menyimpan, memiliki, mengumumkan, menyampaikan, menyebarkan, menempelkan, memperdagangkan dan mencetak kembali barang cetakan yang terlarang di hukum dengan hukuman kurungan setinggi-tingginya 1 tahun. 3) Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama agar: a) Mengawasi dan meneliti peredaran mushaf Al-Qur'an dalam masyarakat dan toko, apakah sudah ada tanda tashih dari lajnah/panitia pentashih apa belum. b) Segera melaporkan kepada Balitbang Depag bila terdapat mushaf yang belum ada tanda tashih. e. Pembangunan tempat ibadah 1) Pembangunan tempat ibadah perlu izin Kepala Daerah. 2)Kepala Daerah mengizinkan pendirian sarana ibadah setelah mempertimbangkan: pendapat Kanwil Depag setempat, planologi, dan kondisi keadaan setempat. 3) Surat permohonan ditujukan kepada Gubernur, dilampiri: keterangan tertulis dari lurah setempat, jumlah umat yang akan menggunakan dan domisili, surat keterangan status tanah oleh kantor agraria, peta situasi dari Sudin Tata Kota, rencana gambar, dan daftar susunan pengurus/panitia. 4) Kepala Daerah membimbing dan mengawasi, agar penyebaran agama: tidak menimbulkan perpecahan, tidak disertai intimidasi, bujukan, paksaan dan ancaman, serta tidak melanggar hukum, keamanan dan ketertiban umum. H. Akar Masalah Kerukunan Umat Beragama Sebagaimana telah dikemukakan di bab Pendahuluan, benih-benih persoalan kerukunan umat beragama muncul setelah peristiwa G-30-S PKI. Dari Musyawarah Antar Agama, yang diselenggarakan oleh Pemerintah pada tanggal 30 November 1967 di Gedung Pejambon diketahui bahwa masalah penyampaian ajaran agama menjadi pangkal masalah kerukunan umat beragama. Menyikapi rumitnya menemukan titik kompromi dalam persoalan penyebaran agama, Mohammad Natsir, yang mewakili pihak Islam mengajukan tiga solusi berkaitan dengan penyebaran agama, yaitu:

1. Kristen tanpa mengurangi hak dakwah mereka untuk membawa perkabaran Injil sampai ke ujung bumi, supaya menahan diri dari maksud dan tujuannya dari program Kristenisasi itu; 2. Demikian pula orang Islam pun harus menahan diri, jangan cepat-cepat untuk melakukan tindakan fisik. Tapi ini hanya bisa apabila orang Kristen pun dapat menahan diri; 3. Sementara itu pun pihak Pemerintah harus bertindak cepat dalam hal pihak Kristen tidak mematuhi larangan-larangan Pemerintah, agar pada orang Islam tidak timbul perasaan tidak berdaya, seolah-olah mereka tidak mendapat perlindungan hukum dan jaminan hukum terhadap rongrongan pihak lain. Musyawarah Antar Agama yang diselenggarakan oleh Pemerintah itu tidak menghasilkan titik temu karena para wakil umat beragama bertahan pada pendapatnya masing-masing. Sedangkan menurut Misbach Malim, Sekretaris Jenderal Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia, penolakan wakil kalangan Kristen Protestan dan Katolik terhadap rancangan usulan pemerintah yang menjadi penyebab buntunya dialog kerukunan umat beragama pada waktu itu. Ekspresi kebebasan beragama, yang diwujudkan dalam bentuk penyampaian atau penyebaran ajaran agama merupakan salah satu persoalan penting di dalam penciptaan kerukunan umat beragama, utamanya ketika dilakukan di tengah-tengah umat beragama lain. Di satu sisi, penyampaian atau penyebaran ajaran agama itu dilakukan untuk memenuhi tuntutan kewajiban pelaksanaan ajaran agama, sebagaimana disebutkan di dalam doktrin-doktrin agama. Di sisi ini, pelaksanaan tuntutan doktrin ajaran agama tersebut berada di wilayah perlindungan Hak Asasi Manusia. Akan tetapi, di sisi lain pelaksanaan kewajiban agama itu menimbulkan persoalan ketika dianggap mengurangi atau mencederai hak-hak umat beragama yang lain. Di dalam makalah yang disampaikan pada Sarasehan Nasional Kerukunan Umat Beragama tahun 1996, Budi Harsono, Assospol Kassospol ABRI tahun 1996, mengemukakan bahwa salah satu sifat kodrati agama adalah watak dakwahnya, misi atau zendingnya. Ia berpendapat bahwa dalam sifat dan watak dasar inilah terletak kekuatan dan juga sekaligus kelemahan agamaDengan mengutip pendapat Harold Coward, ia menegaskan bahwa agama dapat saja bertemu, tapi teologi mereka berbenturan. Masing-masing berusaha memperluas eksklusivitasnya, mempertegas identitasnya, membuktikan kredibilitasnya demi hegemoni teologis dan kelangsungan eksistensi sendiri. Budi Harsono mengungkapkan adanya dambaan pada setiap agama menjadi penguasa suatu dunia yang mono-religius. Dari perspektif HANKAM dambaan itu, menurutnya, berpotensi memancing munculnya konflik dan perpecahan yang sangat rawan terhadap stabilitas keamanan nasional bahkan integrasi bangsa. Potensi konflik dan perpecahan yang dibawa di dalam misi penyampaian ajaran agama itu oleh menurut Eric Brahm berasal dari doktrin dan dogma yang harus diterima oleh para pemeluknya. Ia mengatakan, Although not necessarily so, there are some aspects of religion that make it susceptible to being a latent source of conflict. All religions have their accepted dogma, or articles of belief, that followers must accept without question. This can lead to inflexibility and intolerance in the face of other beliefs. After all, if it is the word of God, how can one compromise it? At the same time, scripture and dogma are often vague and open to interpretation. Therefore, conflict can arise over whose interpretation is the correct one, a conflict that ultimately cannot be solved because there is no arbiter. The winner generally is the interpretation that

attracts the most followers. However, those followers must also be motivated to action. Although, almost invariably, the majority of any faith hold moderate views, they are often more complacent, whereas extremists are motivated to bring their interpretation of Gods will to fruition. Di samping karena persoalan doktriner dan dogmatis tersebut, konflik antar umat beragama juga disebabkan oleh adanya keberpihakan umat beragama tertentu terhadap rezim yang berkuasa. Hal tersebut digambarkan oleh Elizabeth Nottingham dari pengamatannya terhadap perkembangan agama pada masa India kuno dan Kristen pada masa abad pertengahan. Ia mengatakan: dengan mendukung status quo, agama tidak hanya menjamin stabilitas sosial, tetapi kadang-kadang juga mendukung konservatisme yang ekstrem. Tetapi, agama juga seringkali mempunyai fungsi yang berlawanan yaitu memberikan pembenaran moral kelompok-kelompok yang menentang keras sistem-sistem sosial yang sudah ada.

Titik tengkar antarumat beragama, terkait dengan masalah dakwah atau misi tersebut, semakin dipertajam dengan adanya pengakuan kebebasan untuk memilih agama oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), sebagaimana tertulis di dalam International Convention on Civil and Political Rights (ICCPR) 16 Desember 1966, Pasal 18, yang menyebutkan: 1. Everyone shall have the right to freedom of thought, conscience and religion. This right shall include freedom to have or to adopt a religion or belief of his choice, and freedom, either individually or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in worship, observance, practice and teaching. 2. No one shall be subject to coercion which would impair his freedom to have or to adopt a religion or belief of his choice. 3. Freedom to manifest one's religion or beliefs may be subject only to such limitations as are prescribed by law and are necessary to protect public safety, order, health, or morals or the fundamental rights and freedoms of others. 4. The States Parties to the present Covenant undertake to have respect for the liberty of parents and, when applicable, legal guardians to ensure the religious and moral education of their children in conformity with their own convictions. Di Indonesia, kebebasan untuk memilih agama itu diterjemahkan dengan kebebasan untuk berpindah-pindah keyakinan agama, sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 18 Undang-undang Dasar Republik Indonesia Serikat 1949: Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran keinsyafan batin dan agama: hak ini meliputi pula kebebasan bertukar agama atau keyakinan begitu pula kebebasan menganut agamanya atau keyakinannya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di muka umum maupun dalam lingkungannya sendiri dengan jalan mengajarkan, mengamalkan, beribadat, mentaati perintah dan aturan-aturan agama, serta dengan jalan mendidik anakanak dalam iman dan keyakinan orang tua mereka.

Sebagaimana dicatat oleh A.B.Kusuma, oleh beberapa kalangan rumusan Pasal 18 Konstitusi RIS tersebut dinyatakan kebablasan sehingga ketika rumusan Pasal tersebut diangkat kembali dalam pembahasan mengenai HAM pada Sidang MPRS 1967, mengalami kebuntuan pembahasan. Upaya untuk menciptakan kerukunan umat beragama jelas bukan persoalan yang mudah. Menurut Douglas W Shrader120 setidaknya ada tiga fokus masalah yang harus direorientasi berkaitan dengan upaya tersebut, yaitu: 1) Sifat dasar manusia terutama yang berkaitan dengan upaya pencaharian nilainilai spiritual dan kebenaran agama pada masa lalu; 2) Memahami kembali kejelasan hubungan antara agama dan budaya; dan 3) Mengklarifikasi pengertian toleransi, perbedaan, dan kebebasan. I. Peran Negara Besarnya potensi konflik yang terjadi di antara umat beragama, terutama yang berkaitan dengan penyampaian dan penyebaran ajaran agama, mendorong diperlukannya peran negara. Wacana peran negara di dalam persoalan keagamaan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan penciptaan kerukunan umat beragama, pernah dikemukakan di dalam perumusan naskah asli Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia pada tahun 1945. Menurut Soekiman, sebagaimana dikemukakan di dalam rapat Badan untuk Menyelidiki Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 15 Juli 1945, persoalan keagamaan masyarakat sesungguhnya telah menjadi perhatian sejak masa penjajahan Belanda walaupun pemerintah Kolonial Belanda menegaskan sikap netralnya terhadap ajaran agama. Perhatian pemerintah kolonial terhadap keagamaan masyarakat itu ditunjukkan dengan adanya pengakuan di dalam Indische Staatsregeling (IS) mengenai kemerdekaan bagi penduduk pribumi di dalam menjalankan ajaran agamanya. Peran negara dalam keagamaan masyarakat, menurut Soekiman, tetap dibutuhkan dengan belajar dari pengalaman pada masa kolonial. Dalampandangan Soekiman, meskipun secara normatif disebutkan adanya pengakuan kemerdekaan bagi penduduk di dalam menjalankan ajaran agama di dalam Undang-undang Dasar ketika itu (IS), dalam kenyataannya umat Islam mengalami keadaan yang tidak sesuai dengan jaminan yang diberikan di dalam IS tersebut. Pandangan Soekiman tersebut turut meramaikan pembahasan rancangan Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945 tentang Agama. Dihubungkan dengan peran negara dalam keagamaan masyarakat, pengaturan masalah agama di dalam Undangundang Dasar menurut Soepomo tidak dimaksudkan sebagai gewetensdwang (paksaan kebatinan terhadap agama). Pengaturan masalah agama di dalam Undang-undang Dasar, dengan membaca sikap Soepomo tersebut, kiranya dimaksudkan untuk menegaskan adanya tugas negara di dalam mengatur keagamaan masyarakat. Pandangan yang lebih rinci lagi mengenai peran negara di dalam keagamaan masyarakat dikemukakan oleh Hazairin di dalam bukunya Demokrasi Pancasila. Di dalam karyanya itu, Hazairin menafsirkan berbagai implikasi yang harus dilaksanakan oleh negara sehubungan dengan dicantumkannya Pasal 29 UUD 1945, yaitu: 1. Dalam negara Republik Indonesia tidak boleh terjadi atau berlaku sesuatu yang bertentangan dengan kaidah-kaidah Islam bagi umat Islam, atau yang

bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Nasrani bagi umat Nasrani, atau yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Hindu Bali bagi orangorang Hindu Bali, atau yang bertentangan dengan kesusilaan agama Budha bagi orang-orang Budha; 2. Negara Republik Indonesia, wajib menjalankan syariat Islam bagi orang Islam, syariat Nasrani bagi orang Nasrani, dan syariat Hindu-Bali bagi orang Bali, sekedar menjalankan syariat tersebut memerlukan perantaraan kekuasaan negara; 3. Syariat yang tidak memerlukan bantuan kekuasaan negara untuk menjalankannya dank arena itu dapat sendiri dijalankan oleh setiap pemeluk agama yang bersangkutan, menjadi kewajiban pribadi terhadap Allah bagi setiap orang itu, yang dijalankannya sendiri menurut agamanya masingmasing; 4. Jika karena salah tafsir atau oleh karena dalam kitab-kitab agama,mungkin secara menyelip, dijumpai sesuatu peraturan yang bertentangan dengan silasila ketiga, keempat, dan kelima dalam Pancasila, maka peraturan agama yang demikian itu, setelah diperembukkan dengan pemuka-pemuka agama yang bersangkutan, wajib dinon-aktifkan 5. Hubungan sesuatu agama dengan sila kedua dalam Pancasila dibiarkan kepada norma-norma agama itu sendiri atau kepada kebijaksanaan pemelukpemeluk agama-agama itu. Maksudnya, sesuatu norma dalam sila ke-2 itu yang bertentangan dengan norma sesuatu agama atau dengan paham umum pemeluk-pemeluknya berdasarkan corak agamanya, tidak berlaku bagi mereka. Keterlibatan negara dalam keagamaan masyarakat sangat relevan ketika terjadi konflik HAM dalam pelaksanaan ajaran agama. Dalam situasi tersebut, negara tidak dapat bersikap hitam-putih karena kualitas masalahnya tidak dapat disamakan dengan pelanggaran HAM secara umum. Konflik HAM dalam pelaksanaan ajaran agama, pada umumnya dipicu oleh persoalan ketidakseimbangan yang dialami oleh penganut ajaran agama tertentu terhadap penganut ajaran agama lain. Dalam konteks tersebut, Jimly Asshiddiqie merekomendasikan konsep HAM pendekatan generasi keempat, yang didasarkan atas ketidakseimbangan struktural yang menindas di luar pengertian yang selama ini timbul dari pola hubungan vertikal antara negara dan rakyatnya. Implementasi konsep generasi keempat HAM tersebut adalah dengan mengembangkan konsep agree in disagreement. Dengan merujuk kepada pendapat Satya Arinanto, implementasi pendekatan generasi keempat HAM diwujudkan dengan mengembangkan strategi dialog untuk membangkitkan pertumbuhan ideologi pluralisme agama, yaitu (1) dialog antarkepercayaan dan antarmasyarakat; (2) aktivitas partisipatif, dan (3) pengembangan budaya nasional yang berdasarkan pluralisme agama.

J. Disain Orde Baru Kebijakan Kerukunan Umat Beragama

Pada tahun 1980, Pemerintah membentuk wadah kerukunan umat beragama melalui sebuah keputusan menteri144,sebagai kelanjutan dialog antarumat beragama yang telah dilakukan. Pada tahun 1981 melalui Instruksi Menteri Agama, sehubungan dengan telah terbentuknya Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama, ditetapkan model pembinaan kerukunan umat beragama yang didasarkan kepada trilogi kerukunan umat beragama, yaitu: 1) kerukunan intern umat beragama; 2) kerukunan antarumat beragama; 3) kerukunan antara umat beragama dan pemerintah. Trilogi kerukunan umat beragama itu dilaksanakan dalam paradigma Tiga Prioritas Nasional dalam Pembinaan Tata Kehidupan Beragama, yaitu: a) Memanfaatkan Ideologi dan Falsafah Pancasila dalam kehidupan umat beragama dan dilingkungan Aparatur Departemen Agama; b) Membantu usaha memantapkan Stabilitas dan ketahanan Nasional dengan membina tiga kerukunan hidup beragama; c) Meningkatkan Partisipasi Umat Beragama dalam mensukseskan dan mengamalkan pelaksanaan Pembangunan Nasional di segala bidang, yang berkesinambungan. K. Masa Pemerintahan Habibie (1998-1999) Politik hukum kerukunan umat beragama pada masa pemerintahan Habibie tercermin di dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara, huruf D perihal Agama, Sosial, dan Budaya, angka (1) dan angka (2). Di dalam ketentuan angka (1) disebutkan kerangka acuan kehidupan beragama sebagai berikut: Penanggulangan krisis di bidang sosial budaya ditujukan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, membangkitkan semangat optimisme dan keyakinan masyarakat Indonesia bahwa krisis nasional bisa diatasi dengan kekuatan sendiri dalam rangka meletakkan dasar-dasar perwujudan masyarakat madani. Selanjutnya, ketentuan itu menegaskan agenda yang harus dijalankan oleh Presiden/mandataris MPR, sebagai berikut; a. Peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dilaksanakan melalui peningkatan kualitas kelembagaan pengajaran, dan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianut peserta didik, dengan tenaga pengajar pendidikan agama harus beragama sesuai dengan agama yang diajarkan kepada peserta didik yang bersangkutan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan serta prasekolah sesuai dengan undang-undang yang berlaku secara berjenjang, berlanjut dan terus menerus di lingkungan keluarga, pendidikan, dan masyarakat;

b. Pengadaan dan peningkatan sarana dan prasarana ibadah c. Melaksanakan program jarring pengaman sosial dengan sasaran, khususnya di bidang pangan dan kesehatan; d. Melaksanakan kebijakan penyelamatan pelajar dan mahasiswa dari ancaman putus sekolah dan program-program pendidikan dan pelatihan pada umumnya; e. Melaksanakan penyelamatan sosial melalui program-program khusus bagi mereka yang putus kerja, yang mengalami hambatan usaha dan mencegah laju pengangguran terbuka serta laju kemiskinan; f. Peningkatan akhlak mulia dan budi luhur dilaksanakan melalui pendidikan budi pekerti di sekolah. L. Masa Abdurrahman Wahid (1999-2001) Abdurrahman Wahid diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor VII/MPR/1999 tentang Pengangkatan Presiden Republik Indonesia. Di dalam Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat, MPR RI melantik K.H.Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Keempat Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober 1999. Dalam persoalan kerukunan umat beragama, sebelum menduduki jabatan kepresidenan, Abdurrahman Wahid telah dikenal sebagai pejuang demokrasi, Hak Asasi Manusia dan pluralisme agama. Integritas itu ditegaskannya kembali di dalam pidato pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat tanggal 20 Oktober 1999. Demokrasi hanya dapat dipelihara dan dikembangkan oleh orang -orang yang mengerti tentang hakikat demokrasi. Karena itu, saya berharap bahwa kita semua sebagai warga dari bangsa Indonesia sanggup memahami hal ini dan akan tetap menjunjung demokrasi sebagai sendi kehidupan kita menuju masa yang akan datang. Hanya dengan cara seperti itu, kita dapat menegakkan kedaulatan hukum, kebebasan berbicara, persamaan hak bagi semua orang tanpa memandang perbedaan keturunan, perbedaan bahasa, perbedaan budaya dan perbedaan agama.

M. Masa Megawati Soekarnoputri (2001-2004) Dalam persoalan kerukunan umat beragama, kebijakan yang diambil oleh Pemerintahan Megawati, pada prinsipnya, melanjutkan kebijakan yang pernah diambil oleh pemerintahan sebelumnya. Megawati dihadapkan pada tugas memantapkan situasi darurat sipil di Ambon dan melakukan stabilisasi keadaan di Poso Sulawesi Tengah. Khusus untuk kerusuhan Ambon, Pemerintahan Megawati melakukan langkah kongkret dengan menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 2002 tentang Perubahan Keputusan Presiden Nomor 88 Tahun 2000 tentang Keadaan Darurat Sipil di Propinsi Maluku dan Propinsi Maluku Utara. Bagian konsideransi Keppres Nomor 40 tersebut menilai belum efektifnya Keppres Nomor 88 Tahun 2000 dan memandang perlunya dilakukan langkahlangkah penguatan melalui kebijakan restrukturisasi guna tercapainya kondisi yang lebih kondusif dan memungkin percepatan penyelesaian. Sebelum Keppres Nomor 40 itu diterbitkan,

Pemerintahan Megawati melakukan langkah pendahuluan perdamaian melalui pertemuan Malino yang diselenggarakan pada tanggal 12 Februari 2002 di Malino, Sulawesi Selatan. Arah upaya perdamaian dituangkan secara detail ke dalam butir-butir kesepakatan Malino sebagai berikut: 1. Menghentikan semua bentuk konflik dan perselisihan. 2. Hukum harus ditegakkan secara adil dan tegas oleh pemerintah, TNI, Polri serta seluruh aparat hukum dengan dukungan seluruh masyarakat. Karena itu aparat penegak harus bersikap profesional dan netral dalam menjalankan tugas. 3. Seluruh rakyat Maluku adalah bagian dari NKRI, karena itu tidak menyetujui dan mengutuk segala bentuk gerakan separatisme seperti Republik Maluku Selatan (RMS). 4. Sebagai bagian dari NKRI, maka rakyat Maluku berhak untuk berada, bekerja dan berusaha di seluruh wilayah RI dan begitu pula sebaliknya, rakyat RI dapat berada, bekerja dan berusaha di wilayah Propinsi Maluku secara sah dan adil. 5. Segala bentuk organisasi, satuan kelompok atau laskar yang bersenjata tanpa izin di Maluku dilarang dan harus menyerahkan senjata atau dilucuti dan diambil tindakan sesuai hukum yang berlaku dan meninggalkan wilayah Maluku. 6. Untuk melaksanakan seluruh ketentuan hukum, maka perlu dibentuk tim investigasi independen nasional untuk mengusut tuntas peristiwa 19 Januari 1999, Front Kedaulatan Maluku (FKM), RMS, Laskar Jihad dan lain-lain sebagainya. 7. Organisasi kemasyarakatan yang bertujuan meningkatkan pendidikan, kesehatan dan sosial dapat beroperasi sepanjang memenuhi ketentuan hukum dan undangundang. 8. Pengungsi akan dikembalikan ke tempat semula sebelum konflik dan segala hakhak perdata dikembalikan. 9. Pemerintah akan membantu masyarakat untuk merehabilitasi sarana ekonomi dan sarana umum seperti fasilitas pendidikan, kesehatan dan agama, serta perumahan rakyat agar masa depan seluruh rakyat Maluku dapat maju kembali dan keluar dari kesulitan. Sejalan dengan itu, segala bentuk pembatasan ruang gerak penduduk dibuka sehingga kehidupan ekonomi dan sosial berjalan dengan baik. 10. Dalam upaya menjaga ketertiban dan keamanan seluruh wilayah dan masyarakat diharapkan adanya kekompakan dan ketegasan untuk TNI dan Polri. Sejalan dengan itu, Asrama Tantuwi segera dibangun kembali dan segala fasilitas TNI dikembalikan kepada fungsinya. 11. Untuk menjaga hubungan dan harmonisasi antar seluruh masyarakat, pemeluk agama Islam dan Kristen, maka segala upaya dan usaha dakwah dan penyiaran agama harus sesuai dengan undang-undang dan ketentuan lain tanpa pemaksaan. 12. Mendukung rehabilitasi, khususnya Universitas Pattimura dengan prinsip untuk kemajuan bersama, karena itu rekrutmen dijalankan secara terbuka dengan prinsip keadilan dengan tetap memenuhi syarat kualitas yang ditentukan. Tidak sampai di situ saja, Pemerintahan Megawati juga menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 2003 tentang Penghapusan Keadaan Darurat Sipil di Maluku Utara dan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2003 tentang Percepatan

Pemulihan Pembangunan Propinsi Maluku dan Propinsi Maluku Utara Pascakonflik. Dari sisi penciptaan kerukunan umat beragama, keberadaan Inpres Nomor 6 tersebut mencerminkan substansi politik hukum yang padu dari Pemerintahan Megawati. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintahan Megawati dalam menyelesaikan konflik Ambondan juga Posoyang secara langsung berkaitan dengan kebijakan pembinaan kerukunan umat beragama, sejalan dengan konstruksi resolusi konflik yang dikemukakan oleh Edward Azar. Azar, seperti dikutip oleh Hugh Miall, Oliver Ramsbotham, dan Tom Woodhouse, mengemukakan bahwa mengurangi konflik jelas memerlukan pengurangan tingkat keterbelakangan. Kelompok-kelompok yang mencoba memuaskan kebutuhan akan identitas dan keimanan mereka melalui konflik akan mengupayakan perubahan dalam struktur masyarakat mereka. Penyelesaian konfliktegas Azardapat benar-benar terjadi dan berakhir jika pemenuhan keterbelakangan juga terjadi. Dalam kerangka pemikiran Nonet dan Selznick mengenai hukum responsif, upaya yang dilakukan oleh Pemerintahan Megawati tersebut memperjelas arah tujuan penyelesaian konflik yang sesungguhnya. N. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono I (2004-2008) Pada masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono Jilid Pertama, tensi masalah kerukunan umat beragama secara keseluruhan mengalami penurunan. Tercapainya perdamaian di Ambon dan Poso, merupakan indikator penurunan tersebut. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa konflik antarumat beragama dalam skala yang lebih kecil mereda atau hilang sama sekali. Laporan pelaksanaan kebebasan beragama yang dirilis oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan oleh pemerintah belum mencapai sasaran, sebagaimana dapat disimpulkan dari rincian berikut: Waktu 2004 Lokasi Maluku Klasifikasi masalah Penculikan seorang pendeta Pantekosta di Ambon 26 April, Pembakaran Masjid Annur di kawasan Talake, Ambon Forum Komunikasi Kristen Indonesia (FKKI) melaporkan sedikitnya 13 gereja telah diserang, 6 di Jakarta, 3 di Jawa Barat, dan masing-masing 1 di Maluku, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Tengah selama periode sebelumnya, sementara dalam periode pelaporan ini, sedikitnya 26 gereja telah diserang: 3 di Jakarta, 21 di Jawa Barat, dan dua di Sulawesi Tengah. massa bersenjata potongan kayu menyerang sebuah gereja dan tiga buah toko yang digunakan untuk acara keagamaan di Pamulang, Tangerang, dan Propinsi Banten, melukai seorang pendeta dan merusak bangku serta jendela bangunan. Beberapa gereja diserang ketika sedang mengadakan misa. Laporan media menyebutkan bahwa gereja-gereja tersebut diserang karena tidak memiliki ijin dari pemerintah setempat. Konflik antarumat beragama sebagai efek pemberitaan Surat Kabar Sinar Indonesia Baru yang menerbitkan karikatur yang menggambarkan umat Muslim terbiasa mendukung

Nasional

Juni 2004

Banten

Sumatera Utara, Medan

calon pejabat yang korup. Keberatan warga non-muslim akibat suara adzan yang dianggap mengganggu kehidupan pribadi orang lain. Presiden membebankan tugas kepada Departemen Agama untuk Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama, Penciptaan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa serta Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas. Tugas Departemen Agama tersebut kemudian dituangkan ke dalam Rencana Strategik (Renstra) Departemen Agama 2005-2009.185 Di dalam Renstra tersebut, digariskan visi dan misi Departemen Agama, yaitu: Terwujudnya masyarakat Indonesia yang taat beragama, maju, sejahtera, dan cerdas serta saling menghormati antar sesama pemeluk agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya, misi Departemen Agama dirumuskan sebagai berikut: 1) meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan agama; 2) memperkokoh kerukunan umat beagama; 3) meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan; 4) meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji; 5) meningkatkan tata kelola kepemerintahan yang akuntabel. Pengembangan kerukunan antar umat beragama kemudian dikembangkan pula melalui penyediaan rambu-rambu yang mengatur hubungan antar warga masyarakat yang memiliki keragaman agama. Sebagian dari ramburambu itu, menurut Kementerian Agama, sudah dimiliki, namun berbagai ramburambu yang lain, seperti Undang-undang Kerukunan Hidup Umat Beragama perlu diusahakan.

BAGIAN 9
PENATALAYANAN PRIBADI
Penata layanan pribadi adalah suatu hak istimewa yang diberikan Allah kepada manusia untuk dipelihara dengan kasih saying dan menang atas sifat mementingkan diri sendiri dan atas keinginan terhadap milik orang lain.

1. MANUSIA SEBAGAI PENATALAYANAN


Seorang penatalayan ialah seorang pengelola atau pengawas barang-barang orang lain. Pada tugas seperti ini selalu disertai dengan pertanggungjawaban. Cepat atau lambat waktunya akan tiba untuk memberikan perhitungan pribadi. A. Persembahan Dalam rencana-Nya, Allah ingin agar orang Kristen mendukung pekerjaan Yesus Kristus di dunia ini, melalui persembahan dan persepuluhan. "Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu -- sesuai dengan apa yang kamu peroleh -menyisihkan sesuatu . . . " (1Kor 16:2). Gagasan persepuluhan sudah berasal dari awal sejarah Alkitab. Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek, sesudah ia kembali dari pertempurannya melawan raja-raja (Ibr 7:6). Dalam Taurat diatur, bahwa orang Lewi hidup dari persepuluhan orang Israel (Ibr 7:5). Meskipun sepersepuluh dari pendapatan seseorang sudah dipersembahkannya dalam persepuluhan, ini tidak usah membatasi mereka yang mampu dan ingin memberi lebih. Perjanjian Baru mengajar bahwa tiap orang Kristen harus memberi persembahannya secara teratur, metodik dan memadai, untuk mendukung kehidupan gereja, orang miskin, penginjilan dan missi (1Kor 16:2). Persembahan yang berasal dari hati yang penuh oleh kasih Allah, harus menjadi ciri orang beriman sejati. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: 'Ia membagibagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamalamanya.'" (2Kor 9:6-9). Kita memiliki janji Allah bahwa kebutuhan-kebutuhan kita akan digenapi, sambil kita mendukung kebutuhan pekerjaan dan hamba-hamba-Nya. "Allahmu akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Fili 4:19). "Dalam rumah tangga kami, seperti juga dalam ribuan rumah tangga lainnya, kami alami bahwa bila kami memberikan persepuluhan, berkat Tuhan atas yang sembilan persepuluh menyebabkannya jauh lebih bermanfaat dibandingkan

penghasilan utuh tanpa berkat Tuhan. Keharusan memberi persepuluhan itu, pertama disebabkan oleh prinsip penatalayanan. Segala sesuatu adalah milik Tuhan. Kita hanyalapenjaganya. Kedua, persembahan seseorang harus digerakkan oleh kasih dan oleh penyerahan diri kepada Kristus. Ketiga, walaupun penatalayanan Kristen bukan didasarkan atas pahala, tetapi memang disadari bahwa tidak ada hasil lebih besar daripada memberi persembahan. Dalam Markus 4 (Mr 4:1-20), Yesus bicara tentang hasil yang berlipat ganda, tiga puluh, enam puluh dan seratus kali . . . Jika persepuluhan berlaku di bawah Taurat, lebih pula dalam zaman kemerdekaan dan anugerah ini . . . Cobalah memberi persepuluhan dan lebih lagi, dengan sukacita dan melimpah, dan anda akan saksikan! B. Perpuluhan Sebagaimana seperpuluh dari waktu kita menjadi milik Allah, maka begitu pula sepersepuluh dari segala harta benda yang kita peroleh adalah milikNya. Kitab suci mengatakan keopada kita bahwa sepesepuluh dikuduskan bagi Tuhan, melambangkan kepilikkan Tuhan atas segala sesuatu (Imamat 27:30, 32). Persepuluhan itu harus dikembalikan kepadaNya sebagai milikNya. Untuk nilai perpuluhan sama adilnya bagi orang kaya dan orang miskin. Waktu Tuhan meminta perpuluhan (Maleakhi 3:10), Ia tidak meminta rasa syukur atau kedermawaan.walaupun sebenarnya rasa syukur haruslah menjadi bagian pernyataan kita kepada Tuhan. Kita memberikan perpuluhan karena Tuhan memerintahkannya. Perpuluhan itu milik Tuhan dan Ia meminta supaya kita mengembalikannya kepadaNya. Perpuluhan itu suci dan harus digunakan untuk tujuan-tujuan yang suci saja (IMamat 27:30-32, maleakhi 3:10). Dikalangan bangsa Israel, perpuluhan itu digunakan untuk orang-orang Lewi yang sama sekali tidak menerima apa-apa dari suku-suku Israel karena mereka harus menggunakan seluruh waktu mereka untuk merawat perbaktian bangsa Israel, melayani pekerjaan di kaabah, dan memberikan petunjukkepada orang banyak dalam hal yang berkaitan dengan Hukum Tuhan (bilangan 18:21, 24) Prinsip penatalayanan berlaku atas apa yang ada pada kita sama seperti apa yang kita berikan. Sementara perpuluhan adalah ujian dasar penatalayanan kita atas harta milik kita yang bersifat sementara. Secara umum orang-orang tidak mengerti dan melalaikan prinsip Ilahi mengenai penatalayana. Bahkan dikalangan orang Kristen sendiri hanya sedikit yang mengetahui peranan meraka selaku penatalayanan. Respon Tuhan terhadap ketidaksetiaan bangsa Israel memberikan pandangan yang jelas bagaimana Tuhan memperhatikan hal ini. Apabila mereka menggunakan hal ini untuk kepentingan diri sendiri, Ia menggambarkan mereka bahwa hal itu sama dengan pencuri (Maleakhi 3:8).

2. KRISTUS SEBAGAI PENATALAYANAN


Panatalayanan yang baik ialah Penatalayanan yang tidak mementingkan diri sendiri; memasrahkan diri kepada Tuhan sepenuhnya seraya melayani manusia. Karena kasihNya kepada kita maka Kristus telah menanggung salib yang kejam itu, bahkan rasa pahit yang paling dalam karena penolakkan diriNya sendiri, dan rasa ditinggalkan Allah yang tak terduga dalamnya. Dibandingkan dengan pemberian ini, bukan atas apa yang dipunyaiNya sekalipun Ia telah memiliki segala sesuatu melainkan atas DiriNya sendiri. Itulah yang dimaksudkan dengan penatalayanan. Dengan merenung-renungkan karunia yang terbesar ini kita tidak lagi dalam pendirian kita sendiri, melainkan menjadi semakin serupa dengan Dia. Itulah yang menggerakkan kita menjadi orang yang anat memperhatikan jemaat, memelihara orang-orang yanmg berada dalam lingkup orang percaya dan juga yang tidak termaksud ke dalam lingkup itu. Karena Kristus mati bagi dunia, penatalayanan. Dalam arti yang lebih luas adalah dunia ini. Allah telah menempatkan kita selaku penatalayanan demi kepentingan kita sendiri, pertumbuhan kita bukan demi Dia. Salah satu alasan Tuhan meminta kita supaya terus mengabdikan seluruh hidup kita kepadaNya, waktu, kemampuan, tubuh dan harta milik kita untuk menguatkan pertumbuhan rohani kita sendiri, dan untuk mengembangkan tabiat. Jika kita senantiasa sadar atas kepimilikkan Tuhan atas segala sesuatu dan kasih yang tidak henti-hentinya yang dicurahkanNya kepada kita, maka kasih dan rasa syukur kita akan terpelihara. Penatalayan yang setia juga membantu kita memperoleh kemenangan atas rasa ingin memiliki terhadap milik orang lain dan sikap mementingkan diri sendiri. Penalayanan yang sejati ialah penatalayanan yang memberkati semua orang yang berhubungan dengan kita. Semua diundang menjadi penatalayan-penatalayan dan pembantu-pembantuNya. Dengan demikian kesaksian jemaat akan menjadi kuasa yang mendatangka berkat bagi dunia. Dan penatalayan yang setia akan merasa gembira apabila mereka melihat berkat-berkat Injil itu diteruskan kepada orangorang lain.

BAGIAN 10
PANDANGAN KRISTEN TENTANG SEKS
Seks adalah cara paling intim untuk memahami satu sama lain: Hubungan seks untuk pasangan yang telah menikah, merupakan suatu cara yang khusus, agar mereka saling memahami. Berhubungan seks bukan semata hanya untuk melihat pasangan kita telanjang tetapi untuk mengenal kepribadian satu sama lain. Itulah mengapa kitab suci menggambarkan hubungan seks sebagai memahami. Kata kerja yang sama digunakan dalam ibrani yang mengacu pada memahami Tuhan. Seks sebagai media positif, dimana Allah menyatakan kita harus beranak cucu untuk mengolah dan melestarikan bumi ini. Orang itu adalah makhluk relasional. Oleh karena itu Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia seorang diri saja." (Kejadian 2: 18). Makna keberadaan kita terletak pada hubungan, hubungan dengan Allah dan sesama. Cara pandang lama terhadap seks (yang salah): 1) Pandangan Kristen tradisional tentang seksualitas adalah bahwa seks pada dasarnya buruk dan karena itu harus dihindari sedapat mungkin 2) Pandangan yang sama sekali berbeda di zaman dulu, dari seksualitas ditemukan di zaman kuno Yunani dan Romawi. Seksualitas adalah bagian dari upacara keagamaan dan karena itu memiliki nilai tinggi. Prostitusi kuil adalah semacam pengorbanan kepada para dewa, pesta itu dilihat sebagai menyembah dewa-dewa yang sama. Ini adalah dewa cinta dan kesuburan. Prostitusi agama tersebar luas. Disebutkan sebagai persekutuan dengan dewa.Yang disebut 'theolepsie'. 3. Bersikap negatif terhadap seks, tabu dan perasaan Tertekan. 4. "Setiap belaian bahwa pasangan bersama hanya karena perasaan nafsu memberikan dosa berat yang layak hukuman kekal, "kata Thomas Aquinas, teolog terbesar Abad Pertengahan. Dimana seksualitas dinilai negatif jelas muncul dari sebuah pandangan dunia Alkitabiah.Seksualitas pada kenyataannya, strukturnya saja sudah dibuat negatif. 5. pandangan Ekstrem yang lain ditemukan dalam doktrin theolepsie (orgasme dipandang sebagai wahyu ilahi, inspirasi langsung dari atas). 6. pandangan dunia yang didasarkan pada kapasitas manusia untuk menjadi satu dengan Allah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kultus seksual. Sebagai orang Kristen kita harus menolak ini, karena satu-satunya jalan keselamatan adalah Yesus.

PANDANGAN YANG SALAH MENGENAI SEKS Banyak gambaran salah yang diberikan kepada remaja, pemuda, atau bahkan pasangan yang sedang menuju ke pernikahan. Akibatnya, mereka salah menggarap relasi mereka. Mulai dari bagaimana mencari kekasih, sampai membayangkan dan mengonsepkan pernikahan yang berbahagia. 1. Keperkasaan dan Kecantikan Fisik Mereka menganggap hubungan suami istri akan lebih baik dan lebih bahagia jika sang suami bak pangeran yang gagah perkasa dan ganteng, sementara sang istri seperti putri yang begitu langsing, seksi, dan cantik. Gambaran inilah yang diberikan novel-novel, berbagai cerita film ataupun media lainnya. Namun, dalam realitasnya, keperkasaan dan kecantikan justru menjadi bumerang dalam relasi pernikahan. Sekitar tahun 80-an, dunia dihebohkan dengan pernikahan ideal bak pernikahan negeri dongeng antara pangeran yang begitu gagah dan putri yang begitu cantik, yaitu Pangeran Charles dan Putri Diana. Acara pernikahannya begitu megah dan mewah, memberikan pengharapan dan ikon kepada dunia bahwa inilah pernikahan yang paling bahagia, dan mereka hidup "bahagia selamanya". Namun, semuanya justru berakhir tragis. Sang Pangeran semakin lama semakin tidak sabar dan tidak nyaman dan sang putri merasa hidup bagai di neraka. Pernikahan ini bertahan tidak lebih dari 10 tahun. Dimulai dengan perselingkuhan, perceraian, dan bahkan diakhiri dengan kematian tragis sang putri, serta disusul dengan pernikahan sang pangeran dengan wanita bekas kekasihnya. Namun sebelum semua itu terjadi, pernikahan ini memang tidak didukung oleh orang banyak karena justru dianggap sangat tidak ideal. Akhir kisah pernikahan inilah bukti kebenaran paling nyata dari anggapan tersebut. Demikian juga, perceraian banyak terjadi pada pernikahan aktor ganteng dan aktris cantik. Di sisi lain, pernikahan dari pasangan yang tidak terlalu ganteng dan tidak terlalu cantik justru berjalan jauh lebih bahagia, lebih indah, dan lebih langgeng. Dengan demikian, gambaran pernikahan "Cinderella" ini bukanlah gambaran yang benar secara absolut. Namun, kita juga tidak boleh beranggapan bahwa pernikahan antara pria ganteng dan wanita cantik, pasti akan berakhir dengan perceraian. Dalam pernikahan, yang penting adalah apakah inti dari relasi pernikahan sudah dikembalikan pada kebenaran firman Tuhan dan apakah pernikahan itu sudah sungguh-sungguh mengutamakan Tuhan. Jika semua itu diperhatikan maka relasi seiman dan sepadan akan terbentuk, dan itulah yang membawa kebahagiaan dan kelanggengan ke dalam kehidupan rumah tangga. 2. Seks Adalah Penentu Kebahagiaan Keluarga

Saat ini, banyak buku tentang pernikahan dan relasi keluarga yang sangat berorientasi pada masalah seksual. Berangkat dari pemahaman psikoanalisa Sigmund Freud -- bahwa semua masalah kejiwaan berujung pada masalah seksual, baik pada masa kecil ataupun pada masa kemudian -- maka pada paruh kedua abad XX pergerakan pemikiran ini semakin meluas. Hidup seolah-olah hanyalah untuk seks. Seks yang menjadi penentu kebahagiaan keluarga. Oleh sebab itu, dunia melihat urusan seksual menjadi begitu penting. Mereka memberikan perhatian khusus terhadap masalah seks melalui latihan-latihan fisik, fitnes, dan olahraga khusus untuk seks. Mereka mementingkan penampilan fisik yang sensual. Baju yang berpenampilan sensual, bukan hanya untuk wanita, tetapi juga pria. Model baju ketat dan seksi dengan dua kancing teratas terbuka, seperti yang dipakai oleh Elvis Presley, sempat menjadi tren yang sangat digandrungi pria. Yang dipikirkan bukanlah mengenakan baju yang rapi, yang anggun, melainkan yang seksi. Hal ini semakin menjadi-jadi pada wanita. Baju wanita semakin berani menonjolkan bagian terbukanya yang memamerkan buah dada, belahan paha, atau bagian tubuh lainnya. Demikian juga model rok mini yang semakin hari semakin kekurangan kain. Semua ini karena adanya anggapan bahwa kebahagiaan dan kehidupan pernikahan akan sangat ditentukan oleh sensualitas pasangan tersebut. Mereka tidak mencari pasangan yang sepadan, tetapi yang seksi. Hal ini menyebabkan pernikahan salah arah dan banyak menimbulkan masalah moral, seperti penyelewengan, perselingkuhan, dan lain-lain. Pernikahan bukan bergantung pada ide-ide dan gagasan empiris, melainkan harus dikembalikan kepada kebenaran firman Tuhan. 3. Uji Coba Relasi Banyak pasangan muda yang begitu dikuasai oleh pemikiran seksual. Berbagai media memengaruhi mereka untuk memiliki kepedulian yang berlebihan terhadap masalah fisik. Mereka beralasan bahwa jika tidak terjadi kecocokan dalam relasi seks, maka kehidupan keluarga mereka akan menjadi rusak. Oleh sebab itu, di tengah-tengah abad yang semakin gila ini, banyak pasangan muda yang memutuskan untuk "mencoba" terlebih dulu relasi seks mereka. Kalau cocok, barulah mereka maju menuju ke jenjang pernikahan. Pemikiran ini sangat bertentangan dengan berita Alkitab. Justru uji coba seksual ini membuat setiap pribadi memasuki pengalaman seksual yang inklusif dan tidak eksklusif lagi. Malahan, pengalaman ini membuat pernikahan tidak bisa berjalan baik karena setiap anggota pasangan sudah memiliki pengalaman lebih dalam relasi seksual, yang menyebabkan mereka selalu merasa tidak puas dan memberikan peluang untuk mencari pengalaman yang lebih baru lagi. Inilah awal kerusakan dan pecahnya kehidupan keluarga. Alkitab

menyatakan bahwa hubungan fisik harus ditunda selama dalam relasi pacaran, sampai nanti memasuki kehidupan pernikahan. Di saat itulah, kita boleh membuka cadar fisik yang selama ini tertutup dan menikmatinya dengan begitu indah. Tuhan menyediakan keindahan luar biasa bila dipergunakan sebagaimana mestinya. 4. Pengembangan Keintiman Fisik Telah disinggung di atas bahwa pengembangan keintiman fisik hari ini merupakan masalah yang sangat serius. Seorang anak kecil bisa berkata, "Wah, Andi belum pacaran dengan Ita karena belum ciuman bibir." Betapa mengerikan jika pacaran ditandai dengan "ciuman bibir". Inilah gambaran umum yang dipasarkan dengan sangat luas oleh pemikiran yang berdosa pada masa kini. Sulit sekali orang Kristen atau pendeta untuk berkata, "Kalau pacaran, jangan ciuman bibir dulu. Boleh cium di pipi atau di kening." Maka langsung dijawab, "Wah, itu kuno sekali." Pengembangan keintiman fisik sudah terbukti membawa masalah seksual yang sangat serius di kalangan remaja. Begitu banyak terjadi kehamilan remaja akibat hal yang sedemikian dianggap remeh dan biasa, "Kalau pacaran pasti harus ciuman bibir." Ciuman bibir merupakan titik awal dari rangsangan seksual. Ciuman bibir membawa satu pasangan, khususnya pihak wanita, terbuai dengan rangsangan seks. Kemudian hal itu mengakibatkan kebutuhan akan dosis yang lebih tinggi lagi. Mulai dari ciuman sedetik, lalu menjadi 5 detik, kemudian akan menjadi bermenit-menit. Dan ketika rangsangan naik, si wanita semakin ingin dipeluk, diraba, dan rangsangan rabaan ini akan berlanjut terus menuju ke daerah-daerah yang sangat pribadi dan sensitif. Mungkin sebagai gadis baik-baik, ia akan merasa bersalah, tetapi rangsangan kuat akan menelan perasaan dan teguran itu. Ia hanya dapat berkata "Jangan," tetapi tidak mampu melawan keinginannya. Rangsangan yang terjadi membawa dia pada kondisi tidak berdaya, sehingga penentunya ada di pihak pria. Jika si pria kurang ajar dan memang rusak, ia akan memanfaatkan keadaan itu untuk terus melakukan rangsangan dan menekan pihak wanita yang akan semakin menyerah, sampai semuanya terjadi. Setelah semua terjadi, wanita itu marah, kecewa, sedih, tetapi semua sudah terjadi dan tidak bisa ditarik kembali. Selanjutnya, perasaan yang timbul adalah ketakutan ditinggal oleh sang kekasih yang telah merenggut keperawanannya. Di kemudian hari, ia akan semakin takluk jika kekasihnya meminta hal yang lebih, sampai berakibat kehamilan yang tidak dikehendaki. Masalah seksual bukan sesuatu yang boleh diumbar dan ditumbuhkan. Kita justru harus menumbuhkan komunikasi yang sehat, saling pengertian, dan kerelaan berubah demi kekasih kita. Sayangnya, hal-hal ini tidak dilakukan, sementara hal yang tidak boleh justru dilakukan. Gejala kehidupan berdosa inilah yang banyak memengaruhi pergaulan dan pikiran anak muda kita, termasuk anak muda

Kristen.

Cara pandang sebagai umat Kristen yang baik: Seks diciptakan oleh Allah untuk tujuan yang mulia. Penyatuan pria dan wanita dalam pernikahan menggambarkan hubungan antara Allah dan gereja-Nya. Oleh karena itu, sebagai umat yang ditebus oleh Kristus, kita seharusnya menempatkan seksualitas pada posisi yang seharusnya, sesuai dengan firman Tuhan. Oleh karena itu sangat jelas bahwa kita menentang keras segala macam bentuk prostitusi, pelecehan seks, dan penyelewengan. Pertanyaannya adalah apa yang membimbing dalam seksualitas manusia. Jika kita menghargai seksualitas sebagai alat yang diberikan Tuhan, kita harus menerima dengan sepenuh hati dan berbuat sesuai dengan firman Tuhan.

BAGIAN 11
GEREJA DAN PELAYANANNYA
Gereja merupakan terjemahan dari ekklesia, yang artinya dipanggil keluar dari dunia mereka yang lama dan dikuduskan atau diasingkan dari persekutuan-persekutuan lain. Gereja digunakan Allah sebagai alat dalam karya penyelamatan-Nya, yakni untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19). Roh Kudus yang memimpin orang-orang percaya tidak mulai dengan pribadi yang hidup sendiri-sendiri, tetapi selalu dengan orang-orang sebagai suatu persekutuan. Persekutuan ini adalah pekerjaan Roh Kudus yang terjadi antara anggota-anggota Gereja dan Kristus (sebagai Kepala Gereja) dan anggota-anggota gereja (yang satu dengan yang lain). Gereja memiliki pengakuan bahwa terbentuknya gereja adalah karena Allah telah memanggil dan bukan karena orang-orang yang berkepentingan sama merasa perlu untuk bersatu. Gereja berbeda dengan persekutuan-persekutuan atau lembaga-lembaga lain itu. Ia mempunyai hakikat yang lain. Ia berada di dalam dunia, tetapi ia tidak berasal dari dunia (Yohanes 17:11). Oleh karena itu, muncul istilah gereja yang tidak kelihatan, yakni gereja yang ada dalam iman. "Pergilah kamu ke seluruh bumi. Jadikanlah segala bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" yang diperintahkanNya sebelum Ia kembali kepada BapaNya. (Matius 28: 19-20). Itulah amanat agung dari Tuhan Yesus yang harus dijalankan oleh setiap orang yang percaya kepada-NYA. Oleh karena itu, Gereja yang merupakan persekutuan orang-orang percaya wajib melaksanakan amanat agung ini. Ada 5 (lima) tugas gerja yang harus dikerjakan untuk mewujudkan Amanat Agung TUHAN Yesus Kristus. Ke-5 (Lima) tugas Gereja ini, tidak bisa dibatasi dengan hanya menjalankan salah satu tugas, sambil melupakan yang lain. Semua tugas tersebut dijalankan secara simultan, demi terwujudnya Amanat Agung TUHAN Yesus Kristus. Ke-5 (Lima) tugas Gereja dimaksud adalah : 1. Marturia (Bersaksi) Berasal dari bahasa Yunani : Marturia = kesaksian, Marturein = bersaksi. Marturia bermakna bersaksi. Dalam hal memberi kesaksian harus dilakukan secara benar dan tepat tentang hal-hal yang pernah dilihat dan didengar; menceritakan realitas yang sebenarnya; mempercakapkan kembali pengalamanpengalaman dan peristiwa yang dialami sebelumnya. Inti yang harus disampaiakn dalam kesaksian kematian dan kebangkitan Kristus, yang mana didalamnya ada kabar baik yakni kabar keselamatan bagi semua orang. 2. Koinonia (Bersekutu) Koinonia berasal dari bahasa Yunani Koinon yaitu : Koinonein artinya bersekutu, Koinonos artinya teman,sekutu, Koinonia artinya persekutuan. Koinonia berarti persekutuan; ada dan terciptanya persekutuan; memperat persaudaraan; semua upaya untuk tetap berada dalam persekutuan. Jadi, dalam gereja harus ada dan tercipta persekutuan; sekaligus terpeliharanya persekutuan yang telah ada dan

tercipta; gereja harus menyampaikan model persekutuan yang dimilikinya itu kepada semua umat manusia. 3. Diakonia (Melayani) Diakonia berasal dari bahasa Yunani : Kata kerja Diakonein = melayani. Kata benda Diakonia = pelayanan. Kata benda Diakonos = pelayan. Diakonia artinya melayani. Pada masa lalu, diakonia diartikan sebagai melakukan sesuatu dengan setia, jujur, serta tanggungjawab. Pada konteks kekinian, berdiakonia tak terbatas pada bantuan materi kepada mereka yang berkekurangan, melainkan lebih kompleks. Misalnya, pengobatan, panti asuhan, pendidikan, pendampingan pada saat susah ataupun yang mengalami masalah sosial, penyediaan lapangan pekerjaan, dan lain-lain. Diakonia harus membawa perubahan pada seseorang maupun masyarakat. Bukan sekedar menjadikan ia tidak terlantar dan tercukupi kebutuhan dasarnya, melainkan dapat terangkat secara sosial; misalnya, melalui pendidikan yang baik, seseorang dapat memperbaiki kualitas hidup dan kehidupannya. 4. Liturgia (Penataan Liturgi Ibadah) Kata liturgia berasal dari bahasa Yunani leitourgia. Secara sederhana, terjemahannya adalah pelayanan yang dibaktikan. Litirgia adalah pekerjaan umum di mana dalam persekutuan dan pelayanan, ada pekerjaan yang wajib dilakukan bersama. Misalnya : kegiatan-kegiatan gotong royong. Liturgia sebenarnya adalah panduan bagi orang percaya dalam bersaksi, bersekutu dan melayani. Contoh nyata liturgia adalah kertas panduan dalam ibadah. 5. Oikonomia (Penatalayanan) Oikonomia berasal dari istilah yunani yang terdiri dari dua kata: oikos, yang berarti rumah, dan nomos, yang berarti hukum (peraturan). Jika kedua kata ini digabungkan, maka secara harfiah Oikonomia berarti "pengaturan rumah tangga" (household law). Dalam perkembangannya Oikonomia ini dipahami sebagai administrasi dalam rumah tangga yang mana dengan sendirinya ada pengaturan, ada perencanaan dan ada satu tujuan (purpose). Oikonomia ini dalam tugas gereja merupakan kegiatan yang sebenarnya tidak hanya bersifat manajerial/administrasi organisasi gereja semata seperti kearsipan dll, tapi lebih pada panggilan gereja terhadap penataaan bumi di mana termasuk semua makhluk hidup di atasnya.

BAGIAN 12 GEREJA SEBAGAI LEMBAGA SOSIAL DAN


PERSEKUTUAN
Komprtensi Dasar : Menjelaskan peran gereja sebagai institusi social dan persekutuan orang percaya ditengah tantangan kehidupan masa kini. Indikator : 1.) Mengidentifikasi definisi gereja 2.) Mangidentifikasi peran gereja sebagai institusi social 3.) Mengidentifikasi peran gereja sebagai persekutuan orang percaya 4.) Mengkritisi peran gereja dalam kehidupan nyata

Referensi Alkitab : Kitab Efesus, Ibr 10:24-25,1 kor 12,Roma 5 Uraian pelajaran : A. . Definisi Gereja Kata gereja dalam bahasa Indonesia mengacu kepada bahasa portugis Igreja. Namun, istilah gereja dalam alkitab, dalam bahasa aslimya (Yunani) menggunakan dua istilah yaitu EKKLESIA dan KURIAKON. Ekklesia artinya dipanggil keluar. Orang-orang yang pertama dipanggil keluar adalah murid-murid Yesus yang pertama ( Matius 4:18-22 ). Dari sini kita mendapatkan pemahaman bahwa kata gereja mangacu kepada pribadi-pribadi,yaitu orang-orang sebagai pribadi ataupun kelompok yang bersekutu bersama-sama. Bahkan dimana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus,disitu Dia ada (Mat 18:20 ). Istilah lain yang digunakan adalah jemaat. Dari konsap ini gereja juga dipahami berfungsi sebagai organisme dan organisasi. Ayat-ayat alkitab menunjukan perbedaan antara Gereja Lpkal dan Gereja Universal. Semua orang yang percaya didalam Yesus untuk keselamatan adalah bagian

dari Gereja Universal.tetapi hanya apabila mereka bergabug didalam sebuah tubuh local dari orang-orang beriman maka disebut sebagai Gereja Lokal. Jemaat local yang terdiri dari orang-orang yang telah diselamatkan dan digembalakan oleh seorang Gembala adalah tubuh Tuhan. Juga disebut mempelai wanita dengan Kristus sebagai mempelai pria. Dalam perannya terhadap dunia Ia disebut tiang penopang dan dasar kebenaran,yaitu tempat bagi manusia didunia untuk mensapatkan kebenaran. Sekumpulan orang bias disebut Jemaat Tuhan atau mempelai Kristus, atau tiang penopang harus memenuhi dua syarat utama, yaitu; terdiri dari orang-orang yang telah lahir baru dengan keanggotaan yang jelas, dan digembalakan oleh seorang yang mengasihi Tuhan. Contoh-contoh dari gereja local : Paulus menulis surat kepad gereja-gereja local (misalnya Galatia)yang mempunyai pemimpin-pemimin khusus (Rm 16:1 dan 5 ). Yesus juga berbicara pada perkumpulan-perkumpulan local, dan menunjukan kebutuhan-kebutuhan mereka yang khusus bagi tubuh ( Why 2 dan 3 ). Orang-orang beriman local ini berkumpul bersama-sama secara teratur ( Ibr 10:25 ) untuk berdoa, mengajar dan bersekutu ( Kis 2:42 ). Baru setlah itu mereka akan benar-benar mengerti bagaimana untuk menjadi anggota yang benar dari Gereja Universal yang terdiri dari orang-orang dari berbagai macam suku, bahasa dan bangsa ( Why 5:10 ). Berikutnya, kata kuriakon mengacuh pada tempat ibadah, gedung gereja tempat beribadah. Di tempat ini jemaat melakukan berbagai bentuk kegiatan dan oersekutuan di antara orang percaya.

B. Peranan Gereja sebagai Institusi Sosial Institusi social adalah perkumpulan yang dilembagakan oleh undang-undang, adat kebiasaan atau dapat juga disebut sebagai persekutuan, perkumpulan, organisasi social yang berkenaan dengan masyarakat. Dalam hal ini gereja disebut gereja disebut sebagai lembaga atau institusi social. Namun sebagai institusi social gereja berbeda dengan lembaga-lembaga lainnya, karena gereja terbentuk oleh Allah yg memanggil, bukan sekedar adanya orang yang berkumpul karena adanya kepentingan bersama. Gereja mempunyai hakikat yang lain. Gereja bebrada di dalam dunia tetapi bukan berasal dari dunia (Yoh 17:11). Jhon Stott mengatakan bahwa gereja mempunyai identitas ganda di satu pihak orang percaya dipanggil untuk keluar untuk menjadi milik Allah dan dilain pihak diutus kembali kedalam dunia untuk menjadi saksinya

dan untuk melayani. Gereja berada didalam dunia karena gereja dipanggil menjadi saksi Kristus di tengah dunnia. Sebagai garam & terang (Mat 5) mempunyai peranan baik secara individual maupun secara organisasi, dalam segala bidang untuk melayani masyarakat (pendidikan, kesehatan, politik, social, seni, dll). Namun sayangnya gereja masa kini banyak yang sibuk berkutat hanya dalam gereja sendiri. Pemuda gereja terkesan alergi & amtik terhadap ormas, dikarenakan terlalu sempit memandang & beranggapan : ormas itu negative(berbau politik). Idealnya para pemuda gerejalah diharapkan terjun aktif di dunia keormasan untuk dapat menjadi garam & terang di masayarakat, bangsa & Negara. Kodrat pemuda adalah melakukan peran & tanggung jawab dalam komitmen nya dalam menjaga persatuan & kesatuan bangsa, serta sikap, komitmen, dan keberpihakan kepada masyarakat. Untuk itulah gelar yang diberikan & disandang pemuda sebagai agen perubahan ( agent of change) dan agen control social ( agent of social control). Untuk menciptakan model pemuda yang dimaksud diatas maka ormas adalah sarana dan arena belajar, bereksperimen dan berlatih menjadi agent of change dan agent of social control. Sehingga dengan demikian, sangat perlu bagi para siswa yang adlah pemuda( gereja ) untuk aktif dan mau terlibatutnuk dibina di organisasi-organisasi kemasyarakatan( ormas) yang ada termasuk organisasiorganisasi kepemudaan, organisasi-organisasi profesi, organisasi-organisasi fungsional merupakan wadah yang tepat untuk membangun kepeloporan dan kepemimpinan yseperti yang diharapkan itu. Sepanjang sejarah kita telah menyaksikan keteladanan anak-anak Tuhan yang terlibat aktif menjadi garam dan terang di tengah masyarakat seperti : Daniel : terlibat dalam pemerintahan Babel ( pemerintahan ) Daud: sebagai raja ( pemimpin Negara ) Yusuf: sebagai orang kepercayaan Firaun ( pemerintahan) Mother Teresa: bidang social C. peran gereja sebagai persekutuan orang percaya Sebelum gereja bisa menjalankan peran social ditengah masyarakat, maka gereja perlu menjadi gereja yang bertumbuh terlebih dahulu. memberikan gambaran tentang gereja sebagai wadah untuk : Mengumpulkan dan menumbuhkan tubuh Kristus : efesus 1: 22-23 Membangun sebuah tempat ibadah atau bangunan : efesus 2:21-22 Membangun sebuah keluarga : efesus 3: 15 Kitab Efesus

Mendewasakan seseorang : efesus 2:15, 4:13 Mempersiapkan seorang mempelai wanita : efesus 5: 23-33 Melengkapi atau melatih seorang serdadu : efesus 6: 10-18 Jelaslah kitab efesus menggambarkan mengenai komunitas baru yang dibentuk oleh Kristus sendiri melalui karya di kayu salib. Gambaran gereja sebagai tubuh Kristus mengisyaratkan keberbagaian dalam persektuan orang percaya dimana kita belajar saling menerima dan saling mendukung, saling membangun satu terhadap yang lain melalui berbagai karunia yang Allah berikan pada masing-masing orang ( 1 kor 12, roma 5). Koordinasi yang baik dan tidak saling menonjolkan diri menggambarkan gereja sebagai tubuh Kristus tunduk kepada Kristus yang adalah kepala tubuh. Dalam gereja pulalah Allah menerikan pemimpin-pemimpin rohani (ef 4:13-15) sehingga umat boleh terus bertumbuh dalam pengenalan akan Dia , dan semakin dewasa tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran yang

menyesatkan sehingga semakin sempurna dan terus membangun didalam Dia, bagi kemuliaan-Nya. Karena-Nya dinasehatkan agar orang percaya tidak meninggalkan

persekutuan(Ibr 10:24-25), tetapi saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling melayani sesama anggota. Dengan cara demikianlah gereja sebagai individu maupun jemaat boleh terus membangun dirinya dan menjadi berkat bagi sekelilingnya. D. Mengkritisi peran gereja dalam kehidupan nyata Wawancara ke gereja untuk mengetahui sejauh gereja sebagai suatu organisasi atau lembaga melakukan perannya di tengah masyarakat.