Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Salah satu titik awal kelahiran ilmu ekonomi makro adalah adanya

permasalahan ekonomi jangka pendek yang tidak dapat diatasi oleh teori ekonomi klasik. Masalah jangka pendek ekonomi tersebut yaitu inflasi, pengangguran dan neraca pemba-yaran. Munculnya ekonomi makro dimulai dengan terjadinya depresi ekonomi Amerika Serikat pada tahun 1929. Depresi merupakan suatu malapetaka yang terjadi dalam ekonomi di mana kegiatan produksi terhenti akibat adanya inflasi yang tinggi dan pada saat yang sama terjadi pengangguran yang tinggi pula. Namun, hubungan antara inflasi dengan tingkat pengangguran dapat didasarkan pada asumsi bahwa inflasi merupakan cerminan dari adanya kenaikan permintaan agregat. Dengan naiknya permintaan agre-gat, maka sesuai dengan teori permintaan, jika permintaan naik maka harga akan naik. Dengan tingginya harga (inflasi) maka untuk memenuhi permintaan tersebut produsen meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah tenaga kerja (tenaga kerja merupakan satu-satunya input yang dapat meningkatkan output). Akibat dari peningkatan permintaan tenaga kerja maka dengan naiknya harga-harga (inflasi) maka, pengangguran berkurang. Dimana Inflasi (inflation) merupakan gejala yang menunjukkan kenaikan tingkat harga umum yang berlangsung terus menerus. Dari pengertian tersebut maka apabila terjadi kenaikan harga hanya bersifat sementara, maka kenaikan harga yang sementara sifatnya tersebut tidak dapat dikatakan inflasi. Semua negara di dunia selalu menghadapi permasalahan inflasi ini. Oleh karena itu, tingkat inflasi yang terjadi dalam suatu negara merupakan salah satu ukuran untuk mengukur baik buruknya masalah eko-nomi yang dihadapi suatu negara. Bagi negara yang perekono-miannya baik, tingkat inflasi yang terjadi berkisar antara 2 sampai 4 persen per tahun. Tingkat inflasi yang berkisar antara 2 sampai 4 persen

dikatakan tingkat inflasi yang rendah. Selanjut tingkat inflasi yang berkisar antara 7 sampai 10 persen dikatakan inflasi yang tinggi.

1.2 1.

Rumusan Masalah Bagaimana hubungan pertumbuhan ekonomi terhadap Pengangguran dan Inflasi.

2. 3. 4. 5.

Apa yang dimaksud dengan Pertumbuhan Ekonomi. Mengapa ketika inflasi tinggi pengangguran juga mengalami peningkatan? Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya Pengangguran ? Bagaimana peranan penting pemerintah terhadap pertumbuhan Ekonomi ?

1.3 1. 2.

Tujuan Untuk mengetahui pengertian dari Pertumbuhan Ekonomi. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya Pertumbuhan Ekonomi suatu negara.

3. 4. 5.

Untuk mengetahui pengertian dari Inflasi. Untuk mengetahui pengertian dari Pengangguran. Untuk mengetahui hubungan antara Inflasi dengan pengangguran.

BAB II PEMBAHASAN MATERI


2.1 2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi Pengertian Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi adalah kenaikan pendapatan nasional secara berarti (dengan meningkatnya pendapatan perkapita) dalam suatu periode perhitungan tertentu. Menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi adalah pertambahan output (pendapatan nasional)yang disebabkan oleh pertambahan alami dari tingkat pertambahan penduduk dan tingkat tabungan. Sedangkan menurut beberapa pakar ekonomi pembangunan, pertumbuhan ekonomi adalah merupakan istilah bagi negara yang telah maju untuk menyebut keberhasilan pembangunannya, sementara itu untuk negara yang sedang berkembang digunakan istilah pembangunan ekonomi. Apapun istilah dan defenisinya, yang pasti adlah bahwa pertumbuhan ekonomi mengaitkan dan menghitung antara tingkat pendapatan nasional dari satu periode ke periode berikutnya. Angka pertumbuhan ekonomi umumnya dalam bentuk presentase dan bernilai positif, tapi juga mungkin saja bernilai negatif (misalkan saja pertumbuhan ekonomi indonesia tahun 1998 minus sekitar 4%6%). Negatifnya pertumbuhan ekonomi tentu saja disebabkan adanya penurunan yang lebih besar dari pendapatan nasional tahun berikutnya dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

2.1.2 Menghitung Pertumbuhan Ekonomi


Untuk menghitung berapa besarnya pertumbuhan ekonomi suatu negara, maka data yang diperlukandan dipergunakan adalah pendapatan nasional suatu negara. Untuk negara yang sedang berkembang umumnya menggunakan PDB, sedangkan untuk negara yang telah maju umumnya menggunakan GNP. Akan tetapi , hal ini tidak disyaratkan. Akan lebih baik lagi bila kita juga memiliki data mengenai jumlah penduduk pada tahun yang sama dengan pendapatan nasional,

tujuannya agar kita dapat menghitung pendapatan perkapitanya. Dari tingkat pendapatan perkapita inilah sebaiknya menentukan pertumbuhan ekonomi.

1.

Metode Hitung (Metode Aritmatik)


Menghitung pertambahan PDB atau GNP (per kapita )dari tahun ke tahun.
REG GNPn GNPn 1 x100 % GNPn 1

Atau bila menggunakan pendapatan per kapita :

Dimana

REG adalah tingkat pertumbuhan ekonomi,

GNPn adalah GNP tahun berikutnya,

GNPn 1 adalah GNP tahun lalu,


GNP / Pop adalah pendapatan per kapita,

2.

Metode Ukur (Metode Geometrik)


Metode ini menghitung pertambahan PDB atau GNP antar tahun (tahun rentang) dengan menggunakan rumus :

Terkadang cara ini disebut juga metode rata-rata, karena memang rumus ini adalah untuk menentukan pertumbuhan ekonomi secara rata-rata tiap periodenya. Kebaikannya adalah tentu saja sangat bermanfaat untuk data yang sangat jarang tersedia secara berurutan, kelemahannya kita tidak mengetahui seberapa besar pertumbuhan ekonomi tiap tahunnya secara riel.

Contoh : Misalkan terdapat data makro ekonomi tentang Pendapatan Nasional sebagai berikut : Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Pendapatan Nasional 150 180 220 280 400

Penyelesaian dengan Metode Hitung :

Berdasarkan informasi hitunglah pertumbuhan ekonominya dengan menggunakan metode hitung dan ukur. Dengan menggunakan metode ukur, maka hasilnya adalah sebagai berikut : [
( )

[ *

] ( (

( ) ) (

Hasil perhitungan dengan menggunakan 2 metode di atas, rata rata pertumbuhan yang dihitung dengan menggunakan metode aritmatikdan menggunakan metode geometrik relatif sama yaitu sebesar 28%.

2.2

Teori Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

2.2.1 Teori Adam Smith Adam Smith memaparkan tentang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dengan memandang kepada : a. Adanya hukum alam. Ia sangat percaya dengan prinsip bahwa hanya individu sendirilah yang tahu akan kebutuhannya,tidak orang lain apalagi pemerintah. Ia beranggapan bahwa danya kekuatan yang tidak kentara (invisible hand) menyebabkan setiap perekonomian akan memperlakukan individu sesuai dengan harapannya. Jadi bila semua orang dibebaskan berusaha, maka akan memaksimalkan kesejahteraan mereka secara agregat. b. Peningkatan daya produktivitas tenga kerja berhubungan: Meningkatnya keterampilan pekerja Penghematan waktu dalam memproduksi barang Penemuan mesin yang sangat menghemat tenaga

Kesemuanya itu berasal dari pembagian kerja. c. Proses penumpukan (akumulasi) modal. Menurutnya, proses akumulasi modal meningkat seiring denagn meningkatnya tabungan, dan dari tabunganlah asalnya investasi, dengan demikian bila pendapatan naik sementara konsumsi relatif tetap maka tabungan akan semakin tinggi
6

dan berdampak pada penyedian modal yang semakin banyak untuk investasi.

2.2.2 Teori David Ricardo Richardo membangun teorinya dengan melihat adanya hubungan antara tuan tanah, kapitalis dan kaum buruh. Menurutnya keseluruhan pendapatan nasional dibagikan kepada 3 kelompok itu berupa sewa, keuntungan dan upah. Suatu perekonomian, menurut Richardo memiliki ciri sebagai berikut : Tanah (sumber daya alam) terbatas jumlahnya. Tenaga kerja/penduduk meningkat atau menurn sesuai dengan tingkat upah batas minimum (tingkat upah alamiah). Akumulasi modal akan terjadi apabila tingkat keuntungan pemilik modal (pengusaha) meningkat diatas tingkat keuntungan minimal untuk melakukan investasi. Kemajuan teknologi bersifat given (bagi beberapa kalangan ekonom, terjemahkan sebagai kemajuan teknologi selalu meningkat akan tetapi berhenti tanpa perkembangan yang berarti, terutama teknologi efisien pangan). Sektor pertanian paling dominan.

2.2.3 Harrod Domar Harrod mensyaratkan pertumbuhan yang terjamin (warranted of growth) yaitu pertumbuhan pendapatan haruslah melaju dengan kecepatan setara dengan kecenderungan menabung dikalikan dengan produktivitas modal, sedangkan menurut Domar syarat pertumbuhan mantap (Steady of Growth) pertumbuhan investasi haruslah melaju dengan kecepatan yang sama dengan kecenderungan menabung dan produktiitas modal. Jadi kedua ekonom ini pada dasarnya sama sama mensyaratkan bahwa agar pertumbuhan ekonomi dapat berjalan dengan mantap dan terjamin maka pertumbuhan investasi haruslah sama dengan

pertumbuhan pendapatan nasional yang melaju dengan kecepatan sama dengan nilai MPS dikalikan dengan 1/COR.

2.2

Inflasi (Inflation) Yang dimaksud dengan inflasi adalah proses kenaikan harga harga

2.2.1 Pengertian Inflasi umum secara terus menerus. Sedangkan kebalikan inflasi adalah deflasi, yaitu penurunan harga secara terus menerus, akibatnya daya beli masyarakat bertambah besar, sehingga pada tahap awal barang barang menjadi langka, akan tetapi pada tahapa berikutnya jumlah barang akan semakin banyak karena karena semakin berkurangnya daya beli masyarakat, sedangkan lawan dari inflasi dan deflasi, yaitu manakala harga harga secara umum turun dari periode sebelumnya (nilai inflasi minus). Akibat dari inflasi secara umum adalah menurunnya daya beli masyarakat karena secara riel tingkat pendapatannya juga menurun. Jadi misalkan besarnya inflasi pada tahun yang bersangkutan naik sebesar 5% sementara pendapatan tetap, maka itu berarti secara riel pendapatan mengalami penurunan sebesar 5% yang akibatnya secara relatif akan menurunkan daya beli sebesar 5% juga.

2.2.2

Metode Perhitungan Inflasi Angka inflasi dihitung berdasarkan angka indeks yang dikumpulkan dari

beberapa macam barang yang diperjual belikan dipasar dengan masing-masing tingkat harga (barang-barang ini tentu saja yang paling banyak dan merupakan kebutuhan pokok/utama bagi masyarakat).Berdasarkan data harga itu disusunlah suatu angka yang di indeks. Angka indeks yang menghitungkan semua barang yang dibeli oleh konsumen pada masing-masing harganya disebut sebagai indeks harga konsumen (IHK atau consumer price index = CPI ).Berdasarkan indeks harga konsumen dapat dihitung berapa besarnya laju kenaikan harga-harga secara umum dalam periode tertentu.

Rumus menghitung tingkat inflasi :


8

1.

In

IHK n IHK n 1 100 % IHK n 1

2.

In

Df n Df n 1 100 % Df n 1

Dimana : In = inflasi

IHKn = indeks harga konsumen tahun dasar IHKn-1 = indeks harga konsumen tahun selanjutnya Dfn Dfn-1 = GNP atauPDB deflator tahun berikutnya = GNP atauPDB deflator tahun sebelumnya

2.2.3

Indeks Harga dan Deflator Indeks harga dapat dibagi menjadi indeks harga tertimbang dan harga

indeks harga biasa. Indeks harga tertimbang bisa menggunakan harga tahun dasar, harga berlaku ataupun menggunakan bobot tertentu.

2.2.4

Indeks Harga Sederhana/ Biasa Metode ini menghitung besarnya kenaikan harga dari suatu komoditi

setiap periodenya berdasarkan harga nominalnya. Jadi bila harga komoditi barang konsumsi tahun 1990 Rp. 500, tahun 1991 Rp. 550, maka indeks harga untuk komoditi tersebut tahun 1990 adalah 100(500/500x100), tahun 1991 sebesar 110(550/500x100). Dengan demikian kenaikan harga adalah sebesar 110-100=10 atau 10%.(nilai ini akan sama dengan (110-100)/100x100%=10%. NB : Perlu diingat bahwa pada tahun awal yang sering dipergunakan adalah 100.

Rumus untuk menghitung indeks harga biasa ini adalah :

IHK

Pn 100 % P0

Dimana Pn = harga komoditi sekarang P0 = harga komoditi yang lalu

2.2.5 Indeks Harga Tertimbang Metode ini menggunakan tahun dasar dan tahun berjalan sebagai timbangannya. Dan dapat juga menggunakan bobot, dimana bobot diperoleh dari rasio penerimaan dari komoditi tertentu terhadap seluruh komoditi tertentu

terhadap penerimaan seluruh komoditi yang diperjualbelikan di pasar ( tentu saja komoditi yang dipakai untuk perhitungan inflasi, adalah yang termasuk dalam 9 bahan pokok kebutuhan manusia, yang sekarang diperluas oleh BPS-Indonesia).

Rumus untuk menghitung indeks Laspeyers ini adalah :

IL

P .Q P .Q
n 0

100%

Dimana Q adalah quantitas komoditi yang dibeli.

Rumus untuk menghitung indeks Paasche ini adalah :

10

IP

P .Q P .Q
n 0

n n

100%

Perhatiakan bahwa indeks Paasche tidak lain adalah GNP dan PDB deflator, karena rumus itu sama dengan :
( ( ) )

Berikut ini diberikan contoh perhitungan dengan metode Laspeyers dan Paasche dengan menggunakan data yang disajikan pada tabel sebagai berikut : Produk Domestik Bruto negara M ( dalam Jutaan Rp.) Tahun: Produk: Jumlah: Harga: NTBhb: (A)Po x Qn (B) Pn x Q0 2004: 2005 2006 X X X 10 20 25 10 15 17 100 300 425 Po x Qo I

100=(10x10) 10x10=100 =100 200=(10x20) 10x15=150 250=(10x25) 10x17=170 II

2004: 2005 2006

Y Y Y

15 30 50

5 6 6,5

75 180 325

75=(5x15) 150=(5x30) 250=(5x50)

15x5=75 15x6=90 15x6,5=97,5

=75 III

2004: 2005 2006

Z Z Z

30 60 70

2 2,5 3

60 150 210

60=(2x30) 120=(2x60) 140=(2x70)

30x2=60 30x2,5=75 30x3=90

=60 IV

11

( )

VI

( )

VII

Keterangan : A= PDBhk berdasarkan metode Paasche B= PDBhk berdasarkan metode Laspeyers Berdasarkan hasil perhitungan yang terdapat dalam tabel di atas baris VI dan VII, maka dapat dihitung indeks harga Laspeyers dan Paasche sebagai berikut : 1. Indeks Laspeyers 2004 = 235/235 x 100 2005 = 315/235 x 100 2006 = 357,5/235 x 100 =100 = 134, 04 = 152, 1

Dengan demikian tingkat inflasi pada tahun 2005 dan 2006 berdasarkan indeks Laspeyers masing masing adalah 34,04% dan 13,5 %. 2. Indeks Paasche 2004 = 235/235 x 100 2005 = 630/470 x 100 2006 = 960/640 x 100 =100 = 134 = 150

Dengan demikian tingkat inflasi pada tahun 2005 dan 2006 berdasarkan indeks Laspeyers masing masing adalah 34% dan 11,9 %.(deflasi)

2.2.6 Indeks Harga Berdasarkan Pembobotan Para penyusun indeks harga haruslah memiliki data mengenai jumlah transaksi (produk komoditi) tahun tertentu yang akan dipergunakan sebagai tahun

12

bobotnya. Misalkan saja akan dihitung indeks harga 3 tahunan 1992, 1993, dan 1994. Bobot digunakan tahun 1992 dengan data sebagai berikut :

Tabel Komoditi yang diperjual belikan Tahun 1992 Komoditi X Y Z Harga 5 2 3 TOTAL Jumlah 300 100 200 Pendapatan 150 200 600 950 Bobot 150/950=0.16 200/950=0.20 600/950=0.64 1.00

Berdasarkan pembobotan itu dapat dihitung indeks harga tahun yang ada sebagai berikut : Tahun Komoditi Harga Bobot Harga x Bobot 2004 X Y Z Jumlah 2005 X Y Z Jumlah 2006 X Y Z Jumlah 7,5 5,5 4 0,16 0,20 0,64 7 4 3 0,16 0,20 0,64 5 2 3 0,16 0,20 0,64 0,8 0,4 1,92 3,12 1,12 0,8 1,92 3,18 1,2 1,2 2,56 4,86

Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka dapat disusun indeks masing masing tahun sebagai berikut :
13

Tahun 2004 indeks harganya 3,12/3,12 x 100 = 100 Tahun 2005 indeks harganya 3,84/3,12 x 100 = 123 Tahun 2006 indeks harganya 4,86/3,12 x 100 = 156

Berarti inflasi tahun2005 adalah sebesar :

Sedangkan inflasi tahun 2006 adalah sebesar :

Dengan demikian apabila kita memiliki data mengenai GNP atau PDB yang disusun berdasarkan harga konstan dan harga berlaku maka kita dapat menentukan tingkat inflasi yang terjadi dalam kurun waktu tersebut.

2.2.7 Indeks Deflator Dibawah ini disajikan data PDB harga konstan dan harga berlaku tahun 1993 yang berasal dari BPS sebagai berikut :

Tabel PDBhk93 dan PDBhb (dalam miliar Rupiah ) Tahun PDBhk93 (PDB Riel) PDBhb Nominal) 1993 1994 1995 1996 329.775.8 354.640.8 383.767.8 413.769.0 329.775.8 382.219.7 452.380.9 528.956.4 (PDB

Berdasarkan data pada tabel itu, maka dapatlah kita hitung angka deflatornya sebagai berikut :

14

Berdasarkan angka deflator itu kita hitung inflasinya sebagai berikut : Inflasi tahun 1994 = 7,8 % Inflasi tahun 1995 = 117,9- 107,8/107,8 x 100 % = 9,4 % Inflasi tahun 19946= 127,8 117,9/117,9 x 100% = 8,4%

2.2.8 Jenis Inflasi 1. Menurut Sifatnya Berdasarkan sifatnya inflasi dapat dibagi menjadi 3 kategori utama yaitu : Inflasi Merayap/rendah (creeping inflation) yaitu inflasi yang besarnya kurang dari 10% pertahun Inflasi menengah (galloping inflation) besarnya antara 10-30% pertahun. Inflasi ini biasanya ditamdai oleh naiknya harga harga secara cepat dan relatif besar. Inflasi berat (high inflation), yaitu inflasi yang besarnya antara 30 100% pertahun. Inflasi sangat tinggi (hyper inflatiion) yaitu inflasi yang ditandai oleh naiknya harga secara drastis hingga mencapai 4 digit (di atas 100).

2. Berdasarkan sebabnya Demand pull inflation, inflasi ini timbul karena adanya permintaan keseluruhan yang tinggi disatu pihak, dipihak lain kondisi produksi telah mencapai kesempatan kerja penuh (full employment), akibatnya adalah sesuai dengan hukum permintaan, bila permintaan banyak sementara penawaran tetap maka harga akan naik. Cost Push Inflation, inflasi ini disebabkan turunnya produksi karena naiknya biaya produksi (naiknya biaya produksi dapat terkjadi karena tidak efisiennya perusahaan, nilai kurs mata uang negara yang bersangkutan jatuh/menurun, kenaikkan harga bahan baku industri,

15

adanya tuntutan kenaikan upah dari sekitar buruh yang kuat dan sebagainya.

3. Berdasarkan Asalnya Berdasarkan asalnya inflasi dibagi menjadi dua yaitu 1. Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation) yang timbul karena terjadinya defisit dalam pembiayaan dan belanja negara yang terlihat pada anggaran belanja negara. 2. Inflasi yang berasal dari luar negeri. Karena negara negara yang menjadi mitra dagang suatu negara mengalami inflasi yang tinggi, dapatlah diketahui bahwa harga harga barang dan juga ongkos produksi relatif mahal, sehingga bila terpaksa negara lain harus mengimpor barang tersebut maka harga jualnya di dalam negeri tentu saja bertambah mahal.

2.2.9 Dampak Inflasi Inflasi umumnya memberikan dampak yang kurang menguntungkan dalam perekonomian, akan tetapi sebagaimana dalam salah satu prinsip ekonomi bahwa dalam jangka pendek ada trade off antara inflasi dan pengangguran menunujukkan bahwa inflasi dapat menurunkan tingkat pengangguran, atau inflasi dapat dijadikan salah satu cara untuk menyeimbangkan perekonomian negara, dan lain sebagainya. Secara khusus dapat diketahui bebrapa dampak baik negatif maupun positif dari inflasi adalah sebagai berikut : 1. Bila harga barang secara umum naik terus menerus maka masyarakat akan panik, sehingga perekonomian tidak berjalan normal, karena disatu sisi ada masyarakat yang berlebihan uang memborong barang sementara yang kekurangan uang tidak bisa membeli barang, akibatnya negara rentan terhadap segala macam kekacauan yang ditimbulkannnya. 2. Produsen cenderung memanfaatkan kesempatan kenaikan harga untuk memperbesar keuntungan dengan cara mempermainkan harga di pasaran, sehingga harga akan terus menerus naik.

16

3.

Bila inflasi berkepanjangan maka produsen banyak yang bangkrut karena produknya relatif akan semakin mahal sehingga tidak ada yang mampu membeli.

4.

Jurang antara kemiskinan dan kekayaan masyarakat semakin nyata yang mengarah pada sentimen dan kecemburuan ekonomi yang dapat berakhir pada penjarahan dan perampasan. Dampak positif dari inflasi adalah bagi pengusaha barang barang mewag (high end) yang mana barangnya lebi laku pada saat harganya semakin tinggi (masalah pretise).

5.

6.

dll

2.3

Pengangguran Bagi perkembangan ekonomi selalu dihantui dengan pengangguran yang

selalu muncul disebabkan oleh ketidakmampuan pertumbuhan ekonomi untuk memberikan perluasan kesempatan kerja disebabkan oleh petumbuhan penduduk yang lebih cepat. Kondisi ini berlangsung secara terus menerus sehingga masalah pengangguran selalu menjadi prioritas di samping upaya memacu pertumbuhan ekonomi. Kemajuan ekonomi tidak luput diikuti oleh inflasi sehingga akan berkaitan langsung dalam upaya perluasan kesempatan kerja. Banyak negara di dunia ini menghadapi masalah inflasi dan pengangguran, apakah memilih pada tingkat inflasi tinggi dan pengangguran rendah atau sebaliknya. Demikian pula yang terjadi dalam dewasa ini bahwa kenaikan laju inflasi selalu diikuti oleh kenaikan tingkat pengangguran atau sebaliknya pengangguran yang rendah disebabkan oleh tingkat inflasi yang rendah. Inflasi erat hubungannya dengan pengangguran.

2.3.1

`Biaya Sosial dari Pengangguran Sama halnya dengan inflasi, pengangguran juga akan menimbulkan

dampak negatif jika sifat pengangguran sudah sangat kronis.

17

1. Terganggunya stabilitas perekonomian 2. Terganggunya stabilitas sosial-politik 3. Inflasi dan pengangguran Arthur Philip menyatakan bahwa hubungan diantara tingkat inflasi

sebagai hubungan negatif. Bila tingkat inflasi tinggi dapat berakibat tingkat pengangguran rendah atau bahkan sebaliknya. Arthur Okun menyatakan hubungan diantara inflasi dengan tingkat pengangguran sebagai hubungan positif. Artinya apabila tingkat inflasi tinggi maka akan diikuti pula oleh kenaikan tingkat pengangguran atau sebaliknya.

2.3.2

Jenis Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya Pengangguran menurut jenisnya dapat digolongkan sebagai berikut :

Pengangguran friksional adalah pengangguran yang terjadi disebabkan kesulitan temporer dalam mempertemukan pencari kerja dan lowongan pekerjaan yang tersedia.

Pengangguran siklis adalah pengangguran yang terjadi disebabkan perekonommian tidak selalu berkembang dengan teguh. Pengangguran struktural terjadi disebabkan oleh adanya perobahan dalam struktur atau komposisi perekonomian. Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat adanya penggantian tenaga kerja manusia dengan mesin-mesin dan bahan kimia. Dimana dalam hal ini kita telah menggunakan mesin dan kemajuan teknologi lainnya untuk mempermudah pekerjaan sehingga tidak lagi membutuhkan banyak pekerja.

18

2.3.3

Jenis Pengangguran Berdasarkan Cirinya

Pengangguran musiman terjadi disebabkan oleh musim seperti diluar musim panen dan turun ke sawah banyak orang yang tidak mempunyai kegiatan ekonomi yang sekedar menunggu musim baru.

Pengangguran terbuka ini tercipta sebagai akibat pertambahan lowongan kerja yang lebuih rendah dibanding dengan pertambahan tenaga kerja. Pengangguran tersembunyi ini wujud di sektor pertanian atau jasa.setiap kegiatan ekonomimemerlukan tenaga kerja, dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan tergantung kepada banyak faktor.

Setengah menganggur yaitu orang-orang yang bekerja dengan mempunyai masa kerja.

2.4

Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Pengangguran


Pengangguran berhubungan dengan ketersediaan lapangan kerja, ketersediaan

lapangann kerja berhubungan dengan investasi, sedangkan investasi didapat dari akumulasi tabungan,tabungan adalah sisa dari pendapatan yang tidak dikonsumsi.

Semakin tinggibpendapatan nasional maka akan semakin besarlah harapan untuk pembukaan kapasitas produksi baru yang tentu saja akan menyerap tenaga kerja baru. Semakin naik pertumbuhan ekonomi maka semakin besar harapan untuk tidak

menganggur ,dan sebaliknya semakin turun pertumbuhan ekonomi semakin besar tingkat pengangguran. Arthur Okun, mengatakan bahwa Apabila GNP tumbuh sebesar 2,5% di atas trendnya, yang telah dicapai pada tahun tertentu, tingkat pengangguran akan turun sebesar 1%. ( )

= Tingkat pengangguran sekarang , lalu, = pertumbuhan aktual, dan

= tingkat pengangguran yang

= tingkat pertumbuhan rata-rata/trend.

19

Contoh : Jumlah pengangguran yang lalu sebesar 20% dari total tenaga kerja dan pertumbuhan aktualnya =7% dan rata-rata pertumbuhan 5 tahun =5% maka pengangguran Penyelesaian : ( ) berapakah tingkat

2.5

Hubungan antara Inflasi dan Pengangguran


Arti inflasi dan pengangguran telah dijelaskan secara singkat pada subbab di atas.

bila inflasi tinggi maka secara teoritis banyak pengangguran yang mendapat pekerjaan. Namun bagaimanapun dampak dari inflasi ini lebih besar negatifnya. Prof .A.W.Philips,dari london inggris meneliti data dari berbagai negara bahwa ada hubungan terbalik antara inflasi dengan pengangguran . seperti yang terlukis dalam grafik dibawah ini

Inflasi/upah

NAIRU

Pengangguran

20

Secara teori LIPSEY menerangkan hubunngan antara tingkat inflasi dengan pengangguran melalui teori pasar tenaga kerja. Menurutnya upah tenaga kerja cenderung turun bila pengangguran relatif banyak, karena banyaknya tingkat pengangguran mencerminkan adanya kelebihan penawaran tenaga kerja. Dan berlaku sebaliknya, upah tenaga kerja cenderung naik bila pengangguran relatif sedikit, karena adanya kelebihan permintaan tenaga kerja.

21

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
pendapatan per kapita dalam suatu periode hitungan tertentu). 2. Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum secara terus menerus. 3. Lawan inflasi adalah deflasi yaitu penurunan harga secara terus menerus. 4. Akibat dari inflasi adalah Menurunnya daya beli masyarakat karena secara riil tingkat

1. Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan pendapatan secara nasional(meningkatnya

pendapatannya juga menurun dan semakin selektif . Masyarakat menarik tabungannya dan bank kekurangan dana. Produsen memperbesar keuntungan tanpa kontrol pemerintah. Terjadi penimbunan barang produksi dan distribusi barang tidak adil. Jurang kemiskinan dan kekayaan semakin nyata. Tingkat pengangguran cenderung menurun. 5. Pengangguran adalah orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan sedang aktif mencari pekerjaan. Kategori orang yang menganggur biasanya adalah mereka yan g tidak memiliki pekerjaan pada usia dan masa kerja(18 tahun ke atas) . 6. Jenis pengangguran ada 3 : Siklis yaitu pengangguran yang terjadi karena permintaan lebih rendah dari output potensial perekonomian. Friksional yaitu karena adanya putaran dalam ketenagakerjaan. Struktural yaitu pengangguran yang disebabkan ketidaksesuaian antara lingkup pekerjaan dan

struktur angkatan kerja, berdasarkan pendidikan dan keterampilan,jenis kelamin, pekerjaan,industri ,geografis, informasi dan tentu saja struktur permintaan tenaga kerja.

22

Lampiran 1. Apakah mahasiswa termasuk ke dalam pengangguran dan berikan alasannya! Jawab : Mahasiswa adalah pengangguran karena usia mahasiswa adalah usia yang tergolong usia kerja dan hal ini besar pengaruhnya terhadap pendapatan nasional,yaitu mahasiswa belum berpenghasilan namun dalam penghitungan PNB dan PDB mahasiswa sudah dihitung meskipun belum memberi penghasilan.

2. Seorang yang baru lulus wisuda dan sedang mencari pekerjaan digolongkan sebagai apa? Jawab : Pengangguran friksional

3. Pada tahun 2001 pendapatan nasional riil adalah 102,2 M, PDB=198,5M CPI=152M dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 128,8M PDB=225,7M dan CPI =160M. Hitunglah pendapatan nasional riil dan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2002 ! Jawab :

4. Berdasarkan tabel jawablah pertanyaan berikut ! Tahun PDB (Jutaan ) CPI Jumlah Penduduk 2000 2001 2002 210 230 250 120 124 127 31.215 31.800 32.400

23

2003

270

130

33.048

a. Berapakah pendapatan per kapita tiap tahunnya? b. Hitunglah tingkat pertumbuhan ekonomi tiap tahunnya? Jawab : a. Pendapatan perkapita =

i.

Tahun 2000 Pendapatan perkapita =

ii.

Tahun 2001 Pendapatan perkapita =

iii.

Tahun 2002 Pendapatan perkapita =

iv.

Tahun 2003 Pendapatan perkapita =

b.

Tahun 2001

Tahun 2002

Tahun 2003

24

Tahun 2003

25

DAFTAR PUSTAKA
Sumanja, Rakhmat dkk. 2010. Pengantar Ekonomi Makro. Medan: USU. Sukirno, Sadono. 2011. Makro Ekonomi dan Teori Pengantar edisi ketiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Samuelson, Paul A. & William D. Nordhaus. 1992. Makro Ekonomi Edisi keempatbelas. Jakarta: Erlangga. Tim Dosen Pengampuh.2011. Pengantar Ekonomi Makro. Medan: FE UNIMED. http://almasdi.unri.ac.id/bahan_ajar/Ekonomi_Pembangunan/Pertemuan_3_pertu mbuhan%20ekonomi.pdf

26