Anda di halaman 1dari 74

EFEKTIVITAS CAMPURAN MENIRAN Phyllanthus niruri DAN BAWANG PUTIH Allium sativum DALAM PAKAN UNTUK PENGENDALIAN INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila PADA IKAN LELE DUMBO Clarias sp.

EKA HIDAYATHUS SHOLIKHAH

PADA IKAN LELE DUMBO Clarias sp. EKA HIDAYATHUS SHOLIKHAH DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul :

EFEKTIVITAS CAMPURAN MENIRAN Phyllanthus niruri DAN BAWANG PUTIH Allium sativum DALAM PAKAN UNTUK PENGENDALIAN INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila PADA IKAN LELE DUMBO Clarias sp.

adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini.

Bogor, November 2009

EKA HIDAYATHUS SHOLIKHAH

C14054257

dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini. Bogor, November 2009 EKA HIDAYATHUS SHOLIKHAH

RINGKASAN

EKA HIDAYATHUS SHOLIKHAH. Efektivitas Campuran Meniran Phyllanthus niruri dan Bawang Putih Allium sativum dalam Pakan untuk Pengendalian Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo Clarias sp. Dibimbing oleh DINAMELLA WAHJUNINGRUM dan TATAG BUDIARDI.

Ikan lele Clarias sp. merupakan ikan yang hidup di perairan tawar dan sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya ikan lele berkembang pesat dikarenakan ikan ini mempunyai beberapa kelebihan, yaitu dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, mempunyai pertumbuhan yang cepat, teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasarannya relatif mudah dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Namun demikian pada budidaya ikan lele sering ditemukan penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Penggunaan bahan alami daun meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti antibiotik dalam mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan campuran ekstrak daun meniran dan bawang putih dalam pakan untuk pengendalian infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo. Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu uji LD 50 dan uji in vivo. Uji LD 50 menghasilkan konsentrasi bakteri A. hydrophila 10 8 cfu/ml dapat mematikan 50% populasi ikan uji dalam waktu satu minggu. Dosis yang digunakan adalah meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt untuk pencegahan, sedangkan dosis untuk pengobatan adalah meniran 10 ppt dan bawang putih 40 ppt. Hasil uji in vivo menunjukkan respon makan perlakuan pencegahan yang lebih baik dibandingkan perlakuan pengobatan dan kontrol positif. Pertambahan bobot rata-rata perlakuan pencegahan sebesar 7,2995 ± 1,00% dan pengobatan sebesar 6,2303 ± 1,81%, kontrol positif sebesar 1,8732 ± 0,58. Rata-rata skor gejala klinis perlakuan pencegahan lebih kecil jika dibandingkan perlakuan pengobatan dan kontrol positif. Mortalitas perlakuan pencegahan sebesar 41,67 ± 21,52%, pengobatan sebesar 54,17 ± 20,97 dan kontrol positif sebesar 66,67 ± 23,57. Pengamatan organ dalam menunjukkan perlakuan pencegahan normal, mendekati kontrol negatif, sedangkan perlakuan pengobatan terjadi perubahan warna organ dalam, mendekati kontrol negatif. Kualitas air yang terukur sebelum dan setelah uji in vivo masih termasuk dalam kisaran toleransi ikan lele dumbo. Dari hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa perlakuan pencegahan dengan campuran ekstrak meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt cukup efektif dalam mencegah infeksi A. hydrophila dibandingkan dengan pengobatan dengan campuran ekstrak meniran 10 ppt dan bawang putih 40 ppt.

infeksi A. hydrophila dibandingkan dengan pengobatan dengan campuran ekstrak meniran 10 ppt dan bawang putih 40

EFEKTIVITAS CAMPURAN MENIRAN Phyllanthus niruri DAN BAWANG PUTIH Allium sativum DALAM PAKAN UNTUK PENGENDALIAN INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila PADA IKAN LELE DUMBO Clarias sp.

EKA HIDAYATHUS SHOLIKHAH

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

Judul Skripsi : Efektivitas Campuran Meniran Phyllanthus niruri dan Bawang Putih Allium sativum dalam Pakan untuk Pengendalian Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo Clarias sp

Nama Mahasiswa

:

Eka Hidayathus Sholikhah

Nomor Pokok

:

C14054257

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Dinamella Wahjuningrum NIP. 19700521 199903 2 001

Dr. Tatag Budiardi NIP. 19631002 199702 1 001

Diketahui Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Prof. Dr. Indra Jaya NIP. 19610410 198601 1 002

Tanggal : 4 November 2009

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Prof. Dr. Indra Jaya NIP. 19610410 198601 1 002 Tanggal

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Skripsi ini merupakan hasil penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2009 sampai dengan Agustus 2009, dengan judul “Efektivitas Campuran Meniran Phyllanthus niruri dan Bawang Putih Allium sativum dalam Pakan untuk Pengendalian Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo Clarias sp”. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Orangtua, adikku, dan keluarga besarku tercinta atas doa dan dukungannya selama penulis menyelesaikan skripsi ini

2. Ibu Dr. Dinamella Wahjuningrum dan Bapak Dr. Tatag Budiardi selaku pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis sampai penyelesaian skripsi

3. Ibu Ir. Mia Setiawati, M.Si selaku dosen tamu yang memberikan arahan untuk kesempurnaan skripsi ini

4. Pak Ranta, Bang Abe, Pak Aam, Pak Endang, Pak Henda, Mas Khotib, Pak Mar, Mbak Yuli, Kang Asep atas kerjasamanya yang baik dalam menyelesaikan skripsi

5. Temen-teman BDP’42, LKI Crews (Anet, Majek, Dewi, Mama Uy, Teteh,

Tante, Icha, Tyas, Sopi, Evan, Arif dan Wika) terimakasih kalian selalu ada buatku, (Dindong, Nadew, Bunda, Jijah, Vika, Pay, Mb nita, Jeje, Angga, Dowe, Gawang) atas bantuan dan semangat yang telah kalian berikan. BDP’41 (mb Ayu, mas Agung, mb Dewi, teh Windu, mas Dodi), BDP’43 dan ’44 (Tya, Ide, Hendar, Bachtiar), S2 dan S3 (Bu Sury, Bu Muly, Pak Narto, Bu Ibar, Bu Ayu, Pak Henky) terimakasih atas bantuannya dan kerjasamanya. Ekyers (Ita, Iin, Danto, Arin, Vita, Vivi, Sabti, Itha, Betari, Bani, Ayu, Oci, Mbambel) keceriaan dan uluran tangan kalian selama ini membuatku semangat. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan juga semua pihak yang membutuhkan. Terima kasih.

Bogor, November 2009 Penulis

ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan juga semua pihak yang membutuhkan. Terima kasih. Bogor, November 2009

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Rembang tanggal 3 Oktober 1986 dari Ayah Suroto dan Ibu Hamidah. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Pendidikan formal yang dilalui penulis adalah TK Islam Bhakti Lasem dan lulus tahun 1993, kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SDN Soditan 01 Lasem dan lulus tahun 1999. Penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Lasem dan lulus tahun 2002, serta melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Rembang dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan memilih Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah melakukan praktek lapang di PT CPB (Central Pertiwi Bahari) Rembang, Jawa Tengah. Penulis menjadi asisten mata kuliah Dasar-dasar Mikrobiologi Organisme Akutik semester genap 2008/2009. Selain itu penulis juga aktif menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) bagian divisi Public Care Center periode 2006/2007 dan 2007/2008. Tugas akhir dalam pendidikan tinggi diselesaikan dengan menulis skripsi yang berjudul Efektivitas Campuran Meniran Phyllanthus niruri dan Bawang Putih Allium sativum dalam Pakan untuk Pengendalian Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo Clarias sp”.

sativum dalam Pakan untuk Pengendalian Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo Clarias sp ”.

DAFTAR ISI

 

Halaman

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR GAMBAR

x

DAFTAR LAMPIRAN

xii

I. PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Tujuan

2

II. TINJAUAN PUSTAKA

3

2.1 Ikan Lele Dumbo Clarias sp

3

2.2 Bawang Putih Allium sativum

4

2.3 Meniran Phyllanthus niruri

7

2.4 Bakteri Aeromonas hydrophila

10

2.5 Bahan Antibakteri

12

2.6 Kualitas Air

12

III. BAHAN DAN METODE

15

3.1 Waktu dan Tempat

15

3.2 Alat dan Bahan

15

3.3 Metode Penelitian

15

 

3.3.1 Penyediaan Bakteri Uji

15

3.3.2 Regenerasi Bakteri Uji

16

3.3.3 Uji LD50

16

3.3.4 Penyiapan Bahan dan Ekstrak

17

3.3.5 Persiapan Wadah dan Ikan Uji

18

3.3.6 Penyediaan Pelet Uji

19

3.3.7 Uji In Vivo

19

3.4 Parameter yang Diamati

20

 

3.4.1 Respon Makan Ikan

20

3.4.2 Pertambahan Bobot Tubuh

20

3.4.3 Kematian Ikan

21

3.4.4 Gejala Klinis dan Pengukuran Diameter Klinis

21

3.4.5 Pengamatan Organ Dalam

22

3.4.6 Kualitas Air

22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

23

4.1

Hasil

23

4.1.1 Identifikasi Bakteri Uji

23

4.1.2 Uji LD 50

23

4.1.3 Uji In Vivo

23

4.1.3.1 Respon Makan Ikan Uji

23

4.1.3.2 Pertambahan Bobot Ikan Uji

25

4.1.3.3 Mortalitas Ikan Uji

26

4.1.3.4 Gejala Klinis Ikan Uji

27

4.1.3.2 Pertambahan Bobot Ikan Uji 25 4.1.3.3 Mortalitas Ikan Uji 26 4.1.3.4 Gejala Klinis Ikan Uji

4.1.3.5

Pemeriksaan Organ Dalam Ikan Uji

33

 

4.1.3.6

Kualitas Air

34

4.2 Pembahasan

35

V.

KESIMPULAN

42

5.1 Kesimpulan

42

5.2 Saran

42

DAFTAR PUSTAKA

 

43

LAMPIRAN

48

DAFTAR TABEL

 

Halaman

1. Komposisi kimia bawang putih per 100 gram

6

2. Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk melihat efektifitas bawang putih

7

3. Efek pH terhadap organisme budidaya

13

4. Perhitungan skor kelainan klinis

21

5. Hasil identifikasi bakteri A. hydrophila

23

6. Pengamatan organ dalam ikan lele dumbo

33

7. Kisaran kualitas air selama uji in vivo

34

hydrophila 23 6. Pengamatan organ dalam ikan lele dumbo 33 7. Kisaran kualitas air selama uji

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Ikan lele Clarias sp

3

2. Bawang putih Allium sativum

5

3. Meniran Phylanthus niruri

7

4. Skema metode penelitian (uji in vivo)………………………

20

5. Respon makan ikan lele dumbo selama perlakuan

24

6. Pertambahan bobot rata-rata ikan lele dumbo Clarias sp. (%) selama perlakuan

25

7. Akumulasi mortalitas ikan lele dumbo Clarias sp. (%) setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila selama perlakuan

26

8. Ikan lele perlakuan kontrol negatif tidak mengalami kelainan klinis hingga akhir perlakuan

27

9. Ikan lele mengalami kelainan klinis berupa radang pada daerah bekas suntikan pada jam ke-7

27

10. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami kematian dengan kelainan klinis berupa radang, mata menonjol dan buta, sirip mengalami hiperemia pada hari ke-1 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

28

11. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami kelainan klinis berupa hemoragi pada hari ke-1 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

28

12. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami kelainan klinis berupa tukak pada hari ke-3 setelah penginfeksian bakteri A.hydrophila

29

13. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami kelainan klinis berupa tukak pada hari ke-6 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

29

14. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami penyembuhan tukak pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

29

15. Ikan lele perlakuan pengobatan mengalami kelainan klinis berupa hemoragi pada hari ke-1 setelah penginfeksian bakteri A.hydrophila

30

16. Ikan lele perlakuan pengobatan mengalami kelainan klinis berupa tukak pada hari ke-3 setelah penginfeksian bakteri A.hydrophila

30

17. Ikan lele perlakuan pengobatan mengalami penyembuhan tukak pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A.hydrophila

30

18. Ikan lele perlakuan pencegahan mengalami kelainan klinis berupa radang pada hari ke-1 setelah penginfeksian bakteri A.hydrophila

31

19. Ikan lele perlakuan pencegahan mengalami kelainan klinis berupa tukak pada hari ke-3 setelah penginfeksian bakteri A.hydrophila

31

20. Ikan lele perlakuan pencegahan mengalami penyembuhan total pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A.hydrophila

32

21. Skor

gejala

klinis

ikan

lele

dumbo

selama

perlakuan

setelah

penginfeksian bakteri A. hydrophila

33

22. Organ dalam ikan lele pada setiap perlakuan

34

DAFTAR LAMPIRAN

 

Halaman

1.

Penyiapan media bakteri Aeromonas hydrophila

48

2.

Perhitungan nilai LD50

49

3.

Bobot tubuh rata-rata ikan lele awal, tengah dan akhir perlakuan

50

4.

Pertambahan bobot rata-rata ikan selama perlakuan

51

5.

Mortalitas ikan lele selama perlakuan

52

6.

Kualitas air selama perlakuan

53

7.

Kelainan klinis dan diameter kelainan klinis ikan lele kontrol positif setelah diinfeksi bakteri A. hydrophila………………………………

55

8.

Kelainan klinis dan diameter kelainan klinis ikan lele perlakuan pencegahan setelah diinfeksi bakteri A. hydrophila……………………

56

9.

Kelainan klinis dan diameter kelainan klinis ikan lele perlakuan pengobatan setelah diinfeksi bakteri A. hydrophila……………………

57

10.

Skor rata-rata kelainan klinis ikan lele kontrol positif setelah diinfeksi bakteri A. hydrophila………………………………………………….

58

11.

Skor rata-rata kelainan klinis ikan lele perlakuan pencegahan setelah diinfeksi bakteri A. hydrophila………………………………………

59

12.

Skor rata-rata kelainan klinis ikan lele perlakuan pengobatan setelah diinfeksi bakteri A. hydrophila………………………………………

60

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan lele Clarias sp. merupakan ikan yang hidup di perairan

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ikan lele Clarias sp. merupakan ikan yang hidup di perairan tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan ikan lele mempunyai beberapa kelebihan, yaitu dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, mempunyai pertumbuhan yang cepat, teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasarannya relatif mudah dan modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah serta mempunyai nilai ekonomis yang tinggi (Anonim, 2003). Menurut Mahyuddin (2007), produksi lele ukuran konsumsi secara nasional mengalami kenaikan sebesar 18,3% per tahun dari 24.991 ton (1999) menjadi 57.740 ton (2003). Revitalisasi lele sampai dengan akhir tahun 2009 ditargetkan mencapai produksi 175.000 ton atau meningkat rata- rata 21,64% per tahun. Untuk daerah Jabotabek, konsumsi ikan lele mencapai 100 ton lele per hari (Anonim, 2007). Hal ini mengakibatkan pemeliharaan ikan lele dikembangkan secara intensif. Peningkatan produksi ikan lele secara intensif seringkali mengalami resiko, salah satunya adalah timbulnya penyakit. Penyakit yang biasanya menyerang ikan lele adalah penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicemia). Penyakit ini, diakibatkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (Roberts, 1993 dalam Woo et al., 2002). Serangan bakteri ini mematikan ikan lele Clarias sp. di Jawa Barat dan Jawa Timur, setelah 3 bulan penyakit ini muncul di Indonesia (Oswald dan Hulse, 1982) dengan jangka waktu antara 24-48 jam dalam kondisi akut (Paperna, 1996). Penanggulangan penyakit MAS pada awalnya banyak yang menggunakan antibiotik, misalnya oxytetracycline, streptomysin, atau kloramfenikol yang disuntikkan atau dicampurkan dalam pakan. Penggunaan antibiotik tersebut mengakibatkan dampak yang negatif, menjadikan bakteri A. hydrophila dan bakteri-bakteri di lingkungan menjadi resisten terhadap antibiotik, dan musnahnya bakteri menguntungkan yang sensitif (Mariyono dan Sundana, 2002 dalam Ayuningtyas, 2009). Selain itu, antibiotik dapat menimbulkan residu pada

ikan dan akan membahayakan kesehatan konsumen apabila dikonsumsi. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif penanggulangan penyakit MAS yang efektif dan tidak menimbulkan efek yang negatif bagi pembudidaya maupun konsumen serta ramah lingkungan. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki iklim tropis dengan kekayaan alam yang luar biasa dan beragam jenis tanaman terdapat di negara ini. Salah satunya adalah tanaman jenis herba, yaitu tanaman yang berkhasiat obat. Contoh tanaman yang termasuk didalamnya adalah meniran dan bawang putih. Meniran Phyllanthus niruri merupakan jenis tanaman obat yang dapat bermanfaat untuk menurunkan panas, obat batuk, radang, batu ginjal, susah buang air kecil, disentri, sakit ayan, hepatitis, rematik. Selain itu meniran dapat mencegah berbagai macam infeksi virus dan bakteri serta mendorong sistem kekebalan tubuh. Hal ini dikarenakan terdapat kandungan flavonoid, alkaloid, tanin, dan vitamin C (Triarsari, 2009). Bawang putih mempunyai zat aktif yaitu alisin dan minyak atsiri yang diduga sebagai antibakteri untuk menekan bakteri yang merugikan, dengan demikian akan memberikan peluang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan di dalam saluran pencernaan secara optimum. Berdasarkan hasil penelitian Ayuningtyas (2009), ekstrak daun meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt dapat menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila pada ikan lele dumbo dengan metode injeksi. Dalam penerapan di lapangan, metode tersebut kurang efisien. Untuk itu diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan ekstrak daun meniran dan bawang putih sebagai bahan antibakteri yang diberikan dengan metode pencampuran lewat pakan.

1.2 Tujuan Penelitian ekstrak

campuran

pengendalian infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo.

ini

bertujuan

untuk

dan

menganalisis

bawang

efektivitas

dalam

penggunaan

untuk

daun

meniran

putih

pakan

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Lele Dumbo ( Clarias sp.) Ikan lele merupakan ikan yang hidup

2.1 Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) Ikan lele merupakan ikan yang hidup di perairan tawar. Klasifikasi ikan lele dumbo menurut Saanin (1989) adalah sebagai berikut

Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Subkelas

: Telestoi

Ordo

: Ostariophysi

Subordo

: Siluroidae

Famili

: Clariidae

Genus

: Clarias

Spesies

: Clarias sp.

Genus : Clarias Spesies : Clarias sp. Gambar 1. Ikan lele Clarias sp. Ikan lele hidup

Gambar 1. Ikan lele Clarias sp. Ikan lele hidup di perairan tawar dan tenang seperti danau, waduk, telaga, genangan-genangan kecil seperti kolam ikan. Ikan lele mempunyai organ insang tambahan yang memungkinkan ikan ini mengambil oksigen dari udara di luar air. Oleh karena itu, ikan lele dapat bertahan hidup di perairan yang mengandung sedikit oksigen. Ikan lele juga relatif tahan terhadap pencemaran bahan-bahan organik. Ikan lele hidup dengan baik di dataran rendah sampai daerah perbukitan yang tidak terlalu tinggi. Apabila suhu tempat hidupnya terlalu dingin, misalnya di bawah 20 o C, pertumbuhannya agak lambat. Pada ketinggian di atas 700 m seperti di daerah pegunungan, pertumbuhan ikan lele kurang begitu baik (Suyanto,

2006).

Menurut Khairuman dan Amri (2002), kualitas air yang dianggap baik untuk kehidupan lele adalah perairan dengan suhu 20-30°C, oksigen terlarut (DO) minimum 3 mg/l, derajat keasaman (pH) 6,5-8, kandungan karbondioksida (CO 2 ) kurang dari 15 ppm, NH 3 sebesar 0,05 mg/l, NO 2 sebesar 0,25 mg/l dan NO 3 sebesar 250 mg/l, serta konsumsi ammonia total maksimum 1 mg/l. Ikan lele bersifat nokturnal yaitu aktif pada malam hari atau lebih menyukai tempat yang gelap. Pada siang hari ikan lele lebih suka berdiam di dalam lubang-lubang atau tempat aliran air yang tenang. Oleh karena itu, ikan lele aktif mencari makan pada malam hari. Ikan lele bersifat karnivora (pemakan daging) ikan lele juga memakan sisa-sisa bahan organik yang membusuk dan kotoran manusia (Suyanto, 2006).

2.2 Bawang Putih (Allium sativum) Bawang putih (Allium sativum) adalah tanaman rempah yang berasal dari Asia Tengah, diantaranya Cina dan Jepang yang beriklim subtropis. Kemudian bawang putih menyebar ke seluruh Asia, Eropa, dan akhirnya ke seluruh dunia. Di Indonesia bawang putih masuk melalui jalur perdagangan internasional sejak berabad-abad lampau, dimulai dari daerah pesisir dan semakin lama meluas ke daerah pedalaman (Palungkun dan Budiarti, 1992). Di beberapa daerah di Indonesia, bawang putih dikenal dengan nama lasun (Aceh), dasun (Minangkabau), lasuna (Batak), bawang bodas (Sunda), bawang ksihong (Dayak) dan incuna (Nusa Tenggara). Menurut Tjitrosoepoemo (1994), klasifikasi bawang putih adalah sebagai berikut :

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Liliflorae

Famili

: Liliceae

Genus

: Allium

Spesies

: Allium sativum

Gambar 2. Bawang putih Allium sativum Bawang putih adalah tanaman berbentuk rumput, memiliki umbi berwarna
Gambar 2. Bawang putih Allium sativum Bawang putih adalah tanaman berbentuk rumput, memiliki umbi berwarna

Gambar 2. Bawang putih Allium sativum Bawang putih adalah tanaman berbentuk rumput, memiliki umbi berwarna putih yang aromanya sangat menyengat. Daunnya panjang berbentuk pipih (tidak berlubang). Helai daun seperti pita dan melipat kearah panjang dengan membuat sudut pada permukaan bawahnya. Kelopak daun kuat, tipis, dan membungkus kelopak daun yang lebih muda sehingga membentuk batang semua yang tersembul keluar. Bunganya hanya sebagian keluar atau sama sekali tidak keluar karena sudah gagal tumbuh pada waktu masih berupa tunas bunga (Palungkun dan Budiarti, 2001). Bawang putih termasuk tanaman rempah yang bernilai ekonomis tinggi karena memiliki beragam kegunaan. Bawang putih tidak hanya dimanfaatkan sebagai bumbu masak, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai tanaman apotek hidup. Secara tradisional, berbagai bangsa di dunia telah menggunakan bawang putih dalam beragam ramuan obat. Pemakaiannya sebagian besar masih bersifat empiris, artinya digunakan secara turun-temurun berdasarkan pengalaman belaka. Di zaman modern, khasiat bawang putih telah dibuktikan secara ilmiah. Khasiat bawang putih berhubungan erat dengan zat kimia yang dikandungnya. Zat-zat kimia tersebut sebagian besar masuk dalam golongan minyak atsiri. Menurut Surahman (1984), minyak atsiri adalah suatu zat yang mudah menguap pada suhu kamar sehingga disebut terpenoid essential oils. Minyak atsiri dapat digunakan sebagai pewangi, penyedap, antibakteri dan antijamur. Bawang putih mempunyai bau yang sangat tajam ketika dimemarkan atau dihancurkan akibat dari zat alisin, yang diduga juga sebagai antibakteri. Zat yang

terkandung dalam tanaman bawang putih utuh adalah zat aliin. Ketika bawang putih dihancurkan, zat aliin akan terpecah menjadi alisin, amonia, dan piruvat. Selain sebagai antibakteri, dapat juga meningkatkan pertumbuhan dengan cara menekan bakteri yang merugikan dan memberikan peluang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan di dalam saluran pencernaan secara optimum sehingga pemanfaatan makanan untuk pertumbuhan dapat maksimum (Bidura, 1999 dalam Sunanti, 2007). Allicin adalah salah satu zat aktif yang diduga dapat membunuh kuman- kuman penyakit (bersifat antibakteri). Allicin berperan ganda membunuh bakteri, yaitu bakteri Gram positif maupun Gram negatif karena mempunyai gugus amino para amino benzoat (Palungkun dan Budiarti, 2001). Menurut Barnes et al. (2002), hasil uji in vitro bawang putih terhadap beberapa bakteri yang sensitif telah menunjukkan hasil yang signifikan. Bakteri yang diujikan adalah Staphylococcus aureus, S. faecalis, Escherichia coli, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, Aeromonas, Vibrio cholerae dan Bacillus subtilis. Selain itu bawang putih juga mempunyai aktivitas sebagai anti fungi terhadap Microsporum, Epidermophyton, Trichophyton, Rhodotorula, Eryptococcus neoformans dan Candida. Allicin pertama kali ditemukan oleh C.V. Cacalito pada tahun 1944, zat ini berupa minyak tidak berwarna yang secara kimia tidak stabil dengan dayaguna antibiotik. Menurut Cavalito dalam Watanabe (2001), satu miligram allicin mempunyai suatu daya kemampuan sebanding dengan 15 unit standar penisilin. Allicin juga dapat bergabung dengan protein dan mengubah strukturnya agar protein tersebut mudah dicerna. Kemampuan allicin untuk bergabung dengan protein akan mendukung daya antibiotiknya, karena allicin menyerang protein mikroba dan akhirnya membunuh mikroba tersebut.

Tabel 1. Komposisi kimia bawang putih per 100 gram

Kandungan

Jumlah (gram)

Air

66,2-71 gram

Energi

95-122 kal

Protein

4,5-7 gram

Lemak

0,2-0,3 gram

Karbohidrat

23,1-24,6 gram

Ca

26-42 mg

P

15-109 mg

K

346 mg

Sumber : Palungkun dan Budiarti (2001)

Berikut ini adalah penelitian yang telah dilakukan untuk melihat efektifitas

bawang putih sebagai bahan antibakteri dan antivirus :

Tabel 2. Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk melihat efektifitas

bawang putih

 

Konsentrasi

No

bawang putih

(g/l)

Obyek

Metode

pemberian

Pustaka

1

300

ikan mas

penyuntikan

Puspitaningtyas

(2006)

2

6 dan 20

udang

perendaman

Agustian (2007)

 

vaname

3

25

ikan patin

penyuntikan

Normalina (2007)

4

20

ikan lele

penyuntikan

Ayuningtyas (2009)

5

20

Ikan lele

pakan (oral)

penelitian ini

2.3 Meniran Phyllanthus niruri Meniran merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropis yang

tumbuh liar. Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1990):

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Bangsa

: Geraniales

Suku

: Euphorbiaceae

Marga

: Phyllanthus

Jenis

: Phyllanthus niruri

Marga : Phyllanthus Jenis : Phyllanthus niruri Gambar 3. Meniran Phyllanthus niruri (inzet) Meniran dapat

Gambar 3. Meniran Phyllanthus niruri (inzet) Meniran dapat tumbuh di atas tanah berbatu, di lapangan rumput dengan ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. Tanaman ini berupa rumput- rumputan, tingginya 30-40 cm dan memiliki bunga jantan dan betina (Yuliani dan Hernani, 1988). Tanaman ini bercabang terpencar, cabang mempunyai daun tunggal yang berseling dan tumbuh mendatar dari batang pokok. Batangnya berwarna hijau, bentuk daunnya bulat telur sampai bundar memanjang, panjang daun 5 mm sampai 10 mm, lebar 2,5 mm sampai 5 mm. Meniran mempunyai akar tunggang. Meniran mempunyai bunga berwarna putih, tunggal dan menggantung dekat tangkai anak daun. Buah berbentuk bulat dengan diameter sekitar 2 mm sampai 2,5 mm, berwarna hijau keunguan dengan biji kecil, keras dan berwarna cokelat.

Meniran Phyllanthus niruri merupakan jenis tanaman obat yang dapat bermanfaat untuk menurunkan panas, obat batuk, radang, batu ginjal, susah buang air kecil, disentri, sakit ayan, hepatitis, rematik. Selain itu, meniran dapat mencegah berbagai macam infeksi virus dan bakteri serta mendorong sistem kekebalan tubuh. Hal ini dikarenakan terdapat kandungan flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan vitamin C (Triarsari, 2009). Flavonoid merupakan senyawa golongan polifenol yang larut dalam air. Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan hijau sehingga selalu ditemukan pada setiap ekstrak tumbuhan (Markham, 1988), misalnya terdapat pada bagian biji, kulit buah, daun dan daun bunga dari tanaman. Senyawa ini jarang ditemukan dalam bentuk tunggal pada tumbuhan melainkan dalam bentuk campuran. Senyawa fenol dari tumbuhan memiliki kemampuan untuk membentuk kompleks dengan protein melalui ikatan hidrogen, sehingga dapat merusak membran sel bakteri. Flavonoid bersifat antibakteri dan antioksidan serta mampu meningkatkan kerja sistem imun karena leukosit sebagai pemakan antigen lebih cepat dihasilkan dan sistem limfoid lebih cepat diaktifkan (Rahman, 2008). Alkaloid merupakan senyawa metabolit sekunder terbesar yang terdapat dalam tumbuhan terutama pada bagian biji, daun, ranting dan kulit kayu (Herwig, 1979 dalam Ayuningtyas, 2009). Alkaloid bersifat toksik terhadap mikroba, sehingga efektif membunuh bakteri dan virus (Naim, 2004), namun dapat beracun bagi ikan. Pada jumlah tertentu alkaloid tidak selalu beracun bagi ikan karena dapat bekerja secara sinergis dengan senyawa lainnya. Alkaloid dapat berfungsi sebagai antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif. Tannin merupakan senyawa polifenol yang dapat larut dalam air, gliserol, methanol, hidroalkoholik, propilena glikol tetapi tidak larut dalam benzene, kloroform eter, petroleum eter dan karbon disulfide (Harborne, 1987). Selanjutnya dinyatakan bahwa tannin mempunyai sifat fisika dan kimia antara lain rasanya sepat dan berfungsi sebagai antibakteri dan astringent atau menciutkan dinding usus yang rusak karena asam atau bakteri. Saponin merupakan senyawa yang diduga sebagai senyawa antibakteri karena memiliki kemampuan dalam menghambat fungsi membran sel sehingga

merusak permeabilitas membran yang mengakibatkan dinding sel rusak atau hancur. Keberadaan saponin dalam tumbuhan dapat juga dimanfaatkan sebagai obat bagi manusia. Menurut Mela (2007), hampir semua bagian dari tanaman meniran berkhasit obat. Hasil penelitian menyebutkan bahwa meniran memiliki aktivitas imunomodulator yang berperan membuat sistem imun lebih aktif dalam menjalankan fungsinya, menguatkan sistem imun tubuh (imunostimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang berlebihan (imunosupresan). Dengan demikian, kekebalan atau daya tahan tubuh selalu optimal sehingga tetap sehat ketika diserang virus, bakteri, dan mikroba lainnya. Kandungan kimia yang bermanfaat dari meniran adalah flavonoid. Pada tanaman lainnya kandungan flavonoid sebenarnya juga ada, bedanya pada meniranaktivitas peningkatan sistem imunnya ternyata lebih baik. Sebagai imunomodulator, meniran tidak semata-mata berefek meningkatkan sistem imun, namun juga menekan sistem imun apabila aktivitasnya berlebihan. Jika aktivitas sistem imun berkurang, maka kandungan flavonoid dalam meniran akan mengirimkan sinyal intraseluler pada reseptor sel untuk meningkatkan aktivitasnya. Sebaliknya, jika sistem imun kerjanya berlebihan, maka meniran berkhasiat dalam mengurangi kerja sistem imun tersebut. Jadi, meniran berfungsi sebagai penyeimbang sistem imun. Menurut Suprapto (2006), flavonoid pada meniran banyak ditemukan di bagian akar dan daun. Flavonoid pada meniran menempel pada sel imun dan memberikan sinyal intraseluler atau rangsangan untuk mengaktifkan kerja sel imun lebih baik. Selain itu, meniran berfungsi juga sebagai senyawa antioksidan yang mampu merangsang kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh pihak BBAT (Balai Budidaya Air Tawar) Sukabumi, dengan pemberian ekstrak meniran 10 g/kg pakan terhadap ikan mas yang diinfeksi virus KHV dapat meningkatkan kelangsungan hidup. Hal ini disebabkan adanya peningkatan daya tahan tubuh ikan mas yang ditandai meningkatnya jumlah leukosit yang berfungsi sebagai pertahanan non spesifik (Ciptoroso et al., 2006). Penelitian Ayuningtyas (2009) juga diketahui bahwa ekstrak meniran 5 ppt mampu mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dengan metode penyuntikan.

2.4 Bakteri Aeromonas hydrophila Bakteri Aeromonas hydrophila merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang pendek dengan ukuran 1,0-1,5 x 0,7-0,8 µm. Tumbuh baik pada perairan yang mengandung bahan organik tinggi. A. hydrophila tumbuh optimum pada suhu 20-30 o C (Kabata, 1985). Berdasarkan Austin dan Austin (1986), bakteri ini mampu tumbuh pada suhu 37 o C. Selain itu bakteri ini juga bersifat fakultatif aerobik (dapat hidup dengan atau tanpa oksigen) yang mengubah karbohidrat menjadi asam dan gas, tidak berspora, oksidatif fermentatif (mampu memanfaatkan karbohidrat atau glukosa, bersifat motil (bergerak aktif) karena memiliki flagel (Monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya, koloni bakteri ini pada media agar berwarna putih kekuningan, bentuk bulat cembung, oksidase sitokrom dan reaksi katalase positif (Skinner dan Carr, 1976). Bakteri ini senang hidup di lingkungan perairan bersuhu 15-30 o C dan pH antara 5,5-9 (Ghufran dan Kordi, 2004). Pada beberapa kasus, kematian ikan akibat infeksi A. hydrophila tidak ditandai dengan kerusakan pada organ eksternal. Kerusakan dapat terjadi sebagai akibat infeksi lokal pada tempat luka atau penempelan oleh parasit. Infeksi A. hydrophila dapat merupakan asosiasi dengan parasit, luka atau patogen lain. Akibatnya seperti dikemukakan oleh Austin dan Austin (1986), bahwa bakteri ini akan semakin patogen dan membahayakan sistem kekebalan ikan budidaya. A. hydrophila merupakan bakteri penyebab penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicemia) (Irianto, 2005). Menurut Amlachler (1961) dalam Sniezko dan Axelrod (1971), serangan bakteri ini dapat terjadi dalam empat tingkat berbeda, sebagai berikut :

1. Laten, tidak memperlihatkan gejala penyakit, namun pada organ dalam terdapat

bakteri penyebab penyakit. 2. Kronis, terlihat gejala tukak, bisul-bisul, dan abses yang perkembangannya

berlangsung lama.

3. Sub akut, terlihat gejala dropsi, lepuh, dan pendarahan pada sisik.

4. Akut, merupakan septisemia yang fatal, infeksi cepat dengan akibat tanda-tanda penyakit yang terlihat.

Ikan yang terinfeksi A. hydrophila memperlihatkan tanda-tanda berupa tingkah laku ikan tidak normal, berenang lambat, megap-megap di permukaan air, dan nafsu makan menurun. Tanda lainnya seperti sirip rusak, kulit kering dan kasar, lesi kulit yang berkembang menjadi tukak, dan mata menonjol (exophthalmus), serta terkadang perut menggembung berisi cairan kemerahan. Penyakit ini bersifat musiman dan meningkat selama musim panas serta berhubungan dengan populasi ikan yang mengalami stres (Kabata, 1985). Kelainan klinis berupa hiperemia merupakan bentuk perlawanan terhadap adanya bakteri patogen sehingga terjadi mobilisasi sel darah putih. Sel darah putih tersebut berfungsi sebagai imun pertahanan non spesifik yang akan melokalisasi dan mengeliminasi patogen dengan cara fagositosis (Anderson, 1974). Menurut Suzuki dan Lida (1992) dalam Darmanto (2003), hiperemia akan diikuti oleh reaksi peradangan yaitu berupa tanda kemerahan di daerah sekitar luka yang merupakan reaksi mempertahankan diri pada daerah infeksi atau luka. Menurut Oliver et al. (1981) dalam Riyanto (1993), patogen A. hydrophila mendegradasi jaringan organ tubuh serta mengeluarkan toksik yang disebarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah sehingga menimbulkan warna kemerahan pada tubuh ikan. Reaksi radang merupakan reaksi mencegah masuknya mikroorganisme di sekitar tempat infeksi. Peradangan terjadi di daerah sekitar masuknya patogen. Hal ini dikarenakan komponen yang lain berperan dalam proses pertahanan seluler seperti leukosit akan memfagositosis patogen tersebut (Anderson, 1974). Reaksi peradangan meliputi tiga tahap, yaitu : (1) terjadinya peningkatan suplai darah ke daerah sekitar luka atau infeksi; (2) bertambahnya sifat permeabilitas pipa kapiler darah; (3) terjadinya proses migrasi leukosit yang keluar dari kapiler dan masuk ke dalam jaringan secara merata. Bakteri A. hydrophila menghasilkan enzim dan toksin yang dikenal dengan ekstraseluler atau ECP (Extra Celluler Product) yang mengandung sedikitnya aktivitas hemolisis dan protease yang merupakan penyebab patogenisitas pada ikan (Angka, 1997 dalam Angka, 2005). Apabila disuntikkan ke tubuh ikan, produk ekstraseluler ini dapat menimbulkan kematian dan perubahan jaringan. Selain menghasilkan eksotoksin, bakteri A. hydrophila juga memproduksi endotoksin yang terdiri dari protein, lipid dan polisakarida. Endotoksin ini juga

berperan salam penentuan tingkat patogenitas bakteri (Brenden dan Huizinga, 1986 dalam Riyanto, 1993). Karakteristik bakteri A. hydrophila di perairan sangat beragam yang disebabkan oleh perbedaan produksi endotoksin dan eksotoksin yang tidak sama untuk setiap galurnya (Angka, 2005). Munro (1992) dalam Hanafi (2006) mengatakan bahwa endotoksin atau lipopolisakarida (LPS) dari bakteri Gram negatif adalah toksik karena dapat menginduksi berbagai kondisi patologi, termasuk shock, hemoragik, fever, dan kematian.

2.5 Bahan Antibakteri Bahan antibakteri adalah suatu senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan ataupun membunuh bakteri. Kualitas atau kemampuan daya antibakterial ini ditentukan oleh aktivitas dan spektrum zat tersebut terhadap bakteri (Agustian, 2007). Antibiotik yang bisa digunakan dengan baik, adalah antibiotik yang memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Sifat toksisitas selektif artinya zat antibakteri tersebut harus toksik untuk bakteri tetapi tidak toksik untuk inang (host). Bila ada zat antibakteri yang sangat toksik untuk bakteri tetapi membahayakan untuk inang bukan kriteria antibakteri yang baik, bahkan dianggap beracun. Karena dasar pengobatan terhadap suatu penyakit adalah usaha untuk menyembuhkan penyakit tersebut tanpa mengakibatkan adanya bahaya ataupun adanya efek samping yang merugikan pengguna suatu obat-obatan. Kemampuan suatu zat antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain (1) Konsentrasi zat antibakteri, (2) Waktu kontak dengan zat antibakteri, (3) Suhu lingkungan, (4) Sifat-sifat bakteri (jenis, umur, konsentrasi, dan keadaan bakteri), (5) Sifat-sifat fisik dan kimia makanan termasuk kadar air, pH, dan jenis senyawa di dalamnya (Davidson and Branen, 1993 dalam Agustian, 2007). Zat antibakteri yang terdapat dalam tanaman khususnya rempah-rempah juga dapat dimanfaatkan untuk menghambat pertumbuhan jasad renik. Rempah- rempah memiliki kemampuan untuk mensintesis komponen aroma seperti phenol dan turunannya yang selain berfungsi sebagai pembentuk aroma juga mampu digunakan sebagai penghambat mikroorganisme, serangga, dan tanaman lain

(Cowan, 1985). Salah satu jenis rempah-rempah yang telah diketahui mengandung zat antibakteri adalah bawang putih.

2.6 Kualitas Air Kualitas air merupakan faktor penting untuk mendukung kehidupan ikan. Kualitas air yang kurang baik dapat menyebabkan ikan mudah terserang penyakit. Suhu dapat diartikan sebagai derajat panas suatu perairan. Suhu sangat berpengaruh terhadap organisme di perairan dengan perannya sebagai controlling faktor bagi perairan. Suhu sangat berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Suhu juga mempengaruhi kelarutan oksigen dalam perairan. Ikan tropis tumbuh dengan baik pada suhu air antar 25-32 o C (Boyd, 1982). Suhu air media pemeliharaan yang optimal berada dalam kisaran 28-30 o C. Menurut Taufik (1984) dalam Ayuningtyas (2009), pada temperatur yang tinggi, bakteri A. hydrophila dan Pseudomonas fluorescens akan lebih menyerang ikan, karena temperatur ini ikan mengalami stres sehingga daya tahan tubuhnya akan menurun. Oksigen terlarut merupakan faktor yang dibutuhkan oleh ikan. Kandungan oksigen terlarut kurang dari 1 mg/l akan mematikan ikan dan pada kandungan antara 1-5 mg/l cukup mendukung kehidupan ikan. Kandungan oksigen lebih dari 5 mg/l merupakan kandungan yang menyebabkan pertumbuhan normal ikan (Boyd, 1982). Bakteri A. hydrophila, A. salmonicida, dan P. fluorescens dapat menyerang ikan dengan kondisi air dengan kadar oksigen terlarut rendah (Taufik, 1984 dalam Ayuningtyas, 2009). Power of Hidrogen (pH) didefinisikan sebagai logaritma negatif dari aktivitas ion hidrogen (Dewi, 2007). Beberapa faktor yang mempengaruhi pH di perairan yaitu aktivitas fotosintesis, suhu, dan terdapatnya anion dan kation (Safitri, 2007). Efek pH terhadap organisme budidaya (Boyd, 1982) dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Efek pH terhadap organisme budidaya

pH

Efek Terhadap Organisme

<4

Mati

5

tidak bereproduksi, pertumbuhan terhambat

6

pertumbuhan terhambat

7

pertumbuhan baik

8

pertumbuhan baik

9

pertumbuhan terhambat tidak bereproduksi, pertumbuhan terhambat Mati

10

>11

Sumber : Boyd (1982)

Perairan kolam yang produktif dan ideal bagi kehidupan ikan dan

organisme lain adalah perairan dengan pH 6,5-9 (Boyd, 1982). Pada pH antara 4-

6,5 dan pH antara 9-11 pertumbuhan ikan akan lambat. Kematian ikan akan

terjadi umumnya ketika perairan berubah menjadi sangat asam (pH < 4) atau

menjadi sangat basa (pH < 11). Menurut Boyd (1982), kisaran pH 6,5-9,0

merupakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan ikan.

Menurut Boyd (1982), zat beracun yang berbahaya bagi kehidupan ikan

lele adalah amonia. Amonia yang tinggi akan meningkatkan konsumsi oksigen

pada jaringan dan menyebabkan kerusakan pada insang serta mengurangi

kemampuan darah dalam mentransportasi oksigen. Amonia merupakan racun bagi

ikan. Konsentrasi amonia yang ideal dalam air bagi kehidupan ikan tidak boleh

melebihi 1 ppm, karena jika konsentrasinya berlebih akan menghambat daya serap

hemoglobin dalam darah. Batas konsentrasi kandungan amonia yang dapat

mematikan kehidupan ikan lele adalah antara 0,1-0,3 mg/liter air.

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret Agustus 2009. Tempat penelitian di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini, meliputi akuarium sebanyak 12 buah, peralatan aerasi, seser, kain lap, syringe, termometer, pH-meter, spektrofometer, erlenmeyer, eppendorf, cawan petri, pipet volumetrik, mikropipet, tabung reaksi, jarum ose, batang penyebar, penangas air, water shaker, sentrifus, kertas saring Whatman No. 42, alat bedah, mikroskop, inkubator, bunsen dan autoklaf. Bahan yang digunakan adalah ikan lele dengan ukuran panjang 11-13 cm, pelet, putih telur, isolat bakteri Aeromonas hydrophila, ekstrak bawang putih Allium sativum, ekstrak daun meniran Phyllanthus niruri, TSA (Tripticase Soy Agar), LB (Luria Bertani),

larutan PBS (Phosphat Buffer Saline) steril dan akuades.

3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Penyediaan Bakteri Uji

Bakteri uji yang digunakan adalah Aeromonas hydrophila. Bakteri tersebut disuntikkan secara intramuskuler pada tiga ekor ikan lele untuk menguji virulensinya. Setelah itu dilakukan reisolasi bakteri dengan menggoreskan jarum ose ke bagian ginjal kemudian dibiakkan di media TSA dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu kamar. Koloni bakteri tunggal yang tumbuh, diisolasi di media TSA dengan teknik empat kuadran kemudian diinkubasi selama 24 jam. Untuk mendapatkan biakan murni maka setiap koloni bakteri yang tumbuh terpisah dan berlainan morfologinya diisolasi kembali ke dalam media TSA miring dan diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam. Karakterisasi yang dilakukan meliputi pengamatan morfologi koloni secara visual, meliputi warna, elevasi dan tepian sel. Uji yang dilakukan meliputi pewarnaan Gram, uji motilitas, uji oksidase dan fermentase, uji katalase, uji oksidase dan uji gelatinase. Identifikasi yang digunakan berdasarkan Bergey’s Mannual of Determination Bacteriology (Holt et al., 1998 dalam Ayuningtyas, 2008).

digunakan berdasarkan Bergey’s Mannual of Determination Bacteriology (Holt et al ., 1998 dalam Ayuningtyas, 2008).

3.3.2

Regenerasi Bakteri Uji

Bakteri yang diuji diregenerasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Bakteri stok dari kultur primer dibiakkan dalam agar miring yaitu sebanyak satu ose digoreskan ke agar miring dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 27 o C. Sebanyak satu ose bakteri diambil dari biakan terbaru berumur 24-48 jam dan diinokulasikan ke dalam Erlenmeyer yang berisi 25 ml media LB, kemudian diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 27 o C pada water shaker.

3.3.3 Uji LD 50

Penentuan tingkat virulensi bakteri dilakukan dengan menghitung nilai LD 50 nya. Hal ini penting untuk mengetahui konsentrasi bakteri yang digunakan. Untuk uji LD 50 digunakan akuarium yang disusun untuk empat perlakuan. Masing-masing dengan kepadatan 10 5 sampai 10 9 cfu/ml secara intramuskuler sebanyak 0,1 ml/ekor pada seluruh ikan sesuai dengan label kepadatan bekteri pada setiap akuarium. Pengamatan dilakukan dengan label mengamati jumlah ikan yang masih hidup dan mati sampai hari ke tujuh. Kemudian dilakukan perhitungan untuk mengetahui nilai LD 50 yaitu konsentrasi pada saat

ikan mati sebanyak 50% dari populasi pada batas waktu tertentu.

3.3.4

Penyediaan Bahan dan Ekstrak Proses penyediaan daun meniran adalah sebagai berikut :

Daun meniran dibersihkan dari kotoran

sebagai berikut : Daun meniran dibersihkan dari kotoran Daun meniran dikeringkan di udara terbuka tanpa terkena

Daun meniran dikeringkan di udara terbuka tanpa terkena sinar matahari (Harbone, 1987 dalam Ayuningtyas, 2008).

sinar matahari (Harbone, 1987 dalam Ayuningtyas, 2008). Daun meniran diblender Diayak dengan saringan halus Bubuk

Daun meniran diblender

1987 dalam Ayuningtyas, 2008). Daun meniran diblender Diayak dengan saringan halus Bubuk daun meniran Sedangkan

Diayak dengan saringan halus

2008). Daun meniran diblender Diayak dengan saringan halus Bubuk daun meniran Sedangkan untuk bawang putih adalah

Bubuk daun meniran

Sedangkan untuk bawang putih adalah sebagai berikut :

Bawang putih dibersihkan dari kulitnya

sebagai berikut : Bawang putih dibersihkan dari kulitnya Bawang putih diiris tipis Bawang putih dikeringkan di

Bawang putih diiris tipis

putih dibersihkan dari kulitnya Bawang putih diiris tipis Bawang putih dikeringkan di udara terbuka tanpa terkena

Bawang putih dikeringkan di udara terbuka tanpa terkena sinar matahari (± 3 hari)

di udara terbuka tanpa terkena sinar matahari (± 3 hari) Bawang putih dioven (suhu 60 o

Bawang putih dioven (suhu 60 o C, ± 1 jam)

(± 3 hari) Bawang putih dioven (suhu 60 o C, ± 1 jam) Bawang putih diblender

Bawang putih diblender

dioven (suhu 60 o C, ± 1 jam) Bawang putih diblender Diayak dengan saringan halus Bubuk

Diayak dengan saringan halus

1 jam) Bawang putih diblender Diayak dengan saringan halus Bubuk bawang putih Berdasarkan penelitian Ayuningtyas

Bubuk bawang putih

Berdasarkan penelitian Ayuningtyas (2008), dosis daun meniran yang efektif untuk pencegahan adalah 5 ppt dan untuk pengobatan adalah 10 ppt. Cara pembuatannya yaitu sebagai berikut, untuk pencegahan bubuk daun meniran sebanyak 50 g dilarutkan dengan akuades steril sebanyak 10 ml, sehingga didapatkan konsentrasi 5 mg/ml sedangkan untuk pengobatan bubuk daun meniran sebanyak 100 mg dilarutkan dengan akuades steril sebanyak 10 ml, sehingga didapatkan konsentrasi 10 mg/ml. Campuran antara bubuk

meniran dan akuades tersebut direbus pada suhu 90 o C selama 30 menit (Sopiana, 2005). Ekstrak tersebut kemudian divortex supaya homogen dan disaring dengan kertas Whatmann. Dosis bawang putih yang efektif untuk pencegahan adalah 20 ppt dan untuk pengobatan adalah 40 ppt. Cara pembuatan larutan, untuk pencegahan adalah dengan melarutkan bubuk bawang putih sebanyak 200 mg kedalam akuades steril sebanyak 10 ml, sehingga didapatkan konsentrasi 20 mg/ml sedangkan untuk pengobatan adalah dengan melarutkan bubuk bawang putih sebanyak 400 mg kedalam akuades steril sebanyak 10 ml, sehingga didapatkan konsentrasi 40 mg/ml. Ekstrak tersebut kemudian divortex supaya homogen disaring dengan kertas Whatman.

3.3.5 Persiapan Wadah dan Ikan Uji

Akuarium dicuci dengan sabun dan dibilas serta diisi air. Kemudian dimasukkan larutan klorin 100 ppm ke dalam akuarium dan diaerasi kuat selama 24 jam. Setelah itu dibilas lagi dengan air. Akuarium dilengkapi dengan penutup yang terbuat dari kain kasa agar ikan tidak melompat ke luar serta ditutup dengan plastik hitam di sekeliling akuarium agar ikan tidak stres. Tiap akuarium diisi 6 ekor ikan uji. Ikan uji yang akan digunakan memiliki panjang 11-13 cm. Mula-mula ikan direndam dengan konsentrasi 30 ppm larutan garam selama 5 menit untuk menghilangkan ektoparasit. Setelah itu ikan diaklimatisasi terlebih dahulu agar ikan terbiasa hidup dalam akuarium uji selama 3 hari dengan pemberian pakan berupa pelet apung berkadar protein 28%. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 3% dari berat badan ikan per hari dengan frekuensi pemberian 2x sehari pada pagi dan sore hari.

3.3.6 Penyediaan Pelet Uji

Pelet yang diberikan ditimbang terlebih dahulu sesuai dengan biomassa masing- masing ikan yang berada dalam akuarium. FR yang digunakan adalah 3% dari biomassa. Rumus yang digunakan :

Keterangan :

Biomassa = Nt

Jumlah pakan = FR

Biomassa Wt

: Keterangan : Biomassa = Nt Jumlah pakan = FR Biomassa Wt Nt = Jumlah ikan
: Keterangan : Biomassa = Nt Jumlah pakan = FR Biomassa Wt Nt = Jumlah ikan

Nt = Jumlah ikan (ekor)

Wt = Berat rata-rata (gram) Jumlah ekstrak yang diberikan, yaitu meniran : bawang putih = 1 : 2, sedangkan jumlah ekstrak daun meniran dan bawang putih yang dicampur ke pakan adalah 0,1 ml/g

pakan. Setelah ekstrak tercampur dengan pakan, pelet dibalut dengan putih telur sebagai perekat, kemudian diangin-anginkan sebelum diberikan ke ikan.

3.3.7 Uji In Vivo

Pengujian in vivo dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak meniran dan bawang putih lewat pakan terhadap respon kekebalan tubuh ikan lele setelah diinfeksi A. hydrophila. Dari uji ini dapat dilihat potensi meniran dan bawang putih

sebagai imunostimulan. Perlakuan yang diberikan berupa :

1. Kontrol negatif : disuntik dengan PBS pada hari ke-8

2. Kontrol positif : disuntik bakteri A. hydrophila sebanyak 0,1 ml/ekor pada hari ke-8

3. Perlakuan pencegahan : diberikan pakan uji seminggu sebelum disuntik bakteri A. hydrophila sebanyak 0,1 ml/ekor pada hari ke-8

4. Perlakuan pengobatan : disuntik bakteri A. hydrophila sebanyak 0,1 ml/ekor

pada hari ke-8, diberikan pakan uji pada hari ke-10 sampai hari ke-17 Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak empat kali ulangan dan diamati selama 9 hari setelah uji tantang dengan parameter yang diamati meliputi respon makan ikan, pertambahan bobot, kematian ikan uji, gejala klinis dan pengamatan organ dalam.

Pemberian pakan uji Injeksi A. hydrophila Pencegahan 0 8 17 Injeksi A. hydrophila Pemberian pakan
Pemberian pakan uji
Injeksi A. hydrophila
Pencegahan
0
8
17
Injeksi A. hydrophila
Pemberian pakan uji
Pengobatan
0
8
10
17
Injeksi A. hydrophila
Kontrol Positif
0
8
17
Injeksi PBS
Kontrol Negatif
0
8
17

Gambar 4. Skema metode penelitian (uji in vivo)

3.4 Parameter Yang Diamati

3.4.1 Respon Makan Ikan

Pengamatan respon makan ikan dilakukan setiap hari selama 16 hari dimulai pada saat ikan diberi perlakuan sampai hari ke-16 setelah infeksi dengan melihat reaksi ikan uji pada saat diberi makan dan sisa pakan yang tersisa.

3.4.2 Pertambahan Bobot Tubuh

Pengukuran bobot rata-rata dilakukan pada awal, tengah dan akhir perlakuan dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0,001. Ikan pada masing- masing akuarium ditimbang biomassanya, kemudian dihitung nilai rataan bobot setiap

perlakuan dan pertambahan bobotnya.

Pertambahan bobot ikan dihitung dengan rumus (Zonneveld et al., 1991 dalam

Ayuningtyas, 2008):

Pertambahan bobot (%) =

Wt

1991 dalam Ayuningtyas, 2008): Pertambahan bobot (%) = W t W o x 100% Wo Keterangan

Wo x 100%

Wo

Keterangan : Wt = bobot rata-rata akhir (gram)

Wo = bobot rata-rata awal (gram)

3.4.3 Kematian Ikan

Pengamatan terhadap kematian ikan dilakukan setiap hari hingga akhir perlakuan

setelah penginfeksian dengan bakteri A. hydrophila. Tingkat kematian ikan uji dihitung

dengan rumus (Effendi, 1979 dalam Ayuningtyas, 2008 ) :

Mortalitas (%) = Jumlah ikan yang mati (ekor) x 100% Jumlah populasi (ekor)

3.4.4 Gejala Klinis dan Pengukuran Diameter Klinis

Pengamatan terhadap gejala klinis dilakukan setiap hari setelah ikan diinfeksi

dengan bakteri A. hydrophila. Pengukuran diameter klinis dilakukan dengan mengukur

luas kelainan klinis dengan menggunakan penggaris, kemudian data yang telah diperoleh

diberi skor.

Nilai skor kelainan yang menunjukkan tingkat keparahan infeksi dilakukan dengan

ketentuan seperti tertera pada Tabel 4.

Tabel 4. Perhitungan skor kelainan klinis

Gejala klinis

Kisaran diameter

Kategori

Skor

 

0,1 - 0,4 cm 1,5 - 2,4 cm 2,5 - 3,4 cm 3,5 - 4,4 cm

R1

1 x 1 = 1 2 x 1 = 2 3 x 1 = 3 4 x 1 = 4

R2

Radang = 1

R3

R4

 

0,1 - 0,4 cm 1,5 - 2,4 cm 2,5 - 3,4 cm

HE1

1 x 2 = 2 2 x 2 = 4 3 x 2 = 6 4 x 2 = 8

HE2

Hemoragi = 2

HE3

3,5 - 4,4 cm

HE4

 

0,1 - 0,4 cm 1,5 - 2,4 cm 2,5 - 3,4 cm

T1

1 x 3 = 3 2 x 3 = 6 3 x 3 = 9 4 x 3 = 12

T2

Tukak = 3

T3

3,5 - 4,4 cm

T4

Sembuh = 0

-

SM

0

Normal = 0

-

N

0

Mati = 4

-

M

4

Sumber : Sopiana (2005)

3.4.5

Pengamatan Organ Dalam

Pada akhir perlakuan dilakukan pengamatan organ dalam yang bertujuan untuk mengetahui kelainan yang terjadi dengan cara membandingkan perubahan morfologi dan warna organ dalam ikan perlakuan pencegahan, pengobatan dan kontrol positif dengan perlakuan kontrol negatif. Satu ekor ikan uji diambil secara acak dari setiap perlakuan kemudian dibedah dan diamati organ dalamnya.

3.4.6 Kualitas Air

Parameter kualitas air yang akan diamati meliput pengukuran suhu, pH, DO (oksigen terlarut) dan TAN (total ammonium nitrogen). Pengukuran parameter kualitas air dilakukan pada awal dan akhir penelitian.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Identifikasi Bakteri Uji

Hasil pengujian bakteri A. hydrophila asal laboratorium kesehatan menunjukkan bahwa bakteri tersebut virulen karena ikan uji mengalami gejala kelainan klinis yaitu radang sampai tukak. Hasil uji biokimia bakteri uji maupun bakteri reisolasi menunjukkan bahwa bakteri tersebut adalah bakteri A. hydrophila (Tabel 5) (Aoki, 1999). Tabel 5. Hasil identifikasi bakteri A. hydrophila

Isolat

Morfologi koloni

 

Uji biokimia

warna

elevasi

tepian

Gram

motilitas

O/F

katalase

oksidase

Gelatinase

Murni

krem

cembung

halus

-

+

F

+

+

+

reisolasi

krem

cembung

halus

-

+

F

+

+

+

4.1.2 Uji LD50

Hasil pengujian LD50 pada bakteri A. hydrophila yang disuntikkan ke ikan lele dumbo didapatkan konsentrasi bakteri sebanyak 10 8 cfu/ml (Lampiran 2).

Konsentrasi tersebut dapat menyebabkan kematian populasi ikan lele dumbo sebanyak 50% dalam waktu 7 hari.

4.1.3 Uji In Vivo

4.1.3.1 Respon Makan Ikan Uji Berdasarkan pengujian, didapatkan hasil bahwa ikan uji pada 7 hari sebelum penyuntikan memiliki respon makan yang sangat baik untuk semua kontrol (kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan pencegahan maupun perlakuan pengobatan). Namun setelah ikan disuntik dengan bakteri maupun PBS pada hari ke-8, tidak menunjukkan adanya nafsu makan. Hal ini dikarenakan ikan mengalami stres akibat penyuntikan. Keadaan tersebut tidak berlangsung lama, keesokan harinya (hari ke-9) ikan uji mulai mengalami peningkatan nafsu makan, walaupun hanya sedikit dan tidak pada semua ikan uji. Respon makan berangsur baik sampai pada akhir perlakuan.

Pada kontrol negatif, nafsu makan ikan sangat baik sampai akhir perlakuan. Hanya saja pada saat setelah disuntik PBS, ikan tidak menunjukkan respon makan sama sekali. Namun pada keesokan harinya (hari ke-9) sampai pada akhir perlakuan, respon ikan kembali normal. Pada perlakuan kontrol positif, ikan tidak menunjukkan nafsu makan setelah disuntik dengan bakteri A. hydrophila. Pada hari ke-9 paska penginfeksian, ikan uji tetap masih tidak menunjukkan respon makan. Kemudian pada hari ke-10 sampai hari ke-13, baru menunjukkan adanya respon makan namun hanya sedikit. Pada hari ke-14 sampai akhir perlakuan, nafsu makan ikan berangsur-angsur baik. Pada perlakuan pencegahan, ikan uji juga tidak menunjukkan respon makan setelah disuntik (hari ke-8). Pada hari ke-9, ikan mulai menunjukkan respon makan namun hanya sedikit dan berlangsung sampai hari ke-10. Pada hari ke-11, respon makan mulai membaik. Respon makan mengalami peningkatan menjadi sangat baik pada hari ke-12 sampai akhir perlakuan. Pada perlakuan pengobatan, ikan uji terlihat tidak nafsu makan pada hari ke- 8 setelah penyuntikan. Pada hari ke-9, ikan mulai ada nafsu makan namun hanya sedikit sampai hari ke-11. Pada hari ke-12 sampai akhir perlakuan, nafsu makan ikan sangat baik.

hari ke-12 sampai akhir perlakuan, nafsu makan ikan sangat baik. Gambar 5. Respon makan ikan lele

Gambar 5. Respon makan ikan lele dumbo selama perlakuan

4.1.3.2 Pertambahan Bobot Ikan Uji

Pertambahan bobot ikan uji dapat dilihat pada Gambar 6. Dapat dilihat pada

gambar tersebut, bahwa semua perlakuan (kontrol negatif, kontrol positif,

perlakuan pencegahan, perlakuan pengobatan) rata-rata mengalami peningkatan

bobot tubuh sampai pada tengah perlakuan (hari ke-8).

Pada perlakuan kontrol negatif, rata-rata bobot tubuh mengalami

peningkatan paling tinggi yaitu sebesar 12,69 ± 0,87% dari rata-rata pada awal

perlakuan sebesar 10,60 ± 0,59 gram. Sedangkan peningkatan dari awal perlakuan

sampai tengah perlakuan sebesar 5,93 ± 0,24%.

perlakuan sampai tengah perlakuan sebesar 5,93 ± 0,24%. Gambar 6. Pertambahan bobot rata-rata ikan lele dumbo

Gambar 6. Pertambahan bobot rata-rata ikan lele dumbo Clarias sp. (%) selama perlakuan

Pada perlakuan kontrol positif, rata-rata bobot tubuh mengalami

peningkatan sampai pada tengah perlakuan saja, yaitu sebesar 5,20 ± 0,64% dari

bobot awalnya adalah 10,42 ± 0,67 gram. Setelah diinfeksi dengan bakteri A.

hydrophila (hari ke-8), ikan mengalami penurunan bobot tubuh sampai akhir

perlakuan. Rata-rata bobot tubuh menurun sebesar 1,87 ± 0,58%, dari bobot rata-

rata sebelum penginfeksian yaitu sebesar 10,97 ± 0,15 gram.

Pada perlakuan pencegahan, bobot rata-rata ikan uji pada awal perlakuan

yaitu 10,64 ± 0,51 gram dan ikan uji mengalami peningkatan bobot rata-rata

sebesar 2,49 ± 0,34% sampai pada tengah perlakuan (hari ke-8). Setelah

penginfeksian bakteri A. hydrophila, rata-rata bobot tubuh ikan mengalami

peningkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya yaitu sebesar 7,30 ± 1,00%. Ikan

perlakuan pencegahan mengalami peningkatan rata-rata bobot tubuh tertinggi

kedua setelah perlakuan kontrol negatif.

Pada perlakuan pengobatan, ikan uji mengalami pertambahan bobot

sebesar 4,58 ± 0,67%. Bobot rata-rata pada awal perlakuan adalah 9,92 ± 0,86

gram dan pada akhir perlakuan sebesar 10,54 ± 1,51 gram. Pertambahan bobot

rata-rata sampai pada akhir perlakuan adalah sebesar 6,23 ± 1,81%. Pada

perlakuan pencegahan dan pengobatan menunjukkan hasil bahwa ikan uji

mengalami pertambahan bobot rata-rata walaupun telah diinfeksi dengan bakteri

A. hydrophila. Hal ini membuktikan bahwa pemberian campuran ekstrak meniran

dan bawang putih dalam pakan dapat meningkatkan nafsu makan ikan uji.

4.1.3.3 Mortalitas Ikan Uji

nafsu makan ikan uji. 4.1.3.3 Mortalitas Ikan Uji Gambar 7. Akumulasi penginfeksian bakteri A. hydrophila

Gambar 7.

Akumulasi

penginfeksian bakteri A. hydrophila selama perlakuan

mortalitas

ikan lele dumbo

Clarias

sp. (%) setelah

Gambar 7 menunjukkan hasil perhitungan mortalitas harian ikan uji pada

perlakuan kontrol negatif, kontrol positif, pencegahan dan pengobatan. Pada

kontrol negatif, tidak ditemukan adanya ikan uji yang mati selama perlakuan,

sehingga mortalitasnya 00,00 ± 0,00%. Akumulasi mortalitas rata-rata tertinggi

terdapat pada kontrol positif yaitu sebesar 66,67 ± 23,57% dan paling rendah

adalah perlakuan pencegahan yaitu sebesar 41,67 ± 21,52%. Mortalitas harian

tertinggi rata-rata terjadi pada hari ke-11 setelah penginfeksian bakteri. Pada

kontrol positif kematian tertinggi terjadi pada hari ke-10 dan 11 yaitu sebesar

12,50%. Pada perlakuan pencegahan dan pengobatan, kematian rata-rata tertinggi

terjadi pada hari ke-11 dan hari ke-9 yaitu sebesar 16,67% dan 20,83%. Ikan uji

pada perlakuan pencegahan memiliki angka kematian yang paling rendah dan

berbeda nyata jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol positif.

4.1.3.4 Gejala Klinis Ikan Uji

Pada perlakuan kontrol negatif, ikan uji tidak menunjukkan adanya kelainan

klinis atau kematian sampai akhir perlakuan (hari ke-17) setelah dilakukan

penyuntikan dengan PBS 0,1 ml/ekor (Gambar 8).

dilakukan penyuntikan dengan PBS 0,1 ml/ekor (Gambar 8). Gambar 8. Ikan lele perlakuan kontrol negatif tidak

Gambar 8. Ikan lele perlakuan kontrol negatif tidak megalami kelainan klinis hingga akhir perlakuan

Pada jam ke-15 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila 10 8 cfu/ml

pada ikan, terjadi radang pada bagian bekas suntikan untuk perlakuan kontrol

positif, pencegahan dan pengobatan (Gambar 9).

kontrol positif, pencegahan dan pengobatan (Gambar 9). Gambar 9. Ikan lele mengalami kelainan klinis berupa radang

Gambar 9. Ikan lele mengalami kelainan klinis berupa radang pada daerah bekas suntikan pada jam ke-7

Ikan uji perlakuan kontrol positif, setelah diinjeksi (hari ke-9) dengan

bakteri A.hydrophila terlihat 3 ekor ikan mati dengan kelainan klinis berupa

radang (Gambar 10), ikan yang mati terlihat matanya menonjol dan buta. 21 ekor

ikan uji mengalami gejala klinis berupa hemoragi. Pada hari ke-10, ikan uji

mengalami gejala klinis berupa tukak dan 5 ekor ikan mati dengan gejala klinis

berupa tukak. Kematian ikan terus meningkat, pada hari ke-11 yaitu sebanyak 7

ekor ikan mati dengan gejala klinis berupa tukak. Pada hari ke-12 sampai akhir

perlakuan, tidak terdapat kematian pada ikan uji. Penyembuhan terjadi pada hari

ke-12 sampai hari ke-17. Gambar 11 sampai 14 menunjukkan perkembangan

gejala klinis pada ikan uji.

14 menunjukkan perkembangan gejala klinis pada ikan uji. Gambar 10.Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami

Gambar 10.Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami kematian dengan kelainan klinis berupa radang, mata menonjol dan buta, sirip mengalami hiperemia pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila Gambar 11. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami

Gambar 11. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami kelainan klinis berupa hemoragi pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

Gambar 12. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami kelainan klinis berupa tukak pada hari ke-11

Gambar 12. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami kelainan klinis berupa tukak pada hari ke-11 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

pada hari ke-11 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila Gambar 13. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami

Gambar 13. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami kelainan klinis berupa tukak pada hari ke-14 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

pada hari ke-14 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila Gambar 14. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami

Gambar 14. Ikan lele perlakuan kontrol positif mengalami penyembuhan tukak pada hari ke-17 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

Pada perlakuan pengobatan, pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri

A. hydrophila, terdapat 20 ekor ikan uji mengalami kelainan klinis berupa

hemoragi, 3 ekor ikan mati dengan kelainan klinis berupa radang dan 1 ekor mati

dengan kelainan klinis berupa hemoragi. Kematian tertinggi terjadi pada hari ke-

10, terdapat 13 ekor ikan mengalami kelainan klinis berupa tukak dan 7 ekor ikan

mengalami kematian dengan kelainan klinis berupa tukak. Pada hari ke-11,

jumlah kematian ikan menurun. Sebanyak 3 ekor ikan mati dengan kelainan klinis

berupa tukak dan 11 ekor ikan mengalami perkembangan tukak. Ikan uji

mengalami penyembuhan tukak mulai hari ke-13 setelah penginfeksian sampai

akhir perlakuan. Terdapat 2 ekor ikan yang mengalami proses penyembuhan.

Gambar 15-17 menunjukkan perkembangan gejala klinis pada ikan uji yang

sama.

perkembangan gejala klinis pada ikan uji yang sama. Gambar 15. Ikan lele perlakuan pengobatan mengalami kelainan

Gambar 15. Ikan lele perlakuan pengobatan mengalami kelainan klinis berupa hemoragi pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila Gambar 16. Ikan lele perlakuan pengobatan mengalami kelainan

Gambar 16. Ikan lele perlakuan pengobatan mengalami kelainan klinis berupa tukak pada hari ke-11 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

pada hari ke-11 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila Gambar 17. Ikan lele perlakuan pengobatan mengalami

Gambar 17. Ikan lele perlakuan pengobatan mengalami penyembuhan tukak pada hari ke-17 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

Pada perlakuan pencegahan, setelah 24 jam penginfeksian , terdapat 2 ekor

ikan mati dengan kelainan klinis berupa radang, 1 ekor ikan mati dengan kelainan

klinis berupa hemoragi, 1 ekor mengalami kelainan klinis yaitu radang, 1 ekor

mengalami tukak dan lainnya mengalami hemoragi. Kematian paling banyak

terjadi pada hari ke-10 setelah penginfeksian, sebanyak 4 ekor ikan mengalami

kematian dengan kelainan klinis berupa tukak, dan 17 ekor ikan uji mengalami

kelainan klinis berupa tukak. Pada hari ke-11, sebanyak 2 ekor ikan mengalami

kematian dengan kelainan klinis berupa tukak, dan 15 ekor ikan mengalami

kelainan klinis berupa tukak. Pada hari ke-12 sampai akhir perlakuan, ikan uji

tidak mengalami kematian. Pada hari ke-16 dan 17, sebanyak 5 ekor ikan

mengalami penyembuhan total. Skor gejala klinis tertinggi terjadi pada hari ke-12.

Gambar 18 sampai 20 menunjukkan perkembangan gejala klinis pada ikan uji

yang sama.

perkembangan gejala klinis pada ikan uji yang sama. Gambar 18. Ikan lele perlakuan pencegahan mengalami kelainan

Gambar 18. Ikan lele perlakuan pencegahan mengalami kelainan klinis berupa radang pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

pada hari ke-9 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila Gambar 19. Ikan lele perlakuan pencegahan mengalami kelainan

Gambar 19. Ikan lele perlakuan pencegahan mengalami kelainan klinis berupa tukak pada hari ke-11 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

Gambar 20. Ikan lele perlakuan pencegahan mengalami penyembuhan total pada hari ke-17 setelah penginfeksian bakteri

Gambar 20. Ikan lele perlakuan pencegahan mengalami penyembuhan total pada hari ke-17 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila

Gejala klinis didapatkan dari pengukuran diameter tukak yang terdapat pada

tubuh ikan, kemudian dilakukan skoring. Gejala klinis menunjukkan seberapa

parah tubuh ikan terinfeksi bakteri. Pada Gambar 21 dapat dilihat hasil skoring

ikan uji pada perlakuan kontrol positif, pencegahan, dan pengobatan. Pada

perlakuan kontrol positif, ikan uji mengalami skor rata-rata tertinggi pada hari ke-

10 setelah penginfeksian bakteri A. hydrophila yaitu sebesar 7, 14. Kemudian

pada hari ke-11, skor rata-rata mengalami penurunan, hal ini dikarenakan

banyaknya ikan uji yang mengalami kematian. Pada hari ke-12 skor rata-rata

kembali mengalami kenaikan menjadi 7,11. Pada hari ke-13 skor rata-rata kembali

menurun, sampai akhir perlakuan skor rata-rata mengalami nilai yang sama.

Pada perlakuan pengobatan, skor rata-rata tertinggi terjadi pada hari ke-12

setelah penginfeksian dengan bakteri A. hydrophila. Pada hari ke-11, skor rata-

rata mengalami penurunan, dikarenakan banyaknya ikan uji yang mengalami

kematian. Kemudian pada hari ke-13, skor mulai mengalami penurunan. Proses

penyembuhan gejala klinis mulai terjadi pada hari ke-13 sampai akhir perlakuan.

Pada perlakuan pencegahan, skor rata-rata tertinggi terjadi pada hari ke-12

setelah penginfeksian dengan bakteri A. hydrophila yaitu sebesar 6,53. Kemudian

menurun pada hari ke-13 sampai akhir perlakuan. Proses penyembuhan gejala

klinis mulai terjadi pada hari ke-13 sampai akhir perlakuan. Proses

penyembuhannya berlangsung secara cepat dibandingkan dengan perlakuan

pengobatan dan kontrol positif.

Gambar 21. Skor penginfeksian bakteri A. hydrophila gejala klinis ikan lele dumbo selama perlakuan setelah

Gambar

21.

Skor

penginfeksian bakteri A. hydrophila

gejala

klinis

ikan

lele

dumbo

selama

perlakuan

setelah

4.1.3.5 Pemeriksaan Organ Dalam Ikan Uji

Pemeriksaan organ dalam ikan uji, dilakukan dengan membedah ikan uji

pada akhir perlakuan. Organ dalam yang diamati meliputi ginjal, hati, empedu,

dan limpa (Tabel 6).

Pada perlakuan kontrol negatif, terlihat organ dalamnya dalam keadaan

normal. Ginjal berwarna merah tua kecoklatan, hati berwarna merah kecoklatan,

empedu berwarna hijau kebiruan, dan limpa berwarna merah tua. Berbeda

keadaannya dengan organ dalam pada kontrol negatif dan pengobatan, pada organ

hati mengalami pembengkakan dan berwarna pucat, empedu berwarna

kekuningan. Sedangkan untuk perlakuan pencegahan, keadaan organ dalamnya

hampir sama dengan kontrol negatif.

Tabel 6. Pengamatan organ dalam ikan lele dumbo

 

Kontrol

Kontrol

Organ

Negatif

Pencegahan

Pengobatan

Positif

 

Merah tua

Merah tua

Ginjal

kecoklatan

kecoklatan

Merah tua

Merah tua kehitaman

 

Merah

Merah sedikit pucat dan membengkak

Merah pucat dan membengkak

Hati

kecoklatan

Merah gelap

Empedu

Hijau kebiruan

Hijau kebiruan

Hijau kekuningan

Kuning

Limpa

Merah tua

Merah gelap

Merah kecoklatan

Merah kecoklatan

2

2

12 2 3 2 (a) Kontrol negatif 4 b 3 2 1 (b) Pencegahan c 3

3

2

(a) Kontrol negatif

4

b
b

3

2

1

(b) Pencegahan

c
c

3

(c) Pengobatan

4

d 4
d
4

3

(d) Kontrol positif

1

1

Gambar 22. Organ dalam ikan lele pada setiap perlakuan. (keterangan :1= ginjal; 2 = hati; 3 = empedu; 4 = limpa)

4.1.3.6 Kualitas Air

Kualitas air merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan

ikan. Ikan akan tumbuh optimal apabila parameter kualitas air di tempat hidupnya

sesuai dengan kisaran toleransi yang dapat diterima oleh ikan tersebut. Ikan lele

dumbo memiliki aborescent organ, sehingga bahkan dalam keadaan perairan yang

minim oksigen ikan lele dumbo masih dapat bertahan hidup.

Tabel 7. Kisaran kualitas air selama uji in vivo

Perlakuan

Suhu ( 0 C)

pH

DO (mg/l)

TAN (mg/l)

Kontrol Negatif

29

Kontrol Positif

29

Pencegahan

29

Pengobatan

29

6,99-7,15

7,06-7,41

6,99-7,18

6,3-7,11

4,4-7,5

0.07-0,84

5,2-7,6

0.07-0,69

5,8-7,7

0.07-0,80

5,8-7,6

0.07-0,68

Dari Tabel 7. diketahui bahwa kisaran kualitas air selama perlakuan memenuhi syarat kualitas air dalam memelihara lele. Kualitas air diukur sebelum dan setelah perlakuan. Kualitas air yang terukur selama perlakuan untuk suhu adalah antara 29 0 C, pH antara 6,3-7,41, DO antara 4,4-7,6 dan TAN antara 0,07- 0,83 (Lampiran 6).

4.2 Pembahasan Identifikasi bakteri yang dilakukan terhadap bakteri hasil fasase setelah dilakukan pewarnaan Gram dan uji biokim menunjukkan bahwa bakteri tersebut adalah bakteri Aeromonas hydrophila. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ghufran dan Kordi (2004) bakteri A. hydrophila bersifat fakultatif aerobik (dapat hidup dengan atau tanpa oksigen) yang mengubah karbohidrat menjadi asam dan gas,

tidak berspora, oksidatif fermentatif (mampu memanfaatkan karbohidrat atau glukosa, bersifat motil (bergerak aktif) karena memiliki flagel (Monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya, koloni bakteri ini pada media agar berwarna putih kekuningan, bentuk bulat cembung, oksidase sitokrom dan reaksi katalase positif. Bakteri ini senang hidup di lingkungan perairan bersuhu 15

30 o C dan pH antara 5,5-9.

Menurut Reed dan Muench (1938), LD 50 (50 per cent lethal dose) adalah dosis yang dapat mematikan 50% dari jumlah hewan percobaan dalam waktu tertentu. Berdasarkan hasil uji LD 50 , konsentrasi bakteri A. hydrophila yang digunakan adalah 10 8 (Lampiran 2). Dalam kurun waktu 7 hari, konsentrasi 10 8 mampu mematikan ikan sebanyak 53,82%. Respon makan ikan selama 7 hari sebelum peginjeksian bakteri A. hydrophila untuk semua perlakuan (kontrol positif, kontrol negatif, pencegahan, dan pengobatan) menunjukkan respon makan yang sangat baik. Pada perlakuan pencegahan dan pengobatan, selama pemeliharaan sebelum dan sesudah peginjeksian bakteri A. hydrophila diberikan pakan yang telah dicampur dengan ekstrak meniran dan bawang putih. Menurut Labs (2004) dalam Leni (2006), khasiat meniran antara lain merangsang nafsu makan, sehingga pemberian ekstrak meniran pada perlakuan pencegahan dan pengobatan sangat baik untuk pertumbuhan ikan. Bobot tubuh ikan perlakuan pencegahan mengalami kenaikan

sebesar 7,30 ± 1,00%, sedangkan untuk perlakuan pengobatan juga mengalami kenaikan sebesar 6,23 ± 1,81% (Lampiran 4). Selain sebagai antibakteri, bawang putih dapat juga meningkatkan pertumbuhan dengan cara menekan bakteri yang merugikan dan memberikan peluang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan di dalam saluran pencernaan secara optimum sehingga pemanfaatan makanan untuk pertumbuhan dapat maksimum (Bidura, 1999 dalam Sunanti, 2007). Setelah penginjeksian A. hydrophila pada hari ke-8 dan ke-9, respon makan ikan kurang baik. Hal ini dikarenakan ikan mengalami stres pasca penyuntikan, sehingga respon makannya sangat sedikit. Menurut Ghufran dan Kordi (2004), stres dapat mengakibatkan ikan menjadi shock, tidak mau makan, kanibalisme, dan meningkatnya kepekaan terhadap penyakit. Menurut Kabata (1985), ikan yang terserang bakteri A. hydrophila akan menolak makanan yang diberikan. Respon makan untuk perlakuan kontrol negatif dan positif selama 7 hari sebelum penginjeksian A. hydrophila, menunjukkan hasil yang sangat baik. Namun setelah penginjeksian bakteri A. hydrophila sampai akhir perlakuan, respon makan pada perlakuan kontrol positif kurang baik. Hal ini sesuai dengan hasil pertambahan bobot rata-ratanya pada kontrol negatif paling baik jika dibandingkan dengan perlakuan yang lain yaitu sebesar 19,79 ± 0,33% sesuai dengan respon makannya juga baik. Sedangkan untuk kontrol positif, hanya mengalami kenaikan bobot rata-rata sebesar 1,87 ± 0,58%. Jika dibandingkan dengan perlakuan yang lain, perlakuan kontrol positif memiliki pertambahan bobot rata-rata paling kecil. Mortalitas selama perlakuan, menunjukkan bahwa perlakuan kontrol negatif tidak mengalami kematian sampai akhir perlakuan sehingga mempunyai angka mortalitas rata-rata 0,00 ± 0,00%. Perlakuan pencegahan dan pengobatan masing- masing mempunyai nilai mortalitas rata-rata sebesar 41,67 ± 21,52% dan 54,17 ± 20,97% (Lampiran 5). Perlakuan pencegahan dan pengobatan mempunyai nilai mortalitas yang lebih rendah dari pada perlakuan kontrol positif. Hasil ini sama dengan metode penyuntikan, namun nilai mortalitas yang didapatkan lebih kecil yaitu untuk pencegahan 26,67 ± 11,55; pengobatan 40,00 ± 20 dan kontrol positif 53,33 ± 30,55 (Ayuningtyas, 2009). Hal ini dikarenakan pada perlakuan

pencegahan dan pengobatan diberikan pakan yang telah dicampur dengan ekstrak meniran dan bawang putih. Hal ini sesuai dengan penelitian Puspatiningtyas (2006), bahwa penggunaan ekstrak bawang putih segar (fresh garlic) mampu memberikan kelangsungan hidup ikan yang tinggi, daya tahan tubuh meningkat dan gejala klinis yang lebih ringan. Penelitian yang dilakukan oleh BBAT (Balai Budidaya Air Tawar) Sukabumi, menyebutkan dengan pemberian ekstrak meniran yang dicampur ke pakan dapat meningkatkan kelangsungan hidup. Hal ini disebabkan adanya peningkatan daya tahan tubuh ikan mas yang ditandai meningkatnya jumlah leukosit yang berfungsi sebagai pertahanan non spesifik. Nilai mortalitas perlakuan kontrol positif paling tinggi yaitu sebesar 66,67 ± 23,57%. Bakteri A. hydrophila menghasilkan enzim dan toksin yang dikenal dengan produk ekstraseluler atau ECP (Extra Celluler Product) yang mengandung sedikitnya aktivitas hemolisis dan protease yang merupakan penyebab patogenisitas pada ikan (Angka, 1997 dalam Angka, 2005). Apabila disuntikkan ke tubuh ikan, produk ekstraseluler ini dapat menimbulkan kematian dan perubahan jaringan. Selain menghasilkan eksotoksin, bakteri A. hydrophila juga memproduksi endotoksin yang terdiri dari protein, lipid dan polisakarida. Endotoksin ini juga berperan salam penentuan tingkat patogenitas bakteri (Brenden dan Huizinga, 1986 dalam Riyanto, 1993). Gejala klinis yang terjadi setelah penginjeksian bakteri A. hydrophila, yaitu berupa pembengkakan kulit dan kulit berwarna putih pada bekas suntikan. Selain itu, terjadi hiperemia pada sirip dan sungut, serta organ mata menonjol dan menjadi buta (Gambar 10). Hal ini sesuai dengan Austin dan Austin (1986), pada beberapa kasus, kematian ikan akibat infeksi A. hydrophila tidak ditandai dengan kerusakan pada organ eksternal. Kerusakan dapat terjadi sebagai akibat infeksi lokal pada tempat luka atau penempelan oleh parasit. Ikan yang terinfeksi A. hydrophila memperlihatkan tanda-tanda berupa tingkah laku ikan tidak normal, berenang lambat, megap-megap di permukaan air, dan nafsu makan menurun. Tanda lainnya seperti sirip rusak, kulit kering dan kasar, lesi kulit yang berkembang menjadi tukak, dan mata menonjol (exophthalmus), serta terkadang perut menggembung berisi cairan kemerahan (Kabata, 1985). Kelainan klinis berupa hiperemia merupakan bentuk perlawanan terhadap adanya bakteri patogen

sehingga terjadi mobilisasi sel darah putih. Sel darah putih tersebut berfungsi sebagai imun pertahanan non spesifik yang akan melokalisasi dan mengeliminasi patogen dengan cara fagositosis (Anderson, 1974). Menurut Suzuki dan Lida, 1992 dalam Darmanto, 2003), hiperemia akan diikuti oleh reaksi peradangan yaitu berupa tanda kemerahan di daerah sekitar luka yang merupakan reaksi mempertahankan diri pada daerah infeksi atau luka. Reaksi peradangan meliputi tiga tahap, yaitu : (1) terjadinya peningkatan suplai darah ke daerah sekitar luka atau infeksi; (2) bertambahnya sifat permeabilitas pipa kapiler darah; (3) terjadinya proses migrasi leukosit yang keluar dari kapiler dan masuk ke dalam jaringan secara merata. Gejala klinis lainnya yaitu, terdapat warna kemerahan pada bekas suntikan atau di daerah luka. Menurut Oliver et al. (1981) dalam Riyanto (1993), patogen A. hydrophila mendegradasi jaringan organ tubuh serta mengeluarkan toksik yang disebarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah sehingga menimbulkan warna kemerahan pada tubuh ikan. Setelah mengalami radang pasca penyuntikan A. hydrophila, kemudian berkembang menjadi hemoragi pada hari ke-9 dan pada hari ke-10 menjadi tukak. Reaksi radang merupakan reaksi mencegah masuknya mikroorganisme di sekitar tempat infeksi. Peradangan terjadi di daerah sekitar masuknya patogen, hal ini dikarenakan komponen yang lain berperan dalam proses pertahanan seluler seperti leukosit akan memfagositosis patogen tersebut (Anderson, 1974). Skor rata-rata gejala klinis (Gambar 21), terlihat bahwa ikan uji perlakuan pencegahan memiliki skor rata-rata lebih ringan daripada perlakuan yang lain, yaitu sebesar 5,26. Untuk perlakuan pengobatan skor rata-ratanya sebesar 5,95 dan perlakuan kontrol positif memiliki skor rata-rata paling tinggi yaitu 6,105. Pada kontrol positif, gejala klinis memuncak pada hari ke-10 setelah penginfeksian A. hydrophila, sedangkan pada perlakuan pencegahan dan pengobatan, gejala klinis memuncak pada hari ke-12. Penyembuhan gejala klinis ikan uji pencegahan terjadi pada hari ke-13 sampai akhir perlakuan sebanyak 5 ekor, penyembuhan terjadi sangat cepat jika dibandingkan dengan perlakuan pengobatan sebanyak 3 ekor dan kontrol positif belum terjadi penyembuhan. Jika dibandingkan dengan metode penyuntikan,

jumlah ikan yang sembuh lebih banyak yaitu untuk pencegahan 5 ekor dan pengobatan 3 ekor (Ayuningtyas, 2009). Penyembuhan gejala klinis terjadi karena pada perlakuan pencegahan dan pengobatan diberikan pakan yang telah dicampur dengan ekstrak meniran dan bawang putih. Kandungan yang terdapat dalam bawang putih adalah Allicin yaitu salah satu zat aktif yang diduga dapat membunuh kuman-kuman penyakit (bersifat antibakteri). Allicin berperan ganda membunuh bakteri, yaitu bakteri Gram positif maupun Gram negatif karena mempunyai gugus amino para amino benzoat (Palungkun dan Budiarti, 2001). Menurut Barnes et al. (2002), hasil uji in vitro bawang putih terhadap beberapa bakteri yang sensitif telah menunjukkan hasil yang signifikan. Bakteri yang diujikan salah satunya adalah Aeromonas hydrophila. Menurut Cavalito dalam Watanabe (2001), satu miligram allicin mempunyai suatu daya kemampuan sebanding dengan 15 unit standar penisilin. Allicin juga dapat bergabung dengan protein dan mengubah strukturnya agar protein tersebut mudah dicerna. Kemampuan allicin untuk bergabung dengan protein akan mendukung daya antibiotiknya, karena allicin menyerang protein mikroba dan akhirnya membunuh mikroba tersebut. Selain itu meniran juga dapat mencegah berbagai macam infeksi virus dan bakteri serta mendorong sistem kekebalan tubuh. Menurut Mela (2007), hasil penelitian menyebutkan bahwa meniran memiliki aktivitas imunomodulator yang berperan membuat sistem imun lebih aktif dalam menjalankan fungsinya, menguatkan sistem imun tubuh (imunostimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang berlebihan (imunosupresan). Dengan demikian, kekebalan atau daya tahan tubuh kita selalu optimal sehingga tetap sehat ketika diserang virus, bakteri, dan mikroba lainnya. Kandungan kimia yang bermanfaat dari meniran adalah flavonoid. Pada tanaman lainnya kandungan flavonoid sebenarnya juga ada, bedanya pada meniranaktivitas peningkatan sistem imunnya ternyata lebih baik. Sebagai imunomodulator, meniran tidak semata-mata berefek meningkatkan sistem imun, namun juga menekan sistem imun apabila aktivitasnya berlebihan. Jika aktivitas sistem imun berkurang, maka kandungan flavonoid dalam meniran akan mengirimkan sinyal intraseluler pada reseptor sel untuk meningkatkan aktivitasnya. Sebaliknya, jika sistem imun kerjanya berlebihan, maka meniran

berkhasiat dalam mengurangi kerja sistem imun tersebut. Jadi, meniran berfungsi sebagai penyeimbang sistem imun. Bahan aktif flavonoid yang dimilikinya memiliki kemampuan untuk membentuk kompleks dengan protein melalui ikatan hydrogen, sehingga dapat merusak membran sel bakteri. Flavonoid bersifat antibakteri dan antioksidan serta mampu meningkatkan kerja sistem imun karena leukosit sebagai pemakan antigen lebih cepat dihasilkan dan sistem limfoid lebih cepat diaktifkan (Anonim, 2007). Flavonoid dalam tumbuhan terikat sebagai glikosakarida dan aglikon. Selain itu kandungan alkaloid dalam meniran bersifat toksik terhadap mikroba, sehingga efektif membunuh bakteri dan virus (Naim, 2004); saponin dan tannin merupakan senyawa yang diduga sebagai senyawa antibakteri karena memiliki kemampuan dalam menghambat fungsi membran sel sehingga merusak permeabilitas membran yang mengakibatkan dinding sel rusak atau hancur. Oleh karena itu, penyembuhan pada perlakuan pencegahan dan pengobatan lebih cepat, disebabkan kandungan bahan aktif yang berada dalam ekstrak meniran dan bawang putih yang telah dicampur di pakan. Pemeriksaaan organ dalam dilakukan pada akhir perlakuan. Pada perlakuan kontrol negatif, ikan uji tidak mengalami kelainan organ dalam. Pada perlakuan pencegahan, ikan uji juga tidak mengalami kelainan organ. Hal ini dikarenakan adanya respon imun yang meningkat dan penghambaatan serangan A. hydrophila, karena pemberian ekstrak meniran dan bawang putih yang dicampur lewat pakan. Namun pada perlakuan pengobatan dan kontrol positif, terjadi kelainan organ dalam berupa pembengkakan, warna organ pucat dan berbeda yaitu organ hati, limpa, ginjal dan limpa. Limpa merupakan organ yang berperan dalam pemecahan eritrosit tua dan membentuk sel darah baru (Chinabut et al., 1991 dalam Abdullah, 2008). Perubahan warna organ limpa pada perlakuan pengobatan dan kontrol positif, disebabkan karena peningkatan jumlah pigmen dan hemosiderin pada limpa. Peningkatan tersebut disebabkan oleh aktivitas toksin bakteri dalam menghancurkan sel-sel darah (Ventura et al., 1988 dalam Abdullah,

2008).

Perubahan warna organ empedu pada perlakuan pengobatan dan kontrol positif menjadi berwarna kekuningan, disebabkan karena adanya gangguan pada

organ hati, sehingga pembongkaran eritrosit menjadi hemin, Fe dan globin menjadi terhambat sehingga menyebabkan produksi hemin sebagai zat asal warna empedu menjadi menurun (Hafsah, 1994). Organ ginjal merupakan organ yang berperan sebagai penyaring (filter) beberapa bahan buangan sisa metabolisme yang terdapat dalam darah. Menurut Oliver et al., (1981) dalam Taufik (2001) patogen A. hydrophila disamping memakan dan merusak jaringan organ tubuh juga mengeluarkan toksin yang disebarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Oleh karena itu, pada perlakuan kontrol positif warna ginjal merah tua kehitaman dikarenakan ginjal telah menyaring buangan sisa metabolisme dalam darah yang tercemar oleh toksin bakteri A. hydrophila. Organ hati merupakan organ penting yang mensekresikan bahan untuk pencernaan. Organ ini menjadi pucat dan membengkak pada perlakuan kontrol positif dan perlakuan pencegahan, hal ini akibat A. hydrophila mengeluarkan toksin yang disebarkan ke seluruh tubuh melalui darah sehingga kerja hati menjadi terganggu. Parameter kualitas air merupakan faktor pendukung dalam budidaya. Kualitas air selama perlakuan layak untuk kehidupan ikan lele (Lampiran 6). Suhu pada saat pemeliharaan adalah 29 0 C. Menurut Boyd (1982), suhu air media pemeliharaan yang optimal berada dalam kisaran 28-30 o C. Nilai pH selama pemeliharaan berkisar antara 6,3-7,41. Hal ini sesuai dengan Boyd (1982), kisaran pH 6,5-9,0 merupakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan ikan. Kandungan oksigen terlarut kurang dari 1 mg/l akan mematikan ikan dan pada kandungan antara 1-5 mg/l cukup mendukung kehidupan ikan (Boyd, 1982). hal ini sesuai dengan hasil yaitu berkisar antara 4,4-7,6 mg/l. TAN selama perlakuan berkisar antara 0,07- 0,83. Menurut Boyd (1982), konsentrasi amonia yang ideal dalam air bagi kehidupan ikan tidak boleh melebihi 1 ppm. Karena jika konsentrasinya berlebih akan menghambat daya serap hemoglobin dalam darah.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan pencegahan dengan campuran ekstrak meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt dalam pakan cukup efektif dalam mencegah infeksi A. hydrophila dibandingkan dengan pengobatan dengan campuran ekstrak meniran 10 ppt dan bawang putih 40 ppt. Hal ini ditunjukkan dengan parameter-parameter yang diamati, yaitu petambahan bobot, mortalitas, diameter kelainan klinis dan skoring diameter klinis serta pengamatan kelainan klinis organ dalam.

4.2 Saran

Untuk keperluan pengendalian infeksi A. hydrophila digunakan campuran ekstrak meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt dalam pakan. Untuk penelitian lebih lanjut dapat dilakukan analisis mengenai ketahanan pakan dalam air yang telah dicampur dengan ekstrak meniran 5 ppt dan bawang putih 20 ppt.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Y. 2008. Efektivitas ekstrak daun Paci-paci Leucas lavandulaefolia untuk pencegahan dan pengobatan infeksi penyakit MAS Motile Aeromonas Septicemia ditinjau dari patologi makro dan hematologi ikan lele dumbo Clarias sp. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Agustian R. 2007. Penggunaan ekstrak bawang putih Allium sativun untuk pengendalian infeksi Vibrio harveyi pada larva udang vaname Litopenaeus vannamei. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Anderson DP. 1974. Fish Immunology. Di dalam : Snieszko dan HR Axelrod. 1971. Disease of Fishes. TFH Publication Ltd., Hongkong.

Angka SL. 2005. Kajian penyakit Motile Aromonad Septicemia (MAS) pada ikan lele dumbo (Clarias sp): Patologi, pencegahan dan pengobatannya dengan fitofarmaka. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Anonim. 2003. Budidaya Lele. http://www.dkp.go.id. [11 Maret 2009]

Anonim. 2007. Lele. http://www.trobos.com/showarticle. [22 Juli 2009]

Aoki T. 1999. Motile Aeromonads (Aeromonas hydrophila). Journal Laboratory of Genetic and Biochemistry 11: 427-435

Austin B, Austin DA.1986. Bacterial Fish Patogen “Diseases In Farmed and Wild Fish”. Second Edition. Ellis Horwood Limited, England. Hal:173-177.

Ayuningtyas AK. 2009. Efektivitas campuran meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum untuk pencegahan dan pengobatan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Barnes J, Anderson LA, Phillipson JD. 2002. Herbal Medicines Second Edition. Pharmaceutical Press, London.

Boyd CE. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. International Centre for Aquaculture Experiment Station, Auburn University, Auburn.

Ciptoroso, Mujiutami E, Santika A. 2006. Meniran Solusi Atasi Serangan Virus Koi. BPAP, Sukabumi.

Cowan, ST. 1985. Manual for Identification of Medical Bacteria. Cambridge University Press, London.

Darmanto. 2003. Respon kebal ikan maskoki Carassius auratus melalui vaksinasi dan imunostimulan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Dewi SD. 2006. Pengaruh salinitas 0, 3, 6, 9 dan 12 ppt terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan gurame (Osprhonemus gouramy) ukuran 3-6 cm. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius, Yogyakarta.

Ghufran dan Kordi. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. PT. Sadi Mahasatya, Jakarta.

Hafsah S. 1994. Pengaruh penyuntikan Freud’s Complete Adjusvant dan bakteri Aeromonas hydrophila galur virulen L38 terhadap ikan lele dumbo (Clarias sp.) dewasa. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hanafi F. 2006. Uji Tantang pada Ikan Gurame yang Diimunisasi Peroral Dengan Imunoglobin Y (Ig-Y) Anti Aeromonas hydrophila Melalui Pelet. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Harborne JB. 1987. Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit ITB, Bandung.

Irianto

2005.

Yogyakarta.

A.

Patologi

Ikan

Teleostei.

Gadjah

mada

University

Press,

Kabata Z. 1985. Parasites and Disease of Fish Cultureed in Tropics. Taylor and Francis, London.

Khairuman dan Amri. 2002. Budidaya Lele Dumbo Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Leni H. 2006. Diferensial leukosit ayam yang telah terinfeksi Eimeria tenella setelah pemberian infusa meniran Phyllanthus niruri melalui air minum dengan dosis bertingkat. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Mahyuddin K. 2007. Jakarta.

Panduan

Lengkap Agribisnis Lele. Penebar Swadaya,

Markham KR. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Kokasih Padmawinata (Penerjemah). ITB, Bandung.

Mela.

2007.

Meniran

Si

Peningkat

Sistem

Imun.

sistem-imun. [11 Januari 2009].

Naim R. 2004. Senyawa Anti Mikroba dari Tanaman. http/www.kompas.com. [8 Agustus 2009].

Normalina I. 2007. Pemanfaatan ekstrak bawang putih Allium sativun untuk pencegahan dan pengobatan pada ikan lele Pangasionodon hypopthalmus yang diinfeksi Aeromonas hydrophila. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Oswald E., Hulse JH. 1982. Fish Quarantine and Fish Diseases in Southeast Asia. Fisheries Development and Coordinating Program and International Development Research Centre, Canada.

Palungkun dan Budiarti. 2001. Bawang Putih Dataran Rendah. Penebar Swadaya, Jakarta.

Paperna I. 1996. Parasites, Infections and Diseases of Fishes in Africa. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome.

Puspitaningtyas D. 2006. Potensi ekstrak bawang putih Allium sativum untuk menginaktivasi Koi Herpes Virus pada ikan mas (Cyprinus carpio). Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Rahman MF. 2008. Potensi ekstrak daun pepaya pada ikan gurame yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Skripsi. Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Reed LJ, Muench. 1938. A simle method of estimating fifty percent endpotants. The American Journal Of Hygiene 27: 493-497

Riyanto TA. 1993. Patologi dan gambaran darah ikan lele dumbo ukuran fingerling yang disuntik secara intramuskular dengan bakteri Aeromonas hydrophila (sel utuh). Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sopiana P. 2005. Efektivitas ekstrak paci-paci (Leucas lavandulaefolis) untuk pencegahan dan pengobatan penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicemia) pada ikan lele dumbo (Clarias sp.). Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Saanin H. 1989. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan 1. Binacipta, Jakarta.

Safitri A. 2007. Kinerja Pertumbuhan Dan Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Lele Clarias sp. Pada Media Dengan Kadar Amonia Berbeda. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Satryadi J. 2007. Efektifitas ekstrak bawang putih Allium sativum sebagai pencegahan dan pengobatan ikan patin Pangasionodon hypopthalmus yang diinfeksi Aeromonas hydrophila. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Snieszko,

Axelrod

Hongkong.

HR.

1971.

Disease

of

Fishes.

TFH

Publication

Ltd.,

Skinner FA, Carr JG. 1976. Microbiology in Agriculture, Fisheries and Food. Academic Press, London.

Sopiana P. 2005. Efektivitas ekstrak Paci-paci Leucas lavandulaefolis untuk pencegahan dan pengobatan penyakit MAS Motile Aeromonad Septicemia pada ikan lele dumbo Clarias sp. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sunanti. 2007. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tunggal Bawang Putih (Allium sativum) dan Rimpang Kunyit (Curcuma domestica) Terhadap Salmonella typhimurium. Skripsi. Program Studi Biokim, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Suprapto. 2006. Tubuh Kebal dengan Herba. http://www.depkes.go.id. [8 Agustus

2009]

Surahman E. 1984. Usaha Pembuatan Beberapa Sedian Farmasi Yang Mengandung dan Minyak Atsiri Hasil Isolat Dari Kulit Kayu Manis Dalam Kaitanya Dengan Daya Antibakteri dan Daya Antijamur. Proyek Pengembangan IPTEK, Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suyanto SR. 2006. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya, Jakarta.

Syamsuhidayat SS, Hutapea JR. 1990. Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I). Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Tjitrosoepomo.

1994.

Taksonomi

Tumbuhan

Obat-obatan.

UGM

Press,

Jogjakarta.

 

Triarsari

D.

2009.

Aneka

ramuan

pencegah

SARS.

http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles. [11 Januari 2009]

Yuliani S, Hernani. 1988. Analisis pendahuluan kandungan kimia tanaman cecendet, ki urat, meniran. Balai Penelitian Tanaman Obat Rempah dan Obat, Bogor.

Watanabe

T. 2001. Penyembuhan Dengan Terapi Bawang Putih. PT. Gramedia

Pustaka Utama, Jakarta.

Woo PTK, Bruno DW, Lim LHS.

2002. Diseases and Disorders of Finfish in

Cage Culture. CABI Publishing, London.

LAMPIRAN

LAMPIRAN

Lampiran 1. Penyiapan media bakteri Aeromonas hydrophila

1.1 Media TSA (Tripticase Soy Agar)

Untuk membuat media TSA, dilarutkan 4 gram TSA dengan 100 ml akuades dalam erlenmeyer dan ditutup menggunakan aluminium foil, kemudian dipanaskan dalam penangas air sambil diaduk hingga larut dan homogen. Kemudian disterilkan menggunakan autoclave pada suhu 121 0 C dengan tekanan uap 1 atm selama 15 menit. Setelah itu dimasukkan ke dalam tabung reaksi atau cawan steril secara aseptik dan disimpan di dalam lemari es dengan menggunakan

plastik steril.

1.2 Media LB

Untuk membuat media LB, diperlukan bahan sebagai berikut:

Yeast 0.125 gram Tripton 0.250 gram NaCl 0.750 gram semua bahan dilarutkan dengan 25 ml akuades dalam erlenmeyer dan ditutup menggunakan aluminium foil, kemudian dipanaskan dalam penangas air sambil diaduk hingga larut dan homogen. Kemudian disterilkan menggunakan autoclave pada suhu 121 0 C dengan tekanan uap 1 atm selama 15 menit.

1.3 PBS (Phospat Buffer Saline) Untuk membuat PBS, diperlukan bahan sebagai berikut:

NaCl 8.0 gram

KH 2 PO 4 0.2 gram

NaH 2 PO 4

KCl 0.2 gram semua bahan dilarutkan dengan 1 liter akuades dalam erlenmeyer dan ditutup menggunakan aluminium foil, kemudian dipanaskan dalam penangas air sambil diaduk hingga larut dan homogen. Kemudian disterilkan menggunakan autoclave pada suhu 121 0 C dengan tekanan uap 1 atm selama 15 menit.

1.5 gram

Lampiran 2. Perhitungan nilai LD 50

Kepadatan

Bakteri

Mati

Hidup

Ratio

Kematian

Akumulasi

Mati

Hidup

Ratio

Kematian

%

10

10

10

10

10

9

8

7

6

5

9

1

0,9

16

1

16/17

94,12

5

5

0,5

7

6

7.0/13

53,85

2

8

0,2

2

14

2.0/16

12,5

0

10

0

0

24

0/24

0

0

10

0

0

34

0/34

0

24 0/24 0 0 10 0 0 34 0/34 0 = 0,0930 Log negatif LD 5
24 0/24 0 0 10 0 0 34 0/34 0 = 0,0930 Log negatif LD 5

= 0,0930

Log negatif LD 50 = log negatif konsentrasi diatas 50% + selang proporsi

LD 50

= 10 -8 + 0,0930 = -7,9069

= 10 -7,9069 10 8 cfu/ml

Dengan diperolehnya nilai LD 50 = 10 8 , maka bakteri A. hydrophila pada kepadatan 10 8 cfu/ml dapat menyebabkan populasi ikan lele mati sebanyak 50% dalam waktu 7 hari.

Lampiran 3. Bobot tubuh rata-rata ikan lele pada awal, tengah dan akhir perlakuan (gram)

Perlakuan

Ulangan

 

Hari Pengamatan

Awal (H0)

Tengah (H8)

Akhir (H17)

 

1 9,91

10,80

11,80

2 11,34

11,83

13,89

Kontrol Negatif

3 10,45

10,81

12,56

4 10,69

11,46

12,51

Rata-rata

10,59 ± 0,59

11,22± 0,50

12,69 ± 0,87

 

1 10,28

11,17

10,88

2 11,37

10,98

11,48

Kontrol Positif

3 10,26

10,90

10,93

4 9,79

10,82

9,19

Rata-rata

10,42 ± 0,66

10,97 ± 0,14

10,62 ± 0,98

 

1 11,07

11,28

11,32

2 11,07

10,22

13,30

Pencegahan

3 10,38

10,22

10,39

4 10,05

10,43

10,67

Rata-rata

10,64 ± 0,50

10,53 ± 0,69

11,42 ± 1,31

 

1 8,85

8,73

9,63

2 9,61

10,10

12,69

Pengobatan

3 10,47

10,95

9,34

4 10,75

10,82

10,50

Rata-rata

9,92 ± 0,86

10,37 ± 1,09

10,54 ± 1,51

Lampiran 4. Pertambahan bobot rata-rata ikan lele selama perlakuan

Perlakuan

Bobot Rata-rata

Kontrol

Kontrol

Negatif

Positif

Pencegahan

Pengobatan

Awal (H0)

10,59 ± 0,59

10,42 ±

10,64 ±

9,92 ± 0,86

0,67

0,51

Tengah (H8)

11,22 ± 0,51

10,97 ±

10,91 ±

10,38 ± 1,10

0,15

0,70

Akhir (H17)

12,69 ± 0,87

10,62 ±

11,42 ±

10,54 ± 1,51

0,99

1,31

Pertambahan bobot (%) (awal dan tengah)

5,93 ± 0,24

5,20 ± 0,64

2,50 ± 0,34

4,58 ± 0,67

 

19,78 ± 0,33

1,87 ± 0,58

7,30 ± 1,00

6,23 ± 1,81

Pertambahan bobot (%) (awal dan akhir)

Uji ANOVA

   

Jumlah

 

Kuadrat

   

kuadrat

df

tengah

Fhit

Ftab

 

Antara

         

Awal

kelompok

1,305

3

0,435

,967

,44

 

Dalam

         

kelompok

5,398

12

0,45

 

Total

6,703

15

     
 

Antara

         

Tengah

kelompok

1,819

3

0,606

,392

,293

 

Dalam

         

kelompok

5,227

12

0,436

 

Total

7,046

15

     
 

Antara

         

Akhir

kelompok

11,958

3

3,986

,772

,087

 

Dalam

         

kelompok

17,257

12

1,438

 

Total

29,215

15

     

Duncan

Perlakuan

N

Pasangan untuk α = 0,05 *)

1

2

1

Pengobatan

4

10,5379

 

Kontrol positif

4

10,6187

 

Pencegahan

4

11,4167

11,4167

Kontrol negatif

4

 

12,69

Sig.

 

,344

,159

Keterangan :

*) = Kelompok yang homogen terdapat dalam kolom yang sama.

Lampiran 5. Mortalitas ikan lele selama perlakuan

Ulangan

Mortality Rate (%)

Kontrol Negatif

Kontrol Positif

Pencegahan

Pengobatan

1 0

66,67

50,00

83,33

2 0

50,00

66,67

50,00

3 0

50,00

16,67

33,33

4 0

100,00

33,33

50,00

Rata-rata

0 ± 0,00

66,67 ± 23,57

41,67 ± 21,52

54,17 ± 20,97

Uji ANOVA

 

Jumlah kuadrat

df

Kuadrat tengah

Fhit

Ftab

Antara kelompok

572,979

3

190,993

8,25

0,003

Dalam kelompok

277,806

12

23,15

   

Total

850,786

15

     

Duncan

Perlakuan

N

Pasangan untuk α = 0.05 *)

1

2

1

Kontrol negatif

4

0

 

Pencegahan

4

 

10,4175

Pengobatan

4

 

10,4175

Kontrol positif

4

 

16,6675

Sig.

 

1,000

,105

Keterangan :

*) = Kelompok yang homogen terdapat dalam kolom yang sama.

Lampiran 6. Kualitas air selama perlakuan Awal Perlakuan

Parameter

Perlakuan

Ulangan

Suhu ( o C)

pH

DO (mg/L)

TAN (mg/L)

 

1 30

7,08

7,3

0,19

2 30

7,15

6,7

0,17

Kontrol

Negatif

3 30

7,03

6,5

0,07

4 30

7,07

7,5

0,07

Rata-rata

30,00 ± 0,00

7,08 ± 0,05

7,00 ± 0,48

0,12 ± 0,06

 

1 30

7,06

6,2

0,21

2 30

7,17

7,5

0,13

Kontrol

Positif

3 30

7,25

7,6

0,14

4 30

7,11

7,4

0,13

Rata-rata

30,00 ± 0,00

7,15 ± 0,08

7,18 ± 0,66

0,15 ± 0,04

 

1 30

6,89

6,5

0,09

2 30

7,02

7,3

0,08

Pencegahan

3 30

7,08

7,7

0,06

4 30

7,11

7

0,08

Rata-rata

30,00 ± 0,00

7,03 ± 0,10

7,13 ± 0,51

0,07 ± 0,01

 

1 30

7,01

7,4

0,05

2 30

7,05

7,4

0,13

Pengobatan

3 30

7,08

7,6

0,09

4 30

7,11

7,6

0,09

 

Rata-rata

30,00 ± 0,00

7,06 ± 0,04

7,5 ± 0,12

0,09 ± 0,03

Akhir Perlakuan

 
 

Perlakuan

Ulangan

 

Parameter

 

Suhu ( o C)

pH

DO (mg/L)

TAN (mg/L)

 

1 30

6,99

5,8

0,59

2 30

7,06

4,4

0,84

 

Kontrol

Negatif

3 30

7,04

5,2

0,52

 

4 30

7

6,6

0,82

Rata-rata

30,00 ± 0,00

7,02 ± 0,03

5,50 ± 0,93

0,69 ± 0,16

1 30

7,2

6

0,58

2 30

7,41

5,9

0,67

 

Kontrol

 

Positif

3 30

7,31

5,2

0,48

 

4 30

7,28

5,7

0,69

Rata-rata

30,00 ± 0,00

7,30 ± 0,09

5,70 ± 0,36

0,61 ± 0,10

1 30

7,01

5,8

0,49

2 30

7,18

6,7

0,66

 

Pencegahan

3 30

7,12

6,4

0,72

 

4 30

6,99

6,9

0,80

Rata-rata

30,00 ± 0,00

7,08 ± 0,10

6,45 ± 0,48

0,67 ± 0,13

1 30

7,05

5,8

0,56

2 30

6,98

6,3

0,65

 

Pengobatan

3 30

6,3

6

0,35

 

4 30

6,99

6,5

0,68

Rata-rata

30,00 ± 0,00

6,83 ± 0,35

6,15 ± 0,31

0,56 ± 0,15

Lampiran 7. Kelainan klinis dan diameter kelainan klinis ikan lele kontrol positif setelah diinfeksi bakteri A. hydrophila

Hari

 

Diameter klinis ikan ke-

 

ke-

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

 

MR

HE