Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan Pendidikan Nasional Indonesia telah diatur dalam Undang Undang SISDIKNAS Nomor 20 tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Maka sangat relevan sekali dengan tujuan akhir program S1 FKIP-UT adalah agar para lulusannya mampu berperan sebagai guru yang professional. Yang mampu bertindak dalam segala situasi terutama yang berhubungan dengan kegiatan mendidik siswanya. Bapak Pendidikan Nasional Indonesia Ki Hajar Dewantara juga menyatakan bahwa Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya , pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggitingginya. Mengacu pada aturan dan pendapat di atas seorang guru harus mampu melibatkan siswa dalam setiap pembelajaran secara aktif, kreatif, inovatif, berhasil dan menyenangkan. Pendidikan awal siswa siswi SDN 4 Poncowati sebelum masuk jenjang SD , mayoritas dari pendidikan keluarga, karena belum adanya Sekolah TK, belum lagi pendidikan orang tua mereka yang hanya sebagaian kecil saja mengenyam pendidikan, itupun hanya sebatas Sekolah Dasar.

Pembelajaran IPA merupakan pembelajaran eksak, yang menuntut siswa untuk mengetahui tentang konsep-konsep IPA secara sederhana. Sesuai dengan tujuannya pembelajaran IPA perlu di ajarkan dengan cara yang tepat yang harus melibatkan siswa secara aktif guna menumbuhkan cara berpikir ilmiah pada siswa tersebut. Tetapi yang terjadi pada siswa-siswi Kelas 2 SDN 4 Poncowati Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah dari hasil evaluai pembelajaran IPA tentang wujud benda, masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan, dari 35 orang siswa hanya 10 orang siswa saja yang mencapai KKM dan 25 orang siswa belum mencapai KKM. Maka keadaan seperti ini harus segera di lakukan perbaikan pembelajaran. Berdasarkan data tersebut penulis meminta bantuan teman sejawat sebagai pengamat untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran IPA tentang wujud Benda. 1.2 Identifikasi Masalah Selama kegiatan pembelajaran IPA tentang Wujud Benda di di Kelas 2 SDN 4 Poncowati Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah, teman sejawat melakukan observasi terhadap semua kegiatan pembelajaran, dan hasilnya terdapat beberapa masalah yang muncul, yaitu : 1. Hasil Pembelajaran IPA tentang wujud benda masih rendah, dari 35 orang siswa kelas 2 SDN 4 Poncowati hanya 10 orang siswa yang mencapai KKM nilai diatas 60 dan 25 orang siswa belum mencapai KKM yaitu nilai dibawah 60. 2. Metode yang digunakan guru monoton 3. Rendahnya minat siswa dalam pembelajaran IPA, 4. Kurangnya sarana dan prasarana sangat menghambat dalam belajar 5. Kurangnya perhatian setiap siswa terhadap materi pembelajaran siswa

1.3 Analisis Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka analisis masalahnya adalah: a. Rendahnya hasil belajar siswa b. Guru hanya menggunakan metode ceramah saja dalam menyampaikan materi pelajaran 1.4 Alternatif dan Pemecahan Masalah Berdasarkan analisis masalah tersebut di atas, maka alternative dan prioritas pemecahan masalahnya adalah meningkatkan hasil pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan menggunakan metode demonstrasi pada materi pokok wujud benda siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri 4 Poncowati Kecamatan terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah. 1.5 Rumusan Masalah Dari hasil identifikasi dan batasan masalah di atas, dirumuskan

bagaimanakah melakukan diskusi dengan supervisor 2, maka ditemukan rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas 2 SDN 4 Poncowati melalui metode demontrasi ? 1.6 Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran IPA tentang wujud benda pada kelas 2 SDN 4 Poncowati melalui metode demonstrasi. 1.7 Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran Penelitian Perbaikan Pembelajaran yang lebih popular di kenal dengan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ), walaupun PTK termasuk penelitian kualitatif karena tujuannya ingin menggambarkan realitas empirik di balik fenomena, tapi paling tidak bisa dijadikan pengalaman dalam proses

pembelajaran di

lingkungan sekolah setempat atau lebih khusus bisa di

terapkan pada kelas bersangkutan dan sangat bermanfaat sekali bagi guru, siswa dan sekolah yang di maksud. 1. Manfaat bagi Guru Meningkatkan wawasan pengetahuan, pemahaman, cara pemecahan masalah, kualitas pengelolaan kelas dan profesionalisme. 2. Manfaat bagi Siswa Pembelajaran tidak membosankan, termotivasi untuk belajar lebih aktif, pengalaman belajar lebih bermakna dan terkesan, serta pemahaman materi pembelajaran lebih meningkat. 3. Manfaat bagi sekolah Mutu Standar Kelulusan akan lebih baik dan dapat dipertanggung jawabkan terhadap masyarakat atau orang tua siswa, karena kualitas guru dalam pengelolaan dan pembelajaran di kelas lebih terukur, sehingga akan menjadikan nilai tambah bagi sekolah SDN 4 Poncowati Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Hasil Belajar Hasil belajar adalah angka yang diperoleh siswa yang telah berhasil

menuntaskan konsep-konsep mata pelajaran sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Begitu juga hasil belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang tetap sebagai hasil proses pembelajaran. Hasil belajar dapat diklasifikasikan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Prinsip yang mendasari penilaian hasil belajar yaitu untuk memberi harapan bagi siswa dan guru untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Kualitas dalam arti siswa menjadi pembelajar yang efektif dan guru menjadi motivator yang baik. Dalam kaitan dengan itu, guru dan pembelajar dapat menjadikan informasi hasil penilaian sebagai dasar dalam menentukan langkah-langkah pemecahan masalah, sehingga mereka dapat memperbaiki dan meningkatkan belajarnya (Rasyid, 2008 : 67).

Faktor faktor yang mempengaruhi prestasi belajar (hasil belajar) yaitu : 1) Faktor bahan atau hal yang dipelajari Bahan atau hal yang dipelajari ikut menentukan bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung, dan bagaimana hasilnya agar dapat sesuai dengan yang diharapkan. 2) Faktor lingkungan Faktor lingkungan terdiri dari : a) Lingkungan alami Yang dimaksud dengan lingkungan alami adalah keadaan lingkungan disekitar siswa yang dapat mempengaruhi hasil belajar, seperti temperatur udara dan kelembaban. Belajar dengan udara yang segar

akan lebih baik hasilnya daripada belajar dalam kondisi pengab dan udara panas. b) Lingkungan sosial Lingkungan sosial yang baik yang berwujud manusia maupun hal hal lain akan berpengaruh langsung dalam proses dan hasil belajar siswa. Siswa yang sedang belajar memecahkan persoalan dan dibutuhkan ketenangan, dengan kehadiran orang lain yang selalu mondar mandir didekatnya maka siswa tersebut akan terganggu. 3) Faktor instrumental Faktor instrumental adalah faktor yang ada dan pemanfaatannya telah dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor ini dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirancang , faktor ini dapat berupa :

a) Hardware (perangkat keras) seperti gedung, perlengkapan belajar, alat praktikum. b) Software (perangkat lunak), perangkat ini berupa kurikulum, program, peraturan dan pedoman pembelajaran. 4) Faktor kondisi individu siswa Faktor kondisi individu siswa mencakup dua hal yaitu : a) Kondisi Fisiologis Kondisi fisiologis sangat berpengaruh terhadap kegiatan pembelajaran seorang siswa. Seorang siswa yang dalam kondisi bugar jasmaninya akan berlainan dengan belajarnya siswa yang dalam keadaan kelelahan. Disamping kondisi fisiologis umum, hal yang tidak kalah penting adalah kondisi panca indra, terutama penglihatan dan pendengaran. b) Kondisi Psikologis Kondisi psikologis yang mempengaruhi proses dan hasil belajar antara lain minat, bakat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif

(Suryasubrata, 200 : 113)

2.2 Metode Demonstrasi 1. Pengertian Metode Demonstrasi Menyatakan Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang , kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan , baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan yang disajikan (Muhibbin Syah, 2004). Menurut Syaiful B. Djamarah dkk. (2002), metode memiliki kedudukan: Sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam Kegiatan Belajar

Mengajar (KBM); Menyiasati perbedaan individual anak didik; Untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode demonstrasi diartikan sebagai upaya peragaan tentang suatu cara melakukan sesuatu. Tujuan pokok penggunaan metode demonstrasi dalam kegiatan pembelajaran adalah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu. Tujuan pokok penggunaan metode demonstrasi ini dalam proses pembelajaran adalah untuk memperjelas pengertian konsep dan

memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu. 2. Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstrasi a. Kelebihan Metode Demonstrasi Membantu siswa memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda, Memudahkan berbagai jenis penjelasan, Kesalahan-kesalahan yang terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengalaman dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2004).

b. Kekurangan Metode Demonstrasi Sukar dimengerti apabila di demonstrasikan oleh guru yang menguasai apa yang di demonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2003) Memerlukan banyak waktu Memerlukan kesabaran dan keuletan 3. Manfaat Psikologis Pedagogis Metode Demonstrasi a. Perhatian siswa dapat lebih di fokuskan, b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari, c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa (Drajat, 2002). 4. Langkah-langkah Metode Demonstrasi Menurut Hasibuan dan Mujiono (2002:31), Langkah-langkah metode pembelajaran demonstrasi adalah sebagai berikut : a. Merumuskan dengan jelas kecakapan dan atau keterampilan apa yang diharapkan di capai oleh siswa sesudah demonstrasi itu dilakukan. b. Mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, apakah metode itu wajar dipergunakan, dan apakah ia merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang dirumuskan. c. Alat-alat yang diperlukan untuk demonstrasi itu bisa di dapat demngan mudah, dan sudah di coba terlebih dahulu supaya waktu diadakan demonstrasi tidak gagal. d. Jumlah siswa memungkinkan untuk diadakan demonstrasi dengan jelas. e. Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah yang akan

dilaksanakan, sebaiknya sebelum demonstrasi dilakukan, sudah dicoba terlebih dahulu supaya tidak gagal pada waktunya. f. Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan, apakah tersedia waktu untuk memberi kesempatan kepada siswa mengajukan pertanyaanpertanyaan dan komentar selama dan sesudah demonstrasi.
8

g. Selama demonstrasi berlangsung, hal-hal yang harus diperhatikan adalah : Keterangan-keterangan dapat didengar dengan jelas oleh siswa, Alat-alat telah ditempatkan pada posisi yang baik, sehingga setiap siswa dapat melihat dengan jelas, Telah disarankan kepada siswa untuk membuat catatan-catatan seperlunya. h. Menetapkan rencana untuk menilai kemajuan siswa, sering pula diadakan diskusi sesudah demonstrasi berlangsung atau siswa mencoba melakukan demonstrasi. 2.3 Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Menurut Kurikulum Pendidikan Dasar dalam Garis-garis Besar Program Pendidikan (GBPP) kelas V Sekolah Dasar dinyatakan: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains merupakan hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan dan konsep-konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses kegiatan ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan. Lebih lanjut pengertian IPA menurut Fisher (2003) yang dikutip oleh Muh. Amin (2002:3) mengatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah salah satu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik yang didalamnya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa IPA (sains) merupakan salah satu kumpulan ilmu pengetahuan yang mempelajari alam semesta, baik ilmu pengetahuan yang mempelajari alam semesta yang bernyawa ataupun yang tak bernyawa dengan jalan mengamati berbagai jenis dan perangkat lingkungan alam serta lingkungan alam buatan. IPA (sains) merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematik untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah. Pendidikan Sains di SD bermanfaat bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar.

Pendidikan Sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas 2004:33). Menurut Sumaji (2008:31), IPA (sains) berupaya untuk membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya mengenai alam sekitarnya. Mata pelajaran IPA adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Sang pencipta (Depdikbud 2004/2009: 97).

10

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

3.1 Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Subjek penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri 4 Poncowati Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, yang berjumlah 35 siswa, terdiri dari 20 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki. 3.1.2 Tempat Penelitian Pnenelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 4 Poncowati, Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah. 3.1.3 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28. oktober 2013 s/d 31 oktober 2013 di SDN 4 Poncowati Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah. Jadwal Pelaksanaan No 1. 2. Tanggal 28 Oktober 2013 31 Oktober 2013 Mata Pelajaran IPA IPA Siklus Siklus Kesatu Siklus Kedua

11

3.2 Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran 1. Pembelajaran Siklus Kesatu a. Perencanaan Rencana perbaikan ini pada dasarnya merupakan penelitian tindakan kelas, sehingga langkah pelaksanaannya pun mengkuti prinsip dasar Penelitian Tindakan kelas (PTK). Sebelum melaksanakan perbaikan pembelajaran peneliti berdiskusi dengan teman sejawat untuk mendapatkan alternatif pemecahan permasalahan yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Dalam perencanaan ini peneliti dan observer bersama menyusun rencana secara kolaboratif menekankan pada upaya peningkatan pemahaman siswa dalam pembelajaran wujud benda dan sifatnya (IPA). Perencanaan yang dilakukan oleh peneliti dalam upaya perbaikan pembelajaran Wujud benda adalah menyiapkan peralatan yang dibutuhkan/alat peraga yang mendukung Pembelajaran dengan

penggunaan alat peraga menempatkan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Guru membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi (Depdiknas, 2002:2). pada pembelajaran wujud benda seperti contoh benda padat dan cair melalui metode ceramah berpariasi dan demontrasi berdasarkan penbelajaran pendekatan kontekstual. Menurut Resmini (dalam koswara, 2003:7), rancangan tindakan harus disusun dengan

memperhatikan: (1) tujuan pembelajaran, (2) prosedur pelaksanaan, (3) bahan dan isi pembelajaran, (4) kriteria pencapaian dan (5) format evaluasi yang digunakan.

12

Peneliti menggunakan format pengamatan, dan menyusun rencana perbaikan pembelajaran dengan penggunaan alat peraga batu, sirop, mangkok,air,gelas,botol. Dalam kegiatan perbaikan pembelajaran ini dibantu oleh teman sejawat yang bernama Daluningjung, S.Pd. bu daluninjung ini adalah salah seorang guru di SD Negeri 4 Poncowati yang cukup senior dan memiliki kualifikasi S1 Pendidikan serta sering mengikuti berbagai penataran peningkatan mutu guru baik tingkat Gugus, Kecamatan maupun Kabupaten. b. Pelaksanaan Kegiatan perbaikan ini terbagi menjadi dua tahap yaitu studi pendahuluan dan pelaksanaan perbaikan. Pada tahap pelaksanaan perbaikan siklus 1 mata pelajaran IPA tentang wujud benda dilaksanakan pada tanggal 28 oktober 2013 pada semester 1 tahun ajaran 2013/2014 Studi pendahuluan dilakukan pada kegiatan awal dengan tujuan untuk mencari data awal yang ada di lapangan terutama yang ada kaitannya dengan pembelajaran Wujud benda. Data awal yang ditemukan akan dijadikan sebagai bahan untuk merencanakan tindakan yang berkaitan dengan penjajagan kemungkinan tindakan dan memeriksa kendalakendala. Studi pendahuluan dilakukan satu minggu pada bulan september 2013. Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan pengamatan berkaitan dengan Wujud benda (IPA). Selanjutnya peneliti mendiskusikan

hasil perolehan pengamatan bersama guru lain sebagai observer, dari hasil pengamatan diperoleh identifikasi dan rumusan hambatanhambatan yang ditemui dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran serta rumusan alternatif tindakan yang sekiranya dapat dilakukan dalam memecahkan hambatan-hambatan itu. Hasil pengamatan menunjukkan

13

bahwa kegiatan pembelajaran lebih menitik beratkan pada hasil/target daripada proses. Proses pembelajaran yang dilakukan dengan

mengadakan metode ceramah dan demontrasi yang dilakukan guru di depan kelas tentang Wujud benda. Metode demonstrasi merupakan salah satu metode yang biasa mengaktifkan siswa untuk mengikuti pelajaran. Dalam pembelajaran akan memberikan pengalaman kepada siswa tentang wujud benda sebagaimana yang terdapat dalam teori belajar holistic Strategi pembelajaran seperti di atas menurut pengamatan peneliti sudah baik namun kurang optimal, kurang memberikan pengalaman dan pemahaman kepada siswa. Rincian kegiatan yang akan dilaksanakan pada pembelajaran siklus I adalah sebagai berikut. A. Kegiatan Awal (10 menit) - menertibkan siswa, berdoa dan mengabsen siswa a) Apersepsi - Guru mengadakan Tanya jawab tentang kegiatan apa saja yang dilakukan pada hari libur di rumah - bertanya jawab dengan siswa tentang benda-benda apa saja yang digunakan untuk membantu orang tua dirumah b) Motivasi - menyebutkan macam-macam benda padat dan cair yang ada disekitar (dikelas,didapur,dan dikamar mandi) - menyampaikan tujuan pembelajaran B. Kegiatan Inti (40 menit) - Siswa dibagi menjadi 5 kelompok - Siswa menyiapkan benda padat dan cair seperti gelas, mangkok, air, pensil - Siswa memasukkan air kedalam gelas dan mangkuk

14

- Siswa mengamati serta mencatat apa yang terjadi setelah air dimasukan ke mangkuk dan gelas - Siswa melalukan demontrasi dengan benda cair (air) yang dimasukkan kedalam gelas - Siswa mengamati perubahan bentuk yang terjadi - Siswa mencatat apa yang terjadi setelah air dimasukkan ke dalam gelas - Siswa melakukan demontrasi dengan memasukkan air kedalam mangkuk - Siswa mengamati perubahan bentuk yang terjadi - Siswa mencatat apa yang terjadi setelah air dimasukkan kedalam mangkuk - Siswa mulai memasukkan pensil ke dalam gelas - Siswa mengamati perubahan bentuk yang terjadi - Siswa mencatat apakah pensil mengalami perubahan setelah dimasukkan kedalam gelas - Siswa melakukan diskusi secara berkelompok - Siswa membacakan hasil diskusi dari kelompok masing-masing - Siswa bersama guru membahas secara bersama-sama hasil diskusi C. Kegiatan Akhir (20 menit) - Siswa bersama-sama dengan guru Menyimpulkan materi yang telah dibahas bersama - Siswa diberikan tes akhir ( post tes ) oleh guru - Guru Memeriksa hasil tes akhir - Memberikan tindak lanjut menyeluruh siswa mengelompokkan benda yang ada dirumah berdasarkan wujudnya

15

c. Pengamatan Kegiatan pada siklus 1 ini dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik diantaranya observasi (pengamatan), catatan lapangan, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati latar kelas dan aktivitas belajar mengajar yang dilakukan sehingga prilaku guru dan siswa terpantau, dengan menggunakan format yang telah disediakan adapun fokus observasi adalah penampilan guru selama mengajar dan aktifitas siswa selama belajar. Observasi dilakukan secara bersamasama secara kolaboratif oleh pelaksana dan observer. Catatan lapangan pada dasarnya berisi deskripsi atau paparan tentang latar kelas dan aktvitas pembelajaran. Catatan terutama tentang interksi belajar mengajar baik guru-siswa maupun siswa-siswa. Daluninjung,S.Pd. mencatat temuannya untuk dimusyawarahkan dengan praktisi demi perbaikan pada siklus selanjutnya apabila ditemukan hasil yang kurang memuaskan. Untuk memperoleh konsep kualifikasi yang tepat dilakukan kegiatan wawancara dengan tujuan untuk memperoleh kejelasan yang berkaitan dengan temuan-temuan yang diperoleh pada saat observasi dan pencatatan di kelas. Wawancara dilakukan peneliti kepada guru berkaitan dengan pelaksanaan tindakan pembelajaran wujud benda. Analisis data dilakukan secara bertahap, pertama dengan menyeleksi dan mengelompokan, kedua dengan memaparkan atau mendeskripsikan data, dan terakhir menyimpulkan atau memberi makna. Analisis data juga dapat dilakukan dengan mengacu pada prinsip ongoing analysis. Data hasil pengamatan berupa perilaku empirik dan hasil kerja siswa dikumpulkan, dipilah sesuai dengan fokus yang telah ditetapkan, data yang tidak relevan direduksi, data didiskusikan, dimaknai, dan digunakan sebagai dasar tindakan. Selanjutnya dilakukan penafsiran data dan penarikan kesimpulan.

16

Penganalisisan data dilakukan dengan cara: 1. Menginventarisasi data, yaitu mengumpulkan data yang ada, antara lain: catatan orientasi lapangan, lembar observasi setiap tindakan, dan pembelajaran wujud benda 2. Mengelompokan data yang ada berdasarkan fokus yang diobservasi pada setiap tindakan 3. Menganalisis data yaitu memeriksa dan menafsirkan data yang ada.

Penganalisisan data dilaksanakan dengan menyusun rambu-rambu analisis yang didasarkan pada kriteria dengan indikator, ciri deskriptor, dan kualifikasi yang telah ditetapkan. Pelaksanaan dilakukan dengan mengamati dan mencatat pembelajaran wujud benda yang dilakukan siswa, membandingkannya dengan kriteria proses yang tercantum dalam rambu-rambu analisis dan selanjutnya melakukakan pemaknaan. Adapun pemeriksaan keabsahan data dilakukan melalui verifikasi terhadap temuan data. d. Refleksi Setelah dilakukan pengamatan pelaksana dan observer melakukan

refleksi atau evaluasi diri terhadap pembelajaran untuk siklus 1 yang telah dilaksanakan, pada tahap ini hasil observasi berupa data proses maupun data hasil dikumpulkan dan dianalisis. Dalam analisis data, peneliti melihat catatan lapangan, lembar observasi, dan rencana pembelajaran sejauh mana instrumen sudah memenuhi pembelajaran yang diharapkan. Bila ditemukan kekurangan dalam kegiatan pembelajaran pada suatu siklus maka dilaksanakan perfleksian sehingga dapat ditemukan cara untuk memperbaikinya. Hasil refleksi ini digunakan sebagai landasan untuk melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di siklus berikutnya. Dalam kegiatan pengumpulan menggunakan table seperti dibawah ini.

17

Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat tentang pembelajaran siklus kesatu diperoleh hasil refleksi : No Permasalahan 1. Tidak semua siswa memiliki kesiapan menerima materi. 2. Pengunaan alat peraga yang kurang. 3. Bimbingan pada setiap kegiatan pembelajaran Perbaikan guru mengkondisikan kelas diawal pembelajaran Guru Menggunakan alat peraga yang dibutuhkan Guru akan lebih membimbing anak dalam kegiatan pembelajaran

2. Pembelajaran Siklus kedua a. Perencanaan Perencanaan yang dilakukan pada siklus kedua didasarkan pada hasil refleksi yang dilakukan pada siklus kesatu. Pada siklus kedua perencanaan tidak terlalu beda dengan pembelajaran siklus kedua, hanya pada siklus kedua ini guru lebih memaksimalkan alat peraga melalui metode demontrasi sehingga anak mempunyai pengalaman langsung yang pada akhirnya akan menimbulkan masa ingat yang lebih lama (retention spam) dan lebih

memberikan bimbingan dalam setiap kegiatan baik secara individual, klasikal maupun kelompok. b. Pelaksanaan Pelaksanaan siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 31 oktober 2013

dengan lebih memaksimalkan pada media gambar dan alat peraga melalui metode demonstrasi yang menunjukan bentuk benda cair dan benda padat yang ada disekitar kita Adapun rincian pelaksanaan kegiatan pembelajaran siklus kedua adalah:

18

A. Kegiatan Awal (10 menit) - menertibkan siswa , berdoa dan mengabsen siswa a) Apersepsi - Guru bercerita tentang wujud benda yang ada disekitar dan kegunannya dalam kehidupan sehari hari dan perubahan wujud benda - Menunjukkan gambar-gambar benda padat dan cair yang ada disekitar b) Motivasi - Menjelaskan perubahan wujud benda padat dan cair yang ada di kehidupan sehari-hari - Menyampaikan tujuan pembelajaran B. Kegiatan Inti (40 menit) - Siswa dibagi menjadi lima kelompok - Siswa melakukan demontrasi secara berkelompok tentang benda padat dan cair - Siswa menyiapkan benda padat dan cair (es batu dan baskom) - Siswa diberikan petunjuk oleh guru tentang percobaan yang akan dilakukan - Siswa beserta kelompok mendemontrasikan perubahan wujud benda - Siswa dan kelompoknya mulai memasukkan es batu kedalam baskom - Siswa mengamati es batu yang ada dibaskom - Siswa mencatat perubahan yang terjadi setelah es batu didiamkan diruangan terbuka - Siswa melakukan diskusi secara berkelompok - Siswa membacakan hasil diskusi dari kelompok masing-masing - Siswa bersama guru membahas secara bersama-sama hasil diskusi C. Kegiatan Akhir (20 menit) - Menyimpulkan materi yang telah dibahas bersama - Membuat rangkuman tentang wujud benda - Mengadakan tes akhir ( post tes )
19

- Memeriksa hasil tes akhir - Memberikan tindak lanjut menyeluruh siswa diberi pr untuk melakukan percobaan benda yang ada dirumah berdasarkan wujudnya misalnya membuat es batu dari air dimasukkan ke plastic dan dimasukan ke kulkas c. Pengamatan Proses pengamatan pada siklus kedua tidak berbeda dengan siklus kesatu, karena menggunakan format yang sama dan dilakukan oleh orang yang sama pula. Pada pengamatan siklus kedua dalam pengamatan penampilan guru ditekankan pada penggunaan alat peraga, metode dan bimbingan yang dilakukan oleh guru. Dalam kegiatan pengamatan ini diamati apakah semua indicator yang tidak muncul pada siklus 1 dan direncanakan akan dilaksanakan pada siklus 2 sudah muncul dan apakah partisipasi anak dalam belajar meningkat pada saat perbaikan siklus 2. Hal ini melihat perkataan media tidak selalu identik dengan mahal atau memerlukan listrik karena media dapat dibedakan berdasarkan

keadaannya menjadi canggih (sophisticate media) dan media sederhana (simple media). Dengan melakukan demontrasi biasanya dilakukan untuk menguji kebenaran dan teori yang telah dipelajari atau untuk membuktikan bahwa hipotesis yang telah dibuat sebelumnya benar atau tidak, sehingga didapatkan sebuah kesimpulan, dan peserta mempunyai keterampilan untuk menyampaikan hasil pengamatan. d. Refleksi Setelah pelaksanaan pembelajaran siklus kedua peneliti bersama observer melakukan refleksi. Dibawah ini disajikan hasil refleksi siklus kedua. No keadaan siklus I 1. Tidak semua siswa memiliki kesiapan menerima materi. 2. Pengunaan alat peraga yang kurang. langkah yang sudah dilaksanakan guru sudah mengkondisikan siswa pada situsi belajar yang kondusif. Guru Menggunakan alat peraga yang dibutuhkan secara baik.

20

3. 4.

Bimbingan pada setiap kegiatan pembelajaran Nilai belajar siswa masih ada yang kurang dari 60

Guru sudah melaksanakan proses bimbingan secara maksimal. Semua anak sudah mempunyai nilai dari 60 keatas.

Hal-hal unik : ada siswa yang salah mengambil contoh wujud benda, diperintahkan mengambil wujud benda padat dia mengambil contoh wujud benda cair yang ada dalam gelas.

21

BAB IV HASIL PERBAIKAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Perbaikan 1. Siklus I a. Perencanaan Pembelajaran siklus I dilaksanakan pada tanggal 28 oktober 2013 direncanakan menggunakan alat peraga wujud benda padat dan cair (batu, sirop, gelas, mangkok, dan air, buku, penggaris, pensil) dalam pembelajaran. Dengan alat peraga tersebut anak memiliki pengalaman secara langsung tentang wujud benda. Perencanaan siklus 1 - siswa dibagi menjadi lima kelompok - Siswa melakukan demontrasi - Siswa melakukan diskusi secara berkelompok - Siswa melaporkan hasil diskusi dan dibahas secara klasikal - Menyimpulkan materi yang telah dibahas bersama - Mengadakan evaluasi akhir b. Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah dan demontrasi Wujud benda walaupun masih didapat anak yang belum memahami tentang wujud benda dan masih ada anak yang memiliki nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Siswa memerlukan bimbingan guru yang maksimal dalam kegiatan pembelajaran agar siswa lebih aktif. Hal tersebut tergambar pada hasil evaluasi pembelajaran siklus I mata pelajaran IPA kelas II
22

c. Pengamatan Sementara peneliti melaksanakan pembelajaran siklus I, teman sejawat yang bertindak sebagai observer melakukan tugasnya yaitu melaksanakan pengamatan terhadap jalannya pembelajaran. Pada siklus I keaktifan siswa dalam pembelajaran sudah meningkat, walaupun masih ditemukan anak yang mendapat nilai dibawah 60 hal tersebut disebabkan karena bimbingan guru belum maksimal diberikan. Hasil pengamatan yang dilakukan observer dicatat secara obyektif dalam format yang telah disepakati oleh peneliti dan observer. Format pengamatan mengakomodir aktifitas siswa dalam pembelajaran dan penampilan guru peneliti selama melaksanakan pembelajaran. d. Refleksi Dari hasil pengamatan dan nilai belajar siswa diperoleh kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada pembelajaran siklus I. kelebihan pada siklus I, yaitu semua siswa siap menerima materi pembelajaran, sudah menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Sedangkan

kekurangan yang masih ada pada siklus I adalah guru belum maksimal melakukan bimbingan sehingga nilai belajar siswa belum terlalu baik, masih diperoleh nilai siswa dibawah 60. Penggunaan alat peraga dapat menambah minat belajar anak dan bimbingan guru memberikan peranan bagi keberhasilan dan kegagalan proses pembelajaran. Metode ceramah dan demontrasi saja membuat anak merasa jenuh sehingga diperlukan media gambar agar anak tertarik dengan melihat gambar.

23

Tabel 1 DATA NILAI IPA SISWA KELAS II SDN 4 PONCOWATI PERBAIKAN SIKLUS I Table 1 dari 4.1 data nilai siswa kelas 2 SDN 4 Poncowati siklus 1 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25 26 27 28 D 29 a 30 31 r 32 i 33 34 35. No. absen 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35. Rata-rata Nilai Tes Akhir Siswa 50 60 40 50 50 60 40 40 80 50 50 50 60 50 50 60 40 50 50 50 60 60 60 50 50 70 40 50 60 50 50 50 50 50 50 45,42 keterangan Tidak tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas

24

hasil tes tertulis diatas siswa yang mendapatkan nilai 80 ada 1 orang (3%), nilai 70 ada 1 orang (3%), nilai 60 ada 8 orang (23%), nilai 50 ada 20 orang (57%) dan nilai 40 ada 5 orang (14%) Pembelajaran siklus I dengan penerapan metode ceramah dan demontrasi pada materi wujud benda. Siswa sudah terlibat dalam pembelajaran, walaupun masih ada anak yang mendapat nilai dibawah 60 karena bimbingan guru belum maksimal. Hal tersebut memerlukan adanya pembelajaran siklus selanjutnya. Tabel 2 Pencapaian Nilai Siklus 1 Table 2 dari 4.1 tabel pencapaian nilai Siklus ke 1 No. 1 2 3 4 5 Jumlah siswa 5 20 8 1 1 Nilai 40 50 60 70 80 Pencapaian Persentase 14% 57% 23% 3% 3%

25 20 20 15 10 5 5

siklus 1

1 0

LEMBAR OBSERVASI METODE DEMONTRASI 40 50 60 70 80

25

NO 1 2 3 4 5

Kegiatan Demontrasi Peranan siswa dalam pengamatan benda Dapat menyebutkan jenis benda Dapat membedakan benda padat dan cair Dapat mengetahui kegunaan benda padat dan cair Dapat mengetahui perubahan benda padat dan cair

Keterangan

2. Siklus II a. Perencanaan Dalam perencanaan siklus II, hasil refleksi siklus I menjadi dasar dalam penentuan perencanaan pembelajaran siklus II. Pada siklus II direncanakan penggunaan media gambar ,dan metode demontrasi dengan menggunakan alat peraga yang ada di lingkungan sekitar dan mudah didapat serta memaksimalkan bimbingan guru dalam pembelajaran dan pengerjaan berbagai tugas yang diberikan oleh guru. Perencanaan Siklus II siswa dibagi menjadi lima kelompok Siswa melakukan demontrasi Siswa melakukan diskusi secara berkelompok Siswa melaporkan hasil diskusi dan dibahas secara klasikal Menyimpulkan materi yang telah dibahas bersama Mengadakan evaluasi akhir

b. Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 31 Oktober 2013, dengan menggunakan alat peraga serta bimbingan yang lebih optimal dalam proses pembelajaran didapatkan perubahan pada materi wujud benda siswa memahami wujud benda dan anak memiliki

26

nilai 60. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran lebih terlihat aktif . c. Pengamatan Pengamatan siklus II tidak berbeda dengan siklus I, karena proses pengamatan pembelajaran dilakukan oleh orang yang sama yaitu ibu daluningjung, juga menggunakan format yang sama pula. Pada siklus kedua penggunaan alat peraga aktif dan menarik minat belajar siswa serta alat-alat yang dipergunakan dikenal oleh anak. Proses pemberian bimbingan dalam melaksanakan Percobaan wujud benda terlihat lebih optimal. d. Refleksi Setelah pembelajaran dan pengamatan siklus II dilaksanakan, peneliti dan observer berdiskusi membahas keberhasilan dan kegagalan pembelajaran siklus II. Pada siklus kedua dengan penggunaan metode demontrasi, penggunaan alat peraga yang ada dilingkungan dan media gambar, dan bimbingan guru yang maksimal terjadi perubahan yang cukup signifikan baik keaktipan siswa maupun hasil bel;ajar siswa. Pada siklus II tidak ada anak yang mendapat nilai kurang dari 60 sehingga tidak perlu diadakan siklus selanjutnya.

27

Tabel 3 DATA NILAI IPA SISWA KELAS II SDN 4 PONCOWATI PERBAIKAN SIKLUS II

Tabel 3 dari 4.1 data nilai IPA siswa kelas II siklus II No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25 26 27 28 29 30 31 32 D 33 a 34 r35. i No. absen 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35. Rata-rata Nilai Siswa 70 90 60 70 100 70 60 60 90 70 60 70 90 60 70 60 60 70 70 60 70 80 70 60 70 90 60 60 70 80 70 60 60 60 60 69,42 keterangan tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas tuntas

28

hasil tes tertulis diatas siswa yang mendapat nilai 100 ada 1 orang (3%), nilai 90 ada 4 orang (11%), nilai 80 ada 2 orang (6%), nilai 70 ada 13 orang (37%), dan nilai 60 ada 15 orang (43%), Pada siklus kedua menggunakan alat peraga yang berbeda dengan siklus I, dan bimbingan guru dimaksimalkan dengan menggunakan media gambar terjadi perubahan yang cukup menggembirakan. Anak antusias dan mampu mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik serta

mendapatkan hasil yang memuaskan. Tabel 4 Pencapaian Nilai Siklus 2 Table 4 dari 4.1 tabel pencapaian nilai siklus 2 Siklus ke 2 No. 1 2 3 4 5 Jumlah siswa 15 13 2 4 1 Nilai 60 70 80 90 100 Pencapaian Persentase 43% 37% 6% 11% 3%

siklus 2
16 14 12 10 8 6 4 2 0 60 70 80 90 100 2 4 1 15 13

29

LEMBAR OBSERVASI METODE DEMONTRASI NO 1 2 3 4 5 Kegiatan Demontrasi Peranan siswa dalam pengamatan benda Dapat menyebutkan jenis benda Dapat membedakan benda padat dan cair Dapat mengetahui kegunaan benda padat dan cair Dapat mengetahui perubahan benda padat dan cair Keterangan

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran 4.2.1 Siklus 1 Dari perolehan hasil tes tertulis siklus 1 dalam pembelajaran pertama dari 35 siswa yang mendapat nilai dibawah KKM ada 25 siswa atau 71 % belum mencapai ketuntasan yang telah ditentukan. Dari pengamatan observer pada saat guru melakukan percobaan dan melakukan diskusi, guru menemukan hanya ada beberapa anak yang kelihatan bingung dan berlari kesana kemari karena belum mengerti perbedaan antara benda padat dan cair, anak cenderung merasa jenuh dan bosan karena pelajarannya kurang menyenangkan, kurang adanya media gambar yang bisa membuat anak jadi tertarik untuk melihat dan mengamati pelajaran mungkin pada saat itu ada beberapa anak yang belum paham petunjuk yang telah diberikan tetapi mereka takut untuk bertanya sehingga mereka kelihatan pasif. Padahal guru sudah berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan bagi peserta didiknya dengan cara berkeliling untuk mengetahui kesulitan apa yang dialami siswa dan pada saat demontrasi siswa yang telah menemukan jenis benda padat dan cair lalu dimasukkan kedalam media gelas, mangkok, botol dan lucunya ternyata masih ada siswa yang disuruh memasukkan benda padat malah siswa tersebut memasukkan benda cair sehingga guru membantu siswa tersebut untuk bisa membedakan antara benda cair dan padat dan setelah demontrasi

30

dilakukan maka selanjutnya siswa berdiskusi. setelah selesai guru memberikan umpan balik atau kesimpulan dari pembelajaran. 4.2.2 Siklus 2 Dari perolehan hasil tes tertulis siklus 2 dalam pembelajaran dari 35 siswa yang mendapat nilai dibawah KKM tidak ada atau 0% dari pengamatan observer pada saat guru mendemontrasikan, anak sudah mampu membedakan antara benda padat dan cair dan bisa

mendemontrasikan secara bersama-sama dengan kelompoknya setelah guru memberikan contoh demontrasi siswa dan kelompoknya sudah mampu mempraktekkan dengan benar bagaimana perubahan wujud benda dari padat ke cair misalnya seperti es yang dibiarkan mencair dan siswa dengan kelompoknya mencatat perubahan wujud dari es yang mencair dan siswa diberikan tugas rumah yaitu melakukan demontrasi sederhana yaitu siswa mendemontrasikan tentang perubahan wujud zat dari cair ke padat yaitu demontrasi membuat es batu dirumah , pertamatama siswa memasukkan air putih biasa yang ada didalam teko air lalu siswa memasukkan air kedalam plastik dan diikat dengan karet gelang lalu siswa memasukkan air yang sudah diplastikkan kedalam kulkas atau lemari es dan besokknya siswa mengamati perubahan yang terjadi setelah itu siswa mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi dan mendiskusikan bersama teman-teman sekelompoknya sehingga pada siklus kedua ini guru sudah mampu memberikan pembelajaran dengan cukup baik dan murid-murid juga sangat senang karena diperlihatkan gambar-gambar benda padat dan cair yang ada disekitar sehingga menarik minat siswa untuk memperhatikan dan siswa tidak merasa jenuh siswa berdiskusi.setelah selesai guru memberikan umpan balik atau kesimpulan dari pembelajaran.

31

BAB V SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

5.1 Simpulan Dalam penelitian ini dapat disimpulkan: Bahwa penggunaan metode demontrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas II SDN 4 Poncowati Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah Tahun Ajaran 2013/2014. Pada siklus 1 menunjukkan bahwa 29 % (10 siswa) siswa sudah mendapat nilai diatas KKM dan 71 % (25 siswa) yang mendapat dibawah KKM maka guru mengadakan perbaikan disiklus 2 dan pada siklus 2 yang mendapat nilai diatas KKM adalah 100 % (35 siswa) dan siswa yang mendapat nilai dibawah KKM adalah 0% (0 siswa) maka guru tidak perlu mengadakan perbaikan pembelajaran karena sudah memenuhi target pembelajaran. 5.2 Saran dan Tindak Lanjut Dari hasil penelitian kelas ini kami memberikan saran dan tindak lanjut sebagai berikut: 1. Untuk meningkatkan hasil belajar hendaknya guru dalam mengajar lebih mengembangkan pembelajaran 2. Menggunakan metode demontrasi untuk menarik perhatian siswa dalam belajar 3. Benda kongrit sebagai media pembelajaran secara langsung dapat meningkatkan pemahaman siswa 4. Melibatkan siswa secara aktif dalam penugasan metode demontrasi 5. Kegiatan pembelajaran melibatkan seluruh siswa dan menimbulkan keberanian siswa untuk bertanya pada hal-hal yang belum dikuasai kreativitas termasuk dalam memilih metode

32

6. Guru berkolaborasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan hasil belajar dalam proses belajar mengajar 7. Lakukan PTK jika mengalami masalah dalam pembelajaran

33