Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Anak merupakan seorang individu yang dengan arti khusus. Ia merupakan mahluk sosial yang juga memerlukan kasih sayang, perlindungan, bimbingan dan tuntunan. Anak sebagai generasi penerus pembangunan bangsa dan negara diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkualitas. Karena anak merupakan sumber daya manusia dari pembangunan nasional dalam usaha mencapai masyarakat yang adil dan makmur baik spiritual dan material.

Tanggung jawab perlindungan anak pertama dimulai dari keluarga. Keluarga adalah tempat pertama kali anak dibentuk. Dalam keluarga inilah anak biasanya mendapatkan kasih sayang, perhatian, bimbingan dan juga perlindungan. Namun dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, kenyataan memperlihatkan adanya kekerasaan pada anak yang dilakukan oleh keluarganya, kemungkinan dilakukan oleh orang tua kandung atau orang tua tirinya, masyarakat dan pemerintah. Tidak hanya dari segi psikologis dan emosional. Namun sudah biasa digolongkan pada penganiayaan hingga pembunuhan. Keadaan seperti ini memperlihatkan bahwa kekerasaan terhadap anak semakin buruk lagi dan kondisi anak diseluruh dunia sekarang ini tidak menjadi

lebih baik.

Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah memberikan perhatian utama dan menyelenggarakan layanan secukup-cukupnya untuk siswa yang mengalami kekerasan dalam menjalankan tugas konselor sekolah harus memiliki dan mewujudkan tanggungjawabnya kepada siswa yang menjadi korban kekerasan oleh keluarga, bahkan gurunya.

Di luar sekolah, pelayanan Bimbingan dan konseling diselenggarakan di dalam keluarga dan lembaga-lembaga serta bidang lain dalam masyarakat luas dalam kaitan itu konselor berada dimanamana, bekerja di berbagai lembaga dalam berbagai bidang kehidupan, bekerja sama dengan berbagai pihak dan menawarkan jasa bimbingan dan konseling secara luas dalam masyarakat.

Fenomena kekerasaan pada anak sudah merupakan problema sosial. Tereksposnya berita kriminalitas melalui program televisi dan media masa mengenai kekerasaan pada anak semakin meningkat, ini bukan sekedar memprihatinkan, melainkan menyedihkan bahkan mengerikan karena tidak jarang dijumpai anak harus kehilangan nyawanya. Bentuk kekerasaan pada anak cakupannya sangat luas karena tidak hanya menimpa anak usia remaja tetapi juga usia balita dan batita.

Di Indonesia khususnya di Lampung kasus kekerasaan yang terjadi pada anak semakin meningkat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Perlindungan Anak Bandar Lampung menunjukan kekerasaan yang terjadi pada anak sebanyak 30 kasus selama tahun 2011.
2

Anak-anak yang menjadi korban kekerasaan ini, umumnya tidak mampu melakukan apapun untuk melaporkan kasus kekerasaan yang dialaminya karena takut, malu, diancam oleh pelaku agar mereka tidak melaporkan, dan karena mereka belum mengerti apa-apa. Berbeda dengan orang yang sudah besar dan dewasa yang masih ada upaya untuk membela diri, bagi anak-anak hal itu sama sekali belum mungkin. Anak kecil belum dapat menjaga dirinya, apalagi untuk menghindari kekerasaan yang terjadi pada mereka dan membela diri. Tenaga atau tubuh yang kecil tidak ada artinya berhadapan dengan orang dewasa yang jauh lebih besar. Bujuk rayu dan tipu daya mudah sekali menaklukan anak kecil yang masih polos. Ancaman sudah cukup membuatnya ketakutan sehingga dengan kekuatan itu anak menerima saja perlakuan terhadap dirinya.

Kebanyakan anak-anak yang menjadi korban kekerasan rata-rata berusia dibawah tiga belas tahun, anak-anak tersebut seharusnya masih butuh kasih sayang dan perlindungan, akan tetapi kenyataan yang dilihat tidak sesuai dengan yang diharapkan karena masih banyak terlihat bahwa korban kekerasan banyak dialami oleh anak-anak di bawah umur. Tabel 1 Jumlah anak korban kekerasan menurut data yang dimiliki oleh Lembaga Perlindungan Anak Bandar Lampung Tahun 2011 No 1 2 3 Jenis Kekerasan Korban Kekerasan Fisik Korban ABH Korban Pelecehan Seksual Jumlah 10 17 3 30

Jumlah Sumber data : Anak korban kekerasan dalam catatan akhir selama tahun 2011 Lembaga Perlindungan Anak

Berdasarkan tabel diatas selama tahun 2011 terjadi 30 kasus kekerasan yang terjadi pada anak, dari 30 kasus tersebut terdiri atas 3 kasus kekerasan yaitu: Korban Kekerasan Fisik, Korban ABH (anak berhadapan dengan hukum), dan Korban Pelecehan Seksual, dari 3 jenis kekerasan tersebut maka Jenis kekerasan yang paling sedikit dilakukan adalah Pelecehan Seksual sedangkan kekerasan terbesar dilakukan pada anak-anak tahun 2011 adalah Anak yang Berhadapan Dengan Hukum.

Berdasarkan uraian maka judul penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KEKERASAAN PADA ANAK DALAM PERSPEKTIF BIMBINGAN DAN KONSELING (STUDI KASUS DI LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK BANDAR LAMPUNG TAHUN 2011/2012

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan fokus masalah diatas maka rumusan masalahnya adalah Apa saja Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Kekerasaan pada Anak dalam Perspektif Bimbingan dan Konseling (Studi kasus Lembaga Perlindungan Anak Bandar lampung tahun 2011/2012.

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan pada anak dalam perspektif bimbingan dan konseling studi kasus di lembaga Perlndungan Anak bandar lampung 2011/2012. a. Secara teoritis Penelitian ini secara teoritis dapat berguna untuk memperkaya konsep ilmu pendidikan, khususnya pendidikan bimbingan konseling secara terioritis dalam kajian bimbingan konseling dan hukum masyarakat tentang penyakitpenyakit masyarakat dalam hal ini tindak kekerasan pada anak. b. Secara peraktis Secara praktis penelitian ini mempunyai kegunaan antara lain : 1.1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai informasi dan sebagai masukan dalam membuat kebijakan mengenai kekerasan pada anak bagi dinas yang terkait untuk membantu menangani kekerasaan yang terjadi pada anak. 1.2. Sebagai bahan informasi positif untuk meningkatkan kesejahteraan anak, bahwa anak adalah penerus citacita bangsa dan negara Sebagai calon guru hasil penelitian ini untuk dijadikan suplemen materi pokok tentang kesejahteraan anak dan hak asasi manusia dari tingkat pendidikan awal hingga sampai materi itu dianggap perlu digunakan.

1.3.2. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan penelitian dibagi menjadi dua kegunaan, yaitu kegunaan secara teoritis dan kegunaan secara praktis. a. Kegunaan secara teoritis berguna untuk pemahaman akan terjadinya kekerasan pada anak sebagai kornan dalam lingkungan keluarga atau anak korban KDRT. (berdasarkan tugas guru bimbingan dan konseling). b. Kegunaan secara praktis adalah sebagai: (1) Sumbangsih kepada orangtua, agar lebih memahami bagaimana bentuk konkrit yang terjadi jika anak mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga dan dalam melindungi anak korban kekerasan dalam rumah tangga. (2) Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bandar Lampung, agar lebih berdaya lagi dan dapat dijadikan tempat berkonsultasi dan berlindungan bagi anak korban kekerasan. (3) Salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan S.1 dan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Ilmu Pendidikan STKIP-PGRI Bandar Lampung.

1.4. Definisi Konsep Konsepsional adalah susunan dari beberapa konsep sebagai satu kesatuan yang utuh, sehingga terbentuk satu wawasan untuk dijadikan landasan, acuan dan pedoman dalam penelitian atau penulisan (Muhammad.A., 2004; 78).

Sumber konsep adalah undang-undang, buku literature, karya ilmiah, laporan penelitian, kamus dan fakta-fakta peristiwa, konsep-konsep tersebut khususnya kumpulan dari arti yang berkaitan denga istilah: 1. Pelaksanaan adalah tindakan menjalankan suatu maksud untuk mencapai tujuan. (kamus bahasa Indonesia. 1998, 457) 2. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. (Pasal 1 ayat 1, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002). 3. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. (Pasal 1Ayat 2Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002). 4. Hak dalam kamus besar bahasa Indonesia hak mempunyai pengertian tentang sesuatu hal yang benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan, dan lain-lain), kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu, derajat atau martabat. 5. Kewajiban adalah sesuatu yang wakjib dilaksanakan, keharusan (sesuatu hal yang harus dilaksanakan). 6. Kekerasan fisik adalah apabila anak-anak disiksa secara fisik dan terdapat cedera yang terlihat pada badan anak akibat adanya kekerasan itu. Kekerasan ini dilakukan dengan sengaja terhadap badan anak. (Jurnal KPAI, Mei, 1995)
7

7. Kekerasan karena diabaikan menurut Akta Perlindungan Anak sebagai kegagalan ibu bapak untuk memenuhi keperluan utama anak seperti pemberian makan, pakaian, kediaman, perawatan, bimbingan, atau penjagaan anak dari gangguan penjahat atau bahaya moral dan tidak melindungi mereka dari bahaya sehingga anak terpaksa menjaga diri sendiri dan menjadi pengemis. (Jurnal KPAI, Mei, 1995) 8. Kekerasan emosi adalah sekiranya terdapat gangguan yang keterlaluan yang terlihat pada fungsi mental atau tingkah laku, termasuk keresahan, murung, menyendiri, tingkah laku agresif atau mal development. (Jurnal KPAI, Mei, 1995) 9. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah kekerasan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologi, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. (Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004). 10. Lembaga Perlindungan Anak adalah: Lembaga Independen di bidang perlindungan anak dan pemenuhan hak-hak anak yang berbasis masyarakat. Khususnya untuk daerah/propinsi Lampung beraviliasi pada Komisi Nasional Perlindungan ANAK (Komnas Anak) dan dibentuk pada tanggal 28 Mei 1999 dan difasilitasi oleh Kanwil Depsos Provinsi Lampung.

1.5. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian dibagi menjadi dua kegunaan, yaitu kegunaan secara teoritis dan kegunaan secara praktis. c. Kegunaan secara teoritis berguna untuk pengembangan kesadaran kita sebagai masyarakat dan keperdulian terhadap anak korban kekerasan dalam rumah tangga dan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 pelaku kekerasan dapat dikenai hukuman. Sehingga kesadaran bahwa prilaku kekerasan yang dilakukan dapat berakibat pada permasalahan hukum. d. Kegunaan secara praktis adalah sebagai: (1) Sumbangsih kepada orangtua, agar lebih memahami bagaimana bentuk konkrit dalam melindungi anak dalam keluarga terhadap anak korban kekerasan dalam rumah tangga. (2) Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Propinsi Lampung, agar lebih meningkatkan peranannya dalam penyadaran pada keluarga dan masyarakan serta berperan aktif untuk membantu anak-anak yang menjadi korban kekerasan baik dalam keluarga, sekolah, masyarakat atau dalam dunia pendidikan.

1.6. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan dalam penelitian ini, maka penulis membatasi penelitian sebagai berikut:

1.6.1. Objek Penelitian Objek dari penelitian ini adalah Faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan pada

anak dalam perspektif bimbingan dan konseling di Lembaga Perlindungan Anak Bandar Lampung tahun 2011.

1.6.2. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah anak-anak yang menjadi korban kekerasaan di Lembaga Perlindungan Anak Bandar Lampung.

1.6.3. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lembaga Perlindungan Anak Bandar Lampung.

1.6.4. Waktu Penelitian Sesuai dengan surat penelitian dari sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan PGRI Bandar Lampung Tahun 2011/2012

10