Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik, ia adalah organisasi pokok dari kekuasaan politik. Negara adalah alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat. Negara adalah organisasi yang dalam sesuatu wilayah dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan bersama itu. Negara menetapkan cara-cara dan batas-batas sampai di mana kekuasaan dapat digunakan dalam kehidupan bersama itu, baik oleh individu dan golongan atau asosiasi, maupun oleh negara sendiri (Budiardjo, 1977). Konsep sistem politik di dalam penerapan pada situasi yang konkrit seperti negara, mencoba mendasarkan studi tentang gejala-gejala politik dalam konteks tingkah laku di dalam masyarakat. Tingkah laku politik dianggap sebagai sebagaian dari keseluruhan tingkah laku sosial. Menurut pemikiran ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang pada hakekatnya terdiri dari bermacam-macam proses. Di antara bermacam-macam proses ini dapat dilihat gejala-gejala politik sebagai suatu kumpulan proses tersendiri yang berbeda dengan proses-proses lainnya. Ini disebut sistem politik. Sistem politik negara Turki adalah salah satu contoh proses perubahan sebuah ideologi. Awalnya, peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan Dinasti Usmani. Islam di masa kekhalifahan diterapkan sebagai agama yang mengatur hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Khalik, Sang Pencipta; dan juga suatu sistem sosial yang melandasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Peradaban Islam yang dianut Turki sebelum tersentuh dunia Barat menjadikan Sultan sebagai khalifah. Artinya sebagai pemimpin negara, sekaligus juga memegang jabatan sebagai pemimpin agama. Kekhalifahan Turki Usmani didukung oleh kekuatan ulama (Syeikhul Islam) sebagai pemegang hukum syariah dan kekuatan tentara, yang dikenal dengan sebutan tentara Janisssari. Selanjutnya arah modernisasi yang berkiblat ke Barat telah menyerap unsur-unsur budaya Barat yang dianggap modern. Campuran peradaban Turki, Islam dan Barat, inilah yang telah mewarnai identitas masyarakat Turki.
1

TURKI MUDA Turki muda adalah suatu gerakan dari reaksi atas kekuasan yang absoult (Mutlak) seorang sultan di kerjaan Turki. Sultan Hamid II yang kala itu memimpin Turki dipandang pemimpin Islam yang ottoriter dan absolut mendorong timbulnya kelompok oposisi salah satunya Gerakan Turki Muda,sebuah gerakan yang mengolongankan dirinya sebagai opisisi pemerintah Sultan Hamid II .Kelompok oposisi ini mendesak Sultan Hamid II menerima sebuah konstitusi yang membatasi kekuasaan Sultan juga meminta mendirikan pemerintahan yang refresentatif,namun sayang sang Sultan menolak semua itu kemudian membubarkan parlemen ,dihancurkanya gerakan Usmani Muda (Turki Muda),serta membentuk rezim keagamaan yang otoriter dengan pemerintahan yang lebih absolute (Mutlak). Atas dasar keadaan inilah kelompok oposisi membentuk sebuah gerakan bernama Turki Muda (ottoman society for union progress) juga terdapat dikalangan perguruan tinggi berbentuk perkumpulan rahasia .Gerakan Turki Muda ini cukup terorganiser terbukti mereka membentuk Committe for Union atau CUP guna mempermudah Usmani Muda dalam melakukan aksinya, meski aksi gerakan Turki muda mengundang pro dan kontra berbagai pihak terutama dari Sultan Hamid II.Kondisi tersebut membuat mereka melarikan diri keluar negeri dengan membentuk komite-komite rahasia yang kemudian disebut Turki Muda dan menariknya gerakan Turki Muda ini mampu melahirkan tokoh-tokoh penting yang berperan,Yaitu : A. Ahmad Reza (1859 1931) Ahmad Reza adalah anak seorang mantan anggota parlemen pertama Turki, bernama Injiliz Ali, sejak muda ia bercerita ingin mensejahterakan Rakyat dari kemiskinan ia berkunjung ke desa-desa dan melihat langsung penderitaan kau petani. Karena itu, ia

bertekad akan melanjutkan studinya di sekolah pertanian agak kelak dapat bekerja dan berusaha akan memperbaikki nasib kaum petani yang miskin itu, Studi mengenai pertanian ia lanjutkan ke Paris. Sekembalinya dari paris, ia bekerja di kementerian pertanian dengan harapan akan dapat mewujudkan cita-citanya. Namun ternyata bekerja di kementerian ini hanya disibukkan oleh hal-hal yang bersifat administratif birokrasi, tanpa bisa berbuat untuk mengatasi kemelaratan kaum petani. Kemudian ia pindah ke kementerian pendidikan. Karena dengan demikianlah, menurut dia akan berbuat banyak mencerdaskan rakyat. Dan dengan demikian perubahan nasib mereka dapat diwujudkan. Akan tetapi pengalamannya di kementerian
2

pendidikan tidak membuat ia puas. Karena disini pun dia di sibukkan dengan hal-hal yang bersifdat birokrasi bukan hal pendidikan. Kegagalanny dalam mewujudkan cita-citanya membuat Ahmad Riza mengambil sikap keluar dari jalur birokrasi. Dan mengalihkan perhatiannya untuk menulis buku dan surat kabar dengan harapan dapat menyampaikan pendapat dan pemikirannya keoada masyarakat. Tetapi usaha inipun menemui kegagalan, karena harus berhadapan dengan lembaga sensor yang sangat ketat dari pemerintahan. Karenya ia memutuskan untuk kembali ke Paris. Setalah di paris ia menjalin hubungan dengan pemimpim- pemimpin yang telah terlebih dahulu mengasingkan diri dari pemerintahan yang absolute sultan Abdul Hamid II. Di paris ia menerbitkan surat kabar masverest. Yang di selundupkan ke Islambul supaya dapat dibaca oleh tanah airnya atau orang-orang turki. Selama di paris dia banyak membaca buku- buku karya pemikir France dan ia amat tertarik kepada Filsafat Positivisme August Commte, karena ia berpendapat untuk menyelamatkan kerajaan Usmani dari keruntuhan ialah pendidikan dan ilmu pengetahuan positive dan bukan teologi atau metafisika. Menurut Ahmad Riza pendidikan akan terlaksana dengan baik apabila didukung oleh pemerintahan konstitusional. Selama pemerintahan masih bersifat absolute maka akan sulit memberikan kebebasan berfikir. Sehingga akibatnya ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang. Itulah sebabnya ahmad riza dalam menulis yang diterbitkan di inggris tepatnya di London pada tahun 1894 menghoimbau Sultan Abdul Hamid II agar mengubah sikap politiknya agar menghidupkan oembali pemerintahan yang konstitusional supaya revolui dapat dihindari. Ia menyatakan bahwa rakyat tidak menginginkan admisitrasi yang mengorbankan hak-hak mereka yang merusak eksistensi mereka dengan tindakan yang sewenang-wenang. Pemerintahan yang Konstitusionl menurut dia sangat sesuai dengan semangat islam. Sebab syair menganjurkan untuk bermusyawarah yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan khalifah-khalifah yang lainnya.

B. Mehmed Murad (1853-1912) Mehmed lahir di tarhu, wilayah kaukus. Ia lari ke islambul pada tahun 1873 setelah gagalnya pemberontakan Syekh samil di daerah tersebut. Kemudian Mehmed belajar ke rusia dan disanalah ia mengenal pemikiran-pemikiran barat melalui buku-bukunya. Namun demikian ajaran islam masih mempunyai pengaruh dalam pemikirannya. Pengaruh keagamaan ini terlihat jelas dalam ide pembaharuan yang menolak setiap pemikiran yang bercorak sekuler. Mehmed mencoba memberi nasehat kepada sultan abdul hamid II agar melakukan perubahan- perubahan dalam sistem pemerintahan, tetapi ditolak oleh sultan, dan akhirnya dengan terpaksa Mehmed kembali ke Eropa, dari sanalah ia menyebarkan ide-ide melalui majalah yang ia terbitkan sendiri bernama Mizan. Ide pembaharuan yang di bawa oleh Mehmed terletak kepada 2 (dua) masalah pokok.yaitu : Pertama, pembatasan kekuasaaan absoult sebagai sultan dengan cara menetapkan suatu masalah dengan sistem Musyawarah Kedua, Pemulihan kembali rasa saling percaya anatar wilayah dengan pemerintahan pusat. Masalah pertama mencerminkan tuntutan Konstitusional, dan ide yang kedua adalah ide islamisasi. Mehmed berpandangan Islam bukanlah penyebab mundurnya kerajaan Usmani, dan bukan pula rakyatnya, Islam tidak mengahalangi kemajuan jutru mengajari untuk bagaimana caranya menjadi maju. Kemunduran kerajaan usamani ialah dikarenakan Sifat Sultan Sultan yangb memerintah dengan cara Absoult. Oleh karena itu kekuasaaan sultan harus dibatasi. Sebagaimana pemimpin pemimpin lainnya. Ia berpandangan bahwa Musyawarah yang diajarkan oleh islam sama dengan Konstitusional di barat. Karena Sultan tidak setuju dengan Konstitusi maka ia mengusulkan supaya didirikan suatu badan pengawas yang bertugas menjaga suapaya undang-undang tidak dilanggar oleh pemerintah. Di samping itu perlu di adakan dewan syariat agung yang anggotanya tersusun dari wakil-wakil Negara islam di asia dan afrika. Ketuanya adalah Syekh al-Islam kerjaam Usmani. Dewan Syariat Agung bertugas menjaga supaya sistem musyawarah tiak dilanggar oleh seorang sultan.

Mehmed juga membawa paham Pan Islam, yang jelas terlihat dari pandangannya bahwa sebab kelemahan kerajaan usmani adalah karena renggangnya hubungan islambul dengan daerah-daerah lainnya. Oleh karena itu ia mengusulkan supaya mempererat kembali hubungan dan menumbuhkan rasa saling percaya antara pemerintahan pusat di islambul dengan pemerintahan di daerah- daerah. Terutama dengan daerah yang ada dibawah kekuasaan Turki.

C. Sultan Sabahuddin (1877-1948) Sabahuddin ialah berasala dari keluarga istana. Dari pihak ayahnya adalah cucu dultan abdul hamid II sedangkan dari pihak ibu ia adalah keponakan dari sultan hamid. Ibunya bersaudara dengan sultan, sabahuddin ikut lari ke Eropa dengan ibu dan bapaknya mejauhkan diri dari kekuasaaan sultan. Paris adalah temapat yang disinggahi oleh sibahuddin, di paris ia terpngaruh oleh pemikiran pemikiran para sosiologi France. Teruatama Edmond Demolins. Seorang penganut aliran sosiologi Frederic le play. Pengaruh ini terlihat dari ide-ide pembaharuan yang dikemukakannya dalam memecahkan masalah masalah yang di alami kerajaan turki. sabahuddin melihat masalah-masalah yang dialami kerajaan turki dari sudut sosiologi. Bagi sabahuddin permasalahan yang dialami kerajaan turki dapat dipecahkan dengan terlebih dahulu mengadakan perubahan sosial, dan bukan penggantian sultan. Menurut sabahuddin, masyarakat turki seperti masyarakat timur lainnya adalah bersifat kolektif. Dan msayarakat semacam ini tidak mudah berubah menuju kemajuan. Dalam masyarakat yang kolektif orang tidak dapat berdiri sendiri, melainkan senantiasa bergantung kepada kelompoknya. Baik Kelompok itu bentuk keluarga atau suku-suku bangsa, Pemerintahan dan sebagainya. Masyarakat yang dapat maju ialah masyarakat yang dapat maju ialah masyarakat yang anggotanya tidak banyak tergantung kepada orang lain. Tetapi berusaha sendiri dan berdiri sendiri untuk merubah keadaan. Walaupun terdapat perbedaan pandangan dan tujuan politik antarab ketiga (Ahmad riza,mehmed murad, dan sultan sabahuddin) dari pemuka gerakan turkli muda seperti telah disebut diatas, namun mereka sepakat untuk menggulingkan kekuasaan sultan Abdul Hamid II. Kesepakatan itu diambil setelah diadakn Konferensi di Eropa yang berakhir pada tahun 1907 di Kota Paris.
5