Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada makalah ini akan dijelaskan tentang Pertusis Pada Anak serta bagaimana asuhan keperawatan Pertusis Pada Anak. Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak. (Behrman, 1992). Penyakit ini ditandai dengan demam dan perkembangan batuk semakin berat. Batuk adalah gejala khas dari batuk rejan atau pertusis. Seranagn batuk terjadi tiba-tiba dan berlanjut terus tanpa henti hingga seluruh udara di dalam paru-paru terbuang keluar. Akibatnya saat napas berikutnya pasien pertusis telah kekurangan udara shingga bernapas dengan cepat, suara pernapasan berbunyi separti pada bayi yang baru lahir berumur kurang dari 6 bulan dan pada orang dewasa bunyi ini sering tidak terdengar. Batuk pada pertusis biasanya sangat parah hingga muntah-muntah dan penderita sangat kelelahan setelah serangan batuk.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah pada makalah ini adalah hal-hal apa saja yang berkaitan dengan asuhan keperawatan pertusis pada anak.

1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum Untuk memenuhi tugas Sistem Respirasi yang berupa makalah tentang pada asuhan keperawatan pertusis pada anak.

1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui definisi dan etiologi dari pertusis. 2. Untuk mengetahui patofisiologi dan PATHWAY dari pertusis. 3. Untuk mengetahui manifestasi klinis dan penatalaksanaan dari pertusis. 4. Untuk mengetahui pencegahan dan komplikasi dari pertusis.

1.4 Metode Penulisan Adapun metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah dengan menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan mencari sumber dari berbagai literature baik itu buku maupun dari berbagai media elektronik.

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak. (Behrman, 1992). Definisi Pertusis lainnya adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodic dan paroksismal disertai nada yang meninggi. (Rampengan, 1993). Penyakit ini ditandai dengan demam dan perkembangan batuk semakin berat. Batuk adalah gejala khas dari batuk rejan atau pertusis. Seranagn batuk terjadi tiba-tiba dan berlanjut terus tanpa henti hingga seluruh udara di dalam paru-paru terbuang keluar. Akibatnya saat napas berikutnya pasien pertusis telah kekurangan udara shingga bernapas dengan cepat, suara pernapasan berbunyi separti pada bayi yang baru lahir berumur kurang dari 6 bulan dan pada orang dewasa bunyi ini sering tidak terdengar. Batuk pada pertusis biasanya sangat parah hingga muntah-muntah dan penderita sangat kelelahan setelah serangan batuk.

2.2 Etiologi Pertusis biasanya disebabkan diantaranya Bordetella pertussis (Hemophilis pertusis). Suatu penyakit sejenis telah dihubungkan dengan infeksi oleh bordetella para pertusis, B. Bronchiseptiea dan virus. Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain : 1. Berbentuk batang (coccobacilus) 2. Tidak dapat bergerak 3. Bersifat gram negative. 4. Tidak berspora, mempunyai kapsul 5. Mati pada suhu 55 C selama jam, dan tahan pada suhu rendah (0- 10 C) 6. Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik 7. Tidak sensitive terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resisten terhdap penicillin 8. Menghasilkan 2 macam toksin antara lain : a. Toksin tidak yahan panas (Heat Labile Toxin)
3

b. Endotoksin (lipopolisakarida)

2.3 Patofisiologi Peradangan terjadi pada lapisan mukosa saluran nafas. Dan organisme hanya akan berkembang biak jika terdapat kongesti dan infiltrasi mukosa berhubungan dengan epitel bersilia dan menghasilkan toksisn seperti endotoksin, perttusinogen, toxin heat labile, dan kapsul antifagositik, oleh limfosist dan leukosit untuk polimorfonuklir serta penimbunan debrit peradangan di dalam lumen bronkus. Pada awal penyakit terjadi hyperplasia limfoid penbronklas yang disusun dengan nekrosis yang mengenai lapisan tegah bronkus, tetapi bronkopnemonia disertai nekrosis dan pengelupasan epitel permukaan bronkus. Obstruksi bronkhiolus dan atelaktasis terjadi akibat dari penimbunan mucus. Akhirnya terjadi bronkiektasis yang bersifat menetap. Cara penularan: Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui percikan-percikan ludah penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut. Tanpa dilakukan perawatan, orang yang menderita pertusis dapat menularkannya kepada orang lain selama sampai 3 minggu setelah batuk dimulai.

2.4 PATHWAY

2.5 Manifestasi Klinis Pada Pertusis, masa inkubasi 7-14 hari, penyakit berlangsung 6-8 minggu atau lebih dan berlangsung dalam 3 stadium yaitu : 1. Stadium kataralis / stadium prodomal / stadium pro paroksimal a. Lamanya 1-2 minggu b. Gejala permulaannya yaitu timbulnya gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas, yaitu timbulnya rinore dengan lender yang jernih: 1) Kemerahan konjungtiva, lakrimasi 2) Batuk dan panas ringan 3) Anoreksia kongesti nasalis c. Selama masa ini penyakit sulit dibedakan dengan common cold d. Batuk yang timbul mula-mula malam hari, siang hari menjadi semakin hebat, sekret pun banyak dan menjadi kental dan lengket

2. Stadium paroksimal / stadium spasmodic a. Lamanya 2-4 minggu b. Selama stadium ini batuk menjadi hebat ditandai oleh whoop (batuk yang bunyinya nyaring) sering terdengar pada saat penderita menarik nafas pada akhir serangan batuk. Batuk dengan sering 5 10 kali, selama batuk anak tak dapat bernafas dan pada akhir serangan batuk anak mulai menarik nafas denagn cepat dan dalam. Sehingga terdengar bunyi melengking (whoop) dan diakhiri dengan muntah. c. Batuk ini dapat berlangsung terus menerus, selama beberapa bulan tanpa adanya infeksi aktif dan dapat menjadi lebih berat. d. Selama serangan, wajah merah, sianosis, mata tampak menonjol, lidah terjulur, lakrimasi, salvias dan pelebaran vena leher. e. Batuk mudah dibangkitkan oleh stress emosional missal menangis dan aktifitas fisik (makan, minum, bersin dll).

3. Stadium konvaresens a. Terjadi pada minggu ke 4 6 setelah gejala awal b. Gejala yang muncul antara lain : Batuk berkurang c. Nafsu makan timbul kembali, muntah berkurang d. Anak merasa lebih baik
6

e. Pada beberapa penderita batuk terjadi selama berbulan-bulan akibat gangguan pada saluran pernafasan.

2.6 Penatalaksanaan Anti mikroba Pemakai obat-obatan ini di anjurkan pada stadium kataralis yang dini. Eritromisin merupakan anti mikroba yang sampai saat ini dianggap paling efektif dibandingkan dengan amoxilin, kloramphenikol ataupun tetrasiklin. Dosis yang dianjurkan 50mg/kg BB/hari, terjadi dalam 4 dosis selama 5-7 hari. Kortikosteroid 1. Betametason oral dosis 0,075 mg/lb BB/hari 2. Hidrokortison suksinat (sulokortef) I.M dosis 30 mg/kg BB/ hari kemudian diturunkan perlahan dan dihentikan pada hari ke-8 3. Prednisone oral 2,5 5 mg/hari Berguna dalam pengobatan pertusis terutama pada bayi muda dengan seragan proksimal.Salbutamol

2.7 Pencegahan Diberikan vaksin pertusis yang terdiri dari kuman bordetella pertusis yang telah dimatikan untuk mendapatkan imunitas aktif. Vaksin ini diberikan bersama vaksin difteri dan tetanus. Dosis yang dianjurkan 12 unit diberikan pada umur 2 bulan. Kontra indikasi pemberian vaksin pertusis : 1. Panas lebih dari 33C 2. Riwayat kejang 3. Reaksi berlebihan setelah imunisasi DPT sebelumnya misalnya: suhu tinggi dengan kejang, penurunan kesadaran, syok atau reaksi anafilatik lainnya.

2.8 Komplikasi 1. Pada saluran pernafasan a. Bronkopnemonia Infeksi saluran nafas atas yang menyebar ke bawah dan menyebabkan timbulnya pus dan bronki, kental sulit dikeluarkan, berbentuk gumpalan yang menyumbat satu atau lebih bronki besar, udara tidak dapat masuk kemudian terinfeksi dengan bakteri. Paling sering terjadi dan menyebabkan kematian pada anak dibawah usia 3 tahun terutama bayi yang lebih muda dari 1 tahun. Gejala ditandai dengan batuk, sesak nafas, panas, pada foto thoraks terlihat bercakbercak infiltrate tersebar.
7

b. Otitis media / radang rongga gendang telinga Karena batuk hebat kuman masuk melalui tuba eustaki yang menghubungkan dengan nasofaring, kemudian masuk telinga tengah sehingga menyebabkan otitis media. Jika saluran terbuka maka saluran eustaki menjadi tertutup dan jika penyumbat tidak dihilangkan pus dapat terbentuk yang dapat dipecah melalui gendang telinga yang akan meninggalkan lubang dan menyebabkan infeksi tulang mastoid yang terletak di belakang telinga. c. Bronkhitis Batuk mula-mula kering, setelah beberapa hari timbul lender jernih yang kemudian berubah menjadi purulen. d. Atelaktasis Timbul akibat lender kental yang dapat menyumbat bronkioli. e. Emphisema Pulmonum Terjadi karena batuk yang hebat sehingga alveoli pecah dan menyebabkan adanya pus pada rongga pleura. f. Bronkhiektasis Terjadi pelebaran bronkus akibat tersumbat oleh lender yang kental dan disertai infeksi sekunder. g. Aktifitas Tuberkulosa h. Kolaps alveoli paru akibat batuk proksimal yang lama pada anak-anak sehingga dapat menebabklan hipoksia berat dan pada bayi dapat menyebabkan kematian mendadak. 2. Pada saluran pencernaan a. Emasiasi dikarenakan oleh muntah-muntah berat. b. Prolapsus rectum / hernia dikarenakan tingginya tekanan intra abdomen. c. Ulkus pada ujung lidah karena tergosok pada gigi atau tergigit pada saat batuk. d. Stomatitis. 3. Pada system syaraf pusat Terjadi karena kejang : a. Hipoksia dan anoksia akibat apneu yang lama b. Perdarahan sub arcknoid yang massif c. Ensefalopat, akibat atrof, kortika yang difus d. Gangguan elektrolit karena muntah

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian 1. Data subyek : a. Paling banyak terdapat pada tempat yang padat penduduknya Usia yang paling rentan terkena penyakit pertusis adalah anak dibawah usia 5 tahun b. Cara penularanya yang sangat cepat c. Imunisasi dapat mengurangi angka kejadian dan kematian yang disebabkan oleh pertusis d. Batuk ini disebabkan karena bordetella pertusis e. Disalah satu Negara yang belum melaksanakan prosedur imunisasi rutin, masih banyak terdapat penyakit pertusis 2. Data obyek : a. Anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus b. Batuk yang sukar berhenti c. Muka menjadi merah d. Batuk yang sampai keluar air mata e. Kadang sampai muntah disertai keluarnya sedikit darah, karna batuk yang sangat keras. f. Biasanya terjadi pada malam hari

3.2 Diagnosa keperawatan 1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d banyaknya mucus 2. Pola napas tidak efektif b/d dispnea 3. Resiko tinggi infeksi terhadap (penyebaran). Factor resiko ketidak adekuatan pertahanan utama 4. Nyeri 5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

3.3 Intervensi keperawatan 1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d banyaknya mucus. Tujuan : Status ventilasi saluran pernafasan baik, dengan cara mampu membersihkan secret yang menghambat dan menjaga kebersihan jalan nafas. Kriteria hasil : a. Rata-rata pernafasan normal b. Sputum keluar dari jalan nafas c. Pernafasan menjadi mudah d. Bunyi nafas normal e. Sesak nafas tidak terjadi lagi Intervensi : a. Kaji frekuensi/ kedalamn pernafasan dan gerakan dada . Rasional : takipnea, pernapasan dangkal,dan gerakan dada tak simetriks sering terjadi karena ketidak nyamanan gerakan dinding dada dan/ cairan paru b. Auskultasi area paru,catat area penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi napas atventisius misalnya krekes,mengi. Rasional : penurunan aliran udara terjadi pada area konsulidasi dengan cairan. Bunyi napas bronchial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsulodasi. Krekes,ronki,dan mengi terdengar pada inspirasi dan/ ekspirasi pada respon terhadap pengumoulan cairan, secret . c. Bantu pasien latihan napas sering. Tunjukkan/ bantu pasien melakukan batuk, misalnya menekan dada dan batuk efektif. Rasional : napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan napas paten. Penekanan menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan upaya napas lebih dalam dan kuat. d. Pengisapan sesuai indikasi Rasional : merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena e. Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari (kecuali kontraindikasi). Tawarkan air hangat daripada dingin. Rasional : cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret.
10

f. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi Rasional : untuk menurunkan sekresi secret dijalan napas dan menurunkan resiko keparahan

2. Pola napas tidak efektif b/d dispnea Tujuan : Menunjukkan pola napas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal dan paru jelas atau bersih Kriteria hasil: a. Frekuensi pernapasan normal b. Bunyi paru jelas/bersih c. Kedalaman paru dalam rentang normal d. Bunyi napas normal e. Pengembangan dada normal antara inspirasi dan ekspirasi Intervensi : a. Kaji frekuensi,kedalaman pernafasan, ekspansi dada. Catat upaya pernafasan, termasuk penggunaan otot bantu/ pelebaran masal. Rasional : kecepatan biasanya meningkat. Dispnea dan terjadi peningkatan kerja napas Kedalaman pernafasan biasanya bervariasi tergantung derajat gagal napas. Ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan/ nyeri dada pleuritik. b. Auskultasi bunyi napas dan catat adanya bunyi napas adventisius, seperti krekels, mengi, gesekan pleural. Rasional : bunyi napas menurun/ tak ada bila jalan napas obstruksi sekunder terhadap perdarahan,bekuan atau kolaps jalan napas kecil (atelaktasis). Ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan napas/kegagalan pernafasan c. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Bangunkan pasien turun tempat tidur dan ambulasi sesegera mungkin Rasional : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru memudahkan pernafasan. Pengubahan posisi dan ambulasi meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda sehingga memperbaiki difusi gas d. Observasi pola batuk dan karakter secret Rasional : kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering/iritasi. Sputu berdarah dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan (infark paru) atau antikoagulan berlebihan
11

e. Dorong/bantu pasien dalam napas dalam dan latihan batuk. Pengisapan peroral atau naso trakeal bila diindikasikan. Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyamanan upaya bernafas. f. Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan bila diindikasikan.

Rasional : memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas

3. Resiko tinggi infeksi terhadap ( penyebaran ). Factor resiko ketidak adekuatan pertahanan utama (penurunan kerja silia) Tujuan : Tidak terjadi resiko infeksi Kriteria hasil : a. Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi b. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi Intervensi : a. Pantau tanda vital dengan ketat,khususnya selama awal terapi. Rasional : selama periode waktu ini, potensial terjadi komplikasi b. Anjurkan klien untuk memperhatikan pengeluaran secret (misalnya

meningkatkan pengeluaran daripada menelannya) dan melaporkan perubahan warna, jumlah dan secret. Rasional : meskipun pasien dapat menemukan pengeluaran dan upaya infeksi atau menghindarinya, penting bahwa sputum harus dikeluarkan dengan cara aman. Perubahan karakteristik sputum menunjukkan terjadinya infeksi sekunder. c. Dorong teknik mencuci tangan baik Rasional : menurunkan resiko penyebaran infeksi a. Batasi pengunjung sesuai indikasi. Rasional : menurunkan pajanan terhadap pathogen infeksi lain. b. Kolaborasi berikan antimicrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah, misalnya eritromisin. Rasional : obat ini digunakan untuk membunuh kebanyakan mikrobial

4. Nyeri berhubungan dengan agens cidera Tujuan : mengurangi rasa nyeri Kriteria hasil : Nyeri berkurang
12

Intervensi : a. Kaji skala nyeri yang dialami klien. Rasional : mengetahui tingkat skala nyeri yang di alami klien. b. Berikan hiburan untuk mengalihkan rasa nyeri Rasional : nyeri dapat berkurang.

5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis. Tujuan : meningkatkan nutrisi dan berat badan menjadi normal. Kriteria hasil : a. Brat badan normal b. Nutrisi terpenuhi c. Peningkatan nafsu makan Intervensi : a. Pantau berat badan klien Rasional : timbat berat badan dan catat peningkatan yang ada. b. Berikan makanan yang bernutrisi kolaborasi dengan nutrien Rasional : memenuhi kebutuhan nutrisi klien c. Berikan makanan yang menarik perhatian klien Rasional : meningkatkan nafsu makan klien

13

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak. (Behrman, 1992). Penyakit ini ditandai dengan demam dan perkembangan batuk semakin berat. Batuk adalah gejala khas dari batuk rejan atau pertusis. Seranagn batuk terjadi tiba-tiba dan berlanjut terus tanpa henti hingga seluruh udara di dalam paru-paru terbuang keluar. Akibatnya saat napas berikutnya pasien pertusis telah kekurangan udara shingga bernapas dengan cepat, suara pernapasan berbunyi separti pada bayi yang baru lahir berumur kurang dari 6 bulan dan pada orang dewasa bunyi ini sering tidak terdengar. Batuk pada pertusis biasanya sangat parah hingga muntah-muntah dan penderita sangat kelelahan setelah serangan batuk.

14

DAFTAR PUSTAKA

Rudolph M.Abraham,dkk.2006.buku ajar pediatri rudolph,Edisi 20.volume 1.jkarta : egc Nursalam,dkk.2005.asuhan keperawatan bayi dan anak.jakarta : salemba medika Richard E.Berham.1999.ilmu kesehatan anak nelson.volume 2.jakarta :egc Manjoer,arif.2000.kapita selekta kedokteran,Edisi 3,jilid 2.jakarta : media aesculapius Doenges,marilynn,E.dkk.2001.rencana asuhan keperawatan,Edisi 3.jakarta : egc Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2012- 2014

15