Anda di halaman 1dari 4

LEMBAR TUGAS MANDIRI DERMATOGLYPHIC KHODIJAH 1206249593

REFERENSI: Jamison CS. Testosterone, Nerve Growth Factor and Epidermal Growth Factor. In: Trends in dermatoglyphic research. Schaumann B, Alter M. Embryogenesis and genetics of epidermal ridges, In: Dermatoglyphics in medical disorders. New York; Springer-verlag: 1976, p.1-11 Schaumann B, Alter M. In: Dermatoglyphics in medical disorders. New York; Springer-verlag: 1976, p.27-51 Fingerprints & palmar dermatoglyphics. Ibrahim RA. Setiap anak unik & istimewa. Educare/No. 10/III/Januari 2007. h.7-9 Simanjuntak E. Melihat kecerdasan anak lewat sidik jari. Harian Global, 10 Oktober 2006. h.19 http://jaripotensi.weebly.com/dermatoglyphics.html <diakses pada 11 Maret 2013 pukul 14.00>

Uraian: Dermatoglyphic berasal dari bahasa Yunani Derma yang berarti kulit dan Glyph yang berarti Ukiran Keunggulan dermatoglyphic o Spesific, tidak ada pola sidik jari yang sama di tiap manusia. Kemungkinan sama, perbandingannya adalah 1:64.000.000.000; o Permanent, pola sidik jari tidak pernah berubah sepanjang hayat; o Classified & Measurable, pola sidik jari memiliki spesifikasi unik di tiap bagian-bagian jari tangan, kaki dann telapak. o Selain itu juga analisa sidik jari simpel, praktis dan efisien. Tidak ada pertanyaan yang sifatnya subyektif serta tingkat akurasi tinggi Dermatoglyphic dapat diaplikasikan pada studi antropologi dan genetic, Alat identifikasi forensic, studi kerja otak, serta edukasi,psikologi, dan pengembangan pribadi. Melalui aplikasi di bidang psikologi dapat diketahui bakat, motivasi, kestabilan emosi, kecerdasan, karakter dan tekanan. Dermatoglyphic bermula pada disadarinya ada konfigurasi unik pada kulit yaitu pada permukaan jari tangan, palmar, serta plantar. Keunikan tersebut menarik rasa ingin tahu ilmuwan yang menyebabkan seorang ahli anatomi bernama Bidloo menemukan deskripsi detil ridge pada abad ke-17. Penemuan tersebut kemudian ditambahkan oleh ahli-ahli dibidang lain. Pada tahun 1823 Johanes Purkinje membuat klasifikasi bentuk sidik jari. Setelah itu, penelitian tentang sidik jari dilanjutkan oleh Cummin dan Midlo yang karena mereka digunakan kata Dermatoglyphic, mereka juga yang telah mempublikasikan monograf tentang perkembangan ridge epidermal. Pada tahun 1961, Cummin dan Midlo kemudian membuat publikasi tentang pengaruh genetic dan antropologi dengan dermatoglyphic. Publikasi tersebut kemudian juga menjadi bahan publikasi oleh Martin & Saller, Holt, dan Loeffler dikemudian hari.

Pada tahun 1970, publikasi dalam jumlah besar menunjukan bahwa dermatoglypic tidak dapat digantikan oleh ilmu psikologi. Pada rentang tahun 1992 sampai 1994, paper-paper professional tentang dermatoglyphic membahas tentang penyembuhan sebagian penyakit genetic seperti kematian tiba-tiba pada bayi endometriosis, Alzheimers, dan lain sebagainya. Dilanjutkan lagi pada tahun 1999 FBI memberhentikan pengumpulan kartu sidik jari menggunakan teknologi AFIS yang berupa pengumpulan sidik jari secara manual dan menggantinya dengan IAFIS yang menggunakan teknologi komputerisasi. Pada tahun 2004 IBMBS- International Behavioral & Medical Biometrics Society saat itu AS, Jepang atau Taiwan mengaplikasikan dermatoglyphic untuk edukasi mengharapkan peningkatkan kualitas pengajaran dan peningkatan efisiensi pembelajaran dengan mengetahuai gaya belajar seseorang. Klasifikasi purkinje terbagi menjadi tiga kelas utama , yaitu; Archs, Loops dan Whorls. Archs sendiri terbagi menjadi Plain Arch dan Tented Arch sementara loops terbagi menjadi oblique loop dan oblique stripe dan whorl terbagi menjadi Almond, Spiral, Ellipse, Circle dan Double Whorl Pengujian hasil akhir tes sidik jari didasarkan data statistika dengan melibatkan ilmu Anatomi, Genetika Kedokteran (khusus fungsi bagian otak), Psikologi Modern yang diaplikasikan dalam sistem Kompoterisasi Biometrik .