Anda di halaman 1dari 32

FILSAFAT ILMU

ILMU DAN TEKNOLOGI


ILMU DAPAT DIPANDANG SEBAGAI PRODUK, SEBAGAI PROSES, DAN SEBAGAI PARADIGMA ETIKA.

ILMU DAN TEKNOLOGI

SEBAGAI PROSES, MAKA ILMU ADALAH SUATU KEGIATAN SOSIAL. DALAM KEGIATAN INI KITA BERUSAHA MEMAHAMI ALAM, APA ADANYA, TERMASUK MANUSIA DAN PRILAKUNYA, BAIK SEBAGAI PERORANGAN MAUPUN SERBAGAI KELOMPOK. METODE KEILMUAN BERCIRIKAN KEBERNALARAN (RASIONALITAS ) DAN KEOBJEKTIFAN. KEGIATAN KEILMUAN HARUS IMPERSONAL, SERTA ANALISIS MASALAH DIDASARKAN PADA PERCOBAAN ATAU PENGUMPULAN DATA.

ILMU DAN TEKNOLOGI


SEBAGAI PRODUK, ILMU ADALAH SEGALA PENGETAHUAN YANG TELAH DIDAPAT MELALUI METODE KEILMUAN DAN MENJADI MILIK UMUM. PENGETAHUAN TERSEBUT TIDAK ADA LAGI PERTENTANGAN PENDAPAT YANG MENDASAR DI KALANGAN MASYARAKAT ILMUWAN. ILMU, ATAU PENGETAHUAN KEILMUAN HANYA TERBATAS PADA RUMUSAN ATAU PERNYATAAN YANG TELAH MENDAPAT PERSETUJAN DUNIA KEILMUAN, DAN TERBUKA UNTUK DIUJI SEHINGGA TETAP MEMPUNYAI PELUANG UNTUK BERUBAH.

ILMU DAN TEKNOLOGI


DARI PERANGKAT NILAI YANG DIJUNJUNGNYA, ILMU ADALAH SUATU MASYARAKAT YANG BERPEGANG PADA EMPAT NORMA:

UNIVERSALISME KOMUNALISME, DISINTERESTEDNESS, DAN SKEPTISME.

ILMU DAN TEKNOLOGI


UNIVERSALISME, MENGISARATKAN KETIDAK TERGANTUNGAN ILMU TERHADAP RAS, WARNA KULIT MAUPUN KEYAKINAN. PADA DASARNYA ILMU BERSIFAT INTERNASIONAL. KOMUNALISME, BERARTI ILMU ADALAH PENGETAHUAN MILIK UMUM. DISINTERESTED, DIMANA ILMU MERUPAKAN ALAT PROPAGANDA, SEPERTI PADA POLITIK, PERIKLANAN DAN PEMASARAN PRODUK. SKEPTISME, ARTINYA TIDAK BEGITU SAJA MENERIMA KEBENARAN, APAPUN DAN DARI SIAPAPUN (KARENA WEWENANG, KETOKOHAN).

ILMU DAN TEKNOLOGI


DESKRIPSI KONVENSIONAL TERSEBUT SUDAH MULAI PUDAR DAN TIDAK MEMADAI LAGI UNTUK SEMUA ILMU. ILMU TERUS BERKEMBANG DAN MENGALAMI PERUBAHAN PERANGAI. PRAKTEWK KEUILMUAN MULAI DIPENGARUHI OLEH POLITIK, RELIGIUS SANG ILMUWAN DAN MULAI DIBAYANGI ILMU ITU SENDIRI DALAM HAKEKATNYA SEBAGAI KEKUASAAN. GAMBARAN KONVENSIONAL SEBAGAI ILMU HANYA BERLAKU PADA ILMU DASAR.

ILMU DAN NILAI-NILAI


ILMU BERTUMPU PADA PENGANALISAAN DATA PENGAMATAN DAN PERCOBAAN SECARA IMPERSONAL. NAMUN PILIHAN UNTUK MENGEMBANGKAN ILMU SANGAT DIPENGARUHI OLEH KEPENTINGAN DAN SISTEM NILAI KITA. PERKEMBANGAN ILMU SANGAT DITENTUKAN OLEH KEPENTINGAN DAN KEMAMPUAN KELOMPOK TERTENTU (ATOM, ANGKASA LUAR). ADANYA PERTENTANGAN TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU GENETIK ( CLONING), DAN PERKEMBANGAN SENJATA ATOM ANTAR NEGARA YANG BERKEPENTINGAN.

HAKEKAT REALITAS
DALAM URAIAN ILMU SEBAGAI PROSES YANG DIARTIKAN PEMAHAMAN TERHADAP ALAM, APA ADANYA. DALAM SETIAP PENGAMATAN, KITA DIBATASI DENGAN KEMAMPUAN SERTA BENTUK KEGIATAN/ BENTUK PENGAMATAN KITA. KESELURUHAN GAMBARAN KEILMUAN KITA TENTANG ALAM INI, DAPAT DIPANDANG SEBAGAI SEMACAM KIASAN YANG MELUKISKAN DAN MENGHUBUNGKAN ABSTAKSI YANG KITA BUAT DENGAN REALITAS YANG KOMPLEKS ( TAK BERHINGGA).

PENGETAHUAN
SEMUA BUAH PIKIRAN DAN PEMAHAMAN KITA TENTANG DUNIA, YANG DIPEROLEH TANPA MELALUI DAUR HIPOTETIKO-DEDUKTO-VERIFIKASI, ADALAH BUKAN ILMU DAN DINAMAKAN PENGETAHUAN. SALAH SATU CIRI KEILMUAN ADALAH BERDAYA RAMAL (BUKAN RAMALAN SSB). PENJABARAN HASIL PEMIKIRAN HARUS MERUPAKAN RENTETAN PEMIKIRAN YANG LOGIS-MATEMATIS DAN KONSISTEN. JADI PEMIKIRAN ILMIAH BERTOLAK DARI : HIPOTESIS DAN/ATAU POSTULAT, BERKULMINASI DALAM BANGUNAN TEORI YANG KOHEREN, DAN BERAKHIR PADA RAMALANRAMALAN YANG DALAM PENYAHIHANNYA HARUS SESUAI DENGAN FAKTA EMPIRIS.

PENGETAHUAN
ILMU PERLU DIBEDAKAN TETAPI BUKAN DIPISAHKAN DENGAN PENGETAHUAN. ILMU, WALAUPUN BERGUNA TETAPI TERBATAS DAN TAK MAMPU MEMBERIKAN PEMAHAMAN YANG LENGKAP- MENYELURUH TENTANG HAKEKAT ALAM DAN PENGALAMAN NARA (PERSONAL EXPERIENCE). OLEH SEBAB ITU KITA MEMERLUKAN DISIPLIN DAN PENDEKATAN LAIN, SEPERTI YANG DITEMPUH DALAM FILSAFAT, AESTETIKA, ETIKA DAN AGAMA, MISALNYA DALAM USAHA MEMAHAMI HAKEKAT ALAM DAN KEBERADAAN KITA.

ILMU DAN PENGETAHUAN


ILMU DAN PENGETAHUAN SALING MELENGKAPI (COMPLEMENTARY). PEMAHAMAN YANG LEBIH LENGKAP TENTANG HAKEKAT SUATU REALITAS BISA DICAPAI LEWAT PERPADUAN ANTARA ILMU DENGAN PENGETAHUAN. UMPAMANYA PADA TEOIRI FISIKA MODERN, CAHAYA BERPRILAKU SEBAGAI GELOMBANG ATAU ZARAH, TERGANTUNG PADA JENIS PENGAMATAN KITA. NAMUN KEDUANYA TERLALU SIMPEL DAN TIDAK MAMPU MENJELASKAN CAHAYA YANG SEBENARNYA YANG BERSIFAT KOMPLEKS.

TEKNOLOGI
ILMU DASAR (BASIC SCIENCE), WALAUPUN SANGAT PENTING NAMUN HANYA MERUPAKAN BAGIAN YANG KECIL SAJA DARI KESELURUHAN KEGIATAN KEILMUAN. KEGIATAN ILMU DASAR UNTUK MENGETAHUI LEBIH BANYAK DAN MEMAHAMI LEBIH DALAM TENTANG ALAM DAN ISINYA. DISAMPING ILMU DASAR DIKENAL PULA ILMU TERAPAN (APPLIED SCIENCE). TUJUAN KEGIATAN KEILMUAN DALAM ILMU TERAPAN BUKAN UNTUK PENGEMBANGAN ILMU, NAMUN UNTUK MEMECAHKAN MASALAH YANG DIHADAPI MANUSIA.

TEKNOLOGI
HASIL KEGIATAN ILMU DASAR MEMILIKI BERBAGAI ALTERNATIP DAN TUGAS ILMU TERAPAN UNTUK MEMILIH ALTERNATIP TERSEBUT SESUAI MASALAH YANG DIHADAPI. HASIL KEGIATAN ILMU TERAPAN MASIH HARUS DITRANSFORMASIKAN DALAM BENTUK BAHAN, PERANTI, PROSEDUR, ATAU TEHNIK PELAKSANAAN SUATU PROSES PELAKSANAAN ATAU PRODUKSI. TRANSFORMASI INI DISEBUT PENGEMBANGAN DAN TINDAK LANJUT DARI HASIL SUATU PENGEMBANGAN DISEBUT TEKNOLOGI. JADI TEKNOLOGI DAPAT DIPANDANG SEBAGI PENERAPAN ILMU, YANG ARAH DAN SASARANNYA AMAT TERGANTUNG PADA SI PENGUASA TEKNOLOGI TERSEBUT SERTA NILAI MORAL ETIKANYA.

TEKNOLOGI
ILMU ADALAH KEKUASAAN DAN TEKNOLOGI MERUPAKAN ALAT KEKUASAAN ITU. KEKUASAAN ILMU DAN TEKNOLOGI ITU ADALAH: KEKUASAAN ATAS MANUSIA, KEKUASAAN ATAS KEBUDAYAAN KEKUASAAN ATAS ALAM

TEKNOLOGI
KEKUASAAN ILMU DAN TEKNOLOGI ATAS MANUSIA TERUTAMA DIRASAKAN OLEH RAKYAT YANG DITINDAS OLEH SISTEM TEKNOLOGI YANG DIKENDALIKAN KELOMPOK TERTENTU. BAIK DALAM LINGKUP NASIONAL MAUPUN INTERNASIONAL, ILMU DAN TEKNOLOGI DIKENDALIKAN, DIMANFAATKAN, DAN BAHKAN DISALAHGUNAKAN OLEH KELOMPOK TERTENTU (ELIT PENGUASA), DAN OLEH NEGARA TERTENTU.

TEKNOLOGI

WALAUPUN ILMU DAN TEKNOLOGI AMAT DIDAMBAKAN KARENA MANFAATNYA, NAMUN SERING DIRASAKAN DAMPAKNYA YANG MERUSAK ATAU MELUNTURKAN NILAI-NILAI KEBUDAYAAN YANG DIJUNJUNG TINGGI. UNTUK HAL TERSEBUT DIBUTUHKAN VISI SPIRITUAL DAN KULTURAL YANG DAPAT MENDAMPINGI KEMAJUAN ILMU DAN TEKNOLOGI, YANG SALING BERINTERAKSI DAN TIDAK SALING MENGHAMBAT.

TEKNOLOGI

SEBELUM ERA TEKNOLOGI, MANUSIA LEBIH SERING MENGHADAPI KEKUASAAN ALAM YANG MENDOMINASI KEHIDUPANNYA. DENGAN PENGEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI, MANUSIA DAPAT MENGENDALIKAN ALAM, BAHKAN MAMPU MEMUSNAHKAN ALAM BESERTA ISINYA. DENGAN DEMIKIAN, PENGEMBANGAN ILMU DEMI ILMU TANPA MEMIKIRKAN AKIBATNYA DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI YANG BERBAHAYA BAGI KEHIDUPASN HARUS MENDAPATKAN KONTROL. OLEH SIAPA?

TEKNOLOGI
RANGKAIAN PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN ILMU DAN TEKNOLOGI : PENELITIAN SASAR (BASIC RESEARCH) PENELITIAN TERAPAN (APPLIED RESEARCH) PENGEMBANGAN TEKNOLOGI (TECHNOLOGICAL DEVELOPMENT) PENERAPAN TEKNOLOGI (APPLIED TECHNOLOGY)

DISUSUL DENGAN EVALUASI ETIS-POLITIS-RELIGIUS UNTUK MENENTUKAN MANFAATNYA BAGI MASYARAKAT.

ILMU DLM PERSPEKTIF MORAL, SOSIAL DAN POLITIK

SALAH TAFSIR MENGENAI ILMU DAN KECURIGAAN TERHADAP ILMUWAN BIASANYA BERSUMBER PADA PEMBAHASAN, YANG KURANG MEMPERHATIKAN LANDASANLANDASAN ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS DAN AKSIOLOGIS SECARA SPESIFIK. ILMU BERUSAHA MENGUNGKAPKAN REALITAS SEBAGAIMANA ADANYA (DAS SAIN) SEDANG MORAL PADA DASARNYA ADALAH PETUNJUKPETUNJUK TENTANG APA YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN MANUSIA ( DAS SOLLEN).

ILMU DLM PERSPEKTIF MORAL, SOSIAL DAN POLITIK

HASIL-HASIL KEGIATAN KEILMUAN MEMBERIKAN ALTERNATIF-ALTERNATIF UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN POLITIK DENGAN BERAKIBAT KEPADA PERTIMBANGANPERTIMBANGAN MORAL ETIK. ILMUWAN MEMPUNYAI TANGGUNG JAWAB PROFESIONAL KHUSUSNYA DI DUNIA ILMU DAN MASYARAKAT ILMUAN ITU SENDIRI, SERTA MENGENAI METODOLOGI YANG DIPAKAINYA. IA JUGA MEMIKUL TANGGUNG JAWAB SOSIAL YANG BILA DIBEDAKAN ATAS TANGGUNG JHAWAB LEGAL YANG FORMAL SIFATNYA, DAN TANGGUNG JAWAB MORAL YANG LEBIH LUAS CAKUPANNYA.

ILMU DAN MORAL

KAITAN ANTARA ILMU DAN MORAL TELAH LAMA MENJADI BAHAN PEMBAHASAN PARA PEMIKIR. ILMU DAN MORAL TERMASUK KE DALAM GENUS PENGETAHUAN YANG MEMPUNYAI KARAKTERISTIK MASING-MASING. TIAP PENGETAHUAN MEMILIKI TIGA KOMPONEN YANG MERUPAKAN TIANG PENYANGGAH PENGETAHUAN YANG DISUSUNNYA YAITU ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI.

PENDEKATAN ONTOLOGI

ONTOLOGI MERUPAKAN ASAS DALAM MENETAPKAN BATAS / RUANG LINGKUP UJUD YANG MENJADI OBJEK PENELAAHAN (OBJEK FORMAL PENGETAHUAN) SERTA PENAFSIRAN TENTANG HAKEKAT REALITAS DARI OBJEK ONTOLOGIS (FORMAL) TERSEBUT. SECARA ONTOLOGIS, ILMU MEMBATASI LINGKUP PENELAAHAN KEILMUANNYA HANYA PADA DAERAH-DAERAH YANG BERADA DALAM JANGKAUAN PENGALAMAN MANUSIA. ILMU HANYA MERUPAKAN SALAH SATU PENGETAHUAN DARI SEKIAN BANYAK PENGETAHUAN YANG MENCOBA MENELAAH KEHIDUPAN DALAM BATAS-BATAS ONTOLOGIS TERTENTU.

PENDEKATAN ONTOLOGI

ASPEK LAIN DARI ONTOLOGI KEILMUAN ADALAH PENAFSIRAN TENTANG HAKEKAT REALITAS DARI OBJEK ONTOLOGIS KEILMUAN ITU SENDIRI. PENAFSIRAN METAFISIK KEILMUAN HARUS DIDASARKAN PADA KARAKTERISTIK OBJEK ONTOLOGIS SEBAGAIMANA ADANYA DENGAN DEDUKSI-DEDUKSI YANG DAPAT DIVERIFIKASI SECARA FISIK. JADI SECARA METAFISIK, ILMU TERBEBAS DARI NILAI-NILAI YANG BERSIFAT DOGMATIK. UNTUK MENGUJI KEBENARAN SUATU SIFAT YANG ABSTRAK, PERLU DIUJI KONSISTENSI DEDUKTIFNYA SECARA EMPIRIS DENGAN PRINSIP ILMU DIMULAI DENGAN FAKTA DAN DIAKHIRI DENGAN FAKTA, APAPUN JUGA TEORI YANG DISUSUN DIANTARA KEDUANYA ( ENINSTEIN).

PENDEKATAN ONTOLOGI

METAFISIKA KEILMUAN YANG BERDASARKAN KENYATAAN SEBAGAIMANA ADANYA MENYEBABKAN ILMU MENOLAK PREMIS MORAL YANG BERSIFAT SEHARUSNYA. KECENDERUNGAN UNTUK MEMAKSAKAN NILAINILAI MORAL SECARA DOGMATIK KEDALAM ARGUMENTASI ILMIAH, AKAN MENDORONG ILMU SURUT KE BELAKANG. ILMU MERUPAKAN PENGETAHUAN YANG BISA DIJADIKAN ALAT UNTUK MEWUJUDKAN TUJUAN YANG MENCERMINKAN DAS SOLLEN, DENGAN JALAN MEMPELAJARI DAS SAIN AGAR DAPAT MEMPELAJARI / MENGONTROL GEJALA ALAM.

PENDEKATAN AKSIOLOGIS

AKSIOLOGI MERUPAKAN ASAS DALAM MENGGUNAKAN PENGETAHUAN YANG TELAH DIPEROLEH DAN DISUSUN DALAM TUBUH PENGETAHUAN TERSEBUT. KONSISTEN DENGAN ASAS MORAL DALAM PEMILIHAN OBJEK PENELAAHAN ILMIAH, MAKA PENGGUNAAN PENGETAHUAN ILMIAH MEMPUNYAI ASAS MORAL TERTENTU PULA. PADA DASRNYA ILMU HARUS DIGUNAKAN DAN DIMANFAATKAN UNTUK KEMASLAHATAN MANUSUA. ILMU DAPAT DIMANFAATKAN SEBAGAI SARANA UNTUK MENINGKATKAN TARAF HIDUP MANUSIA DENGAN MEMPERHATIKAN KODRAT, MARTABAT MANUSIA SERTA KELESTARIAN ALAM

PENDEKATAN AKSIOLOGIS
UNTUK KEPENTINGAN MANUSIA, MAKA PENGETAHUAN ILMIAH YANG DIPEROLEH DAN DISUSUN, DIPERGUNAKAN SECARA KOMUNAL DAN UNIVERSAL. PENGETAHUAN ILMIAH MERUPAN MILIK BERSAMA DAN DAPAT DIMANFAATKAN SETIAP ORANG SESUAI KEBUTUHANNTYA. UNIVERSAL BERARTI PENGETAHUAN ILMIAH TIDAK MENGENAL RAS, AGAMA DAN BENTUK KELOMPOK LAINNYA ( ILMU RUSIA, ILMU CINA ATAU ILMU AMARIKA).

PENDEKATAN EPISTEMOLOGI

EPISTEMOLOGI MERUPAKAN ASAS MENGENAI CARA BAGAIMANA MATERI PENGETAHUIAN DIPEROLEH DAN DISUSUN MENJADI SUATU TUBUH PENGETAHUAN. LANDASAN EPISTEMOLOGI ILMU TERCERMIN SECARA OPERASIONAL DALAM METODE ILMIAH. PADA DASARNYA METODE ILMIAH ADALAH CARA ILMU MEMPEROLEH DAN MENYUSUN TUBUH PENGETAHUANNYA DENGAN DASAR TERTENTU.

PENDEKATAN EPISTEMOLOGI
DASAR TERSEBUT MELIPUTI: KERANGKA PEMIKIRAN YANG BERSIFAT LOGIS, DENGAN AGRUMENTASI YANG KONSISTEN DENGAN PENGETAHUAN SEBELUMNYA MENJABARKAN HIPOTESIS YANG MERUPAKAN DEDUKSI DARI KERANGKA PEMIKIRAN TERSEBUT, MELAKUKAN VERIFIKASI TERHADAP HIPOTESIS TERSEBUT UNTUK UJI KEBENARAN FAKTUAL. BENTUK INI DIKENAL DENGAN ISTILAH LOGICO-HIPOTHETICO-VERIFIKASI ATAU DEDUCTO-HIPOTHETICO-VERIFIKASI.

PENDEKATAN EPISTEMOLOGI

KERANGKA PEMIKIRAN LOGIS ADALAH ARGUMENTASI YANG RASIONAL DALAM MENJELASKAN FENOMENA ALAM. VERIFIKASI SECARA EMPIRIS BERARTI EVALUASI OBJEKTIF DARI PERNYATAAN HIPOTESIS TERHADAP KENYATAAN FAKTUAL. PERNYATAAN INI MENUNJUKKAN BAHWA ILMU TERBUKA UNTUK KEBENARAN LAIN SELAIN HIPOTESIS TADI. VERIFIKASI FAKTUAL JUGA BERSIFAT TERBUKA UNTUK DI KRITIK SEHINGGA BERSIFAT FRAGMATIS DAN KRITIS.

PROFESIONAL DAN MORAL

PENDEKATAN SECARA ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS DAN AKSIOLOGIS MEMBERIKAN 18 ASAS MORAL YANG TERKAIT DENGAN KEGIATAN KEILMUAN. HAL INI DAPAT DIKELOMPOKKAN DALAM ASAS MORAL YANG MEMBENTUK TANGGUNG JAWAB PROFESIONAL DAN KELOMPOK YANG MEMBENTUK TANGGUNG JAWAB SOSIAL. TANGGUNG JAWAB PROFESIONAL LEBIH DITUJUKAN KEPADA MASYARAKAT ILMUWAN DALAM PERTANGGUNG JAWABAN MORAL YANG BERKAITAN DENGAN LANDASAN EPISTEMOLOGIS.