Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH JIWA

Disusun oleh :

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIAH BANDUNG 2012/ 2013

Gangguan mental dan perilakukaku akibat penggunaan Kokain Kokain tersedia dalam berbagai bentuk tetapi yang sering digunakan adalah bentuk serbuk yang dipakai melalui dihirup (sniffed) atau disuntikan. Kokain dalam bentuk serbuk tidak dapat di rokok karena tidak tahan pemanasan. Sediaan yang dapat di rokok adalah bentuk ekstrak (kristal)yang disebut crack. Kokain adalh stimulun SSP yang dapat meningkatkan denyut jantung, midriasis, meningkatkan kewaspadaan, dan menunda kelelahan. Kokain termasuk perangsang sistem sistem syaraf simpatik. Walaupun kokain merupakan stimulan yang kuat tetapi tetapi tidak digunakan dalam pengobatan . karena selain kokain mempunyai durasi pendek juga cepat menimbulkan ketergantungan, dan toleransi. Kokain diperoleh dari ekstraksi tumbuhan Erythroxylon coca yang banyak di Amerika latin. a. Efek kokain dosis normal Mengurangi napsu makan Meningkatkan denyut jantung Euforia Pupil melebar dan pandangan kabur Agitasi Kewaspadaan dan rasa percaya diri meningkat, dan Dorongan sek meningkat

b. Efek dososis tinggi Seperti sakit kepala, gelisah, perilaku agresif,hilang konsentrasi, kehilangan libido, hilang motivasi dan ambisi, nyeri, dan serangan jantung. c. Efek penggunaan jangka panajng Penggunaan jangka panjang menimbulkan ketergantuungan baik psikis atau fisik atau bahkan sakit jiwa. Tanda-tanda sakit jiwa dapat berupa paranoid, agitasi, dan halusinasi. Putus obat karena kokain dapat menimbulkan depresi yang sangat dalam (berlawanan dengan efeknnya sebagai stimulansia), ingin bunuh diri, muntah, kelelahan, perasaan sangat lapar, gangguan tidur, nyeri otot, dan craving. Asuhan keperawatan pada klien gangguan penggunaan zat kokain a. Fisik Data fisik yang mungkin di temukan pada klien dengan penggunaan kokain pada saat pengkajian adalah sebagai berikut : nyeri, gangguan pola tidur, menurunya

selera makan, konstipasi, diare, perilaku seks melanggar norma, kemunduran dalam kebersihan diri, potensial komplikasi,jantung, hati,dan sebagainya, infeksi pada paru-paru. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah agar klien mampu untuk teratur dalam pola hidupnya. b. Emosional Perasaan gelisah ( takut kalau diketahui), tidak percaya diri, curiga dan tidak berdaya. Sasaran yang ingin dicapai adalah agar klien mampu untuk mengontrol dan mengendalikan diri sendiri. c. Sosial Lingkungan sosial yang biasa akrab dengan klien biasanya adalah teman pengguna kokain, Anggota keluarga lain pengguna zat dilingkungan sekolah atau kampus yang digunakan oleh para pengedar. d. Intelektual Pikiran yang selalu ingin menggunakan kokain, perasaan ragu untuk berhenti, aktivitas sekolah atau kuliah menurun sampai berhenti, pekerjaan terhenti. Sasaran yang ingin dicapai adalah agar klien mampu untuk kosentrasi dan meningkatkan daya pikir ke hal-hal yang positif. e. Spiritual kegiatan keagamaan tidak ada, nilai-nilai kebaikan diitinggalkankarena perubahan perilaku (tidak jujur, mencuri, mengancam dan lain-lain). Sasaran yang ingin dicapai adalahmampu meningkatkan ibadah, pelaksanaan nilali-nilai kebaikan f. Keluarga Ketakutan akan perilaku klien, malu pada masyarakat, penghamburan dan pengurasan secara ekonomioleh klien, komunikasi dan pola asuh tidak efektif, dukungan moril terhadap klien tidak terpenuhi. Sasaran yang hendak dicapai adalah keluuarga mampu merawat klien yang pada akhirnya mencapai tujuan utama yaitu mengantisipasi terjadinya kekambuhan (relaps).

Eksistensial Gerakan ekistensial ini berawal dari berakhirnya perang dunia ke-2. Banyak para psikolog Amerika yang percaya pada definisi-definisi operasional dan hipotesis-hipotesis yang bias diuji dan menghasilkan data yang empiris sebagai satu-satunya pendekatan yang tepat untuk memperoleh informasi mengenai tingkah laku manusia khususnya dalam bidang konseling dan psikoterapi. Psikologi eksistensial sangat berpengaruh pada pemikiran para psikologi Amerika, karena dengan adanya konsep Psikologi Eksistensial para psikoterapis bias bekerja secara intensif dalam lingkungan terapeutik dalam memperdalam ilmu mengenai manusia. Banyak para psikolog Amerika berorientasi eksistensial mengajukan argument mengenai kebutuhan psikologi akan suatu prespektif yang lebih luas mencakup pengalaman subjektif pasien mengenai dunia pribadinya. Inti dari pendekatan eksistensial itu adalah berbicara tentang individu dan usahanya mempertahankan identitasnya. Metode Ekistensial Dalam meneliti keberadaan manusia, pendekatan eksistensial menggunakan metode tertenti, yakni metode fenomenologis. Pendekatan ini menjelaskan mengenai pengalaman dalam bahasa pengalaman. Kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang digunakan sehari-hari bukan kata istilah atau yang lainnya. Fenomenolog-fenomenolog tidak mencari unsur-unsur, melainkan berusaha menggambarkan dan memahami pengalaman yang langsung muncul dalam kesadaran, seperti kecemasan, tanggung jawab, kekaguman, cinta, keputusan dan sebagainya. Model Konseptual Eksistensial(Ellis,Rogers) Menurut teori model eksistensial gangguan prilaku atau gangguan jiwa terjadi bila individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. Idividu tidak memiliki kebanggaan pada dirinya, membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam body image-nya. Seringkali individu merasa asing dan bingung dengan dirinya sendiri sehingga pencarian makna kehidupannya (eksistensinya) menjadi kabur. Prinsip dalam proses terapinya adalah:

a. (Experience in Relationship) Mengupayakan individu agar bepengalaman dan bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses atau yang dianggap panutan. b. (Self Assessment) Memperluas kesadaran diri dengan cara introspeksi diri c. (Conducted in Group) bergaul dengan kelompok sisial dan kemanusiaan d. (Encouraged to accept self and control behavior) Mendorong untuk menerima jati dirinya sendiri dan menerima keritik atau eed back tentang prilakunya terhadap orang lain. Prinsip Keperawatannya: Klien dianjurkan ikut berperan serta dalam memperoleh pengalaman yang berarti untuk mempelajari dirinya dan mendapatkan feed back dari orang lain, misalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Terapis berupaya memperluas kesadaran diri klien melalui feed back, kritik, saran, atau reward dan punishment.

Ciri-ciri Pandangan Psikologi Eksistensial Psikologi Ekstensial sering disebut sebagai mahzab ke3, karena isinya sangat menentang mahzab 1(psikoanalisis ) dan 2(behaviorisme) yang menilai manusia secara tidak adil. 1. Menentang konsep kausalitas, pertama-tama psikologi eksistensial ini menentang konsep psikologi lain yang memakai konsep ilmu pengetahuan alam, karena tidak ada hubungan sebab akibat ilmu pengetahuan alam dengan keberadaan manusia. 2. Menentang dualism, karena dualism menjelaskan bahwa pengalaman dan tingkahlaku manusia berdasarkan dorongan lingkungan dan keadaan badaniah. Sedangkan psikologi eksistensial mempertahankan kesatuan individu-dalam-dunia. Setiap pandangan ini yang merusak konsep kesatuan ini adalah memecahkan dan memalsukan keberadaan manusia. 3. Menentang ada sesuatu dibalik gejala-gejala, gejala adalah hal-hal yang ditangkap secara langsung bukan merupakan tampang luar dari sesuatu yang lain. Sedangkan psikologi eksistensial merupakan usaha psikologi untuk menjelaskan gejala seteliti dan selengkap mungkin. Penjelasan fenomenologis merupakan tujuan ilmu psikologis bukan penjelasan atau bukti kasual.

4. Menentang teori, karena teori mengungkapkan bahwa sesuaatu yang dapat dilihat menghasilkan yang dapat dilihat. Tapi kenyataannya menurut psikologi eksistensial untuk fenomenologi hanya yang dapat dilihat dan dialami itullah yang ada. 5. Menentang manusia sebagai objek atau benda, psikologi eksistensial menentang bahwa manusia itu sama sepetri batu atau pohon. Apabila manusia diatur dan perlakukan secara tidak bebas maka manusia tidak bias hidup secara manusiawi. Karena indivdu adalah bebas dan dia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Boss, kebebasan bukanlah yang dimiliki manusia tapi manusia adalah kebebasan.

Para Pendukung Pendekatan Eksistensial, sebagian dari keseluruhannya: 1. Martin Heidegger (1889-1976) 2. Ludwig Binswanger (1881-1966) 3. Eugen Bleuler (1857-1939) 4. Medard Boss 5. Rollo May 6. Viktor Fankl

Asuhan Keperawatan Klien Penyalagunaan NAPZA A. Rentang Respon Gangguan Penggunaan Zat Adaktif Rentang respon gangguan penggunaan NAPZA ini berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai yang berat, indicator rentang respon ini berdasarkan perilaku yang ditampakkan oleh remaja dengan gangguan penggunaan zat adiktif sebagai berikut: Eksperimental : Kondisi pengguna taraf awal, yang disebabkan rasa ingin tahu dari

remaja. Sesuai kebutuhan pada masa tumbuh kembangnya, ia biasanya ingin mencari pengalaman yang baru atau sering pula dikatakan taraf coba-coba. Rekreasional : Penggunaan zat adiktif pada waktu berkumpul dengan teman sebaya,

misalnya pada waktu ertemuan malam mingguan,acara ulangtahun. Penggunaan ini mempunyai tujuan rekreasi bersama teman-temannya.

Situasional

: Mempunyai tujuan secara individual, sudah merupakan kebutuhan

bagi dirinya sendiri. Seringkali penggunaan ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapi. Misalnya individu menggunakan zat pada saat sedang konflik stress dan frustasi. Penyalahgunaan : Penggunaan zat yang sudah cukup patologis, sudah mulai digunakan secara rutin, minimal selama 1 bulan, sudah terjadi penyimpangan perilaku mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan sosial, pendidikan, dan pekerjaan. Ketergantungan : Penggunaan zat yang sudah cukup berat, telah terjadi ketergantungan

fisik ditandai dengan adanya toleransi dan syndrome putus zat;suatu kondisi dimana individu yang biasa menggunakan zat adiktif secara rutin, pada dosis tertentu menurunkan jumlah zat yang digunakan atau berhenti memakai, sehingga menimbulkan kumpulan gejala sesuai dengan macam zat yang digunakan. B. Pengenalan Zat Adiktif Bila kita berbicara mengenai gangguan penggunaan zat adiktif atau penyalahgunaan zat adiktif, akan ditemukan beberapa istilah seperti: Zat adiktif Zat psikoaktif Narkotika Perbedaan ketiga istilah diatas, yaitu: 1. Zat adiktif : suatu bahan atau zat yang apabila digunakan dapat menimbulkan kecanduan atau ketergantungan. 2. Zat psikoaktif : golongan zat yang bekerja secara selektif, terutama pada otak sehingga dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, kognitif, persepsi, kesadaran seseorang. Ada 2 jenis psokoaktif : a. Bersifat adiksi. b. Bersifat non adiksi: obat neuroleptika untuk kasus gangguan jiwa psikotik, obat antidepresi. 3. Narkotika : istilah ini menurut undang-undang narkotika no.9 tahun 1976 adalah ganja, opioida, kokain.

Zat psikoaktif ada beberapa macam, dan yang sering disalahgunakan adalah jenis zat psikoaktif yang bersifat adiksi: 1. Golongan opioida: morfin, heroin(putaw), candu, codein, petidin. 2. Golongan kanabis: ganja (mariyuana), minyak hassish. 3. Golongan kokain: serbuk kokain dan daun koka. 4. Golongan alcohol: semua minuman yang mengandung ethyl alcohol seperti brandy, bir, wine, whisky, dan sebagainya. 5. Golongan sedative hipnotik: BK, rohypnol, magadon, madrax. 6. Golongan MDA(methylene dioxy ampethamine): amphetamine

benzerdine, Dexedrine. 7. Golongan MDMA(methylene dioxy meth ampethamine): extacy. 8. Golongan halusinogen: LSD, meskaloin, mushroom,kecubung. 9. Golongan solven dan inhalansia: aica aibon (glue) saceton, thiner, N2O. 10. Nikotin : tembakau 11. Kafein : kopi dan teh. 12. Golongan lainnya. Bila seseorang menggunakan zat adiktif akan dijumpai gejala atau kondisi yang dinamakan intoksikasi, dimana zat adiktif tersebut bekerja dalam susunan syaraf pusat (teler) yang menyebabkan perubahan memori,perilaku,kognitif,kesadaran. Apabila seseorang menggunakan berulang kali secara berkesinambungan aka tercapai suatu kondisi yang dinamakan toleransi. Pada pemakaian yang terus-menerus maka individu akan sampai pada tahap toleransi yang cukup tinggi, pengguna zat adiktif ini bila ia menghentikan atau tidak menggunakan zat adiktif akan menimbulkan gejala-gejala yang dinamakan klien dalam kondisi with drawl atau sindroma putus zat. Gejala atau sindroma putus zat berbeda untuk tiap jenis zat adiktif pada kondisi intoksikasi gejala akan berbeda sesuai dengan jenis zat yang disalh gunakan.

Alkohol Bicara cadel, gerakan terkoordini Intoksika si r, nistagmus, kesadaran menurun, apatis, somnolen, sopor, koma, vertigo, dilatasi pupil, jalan sempoyong an

Ganja Konjungtiva merah, nafsu makan bertambah, mulut kering, denyut jantung cepat, gerakan tidak terkoordinir, euphoria,

Opiodia Pupil menyempit,bicara cadel,euphoria,apati s,gerakan lambat,mengantuk,g angguan mengingat,ganggua n perhatian,miosis,ko nstipasi,tingkatkesa

Ectasy

Halusinogen

cemas,waham,da daranmenurun,hipot ya nilai terganggu,relaks asi mengantuk,diper sonalisasi,gangg uan proses kognitif,hipotens i orthostatic. ensi orthostatic.

C. Beberapa Faktor Pendukung Terjadinya Gangguan Penggunaan NAPZA 1. Factor biologis Genetic (tendensi keturunan) Metabolic :etil alcohol bila dimetabolisme lebih lama lebih efesien untuk mengurangi individu menjadi ketergantungan. Infeksi pada organ otak: intelegensi menjadi rendah (retardasimental,misalnya ensefhalitis,meningitis). Penyakit kronis: kanker,asthma bronchiale,penyakit menahun lainnya.

2. Factor psikologis Tipe kepribadian (depresi,antisosial) Harga diri yang rendah :depresi terutama karena kondisi sosial ekonomi,pada penyalahgunaan alcohol ,sedative hipnotik yang mencapai tingkat

ketergantungan diikuti rasa bersalah. Disfungsi keluarga : kondisi keluarga yang tidak stabil ,tidak terbina saling percaya antar anggota keluarga,orangtua dengan gangguan penggunaan zat adiktif, perceraian. Individu yang mempunyai perasaan tidak aman. Cara pemecahan masalah individu yang menyimpang. Individu yang mengalami krisis identitas dan kecenderungan untuk mempraktikan homoseksual,krisis identitas. Rasa bermusuhan dengan keluarga atau dengan orangtua.

3. Factor sosial cultural Masyarakat yang ambivalensi tentang penggunaan zat seperti tembakau, nikotin, ganja, dan alcohol. Norma kebudayaan pada suku bangsa tertentu, menggunakan halusinogen atau alcohol untuk upacara adat dan keagamaan. Lingkungan tempat tinggal, sekolah, teman sebaya banyak mengedarkan dan menggunakan zat adiktif. Persefsi da penerimaan masyarakat terhadap penggunaan zat adiktif. Remaja yang lari dari rumah. Kehidupan beragama yang kurang.

D. Stressor Pencetus Gangguan Penggunaan Zat Adiktif Stressor dalam kehidupan merupakan kondisi pencetus terjadinya gangguan penggunaan zat adiktif bagi seseorang atau remaja, menggunakn zat merupakan cara untuk mengatasi stress yang dialami dalam kehidupannya. Beberapa stressor pencetus adalah : 1. Pernyataan dan tuntutan untuk mandiri dan membutuhkan teman sebaya sebagai pengakuan. 2. Reaksi sebagai cara untuk mencari kesenangan, individu berupaya untuk menghindari rasa sakit.

3. Kehilangan orang atau sesuatu yang berarti seperti pacar, orangtua, saudara, drop out dari sekolah atau pekerjaan. 4. Diasingkan oleh lingkungan, rumah, sekolah, kelompok teman sebaya, sehingga tidak mempunyai teman. 5. Kompleksitas dan ketegangan dari kehidupa modern. 6. Tersedianya zat adiktif di lingkungan dimana seseorang berada khususnya pada individu yang mengalami pengalaman kecanduan zat adiktif. 7. Pengaruh dan tekanan teman sebaya (diajak, dibujuk, diancam). 8. Kemudahan mendapatkan zat adiktif dan harganya terjangkau. 9. Pesan dari masyarakat bahwa penggunaan zat adiktif dapat menyelesaikan masalah.

E. Penyakit Fisik Akibat Penggunaan Zat Adiktif 1. Cellulitis, phlebitis 2. Septicemia, bacterial endicarditis 3. HIV infeksi 4. Hepatitis B atau C 5. Erosi dan iritasi pada hidung 6. Chirosis hepatis 7. Bronchitis 8. Gastritis 9. Penyakit kulit kelamin F. Masalah Kesehatan dan Keperawatan Secara Umum yang Timbul Akibat Penggunaan Zat Adiktif 1. Depresi system pernapasan 2. Depresi pusat pengatur kesadaran, precoma, coma, amuk, akibat intoksikasi. 3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat delirium tremens. 4. Kecemasan yang berat sampai panik. 5. Potensial mencederai diri, merusak diri, dan lingkungan. 6. Perilaku agresif 7. Depresi pusat pengatur komunikasi verbal. 8. Gangguan kognitif, daya ingat, daya nilai, proses pikiran (waham), gangguan knsentrasi. 9. Gangguan pencernaan nausea, vomitus.

10. Gangguan system neurologis, kejang. 11. Gangguan persefsi, halusinasi. 12. Gangguan pola tidur dan istirahat. 13. Gangguan system musculoskeletal: nyeri sendi, otot, dan tulang. 14. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebtuhan. 15. Gangguan ADL. 16. Gangguan konsep diri harga diri rendah akibat pemecahan masalah yang tidak efektif.