Anda di halaman 1dari 22

Assalamu alaikum Wr.

Wb

Ns. Maslichah, S.Kep

Kasus
Saudara sebagai Kepala Ruangan Dinas Di UGD RS Pasti Selamat. Saat saudara dinas ada rujukan pasien dari beberapa Puskesmas dan RS.Swasta. Pasien Joko dengan keluhan muntah darah, Pasien Ina dengan keluhan berak dan muntah darah, Pasien amir dengan keluhan luka tembak pada paha sebelah kanan, Tn. Agus datang sudah tidak ada bukti aktivitas jantung, Pasien Satimin dengan keluhan diare 25 x/ 2 jam. Bagaimanakah penatalaksanaan triage di RS Pasti Selamat yang saudara pimpin berdasarkan kasus di atas.

Analisis Kasus
Prioritas I (prioritas tertinggi) Warna merah

Px Satimin dengan keluhan diare 25x/ 2 jam

Prioritas II (medium) warna kuning


Px Amir dengan keluhan luka tembak pada paha sebelah kanan

Prioritas III(rendah) warna hijau

Px Joko dengan keluhan muntah darah


Px Ina dengan keluhan berak dan muntah darah Prioritas 0 warna Hitam

Tn. Agus datang sudah tidak ada bukti aktivitas jantung

TRAUMA KEPALA

Definisi
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala Massa di trauma kepala : - Perdarahan - Oedema

ETIOLOGI
Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil. Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.

Cedera akibat kekerasan.


Trauma benda tumpul dan benda tajam (Brunner & Suddarth, 2002)

Tanda dan Gejala


Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih Kebingungan Pucat Peningkatan TIK Edema otak Kecemasan Sukar untuk dibangunkan Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung ( bloody rhinorrhea) dan telinga (bloody otorrhea) bila fraktur basis kranii.

Mual dan muntah


Pusing / nyeri kepala Terdapat hematoma

Berdasarkan skala Glascow Coma Scale (GCS), maka cidera kepala dapat dibagi menjadi 3 tingkat yaitu: - Cidera kepala ringan : GCS 13 - 15

- Cidera kepala sedang


- Cidera kepala berat

: GCS 9 12
: GCS 3 8 (koma)

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan pada trauma kepala menurutGrace, Piere A. 2006: Rontgen tengkorak CT Scan / MRI : menunjukkan kontusio, hematoma, hidrosefalus, edema serebral. Pengkajian neurologis (Batticaca. FB. 2008) GDA (Gas Darah Arteri) : mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK. Angiografi Serebral : menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan dan trauma.

EEG : memperlihatkan keberadaan/ perkembangan gelombang.


Sinar X : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (faktur pergeseran struktur dan garis tengah (karena perdarahan edema dan adanya frakmen tulang).

pEnaTaLaksAnaaN
Angkat klien dengan papan datar untuk mempertahankan kepala dan leher sejajar ( waspada adanya trauma servikal) Kolar servikal

Terapi untuk mempertahankan homeostatik otak dan mencegah kerusakan otak sekunder pemantauan TIK

pertahankan oksigenasi yang adekuat


pemberian manitol untuk mengurang edema kepala dengan dehidrasi osmotik, hiperventilasi, penggunaan steroid, meninggikan posisi kepala ditempat tidur, kolaborasi bedah neuro untuk mengangkat bekuan darah, dan jahitan terhadap laserasi di kepala.

Bila terjadi peningkatan TIK,

Pengkajian Primer
Airway Ada tidaknya sumbatan jalan nafas Breathing Ada tidaknya dispnea, takipnea, bradipnea, sesak, kedalaman nafas.

Circulation
Ada tidaknya peningkatan tekanan darah, takikardi, bradikardi, sianosis, capilarrefil. Disability Ada tidaknya penurunan kesadaran yang dilakukan dengan pemeriksaan GCS dan reflek cahaya pupil.

Pengkajian Sekunder
Pada tahap ini dilakukan pemriksaan fisik dengan head to toe. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mencari adanya perubahan bentuk, tumor, luka dan sakit (BTLS). IAPP

Selalu antisipasi adanya cidera spinal pada penderita cedera kepala

Masalah yang potensial :


Kejang

Perdarahan intrakranial, dapat menyebabkan kejang. Penderita kejang menjadi hipoksia dan hipertermia, jadi kejang yang terus menerus dapat memperburuk keadaan.
Muntah Hampir semua penderita cedera kepala akan mengalami muntah. Harus selalu waspada untuk mencegah aspirasi. Jika penderita tidak sadar, harus di intubasi.

CIDERA MEDULA SPINAL

Cidera spinal adalah cidera pada sumsum tulang belakang (medula spinalis).

Kerusakan medula spinalis dapat mengganggu fungsi pergerakan (motorik), perasaan (sensorik), dan fungsi organ dalam (otonom). Kerusakan dapat parsial atau total. Kerusakan parsial hanya sementara dan pulih dalam hitungan sampai 24 jam. (Spinal Shock)

Etiologi
Kecelakaan lalu lintas

Jatuh dari ketinggian


Olahraga

Luka tembak
Luka tusuk

Penanganan Cedera Spinalis


Primary Survey

Airway
Tetap dalam keadaan in line position

Breathing
Berikan oksigenasi yang adekuat dan bantuan ventilasi bila diperlukan

Circulation Bila terdapat hipotensi, harus dibedakan antara syok hipovolemik ( TD , denyut jantung , ekstremitas yang dingin ) dan syok neurogenik ( TD , denyut jantung , ekstremitas hangat) Disabbility - Tingkat kesadaran - GCS - Kekuatan tonus otot

Survey sekunder
Penilaian ulang tingkat kesadaran dan pupil Penilaian ulang skor GCS Penilaian tulang belakang Palpasi Melakukan dengan log roll,yang dinilai dengan BTLS, yakni : - Perubahan bentuk - Adanya tumor - Luka - Sakit

THANK YOU FOR YOUR ATTENTION