Anda di halaman 1dari 36

ISSN : 1978-0370

MITRA HUTAN TANAMAN Vol. 4 No. 3, November 2009


Mitra Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah semi populer dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, dengan frekuensi terbit tiga kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Drs. Riskan Effendi, M.Sc Anggota Ir. A. Syaffari Kosasih, MM Ir. Harbagung Dra. Illa Anggraeni Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian P3HT Anggota Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian Kristina Yuniati, S. Hut Rohmah Pari, S. Hut Diterbitkan oleh: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor, Po. Box 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: forplan@indo.net.id Website: www.forplan.or.id

ISSN : 1978-0370 MITRA HUTAN TANAMAN Vol. 4 No. 3, November 2009

DAFTAR ISI
1. APLIKASI MIKORIZA PADA TANAMAN CEPAT TUMBUH PADA REKLAMASI LAHAN KRITIS (STUDI KASUS PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN BATUBARA DI TANJUNG ENIM) Mycorrhiza Application on Fast Growing Species on Critical Land Reclamation (Case Study on after Coal Mining Land in Tanjung Enim) Heru Dwi Riyanto ___________________________________________ HUBUNGAN ANTAR FAKTOR PENGGANGGU PENYEBAB KERUSAKAN HUTAN Interaction among Disturbing Factors causing Forest Degradation Sri Utama dan/and Wahyu Catur Adinugroho ___________________

89-92

2.

93-100

3.

MEKANISME TERGANGGUNYA PROSES FOTOSINTESIS PADA BERBAGAI KONDISI VEGETASI PASCA KEBAKARAN HUTAN Disturbance Mechanism of Photosyntesis Process on Various Condition of Vegetation after Forest Fire Wahyu Catur Adinugroho dan/and Sri Utami ____________________ 101-110 PROSES PERKECAMBAHAN BUAH/BENIH Vatica pauciflora (Korth.) Blume DARI POHON INDUK DI HUTAN LINDUNG SUNGAI WAIN, KALIMANTAN TIMUR Germination Process of the Fruit/Seed of Vatica pauciflora (Korth.) Blume from Mother Trees in Protection Forest of Sungai Wain, East Kalimantan Tri Sayektiningsih dan/and Mira Kumala Ningsih ________________ 111-117 PENGARUH BEBERAPA SPECIES MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN ANAKAN TEMBESU (Fragaea fragans Roxb) The Influence of Several Mycorrhiza Species to the Growth of Tembesu Seedling (Fragaea fragans Roxb) Heru Dwi Riyanto dan/and Engkos Kusnandar ___________________ 119-123

4.

5.

Aplikasi Mikoriza pada Tanaman Cepat Tumbuh pada Reklamasi Lahan Kritis (Studi Kasus pada Lahan Pasca Penambangan Batubara di Tanjung Enim)
Heru Dwi Riyanto

APLIKASI MIKORIZA PADA TANAMAN CEPAT TUMBUH PADA REKLAMASI LAHAN KRITIS
(STUDI KASUS PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN BATUBARA DI TANJUNG ENIM)

Mycorrhiza Application on Fast Growing Species on Critical Land Reclamation (Case Study on after Coal Mining Land in Tanjung Enim) Heru Dwi Riyanto
Balai Penelitian Kehutanan Solo Jl. A.Yani Pabelan, Kartasura, PO BOX 295 Surakarta 57012 Telp. (0271) 716709 dan 716959

I.

PENDAHULUAN

Sistem penambangan terbuka umumnya dilakukan pada eksploitasi batubara dan timah. Sistem ini apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan terganggunya lingkungan dan sumberdaya alam, sebagai contoh: lahan kritis/kekeringan, tanah miskin hara, rentan erosi dan kehilangan biodiversitas. Menurut Fakuara (1989), lahan/tanah setelah kegiatan penambangan terbuka umumnya rusak berat. Secara fisik, lahan menjadi berbatu, kehilangan penutup tanah yang membuat sinar matahari langsung terserap tanah dan menyebabkan peningkatan suhu tanah. Secara kimia permukaan tanah tercampur bahan-bahan seperti Sulfur, Alumunium, Mangan yang beracun bagi tanaman dan kehidupan jasad renik. Secara biologis, beberapa sistim makro dan mikrobiologi yang ada di permukaan tanah sebelum penambangan sekarang terkubur beberapa meter di bawah bahan galian. Kondisi tanah bekas penambangan batubara seperti di atas menyebabkan tumbuh-tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan baik. Jika keadaan ini dibiarkan, luasan lahan kritis akan terus bertambah. Untuk itu, perlu dicarikan strategi dan teknologi yang tepat untuk pemulihan kualitas tanah atau reklamasi lahan bekas penambangan batubara tersebut. Meskipun Pedoman Teknis Dirjen Pertambangan Umum secara rinci telah memberikan petunjuk teknis pelaksanaan reklamasi lahan bekas tambang, tetapi untuk setiap jenis tambang dan lokasi memerlukan teknologi yang khas (Untung, 1996 dalam Martin, 1999). Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang berjenjang dan menyeluruh pada suatu lokasi penambangan, agar teknologi yang sesuai dengan lahan dapat dikembangkan. Dua pendekatan ekologis yang dapat diterapkan guna mendukung reklamasi lahan bekas penambangan batubara adalah strategi pemilihan jenis tanaman yang tepat dan penyediaan bibit yang berkualitas dengan bantuan teknologi mikroba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai pengaruh bibit bermikoriza dan pertumbuhannya di lahan bekas tambang terbuka.

89

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 89 - 92

II. RISALAH PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di lokasi penambangan PT. Bukit Asam Tanjung Enim, dengan karakteristik lahan penanaman sebagai berikut: type tanah blue clay, bebatuan, dengan pH tanah 2.5 3. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : (1) Bibit tanaman sengon, mangium dan lamtoro, (2) rock phosphat, (3) arang, (4) cendawan mikoriza arbuscula dll. Parameter yang diamati meliputi : (1) tinggi dan diameter, (2) persen hidup, dan (3) persen infeksi.

III. HASIL Hasil pengamatan dan data yang diperoleh diolah secara deskriptif statistik yang menggambarkan rata-rata pertumbuhan, persen hidup, sebaran tinggi dan diameter secara umum dari ketiga jenis tanaman legum yang diuji, dan hasil tersebut disajikan dalam tabel-tabel di bawah : Tabel 1. Statistik deskriptif A. mangium (mangium) umur 1 tahun Parameter Rata-rata Standard Standard Persen Minimum Maximum Pertumbuhan Deviasi Error Hidup Tinggi 122.55 30 200 59.37 9.90 (cm) 17 Diameter 26.53 3 50 14.96 2.49 (mm)

Tabel 2. Statistik deskriptif L. leucocephala (lamtoro) umur 1 tahun Parameter Tinggi (cm) Diameter (mm) Rata-rata Standard Standard Persen Minimum Maximum Pertumbuhan Deviasi Error Hidup 89 10 20. 40.79 4.32 41 13.64 4 40 6.76 0.72

Tabel 3. Statistik deskriptif P. falcataria (sengon) umur 1 tahun Parameter Tinggi (cm) Diameter (mm) Rata-rata Standard Standard Persen Minimum Maximum Pertumbuhan Deviasi Error Hidup 134.54 24.83 30 2 340 55 70.80 13.74 4.32 50 2.49

90

Aplikasi Mikoriza pada Tanaman Cepat Tumbuh pada Reklamasi Lahan Kritis (Studi Kasus pada Lahan Pasca Penambangan Batubara di Tanjung Enim)
Heru Dwi Riyanto

Dari Tabel 1, 2 dan 3 terlihat bahwa persen hidup Acacia mangium adalah yang paling rendah yaitu 17%, diikuti lamtoro 41% dan sengon 50%. Hal ini menandakan bahwa inokulasi pada A. mangium kurang efektif, sehingga pada kondisi yang sangat ekstrim dengan lahan yang berbatu-batu dan dengan pH tanah yang sangat masam 2,5 3, A. mangium kurang dapat bertahan, padahal dari beberapa pengalaman lapangan, A. mangium lebih dapat bertahan pada lahan kritis dibanding Paraserianthes falcataria (sengon) yang lebih memerlukan tanah yang lebih subur, tetapi pada kasus di lahan bekas tambang ini sengon lebih mampu bertahan hidup. Kurang efektifnya inokulasi mikoriza pada mangium kemungkinan besar disebabkan kurang pekanya mangium sebagai inang untuk terinfeksi. Menurut Setiadi (1989), ada tiga faktor yang mempengaruhi infeksi mikoriza VA, yaitu : (1) Kepekaan inang terhadap infeksi; (2) faktor-faktor iklim dan (3) faktor tanah. Disamping pengamatan terhadap persen hidup, pertumbuhan tinggi dan diameter, pengamatan juga dilakukan terhadap persentase infeksi CMA (cendawan miloriza arbuskula) yang dilaksanakan di laboratorium dan oleh staf peneliti PT. Intidaya Agrolestari, dengan hasil disajikan pada tabel berikut : Tabel 4. Rata-rata persentase infeksi CMA pada tiga spesies legum umur 1 tahun No. 1 2 3 Jenis Tanaman Sengon Mangium Lamtoro Persentase infeksi CMA (%) 22,3 12,5 50,2 Keterangan lain dari sampel tanaman Perakaran banyak Perakaran sedikir, aroma batang tidak segar Perakaran sedikit, aroma batang segar

Dari tabel di atas terlihat bahwa mangium kurang peka terhadap penginfeksian jamur cendawan mikoriza yang diberikan, terlihat dari persentase infeksi mangium yang paling rendah.

IV. KESIMPULAN

1.

Sengon bermikoriza adalah salah satu jenis tanaman legum yang paling baik dalam beradaptasi pada kondisi ektrim kritis areal bekas tambang batubara, dimana presentase hidup tertinggi yaitu 50% jauh di atas Acacia mangium yang hanya 17%. Mangium sebagai inang kurang peka terhadap penginfeksian jamur cendawan mikoriza yang diberikan dan perakarannya sedikit.

2.

91

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 89 - 92

DAFTAR PUSTAKA

Alfrenzi. 1996. Pengaruh cendawan mikoriza Vesikular arbuskular Glomus fasciculatum (Thaseter) Gardemaun X Thappe, dan Fosfor terhadap pertumbuhan beberapa tanaman industri pada tanah tambang batubara PT. Tambang Batubara Bukit Asam. Skripsi S1 Fakultas MIPA Unsri Palembang. (Tidak dipublikasikan). Harley, J.H. dan Smith, S.E. 1983. Mycorrhizal Symbiosis. Academic Press. London. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta.

92

Hubungan Antar Faktor Pengganggu Penyebab Kerusakan Hutan


Sri Utami dan Wahyu Catur Adinugroho

HUBUNGAN ANTAR FAKTOR PENGGANGGU PENYEBAB KERUSAKAN HUTAN Interaction among Disturbing Factors causing Forest Degradation Sri Utami1) dan Wahyu Catur Adinugroho2)
Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. Kol. H. Burlian Km 6,5, Kotak Pos 179, Puntikayu Palembang Telp./Fax. (0711) 414864 2) Balai Penelitian Kehutanan Samboja Jl. Soekarno-Hatta Km 38, Semboja Po Box 578, Balikpapan 76112 Telp. (0542) 7217663, Fax. (0542) 7217665
1)

I.

PENDAHULUAN

Pengendalian kerusakan hutan sangat perlu dilakukan mengingat hutan merupakan sumber daya alam yang mempunyai berbagai fungsi, baik ekologi, ekonomi, sosial maupun budaya yang diperlukan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pengendalian kerusakan hutan ini dapat dilakukan melalui kegiatan perlindungan hutan, yaitu upaya untuk menjaga hutan dari faktor-faktor yang dapat menimbulkan kerusakan pohon atau tegakan pohon dalam hutan agar fungsinya sebagai fungsi lindung, konservasi atau produksi tercapai secara optimum dan lestari sesuai dengan peruntukannya. Kegiatan perlindungan hutan merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan hutan yang mempunyai prinsip : 1. Mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, bencana alam, hama serta penyakit. Mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi, serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.

2.

Mengingat begitu pentingnya fungsi hutan bagi kemakmuran rakyat dan melihat kondisi hutan yang saat ini sangat memprihatinkan maka tulisan ini membahas faktor-faktor yang bisa menyebabkan gangguan terhadap hutan dan interaksi/hubungan sebab-akibat gangguan hutan beserta contoh-contohnya. Dengan mengetahui faktor-faktor pengganggu dan interaksinya diharapkan kita bisa menentukan tindakan perlindungan hutan yang tepat dalam rangka menjaga hutan agar fungsinya tercapai secara optimum dan lestari sesuai dengan peruntukan hutannya.

93

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 93 - 100

II. HUBUNGAN ANTAR FAKTOR GANGGUAN HUTAN

Kerusakan pohon atau tegakan pohon di dalam hutan atau kawasan hutan dapat disebabkan oleh beberapa faktor pengganggu, diantaranya adalah kebakaran, hama, penyakit dan penggembalaan. Antar faktor penyebab gangguan hutan ini memiliki hubungan sebab akibat. Faktor gangguan penggembalaan akan memberikan pengaruh terhadap munculnya faktor gangguan kebakaran, begitupun dengan faktor-faktor gangguan yang lain. Hubungan antar faktor pengganggu penyebab kerusakan hutan ini dapat digambarkan dalam suatu bagan (Gambar 1).

HAMA

PENYAKIT

KEBAKARAN

PENGGEMBA LAAN

Gambar 1. Bagan hubungan faktor pengganggu penyebab kerusakan hutan

Berikut ini uraian lebih rinci mengenai faktor-faktor pengganggu dan hubungan sebab-akibat beserta contohnya : a. Hama - Penyakit Hama merupakan salah satu faktor pengganggu hutan. Hama adalah semua binatang yang menimbulkan kerusakan pada pohon atau tegakan hutan dan hasil hutan, misalnya kerusakan hutan yang disebabkan oleh serangga, tikus, babi hutan, nematoda, dan binatang lainnya. Hama mempunyai interaksi dengan penyakit yang bisa mengakibatkan tingkat kerusakan hutan tinggi. Adanya serangan hama bisa memicu timbul dan berkembangnya penyakit. Selain itu hama juga berperan sebagai vektor virus. Seperti halnya hama, penyakit juga merupakan faktor pengganggu hutan. Penyakit adalah salahnya fungsi sel dan jaringan inang yang berasal dari gangguan secara terus-menerus oleh agen patogenik (seperti virus, bakteri, dan cendawan) atau faktor lingkungan dan menyebabkan berkembangnya gejala. Serangan penyakit ini biasanya terjadi pada tanaman yang masih muda, baik di persemaian maupun di lapangan. Adanya serangan penyakit bisa menstimulasi timbulnya serangan hama.

94

Hubungan Antar Faktor Pengganggu Penyebab Kerusakan Hutan


Sri Utami dan Wahyu Catur Adinugroho

Studi kasus 1

: Serangan hama pada tanaman belangeran (Shorea balangeran) di persemaian memicu timbulnya penyakit bercak daun

Pada umur 3-6 bulan bibit belangeran terserang hama di persemaian. Hama yang menyerang adalah ulat kantong ( Pteroma plagiophelps) dan belalang (Valanga nigricornis) (Utami & Priatna, 2008). Gejala serangan ulat kantong ialah terdapatnya lubang-lubang beraturan pada daun karena dimakan ulat dan seringkali ulat kantong ditemui menempel di bagian bawah permukaan daun. Adapun gejala serangan belalang ialah terdapatnya lubang-lubang pada daun terutama daun muda, lama-kelamaan daun tersebut bisa menjadi kering. Belalang ini menyerang daun tanaman belangeran dengan cara memakan daging daun (jaringan parenkim), sedangkan tulang daun dan urat-urat daun tidak dimakannya. Dengan demikian bila daging daun telah habis dimakan maka helaian daun tinggal berbentuk kerangka/berlubang-lubang yang berwarna coklat kekuningan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, lubang-lubang bekas gigitan belalang dan ulat tersebut menimbulkan luka yang menstimulasi timbulnya penyakit bercak daun. Patogen penyebab penyakit masih belum diidentifikasi. Gejala penyakit tersebut adalah adanya bercak berwarna kekuningan pada daun. Bercak tersebut lama kelamaan meluas dan hampir menutupi seluruh permukaan daun. Lambat laun daun menjadi kering dan tanaman mati. Semakin tinggi tingkat serangan ulat kantong dan belalang maka semakin tinggi pula serangan penyakit bercak daun tetapi dengan syarat kondisi lingkungan mikro seperti suhu dan kelembaban mendukung timbul dan berkembangnya penyakit.

Studi kasus 2

: Serangan uret pada meranti (Shorea ovalis) menstimulasi timbulnya serangan busuk akar

Pada tanaman meranti (S. ovalis), serangan uret/hama pemakan akar bisa menstimulasi timbulnya serangan busuk akar. Gejala serangan uret/hama pemakan akar yaitu daun meranti menguning dan lama kelamaan layu. Kondisi tersebut disebabkan karena tanaman kekurangan pasokan air akibat putusnya pembuluh akar yang dimakan uret. Lama kelamaan akar meranti bisa terserang penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Lasiodiplodia sp. dan Fusarium sp. (Utami et al., 2008). Hal ini disebabkan karena patogen Lasiodiplodia sp. dan Fusarium sp. mampu menginfeksi bekas luka pada akar meranti. Meranti yang terserang penyakit busuk akar dan serangan uret tersebut lama kelamaan bibitnya menjadi layu dan mudah roboh.

Studi kasus 3

: Timbulnya serangan Aphid dan penyakit embun jelaga pada daun jelutung rawa (Dyera lowii)

Interaksi antara hama dengan penyakit tersebut juga terjadi pada pertanaman jelutung rawa (D. lowii) yang terletak di Kabupaten OKI, Provinsi Sumatera Selatan. Daun jelutung rawa yang terserang aphid, juga terserang penyakit embun jelaga/black mildew yang disebabkan oleh cendawan Meliola sp. Daun yang diserang daun muda maupun tua. Penyakit ini menyebabkan warna 95

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 93 - 100

hitam pada permukaan daun bagian atas. Meliola sp. akan tumbuh bila pada permukaan tanaman terdapat embun madu yang dikeluarkan oleh aphid. Cendawan ini tidak bersifat patogenik, melainkan hanya menempel pada permukaan daun. Makanannya adalah embun madu. Hifa cendawan tumbuh saling menjalin dan menenun membentuk selaput tipis berwarna hitam. Bila udara kering, selaput/tepung hitam akan lepas dan pecah-pecah, kemudian menyebar terbawa angin. Pada musim kemarau, perkembangbiakan berlangsung cepat karena aphid yang mengeluarkan embun madu jumlahnya banyak.

b. Kebakaran Kebakaran merupakan salah satu faktor pengganggu hutan. Intensitas dan frekuensi kebakaran menimbulkan variasi pada daya pengaruhnya, baik pengaruh yang merugikan maupun yang menguntungkan. Setiap daerah memiliki ciri sendiri dan masalah kebakaran tidak hanya bervariasi diantara berbagai kawasan yang berbeda, akan tetapi juga di dalam setiap kawasan tertentu menurut keadaan habitat yang berbeda satu dengan lainnya. Di daerah tropika timbulnya kebakaran cenderung ada kaitannya dengan bentuk kehidupan rerumputan dan tumbuhan/tanaman yang ada di sekitarnya. Dari sinilah timbul interaksi antara kebakaran dengan permasalahan hama dan penyakit. Kebakaran bisa meningkatkan atau menekan serangan hama dan penyakit. Adanya kebakaran bisa meningkatkan serangan hama dan penyakit yang disebabkan oleh sisa-sisa batang dan ranting yang patah setelah terbakar yang menyebabkan luka dan akhirnya dapat menimbulkan serangan penyakit. Selain itu pasca kebakaran timbul regenerasi dengan timbulnya kuncup dan cabang-cabang. Hal ini akan mengakibatkan serangan hama akan meningkat apalagi jika terubusan tanaman tersebut adalah inang utama hama. Karena pada umumnya serangga hama lebih menyukai daun tanaman muda/pucuk/tunas tanaman.

Studi kasus 1

: Kerusakan tegakan Acacia mangium akibat penyakit pada Areal Bekas Kebakaran Hutan di Unit III Kelompok Hutan Subanjeriji PT. Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan.

Kejadian kebakaran yang memberikan pengaruh terhadap peningkatan kerusakan tegakan akibat penyakit ini dilaporkan oleh Sugeng Eliandy dalam skripsi Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1996. Studi dilakukan di Unit III Kelompok Hutan Subanjeriji PT. Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan. Sebagian areal tegakan A. mangium tahun tanam 1990/1991 dan tahun tanam 1991/1992 mengalami kebakaran. Tipe kebakaran yang terjadi adalah kebakaran permukaan (surface fire) yang meluas menjadi kebakaran tajuk (crown fire). Kebakaran terjadi disebabkan oleh kelalaian manusia yaitu pembersihan ladang dan perkebunan dengan pembakaran yang tidak terkendali yang akhirnya merembet ke lokasi tegakan A. mangium tahun tanam 1990/1991 dan tahun tanam 1991/1992.

96

Hubungan Antar Faktor Pengganggu Penyebab Kerusakan Hutan


Sri Utami dan Wahyu Catur Adinugroho

Hasil pengamatan Eliandy (1996) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan persen tingkat kerusakan akibat penyakit pada areal bekas kebakaran dibandingkan dengan areal yang tidak terbakar pada lokasi tegakan A. mangium tahun tanam 1990/1991 dan tahun tanam 1991/1992. Rata-rata tingkat kerusakan akibat penyakit di areal bekas kebakaran dan tidak terbakar pada tegakan A. mangium di lokasi studi dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata tingkat kerusakan tegakan A. mangium akibat penyakit di areal bekas kebakaran dan tidak terbakar pada tegakan A. mangium tahun tanam 1990/1991 dan 1991/1992 Unit III Kelompok Hutan Subanjeriji PT. Musi Hutan Persada No. 1. 2. Tahun tanam 1990/1991 1991/1992 Rata-rata Kerusakan (%) Areal bekas kebakaran Areal tidak terbakar 12,44 4,58 8,06 11,02 4,05 4,44

Populasi Sumber : Eliandy (1996)

Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa kebakaran hutan berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan persen tingkat kerusakan akibat penyakit pada taraf kepercayaan 99%. Jenis-jenis penyakit yang ditemukan adalah jenis penyakit busuk batang, busuk cabang dan busuk akar. Penyakit busuk batang dan busuk cabang disebabkan oleh jamur C. salmonicolor, Cunninghamella sp., Fomes sp. dan Mariannae sp. Sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Botryodiplodia sp. Dari jenis-jenis jamur yang ditemukan C. salmonicolor merupakan jenis jamur yang frekuensinya sering ditemukan. C. salmonicolor lebih dikenal sebagai penyebab penyakit jamur upas ( pink disease), jamur ini menyebabkan busuknya batang atau cabang. Pada tahun 1986 di Sarawak dan Sabah dilaporkan bahwa penyakit jamur upas ini telah menyerang tanaman A. mangium dan infeksi yang serius terjadi di Sabah dengan tingkat serangan sebesar 17% (Chin, 1990 dalam Awang & Taylor, 1993). Kerusakan hutan akibat kebakaran masih banyak ditemukan pada areal bekas kebakaran di lokasi studi, baik berupa tegakan mati, tegakan yang merana, tunggak-tunggak, maupun batang-batang yang tumbang di lantai hutan. Kondisi ini yang memungkinkan untuk menjadi pemicu berkembangnya penyakit lebih lanjut, sebab tanaman yang mati/busuk merupakan tempat yang baik untuk tumbuh dan berkembangnya penyakit. Walaupun secara umum (populasi) tingkat kerusakan akibat penyakit di areal bekas kebakaran masih kecil (11,02%) dan bila dibandingkan di areal yang tidak terbakar sebesar 4,44%, tingkat serangannya menunjukkan peningkatan sebesar 6,58% (Tabel 1), tetapi hasil analisis sidik ragam perbedaan tingkat kerusakan ini menunjukkan peningkatan yang sangat nyata pada taraf kepercayaan sebesar 99%. Oleh karena itu bila kondisi demikian dibiarkan terus berlangsung, bukan hal yang tidak mungkin tingkat serangannya akan terus 97

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 93 - 100

meningkat (menjadi berat), sebab jamur merupakan organisme hidup yang dapat terus tumbuh dan berkembangbiak bila didukung oleh iklim yang sesuai dan tersedianya bahan makanan yang cukup untuk kelangsungan hidupnya.

Studi kasus 2

: Dampak kebakaran terhadap vegetasi di hutan tanaman pinus di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Jawa Barat.

Pada tanggal 17 September 2002, tegakan Pinus merkusii di bagian barat dan utara Blok I Cimenyan Hutan Pendidikan Gunung Walat mengalami kebakaran. Kebakaran ini disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat di sekitar hutan. Berdasarkan tingkat kekerasan kebakaran, kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran ringan sehingga menimbulkan kerusakan yang tidak parah. Berdasarkan studi yang dilakukan Syaufina dkk. (2005) dilaporkan bahwa kejadian kebakaran diperkirakan secara tidak langsung menyebabkan peningkatan sensitivitas vegetasi terhadap serangan hama dan penyakit. Diperkirakan kebakaran yang terjadi di Hutan Pendidikan Gunung Walat secara tidak langsung menyebabkan kerusakan pada vegetasi, yaitu terjadinya kanker, conk, brooms pada akar atau batang dimana kerusakan ini hanya ditemukan pada areal kebakaran saja (Gambar 2).

30

Jumlah Pohon

25 20 15 10 5

Bekas Kebakaran Tidak Terbakar

Tipe Kerusakan

Gambar 2.

Tipe kerusakan vegetasi pada areal bekas kebakaran dan tidak terbakar

Adanya kebakaran juga bisa menekan serangan hama dan penyakit. Sebelum tanaman hutan terbakar, tingkat serangan hama dan penyakit tinggi. Pasca kebakaran, karena inang hama tersebut tidak ada yang tersisa maka hal ini berpengaruh pada perilaku serangga hama. Hama tersebut akan memilih inang lain yang sebelumnya mungkin bukan inang utamanya. Akhirnya ketika hama tersebut kembali menemukan inang utama/inang semula, preferensi makan serangga hama dan tingkat serangannya menjadi rendah.

98

Hubungan Antar Faktor Pengganggu Penyebab Kerusakan Hutan


Sri Utami dan Wahyu Catur Adinugroho

c. Penggembalaan Penggembalaan ternak di hutan merupakan salah satu faktor pengganggu hutan dimana kegiatan tersebut bisa memicu timbulnya kebakaran hutan. Terdapat 3 (tiga) faktor penyebab timbulnya kebakaran hutan, yaitu kesengajaan, kelalaian, dan pengaruh alam. Faktor kesengajaan dan kelalaian inilah yang menyebabkan terjadinya kebakaran. Manusia, dalam hal ini penggembala sengaja membakar hutan untuk memperoleh tunas atau rumput muda sebagai makanan ternak. Selain itu penggembala juga melakukan kecerobohan atau kelalaian, seperti membuang atau meninggalkan secara sembarangan puntung rokok atau api yang belum dimatikan di hutan. Api dengan sangat mudah dapat menyulut serasah hutan yang kering, lebih-lebih jika terhembus angin kebakaran yang ditimbulkan oleh pengaruh alam. Penggembalaan juga dapat menganggu dan menghambat pertumbuhan tanaman, baik pada tanaman muda maupun tanaman yang sudah melewati masa muda. Tanaman muda sangat peka terhadap penggembalaan karena tajuknya masih rendah dan batangnya masih lemah sehingga mengakibatkan daun rusak sampai gundul, kulit batang terkelupas dan akar tanaman mengalami luka-luka. Hal ini yang akan memicu timbulnya serangan patogen. Selain itu penggembalaan secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan tanaman yang sudah melewati masa muda menjadi tidak sehat. Pertumbuhan tanaman/pohon yang tidak sehat akan menjadikan pohon mudah terserang serangan hama atau patogen. Penggembalaan selama bertahun-tahun pada suatu tegakan menyebabkan kerusakan yang parah bahkan dapat menyebabkan kematian pohon-pohon penyusun tegakan.

III. PENUTUP

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan gangguan terhadap hutan, diantaranya adalah hama, penyakit, kebakaran, dan penggembalaan. Antara faktor satu dengan yang lainnya mempunyai interaksi. Oleh karena itu dalam tindakan perlindungan hutan, baik pencegahan dan pengendalian, harus memperhatikan pengaruh faktor gangguan tersebut sehingga upaya perlindungan hutan bisa dilakukan secara efektif dan efisien. Hal ini tentu akan menunjang keberhasilan pembangunan kehutanan.

DAFTAR PUSTAKA

Awang K, & Taylor D. 1993. Acacia mangium Growing and Utilization. Bangkok : Winrock International and The Food and Agriculture Organization of the United Nation. Eliandy S. 1996. Kerusakan akibat Penyakit pada Tegakan Acacia mangium Willd di Areal Bekas Kebakaran Hutan (Studi Kasus di Unit III Kelompok Hutan Subanjeriji PT. Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan) [Skripsi]. Bogor : Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor 99

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 93 - 100

Syaufina L, Kasno, dan Supriyanto. 2005. Fire Effects on Vegetation and Soil Fauna in Pine Plantation using Forest Health Monitoring Methods in Gunung Walat Educational Forest, West Java. Di dalam : Mason E et al., editor. Achieving Sustainable Forestry through Strengthening the Role of R & D. Proceeding of The International on Plantation Forest Research and Development ; Yogyakarta, 21-23 Nov 2005. Forestry Research and Developmen Agency. Hlm 40-47. Utami, S., Anggraeni, I. & Herdiana, N. 2008. Teknik Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Shorea ovalis (Korth.) Blume dan Shorea balangeran (Korth.) Burck. Mitra. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor. In Press. Utami, S., & Priatna D. 2008. Pengamatan Serangan Hama pada Tanaman Belangeran (Shorea balangeran (Korth.) Burck) di Persemaian. Prosiding Sintesa Seminar Hasil-hasil Penelitian Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.

100

Mekanisme Terganggunya Proses Fotosintesis pada Berbagai Kondisi Vegetasi Pasca Kebakaran Hutan
Wahyu Catur Adinugroho dan Sri Utami

MEKANISME TERGANGGUNYA PROSES FOTOSINTESIS PADA BERBAGAI KONDISI VEGETASI PASCA KEBAKARAN HUTAN Disturbance Mechanism of Photosyntesis Process on Various Condition of Vegetation after Forest Fire Wahyu Catur Adinugroho1) dan Sri Utami2)
1) Balai Penelitian Kehutanan Samboja Jl. Soekarno-Hatta Km 38, Semboja Po Box 578, Balik Papan 76112 Telp. (0542) 7217663, Fax. (0542) 7217665 2) Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. Kol. H. Burlian Km 6,5, Kotak Pos 179, Puntikayu Palembang Telp./Fax. (0711) 414864

I.

PENDAHULUAN

Kebakaran hutan merupakan salah satu bentuk gangguan yang makin sering terjadi. Kebakaran hutan di Indonesia merupakan permasalahan yang cenderung berkembang setiap tahunnya sebagai akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang irasional. Beberapa tahun terakhir kebakaran hutan terjadi hampir setiap tahun, khususnya pada musim kering. Kebakaran yang cukup besar terjadi di Kalimantan Timur yaitu pada tahun 1982/1983 dan tahun 1997/1998. Sejak kebakaran hutan yang cukup besar tahun 1982/1983 di Kalimantan Timur, intensitas kebakaran hutan makin sering terjadi dan sebarannya makin meluas. Tercatat beberapa kebakaran cukup besar berikutnya yaitu tahun 1987, 1991, 1994, 1997, 2003, hingga 2006 (Effendi & Effendi, 2002). Pada tahun 1982/1983 kebakaran telah menghanguskan hutan sekitar 3,5 juta ha di Kalimantan Timur dan merupakan rekor terbesar kebakaran hutan dunia setelah kebakaran hutan di Brazil yang mencapai 2 juta ha pada tahun 1963. Kemudian rekor tersebut dipecahkan lagi oleh kebakaran hutan Indonesia pada tahun 19971998 yang telah menghanguskan seluas 11,7 juta ha. Kebakaran terluas terjadi di Kalimantan dengan total lahan terbakar seluas 8,13 juta ha, disusul Sumatera, Papua Barat, Sulawesi, dan Jawa masing-masing 2,07 juta ha, 1 juta ha, 400 ribu ha, dan 100 ribu ha. Selanjutnya kebakaran hutan Indonesia terus berlangsung setiap tahun meskipun luas areal yang terbakar dan kerugian yang ditimbulkannya relatif kecil dan umumnya tidak terdokumentasikan dengan baik. Data dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menunjukkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun sejak tahun 1998 hingga tahun 2002 tercatat berkisar antara 3 ribu ha sampai 515 ribu ha (Departemen Kehutanan, 2003). Pada tahun 2002 dan 2005, kebakaran hutan dan lahan terjadi kembali dengan skala yang cukup besar terutama diakibatkan oleh konversi hutan di lahan gambut.

101

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 101 - 110

Selain dampak langsung kejadian kebakaran yaitu adanya peningkatan suhu di sekitar lokasi kebakaran, kejadian kebakaran hutan juga menghasilkan gas emisi seperti CO2 serta asap tebal yang mengandung gas-gas dan partikel yang mempunyai dampak negatif terhadap menurunnya kualitas udara serta berbahaya terhadap kesehatan. Pada kejadian kebakaran berskala besar di tahun 1997-1998, diestimasi sekitar 10 juta ha lahan yang rusak atau terbakar sekaligus melepaskan emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 0,81-2,57 gigaton karbon ke atmosfer (setara dengan 13-40% total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari bahan bakar fosil per tahunnya) yang berarti menambah kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Tercatat sekitar 70 juta orang di 6 negara di ASEAN terganggu kesehatannya karena menghirup asap dari kebakaran di Indonesia pada tahun 1997-1998. Seperti yang telah diuraikan di atas, kebakaran hutan telah mengakibatkan terganggunya kondisi lingkungan baik secara fisik maupun kimia yang berdampak pada kehidupan makhluk hidup termasuk vegetasi. Kerusakan vegetasi akibat kebakaran merupakan dampak yang paling terasa karena dapat diamati langsung secara kasat mata, baik yang menyebabkan kematian maupun hanya menyebabkan kerusakan pada pohon atau vegetasi lainnya. Selain menyebabkan kerusakan vegetasi secara fisik, kebakaran hutan juga berdampak pada proses-proses fisiologi vegetasi, misalnya proses fotosintesis. Dengan terganggunya proses fotosintesis ini maka akan berpengaruh pada metabolisme vegetasi pasca kebakaran dan secara luas terhadap proses-proses lain yang memanfaatkan hasil dari proses fotosintesis. Kozlowski (1992) melaporkan bahwa 30-60% produk harian fotosintesis digunakan oleh tumbuhan untuk melangsungkan proses respirasi. Fotosintesis sering dikatakan sebagai proses kimia satu-satunya di bumi yang sangat penting berdasarkan beberapa alasan; makanan manusia dan seluruh binatang (heterotrof) tergantung langsung atau tidak langsung pada tumbuhan (autotrof); stabilitas konsentrasi oksigen dan karbondioksida atmosfir tergantung pada fotosintesis di lautan dan daratan; selain itu kita mengambil keuntungan dari simpanan energi fotosintesis pada abad geologis masa lalu bila menggunakan gas alam, minyak bumi dan batu bara sebagai sumber bahan bakar. Sebagai tambahan, kita memakai serat kayu (satu diantara sedikit sumber daya alam yang dapat diperbarui) untuk berbagai kebutuhan dan kita tentu saja harus menyadari bahwa fotosintesis merupakan landasan penting untuk kehidupan manusia di bumi. Berdasarkan uraian tersebut diatas terlihat bahwa fotosintesis merupakan salah satu fungsi fisiologis yang mempunyai peranan penting baik untuk kehidupan vegetasi itu sendiri maupun makhluk hidup lainnya termasuk manusia, sehingga terganggunya proses ini akan berdampak luas terhadap kehidupan makhluk hidup. Untuk menambah wacana dalam memahami gangguan kebakaran terhadap vegetasi, pada tulisan ini akan diuraikan lebih detail mengenai terganggunya proses fotosintesis akibat kebakaran hutan dan lahan.

102

Mekanisme Terganggunya Proses Fotosintesis pada Berbagai Kondisi Vegetasi Pasca Kebakaran Hutan
Wahyu Catur Adinugroho dan Sri Utami

II. PEMBAHASAN

Tidak selamanya tanaman dapat selalu melakukan proses fotosintesis dengan normal. Keadaan dimana tanaman dapat melakukan proses fotosintesis dengan normal dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor dari tanamannya itu sendiri dan juga lingkungan. Faktor tanaman itu sendiri dapat dipengaruhi oleh perilaku stomata, variasi fotosintesis netto dalam pohon, umur daun, posisi pohon, perbedaan fotosintesis netto antara kelas tajuk, penyesuaian kondisi terbuka dan naungan, perbedaan genotip dan perbedaan antara daun lebar dan konifer. Sedangkan dari faktor lingkungannya, fotosintesis dipengaruhi oleh cahaya, suhu dan ketersediaan air, dimana kejadian kebakaran hutan telah mempengaruhi beberapa faktor tersebut Kondisi vegetasi pasca kejadian kebakaran berbeda-beda, hal ini sangat tergantung pada tingkat kejadian kebakaran dan tingkat perkembangan vegetasi itu sendiri. Bagi semai atau anakan pohon yang memiliki jaringan tanaman yang masih muda, api akan menyebabkan kematian secara langsung. Apabila terjadi high-severity burn (terbakar berat) dapat langsung mengakibatkan kematian vegetasi. Tetapi apabila tingkat kebakarannya ringan (low-severity burn) maka terdapat vegetasi yang masih bisa bertahan hidup. Pada beberapa jenis vegetasi yang masih bisa bertahan hidup terdapat beberapa vegetasi yang bergantung pada api sehingga untuk jenis-jenis kebakaran tertentu dapat melestarikan keberadaannya (Syaufina, 2008). Hal ini ditunjukkan dengan adanya sifat adaptasi vegetasi terhadap api yang dikenal dengan istilah fire adaptive traits. Beberapa contoh adaptasi tersebut adalah ketebalan kulit kayu, tunas yang terlindung, pertunasan yang distimulasi oleh api, penyebaran biji oleh api, dan perkecambahan biji yang dibantu oleh api.

1. Vegetasi yang Mati Organ dan jaringan tanaman khususnya daun dan bagian lainnya dari tanaman yang terbakar mengakibatkan matinya jaringan sehingga bagian-bagian tanaman menjadi mengering dan berakibat pada tanaman tidak bisa melakukan fungsi fotosintesis untuk mendukung pemulihan dan pertumbuhannya. Dengan tidak berlangsungnya proses fotosintesis maka tidak dihasilkan fotosintat yang dibutuhkan oleh organ atau jaringan untuk pertumbuhan dan melangsungkan proses fisiologis lainnya sehingga berakibat pada matinya vegetasi dan hal ini tentu saja akan menghambat proses regenerasi hutan.

2. Vegetasi yang Hidup Setelah kebakaran, vegetasi yang hidup akan mengalami gangguan fisiologis dan anatomi antara lain adanya perubahan warna pada organ tanaman serta layunya bagian tubuh tanaman. Hal ini mempengaruhi kecepatan dan kuantitas produk fotosintesis dan dapat menyebabkan kemampuan (relatif) tumbuhan untuk berkembang dalam lingkungannya rendah serta akan mempunyai efek terhadap pertumbuhan dan perkembangannya dalam proses

103

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 101 - 110

regenerasi hutan. Pada uraian di bawah ini akan dijelaskan mekanisme terganggunya vegetasi yang masih hidup setelah kebakaran.

a.

Pengaruh gas-gas polutan dan partikel hasil pembakaran terhadap fotosintesis

Seperti diuraikan di atas, proses pembakaran yang sempurna menghasilkan CO2 dan uap air. Sedangkan pembakaran yang tidak sempurna akan menghasilkan gas-gas dan partikel, seperti CO, NOx, SOx, hidrokarbon, methan, particulate matter (PM), dan lain-lain. Produksi gas-gas dan partikel tersebut merupakan bahan pencemar. Apabila jumlahnya di atmosfer melebihi ambang batas, baik secara sendiri-sendiri atau kombinasi, akan menyebabkan kerusakan dan perubahan fisiologi tanaman (Kozlowski, 1991 dalam Siregar, 2005). Gas-gas dan partikel tersebut menyebabkan perubahan pada tingkatan biokimia sel kemudian diikuti oleh perubahan fisiologi pada tingkat individu hingga tingkat komunitas tanaman. Gas-gas dan partikel yang dihasilkan dari proses pembakaran dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman, yang meliputi kerusakan makroskopis daun, anatomi daun dan klorofil. Dengan berpijak dari kerusakan yang diderita oleh tanaman maka hal tersebut akan menganggu fisiologi tanaman, dalam hal ini terganggunya proses fotosintesis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Suratin (1991) melaporkan bahwa daun menjadi bagian yang paling menderita, karena sebagian besar bahan-bahan pencemaran udara mempengaruhi tanaman melalui daun, yaitu masuk melalui stomata dengan proses difusi molekuler terutama bahan pencemar yang berupa gas. Lebih lanjut dikemukakan bahwa terdapat kecenderungan antara kerusakan daun tersebut dengan tingkat pencemaran karena melepaskan gas SOx, NOx dan partikel. Gas CO, NO2 dan SO2 pada konsentrasi tertentu dapat mengakibatkan klorosis dan nekrosis. Terjadinya nekrosis dapat merusak jaringan tanaman. Masih menurut Suratin (1991), berdasarkan hasil penelitiannya diketahui bahwa kerusakan daun kebanyakan terjadi pada bagian mesofil. Jaringan mesofil (daging daun) yang tersusun diantaranya oleh jaringan palisade akan rusak. Lapisan palisade merupakan bagian dari daun yang paling banyak mempengaruhi produk fotosintesis. Kerusakan pada mesofil daun terutama pada jaringan palisade akan memperlambat laju fotosintesis. Daun yang mengalami nekrosis lama kelamaan bisa gugur dan hal ini tentu akan berpengaruh terhadap aktivitas fotosintesis tanaman. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa laju fotosintesis dipengaruhi salah satunya oleh jumlah kloroplas. Apabila kloroplas yang terdapat pada jaringan palisade mengalami kerusakan bahkan akhirnya mengalami penurunan jumlah tentu saja akan menghambat laju aktivitas fotosintesis. Pengaruh SO2 terhadap pigmen fotosintesis (klorofil) sangat besar dibandingkan gas yang lainnya. Penghambatan terhadap aktivitas fotosintesis seringkali dipertimbangkan sebagai satu pengaruh utama SO2 terhadap tanaman dan kloroplas, karena kloroplas dianggap sebagai tempat utama dari banyak gangguan yang disebabkan oleh SO2 atau produknya dalam bentuk larutan. Selain itu pengaruh gas NOx pada tanaman antara lain timbulnya bintik-bintik

104

Mekanisme Terganggunya Proses Fotosintesis pada Berbagai Kondisi Vegetasi Pasca Kebakaran Hutan
Wahyu Catur Adinugroho dan Sri Utami

hitam pada permukaan daun. Dalam keadaan seperti ini daun tidak dapat berfungsi sempurna sebagai tempat terbentuknya karbohidrat melalui proses fotosintesis. Konsentrasi NO sebanyak 10 ppm sudah dapat menurunkan kemampuan fotosintesis daun sampai sekitar 60% hingga 70% (Suratin, 1991). Selain gas hasil reaksi pembakaran, partikel juga mempengaruhi aktivitas fotosintesis. Partikulat yang terdeposisi di permukaan daun tanaman dapat menghambat proses fotosintesis akibat tersumbatnya stomata dan berkurangnya intensitas cahaya yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk melangsungkan proses fotosintesis.

b. Pengaruh gas-gas emisi hasil pembakaran terhadap fotosintesis Peristiwa kebakaran menghasilkan beberapa gas dan partikel. Diantara berbagai gas yang dihasilkan dalam kebakaran hutan dan lahan, terdapat gas rumah kaca, seperti CO2, CH4, dan N2O. Ketiga jenis gas rumah kaca tersebut merupakan penyumbang paling besar bagi emisi gas rumah kaca. Sementara untuk gas rumah kaca lainnya hanya menyumbang kurang dari 1%. Pembakaran secara sengaja dalam rangka penyiapan lahan adalah sumber utama terjadinya peningkatan gas rumah kaca. Peningkatan gas rumah kaca di atmosfer mengakibatkan apa yang disebut dengan efek rumah kaca. Efek rumah kaca menyebabkan terjadinya akumulasi panas (atau energi) di atmosfer bumi. Dengan adanya akumulasi yang berlebihan tersebut, iklim global melakukan penyesuaian. Kerusakan hutan yang tidak terkendali atau terjadinya kebakaran hutan akan menyebabkan berkurangnya sumber oksigen dan peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer serta dapat menaikkan suhu permukaan bumi. Peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi merupakan bentuk penyesuaian, yang akhirnya mengakibatkan pemanasan global. Pemanasan global akan mengakibatkan perubahan iklim global. Iklim mempengaruhi laju fotosintesis melalui konsentrasi CO2 ambient, radiasi matahari, lengas, suhu, dan ketersediaan hara. Pohon-pohon berdaun lebar umumnya memiliki laju fotosintesis yang lebih besar daripada pohon berdaun jarum karena bobot daunnya, tetapi pohon berdaun jarum sebaliknya juga melakukan fotosintesis aktif yang lebih lama terutama di daerah lintang tinggi. Meskipun demikian, variabilitas CO2 tidak berakibat langsung terhadap variabilitas fotosintesis karena adanya pengaruh variabilitas cahaya, lengas, suhu, dan hara. Oleh karena itu, variabilitas CO2 ambient menyebabkan respon yang berbeda terhadap komponen-komponen ekosistem hutan. Secara umum kecepatan fotosintesis jangka pendek dapat dinaikkan oleh konsentrasi CO2 sampai 10 kali normal dan pertumbuhan dapat dinaikan 20 sampai 50%. Namun level CO2 yang tinggi tetap bisa menjadi racun tumbuhan (Daniel et.al., 1987). Ada beberapa respon yang dapat dihubungkan dengan meningkatnya kadar CO2 di udara diantaranya, respon daun dan respon stomata terhadap peningkatan CO2. Respon daun terhadap peningkatan kadar CO2 di udara Kemampuan respon fotosintesis daun terhadap peningkatan kadar CO2 di udara tergantung pada limit internal dan eksternal untuk dapat menyerap CO2 tersebut, hal ini juga tergantung pada konsentrasi CO2 dan interaksinya dengan faktor lingkungan lainnya. 105

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 101 - 110

Respon stomata terhadap peningkatan kadar CO2 di udara Kegiatan membuka pada stomata akan menurun, apabila kadar CO2 di udara meningkat. Dengan tidak membukanya stomata pada epidermis daun, maka makin sedikit kadar CO2 yang diserap. Hal ini juga sangat berpengaruh pada kegiatan fotosintesis.

Para ilmuwan dari Swiss mematahkan anggapan bahwa kecepatan tumbuh tanaman sebanding dengan konsentrasi karbondioksida yang diambilnya. Studi yang mereka lakukan membuktikan bahwa meningkatnya konsentrasi karbondioksida tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara signifikan. Studi yang dilakukan di hutan dekat Basel, Swiss menunjukkan bahwa penyemprotan sejumlah karbon dioksida di hutan yang tengah berganti daun, tidak menunjukkan tanda kesuburan lebih banyak.

c.

Pengaruh panas yang dihasilkan pembakaran terhadap fotosintesis

Kebakaran hutan akan mengakibatkan kenaikan suhu yang tinggi, sehingga akan mempengaruhi aktivitas fotosintesis, dimana suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju fotosintesis. Dengan bertambahnya suhu, proses enzimatis semakin banyak dipengaruhi sehingga kecepatan fotosintesis menurun karena enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Jika peningkatan suhu yang terjadi melebihi batas toleransi enzim, hal ini justru akan mengakibatkan penghambatan aktivitas fotosintesis. Pada suhu tinggi mendekati 400C, tumbuhan mulai menderita kerusakan panas langsung yang diakibatkan oleh koagulasi protein dalam protoplasma (Daniel et al., 1987). Temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan penurunan laju fotosintesis (Larcher, 1995), sehingga terjadinya kebakaran hutan dimana menghasilkan suhu yang tinggi akan mematikan protoplasma, bila protoplasma mati maka proses fotosintesis akan tidak berlangsung.

d. Pengaruh terhadap berkurangnya atau hilangnya organ tanaman akibat pembakaran terhadap fotosintesis Api merusak pohon dengan berbagai kombinasi, yaitu kerusakan pada tajuk, akar dan kambium. Pohon dapat saja kehilangan 20-30% dari tajuk aslinya, dengan begitu, hal ini juga dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan mereka. Karena tanaman memerlukan energi yang dihasilkan oleh proses fotosintesis, dan proses ini berlangsung pada daun. Apabila sebatang pohon kehilangan tajuknya, maka pohon itu akan mengalami penurunan kecepatan fotosintesis, sehingga pertumbuhannya juga akan melambat.

106

Mekanisme Terganggunya Proses Fotosintesis pada Berbagai Kondisi Vegetasi Pasca Kebakaran Hutan
Wahyu Catur Adinugroho dan Sri Utami

e.

Pengaruh Berkurangnya Simpanan Air Tanah Akibat Kebakaran terhadap Fotosintesis

Dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap air secara langsung merupakan dampak terhadap faktor intersepsi, evapotranspirasi, infiltrasi, dan simpanan air tanah (Syaufina, 2008). Dampak kebakaran hutan terhadap hidrologi secara langsung merupakan dampak terhadap hilang dan/atau rusaknya vegetasi, menurun dan/atau hilangnya serasah serta menurunnya kualitas tanah. Kondisi ini akan mempengaruhi proses-proses dalam fungsi hidrologi, yaitu : menurun dan atau hilangnya daya intersepsi dan infiltrasi sehingga meningkatkan run off yang mengakibatkan terjadinya banjir, erosi serta penurunan kualitas dan simpanan air tanah. Selain itu akan mengakibatkan menurunnya evapotranspirasi yang berdampak pada menurunnya curah hujan sehinga terjadi penurunan sediaan air tanah. Gambar 1 menunjukkan persediaan air di atmosfer.

Gambar 1. Siklus hidrologis DAS (dari Anderson et al.: 1976 dalam De Bano et al., 1998 dalam Syaufina, 2008)

107

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 101 - 110

Api memanaskan udara di atas tanah yang menyebabkan kelembaban nisbinya turun. Pemanasan tanah bersamaan dengan penurunan kelembaban nisbi udara mendorong laju penguapan air tanah (soil water) yang dapat berlanjut mengeringkan tanah. Pada tanah gambut, kondisi ini bahkan dapat menyebabkan irreversible drying dimana kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air hilang selamanya. Koloid-koloid tanah mineral karena terbakar mengalami dehidrasi yang kuat sehingga memungkinkan terbentuknya konsistensi tanah keras yang tak terbalikkan walaupun dengan pembasahan, akibatnya infiltrasi air terhalang (Notohadinegoro, 2006). Dari gambar 1 tersebut di atas terlihat adanya hubungan antara air dan aktivitas fotosintesis. Air merupakan salah satu senyawa penting yang dibutuhkan oleh tumbuhan dimana 70% - 90% penyusun tubuh tumbuhan adalah air. Di dalam tumbuhan air berfungsi sebagai pelarut dan medium reaksi biokimia, media transpor senyawa, memberikan turgor bagi sel, bahan baku fotosintesis dan menjaga suhu tanaman supaya konstan. Adanya cekaman kekeringan akan berdampak pada terganggunya pertumbuhan dan produksi suatu tumbuhan. Ketersediaan air tanah akan mempengaruhi kondisi suatu tanaman dimana kekurangan dan kelebihan air mengakibatkan tanaman mengalami stres. Tanaman yang sangat peka terhadap stres air, laju fotosintesisnya akan menurun seiring dengan penurunan derajat stres air. Kekeringan pasca kebakaran yang mengakibatkan pemadatan tanah akan menganggu proses fotosintesis. Kekurangan air atau kekeringan akan mengakibatkan stomata menutup sehingga menghambat penyerapan karbondioksida yang berakibat laju fotosintesis menurun.

3. Vegetasi yang Terserang Hama dan Penyakit Jika panas yang dihasilkan masih memungkinkan vegetasi untuk hidup maka akan menyisakan luka-luka akibat kebakaran yang akan merangsang pertumbuhan hama dan penyakit atau menghasilkan cacat permanen. Kebakaran bisa meningkatkan serangan hama dan penyakit. Hal ini karena dari batang dan ranting yang patah dan masih tersisa setelah terbakar terjadi luka yang menimbulkan serangan penyakit. Selain itu pasca kebakaran timbul regenerasi dengan timbulnya kuncup dan cabang-cabang. Hal ini akan mengakibatkan serangan hama akan meningkat apalagi jika terubusan tanaman tersebut adalah inang utama hama. Karena pada umumnya serangga hama lebih menyukai daun tanaman muda/pucuk/tunas tanaman. Pada tanaman yang terserang hama, terjadi penghilangan bagian tanaman seperti daun. Hal ini akan mengakibatkan total luasan daun (leaf area) dari suatu tanaman akan mengalami penurunan, sehingga bisa menurunkan efektivitas fotosintesis pada suatu tanaman. Demikian juga apabila tanaman terserang penyakit (baik yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, ataupun virus) akan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis. Miselium cendawan atau sel-sel bakteri akan merusak jaringan tanaman, tidak terkecuali juga jaringan palisade, dimana disitu ditemukan kloroplas, sehingga hal ini akan menganggu aktivitas fotosintesis.

108

Mekanisme Terganggunya Proses Fotosintesis pada Berbagai Kondisi Vegetasi Pasca Kebakaran Hutan
Wahyu Catur Adinugroho dan Sri Utami

III. KESIMPULAN

1.

Kebakaran hutan dan lahan mempunyai dampak yang sangat luas dan berat terhadap berbagai segi kehidupan, baik biofisik, ekonomi dan sosial. Dampak biofisik berkaitan dengan pelepasan asap, pelepasan gas-gas dan partikel, suhu tinggi, bahkan berakibat kematian vegetasi. Kebakaran yang mengakibatkan kematian vegetasi menyebabkan terhentinya aktivitas fotosintesis, sedangkan pada vegetasi yang masih hidup mengakibatkan terganggunya aktivitas fotosintesis. Asap kebakaran dan partikulat yang dihasilkan dapat menghalangi radiasi matahari sampai ke vegetasi sehingga jumlah cahaya yang diterima oleh vegetasi berkurang, akibatnya mengurangi efektivitas fotosintesis. Gas-gas polutan dan partikel yang dihasilkan oleh pembakaran dapat menyebabkan penyumbatan stomata serta menimbulkan klorosis dan nekrosis pada tanaman. Hal ini akan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis. Peningkatan suhu yang terjadi setelah kebakaran dapat menghambat kerja enzim-enzim yang berperan dalam fotosintesis sehingga aktivitas fotosintesis juga terganggu. Kekeringan yang disebabkan oleh kebakaran mengakibatkan stomata menutup sehingga laju fotosintesis terhambat. Kebakaran secara langsung dapat berakibat berkurangnya atau hilangnya organ tanaman yang memiliki fungsi dalam proses fotosintesis Terganggunya aktivitas fotosintesis akibat kebakaran ini dapat memicu timbulnya serangan hama dan penyakit.

2.

3.

4.

5.

6. 7. 8.

DAFTAR PUSTAKA Cahyono, W.E. 2008. Jangan Biarkan Bumi Jadi Venus. Rubrik Sain dan Teknologi. AuraCMS v2.0 Indonesian Opensource CMS. http://www.acehutara.go.id/cetak.php?id=172. [6 Mei 2009]. Danang, H. 2008. Fotosintesis. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugasmakalah/biologi-umum/fotosintesis. [6 Mei 2009]. Daniel, T.W., J.A. Helms., F.S. Baker. 1987. Prinsip-prinsip Silvikultur (Terjemahan). Gadjah Mada University Press. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2003. Titik Panas (Hotspot) dan Kebakaran. http://www.dephut.go.id/informasi/humas/2002/ 790_02.html. [4April 2009]. Effendi, Y H dan Effendi A T. 2002. Dampak Kebakaran Hutan terhadap Gangguan Kesehatan Masyarakat. Disampaikan dalam Pelatihan

109

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 101 - 110

Penilaian Kerusakan Hutan Akibat Pembakaran Hutan dan Lahan BIOTROP. Bogor : 22-31 Juli 2002. Kozlowski, T.T. 1992. Carbohydrate sources and sinks in woody plants. Bot. Rev. 58, pp. 107222. Lakitan, B. 2008. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press. Jakarta. Larcher, W. 1995. Physiological Plant Ecology. 3rd ed. Berlin : Springer-Verlag. Notohadinegoro, K. T. 2006. Pembakaran dan Kebakaran Lahan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. http://www.diglib.ugm.ac.id/download/fp.pdf. [14 April 2009]. Purbowaseso, B. 2006. Pengendalian Kebakaran Hutan (Suatu Pengantar). Rineka Cipta. Jakarta. Salisbury, F. B. Ross. C. W. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Bandung. Bandung. Siregar, E.B.M. 2005. Pencemaran Udara, Respon Tanaman, dan Pengaruhnya pada Manusia. Fakultas Pertanian. Program Studi Kehutanan. Universitas Sumatera Utara. Medan. Suratin. 1991. Studi Kerusakan Anatomi Daun Bauhinnia purpurea sebagai Tanaman Tepi Jalan di Kota Bogor. Jurusan Konservasi dan Sumberdaya Hutan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Syaufina, L. 2008. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia Perilaku Api, Penyebab, dan Dampak Kebakaran. Bayumedia Publishing. Malang. Wikipedia. 2009. Fotosintesis. http://id.wikipedia.org/wiki/Fotosintesis. [7 Mei 2009]. Zubayr, M. 1994. Struktur Lima Jenis Daun di Jalan Iskandardinata Kotamadya Bogor. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB.

110

Proses Perkecambahan Buah/Benih Vatica pauciflora (Korth.) Blume dari Pohon Induk di Hutan Lindung Sungai Wain, Kalimantan Timur
Tri Sayektiningsih dan Mira Kumala Ningsih

PROSES PERKECAMBAHAN BUAH/BENIH Vatica pauciflora (Korth.) Blume DARI POHON INDUK DI HUTAN LINDUNG SUNGAI WAIN, KALIMANTAN TIMUR Germination Process of the Fruit/Seed of Vatica pauciflora (Korth.) Blume from Mother Trees in Protection Forest of Sungai Wain, East Kalimantan Tri Sayektiningsih dan Mira Kumala Ningsih
Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja, Kalimantan Timur Jl. Soekarno-Hatta Km. 38, Balikpapan 76112 Telp. (0542) 7217663, Fax. (0542) 7217665

I. PENDAHULUAN Vatica pauciflora merupakan salah satu jenis dari famili Dipterocarpaceae yang berperan penting dalam perniagaan kayu Indonesia. Sidiyasa dan Kessler (1999) menyatakan bahwa daerah penyebaran V. pauciflora meliputi Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, dan temuan baru di Kalimantan Timur. Jenis ini lazim dijumpai di hutan rawa air tawar dan sepanjang tepi sungai. Semakin berkurangnya luas hutan di Indonesia yang merupakan habitat V. pauciflora menjadi ancaman serius terhadap kelestarian jenis ini. Riyanto (2004) menyatakan bahwa kawasan hutan merupakan sumber daya alam yang terbuka, sehingga akses masyarakat untuk masuk memanfaatkannya sangat besar. Keadaan tersebut memacu berbagai permasalahan, diantaranya penebangan liar, perambahan hutan, dan kebakaran hutan. Kartali dalam Nurhasybi et al. (2003) menyebutkan bahwa eksploitasi yang berlebihan telah menempatkan jenis-jenis Dipterocarpaceae dalam bahaya karena hilangnya sumber-sumber genetik potensial. Di beberapa negara terdapat jenis-jenis yang dapat bertahan karena kompetisi alam dan sebaran alaminya yang luas seperti genus Hopea di Cina, satu jenis Vatica di Hainan dan Shorea robusta di Punjab, India. Kegiatan perbanyakan secara generatif merupakan salah satu mata rantai awal untuk budidaya V. pauciflora. Perkecambahan biji dilakukan untuk mendapatkan individu baru suatu jenis tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses perkecambahan buah/benih V. pauciflora yang diperoleh dari Hutan Lindung Sungai Wain, Kalimantan Timur.

II. METODOLOGI Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - September 2009. Pengamatan perkecambahan dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja, Kalimantan Timur.

111

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 111 - 117

Materi penelitian berupa buah/benih V. pauciflora sebanyak 30 buah yang diperoleh dari Hutan Lindung Sungai Wain. Secara administrasi pemerintahan, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) terletak di Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara dan Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Secara geografis terletak antara 116047-116055 Bujur Timur dan 01002-01010 Lintang Selatan. Buah/benih berasal dari pohon V. pauciflora dengan keliling 147 cm, tinggi 25 m, dan tinggi bebas cabang 15 m. Media arang sekam digunakan untuk perkecambahan. Buah/benih V. pauciflora diperoleh pada lantai hutan di bawah pohon V. pauciflora yang sedang berbuah. Kondisi buah/benih sudah masak dengan ciri kulit buah berwarna coklat. Buah/benih dikemas dengan kantong plastik yang tidak ditutup rapat agar ventilasi udara dapat berjalan dengan baik sehingga buah/benih tidak mengalami pengeringan atau kemunduran viabilitasnya. Parameter morfologi yang diamati meliputi tipe buah/benih, warna buah/benih, dan ukuran buah/benih. Sebelum disemaikan, buah/benih disortasi untuk memisahkan dari kotoran-kotoran atau bahan ikutan lainnya. Buah/benih setelah disortasi segera dikecambahkan ke dalam bak kecambah yang telah diisi media arang sekam. Buah/benih ditanam bagian ke dalam media. Pengamatan proses perkecambahan V. pauciflora dilakukan setiap minggu sejak buah/benih disemaikan. Jenis data yang diambil adalah persen perkecambahan buah/benih. Persentase perkecambahan benih (%) dihitung dengan menggunakan rumus = ( Nt/ Na) x 100%, dimana Nt adalah jumlah biji yang berkecambah hingga hari terakhir, sedangkan Na adalah jumlah biji yang disemaikan pada saat awal. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Buah yang diamati berbentuk bulat telur, berwarna coklat, dan kelopak bercuping 5, kulit buah kasar, terdapat 3 alur yang jelas dan akan terbuka pada saat keluar radikula, diameter buah 3-5 cm, perikarp berukuran 0,5 cm. Sidiyasa dan Kessler (1999) menyebutkan bahwa buah V. pauciflora berbentuk geluk membulat telur, panjang 3 cm, hampir runcing, beralur 3 nyata, perikarp tebal dan menggabus (Gambar 1). Vatica pauciflora berhabitus pohon, tinggi hingga 30 m, diameter mencapai 45 cm, ranting menggalah, menggundul, tidak berkeropeng. Penumpu panjang hingga 8 mm, memita (bentuk bidang bersegi empat panjang yang sempit dengan nisbah panjang : lebar melebihi 12 : 1), berlekuk balik. Tangkai daun panjang 10-18 mm, daun melanset jorong, panjang 6,5-20 cm, lebar 2,2-8 cm, menjangat tipis. Pangkal daun membaji, ujung melancip, panjang hingga 1,5 cm, tulang daun sekunder 5-7 pasang. Malai panjang hingga 9 cm, di ujung atau hampir di ujung (Sidiyasa dan Kessler, 1999).

112

Proses Perkecambahan Buah/Benih Vatica pauciflora (Korth.) Blume dari Pohon Induk di Hutan Lindung Sungai Wain, Kalimantan Timur
Tri Sayektiningsih dan Mira Kumala Ningsih

Gambar 1. Penampang melintang dan membujur buah V. pauciflora

Perubahan warna kulit buah terjadi karena adanya penurunan kadar air yang menandakan hancurnya klorofil dan buah akan berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan. Pemilihan buah/benih dilakukan dengan memilih buah/benih yang dianggap masih dalam kondisi baik, serta belum mengalami pengusangan (Nurhasybi et al, 2003). Proses perkecambahan V. pauciflora berlangsung cepat karena benih ini termasuk benih rekalsitran. Menurut Schmidt (2000), benih rekalsitran adalah benih yang tidak dapat bertahan bila dikeringkan di bawah kadar air yang masih relatif tinggi (30%-40%), dan cepat kehilangan viabilitasnya serta tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama. Proses perkecambahan V. pauciflora disajikan dalam Gambar 2 dan 3.

Gambar 2.

Proses perkecambahan V. pauciflora sebelum kotiledon terlepas

113

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 111 - 117

Gambar 3.

Proses perkecambahan V. paucifora mulai dari membukanya kulit buah/benih sampai terlepasnya kotiledon (Priyono, 2009)

Proses perkecambahan diawali dengan membukanya kulit buah. Sebelum kulit buah benih membuka, telah terjadi proses imbibisi yaitu proses penyerapan air oleh buah/benih sehingga volume buah/benih bertambah besar. Membukanya kulit buah/benih terjadi pada minggu pertama pengamatan. Selain terjadi pemecahan kulit buah/benih, pada minggu pertama pengamatan, radikula mulai muncul dan berwarna kuning. Proses pertumbuhan radikula berlangsung sampai minggu ke dua pengamatan. Persentase keberhasilan membukanya kulit buah sampai keluarnya radikula pada penelitian ini adalah 67 %. Beberapa diantaranya mati dan terserang jamur. Pada pengamatan minggu ke tiga sampai ke empat, terdapat 2 tangkai kotiledon yang berwarna hijau dengan panjang masing-masing 1-1,5 cm pada bagian antara hipokotil dan epikotil yang berbentuk lonjong. Sebanyak 67% buah/benih V. pauciflora yang disemaikan mengalami proses demikian. Selanjutnya epikotil terus tumbuh ke atas. Epikotil berwarna hijau muda yang lama kelamaan menjadi hijau. Tumbuhnya epikotil menyebabkan buah/benih terangkat dan kotiledon tidak keluar (tetap berada di dalam buah). Tipe perkecambahan V. pauciflora termasuk tipe perkecambahan epigeal (Schmidt, 2000). Purnomo menyatakan bahwa perkecambahan epigeal adalah perkecambahan yang menghasilkan kecambah dengan kotiledon terangkat ke atas permukaan tanah. Dalam proses perkecambahan, setelah radikula menembus kulit benih, hipokotil memanjang melengkung menembus ke atas 114

Proses Perkecambahan Buah/Benih Vatica pauciflora (Korth.) Blume dari Pohon Induk di Hutan Lindung Sungai Wain, Kalimantan Timur
Tri Sayektiningsih dan Mira Kumala Ningsih

permukaan tanah. Setelah hipokotil menembus permukaan tanah, kemudian hipokotil meluruskan diri. Dengan cara demikian kotiledon yang masih tertangkup tertarik ke atas permukaan tanah juga. Kulit benih akan tertinggal di permukaan tanah, dan selanjutnya kotiledon membuka daun pertama (plumula) muncul ke udara. Beberapa saat kemudian, kotiledon meluruh dan jatuh ke tanah. Tipe perkecambahan V. pauciflora secara khusus termasuk tipe perkecambahan durian, yaitu hipokotil memanjang tetapi kotiledon tidak muncul dan tidak berfungsi untuk fotosintesa (Ng, 1991). Pada pengamatan minggu ke tiga sampai ke tujuh mulai tumbuh calon daun (plumula). Terdapat 6 daun pertama berupa sisik dan mudah terlepas. Daun awalnya kecil berwarna coklat kemerahan. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan organ tersebut, warna daun berubah menjadi hijau. Duduk daun selang-seling dan terdapat sepasang stipul pada tiap daun. Lepasnya kotiledon pada pengamatan minggu ke delapan sampai ke sepuluh, dimulai dengan lepasnya tangkai kotiledon satu persatu, yang kemudian diikuti oleh jatuhnya kotiledon. Dengan lepasnya kotiledon ini berarti bibit harus segera disapih, karena bibit tidak memiliki cadangan makanan lagi. Tahapan proses perkecambahan V. pauciflora disajikan dalam Tabel 1. Periode perkecambahan V. pauciflora yang dimulai dengan membukanya kulit buah/benih sampai lepasnya kotiledon membutuhkan waktu 71 hari. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Ng (1991) yang menyatakan bahwa periode perkecambahan V. pauciflora berkisar 27-81 hari.

115

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 111 - 117

Tabel 1. Tahapan proses perkecambahan V. pauciflora Pengamatan minggu keKeterangan

1-2

Terjadi proses imbibisi menyebabkan ukuran buah membesar, kulit buah membuka, radikula mulai muncul

3-7

Tumbuh 2 tangkai kotiledon, calon daun (plumula) mulai tumbuh, radikula memanjang

8-10

Organ daun semakin berkembang, tangkai kotiledon mulai terlepas satu per satu, kotiledon jatuh 116

Proses Perkecambahan Buah/Benih Vatica pauciflora (Korth.) Blume dari Pohon Induk di Hutan Lindung Sungai Wain, Kalimantan Timur
Tri Sayektiningsih dan Mira Kumala Ningsih

IV. KESIMPULAN

Perkecambahan buah/benih V. pauciflora membutuhkan waktu 71 hari dengan persentase perkecambahan 67%. Tipe perkecambahan buah/benih V. pauciflora adalah tipe perkecambahan epigeal dan secara khusus merupakan tipe durian.

DAFTAR PUSTAKA

Ng, F.S.P. 1991. Malayan Forest Record No. 34 Manual of Forest Fruits, Seeds and Seedling Volume One. Forest Research Institute Malaysia, Kuala Lumpur. Nurhasybi, D., D.J. Sudrajat, dan F.D. Darmawati. 2003. Kajian Komprehensif Benih Tanaman Hutan Jenis-jenis Dipterocarpaceae. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan, Bogor. Purnomo, E. Perkecambahan Benih. http://blog.unila.ac.id, diakses tanggal 12 Oktober 2009. Riyanto, B. 2004. Selayang Pandang Pengelolaan Kawasan Hutan di Indonesia. Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan Lingkungan, Bogor. Schmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan, Jakarta. Sidiyasa, K. dan P.J.A. Kessler. 1999. Pohon-pohon Hutan Kalimantan Timur Pedoman Mengenal 280 Jenis Pohon Pilihan di daerah BalikpapanSamarinda. MOFEC Tropenbos-Kalimantan Project.

117

Pengaruh Beberapa Species Mikoriza terhadap Pertumbuhan Anakan Tembesu (Fragaea fragans Roxb)
Heru Dwi Riyanto dan Engkos Kusnandar

PENGARUH BEBERAPA SPECIES MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN ANAKAN TEMBESU (Fragaea fragans Roxb) The Influence of Several Mycorrhiza Species to the Growth of Tembesu Seedling (Fragaea fragans Roxb)

Heru Dwi Riyanto dan Engkos Kusnandar


Balai Penelitian Kehutanan Solo Jl. A.Yani Pabelan, Kartasura, PO BOX 295 Surakarta 57012 Telp. (0271) 716709 dan 716959

I. PENDAHULUAN

Selama ini peran strategis sumber daya hutan dalam perkembangan nasional masih bertumpu pada pemanfaatan hutan alam, guna memenuhi bahan baku industri hasil hutan, akan tetapi dengan perkembangannya industri hasil hutan yang semakin pesat dewasa ini membuat kebutuhan bahan baku semakin besar pula dan hal ini sulit dipenuhi oleh potensi hutan alam yang ada. Hal ini selain karena produktivitasnya yang semakin menurun, juga luasnya pun semakin berkurang yang diakibatkan oleh kegiatan perambahan (Kanwil Departemen Kehutanan Sumatera Selatan, 1990). Lebih lanjut Departemen Kehutanan menyebutkan bahwa permasalahan terbesar dari deforestasi adalah kegiatan logging, yang diperkirakan + 1 juta ha per tahun. Indonesia mempunyai kekayaan dan kelimpahan spesies hutan, tetapi dengan adanya aktivitas yang disebutkan di atas akan menyebabkan hancurnya hutan di masa depan, penurunan biodiversitas dan terganggunya ekosistem. Salah satu jenis tanaman yang mengalami dampak tersebut di hutan antara lain adalah tembesu (Fragraea sp.) yang merupakan salah satu jenis tanaman lokal di Sumatera. Dalam rangka mendukung industri perkayuan, pemerintah telah mengeluarkan program Pembangunan Hutan Tanaman Industri yang tidak hanya menanam spesies cepat tumbuh (daur pendek), tetapi juga jenis lambat tumbuh (daur panjang) dengan nilai ekonomi yang tinggi. Jenis tersebut diantaranya tembesu, dengan sifat kayunya : mudah dikerjakan, kelas awet dan kuat yang tinggi serta ketahanan retak yang baik (Heyne, 1987). Keberhasilan program ini masih menghadapi permasalahan, salah satunya adalah belum terkuasainya secara lengkap aspek silvikultur jenis tersebut. Oleh karena itu, penelitian tentang pengaruh mikoriza dan jenis media, yang merupakan aspek silvikultur dalam pembibitan dan awal keberhasilan dalam tanaman selanjutnya perlu untuk dilakukan. Kegiatan penelitian dilaksanakan di stasiun/hutan penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang (kini Balai Penelitian Kehutanan Palembang) 119

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 119 - 123

yang berlokasi di desa Kayu Ara Kuning, kecamatan Pangkalan Balai, kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kondisi hutan di areal stasiun tersebut merupakan hutan sekunder dengan vegetasi awal yang mendominasinya adalah simpur (Dillenia sp.), seru (Schima walichii) dan sungkai (Peronema canescens) untuk tingkat pohon, harendong (Melastoma), kirinyu (Clibadium), serta alangalang dan rumput untuk tingkat semak dan tanaman bawah. Dalam penelitian ini perlakuan-perlakuan yang diujikan akan ditekankan pada dua aspek, yaitu penggunaan mikoriza dan media semai, dimana rancangan yang digunakan adalah faktorial 6X2, yaitu enam taraf penginpeksian jenis mikoriza (INDS 25, INDS 29, INDS 50, INDS 55, Biofeer) dan dua taraf jenis media semai (top soil dari luar tegakan dan top soil dari luar tegakan (80%) + arang (20%)). Setiap perlakuan terdiri dari 35 sampel, dengan ulangan sebanyak 3 ulangan, sehingga dengan rancangan yang digunakan jumlah bibit seluruhnya mencapai 1260 batang. Parameter yang diamati persen hidup tanaman dan tinggi.

II. STATUS PENGETAHUAN TEMBESU DAN MIKORIZA

A. Tembesu (Fragraea fragrans Roxb). Menurut Heyne (1987), tembesu termasuk famili Loganiaceae, dan memiliki beberapa nama lokal seperti : tembesu paya, tembesu rawang dan tembesu renah dengan sifat karakteristik sebagai berikut : a. Diameter pohon dapat mencapai 1 meter, umumnya batang bergelombang ringan, tanpa banir dan bentuk tajuk mengerucut sempit dengan warna hijau terang. Kulitnya tebal, cukup keras dengan lukisan berbentuk jaring ajaib, satu sama lain di bawah punggung-punggung yang menyilang dengan sudut yang tajam. Daunnya rata dan buah yang masak merah warnanya. Kayunya berwarna kekuning-kuningan muda dan berbau keasam-asaman, agak keras tidak mudah retak, kuat dan tahan lama, dapat bertahan berpuluhpuluh tahun

b.

c. d.

B. Mikoriza Menurut Brundrett (1991) mikoriza merupakan asosiasi yang melibatkan jamur (fungi), tanaman dan tanah, dan dapat diklasifikasikan menjadi 3 grup, yaitu ecto, endo dan extendo mycorrhiza (Harly, 1965). Selanjutnya dikatakan bahwa mikoriza dapat berfungsi untuk : a. Meningkatkan pertumbuhan tanaman, memperluas areal penyerapan, sebagai hormon tanaman, membantu proses metabolisme, serta membantu penyerapan nitrogen, phospor dan kalium

120

Pengaruh Beberapa Species Mikoriza terhadap Pertumbuhan Anakan Tembesu (Fragaea fragans Roxb)
Heru Dwi Riyanto dan Engkos Kusnandar

b.

Melindungi akar dari kekeringan, suhu dingin dan non aerasi di areal yang suka tergenang serta mampu memproduksi antibiotic guna melindungi dari patogen akar.

III. PERSENTASE HIDUP DAN TINGGI TANAMAN

1. Persentase Hidup Bibit Hasil pengamatan persentase hidup bibit umur 3 bulan dari tiap perlakuan dipersemaian disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata persentase hidup bibit umur 3 bulan di persemaian Media T1 Mikoriza M2 M3 94,3 91,4 85,7 77,0 88,0 88,6

M0 88,6 71,4 82,8

M1 88,6 91,8 85,7

M4 83,0 82,8 88,7

M5 88,6 85,7 85,7

82,9 80,0 97,0 91,4 97,0 91,0 80,0 85,7 88,6 88,6 94,0 82,8 77,0 94,3 85,7 94,3 91,0 88,7 Keterangan : M0: Kontrol, M1 : INDS 25, M2 : INDS 29, M3 : INDS 50, M4: INDS 55, M5: Biofeer, T1: top soil, T2 : top soil + charcoal T2 Sebelum dianalisa lanjut, data dari Tabel 1 ditranformasikan ke dalam arcus sinus dan hasil analisa varian disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Analisa keragaman persen hidup anakan tembesu Sumber Keragaman Media (T) Mikoriza Interaksi Eror Total Kuadrat Jumlah 48,032 257,843 117,708 476,996 900,579 Derajad Bebas 1 5 5 24 35 Kuadrat tengah 48,032 51,569 23,541 19,875 F Hitung 2,41675 2,59467 1,18449 P - Nilai 0,13313 0,05174 0,34598 F- Tabel 4,25967 2,62065 2,62065

Dari hasil analisa keragaman persen hidup anakan seperti tertera pada Tabel 2, dapat diketahui bahwa faktor tunggal dan interaksinya berbeda tidak nyata terhadap persen hidup anakan tembesu, yang ditunjukkan dengan nilai F Hitung kurang dari F - Tabel.

121

Mitra Hutan Tanaman


Vol.4 No.3, November 2009, 119 - 123

2. Tinggi Tanaman Hasil pengukuran terhadap tinggi anakan pada masing-masing perlakuan di persemaian sampai dengan umur 3 (tiga) bulan, tertera pada Tabel 3. Tabel 3. Rata-rata tinggi anakan sampai dengan umur 3 (tiga) bulan di persemaian Jenis media Top soil + Arang Top soil (T 1) (T 2) 1,79 cm 1,57 cm 2,14 cm 2,23 cm 1,99 cm 2,00 cm 2,20 cm 2,60 cm 2,26 cm 2,02 cm 1,96 cm 2,06 cm

Jenis Mikoriza 1. Kontrol 2. INDS 25 3. INDS 29 4. INDS 50 5. INDS 55 6. BIOFEER (M 0) (M1) (M2) (M 3) (M 4) (M 5)

Data rata-rata tinggi pada tabel di atas yang kemudian dilakukan analisa keragamannya, disajikan seperti tertera pada Tabel 4. Tabel 4. Analisa keragaman tinggi anakan tembesu umur 3 (tiga) bulan di persemaian Sumber Keragaman Perlakuan A B AXB Error Derajat Bebas 11 1 5 5 24 Jumlah Kuadrat 2,3 0,04 1,97 0,29 4,51 Kuadrat Tengah 0,21 0,04 0,39 0,06 0,188 F-Hitung 1,11 0,21 2,07 0,32 F-Tabel 2,22 4,26 2,62 2,62

Dari hasil analisa keragaman tinggi anakan tembesu, seperti yang tertera pada Tabel 4, terlihat seperti halnya persen hidup, faktor tunggal maupun interaksinya tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi anakan tembesu, yang dicirikan dengan nilai F - Hitung yang lebih kecil dari F Tabel. Dari Tabel 1 dan 2 tentang persen tumbuh dan pertumbuhan tinggi terlihat bahwa perlakuan-perlakuan baik faktor tunggal maupun interaksinya menunjukkan beda tidak nyata atau dengan kata lain tidak memberikan pengaruh secara nyata terhadap perkembangan semai tanaman tembesu. Hal ini diduga karena tidak terjadinya simbiose antara jenis jenis mikoriza yang diberikan dengan tanaman tembesu, yang dicirikan dengan tidak adanya sebagian dari daun anakan yang layu / menguning dan kemudian rontok, seperti yang dikemukakan oleh staf peneliti dari PT. INAGRO.

122

Pengaruh Beberapa Species Mikoriza terhadap Pertumbuhan Anakan Tembesu (Fragaea fragans Roxb)
Heru Dwi Riyanto dan Engkos Kusnandar

Disamping ciri-ciri penampakan fisik yang telah disebutkan di atas, juga menurut Brundrett (1991) tidak semua mikoriza akan bisa bersimbiose pada semua jenis pohon. Selanjutnya Mosse (1973), dalam Alfrenzi (1996), menyatakan bahwa mikoriza vesikular arbuskular tidak mempunyai inang spesifik, namun jenis mikoriza tertentu dapat lebih merangsang pertumbuhan spesies tanaman tertentu atau dengan kata lain tingkat efektivitas satu spesies jamur mikoriza dapat berbeda-beda terhadap spesies tanaman.

IV. PENUTUP

Dari hasil uraian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa semua jenis mikoriza yang dicobakan tidak bersimbiose secara baik dengan tanaman tembesu atau efektivitasnya rendah. Guna meningkatkan keberhasilan program pembangunan HTI Tembesu, maka sebaiknya mikoriza yang digunakan berasal dari sekitar tegakan tembesu.

DAFTAR PUSTAKA

Alfrenzi. 1996. Pengaruh cendawan mikoriza vesikular arbuskular Glomus fasciculatum (Thaseter) Gardemaun X Thappe, dan Fosfor terhadap pertumbuhan beberapa tanaman industri pada tanah tambang batubara PT.Tambang Batubara Bukit Asam. Skripsi S1 Fakultas MIPA Unsri Palembang. (Tidak dipublikasikan). Brundlett. MC. 1991. Mycorrhizas in Natural Ecosystems in : Advances in Ecologycal Research. Vol 21. Academis Press, London. Pp 171-313. Departemen Kehutanan. 1990. Statistik Kehutanan Indonesia. Jakarta. Harley, J.H. dan Smith, S.E. 1983. Mycorrhizal Symbiosis. Academic Press. London. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta.

Manan, S. 1976. Sendi-sendi Silvikultur (Diktat Kuliah) Fak Kehutanan IPB Bogor.

123