Anda di halaman 1dari 36

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Penelitian Terdahulu Kekerasan yang terjadi pada anak dalam keluarga telah dijadikan beberapa tulisan skripsi sebagai berikut: 1. Bimbingan Konseling Islam Terhadap Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Kasus di Lembaga Rehabilitasi Yayasan Tawor kota Semarang) , ditulis oleh Kiswantoro dari fakultas dakwah Institur Agama Islam Negeri Walisongo Semarang tahun 2010. Tujuan utama penelitian ini adalah bagaimana peranan bimbingan konseling islami membantu anak yang mengalami kekerasan dalam keluarganya. Bahwa anak merupakan karunia dan titipan Allah SWT, maka wajib bagi kita untuk memberikan perlindungan sebagai mana yang di haruskan. Kekerasan menimpa anak yang ditampung di lembaga rehabilitasi yayasan Tawor kota Semarang, menampung anak-anak bermasalah yang lari dari rumah karena terjadi kekerasan. Mereka yang lari dari keluarganya kemudian menggelandang, atas inisiatif pendiri yayasan ini mereka kemudian ditampung dan direhabilitasi agar dapat menjalani hidup dengan baik, pada akhirnya dicarikan solusi agar keluarga dapat menerima kembali atau anak tersebut dapat tumbuh dengan baik dengan diberi pendidikan di lembaga ini. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan

bahwa kekerasan pada anak dalam keluarga dalam penelitian ini dikarenakan atas faktor ekonomi menduduki urutan pertama, faktor anak tiri baik dari ayah atau dari ibu, dan faktor lingkungan. 2. Metode Bimbingan Konseling Islam Bagi anak Korban Kekerasan dalam Rumah Tanggadi Rekso Dyah Utami Yogyakarta tahun2010. Ditulius olah Aminatul Laily dari Fakultas Dakwah Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Aminatul Laily adalah untuk mengetahui mengapa terjadi kekerasan pada anak dalam keluarga dan anak meninggalkan keluarga untuk hidup meggelandang, sehingga anak semakin rentan terhadap kekerasan yang terjadi di jalanan. Penelitian dilakukan di rumah singgan Rumah Tanggadi Rekso Dyah Utami, didirikannya rumah singgah ini bertujuan agar anak-anak yang mengalami kekerasan dalam keluarganya dan kemudian hidup

menggelandang dapat ditampung di rumah singgah. Di temnpat ini mereka dibina dan diberikan kesempatan agar dapat hidup yang lebih baik dan mengurangi resiko kekerasan yang dialami di jalanan. Penulis dalam penelitian ini mengamati dan menanalisa mengapa terjadi kekerasan pada anak dalam keluarga mereka. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa: kekrasan dalam keluarga yang dialami anak adalah juga berhubungan dengan faktor ekonomi, faktor lingkungan tempat tinggal dan faktor anak tiri baik dari pihak ayah atau ibu.

Berdasarkan pada kedua penelitian terdahulu yang penulis sajikan di atas, maka penulis menggambarkan secara umum terjadinya kekerasan pada anak dalam keluarga adalah suatu fenomena yang terjadi dalam keluarga dan merupakan kejadian

10

kekerasan yang lebih banyak diakibatkan oleh masalah ekonomi, faktor kebiasaan memberikan hukuman fisik kepada anak yang bersalah, dan faktor lingkungan yang membudayakan dengan memberi hukuman khususnya fisik akan membuat anak jera atau anak menjadi patuh dengan orang tuanya.

2.1.1. Gambaran Umum tentang Kekerasan pada Anak


Kekerasan terhadap anak (child abuse) didefinisikan sebagai peristiwa pelukaan fisik, mental, atau seksual yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai tanggungjawab terhadap kesejahteraan anak yang mana itu semua diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak (Bagong Suyanto, 2003, h. 28).

Richard J. Gelles (2004:1) dalam Encyclopedia Article from Encarta, mengartikan child abuse sebagai kekerasan terhadap anak adalah perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional. Istilah child abuse meliputi berbagai macam bentuk tingkah laku, dari tindakan ancaman fisik secara langsung oleh orang tua atau orang dewasa lainnya sampai kepada penelantaran kebutuhan-kebutuhan dasar anak. (Abu Huraerah, 2006, h. 46).

Child abuse pada anak didefinisikan sebagai segala perlakuan buruk yang dilakukan terhadap anak ataupun adolesen oleh para orangtua, wali, atau orang lain yang
seharusnya memelihara dan merawat anak itu. Patricia (1985) mendefinisikan sebagai suatu kelalaian tindakan/perbuatan oleh orangtua atau yang merawat anak yang meng-

11

akibatkan terganggu kesehatan fisik, emosional, serta perkembangan anak. Ini mencakup penganiayaan fisik dan emosi, kelalaian dan eksploitasi seksual.

WHO menyebutkan bahwa perlakuan salah terhadap anak atau penganiayaan mencakup segala bentuk perlakuan buruk secara fisik dan/atau emosional, pelecehan seksual, penelantaran atau kelalaian atau perdagangan atau bentuk eksploitasi lainnya yang berakibat pada ancaman kesehatan, survival, perkembangan atau harga diri yang actual atau potensial dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan (WHO). Selanjutnya dijelaskan bahwa jenis perlakuan salah pada anak diantaranya, bisa kombinasi, yaitu : Fisik, Seksual, Verbal/Emosional, penelantaran, social dan sistem.

Terry E. Lawson, psikiater anak yang dikutip Rakhmat dalam Baihaqi (1999 : XXV) mengklasifikasikan kekerasan terhadap anak (child abuse) menjadi empat bentuk, yaitu : emotional abuse, verbal abuse, physical abuse, dan sexual abuse. Sementara itu, Suharto (1997 : 365-366) mengelompokan child abuse menjadi : physical abuse (kekerasan secara fisik), psychological abuse (kekerasan secara psikologis), sexual (kekerasan secara seksual), dan social abuse (kekerasan secara sosial).

Keempat bentuk child abuse ini dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Kekerasan anak secara fisik, adalah penyiksaan, pemukulan, dan penganiyaan terhadap anak, dengan atau tanpa menggunakan benda-benda tertentu, yang menimbulkan luka-luka fisik atau kematian pada anak. Bentuk luka dapat berupa lecet atau memar akibat persentuhan atau kekerasan benda tumpul, seperti bekas

12

gigitan, cubitan, ikat pinggang atau rotan. Dapat pula berupa luka bakar akibat bensin panas atau berpola akibat sundutan rokok atau setrika. Lokasi luka biasanya ditemukan pada daerah paha, lengan, mulut, pipi, dada, perut, punggung atau daerah bokong. Terjadinya kekerasan terhadap anak secara fisik umumnya dipicu oleh tingkah laku anak yang tidak disukai orang tuanya, seperti anak nakal atau rewel, menangis terus, minta jajan, buang air, kencing atau muntah disembarang tempat, memecahkan barang berharga. 2. Kekerasan anak secara psikis, meliputi penghardikan, penyampaian kata-kata kasar dan kotor, memperlihatkan buku, gambar dan film pornografi pada anak. Anak yang mendapatkan perlakuan ini umumnya menunjukan gejala perilaku mal-adaptive, seperti menarik diri, pemalu, menangis jika didekati, takut keluar rumah dan takut bertemu dengan orang lain. 3. Kekerasan anak secara seksual, dapat berupa perlakuan pra kontak seksual antara anak dengan orang yang lebih besar (melalui kata, sentuhan, gambar visual, exhibitionism), maupun perlakuan kontak seksual secara langsung antara anak dengan orang dewasa (incest, perkosaan, eksploitasi seksual).

4. Kekerasan anak secara social, dapat mencakup penelantaran anak dan eksploitasi
anak. Penelantaran anak adalah sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak. Misalnya, anak dikucilkan, diasingkan dari keluarga, atau tidak diberikan pendidikan dan perawatan kesehatan yang layak.

13

5. Eksploitasi anak menunjuk pada sikap diskriminatif atau perlakuan sewenangwenang terhadap anak yang dilakukan keluarga atau masyarakat. Sebagai contoh, memaksa anak untuk melakukan sesuatu demi kepentingan ekonomi, social dan politik tanpa memperhatikan hak-hak anak untuk mendapatkan perlindungan sesuai dengan perkembangan fisik, psikisnya dan status sosialnya. Misalnya, anak dipaksa untuk bekerja di pabrik-pabrik yang membahayakan (pertambangan, sector alas kaki) dengan upah rendah dan tanpa peralatan yang memadai, anak dipaksa untuk angkat senjata, atau dipaksa melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga melebihi batas kemampuannya (Abu Huraerah, 2006, h. 47-49).

Bertolak dari pengertian dan bentuk kekerasan pada anak tersebut, KPAI tahun 2011 memantau sebanyak 2.275 kasus, diantaranya 887 kasus seksual. Tahun 2012 KPAI memantau sebanyak 3.871 kasus, diantaranya terdapat 1.028 kekerasan seksual. Sedangkan tahun 2013 selama bulan januari-februari, KPAI memantau sebanyak 919 kasus, diantaranya 216 kasus kekerasan seksual.

Menyikapi gambaran buram anak Indonesia ini, tahun 2012 KPAI mengadakan survey di 9 Provinsi yaitu; 1). Jawa Timur; 2). Jawa Tengah; 3). D.I. Yogyakarta; 4). Jawa Barat; 5). Banten; 6). Sumatera Barat; 7). Lampung; 8). Jambi; 9). Kalimantan Timur. Total responden sebanyak 2113 orang yang terdiri :

14

Tabel 1 Total Responden berdasarkan kategori kuesioner No Jumlah Frekuensi Persen 1 Persepsi/pendapat (orangtua, Guru, Anak) 1087 51,4 % 2 Tindak kekerasan (Siswa SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA) 1026 48,6 % Total 2113 100 % Sumber : analisis data primer 2012. Kategori

Metode yang digunakan adalah gabungan antara kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif ditujukan untuk memperoleh data dan informasi mengenai pola/bentuk kekerasan terhadap anak baik yang dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah atau lingkungan lainnya. Sedangkan kualitatif ditujukan untuk memperoleh data dan informasi tentang kebijakan daerah terkait dengan kekerasan terhadap anak.

2.2 Pengertian Kekerasan Pada Anak Kekerasan pada anak merupakan perlakuan salah yang dilakukan terhadap anak yang menimbulkan penderitaan fisik dan mental. Menurut (Andez, 2006 :3). Kekerasan terjadi ketika seseorang menggunakan kekuatan, kekuasaan, dan posisi nya untuk menyakiti orang lain dengan sengaja, bukan karena kebetulan Kekerasan juga meliputi ancaman, dan tindakan yang bisa mengakibatkan luka dan kerugian . Luka yang diakibatkan bisa berupa luka fisik, perasaan, pikiran, yang merugikan kesehatan dan mental.Kekerasan pada anak adalah segala bentuk tindakan yang melukai dan merugikan fisik, mental, dan seksual termasuk hinaan meliputi: Penelantaran dan perlakuan buruk, Eksploitasi termasuk eksploitasi seksual, serta trafficking/ jual-beli anak.

15

Sedangkan Child Abuse adalah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yang memiliki kuasa atas anak tersebut, yang seharusnya dapat di percaya, misalnya orang tua, keluarga dekat, dan guru.

Penganiayaan fisik adalah tindakan-tindakan kasar yang mencelakakan anak, dan segala bentuk kekerasan fisik pada anak yang lainnya. Sedangkan penganiayaan psikis adalah semua tindakan merendahkan atau meremehkan anak.

Penganiayaan pada anak-anak banyak dilakukan oleh orangtua atau pengasuh yang seharusnya menjadi seorang pembimbing bagi anaknya untuk tumbuh dan berkembang. Kekerasan terhadap anak dalam arti kekerasan dan penelantaran adalah: semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik maupun emosional, pelecehan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau eksploitasi lain yang mengakibatkan cidera atau kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan, atau kekuasaan.

Sementara pengertian menurut UU Perlindungan Anak pasal 13 yang dimaksud kekerasan terhadap anak adalah, diskriminasi, eksploitasi baik fisik maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya.

16

Menurut Sutanto (dalam Maldin Gultom, 2006 : 43), kekerasan anak adalah perlakuan orang dewasa/anak yang lebih tua dengan menggunakan kekuasaan/ otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab pengasuhnya, yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat atau kematian .

Kekerasan anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka pada tubuh sang anak, kekerasan terhadap anak adalah suatu kondisi dimana anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun dirawat karena mengalami luka-luka fisik yang secara sengaja dilakukan oleh orangtua, anggota keluarga yang lain, atau orang lain (Lauer & Broek, & Grossman, 1974).

Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak child abuse a) Dampak kekerasan fisik, anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa yang menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004 : 34) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental ada hubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia;

17

b) Dampak kekerasan psikis. Unicef (1986 : 88) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (dalam Kelingga, 2004 : 14), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri

c) Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Kelingga, 2004 : 13) diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Kelingga, 2004 : 14)

18

d) Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak, Kelingga (2004 : 13) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.

Dampak yang lainnya (dalam Sitohang, 2004:35) adalah kelalaian dalam mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.

2.2.1. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan Pada Anak Menurut Tammi Prastowo (2007 : 5) ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan munculnya tindak kekerasan yaitu: 1. Faktor Keluarga Keluarga sebagai kesatuan terkecil dalam masyarakat, merupakan salah satu kelompok yang paling sederhana, sehingga interaksi antar anggota keluarga akan lebih cepat dibandingkan dengan interaksi dalam masyarakat dan juga tempat dimana seseorang anak pertama kali dibentuk. Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan, emosional dan individu mempunyai peran masing-masing

19

yang merupakan bagian dari keluarga Friedman (dalam Tammi Prastowo, 2007 : 3) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (Maldin Gultom, 2006 : 11). Menurut Tammi Prastowo (2007: 11), kekerasan dalam keluarga sering terjadi karena tiga faktor : Pertama, nilai kekuasaan orang tua menempatkan orang tua sebagai penguasaan terhadap anak-anaknya. Dalam kondisi seperti ini anak harus selalu patuh terhadap apa yang dikatakan orang tua.

Kedua, berhubungan erat dengan kondisi struktural dan institusi budaya yang patriarki pandangan ini beranggapan bahwa laki-laki akan power dan otoritasnya terhadap anak-anak yang menunjukkan bahwa rumah adalah milik laki-laki sehingga anak harus patuh terhadapnya.

Ketiga, dalam lingkungan keluarga pihak orang tua seakan-akan bebas dari ancaman hukum atas pelakuannya yang diperkuat oleh nilai otoriterisme yang melekat pada orang tua dengan tujuan bahwa anak-anak harus tunduk terhadap semua yang menjadi keinginan orang tuanya. Pada umumnya kekerasan dalam keluarga terjadi apabila penyalahgunaan kekerasan oleh mereka dalam hal ini orang tua merasa memiliki kekuasaan lebih Maldin Gultom (2006 : 34)

20

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa banyak orang tua yang berlaku kasar, memberikan hukuman fisik dengan dalih untuk memberikan pelajaran pada anak-anak mereka, sebenarnya, tidak semua pendapat itu salah, tapi yang paling benar adalah orang tua sesungguhnya sedang memberikan pelajaran kekerasan pada anak-anaknya berdasarkan.

2. Faktor Ekonomi Keadaan masyarakat yang berkembang semakin kompleks dan tuntutan hidup semakin tinggi, kehidupan menjadi semakin keras sehingga seseorang memerlukan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang disesuakan dengan tingkat keahliannya.

Menurut Sumardi (2012 : 3) mengenai pendapatan yaitu bahwa : pendapatan suatu keluarga adalah jumlah keseluruhan pendapatan formal, pendapatan informal dan pendapatan subsiten, pendapatan formal adalah pendapatan yang diperoleh melalui pekerjaan pokok, pendapatan informal adalah pendapatan yang diperoleh melalui pekerjaan tambahan atau pekerjaan sampingan, sedangkan pendapatan subsiten adalah penghasilan yang diperoleh dari sektor pruduk yang dinilai dengan uang.

Faktor ekonomi menurut Nadia (dalam Sumardi, 2012 : 6) adalah : Seperti yang kita ketahui masih kebanyakan pandangan yang menyatakan kondisi ekonomi dan faktor ekonomi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap

21

terjadinya kekerasan antara lain dipengaruhi oleh faktor ekologis dan kelas pandangan kriminologi kuno yang menunjukkan kejahatan sebagai akibat yang wajar dari kesengsaraan yang meluas.

3. Faktor Ligkungan Sosial Lingkungan sosial merupakan tempat dimana kita tinggal dan bersosialisasi. Menurut Soerjono Soekanto (dalam Tammi Prastowo, 2007:7) lingkungan sosial yaitu terdiri dari orang baik individu maupun kelompok yang berada disekitar manusia .

Lingkungan sosial tidak merupakan fungsi yang berdiri sendiri akan tetapi saling berhubungan menghasilkan perilaku manusia seperti yang dikatakan Andez (2006 : 3) seseorang melakukan tindakan karena faktor dari dalam dan luar lingkungan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial mempengaruhi perilaku seseorang baik perilaku yang menyimpang seperti kekerasan ataupun perilaku lainnya. Menurut (S.Nasution, 1995 : 12) perkembangan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor-faktor biologis, lingkungan alamiah, dan lingkungan sosial budaya

2.2.2. Tanda-Tanda Anak Mengalami Kekerasan Tidaklah mudah untuk mengetahui secara langsung adanya kekerasan yang dialami oleh anak. Pada umumnya, anak-anak yang mengalami kekerasan merasa takut

22

untuk menceritakan kekerasan yang dialaminya, disamping trauma, anak juga merasa takut untuk disalahkan atau orang lain tidak akan percaya dengan apa yang diceritakan sang anak.

Penyebab lainnya anak tidak mau bercerita bahwa pelakunya adalah salah satu orang yang ia kenal atau disayangi olehnya. Anak yang mengalami kekerasan akan mengalami stres berkepanjangan, dan trauma tersebut akan dibawa sepanjang hidupnya dengan perubahan-perubahan perilaku atau maladjustment. Oleh karenanya orangtua mestilah melakukan pemulihan (recovery) secepatnya bila menemukan adanya tanda-tanda kekerasan tersebut. Beberapa tanda anak mengalami kekerasan; a) Kekerasan Fisik Beberapa luka yang membekas dan tidak bisa dijelaskan, seperti luka terbakar, lebam, luka memar, luka pada kepala dan sebagainya. b) Kekerasan Seksual Perubahan perilaku secara mencolok termasuk didalamnya sering mimpi buruk dan mengompol, depresi, ketakutan pada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, takut pada orang asing, keinginan untuk berlari karena rasa takut. Tanda-tanda fisik lainnya yang dapat dilihat; rasa sakit dan luka pada alat kelamin disertai pendarahan atau infeksi pada alat kelamin, munculnya penyakit kelamin akibat ditulari oleh pelaku, rasa sakit saat buang air kecil, sakit bagian perut, dan sebagainya.

23

c) Kekerasan Emosional Perubahan rasa percaya diri secara mendadak, sering sakit kepala dan perut tanpa disebabkan oleh faktor medis, ketakutan yang tidak biasa (abnormal), meningkatnya mimpi buruk atau kecenderungan untuk bersembunyi d) Pengabaian Perawatan Terjadi penurunan berat badan (terutama pada bayi), anak suka menyendiri dan sering melamun, hasrat makan banyak (lahap) seperti kelaparan dan sering men-curi makanan yang disimpan.

2.2.3. Peraturan Daerah Provinsi Lampung Penjelasan Atas Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pelayanan Terhadap Hak-Hak Anak Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus dijaga karena di dalam dirinya melekat harkat, martabat dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Dalam Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 maupun Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak, hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia, oleh karena itu, dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindakan kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.

24

Dalam perkembangannya dewasa ini masalah anak dan perlindungan anak menjadi perhatian penting dan oleh karena itu Pemerintah telah mencanangkan "Gerakan Nasional Perlindungan Hak Anak" pada tanggal 23 Juli 1997 lalu yang kemudian diikuti dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada tanggal 22 Oktober 2002. Dengan demikian, perlindungan anak menjadi bagian integral dari proses dan dinamika pembangunan, khususnya pengembangan sumber daya manusia.

Indonesia sebagai masyarakat internasional dan anggota PBB telah meratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1990 dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Dengan meratifikasi Konvensi Hak Anak, maka Indonesia berkewajiban menyebarkan dan menegakkan hak-hak anak dalam hukum anak dan program anak sebagai implementasi konvensi, namun pada kenyataannya pelaksana-annya belum optimal.

Meskipun Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia telah pula mencantumkan hak anak, pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara untuk memberikan

perlindungan pada anak, namun masih banyak terdapat bentuk-bentuk eksploitasi, kekerasan, diskri-minasi dan pencideraan hak-hak anak. Dalam kondisi tereksploitasi dapat dilihat anak-anak yang tereksploitasi secara ekonomi menjadi pekerja, anak jalanan, taupun eksploitasi sosial dengan menjadikan anakanak yang dilacurkan.

25

Penegakan hak-hak anak sebagai manusia dan anak bangsa masih memprihatinkan, seperti dapat kita lihat pada penegakan/pemenuhan hak-hak anak dalam situasi darurat, anak yang sedang berkonflik dengan hukum bahkan terdapat kondisi anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika dan psikotropika termasuk anak yang telah menjadi korban perdagangan manusia (trafiking). Kondisi demikian disebabkan oleh belum banyaknya partisipasi masyarakat untuk membelanya, kondisi yang menaifkan kewajaran bahwa anak dianggap lumrah sebagai korban tindakan orang dewasa, terdapatnya struktur di dalam masyarakat yang menindas hak anak, pelanggaran hak anak akibat kekuasaan pemilik modal bahkan juga kultur domestik yang turut menjaga terjadinya pengabaian terhadap hak-hak anak.

Orang tua, keluarga dan masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara hak asasi anak tersebut sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum. Demikian pula dalam rangka penyelenggaraan perlindungan anak, negara dan pemerintah bertanggung jawab menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi anak sebagai bentuk pelayanan hak anak, yang bertujuan menjamin pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dan terarah.

Peraturan Daerah ini dimaksudkan sebagai sebuah upaya Pemerintah Daerah dalam menjalankan kewajibannya sesuai dengan urusan pemerintahan yang diamanatkan oleh undang-undang untuk mengimplementasikan amanah Pasal 28 UndangUndang Dasar Negara RI Tahun 1945 serta memenuhi tuntutan masyarakat dengan memberikan pelayanan terhadap hak-hak anak secara komprehensif, jelas

26

dan tegas untuk melindungi anak, sesuai dengan prinsip-prinsip pengakuan otonomi daerah sebagaimana dimaksud Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah-an Daerah.

Penyelenggaraan pelayanan hak-hak anak yang diatur dalam Peraturan Daerah ini didasarkan kepada empat prinsip utama yang terkandung dalam Konvensi Hakhak Anak, yaitu : a. Non diskriminasi, artinya semua hak yang diakui dan terkandung dalam seorang anak harus diberlakukan kepada setiap anak tanpa pembedaan apapun. b. Yang terbaik bagi anak, artinya'bahwa dalam setiap tindakan yang menyangkut anak, maka apa yang terbaik bagi anak haruslah menjadi pertimbangan yang utama. c. Kelangsungan hidup dan perkembangan anak. artinya bahwa hak hidup yang melekat pada diri setiap anak harus diakui dan bahwa hak anak atas kelangsungan hidup dan perkembangannya harus dijamin oleh Negara dan Pemerintah. d. Penghargaan terhadap pendapat anak. artinya bahwa pendapat anak. terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya, perlu diperhatikan dalam setiap pengambilan keputusan.

Substansi yang diatur dalam Peraturan Daerah ini, antara lain adalah : 1. Tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah

Pelayanan terhadap hak-hak anak diatur berdasarkan pokok pikiran :

27

a. Bahwa pemberian pelayanan terhadap hak-hak anak merupakan kewajiban pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat sesuai kewenangan yang ada padanya. b. Pemberian pelayanan terhadap hak-hak anak diutamakan bagi anak dari keluarga miskin, diberikan kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berada dalam situasi ekploitasi ekonomi dan seksual, anak yang sedang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika dan psikotropika serta anak yang menjadi korban perdagangan manusia (traliking). 2. Pelayanan dan Mekanisme Pelayanan

Pelayanan dan mekanisme pelayanan terhadap hak-hak anak sebagaimana ditetapkan dalam peraturan daerah ini. dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Lampung serta Dinas/Instansi/Lembaga terkait di

lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya di bawah koordinasi Satuan Kerja Sekretariat Daerah yang menangani permasalahan anak. Mekanisme pelayanan terhadap hak anak dilakukan berdasarkan pendekatan kemitraan atau kerjasama antar Pemerintah Daerah atau Pemerintah Daerah dengan Organisasi Masyarakat dan bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. 3. Lembaga Pelayanan Hak-Hak Anak

Lembaga pelayanan hak-hak anak merupakan sebuah wadah bagi beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah serta Dinas/ Instansi terkait lainnya yang memiliki tugas

28

pokok dan fungsi berhubungan dengan upaya perlindungan dan pelayanan terhadap hak-hak anak serta aparatur penegakan hukum. 4. Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat yang diatur dalam Peraturan Daerah ini dimaksudkan sebagai sebuah upaya Pemerintah Daerah untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemberian pelayanan terhadap hak-hak anak baik secara individu, kelompok, maupun kelembagaan. Organisasi masyarakat, organisasi sosial atau lembaga swadaya masyarakat yang melayani masalah anak maupun pemerhati anak dapat terlibat aktif secara langsung atau tidak langsung dalam menangani, memberikan pelayanan, perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak anak. 5. Pembiayaan

Pembiayaan dalam pemberian pelayanan hak-hak anak dibebankan kepada Anggaran Satuan Kerja masing-masing, baik yang bersumber dari APBD, APBN maupun sumber pembiayaan lain yang sah.

2.3 Bimbingan dan Konseling 2.3.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan dan konseling merupakan bagian pendukung pengajaran yang tidak dapat dipisahkan dari proses pengajaran di sekolah karena bimbingan merupakan proses yang mengarahkan siswa dalam mengenal dan memahami dirinya sendiri, terutama kemampuan dan kelemahan serta mampu mengenal lingkungan baik lingkungan sosial, ekonomi, maupun budaya.

29

Diungkapkan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004 : 78) mengungkapkan bahwa Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan oleh orang yang ahli kepada beberapa orang atau individu, baik anak anak, remaja, maupun dewasa. Sedangkan menurut Bimo Walgito (2004 : 4 - 5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian layanan Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan oleh orang yang ahli kepada beberapa orang atau individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan
hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya.

Pengertian Konseling menurut Jones Insano, (2004 : 11) menyebutkan bahwa Konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorangseorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya. Sedangkan menurut Winkel (2005 : 23) berpendapat bahwa konseling merupakan serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.

30

Berdasarkan pendapat di atas dapat dismpulkan bahwa pengertian Konseling merupakan serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli secara tatap muka dengan tujuan agar klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan yang diberikan oleh konselor kepada klien secara terus menerus agar klien dapat memahami dirinya dalam meningkatkan kemampuannya menghadapi masalah dan dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitarnya.

2.3.2 Fungsi dan Tujuan BK disekolah Fungsi dari bimbingan dan konseling di sekolah diantaranya: 1) Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya atau potensinya dan lingkungannya (pendidikan,pekerjaan dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. 2) Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini konselor memberikan pendidikan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.adapun tekhnik yang

31

digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. Diantaranya bahaya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out dan pergaulan bebas. 3) Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel sekolah secara sinergi sebgai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sustematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Tekhnik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok, atau curah pendapat (brain storming), home room dan karyawisata. 4) Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dn konseling yang bersifat kuratif fungsi ini berkaitan erat dengan fungsi upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir tekhnik yang dapat digunakan adalah konseling dan remedial teaching. 5) Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu

memilih kegiatan ekstrakulikuler jurusan atau progam studi dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-

32

ciri kepribadian lainnya dalam melaksanakan fungsi ini konselor perlu bekerjasama dengan pendidk lainnya didalam ataupun diluar lembaga pendidkan. 6) Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah, staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. dengan menggunakan informasi yang memadai menganai konseli, pembimbing dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi sekolah, memilih metode dan proses pembelajaran maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. 7) Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. 8) Fungsi atau Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu individu sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan dan bertindak. Konselor melakukan intervensi terhdap konseli supaya memiliki pola berpikir yang sehat, rasional, dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat menghantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dann normatif. 9) Fungsi Fasilitasi, yaitu memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.

33

10) Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseing untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri

pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif sesuai dengan minat konseli

Tujuan pelayanan bimbingan di sekolah ialah agar konseli dapat: 1) Melaksanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembnagan karir serta kehidupannya dimasa yang akan datang 2) Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. 3) Menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat serta lingkungan keluarganya. 4) Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan sekolah, masyarakat maupun lingkungan keluarga.

2.3.3 Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai pondasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:

34

1. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). 2. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. 3. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang. 4. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.

35

5. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. 6. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/ Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembagalembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.

2.3.4 Asas- asas Bimbingan dan Konseling 1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban

36

penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. 2. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani

pelayanan/kegiatan yang diperlukan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. 3. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. 4. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/ kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. 5. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang

37

mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. 6. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan masa depan atau kondisi masa lampau pun dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. 7. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. 8. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. 9. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma

38

agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. 10. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. 11. Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.

39

2.3.5 Macam-macam Layanan Bimbingan dan Konseling 1. Layanan Orientasi Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasuki peserta didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. 2. Layanan Informasi

Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien). 3. Layanan Penempatan dan Penyaluran Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ektrakulikuler) sesuai dengan potensi, bakat, minat erta kondisi pribadinya. 4. Layanan Pembelajaran Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai meteri pelajaran yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.

40

5. Layanan Konseling Individual Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dideritanya. 6. Layanan Bimbingan Kelompok Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (teruama dari guru pembimbing) dan/atau membahas secara bersama-sama pokok bahasan (topik) tertentu yang berguna untuk menunjanguntuk pemahaman dan kehidupannya mereka sehari-hari dan/atau untuk pengembangan kemampuan sosial, baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, serta untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan/atau tindakan tertentu. 7. Layanan Konseling Kelompok Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok, masalah yang dibahas itu adalah maalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok.

41

2.3.6 Kegiatan Pendukung Bimbingan Konseling 1. Aplikasi Instrumentasi Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang diri peserta didik (klien), keterangan tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan yang lebih luas. Pengumpulan data ini dapat dilakukan denagn berbagai cara melalui instrumen baik tes maupun nontes. 2. Himpunan Data Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik (klien). Himpunan data perlu dielenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu, dan sifatnya tertutup. 3. Konferensi Kasus Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik (klien) dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak yang diharapkan dapat memberikan bahan, keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan tersebut. Pertemuan ini dalam rangka konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. 4. Kunjungan Rumah Yaitu kegiatan pendukudng bimbingan dan konseling untuk memperoleh data, keteranang, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik (klien) melalui kunjungan ke rumahnya. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang penuh dari orang tua dan anggota keluarga klien yang lainnya.

42

5. Alih Tangan Kasus Yaitu kegiatan pendukudng bimbingan dan konseling untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami peserta didik (klien) dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang erat dan amntap antara berbagi pihak yang dapat memberikan bantuan dan atas penanganan masalah tersebut (terutama kerjasama dari ahli lain tempat kasus itu dialihtangankan).

Kegiatan layanan dan pendukung bimbingan dan konseling ini, kesemuanya saling terkait dan saling menunjang baik langsung maupun tidak langsung. Saling keterkaitan dan tunjang menunjang antara layanan dan pendukung itu menyangkut pula fungsi-fungi yang diemban oleh masing-masing

layanan/kegiatan pendukung.

2.4 Fungsi Kajian Pustaka Anak adalah anugrah tuhan yang perlu dijaga dan dipelihara yang merupakan penerus cita-cita bangsa yang usianya menurut Undang-Undang RI Nomor. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak adalah setiap manusia yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. Kekerasan pada anak merupakan perlakuan yang salah yang dilakukan terhadap anak yang menimbulkan penderitaan fisik dan mental , tindakan yang diterima anak yang mengakibatkan penderitaan fisik dan non fisik akibat pelanggaran hokum yang dilakukan oleh kelompok orang/ lembaga/Negara terhadapnya seningga setiap

43

anak perlu dilindungi dimana kekerasan pada anak itu didukung oleh berbagai faktor penyebab yang dapat menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak. Anak akan mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang baik apabila didukung oleh faktor keluarga yang harmonis dan orang tua yang baik, faktor ekonomi keadaan ekonomi baik maka kehidupan anak pun baik dan faktor lingkungan sosial yang selaras dan seimbang akan berdampak baik bagi kelangsungan hidup dan pribadi anak, untuk lebih jelas dapat dilihat pada skema kerangka piker sebagai berikut : SKEMA KAJIAN PUSTAKA
FAKTOR FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KEKERASAN PADA ANAK DALAM PERSPEKTIF BIMBINGAN DAN KONSELING

Indikator-Indikator a. Faktor keluarga antara lain: - orang tua sering memberikan hukuman ketika anak melakukan kesalahan - anak dijadikan pelampiasan saat orang tua mengalami masalah b. Faktor ekonomi - keadaan perekonomian alas an utama sebagai penyebab terjadinya tindak kekerasan pada anak - dengan keadaan ekonomi rendah menyebabkan terjadinya konflik atau masalah c. Faktor lingkungan sosial - dilingkungan tempat tinggal sering terjadi tindak kekerasan - tindak kekerasan yang anak alami terjadi karena pengaruh kekerasan yang ada dimasyarakat

44