Anda di halaman 1dari 50

Pengaruh Berat Badan dan Gravitasi dengan Kematian Gantung dan Jerat

Ariyo Ryadi Rangga Putra


Citra Ayu Merilasari Murniyanti Oktavianingrum Angga Riskiawan Annisa Prasetyati Hapsari

FK UKI
FK UKI FK UKI FK UNDIP FK UNDIP

Dian Ratnasari
Fandy Wicaksono

FK UNDIP
FK UNDIP

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Bunuh diri merupakan salah satu penyebab utama kematian tersering selain karena kecelakaan. Menurut data WHO, tahun 2005 sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan bunuh diri dan setiap harinya diperkirakan 150 orang melakukan tindakan bunuh diri.

PENDAHULUAN (2)
Salah satu penyebab kematian adalah terjadinya gangguan pertukaran udara pernafasan yang mengakibatkan suplai oksigen berkurang. Penggantungan (hanging) adalah penyebab kematian akibat asfiksia yang paling sering ditemukan. Penggantungan juga merupakan penyebab kematian tersering menimbulkan persoalan karena rawan terjadi salah interpretasi antara kasus bunuh diri atau akibat dari pembunuhan.

PENDAHULUAN (3)

Kasus gantung hampir sama dengan penjeratan, perbedaannya ada pada asal tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkaran jerat.
Pada peristiwa gantung, kekuatan jeratnya berasal dari berat tubuhnya, sedangkan pada jeratan dengan tali kekuatan jeratnya berasal dari tarikan pada kedua ujungnya.

PENDAHULUAN (4)

RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud dengan kejahatan gantung dan jerat? Bagaimana mekanisme kematian pada kasus gantung dan jerat? Apa pengaruh berat badan dan gravitasi pada kasus gantung dan jerat?

PENDAHULUAN (5)
TUJUAN PENULISAN
Untuk memahami apa yang dimaksud dengan gantung dan jerat. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme kematian pada gantung dan jerat. Untuk mengetahui pengaruh berat badan dan gravitasi pada kasus gantung dan jerat.

PENDAHULUAN (5)
MANFAAT PENELITIAN
Dapat

menambah pengetahuan dan membantu peran dokter dalam kasus-kasus kematian yang tak wajar terutama kematian yang disebabkan gantungdan jerat di masyarakat .

Bagi

civitas akademika dapat memberikan suatu pemahaman mengenai kasus gantung terutama dalam aspek mekanisme kematian akibat gantung dan jerat. Sebagai dasar untuk penyusunan karya tulis maupun penelitian lain selanjutnya.

ASFIKSIA
Definisi: -Terhentinya proses pertukaran O2 dan CO2 -Terhentinya suplai oksigen ke tubuh -Peningkatan CO2

Berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 4 golongan: 1. Anoksia anoksik 2. Anoksia anemik 3. Anoksia stagnan 4. Anoksia histotoksik

Anoksia anoksik (anoxic anoxia) Keadaan ini diibaratkan dengan tidak atau kurang pemasokan oksigen untuk keperluan tubuh. Pada tipe ini O2 tidak dapat masuk ke dalam paru-paru karena : Tidak ada atau tidak cukup O2 pernafasan dalam ruangan tertutup, kepala ditutupi kantong plastik, disebut asfiksia murni (suffocation). Hambatan mekanik dari luar maupun dari dalam jalan nafas seperti pembekapan, gantung diri, penjeratan, korpus alienum dalam tenggorokan. Ini disebut sebagai asfiksia mekanik (mechanical asphyxia).

Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara


pernapasan terhalang memasuki saluran pernapasan oleh berbagai kekerasan (yang bersifat mekanik) misalnya: 1. Penutupan lubang saluran pernapasan bagian atas, seperti pembekapan (smothering) dan penyumbatan (gagging dan choking). 2. Penekanan dinding saluran pernapasan atas, seperti penjeratan (strangulation), dan gantung (hanging). 3. Penekanan dinding dada dari luar (crush asphyxia) 4. Saluran napas terisi air, meliputi tenggelam (drowning)

Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala : 1. Fase dispnu: perangsangan medula oblongota karena kadar O2 rendah dan CO2 yang tinggi berupa amplitudo-frekuensi napas meningkat, nadi cepat, tensi tinggi, tanda-tanda sianosis pada mukatangan. 2. Fase konvulsi: rangsangan susunan saraf pusat akibat peningkatan CO2 berupa kejang klonik, lalu tonik, akhirnya opistotonus, pupil dilatasi, denyut jantung menurun, tensi turun. 3. Fase apnu: depresi pusat napas hingga berhenti, kesadaran turun, relaksasi sfingter. 4. Fase akhir: Paralisis pusat pernapasan lengkap.

Mekanisme kematian asfiksia dapat dibagi dalam dua golongan: 1. Primer (akibat langsung dari asfiksia) 2. Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh) Tanda-tanda postmortem pada mati lemas Sianosis Bintik perdarahan Lebam mayat Edema Buih halus pada hiding dan mulut

ANATOMI ORGAN LEHER

gantung

Definisi

Keadaan dimana leher dijerat dengan ikatan, daya jerat ikatan tersebut memanfaatkan berat badan tubuh atau kepala.
Ada pula yang mendefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi konstriksi dari leher oleh alat penjerat yang ditimbulkan oleh berat badan seluruhnya atau sebagian.

Epidemiologi

Kejadian mati gantung juga meningkat pada wanita dewasa muda dengan usia kurang dari 45 tahun tetapi angka kejadian pada wanita yang lebih tua menurun sejak pertengahan tahun 1980 penggantungan merupakan metode kematian dengan estimated fatality rate melebihi 70 %. Di Bali gantung diri merupakan penyebab kematian terbanyak ketiga sebanyak 44 kasus dari bulan Januari 2002 sampai Desember 2006.

Mekanisme Kematian pada Gantung

Asfiksia, terjadi akibat terhambatnya aliran udara pernafasan. Merupakan penyebab kematian yang paling sering. Apopleksia, tekanan pada pembuluh darah vena menyebabkan kongesti pada pembuluh darahotak dan mengakibatkan kegagalan sirkulasi Iskemia Serebral, karena penekanan pada pembuluh darah arteri (oklusi arteri) yang menyebabkan terhambatnya aliran darah ke otak.

Syok Vasovagal, perangsangan pada sinus caroticus menyebabkan refleks vagal yang menyebabkan henti jantung. Obstruksi jalan napas Fraktur atau Dislokasi Vertebra Servikalis, akan mengakibatkan fraktur atau dislokasi vertebra servikalis yang akan menekan medulla oblongata dan mengakibatkan tehentinya pernafasan.

Jenis Gantung (berdasarkan cara kematian)

Suicidal Hanging (Gantung Diri) Accidental Hanging, terjadi akibat kecelakaan (sering terjadi pada umur antara 6-12 tahun). Homicidal Hanging (Pembunuhan)

Jenis Gantung (berdasar posisi korban)

Complete Hanging, apabila tubuh korban tergantung di atas lantai, kedua kaki tidak menyentuh lantai. Partial Hanging, apabila sebagian dari tubuh masih menyentuh lantai.

Jenis Gantung (berdasarkan letak jeratan)


Typical hanging, bila titik penggantungan ditemukan di
daerah oksipital dan tekanan pada arteri karotis paling besar.

Atypical hanging, bila titik penggantungan terletak di


samping, yang mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis.

STRANGULASI

Definisi: Penekanan leher dinding saluran nafas bagian atas tertekan penyempitan saluran nafas Jenis-jenis strangulasi: Strangulasi manual ( menggunakan tangan ) Strangulasi sejati ( menggunakan tali) Penjeratan (strangulation by ligature)

Penjeratan(Strangulation by Ligature)
Definisi: Penekanan benda asing (tali, ikat pinggang, rantai, stagen, kawat, kabel, kaos kaki dsb) melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat, sehingga saluran nafas tertutup
Jerat vs Gantung - Pembunuhan >< Bunuh Diri - Kekuatan penjerat >< Kekuatan berat tubuh - arteri leher biasanya tetap paten><mungkin tertekan penuh

Mekanisme Kematian pada Penjeratan Asfiksia Iskemia Serebral Refleks Vasovagal

Akibat langsung (primer): Kekurangan O2 pada otak dan organ-organ lain(jantung,paru,ginjal,hati)mati


Asfiksia Akibat tdk langsung (sekunder): kompensasi dari jantung untuk untuk meningkatkan outputnyatekanan arteri dan vena meningkatgagal jantungmati

Iskemia Serebralpenekanan dan hambatan pada arteri (oklusi arteri)aliran darah ke otak berkurang

R.Vasovagal Perangsangan Badan karotid (carotid bodies) Rangsang Parasimpatis Rangsang Simpatis

1. Cardioinhibitory denyut jantung/chronotropic neg kontraktilitas/inotropic neg cardiac outputkesadaran

2.Vasodepressor Penurunan tek. Darah ok vasodilatasi

Cara Kematian pada Penjeratan Pembunuhan (paling sering) Kecelakaan Bunuh Diri

Jejas Jerat

Mendatar, melingkari leher Bila jerat lunak dan lebar seperti handuk atau selendang sutra, maka jejas mungkin tidak ditemukan pada otot- otot leher sebelah dalam dapat atau tidak ditemukan sedikit resapan darah. Bila jerat kasar seperti tali, maka bila tali bergesekan pada saat korban melawan akan menyebabkan luka lecet di sekitar jejas jerat, yang tampak jelas berupa kulit yang mencekung berwarna coklat dengan perabaan kaku seperti kertas perkamen (luka lecet tekan). Pada otot- otot leher sebelah dalam tampak banyak resapan darah. Pola jejas dapat dilihat dengan menempelkan transparant scotch tape pada daerah jejas di leher, kemudian ditempelkan pada kaca objek dan dilihat dengan mikroskop atau dengan sinar ultraviolet.

Gambaran Post mortem


Pemeriksaan Luar: A. tanda penjeratan pada leher B. tanda asfiksia C. Lebam mayat Pemeriksaan Dalam: Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi ataupun ruptur. Tanda-tanda Asfiksia (bintik perdarahan,edema paru dan sebagainya)

Mekanisme Kematian Gantung dan Jerat

GANTUNG Asfiksia Apopleksia (tertekannya Vena Jugularis) Iskemia Serebral (tertekan karotis) Syok Vasovagal Obstruksi Trakea / saluran napas. Fraktur atau Dislokasi vertebra servikalis. Asfiksia

JERAT

Iskemia Serebral (tertekan karotis) Refleks Vasovagal

Tekanan yang berpengaruh untuk terjadinya kompresi organ organ leher

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan oleh dr Poson


ORGAN TEKANAN (kilogram) 3,2 kilogram 2 kilogram 15 kilogram 30 Kilogram

Karotis Vena Jugular Trakea Arteri vertebralis

Pengaruh Berat badan dan gravitasi terhadap kematian gantung

Perngaruh Berat badan pada gantung sesuai Rumus F = m. g g = Konstan yaitu 9,8 m/s2 m = sesuai dengan berat badan

Pengaruh Berat badan dan gravitasi terhadap kematian gantung

Namun selain itu didapatkan juga data mengenai pengaruh berat badan dan tinggi badan terhadap kematian gantung
Berat (Lbs) 14 stone (196 lbs) 13.5 stone (189 lbs) 13 stone (182 lbs) 12.5 stone (175 lbs) 12 stone (168 lbs) 11.5 stone (161 lbs) 11 stone (154 lbs) Berat (Kilogram) 89kg 86kg Ketinggian (kaki) 8ft 0in 8ft 2in Ketinggian (Meter) 2.44m 2.49m

83kg
79kg 76kg 73kg 70kg

8ft 4in
8ft 6in 8ft 8in 8ft 10in 9ft 0in

2.54m
2.59m 2.64m 2.69m 2.74m

Pengaruh Berat badan dan gravitasi terhadap kematian gantung

Berat (Lbs) 10.5 stone (147 lbs) 10 stone (140 lbs) 9.5 stone (133 lbs) 9 stone (126 lbs) 8.5 stone (119 lbs) 8 stone (112 lbs)

Berat (Kilogram) 67kg 64kg 60kg 57kg 54kg

Ketinggian (kaki) 9ft 2in 9ft 4in 9ft 6in 9ft 8in 9ft 10in

Ketinggian (Meter) 2.79m 2.84m 2.9m 2.95m 3m

51kg

10ft 0in

3.05m

Pengaruh Berat badan dan gravitasi terhadap kematian Jerat

Gantung Jerat

Berat badan Gravitasi (Konstan) Tenaga Pelaku

Sehingga tidak terdapat pengaruh berat badan dan gravitasi terhadap kematian Jerat Tekanan yang dibutuhkan sama dengan penelitian dr poson

KESIMPULAN

DAN SARAN

KESIMPULAN
1. Gantung (hanging) adalah keadaan dimana leher dijerat dengan ikatan, daya jerat ikatan tersebut memanfaatkan berat badan tubuh atau kepala. Ada pula yang mendefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi konstriksi dari leher oleh alat penjerat yang ditimbulkan oleh berat badan seluruhnya atau sebagian.

Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen, kawat, kabel, kaos kaki dan sebagainya, melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat, sehingga saluran nafas tertutup. Berbeda dengan gantung diri yang biasanya merupakan kasus bunuh diri, maka penjeratan biasanya adalah kasus pembunuhan. Dengan demikian berarti alat penjerat sifatnya pasif, sedangkan berat badan sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi pada leher. Kasus

gantung hampir sama dengan penjeratan. Perbedaannya terdapat pada


asal tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkararan jerat.

2. Mekanisme kematian yang disebabkan oleh gantung akibat penumpuan beban sebagian atau seluruh beban tubuh di leher diantaranya adalah asfiksia, apopleksia, iskemia serebral, syok vasovagal, obstruksi trakhea/saluran napas, fraktur atau dislokasi vertebra servikalis. Sedangkan untuk kasus penjeratan, mekanisme kematiannya dapat terjadi akibat : Asfiksia, Iskemia Serebral, refleks vagal. Dalam kasus penjeratan ada beberpa cara kematian pada kasus jerat

diantaranya adalah: Pembunuhan (paling sering), Kecelakaan, dan


Bunuh diri.

3. Didapatkan hubungan antara berat badan dan


gravitasi pada kasus gantung, karena tekanan yang ditimbulkan dari gantung berasal dari beban berat tubuhnya dan gravitasi. Sedangkan pada kasus jerat tidak didapatkan hubungan antara berat badan dan gaya

gravitasi dikarenakan tekanannya berasal dari tenaga


yang digunakan oleh pelaku.

SARAN
Perlu dilakukan penelitian dan pembahasan lebih lanjut mengenai kasus gantung dan jerat, karena masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi seperti tebalnya lemak, tebalnya otor pada daerah leher.